Rabu, 12 Agustus 2009

Bacaan Minggu 16 Agustus 2009: Galatia 5 : 13 - 15

DIMERDEKAKAN atau BEBAS SENDIRI ?

Yesus adalah sosok yang luar biasa, Pembebas agung sungguh mulia, benarkah? Yesus lahir dengan kemiskinan, papa dan kumuh. Dia terancam dan akan dibunuh oleh Herodes yang haus kuasa dan sangat kejam itu. Yesus tidak pernah mengeluh, menggerutu atau bersungut-sungut, tetapi dengan kesadaran penuh, Dia takut akan Allah Bapa (Ayb. 6:14). Segala sesuatu dilayani-Nya dengan tulus dan penuh kasih. Satu hal yang paling mengharu-birukan hati adalah Yesus harus menanggung penderitaan oleh laknat dunia yang dimainkan para figuran hingga berakhir di Kalvari, mati…. tanpa pernah menyalahkan siapa pun. Di sinilah kepatuhan hidup yang ajaib, tetap menuruti perintah-Nya dalam kebebasan universal dan berpegang pada perjanjianNya (1Raja 3:3; Neh.1:5) sesuai dengan ketetapan-ketetapan Allah Bapa surgawi.
1. Mengenal kebebasan yang sudah ditetapkan Tuhan sejak awal.
Iblis pasti bersukacita atas ketidak-mampuan kita memilih yang benar dalam hidup ini. Ia pasti menyukai tengiknya aroma dari perbuatan salah dan kejahatan kita, lalu tersebar di surat kabar, di rumah, di ruang kerja bahkan di dalam gedung gereja kita. Dosa itu mengasikkan dan Allah itu membosankan bahkan menindas! Inilah kebohongan yang paling disukai iblis. Marilah kita simak pelan-pelan, bagaimana iblis itu menyerang kita :
Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang yang ada didarat yang dijadikan Tuhan Allah. Ular berkata kepada perempuan itu, "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon yang ada dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" (Kej. 3 : 1).
Adakah kita melihat jelas serangan awal iblis terhadap manusia? Ia menempatkan Allah sebagai sosok penguasa yang suka menekan, menghambat kebebasan; sekaligus membosankan dengan larangan-larangan-Nya. Namun Hawa masih mau melawan bukan semuanya, tetapi hanya buah pohon yang ada di pertengahan taman ini, tidak boleh diraba dan dimakan, agar kami terhindar dari kematian. Lalu kita menyimak lagi, bagaimana iblis tidak pernah lelah menggunakan kebohongan: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya, matamu akan terbuka, dan kamu akan seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat" (Kej. 3 : 4-5).
Kebohongan yang sangat halus dan tidak kentara ini tertanam dalam diri Hawa, lalu benih-benihnya bertumbuh, membuat dia terjebak dalam dua pilihan. Namun Ia memilih "kebenaran" iblis daripada kebenaran Allah, di situlah ia jatuh. Alangkah rapuhnya manusia pertama itu di hadapan iblis, lalu bagaimana bisa dia bertahan hidup benar dihadapan Sang penciptanya?
Memang Tuhan memberikan aturang, melarang tetapi bukan berarti menghentikan kebebasan kita; sebab kita bukanah alat mainan (robot) atau boneka Tuhan. Dia tetap memberikan hak sepenuhnya kepada kita untuk mengambil keputusan akhir. Manusia diberi hikmat dan kehendak yang bebas (merdeka) untuk mengendalikan pikiran dan perasaannya. Artinya, justru kita adalah ciptaan yang sungguh diberi kemerdekaan. Ketika Tuhan membuat "larangan" di Eden, bukanlah untuk menyakiti atau merancang sesuatu yang salah/jahat kepada kita. Namun sebaiknya, dia menjaga kita agar tidak terjebak oleh kemolekan duniawi, tidak terpukau oleh rangsangan kedagingan, dan tidak mabuk oleh dukungan suasana dan lingkungan sekitar, terlena, lalu kehilangan jati diri, dan berakhir kepada kematian yang sangat mengerikan.
Ternyata, manusia itu bukanlah makhluk yang merdeka. Ia adalah seorang hamba, seorang budak. Tuhan telah menciptakan manusia, dan manusia itu diberiNya kebebasan untuk memilih: Taat atau tidak. Maksud Tuhan dengan manusia itu ialah supaya ia dengan rela dan bebas menurut pengetahuan dan kehendaknya sendiri memandang hidup ini sebagai tugas dan pengabdian kepada Dia sang khalik, yang memang sungguh harus dipuji dan dimuliakan dengan sadar.
Namun, ketika manusia itu mengambil keputusan untuk tidak lagi mengabdi kepada Tuhan dan dengan sadar mengesampingkan kehendak Tuhan; maka di sanalah dia telah meninggalkan kebebasannya, sebab ia telah menyerahkan dirinya diikat dan dikuasai oleh kejahatan. Manusia menjadi lemah dan tidak berdaya terhadap kekuasaan-kekuasaan yang akan memperbudak dirinya. Barangsiapa (setiap orang) berbuat dosa, ia adalah hamba dosa (Yoh. 8:34). Orang yang menjadi hamba dosa, tidak lagi merdeka, walau memang dia bebas melakukan kehendaknya. Artinya, berbuat dosa terikat dalam perbudakan. Pergelangan kaki kita terbelenggu oleh lingkaran besi yang berkarat, yang diikat dengan rantai yang kuat. Berbuat dosa berarti terenggutnya alas kaki, pakaian dan kaus kita. Berbuat dosa sama seperti diculik oleh seorang berjaket kulit hitam yang jahat dan berkeringat, bermuka masam dan suka meludah, ia berperawakan besar. Cambuknya melayang sesuka hatinya dan tidak akan ada waktu untuk menyembuhkan luka bekas cambukannya. Cambuk itu selalu melukai sampai darah bercucuran. Namun kebebasan yang telah diberikan oleh Yesus adalah sebuah karunia. Dengan karunia itu Yesus telah membebaskan kita agar kita dimampukan menjadi kawan sekerja Allah; supaya kita menjadi anak-anakNya yang tinggal di dalam rumahN-ya, dan menjadi hambaNya yang mengabdi didalam kebun tamannya.
Yesus datang sambil membawa pesan kemerdekaan: Jadi apabila itu memerdekakan kamu, maka kamu pun benar-benar merdeka (Yoh. 8:36). Bukankah kita telah mendengar firman Tuhan, Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, untuk membebaskan orang yang tertindas (Luk. 4:18-19). Mengikut Yesus, dan hidup dalam kehendak-Nya berarti sebuah "kemerdekaan" yang utuh. Sedang berbuat dosa, maka kembali kepada perbudakan Paulus mengatakan, ”karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Gal. 5:1). Dr. Marthin Luther, seorang tokoh reformasi Kristen abad XVI secara gamblang menyuarakan bahwa kemerdekaan manusia Kristen yang ketika dia menjadi tuan yang bebas atas segala sesuatu, dan tidak takluk kepada siapapun juga. Lalu pernyataan ini disambut pula dengan ceria oleh Dr. Alexander Vinet melalui kesaksiannya mengatakan, "Di dunia ini, agama Kristen adalah benih kebebasan yang tidak akan pernah mati". Hal yang menarik adalah bahwa warga gereja Anglikan, juga mengagungkan kemerdekaan hidup sebagai pengikut Yesus, dengan sebuah ungkapan dalam "Book of Prayer" (buku doa)nya demikian: "Oh God, whose service perfect freedom" (Ya Allah, mengabdi kepadaMu adalah sebuah kemerdekaan yang sempurna).
2. Hidup yang dimerdekakan (dibebaskan) adalah sebuah sukacita surgawi
Nikmatilah kemerdekaanmu menjadi sukacita di dalam Tuhan; sebab ada waktunya kesempatan itu akan berlalu dari hari-hari hidupmu. Orang yang bersukacita, bukan berarti tidak ada lagi persoalan di dalam dirinya. Mereka masih mengalami berbagai masalah hidup, bahkan pergumulan yang bermuara kepada penderitaan. Namun orang yang merdeka di dalam Tuhan memandang semuanya itu sebagai bagian dari proses pertumbuhan rohani. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan sebagai orang yang benar-benar enjoy di dalam Tuhan.
i) Buang kekhawatiranmu! rasa khawatir tidak akan membuat hidup kita semakin ringan, tetapi justru sebaliknya, akan memperberat keadaan kita sendiri. Kekhawatiran itu justru tidak banyak gunanya (Mat. 6:27). Namun, apakah itu berarti kita hanya pasrah saja? Burung-burung memang dipelihara Tuhan. (ay. 25-26) tapi ingat bahwa Tuhan tidak melemparkan makanan kesarangnya, bukan? Kita tetap berusaha sambil dilandasi sebuah keyakinan Allah tetap memelihara kita!
ii) Pakailah kacamata kekekalan! Marilah kita memandang bukan dari sudut pandang kita yang sangat terbatas. Tetapi pakailah kacamata kekekalan Allah, walau memang kita harus menghadapi berbagai tantangan, menjalani aneka kesulitan. Satu hal yang kita perlukan adalah bagiamana kita boleh tabah sambil meyakini, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Rm. 8:28).
iii) Mari menerima kenyataan! Kita tidak bisa mengatur semua hal yang ada di dunia ini supaya sesuai dengan kehendak kita. Ada faktor-faktor tertentu, terutama hal-hal yang ada di luar diri kita yang sungguh tidak dapat kita ubah. Terhadap kenyataan yang tidak dapat kita ubah, lebih baik kita pasrah dan menerima kenyataan dengan perasaan damai.
iv) Mari mulai menghitung berkat dan bersyukurlah! Bersyukur, artinya berterimakasih dan menghargai apa yang telah kita miliki saat ini. Rasa syukur memenuhi perasaan hati kita, dengan kegembiraan yang dalam; itulah berkat yang melimpah. Benyamin Franklin mengatakan, "kita tidak pernah menghargai air, sampai suatu saat nanti sumber air menjadi kering". Kadangkala kita tidak menghargai orang, benda, atau kemudahan yang kita miliki sampai suatu saat kita kehilangan semuanya itu. Yang penting adalah bukan berapa banyak yang kita miliki, tetapi berapa banyak yang kita nikmati dalam kehidupan ini. Untuk itulah ajakan Firman Tuhan melalui Rasul Paulus kali ini: alangkah indahnya disaat kita diingatkan…! Jadilah orang yang merdeka di dalam Tuhan, sekaligus menjadi orang yang benar-benar beroleh pembaharuan dari pengasihan Tuhan.
3. Kebebasan itu adalah sebuah pembaharuan budi….
Secara langsung kita akan mengambil contoh konkrit dari kehidupan seorang tokoh Alkitab, yakni Yeremia. Dia masih amat muda belia (remaja tingting), sebagai anak desa dari kampung Anatot, yang tidak banyak dikenal orang. Yeremia bukanlah seorang yang terkenal dan punya banyak relasi dengan kelompok imam-imam besar dan raja-raja di Yerusalem; bahkan iapun bukanlah seorang yang pandai bicara. Karena itu, ia berusaha menolak ketika Allah memanggil dia untuk menyampaikan firmanNya, "Ah, Tuhan Allah, sesungguhnya aku ini tidak pandai bicara, sebab aku ini masih muda (Yer. 1:6). Namun kemudian, ia toh menerima panggilan itu dengan seluruh diri dan kemampuannya mengucapkan seluruh Firman yang disampaikan melalui dirinya. Rela menderita siksaan dan dipenjarakan agar ia menutup mulut, namun dalam penjarapun ia terus berbicara. bahkan ketika dimasukkan ke dalam sumur kering agar ia MPP (mati pelan-pelan) oleh rasa lapar dan haus, justru ia tidak pernah gentar melawan seluruh kebatilan oleh para penguasa dan pengusaha. Apakah yang dapat kita petik dari pengalamannya? Yeremia mewariskan kemerdekaan, memilih sebuah keutamaan yang sangat relevan bagi pembentukan dan pertumbuhan kepribadian kaum kristen. Inilah pembaharuan budi: Ketika setiap orang diantara kita selalu berani berkata "ya" pada setiap rencana dan kehendak Allah. Hanya dengan sikap itulah kita boleh diubahkan. Dengan iman, setiap orang diantara kita rela berkorban, menjadi tangan dan lidah Tuhan, sekaligus berani menghadapi berbagai tantangan.
4. Apakah yang kita perlukan?
Rasul Paulus menyerukan, “Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor. 5:17). Kalau firman ini ditujukan kepada kita, bahwa sungguh kita sudah mempunyai status baru dan berada di dalam kawasan baru pula. Inilah modal dasar memampukan kita bergaul secara intim dengan Tuhan.. Walau memang karena keberdosaan kita yang nista tidak selayaknya bersahabat dengan Dia yang Maha kudus dan mulia; namun karena kita sudah diubah dan dicipta baru, kita dapat hidup dalam relasi baru itu. Dimerdekakan dari segala keterikatan dunia. Tuhan memerintahkan agar setiap saat kita harus berusaha untuk lebih baik. Artinya, hari ini harus lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini. Kita boleh lebih baik sebab Tuhan telah mendamaikan kita dengan diri-Nya. Menjadi lebih baik sebab Yesus telah membayar lunas seluruh hutang dosa kita; untuk itu jangan sungkan lagi menjadi orang yang memang dimerdekakan.
Kristen yang sungguh merdeka adalah mereka yang memiliki kandungan jiwa yang bermutu tinggi, sekaligus memanfaatkannya secara optimal untuk membangun dan memperbaharui suasana dimana ia berada. Hidup orang Kristen yang lebih baik adalah sisi-sisi tampilan yang menarik, cantik dan menawan. Sedap dipandang mata, memikat dan penuh daya tarik. Dengan melihatnya saja, hati kita sudah terhibur dan ingin segera mendapatkannya.

Senin, 27 Juli 2009

Bacaan Minggu 09 Agustus 2009: Matius 16 : 24 - 28

BAGAIMANA MENGIKUT YESUS ?
Pendahuluan

“Mari, ikutlah Aku”. Kalimat singkat Yesus itu telah mengubah hidup dua belas orang Galilea dan dikemudian hari ribuan juta orang lainnya di segala benua. Apa maksud ajakan itu? Di Matius 4: 19-20 tertulis:” Yesus berkata kepada mereka,’Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”. Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikut Dia.” Jadi, ajakan Tuhan Yesus,”Mari, ikutlah Aku,” mempunyai arti yang bersifat khusus: ‘Mari berjalanlah di belakang-Ku.” Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk berjalan di belakang-Nya. Apa arti berjalan di belakang seseorang?
Dalam budaya Timur tengah di zaman itu seorang murid secara harfiah memang akan berada di belakang gurunya, baik pada waktu berjalan maupun pada waktu menunggu keledai. Sungguh tidak sopan baginya untuk berjalan di depan atau di sebelah gurunya. Tetapi ajakan Tuhan Yesus untuk berjalan di belakang-Nya tentu bukan dalam arti sempit.
Dalam pemikiran umat Israel di zaman Perjanjian Lama, mengikuti seseorang atau berjalan di belakang seseorang mengandung arti mengiringi, menaati, mencintai, menyerahkan diri dan mengabdikan diri. Begitulah kita membaca tentang Elisa yang mengikuti nabi Elia (1Raja. 19:20), Rut yang mengikuti Naomi (Rut 1:14), mempelai wanita yang mengikuti mempelai pria (Yer. 2:2), budak yang mengikuti Abigail (1 Sam. 25:42). Di sini mengikuti seseorang berarti menyerahkan hidup kita kepada orang itu dengan segala akibatnya. Yesus mempersiapakan murid-murid-Nya, agar mereka menjadi saksi yang tangguh di dunia ini. Untuk itu Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya syarat-syarat bagaimana mengikut Dia.

1.Menyangkal dirinya dan memikul salib
Mengikuti atau berjalan di belakang seseorang pasti membawa akibat atau dampak. Hidup kita pasti akan berubah dan perubahan itu tergantung dari siapa yang kita ikuti. Misalkan kita mengikuti hidup seorang pendaki gunung. Pasti banyak hal yang berubah dalam hidup kita: waktu tidur dan waktu bangun kita, tempat-tempat yang kita kunjungi, pergaulan kita, menu makanan kita, kegiatan sehari-ahri kita, pakaian kita dan lainnya. Tetapi yang lebih mendasar lagi gaya hidup kita akan berubah.
Demikian juga halnya, jika kita mengikuti dan berjalan di belakang Tuhan Yesus. Hidup kita mau tidak mau akan berubah, karena Tuhan Yesus mempunyai gaya hidup yang sungguh-sungguh unik. Mari kita telusuri jalan hidup Tuhan Yesus mulai dari Gurun Yehuda, dari sana terus ke Galilea, kemudian ke Kapernaum, ke Yerusalem, berjalan melintasi daerah Samaria, dengan perahu menyeberangi Danau Genesaret, kemudian berjalan lagi mengelilingi wilayah Galilea, dari sana menuju Kaisaria Filipi. Dan di disinilah pengakuan Petrus tentang Mesias,” Engkau adalah Mesias” (Mat.16:16). Sejak waktu itu ajaran baru yang lebih mendalam sudah mungkin dimulai karena mereka sudah mengetahui siapa Dia sebenarnya. Segera sesudah pengakuan itu dinyatakan, maka tafsiran mengenai penderitaan harus diberikan. Jalan yang ditempuh murid-murid haruslah sama dengan jalan yang ditempuh gurunya. Menyangkal dirinya berarti berkata’tidak’ kepada keinginan untuk berdiri sendiri. Siapa yang tidak mau menyangkal dirinya sendiri, tetapi mau hidup menurut kemauannya sendiri, ia akan kehilangan hidup yang sejati, yakni hidup dalam persekutuan dengan Allah. Tetapi siapa yang bersedia melepaskan cara hidup menueurt kemauannya sendiri itu, ia akan berhasil menemukan hidup yang sejati.Memikul salibnya, di sini bukan tertulis “salib-Ku melainkan”salibnya. Salib yang perlu kita pikul bukanlah salib Kristus, melainkan salib kita sendiri. Mengapa Tuhan Yesus menyuruh kita memikul salib kita masing-masing? Apa maksudnya? Salib adalah lambing penderitaan sebagai pengorbanan. Tidak ada orang yang menghendaki penderitaan. Namun kenyataannya dalam hidup ini tidak ada orang yang luput dari penderitaan. Penderitaan ada sebagai bagian dari hidup kita dalam pelbagai bentuk yang berbeda. Yesus menerima penderitaan secara aktif, yaitu memanfaatkan penderitaan sebagai pelajaran untuk menumbuhkan atau mendewasakan ketaatan-Nya kepada Bapa di Sorga. Di Ibrani 5:8 tertulis,”…Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan_Nya. Dalam memanggil orang-orang untuk mengikut Dia, Tuhan Yesus tidak menjanjikan jalan hidup yang penuh dengan keberhasilan atau jalan hidup yang tidak menghadapi pendritaan. Tuhan Yesus justru mengingatkan bahwa mereka harus mau memikul salib. Bersedia memikul salib merupakan prasyarat untuk menbgikut Yesus, sebab dalam jalan hidup Yesus pun ada penderitaan.

2.Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya
“Barangsiapa mau menyelamatkan nayawanya”, artinya siapa yang tidak mau menyangkal dirinya sendiri, tetapi mau hidup menurut kemauannya sendiri, ai akan kehilangan hidup yang sejati, yakni hidup dalam persekutuan dengan Allah. Tetapi siapa yang bersedia melepaskan cara hidup menurut kemauannya sendiri itu, ia akan berhasil menemukan hidup yang sejati. Bukan hidup dengan kuantitas dengan lamanya, tetapi dengan kualitas dengan mutunya. Dengan kata lain, hidup sejati bukanlah pertama-tama berarti suatu hidup-tanpa akhirnya, tetapi suatu hidup yang mutunya lebih tinggi, yakni hidup yang tulen dan sejati seperti yang diperoleh dengan cara hidup dalam persekutuan dengan Allah.
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Perbandingan apa pun tidak dapat diadakan antara apa seseorang dan apa yang dimilikinya. (bnd. 6:25). Tuhan Yesus tidak pernah membujuk atau memohon orang menjadi pengikut-Nya, melainkan mengajak dan menentang sambil memperlihatkan konsekuensi yang perlu ditanggung. Yesus tidak menjanjikan kemudahan melainkan kekuatan. Yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus bukanlah perjalanan yang mudah, melainkan kekuatan untuk menghadapi perjalanan yang sulit supaya perjalanan ini bisa kita tempuh dengan selamat sampai akhirnya.
Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya”. Hanya Injil Matius yang memuat kata-kata ini, yang diambil dari Mazmur 62:13; Amsal 24:12. Perbuatan adalah bukti dari sikap (bnd.7:21). Ayat ini menunjukkan bahwa kata-kata tidak dapat dijadikan pengganti perbuatan. Tuhan membalas setiap orang menurut perbuatannya, tetapi terlebih-lebih karena Tuhan yang melindunginya bertindak dengan kasih-setia terhadap umat-nya dan menugaskan pemerintah untuk’memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras-pemeras.
“Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya”. Apa maksud Yesus dalam perkataan ini? Sebelum generasi ini berlalu mereka akan melihat tanda-tanda dari Kerajaan Allah sedang berlangsung. Tidak dapat diragukan bahwa hal ini akan berlangsung. Sesuatu datang ke dalam dunia yang mulai merubahnya. Hal itu memang terjadi demikian jikalau kita, kadang-kadang, berbalik dari perasaan pesimisme kita dan memikirkan terang yang lama-kelamaan menembus ke dalam dunia ini. Bergembiralah, Kerajaan itu sedang datang dan kita akan bersyukur kepada Allah untuk segala tanda kedatangan-Nya.

Bacaan Minggu 2 Agustus 2009: Amsal 16 : 16 - 20

MEMPEROLEH HIKMAT SUNGGUH JAUH MELEBIHI MEMPEROLEH EMAS, DAN MENDAPAT PENGERTIAN JAUH LEBIH BERHARGA DARIPADA MENDAPAT PERAK

Orang di seluruh dunia selalu mencari yang lebih baik, entah itu dalam membeli buah di pasar atau memilih tempat tinggal. Kita menguji, merenungkan, membandingkan, dan akhirnya membuat pilihan berdasarkan apa yang kita yakini sebagai yang lebih baik. Saya tidak dapat membayangkan ada orang yang berkata, “Saya pilih yang ini, karena saya yakin ini lebih buruk.”
Kitab Amsal berisi perbandingan-perbandingan yang mengarahkan kita pada jalan yang benar di dalam hidup. Karena tujuan kitab itu adalah memberikan kepada pembacanya pengetahuan dan hikmat atas dasar sikap takut akan Tuhan (Ams. 1:2,7), maka tidak mengejutkan apabila terdapat pernyataan, “Hal ini lebih baik daripada hal itu.”
Dalam kitab Amsal pasal 16, kita membaca bahwa lebih baik memperoleh hikmat daripada emas atau perak (ay. 16); lebih baik rendah hati di antara orang miskin daripada sombong di antara orang kaya (ay. 19); lebih baik bersikap sabar daripada memimpin kota (ay. 32). Sebagian orang memiliki kemampuan untuk bijaksana sekaligus kaya. Namun, saat dihadapkan dengan pilihan di antara kedua hal itu, Amsal mengatakan bahwa hikmat adalah pilihan yang lebih baik.
Ketika kita membaca kitab Amsal, marilah kita mencari tanda-tanda yang berkata, “Ini lebih baik!” Saat firman Allah membentuk pikiran kita dan menuntun pilihan-pilihan kita, kita akan menemukan bahwa jalan-Nya selalu lebih baik.
Oleh sebab itu, perolehlah hikmat, dan perolehlah pengertian. Hikmat adalah kemampuan untuk melihat kebenaran seperti Allah melihatnya. Menjadi bijak adalah suatu pilihan, bukan sesuatu yang otomatis. Ada orang yang berasumsi bahwa ketika rambut mereka sudah ubanan, hikmat akan datang dengan sendirinya. Itu adalah mitos. Ada orang yang lebih tua yang bijak, namun itu adalah karena mereka melewatkan bertahun-tahun hidup bersama Allah. Hikmat adalah sesuatu yang Anda kejar dengan aktif; bukan semata-mata hasil dari melewatkan waktu bertahun-tahun dengan makan, tidur, bernafas. Ada harga yang harus dibayar untuk memperoleh hikmat termasuk membangun standar Allah kedalam hidup kita agar kita menghormati-Nya dalam segala yang kita perbuat.
Hikmat mencakup belajar mengasihi orang lain seperti Yesus mengasihi setiap manusia. Hikmat mencakup mengejar sasaran-sasaran yang dikejar Allah.
Ada suatu kisah. Suatu hari, dahulu kala, sebuah gereja yang mengagumkan berdiri di sebuah bukit yang tinggi di sebuah kota yang besar. Jika dihiasi lampu-lampu untuk sebuah perayaan istimewa, gereja itu dapat dilihat hingga jauh di sekitarnya. Namun demikian ada sesuatu yang jauh lebih menakjubkan dari gereja ini ketimbang keindahannya: legenda yang aneh dan indah tentang loncengnya.
Di sudut gereja itu ada sebuah menara berwarna abu-abu yang tinggi, dan di puncak menara itu, demikian menurut kata orang, ada sebuah rangkaian lonceng yang paling indah di dunia. Tetapi kenyataannya tak ada yang pernah mendengar lonceng-lonceng ini selama bertahun-tahun. Bahkan tidak juga pada hari Natal. Karena merupakan suatu adat pada Malam Natal bagi semua orang untuk datang ke gereja membawa persembahan mereka bagi bayi Kristus. Dan ada masanya di mana sebuah persembahan yang sangat tidak biasa yang diletakkan di altar akan menimbulkan alunan musik yang indah dari lonceng-lonceng yang ada jauh di puncak menara. Ada yang mengatakan bahwa malaikatlah yang membuatnya berayun. Tetapi akhir-akhir ini tak ada persembahan yang cukup luar biasa yang layak memperoleh dentangan lonceng-lonceng itu.
Sekarang beberapa kilometer dari kota, di sebuah desa kecil, tinggal seorang anak laki-laki bernama Pedro dengan adik laki-lakinya. Mereka hanya tahu sangat sedikit tentang lonceng-lonceng Natal itu, tetapi mereka pernah mendengar mengenai kebaktian di gereja itu pada Malam Natal dan mereka memutuskan untuk pergi melihat perayaan yang indah itu.
Sehari sebelum Natal sungguh menggigit dinginnya, dengan salju putih yang telah mengeras di tanah. Pedro dan adiknya berangkat awal di siang harinya, dan meskipun cuaca dingin mereka mencapai pinggiran kota saat senja. Mereka baru saja akan memasuki salah satu pintu gerbang yang besar ketika Pedro melihat sesuatu berwarna gelap di salju di dekat jalan mereka.
Itu adalah seorang wanita yang malang, yang terjatuh tepat di luar pintu kota, terlalu sakit dan lelah untuk masuk ke kota di mana ia dapat memperoleh tempat berteduh. Pedro berusaha membangunkannya, tetapi ia hampir tak sadarkan diri. "Tak ada gunanya, Dik. Kau harus meneruskan seorang diri."
"Tanpamu?" teriak adiknya. Pedro mengangguk perlahan. "Wanita ini akan mati kedinginan jika tak ada yang merawatnya. Semua orang mungkin sudah pergi ke gereja saat ini, tetapi kalau kamu pulang pastikan bahwa kau membawa seseorang untuk membantunya. Saya akan tinggal di sini dan berusaha menjaganya agar tidak membeku, dan mungkin menyuruhnya memakan roti yang ada di saku saya."
"Tapi saya tak dapat meninggalkanmu!" adiknya memekik. "Cukup salah satu dari kita yang tidak menghadiri kebaktian," kata Pedro. "Kamu harus melihat dan mendengar segala sesuatunya dua kali, sekali untukmu dan sekali untukku. Saya yakin bayi Kristus tahu betapa saya ingin menyembah-Nya. Dan jika kamu memperoleh kesempatan, bawalah potongan perakku ini dan saat tak seorangpun melihat, taruhlah sebagai persembahanku."
Demikianlah ia menyuruh adiknya cepat-cepat pergi ke kota, dan mengejapkan mata dengan susah payah untuk menahan air mata kekecewaannya.
Gereja yang besar tersebut sungguh indah malam itu; sebelumnya belum pernah terlihat seindah itu. Ketika organ mulai dimainkan dan ribuan orang bernyanyi, dinding-dinding gereja bergetar oleh suaranya.
Pada akhir kebaktian tibalah saatnya untuk berbaris guna meletakkan persembahan di altar. Ada yang membawa permata, ada yang membawa keranjang yang berat berisi emas. Seorang penulis terkenal meletakkan sebuah buku yang telah ditulisnya selama bertahun-tahun. Dan yang terakhir, berjalanlah sang Raja negeri itu, sama seperti yang lain berharap ia layak untuk memperoleh dentangan lonceng Natal.
Gumaman yang keras terdengar di seluruh ruang gereja ketika sang Raja melepaskan dari kepalanya mahkota kerajaannya, yang dipenuhi batu-batu berharga, dan meletakkannya di altar. "Tentunya," semua berkata, "kita akan mendengar lonceng-lonceng itu sekarang!" Tetapi hanya hembusan angin dingin yang terdengar di menara.
Barisan orang sudah habis, dan paduan suara memulai lagu penutup. Tiba-tiba saja, pemain organ berhenti bermain. Nyanyian berhenti. Tak terdengar suara sedikitpun dari siapa saja di dalam gereja. Sementara semua orang memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan, terdengarlah dengan perlahan-tetapi amat jelas-suara lonceng-lonceng di menara itu. Kedengaran sangat jauh tetapi sangat jelas, alunan musik itu terdengar jauh lebih manis daripada suara apapun yang pernah mereka dengar.
Maka mereka semuapun berdiri bersama dan melihat ke altar untuk menyaksikan persembahan besar apakah yang membangunkan lonceng yang telah berdiam sekian lama. Tetapi yang mereka lihat hanyalah sosok kekanak-kanakan adik laki-laki Pedro, yang telah perlahan-lahan merangkak di sepanjang lorong kursi ketika tak seorangpun memperhatikan, dan meletakkan potongan kecil perak milik Pedro di altar.
Dari kisah di atas dapat kita simpulkan bahwa memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga daripada mendapat perak. Marilah kita mengejar dan memperoleh hikmat dan mendapat pengertian yang ilahi agar hidup kita dipenuhi berkat ilahi. Amin.






Ramli SN Harahap

Rabu, 01 Juli 2009

Bacaan Alkitab Minggu 12 Juli 2009: Mazmur 148 : 3 - 14

AKU MEMUJI TUHAN



Kidung Jemaat, No. 64:1-2.

Segala makhluk memuji kemuliaan dan kebesaran Allah. Tumbuh-tumbuhan, dari semak-semak belukar sampai pohon besar, dari hewan melata sampai binatang buas, turut serta memuji Tuhan. Segala yang hidup yang ada di darat, di laut dan di udara selalu bersorak-sorai memuliakan kebesaran Allah. Semua ciptaan Allah, makhluk hidup atau benda mati, yang kecil dan yang besar, yang kelihatan dan tidak kelihatan turut serta memuji Tuhan.
Manusia tentu tidak ketinggalan. Manusia sebagai makhota ciptaan Tuhan, yang paling berharga dan paling mulia dari segala ciptaan, mengambil prakarsa terdepan bagaimana cara memuji Tuhan. Untuk itu manusia membentuk ritus, tatacara memuji dan memuliakan Tuhan. Untuk itu manusia memnyusun acara ibadah, sebagaimana dimiliki semua agama, sebagai cara menyembah dan memuliakan Tuhan.
Bagaimana tumbuh-tumbahn memuji dan memulikan Tuhan? Bagaimana binatang-binatang memuji dan memulikan kebesaran Tuhan? Mungkin karena kita kurang familier, kurang dekat dan kurang bersahabat dengan alam, dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang, maka kita kurang paham bagaimana mereka memuji Tuhan. Mungkin kita kurang menyadari bahwa cara manusia manusia memuji dan memuliakan Tuhan berbeda dengan cara hewan dan tumbuhan-tumbuhan. Mungkin kita memang tidak tahu bagaimana cara tumbuh-tumbuhan memuji Tuhan. Kita memang tidak tahu sama sekali bagaimana cara hewan memuji dan memuliakan Tuhan. Akan tetapi bukan karena kita tahu lantas kita boleh katakan bahwa hewan dan tumbuh-tumbuhan sama sekalai tiak memuji dan memuliakan Tuhan. Firman Tuhan yang kita renungkan sekarang ini merupakan bukti bahwa segala hewan dan tumbuh-tumuhan turut serta, ambil bagian dan berprakarsa memuji dan memuliakan Tuhan. Tentunya dengan caranya masing-masing.
Akan tetapi daripada mempersoalkan bagaimana hewan dan tumbuh-tumbuhan memuji dan memuliakan Tuhan, lebih baik kita renungkan kita manusia, diri kita sendiri. Sudah bagaimana manusia sekarang ini memuji dan memuliakan Tuhan. Apakah cara kita sudah tepat memuji dan memuliakan Tuhan? Apakah ibadah kita, sebagaimana selama ini kita lasakanakan, sudah benar di hadapan Tuhan? Pernahkan kita bertanya, kepada sesama terlebih kepada Tuhan sendiri, apakah ibadah kita berkenan di hadapan Tuhan?
Kita sebagai manusia, makhkota ciptaan Tuhan, tentu tidak mau kalah dengan hewan, binatang dan ciptaan lainnya dalam memuji Tuhan. Sebagai manusia, yang adalah gambar dan memiliki citra Allah, manusia seharus memegang kendali dalam mengarahkan semua ciptaan Allah untuk memuji dan memuliakan nama-Nya. Raja-raja dan manusia biasa, pembesar-pembesar pemerintah dunia dan rakyat jelata, yang sudah tua bangka dan masih muda belia, teruna maupun anak dara, anak kecil, orok yang masih dipangkuan, bahkan bayi di dalam kandungan, semuanya turut serta memuji dan memuliakan Tuhan. Biarlah semuanya memuji-muji Tuhan, sebab nama-Nya saja yang luhur, keagungan-Nya mengatasi semua yang ada di langit, di bumi maupun yang ada di bawahnya.
Lalu bagaimana kita memuji Tuhan? Bagaimana kita memuliakan nama-Nya? Tuhan menciptakan mulut bagi kita untuk kita pakai memuji nama-Nya. Dengan mulut kita dapat memuliakan Tuhan dengan kidung nyanyian, mengucapkan kata dengan pujian. Tuhan mencipatakan tangan bagi kita. Dengan tangan, kita dapat melayani Tuhan melalui perbuatan. Tuhan juga menciptakan kaki bagi kita. Dengan kaki kita dapat berjalan dan pergi ke suatu tujuan dalam melakukan Firman Tuhan. Terlebih, Tuhan menciptakan pikiran dan hati bagi kita. Dengan hati dan pikiran, kita dapat menimbang-nimbang mana yang berkenan di hati Tuhan dan yang tidak berkenan kepada-Nya, mana yang disukai Tuhan dan mana yang tidak disukai-Nya. Apabila semua pemberian Tuhan itu kita pakai untuk memuliakan Dia, maka hati dan pikiran kita akan menjadi tempat Tuhan tinggal dan bersemayam. Tuhan akan selalu hidup bersama kita. Dengan demikian, semua keberadaan kita, hati, pikiran dan kekuatan yang ada pada kita menjadi alat dan tempat memuji dan memuliakan Tuhan.
Oleh karena itu, sebenarnya Tuhan sendiri telah menciptakan kita dan menciptakan segala yang ada pada kita, tubuh kita, tangan, kaki, hati dan pikiran kita untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Itu berarti tidak ada lagi pertanyaan sebenarnya, bagaimana memuji Tuhan? Tidak perlu ada pertanyaan, dengan apa aku memuji Dia? Sebab hidup kita, segala sesuatu yang kita miliki secara total adalah untuk Dia dan untuk kemuliaan nama-Nya.

Bacaan Alkitab Minggu 5 Juli 2009: Mazmur 104 : 14 - 24

GEREJA & LINGKUNGAN HIDUP

Sadarkah kita bahwa alam tempat tinggal kita ini makin rusak? Dalam peringatan hari lingkungan hidup tanggal 5 Juni yang lalu, banyak orang menyoroti kerusakan lingkungan hidup. Kita merasakan bumi yang makin panas, banjir, juga pencemaran udara, air dan tanah, adalah masalah yang menimbulkan banyak dampak negatif bagi manusia. Gaya hidup manusia yang tidak ramah lingkungan dan eksploitasi alam yang berlebihan telah membuat alam ini berduka. Lingkungan hidup menjadi rusak dan terjadilah ketidakadilan ekolog.
Mengapa lingkungan hidup kita menjadi rusak? Adakah cara pandang dan sikap manusia yang salah terhadap alam? Tentu saja. Pemahaman dan cara pandang orang terhadap lingkungan hidup mempengaruhi sikap mereka dalam memperlakukan alam. Misalnya ada pandangan bahwa manusia adalah pusat alam semesta (anthroposentris). Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem. Alam dilihat hanya sebagai obyek, alat, dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Alam hanya bernilai sejauh menunjang kepentingan manusia. Tentu pandangan seperti itu menghasilkan sikap yang tidak bersahabat dengan alam, misalnya eksploitasi alam yang berlebihan dan sikap yang tidak peduli dengan kerusakan alam.
Lalu, bagaimanakah pandangan kita (orang Kristen) terhadap alam atau lingkungan hidup? Alkitab sebagai sumber nilai dan moral kristiani menjadi pijakan dalam memandang dan mengapresiasi alam. Alkitab sebenarnya mengajak manusia memberikan penghargaan yang tinggi terhadap ciptaan Allah lainnya, termasuk alam atau lingkungan hidup. Perhatikanlah kajian teologis berikut ini:
Semua ciptaan adalah berharga, cerminan keagungan Allah (Mazmur 104). Kebesaran Tuhan yang Maha Agung bagi karya cipataan-Nya (dalam artian lingkungan hidup) tampak dalam Mazmur 104. Perikop ini menggambarkan ketakjuban pemazmur yang telah menyaksikan bagaimana Tuhan yang tidak hanya mencipta tapi juga menumbuh-kembangkannya dan terus memelihara ciptaan-Nya. Ayat 13, 16, 18 dan 17 misalnya, menggambarkan pohon-pohon diberi makan oleh Tuhan, semua ciptaan menantikan makanan dari Tuhan. Yang menarik adalah bukan hanya manusia yang menanti kasih dan berkat Allah tapi seluruh ciptaan (unsur lingkungan hidup). Di samping itu penonjolan kedudukan dan kekuasaan manusia atas ciptaan lainnya di sini tidak tampak. Itu berarti bahwa baik manusia maupun ciptaan lainnya tunduk pada kemahakuasaan Allah. Dalam ayat 30, secara khusus dikatakan: “Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.” Kata “roh” seringkali dikaitkan dengan unsur kehidupan, atau hidup itu sendiri. Ini berarti seluruh makluk ciptaan di alam semesta ini diberikan unsur kehidupan oleh Tuhan. Ayat ini jelas menunjukan bahwa bukan hanya manusia yang diberi kehidupan tapi juga ciptaan lainnya. Betapa berharganya seluruh ciptaan di hadapan Tuhan. Roh Allah terus berkarya dan memberikan kehidupan.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa sebagai pencipta, Allah sesuai rencana-Nya yang agung telah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan maksud dan fungsinya masing-masing dalam hubungan harmonis yang terintegrasi dan saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lainnya. Jadi sikap eksploitatif terhadap alam merupakan bentuk penodaan dan perusakan terhadap karya Allah yang agung itu.
Semua ciptaan (kosmos) diselamatkan melalui Kristus (Kolose 1:15-23). Dalam perikop ini diungkap dimensi kosmologis yang terkait erat dengan hal keutamaan Kristus, khususnya karya pendamaian, penebusan dan penyelamatan-Nya atas semua ciptaan. Dalam ayat 23 dikatakan bahwa Injil diberitakan kepada ktisis (seluruh alam). Melalui Kristus dunia diciptakan, dan melalui Kristus pula Allah berinisiatif melakukan pendamaian dengan ciptaan-Nya. Sekarang alam berada di bawah kuasa-Nya dan dengan demikian kosmos mengalami pendamaian. Bagian ini juga menekankan arti universal tentang peristiwa Kristus melalui penampilan dimensi-dimensi kosmosnya dan melalui pembicaraan tentang keselamatan bagi seluruh dunia, termasuk semua ciptaan. Kristus membawa pendamaian dan keharmonisan bagi semua ciptaan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Penebusan Kristus juga dipahami sebagai penebusan kosmis yang mencakup seluruh alam dan ciptaan. Penyelamatan juga mencakup pendamaian atau pemulihan hubungan yang telah rusak antara manusia dan ciptaan lainnya.
Demikianlah dapat disimpulkan bahwa baik manusia maupun segala ciptaan atau makluk yang lain merupakan suatu kesatuan kosmik yang memiliki nilai yang berakar dan bermuara di dalam Kristus.
Dengan memperhatikan kajian teologis di atas maka melahirkan teologi kontekstual-ekologis sebagai berikut:
a. Teologi Ciptaan. Teologi ciptaan menekankan karya Allah yang memberikan hidup kepada seluruh ciptaan (Mazmur 104). Dalam hal ini manusia dilihat sebagai bagian integral dari alam bersama tumbuh-tumbuhan, hewan dan ciptaan lainnya. Tanggungjawab manusia adalah bekerja untuk Tuhan dalam memelihara dan mengelola lingkungan hidup, bukan mendominasi apalagi mengeksploitasinya. Teologi seperti ini juga pernah dirumuskan dalam KTT Bumi di Rio de Jeneiro tahun 1992.
b. Solidaritas dengan alam. Kesadaraan bahwa seluruh ciptaan berharga di mata Tuhan, membawa kita untuk membagun sikap solidaritas dengan alam. Kita memperlakukan lingkungan hidup sebagai sesama ciptaan yang harus dikasihi, dijaga, dipelihara dan dipedulikan. Kita mencintai dan memperlakukan lingkungan hidup dengan sentuhan kasih sebagaimana sikap Tuhan. Kita membangun solidaritas baru dengan alam yang telah rusak.
c. Spiritualitas Ekologis. Spiritualitas ini dibangun dengan dasar penghayatan iman bahwa semua ciptaan diselamatkan dan dibaharui oleh Tuhan. Pembaharuan itu menciptakan kehidupan yang harmonis. Spiritualitas ekologis mempunyai dasar pada pengalaman manusiawi yang berhadapan dengan kehancuran lingkungan hidup sekaligus berhadapan dengan pengalaman akan yang Mahakudus, yang mengatasi segalanya. Dalam pengalaman ini kita dipanggil untuk secara kreatif memelihara kualitas kehidupan, dipanggil untuk bersama Sang Penyelenggara hidup ikut serta mengusahakan syalom, kesejahteraan bersama dengan seluruh alam. Spiritualitas ekologis terwujud dalam macam-macam tindakan etis sebagai wujud tanggungjawab untuk ikut memelihara lingkungan hidup.

Konkretnya, apa yang dapat gereja lakukan untuk mewujudkan pandangan teologi seperti tersebut di atas? Selama ini gereja hanya berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan kebaktian atau kegiatan lain yang melayani manusia. Sudah saatnya gereja menyadari bahwa gereja memiliki tugas panggilan menjaga keutuhan ciptaan atau kelestarian lingkungan hidup, misalnya dengan membuat program-program sebagai berikut:
a. Pembinaan tentang kesadaran ekologis. Pembinaan ini merupakan upaya gereja untuk mengingatkan anggotanya bahwa alam adalah ciptaan Allah yang harus dihargai dengan memelihara dan melestarikannya. Misalnya dalam PA atau pembinaan khusus dan tema-tema kebaktian.
b. Perayaan lingkungan hidup dalam liturgi. Misalnya membuat ibadah khusus untuk merayakan hari lingkungan hidup. Dalam ibadah, ada baiknya kita melakukan penyesalan dosa terhadap alam semesta karena ulah manusia yang telah merusak alam. Penting juga untuk menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu rohani yang bertemakan alam.
c. Menyuarakan suara kenabian terhadap kerusakan lingkungan hidup. Gereja perlu menyuarakan kritik atau memberikan masukan-masukan bagi masyarakat ataupun pemerintah terkait dengan upaya melestarikan lingkungan hidup.
d. Menata lingkungan gereja dengan memperhatikan keseimbangan ekologis. Misalnya jangan habiskan tanah untuk mendirikan bangunan tapi berikan ruang untuk tanam-tanaman. Kita bisa membangun lingkungan gereja yang hijau dan asri.
e. Gerakan penanaman pohon bagi seluruh warga gereja.
f. Mengajak anggota jemaat membudayakan gaya hidup yang ramah dan dekat dengan alam, misalnya dengan memisahkan sampah plastik, membuat lingkungan sekitar rumah menjadi hijau dengan tanam-tanaman.
g. Membangun kerjasama dengan lembaga atau kelompok pecinta alam, misalnya WALHI, untuk memperjuangkan pembangunan yang berwawasan ekologis.





Ramli SN Harahap

Bacaan Alkitab Minggu 28 Juni 2009: 2Petrus 3 : 3 - 10

KEDATANGAN KRISTUS KALI KEDUA

Seiring dengan perkembangan gereja pada abad pertama, para pengajar sesat pun tetap berupaya untuk mempengaruhi anggota jemaat. Dengan kata lain, ada semacam pertandingan dan perseteruan antara para pembela ajaran Kristus yang benar dengan pengajar-pengajar palsu yang sesat. Anehnya, sering terjadi justru ajaran sesat itu lebih menarik perhatian sebab para penganjurnya berupaya mengemas ajarannya dengan metode yang lebih menarik.
Salah satu persoalan penting yang menjadi pokok perdebatan pada waktu itu adalah tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Sebenarnya, bukan hanya pada surat 2 Petrus tema ini menjadi persoalan penting, sudah terjadi jauh sebelumnya. Pada surat kiriman kepada Korintus pun masalah ini sudah muncul.
Pengajaran tentang kedatangan Kristus mempengaruhi sikap dan moral jemaat. Jemaat mula-mula percaya Kristus akan datang segera dan sebagian dari antara mereka masih akan melihat kedatangan-Nya kedua kali itu (bnd. 1Tes.1:11; 2Tes. 2:1-4). Tetapi berhubung sampai masa 2 Petrus ini Kristus belum juga datang, banyak dari anggota jemaat yang kecewa. Para pengajar sesat mempergunakan peluang itu untuk memengaruhi mereka. Mereka mengatakan bahwa Kristus tidak akan datang sebagaimana telah dijanjikan-Nya. Mereka tidak perlu menyianyiakan waktu dan pikiran untuk mengingat-ingat kedatangan Kristus. Itu merupakan pekerjaan sia-sia. Lebih baik mempergunakan waktu dan kesempatan yang ada untuk menikmati hidup, melakukan apa saja yang disukai seseorang. Akibatnya perbuatan yang tidak sesuai dengan moralitas kekiristenan menjadi semakin berkembang.
Para pengajar sesat itu mengejek orang-orang Kristen tentang penundaan kedatangan Yesus Kristus. Penundaan kedatangan Kristus menjadi dasar bagi pengajar sesat menyerang ajaran rasul-rasul. Berhubung masih banyak anggota jemaat yang masih muda (baru masuk menjadi anggota jemaat), mereka mudah terpengaruh dengan ajaran sesat itu. Oleh sebab itu banyak orang yang murtad, meninggalkan ajaran yang benar itu dan kembali kepada kepercayaan lama, bahkan sebagian dari antara mereka menjadi penganut synkritisme (bnd. Ibr 6:1-8).
Melalui surat ini penulis hendak mengingatkan jemaat bahwa Kristus pasti akan datang. Penundaaan kedatangan-Nya itu bukan urusan manusia tetapi sesuai dengan rencana Allah. Manusia tidak akan pernah mampu menetapkan kedatangan Yesus kedua kalinya. Keterlambatan itu justru menjadi bukti kasih Allah akan manusia yang tidak menghendaki manusia binasa. Dengan keterlambatan itu berarti masih ada waktu atau kesempatan untuk bertobat. Allah tidak pernah mengingkari apa yang Dia janjikan. Dia selalu setia dan menggenapnya.
Pengajaran kedatangan Kristus segera tidak perlu dipahami secara harfiah. “Kata segera” bukan berarti besok. Jika keyakinan tentang kedatangan-Nya yang segera akan terjadi berkembang di dalam jemaat mula-mula, bisa saja ajaran itu sengaja dikembangkan oleh para pengajar sesat pula. Sebab sekalipun pada awalnya Paulus mengatakan “maranatha, datanglah ya Tuhan” (1Kor.16:22) tetapi itu dalam konteks menginggatkan anggota jemaat agar tetap berja-jaga, berdoa dan tetap melakuka pekerjaan kasih. Paulus tidak pernah mengatakan kepada anggota jemaat supaya mereka meninggalkan pekerjaan yang baik karena Kristus akan datang segera (bnd. 2Tes.3:1-12). Yesus pun tidak pernah menjanjikan hari yang tepat dari kedatangan-Nya itu. Menjawab pertanyaan para murid-Nya tentang kedatangan-Nya, Dia menjawab tidak seorang pun yang mengetahui, bahkan Dia sendiri pun tidak mengetahui, hanya Bapa di surga yang mengetahuinya (Mat.24:36; Why. 1:6-7).
Menurut pengajar sesat tidak ada yang berubah di bumi sejak masa nenek moyang. Segala sesuatu itu tetap seperti semula. Dengan alasan itu, mereka mengatakan bahwa penantian kedatangan Kristus itu merupakan kesia-siaan saja. Untuk melawan ajaran sesat itu, maka penulis surat Petrus kedua ini membuka mata anggota jemaat untuk mengerti dengan baik kebenaran ajaran para rasul. Apakah betul tidak ada yang berubah seperti ditudukan para pengajar sesat itu? Tuduhan seperti itu tidak beralasan, sebab sejak penciptaan banyak yang berubah. Tidak ada yang kekal di muka bumi ini, semua berubah dan berkembang. Langit dan bumi (yang berada di bawah langit) terbentuk dari air samudera raya (Kej.1:2). Dunia yang tercipta itu terjadi oleh air. Artinya, air sangat penting untuk berdirinya dunia ini dengan menyoroti dua segi yakni: air merupakan asal usul baik untuk terbentuknya dunia maupun untuk kelanjutannya kemudian. Tetapi bumi yang tercipta demikian itu menjadi binasa ketika digenangi air pada masa Nuh (Kej.7:21). Seluruh dunia turut hanyut akibat keampuhan air itu.
Dengan penjelasan itu, Petrus mau menyapa anggota jemaat agar memahami dan mempercayai perbuatan kasih Tuhan kepada umat manusia dengan menyelamatkan Nuh beserta anak-anaknya. Sebenarnya, jika Tuhan tidak menunjukkan anugerah-Nya, Dia bisa saja menghancurkan semuanya termasuk Nuh sehingga tidak ada lagi generasi manusia berikutnya. Jadi jika para pengajar sesat itu mengatakan tidak ada yang berubah, peristiwa air bah itu pun sudah merupakan perubahan.
Sesudah dunia lama binasa, maka terbitlah suatu dunia ciptaan baru yang tetap terdiri atas langit dan bumi seperti dunia lama dan dunia mendatang. Manusia sekarang hidup dalam dunia sementara yang dipelihara oleh Allah, tetapi dunia yang sedang berjalan menuju kepada suatu kebinasaan lagi. Dunia yang sekarang akan terbakar oleh api, dan berkaitan dengan itu maka orang-orang yang tidak beriman juga akan binasa. Tetapi semua kejadian itu bukan merupakan hukum alam, Allah yang maha kuasa Pencipta langit dan bumi yang telah melakukannnya. Rencana dan kehendak Tuhan yang harus terjadi bukan suatu proses hukum alam. Dunia dan segala sesuatu di alam semesta itu berada pada sejarah keselamatan yang dirancang oleh Allah. Maka tidak ada suatu kejadian apa pun di luar pengetahuan Allah. Bumi, alam semesta, manusia dan semua makhluk harus hidup pada sejarah keselamatan Allah, tidak mungkin keluar dari garis ketentuan itu.
Berlandaskan Mazmur 90:4 penulis surat Petrus ini menambahkan argumentasi teologis tentang pokok yang dipersoalkan tadi. Menurut rasul ini, Allah tidak pernah dibatasi oleh waktu sebab Dia sendirilah yang menciptakan waktu. Jangka waktu yang dipahami manusia berbeda dengan jangka waktu Tuhan. Oleh sebab itu, sekalipun terjadi penundaan kedatangan Kristus kedua-kalinya, bagi Allah waktu itu hanya singkat saja. Bagi Tuhan, satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama satu hari. Artinya, batas-batas waktu yang berlaku bagi manusia tidak berlaku bagi Tuhan.
Bisa saja Tuhan menyudahi segala-galanya dengan cepat. Namun, Allah tidak melakukannya sebab Tuhan menghendaki keselamatan semua orang (bnd 1Tim. 2:4). Allah tidak lalai dalam penundaan kedatangan Kristus itu, tetapi justru hal itu menunjuk kepada kesabaran-Nya. Allah menunggu umat-Nya yang sudah berbalik itu untuk bertobat sebelum masa pengampunan itu berlalu. Para pengajar sesat itu pun harus bertobat dan kembali ke jalan Tuhan. Semakin lama Allah bersabar maka semakin besar pula kesempatan serta peluang bagi orang-orang berdosa kembali ke jalan yang benar. Penundaan kedatangan-Nya itu merupakan bukti kasih dan kemurahan Allah bagi manusia.
Penundaan kedatangan-Nya yang menjadi wujud kepeduliaan-Nya kepada umat manusia seharusnya ditanggapi dengan positip, yakni agar tetap waspada dan berdoa. Hari Tuhan pasti akan terjadi, tetapi sebagaimana dikatakan di atas hanya Allah sendiri yang tahu. Kalau hari Tuhan itu sudah terjadi, peluang dan kesempatan itu sudah berlalu. Manusia tidak mungkin lagi menyelamatkan dirinya. Dengan memakai gambaran yang terdapat dalam PL, kembali penulis mengingatkan jemaat agar sungguh-sungguh bertobat. Orang-orang Kristen tidak boleh terbawa arus pemikiran pengajar sesat itu. Benar, Tuhan belum datang kedua kalinya, tetapi tidak berarti bahwa Tuhan sama sekali sudah lupa sehingga Dia tidak akan datang lagi. Tuhan “pasti” akan datang. Kedatangan-Nya seperti pencuri pada malam hari, tiba-tiba dan tidak pernah diberitahukan sebelumnya. Orang-orang Kristen tidak perlu menghitung-hitung hari kedatangan-Nya itu, siapa pun tidak mungkin melakukannya. Perbedaan orang-orang Kristen beriman dari “yang lainnya” adalah orang-orang Kristen senantiasa siap menghadapi kedatangan Tuhan, kapanpun dan bagaimanapun caranya. Orang-beriman akan senantiasa siap menghadapi panggilan dan kedatangan Tuhan, dan tetap konsisten berjanji melakukan yang terbaik di dalam hidupnya.
Sepanjang masa, gereja menghadapi para pengajar sesat yang berupaya menaklukkan jemaat dan membawa mereka keluar dari gereja. Sering terjadi cara dan metode para pengajar sesat itu lebih menarik dari cara gereja yang sudah mapan (gereja mainstream). Hedonisme, materialisme, libertinisme, synkritisme, dan sebagainya semakin berkembang dan mudah mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat modern. Semakin banyak manusia yang tidak takut terhadap hukuman Tuhan. Mereka mengatakan, hukuman Tuhan itu hanya peringatan isapan jempol yang menakut-nakuti manusia. Katanya, hukuman itu tidak perlu dihiraukan. Sebaliknya mereka mengajak manusia untuk menikmati kehidupan dunia modern ini sesuka hati masing, hidup berfoya-foya sebab kesempatan hidup tidak akan datang dua kali. Mereka tidak mau perduli kepada ajaran surga dan neraka, sebab bagi mereka surga itu adalah kenikmatan saja.
Kita melihat betapa banyak orang yang terjebak dengan ajaran sesat ini. Banyak dari antara umat manusia (termasuk anggota gereja) yang sudah terperangkap dalam jerat kenikmatan sesaat antara lain: ketergantungan kepada obat-obat terlarang, seks bebas, dan sebagainya. Banyak dari antara mereka yang sudah terperangkap dan terjerumus ke dalam lumpur dosa itu kemudian hari menyesal, tetapi penyesalannya sudah terlambat. Kita bisa membaca di dalam media semakin banyak orang yang mengidap penyakit HIV/AIDs, penyakit yang tidak mungkin diobati. Anehnya, penyakit yang sudah mendunia ini semakin meraja lela dan tidak ditakuti oleh banyak orang, lupa kepada akibat yang ditimbulkannya. Mata manusia telah gelap oleh kenikmatan sesaat itu.
Nas ini mengingatkan manusia (kita) tentang kedatangan Tuhan. Makna kedatangan Tuhan bagi kita bukan hanya menyangkut hari kiamat yang kita tidak tahu kapan akan terjadi tetapi juga berkaitan dengan kedatangan-Nya untuk memanggil kita dari dunia ini menghadap Allah Bapa di surga. Kapan dia memanggil seseorang tidak ada yang tahu. Oleh sebab itu, sebagai orang beriman kita harus berjaga-jaga, mempergunakan waktu yang diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya melakukan yang baik dan berguna untuk sesama dan dunia. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa keselamatan kekal telah dikerjakan Kristus untuk kita dan telah dianugerahkan-Nya. Namun, Iblis tidak akan pernah berhenti menggoda kita agar menanggalkan mahkota keselamatan itu. Maka, berjaga-jagalah, waspadalah, dan tetap berdoa. Tuhan memberkati kita semua.

Jumat, 19 Juni 2009

RENUNGAN: 2 Timotius 4 : 1-8

“It Is Not The End” (2 Timotius 4 : 1-8)

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”

PENDAHULUAN

Dalam rangka mengakhiri tugas Kepengurusan Persekutuan Naposobulung GKPA Penjernihan tahun 2006-2008 dan pemilihan pengurus baru periode 2008-2010, maka kita akan membahas tema: It Is Not The End. Sebenarnya dengan tema ini secara sederhana kita sudah memahami dan mengerti apa arti dan tujuan tema ini bahwa tugas kepengurusan bisa saja berakhir, namun bukan berarti tugas pelayanan kita di PNGKPA Penjernihan juga ikut berakhir, melainkan tugas pelayanan kita itu akan terus berlangsung dengan bentuk yang lain pula. Artinya PNGKPA Penjernihan memulai babak baru dalam pelayanan di gereja GKPA Penjernihan.

I. ARTI DAN MAKNA PELAYANAN
“Siapakah yang senang kalau harus melayani orang lain?” ujar Plato. Rupanya Plato lebih jujur daripada kita. Sebab sering kali kita berkata bahwa kita mau melayani orang lain, namun dalam prakteknya kita bersikap: Eh, enaknya nyuruh-nyuruh, memangnya aku jongos dia?
Dalam gereja orang juga senang berbicara tentang pelayanan. Begitu sering orang menggunakan kata melayani sehingga artinya menjadi kabur. Seorang pemuda mendapat tugas dari gereja, lalu ketika bendahara mau mengganti ongkos jalan, pemuda itu menjawab, “Tak usah, ini pelayanan.” Di sini pelayanan berarti melakukan sesuatu secara sukarela. Ketika sebuah gereja di Sumba meminta bantuan dana untuk pembangunan gedung, orang mengangguk dan berkata, “Ya, kita perlu melayani mereka.” Di sini pelayanan berarti memberi sumbangan. Minggu depan yang akan melayani permandian kudus adalah Pdt.Poltak. Di sini pelayanan berarti melakukan atau memimpin.
Kata melayani digunakan oleh Perjanjian Baru juga dalam banyak arti. Ada empat macam kata yang digunakan dalam bahasa aslinya, yaitu diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo.
Diakoneo berarti menyediakan makanan di meja untuk majikan. Orang yang melakukannya disebut diakonos dan pekerjaannya disebut diakonia (Lih. Luk.17:8). Namun dalam Lukas 22:26-27, Yesus memberi arti yang baru bagi diakoneo, yaitu melayani orang yang justru lebih rendah kedudukannya dari kita. Dalam 1Petrus 4:10 kata diakoneo berarti menggunakan karisma yang ada pada kita untuk kepentingan dan kebaikan orang lain. Rasul Paulus menganggap pekerjaannya sebagai suatu diakonia dan dirinya sebagai diakonos bagi Kristus (2Kor.11:23) dan bagi umat (Kol.1:25).
Douleo adalah menghamba yang dilakukan oleh seorang doulos (budak). Paulus memakai kata itu untuk menggambarkan bahwa kita yang semula menghamba kepada pelbagai kuasa jahat, dibebaskan oleh Kristus supaya kita bisa menghamba kepada Kristus (Gal.4:1-11). Suatu hal yang kontras dan tajam diperlihatkan di Filipi 2:5-7, yaitu bahwa Yesus yang walaupun mempunyai rupa Allah namun telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang doulos.
Leitourgeo berarti bekerja untuk kepentingan rakyat atau kepentingan umum. Orang yang berbuat itu disebut leitourgos dan pekerjaan luhur itu disebut leitourgia. Kata itu juga dapat berarti melakukan upacara dan ibadah kepada para dewa. Dari situ kita menggunakan kata liturgi untuk kata ibadah.
Latreuo berarti bekerja untuk mendapat latron yaitu gaji atau upah. Latreuo ini berarti memberikan persembahan kepada Tuhan. Penggunaan yang mencolok terdapat dalam Roma 12:1 di mana Paulus berpesan supaya kita mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan sebagai logike latreia, artinya persembahan yang pantas.
Pelbagai kata ini digunakan oleh gereja abad pertama dengan arti melayani, mengabdi atau menghamba kepada Tuhan dan kepada orang lain. Apa sebabnya kita didorong untuk melayani Tuhan dan orang lain? Dasarnya adalah karena Yesus sendiri sudah melayani kita. Seluruh hidup dan Yesus selama 33 tahun ditandai oleh jiwa melayani. Tujuan hidup-Nya bukanlah untuk mendapatkan pelayanan, melainkan untuk memberikan pelayanan. Isi hidup-Nya bukan dilayani, melainkan melayani. Alkitab tidak menggambarkan Yesus sebagai Tuhan yang berjaya atau berkuasa, melainkan sebagai Tuhan yang melayani dan menghamba, Yesus adalah diakonos (pelayan), bahkan doulos (budak).
Dengan demikian secara sederhana dapat dikatakan bahwa PNGKPA Penjernihan ini terpanggil untuk tugas pelayanan diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo; dipanggil untuk melayani, mengabdi atau menghamba kepada Tuhan dan kepada orang lain, secara umum untuk GKPA Penjernihan dan khususnya untuk PNGKPA Penjernihan.

II. PENUHILAH TUGAS PANGGILAN PELAYANANMU
Kehidupan Kristen dimulai dari kesadaran akan panggilan Tuhan karena Yesus mengatakan bukan kamu yang memilih Aku tetapi Aku yang memilih kamu. Berarti dari mulanya Allah memilih kita. Setelah Allah memilih kita, maka Allah menguduskan kita dan memanggil kita. Setelah kita dipanggil, maka Allah memperlengkapi hidup kita dengan memberikan kuasa, wibawa dan pengalaman-pengalaman rohani agar kita mampu bersaksi bagi Kristus.

Bagaimana kita menyadari dan menanggapi tugas panggilan itu?

1. Kristus Yesus yang akan menjadi hakim (ay.1).
Pelayanan kita bukan untuk menyenangkan manusia, bukan untuk mencari muka. Banyak orang ketika dipuji, maka pelayanannya makin baik, tetapi ketika dia dikritik, pelayanannya makin mundur. Kalau kita menyadari bahwa Yesus yang menjadi hakim dalam pelayanan kita, maka pelayanan kita harus benar di hadapan Allah. Jadi yang menjadi hakim dalam pelayanan kita bukan manusia, bukan rekan sepelayanan kita, bukan keluarga kita melainkan Kristus sendiri yang menjadi hakim. Karena itu pikirkanlah dan kerjakanlah apa yang menyenangkan hati Tuhan.
2. Senantiasa memberitakan Firman (ay.2).
Memberitakan Firman tidak identik dengan menjadi ‘pendeta’, ‘sintua’, ‘penginjil’, dll. Memberitakan firman adalah perkara yang mudah. Kita memberitakan Firman lewat nasihat-nasihat, tegoran, menyatakan apa yang salah, melawan ajaran yang sesat, lewat perilaku, sikap, prinsip hidup kita. Sehingga kita menjadi surat Kristus yang terbuka yang bisa dibaca oleh setiap orang di sekitar kita.

3. Kuasailah diri dalam segala hal (ay.5).
Menguasai diri berarti sadar dalam segala hal, sabar menderita, tunaikan tugas pelayanan. Jangan memakai penderitaan sebagai alat untuk bersikap kasar kepada orang lain. Namun melalui penderitaan kita terus menunaikan tugas pelayanan.

4. Kesiapan untuk berkorban (ay.6).
Dalam pelayanan banyak yang harus kita korbankan. Kadangkala bukan darah yang tertumpah tapi harga diri, sifat-sifat kedagingan kita yang harus kita tanggalkan. Tanpa pengorbanan dalam pelayanan tiada kemuliaan. Karena itu kita harus berani berkorban demi Kristus dalam pelayanan kita.

5. Bertahan sampai akhir (7-8).
Banyak orang yang semangat dalam awal pelayanannya, namun semakin lama semakin redup dan lenyap. Seorang pelayan harus memiliki semangat yang bertahan sampai akhirnya. Agar kita mampu bertahan hingga akhirnya maka kita harus membangun integritas diri kita. Inilah cerita terbesar tentang integritas. Ketika rasul Paulus berbicara tentang kematian, dia berbicara tentang reputasi yang diinginkannya. Paulus membuat 3 pernyataan yang luar biasa. Pertama: “Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik“ (“I fought a good fight”). Aku berjuang sebagai pejuang yang baik. Kita harus berjuang untuk setiap yang kita lakukan. Kita tidak boleh membiarkan diri kita dirusak oleh hal-hal yang kotor dan najis yang ingin menghancurkan kita. Kita harus berjuang untuk integritas kita. Kita harus berjuang untuk kejujuran kita. Kita harus berjuang untuk kesuksesan kita. Janganlah kita dikenal orang sebagai pejuang yang tidak baik/jahat. Bangun reputasimu sebagai pejuang yang baik. Kedua, “Aku telah mencapai garis akhir” (“I finished the task”). Aku berjuang sampai selesai. Bila kita diberikan tugas, kerjakan sampai tuntas, jangan setengah-setengah. Kerjakan sampai tuntas. Pernyataan ketiga, “Aku telah memelihara iman” (“I Kept the Faith”). Ini pernyataan penting, menjaga iman kita. Selalu jaga imanmu. Jaga imanmu dalam pergaulanmu, jaga imanmu pekerjaanmu, jaga imanmu di dalam keluargamu. Berdirilah pada nilai-nilai imanmu.
III. BAHAYA DALAM PELAYANAN PEMUDA GEREJA

Jika kita telah mengetahui apa arti pelayanan dan menyadari tugas panggilan itu, maka berhati-hatilah agar kita tidak jatuh dalam bahaya pelayanan pemuda Gereja. Saudara pernah dengar tidak yang namanya bahaya pelayanan pemuda Gereja. Apakah sebenarnya bahaya-bahaya dalam pelayanan kita itu?

1. Tidak memiliki visi yang jelas. Salah satu kesalahan terbesar di pelayanan adalah: tidak tahu visi. Banyak yang tidak tahu visinya dan cuma mengalir aja. Apakah itu visi? (1) Visi adalah sesuatu yang ingin dicapai masa mendatang. Yang ingin dicapai itu adalah kualitas, jumlah, ukuran keberhasilan. (2) Visi merupakan sesuatu kesadaran luas tentang: di mana kita sekarang, kemana kita hendak pergi, gambaran pencapaian pelayanan di masa depan. (3) Visi merupakan gambaran mental dari: apa yang sudah lampau, apa yang sekarang (kurang baik), apa yang akan datang (lebih baik). (4) Visi mempunyai daya dorong untuk: membantu mewujud-nyatakan, mengatasi berbagai kesulitan, berbuat lebih baik. Contoh visi pemuda: “Menjadi mitra Kristus dalam pelayanan Gereja”

2. Tidak memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Karena pemuda/i gereja adalah orang-orang yang sibuk kerja di kantor, kuliah dan lain sebagainya dan ditambah lagi tugas pelayanan di gereja, maka sering kali mereka jatuh dalam bahaya tidak memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Jangan heran, kalau tidak hati-hati, bisa-bisa pelayanan pemuda gereja itu kolaps. Keliatannya rohani banget, sibuk buat pekerjaan Tuhan, tapi sebenarnya dalamnya kosong, kering kerontang, karena tidak punya waktu buat duduk diam di kaki Tuhan. Pelayanannya cuma program belaka, cuma kejar target, cuma karena disuruh sama pengurus, strictly business… Tidak heran kalau rata-rata keluhan mereka di Senin pagi adalah “Kenapa ya gue kok rasanya capeeee banget waktu bangun pagi???” Itu karena mereka tidak punya “api” lagi di hati mereka. Api mereka sudah padam karena mereka tidak pernah menyalakan api bakaran di pagi hari, membakar korban persembahan bagi Tuhan secara teratur setiap pagi dengan cara saat teduh, berdoa, bernyanyi memuji menyembah Tuhan dengan tenang.

3. Melayani karena “terpaksa”. Sebagai akibat dari main tarik sana-sini, banyak orang yang diserahi tugas atau jabatan pada tempat yang salah. Misalnya “terpaksa” jadi ketua NHKBP cuma karena tidak ada orang lain lagi yang bersedia atau “dipaksa” jadi pengurus agar mau masuk NHKBP. Jika kita melayani karena “terpaksa” maka hati-hati jangan-jangan nanti juga Tuhan pun memberi berkat kepadamu karena “terpaksa” juga. Oleh karena itu layanilah Tuhan dan sesamamu dengan hati yang rela dan tulus iklas agar Tuhan memberimu kemampuan yang luar biasa.

4. Intrik cinta. Yang namanya kegiatan atau pelayanan pemuda, pasti ada benih-benih cinta yang ditabur atau tertabur. Wajar sih, naman ya juga anak muda. Tidak salah kalau selama pelayanan itu ada yang jadian atau pacaran. Tapi tidak semua yang pacaran itu akan menikah. Pasti pasangan yang jadian sampai menikah persentasenya lebih sedikit dibanding yang pasangan yang putus. Mungkin karena memang tidak cocok, mungkin karena selingkuh, mungkin karena sakit hati, dll. Apapun alasannya, yang namanya putus cinta itu pasti sakit. Tidak jarang karena intrik cinta dalam pemuda gereja ini sering menjadi pemicu hancur dan rusaknya pelayanan di dalam organisasi pemuda. Apalagi jika yang menjadi pelaku itu adalah salah seorang dari pengurus NHKBP, masalahnya lebih rumit lagi. Karena itu, berhati-hatilah menjalin cinta di dalam pelayanan. Jangan karena cinta, pelayanan rusak. Tetapi karena cinta jadikanlah pelayananmu semakin baik dan maju.

IV. PENUTUP

Pada malam ini, bagi Pengurus PNGKPA Penjernihan periode 2006-2008 akan mengakhiri pertandingan dan pelayanannya. Apakah arti mengakhiri tugas pelayanan ini? Pertama, biarlah Kristus yang menjadi hakim dalam seluruh tugas yang telah kita lakukan selama periode ini. Artinya setiap pekerjaan yang baik dan benar di mata Tuhan akan menjadi berkat bagi NHKBP Kernolong dan seluruh warga jemaat. Karena itu jika ada hal-hal yang tidak baik selama periode ini jangan hakimi dirimu, jangan hakimi orang lain, sebab hanya Yesus yang menjadi hakim dalam tugas pelayananmu. Kedua, kuasailah dirimu. Ketika banyak kritikan dan ocehan yang diterima selama ini baik dari teman dan pihak gereja jangan ditanggapi dengan emosi, jangan mengendorkan semangat pelayanan, jangan mengakhiri tugas pelayanannya dari NHKBP Kernolong alias meninggalkannya tetapi harus tetap di NHKBP untuk memberikan dukungan bagi pengurus yang baru nantinya. Ketiga, bersiaplah berkorban. Berkorban untuk memperbaiki pelayanan NHKBP Kernolong ini untuk semakin maju dan berkembang. Keempat, bertahanlah sampai akhir. Artinya jangan berhenti sampai di sini. Jangan berhenti berpartisipasi, memberikan dukungan doa dan dana bagi NHKBP Kernolong ini. It is not the end.
Bangunlah reputasi integritasmu mulai sekarang. Tujuan kita adalah melayani orang lain, bukanlah membebani orang lain. Biarlah di akhir nanti kita semua dapat berkata, “Aku sudah berjuang sebagai pejuang yang baik, Aku sudah menyelesaikan tugasku dan Aku sudah menjaga imanku.”


Ramli SN Harahap
Jl.Pengariaran No.16A
Bendungan Hilir, 10210
Jakarta Pusat
HP. 0813 848 808 26
Email: ramlyharahap@yahoo.com
http://ramlyharahap.blogspot.com

Bacaan Minggu 28 Juni 2009: 2Petrus 3 : 3 - 10

KEDATANGAN KRISTUS KALI KEDUA

Seiring dengan perkembangan gereja pada abad pertama, para pengajar sesat pun tetap berupaya untuk mempengaruhi anggota jemaat. Dengan kata lain, ada semacam pertandingan dan perseteruan antara para pembela ajaran Kristus yang benar dengan pengajar-pengajar palsu yang sesat. Anehnya, sering terjadi justru ajaran sesat itu lebih menarik perhatian sebab para penganjurnya berupaya mengemas ajarannya dengan metode yang lebih menarik.
Salah satu persoalan penting yang menjadi pokok perdebatan pada waktu itu adalah tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Sebenarnya, bukan hanya pada surat 2 Petrus tema ini menjadi persoalan penting, sudah terjadi jauh sebelumnya. Pada surat kiriman kepada Korintus pun masalah ini sudah muncul.
Pengajaran tentang kedatangan Kristus mempengaruhi sikap dan moral jemaat. Jemaat mula-mula percaya Kristus akan datang segera dan sebagian dari antara mereka masih akan melihat kedatangan-Nya kedua kali itu (bnd. 1Tes.1:11; 2Tes. 2:1-4). Tetapi berhubung sampai masa 2 Petrus ini Kristus belum juga datang, banyak dari anggota jemaat yang kecewa. Para pengajar sesat mempergunakan peluang itu untuk memengaruhi mereka. Mereka mengatakan bahwa Kristus tidak akan datang sebagaimana telah dijanjikan-Nya. Mereka tidak perlu menyianyiakan waktu dan pikiran untuk mengingat-ingat kedatangan Kristus. Itu merupakan pekerjaan sia-sia. Lebih baik mempergunakan waktu dan kesempatan yang ada untuk menikmati hidup, melakukan apa saja yang disukai seseorang. Akibatnya perbuatan yang tidak sesuai dengan moralitas kekiristenan menjadi semakin berkembang.
Para pengajar sesat itu mengejek orang-orang Kristen tentang penundaan kedatangan Yesus Kristus. Penundaan kedatangan Kristus menjadi dasar bagi pengajar sesat menyerang ajaran rasul-rasul. Berhubung masih banyak anggota jemaat yang masih muda (baru masuk menjadi anggota jemaat), mereka mudah terpengaruh dengan ajaran sesat itu. Oleh sebab itu banyak orang yang murtad, meninggalkan ajaran yang benar itu dan kembali kepada kepercayaan lama, bahkan sebagian dari antara mereka menjadi penganut synkritisme (bnd. Ibr 6:1-8).
Melalui surat ini penulis hendak mengingatkan jemaat bahwa Kristus pasti akan datang. Penundaaan kedatangan-Nya itu bukan urusan manusia tetapi sesuai dengan rencana Allah. Manusia tidak akan pernah mampu menetapkan kedatangan Yesus kedua kalinya. Keterlambatan itu justru menjadi bukti kasih Allah akan manusia yang tidak menghendaki manusia binasa. Dengan keterlambatan itu berarti masih ada waktu atau kesempatan untuk bertobat. Allah tidak pernah mengingkari apa yang Dia janjikan. Dia selalu setia dan menggenapnya.
Pengajaran kedatangan Kristus segera tidak perlu dipahami secara harfiah. “Kata segera” bukan berarti besok. Jika keyakinan tentang kedatangan-Nya yang segera akan terjadi berkembang di dalam jemaat mula-mula, bisa saja ajaran itu sengaja dikembangkan oleh para pengajar sesat pula. Sebab sekalipun pada awalnya Paulus mengatakan “maranatha, datanglah ya Tuhan” (1Kor.16:22) tetapi itu dalam konteks menginggatkan anggota jemaat agar tetap berja-jaga, berdoa dan tetap melakuka pekerjaan kasih. Paulus tidak pernah mengatakan kepada anggota jemaat supaya mereka meninggalkan pekerjaan yang baik karena Kristus akan datang segera (bnd. 2Tes.3:1-12). Yesus pun tidak pernah menjanjikan hari yang tepat dari kedatangan-Nya itu. Menjawab pertanyaan para murid-Nya tentang kedatangan-Nya, Dia menjawab tidak seorang pun yang mengetahui, bahkan Dia sendiri pun tidak mengetahui, hanya Bapa di surga yang mengetahuinya (Mat.24:36; Why. 1:6-7).
Menurut pengajar sesat tidak ada yang berubah di bumi sejak masa nenek moyang. Segala sesuatu itu tetap seperti semula. Dengan alasan itu, mereka mengatakan bahwa penantian kedatangan Kristus itu merupakan kesia-siaan saja. Untuk melawan ajaran sesat itu, maka penulis surat Petrus kedua ini membuka mata anggota jemaat untuk mengerti dengan baik kebenaran ajaran para rasul. Apakah betul tidak ada yang berubah seperti ditudukan para pengajar sesat itu? Tuduhan seperti itu tidak beralasan, sebab sejak penciptaan banyak yang berubah. Tidak ada yang kekal di muka bumi ini, semua berubah dan berkembang. Langit dan bumi (yang berada di bawah langit) terbentuk dari air samudera raya (Kej.1:2). Dunia yang tercipta itu terjadi oleh air. Artinya, air sangat penting untuk berdirinya dunia ini dengan menyoroti dua segi yakni: air merupakan asal usul baik untuk terbentuknya dunia maupun untuk kelanjutannya kemudian. Tetapi bumi yang tercipta demikian itu menjadi binasa ketika digenangi air pada masa Nuh (Kej.7:21). Seluruh dunia turut hanyut akibat keampuhan air itu.
Dengan penjelasan itu, Petrus mau menyapa anggota jemaat agar memahami dan mempercayai perbuatan kasih Tuhan kepada umat manusia dengan menyelamatkan Nuh beserta anak-anaknya. Sebenarnya, jika Tuhan tidak menunjukkan anugerah-Nya, Dia bisa saja menghancurkan semuanya termasuk Nuh sehingga tidak ada lagi generasi manusia berikutnya. Jadi jika para pengajar sesat itu mengatakan tidak ada yang berubah, peristiwa air bah itu pun sudah merupakan perubahan.
Sesudah dunia lama binasa, maka terbitlah suatu dunia ciptaan baru yang tetap terdiri atas langit dan bumi seperti dunia lama dan dunia mendatang. Manusia sekarang hidup dalam dunia sementara yang dipelihara oleh Allah, tetapi dunia yang sedang berjalan menuju kepada suatu kebinasaan lagi. Dunia yang sekarang akan terbakar oleh api, dan berkaitan dengan itu maka orang-orang yang tidak beriman juga akan binasa. Tetapi semua kejadian itu bukan merupakan hukum alam, Allah yang maha kuasa Pencipta langit dan bumi yang telah melakukannnya. Rencana dan kehendak Tuhan yang harus terjadi bukan suatu proses hukum alam. Dunia dan segala sesuatu di alam semesta itu berada pada sejarah keselamatan yang dirancang oleh Allah. Maka tidak ada suatu kejadian apa pun di luar pengetahuan Allah. Bumi, alam semesta, manusia dan semua makhluk harus hidup pada sejarah keselamatan Allah, tidak mungkin keluar dari garis ketentuan itu.
Berlandaskan Mazmur 90:4 penulis surat Petrus ini menambahkan argumentasi teologis tentang pokok yang dipersoalkan tadi. Menurut rasul ini, Allah tidak pernah dibatasi oleh waktu sebab Dia sendirilah yang menciptakan waktu. Jangka waktu yang dipahami manusia berbeda dengan jangka waktu Tuhan. Oleh sebab itu, sekalipun terjadi penundaan kedatangan Kristus kedua-kalinya, bagi Allah waktu itu hanya singkat saja. Bagi Tuhan, satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama satu hari. Artinya, batas-batas waktu yang berlaku bagi manusia tidak berlaku bagi Tuhan.
Bisa saja Tuhan menyudahi segala-galanya dengan cepat. Namun, Allah tidak melakukannya sebab Tuhan menghendaki keselamatan semua orang (bnd 1Tim. 2:4). Allah tidak lalai dalam penundaan kedatangan Kristus itu, tetapi justru hal itu menunjuk kepada kesabaran-Nya. Allah menunggu umat-Nya yang sudah berbalik itu untuk bertobat sebelum masa pengampunan itu berlalu. Para pengajar sesat itu pun harus bertobat dan kembali ke jalan Tuhan. Semakin lama Allah bersabar maka semakin besar pula kesempatan serta peluang bagi orang-orang berdosa kembali ke jalan yang benar. Penundaan kedatangan-Nya itu merupakan bukti kasih dan kemurahan Allah bagi manusia.
Penundaan kedatangan-Nya yang menjadi wujud kepeduliaan-Nya kepada umat manusia seharusnya ditanggapi dengan positip, yakni agar tetap waspada dan berdoa. Hari Tuhan pasti akan terjadi, tetapi sebagaimana dikatakan di atas hanya Allah sendiri yang tahu. Kalau hari Tuhan itu sudah terjadi, peluang dan kesempatan itu sudah berlalu. Manusia tidak mungkin lagi menyelamatkan dirinya. Dengan memakai gambaran yang terdapat dalam PL, kembali penulis mengingatkan jemaat agar sungguh-sungguh bertobat. Orang-orang Kristen tidak boleh terbawa arus pemikiran pengajar sesat itu. Benar, Tuhan belum datang kedua kalinya, tetapi tidak berarti bahwa Tuhan sama sekali sudah lupa sehingga Dia tidak akan datang lagi. Tuhan “pasti” akan datang. Kedatangan-Nya seperti pencuri pada malam hari, tiba-tiba dan tidak pernah diberitahukan sebelumnya. Orang-orang Kristen tidak perlu menghitung-hitung hari kedatangan-Nya itu, siapa pun tidak mungkin melakukannya. Perbedaan orang-orang Kristen beriman dari “yang lainnya” adalah orang-orang Kristen senantiasa siap menghadapi kedatangan Tuhan, kapanpun dan bagaimanapun caranya. Orang-beriman akan senantiasa siap menghadapi panggilan dan kedatangan Tuhan, dan tetap konsisten berjanji melakukan yang terbaik di dalam hidupnya.
Sepanjang masa, gereja menghadapi para pengajar sesat yang berupaya menaklukkan jemaat dan membawa mereka keluar dari gereja. Sering terjadi cara dan metode para pengajar sesat itu lebih menarik dari cara gereja yang sudah mapan (gereja mainstream). Hedonisme, materialisme, libertinisme, synkritisme, dan sebagainya semakin berkembang dan mudah mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat modern. Semakin banyak manusia yang tidak takut terhadap hukuman Tuhan. Mereka mengatakan, hukuman Tuhan itu hanya peringatan isapan jempol yang menakut-nakuti manusia. Katanya, hukuman itu tidak perlu dihiraukan. Sebaliknya mereka mengajak manusia untuk menikmati kehidupan dunia modern ini sesuka hati masing, hidup berfoya-foya sebab kesempatan hidup tidak akan datang dua kali. Mereka tidak mau perduli kepada ajaran surga dan neraka, sebab bagi mereka surga itu adalah kenikmatan saja.
Kita melihat betapa banyak orang yang terjebak dengan ajaran sesat ini. Banyak dari antara umat manusia (termasuk anggota gereja) yang sudah terperangkap dalam jerat kenikmatan sesaat antara lain: ketergantungan kepada obat-obat terlarang, seks bebas, dan sebagainya. Banyak dari antara mereka yang sudah terperangkap dan terjerumus ke dalam lumpur dosa itu kemudian hari menyesal, tetapi penyesalannya sudah terlambat. Kita bisa membaca di dalam media semakin banyak orang yang mengidap penyakit HIV/AIDs, penyakit yang tidak mungkin diobati. Anehnya, penyakit yang sudah mendunia ini semakin meraja lela dan tidak ditakuti oleh banyak orang, lupa kepada akibat yang ditimbulkannya. Mata manusia telah gelap oleh kenikmatan sesaat itu.
Nas ini mengingatkan manusia (kita) tentang kedatangan Tuhan. Makna kedatangan Tuhan bagi kita bukan hanya menyangkut hari kiamat yang kita tidak tahu kapan akan terjadi tetapi juga berkaitan dengan kedatangan-Nya untuk memanggil kita dari dunia ini menghadap Allah Bapa di surga. Kapan dia memanggil seseorang tidak ada yang tahu. Oleh sebab itu, sebagai orang beriman kita harus berjaga-jaga, mempergunakan waktu yang diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya melakukan yang baik dan berguna untuk sesama dan dunia. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa keselamatan kekal telah dikerjakan Kristus untuk kita dan telah dianugerahkan-Nya. Namun, Iblis tidak akan pernah berhenti menggoda kita agar menanggalkan mahkota keselamatan itu. Maka, berjaga-jagalah, waspadalah, dan tetap berdoa. Tuhan memberkati kita semua.



Pdt.Dr.Jamilin Sirait

Bacaan Minggu 21 Juni 2009: Mazmur 107 : 33 - 43

SIKECIL YANG INDAH

Para ahli berpendapat bahwa Mazmur ini adalah mengenai kembalinya bangsa Israel dari pembuangan Babel. Sementara itu orang bijak mengatakan bahwa Mazmur ini adalah renungan tentang nasib kehidupan Israel yang dikembalikan Tuhan.
Orang yang dalam pembuangan atau pengungsian pasti mengalami berbagai penderitaan karena adanya tekanan dan penindasan dari penguasa. Juga karena adanya kekurangan pangan dan kemiskinan. Karena berbagai penyakit dan gangguan kejiwaan atau stress. Namun demikian, kesadaran umat Tuhan, sekembalinya ke Tanah Perjanjian tidak lupa untuk mengucapkan syukur. Ucapan syukur itu disampaikan karena pertolongan Tuhan, khusunya karena telah terlepas dari penderitaan selama pembuangan, dan juga karena mendapat bimbingan dalam perjalanan. Mereka juga bersyukur karena diizinkan Tuhan menduduki kembali Tanah Perjanjian.
Sayang sekali ketika mereka masuk ke negeri Perjanjian itu mereka mendapati penduduk asli yang jahat, sehingga Tuhan telah menghukum mereka dengan membuat sungai-sungai menjadi padang gurun, tanah subur menjadi padang asin, dan pancaran- pancaran air menjadi tanah gersang. Tetapi masuknya kembali bangsa Israel, Tuhan berkehendak untuk mengubah kondisi Tanah Perjanjian itu menjadi tanah yang elok. Kita tahu bahwa Tanah Perjanjian adalah bagian dari rencana Tuhan bagi umat-Nya. Umat Tuhan itu memang harus bekerja keras untuk mengubah nasib mereka. Alam yang mereka hadapi adalah alam liar yang tandus dan gersang. Oleh karenanya mereka berusaha untuk menjadikannya tanah yang subur agar dapat menghasilkan. Padang belantara mereka ciptakan menjadi kota yang dapat didiami dengan nyaman. Orang-orang lapar mereka perhatikan untuk dapat menikmati kehidupan yang layak. Tanah yang telah menjadi subur mereka jadikan kebun anggur. Tanah gersang menjadi padang rumput bagi ternak mereka, sehingga hewan peliharaan mereka semakin bertambah banyak. Pertambahan penduduk pun semakin pesat. Bangsa Israel adalah bangsa yang kecil jumlahnya bila disbanding dengan bangsa lain di sekitarnya. Oleh sebab itu dalam pemandangan Tuhan bangsa itu disebut orang sebagai Si Kecil Yang Indah. Itulah berkat Tuhan atas iman mereka. Namun demikian tidak semua orang Israel merasa puas dengan keadaan mereka saat itu. Orang-orang yang kurang iman membuat ulah dengan menimbulkan kerusuhan. Para pemimpin mereka hinakan sehingga kehilangan muka. Banyak yang melarikan diri dan tersesat di jalan (ay.40). Mereka juga menimbulkan pemberontakan sehingga banyak yang mati. Banyak pula yang kelaparan dan menderita sakit atas ulah mereka sendiri. Datang pula hukuman Tuhan dengan krisis ekonomi. Akhirnya mereka insyaf bahwa penderitaan yang mereka alami adalah cara Tuhan menegur mereka, maka mereka kembali kepada Tuhan dan Tuhan memberi hikmat atas mereka. Lalu mereka berpegang pada kebenaran Tuhan. Tuhan juga memperhatikan mereka dengan segala kemurahan-Nya.
Apakah kita pernah merasakan teguran Tuhan? Bagaimanakah respon kita terhadap teguran itu?
Memang respon kita bisa bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa teguran Tuhan memang merupakan rencana Tuhan untuk mendisiplinkan umat-Nya, agar insyaf bahwa Tuhan dengan tindakan-Nya itu menaruh belas kasihan. Orang yang rela menerima teguran Tuhan dan menyadari bahwa atas kesalahannya itu Tuhan menghukumnya. Bila hukuman itu diterima secara iman, maka pastilah Tuhan akan mengembalikan dia ke jalan kebenaran, sehingga ia hidup di jalan Tuhan. Tetapi bagi mereka yang tidak mengakui teguran Tuhan sebagai tindakan disiplin, tidak akan pernah merasakan belas kasih Tuhan yang nyata (Ibr.12:8). Yang harus kita renungkan adalah bahwa tindakan Tuhan dalam mendisiplinkan kita selalu mengambil dasar atas kesalahan atau dosa kita. Bagaikan seorang ayah yang menghajar anaknya agar menjadi penurut dan tidak berbuat kesalahan lagi. Tetapi ada juga maksud Tuhan yang lain, bahwa tindakan disiplin itu tidak didasarkan atas kesalahan melainkan atas dasar upaya mendidik kita menuju kepada iman yang kuat. Oleh karenanya tindakan Tuhan kadang sangat menyakitkan, namun bila kita renungkan ulang kita akan menemukan berkat yang indah dari padanya.
Tuhan memang sering mempergunakan masa-masa yang sulit kita untuk menyatakan teguran-Nya. Melalui sulitnya kita mencari nafkah, sulitnya kita mendapat kesembuhan dari suatu penyakit, sulitnya kita menemukan pasangan hidup, sulitnya kita menemukan kebahagiaan rumah tangga. Semua kesulitan itu merupakan teguran. Semua teguran itu mengajak kita untuk bertahan dalam iman. Maka nanti belakangan kita akan tahu bahwa Tuhan telah membangun pengharapan di dalam hidup kita. Pengharapan itu akan menuju ke sesuatu yang indah. Bahwa Ia akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pkh.3:11). Misalnya, kesulitan ekonomi atau krisis pangan dalam keluarga kita, kenyataannya oleh ketahanan iman, setelah kita berhemat dan menerapkan sistem ekonomi yang benar, maka kita dapat menemukan kemudahan-kemudahan dan kelimpahan. Kemudian kita bersorak “Bravo! Tuhan memang Pemurah. Amin”.
Melalui Mazmur bacaan kita hari ini, maka kita tahu bahwa Tuhan menyatakan kuasanya atas alam semesta, yakni melalui sungai-sungai, padang gurun, tanah tandus, pancaran-pancaran air, kebun buah- buahan, hujan dan panas. Semuanya itu dinyatakan kepada bangsa Israel untuk dikerjakan dan diusahakan agar mendatangkan rejeki bagi mereka. Oleh karenanya kedatangan kembali bangsa Israel ke Tanah Perjanjian itu tidak perlu merasa takut kekurangan atau kemiskinan, sebab Tuhan telah menyediakan alam untuk menjadi berkat bagi mereka.
Terkadang kita merasa takut tidak kebagian rejeki. Takut tidak dapat makan. Takut tidak memperoleh nafkah. Padahal Tuhan telah menyediakan begitu banyak lahan dalam berbagai bidang: pertanian, industri, seni dan budaya. Mata kita kadang tertutup tidak melihat peluang yang tersedia itu. Rama seorang tuna netra sejak lahir, dia belajar komputer sejak kecil, sehingga mampu menciptakan komputer bersuara. Akhirnya mampu menulis buku yang berjudul, “Amazing Blind”. Kemampuannya itu dia dapatkan dengan belajar keras; mula-mula belajar mengenal huruf Braille, kemudian huruf Latin. Belajar pula menangkap pengertian berbagai bahasa, sehingga mampu berbahasa Inggris dengan baik, baik pasif maupun aktif. Peluang itulah yang tidak dia sia-siakan untuk bertahan hidup kecukupan dan bahkan bahkan tenar sebagai tuna netra yang berhasil.
Tuhan memiliki rencana yang indah buat umat pilihan-Nya, termasuk kita (Rm. 11:25), agar kita tidak akan pernah kekurangan. Karenanya Tuhan telah menyediakan banyak peluang. Tinggal kita bisa melihat peluang itu atau tidak. Jika kita melihat peluang itu Tuhan itu juga menyediakan berkat bagi yang mau bekerja keras. Kadang peluang itu kita anggap terlalu kecil, jika dikerjakan hasilnya pun kecil, makanya cara mengerjakannya pun kecil-kecilan saja. Benar-benar bila seseorang menganggap segala sesuatu itu kecil, hasilnya kecil, maka dia sendiri akan tetap selalu kecil dan tidak akan menjadi orang besar.
Kita orang Kristen jumlahnya sedikit. Orang menyebut kita sebagai golongan minoritas. Tetapi jangan lupa bahwa Tuhan memandang kita sebagai “Si Kecil yang Indah”, sebab kita dimiliki dan memiliki ‘Permata yang Indah’ yaitu Yesus Kristus. Kita yakin, sebagai anak Tuhan tidak perlu merasa kecil hati terhadap umat lain. Dalam hal ini bangsa Israel telah mebuktikan, meskipun kecil namun Tuhan memakainya untuk menjadi kebesaran nama-Nya. Ilustrasi berikut semoga menjadi gambaran yang ideal tentang berkat Tuhan.
Seorang bayi mungil digendong oleh ibunya, ditutup kain selimut sehingga tidak nampak mukanya. Nama bayi itu Sumini. Su artinya Indah. Mini artinya kecil. Si Kecil yang Indah. Ketika seorang ibu tetangga membuka selimut penutup muka Sumini, ibu itu terbelalak dan terdiam. Ibu Sumini hanya tersenyum. Ibu yang lain ketika melihat Sumini segera berteriak menyebut nama Tuhan, “Oh Tuhan, ampunilah dosaku”. Ibu Sumini tetap tersenyum. Rupanya Sumini adalah penyandang cacat bibir sumbing hingga langit-langitnya kelihatan.
Sumini rupanya anak bongsor, cepat menjadi besar. Banyak orang mencibir Sumini dan orang tuanya. Ada yang mengejek, mengolok-olok dengan mengatakan, “Dia kuwalat, makanya sekarang kena tulah”. Ibu Sumini hanya diam dan tersenyum. Hingga pada suatu hari ada pengumuman dari Dinas Kesehatan Kota bahwa akan ada operasi bibir sumbing gratis. Ibu Sumini sebagai pendaftar yang pertama. Pendek kata, Sumini berhasil dioperasi sangat sempurna. Sekarang Sumini menjadi gadis cantik yang ceria dan pintar. Dia rajin belajar hingga berhasil lulus dari Fakultas Kedokteran. Sekarang dr. Sumini membuka praktek di kampungnya dan disegani banyak orang. Orang- orang yang dulu mencibir, mengejek dan mengolok-olok pada berdatangan meminta maaf. Ada pula yang membawa anak untuk berobat kepadanya. Bahkan ada anak tetangga yang lahir tanpa daun telinga, Sumini mengusahakan daun telinga cangkokan secara gratis pula. Dr. Sumini “si Kecil yang Indah” benar-benar indah di mata Tuhan dan di mata banyak orang. Rupanya bagi orang yang berserah berkat Tuhan tidak pernah mengecewakan dan tidak pernah disangka orang. Berbuat kebaikan kepada semua orang tidak ada ruginya, meskipun kecil, percayalah bahwa akan menjadi “Si Kecil yang Indah”.




Pdt. Widyantoro,STh. M.Div

Bacaan Minggu 21 Juni 2009: Mazmur 107 : 33 - 43

SIKECIL YANG INDAH

Para ahli berpendapat bahwa Mazmur ini adalah mengenai kembalinya bangsa Israel dari pembuangan Babel. Sementara itu orang bijak mengatakan bahwa Mazmur ini adalah renungan tentang nasib kehidupan Israel yang dikembalikan Tuhan.
Orang yang dalam pembuangan atau pengungsian pasti mengalami berbagai penderitaan karena adanya tekanan dan penindasan dari penguasa. Juga karena adanya kekurangan pangan dan kemiskinan. Karena berbagai penyakit dan gangguan kejiwaan atau stress. Namun demikian, kesadaran umat Tuhan, sekembalinya ke Tanah Perjanjian tidak lupa untuk mengucapkan syukur. Ucapan syukur itu disampaikan karena pertolongan Tuhan, khusunya karena telah terlepas dari penderitaan selama pembuangan, dan juga karena mendapat bimbingan dalam perjalanan. Mereka juga bersyukur karena diizinkan Tuhan menduduki kembali Tanah Perjanjian.
Sayang sekali ketika mereka masuk ke negeri Perjanjian itu mereka mendapati penduduk asli yang jahat, sehingga Tuhan telah menghukum mereka dengan membuat sungai-sungai menjadi padang gurun, tanah subur menjadi padang asin, dan pancaran- pancaran air menjadi tanah gersang. Tetapi masuknya kembali bangsa Israel, Tuhan berkehendak untuk mengubah kondisi Tanah Perjanjian itu menjadi tanah yang elok. Kita tahu bahwa Tanah Perjanjian adalah bagian dari rencana Tuhan bagi umat-Nya. Umat Tuhan itu memang harus bekerja keras untuk mengubah nasib mereka. Alam yang mereka hadapi adalah alam liar yang tandus dan gersang. Oleh karenanya mereka berusaha untuk menjadikannya tanah yang subur agar dapat menghasilkan. Padang belantara mereka ciptakan menjadi kota yang dapat didiami dengan nyaman. Orang-orang lapar mereka perhatikan untuk dapat menikmati kehidupan yang layak. Tanah yang telah menjadi subur mereka jadikan kebun anggur. Tanah gersang menjadi padang rumput bagi ternak mereka, sehingga hewan peliharaan mereka semakin bertambah banyak. Pertambahan penduduk pun semakin pesat. Bangsa Israel adalah bangsa yang kecil jumlahnya bila disbanding dengan bangsa lain di sekitarnya. Oleh sebab itu dalam pemandangan Tuhan bangsa itu disebut orang sebagai Si Kecil Yang Indah. Itulah berkat Tuhan atas iman mereka. Namun demikian tidak semua orang Israel merasa puas dengan keadaan mereka saat itu. Orang-orang yang kurang iman membuat ulah dengan menimbulkan kerusuhan. Para pemimpin mereka hinakan sehingga kehilangan muka. Banyak yang melarikan diri dan tersesat di jalan (ay.40). Mereka juga menimbulkan pemberontakan sehingga banyak yang mati. Banyak pula yang kelaparan dan menderita sakit atas ulah mereka sendiri. Datang pula hukuman Tuhan dengan krisis ekonomi. Akhirnya mereka insyaf bahwa penderitaan yang mereka alami adalah cara Tuhan menegur mereka, maka mereka kembali kepada Tuhan dan Tuhan memberi hikmat atas mereka. Lalu mereka berpegang pada kebenaran Tuhan. Tuhan juga memperhatikan mereka dengan segala kemurahan-Nya.
Apakah kita pernah merasakan teguran Tuhan? Bagaimanakah respon kita terhadap teguran itu?
Memang respon kita bisa bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa teguran Tuhan memang merupakan rencana Tuhan untuk mendisiplinkan umat-Nya, agar insyaf bahwa Tuhan dengan tindakan-Nya itu menaruh belas kasihan. Orang yang rela menerima teguran Tuhan dan menyadari bahwa atas kesalahannya itu Tuhan menghukumnya. Bila hukuman itu diterima secara iman, maka pastilah Tuhan akan mengembalikan dia ke jalan kebenaran, sehingga ia hidup di jalan Tuhan. Tetapi bagi mereka yang tidak mengakui teguran Tuhan sebagai tindakan disiplin, tidak akan pernah merasakan belas kasih Tuhan yang nyata (Ibr.12:8). Yang harus kita renungkan adalah bahwa tindakan Tuhan dalam mendisiplinkan kita selalu mengambil dasar atas kesalahan atau dosa kita. Bagaikan seorang ayah yang menghajar anaknya agar menjadi penurut dan tidak berbuat kesalahan lagi. Tetapi ada juga maksud Tuhan yang lain, bahwa tindakan disiplin itu tidak didasarkan atas kesalahan melainkan atas dasar upaya mendidik kita menuju kepada iman yang kuat. Oleh karenanya tindakan Tuhan kadang sangat menyakitkan, namun bila kita renungkan ulang kita akan menemukan berkat yang indah dari padanya.
Tuhan memang sering mempergunakan masa-masa yang sulit kita untuk menyatakan teguran-Nya. Melalui sulitnya kita mencari nafkah, sulitnya kita mendapat kesembuhan dari suatu penyakit, sulitnya kita menemukan pasangan hidup, sulitnya kita menemukan kebahagiaan rumah tangga. Semua kesulitan itu merupakan teguran. Semua teguran itu mengajak kita untuk bertahan dalam iman. Maka nanti belakangan kita akan tahu bahwa Tuhan telah membangun pengharapan di dalam hidup kita. Pengharapan itu akan menuju ke sesuatu yang indah. Bahwa Ia akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pkh.3:11). Misalnya, kesulitan ekonomi atau krisis pangan dalam keluarga kita, kenyataannya oleh ketahanan iman, setelah kita berhemat dan menerapkan sistem ekonomi yang benar, maka kita dapat menemukan kemudahan-kemudahan dan kelimpahan. Kemudian kita bersorak “Bravo! Tuhan memang Pemurah. Amin”.
Melalui Mazmur bacaan kita hari ini, maka kita tahu bahwa Tuhan menyatakan kuasanya atas alam semesta, yakni melalui sungai-sungai, padang gurun, tanah tandus, pancaran-pancaran air, kebun buah- buahan, hujan dan panas. Semuanya itu dinyatakan kepada bangsa Israel untuk dikerjakan dan diusahakan agar mendatangkan rejeki bagi mereka. Oleh karenanya kedatangan kembali bangsa Israel ke Tanah Perjanjian itu tidak perlu merasa takut kekurangan atau kemiskinan, sebab Tuhan telah menyediakan alam untuk menjadi berkat bagi mereka.
Terkadang kita merasa takut tidak kebagian rejeki. Takut tidak dapat makan. Takut tidak memperoleh nafkah. Padahal Tuhan telah menyediakan begitu banyak lahan dalam berbagai bidang: pertanian, industri, seni dan budaya. Mata kita kadang tertutup tidak melihat peluang yang tersedia itu. Rama seorang tuna netra sejak lahir, dia belajar komputer sejak kecil, sehingga mampu menciptakan komputer bersuara. Akhirnya mampu menulis buku yang berjudul, “Amazing Blind”. Kemampuannya itu dia dapatkan dengan belajar keras; mula-mula belajar mengenal huruf Braille, kemudian huruf Latin. Belajar pula menangkap pengertian berbagai bahasa, sehingga mampu berbahasa Inggris dengan baik, baik pasif maupun aktif. Peluang itulah yang tidak dia sia-siakan untuk bertahan hidup kecukupan dan bahkan bahkan tenar sebagai tuna netra yang berhasil.
Tuhan memiliki rencana yang indah buat umat pilihan-Nya, termasuk kita (Rm. 11:25), agar kita tidak akan pernah kekurangan. Karenanya Tuhan telah menyediakan banyak peluang. Tinggal kita bisa melihat peluang itu atau tidak. Jika kita melihat peluang itu Tuhan itu juga menyediakan berkat bagi yang mau bekerja keras. Kadang peluang itu kita anggap terlalu kecil, jika dikerjakan hasilnya pun kecil, makanya cara mengerjakannya pun kecil-kecilan saja. Benar-benar bila seseorang menganggap segala sesuatu itu kecil, hasilnya kecil, maka dia sendiri akan tetap selalu kecil dan tidak akan menjadi orang besar.
Kita orang Kristen jumlahnya sedikit. Orang menyebut kita sebagai golongan minoritas. Tetapi jangan lupa bahwa Tuhan memandang kita sebagai “Si Kecil yang Indah”, sebab kita dimiliki dan memiliki ‘Permata yang Indah’ yaitu Yesus Kristus. Kita yakin, sebagai anak Tuhan tidak perlu merasa kecil hati terhadap umat lain. Dalam hal ini bangsa Israel telah mebuktikan, meskipun kecil namun Tuhan memakainya untuk menjadi kebesaran nama-Nya. Ilustrasi berikut semoga menjadi gambaran yang ideal tentang berkat Tuhan.
Seorang bayi mungil digendong oleh ibunya, ditutup kain selimut sehingga tidak nampak mukanya. Nama bayi itu Sumini. Su artinya Indah. Mini artinya kecil. Si Kecil yang Indah. Ketika seorang ibu tetangga membuka selimut penutup muka Sumini, ibu itu terbelalak dan terdiam. Ibu Sumini hanya tersenyum. Ibu yang lain ketika melihat Sumini segera berteriak menyebut nama Tuhan, “Oh Tuhan, ampunilah dosaku”. Ibu Sumini tetap tersenyum. Rupanya Sumini adalah penyandang cacat bibir sumbing hingga langit-langitnya kelihatan.
Sumini rupanya anak bongsor, cepat menjadi besar. Banyak orang mencibir Sumini dan orang tuanya. Ada yang mengejek, mengolok-olok dengan mengatakan, “Dia kuwalat, makanya sekarang kena tulah”. Ibu Sumini hanya diam dan tersenyum. Hingga pada suatu hari ada pengumuman dari Dinas Kesehatan Kota bahwa akan ada operasi bibir sumbing gratis. Ibu Sumini sebagai pendaftar yang pertama. Pendek kata, Sumini berhasil dioperasi sangat sempurna. Sekarang Sumini menjadi gadis cantik yang ceria dan pintar. Dia rajin belajar hingga berhasil lulus dari Fakultas Kedokteran. Sekarang dr. Sumini membuka praktek di kampungnya dan disegani banyak orang. Orang- orang yang dulu mencibir, mengejek dan mengolok-olok pada berdatangan meminta maaf. Ada pula yang membawa anak untuk berobat kepadanya. Bahkan ada anak tetangga yang lahir tanpa daun telinga, Sumini mengusahakan daun telinga cangkokan secara gratis pula. Dr. Sumini “si Kecil yang Indah” benar-benar indah di mata Tuhan dan di mata banyak orang. Rupanya bagi orang yang berserah berkat Tuhan tidak pernah mengecewakan dan tidak pernah disangka orang. Berbuat kebaikan kepada semua orang tidak ada ruginya, meskipun kecil, percayalah bahwa akan menjadi “Si Kecil yang Indah”.




Pdt. Widyantoro,STh. M.Div

Jumat, 12 Juni 2009

Bacaan Minggu 14 Juni 2009: Ayub 38 : 25 - 33

SADARILAH KESALAHANMU!


Ayub adalah yang yang mengakui kemahakuasaan dan keagunan Allah. Ayub, secara teoritis, tahu bahwa tidak ada manusia yang benar dan cukup berharga di hadapan Allah (ps. 9 khususnya ayat 1,2). Tetapi berkaitan dengan kasusnya (apalagi setelah mendengar ‘tuduhan’ teman-temannya bahwa ia pasti sudah bersalah) ia menolak bahwa dirinya bersalah di hadapan Allah. Ia ‘menuduh’ Allah-lah yang sudah bertindak tanpa alasan untuk ‘menghancurkan’nya. Tetapi juga dikatakan bahwa ia sangat berharap bahwa Allah juga akan menjadi saksi/pembela yang akan membenarkan dirinya (termasuk dalam perkaranya dengan Allah! – 16:19-21). ‘Tuduhan’nya bahwa tindakan Allah ‘sewenang-wenang lebih berkaitan dengan keyakinannya akan kemahakuasaan Allah: Allah punya hak mutka untuk bertindak apapun. Karena itu,’tuduhan’nya tidak disertai dengan tindakan meninggalkan Allah! Ia tetap setia kepada Allah, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan (bnd. dengan pengenalan Allah akan Ayub dalam 1:8). Secara tersirat Ayub menyatakan Allah tidak dibatasi moral (boleh bertindak sewenang-wenang). Penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (seperti sikap Ayub), tanpa pengenalan akan jati diri Allah, bisa berakibat ‘penilaian’ yang keliru tentang Allah.
Keputusan yang dijatuhkan kepada Ayub oleh para sahabatnya telah menggelapkan jalan hikmat sampai Elihu angkat bicara. Jalan itu kini tercerahkan sepenuhnya oleh suara dari dalam badai (38:1). Sangatlah tepat bahwa pendekatan Tuhan kepada Ayub adalah dalam bentuk tantangan. Dengan cara yang sama pula Dia telah menghadapi Iblis (bnd. 1:7,8; 2:2-3). Allah menantang Iblis dan Ayub dengan cara mengkonfrontasi mereka dengan karya-karya-Nya yang ajaib. Dan karena Ayub sendiri merupakan hasil karya ilahi yang dengannya Iblis ditantang, maka melalui keberhasilan-Nya untuk menantang Ayub ini Allah melengkapi kemenangan-Nya dalam tantangan-Nya kepada Iblis. Tantangan yang disampaikan Allah kepada Ayub dilaksanakan dalam dua tahap (38:1-39:34 dan 40:1-41:34) dengan suatu waktu sela di pertengahan jalan yang ditandai dengan awal penyerahan diri Ayub (39:35-38).
Pasal 38 ini melaporkan bahwa Allah menjawab Ayub, dan itu terjadi di dunia ini menurut kebebasan kedaulatan Allah, dan pada waktu yang sesuai dengan ketentuan Allah. Pasal 38 dan 39 membawa kita berwisata mengamati langit, laut, bintang-bintang dan binatang-binatang.
Dalam pasal ini Ayub mencoba mencari jawab atas kejadian yang menimpa dirinya karena ketiga teman Ayub tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan hatinya sehingga Ayub bertanya kepada Allah. Tuhan pun menjawab seluruh pertanyaan Ayub dan jawaban itu berupa pertanyaan balik yang tajam kepada Ayub dan Tuhan menuntut jawaban dari Ayub (Ayb. 38 – 42). Menghadapi tantangan yang bertubi-tubi itu ia tidak dapat berkata-kata. Ayub pun mencabut perkataannya dan menyesalkan diri. Ayub adalah seorang yang jujur dan Tuhan memberikan jawaban yang jujur. Ayub bertemu dengan Tuhan yang berdaulat dan dia mengenal Tuhan yang sejati. Hati-hati, setan tidak berhasil membuat Ayub berdosa tetapi bukan berarti setan akan berhenti Tidak! Setan akan terus mencari orang yang dapat ditelannya (1Pet. 5:8).
Hari ini, mungkin kita mengalami pergumulan iman yang berat di mana kita sulit mengenali Allah, namun ketahuilah Tuhan ada di sana, Dia mengendalikan seluruh aspek hidup kita, Dia akan menjagai kita. Sesungguhnya, tidak perlu bagi kita mendapatkan jawaban dari Tuhan. Asal sudah bertemu dengan Tuhan maka semua itu sudah cukup menghentikan seluruh pergumulan kita tentang Allah. Berarti iman kita tidak salah. Kitab Yakobus 5:11 memberikan suatu kesimpulan tentang pergumulan Ayub, yakni Ayub disebut sebagai orang yang berbahagia karena ketekunannya atau yang diterjemahkan sebagai ketahanan (endurance, bhs Inggris). Allah telah memberikan peluang bagi Ayub untuk masuk dalam satu tingkatan iman yang lebih dalam dan lebih dalam lagi adalah juga Allah yang sama yang akan memberikan peluang bagi kita untuk masuk dalam tingkatan iman yang lebih tinggi lagi.
Apa yang bisa kita renungkan dari pasal 38 ini?
Pertama, Yahweh bersabda. Allah menyatakan diri-Nya melalui badai. Badai dengan kilat, guruh, asap dan bunyi menyatakan sekaligus menyelubungi keagungan Allah. Karena kedegilan Ayub, maka Allah memakai badai untuk menjawab Ayub. Dengan badai itulah maka Ayub sadar dan menyesal akan perbuatannya kepada Allah. Hal ini mau mengajarkan kepada kita agar kita lebih berhati-hati di dalam menyampaikan segala uneg-uneng maupun kekesalan kita kepada Allah. Jangan sampai Allah mengeluarkan badai kepada kita untuk menjawab segala tuntutan dan sungut-sungut kita kepada-Nya. Biarlah Tuhan berkarya seleluasanya bagi kehidupan kita.
Kedua, Hikmat Allah kelihatan dalam ciptaan-Nya. ’Marilah, Aku akan membuat engkau terheran-heran,’ kata Allah, dengan rumitnya dan ruwetnya semuanya itu! Dasar bumi diletakkan (38:4), bintang-bintang fajar bersorak-sorak dengan girang (38:7). Sejak itu, mereka tetap menyanyikan perayaan Pencipata itu dengan penuh kegirangan. Perhatikanlah samudera raya, kekuatannya yang mengacaukan telah dibendung (38:8-11), langit, kedalaman, terang, dan gelap-gulita (38:12-21). Pernahkah engkau masuk ke dalam perbendaharaan salju, atau perbendaharaan hujan batu (38:22)? Dan bagaimana dengan hujan (38:25-30)? Menengadahlah, lihatlah bintang Kartika dan bintang Belantik, lihatlah awan, kilat dan kabut (38:31-38). Apakah engkau melihat semuanya itu? Ayo jalan-jalan menikmati ciptaan-Ku itu: amatilah keajaibannya: saksikanlah bagaimana semuanya diatur sehingga tertib yang satu dengan yang lain, sesuai pola dan tujuan yang sudah ditentukan. Untuk menjawab tuntutan Ayub Allah memakai segala ciptaan-Nya agar Ayub sadar akan kasih setia Tuhan kepadanya. Allah tidak pernah meninggalkan Ayub sedetik pun. Hal ini mau mengajarkan kepada kita bahwa sesulit apa pun yang sedang kita hadapi, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, tetapi Tuhan terus menyertai kita dalam seluruh perjalanan hidup kita.
Ketiga, Ayub menyesal. Ayub selama ± 20 pasal mengajukan permohonan, permintaan, keluh kesah, dan kekecewaannya kepada Tuhan. Saat-saat itu, Allah tidak menjawab sedikitpun sampai pasal 37. Tetapi setelah Tuhan menjawabnya di pasal 38-41, Ayub menyesal bahwa apa yang pernah dimintanya lahir dari ketidakmengertiannya kepada rencana Tuhan. Sekarang, Ayub tidak peduli dengan apa yang sudah diambil daripadanya (harta, keluarga), karena mendapatkan Tuhan lebih dari segalanya. Ayub tidak meminta kepada Tuhan selain dari apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya untuk berdoa bagi teman-temannya yang sudah mengecewakan hati Tuhan (42:7). Melalui permintaan Ayub, Tuhan mengampuni teman-teman Ayub (42:9). Tidak hanya itu, Tuhan pun memberkati Ayub dengan berlimpah-limpah (42:10-16), tanpa sedikitpun Ayub meminta Tuhan memulihkan keadaannya. Firman Tuhan hanya mengatakan, ”Lalu Tuhan memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu” (42: 10).
Tuhan bisa memberikan tanpa kita meminta/berdoa kepada-Nya, karena Dia Mahapemurah dan Mahakuasa. Tetapi Tuhan akan menahan jawaban doa kita agar kita datang kepada-Nya, karena yang Tuhan inginkan adalah






Ramli SN Harahap