Kamis, 07 Mei 2009

KHOTBAH: Galatia 6:9

“JANGAN JEMU-JEMU BERBUAT BAIK”
________________________________________
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9)

Sudah terlalu sering dan kerap kita mendengar kata-kata "berbuat baik", atau juga di dalam ibadah gereja, sering kali kata - kata "berbuat baik” ini dilontarkan.

Memang kita sebagai orang percaya, kita dianjurkan untuk berbuat kebaikan kepada sesama kita sesuai dengan firman Tuhan yang berkata "Kasihilah sesamamu manusia," di dalam kehidupan kita setiap harinya, sering kali kita kurang atau bahkan tidak pernah sama sekali melakukan apa yang di sebut "berbuat baik". Atau terkadang kita berbuat baik hanya untuk orang- orang yang kita kenal dan kita kasihi saja, juga untuk orang-orang yang kita anggap senasib, seagama, serumpun, sedaerah, semarga, dan lain-lainnya.
Ada satu kisah tentang tokoh terkenal yang melakukan Firman Tuhan dengan nyata / riil yaitu Ibu Theresia. Dia memberikan seluruh hidupnya untuk pelayanan di Negara India wilayah Calcuta.

Ibu Theresia, dilahirkan dengan nama Agnes Gonxha Bojaxhiu pada tahun 1910 di Negara Yugoslavia. Pada tahun 1928 ia memutuskan untuk menjadi seorang biarawati dan mendapat tugas untuk bergabung dengan suster2 di Loreto Dublin Irlandia, setelah itu ia bertugas ke biara Lotto di Darjeeling
India. Pada tahun 1929 ia mulai mengajar ilmu
geografi di SMU Saint Mary bagi gadis2 di
Calcuta.

Di masa itu kota Calcuta, jalan-jalan penuh sesak
dengan pengemis, orang kusta, tunawisma dan
yang paling menyentuh hati Ibu Theresia adalah
bayi-bayi yang di telantarkan begitu saja di jalan-
jalan, bahkan di tempat-tempat yang kotor dan bau
seperti tempat sampah.

Sejak saat itu hatinya terusik melihat keadaan kota Calcuta yang sedemikian parahnya, tanpa ada yang peduli dan merasa kasihan melihat nasib mereka yang terlantar itu.
Maka ia memutuskan keluar dari SMA tersebut dan sepenuh hati dan waktu juga tenaga untuk membantu masyarakat yang begitu memprihatinkan. Usaha Ibu Theresia ini juga mendapat dukungan dari mantan murid2 SMA tersebut dan mereka juga sepenuh hati membantu dalam dana dan tenaga. Setiap orang yang mau bergabung dengan Ibu Theresia ini di tuntut untuk mengabdikan hidupnya bagi pelayanan orang miskin tanpa menerima upah dalam bentuk apapun juga.

Suatu ketika saat Ibu Theresia pulang bersama rekan2nya di malam hari, mereka menemukan 4 orang yang keadaannya luka parah, dan salah seorang dari mereka kondisinya sangat parah di banding yang lain.

Ibu Theresia berkata, "Rawatlah 3 orang lainnya, biarkan saya sendiri yang merawat yang terluka parah ini". Ibu Theresia melakukan segala cara dengan penuh kasih dan senyum untuk mengobatinya, tiba-tiba orang yang kondisinya sangat parah ini menggenggam tangan ibu Theresia sambil berkata, " Ibu....terima....kasih," kemudian orang itu meninggal.

Kisah lain juga menceritakan suatu kali Ibu Theresia dan suster2 lain mengangkat seorang laki2 dari selokan, kondisi badannya setengah membusuk dan di penuhi oleh ulat-ulat. Hati Ibu Theresia, sangat tergugah dengan keadaannya, bahkan orang ini pun di rawat sendiri oleh Ibu Theresia dengan kasih sayang.
Hingga suatu hari saat orang ini sedang di rawat,
orang ini berkata kepada Ibu Theresia, "Ibu hari ini
aku akan mati sebagai seorang malaikat, bukan
sebagai gelandangan, terima kasih ibu, aku
melihat kasih Yesus ada dalammu" dan orang
itu pun langsung meninggal dalam dekapan Ibu
Theresia.

Kisah tadi menunjukkan bahwa kasih itu universal, artinya kasih itu tanpa harus membedakan ras, suku, agama, dan lain-lainnya. Bahkan hampir 99% orang-orang yang di bantu, di rawat, di sembuhkan Ibu Theresia itu dari golongan hindu, islam dan syiah.

000

Salah satu dari sepuluh hukum Torat adalah kuduskanlah hari Sabat. Hari Sabat adalah hari Perhentian bagi Tuhan. Semua orang Israel harus istirahat, dan memberikan waktu untuk Tuhan, berhenti mencari nafkah, dari enam hari kerja atau berlelah. Tetapi pada zaman Tuhan Yesus, orang Yahudi mempersempit makna hari Sabat, dengan men-”tuhan”kan hari Sabat. Begitu ekstrim sehingga orang-orang Farisi dan ahli-ahli Torat mengkritik Yesus karena menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Tetapi terhadap kritikan itu Yesus berbalik bertanya kepada mereka, ‘apabila kambing dombamu masuk lobang pada hari Sabat, apakah kamu tidak mengangkatnya, atau ada yang mau sakit dan butuh kesembuhan apakah tidak perlu diobati? Orang Farisi terdiam karena menyembuhkan adalah suatu perbuatan baik. Yesus memberikan satu pelajaran bahwa untuk berbuat baik tidak ada batas waktu. Memang hari ketujuh Tuhan tetapkan sebagai hari berhenti bekerja supaya manusia tahu beristirahat. Tetapi dalam soal kebaikan, dalam soal hal-hal yang rohani, Tuhan berkata jangan jemu-jemu berbuat baik. Perbuatan baik tidak mengenal istirahat.

Dalam ayat di atas Tuhan melarang kita untuk tidak jemu-jemu (tidak bosan-bosan) berbuat baik. Jika berbuat baik, kita akan menuai bila kita tidak menjadi lemah. Iblis selalu berusaha melemahkankan kita supaya kita berhenti berbuat baik dan tidak terus-menerus (continue) berbuat baik. Tetapi Firman Tuhan menganjurkan selama masih ada kesempatan (peluang) marilah kita berbuat baik kepada semua orang tetapi terutama kepada kawan-kawan seiman.

Kita semua diselamatkan bukan karena perbuatan baik. Kita diselamatkan karena augerah, karunia, pemberian Tuhan. Keselamatan itu tidak bisa dibeli dengan uang, dengan kebaikan, dll. Keselamatan bukan karena korban-korban kita, justru keselamatan terjadi karena Yesus telah berkorban untuk kita di salib Golgota. Tetapi kemudian setelah kita percaya kepada Yesus, setelah kita bertobat, maka iman kita harus disertai dengan perbuatan baik. Surat Yakobus berkata IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH NOL.

Ada tiga perbuatan baik yang harus kita lakukan supaya iman kita bertumbuh :

1. PERBUATAN BAIK DENGAN KORBAN-KORBAN (Ibrani 13:15-16)

Senantiasa (anytime) kita harus mempersembahkan korban syukur kepada Allah. Bagaimana kita mempersembahkan korban syukur kepada Allah? Dengan ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dari mulut kita harus selalu keluar pujian syukur kepada Tuhan. Walaupun mungkin kita mengalami tekanan, penyakit, kesusahan, tetapi justru dalam situasi yang demikian kita harus menaikkan pujian syukur kepada Tuhan supaya Tuhan campur tangan.
Firman Allah ini juga mengingatkan kita untuk jangan lupa berbuat baik memberikan bantuan. Banyak orang Kristen gampang untuk memuji Tuhan tetapi sulit untuk berkorban. Orang percaya harus belajar untuk memberikan korban-korban; korban untuk pekerjaaan Tuhan, korban untuk pembangunan gereja, korban untuk keperluan para hamba Tuhan, korban untuk pelayanan misi, korban untuk janda-janda dan yatim piatu, korban untuk penginjilan, dll. Korban-korban itu merupakan perbuatan baik kita.

2. PERBUATAN BAIK DENGAN PERKATAAN-PERKATAAN YANG PENUH BERKAT KEPADA ORANG LUAR (Kolose 4:5-6)

“….Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar….”. Ini adalah satu perbuatan baik melalui ucapan kita kepada orang lain. Setiap perkataan kita harus bisa memberikan kesaksian dan menjadi berkat bagi orang lain. Kalau terjadi bencana alam, apa kata-kata kita. Kalau percobaan datang, apa kata-kata kita. Perkataan orang Kristen harus membangun, harus memberikan berkat. Efesus 4:29, 5:6. Kata-kata kita jangan yang kosong tetapi kata-kata yang bermanfaat dan bisa menguatkan orang lain. Misalnya dengan kita memberi informasi kepada orang yang bertanya karena tidak tahu jalan, itu telah memberikan bantuan bagi orang yang memerlukannya. Penting sekali kita belajar memberkati orang luar dengan perkataan kita.

3. PERBUATAN BAIK DENGAN BERSAKSI (Matius 5:14-16; Yesaya 60:1-3)

Tuhan Yesus memberikan penugasan kepada semua orang yang percaya untuk menjadi terang dunia. Menjadi terang dunia dengan perbuatan-perbuatan yang baik sehingga orang memuliakan Tuhan. Apabila gereja bangkit dan bangun menyatakan terangnya, maka orang-orang berduyun-duyun datang kepada terang itu. Kita musti bisa menjadi terang kepada tetangga kita, kepada suku lain, kepada orang di luar gereja kita. Terang ini adalah perbuatan baik kita menjangkau orang-orang luar yang belum memiliki terang. Nyatakan terangmu supaya orang lain dapat keluar dari kegelapan, di lingkungan kita, di kantor, di sekolah, di komunitas kita, dll.

Sudahkah kita berbuat baik kepada setiap orang seperti yang Tuhan perintahkan di dalam firmanNya berikut ini :

1. Galatia 6 : 9 "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah".

2. 2 Tesalonika 3 : 13 "Dan kamu, saudara- saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik".

3. Matius 22 : 39 "Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".

4. Markus 12 : 31 "Dan hukum yang kedua ialah:
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama
dari pada kedua hukum ini."

5. Galatia 5 : 14 "Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!"

6. Yakobus 2: 8 "Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik." Dan bila seluruh isi Alkitab itu kita peras, maka akan keluar inti sarinya yaitu "KASIH" Mudah di katakan namun terkadang susah di laksanakan, tapi saya berharap kita bisa dan mau memulai untuk berbuat baik kepada siapapun juga.

Bacaan Alkitab Minggu 10 Mei 2009 : Matius 11 : 25 - 30

KEBENARAN DAN KELEGAAN BAGI YANG MENERIMA YESUS
Minggu Kantate

Pendahuluan
Raja Salomo terkenal sebagai raja yang bijaksana sekaligus pandai. Ingatlah cerita Salomo yang mampu mengembalikan seorang bayi kepada ibu yang sebenarnya. Salomo mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, karena ia sangat dekat kepada Tuhan. Sehingga kebenaran dinyatakan kepadanya. Ia menjadi disegani dan ditakuti oleh raja-raja di sekitarnya karena kebijaksaannya. Lalu mengapa pada ayat 25, Yesus justru menyembunyikan sesuatu kepada orang bijak dan orang pandai? Bukankah ini aneh? Atau apa maksudnya?

Membuka Hati dan Rendah Hati
Bila kita membaca pasal 11-13, akan mengerti kenapa Yesus berkata demikian. Konteksnya pada pasal ini, Yesus berhadapan dengan ahli-ahli Taurat dan orang Farise yang meragukan Yesus sebagai mesias. Padalah Yesus sudah tunjukkan keilahian-Nya melalui karya-karya penyembuhan dan lain-lain. Namun mereka tetap tidak bertobat. Lalu apa persoalannya sehingga mereka tidak percaya kepada Yesus? Sebenarnya ini bukan persoalan sudah tau atau tidak, sudah ngerti atau tidak. Tetapi ini lebih persoalan hati. Hati para ahli taurat dan orang Farise itu tertutup rapat terhadap yang mereka tau dan lihat. Terlebih mereka tidak rendah hati.
Ahli taurat dan Farisi tetap tegar hati dan tidak percaya kepada apa yang Yesus ajarkan. Mereka banyak baca kitab suci dan ahli taurat tapi tidak terbuka menerima apa yang mereka baca dan Yesus ajarkan. Mereka malah menjadi sombong dengan yang mereka tahu. Merasa suci dari orang lain. Merasa benar dari orang lain. Mereka membuka mata, membuka telinga, tetapi menutup hati. Jika sudah tutup hati, komunikasi akan berhenti. Maka itu sama dengan titik mati untuk tidak merubah diri. Itu sebabnya Tuhan menyembunyikan diriNya kepada mereka. Justru siapa sangka, Tuhan menyatakan diriNya kepada orang kecil. Tuhan lebih dekat kepada mereka. Kenapa bisa?
Orang kecil yang dimaksud pada nas ini adalah anak-anak atau orang yang belum dewasa. Dalam arti luasnya adalah orang yang belum matang berilmu, namun mampu menerima kehadiran Allah dalam diri Yesus Kristus. Inilah kelebihan dari orang kecil itu yaitu mampu membuka diri menerima Yesus Kristus dan rendah hati. Mereka mampu merespons Injil dengan positif.
Tuhan ingin dalam kehidupan iman Kristen kita, kita mempunyai hati seperti bayi yang setiap saat mau diajar dan dibentuk oleh Firman. Bukankah justru jika menjadi seperti anak kecil, kita masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat. 18:3).
Orang yang merasa diri bijak biasanya ia adalah orang yang sok tahu segala hal sehingga kalau ada orang lain yang mengatakan tentang kebenaran, ia akan menutup diri. Orang seperti demikian ini tidak akan pernah mendapatkan suatu pengetahuan karena belum apa-apa ia merasa pandai dan mempunyai banyak pengetahuan. Oleh sebab itu, bagi Yesus, murid sejati adalah yang banyak tau, namun juga mampu menerima kehadiran Yesus dalam hatinya.
Di zaman saat ini, selain membutuhkan orang bijak dan pintar, kita membutuhkan orang yang terbuka dan rendah hati. Namun jika disuruh memilih, mau orang pintar atau rendah hati? Rasanya lebih baik berteman kepada orang terbuka dan rendah hati walau tidak begitu pintar. Saya mempunyai seorang teman sekelas yang pintar, jago bahasa Inggris lagi. Tapi sayang orangnya tinggi hati. Maunya pendapatnya yang benar dan sifatnya tertutup. Akibatnya, di kelas dia tidak punya banyak teman bahkan dikucilkan teman-teman. Jika rapat kelas, kehadirannya tidak dianggap penting, karena tidak akan bisa komunikasi baik dengannya. Demikianlah teman-teman meresponnya. Orang tidak akan membuka diri kepada orang yang tertutup dan tinggi hati. Orang cenderung hanya mau terbuka kepada orang yang juga mau terbuka.
Pribadi yang baik adalah yang mampu membuka hati dan rendah hati. Ia adalah yang bersifat open minded. Orang open minded biasanya lebih mudah untuk mengubah worlview-nya dari pada orang yang tinggi hati. Mengubah cara pandang tidaklah gampang, karena diperlu pengorbanan. Ia harus rela meninggalkan cara pandangnya yang lama. Namun seseorang yang memiliki keterbukaan hati dan pengorbanan menjadi tempat yang subur untuk bertumbuhnya didikan dan ajaran yang benar. Yesus sangat suka kepada yang memiliki open minded, karena akan mudah dididik dan diberikan kebenaranNya. Murid-murid Yesus adalah orang yang mampu membuka diri. Cara pandang mereka melihat Yesus berbeda dengan orang Farise. Murid-murid melihat Yesus sebagai Tuhan dan Guru, namun orang Farise melihat seperti itu. Murid yang open minded akhirnya meninggal gaya hidup mereka sebagai penjala ikan menjadi penjala orang .
Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang open minded terhadap ajaran Tuhan. Sehingga gereja yang open minded akan menjadi tempat dinyatakanNya kebenaran Tuhan. Demikian juga kepada keluarga yang terbuka kepada firman Tuhan dan menerimanya akan mendapat kebenaran Tuhan. Bagi yang menutup diri atau tidak perduli kepada firman Tuhan, kepadanya aka tersembunyi kebenaran Tuhan. Tuhan telah membuka diri untuk menerima keberdosaan kita. Oleh karena itu kita juga hendaknya terbuka dan rendah hati menerima kehadiran Tuhan.
Itulah sebabnya Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya karena berlaku benar dan adil. Bapa-Nya menyatakan kebenarannya pada orang yang tepat yaitu orang-orang kecil, orang-orang yang mau membuka diri dan menerima kehadiran-Nya. Hanya bagi orang yang demikian, kebenaran dinyatakan dan Injil dapat tumbuh berkembang. Agak sulit bagi orang yang berkuasa untuk masuk sorga (Mat. 19:23). Sebab tinggi hati dan ketertutupan hati cenderung melekat padanya.

Yesus Memberi Kelegaan Bagi Yang Memikul Salib
Kehidupan orang kecil sering dikuasai oleh orang yang berkuasa, orang yang pintar dan bijak. Bahkan orang kecil sering menangis karena penindasan yang mereka terima. Sehingga menjadi letih lesu menanggung penindasan atau beban yang berat. Mereka seakan tidak berdaya menanggungnya. Namun tidak berhenti sampai disitu. Yesus menawarkan kepada mereka tertindas, yang menderita dan orang-orang kecil untuk datang kepada-Nya, karena Ia akan memberikan kelegaan. Sungguh tawaran yang luar biasa.
Harus diakui bahwa setiap orang memiliki beban hidup yang berat. Kondisi ekonomi yang tidak baik, menyebabkan sulitnya memenuhi kebutuhan hidup. Keadaan ini sangat dirasakan oleh orang-orang kecil. Penduduk kota Jakarta lebih banyak dihuni oleh orang miskin. Mereka tinggal di tempat-tempat kumuh. Jiwa dan badan mereka sangat letih untuk mendapatkan hidup yang cukup. Hidup terancam karena kurang mendapat asupan gizi yang cukup. Nyawa diintai oleh penyakit yang tidak dapat disembuhkan karena ketidakmampuan mengakses layanan kesehatan. Masyarakat juga akan mengalami lesu yang berkepanjangan di masa mendatang karena rendahnya kualitas dan kuantitas pendidikan kita saat ini.
Bagaimanakah dampak turunannya? Banyak yang tidak tahan memikul penderitaan itu. Deretan jumlah orang bunuh diri di tanah air terus bertambah, akibat himpitan masalah yang banyak. Penderitaan dan beban berat dapat membuat orang jatuh ke dalam dosa. Lalu bagaimanakah sikap kita bila dalam keadaan letih lesu? Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya, karena Ia akan memberikan kelegaan.
Yang menarik, justru mengatakan? ”pikullah kuk yang kupasang”. Pengikut Kristus harus memikul kuk itu, bukan justru menghindar atau membuang kuk itu. Yesus menuntut dengan tegas agar seorang hamba setia mengemban kuknya. Bagi orang Yahudi, ”kuk” adalah simbol ketaatan pada hukum dan hikmat Tuhan. Orang Kristen diminta untuk patuh dan taat menerima kuk itu. Kita harus belajar kepada Tuhan. Walau dihina, diludahi bahkan mati di kayu salib, Ia tetap setia memikul penderitaan itu. Kenapa bisa? Karena kuk itu enak dan ringan.
Kuknya enak dan ringan bukan karena sesuatu itu mudah untuk dilakukan atau jalannya aman. Justru sebaliknya, salib adalah menakutkan (Mat. 16:24), berada di tengah serigala (Mat. 10:16). Kuk dari Yesus itu enak dan ringan karena itu adalah jalan Tuhan dan merupakan pendahuluan dari penebusan jiwa manusia.. Bila dilihat pada sapi, kuk itu menjadi beban namun sekaligus penuntun. Jadi salib dan penderitaan itu adalah juga penuntun. Kemudian kuk yang dipasang itu tidak merugikan yang memikulnya. Justru akan membawanya kepada kelegaan. Membawa kelegaan di bumi dan juga di sorga. Undangan dan janji Yesus inilah yang harus kita nyanyikan sebagai nyanyian baru dalam hidup kita. Menyuarakan dengan syukur bahwa Tuhan tidak memberikan kehidupan yang lebih baik, jika tetap setia dalam memikul kuknya. Bukalah hatimu akan kehadiranNya. Amin.

Jumat, 01 Mei 2009

RENUNGAN: 1Raja 9:1-10:29

”KETAATAN MENDATANGKAN BERKAT DARI TUHAN”
(Bacaan Alkitab: 1Raja 9:1 – 10:29; 2Taw.7:11 – 9:28)

Orang bijak berkata, "Kita akan menuai apa yang kita tabur“. Jika kita menanam satu biji jagung, maka kita menuai setongkol jagung. Satu tongkol berisi ratusan biji jagung. Jelas, bahwa yang dituai selalu lebih banyak daripada yang ditanam.
Ketaatan, yaitu melakukan perintah atau ketetapan Firman Tuhan, juga bisa digambarkan seperti menanam. Tuhan memberkati orang yang taat kepadaNya. Ketika raja Salomo melakukan segala sesuatu sesuai dengan Firman Tuhan, kerajaannya menjadi jaya dan bangsa Israel menikmati berbagai berkat Tuhan.

Janji Tuhan Kepada Salomo (1Raja-Raja 9:1-9)
Sekali Tuhan berjanji, maka tidak akan pernah diingkariNya, Ia pasti menepati janjiNya. Dalam ayat 4-7, terdapat kata: “Jika… maka…”, berarti janji Tuhan itu bersyarat. Syaratnya adalah, kesetiaan serta ketaatan umat dalam melakukan firmanNya. Apabila umat Tuhan taat, maka Dia pasti memberkati sesuai dengan janjiNya. Jika umat Tuhan memberontak dan melanggar firmanNya, maka Tuhan pasti menghukum. Tuhan memberkati orang yang taat, sebab itu kita harus berkeputusan untuk selalu menaati Dia.
Janji Tuhan kepada Salomo adalah perjanjian bersyarat. Untuk dapat mengetahui isi perjanjian itu serta persyaratannya, bacalah 1Raja-Raja 9:4-8! Jika Salomo setia kepada Tuhan, maka Tuhan akan meneguhkan kerajaannya; dan apabila Salomo tidak setia, maka Tuhan akan mendatangkan malapetaka terhadap kerajaannya. Jika Salomo dan bangsa Israel memberontak kepada Tuhan, maka Bait Allah tempat nama Tuhan diam pun akan ditinggalkan Tuhan, dihancurkan, bahkan bangsa Israel akan dibuang.
Tuhan sangat marah terhadap umatNya yang menyembah berhala. Tetapi Tuhan berkenan kepada setiap orang yang taat melakukan firmanNya dan setia beribadah hanya kepada Dia. Beribadah kepada Tuhan berarti melayani Tuhan dengan benar dan dengan hati yang murni, teguh, jujur dan tulus.
Dalam Alkitab terdapat banyak janji Tuhan kepada umatNya. Agar kita dapat menaati Tuhan setiap hari dalam perkataan dan perbuatan, maka kita harus membaca dan mendengar firmanNya setiap hari. Janji-janji Tuhan akan menjadi berkat bagi setiap orang yang menaatiNya.

Keberhasilan Usaha Salomo (1Raja-Raja 9:10-28)
Setiap usaha yang dilakukan dengan gigih, penuh perjuangan, dan pantang menyerah, cepat atau lambat akan mendatangkan hasil. Kegagalan hanya untuk orang yang gampang menyerah. Dalam ayat 10 tercatat secara ringkas kerja keras Salomo dalam membangun Bait Allah dan istana kerajaannya. Ia menghabiskan waktu selama 20 tahun.
Sebahagian orang menghendaki keberhasilan secara instant (baca:gampang dan cepat), tanpa doa dan tanpa kerja keras. Keberhasilan yang diraih dengan cara yang instant, biasanya tidak tahan uji dan kadangkala dicapai dengan menghalalkan segala cara. Misalnya, ada orang yang ingin cepat kaya, lalu meminta bantuan kepada dukun. Akan tetapi orang yang hidup taat kepada Tuhan, meraih keberhasilan sebagai berkat Tuhan melalui perjuangan yang keras, yaitu berdoa dan bekerja (Ora et Labora).
Setiap usaha yang dilakukan Salomo diberkati Tuhan, karena ia mencari Tuhan terlebih dahulu dengan membangun Bait Suci bagi Allah; kerajaannya menjadi jaya sehingga orang Israel hidup aman dan sejahtera. Salomo menghargai bantuan Hiram (ay.11), ia memperkuat hubungan internasional. Salomo berhasil menjalankan pemerintahannya dengan baik.
Keberhasilannya adalah berkat dari Tuhan, dan kerja keras adalah cara untuk memperolehnya. Oleh karena itu, Tuhan tidak boleh dilupakan. Salomo mengingat dan memuliakan Tuhan dengan membawa persembahan kepada Tuhan (ay.25).

Harta Kekayaaan Salomo (10:14-29)
Berkat Tuhan bisa bersifat rohani, bisa pula bersifat materi. Harta kekayaan Salomo yang dicatat dalam 1Raja-Raja 10:14-29 adalah berkat-berkat yang bersifat materi. Artinya, Salomo diberkati Allah dengan berkat materi, sehingga ia menjadi sangat kaya. Kekayaan Salomo merupakan bukti bahwa Tuhan selalu menepati janjiNya (1Raja 3:11-13).
Kekayaan Salomo tidak terhitung banyaknya. Dalam ayat 14 disebutkan, "Adapun emas, yang dibawa kepada Salomo dalam satu tahun ialah seberat enam ratus enam puluh enam talenta“. Satu talenta sama dengan 34 kilogram. Berarti penghasilan dari emas setahun adalah 666 x 34 = 22.644 kilogram. Jika harga emas satu gram Rp. 100.000,- maka harga emasnya setiap tahun adalah 22.644 x 100.000 = 2.264.400.000.000,-
Untuk mengetahui semua kekayaan Salomo bacalah 1Raja-Raja 10:14-29! Salomo memperoleh kekayaan itu bukan dengan korupsi atau mencuri. Ia adalah raja yang bijaksana, penuh dengan hikmat Tuhan, sehingga ia dapat menjalankan roda kerajaan dengan baik. Sebagai hasilnya adalah kekayaan dan kemakmuran kerajaan Israel. Dengan kata lain, Salomo menjadi kaya raya karena hikmat dari Tuhan.

Kesimpulan
Tuhan berjanji akan memberkati orang yang taat kepadaNya. Selama menaati Tuhan, Salomo mengalami berbagai keberhasilan. Keberhasilan yang berkenan kepada Tuhan adalah keberhasilan karena usaha dan kerja keras yang dilakukan dalam ketaatan kepada FirmanNya. Tuhan memberkati orang yang hidup sesuai dengan firmanNya.

Penerapan
Pada sehelai kertas, tulislah:
1. Hasil-hasil yang pernah kau terima karena ketaatanmu
2. Hukuman-hukuman yang pernah kau terima karena ketidaktaatanmu, baik dalam hal berdoa, belajar, maupun berkaitan dengan ketaatanmu terhadap perintah orang tua, peraturan di sekolah Minggu, di sekolah, maupun dalam bermain, dan lain-lain.

RENUNGAN: 1Petrus 3:8-12

PERSEKUTUAN DAN PERSAUDARAAN
1Petrus 3 : 8 - 12
"Persekutuan dan persaudaraan yang rukun adalah dambaan setiap orang di dunia ini. Bagaimanakah agar impian ini menjadi kenyataan? Persektuan dan persaudaraan ini terwujud jika kita memiliki nilai-nilai hidup seperti: Pertama, Seia sekata. Harus kita akui bahwa kita memiliki banyak latar belakang yang berbeda-beda menurut suku, bahasa dan adat istiadat, pendidikan, pekerjaan, cara berpikir dan sebagainya, namun kita harus benar-benar sehati, seia-sekata, supaya dapat hidup sebagai persekutuan yang mau mengerti satu dengan yang lain. Situasi yang demikian menggambarkan bahwa jemaat merupakan organ atau badan yang hidup, di mana terdapat berbagai-bagai anggota atau suatu badan yang sangat berlainan bentuknya dan sangat beraneka ragam fungsinya. Di dalam keberanekaragaman itu anggota-anggota dapat saling membantu dan saling mengisi satu sama lain. Tidak ada yang menganggap dirinya lebih berharga dan lebih tinggi. Baik Tuhan Yesus maupun rasul-rasul, sering menekankan kesatuan di dalam persekutuan. Tuhan Yesus dalam doaNya supaya "murid dan pengikutNya, menjadi satu“ (ut omnes unum sint). Rasul Paulus menggarisbawahi dalam surat kirimannya kepada jemaat di Roma, Korintus, dan Efesus, “meskipun anggota-anggota itu berlainan dan mempunyai talenta-talenta yang sangat berlainan, namun mereka tetap satu badan, satu organ yang hidup“.
Kedua, seperasaan (sympathein=sama merasai sakit). Dalam satu organ yang hidup, bila tangan terluka, sesungguhnya tidak hanya tangan saja yang menderita, melainkan seluruh tubuh menderita kesakitan. Begitulah sifat organ yang hidup, di mana semua anggota ikut menderita apabila salah satu anggota mengalami kesakitan dan sama-sama bersukacita apabila salah satu anggota bersukaria (1Kor.12:26).
Ketiga, mengasihi. Pusat atau azas hidup orang Kristen adalah kasih karena hakikat atau kesempurnaan Allah adalah mengasihi dunia. Kasih adalah sumber dari segala kebajikan. Kasih itu panjang sabar, kasih menjauhkan dengki, kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong dan sebagainya. Artinya kita diharapkan memiliki persekutuan dan persaudaraan yang rukun (bd.Mzm.133). Jika pada kita tidak ada kasih sudah barang tentu persaudaraan itu tidak dapat dinikmati.
Keempat, penyayang. Sifat penyayang ini harus didasari atas kepenyayangan Tuhan kepada kita yang rela berkorban menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia. Kita juga harus mampu menyayangi suami-istri dan anak-anak, serta orang lain tanpa memandang suku, ras dan budaya.
Kelima, rendah hati. Dengan rendah hati kita mampu mengalahkan kesombongan dan kecongkakan kita. Karena sifat kesobongan dan kecongkakan inilah yang sering merusak persekutuan dan persaudaraan di antara kita. Sifat rendah hati akan menjadikan persekutuan kita akan semakin indah dan bahagia.

Rabu, 29 April 2009

RENUNGAN: Matius 16:16

WHO IS JESUS?



Hingga kini ketiga Injil Sinoptik memperkenalkan Yesus terutama lewat ajarannya, lewat penyembuhan yang dilakukannya, termasuk tindakan mengusir roh jahat, dan lewat peristiwa perbanyakan roti. Orang mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya dia itu dan bagaimana ia dapat mengerjakan semua itu. Semakin disadari bahwa dia lain dari orang-orang luar biasa lainnya. Siapakah dia sesungguhnya? Dalam Mat 16:13-19 yang dibacakan pada hari raya Petrus. Petrus menyuarakan kesadaran para murid bahwa Yesus itu Mesias, anak Allah yang hidup. Penegasan ini sebetulnya satu sisi saja dalam pewartaan mengenai siapa sebenarnya Yesus. Sisi yang lain menyangkut perjalanan ke arah penderitaan, wafat dan kebangkitan Yesus yang diungkapkan ketiga Injil Sinoptik langsung sesudah penegasan akan kemesiasan Yesus.

POKOK PEWARTAAN

Memang ada pelbagai perkiraan di masyarakat mengenai siapa Yesus itu. Dan di Kaisaria Filipi para murid diajak Yesus berbicara mengenai pelbagai pendapat mengenai dirinya. Sudah matang saatnya para murid dituntun mengenali siapa dia itu sebenarnya. Mereka telah mendengar ajarannya, telah melihat perbuatannya, dan menyaksikan kekuatannya. Kini tibalah waktunya memahami siapa dia itu.

Tentu saja mulai disadari bahwa Yesus yang mempesona dan diikuti banyak orang ini ialah dia yang resmi ditugasi Allah dan kedatangannya yang dinanti-nantikan banyak orang. Dialah Mesias yang diharapkan membangun kembali umat Allah seperti dahulu kala. Dialah yang bakal memimpin orang banyak makin mendekat kepada Allah sendiri. Di dalam kesadaran orang banyak, Mesias ini ialah keturunan Daud yang akan mengawali zaman adil dan damai. Dalam keagamaan Yahudi, gagasan Mesias seperti ini disatukan dengan pengertian "Anak Manusia", seperti terungkap dalam penglihatan Daniel (Dan 7:13). Gereja Awal juga percaya bahwa Yesus ialah tokoh ini.

Keyakinan di atas mau tak mau berhadapan dengan kenyataan bahwa Yesus akhirnya mengalami penderitaan, ditolak oleh para pemimpin masyarakat Yahudi yang sah ("tetua, imam kepala dan ahli Taurat" ialah tiga macam anggota di dalam Sanhedrin, badan resmi masyarakat Yahudi) sampai dibunuh. Namun demikian, nanti dengan pelbagai cara para murid Yesus juga mengalami kebangkitan Yesus pada hari ketiga. Dan pengalaman inilah yang membuat mereka percaya bahwa Yesus itulah sungguh Mesias.

Rumusan penegasan Petrus yang disampaikan secara sederhana tapi tegas dalam Mrk 8:29 "Engkaulah Mesias" mengungkapkan pokok kepercayaan yang tumbuh dalam Gereja Awal. Bukan tanpa arti bila dalam ketiga Injil Sinoptik pemberitahuan pertama mengenai penderitaan, wafat dan kebangkitan didahului dengan penegasan Petrus mengenai siapa sebenarnya Yesus itu. Penegasan ini kemudian dipertajam rumusannya oleh Matius dan Lukas dengan cara masing-masing. Menurut Mat 16:16, Petrus berkata, "Engkaulah Mesias, anak Allah yang hidup!" (Mat 16:16). Matius menambahkan "anak Allah yang hidup" untuk menggarisbawahi bahwa Allah-lah yang memilih Yesus sebagai pewarta kehadiranNya di dunia. Matius juga bermaksud menjelaskan bahwa Mesias yang dinanti-nantikan ini bukan pemimpin politik atau penguasa yang bakal membangun kembali kejayaan Israel dengan kekuatan militer. Maklum di kalangan Yahudi harapan akan Mesias politik ini amat kuat. Persoalan ini tidak amat terasa dalam lingkungan Lukas yang bukan berasal dari kalangan Yahudi. Mereka lebih berminat memahami apakah kuasa dan kekuatan Yesus itu memang berasal dari Allah sendiri. Karena itu ditandaskan dalam Luk 9:20 bahwa Mesias tadi "dari Allah". Maksudnya, Yesus datang dari Dia dan menunjukkan bahwa Allah sendiri bertindak dalam diri Yesus untuk membebaskan manusia dari kuasa-kuasa jahat, dari penyakit, dari kekersangan batin. Inilah yang membuat Yesus betul-betul menjadi Mesias bagi semua orang.

SIAPAKAH "ANAK MANUSIA" ITU?

Ketika Yesus menanyai murid-muridnya apa kata orang mengenai siapa "Anak Manusia" ada jawaban yang bermacam-macam. Ungkapan "Anak Manusia" dipakai merujuk pada diri Yesus. Dalam kesadaran orang Yahudi pada zaman Yesus, ada kaitan antara tokoh yang dinanti-nantikan datangnya sebagai Mesias dengan penglihatan dalam Dan 7:13 yang menggambarkan tokoh yang mirip manusia itu terlihat datang mengarah kepada Yang Mahakuasa dan mendapat kuasa di bumi dan di langit.

Dengan memakai ungkapan itu Yesus hendak memperkenalkan dirinya yang sesungguhnya. Ia tidak bertanya mengenai apa kata orang mengenai ajarannya, mengenai tindakannya, mengenai kelakuannya. Ia ingin mendengar bagaimana orang menerapkan siapa tokoh yang terarah kepada Yang Mahakuasa itu, siapa "Anak Manusia" tadi. Para murid diajak menengarai pelbagai pandangan yang ada mengenai dirinya: ia seperti Yohanes Pembaptis, tokoh spiritual yang masih segar dalam ingatan orang, juga bisa dibandingkan dengan Elia, seorang nabi besar yang diceritakan telah naik ke langit dan tentunya akan kembali diutus Allah mendatangi umat pada saat-saat mereka membutuhkan dampingan dan arahan, atau seperti nabi Yeremia yang dikenal tak jemu-jemunya memperingatkan umat dan para pemimpin agar tetap setia pada Allah di tengah penderitaan dan mengajarkan kerohanian yang sejati dan bukan praktek luar-luar saja.

BAGI KALIAN, SIAPA AKU INI?

Pendapat-pendapat itu tidak bisa dikatakan meleset. Walaupun demikian, ada pemahaman yang dapat lebih menolong. Yesus menanyai Petrus dengan ungkapan yang berbeda, "Tetapi apa katamu, siapakah aku ini?" Tidak lagi ditanyakan apa kata orang, melainkan apa katamu. Juga tidak lagi dipakai sebutan "Anak Manusia", melainkan "aku". Petrus kini tampil sebagai wakil para murid yang kemudian mempersaksikan Yesus Kristus dan meneruskan wartanya. Pertanyaan Yesus kepadanya bukan pertanyaan kepada individu Petrus saja. Setelah menanyai para murid, pada ay. 15 disebutkan Yesus bertanya kepada "mereka" - yakni para murid tadi. Terjemahan LAI "apa katamu" tidak amat jelas. Memang dalam bahasa Indonesia "-mu" bisa berarti tunggal bisa pula jamak. Teks asli dalam bahasa Yunani memakai kata "kalian" yang hanya bisa berarti jamak. Maka pertanyaan tadi jelas ditujukan kepada para murid, begitu juga menurut Injil Markus dan Lukas. Dalam situasi itulah Petrus tampil mewakili para murid. Oleh karena itu, tak usah ditafsirkan bahwa di sini ada imbauan untuk menumbuhkan jawaban iman yang digarap secara pribadi, bukan rumus-rumus yang siap pakai saja. Memang iman yang dewasa dan kuat juga semakin pribadi sifatnya. Tetapi tanya jawab dengan Petrus ini bukan ke sana arahnya.

Jawaban Petrus juga mencerminkan pemahaman para murid. Memang kemudian Matius secara khusus menyoroti Petrus. Setelah penegasan tadi, pada ay. 17, Matius menambahkan episode Yesus menyebut Petrus berbahagia karena pengetahuan tadi didapat bukan dari manusia melainkan dari Bapa di surga. Kemudian dalam dua ayat berikutnya Simon disebut Yesus sebagai batu karang dasar Gereja dibangun yang tak bakal terkalahkan oleh maut, ia juga disebut pemegang kunci surga (Mat 16:18-19). Tambahan ini tidak ada dalam Injil lain.

BATU KARANG DAN KUNCI

Batu karang jadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, Yunaninya "petra", ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu menghunjam. Dikatakan juga bahwa alam maut (Yunaninya "hades", Ibraninya "syeol") takkan bisa menguasainya, maksudnya takkan dapat mematikan kumpulan orang yang percaya tadi.

Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya ialah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tak tergoyah. Petrus digambarkan sebagai tempat Yesus mendirikan umat yang takkan terkuasai alam maut.

Gambaran di atas dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga! Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tak ada jalan ke surga bagi daya-daya maut. Apa yang dilepaskannya di bumi, yakni manusia yang bila dibiarkan sendirian akan menjadi mangsa lubang syeol menganga tadi. Tidak amat membantu bila kata-kata itu ditafsirkan sebagai penugasan Petrus menjadi "juru kunci gerbang surga" menentukan siapa orang diperkenankan masuk dan dibiarkan di luar tidak peka konteks. Malah tafsiran itu akan membuat warta Injil Matius kurang terasa.

Bisakah gagasan kunci Kerajaan Surga dipakai sebagai dasar bagi wibawa takhta apostolik Paus penerus Petrus? Tentu saja, asal dilandasi dengan pengertian di atas. Bukan dalam artian juru kunci gerbang ke arah keselamatan, membuka atau menutup akses ke surga, melainkan sebagai penangkal kekuatan-kekuatan alam maut. Pernyataan itu memuat penugasan melindungi umat, bukan pemberian kuasa menghakimi.

Bacaan Alkitab Minggu, 3 Mei 2009: 1Tesalonika 2 : 13 - 20

DI BALIK PERJUANGAN BERAT: “KAMULAH SUKACITA KAMI”

Betapa melegakan, betapa membahagiakan! Demikian ungkapan seorang ibu yang baru saja menyaksikan wisuda putranya yang bungsu. Peristiwa yang kelihatan biasa-biasa itu baginya luar biasa! Betapa tidak, dalam usia relatif muda, ia ditinggal suami dan harus berjuang mengasuh enam orang anak. Dengan gaji minim seorang guru ditambah dengan berbagai kerja “serabutan”, akhirnya perjuangan panjang itu berbuah! Semua anaknya yang menyadari betapa beratnya perjuangan sang ibu, berjuang sepenuh hati untuk menyelesaikan studi sebaik mungkin dan secepat mungkin. Bahkan, ada yang mulai bekerja sementara studi. Ketika ditanya apakah ibu yang mengagumkan ini pernah merasa nyaris putus asa (mandele), ia mengaku dengan jujur: Ya, tentu saja. Tetapi, dengan pertolongan Tuhan, tegasnya, itu tidak sampai menghentikan perjuangannya demi anak-anaknya. Sudah sepantasnyalah, ibu yang telah berjuang keras itu bersukacita dan bangga melihat hasil jerih lelahnya!
Serupa tapi tak sama, sungguh berat pergumulan yang dialami Paulus dalam misinya mewartakan Kabar Baik “sampai ke ujung bumi” (Kis 1.8). Beberapa kali ia menyebutkan bagaimana ia ditindas, habis akal, dianiaya, dihempas, dihajar, didera, dipenjara (2Kor 4.8-9; 6.4-10), pendeknya “nyaris mati”! Situasi ini juga yang dialaminya ketika ia tinggal di Tesalonika. Sebelumnya, ia dipenjara di Filipi karena hasutan beberapa orang yang meraup keuntungan besar dari hasil tenungan (Kis 16:13-18). Paulus barangkali tidak menyadari “pil pahit” yang harus ditelannya dengan mengusir roh tenung dari seorang perempuan!
Namun, ia bukan Paulus yang kita kenal jika menyerah begitu saja kepada kesulitan! Memang luar biasa, tampaknya ia tidak mengenal kata “jera”, persis seperti yang ditulisnya: “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa” (2Kor. 4:8). Jadi, sama sekali tidak mengherankan jika setelah dilepaskan dari penjara, ia langsung meneruskan kegiatan misinya, “seperti biasa”. Ya, seperti biasa seolah peristiwa yang masih segar itu tidak meninggalkan trauma apa-apa.
Di Tesalonika, seperti biasa, ia mulai dari sinagoge, tempatnya beribadah secara rutin sebagai orang Yahudi (Kis. 17:1-2). Ia bersaksi tentang Mesias yang menderita sampai mati, tetapi bangkit lagi membawa kehidupan! Beberapa orang sebangsanya menjadi percaya. Namun, yang paling banyak menyambut pewartaannya justru sejumlah besar orang Yunani dan perempuan-perempuan terkemuka. Orang-orang inilah yang menyambut pewartaan Paulus bukan sebagai perkataan manusia tetapi sungguh-sungguh sebagai firman Allah (1Tes. 2:13). Paulus berhasil meletakkan fondasi bagi berdirinya gereja Kristus di kota itu. Lagi-lagi, bukan tanpa perlawanan! Paulus dan Silas kembali menjadi korban hasutan. Oleh orang-orang sebangsanya yang iri hati, mereka difitnah sebagai sebagai pengacau yang tunduk kepada raja selain Kaisar di Roma (Kis. 17:6). Situasi yang kembali memanas memaksa Paulus dan Silas meninggalkan Tesalonika.
Perlawanan orang Yahudi terhadap pewartaan Injil oleh Paulus, seperti yang diungkapkan dalam surat pertama kepada jemaat Tesalonika, harus kita renungkan dengan hati-hati. Cukup ganjil juga, Paulus berbicara seolah-olah sebagai “orang luar”, seolah-olah ia tidak termasuk orang Yahudi. Bahasanya pun bukan main tajam. “Orang-orang Yahudi itu”, tegas Paulus, “telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya kami” (1Tes. 2:15). Mereka betul-betul digambarkan sebagai orang yang tak peduli pada apa yang dikehendaki Tuhan. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, mereka dicap sebagai orang yang memusuhi semua manusia! Pernyataan Paulus terkesan begitu keras: “Sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya!”
Kita perlu berhati-hati! Pernyataan seperti ini selama ribuan tahun telah menjadi karikatur gereja terhadap umat Yahudi. Dalam kitab-kitab Injil, potret negatif ini turut dilestarikan. Begitu pula, tulisan Bapa-bapa Gereja turut mengabadikannya. Yohanes Krisostomus, misalnya, mengecam orang Yahudi sebagai penipu, sinagogenya penuh setan dan lebih najis dari tempat pelacuran. Bahkan, Bapa Reformator kita Martin Luther tidak terlepas dari sikap anti-Yahudi! Dalam suatu polemik terhadap orang Yahudi, Luther mengecam mereka sebagai pembantai manusia. Ia bahkan menganjurkan agar sinagoge mereka dibumihanguskan, kitab-kitab suci mereka disita dan mereka diusir saja ke Palestina! Sungguh tragis, gambaran anti-Yahudi senegatif itu kelak berkembang menjadi kebijakan anti-Semitik di masa Hitler yang pada masa kecilnya pernah aktif dalam paduan suara di gereja. Seperti yang kita ketahui dari sejarah, lebih dari enam juta orang Yahudi dibantai oleh rezim Nazi di bawah pemerintahan Hitler.
Ya, kita harus membaca Alkitab dengan hati-hati. Paulus dalam surat pertama Tesalonika tidak menganjurkan agar orang Kristen membenci, apalagi membalas perbuatan saudara sebangsa Yesus! Benar, Paulus mengalami penghambatan dari saudara-saudara sebangsanya. Namun, seperti yang diungkapkannya kelak dalam surat Roma, “keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah supaya mereka diselamatkan” (Rm. 10:1)! Dapat dikatakan, keinginan dan doa Paulus sama bagi saudara sebangsanya dan orang-orang dari bangsa bangsa lain.
Fokus perhatian Paulus dalam teks yang menjadi bahan perenungan kita adalah pada hubungannya dengan orang Kristen Tesalonika. Sejarah misi sudah menunjukkan betapa sulitnya masa-masa permulaan itu umumnya bagi gereja-gereja muda. Wajar saja jika terdapat resistensi terhadap apa yang dianggap “asing” dan bisa mengancam tatanan yang sudah mapan. Itu berlaku baik bagi masyarakat Yahudi maupun yang bukan Yahudi. Paulus mengalami penolakan dari kalangan sebangsanya. Orang Kristen Tesalonika yang kebanyakan berasal dari kalangan bukan Yahudi juga mengalami hal yang serupa dari teman-teman sebangsanya (1Tes. 2:14).
Oleh karena situasi yang penuh tantangan itu, Paulus yang terpaksa meninggalkan Tesalonika sewajarnya merasa prihatin! Ia ingin tahu apa yang bakal terjadi dengan jemaat yang masih muda itu. Ia kemudian mengutus Timotius ke Tesalonika untuk mencari tahu tentang keadaan mereka dan sekaligus meneguhkan iman mereka (1Tes. 3:1-2). Demikianlah semestinya hati seorang gembala jemaat yang bagaikan bapa terhadap anak-anaknya (2:11). Kabar seperti apa yang dibawa Timotius ketika ia menemui Paulus di Korintus? Ternyata, kabar sukacita. Sungguh patut disyukuri, jemaat yang didirikannya dengan perjuangan berat tetap hidup dalam firman Tuhan! Tidak sia-sia kehadiran Paulus di antara mereka (2:1)! Kabar sukacita itulah yang mendorongnya untuk menyurati mereka. Tentu tak terbayangkan oleh Paulus, surat pertama yang ditulisnya sekitar tahun 50 akan dihimpun kelak sebagai bagian Perjanjian Baru dan dibaca sebagai firman Tuhan bagi generasi Kristen selanjutnya!
Sejarah misi di tanah Batak merupakan salah satu contoh tentang tantangan yang harus dihadapi gereja yang baru terbentuk. Tidak sedikit resistensi dari masyarakat Batak terhadap kehadiran orang-orang asing yang dijuluki sibontar mata, pembawa agama asing ke tanah Batak. Sejarah mencatat, penolakan itu bahkan telah menelan korban jiwa dari pihak para pewarta Injil, seperti yang terjadi pada Munson dan Lyman di Lobu Pining. Orang-orang Batak yang kemudian menjadi Kristen juga menghadapi hambatan dari saudara-saudara sebangsanya. Apa yang terjadi seandainya para perintis pewartaan Injil itu dipaksa kembali ke negeri asal mereka hanya beberapa bulan setelah mereka “berhasil” mendirikan gereja di tanah Batak? Apakah gereja yang baru seumur jagung itu segera lenyap? Mungkin saja. Tetapi, mungkin juga tidak! Jemaat di Tesalonika adalah contoh nyata. Tanpa dampingan Paulus, tokoh perintisnya, mereka tetap berdiri di atas dasar firman Tuhan, sungguh pun mereka menghadapi tantangan berat. Benih yang ditabur tetap tumbuh. Bukan penabur yang menentukan, tetapi Allah sendirilah yang memberi pertumbuhan (1Kor. 3:6).
Kita dapat belajar dari hubungan yang “sehat” antara tokoh Paulus dengan jemaat yang dirintisnya! Walaupun peran perintis seperti Paulus tentu saja penting dan patut dikenang, iman jemaat tidak tergantung padanya. Malah, Paulus dalam bagian lain surat pertama Tesalonika menyatakan betapa hatinya terhibur oleh anak-anak rohaninya yang ternyata tetap berdiri teguh tanpa dia (1Tes. 2:7). Tidak begitu banyak contoh-contoh seperti ini dalam sejarah misi. Kebanyakan, perintis yang notabene adalah orang asing tidak langsung memberdayakan orang Kristen setempat untuk mandiri. Bahkan, menurut almarhum Uskup Stephen Neill, kebanyakan memiliki mentalitas penjajah (colonial complex). Dalam penilaian mereka, orang Kristen setempat belum mampu berdikari. Iman mereka masih belum matang. Tunggu matang dulu, dan tidak jarang sampai “kematangan”, barulah diserahkan wewenang untuk mengelola sumber-sumber daya setempat.
Sampai sekarang pun, mentalitas seperti itu masih ada. Hampir semua tergantung pada pelayan gereja yang ditahbiskan. Pendeta atau mereka yang dipanggil “hamba Tuhan” memegang peran utama sampai ke urusan yang kecil-kecil. Jemaat merasa kurang “afdal” kalau bukan pelayan tahbisan yang berdoa. Dalam bentuk yang agak ekstrem, yang terjadi adalah kultus individu. Jika ketergantungan seperti ini yang membuat sang hamba Tuhan merasa sukacita, itu namanya salah kaprah! Begitu pula, tak perlu seorang hamba Tuhan merasa bersukacita, apalagi berbangga hati, hanya karena telah berhasil mengerahkan sumber-sumber daya dalam jemaat untuk membangun berbagai fasilitas fisik yang kasatmata. Kerja keras seperti itu bukan tak berguna dan dari sudut pandang manusia boleh-boleh saja disebut “prestasi”. Akan tetapi, jika kita belajar dari apa yang ditulis Paulus, harus dikatakan, “prestasi” demikian tidak dapat dijadikan dasar untuk bersukacita. Proyek-proyek “mercu suar” tidak akan diperhitungkan pada kedatangan Tuhan!
Yang seharusnya membuat seorang pelayan Tuhan bersukacita adalah ketika firman Tuhan yang ditabur sungguh-sungguh bertumbuh dan berbuah dalam kehidupan umat. Di rumah, dalam hidup bertetangga. Di tempat-tempat kerja. Dalam sepak terjang di masyarakat pada umumnya. Ya, dalam hidup sehari-hari di luar gereja! Kemuliaan seorang hamba Tuhan dan sukacitanya terletak pada firman yang bekerja dalam hidup umat. Ya, firman yang bekerja (energeomai, 2:13), yang energinya terwujud dalam hidup orang percaya secara nyata! Itulah iman yang teruji dalam segala situasi, termasuk dalam krisis dan berbagai kesulitan. Seperti doa dan harapan Paulus, iman demikianlah yang nyata dalam kasih yang melimpah-limpah kepada saudara-saudara seiman dan juga semua orang (1Tes. 2:13). Jika itu yang terjadi, segala jerih juang yang dilakukan barulah dapat dikatakan tidak sia-sia dan benar-benar membawa sukacita! Amin.

Jumat, 24 April 2009

Renungan: ”KEBAHAGIAAN DALAM KEBERSAMAAN” ( Mazmur 33 : 12 )

”KEBAHAGIAAN DALAM KEBERSAMAAN”
( Mazmur 33 : 12 )
Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!

Apakah kebahagiaan itu?

Kebahagiaan ialah suatu keadaan perasaan aman damai serta gembira. Dengan kata lain, kebahagiaan melebihi perasaan kegembiraan. Umumnya, kegembiraan berhubungan dengan suatu kejadian atau pencapaian yang khusus, sedangkan kebahagiaan berhubungan dengan keadaan yang lebih umum seperti kesenangan hidup atau kehidupan berumah tangga. Bagaimanapun, kedua perasaan ini sangat berkaitan dan subjektif.
Kebahagiaan seseorang tidak dapat diukur atau digambarkan, dan berubah-ubah mengikuti situasi dan kondisi. Orang yang kelihatan bahagia belum tentu berbahagia, dan orang yang kelihatan tidak bahagia belum tentu tidak berbahagia. Hanya orang itu sendiri yang tahu dan merasakan apakah dia bahagia atau tidak.
Pengertian kebahagiaan berbeda-beda antara seorang dengan yang lain. Ada yang merasa bahagia kalau dia mendapat makanan, pakaian dan kediaman yang paling sederhana, terhindar daripada penyakit, kelaparan, dan perang. Sebaliknya, ada orang merasa tidak bahagia meskipun hidupnya dalam keadaan yang aman, mewah, sehat, dan senang. Ada orang merasa tidak bahagia sekalipun, walaupun dia mempunyai kuasa, status, dan kekayaan.
Umumnya seseorang akan merasa gembira jika apa yang dihayati dan diingininya dapat diperoleh dan dinikmati. Dengan kata lain, kegembiraan dan kebahagiaan sangat berkaitan dengan harapan. Ini dapat menerangkan mengapa seseorang yang hanya mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.50.000,- merasa lebih gembira dibandingkan dengan seseorang yang mendapatkan kenaikan gaji sebanyak Rp.100.000,- Keadaan ini bisa terjadi apabila orang yang mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.50.000,- hanya berharap dia akan mendapatkan Rp.30.00,- sedangkan orang yang mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.100.000,- merasa kecewa karena dia mengharapkan naik pangkat dan kenaikan gaji sebanyak sekurang-kurangnya Rp.200.000,- Contoh ini juga dapat menerangkan mengapa seseorang yang hanya mendapat gaji sebanyak Rp.1.500.000,- sebulan merasa lebih bahagia, dibandingkan dengan orang yang mendapat gaji sebanyak Rp.15.000.000,- sebulan.
Namun demikian, jangan kita lupa bahwa emosi dan perasaan bahagia manusia adalah bersifat fana dan sementara. Kebahagiaan tidak pernah dan tidak akan kekal abadi karena dalam kenyataan hidup, adalah mustahil sama sekali bagi siapa saja untuk memperoleh dan menikmati apa yang dia ingini. Tambahan pula, keinginan dan hawa nafsu manusia sentiasa berubah-ubah, malahan bertentangan dengan dirinya sendiri.
Semakin kita tidak merasa bahagia, semakin kuat pula perasaan kecewa, sedih, dan tidak puas hati menekan diri kita. Perasaan kecewa, sedih, dan tidak puas hati akan mendorong manusia memperjuangkan dan menggila-gilakan kebahagiaan. Akibatnya, mereka akan tergila-gila dalam mencari-cari kebahagiaan. Umpamanya, dalam cita-cita menikmati kebahagian berkat dari uang, seorang pemuda sanggup menyamun atau membunuh, dan seorang wanita mungkin sanggup menjual kehormatannya.
Memang benar, manusia mengalami kekecewaan, ketegangan hidup, serta ketidakpuasan jauh lebih daripada menikmati kebahagiaan dan kepuasan. Tetapi kalau kita sadar bahwa kebahagiaan terletak pada hidup, dan hidup itu ialah kebahagiaan, maka sudah tentu kita akan merasa bahagia selama-lamanya. Kebahagiaan tetap dapat dicari, dialami dan dirasai, jika kita puas dengan keadaan hidup yang ada pada kita (manghasabamhon aha na adong). Tegasnya, kita akan hidup penuh bahagia jika kita berpuas hati dengan keberadaan kita, sambil itu berencana memperbaiki keberadaan kita. Perbuatan memperoleh kebahagiaan dengan mengakibatkan kerugian atau kesengsaraan orang lain akan dikutuki oleh Tuhan dan masyarakat.


Apakah Rahasia Kebahagiaan?

1. Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.
2. Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.
3. Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.
4. Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin kita menunjukkan seberapa banyak kita tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan kita. Mengapa bebek disebut “bodoh”? Karena terlalu banyak bercuap-cuap.
5. Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati: memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar kita. Sebab, setiap ciptaan adalah milik kita. Kita semua adalah ciptaan TUHAN yang satu.
6. Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.
7. Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila kita menganggap mereka penting, kita akan memiliki sahabat ke manapun kita pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.
8. Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati kita terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.
9. Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara! yang tidak prinsipil.


Kesimpulan

Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurahhatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya.
Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri “Aku bebas dalam diriku”.
Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup kita dengan kebahagiaan.
Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka sebagaimana mereka adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu?

Bacaan Alkitab Minggu 26 April 2009: 1 Petrus 5 : 1 – 5

GEMBALAKANLAH KAWANAN DOMBA ALLAH


1. Seorang ahli Biblika Perjanjian Baru, Warren W. Wiersbe, menyimpulkan isi surat 1 Petrus ini dengan perkataan ‘be hopeful’, yang artinya berpengharapan penuh. Kesimpulan ini tentu merujuk kepada situasi historis yang dihadapi oleh gereja perdana atau orang Kristen pada waktu itu, yakni penderitaan. Hal ini tentu merujuk kepada sejarah gereja perdana (gereja mula-mula), di mana orang Kristen (gereja) mengalami penghambatan dari kekaisaran Romawi. Oleh karena itu dapat dibayangkan bahwa orang Kristen pada waktu itu sangat menderita di bawah tekanan pemerintah Romawi. Orang Kristen menderita karena statusnya sebagai Kristen. Namun penderitaan itu adalah bagian dari pergumulan iman sebagaimana Kristus rela menderita.
2. Itu sebabnya, tujuan penulisan surat ini juga berhubungan erat dengan situasi historis yang dihadapi jemaat pada waktu itu. Tujuannya ialah hendak menghibur dan menguatkan orang Kristen agar senantiasa bertahan menghadapi penderitaan. Merujuk kepada penekanan surat 1 Petrus ini, Willi Marxsen berkata: Penderitaan adalah kehormatan sejauh orang menanggungnya sebagai orang Kristen dan bukan sebagai penjahat (4:12-19). Sebagai sebuah kehormatan maka orang Kristen harus bersyukur jika Tuhan masih menginzinkan kita menderita sebagai upaya kita ikut bagian dalam penderitaan Kristus. Tidak ada mahkota tanpa salib. Salib adalah simbol penderitaan bukan kemenangan. Pernyataan-pernyataan serupa ini hendaknya senantiasa mengisi khasanah hidup setiap orang Kristen. Jangan pernah bermimpi untuk memperoleh kemenangan tanpa perjuangan; dan … tiada hidup tanpa tantangan. Melarikan diri dari tantangan bukanlah solusi terbaik, namun hadapilah tantangan sebagai pejuang-pejuang Kristus.
3. Perikop 1 Petrus 5 : 1 – 5 juga harus dilihat dalam konteks penghiburan itu. Mudah dipahami betapa pentingnya upaya memperjelas komitmen pelayanan ketika tantangan dan pergumulan datang menghadang. Bukan hanya di situ, seorang pelayan dituntut menjadi teladan, termasuk dalam ketegaran menghadapi tantangan itu. Itu sebabnya, para ahli PB mengatakan bahwa perikop ini adalah tentang ‘how to be a good shepherd’ (bagaimana menjadi seorang gembala yang baik). Gembala yang baik adalah gembala yang senantiasa tegar dalam tugas panggilannya meskipun di tengah berbagai pergumulan. Selanjutnya ditegaskan ‘times of persecution demand that God’s people have adequate spiritual leadership’ (ketika penganiayaan datang menghadang maka umat Allah dituntut memiliki pemimpin spiritual sejati). Pemimpin sejati ini akan menjadi soko guru, sumber inspirasi dan semangat perjuangan. Dalam hal ini keteladanan dituntut dan ditunggu dari seorang pemimpin.
4. Menyingkap isi perikop ini, satu pertanyaan pembuka perlu didengungkan: What are the personal qualities that make for a successful pastor? Pertanyaan ini hendak memberi penegasan akan personal qualities (kualitas personal) yang harus dimiliki oleh seorang gembala yang baik. Dalam perikop ini ada tiga kualitas personal yang harus dimiliki oleh seorang gembala yang baik, yaitu:
a. A vital personal experience with Christ (memiliki pengalaman pribadi yang vital bersama Kristus, 5:1). Pengalaman vital atau unik ini tentu merupakan barometer kualitas iman. Itu sebabnya dalam ayat 1 ini Yohanes memperkenalkan diri bukan sebagai rasul tetapi sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Pernyataan ini menunjukkan betapa dalamnya hubungan personal Yohanes dengan Yesus. Tentu dalam proses kebersamaan ini Yohanes menemukan pendidikan pendewasaan iman hingga layak menjadi teladan. Itu sebabnya Yohanes rindu berbagi pengalaman (sharing) dengan jemaat perdana yang tengah dalam proses pembentukan identitas dan pencitraan diri sebagai Kristen sejati.
b. A loving concern for God’s sheep (keperdulian dalam kasih terhadap domba Allah, 5:2-3). Keperdulian atas dasar kasih ini tentu memampukan setiap gembala memiliki loyalitas dan dedikasi yang tinggi terhadap tugas panggilannya. Dia akan senantiasa melayani dengan tulus dan suka cita, tidak sekali-kali karena terpaksa. Dengan segala ketulusan ini maka terciptalah motivasi yang murni hanya untuk mengabdi kepada Alah, bukan karena mau mencari keuntungan. Pendangkalan akan motif pelayanan terjadi ketika pelayan tidak lagi hidup dalam kasih yang tulus.
c. A desire to please Christ alone (keinginan untuk hanya menyenangkan Kristus, 5:4). Gembala yang baik ialah gembala yang rela berkorban demi tugas yang diemban. Dia hanya bekerja untuk tugas dan panggilannya. Itu berarti, dia hanya melayani tuan yang memberikan tugas tersebut. Tujuannya hanya satu yakni menyenangkan hati tuannya. Demikianlah juga setiap gembala harus menyenangkan Kristus bukan manusia.

5. Perikop ini juga dilengkapi dengan himbauan kepada orang-orang muda agar menumbuh-kembangkan dalam dirinya sikap tunduk kepada orang-orang yang tua. Apa yang hendak kita lihat di sini? Ada upaya untuk menata hidup jemaat dalam bingkai kerendahan hati. Jika setiap gembala jemaat melayani dengan rendah hati maka orang-orang muda juga dituntut merespons pelayanan itu dengan rendah hati. Dengan kerendahan hati ini maka kerjasama dan saling mengisi akan tercipta. Bila hal ini terwujud maka hanya nama Tuhanlah yang dimuliakan.
6. Nas ini akan menjadi dasar persekutuan kita dalam Minggu Miserikordias Domini. Apa yang hendak kita lihat di sana ? Miserikordias Domini artinya nyanyikanlah belas kasihan Tuhan. Penekanan utama di sini adalah mengenai belas kasihan Tuhan dan perbuatanNya yang baik kepada kita. Belas kasihan itu sendiri bukanlah karena perbuatan manusia. Lalu dihubungkan dengan nas kita, yang hendak ditegaskan ialah belas kasihan Tuhan yang diwujud-nyatakan dalam campur tanganNya memimpin dan membimbing hidup kita. Tentu kemepimpinan dan bimbingan Tuhan itu akan direalisasikan dalam tugas para hambaNya. Yesus adalah gembala yang baik (Yoh. 10). Tindak lanjutnya, para gembala jemaat juga harus menjadi gembala yang baik. Biarlah dengan penggembalaan yang baik, setiap orang semakin merasakan belas kasihan Tuhan.
7. Gembala yang baik harus rela menderita. Sejenak berenung dari kisah perjalanan Dietrich Boenhoefer. Dia berkata The Cost of Discipleship. Betapa mahalnya mengikut Yesus. Seorang pengikut Yesus harus rela menderita. Itu sebabnya dia berkata lagi Follow Jesus and… die. Barangsiapa yang hendak mengikut Yesus dia harus rela sampai mengorbankan nyawanya sekalipun. Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan komitmen, kebulatan tekad dan kekuatan yang hanya dari Tuhan.
8. Dalam pola hidup demikianlah para pelayan dituntut menjadi gembala dalam tugas pelayanannya. Merujuk kepada nas kita, ada tiga kualitas personal yang harus dia miliki, yakni :
a. Harus memiliki pengalaman yang unik dan vital akan persekutuannya dengan Tuhan. Pengalaman unik yang dimaksud di sini adalah hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan.
b. Harus memiliki keperdulian yang tinggi atas dasar kasih.
c. Harus memiliki komitmen untuk hanya menyenangkan Tuhan.

9. Siapakah gembala itu? Gembala bukan hanya pelayan tahbisan (pelayan penuh waktu). Gembala adalah semua orang yang telah menjadi bagian dari persekutuan dalam Gereja sebagai tubuh Kristus. Oleh karena itu, nas ini juga hendak berbicara kepada kita semua. Melalui nas ini Gereja sebagai suatu persekutuan orang kudus diajak berbenah ini untuk semakin meningkatkan intensitas pelayanannya. Hal ini menuntut jemaat yang semakin misioner.

Kamis, 16 April 2009

Jamita: Jesaya 46:3-4

“HOT DO HAHOLONGAN NI TUHAN I DI HITA”


1. Angka debata ganaganaan nada margogo i paluahon dirina sandiri apalagi ma giot paluahon halak na asing (1-2). Debata Bel dohot Nebo ima ganaganaan ni halak Babilonia. Madung lolot dewa on disomba halak Babilonia laho manghirim hamajuon dan hasukseson (pat. Dan.5:4). Disomba halahi do dewa on hape nada bisa mangurupi halahi jumpa masa hamaolon di ngoluna. Nada jugada margogo patung i laho mangalo musu ni halahi na sai torus mamorangi halahi. Gabe dianggap halak Babilonia do sarupa Bel dohot Nebot tu Jahowa. Harani i dipaboa Debata do tu halahi aha na giot tarjadi tu ganaganaan ni tangan ni halahini i. Ditutungi jana ditapori halahi angka debatana, dibaen nada i Debata. Hum patung na nibaen sian hayu dohot batu sajo do i antong na nibaen ni tangan ni jolma; hara ni i do umbaen na bisa disegoi jolma. Na jumorbut muse ro ma angka mara tu tongatonga ni bangso i marhitehite bangsi Asyur hape nada margogo muse patung na disomba ni halahi i paluahon halahini sian parmaraan i.
2. Debata na sintong nada jungada mangagohon bangso-Na. “Ale pomparan ni si Jakob, tangihon ma Au…” Pandohan on pataridahon Debata na mangolu nada padiarhon angka bangso-Na ditaluhon musuna. Nada sarupa hagogoon ni Jahowa dohot debata Bel sanga Nebo. Mamungka sian bortian, Hutuhuk hamu; mamungka sorang, Huhunti hamu. Holong ni rohan ni Jahowa tu na porsaya i mamungka sian bortian lopus matobang jana ubanon obuk. Artina Jahowa manjagahon bangso Israel sian nasa mara. Nada dipaloas TUHAN sanga ise pe manyosak halahi; digorahon Ia angka raja laho mangondingi halahi (pat. Ms.105 :12-15). Songon halihi na mangajar anakna habang, ditarehon habongna anso ulang madabu. Songon i do TUHAN manjagahon Israel, anso ulang madabu (Pangarataion 32:11). Madung taida sanga aha Na dibaen Tuhan maradopkon halak Mesir, jana sanga songon dia dibaen Tuhan maroban bangso Israel mardongan kuaso na godang songon unggas rajawali na maroban anakna di ginjang ni habongna. Musa nada sabar di tingki na mamboan bangso Israel haruar sian Mesir, tapi Tuhan sobar do mangaramoti sude ngolu ni bangso i (Ba.Rasul 13:18). Madung diramoti Tuhan halahi sian bortian dope lopus tu sadari on. Muda songoni ma sobar dohot holong ni Tuhan mangaramoti ngolunta siganop ari, antong tama ma tutu sombaon jana pujionta denggan basa dohot holong ni rohaNa i tu hita. Harana sanga ise na tubu dibagasan Tuhan i pasti do diramoti Ibana ro di ujung ni ngoluna. Pangaramotion ni Tuhan i nada tanggungtanggung. Tanggung jawab ni Tuhan i nada golomgolom riaria. Tapi pasti ro di salolot ni lolotna. Hara ni i tapuji ma Tuhan i tongtong angke Ibana partobus hian.
3. Marjanji do Tuhan paboa nada tadinghononNia bangsonai. Au Debatamunu, giot mangondihon hamu; lopus matobang jana ubanon obukmunu. Au na manompa hamu, sai na sarihononKu do hamu, sai na paluaonKu jana urupanKu hamu. Muda pamatang ni jolma i muda mur matobang mur tu galena nama. Nada lobas ia be bagi namahua. Tapi anggo holong dohot pandonganion ni Tuhan nada mur gale. Tapi sai na dongananNa do halak na porsayai dung matobang halahi. Muda pe nada adong be donganna na ra mangurupi ia di hagaleonna, na sai rade do Tuhan i mandongani halahi di hatotobangna. Sai tongtong do Debata na gabe pambelanta; tanganNa na so ra mantak i panungkolinta. Dipaorot Ia musu sian jolonta, disuru Ia hita mangaropuk sude alonta (Pangarataion 33:27). Pangaramotion ni Tuhan lobi sian pangaramotion ni sahalak simatobang tu angka anakhonna. Na giot idaonta sian on ima : naparjolo, sude bangso Israel i angkon torus do manghirim di pangaramotion ni Tuhan di ngoluna. Harana holang pangaramotion ni Tuhan do na manongtong ro di salolot ni lolotna. Paduahon, pangaramotion ni Tuhan nada jungada manadinghon bangso i, tapi muda pangaramotion ni jolma adong do batasna. Nada tarbaen jolma mangaramoti dirina sanga pe keluargana lopus tu na matobang. Isarana sada simatobang na dung tobang situtu belum tentu bisa diparorot angka anakhonna dohot denggan. Tapi Tuhan torus do mangaramoti halahi di hatotobangna. Patoluhon, hot do pangaramotion ni Tuhan sian dakdanak lopus tu na matobang. Muda dung dihaholongi Tuhan nada dipadiar Ia na di haholonganNa i marsiak bagi. Tapi holong ni Tuhani torus di mandongani hita di pardalanan ni ngolunta.

Jamita: Johanes 5:1-9a

“PAMALUM NA NAMARSAHIT DI PARIDIAN BETHESDA”

1. Tanda halonganan pamalum na marsahit on nada dipaboa sude angka parbarita nauli na mandokhon holan di Galilea do tanda halongangan i. Tapi si Johanes manyurat sada tanda halongangan i di Jerusalem. Tingki i masa do parpestaan di Jerusalem ima pesta Paska. Dung i adong ma pesta ni halak Jahudi, gabe dohot ma Jesus tu Jerusalem. Adong piga-piga pesta na adong di halak Jahudi ima : a) Pesta Purim na biasa dilaksanahon tanggal 14-15 bulan Adar/Desember (Est.3:7, 9:24); b) Pesta Undung-undung Bulung Rata (Joh.7:2) na ditoruskon tu pesta Pantekosta di bulan September; c) Parningotan Pangompoion Bagas Ni Debata (10:22) di bulan November; dohot d) Pesta Paska (2:13; 6:4; 13:1) dohot angka pesta-pesta na asing na so pola targoaran di son. Songon halak Jahudi, Jesus sai torus do mandohoti pesta-pesta ni halak Jahudi on harana tiap taon do halahi mangarayahon pesta-pesta on. Pesta na biasa dipatupa di Jerusalem ima pesta Paska. Jadi kehe ma Jesus tu pesta Paska i na maringanan di Jerusalem. Sian on diajari do hita paboa Jesus sai mangharingkothon mandohoti sude angka karejo di tonga-tonga ni masyarakat dohot di tonga-tonga ni parlagutan i (pat. Ibrani 10 :25).
2. Di Jerusalem adong ma sada "Horbangan Biri-biri," jonok tu paridian na digoari di bahasa Heber Bethesda. Paridian on dipajongjong aso adong inganan paridian dohot parlangelangean (patudos B.Rasul 27:43). Marragam rupo do pandohan ni paridian on, adong na mandokhon: Bezatha, Bethzatha, Betzetha, Belzetha, Belzatha, Berzeta; dohot Bethsaida. Tapi na paling jotjot didokhon goarna ima Bethesda, muda di bagasan bahasa Heber (Bethchasdah) narmarlapatan ma i bagas asi ni roha (the house of mercy). Harana di paridian on adong asi ni roha ni Debata Ama laho pamalumhon sudena angka na marsahit dohot angka na marsitaonon. Inganan paridian on nada pola manggarar agia aha pe harana holan mangasahon huaso ni Tuhan do umbaen na malum sahit ni na marnyae i. Halak Jahudi sandiri pe nada jungada marpikir laho manjagit pajak sanga bayaran sian angka halak nadung malum sian paridian Bethesda i.
3. Mansai bahat do angka na marnyae na so tolap gogo be. Tapi sian sude na marnyae i, holan sahit na tolu on do na dipaboa tu hita ima na mapitung, na timpang, dohot na pangpangon. Biasi holan on di paboa si Johanes? Angke holan na marsahit na sitolu rupo on do na so margogo mandabuhon dirina parjolo tu paridian i, muda manggulsak aek Bethesda i. Gabe sai lumolot ma halak na marnyae sitolu nyae on malum sian sude angka namarnyae di inganan i. Na mapitung i, nada bisa diligi ia muda manggulsak aek i, gabe nada tarbaen ia parjolo be marlange di paridian i. Songoni muse na timpang i. Diligin ia do aek manggulsak tapi nada bisa ia hipas manimbung tu paradian Bethesda i. Mur ma muse na pangpangon i, atik pe diboto ia madung manggulsak aek i, tapi nada tarbaen ia morot sian podoman ni i laho manimbung tu aek paridian i. Jadi muda so adong halak na mangurupi halahi, sapanjang manyahena nada bisa halahini malum sian nyaena i. I do umbaen pola 38 taon sada bayo nada jungada dope ia dapotan kesempatan parjolo dung manggulsak aek i. Gabe lolot ma ia marsitaon on. Ise do na ra mangurupi ia aso dapot ia hamalumon i? Holan Jesus do na ro mangaligi ia di nyae na niadopan nia i. Dung ro Jesus gabe dipamalum ma ia so pola ingkon masuk tu aek i. Hita angka dongan, bahat do nuaeng di tongatonganta na gale angka na mapitung, na timpang dohot angka napangpangon naso tarbaen halahi haruar sian nyae ni halahi i. Adong do nuaeng on angka keluarga marpulupulu taon diarsahi angka anakhonna, adong do angka keluarga na marpulupulu taon marhosom ni roha tu angka donganna, dohot angka na asing i. Sapa-sapa di hita nuaeng, ise do na ra mangurupi halahi haruar sian sahit ni halahi i? Alusna ima hita angka na porsaya na rade rohana manyurduhon tanganna mangurupi halahi na mapitung, na timpang dohot napangpangon i, aso dapot halahi hamalumon na sian Tuhanta i. Mansai bahat do angka donganta na marsahit di Rumah Sakit, na marsitanonon di penjara, natumatangis di sihabunian. Hita ma kehe tu si laho mangubati roha ni halahi na gale, na magopu aso margogo halahi dapotan haluaan na sian Tuhan Jesus.
4. Hamamalum na sian paridian Bethesda i mijur marhitehite surusuruan ni Tuhan tu bagasan paridian i, manggaor aek i. Jana sanga ise sian na marnyae i parjolo masuk tu paridian i hatiha manggulsak aekna i, malum ma nyaena i; sanga na nyae aha pe angkon malum. Pangubation na sian surusuruan i, ima huaso na sian Debata do i na marhuaso laho pamalum sudena angka ragam ni nyae. Surusuruan ni Tuhan margogo manggulsak aek i paradehon hamalumon tu sude na dung paintehon hamalumon ni sahitna be. Suang songoni do panghobasionta di tongatonga ni parlagutan i. Surusuruan ni Tuhan i sasintong na torus dope manggulsak hamalumon ni sahit ni angka na porsaya i marhitehite aek hangoluan i. Di pake Jesus do sude angka panghobasionta di tongatonga ni Parlagutan i pabaorhon hamalumon ni nyae na adong di pardagingon dohot partondion ni ruas ni Tuhan i.
5. Taligi ma jolo sada bayo nadung tolu pulu salapan taon honokna marnyae. Nyae nia i mansai poran situtu. Madung gale ia pamatangna, nada marguna be angka pangurupi na dipake ia salolotna on laho pahusorhon pamatang ni i tu paridian Bethesda i. Hira na di bagasan penjara do panghilalaanna, angke nada adong na bisa tarkarejohon ia be. Lumolot noma ia marnyae sian na hisar jana pola do giot mago panghirimon nia tu hamalumon. Sianon taida bahaso nada jungada hape do angka Malim, Farisi, Siboto surat tu paridian (Rumah Sakit) Bethesda on. Nada adong program ni halahi mangurupi na gale pamatang na di rumah sakit Bethesda i. Di situasi si songoni ro ma Jesus tu RS Bethesda i jana pasuo dohot bayo na dung lolot payak dipodomanna i jana huhut didodok Jesus ma tusia, "Giot dehe ho malum?". Angke diboto Jesus do nadung lolot sajo bayo i payak dipodomanna jana nada adong namangurupi ia muda marhusor aek i. Dialusi bayo na marnyae i ma, "Nada adong donganku dison Tuhan na pamasuk au tu paridian i muda hatiha manggulsak aek i. Jadi hatiha giot masuk dope au tu paridian i, hape ma dipajolo halak na asing masuk." Sian alusi diboto Jesus do bahaso malungun do bayo i di hamalumon. Sian on taligi bahaso di kesibukan ni Jesus mangajari dohot manjamitai angka na porsaya i, disompathon ia do mangebati inganan ni angka na marsahit ima rumah sakit. Ro do Jesus tu inganan ni na gale pamatang laho mangurupi halahi di hagaleonna bahkan mangalehen haluaan marhitehite hamalumon ni nyae ni halahi. Antong sada tugas na arga do on di hita angka sisean ni Jesus sadarion. Aso taharingkothon manangianghon huhut mangebati angka donganta na gale pamatangna harani nyae na ampe di pamatangna. Ai donganta do halahi na di haholongi Jesus. Hita pe angkon tahaholongi ma halahi jana tapaboa jamita na denggan i tu halahi aso dapotan hamalumon halahi sian nasa nyaena be.
6. Sapasapa ni Jesus on angkon porlu begeonta. Harana nada holan tu namarnyae si 38 taon i sapasapa i. "Giot dehe ho malum?". Sapasapa on lalu ma tu hita muse. "Giot dehe ho malum sanga sesa dosamu?". Bahat do halak Kristen nuaeng nada ra ia sesa dosania. Nada jop rohania malua ia sian hajahaton. Umjop do rohania mangolu di hagolapan sian mangolu di hatorangan. Muda bayo i, 38 taon ma ia marnyae gabe malungun do ia hamalumon. Muda hita mapiga pulu taon hita di bagasan dosa, ma piga pulu taon hita mangolu dibagasan hajahatan. Giot dehe hita malua sian i? Muda giot do hita malua sian i sudena alusi ma Jesus di tingki on aso malum dihilala ho (pat.Mat.8:3).
7. Namangihut muse muda taparateatehon cara ni Jesus giot pamalum bayo na marnyae i, agak andul do sian na somal. "Jongjong ma ho, oban lagemi jana mardalan ma ho" Biasana muda giot malum na marnyae angkon marlange do ia tu paridian Bethesda i dung jolo manggulsak aek paridian i. Tapi hatihai Jesus pamalum bayo i nada pola disuru Jesus ia masuk tu paridian i, holan sandok hata do gabe malum ma dilala bayo i. Biasi songoni? Naparjolo, Jesus patuduhon bahaso cara pangubationNia jumeges sian aek paridian Bethesda i. Harana hamalumon ni bayo i nada holan malum boti ia, tapi gabe margogo situtu do ia mamboan lagenia i jana mardalan. Paduahon, Jesus paboahon bahaso sanga na ise pe na marnyae muda ro tu Jesus angkon dapotan hamalumon atik pe di ari Sabat i. Napatoluhon, Jesus mangalo tradisi hamalumon ni halak Jahudi tingki i, nada holan sian aek paridian Bethesda sajo dapot hamalumon tapi dibagasan Jesus sandiri do mual ni hamalumon na sanggam.

Senin, 13 April 2009

KHOTBAH

FAEDAH MORAL DARI HIKMAT
(Amsal 2:1-10)

Pendahuluan
Dalam tradisi Israel kuno mempunyai tiga golongan hamba Tuhan: para imam, para nabi, dan para bijak ("orang yang berhikmat"). Kelompok orang bijak khususnya dikaruniai hikmat dan nasihat ilahi mengenai masalah-masalah kehidupan praktis dan filosofis. Amsal merupakan hikmat para bijak yang terilhamkan.
Istilah Ibrani mashal, yang diterjemahkan "amsal", bisa berarti "ucapan" orang bijak, "perumpamaan", atau "peribahasa hikmat“. Karena itu ada beberapa ajaran (ucapan orang bijak) yang agak panjang dalam kitab ini (mis. 1:20-33; 2:1-22; 5:1-14), dan juga aneka pernyataan ringkas yang menggugah berisi hikmat untuk hidup dengan bijaksana dan benar.
Sebagaimana Daud menjadi sumber tradisi bermazmur di Israel, demikian Salomo menjadi sumber tradisi hikmat (lih.1:1; 10:1; 25:1). Menurut 1Raja 4:32, Salomo menghasilkan 3.000 amsal dan 1005 kidung semasa hidupnya.
Tujuan kitab Amsal dinyatakan dengan jelas dalam 1:2-7: memberi hikmat dan pengertian mengenai perilaku yang bijak, kebenaran, keadilan dan kejujuran (1:2-3) sehingga (1) orang yang tidak berpengalaman dapat menjadi orang bijak (1:4), (2) kaum muda dapat memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan (1:4) dan (3) orang bijak bisa menjadi lebih bijak lagi (1:5-6).
Sebuah amsal ialah suatu pepatah, perbandingan atau pertanyaan singkat-padat yang mengungkapkan suatu prinsip atau sebuah pengamatan tentang perilaku manusia dari sudut pandangan Allah. Amsal-amsal ini digubah untuk mengajar umat Allah (khususnya kaum muda) bagaimana menjalankan hidup yang menyenangkan Dia, memiliki hidup yang berhasil dan berbahagia, dan menjauhi kesusahan-kesusahan hidup yang diakibatkan oleh dosa.

Penjelasan Ayat
MENYIMPAN PERINTAHKU. Hanya dengan menyimpan firman Allah di dalam pikiran kita maka kita akan belajar untuk hidup dengan bijaksana dan benar dalam hubungan kita dengan Allah (ay.5). Kita dapat mengalahkan dosa dengan perintah-perintah Allah di dalam hati kita (Mzm 119:11 - Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau) dan firman Kristus yang tinggal di dalam diri kita (Yoh. 15:7; Yak.1:21 - Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu).
BERSERU KEPADA PENGERTIAN. Mempelajari firman Allah harus disertai sikap doa yang sungguh-sungguh berseru memohon hikmat dan pengertian. Belajar saja mungkin menjadikan kita sarjana Alkitab, tetapi berdoa bersama belajar firman Allah mengizinkan Roh Kudus mengambil penyataan itu dan mengubah kita menjadi orang yang rohani.
HIKMAT AKAN MASUK KE DALAM HATIMU. Hanya ketika hikmat Allah memasuki hati kita – yaitu: motivasi, keinginan, dan pikiran – barulah akan menghasilkan hidup dan kuasa (bd.4:23). Untuk mencapai hal ini, Roh kebenaran harus bekerja di dalam jiwa kita (Yoh.16:13-14) sehingga semua perintah dan jalan Allah menjadi kesenangan bagi kita.
TEMPUHLAH JALAN ORANG BAIK. Berkat-berkat memperoleh hikmat meliputi: (1) belajar takut akan Tuhan sehingga terpelihara dari kejahatan sepanjang perjalanan hidup (5-8); (2) memiliki kemampuan untuk membedakan yang baik dari yang jahat sehingga dapat mengelakkan tragedi-tragedi dosa (11); (3) keinginan untuk menjauhi orang jahat dan bergaul dengan orang benar dan baik (12-15,20); (4) menjauhi kebejatan seksual (16-19); (5) memperoleh berkat-berkat yang dijanjikan Allah (21).


Renungan/Aplikasi
Orang Batak terkenal dengan "umpama" dan "umpasa"-nya. Ini membuktikan bahwa kita orang Batak adalah termasuk orang-orang yang berhikmat dalam menjalani kehidupan ini.
Dalam tradisi kehidupan bermasyarakat orang Batak, unsur pengajaran mendapat perhatian yang cukup banyak. Pengajaran dari orang tua kepada anak-anaknya, juga dari penatua-penatua kepada generasi muda baik dalam kehidupan berkeluarga maupun interaksi dalam kekeluargaan di satu-sati desa. Misalnya:
(a) Umpama ttg Belajar hikmat kehidupan: Jolo tinoto asa nirabi (bd. Psl.34:14 - Sai jaga ma dilam maradophon hajahaton, jala bibirmu maradophon pangkuling sipaotooto); Napuran sirara uruk di toru ni dangkana; naso masuk sipaingot sumolsoli rohana (bd. Poda 10:17 - Mardalan di lapang tu hangoluan do manang ise na mangaramoti pangajaran, alai manang ise na manjua pinsangpinsang, na mangaliluhon do).
(b) Umpama menghormati orangtua mendapat berkat: ++ Ianggo pansur di alaman, hinandangan dohot halak-halak; ianggo na pantun marama, halomoan ni sude halak; ++ Na niombakhon hudali, pauk tu tano liat; na tois marama, ra tung gomahon ni babiat, alai na pantun marina, sai dapotan parsaulian.
(c) Umpama ttg keluaga mertua dan sesama manusia: ++ Dulang na so dulangon, dulang bajora di bonana; hulahula ndang jadi sumpaon, habiaran sapatana.
(d) Umpama ttg Tuhan Penolong: ++ Badobado bidang tu laklak ni antahasi; atik songon dia pe roham na naeng marhilang; adong do Debata Ama na mangasi; ++ Jongjong hau tinaba, dililit andor marhaliang; jongjong do Amanta Debata, marnida halak na hinilang.
Dan masih banyak lagi perumpamaan orang Batak yang tidak pernah lagi digali dalam rangka pengajaran terhadap anak-anak dan generasi muda sekarang. Demikian juga dengan pengajaran iman Kristen kita. Sudah jarang orang tua memberikan pengajaran hikmat kepada mereka dari kebenaran firman Tuhan. Bahkan orang lebih suka mempercayakan pengajaran iman anak-anaknya kepada orang lain atau pihak dan lembaga lain.
Harus kita akui bahwa banyak manfaat moral dari pengajaran hikmat ini. Mengapa pemuda/i dan generasi orang Batak kurang berhikmat? Karena pengajaran hikmat para leluhur kita dahulu telah dilupakan manusia zaman sekarang. Mengapa pemuda/i Kristen kurang berhikmat? Karena pengajaran hikmat Tuhan yang tertuang dalam Alkitab tidak berulang-ulang kita wariskan kepada anak-anak dan generasi kita saat ini.
Padahal faedah moral jika kita mengajarkan hikmat kepada mereka generasi penerus kita ini adalah: (1) orang yang tidak berpengalaman dapat menjadi orang bijak (1:4), (2) kaum muda dapat memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan (1:4) dan (3) orang bijak bisa menjadi lebih bijak lagi (1:5-6).
Marilah kita bergiat mengajarkan hikmat dari Tuhan kepada generasi penerus kita agar mereka kelak menjadi anak yang penuh dengan hikmat. Kita melahirkan sebuah generasi yang hidup dan berpikir sesuai dengan kebenaran, jalan, dan pola Allah. Hikmat artinya mendekati seluruh kehidupan dari sudut pandang Allah. Hikmat itu datang hanya kepada mereka yang mencarinya melalui hubungan yang benar dengan Allah (ay.7) dan mempelajari firmanNya dengan rajin (3:1-3). Amin.

RENUNGAN

VITALITAS
Kej. 2:4-7

Apa yg hendak dikatakan oleh ayat2 itu? (a) bhw bumi diciptakan oleh Tuhan u/ ‘diusahakan’, ‘diolah’, ‘dikerjakan’; (b) bhw manusia diciptakan oleh Tuhan (al.) u/ ‘mengusahakan’, ‘mengelola’ dan ‘ mengerjakan’ bumi; dan (c) u/ maksud itulah, “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya”
Dlm bhs Ibr, kelihatan hub yg sangat erat antara adama (=tanah) dengan adam (=manusia). ‘Adam’ atau manusia adalah ‘makhluk adama’. Dibuat dari adama, untuk mengusahakan adama. Ada yg menarik lagi: ‘mengusahakan tanah’ atau secara umum melakukan pekerjaan fisik (kerja kasar). Dlm bhs Ibrnya adalah abudah. Dan abudah amat mirip atau amat erat hubnya dg ibadah!. Abudah adalah ibadah. Bekerja adalah ibadah! Luar biasa, bukan?
Ini hanya hendak mengatakan bhw kerja atau bekerja itu, sec teologis dan sec alkitabiah, adalah sesuatu yg mulia. Paling sedikit, bukan sesuatu yg rendah atau hina. Dlm hub ini, yaitu bhw bekerja itu mulia.
Yg menarik ketika Tuhan membentuk manusia dengan maksud al u/ mengusahakan ‘tanah’ atau ‘bumi’, apa yg Allah lakukan? Ay 7, “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya…” Artinya, manusia baru dapat memenuhi fungsinya dan melaksanakan tugasnya untuk bekerja mengolah bumi, kalau di dalam dirinya ada kedua2nya yakni ‘debu tanah’ dan ‘nafas hidup’. Pada satu pihak, sbg ‘debu tanah’ ia sama dg ciptaan Tuhan yg lain. Tetapi sbg ‘nafas hidup’, ia mengandung sesuatu yg ‘ilahi’ di dalam dirinya.
Karena itu, jangan terlalu sering kita katakan, “Yah, saya ini ‘kan manusia biasa!” – lalu menyerah begitu saja kpd godaan Iblis. Justru karena kita manusia, kita tidak ‘biasa’ melainkan ‘luar biasa’. Dlm 2Kor.4:7 dikatakan bhw kita ini hanya ‘bejana tanah liat’, bejana lempung, yg ringkih, rentan, mudah pecah! Akan tetapi, di dlm bejana itu kita menyimpan harta yg luar biasa, yaitu kekuatan yg melimpah-limpah yg berasal dari Allah. Jangan kita lupa itu! Kalau orang Jakarta bilang, “Jangan malu-maluin Tuhan, dengan gampang kalah, gampang menyerah, sering kali kalah sebelum berjuang!”
Sebelum manusia bisa bekerja, Tuhan harus terlebih dahulu menghembuskan nafas hidup atau Roh kehidupan. Kalau Cuma adama saja atau debu tanah saja, ya dia tdk ada bedanya dengan yg harus dikelola. Tidak mungkin. Kita mampu mengelola tanah karena kita memiliki perbedaan dengan tanah. Tetapi kalau cuma ‘nafas hidup’ saja atau ‘roh’ saja, jadi seperti hantu, mustahil pula mencangkul atau membajak tanah. Iya, bukan?
Jadi dan inilah firman Tuhan yang ingin kita renungkan: ada hub timbal balik antara spiritualitas (iman) dan vitalitas (hidup). Tanpa spiritualitas, kita tdk akan punya vitalitas. Hidup kita akan seperti air – tawar, hambar, tanpa rasa dan tanpa warna. Tetapi juga sebaliknya: spiritualitas yg benar itu hrs menghasilkan vitalitas, gairah hidup, semangat kerja. Karena memang tujuan dan maksud itulah, Tuhan menghembuskan roh kehidupan. Supaya Adam mengusahakan adama.
Salah benar kalau ada orang yg karena spiritualitasnya yg menggebu-gebu, malah mengundurkan diri dari dunia ini, pikirannya cuma ke surga! Salah! Tuhan tidak memberikan Roh-Nya untuk hal seperti itu.
Perhatikan urutannya baik-baik! Kita dapat membayangkan, betapa setelah Yesus naik ke surga, dengan sebelumnya memberikan amanatNya (Amanat Agung – Mt.28:18-20) – murid-murid aja tdk ingin cepat-cepat bekerja, ingin bertindak – action! Tetapi malaikat Tuhan berpesan: Jangan terlalu cepat! Pulang dulu ke Yerusalem! Tunggu beberapa hari. Kalian mesti belajar bagaimana bersekutu, bagaimana bergantung kepada Tuhan melalui doa, dan belajar diam! Sabar, jangan grusah-grusuh, pokoknya sibuk!
Jadi inti firman Tuhan untuk kita adalah seimbang! Hiduplah yg seimbang dan ini sangat relevan. Di gereja, mencari org yg mau berperan aktif banyak. Mencari org yg ‘rohani’ banyak mudah. Tetapi yg seimbang? Tdk banyak! Yg banyak justru seimbang dalam arti spiritualitas no, vitalitas no. Aktif tdk, rohani juga tidak. Padahal yg dikehendaki Tuhan adalah keseimbangan yg positif: tinggi spriritualitasnya, tinggi pula vitalitasnya.
Dalam Islam ada ungkapan yg indah begini, Bertakwalah seolah-olah besok akan kiamat: tetapi bekerjalah seolah-olah dunia tdk pernah akan kiamat.” Dalam 1Kor.15:19, Rasul Paulus berbicara mengenai orang yg paling malang di dunia ini. (Artinya paling sial, paling celaka, paling bodoh). Siapa itu? “Orang yg hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus.”
“Menaruh pengharapan kpd Kristus” tentu baik dan jauh lebih lumayan daripada tdk percaya sama sekali kepadaNya. Namun demikian, kata Paulus, kalau pengharapan kita kpd Kristus itu hanya dipusatkan u/ kepentingan kita dalam hiduo yg fana ini (percaya kpd Kristus spy tubuh kita sehat dan jauh dari sakit, atau spy tubuh kita jauh dari halangan, atau spy usaha dagang kita untung dan berkembang, tdk mengalami kerugian) – kalau pengharapan kita hanya u/ itu saja, Paulus tdk mengatakan kita salah, atau dosa. Tetapi kita adalah orang yg paling malang, dalam arti juga paling bodoh di dunia ini. Mengapa bodoh? Karena mubazir! Sama seperti misalnya orang membeli rumah mewah sekali, harganya sekian milyar rupiah, tetapi cuma dipakai u/ gudang dedak, atau kandang kambing. Salah? Ya, tdk! Tetapi bodoh! Mengapa? Baca Ayb.14:7-12. Artinya jangan hanya mencari sukses di dunia tetapi carilah sukses ke surga. Seimbang mengumpulkan harta di dunia, dan mengumpulkan harta di surga.
Dalam tanggung jawab kita kepada orang lain, harus ada keseimbangan antara keluarga, kerja dan gereja. Jangan timpang! Terlalu aktif di gereja, lalu lupa keluarga, lupa kerja! Terlalu getol kerja, lupa keluarga, apalagi gereja! Atau begitu mencintai keluarga mengabaikan keja dan gereja.
Kalau kita buat penelitian, maka kerja dan keluarga itu – dapat kita duga – pasti menempati ranking paling atas dalam skala prioritas kita. Dan gereja ranking paling bawah (kecuali yg ekstrim).
Yg disebut seimbang dan yg dikehendaki Tuhan: bukan masing2 dapat 30%. Kalau 1 hari 24 jam: 8 jam u/ kel, 8 jam u/ kerja, 8 jam u/ grj. Bukan sepertiga atau 30% u/ masing2. U/ masing2 Tuhan menuntut 100% tanggung jawab. Tanggung jawab di tempat kerja, bukan 33% tetapi 100%. Di keluarga begitu dan di gereja pun begitu.
100% t.jawab! Ini tidak sama dengan 100% waktu! Tdk bisa juga masing2 dapat sepertiga waktu supaya seimbang. Bukan. Apalagi jk kita lihat situasi di Jkt, orang rata2 bekerja berangkat 06.30 pagi dan sampai di rumah kembali pkl 19.00. Jadi 12 jam u/ kerja, sisa 12 jam: 7 jam istirahat dan 5 jam u/ kel & grj.
Tdk apa yg menentukan bukan kuantitas tetapi kualitas. Walaupun kurang 5 jam dpt kita alokasikan u/ kel, yg penting t jawab, perhatian, dan komitment 100%. Ingat: Tuhan tidak menuntut lebih dari yang kita punya dan yang kita ada (2Kor.8:12).




RAMLI SN HARAHAP

Epistel Minggu 19 April 2009

SIAP UNTUK MELAKUKAN YANG BAIK
Titus 3 : 3 - 7

Latar belakang Teks
Kitab Titus adalah salah satu bagian dari Surat Penggembalaan yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam konteks sejarah awal pertumbuhan gereja. Tetapi yang perlu diingat bahwa Ketiga Kitab Pasotral/ Kitab Penggembalaan ini adalah ditulis dalam masa akhir dari kehidupan Paulus, sehingga ada kerinduan dalam hatinya agar kabar baik yang selama ini giat dikerjakannya agar jangan percuma tetapi bisa berkembang. Oleh karena itu ia membutuhkan tenaga muda yang bias menjadi kadernya secara utuh yang melanjutkan semangat , pikiran dan visi misi yang telah diperjuangkan selama ini. Dalam arti Kitab Pastoral adalah sebuah kitab yang berisi upaya-upaya dalam memelihara , mempertahankan dan memperdalam daya kelola gereja yang baru bertumbuh kea rah yang lebih berkualitas sesuai dengan transformasi nilai-nilai lama dari budaya local ke nilai-nilai yanlebih tajam dan universal dalam budaya Kristen. Budaya Kreta yang menjadi “medan” dari kabar baik, adalah sebuah tantangan historis dari Injil, dengan menyiapkan upaya sistematik dari Paulus dengan memanggil Penilik penilik Jemaat sebagai kader atau “agen perubahan” yang kokoh dalam hal teladan atau contoh nilai-nilai baru yang semaksimal mungkin menjadi cahaya pengharapan baru di daerah Kreta, dimana Surat Paulus ini dialamatkan. Orang Kreta disebut dengan karakter: “pembohong, binatang buas, pelahap dan malas”(1:12), adalah tugas berat dari Titus untuk menawarkan perubahan ke arah yang lebih baik dan positip dengan memakai penilik jemaat yang tidak bercacat (1:6). Orang Kreta adalah sebuah nama sindiran dari karakter yang menunjuk sifat-sifat durhaka atau pemberontak.
Kitab ini ditulis dalam kondisi Rasul Paulus yang masih terus giat sekali untuk melakukan ekspansi zending dengan harapan bahwa semua orang kafir harus mendapatkan kabar Baik sebelum datangnya eskhaton (hari kedatangan Yesus kedua kali). Paulus lebih berperan sebagai “perintis” zending ke daerah-daerah yang belum mengenai Kabai Baik, sehingga beliau hendak fokus untuk mencari dan menanamkan Injil kepada daerah yang masih terbentang luas di antara daratan Asia Kecil dan daratan Eropa. Dalam hal inilah Paulus memahami bahwa kabar baik itu bukan hanya perlu untuk disebar atau diwartakan ke seluruh dunia tetapi perlu sekali untuk dipertahankan dan dipelihara kemurniannya dari segala ajaran-ajaran palsu yang beredar keras sekali di daerah Kreta.

A. EKSPLORASI TEKS
Perikop epistel kita kali ini, lebih terfokus ke bagian akhir dari Kitab Titus, yaitu bagian “tona na parpudi/pesan-pesan akhir Paulus” kepada Titus, anaknya dalam iman. Pesan akhir ini memberikan kesan bahwa Paulus juga membuktikan bahwa orang Kristen bukan hanya berbuat untuk gereja yang selalu dihantam ajaran tidak sehat secara internal, tetapi tidak lupa juga untuk mengabdikan diri dan hidupnya ke dalam bingkai “the responsibility of social”, sebuah gambaran bahwa orang Kristen adalah bukan anti sosial di mana ia hidup, dan tidak melulu hanya “soor” sendiri dengan surganya, tetapi ditekankan untuk “tunduk” kepada pemerintah. Kata tunduk artinya bahwa orang Kristen selalu siap untuk mendukung segala sesuatu perbuatan yang baik yang sesuai dengan ketertiban dan kesejahteraan bersama.
Dalam bingkai tanggungjawab itulah Rasul Paulus sebenarnya mengingatkan bahwa “dulunya” orang-orang Kristen Kreta adalah hidup dalam kejahilan, tidak taat, sesat, hamba nafsu, dengki keji dan saling membenci (3:3) mungkin bisa dibanding orang Batak yang hidup dalam karakter HOsom, Teal, Elat dan Late (HOTEL). Artinya Paulus menekankan komparasi masa lalu dan masa sekarang dalam konteks hidup baru dalam anugrah Tuhan. Hidup dalam dalam pengharapan orang Kreta yang baru, orang Kreta yang loyal di Tuhan, bukan orang Kreta Durhaka atau Pemberontak. Itulah visi perubahan Rasul Paulus yang dititipkan kepada Titus. Artinya bahwa karakter lama yang merupakan karakter kafir/sipelebegu itu sudah saatnya dikikis dalam kontek soteriologi yang membuka sebuah dimensi pengharapan baru. Pengharapan yang dasarnya dalam ayat 4: “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita….” Yang mana “yang dahulu” kafir harus dilawan dengan komitmen anugrah Agung dari Tuhan Yesus dengan rahmatnya, bukan dengan perbuatan baik , tetapi dengan mengandalkan perbuatan sempurna Tuhan di dalam rahmatNya. Artinya perbuatan baik tidaklah sama dengan perbuatan sempurna, hanya Tuhan yang bisa melakukan kesempurnaan sejati dalam anugrah yang luar biasa.
Jika dikatakan tentang “pemandian lahir kembali dan pembaharuan yang dikerjakan leh Roh Kudus,”(ay. 5), adalah sebuah istilah yang menggambarkan proses transformasi dari kehidupan dahulu yang jahil ke dalam sebuah pembaharuan karakter yang ditopang oleh kekuatan Roh Tuhan ke dalam karakter baru, bukan karena kemampuan sendiri, tetapi dengan energy atau tenaga dari Roh Tuhan, sebab sebuah perubahan adalah sebuah proses pergumulan yang tidak gampang seperti membalikkan telapak tangan, tetapi adalah perjuangan yang memerlukan perlawanan kokoh untuk tabiat lama agar tidak muncul dan berbuah dalam perbuatan. Artinya peperangan itu adalah sebuah “pemandian”(bnd. istilah baptizo), bukan pemandian secara pisik yang ditekankan Paulus, tetapi sebuah pengaruh rohani ke dalam diri seseorang yang percaya. Jika pemandian pisik, berarti tidak perlu lagi ada pergumulan batin, tetapi sering kali ditafsirkan sesat sebagai “pembaptisan ulang” yang sama kali naïf dan dangkal. Alkitab tidak pernah sekalipun menekankan bahwa orang lahir baru harus “dimandikan” secara fisik. Seperti Nikodemus yang mempertanyakan alhir baru dari dimensi dilahirkan kembali dari rahim ibunya, tetapi Yesus menekankan bukan rahim yang lama, tetapi “rahim yang baru” di dalam Roh Tuhan. Kelahiran kembali adalah gambaran bahwa adanya paradigm yang baru dalam memandang hidup ini, yang mana paradigm itu lahir dari campur tangan Anugrah Tuhan yang menggugah manusia dalam pengorbanan Yesus di Golgata. Sedangkan baptis selam atau baptis ulang, hanyalah sebuah tipu daya teologi untuk memasukkkan orang lain menjadi anggota / member dari organisasi gereja, dengan kata lain, baptisan ulang adalah sesungguhnya bukan tindakan Roh Tuhan tetapi tindakan organisasi manusia yang mengatasnamakan Tuhan saja.
Demikian juga dengan “pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” adalah sebuah tuntunan atau bimbingan pribadi atau dan dalam persekutuan / koinonia, bahwa bimbingan itu memberikan arah dan tuntunan pertumbuhan rohani ke arah yang sempurna dalam menjawab semua tantangan realitas hidup. Pemandian dan pembaharuan, dua kata yang menarik dalam surat Paulus kali ini, adalah dalam rangka menekankan tentang Yohanes 3:5-6: “Aku berkata kepadaMu, sesungguhnya jika manusia tidak dilahirkan dari air dan roh, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh.” Artinya jika manusia sudah sanggup dalam kekuatan kebersamaannya dalam Roh Tuhan mengikis nafsu daging, nafsu pemberontak orang Kreta, yang malas, dengki, pembual, pelahap itu harus dilawan dalam kekuatan Roh Anugrah, bahwa Juruslamat akan menyertai komitmen orang-orang kafir atau jahil yang mau meninggalkkan kejahilannya, serta masuk ke dalam hidup lembut dan tertib di dalam Tuhan.
Artinya, bahwa dalam ayat 7 ditekankan dimana tujuan proses itu adalah untuk mencapai hidup kekal. Eternal Life, tidak bisa didapatkan begitu saja, tetapi yang berhak mendapatkan itu adalah selain orang yang pasti mempunyai jaminan hidup kekal, tetapi hidup kekal itu merupakan hadiah yang diberikan kepada orang-orang yang tahu bersyukur atau berterimakasih. Orang yang hidup baru adalah orang yang merespon anugrah mahal itu dengan rasa syukur yang mendalam dalam proses menjadi orang Kreta yang baru. Proses keselamatan Tuhan itu, harus disambut dengan respek atau rasa hormat dalam karakter yang diinginkan oleh Sang Pemberi Anugrah, dimana rasa hormat itu diwujudkan dengan “pakaian pesta” yaitu komitmen dan tabiat baru dalam melawan segala kebiasaan using di tempo doeloe itu. Eternal Life adalah gambaran bahwa perjuangan kita di dalam Tuhan itu bukanlah perjuangan hampa tetapi jelas dan tegas dalam membuktikan diri dalam dunia bahwa kita adalah orang-orang yang baru. Pulau Kreta adalah salah satu dunia atau pentas atau panggung bagi orang-orang sorga yang melatih hati dan pikirannya untuk sesuai dengan Sang Juruslamat, yang mempunyai kunci sorga. Pentas dibutuhkan, bukan seperti pentas sandiwara, tetapi realitas dari manusia yang rela menjadi serupa dan hidup ento kristou di dunia ini.
Jika dilihat dalam perikop 3:3-7 ini, maka dapat disimpulkan bahwa pesan terakhir Surat Paulus ini mengharapkan agar orang-orang percaya itu adalah orang-orang yang SIAP UNTUK MELAKUKAN YANG BAIK, tetapi bukan dari dirinya sendiri melainkan dalam konsep Rahmat atau kash karunia dari Tuhan, yang membuktikan kontribusi orang Kristen di tengah-tengah masyarakat social maupun dalam dunia pemerintahan, sehingga fungsi sebagai Garam dan Terang Dunia dari umat Kristus dapat semakin bersinar dalam perbuatan baik.

B. APLIKASI
Dalam konteks orang Indonesia, ada beberapa kesamaan sifat orang Kreta pada waktu 2000 tahun yang lalu, budaya malas dan tidak jujur serta larut dengan mitos-mitos masa lalu kejayaan Raja Sriwijaya dan Gajah Mada tempo dulu, telah membuktikan bahwa masih banyak sekali hutang orang Kristen untuk membangun NKRI yang lebih baik. Keadilan dan kemakmuran bersama semakin jauh dari impian, karena banyak sekali orang rakus atau kemaruk yang memamerkan keserakahan dan arogansi sepihak, sementara kekuatan mayoritas selalu mempropagandakan diri untuk menggeser ideologi Negara kita. Selain doa, Kristen harus berbuat dan membuktikan pengaruhnya sebagai barisan “agama kasih” yang mengobarkan nilai-nilai loyalitas dengan setia selalu kepada prinsip-prinsip kasih yang menopang Negara ini ke dalam jalan yang tidak sesat. Gereja harus melebur dalam barisan anti kebohongan, anti kemalasan, anti premanisme dan anarkhir. Orang Kristen adalah orang yang tertib, jujur dan pekerja keras, tertib dan bersih. Kita seharusnya masih malu, sebagai contoh konkrit, di mana ada beberapa kawasan preman, profesi dan daerah Kristen yang sering diwarnai alkohol/lapo tuak, preman dan kumuh karena parit tersumbat dan halaman rumah yang kotor. Kesan itu seharusnya adalah kesan yang tidak lagi muncul dalam suasana lingkungan komunitas Kristen.
Dalam hal inilah, masih relevan kita pahami Teologi Pengharapan, dari Jurgen Moltmann, di mana dalam konteks yang jauh dari pengharapan, kita masih bertindak positip demi membenahi apa yang perlu dilakukan baik secara pribadi, keluarga maupun secara kolektif, sebagai respon kita terhadap ajaran anugrah yang dari Yesus Kristus. Dimana orang Kristen harus melakukan tindakan nyata dalam membuktikan dirinya sebagai bagian yang bukan minoritas di Negara ini, terutama bukan minoritas dalam hal menunjukkan pengabdian dan kontribusi positip di NKRI. Gereja sudah saatnya bersinar terang sebagai bukti bahwa gereja kita tidak sibuk hanya memikirkan dirinya sendiri dengan berbagai dilemma organisasi manusia yang membuat tenaga kita kurang bersinar dan dikenal Negara tercinta ini. Kita harus siap untuk berbuat baik karena anugrah keselamatan sudah kita miliki. Nilai-nilai “anugrah” Tuhan itu harus membumi dan bisa dirasakan oleh semua orang, semua suku, semua agama di NKRI. Anugrah yang tidak membumi, hanyalah sebatas khotbah organisasi yang memberikan utopia yang muluk-muluk, yang tidak berpihak kepada rakyat kecil, sebagaimana Tuhan kita yang berpihak nyata kepada rakyat kecil dan tertindas. Orang Kristen yang berjuang merubah watak orang Pulau Kreta lama, demikian juga orang Kristen Indonesia harus merubah watak orang Indonesia lama ke dalam “Indonesia Yang Baru”, yang lebih adil dan sejahtera .