MEMBANGUN PERSEKUTUAN DENGAN KERENDAHAN HATI
Nas ini mengajar kita tentang persekutuan (parsaoran) orang Kristen. Seorang teolog Kristen pada zaman Hitler bernama Dietrich Boenhoffer pernah berkata: Apakah yang membedakan orang Kristen dari orang yang bukan Kristen? Dia menjawab: GAYA HIDUP-nya. Dan salah satu dari gaya hidup itu adalah persekutuannya (parsaoran).
Di dalam nas ini, Paulus menghimbau agar persekutuan orang Kristen, orang-orang percaya benar-benar menjadi persekutuan yang BERSATU (MARHASADAON), seperti disebut dalam ayat 2 b “sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan!”
Berbicara tentang kesatuan memang sedikit susah-susah mudah? Kenapa? Di satu pihak, kesatuan dan persatuan adalah kebutuhan dasar manusia. Karena itulah kita mau berumahtangga, ada punguan marga, parsahutaon, ada PGI, PBB, dll. Itulah yang membuat kita menjadi mahluk sosial, manusia yang tidak dapat hidup tanpa bersama dengan orang lain. Tetapi di pihak lain, sepanjang sejarah kita melihat, manusia cenderung berpisah, bermusuhan. Hampir tidak ada waktu di mana dunia bebas dari perang, diskriminasi, disintegrasi, dan perceraian. Kenyataan tsb menunjukkan, di satu pihak manusia membutuhkan kesatuan dan kebersamaan, tetapi di pihak lain, manusia rentan (tolping) kepada pemisahan. Tetapi yang pasti, semua manusia menginginkan kesatuan dan persatuan. (Umpama ni halak Batak, mandok : “Tampakna do rantosna, rim ni tahi do gogona”). Orang Indonesia berkata: Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
Itulah ajakan Paulus kepada jemaat di Filipi. Di samping mengucap terimakasih atas sumbangan jemaat Filipi yang diterimanya, Paulus juga menyerukan agar jemaat Filipi senantiasa bersukacita dalam segala keadaan. Dan dalam nats ini terutama, Paulus menyerukan agar mereka membangun persekutuan di dalam kesehatian. Karena ketika itu jemaat Filipi sedang diancam bahaya perpecahan, karena di sana mulai tumbuh semangat partai atau kelompok. Karena itulah Paulus dengan kuat menyerukan: “hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan!
Satu hal yang menarik, kita baca di ayat 2a: “Sempurnakanlah sukacitaku dengan ini…(Gohi hamu ma halalas ni rohangkon”). Itu berarti bahwa, kita akan memperoleh sukacita yang sempurna, bila bagi kita ada persekutuan yang bersehati. Kesatuan dan persatuan itu memberi kita sukacita. Tetapi sebaliknya, bila ada pertikaian, perpecahan atau permusuhan, itu akan mendatangkan kesedihan, kemurungan, mengendorkan semangat, membuang inspirasi, dan merugikan kita.
Tetapi sebenarnya Tuhan Yesus melihat dampak yang lebih jauh lagi.. Di Yoh. 17:21 Yesus berkata betapa perlunya orang percaya membangun kesatuan dan persatuan, “supaya dunia percaya” Artinya, bersatu tidaknya orang-orang percaya sangat menentukan bagi percaya tidaknya dunia kepada Kristus, sangat menentukan bagi berhasil tidaknya misi pekabaran Injil di dunia ini. Karena itulah Firman Tuhan selalu mengajak agar orang percaya di seluruh dunia terus membangun persekutuan, kesatuan dan persatuan. Kita baca ucapan Tuhan Yesus di Yohannes 14 dan Yohannes 17. Paulus di Efesus 4, di 1 Korintus 12, dan di Galatia 3, 28, dll.
Untuk menggambarkan indahnya persekutuan dan cara membangun persekutuan tsb Yesus dan Paulus menggunakan gambaran/illustrasi yang indah. Kita baca di 1 Korintus 12. Kesatuan dan persatuan orang Kristen itu digambarkan seperti kesatuan TUBUH. Orang Kristen dikatakan adalah TUBUH KRISTUS, sehingga kesatuan orang percaya adalah kesatuan sebagai tubuh Kristus. Apa artinya?
Pertama, itu memnunjukkan bahwa kesatuan orang percaya bukanlah terutama kesatuan organisatoris, melainkan kesatuan visi dan misi. Bukan kesatuan dalam organisasi atau rapat-rapat tetapi terutama kesatuan hati.
Kedua, gambaran sebagai tubuh itu menunjukkan betapa indahnya perbedaan. Semua organ tubuh berbeda satu sama lain, ada kepala, perut, tangan, kaki, mata, dlll, yang saling berbeda tetapi tetap satu sebagai tubuh. Keindahan perbedaan tsb sudah Tuhan tunjukkan mulai dari penciptaan. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan berbeda dan unik. Namun, pada setiap hari penciptaan tsb, Tuhan berkata: Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik. Ada 7 (tujuh) kali perkataan tsb kita jumpai dalam Kejadian pasal 1. Itu menunjukkan betapa indahnya perbedaan, karena perbedaan adalah kehendak Tuhan. Karena itu, jangan pernah berkecil hati bila Saudara berbeda dengan orang lain. Justru bila manusia sama dan sebangun, itu yang membuat kita susah, bukan? Saya tidak bias bayangkan, betapa membosankannya hidup ini bila semua kita sama dan sebangun. Malah kita akan bingung sendiri; karena membedakan dua orang yang kembar saja sudah susah.
Ketiga, karena itulah, kita diajak agar jangan menggunakan perbedaan tsb untuk memisahkan kita dari orang lain. Justru, sama seperti organ tubuh yang saling berbeda, perbedaan tersebut memaksa kita untuk bersatu, untuk saling melengkapi, saling membutuhkan, saling bergantung, dapat saling memberi dan saling menerima. “Aku ada bila Anda ada. Aku tidak ada bila Anda tidak ada”. Itu yang membuat kita sebagai mahluk sosial. Mahluk sosial tidak menjadi sempurna tanpa orang lain. Perbedaan itu membuat kita sempurna. Mari kita melihat jari tangan kita. Masing-masing tangan ada lima jari. Tetapi kelimanya berbeda. Tetapi tahukah Saudara, bahwa perbedaan kelima jari itulah yang membuat kita bisa memegang pensil, mengambil makanan dan melakukan pekerjaan kita. Bila semua jari tsb sama dan sebangun, apa yang bisa kita lakukan? Di dalam perbedaan itulah kita bisa saling menolong karena setiap orang unik dan punya kelebihan serta kekurangan. Karena itu, bila kita punya kelebihan, janganlah tinggi hati, tetapi sebaiknya kita gunakan membantu kekurangan orang lain. Dan bila kita memiliki kekurangan, jangan membuat kita menjadi rendah diri, karena kita akan dibantu orang lain.
Keempat. Gambaran sebagai Tubuh Kristus juga berarti bahwa walaupun kita berbeda, tetapi derajat kita sama, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Karena hal inilah maka kita gigih memperjuangkan kesetaraan gender, kesamaan hak laki-laki dan perempuan. Kita sama dalam derajat tetapi berbeda di fungsi. Karena itu, sangatlah memalukan bila masih ada orang Kristen yang melecehkan isterinya, memperlakukan anak perempuannya lebih rendah dari anak laki-lakinya, atau melecehkan perempuan karena dia seorang perempuan. Atau memperlakukan orang lain dengan sewenang-wenang, atau melakukan diskriminasi, dll.
Apa sajakah yang dapat merusak persekutuan kita? Dengan demikian kita tahu menghindarinya. Mari kita simak di ayat 3 – 4.
Yang pertama, adalah kesombongan, menganggap diri lebih tinggi, lebih hebat dari orang lain. Kita baca BE no. 249, 4, berkata: Ginjang ni roha i do jumotjot ala pangalapan sala. Bila ada orang sombong, maka persekutuan akan berantakan.
Kedua, adalah sikap egois, memperhatikan kepentingan diri sendiri, tidak memperhatikan kepentingan, hak, dan perasaan orang lain. Yang pertama bersahabat dengan yang kedua ini.. “Orang yang sibuk memperhatikan kehebatan dan jasanya sendiri tanpa memperdulikan kebaikan orang lain, biasanya akan terjebak dalam keegoisan dan kesombongan”, kata orang bijak. Dan inilah yang menghancurkan persekutuan. Karena itulah ada orang bijak mengingatkan: “Hati-hatilah dengan segala kelebihanmu, karena hal itu sering menyebabkan kita tergelincir kepada kesombongan yang menghancurkan”
Sekarang, apakah yang harus kita lakukan untuk memperkuat kesatuan dan persatuan persekutuan kita? Paulus mengajar kita di ayat di 5 – 11. Yaitu dengan meneladani KERENDAHAN HATI YESUS KRISTUS. Sikap rendah hati, itulah yang dapat menunjukkan pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus (ay. 5), yang walaupun punya “hak” (priviledge) sebagai anak Allah, yang setara dengan Allah, namun mau merendahkan diri, menjadi manusia sama seperti kita, menerima hinaan dan siksaan hingga mati di kayu salib. Dengan semua itu, Yesus membuang kepentingan diri-Nya sendiri, dan melakukan itu semua hanya untuk kepentingan orang lain, yaitu kita orang berdosa ini. Kerendahan hati yang luar biasa, yang tiada taranya . Kerendahan hati yang dapat menjadi teladan yang sempurna.
Kerendahan hati, seperti yang Paulus terangkan di ayat 3b, adalah: menganggap yang lain lebih utama dari diri kita sendiri. Dan Firman Tuhan sangat banyak mengajak orang percaya agar senantiasa bersikap rendah hati (bukan rendah diri), karena orang rendah hati adalah sahabat Tuhan, sedangkan orang yang tinggi hati adalah musuh Tuhan (baca Ef. 4: 2; 1 Pet 5:5; Yak 4:6). Dan, sikap rendah hati inilah perekat persekutuan. Malah ada seorang pengkotbah berkata., bahwa sikap rendah hati itu bagaikan oli (minyak pelumas), yang melumaskan gesekan-gesekan pergaulan. Besi-besi mesin terus bergesekan untuk menggerakkan mobil, tetapi tidak saling menyakiti. Mengapa? Karena ada minyak pelumas atau oli. Demikian terjadi bila semua anggota persekutuan bersikap rendah hati. Walaupun terus menerus ada “gesekan” karena interaksi, namun tidak akan pernah saling menyakiti.
Pertanyaan berikut, adalah: Bagaimanakh agar dalam diri kita tumbuh sikap rendah hati? Yaitu dengan mengakui segala kelemahan-kelemahan kita dan bersikap sabar (memaklumi) kelemahan-kelemahan orang lain. Rendah hati, bukanlah rendah diri. Sikap rendah hati sangat sedikit memikirkan dirinya, tetapi lebih banyak memberi perhatian untuk melayani orang lain.
Ternyata, sikap rendah hati memberi kita lebih banyak. Buktinya: Mengapa air laut lebih banyak dari air sungai? Jawabnya, pasti, karena laut mau lebih rendah dari sungai. Karena itulah Firman Tuhan, Mazmur 37:11 juga berkata: “Orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena ksejahteraan yang berlimpah-limpah”. Mazmur 22:27 berkata: “Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang …” 1 Petrus 5:5 “Tuhan mengasihi orang yang rendah hati”(band Amsal 3, 34). Itulah yang diberikan Tuhan kepada Yesus Kristus. Ketika Yesus mau merendahkan diri, justru disitulah Tuhan meninggikan Dia: dalam nama Yesus bertekuk lutut segaa yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa! (ay. 10-11). Dengan demikian jelaslah, ternyata, kemuliaan tidak lahir dari kesombongan, melainkan dari kerendahan hati. Malah Dranath Tagore berkata “Kita bertemu dengan Allah ketika kita mau RENDAH HATI’.
Karena itu saudaraku, agar kesatuan dan persatuan persekutuan kita semakin kuat, mari, teladanilah kerendahan hati Yesus, yang tiak mementingkan diri sendiri tetapi mementingkan kepentingan orang lain. Amin.
Pdt. Sabar T.P. Siahaan,STh
BLOG INI BERSIFAT TERBUKA UNTUK DIKOMENTARI DAN DIKRITISI DEMI KEMAJUAN WAWASAN BERPIKIR, DAN BERTEOLOGI MASA KINI
Rabu, 02 September 2009
Hatorangan ni Jamita Minggu, 27 September 2009: Rut 2:8-16
Hatorangan ni Jamita
Minggu 16 Dung Trinitatis
Minggu, 27 September 2009
Jamita: Rut 2:8-16
Sibasaon: Pilippi 2:1-11
“PARASI ROHA”
Tema ni minggunta sadarion i ma manaringoti kepedulian: empati/parasi roha. Di minggu na dung solpu hita diajak anso peduli tu angka naposo ni Debata. Jana di minggu on penekananna peduli tu sude jolma.
Turpuk jamita sadarion mancaritohon kehidupan ni sada ina namargoar si Rut na dung ditinggalhon ni amang siadopanna (halaklahi/suami). Sada ina na mabalu na so tubuan anak. Sada ina na marasing suku sian halaklahina. Sada ina na sabagas rap dohot namboruna si Naomi.
Diparungkilon na niadopan ni si Rut tarida ma tangkas bia do ngolu parasirohaon i di ngolu ni keluarga. Marasi roha do si Rut tu namboruna (simatuana). Marasiroha do si Naomi tu parumaenna na dung mabalui. Marasi roha muse do si Boas tu si Rut.
Biasi bisa halahi rap marasi ni roha? Alusna angke adong roha holong ni Debata Ama di bagasan ateate dohot roha ni halahi. Holong ni Debata na maringanan dibagasan roha ni halahi mangojar halahi marasi ni roha. Angka jolma na sai manghangoluhon holong na sian Debata Ama, angka halahi do na mampu marasi ni roha. Tapi muda hum holong ni hajolmaon do na adong di ateate dohot rohanta, maol jana bangkol do rohanta marasi ni roha tu dongan jolma.
Adong pigapiga hal na taida sian jamita on. Naparjolo, Dipake Debata Ama do sude jadijadian-Na laho patulushon asi ni roha-Na. Muda taida angka sejarah, dipake Debata Ama do halode laho pasingothon si Bileam. Diramoti Debata do si Elia marhitehite pidong sigak. Laho mamboan parhapistaran sian purba tu Jesus di Betlehem dilehen Debata do sada bintang gabe tudutudu di pardalanna. Siani tarida bahaso asi ni roha ni Debata bisa do dilehen ia tu angka nanitompana marhite huasoNa.
Napaduahon, Debata mansai kreatif laho manogunogu haholongan ni roha-Na.
Ditogutogu Debata Ama do parngoluon ni si Rut marhitehite si Boas, diurupi Ia do si Jona marhitehite ihan, bahkan dipalua ia do si Ishak marhitehite na manggontihon ia dohot domba. Artina, asi ni roha ni Debata laho paluahon na porsaya di Sia marragam rupa carana dibaen Ia. Memang Debata na kreatif do ia laho manogunogu haholongan ni roha-Na.
Napatoluhon, Fakta na tarida nada mangotapi asi ni roha ni Debata.
Fakta di bagasan carito on patidahon na pogos do si Rut, nada adong bagia aha nia, nada adong masa depan na na denggan, bahkan mardalan pe ia di kobun ni si Boas tanpa adong ijin dohot jaminan sian ise pe. Tapi si Rut nada marungutungut ia, dohot inda putus asa, harana dihaporsayai ia do dibalik ni hapogosanna, parhancitanna, pasti adong pangurupion sian Debata Ama na bisa manguba ngoluna. Jana kenyataanna, diurupi Debata do ia marhite si Boas. Artina, asi ni roha ni Debata nada tergantung tu hapogosanta, asi ni roha ni Debata tergantung tu togu ni haporsayaanta maradophon Debata silehen ngolu ni jolma.
Antong muda songoni asi ni roha ni Debata tu hita angka jolma manisia on, bia nama muse hita nadung dapotan asi ni roha ni Debata on dipardalanan ni ngolunta? Naparjolo, haholongi ma donganmu jolma sian asi ni roha ni Debata. Muda taligi angka donganta na marsitaonon harani ekonomi, pendidikan, parkarejoan, persoalan dakdanak, persoalan rumahtangga, persoalan karierna, marema talehen rasa empati dohot perasaan na mendalam laho mangurupi halahi. Mangurupi angka dongan sisongoni angkon ro sian roha holong na sian Debata. Roha na marasi nada hum na mangaligi parhancitan ni halak dungi tapartatai.
Napaduahon¸ hajopkon ma ngolumu. Halak na mura marasi roha i ma angka jolma na manghajopkon ngoluna. Namanghajopkon ngoluna berarti mampu ia manjagit fakta ni ngoluna. Jolma si songon on mura ma mengidentifikasi dirina, mura mengindentifikasi diri ni donganna na marsitaonon jana manigor mura ma ia muse mangelehen pangurupion tu halahi.
Napatoluhon, berpikir na denggan. Halak na mura marasi roha i ma angka halak na denggan pikiranna. Marasi ni roha di bagasan denggan ni pikiran mamboan faedah na mansai denggan. Tapi marasi roha dibagasan jut ni pikiran mambaen mara bahkan mamboan hasesego tu diriniba dohot tu dongan.
Napaopathon, bayun ma pardonganan na denggan. Parasirohaon mardalan muda denggan hubungan dohot dongan jolma. Maol do halak laho marasi ni roha tu angka jolma na hurang parsaoranna. Harani i, aso mura hita marasi ni roha, tabayun ma pardonganan na denggan tu sude dongan jolma.
fidei-gladys
Kantor Pusat GKPA, Agustus 2009
Ramli SN Harahap
Email: ramlyharahap@yahoo.com;
www.ramlyharahap.blogspot.com
Minggu 16 Dung Trinitatis
Minggu, 27 September 2009
Jamita: Rut 2:8-16
Sibasaon: Pilippi 2:1-11
“PARASI ROHA”
Tema ni minggunta sadarion i ma manaringoti kepedulian: empati/parasi roha. Di minggu na dung solpu hita diajak anso peduli tu angka naposo ni Debata. Jana di minggu on penekananna peduli tu sude jolma.
Turpuk jamita sadarion mancaritohon kehidupan ni sada ina namargoar si Rut na dung ditinggalhon ni amang siadopanna (halaklahi/suami). Sada ina na mabalu na so tubuan anak. Sada ina na marasing suku sian halaklahina. Sada ina na sabagas rap dohot namboruna si Naomi.
Diparungkilon na niadopan ni si Rut tarida ma tangkas bia do ngolu parasirohaon i di ngolu ni keluarga. Marasi roha do si Rut tu namboruna (simatuana). Marasiroha do si Naomi tu parumaenna na dung mabalui. Marasi roha muse do si Boas tu si Rut.
Biasi bisa halahi rap marasi ni roha? Alusna angke adong roha holong ni Debata Ama di bagasan ateate dohot roha ni halahi. Holong ni Debata na maringanan dibagasan roha ni halahi mangojar halahi marasi ni roha. Angka jolma na sai manghangoluhon holong na sian Debata Ama, angka halahi do na mampu marasi ni roha. Tapi muda hum holong ni hajolmaon do na adong di ateate dohot rohanta, maol jana bangkol do rohanta marasi ni roha tu dongan jolma.
Adong pigapiga hal na taida sian jamita on. Naparjolo, Dipake Debata Ama do sude jadijadian-Na laho patulushon asi ni roha-Na. Muda taida angka sejarah, dipake Debata Ama do halode laho pasingothon si Bileam. Diramoti Debata do si Elia marhitehite pidong sigak. Laho mamboan parhapistaran sian purba tu Jesus di Betlehem dilehen Debata do sada bintang gabe tudutudu di pardalanna. Siani tarida bahaso asi ni roha ni Debata bisa do dilehen ia tu angka nanitompana marhite huasoNa.
Napaduahon, Debata mansai kreatif laho manogunogu haholongan ni roha-Na.
Ditogutogu Debata Ama do parngoluon ni si Rut marhitehite si Boas, diurupi Ia do si Jona marhitehite ihan, bahkan dipalua ia do si Ishak marhitehite na manggontihon ia dohot domba. Artina, asi ni roha ni Debata laho paluahon na porsaya di Sia marragam rupa carana dibaen Ia. Memang Debata na kreatif do ia laho manogunogu haholongan ni roha-Na.
Napatoluhon, Fakta na tarida nada mangotapi asi ni roha ni Debata.
Fakta di bagasan carito on patidahon na pogos do si Rut, nada adong bagia aha nia, nada adong masa depan na na denggan, bahkan mardalan pe ia di kobun ni si Boas tanpa adong ijin dohot jaminan sian ise pe. Tapi si Rut nada marungutungut ia, dohot inda putus asa, harana dihaporsayai ia do dibalik ni hapogosanna, parhancitanna, pasti adong pangurupion sian Debata Ama na bisa manguba ngoluna. Jana kenyataanna, diurupi Debata do ia marhite si Boas. Artina, asi ni roha ni Debata nada tergantung tu hapogosanta, asi ni roha ni Debata tergantung tu togu ni haporsayaanta maradophon Debata silehen ngolu ni jolma.
Antong muda songoni asi ni roha ni Debata tu hita angka jolma manisia on, bia nama muse hita nadung dapotan asi ni roha ni Debata on dipardalanan ni ngolunta? Naparjolo, haholongi ma donganmu jolma sian asi ni roha ni Debata. Muda taligi angka donganta na marsitaonon harani ekonomi, pendidikan, parkarejoan, persoalan dakdanak, persoalan rumahtangga, persoalan karierna, marema talehen rasa empati dohot perasaan na mendalam laho mangurupi halahi. Mangurupi angka dongan sisongoni angkon ro sian roha holong na sian Debata. Roha na marasi nada hum na mangaligi parhancitan ni halak dungi tapartatai.
Napaduahon¸ hajopkon ma ngolumu. Halak na mura marasi roha i ma angka jolma na manghajopkon ngoluna. Namanghajopkon ngoluna berarti mampu ia manjagit fakta ni ngoluna. Jolma si songon on mura ma mengidentifikasi dirina, mura mengindentifikasi diri ni donganna na marsitaonon jana manigor mura ma ia muse mangelehen pangurupion tu halahi.
Napatoluhon, berpikir na denggan. Halak na mura marasi roha i ma angka halak na denggan pikiranna. Marasi ni roha di bagasan denggan ni pikiran mamboan faedah na mansai denggan. Tapi marasi roha dibagasan jut ni pikiran mambaen mara bahkan mamboan hasesego tu diriniba dohot tu dongan.
Napaopathon, bayun ma pardonganan na denggan. Parasirohaon mardalan muda denggan hubungan dohot dongan jolma. Maol do halak laho marasi ni roha tu angka jolma na hurang parsaoranna. Harani i, aso mura hita marasi ni roha, tabayun ma pardonganan na denggan tu sude dongan jolma.
fidei-gladys
Kantor Pusat GKPA, Agustus 2009
Ramli SN Harahap
Email: ramlyharahap@yahoo.com;
www.ramlyharahap.blogspot.com
PULANG SYNODE AM BAWA APA?
PULANG SYNODE AM BAWA APA?
KEBIASAAN MANUSIA SECARA UMUM
Biasanya jika seseorang pulang dari luar kota, atau luar negeri, anak-anaknya pasti menanyakan kepadanya bawa apa oleh-olehnya? Artinya, perpisahan mereka untuk beberapa waktu itu akan terasa klop jika yang pulang ke rumah itu membawa sesuatu, baik itu berupa berita, atau pun berupa benda. Yang pasti selalu ada yang diharapkan yang mau disampaikan oleh orang tersebut untuk seluruh keluarga yang telah ditinggal beberapa saat lamanya. Dan yang membawa berita pun akan merasa senang jika seluruh seisi rumahnya mendengar cerita yang disampaikannya dan sekaligus memberikan oleh-oleh benda yang dibawanya. Itulah gambaran orang yang pulang membawa sesuatu kepada keluarganya yang telah ditinggalkannya untuk beberapa saat lamanya.
Respons dari keluarga atas berita dan oleh-oleh yang kita bawa itu juga bervariasi. Jika berita dan oleh-oleh yang kita sampaikan dan berikan sangat fantastis dan menarik bagi mereka, maka mereka berkata “Terimakasih atas berita dan oleh-olehnya, sungguh luar biasa beritanya, wah saya jadi tertarik ke sana, saya senang sekali berita dan oleh-oleh ini”. Namun jika berita dan oleh-oleh yang kita bawa tidak menarik dan berkualitas, maka mereka pasti banyak yang kecewa dan berkata, “Itu aja nya?, masa gitu saja? Percuma aja pergi ke sana!, tidak mau terima oleh-oleh ini jelek”.
Dari respons tersebut, maka setiap orang yang pergi untuk tugas tertentu harus membawa sesuatu yang berkualitas, membawa berita yang bermanfaat bagi keluarga, bagi gereja, masyarakat, bangsa dan negara, agar kita dihargai oleh mereka. Sebenarnya tergantung kita yang menentukan oleh-oleh dan berita yang mau kita bawa. Apakah kita memilih yang biasa-biasa saja atau yang luar biasa. Konsekunsinya sudah jelas seperti yang disebutkan di atas.
KEIBASAAN LAMA SYNODE
Peserta syonde dari segala unsur (pendeta, majelis pusat, utusan resort, dan peninjau) diutus dari distrik, resort dan jemaat masing-masing dengan doa dan biaya yang besar dengan harapan pulang synode bisa membawa sesuatu oleh-oleh yang berharga bagi jemaat, resort dan distrik. Kita meninggalkan segala tugas pelayanan kita di tengah-tengah jemaat dan pekerjaan kita masing-masing untuk tugas mulia ini. Kehadiran kita dalam Synode Am XVI GKPA pada 15-19 Juli 2009 lalu harus memberi masukan-masukan, ide-ide, pemikiran-pemikiran, dana bagi kemajuan dan perkembangan GKPA ke masa depan. Kehadiran kita di synode ajang duduk bersama bertukar pikiran dan informasi pelayanan agar GKPA semakin dipakai Tuhan melayani umat di dunia ini. Inilah harapan dan doa para jemaat yang mengutus kita para peserta synode ini. Dan ketika kita pulang ke jemaat, resort dan distrik kita masing-masing, kita telah membawa oleh-oleh yang menarik, oleh-oleh yang membanggakan GKPA, metode-metode pelayanan yang lebih baik lagi di semua lini lapangan pelayanan GKPA. Peserta synode diharapkan bisa memberikan oleh-oleh yang berkualitas bagi jemaat yang mengutusnya agar jemaat tersebut tidak kecewa dan tidak memberikan respons yang negatif kepada kita para synodestan.
Namun kebiasaan yang terjadi dari synode ke synode tidak seperti yang kita bayangkan di atas tadi. Ketika kita bertanya dan berdiskusi dengan beberapa peserta synode sepulangnya dari ajang rapat mulia yang tertinggi di GKPA itu tentang hal-hal apa yang sangat menarik dari synode am yang baru berlangsung, mereka menjawab, “Wah enak sekali makan di synode di Padangsidimpuan itu, enak sekali sayurnya, sambal terasinnya, ikannya, dll”. Dan jika kita teruskan bertanya, “hal apa saja yang menarik lainnya?” Panitia dan jemaat di Kantor Pusat GKPA ramah-ramah dan mudah senyum. Hal lain? Yah itu saja. Itu saja??? Artinya, kebiasaan-kebiasaan yang diberitakan kepada warga jemaat oleh synodestan melulu mengenai makanan dan keramahan panitia synode. Oleh-oleh yang diberitakan hanya soal kulit luarnya saja. Inti dari pertemuan synode itu tidak mampu diberitakan secara sederhana kepada warga jemaat, resort dan distrik. Akhirnya, jemaat merasa kecewa dengan mendengar oleh-oleh itu. Padahal mereka sudah bayar mahal itu dengan doa-doa dan dana-dana jemaat, dan hasilnya hanya berita makanan yang enak saja. Berarti timbul kesimpulan bagi warga jemaat bahwa synode itu bukan synode gereja tetapi synode makanan, karena berita gerejanya tidak ada diberitakan tetapi berita makanan disampaikan luar biasa.
Yang ironisnya lagi, berita yang mereka bawa bukan lagi berita synode, tetapi berita kampung halamannya. Mereka bercerita panjang lebar tentang situasi terbaru di kampungnya yang sudah ditinggalkannya beberapa tahun yang lalu. Berita-berita keluarganya yang sudah mulai berubah dari kebiasaan-kebiasaan dulu ketika dia datang yang biasanya disambut dengan baik sekarang tidak lagi. Bahkan dengan semangat yang luar biasa mereka menceritakan kejelekan-kejelekan kampung dan keluarganya ketika dia pulang setelah synode atau sebelum synode. Ironis bukan? Diutus ke synode untuk mebawa berita gereja GKPA dan perkembangannya, yang dibawa berita kampung dan keluarga synodestan.
KEBIASAAN BARU SYNODE
Pulang bawa apa? Pulang synode am bawa apa? Pertanyaan ini mungkin agak sulit menceritakannya secara sederhana bagi jemaat yang mengutus kita. Tetapi sebenarnya bisa kita permudah karena kita yang membawa berita dan oleh-oleh itu. Sama seperti kita mau pulang ke rumah, kita membawa oleh-oleh untuk anak-anak dan keluarga kita, pasti yang kita bawa adalah apa yang mereka butuhkan. Demikianlah dengan warga jemaat kita, mereka mau mendengar berita yang sangat dibutuhkan mereka tentang GKPA. Lalu, apa yang mau kita bawa?
Pertama, bawalah laporan pelayanan GKPA selama antar periode ini. Laporan itu menyangkut apa yang telah dikerjakan GKPA dalam rangka memberitakan Firman Tuhan dan menyembangkan GKPA di dunia ini. Berita ini akan mengajak umat untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas apa yang telah GKPA lakukan dalam mengemban misi di dunia ini. Berita ini juga akan membangkitkan semangat jemaat untuk semakin berkarya lagi ke masa depan. Berita ini juga akan menjadi intropeksi diri untuk kemajuan pelayanan yang lebih baik ke masa depan.
Kedua, bawalah program-program yang akan kita kerjakan. GKPA dalam perjalanan pelayanannya di dunia ini masih terus bergumul dan berjuang melakukan tugas-tugas diakonia, marturia dan koinonia. Dengan membawa berita ini, maka warga jemaat akan merasa ikut berjuang mewujudnyatakan dan mendukung program ini baik melalui doa, pemikiran dan dana mereka. Dengan membawa program-program ini warga jemaat akan terlibat dalam perjalanan tujuan GKPA yang sungguh luar bisa ke depan.
Ketiga, bawalah keadaan keuangan GKPA. Memang kita harus akui bahwa tujuan GKPA bukan uang, tetapi demi tujuan GKPA membutuhkan uang. Jika kita sadar bahwa GKPA bisa berjalan beroperasi bukan karena kemampuan warga jemaat saja. Persembahan bulanan yang diberikan warga jemaat ke Kantor Pusat GKPA masih hanya bisa membiayai sebagian dari gaji pelayan GKPA. Dana yang terkumpul dari persembahan bulanan itu tidak mencukupi untuk biaya operasional pelayanan di Kantor Pusat GKPA dan program-program lainnya di GKPA. Karenanya keadaan keuangan GKPA menjadi sebuah berita yang harus kita bawa untuk didoakan agar warga jemaat ikut berpartisipasi menopang pelayanan GKPA ke masa depan.
Keempat, bawalah perkembangan teologi GKPA. GKPA sebagai sebuah gereja yang hidup di dunia ini harus terus membenahi dirinya tidak hanya secara organisasi saja tetapi juga membenahi perkembangan teologi yang kita hadapi saat ini. Apa yang telah dikembangkan GKPA tentang tugas pelayanan di GKPA secara teologi. GKPA berada di tengah-tengah perkembangan teologi jaman baru sekarang. GKPA berhadapan dengan berbagai macam pemahaman berteologi dan GKPA harus menyikapi perkembangan teologi itu. Misalnya saja, gereja Protestan dan Katolik telah menerima dan menandatangani sebuah deklarasi yang dinamakan dengan “Deklarasi Bersama tentang Ajaran Pembenaran” (The Joint Declaration on the Doctrine of Justification). Dalam dokumen ini umat Protestan dan Katolik saling menerima perbedaan ajaran yang ada tentang ajaran pembenaran oleh iman tanpa harus berseteru lagi. Pada 31 Oktober 1517, Martin Luther menyatakan perang dengan Katolik tentang keselamatan orang percaya. Katolik memahami bahwa manusia dibenarkan bukan hanya oleh karena iman melainkan dibuthkan lagi perbuatan baik. Jasa baik manusia diperhitungkan menjadi jalan keselamatan manusia. Artinya, manusia diproses dan dijadikan benar oleh Allah. Dengan kata lain, manusia bekerjasama dengan Allah dalam rangka keselamatannya. Dan keselamatan itu datang dari dalam diri manusia yang dianugerahi Allah kepadanya. Sementara bagi Luther, kesemalamatan itu merupakan anugerah semata. Manusia diselamatkan hanya oleh karena iman. Perbuatan baik manusia tidak bisa menentukan keselamatan manusia itu sendiri. Perbuatan baik manusia merupakan buah dari keselamatan yang telah diterima manusia dari Allah. Artinya, manusia dinyatakan benar oleh Allah. Keselamatan manusia itu dari luar manusia (forensik) yang diberikan Allah secara cuma-cuma. Katolik dan Protestan berseteru selama 482 tahun mengenai ajaran pembenaran ini. Namun pada 31 Oktober 1999, gereja Lutheran yang diwakili Lutheran World Federation (LWF) dan Gereja Katolik Roma (GKR) menandatangani dokumen “Deklarasi Bersama tentang Ajaran Pembenaran”. Dan sejak itu segala kutuk mengutuk di kedua belah pihak dihentikan. Katolik dan Protestan sepakat menerima perbedaan ajaran pembenaran oleh iman di antara kedua belah pihak tanpa harus berseteru dan saling mengutuk. Inilah perkembangan teologi yang harus kita bawa kepada umat agar mereka semakin sadar bahwa GKPA terus membuka diri bagi perkembangan teologi jaman ini.
Sebenarnya masih banyak lagi yang mau diberitakan, namun minimal yang empat pokok seperti di atas tadi kita sampaikan kepada warga jemaat yang mengutus kita, maka mereka pasti akan senang mendengar, dan akan merasa tertarik untuk ikut ambil bagian terus dalam pelayanan Kerajaan Tuhan dalam wadah GKPA ini.
BAGAIMANA CARANYA AGAR BISA MEMBAWA OLEH-OLEH SYNODE AM?
Timbul pertanyaan bagi kita sekarang, bagaimanakah caranya agar kita bisa membawa keempat berita tadi di dalam pelaksanaan synode am XVI GKPA? Kebiasaan lama synode di atas terekam di hati sanubari peserta synode am karena mereka sangat menikmati seluruh makanan dan minuman yang disajikan para panitia synode yang ramah dan mudah senyum tadi. Setiap jam-jam makan mereka sangat menikmatinya dengan segala canda tawa dengan sahabat-sahabat lama atau teman-teman baru anggota synode dari jemaat, resort, dan distrik lain. Mereka memakai jam-jam makan ajang saling tukar informasi dan silaturahmi. Sehingga jam-jam makan mereka nikmati luar biasa dan sangat enak dirasakan walaupun sebenarnya makanan dan minuman itu kurang enak, tetapi karena persekutuan dengan sahabat dan teman lama dan baru berjalan dengan indah, maka yang tidak enak pun dikatakan enak.
Agar kita mampu membawa oleh-oleh yang berkualitas dari Synode Am XVI GKPA ini, maka pertama, seluruh peserta synode juga harus bisa menikmati seluruh rangkaian acara synode secara komprehensif. Peserta synode secara aktif mulai dari awal hingga penutupan synode agar beritanya klop dan lengkap serta berkualitas dibawa ke warga jemaat. Peserta tidak mengikuti synode terputus-putus. Artinya, dia masuk di sesi pertama, dan absen di sesi kedua, dan ketiga, kemudian masuk lagi di sesi keempat, dan absen di sesi kelima dan begitulah seterusnya. Jika peserta synode hadir rapat seperti ini maka dia tidak akan bisa membawa berita yang utuh kepada warga jemaat yang mengutusnya synode. Sia-sialah doa dan uang jemaat yang dipakainya untuk hadir ke synode ini sebab merekalah orang-orang terbaik yang diutus ke synode tetapi sikap dan perangainya seperti orang yang tak beretika dan berperasaan. Kedua, peserta synode mematuhi peraturan panitia synode. Peraturan synode ialah setiap perserta harus mengikuti rapat di ruang yang sudah ditentukan panitia. Artinya, peserta synode bukan rapat di luar ruangan, atau mengadakan rapat di luar rapat. Jika demikian adanya, maka hasil yang dibawanya ke warga jemaat adalah hasil “synode mereka” bukan hasil Synode Am XVI GKPA. Ketiga, bergiatlah dalam pekerjaan Tuhan. Synode ini bukan ansih pekerjaan manusia saja, melainkan pekerjaan Tuhan yang diembankan kepada seluruh peserta synode. Anda adalah pilihan Tuhan, utusan jemaat yang dipercaya mengemban pengembangan visi dan misi GKPA ke masa yang penuh harapan. Karena itu bergiatlah dalam synode memberikan pemikiran-pemikiran positif yang membangun dan mengembangkan GKPA yang lebih baik. Jangan datang dari pola pikir negatif yang hanya melulu melihat kesalahan-kesalahan orang lain, tetapi perbaikilah kesalahan-kesalahan orang lain dengan kasih Kristus yang ada di dalam diri kita masing-masing.
HABIS SYNODE LALU APA?
Mungkin kita berpikir tugas saya sudah selesai karena sudah berhasil mengikuti dan menghadiri Synode Am XVI GKPA. Memang benar tugas mengikuti dan menghadiri synode sudah selesai tetapi tugas-tugas yang diembankan synode itu belum selasai dikerjakan. Setibanya kita di daerah pelayanan kita masing-masing, maka kita akan memulai mengimpelematasikan hasil-hasil Synode Am XVI GKPA. Artinya, kita menjadi duta-duta GKPA di lapangan untuk melaksanakan dan mengembangka GKPA menuju pertumbuhan jemaat yang semakin baik. Tuhan mengharapkan kita menjadi pelayan/pekerja yang bergiat di dalam pekerjaan Tuhan menjemaatkan hasil keputusan Synode. Dengan kata lain, peserta synode am tidak boleh lagi berkata, “Aku tidak setuju dengan keputusan itu maka aku tidak mau melakukannya.” Saatnya bukan lagi berdebat, karena waktu berdebat sudah usai di synode, tetapi setelah synode saatnya kita bertindak atas keputusan synode itu, terlepas dari setuju tidak setuju kita pada saat synode. Apa yang sudah diputuskan synode adalah keputusan GKPA yang harus dikerjakan dan dilaksanakan di setiap lini pelayanan GKPA. Peserta synode menjadi pionir pengimplementasian keputusan synode, bukan sebaliknya menjadi “musuh” di dalam pengimplementasian hasil-hasil synode.
Habis synode lalu beraksi dan berkarya untuk Tuhan. Habis synode kita bekerja, kita melayani dengan giat, sebab pekerjaan yang kita kerjakan ini adalah pekerjaan Tuhan. Jika kita mengerjakan pekerjaan manusia dengan berkualitas, maka kita akan dihargai oleh si pemberi pekerjaan itu dengan baik. Demikianlah kita, Tuhan memberikan pekerjaan kepada kita, karena itu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh dengan segala potensi yang ada dalam hidup kita, maka Tuhan akan menghargai kita di hadapan Allah dan manusia.
Habis synode lalu apa terserah pada Anda...
Jakarta, Medio Mei 2009
Ramli SN Harahap
www.ramlyharahap.blogspot.com
KEBIASAAN MANUSIA SECARA UMUM
Biasanya jika seseorang pulang dari luar kota, atau luar negeri, anak-anaknya pasti menanyakan kepadanya bawa apa oleh-olehnya? Artinya, perpisahan mereka untuk beberapa waktu itu akan terasa klop jika yang pulang ke rumah itu membawa sesuatu, baik itu berupa berita, atau pun berupa benda. Yang pasti selalu ada yang diharapkan yang mau disampaikan oleh orang tersebut untuk seluruh keluarga yang telah ditinggal beberapa saat lamanya. Dan yang membawa berita pun akan merasa senang jika seluruh seisi rumahnya mendengar cerita yang disampaikannya dan sekaligus memberikan oleh-oleh benda yang dibawanya. Itulah gambaran orang yang pulang membawa sesuatu kepada keluarganya yang telah ditinggalkannya untuk beberapa saat lamanya.
Respons dari keluarga atas berita dan oleh-oleh yang kita bawa itu juga bervariasi. Jika berita dan oleh-oleh yang kita sampaikan dan berikan sangat fantastis dan menarik bagi mereka, maka mereka berkata “Terimakasih atas berita dan oleh-olehnya, sungguh luar biasa beritanya, wah saya jadi tertarik ke sana, saya senang sekali berita dan oleh-oleh ini”. Namun jika berita dan oleh-oleh yang kita bawa tidak menarik dan berkualitas, maka mereka pasti banyak yang kecewa dan berkata, “Itu aja nya?, masa gitu saja? Percuma aja pergi ke sana!, tidak mau terima oleh-oleh ini jelek”.
Dari respons tersebut, maka setiap orang yang pergi untuk tugas tertentu harus membawa sesuatu yang berkualitas, membawa berita yang bermanfaat bagi keluarga, bagi gereja, masyarakat, bangsa dan negara, agar kita dihargai oleh mereka. Sebenarnya tergantung kita yang menentukan oleh-oleh dan berita yang mau kita bawa. Apakah kita memilih yang biasa-biasa saja atau yang luar biasa. Konsekunsinya sudah jelas seperti yang disebutkan di atas.
KEIBASAAN LAMA SYNODE
Peserta syonde dari segala unsur (pendeta, majelis pusat, utusan resort, dan peninjau) diutus dari distrik, resort dan jemaat masing-masing dengan doa dan biaya yang besar dengan harapan pulang synode bisa membawa sesuatu oleh-oleh yang berharga bagi jemaat, resort dan distrik. Kita meninggalkan segala tugas pelayanan kita di tengah-tengah jemaat dan pekerjaan kita masing-masing untuk tugas mulia ini. Kehadiran kita dalam Synode Am XVI GKPA pada 15-19 Juli 2009 lalu harus memberi masukan-masukan, ide-ide, pemikiran-pemikiran, dana bagi kemajuan dan perkembangan GKPA ke masa depan. Kehadiran kita di synode ajang duduk bersama bertukar pikiran dan informasi pelayanan agar GKPA semakin dipakai Tuhan melayani umat di dunia ini. Inilah harapan dan doa para jemaat yang mengutus kita para peserta synode ini. Dan ketika kita pulang ke jemaat, resort dan distrik kita masing-masing, kita telah membawa oleh-oleh yang menarik, oleh-oleh yang membanggakan GKPA, metode-metode pelayanan yang lebih baik lagi di semua lini lapangan pelayanan GKPA. Peserta synode diharapkan bisa memberikan oleh-oleh yang berkualitas bagi jemaat yang mengutusnya agar jemaat tersebut tidak kecewa dan tidak memberikan respons yang negatif kepada kita para synodestan.
Namun kebiasaan yang terjadi dari synode ke synode tidak seperti yang kita bayangkan di atas tadi. Ketika kita bertanya dan berdiskusi dengan beberapa peserta synode sepulangnya dari ajang rapat mulia yang tertinggi di GKPA itu tentang hal-hal apa yang sangat menarik dari synode am yang baru berlangsung, mereka menjawab, “Wah enak sekali makan di synode di Padangsidimpuan itu, enak sekali sayurnya, sambal terasinnya, ikannya, dll”. Dan jika kita teruskan bertanya, “hal apa saja yang menarik lainnya?” Panitia dan jemaat di Kantor Pusat GKPA ramah-ramah dan mudah senyum. Hal lain? Yah itu saja. Itu saja??? Artinya, kebiasaan-kebiasaan yang diberitakan kepada warga jemaat oleh synodestan melulu mengenai makanan dan keramahan panitia synode. Oleh-oleh yang diberitakan hanya soal kulit luarnya saja. Inti dari pertemuan synode itu tidak mampu diberitakan secara sederhana kepada warga jemaat, resort dan distrik. Akhirnya, jemaat merasa kecewa dengan mendengar oleh-oleh itu. Padahal mereka sudah bayar mahal itu dengan doa-doa dan dana-dana jemaat, dan hasilnya hanya berita makanan yang enak saja. Berarti timbul kesimpulan bagi warga jemaat bahwa synode itu bukan synode gereja tetapi synode makanan, karena berita gerejanya tidak ada diberitakan tetapi berita makanan disampaikan luar biasa.
Yang ironisnya lagi, berita yang mereka bawa bukan lagi berita synode, tetapi berita kampung halamannya. Mereka bercerita panjang lebar tentang situasi terbaru di kampungnya yang sudah ditinggalkannya beberapa tahun yang lalu. Berita-berita keluarganya yang sudah mulai berubah dari kebiasaan-kebiasaan dulu ketika dia datang yang biasanya disambut dengan baik sekarang tidak lagi. Bahkan dengan semangat yang luar biasa mereka menceritakan kejelekan-kejelekan kampung dan keluarganya ketika dia pulang setelah synode atau sebelum synode. Ironis bukan? Diutus ke synode untuk mebawa berita gereja GKPA dan perkembangannya, yang dibawa berita kampung dan keluarga synodestan.
KEBIASAAN BARU SYNODE
Pulang bawa apa? Pulang synode am bawa apa? Pertanyaan ini mungkin agak sulit menceritakannya secara sederhana bagi jemaat yang mengutus kita. Tetapi sebenarnya bisa kita permudah karena kita yang membawa berita dan oleh-oleh itu. Sama seperti kita mau pulang ke rumah, kita membawa oleh-oleh untuk anak-anak dan keluarga kita, pasti yang kita bawa adalah apa yang mereka butuhkan. Demikianlah dengan warga jemaat kita, mereka mau mendengar berita yang sangat dibutuhkan mereka tentang GKPA. Lalu, apa yang mau kita bawa?
Pertama, bawalah laporan pelayanan GKPA selama antar periode ini. Laporan itu menyangkut apa yang telah dikerjakan GKPA dalam rangka memberitakan Firman Tuhan dan menyembangkan GKPA di dunia ini. Berita ini akan mengajak umat untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas apa yang telah GKPA lakukan dalam mengemban misi di dunia ini. Berita ini juga akan membangkitkan semangat jemaat untuk semakin berkarya lagi ke masa depan. Berita ini juga akan menjadi intropeksi diri untuk kemajuan pelayanan yang lebih baik ke masa depan.
Kedua, bawalah program-program yang akan kita kerjakan. GKPA dalam perjalanan pelayanannya di dunia ini masih terus bergumul dan berjuang melakukan tugas-tugas diakonia, marturia dan koinonia. Dengan membawa berita ini, maka warga jemaat akan merasa ikut berjuang mewujudnyatakan dan mendukung program ini baik melalui doa, pemikiran dan dana mereka. Dengan membawa program-program ini warga jemaat akan terlibat dalam perjalanan tujuan GKPA yang sungguh luar bisa ke depan.
Ketiga, bawalah keadaan keuangan GKPA. Memang kita harus akui bahwa tujuan GKPA bukan uang, tetapi demi tujuan GKPA membutuhkan uang. Jika kita sadar bahwa GKPA bisa berjalan beroperasi bukan karena kemampuan warga jemaat saja. Persembahan bulanan yang diberikan warga jemaat ke Kantor Pusat GKPA masih hanya bisa membiayai sebagian dari gaji pelayan GKPA. Dana yang terkumpul dari persembahan bulanan itu tidak mencukupi untuk biaya operasional pelayanan di Kantor Pusat GKPA dan program-program lainnya di GKPA. Karenanya keadaan keuangan GKPA menjadi sebuah berita yang harus kita bawa untuk didoakan agar warga jemaat ikut berpartisipasi menopang pelayanan GKPA ke masa depan.
Keempat, bawalah perkembangan teologi GKPA. GKPA sebagai sebuah gereja yang hidup di dunia ini harus terus membenahi dirinya tidak hanya secara organisasi saja tetapi juga membenahi perkembangan teologi yang kita hadapi saat ini. Apa yang telah dikembangkan GKPA tentang tugas pelayanan di GKPA secara teologi. GKPA berada di tengah-tengah perkembangan teologi jaman baru sekarang. GKPA berhadapan dengan berbagai macam pemahaman berteologi dan GKPA harus menyikapi perkembangan teologi itu. Misalnya saja, gereja Protestan dan Katolik telah menerima dan menandatangani sebuah deklarasi yang dinamakan dengan “Deklarasi Bersama tentang Ajaran Pembenaran” (The Joint Declaration on the Doctrine of Justification). Dalam dokumen ini umat Protestan dan Katolik saling menerima perbedaan ajaran yang ada tentang ajaran pembenaran oleh iman tanpa harus berseteru lagi. Pada 31 Oktober 1517, Martin Luther menyatakan perang dengan Katolik tentang keselamatan orang percaya. Katolik memahami bahwa manusia dibenarkan bukan hanya oleh karena iman melainkan dibuthkan lagi perbuatan baik. Jasa baik manusia diperhitungkan menjadi jalan keselamatan manusia. Artinya, manusia diproses dan dijadikan benar oleh Allah. Dengan kata lain, manusia bekerjasama dengan Allah dalam rangka keselamatannya. Dan keselamatan itu datang dari dalam diri manusia yang dianugerahi Allah kepadanya. Sementara bagi Luther, kesemalamatan itu merupakan anugerah semata. Manusia diselamatkan hanya oleh karena iman. Perbuatan baik manusia tidak bisa menentukan keselamatan manusia itu sendiri. Perbuatan baik manusia merupakan buah dari keselamatan yang telah diterima manusia dari Allah. Artinya, manusia dinyatakan benar oleh Allah. Keselamatan manusia itu dari luar manusia (forensik) yang diberikan Allah secara cuma-cuma. Katolik dan Protestan berseteru selama 482 tahun mengenai ajaran pembenaran ini. Namun pada 31 Oktober 1999, gereja Lutheran yang diwakili Lutheran World Federation (LWF) dan Gereja Katolik Roma (GKR) menandatangani dokumen “Deklarasi Bersama tentang Ajaran Pembenaran”. Dan sejak itu segala kutuk mengutuk di kedua belah pihak dihentikan. Katolik dan Protestan sepakat menerima perbedaan ajaran pembenaran oleh iman di antara kedua belah pihak tanpa harus berseteru dan saling mengutuk. Inilah perkembangan teologi yang harus kita bawa kepada umat agar mereka semakin sadar bahwa GKPA terus membuka diri bagi perkembangan teologi jaman ini.
Sebenarnya masih banyak lagi yang mau diberitakan, namun minimal yang empat pokok seperti di atas tadi kita sampaikan kepada warga jemaat yang mengutus kita, maka mereka pasti akan senang mendengar, dan akan merasa tertarik untuk ikut ambil bagian terus dalam pelayanan Kerajaan Tuhan dalam wadah GKPA ini.
BAGAIMANA CARANYA AGAR BISA MEMBAWA OLEH-OLEH SYNODE AM?
Timbul pertanyaan bagi kita sekarang, bagaimanakah caranya agar kita bisa membawa keempat berita tadi di dalam pelaksanaan synode am XVI GKPA? Kebiasaan lama synode di atas terekam di hati sanubari peserta synode am karena mereka sangat menikmati seluruh makanan dan minuman yang disajikan para panitia synode yang ramah dan mudah senyum tadi. Setiap jam-jam makan mereka sangat menikmatinya dengan segala canda tawa dengan sahabat-sahabat lama atau teman-teman baru anggota synode dari jemaat, resort, dan distrik lain. Mereka memakai jam-jam makan ajang saling tukar informasi dan silaturahmi. Sehingga jam-jam makan mereka nikmati luar biasa dan sangat enak dirasakan walaupun sebenarnya makanan dan minuman itu kurang enak, tetapi karena persekutuan dengan sahabat dan teman lama dan baru berjalan dengan indah, maka yang tidak enak pun dikatakan enak.
Agar kita mampu membawa oleh-oleh yang berkualitas dari Synode Am XVI GKPA ini, maka pertama, seluruh peserta synode juga harus bisa menikmati seluruh rangkaian acara synode secara komprehensif. Peserta synode secara aktif mulai dari awal hingga penutupan synode agar beritanya klop dan lengkap serta berkualitas dibawa ke warga jemaat. Peserta tidak mengikuti synode terputus-putus. Artinya, dia masuk di sesi pertama, dan absen di sesi kedua, dan ketiga, kemudian masuk lagi di sesi keempat, dan absen di sesi kelima dan begitulah seterusnya. Jika peserta synode hadir rapat seperti ini maka dia tidak akan bisa membawa berita yang utuh kepada warga jemaat yang mengutusnya synode. Sia-sialah doa dan uang jemaat yang dipakainya untuk hadir ke synode ini sebab merekalah orang-orang terbaik yang diutus ke synode tetapi sikap dan perangainya seperti orang yang tak beretika dan berperasaan. Kedua, peserta synode mematuhi peraturan panitia synode. Peraturan synode ialah setiap perserta harus mengikuti rapat di ruang yang sudah ditentukan panitia. Artinya, peserta synode bukan rapat di luar ruangan, atau mengadakan rapat di luar rapat. Jika demikian adanya, maka hasil yang dibawanya ke warga jemaat adalah hasil “synode mereka” bukan hasil Synode Am XVI GKPA. Ketiga, bergiatlah dalam pekerjaan Tuhan. Synode ini bukan ansih pekerjaan manusia saja, melainkan pekerjaan Tuhan yang diembankan kepada seluruh peserta synode. Anda adalah pilihan Tuhan, utusan jemaat yang dipercaya mengemban pengembangan visi dan misi GKPA ke masa yang penuh harapan. Karena itu bergiatlah dalam synode memberikan pemikiran-pemikiran positif yang membangun dan mengembangkan GKPA yang lebih baik. Jangan datang dari pola pikir negatif yang hanya melulu melihat kesalahan-kesalahan orang lain, tetapi perbaikilah kesalahan-kesalahan orang lain dengan kasih Kristus yang ada di dalam diri kita masing-masing.
HABIS SYNODE LALU APA?
Mungkin kita berpikir tugas saya sudah selesai karena sudah berhasil mengikuti dan menghadiri Synode Am XVI GKPA. Memang benar tugas mengikuti dan menghadiri synode sudah selesai tetapi tugas-tugas yang diembankan synode itu belum selasai dikerjakan. Setibanya kita di daerah pelayanan kita masing-masing, maka kita akan memulai mengimpelematasikan hasil-hasil Synode Am XVI GKPA. Artinya, kita menjadi duta-duta GKPA di lapangan untuk melaksanakan dan mengembangka GKPA menuju pertumbuhan jemaat yang semakin baik. Tuhan mengharapkan kita menjadi pelayan/pekerja yang bergiat di dalam pekerjaan Tuhan menjemaatkan hasil keputusan Synode. Dengan kata lain, peserta synode am tidak boleh lagi berkata, “Aku tidak setuju dengan keputusan itu maka aku tidak mau melakukannya.” Saatnya bukan lagi berdebat, karena waktu berdebat sudah usai di synode, tetapi setelah synode saatnya kita bertindak atas keputusan synode itu, terlepas dari setuju tidak setuju kita pada saat synode. Apa yang sudah diputuskan synode adalah keputusan GKPA yang harus dikerjakan dan dilaksanakan di setiap lini pelayanan GKPA. Peserta synode menjadi pionir pengimplementasian keputusan synode, bukan sebaliknya menjadi “musuh” di dalam pengimplementasian hasil-hasil synode.
Habis synode lalu beraksi dan berkarya untuk Tuhan. Habis synode kita bekerja, kita melayani dengan giat, sebab pekerjaan yang kita kerjakan ini adalah pekerjaan Tuhan. Jika kita mengerjakan pekerjaan manusia dengan berkualitas, maka kita akan dihargai oleh si pemberi pekerjaan itu dengan baik. Demikianlah kita, Tuhan memberikan pekerjaan kepada kita, karena itu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh dengan segala potensi yang ada dalam hidup kita, maka Tuhan akan menghargai kita di hadapan Allah dan manusia.
Habis synode lalu apa terserah pada Anda...
Jakarta, Medio Mei 2009
Ramli SN Harahap
www.ramlyharahap.blogspot.com
Bacaan Minggu 20 September 2009: Yeremia 26 : 7 - 14
HARGA SEBUAH KETAATAN
Pengantar
Ada sebuah pernyataan yang menarik dan terkenal: “To accept Christ costs nothing, to follow Christ costs something, but to serve Christ costs everything”. Pernyataan tersebut menjelaskan kepada kita bahwa menerima Kristus tidak perlu membayar apa-apa. Artinya, kita cukup percaya kepada-Nya. Sedangkan untuk mengikut Kristus, ada harga yang harus kita bayar. Sebagai contoh, kita harus bersekutu dengan-Nya serta menjaga kesaksian hidup agar tidak menjadi batu sandungan. Dan akhirnya, melayani Kristus, berharga segalanya. Itu berarti, tidak cukup hanya mengikuti Dia dan menjaga kesaksian hidup. Tapi lebih dari situ, rela mempertaruhkan waktu, materi, bahkan nyawa! Hal itulah yang dialami oleh nabi Yeremia, sebagaimana tertulis dalam nats Epistel hari ini.
Pembahasan
Peristiwa pada Yeremia pasal 26 ini terjadi pada permulaan pemerintahan Yoyakim, anak Yosia, raja Yehuda (sekitar tahun 609-608 SM), di mana firman Tuhan datang kepada Yeremia. Banyak hal penting yang dapat kita pelajari dari bacaan kita ini. Namun, kita akan memfokuskan diri kepada Yeremia. Ada tiga hal penting yang patut kita teladani.
1. Ketaatan nabi Yeremia (1-6)
Pada ayat 1-6 kita membaca bagaimana Tuhan memerintahkan Yeremia untuk menyampaikan Firman-Nya kepada umat-Nya. Jika kita mengamati isi Firman tersebut, itu bukanlah sesuatu yang enak untuk didengar, di mana isinya adalah sebuah peringatan agar mereka bertobat dari segala kejahatannya (ay. 3). Jikat tidak, mereka akan mengalami penghukuman. Allah berfirman: “Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku... dan tidak mau mendengarkan perkataan hamba-hamba-Ku, para nabi, yang terus-menerus Kuutus kepadamu... maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi." (4b-6).
Bagaimanakah jika Saudara/i berada dalam posisi Yeremia? Apakah Saudara mau menyampaikan berita buruk, yaitu berita penghukuman yang mengerikan seperti itu? Dapatkah saudara membayangkan bagaimana jika saudara harus menyampaikan berita seperti itu di pelataran rumah Tuhan (ay. 2) dan juga di rumah Tuhan disaksikan oleh para imam dan nabi? (ay. 7). Sungguh, hal itu bukan merupakan suatu tugas yang mudah dikerjakan. Karena itu, barangkali ada atau banyak di antara kita yang tidak mau melakukannya.
Namun Yeremia tidaklah demikian. Dia taat kepada Tuhan dan dengan setia menyampaikan Firman tersebut. Walaupun tentu, hal itu bukanlah tanpa risiko.
2. Harga yang harus dibayar (7-11)
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, nabi Yeremia menyampaikan berita penghukuman itu di pelataran rumah Tuhan. Karena itu, kita membaca bahwa para imam, para nabi dan seluruh rakyat mendengar pemberitaan tersebut (ay. 7).
Bagaimanakah respons mereka terhadap khotbah Yeremia tersebut? Dapat diduga, khotbah Yeremia tersebut ditolak. Yeremia dianggap sebagai nabi palsu yang menyampaikan kabar bohong. Dan karena hal itu dilakukan di rumah Tuhan, maka hal itu dianggap sebagai penghujatan. Dengan demikian, Yeremia dianggap telah melakukan kesalahan ganda: berbohong dengan bernubuat palsu dan menghujat Allah. Itulah sebabnya dia ditangkap (8). Keberatan yang mereka sampaikan sangat jelas: ” Mengapa engkau bernubuat demi nama TUHAN dengan berkata: Rumah ini akan sama seperti Silo, dan kota ini akan menjadi reruntuhan, sehingga tidak ada lagi penduduknya?" (9). Itulah sebabnya mereka semua berkumpul mengerumuni Yeremia. Hukumannya jelas, yaitu hukuman mati (8). Hukuman seperti itu, tidak berlebih-lebihan, karena itulah layaknya hukuman yang diberikan kepada seseorang yang bernubuat palsu dan menghujat Allah. Jadi, berita tersebut bukan sekadar mengakibatkan kerugian materi atau harga diri bagi Yeremia, melainkan menuntut nyawanya sendiri!
3. Keyakinan & Keberanian Yeremia (12-14)
Dalam kondisi terdesak, apalagi yang menuntut ancaman nyawa, apakah yang biasanya dilakukan oleh seseorang? Melarikan diri, bukan? Jika ancaman itu terjadi karena berita atau khotbah yang disampaikan, maka ada kemungkinan bahwa seseorang itu akan mengubah isi khotbahnya sehingga lebih menyenangkan pendengarnya.
Namun Yeremia bukanlah pribadi yang plin plan dan penakut. Sebaliknya, Alkitab menggambarkan bahwa tokoh Yeremia adalah seorang tokoh beriman dan pemberani. Dalam bacaan kita ini terlihat dengan sangat jelas bahwa dia memiliki keyakinan penuh atas panggilannya. Itulah sebabnya, sekalipun para imam, nabi dan rakyat datang bergerombol mengerumuni dia, namaun sedikitpun dia tidak mundur dan mengubah keyakinannya. Sebaliknya, di hadapan para penentangnya yang siap menghabisi nyawanya, dia menegaskan: “Tuhanlah yang telah mengutus aku supaya bernubuat tentang rumah dan kota ini untuk menyampaikan segala perkataan yang telah kamu dengar itu” (ay. 12). Selanjutnya, dia melanjutkan tantangan dan peringatannya: “ Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu” (13).
Hal lain yang sangat menarik dan sangat berkesan untuk kita simak adalah kenyataan berikut. Setelah menyampaikan kalimat tersebut di atas, dia tidak melarikan diri. Malahan dia menyerahkan dirinya: “Tetapi aku ini, sesungguhnya, aku ada di tanganmu, perbuatlah kepadaku apa yang baik dan benar di matamu” (14).
Aplikasi dan kesimpulan
Seorang pernah mengibaratkan pemberita firman Tuhan bagaikan seorang tukang pos. Tukang pos tersebut dengan setia menyampaikan setiap surat kepada penerimanya, apapun berita yang ada di dalam surat tersebut: baik atau buruk. Demikian juga dengan pelayan-pelayan dan pemberita firman Tuhan, harus senantiasa setia menyampaikan firman Tuhan tersebut: kabar baik atau buruk.
Namun sebenarnya, ada perbedaan di antara keduanya, yaitu tukang pos tidak tahu apa isi berita di dalam surat itu. Selain itu, tukang pos juga tidak bertanggung jawab atas berita di dalamnya. Itulah sebabnya, tukang pos tidak mengalami risiko atas surat yang disampaikannya. Tidak demikian dengan setiap kita yang terpanggil memberitakan firman Tuhan. Kita mengetahui berita yang akan kita sampaikan. Kita juga sadar apa akibat dari pemberitaan tersebut. Meskipun demikian, biarlah kita meneladani nabi Yeremia tersebut di atas: Taat dan setia kepada firman Tuhan. Kiranya, Allah Bapa di surga mengaruniakan kepada kita keyakinan dan keberanian di tengah-tengah berbagai kesulitan yang kita hadapi, apapun dan berapapun harga yang harus kita bayar.-
Pdt. Ir. Mangapul Sagala, D.Th
Pengantar
Ada sebuah pernyataan yang menarik dan terkenal: “To accept Christ costs nothing, to follow Christ costs something, but to serve Christ costs everything”. Pernyataan tersebut menjelaskan kepada kita bahwa menerima Kristus tidak perlu membayar apa-apa. Artinya, kita cukup percaya kepada-Nya. Sedangkan untuk mengikut Kristus, ada harga yang harus kita bayar. Sebagai contoh, kita harus bersekutu dengan-Nya serta menjaga kesaksian hidup agar tidak menjadi batu sandungan. Dan akhirnya, melayani Kristus, berharga segalanya. Itu berarti, tidak cukup hanya mengikuti Dia dan menjaga kesaksian hidup. Tapi lebih dari situ, rela mempertaruhkan waktu, materi, bahkan nyawa! Hal itulah yang dialami oleh nabi Yeremia, sebagaimana tertulis dalam nats Epistel hari ini.
Pembahasan
Peristiwa pada Yeremia pasal 26 ini terjadi pada permulaan pemerintahan Yoyakim, anak Yosia, raja Yehuda (sekitar tahun 609-608 SM), di mana firman Tuhan datang kepada Yeremia. Banyak hal penting yang dapat kita pelajari dari bacaan kita ini. Namun, kita akan memfokuskan diri kepada Yeremia. Ada tiga hal penting yang patut kita teladani.
1. Ketaatan nabi Yeremia (1-6)
Pada ayat 1-6 kita membaca bagaimana Tuhan memerintahkan Yeremia untuk menyampaikan Firman-Nya kepada umat-Nya. Jika kita mengamati isi Firman tersebut, itu bukanlah sesuatu yang enak untuk didengar, di mana isinya adalah sebuah peringatan agar mereka bertobat dari segala kejahatannya (ay. 3). Jikat tidak, mereka akan mengalami penghukuman. Allah berfirman: “Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku... dan tidak mau mendengarkan perkataan hamba-hamba-Ku, para nabi, yang terus-menerus Kuutus kepadamu... maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi." (4b-6).
Bagaimanakah jika Saudara/i berada dalam posisi Yeremia? Apakah Saudara mau menyampaikan berita buruk, yaitu berita penghukuman yang mengerikan seperti itu? Dapatkah saudara membayangkan bagaimana jika saudara harus menyampaikan berita seperti itu di pelataran rumah Tuhan (ay. 2) dan juga di rumah Tuhan disaksikan oleh para imam dan nabi? (ay. 7). Sungguh, hal itu bukan merupakan suatu tugas yang mudah dikerjakan. Karena itu, barangkali ada atau banyak di antara kita yang tidak mau melakukannya.
Namun Yeremia tidaklah demikian. Dia taat kepada Tuhan dan dengan setia menyampaikan Firman tersebut. Walaupun tentu, hal itu bukanlah tanpa risiko.
2. Harga yang harus dibayar (7-11)
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, nabi Yeremia menyampaikan berita penghukuman itu di pelataran rumah Tuhan. Karena itu, kita membaca bahwa para imam, para nabi dan seluruh rakyat mendengar pemberitaan tersebut (ay. 7).
Bagaimanakah respons mereka terhadap khotbah Yeremia tersebut? Dapat diduga, khotbah Yeremia tersebut ditolak. Yeremia dianggap sebagai nabi palsu yang menyampaikan kabar bohong. Dan karena hal itu dilakukan di rumah Tuhan, maka hal itu dianggap sebagai penghujatan. Dengan demikian, Yeremia dianggap telah melakukan kesalahan ganda: berbohong dengan bernubuat palsu dan menghujat Allah. Itulah sebabnya dia ditangkap (8). Keberatan yang mereka sampaikan sangat jelas: ” Mengapa engkau bernubuat demi nama TUHAN dengan berkata: Rumah ini akan sama seperti Silo, dan kota ini akan menjadi reruntuhan, sehingga tidak ada lagi penduduknya?" (9). Itulah sebabnya mereka semua berkumpul mengerumuni Yeremia. Hukumannya jelas, yaitu hukuman mati (8). Hukuman seperti itu, tidak berlebih-lebihan, karena itulah layaknya hukuman yang diberikan kepada seseorang yang bernubuat palsu dan menghujat Allah. Jadi, berita tersebut bukan sekadar mengakibatkan kerugian materi atau harga diri bagi Yeremia, melainkan menuntut nyawanya sendiri!
3. Keyakinan & Keberanian Yeremia (12-14)
Dalam kondisi terdesak, apalagi yang menuntut ancaman nyawa, apakah yang biasanya dilakukan oleh seseorang? Melarikan diri, bukan? Jika ancaman itu terjadi karena berita atau khotbah yang disampaikan, maka ada kemungkinan bahwa seseorang itu akan mengubah isi khotbahnya sehingga lebih menyenangkan pendengarnya.
Namun Yeremia bukanlah pribadi yang plin plan dan penakut. Sebaliknya, Alkitab menggambarkan bahwa tokoh Yeremia adalah seorang tokoh beriman dan pemberani. Dalam bacaan kita ini terlihat dengan sangat jelas bahwa dia memiliki keyakinan penuh atas panggilannya. Itulah sebabnya, sekalipun para imam, nabi dan rakyat datang bergerombol mengerumuni dia, namaun sedikitpun dia tidak mundur dan mengubah keyakinannya. Sebaliknya, di hadapan para penentangnya yang siap menghabisi nyawanya, dia menegaskan: “Tuhanlah yang telah mengutus aku supaya bernubuat tentang rumah dan kota ini untuk menyampaikan segala perkataan yang telah kamu dengar itu” (ay. 12). Selanjutnya, dia melanjutkan tantangan dan peringatannya: “ Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu” (13).
Hal lain yang sangat menarik dan sangat berkesan untuk kita simak adalah kenyataan berikut. Setelah menyampaikan kalimat tersebut di atas, dia tidak melarikan diri. Malahan dia menyerahkan dirinya: “Tetapi aku ini, sesungguhnya, aku ada di tanganmu, perbuatlah kepadaku apa yang baik dan benar di matamu” (14).
Aplikasi dan kesimpulan
Seorang pernah mengibaratkan pemberita firman Tuhan bagaikan seorang tukang pos. Tukang pos tersebut dengan setia menyampaikan setiap surat kepada penerimanya, apapun berita yang ada di dalam surat tersebut: baik atau buruk. Demikian juga dengan pelayan-pelayan dan pemberita firman Tuhan, harus senantiasa setia menyampaikan firman Tuhan tersebut: kabar baik atau buruk.
Namun sebenarnya, ada perbedaan di antara keduanya, yaitu tukang pos tidak tahu apa isi berita di dalam surat itu. Selain itu, tukang pos juga tidak bertanggung jawab atas berita di dalamnya. Itulah sebabnya, tukang pos tidak mengalami risiko atas surat yang disampaikannya. Tidak demikian dengan setiap kita yang terpanggil memberitakan firman Tuhan. Kita mengetahui berita yang akan kita sampaikan. Kita juga sadar apa akibat dari pemberitaan tersebut. Meskipun demikian, biarlah kita meneladani nabi Yeremia tersebut di atas: Taat dan setia kepada firman Tuhan. Kiranya, Allah Bapa di surga mengaruniakan kepada kita keyakinan dan keberanian di tengah-tengah berbagai kesulitan yang kita hadapi, apapun dan berapapun harga yang harus kita bayar.-
Pdt. Ir. Mangapul Sagala, D.Th
Bacaan Minggu 13 September 2009: 1 Raja-raja 17 : 7 - 16
PERCAYA KEPADA PEMELIHARAAN TUHAN
Dibandingkan dengan raja-raja terdahulu di Kerajaan Israel, raja yang paling jahat di hadapan Tuhan adalah raja Ahab. Dia berselingkuh bukan hanya dalam hubungan suami isteri juga dalam iman. Di samping menyembah Tuhan, Ahab menyembah dewa Baal. Karena pengaruh isterinya Izebel, puteri raja Etbal dari Sidon, kepercayaan kepada dewa Baal semakin bertumbuh di Israel. Ahab mendirikan mezbah persembahan kepada dewa Baal, dan bangsa Israel diarahkan menyembah di mezbah tersebut.
Sebenarnya kehidupan sehari-hari semakin membaik, karena raja Ahab pintar menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan Punisia. Namun, yang menikmati pertumbuhan ekonomi itu hanya saudagar, hartawan dan kalangan pejabat. Sementara kaum ekonomi lemah dan masyarakat biasa semakin tertindas. Jurang pemisah di antara kaum elite dengan kaum miskin semakin dalam. Kehidupan keagamaan semakin bobrok. Kaum elit bangsa Israel menyembah dewa Baal, sehingga masyarakat bawah semakin tertindas.
Melihat situasi, nabi Elia tampil dengan berani menegor raja Ahab. Tanpa merasa segan dan takut dia mendatangi raja Ahab menyampaikan tegoran Tuhan. Itulah yang disampaikan natas ini. Keberanian Elia menegor raja, tentang ketidak khawatirannya tentang kehidupannya seharihari, adalah pesan yang disampaikan nats ini.
1. Berani menyatakan iman.
Karena kejahatan bangsa Israel semakin merajalela, Tuhan mengutus nabi Elia menyampaikan tegoran dan hukuman Tuhan kepada Ahab. Bangsa Israel dihukum, selama tiga setengah tahun, baik embun maupun hujan tidak turun di bumi Israel. Mendengar hukuman itu, Ahab marah kepada Elia, dia dikejarkejar untuk dibunuh.
Elia tidak gentar menyampaikan hukuman Tuhan kepada Ahab. Dia patuh melakukan perintah Tuhan. Elia tidak mengelak menjumpai Ahab, walaupun dia sudah mengetahui risiko tugas yang dia lakukan. Elia menyadari bahwa Ahab pasti marah dan tidak senang mendengar tegoran Elia. Namun dia patuh dan berani menjumpai Ahab. Kepatuhannya adalah bukti imannya kepada Tuhan.
Keberanian seperti itu yang diminta Tuhan dari orang Kristen. Orang Kristen, khususnya pada masa kini harus memerankan keberanian Elia. Kita dipanggil menjadi Elia masakini. Sebagai Elia masakini kita terpanggil menegor kebobrokan perilaku pejabat negara, kita terpanggil menjadi Elia masakini untuk menrgor situasi masyarakat dan bangsa kita. Tuhan menuntut dari kita keberanian menyatakan yang benar. Tuhan menuntut dari kita keberanian menyatakan iman.
Pada tahun 1997, seorang anak Sekolah Minggu HKBP, didaftarkan orangtuanya masuk di sebuah Taman Kanak-kanak (TK) di kota Bogor. Orangtuanya sadar bahwa pada umumnya anak-anak yang diasuh di TK tersebut adalah beragama Islam, walaupun TK itu bukan sekolah Islam. Namun karena uang masuk ke TK Kristen sangat mahal, terpaksa anak sekolah minggu tersebut didaftarkan ke TK yang Islami tersebut. Di hari pertama anak TK itu masuk kelas, gurunya berkata, "Anak anak, mari kita mangucapkan Bismillahirrahamanirrahim". Mendengar ajakan itu, anak sekolah minggu itu langsung berdiri dan protes, "Bu. Saya orang Kristen. Kenapa saya disuruh mengucapkan itu ?". Gurunya terkejut. Dia terkejut, karena dia tidak mengetahui di antara muridnya ada orang Kristen. Di samping itu, dia terkejut dan terkesima karena keberanian anak tersebut. Hanya sendiri orang Kristen, namun dia berani protes. Itu yang terutama membuat guru itu terkejut dan terkesima. Lalu gurunya, berkata, "Maaf. Kamu tidak ikut mengucapkannya, hanya yang muslim". Keberanian seperti itu yang diminta dari orang Kristen. Jangan gentar walaupun mereka lebih banyak dari kita. Ingat !. Sebagai "garam dunia", kita harus lebih sedikit dari mereka yang jumlahnya banyak. Perhatikan, bahwa garam satu sendok makan boleh membuat daging setengah kilo menjadi asin dan enak dinikmati. Tidak mungkin daging satu kilo diaduk dengan satu kilo garam. Itu tidak pernah dan tidak mungkin. Garam selalu lebih sedikit dibandingkan makanan yang digarami. Karena itu jangan gentar karena kita lebih sedikit dari mereka di Indonesia ini. Paulus berkata, "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (Rm. 8:31).
2. Tidak khawatir tentang kehidupan seharihari.
Karena raja Ahab marah mendengar tegoran Elia, Tuhan menyuruh Elia bersembunyi di tepi sungai Kerit, di sebelah timur Yordan. Tuhan berkata kepada Elia, "Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana" (ay.4). Elia patuh kepada perintah Tuhan. Dia tidak berkata, "Bagaimana mungkin burung gagak memberi aku makan", dia pasrah kepada Tuhan. Kurang lebih serahun Elia bersembunyi di tepi sungai Kerit, dia nyaman, dia berkecukupan dalam hal makanan, karena burung gagak disuruh Tuhan mengantar makanannya setiap pagi dan sore. Setelah satu tahun Elia bersembunyi di tepi sungai Kerit, sungai Kerit kering sehingga dia kesulitan air minum, sehingga Elia disuruh pergi ke Sarfat.
Sebelum Elia berangkat ke Sarfat, Tuhan meyakinkan Elia bahwa di Sarfat ada seorang janda mempersiapkan kebutuhannya. Elia tidak berkata, "Bagaimana mungkin seorang janda mampu memelihara saya. Seorang janda biasanya butuh bantuan orang lain". Elia tidak berkata, "Penduduk Sarfat adalah orang kafir. Bagaimana mungkin seorang kafir memiliki kasih atau bersedia menolong yang lain". Sedangkan orang yang percaya kepada Tuhan tidak mau menolong orang lain, apalagi orang kafir ?" Elia tidak berakata demikian. Dia percaya dan patuh kepada perintah Tuhan. Elia tidak khawatir tentang kebutuhannya seharihari.
Kepasrahan Elia kepada pemeliharaan Tuhan harus menjadi pedoman hidup bagi para hamba Tuhan. Jangan khawatir tentang kebutuhan hidup seharihari. Ke tempat manapun dan di situasi yang betapapun sulitnya, hamba Tuhan harus percaya bahwa Tuhan berkuasa memelihara hidupnya melalui burung gagak masakini. Di tempat manapun (di desa dan di kota), dan ditengah situasi apapun Tuhan pasti mengutus burung gagak memenuhi kebutuhan hidup hambanya.
Setelah Elia tiba di kota Sarfat, disana dia bertemu dengan seorang janda miskin yang sedang mencari kayu bakar. Elia menyuruh janda itu mempersiapkan makanan untuknya. Janda itu menjawab bahwa persiapan makanan dan minuman tidak dia punya, kecuali sedikit tepung roti dan minyak goreng. Setelah itu dia akan mati karena perbekalannya sudah minim. Janda itu memberikan jawaban berdasarkan rasio manusia. Menurut pikiran manusia, hidup manusia akan berakhir apabila tidak makan. Elia menguji iman janda itu dengan mendesak janda itu mempersiapkan makanan lebih dahulu untuknya. Elia ingin menguji iman janda itu. Ternyata janda itu percaya kepada Tuhan. Dia tidak khawatir tentang kehidupannya walaupun dia memberikan persiapannya yang sedikit itu untuk hamba Tuhan. Dia melalukannya karena dia percaya bahwa menjamu hamba Tuhan adalah menjamu Tuhan. Ternyata tepung roti yang sedikit itu tidak habis selama Elia tinggal dua setengah tahun di rumah janda itu. Tuhan memberkati yang sedikit itu menjadi banyak, sehingga janda itu hidup dan tidak benar mati seperti yang dia pikirkan. Tidak masuk akal manusia yang terjadi di Sarfat. Hanya sedikit tepung roti dan minyak, tetapi tidak habis-habisnya selama dua setengah tahun Elia menumpang di rumah janda itu. Memang tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Tuhan mampu memberkati gaji, hasil kerja kita yang sedikit itu, apabila kita pasrah menyerahkan diri kepadaNya. Kita sering berpikir seperti janda di Sarfat. Di dalam situasi kehidupan yang semakin sulit, karena kenaikan harga kebutuhan seharihari, kita sering mengeluh, "Bagaimana mungkin saya dengan keluarga mampu hidup dengan gaji yang sedikit ini". Ternyata kita boleh bertahan hidup walaupun penghasilan tidak bertambah, sementara harga kebutuhan pokok seharihari semakin naik membubung. Walapun gaji UMR (Upah Minimum Regional) seorang karyawan di Jakarta hanya Rp. 900.000 ternyata keluarga mampu membayar uang kontrakan rumah, membayar uang transport setiap hari, uang sekolah, kebutuhan adat dan pesta, persembahan ke gereja. Tidak masuk akal satu keluarga jumlahnya 5 orang, mampu hidup di Jakarta dengan penghasilan kurang lebih satu juta rupiah. Namun oleh pemeliharaan Tuhan kita boleh hidup walaupun penghasilan kita sedikit. Tanpa kita sadari hari, minggu, bulan boleh kita lalui dengan sukacita. Itulah bukti pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita. Itu tanda heran yang dilakukan Tuhan dalam hidup kita. Tidak masuk akal Pendeta pensiun HKBP mampu hidup hanya dengan uang pensiun Rp.500.000 ? Ternyata mungkin. Karena "Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya".
3. Menjadi berkat bagi orang lain.
Dua setengah tahun Elia tinggal di Sarfat, di rumah janda itu, walaupun perbekalan janda itu hanya sedikit tepung roti dan sedikit minyak. Mereka bertiga boleh dicukupkan perbekalan yang sedikit itu. Menurut akal manusia, janda bersama dengan anaknya akan mati setelah perbekalan yang sedikit itu habis, padahal Elia dan janda itu bukan menjadi kekurangan bahkan makanan mereka tidak habishabisnya. Muzijat itu terjadi karena janda itu patuh kepada kepada firman Tuhan, karena janda itu memberi tumpangan kepada hamba Tuhan.
Permintaan Elia supaya janda itu lebih dahulu mempersiapkan makanan kepada Elia, boleh saja diartikan permintaan yang egois. Namun itu hanya ujian kepada janda itu supaya dia percaya kepada pemeliharaan Tuhan atas kehidupannya. Ternyata, tepung roti yang sedikit itu tidak habishabisnya selama dua setengah tahun karena diberkati Tuhan. Itu bukti bahwa bukan karena usaha kita, kita boleh bertahan jidup; bukan karena usaha kita kebutuhan kita terpenuhi. Usaha kita mengumpulkan uang sebanyakbanyaknya tidak menjamin usia dan hidup kita, itu hanya alat melayani Tuhan dan sesama kita. Kita harus percaya kepada pemeliharaan Tuhan. Kita pasti tidak akan menjadi miskin dan tidak kekurangan makanan apabila kita rela memberikan sedikit dari yang kita miliki kepada orang yang membutuhkannya. Menolong sesama bukan menjadikan kita sengsara dan miskin, bahkan menjadikan kita semakin menerima banyak dari Tuhan.
Karena dimotivasi kekhawatiran, kita sering tidak rela memberikan banyak kepada kerajaan Tuhan. Kita sering pelit memberi persembahan mingguan, bulanan, karena khawatir perbekalan kita menjadi kurang dan sedikit. Dalam nats ini Elia meminta janda itu untuk lebih dahulu mempersiapkan makanan kepada Elia. Ternyata, walaupun janda itu lebih dahulu mempersiapkan makanan kepada Elia, makanan terus berlimpah, janda itu dan anaknya bukan menjadi lapar. Bahkan tepung roti dalam tempayan tidak habis dan minyak dalam bulibuli tidak kering.
Fakta itu memesankan, bahwa dengan memberi kepada orang lain, khususnya orang susah, bukan menjadikan kita kekurangan atau miskin, namun Tuhan memberikan berkatnya kepada kita berlimpah. Tuhan memberikan hidup serta berkat lainnya kepada kita supaya kita boleh menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan memberikan hidup dan memberkati usaha kita, supaya kita menjadi berkat bagi orang lain. Masing masing menerima berkat dari Tuhan sehingga dengan berkat itu kita boleh saling menolong. Iman kepada Tuhan kita perlihatkan melalui kasih kepada sesama, 1 Joh. 4, 20. Menurut Amsal 14, 31b, dan 19, 17, "Tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia"; dan Amsal 19, 17. "Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu". Amin.
Kotacane Aceh Tenggara
Pdt.T.P. Nababan, STh
Dibandingkan dengan raja-raja terdahulu di Kerajaan Israel, raja yang paling jahat di hadapan Tuhan adalah raja Ahab. Dia berselingkuh bukan hanya dalam hubungan suami isteri juga dalam iman. Di samping menyembah Tuhan, Ahab menyembah dewa Baal. Karena pengaruh isterinya Izebel, puteri raja Etbal dari Sidon, kepercayaan kepada dewa Baal semakin bertumbuh di Israel. Ahab mendirikan mezbah persembahan kepada dewa Baal, dan bangsa Israel diarahkan menyembah di mezbah tersebut.
Sebenarnya kehidupan sehari-hari semakin membaik, karena raja Ahab pintar menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan Punisia. Namun, yang menikmati pertumbuhan ekonomi itu hanya saudagar, hartawan dan kalangan pejabat. Sementara kaum ekonomi lemah dan masyarakat biasa semakin tertindas. Jurang pemisah di antara kaum elite dengan kaum miskin semakin dalam. Kehidupan keagamaan semakin bobrok. Kaum elit bangsa Israel menyembah dewa Baal, sehingga masyarakat bawah semakin tertindas.
Melihat situasi, nabi Elia tampil dengan berani menegor raja Ahab. Tanpa merasa segan dan takut dia mendatangi raja Ahab menyampaikan tegoran Tuhan. Itulah yang disampaikan natas ini. Keberanian Elia menegor raja, tentang ketidak khawatirannya tentang kehidupannya seharihari, adalah pesan yang disampaikan nats ini.
1. Berani menyatakan iman.
Karena kejahatan bangsa Israel semakin merajalela, Tuhan mengutus nabi Elia menyampaikan tegoran dan hukuman Tuhan kepada Ahab. Bangsa Israel dihukum, selama tiga setengah tahun, baik embun maupun hujan tidak turun di bumi Israel. Mendengar hukuman itu, Ahab marah kepada Elia, dia dikejarkejar untuk dibunuh.
Elia tidak gentar menyampaikan hukuman Tuhan kepada Ahab. Dia patuh melakukan perintah Tuhan. Elia tidak mengelak menjumpai Ahab, walaupun dia sudah mengetahui risiko tugas yang dia lakukan. Elia menyadari bahwa Ahab pasti marah dan tidak senang mendengar tegoran Elia. Namun dia patuh dan berani menjumpai Ahab. Kepatuhannya adalah bukti imannya kepada Tuhan.
Keberanian seperti itu yang diminta Tuhan dari orang Kristen. Orang Kristen, khususnya pada masa kini harus memerankan keberanian Elia. Kita dipanggil menjadi Elia masakini. Sebagai Elia masakini kita terpanggil menegor kebobrokan perilaku pejabat negara, kita terpanggil menjadi Elia masakini untuk menrgor situasi masyarakat dan bangsa kita. Tuhan menuntut dari kita keberanian menyatakan yang benar. Tuhan menuntut dari kita keberanian menyatakan iman.
Pada tahun 1997, seorang anak Sekolah Minggu HKBP, didaftarkan orangtuanya masuk di sebuah Taman Kanak-kanak (TK) di kota Bogor. Orangtuanya sadar bahwa pada umumnya anak-anak yang diasuh di TK tersebut adalah beragama Islam, walaupun TK itu bukan sekolah Islam. Namun karena uang masuk ke TK Kristen sangat mahal, terpaksa anak sekolah minggu tersebut didaftarkan ke TK yang Islami tersebut. Di hari pertama anak TK itu masuk kelas, gurunya berkata, "Anak anak, mari kita mangucapkan Bismillahirrahamanirrahim". Mendengar ajakan itu, anak sekolah minggu itu langsung berdiri dan protes, "Bu. Saya orang Kristen. Kenapa saya disuruh mengucapkan itu ?". Gurunya terkejut. Dia terkejut, karena dia tidak mengetahui di antara muridnya ada orang Kristen. Di samping itu, dia terkejut dan terkesima karena keberanian anak tersebut. Hanya sendiri orang Kristen, namun dia berani protes. Itu yang terutama membuat guru itu terkejut dan terkesima. Lalu gurunya, berkata, "Maaf. Kamu tidak ikut mengucapkannya, hanya yang muslim". Keberanian seperti itu yang diminta dari orang Kristen. Jangan gentar walaupun mereka lebih banyak dari kita. Ingat !. Sebagai "garam dunia", kita harus lebih sedikit dari mereka yang jumlahnya banyak. Perhatikan, bahwa garam satu sendok makan boleh membuat daging setengah kilo menjadi asin dan enak dinikmati. Tidak mungkin daging satu kilo diaduk dengan satu kilo garam. Itu tidak pernah dan tidak mungkin. Garam selalu lebih sedikit dibandingkan makanan yang digarami. Karena itu jangan gentar karena kita lebih sedikit dari mereka di Indonesia ini. Paulus berkata, "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (Rm. 8:31).
2. Tidak khawatir tentang kehidupan seharihari.
Karena raja Ahab marah mendengar tegoran Elia, Tuhan menyuruh Elia bersembunyi di tepi sungai Kerit, di sebelah timur Yordan. Tuhan berkata kepada Elia, "Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana" (ay.4). Elia patuh kepada perintah Tuhan. Dia tidak berkata, "Bagaimana mungkin burung gagak memberi aku makan", dia pasrah kepada Tuhan. Kurang lebih serahun Elia bersembunyi di tepi sungai Kerit, dia nyaman, dia berkecukupan dalam hal makanan, karena burung gagak disuruh Tuhan mengantar makanannya setiap pagi dan sore. Setelah satu tahun Elia bersembunyi di tepi sungai Kerit, sungai Kerit kering sehingga dia kesulitan air minum, sehingga Elia disuruh pergi ke Sarfat.
Sebelum Elia berangkat ke Sarfat, Tuhan meyakinkan Elia bahwa di Sarfat ada seorang janda mempersiapkan kebutuhannya. Elia tidak berkata, "Bagaimana mungkin seorang janda mampu memelihara saya. Seorang janda biasanya butuh bantuan orang lain". Elia tidak berkata, "Penduduk Sarfat adalah orang kafir. Bagaimana mungkin seorang kafir memiliki kasih atau bersedia menolong yang lain". Sedangkan orang yang percaya kepada Tuhan tidak mau menolong orang lain, apalagi orang kafir ?" Elia tidak berakata demikian. Dia percaya dan patuh kepada perintah Tuhan. Elia tidak khawatir tentang kebutuhannya seharihari.
Kepasrahan Elia kepada pemeliharaan Tuhan harus menjadi pedoman hidup bagi para hamba Tuhan. Jangan khawatir tentang kebutuhan hidup seharihari. Ke tempat manapun dan di situasi yang betapapun sulitnya, hamba Tuhan harus percaya bahwa Tuhan berkuasa memelihara hidupnya melalui burung gagak masakini. Di tempat manapun (di desa dan di kota), dan ditengah situasi apapun Tuhan pasti mengutus burung gagak memenuhi kebutuhan hidup hambanya.
Setelah Elia tiba di kota Sarfat, disana dia bertemu dengan seorang janda miskin yang sedang mencari kayu bakar. Elia menyuruh janda itu mempersiapkan makanan untuknya. Janda itu menjawab bahwa persiapan makanan dan minuman tidak dia punya, kecuali sedikit tepung roti dan minyak goreng. Setelah itu dia akan mati karena perbekalannya sudah minim. Janda itu memberikan jawaban berdasarkan rasio manusia. Menurut pikiran manusia, hidup manusia akan berakhir apabila tidak makan. Elia menguji iman janda itu dengan mendesak janda itu mempersiapkan makanan lebih dahulu untuknya. Elia ingin menguji iman janda itu. Ternyata janda itu percaya kepada Tuhan. Dia tidak khawatir tentang kehidupannya walaupun dia memberikan persiapannya yang sedikit itu untuk hamba Tuhan. Dia melalukannya karena dia percaya bahwa menjamu hamba Tuhan adalah menjamu Tuhan. Ternyata tepung roti yang sedikit itu tidak habis selama Elia tinggal dua setengah tahun di rumah janda itu. Tuhan memberkati yang sedikit itu menjadi banyak, sehingga janda itu hidup dan tidak benar mati seperti yang dia pikirkan. Tidak masuk akal manusia yang terjadi di Sarfat. Hanya sedikit tepung roti dan minyak, tetapi tidak habis-habisnya selama dua setengah tahun Elia menumpang di rumah janda itu. Memang tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Tuhan mampu memberkati gaji, hasil kerja kita yang sedikit itu, apabila kita pasrah menyerahkan diri kepadaNya. Kita sering berpikir seperti janda di Sarfat. Di dalam situasi kehidupan yang semakin sulit, karena kenaikan harga kebutuhan seharihari, kita sering mengeluh, "Bagaimana mungkin saya dengan keluarga mampu hidup dengan gaji yang sedikit ini". Ternyata kita boleh bertahan hidup walaupun penghasilan tidak bertambah, sementara harga kebutuhan pokok seharihari semakin naik membubung. Walapun gaji UMR (Upah Minimum Regional) seorang karyawan di Jakarta hanya Rp. 900.000 ternyata keluarga mampu membayar uang kontrakan rumah, membayar uang transport setiap hari, uang sekolah, kebutuhan adat dan pesta, persembahan ke gereja. Tidak masuk akal satu keluarga jumlahnya 5 orang, mampu hidup di Jakarta dengan penghasilan kurang lebih satu juta rupiah. Namun oleh pemeliharaan Tuhan kita boleh hidup walaupun penghasilan kita sedikit. Tanpa kita sadari hari, minggu, bulan boleh kita lalui dengan sukacita. Itulah bukti pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita. Itu tanda heran yang dilakukan Tuhan dalam hidup kita. Tidak masuk akal Pendeta pensiun HKBP mampu hidup hanya dengan uang pensiun Rp.500.000 ? Ternyata mungkin. Karena "Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya".
3. Menjadi berkat bagi orang lain.
Dua setengah tahun Elia tinggal di Sarfat, di rumah janda itu, walaupun perbekalan janda itu hanya sedikit tepung roti dan sedikit minyak. Mereka bertiga boleh dicukupkan perbekalan yang sedikit itu. Menurut akal manusia, janda bersama dengan anaknya akan mati setelah perbekalan yang sedikit itu habis, padahal Elia dan janda itu bukan menjadi kekurangan bahkan makanan mereka tidak habishabisnya. Muzijat itu terjadi karena janda itu patuh kepada kepada firman Tuhan, karena janda itu memberi tumpangan kepada hamba Tuhan.
Permintaan Elia supaya janda itu lebih dahulu mempersiapkan makanan kepada Elia, boleh saja diartikan permintaan yang egois. Namun itu hanya ujian kepada janda itu supaya dia percaya kepada pemeliharaan Tuhan atas kehidupannya. Ternyata, tepung roti yang sedikit itu tidak habishabisnya selama dua setengah tahun karena diberkati Tuhan. Itu bukti bahwa bukan karena usaha kita, kita boleh bertahan jidup; bukan karena usaha kita kebutuhan kita terpenuhi. Usaha kita mengumpulkan uang sebanyakbanyaknya tidak menjamin usia dan hidup kita, itu hanya alat melayani Tuhan dan sesama kita. Kita harus percaya kepada pemeliharaan Tuhan. Kita pasti tidak akan menjadi miskin dan tidak kekurangan makanan apabila kita rela memberikan sedikit dari yang kita miliki kepada orang yang membutuhkannya. Menolong sesama bukan menjadikan kita sengsara dan miskin, bahkan menjadikan kita semakin menerima banyak dari Tuhan.
Karena dimotivasi kekhawatiran, kita sering tidak rela memberikan banyak kepada kerajaan Tuhan. Kita sering pelit memberi persembahan mingguan, bulanan, karena khawatir perbekalan kita menjadi kurang dan sedikit. Dalam nats ini Elia meminta janda itu untuk lebih dahulu mempersiapkan makanan kepada Elia. Ternyata, walaupun janda itu lebih dahulu mempersiapkan makanan kepada Elia, makanan terus berlimpah, janda itu dan anaknya bukan menjadi lapar. Bahkan tepung roti dalam tempayan tidak habis dan minyak dalam bulibuli tidak kering.
Fakta itu memesankan, bahwa dengan memberi kepada orang lain, khususnya orang susah, bukan menjadikan kita kekurangan atau miskin, namun Tuhan memberikan berkatnya kepada kita berlimpah. Tuhan memberikan hidup serta berkat lainnya kepada kita supaya kita boleh menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan memberikan hidup dan memberkati usaha kita, supaya kita menjadi berkat bagi orang lain. Masing masing menerima berkat dari Tuhan sehingga dengan berkat itu kita boleh saling menolong. Iman kepada Tuhan kita perlihatkan melalui kasih kepada sesama, 1 Joh. 4, 20. Menurut Amsal 14, 31b, dan 19, 17, "Tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia"; dan Amsal 19, 17. "Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu". Amin.
Kotacane Aceh Tenggara
Pdt.T.P. Nababan, STh
Kamis, 27 Agustus 2009
BAHAN CERAMAH TEMA DAN SUB TEMA SINODE AM XVI GKPA PADANGSIDIMPUAN, 15-19 JULI 2009
“BERGIATLAH UNTUK PEKERJAAN TUHAN”
(1Korintus 15:58b)
Ramli SN Harahap
Teks:
ANGKOLA-MANDAILING LAI - TB KJV NOVUM
TESTAMENTUM
Hara ni i hamu ale angka dongan na nihaholongan, sai togu ma hamu jana hot. MARSITUTU MA MARKAREJO DI TUHAN, angke diboto hamu do, sude na nikarejohonmunu di Tuhan, nada sayang boti sudena i Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan GIATLAH SE-LALU DALAM PE-KERJAAN TUHAN! Sebab kamu tahu, bahwa dalam per-sekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia Therefore, my beloved brethren, be ye stedfast, un-moveable, ALWAYS ABOUNDING IN THE WORK OF THE LORD, forasmuch as ye know that your labour is not in vain in the Lord ωστε αδελφοι μου αγαπητοι εδραιοι γινεσθε αμετακινητοι περισσευοντες εν τω εργω του κυριου παντοτε ειδοτες οτι ο κοπος υμων ουκ εστιν κενος εν κυριω
PENDAHULUAN
Kita patut bersyukur pada perhelatan Sinode Am XVI GKPA ini kita kembali berkumpul dan bersatu bersama di Kantor Pusat Pusat Pembinaan GKPA ini untuk selama 5 hari yang dimulai sejak 15-19 Juli 2009. Tentunya sebelum Sinode Am ini dimulai sudah banyak persiapan yang kita lakukan baik di tingkat Parlagutan, Resort, Distrik maupun Pusat, untuk menghadiri dan memasuki setiap persidangan sinode ini. Sinode Am XVI GKPA kali ini merupakan Sinode Am Kerja, artinya tugas sinode ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan tugas amanah Sinode Am XV yang lalu, dan sekaligus memantapkan ulang tugas-tugas sinode periode 2006-2011.
Kehadiran peserta Sinode Am Kerja XVI GKPA ini diberi tugas untuk memantapkan pelayanan GKPA periode 2006-2011 yang diterangi tema: “BERGIATLAH UNTUK PEKERJAAN TUHAN” (1Korintus 15:58b). Tema Sinode Am GKPA ini menjadi fokus kita selama periode ini. Artinya, dalam periode ini yang dituntut dari kita semua warga jemaat GKPA, para Sintua, para Bibelvrou, Diakones, Guru Parlagutan dan Pendeta GKPA adalah bergiat untuk perkerjaan Tuhan.
Jika kita perhatikan tema-tema Sinode Am GKPA, maka kita akan melihat penekanan-penekanan khusus setiap periode GKPA demi mencapai pertumbuhan dan perkembangan GKPA.
TEMA
1986-1991 TEMA
1991-1996 TEMA
1996-2001 TEMA
2001-2006 TEMA
2006-2011
PERSEMBAHKANLAH TUBUHMU SEBAGAI PERSEMBAHAN YANG HIDUP (Rm.12:1) KEMANDIRIAN TEOLOGI, DAYA, DAN DANA BERTUMBUH BERSAMA MENUJU KEDEWASAAN DAN KEMANDIRIAN (Ef.4:11-16) AKU MENETAPKAN KAMU UNTUK MENGHASILKAN BUAH
(Yoh.15:16b) GIATLAH DALAM PEKERJAAN TUHAN (1Kor.15:58b)
Dari tema-tema sinode di atas, kita melihat bahwa pada awal kemandirian (panjaeon) GKPA (d/h. HKBP-A) tidak memiliki tema periode sebab pada awal kemandirian tersebut GKPA masih terfokus pada pembenahan pelayanan dan organisasi gereja. Namun sejak 1986, GKPA telah menetapkan tema-tema sinode am. Dengan tema-tema dimaksud, GKPA memiliki visi dan misi antar sinode untuk mencapai visi dan misi GKPA secara umum. Visi GKPA secara umum adalah “PATANAKHON HATA NI DEBATA DI LUAT ANGKOLA”.
Tema sinode kita diawali dengan mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, dengan mempersembahkan diri maka kita bisa mandiri di bidang teologi, daya, dan dana. Dengan adanya dasar teologi yang kuat di GKPA yang dibarengi peningkatan kualitas SDM pelayanan dan warga jemaat GKPA, serta dukungan seluruh warga jemaat GKPA dalam mendanai program pelayanan GKPA, maka GKPA diharapkan mampu bertumbuh secara bersama menuju kedewasaan dan kemandirian. Gereja dan warga jemaat yang sudah mandiri dan dewasalah diharapkan menghasilkan buah-buah yang tetap untuk menopang pertumbuhan GKPA. GKPA dan warga jemaat yang terus berbuah tetap itulah diharapkan mampu bergiat dalam perkerjaan Tuhan.
PENJELASAN TEKS
Kata giat dalam kata aslinya adalah perisseuontes (artinya: majulah). Kata giat ini dalam KUBI diberikan arti: (1) rajin, bergairah, dan bersemangat; (2) tangkas dan kuat. Sedangkan kata bergiat, artinya: berusaha dengan sungguh-sungguh. Giat berarti: aktivitas dalam pengertian setiap waktu, setiap saat, kapan pun, di mana pun juga dalam pekerjaan Tuhan harus ditandai dengan semangat. Dengan demikian, jika dikatakan bergiatlah, maka diharapkan dari kita supaya kita dengan rajin, bergairah dan bersemangat berusaha dengan sungguh-sungguh.
Untuk pekerjaan siapakah kita bergiat? Untuk perkerjaan Tuhan. Perhatikan kalimatnya, “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan”. Pekerjaan Tuhan itu bukanlah kita kerjakan untuk sekali saja, seminggu saja, sebulan saja, setahun saja, atau sepuluh tahun saja. Tetapi pekerjaan Tuhan itu kita kerjakan selalu. Kata “selalu” berarti terus-menerus, berkesinambungan, hingga akhir hidup kita.
Coba kita bayangkan, untuk kegiatan sebuah adat pernikahan, sebuah keluarga harus mempersiapkan segala sesuatunya agar keluarga tidak merasa malu dan dipermalukan di hadapan masyarakat yang hadir dalam pesta tersebut. Maka untuk mencapai kesuksesan pesta pernikahan itu maka setiap keluarga melaksanakan persiapan yang cukup matang, mulai dari ‘mangkhobar boru’ sampai kepada parbagashon boru’. Artinya, untuk sebuah pernikahan keluarga harus melaksanakan sebuah tahapan-tahap yang matang agar mereka tidak tercela di dalam masyarakat.
Demikianlah seharusnya dalam melaksanakan pekerjaan Tuhan. Kita harus mempersiapkan segala pelaksanaan pekerjaan Tuhan dengan sungguh-sungguh agar Tuhan tidak dipermalukan di hadapan umat, melainkan agar Tuhan dipermuliakan di hadapan umat. Dengan pengertian ini, maka setiap pelayanan kita di setiap jemaat, resort, distrik, pusat yang kita pimpin haruslah kita siapkan dengan begitu matang agar setiap apa yang kita laksanakan dalam pelayananan kita terasa bahwa nama Tuhan dipermuliakan.
Paulus mengatakan, “berdirilah teguh…jangan goyah”. Berdiri teguh itu adalah istilah yang dipakai dari akar kata duduk/kursi. Maka yang dimaksud Paulus di sini ialah bertahan, kuat, teguh. Sedangkan kata kedua yaitu ‘goyah’ itu istilah yang terkait dengan arti goncangan seperti goncangan gempa bumi maka jangan goyah berarti tidak goncang (unshakingly). Kita mengerti kalimat berdirilah teguh dan jangan goyah menyatakan hal yang bersifat defensif (bertahan). Paulus memberi nasihat pada jemaat di Korintus untuk bertahan. Paulus yang memberi nasihat ini berdasarkan konteks pasal ini yaitu perihal doktrinal, di mana maksudnya itu berdirilah teguh dan jangan digoyangkan oleh pengajaran sesat. Paulus memberi nasihat untuk berani bertahan karena Kristus pun pernah bertahan dan menang. Kebangkitan Kristus membangun pengharapan untuk bertahan. Bertahan di dalam pelayanan dan bertahan terhadap tantangan kedagingan. Maka dari itu hal yang paling sulit dalam penginjilan itu adalah bertahan terhadap dosa dan kedagingan. Supaya api penginjilan bisa tetap konsisten yaitu dengan bertahan terhadap kedagingan yang memudarkan api itu. Orang yang selesai ikut retreat penginjilan, pasti memiliki semangat/api yang bernyala-nyala. Setiap bertemu dengan orang tidak ada pembicaraan lain selain pembicaraan mengenai Injil. Tetapi ketika orang tersebut jatuh pada hal kedagingan, maka orang itu tidak lagi mencintai jiwa-jiwa, tidak lagi mencintai penginjilan, tidak lagi mencintai firman Tuhan. Bukan berarti tidak ada cinta atau cintanya berhenti, cintanya itu tetap ada, dan cinta itu tidak pernah berakhir. Perlu diingat bahwa cinta itu tidak pernah berakhir/berhenti tetapi beralih. Orang yang tidak lagi mencintai firman Tuhan, cintanya tetap ada namun telah beralih pada kedagingan/hal-hal duniawi. Salah satu sebab yang paling penting dari orang Kristen yang malas memberitakan Injil, adalah bertumbuhnya kasih akan hal-hal dunia.
Selanjutnya, Paulus mengatakan: “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan”. Kalimat ‘giatlah selalu’ itu harus kita kaitkan dengan istilah ‘jerih payah’ yang muncul di dalam kalimat terakhir di ayat 58. Kalimat ‘jerih payah’ ini seringkali dipakai Paulus dalam pelayanan seperti contohnya di Roma 16:12 (pada kata ‘bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan’). Akar kata ‘jerih payah’yang tertulis dalam surat 1 Korintus 15:58 memiliki kesamaan dengan akar kata ‘bekerja membanting tulang’ yang tertulis pada surat Roma 16:12. Bergiat itu artinya bekerja keras/bekerja mati-matian. Jikalau Kristus sudah menang dan bangkit, itu kemenangan yang terbesar, membangkitkan orang Kristen untuk berapi-api bekerja bagi Tuhan bukannya pasif. Semua orang Kristen harus militan. Bandingkan dengan orang komunis atau orang Saksi Yehuwa yang mempunyai sikap militan luar biasa.
Terakhir, Paulus mengatakan: “Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”. Pada ayat 13-14 dari pasal 15 ini dikatakan bahwa jikalau Kristus tidak bangkit maka pemberitaan kami sia-sia dan kepercayaanmu pun sia-sia. Paulus sudah membicarakannya bahwa bila Kristus tidak bangkit maka sia-sialah jerih payah kita. Kristus sudah jelas menang namun mengapa kita masih tidak berani berjerih payah bagiNya? Ingatlah, dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidaklah sia-sia. Tuhan pasti mengingat seluruh jerih payah kita di dalam pelayanan jauh melampaui manusia berdosa yang mengingat/menghitung jasa sesamanya yang turut berjerih payah bersama-sama.
BERGIATLAH UNTUK PEKERJAAN TUHAN
Dalam konteks ber-GKPA, apakah yang harus kita giatkan dan pekerjaan apa yang harus terus kita lakukan? Sebenarnya ada banyak hal yang harus kita kerjakan dengan giat secara terus menerus di dalam pelayanan GKPA baik secara organisasi gereja maupun pelayanan umat. Di bawah ini akan kita uraikan sebagian dari sekian banyak yang harus kita kerjakan di dalam ber-GKPA ini, yakni:
A. BERGIAT MEMPERTAJAM VISI DAN MISI GKPA
Sebelum membahas pertanyaan ini, saya mau mengajak kita kepada sebuah pertanyaan mendasar, yakni apakah visi dan misi GKPA? Pertanyaan ini perlu kita jawab secara pasti dan tegas. Mengapa? Karena dalam visi dan misi GKPA inilah tertuang pekerjaan Tuhan yang harus kita kerjakan dengan giat dan terus menerus.
Berdasarkan penelitian yang saya lakukan dalam seluruh dokumen-dokumen GKPA, tidak ditemukan secara tertulis visi dan misi GKPA ini. Visi dan misi GKPA hanya disampaikan secara “lisan” (oral) dari mulut ke mulut, namun tidak tercantum dalam Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA atau dalam dokumen GKPA lainnya. Kata para pendiri dan pelopor GKPA (founding fathers), visi GKPA adalah “PATANAKHON HATA NI DEBATA TU LUAT ANGKOLA” (MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN KE DAERAH ANGKOLA). Visi ini sungguh mulia. Itu makanya para pejuang panjaeon GKPA (d/h. HKBP-A) sangat bergiat dalam rangka memberitakan firman Tuhan ke daerah Angkola dengan cara menyumbang tenaga, pikiran, daya dan dana mereka agar penginjilan Firman Tuhan ke daeah Angkola yang tinggal di bona bulu semakin mantap dan baik. Mereka mau menyewakan rumahnya untuk dijadikan sebagai Kantor Pusat GKPA. Ada yang bekerja siang dan malam tanpa mengharap imbalan dari siapa pun. Artinya melalui visi GKPA ini, perhatian pelayanan GKPA adalah daerah Angkola-Mandailing bukan daerah perkotaan. Visi ini masih dipertahankan hingga 1990-an.
Namun seturut pergeseran waktu dan perkembangan jaman, visi dan misi GKPA pun turut bergeser. Perhatian pelayanan kita mulai bergerak dari desa ke kota. Bahkan perhatian pelayanan sudah sepenuhnya mulai mengarah ke daerah kota. Mengapa? Karena GKPA butuh perkembangan, karena GKPA ingin lebih besar, karena GKPA mau mengabarkan Injil ke pada orang-orang Angkola-Mandailing yang ada di perantauan agar mereka mendapatkan pelayanan dengan nuansa bahasa dan budaya Angkola-Mandailing di perantauan mereka. Akhirnya, mulailah GKPA mengembangkan pelayanannya untuk orang-orang Angkola-Mandailing di perantauannya.
GKPA juga tidak mau puas dengan hanya menginjili bagi orang-orang Angkola-Mandailing di perantauan, tetapi dengan semangan penginjilan yang luar biasa, GKPA juga membuka diri untuk suku-suku bangsa lain (misalnya: Toba, Nias, Jawa, Ambon, dll). GKPA bukan lagi gereja suku, melainkan GEREJA AM (TG ps.1). Gereja Am artinya bukan hanya gereja orang-orang Angkola-Mandailing saja, melainkan GEREJA SUKU BANGSA. Waulaupun nama organisasinya ada nama Angkola, itu hanya menampakkan identitas diri bahwa gereja kita tumbuh dan berada di daerah Angkola, tetapi pelayanannya kepada orang-orang kudus dan am.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka saya mengusulkan di dalam Sinode Am Kerja ini untuk mempertajam visi dan misi GKPA sebagai berikut:
1. Visi dan misi GKPA agar dituangkan dalam TG dan TL GKPA
2. Visi dan misi GKPA dipertajam sebagai berikut:
VISI GKPA WAKTU PANJAEON:
“PATANAKHON HATA NI DEBATA TU LUAT ANGKOLA”
(MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN KE DAERAH ANGKOLA)
USUL PERUBAHAN VISI GKPA:
“PATANAKHON HATA NI DEBATA TU HALAK ANGKOLA DOHOT TU SUDE NA BANGSO”
(MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN KEPADA ORANG ANGKOLA DAN KEPADA SUKU-SUKU BANGSA).
Pertajaman visi ini akan memperlihatkan bahwa GKPA bukan hanya terfokus lagi kepada pelayanan geografis Angkola saja tetapi mengembang ke lintas geografis di dunia ini untuk menjangkau orang-orang Angola dan suku-suku bangsa dunia ini. GKPA menjadi gereja yang mendunia walau berkantor pusat di Padangsidimpuan.
Untuk mencapai visi GKPA ini, maka kita harus mencapai dan mewujudkannya melalui misi GKPA. Misi GKPA ini harus tertuang dalam periode-periode kepemimpinan GKPA. Usulan saya sebagai misi GKPA adalah:
MISI GKPA:
a. Memberitakan Firman Allah supaya Firman Allah tersebut didengar, dipelihara dan dilaksanakan sebagai sumber kebahagiaan (Lukas 11:28).
b. Bersaksi, menegakkan dan mempertahankan KABAR BAIK sampai akhir zaman (Wahyu 2:10), bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya JALAN, KEBENARAN dan HIDUP (Yohanes 14:6).
c. Menyatakan kuasa Allah melalui pelayanan dalam masyarakat agar Firman Allah semakin bertumbuh dan berkembang.
d. Meningkatkan dan mengembangkan kesadaran dan kemampuan GKPA sebagai Gereja yang mandiri.
e. Untuk mencapai visi GKPA, maka GKPA bermisi menjadi gereja yang:
1. Giat
2. Kudus
3. Pemberita Injil (Patanakhon hata ni Debata)
4. Am (menyeluruh tanpa memandang suku)
B. BERGIAT MEMBENAHI GKPA
GKPA sebagai institusi memerlukan penatalayanan-penatalayanan baik penatalayanan organisasi gereja maupun penatalayanan pelayanan kepada warga jemaat GKPA. Karena itu tugas membenahi GKPA tidak bisa dikerjakan hanya sekali saja, melainkan pembenahan itu dikerjakan terus menerus hingga mencapai kesempurnaannya. Apa-apa saja yang perlu kita benahi?
1. Melayani sesuai aturan GKPA. Artinya, jika kita sebagai warga jemaat, bersikaplah sebagai warga jemaat, jika kita sebagai sintua, bekerjalah sebagai sintua, jika sebagai pendeta, melayanilah sebagai pendeta. Karena sudah diatur segala bentuk pelayanan kita dalam Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA. Jika sudah waktunya pensiun, ya pensiunlah, jangan lagi memaksakan diri untuk melakukan pelayanan itu biar GKPA ini semakin maju.
2. Benahi Aturan Peraturan yang baik. GKPA sebagai lembaga gereja harus memiliki jenjang hukum yang jelas dan tegas, mulai dari Keputusan Sinode, Keputusan Pucuk Pimpinan, Keputusan Ephorus, Keputusan Praeses, dan Keputusan Pendeta Resort. Dengan penetapan posisi keputusan ini, maka keputusan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan keputusan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, tidak boleh jabatan yang lebih rendah membatalkan keputusan yang lebih tinggi.
3. Benahi teologi dan doktrin GKPA. Teologi dan doktrin GKPA harus dijaga kemurniannya oleh seluruh warga GKPA agar GKPA semakin kuat dalam menghadapi perkembangan teologi jaman sekarang. GKPA dalam merumuskan dan menetapkan setiap teologi dan doktrin harus melalui sebuah sinode am (konsili) agar seluruh warga jemaat memahami dan menerimanya. Misalnya, dalam penetapan “Pangokuon Haporsayaan GKPA” (Pengakuan Iman) dari “Au porsaya di Debata Ama NA GUMOGO” menjadi “Au porsaya di Debata NA SUN MARKUASO”. “Au porsaya di Jesus Kristus... na manaon parhancita taran Pontius Silatus PARUHUM...” menjadi “Au porsaya di Jesus Kristus... na manaon parhancita taran Pontius Silatus...???”. Dalam bahasa Indonesia kalimatnya ada yang dihilangkan seperti: “Aku percaya kepada Yesus Kristus... yang menderita SENGSARA di bawah...” menjadi “Aku percaya kepada Yesus Kristus... yang menderita ??? di bawah...”. Dengan diberlakukannya AGENDA GKPA 1997, warga jemaat dibingungkan karena pemberlakuannya tidak melalui sinode am. Hal yang sama juga harus kita perhatikan dengan Logo, Lagu Mars GKPA dan Hymne GKPA. Logo, lagu Mars dan Hymne GKPA agar dimasukkan dalam TG & TL GKPA.
4. Benahi Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA. Dalam TG dan TL GKPA masih banyak yang harus kita benahi dengan semakin berkembangnya organisasi GKPA. Misalnya:
a. Utusan sinode am. Dulu GKPA belum memiliki distrik, sehingga utusan sinode hanya dari tingkat resort saja. Sekarang GKPA sudah memiliki distrik, namun utusan distrik untuk sinode am tidak ada.
b. Istilah sinode am. Istilah ini tidak tepat dipakai di dalam TG dan TL GKPA sebab kita tidak mengenal istilah sinode distrik dan resort. Sinode Am ada jika di bawahnya ada sinode-sinode lain seperti sinode distrik, sinode resort, sehingga sinode tertinggi adalah sinode am. Sementara dalam TG dan TL GKPA diaturkan hanya rapat Parlagutan, rapat resort dan rapat distrik, tapi di tingkat pusat tiba-tiba disebut sinode am, seharusnya yang cocok harus rapat pusat bukan sinode am.
c. Perlu ditambahkan dalam TG GKPA Bab IV psl.9: Pengakuan Iman (Konfesi) GKPA karena GKPA memiliki pengakuan iman itu yang harus disosialisasikan dalam tubuh GKPA.
d. Penyempurnaan Struktur GKPA. Pengertian dan struktur GKPA harus dibenahi agar resort itu memiliki jemaat induk yang tidak terpisahkan dari jemaat filial (pagaran)-nya.
e. Mempersiapkan Kode Etik Pelayan Gerejawi GKPA. Kode Etik Pelayan Gerejawi ini akan mengatur pola pelayanan yang semakin baik.
C. BERGIAT MENGEMBANGKAN GKPA
GKPA sebagai gereja harus mampu berdiri sejajar dengan gereja-gereja lain yang ada di Indonesia dan bahkan dunia ini. GKPA yang berkantor pusat di Kota Padangsidimpuan ini harus diperhitungkan oleh gereja lain dengan kualitas dan kuantitas SDM warga jemaat dan pelayan GKPA.
Bagaimanakah caranya agar GKPA bisa diperhitungkan dan berdiri sejajar dengan gereja lain?
C.1. Aku Cintai GKPA dan bangga menjadi warga jemaat GKPA. Kita harus merasa bangga sebagai warga jemaat GKPA. Saksikan kepada orang lain bahwa Anda adalah warga GKPA, dengan demikian orang lain akan tertarik menjadi warga jemaat GKPA. Ceritakan yang terbaik dari GKPA, jangan menjelek-jelekkan GKPA. Jika ada kejelekan GKPA, tugasmulah untuk memperbaikinya agar tidak jelek, tetapi menjadi tampan dan cantik. Aku Cinta GKPA adalah aku melakukan sebuah aksi/kegiatan aktif terhadap GKPA (manusianya baik secara universal, lokal maupun individual), berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan oleh GKPA. Aku Cinta GKPA harus diwujudkan melalui empat syarat yaitu: 1. Knowledge (pengenalan) 2. Responsibilty (tanggung jawab) 3. Care (perhatian) dan 4. Respect (saling menghormati).
Aku cinta GKPA berarti:
1. Aku harus mengenal GKPA (Knowledge). Apa yang harus kita kenal di GKPA ini? Kita harus mengenal: a) Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA, b) Bibel Angkola-Mandailing, c) Buku Agenda GKPA, d) Buku Ende Angkola-Mandailing, e) RPP GKPA (Hukum Siasat Gereja), f) Konfesi GKPA, g) Peraturan Kepegawaian GKPA, h) Almanak GKPA, i) Sioban Barita GKPA, j) Kalender GKPA, k) buku-buku terbitan GKPA, k) dan tak kalah pentingnya lagi, kita harus mengenal PENDETA GKPA.
2. Aku harus bertanggung jawab kepada GKPA (Responsibility). Berdasarkan Tata Laksana GKPA, setiap anggota Parlagutan wajib: a) Hidup sebagai murid Yesus Kristus, dengan menyatakannya melalui kelakuan dan perbuatan yang terpuji, memegang teguh ajaran Alkitab, serta memuliakan Nama Juru Selamat, Tuhan Yesus Kristus dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati dalam hidupnya. b) Setia mengikuti kebaktian Minggu dan kebaktian lainnya yang telah ditentukan oleh GKPA. c) Bertanggung jawab dalam mewujudkan persekutuan, pelayanan, perbuatan kasih dan kesaksian Gereja dengan jalan mengambil bagian dalam semua kegiatan dan pelayanan dilingkungan Parlagutan. d) Mendukung kegiatan dan pelayanan Parlagutan dengan doa dan dana melalui persembahan dan paritisipasi, termasuk mempersembahkan daya, pikiran dan talenta yang dimiliki. e) Membawa anaknya menerima Baptisan Kudus, membimbing dan mendidik anaknya didalam pengenalan kepada Yesus Kristus antara lain dengan mengikutsertakannya pada Sekolah Minggu dan pelajar sidi (katekisasi). f) Mengikuti dan ambil bagian dalam Sakramen Perjamuan Kudus bagi setiap Anggota Sidi. g) Mentaati Tata Gereja, Tata Laksana dan setiap Peraturan lainnya yang berlaku dalam lingkungan GKPA. h) Memelihara dan melestarikan perdamaian, keadilan, lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan Tuhan untuk kesejahteraan hidup umat manusia. i) Membina dan memantapkan kerukunan hidup beragama dan patuh pada hukum serta peraturan Pemerintah RI sebagai pengamalan ajaran Kristen dan Pancasila. j) Melunasi kewajiban keuangan/natura kepada GKPA melalui Majelis Parlagutan ditempat dia menjadi anggota. Bahkan aturan ini diperjelas lagi dalam RPP GKPA Bab II.A. ps.1 tentang IBADAH MINGGU:
a. Jemaat berkewajiban untuk setia mengikuti ibadah minggu dan persekutuan yang dilakukan Jemaat untuk menunjukka kerajinan dan persekutuan kepada Allah dan teman seiman (Ibr. 10:25).
b. Sebaiknya warga jemaat jangan melaksanakan pesta adat pada hari Minggu dan hari raya Kristen, yang membuat orang terganggu beribadah (Kel. 20:8-1).
c. Hukum penggembalaan/siasat akan dikenakan kepada Jemaat yang sudah 6 (enam) bulan tidak pernah ke Gereja (dan kebaktian-kebaktian yang lain) di dalam Jemaat setelah beberapa kali dinasihati Majelis Parlagutan.
d. Hukum penggembalaan/siasat dikenakan kepada Parhobas Parlagutan (Sintua, Pendeta, Gr.Parl.) yang sudah 3 (tiga) bulan terus-menerus tidak ke Gereja (dan kebaktian-kebaktian lainnya) di dalam Parlagutan setelah beberapa kali dinasihati Majelis Parlagutan dan disetujui Pendeta Resort.
e. Hukum penggembalaan/siasat dikenakan kepada Parhobas Parlagutan yang sudah 3 (tiga) bulan terus-menerus tidak mau melayani di Gereja (dan kebaktian-kebaktian lainnya) di dalam Parlagutan setelah beberapa kali dinasihati Majelis Parlagutan dan disetujui Pendeta Resort.
3. Aku harus perhatian kepada GKPA (Care). Sebagai orang yang benar-benar cinta kepada GKPA kita harus memperhatikan pertumbuhan gereja itu secara mendalam. Jika terlihat tidak bertumbuh maka kita “pupuk” rohani, “siraman” rohani, “sentuhan” rohani, “sapaan” rohani. Perhatian ini harus datang dari kedua belah pihak. Jemaat memperhatikan gereja, dan gereja juga harus memperhatikan jemaat Tuhan.
4. Aku harus menghormati GKPA (Respect). Menghormati GKPA artinya kita menjaga nama baik GKPA di setiap perilaku kehidupan kita. Menghormati GKPA juga berarti kita tidak malu menjadi warga jemaat GKPA, namun sebagai warga jemaat GKPA kita berani tampil di tengah-tengah dunia sebagai saksi Kristus.
C.2. Ikuti kemajuan dan perkembangan jaman. GKPA sebagai organisasi yang tinggal di dunia ini harus bisa memakai kemajuan jaman dan teknologi dalam tugas pelayanannya. Sudah saatnya GKPA memiliki website GKPA agar semakin dikenal di dunia maya. Coba kita bayangkan, warung-warung kopi saja sudah memiliki websitenya sendiri untuk menarik para pembelinya datang ke warung kopinya. Mengapa GKPA tidak pakai media elektronik ini untuk mengembangkan GKPA dan menarik orang-orang Angkola-Mandailing dan suku bangsa lain masuk dan mengenal GKPA? Karena itu, melalui sinode ini diharapkan uluran tangan para peserta yang mau terbeban untuk mendukung pelayanan ini, agar GKPA bisa berdiri sejajar dengan gereja lain.
C.3. Jangan jago kandang. Agar GKPA dikenal orang, maka jangan merasa sudah puas dengan apa yang ada di di GKPA. Banyak para warga jemaat dan pelayan GKPA sudah merasa puas dengan apa yang ada di GKPA sekarang sehingga tidak ada lagi inovasi baru dalam pengembangan GKPA. Bahkan yang lebih aneh dan tragis, karena tidak bisa lagi mengembangkan diri, maka para sintua jadi sibuk membentak-bentak pendetanya, karena merasa diri lebih hebat dari sang pendetanya. Itu namanya jago kandang. Kalau memang hebat jangan bentak pendetamu, tetapi bentak kebodohanmu agar pergi dari dirimu, supaya Anda menjadi pinta dan bisa dipakai orang. Artinya, GKPA sudah saatnya memikirkan pengembangan pelayanannya ke lembaga-lembaga lain, misalnya dengan mengutus para pendeta melayani di lembaga-lembaga agar GKPA semakin dikenal oleh dunia lain.
D. BERGIAT MEMBERI YANG TERBAIK BAGI GKPA
GKPA tidak akan bisa maju dan berkembang jika warga jamaat dan para pelayan gerejawi tidak memberi yang terbaik bagi GKPA. Memberi yang terbaik bagi GKPA itu berarti kita memberi yang tebaik untuk Tuhan. Memberi yang terbaik bagi GKPA bukan berarti mencatat apa yang telah kita berikan buat GKPA. Tetapi memberi yang terbaik bagi GKPA adalah dengan kerelaan dan hati yang tulus iklas. Memberi yang terbaik bagi GKPA bukan untuk diperhitungkan sebagai balas jasa. Jika ku beri yang terbaik bagi GKPA (baca: Tuhan) maka GKPA akan memberikan yang terbaik bagiku. Bukan. Sebab GKPA tidak bisa memberi yang terbaik bagi kita. Tetapi Tuhan pasti memberi yang terbaik bagi kita. Kita memberi bagi GKPA karena kita sudah merasa pertolongan Tuhan bagi kita. Kebaikan kita didasarkan atas keselamatan yang telah kita peroleh dari Tuhan.
Memberi yang terbaik bagi GKPA berarti memakai setiap waktu dan pertemuan dengan sebaik-baiknya demi kemajuan dan perkembangan GKPA. Artinya, jika kita datang ke sinode ini, itu berarti kita adalah orang pilihan dan orang terbaik dari parlagutan, resort dan distrik kita masing-masing. Sebagai orang-orang pilihan dan terbaik, maka kita juga harus bisa memberikan yang terbaik kepada GKPA dalam sinode ini. Bagaimana caranya? Ya, selama sinode ini berlangsung, jangan ada yang melakukan “sinode” di dalam “Sinode”. Artinya, ruangan tempat bersidang kita jangan ditambahi di ruang kantin, di ruang lain atau di kampung kita. Pakailah waktu yang baik ini saling memberi pemikiran, memberi ide, memberi masukan, dan memberi uang untuk GKPA agar GKPA semakin maju dan berkembang. Jangan beri lagi kritikan, cercaan, tuduhan, fitnahan bagi GKPA, karena kita tidak butuh itu lagi. GKPA sekarang butuh solusi, pemikiran, ide-ide yang terbaik demi memajukan pemberitaan firman Tuhan di dunia ini. Karena itu, giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan. Selamat bersinode.
(1Korintus 15:58b)
Ramli SN Harahap
Teks:
ANGKOLA-MANDAILING LAI - TB KJV NOVUM
TESTAMENTUM
Hara ni i hamu ale angka dongan na nihaholongan, sai togu ma hamu jana hot. MARSITUTU MA MARKAREJO DI TUHAN, angke diboto hamu do, sude na nikarejohonmunu di Tuhan, nada sayang boti sudena i Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan GIATLAH SE-LALU DALAM PE-KERJAAN TUHAN! Sebab kamu tahu, bahwa dalam per-sekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia Therefore, my beloved brethren, be ye stedfast, un-moveable, ALWAYS ABOUNDING IN THE WORK OF THE LORD, forasmuch as ye know that your labour is not in vain in the Lord ωστε αδελφοι μου αγαπητοι εδραιοι γινεσθε αμετακινητοι περισσευοντες εν τω εργω του κυριου παντοτε ειδοτες οτι ο κοπος υμων ουκ εστιν κενος εν κυριω
PENDAHULUAN
Kita patut bersyukur pada perhelatan Sinode Am XVI GKPA ini kita kembali berkumpul dan bersatu bersama di Kantor Pusat Pusat Pembinaan GKPA ini untuk selama 5 hari yang dimulai sejak 15-19 Juli 2009. Tentunya sebelum Sinode Am ini dimulai sudah banyak persiapan yang kita lakukan baik di tingkat Parlagutan, Resort, Distrik maupun Pusat, untuk menghadiri dan memasuki setiap persidangan sinode ini. Sinode Am XVI GKPA kali ini merupakan Sinode Am Kerja, artinya tugas sinode ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan tugas amanah Sinode Am XV yang lalu, dan sekaligus memantapkan ulang tugas-tugas sinode periode 2006-2011.
Kehadiran peserta Sinode Am Kerja XVI GKPA ini diberi tugas untuk memantapkan pelayanan GKPA periode 2006-2011 yang diterangi tema: “BERGIATLAH UNTUK PEKERJAAN TUHAN” (1Korintus 15:58b). Tema Sinode Am GKPA ini menjadi fokus kita selama periode ini. Artinya, dalam periode ini yang dituntut dari kita semua warga jemaat GKPA, para Sintua, para Bibelvrou, Diakones, Guru Parlagutan dan Pendeta GKPA adalah bergiat untuk perkerjaan Tuhan.
Jika kita perhatikan tema-tema Sinode Am GKPA, maka kita akan melihat penekanan-penekanan khusus setiap periode GKPA demi mencapai pertumbuhan dan perkembangan GKPA.
TEMA
1986-1991 TEMA
1991-1996 TEMA
1996-2001 TEMA
2001-2006 TEMA
2006-2011
PERSEMBAHKANLAH TUBUHMU SEBAGAI PERSEMBAHAN YANG HIDUP (Rm.12:1) KEMANDIRIAN TEOLOGI, DAYA, DAN DANA BERTUMBUH BERSAMA MENUJU KEDEWASAAN DAN KEMANDIRIAN (Ef.4:11-16) AKU MENETAPKAN KAMU UNTUK MENGHASILKAN BUAH
(Yoh.15:16b) GIATLAH DALAM PEKERJAAN TUHAN (1Kor.15:58b)
Dari tema-tema sinode di atas, kita melihat bahwa pada awal kemandirian (panjaeon) GKPA (d/h. HKBP-A) tidak memiliki tema periode sebab pada awal kemandirian tersebut GKPA masih terfokus pada pembenahan pelayanan dan organisasi gereja. Namun sejak 1986, GKPA telah menetapkan tema-tema sinode am. Dengan tema-tema dimaksud, GKPA memiliki visi dan misi antar sinode untuk mencapai visi dan misi GKPA secara umum. Visi GKPA secara umum adalah “PATANAKHON HATA NI DEBATA DI LUAT ANGKOLA”.
Tema sinode kita diawali dengan mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, dengan mempersembahkan diri maka kita bisa mandiri di bidang teologi, daya, dan dana. Dengan adanya dasar teologi yang kuat di GKPA yang dibarengi peningkatan kualitas SDM pelayanan dan warga jemaat GKPA, serta dukungan seluruh warga jemaat GKPA dalam mendanai program pelayanan GKPA, maka GKPA diharapkan mampu bertumbuh secara bersama menuju kedewasaan dan kemandirian. Gereja dan warga jemaat yang sudah mandiri dan dewasalah diharapkan menghasilkan buah-buah yang tetap untuk menopang pertumbuhan GKPA. GKPA dan warga jemaat yang terus berbuah tetap itulah diharapkan mampu bergiat dalam perkerjaan Tuhan.
PENJELASAN TEKS
Kata giat dalam kata aslinya adalah perisseuontes (artinya: majulah). Kata giat ini dalam KUBI diberikan arti: (1) rajin, bergairah, dan bersemangat; (2) tangkas dan kuat. Sedangkan kata bergiat, artinya: berusaha dengan sungguh-sungguh. Giat berarti: aktivitas dalam pengertian setiap waktu, setiap saat, kapan pun, di mana pun juga dalam pekerjaan Tuhan harus ditandai dengan semangat. Dengan demikian, jika dikatakan bergiatlah, maka diharapkan dari kita supaya kita dengan rajin, bergairah dan bersemangat berusaha dengan sungguh-sungguh.
Untuk pekerjaan siapakah kita bergiat? Untuk perkerjaan Tuhan. Perhatikan kalimatnya, “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan”. Pekerjaan Tuhan itu bukanlah kita kerjakan untuk sekali saja, seminggu saja, sebulan saja, setahun saja, atau sepuluh tahun saja. Tetapi pekerjaan Tuhan itu kita kerjakan selalu. Kata “selalu” berarti terus-menerus, berkesinambungan, hingga akhir hidup kita.
Coba kita bayangkan, untuk kegiatan sebuah adat pernikahan, sebuah keluarga harus mempersiapkan segala sesuatunya agar keluarga tidak merasa malu dan dipermalukan di hadapan masyarakat yang hadir dalam pesta tersebut. Maka untuk mencapai kesuksesan pesta pernikahan itu maka setiap keluarga melaksanakan persiapan yang cukup matang, mulai dari ‘mangkhobar boru’ sampai kepada parbagashon boru’. Artinya, untuk sebuah pernikahan keluarga harus melaksanakan sebuah tahapan-tahap yang matang agar mereka tidak tercela di dalam masyarakat.
Demikianlah seharusnya dalam melaksanakan pekerjaan Tuhan. Kita harus mempersiapkan segala pelaksanaan pekerjaan Tuhan dengan sungguh-sungguh agar Tuhan tidak dipermalukan di hadapan umat, melainkan agar Tuhan dipermuliakan di hadapan umat. Dengan pengertian ini, maka setiap pelayanan kita di setiap jemaat, resort, distrik, pusat yang kita pimpin haruslah kita siapkan dengan begitu matang agar setiap apa yang kita laksanakan dalam pelayananan kita terasa bahwa nama Tuhan dipermuliakan.
Paulus mengatakan, “berdirilah teguh…jangan goyah”. Berdiri teguh itu adalah istilah yang dipakai dari akar kata duduk/kursi. Maka yang dimaksud Paulus di sini ialah bertahan, kuat, teguh. Sedangkan kata kedua yaitu ‘goyah’ itu istilah yang terkait dengan arti goncangan seperti goncangan gempa bumi maka jangan goyah berarti tidak goncang (unshakingly). Kita mengerti kalimat berdirilah teguh dan jangan goyah menyatakan hal yang bersifat defensif (bertahan). Paulus memberi nasihat pada jemaat di Korintus untuk bertahan. Paulus yang memberi nasihat ini berdasarkan konteks pasal ini yaitu perihal doktrinal, di mana maksudnya itu berdirilah teguh dan jangan digoyangkan oleh pengajaran sesat. Paulus memberi nasihat untuk berani bertahan karena Kristus pun pernah bertahan dan menang. Kebangkitan Kristus membangun pengharapan untuk bertahan. Bertahan di dalam pelayanan dan bertahan terhadap tantangan kedagingan. Maka dari itu hal yang paling sulit dalam penginjilan itu adalah bertahan terhadap dosa dan kedagingan. Supaya api penginjilan bisa tetap konsisten yaitu dengan bertahan terhadap kedagingan yang memudarkan api itu. Orang yang selesai ikut retreat penginjilan, pasti memiliki semangat/api yang bernyala-nyala. Setiap bertemu dengan orang tidak ada pembicaraan lain selain pembicaraan mengenai Injil. Tetapi ketika orang tersebut jatuh pada hal kedagingan, maka orang itu tidak lagi mencintai jiwa-jiwa, tidak lagi mencintai penginjilan, tidak lagi mencintai firman Tuhan. Bukan berarti tidak ada cinta atau cintanya berhenti, cintanya itu tetap ada, dan cinta itu tidak pernah berakhir. Perlu diingat bahwa cinta itu tidak pernah berakhir/berhenti tetapi beralih. Orang yang tidak lagi mencintai firman Tuhan, cintanya tetap ada namun telah beralih pada kedagingan/hal-hal duniawi. Salah satu sebab yang paling penting dari orang Kristen yang malas memberitakan Injil, adalah bertumbuhnya kasih akan hal-hal dunia.
Selanjutnya, Paulus mengatakan: “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan”. Kalimat ‘giatlah selalu’ itu harus kita kaitkan dengan istilah ‘jerih payah’ yang muncul di dalam kalimat terakhir di ayat 58. Kalimat ‘jerih payah’ ini seringkali dipakai Paulus dalam pelayanan seperti contohnya di Roma 16:12 (pada kata ‘bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan’). Akar kata ‘jerih payah’yang tertulis dalam surat 1 Korintus 15:58 memiliki kesamaan dengan akar kata ‘bekerja membanting tulang’ yang tertulis pada surat Roma 16:12. Bergiat itu artinya bekerja keras/bekerja mati-matian. Jikalau Kristus sudah menang dan bangkit, itu kemenangan yang terbesar, membangkitkan orang Kristen untuk berapi-api bekerja bagi Tuhan bukannya pasif. Semua orang Kristen harus militan. Bandingkan dengan orang komunis atau orang Saksi Yehuwa yang mempunyai sikap militan luar biasa.
Terakhir, Paulus mengatakan: “Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”. Pada ayat 13-14 dari pasal 15 ini dikatakan bahwa jikalau Kristus tidak bangkit maka pemberitaan kami sia-sia dan kepercayaanmu pun sia-sia. Paulus sudah membicarakannya bahwa bila Kristus tidak bangkit maka sia-sialah jerih payah kita. Kristus sudah jelas menang namun mengapa kita masih tidak berani berjerih payah bagiNya? Ingatlah, dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidaklah sia-sia. Tuhan pasti mengingat seluruh jerih payah kita di dalam pelayanan jauh melampaui manusia berdosa yang mengingat/menghitung jasa sesamanya yang turut berjerih payah bersama-sama.
BERGIATLAH UNTUK PEKERJAAN TUHAN
Dalam konteks ber-GKPA, apakah yang harus kita giatkan dan pekerjaan apa yang harus terus kita lakukan? Sebenarnya ada banyak hal yang harus kita kerjakan dengan giat secara terus menerus di dalam pelayanan GKPA baik secara organisasi gereja maupun pelayanan umat. Di bawah ini akan kita uraikan sebagian dari sekian banyak yang harus kita kerjakan di dalam ber-GKPA ini, yakni:
A. BERGIAT MEMPERTAJAM VISI DAN MISI GKPA
Sebelum membahas pertanyaan ini, saya mau mengajak kita kepada sebuah pertanyaan mendasar, yakni apakah visi dan misi GKPA? Pertanyaan ini perlu kita jawab secara pasti dan tegas. Mengapa? Karena dalam visi dan misi GKPA inilah tertuang pekerjaan Tuhan yang harus kita kerjakan dengan giat dan terus menerus.
Berdasarkan penelitian yang saya lakukan dalam seluruh dokumen-dokumen GKPA, tidak ditemukan secara tertulis visi dan misi GKPA ini. Visi dan misi GKPA hanya disampaikan secara “lisan” (oral) dari mulut ke mulut, namun tidak tercantum dalam Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA atau dalam dokumen GKPA lainnya. Kata para pendiri dan pelopor GKPA (founding fathers), visi GKPA adalah “PATANAKHON HATA NI DEBATA TU LUAT ANGKOLA” (MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN KE DAERAH ANGKOLA). Visi ini sungguh mulia. Itu makanya para pejuang panjaeon GKPA (d/h. HKBP-A) sangat bergiat dalam rangka memberitakan firman Tuhan ke daerah Angkola dengan cara menyumbang tenaga, pikiran, daya dan dana mereka agar penginjilan Firman Tuhan ke daeah Angkola yang tinggal di bona bulu semakin mantap dan baik. Mereka mau menyewakan rumahnya untuk dijadikan sebagai Kantor Pusat GKPA. Ada yang bekerja siang dan malam tanpa mengharap imbalan dari siapa pun. Artinya melalui visi GKPA ini, perhatian pelayanan GKPA adalah daerah Angkola-Mandailing bukan daerah perkotaan. Visi ini masih dipertahankan hingga 1990-an.
Namun seturut pergeseran waktu dan perkembangan jaman, visi dan misi GKPA pun turut bergeser. Perhatian pelayanan kita mulai bergerak dari desa ke kota. Bahkan perhatian pelayanan sudah sepenuhnya mulai mengarah ke daerah kota. Mengapa? Karena GKPA butuh perkembangan, karena GKPA ingin lebih besar, karena GKPA mau mengabarkan Injil ke pada orang-orang Angkola-Mandailing yang ada di perantauan agar mereka mendapatkan pelayanan dengan nuansa bahasa dan budaya Angkola-Mandailing di perantauan mereka. Akhirnya, mulailah GKPA mengembangkan pelayanannya untuk orang-orang Angkola-Mandailing di perantauannya.
GKPA juga tidak mau puas dengan hanya menginjili bagi orang-orang Angkola-Mandailing di perantauan, tetapi dengan semangan penginjilan yang luar biasa, GKPA juga membuka diri untuk suku-suku bangsa lain (misalnya: Toba, Nias, Jawa, Ambon, dll). GKPA bukan lagi gereja suku, melainkan GEREJA AM (TG ps.1). Gereja Am artinya bukan hanya gereja orang-orang Angkola-Mandailing saja, melainkan GEREJA SUKU BANGSA. Waulaupun nama organisasinya ada nama Angkola, itu hanya menampakkan identitas diri bahwa gereja kita tumbuh dan berada di daerah Angkola, tetapi pelayanannya kepada orang-orang kudus dan am.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka saya mengusulkan di dalam Sinode Am Kerja ini untuk mempertajam visi dan misi GKPA sebagai berikut:
1. Visi dan misi GKPA agar dituangkan dalam TG dan TL GKPA
2. Visi dan misi GKPA dipertajam sebagai berikut:
VISI GKPA WAKTU PANJAEON:
“PATANAKHON HATA NI DEBATA TU LUAT ANGKOLA”
(MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN KE DAERAH ANGKOLA)
USUL PERUBAHAN VISI GKPA:
“PATANAKHON HATA NI DEBATA TU HALAK ANGKOLA DOHOT TU SUDE NA BANGSO”
(MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN KEPADA ORANG ANGKOLA DAN KEPADA SUKU-SUKU BANGSA).
Pertajaman visi ini akan memperlihatkan bahwa GKPA bukan hanya terfokus lagi kepada pelayanan geografis Angkola saja tetapi mengembang ke lintas geografis di dunia ini untuk menjangkau orang-orang Angola dan suku-suku bangsa dunia ini. GKPA menjadi gereja yang mendunia walau berkantor pusat di Padangsidimpuan.
Untuk mencapai visi GKPA ini, maka kita harus mencapai dan mewujudkannya melalui misi GKPA. Misi GKPA ini harus tertuang dalam periode-periode kepemimpinan GKPA. Usulan saya sebagai misi GKPA adalah:
MISI GKPA:
a. Memberitakan Firman Allah supaya Firman Allah tersebut didengar, dipelihara dan dilaksanakan sebagai sumber kebahagiaan (Lukas 11:28).
b. Bersaksi, menegakkan dan mempertahankan KABAR BAIK sampai akhir zaman (Wahyu 2:10), bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya JALAN, KEBENARAN dan HIDUP (Yohanes 14:6).
c. Menyatakan kuasa Allah melalui pelayanan dalam masyarakat agar Firman Allah semakin bertumbuh dan berkembang.
d. Meningkatkan dan mengembangkan kesadaran dan kemampuan GKPA sebagai Gereja yang mandiri.
e. Untuk mencapai visi GKPA, maka GKPA bermisi menjadi gereja yang:
1. Giat
2. Kudus
3. Pemberita Injil (Patanakhon hata ni Debata)
4. Am (menyeluruh tanpa memandang suku)
B. BERGIAT MEMBENAHI GKPA
GKPA sebagai institusi memerlukan penatalayanan-penatalayanan baik penatalayanan organisasi gereja maupun penatalayanan pelayanan kepada warga jemaat GKPA. Karena itu tugas membenahi GKPA tidak bisa dikerjakan hanya sekali saja, melainkan pembenahan itu dikerjakan terus menerus hingga mencapai kesempurnaannya. Apa-apa saja yang perlu kita benahi?
1. Melayani sesuai aturan GKPA. Artinya, jika kita sebagai warga jemaat, bersikaplah sebagai warga jemaat, jika kita sebagai sintua, bekerjalah sebagai sintua, jika sebagai pendeta, melayanilah sebagai pendeta. Karena sudah diatur segala bentuk pelayanan kita dalam Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA. Jika sudah waktunya pensiun, ya pensiunlah, jangan lagi memaksakan diri untuk melakukan pelayanan itu biar GKPA ini semakin maju.
2. Benahi Aturan Peraturan yang baik. GKPA sebagai lembaga gereja harus memiliki jenjang hukum yang jelas dan tegas, mulai dari Keputusan Sinode, Keputusan Pucuk Pimpinan, Keputusan Ephorus, Keputusan Praeses, dan Keputusan Pendeta Resort. Dengan penetapan posisi keputusan ini, maka keputusan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan keputusan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, tidak boleh jabatan yang lebih rendah membatalkan keputusan yang lebih tinggi.
3. Benahi teologi dan doktrin GKPA. Teologi dan doktrin GKPA harus dijaga kemurniannya oleh seluruh warga GKPA agar GKPA semakin kuat dalam menghadapi perkembangan teologi jaman sekarang. GKPA dalam merumuskan dan menetapkan setiap teologi dan doktrin harus melalui sebuah sinode am (konsili) agar seluruh warga jemaat memahami dan menerimanya. Misalnya, dalam penetapan “Pangokuon Haporsayaan GKPA” (Pengakuan Iman) dari “Au porsaya di Debata Ama NA GUMOGO” menjadi “Au porsaya di Debata NA SUN MARKUASO”. “Au porsaya di Jesus Kristus... na manaon parhancita taran Pontius Silatus PARUHUM...” menjadi “Au porsaya di Jesus Kristus... na manaon parhancita taran Pontius Silatus...???”. Dalam bahasa Indonesia kalimatnya ada yang dihilangkan seperti: “Aku percaya kepada Yesus Kristus... yang menderita SENGSARA di bawah...” menjadi “Aku percaya kepada Yesus Kristus... yang menderita ??? di bawah...”. Dengan diberlakukannya AGENDA GKPA 1997, warga jemaat dibingungkan karena pemberlakuannya tidak melalui sinode am. Hal yang sama juga harus kita perhatikan dengan Logo, Lagu Mars GKPA dan Hymne GKPA. Logo, lagu Mars dan Hymne GKPA agar dimasukkan dalam TG & TL GKPA.
4. Benahi Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA. Dalam TG dan TL GKPA masih banyak yang harus kita benahi dengan semakin berkembangnya organisasi GKPA. Misalnya:
a. Utusan sinode am. Dulu GKPA belum memiliki distrik, sehingga utusan sinode hanya dari tingkat resort saja. Sekarang GKPA sudah memiliki distrik, namun utusan distrik untuk sinode am tidak ada.
b. Istilah sinode am. Istilah ini tidak tepat dipakai di dalam TG dan TL GKPA sebab kita tidak mengenal istilah sinode distrik dan resort. Sinode Am ada jika di bawahnya ada sinode-sinode lain seperti sinode distrik, sinode resort, sehingga sinode tertinggi adalah sinode am. Sementara dalam TG dan TL GKPA diaturkan hanya rapat Parlagutan, rapat resort dan rapat distrik, tapi di tingkat pusat tiba-tiba disebut sinode am, seharusnya yang cocok harus rapat pusat bukan sinode am.
c. Perlu ditambahkan dalam TG GKPA Bab IV psl.9: Pengakuan Iman (Konfesi) GKPA karena GKPA memiliki pengakuan iman itu yang harus disosialisasikan dalam tubuh GKPA.
d. Penyempurnaan Struktur GKPA. Pengertian dan struktur GKPA harus dibenahi agar resort itu memiliki jemaat induk yang tidak terpisahkan dari jemaat filial (pagaran)-nya.
e. Mempersiapkan Kode Etik Pelayan Gerejawi GKPA. Kode Etik Pelayan Gerejawi ini akan mengatur pola pelayanan yang semakin baik.
C. BERGIAT MENGEMBANGKAN GKPA
GKPA sebagai gereja harus mampu berdiri sejajar dengan gereja-gereja lain yang ada di Indonesia dan bahkan dunia ini. GKPA yang berkantor pusat di Kota Padangsidimpuan ini harus diperhitungkan oleh gereja lain dengan kualitas dan kuantitas SDM warga jemaat dan pelayan GKPA.
Bagaimanakah caranya agar GKPA bisa diperhitungkan dan berdiri sejajar dengan gereja lain?
C.1. Aku Cintai GKPA dan bangga menjadi warga jemaat GKPA. Kita harus merasa bangga sebagai warga jemaat GKPA. Saksikan kepada orang lain bahwa Anda adalah warga GKPA, dengan demikian orang lain akan tertarik menjadi warga jemaat GKPA. Ceritakan yang terbaik dari GKPA, jangan menjelek-jelekkan GKPA. Jika ada kejelekan GKPA, tugasmulah untuk memperbaikinya agar tidak jelek, tetapi menjadi tampan dan cantik. Aku Cinta GKPA adalah aku melakukan sebuah aksi/kegiatan aktif terhadap GKPA (manusianya baik secara universal, lokal maupun individual), berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan oleh GKPA. Aku Cinta GKPA harus diwujudkan melalui empat syarat yaitu: 1. Knowledge (pengenalan) 2. Responsibilty (tanggung jawab) 3. Care (perhatian) dan 4. Respect (saling menghormati).
Aku cinta GKPA berarti:
1. Aku harus mengenal GKPA (Knowledge). Apa yang harus kita kenal di GKPA ini? Kita harus mengenal: a) Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA, b) Bibel Angkola-Mandailing, c) Buku Agenda GKPA, d) Buku Ende Angkola-Mandailing, e) RPP GKPA (Hukum Siasat Gereja), f) Konfesi GKPA, g) Peraturan Kepegawaian GKPA, h) Almanak GKPA, i) Sioban Barita GKPA, j) Kalender GKPA, k) buku-buku terbitan GKPA, k) dan tak kalah pentingnya lagi, kita harus mengenal PENDETA GKPA.
2. Aku harus bertanggung jawab kepada GKPA (Responsibility). Berdasarkan Tata Laksana GKPA, setiap anggota Parlagutan wajib: a) Hidup sebagai murid Yesus Kristus, dengan menyatakannya melalui kelakuan dan perbuatan yang terpuji, memegang teguh ajaran Alkitab, serta memuliakan Nama Juru Selamat, Tuhan Yesus Kristus dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati dalam hidupnya. b) Setia mengikuti kebaktian Minggu dan kebaktian lainnya yang telah ditentukan oleh GKPA. c) Bertanggung jawab dalam mewujudkan persekutuan, pelayanan, perbuatan kasih dan kesaksian Gereja dengan jalan mengambil bagian dalam semua kegiatan dan pelayanan dilingkungan Parlagutan. d) Mendukung kegiatan dan pelayanan Parlagutan dengan doa dan dana melalui persembahan dan paritisipasi, termasuk mempersembahkan daya, pikiran dan talenta yang dimiliki. e) Membawa anaknya menerima Baptisan Kudus, membimbing dan mendidik anaknya didalam pengenalan kepada Yesus Kristus antara lain dengan mengikutsertakannya pada Sekolah Minggu dan pelajar sidi (katekisasi). f) Mengikuti dan ambil bagian dalam Sakramen Perjamuan Kudus bagi setiap Anggota Sidi. g) Mentaati Tata Gereja, Tata Laksana dan setiap Peraturan lainnya yang berlaku dalam lingkungan GKPA. h) Memelihara dan melestarikan perdamaian, keadilan, lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan Tuhan untuk kesejahteraan hidup umat manusia. i) Membina dan memantapkan kerukunan hidup beragama dan patuh pada hukum serta peraturan Pemerintah RI sebagai pengamalan ajaran Kristen dan Pancasila. j) Melunasi kewajiban keuangan/natura kepada GKPA melalui Majelis Parlagutan ditempat dia menjadi anggota. Bahkan aturan ini diperjelas lagi dalam RPP GKPA Bab II.A. ps.1 tentang IBADAH MINGGU:
a. Jemaat berkewajiban untuk setia mengikuti ibadah minggu dan persekutuan yang dilakukan Jemaat untuk menunjukka kerajinan dan persekutuan kepada Allah dan teman seiman (Ibr. 10:25).
b. Sebaiknya warga jemaat jangan melaksanakan pesta adat pada hari Minggu dan hari raya Kristen, yang membuat orang terganggu beribadah (Kel. 20:8-1).
c. Hukum penggembalaan/siasat akan dikenakan kepada Jemaat yang sudah 6 (enam) bulan tidak pernah ke Gereja (dan kebaktian-kebaktian yang lain) di dalam Jemaat setelah beberapa kali dinasihati Majelis Parlagutan.
d. Hukum penggembalaan/siasat dikenakan kepada Parhobas Parlagutan (Sintua, Pendeta, Gr.Parl.) yang sudah 3 (tiga) bulan terus-menerus tidak ke Gereja (dan kebaktian-kebaktian lainnya) di dalam Parlagutan setelah beberapa kali dinasihati Majelis Parlagutan dan disetujui Pendeta Resort.
e. Hukum penggembalaan/siasat dikenakan kepada Parhobas Parlagutan yang sudah 3 (tiga) bulan terus-menerus tidak mau melayani di Gereja (dan kebaktian-kebaktian lainnya) di dalam Parlagutan setelah beberapa kali dinasihati Majelis Parlagutan dan disetujui Pendeta Resort.
3. Aku harus perhatian kepada GKPA (Care). Sebagai orang yang benar-benar cinta kepada GKPA kita harus memperhatikan pertumbuhan gereja itu secara mendalam. Jika terlihat tidak bertumbuh maka kita “pupuk” rohani, “siraman” rohani, “sentuhan” rohani, “sapaan” rohani. Perhatian ini harus datang dari kedua belah pihak. Jemaat memperhatikan gereja, dan gereja juga harus memperhatikan jemaat Tuhan.
4. Aku harus menghormati GKPA (Respect). Menghormati GKPA artinya kita menjaga nama baik GKPA di setiap perilaku kehidupan kita. Menghormati GKPA juga berarti kita tidak malu menjadi warga jemaat GKPA, namun sebagai warga jemaat GKPA kita berani tampil di tengah-tengah dunia sebagai saksi Kristus.
C.2. Ikuti kemajuan dan perkembangan jaman. GKPA sebagai organisasi yang tinggal di dunia ini harus bisa memakai kemajuan jaman dan teknologi dalam tugas pelayanannya. Sudah saatnya GKPA memiliki website GKPA agar semakin dikenal di dunia maya. Coba kita bayangkan, warung-warung kopi saja sudah memiliki websitenya sendiri untuk menarik para pembelinya datang ke warung kopinya. Mengapa GKPA tidak pakai media elektronik ini untuk mengembangkan GKPA dan menarik orang-orang Angkola-Mandailing dan suku bangsa lain masuk dan mengenal GKPA? Karena itu, melalui sinode ini diharapkan uluran tangan para peserta yang mau terbeban untuk mendukung pelayanan ini, agar GKPA bisa berdiri sejajar dengan gereja lain.
C.3. Jangan jago kandang. Agar GKPA dikenal orang, maka jangan merasa sudah puas dengan apa yang ada di di GKPA. Banyak para warga jemaat dan pelayan GKPA sudah merasa puas dengan apa yang ada di GKPA sekarang sehingga tidak ada lagi inovasi baru dalam pengembangan GKPA. Bahkan yang lebih aneh dan tragis, karena tidak bisa lagi mengembangkan diri, maka para sintua jadi sibuk membentak-bentak pendetanya, karena merasa diri lebih hebat dari sang pendetanya. Itu namanya jago kandang. Kalau memang hebat jangan bentak pendetamu, tetapi bentak kebodohanmu agar pergi dari dirimu, supaya Anda menjadi pinta dan bisa dipakai orang. Artinya, GKPA sudah saatnya memikirkan pengembangan pelayanannya ke lembaga-lembaga lain, misalnya dengan mengutus para pendeta melayani di lembaga-lembaga agar GKPA semakin dikenal oleh dunia lain.
D. BERGIAT MEMBERI YANG TERBAIK BAGI GKPA
GKPA tidak akan bisa maju dan berkembang jika warga jamaat dan para pelayan gerejawi tidak memberi yang terbaik bagi GKPA. Memberi yang terbaik bagi GKPA itu berarti kita memberi yang tebaik untuk Tuhan. Memberi yang terbaik bagi GKPA bukan berarti mencatat apa yang telah kita berikan buat GKPA. Tetapi memberi yang terbaik bagi GKPA adalah dengan kerelaan dan hati yang tulus iklas. Memberi yang terbaik bagi GKPA bukan untuk diperhitungkan sebagai balas jasa. Jika ku beri yang terbaik bagi GKPA (baca: Tuhan) maka GKPA akan memberikan yang terbaik bagiku. Bukan. Sebab GKPA tidak bisa memberi yang terbaik bagi kita. Tetapi Tuhan pasti memberi yang terbaik bagi kita. Kita memberi bagi GKPA karena kita sudah merasa pertolongan Tuhan bagi kita. Kebaikan kita didasarkan atas keselamatan yang telah kita peroleh dari Tuhan.
Memberi yang terbaik bagi GKPA berarti memakai setiap waktu dan pertemuan dengan sebaik-baiknya demi kemajuan dan perkembangan GKPA. Artinya, jika kita datang ke sinode ini, itu berarti kita adalah orang pilihan dan orang terbaik dari parlagutan, resort dan distrik kita masing-masing. Sebagai orang-orang pilihan dan terbaik, maka kita juga harus bisa memberikan yang terbaik kepada GKPA dalam sinode ini. Bagaimana caranya? Ya, selama sinode ini berlangsung, jangan ada yang melakukan “sinode” di dalam “Sinode”. Artinya, ruangan tempat bersidang kita jangan ditambahi di ruang kantin, di ruang lain atau di kampung kita. Pakailah waktu yang baik ini saling memberi pemikiran, memberi ide, memberi masukan, dan memberi uang untuk GKPA agar GKPA semakin maju dan berkembang. Jangan beri lagi kritikan, cercaan, tuduhan, fitnahan bagi GKPA, karena kita tidak butuh itu lagi. GKPA sekarang butuh solusi, pemikiran, ide-ide yang terbaik demi memajukan pemberitaan firman Tuhan di dunia ini. Karena itu, giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan. Selamat bersinode.
Rabu, 19 Agustus 2009
Bacaan Minggu 06 September 2009: Roma 15 : 5 - 9
PERSEKUTUAN KRISTEN
Adalah lebih mudah membentuk perkumpulan daripada memelihara kesatuan. Lihatlah banyaknya perkumpulan-perkumpulan yang terbentuk, tetapi belum tentu mereka bersatu. Hal seperti itu disebut orang Batak dengan: “masidaisan tanggurung, alai ndang masipadohan” (bahu bersentuhan, tetapi tidak saling bicara). Itu bisa digambarkan seperti orang di angkutan umum, bahunya saling bersentuhan tetapi tidak ada komunikasi. Atau, seperti bertetangga, dinding rumah boleh satu, tetapi penghuninya tidak saling sapa. Ini hanya contoh kecil saja, yang menunjukkan berkumpul tetapi tidak bersatu.
Nas ini mau menasihatkan umat Kristen untuk tidak hanya sekadar berkumpul, tetapi harus sungguh-sungguh bersekutu dan bersatu. Tidak mudah memang, sebab ada banyak perbedaan yang dimiliki setiap anggotanya. Katakanlah misalnya seperti yang disoroti Paulus dalam Surat Roma ini, terutama dalam pasal 14-15. Terdapat perbedaan asal-usul masuk Kristen (Yahudi, non-Yahudi); soal makanan (berpatang, tak berpantang); soal hari (ada yang menganggap hari yang satu lebih penting daripada yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama), ada yang imannya kuat, dan ada yang lemah. Daftar ini akan makin panjang lagi jika melihat banyaknya perbedaan di antara gereja-gereja sekarang ini. Alhasil, perbedaan ini telah menimbulkan ketegangan dan mengancam hidup persekutuan sesama umat Kristen. Terjadilah saling menghakimi, menyebut diri/kelompoknyalah Kristen yang benar, dan menghinakan yang lain. Jika keadaan ini terus dibiarkan berlanjut, maka akan muncul konflik yang mengarah pada perpecahan dan permusuhan.
Hal inilah yang mendorong Paulus untuk memberikan tanggapan dan saran-saran teologisnya. Ia mengakui adanya perbedaan-perbedaan, dan itu tidak mungkin dihilangkan. Tetapi ia melarang dengan keras supaya jangan ada yang saling menghakimi. Sebab menurutnya, tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup dan matinya untuk dirinya sendiri, melainkan baik hidup maupun mati kita adalah milik Tuhan (Rm.14:8). Artinya, setiap kita yang berbeda-beda ini adalah milik Tuhan yang satu. Itulah dasar kesatuan orang percaya, yaitu: “kita satu di dalam Tuhan, dan ada satu Tuhan untuk semua”. Karena itu, menurut Paulus, setiap orang Kristen harus mengabdikan dirinya untuk membangun dan memperindah bangunan persekutuan kristiani, justru karena ada perbedaan-perbedaan. Ia menyebut: “setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya” (Rm.15:2). Berarti, perbedaan itu dapat menjadi sumberdaya (kekayaan) yang potensil membangun kebaikan dan keindahan persekutuan Kristen, tubuh Kristus itu.
Sebetulnya, sudah sejak awal, Allah menghendaki perbedaan dan bukan kesamaan atau seragam (uniformis). Lihatlah misalnya, ketika Allah menciptakan bumi dan segala isinya. Ada langit, ada bumi; ada darat, ada air; ada siang, ada malam; ada laki-laki, ada perempuan, dll. Beragam, tidak seragam; berbeda, tidak sama. Tetapi toh dengan perbedaan itu Allah menilai hasil ciptaan-Nya dengan nilai baik, bahkan sungguh amat baik. Hal yang sama juga kita lihat dalam ajaran Paulus tentang solidaritas tubuh dalam 1 Korintus 12. Ada banyak anggota tubuh, dan berbeda satu dengan yang lain. Tetapi semua saling membutuhkan dan bekerjasama untuk membangun tubuh yang satu. Dengan begitu, terbentuklah satu tubuh yang baik dan indah. Persekutuan yang satu, baik dan indah seperti inilah yang didamba Paulus terjadi di antara orang Kristen, yang ditandai dengan kerukunan dan saling menerima satu akan yang lain.
Kerukunan
Di samping tanggapan dan saran teologis, Paulus juga menyampaikan doa, yaitu: “supaya Alah sumber ketekunan dan penghiburan itu mengaruniakan kerukunan kepada kamu sesuai dengan kehendak Kristus”. Artinya, Kristus menghendaki supaya persekutuan umat Kristen itu bersatu dengan rukun (bnd.Yoh.17:11b). Untuk memahami “kerukunan” ini dapat kita baca Mazmur 133:1. Dari situ dapat disebut bahwa persekutuan Kristen itu adalah persekutuan “saudara seiman” dalam keluarga Allah. Maka jika mereka dapat “diam bersama dengan rukun”, oh, alangkah baik dan indahnya. Pertama, di dalamnya terdapat persamaan derajat atau persaudaraan egaliter. Dimasukkan dalam keluarga, berarti identitas seseorang dikenal, dihargai. Dimasukkan dalam keluarga juga ada “kursi” dan “meja” untuk setiap anggotanya. Itu berarti haknya terjamin, dan memiliki akses pada kehidupan. Dalam keluarga, tak seorang pun boleh disanjung bagai dewa atau “anak mas”, sementara yang lain dipandang sebelah mata atau diremehkan. Melainkan, kita harus saling mengasihi dan menghargai satu sama lain.
Kedua adalah harmoni, justru karena ada perbedaan itu. Keenam tali gitar, misalnya, berbeda ukuran dan suaranya. Dalam koor juga ada empat suara atau lebih yang berbeda. Tetapi jika distel, terdapatlah harmoni/keserasian, yang membuat suara terasa indah dan enak didengar. Demikianlah dalam persekutuan orang Kristen itu terdapat banyak perbedaan. Ini perlu diatur (manage) supaya ada harmoni, sehingga satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah. Kata kunci di sini adalah kerendahan hati dan kesediaan mengabdikan diri/potensi bagi kebersamaan. Jadi, bukan kesamaan tetapi kebersamaan. Ketiga adalah sharing dan solidaritas. Kita semua dikarunia Tuhan talenta atau potensi yang berbeda-beda. Karunia ini bukanlah untuk diri kita sendiri, tetapi untuk kita pergunakan dalam pembangunan hidup bersama. Karena apa? Karena kita bukanlah mahluk sempurna yang serba bisa. Semua kita memiliki kekurangan dan keterbatasan. Sebab itulah kita perlu sharing, saling berbagi, dan solider. Ini penting sebab kerukunan itu bukan hanya berarti tidak bertengkar atau ribut, tetapi juga terdapat kepeduliaan terhadap sesama, terutama terhadap saudara-saudara kita yang paling lemah (bnd.Rom.15:1; 1 Kor.12:23b). Jadi, dalam kerukunan itu harus ada diakonia kasih, dan alamatnya yang pertama adalah saudara seiman yang paling membutuhkan (Gal.6:10).
Saling menerima
Kemudian, Paulus menasihatkan: “terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus menerima kita” (ay. 7). Kristus menerima semua orang tanpa membeda-bedakannya, sehingga di dalam Kristus tidak ada lagi perbedaan (Gal.3:28). Demikianlah orang Kristen harus saling menerima satu dengan yang lain. Saling menerima berarti menjadikan seseorang itu sebagai sesama, atau bagian dari diri kita sendiri. Dengan cara inilah, persekutuan seiman dapat diwujudkan.
Masalah yang sering terjadi adalah bahwa cara kita memperlakukan manusia tidak sama. Penyambutan kita terhadap seseorang, tergantung pada status yang disandangnya. Bukan manusianya, tetapi hartanya dan penampilannya yang kita lihat. Maka, yang kaya kita hormati; yang miskin kita pandang sebelah mata. Yang kaya kita hantar dan persilahkan duduk; sementara si miskin kita suruh cari tempat sendiri, berdiri saja atau duduk di tempat yang tidak layak (Yak.2: 1-4).
Yang benar adalah semua orang harus diterima sebagai sesama manusia yang mempunyai martabat. Penerimaan kita terhadap seseorang bukan terletak pada status sosialnya (kaya-miskin; konglomerat atau kong yang melarat), tetapi lebih pada keberadaannya sebagai manusia yang diciptakan Allah menurut gambar-Nya, dan yang untuknya juga Kristus mati. Pada kesegambaran dengan Allah dan penebusan Kristus itulah melekat martabat manusia. Maka, pembeda-bedaan manusia sama artinya dengan perendahan derajat seseorang. Dan itu juga berarti menghina Pencipta dan Penebusnya. Sebaliknya, jika terdapat hubungan yang saling menerima, maka persekutuan itu layak dipersembahkan menjadi kemuliaan Allah.
Sudah jelas, bahwa maksud Allah ketika memilih satu bangsa tertentu (Israel) menjadi umat-Nya, bukanlah untuk menolak atau tidak menerima bangsa-bangsa yang lain. Melainkan, itu hanyalah sebuah strategi misi pelayanan, yaitu: supaya melalui umat pilihan pertama itu tersebar karya keselamatan kepada seluruh bangsa. Dan maksud itu digenapi Yesus Kristus dengan sempurna melalui pelayanan dan pengorban-Nya. Jadi, karya Kristus itu bukan hanya untuk orang Yahudi, tetapi juga untuk seluruh bangsa. Alamat kasih Tuhan itu juga adalah semua orang; dan semua orang diundang memasuki Kerajaan Allah.
Jika demikian, maka persekutuan Kristen bukanlah persekutuan yang tertutup, yang terbatas daya tampungnya, atau yang pelayanannya dibatasi hanya untuk ‘kalangan sendiri’ saja. Melainkan, persekutuan yang terbuka (opensif), oikumenis, dan mengglobal. Gereja harus menjadi tempat bertumpunya semua orang dari berbagai suku, ras, kebudayaan, dan lain-lain. Syaratnya hanya satu, yaitu: beriman kepada Kristus. Dengan cara inilah Tuhan memakai gereja mewujudkan persaudaraan global. Semakin banyak anggotanya, semakin kuat. Tentulah ini harus diikuti dengan peningkatan mutu kesatuannya. Bukan saling sikut, apalagi saling sikat. Melainkan, terdapat pola hidup anggotanya yang saling mengakui, saling menghormati, dan saling melayani, sehingga seluruh bangsa turut memuliakan Allah dan menyanyikan mazmur bagi-Nya. Amen.
Pdt.Dahlan Munthe, MTh.
Adalah lebih mudah membentuk perkumpulan daripada memelihara kesatuan. Lihatlah banyaknya perkumpulan-perkumpulan yang terbentuk, tetapi belum tentu mereka bersatu. Hal seperti itu disebut orang Batak dengan: “masidaisan tanggurung, alai ndang masipadohan” (bahu bersentuhan, tetapi tidak saling bicara). Itu bisa digambarkan seperti orang di angkutan umum, bahunya saling bersentuhan tetapi tidak ada komunikasi. Atau, seperti bertetangga, dinding rumah boleh satu, tetapi penghuninya tidak saling sapa. Ini hanya contoh kecil saja, yang menunjukkan berkumpul tetapi tidak bersatu.
Nas ini mau menasihatkan umat Kristen untuk tidak hanya sekadar berkumpul, tetapi harus sungguh-sungguh bersekutu dan bersatu. Tidak mudah memang, sebab ada banyak perbedaan yang dimiliki setiap anggotanya. Katakanlah misalnya seperti yang disoroti Paulus dalam Surat Roma ini, terutama dalam pasal 14-15. Terdapat perbedaan asal-usul masuk Kristen (Yahudi, non-Yahudi); soal makanan (berpatang, tak berpantang); soal hari (ada yang menganggap hari yang satu lebih penting daripada yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama), ada yang imannya kuat, dan ada yang lemah. Daftar ini akan makin panjang lagi jika melihat banyaknya perbedaan di antara gereja-gereja sekarang ini. Alhasil, perbedaan ini telah menimbulkan ketegangan dan mengancam hidup persekutuan sesama umat Kristen. Terjadilah saling menghakimi, menyebut diri/kelompoknyalah Kristen yang benar, dan menghinakan yang lain. Jika keadaan ini terus dibiarkan berlanjut, maka akan muncul konflik yang mengarah pada perpecahan dan permusuhan.
Hal inilah yang mendorong Paulus untuk memberikan tanggapan dan saran-saran teologisnya. Ia mengakui adanya perbedaan-perbedaan, dan itu tidak mungkin dihilangkan. Tetapi ia melarang dengan keras supaya jangan ada yang saling menghakimi. Sebab menurutnya, tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup dan matinya untuk dirinya sendiri, melainkan baik hidup maupun mati kita adalah milik Tuhan (Rm.14:8). Artinya, setiap kita yang berbeda-beda ini adalah milik Tuhan yang satu. Itulah dasar kesatuan orang percaya, yaitu: “kita satu di dalam Tuhan, dan ada satu Tuhan untuk semua”. Karena itu, menurut Paulus, setiap orang Kristen harus mengabdikan dirinya untuk membangun dan memperindah bangunan persekutuan kristiani, justru karena ada perbedaan-perbedaan. Ia menyebut: “setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya” (Rm.15:2). Berarti, perbedaan itu dapat menjadi sumberdaya (kekayaan) yang potensil membangun kebaikan dan keindahan persekutuan Kristen, tubuh Kristus itu.
Sebetulnya, sudah sejak awal, Allah menghendaki perbedaan dan bukan kesamaan atau seragam (uniformis). Lihatlah misalnya, ketika Allah menciptakan bumi dan segala isinya. Ada langit, ada bumi; ada darat, ada air; ada siang, ada malam; ada laki-laki, ada perempuan, dll. Beragam, tidak seragam; berbeda, tidak sama. Tetapi toh dengan perbedaan itu Allah menilai hasil ciptaan-Nya dengan nilai baik, bahkan sungguh amat baik. Hal yang sama juga kita lihat dalam ajaran Paulus tentang solidaritas tubuh dalam 1 Korintus 12. Ada banyak anggota tubuh, dan berbeda satu dengan yang lain. Tetapi semua saling membutuhkan dan bekerjasama untuk membangun tubuh yang satu. Dengan begitu, terbentuklah satu tubuh yang baik dan indah. Persekutuan yang satu, baik dan indah seperti inilah yang didamba Paulus terjadi di antara orang Kristen, yang ditandai dengan kerukunan dan saling menerima satu akan yang lain.
Kerukunan
Di samping tanggapan dan saran teologis, Paulus juga menyampaikan doa, yaitu: “supaya Alah sumber ketekunan dan penghiburan itu mengaruniakan kerukunan kepada kamu sesuai dengan kehendak Kristus”. Artinya, Kristus menghendaki supaya persekutuan umat Kristen itu bersatu dengan rukun (bnd.Yoh.17:11b). Untuk memahami “kerukunan” ini dapat kita baca Mazmur 133:1. Dari situ dapat disebut bahwa persekutuan Kristen itu adalah persekutuan “saudara seiman” dalam keluarga Allah. Maka jika mereka dapat “diam bersama dengan rukun”, oh, alangkah baik dan indahnya. Pertama, di dalamnya terdapat persamaan derajat atau persaudaraan egaliter. Dimasukkan dalam keluarga, berarti identitas seseorang dikenal, dihargai. Dimasukkan dalam keluarga juga ada “kursi” dan “meja” untuk setiap anggotanya. Itu berarti haknya terjamin, dan memiliki akses pada kehidupan. Dalam keluarga, tak seorang pun boleh disanjung bagai dewa atau “anak mas”, sementara yang lain dipandang sebelah mata atau diremehkan. Melainkan, kita harus saling mengasihi dan menghargai satu sama lain.
Kedua adalah harmoni, justru karena ada perbedaan itu. Keenam tali gitar, misalnya, berbeda ukuran dan suaranya. Dalam koor juga ada empat suara atau lebih yang berbeda. Tetapi jika distel, terdapatlah harmoni/keserasian, yang membuat suara terasa indah dan enak didengar. Demikianlah dalam persekutuan orang Kristen itu terdapat banyak perbedaan. Ini perlu diatur (manage) supaya ada harmoni, sehingga satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah. Kata kunci di sini adalah kerendahan hati dan kesediaan mengabdikan diri/potensi bagi kebersamaan. Jadi, bukan kesamaan tetapi kebersamaan. Ketiga adalah sharing dan solidaritas. Kita semua dikarunia Tuhan talenta atau potensi yang berbeda-beda. Karunia ini bukanlah untuk diri kita sendiri, tetapi untuk kita pergunakan dalam pembangunan hidup bersama. Karena apa? Karena kita bukanlah mahluk sempurna yang serba bisa. Semua kita memiliki kekurangan dan keterbatasan. Sebab itulah kita perlu sharing, saling berbagi, dan solider. Ini penting sebab kerukunan itu bukan hanya berarti tidak bertengkar atau ribut, tetapi juga terdapat kepeduliaan terhadap sesama, terutama terhadap saudara-saudara kita yang paling lemah (bnd.Rom.15:1; 1 Kor.12:23b). Jadi, dalam kerukunan itu harus ada diakonia kasih, dan alamatnya yang pertama adalah saudara seiman yang paling membutuhkan (Gal.6:10).
Saling menerima
Kemudian, Paulus menasihatkan: “terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus menerima kita” (ay. 7). Kristus menerima semua orang tanpa membeda-bedakannya, sehingga di dalam Kristus tidak ada lagi perbedaan (Gal.3:28). Demikianlah orang Kristen harus saling menerima satu dengan yang lain. Saling menerima berarti menjadikan seseorang itu sebagai sesama, atau bagian dari diri kita sendiri. Dengan cara inilah, persekutuan seiman dapat diwujudkan.
Masalah yang sering terjadi adalah bahwa cara kita memperlakukan manusia tidak sama. Penyambutan kita terhadap seseorang, tergantung pada status yang disandangnya. Bukan manusianya, tetapi hartanya dan penampilannya yang kita lihat. Maka, yang kaya kita hormati; yang miskin kita pandang sebelah mata. Yang kaya kita hantar dan persilahkan duduk; sementara si miskin kita suruh cari tempat sendiri, berdiri saja atau duduk di tempat yang tidak layak (Yak.2: 1-4).
Yang benar adalah semua orang harus diterima sebagai sesama manusia yang mempunyai martabat. Penerimaan kita terhadap seseorang bukan terletak pada status sosialnya (kaya-miskin; konglomerat atau kong yang melarat), tetapi lebih pada keberadaannya sebagai manusia yang diciptakan Allah menurut gambar-Nya, dan yang untuknya juga Kristus mati. Pada kesegambaran dengan Allah dan penebusan Kristus itulah melekat martabat manusia. Maka, pembeda-bedaan manusia sama artinya dengan perendahan derajat seseorang. Dan itu juga berarti menghina Pencipta dan Penebusnya. Sebaliknya, jika terdapat hubungan yang saling menerima, maka persekutuan itu layak dipersembahkan menjadi kemuliaan Allah.
Sudah jelas, bahwa maksud Allah ketika memilih satu bangsa tertentu (Israel) menjadi umat-Nya, bukanlah untuk menolak atau tidak menerima bangsa-bangsa yang lain. Melainkan, itu hanyalah sebuah strategi misi pelayanan, yaitu: supaya melalui umat pilihan pertama itu tersebar karya keselamatan kepada seluruh bangsa. Dan maksud itu digenapi Yesus Kristus dengan sempurna melalui pelayanan dan pengorban-Nya. Jadi, karya Kristus itu bukan hanya untuk orang Yahudi, tetapi juga untuk seluruh bangsa. Alamat kasih Tuhan itu juga adalah semua orang; dan semua orang diundang memasuki Kerajaan Allah.
Jika demikian, maka persekutuan Kristen bukanlah persekutuan yang tertutup, yang terbatas daya tampungnya, atau yang pelayanannya dibatasi hanya untuk ‘kalangan sendiri’ saja. Melainkan, persekutuan yang terbuka (opensif), oikumenis, dan mengglobal. Gereja harus menjadi tempat bertumpunya semua orang dari berbagai suku, ras, kebudayaan, dan lain-lain. Syaratnya hanya satu, yaitu: beriman kepada Kristus. Dengan cara inilah Tuhan memakai gereja mewujudkan persaudaraan global. Semakin banyak anggotanya, semakin kuat. Tentulah ini harus diikuti dengan peningkatan mutu kesatuannya. Bukan saling sikut, apalagi saling sikat. Melainkan, terdapat pola hidup anggotanya yang saling mengakui, saling menghormati, dan saling melayani, sehingga seluruh bangsa turut memuliakan Allah dan menyanyikan mazmur bagi-Nya. Amen.
Pdt.Dahlan Munthe, MTh.
Bacan Minggu 30 Agustus 2009: Galatia 4 : 22 - 28
“KERUKUNAN: HIDUP BERDAMPINGAN DENGAN ORANG YANG BERBEDA PANDANGAN/ORIENTASI HIDUP”
Pengantar.
Ayat-ayat yang ditentukan menjadi epistel ini nampaknya mau mengungkapkan satu teologi yang bukan berdasarkan nas yang tertulis dalam Alkitab. Sebab menurut Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) Galatia 4 itu terdiri dari tiga nas (kelompok ayat berdasarkan isi):
1. Ayat 1 – 11 berisi penjelasan bahwa tidak ada lagi perhambaan.
2. Ayat 12 – 20 berisi tentang penjelasan hubungan Rasul Paulus dengan jemaat Galatia.
3. Ayat 21 – 31 berisi tentang fungsi hukum Taurat yang ada di Perjanjian Lama bagi umat kristen (yang percaya kepada Yesus). Dalam hal ini Rasul Paulus mengambil contoh atau gambaran Hagar dan Sara dalam kehidupan Abraham.
Sehubungan dengan itu saya lebih dahulu memberi penjelasan tentang maksud nas ke tiga ini berdasarkan pembagian nas menurut LAI dan kemudian mencoba memberi penjelasan sesuai tema minggu “Kerukunan: Hidup berdampingan dengan orang yang berbeda pandangan/orientasi hidup”.
INJIL DAN HUKUM TAURAT
Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman (Gal.3:24).
Seorang anak remaja bertanya kepada pendeta: “Pak pendeta! Mengapa tidak kita lakukan semua yang tertulis dalam kitab ‘Musa’ yaitu tentang Hukum Taurat?” “Berilah contohnya!”, kata pendeta. “Sunat (Kej.34:22), pantang makan darah (Im.17:10-12), hari Sabat (Kel.20:8-11) dan masih banyak lagi”, kata remaja itu. Pendeta memberi penjelasan: “Tentang hal itu, Yesus pernah berkata: Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi (Yoh.13:34), di tempat lain, Yesus juga berkata bahwa bukan hal-hal yang lahiriah (harfiah) dalam hal melaksanakan hukum Taurat, tetapi lebih kepada yang rohani, yang dari perasaan seperti keadilan, kejujuran dan yang sejenisnya (bnd. Luk.11:37-52)”. Pertanyaan si remaja di atas juga menjadi masalah di jemaat Galatia setelah Rasul Paulus meninggalkan Galatia.
Salah satu masalah yang mau diselesaikan Rasul Paulus melalui surat Galatia ialah pendapat yang mengatakan bahwa “menjadi kristen yang benar harus melakukan Hukum Taurat secara murni dan konsekwen”. Pendapat ini datang dari orang-orang kristen Galatia yang berlatar-belakang Yudaisme (kejahudian; agama dan adat-istiadat Yahudi). (catatan: yang dimaksud dengan Hukum Taurat Yahudi ialah seluruh yang tertulis dalam kitab Kejadian sampai Ulangan. Kitab-kitab inilah yang disebut Kitab Taurat orang Yahudi). Rasul Paulus tidak setuju penggunaan hukum Taurat secara hurufiah, karena hukum Taurat tertulis adalah mematikan (bnd. 2Kor.3:6). Kita tidak bisa membayangkan seperti apa kekristenan seandainya mengikuti pendapat orang Kristen yang berlatar-belakang Yahudi itu.
Contoh yang dipakai Rasul Paulus untuk menjelaskan makna hukum Taurat ialah Hagar dan Sara, yang keduanya melahirkan anak bagi Abraham. Hukum Taurat tertulis adalah ibarat Hagar dan anak yang dia lahirkan Ismail, dan ‘hukum anugerah’ adalah ibarat Sara dan anaknya Ishak. Kedua-duanya adalah untuk Abraham. Ismail dan Ishak sama-sama anak Abraham, tetapi Ismail terusir dari Abraham (Kej.21:14). Hagar dan Ismail terusir dari keluarga Abraham setelah Sara melahirkan Ishak. Hagar dan Ismail berguna bagi Abraham sebelum Ishak lahir. Karena Hagar menyombongkan diri terhadap Sara maka dia dan Ismail diusir dari kehidupan Abraham. Inilah gambaran yang dibuat Paulus untuk menjelaskan hukum Taurat tertulis dengan Firman Tuhan di dalam Yesus Kristus.
Menurut Rasul Paulus bahwa hukum Taurat adalah penuntun (Batak: siparorot) (Gal.3:24). Yang dituntun (diparorot) biasanya adalah anak kecil usia di bawah satu tahun sampai dua tahun, biasa disebut ‘batita atau balita’ dimana pada saat si anak telah menanjak usia dua tahun ke atas dia tidak lagi dituntun untuk berjalan. Hukum Taurat sebagai ‘penuntun’ memberi arti bahwa pada satu saat yang dituntun akan bebas dari yang menuntun, yaitu ketika si anak telah dewasa. Gambaran itulah yang diberikan Rasul Paulus untuk menjelaskan fungsi hukum Taurat dalam sejarah bangsa Yahudi.
Keadaan dewasa yang dimaksudkan Rasul Paulus ialah ketika Yesus Kristus telah datang dan manusia telah menaruh percaya kepada-Nya. Rasul Paulus memberitakan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dimana Dia telah mengajar manusia untuk hidup sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Yesus mengajar murid-murid-Nya dan masyarakat banyak untuk menerima ‘perintah yang baru yaitu kasih (Yoh.13:34) agar manusia melakukan kasih terhadap Allah, terhadap sesamanya manusia dan terhadap seluruh yang diciptakan Allah.
KERUKUNAN
Hidup berdampingan dengan orang yang berbeda pandangan/orientasi hidup.
Nas di atas (Gal.4:22-28) adalah analisis Rasul Paulus tentang cerita Hagar, Sara dan Abraham yang tertulis dalam kitab Kejadian 16 dan 21. Dari kacamata kristiani, ada dua tindakan Abaraham yang salah dalam cerita Kejadian 16 dan 21:
1. Tindakan Abraham yang beristeri dua. Abraham memperisteri Hagar sebagai isteri kedua atas kekwatiran tidak punya keturunan lagi dari isteri pertama Sara. Rasul Paulus melarang beristeri dua (1 Tim.3:2, 12).
2. Tindakan Abraham yang mengusir Hagar dari rumahmya (Kej.21). Abraham mengusir Hagar karena dorongan Sara, dimana menurut Sara, Hagar menyakiti hatinya karena dia mandul (Kej. 21: 8-21). Rasul Paulus memaknai pengusiran Hagar itu sebagai cara untuk menjelaskan siapa anak “kedagingan” dan siapa anak “perjanjian”. Ismail anak Hagar adalah anak kedagingan dan Ishak anak Sara adalah anak perjanjian. Dari sudut pandang kekristenan hal “pengusiran” tersebut tidak dapat dibenarkan. Yesus pernah berkata: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat.5:44; Luk.6:27, 35).
Ajaran Yesus yang menyuruh para pengikutnya mengasihi musuh, adalah ajaran yang sangat revolusioner bagi mereka yang hidup dalam hukum atau adat-istiadat pembalasan. Kita tau bahwa dalam hukum atau adat-istiadat Yahudi berlaku hukum pembalasan. Tertulis: “... sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki (Ul.19:21; bd. Kel. 21:23).
Beberapa resep yang dapat ditawarkan agar orang yang berbeda pandangan/orientasi hidup dapat hidup berdampingan:
1. Menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa perbedaan yang terdapat dalam diri setiap orang, setiap suku bukanlah ciptaan manusia akan tetapi ciptaan Tuhan. Jadi, menerima perbedaan berarti mempercayai Tuhan sebagai Pencip dan Maha Kuasa.
2. Menerima perbedaan apa adanya.
3. Berusaha menemukan kesamaan, dan bukan sebaliknya.
4. Melaksanakan secara bersama-sama apa yang mungkin menjadi kebutuhan bersama seperti memerangi kemiskinan, kebodohan, pengrusakan lingkungan hidup.
Pengantar.
Ayat-ayat yang ditentukan menjadi epistel ini nampaknya mau mengungkapkan satu teologi yang bukan berdasarkan nas yang tertulis dalam Alkitab. Sebab menurut Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) Galatia 4 itu terdiri dari tiga nas (kelompok ayat berdasarkan isi):
1. Ayat 1 – 11 berisi penjelasan bahwa tidak ada lagi perhambaan.
2. Ayat 12 – 20 berisi tentang penjelasan hubungan Rasul Paulus dengan jemaat Galatia.
3. Ayat 21 – 31 berisi tentang fungsi hukum Taurat yang ada di Perjanjian Lama bagi umat kristen (yang percaya kepada Yesus). Dalam hal ini Rasul Paulus mengambil contoh atau gambaran Hagar dan Sara dalam kehidupan Abraham.
Sehubungan dengan itu saya lebih dahulu memberi penjelasan tentang maksud nas ke tiga ini berdasarkan pembagian nas menurut LAI dan kemudian mencoba memberi penjelasan sesuai tema minggu “Kerukunan: Hidup berdampingan dengan orang yang berbeda pandangan/orientasi hidup”.
INJIL DAN HUKUM TAURAT
Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman (Gal.3:24).
Seorang anak remaja bertanya kepada pendeta: “Pak pendeta! Mengapa tidak kita lakukan semua yang tertulis dalam kitab ‘Musa’ yaitu tentang Hukum Taurat?” “Berilah contohnya!”, kata pendeta. “Sunat (Kej.34:22), pantang makan darah (Im.17:10-12), hari Sabat (Kel.20:8-11) dan masih banyak lagi”, kata remaja itu. Pendeta memberi penjelasan: “Tentang hal itu, Yesus pernah berkata: Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi (Yoh.13:34), di tempat lain, Yesus juga berkata bahwa bukan hal-hal yang lahiriah (harfiah) dalam hal melaksanakan hukum Taurat, tetapi lebih kepada yang rohani, yang dari perasaan seperti keadilan, kejujuran dan yang sejenisnya (bnd. Luk.11:37-52)”. Pertanyaan si remaja di atas juga menjadi masalah di jemaat Galatia setelah Rasul Paulus meninggalkan Galatia.
Salah satu masalah yang mau diselesaikan Rasul Paulus melalui surat Galatia ialah pendapat yang mengatakan bahwa “menjadi kristen yang benar harus melakukan Hukum Taurat secara murni dan konsekwen”. Pendapat ini datang dari orang-orang kristen Galatia yang berlatar-belakang Yudaisme (kejahudian; agama dan adat-istiadat Yahudi). (catatan: yang dimaksud dengan Hukum Taurat Yahudi ialah seluruh yang tertulis dalam kitab Kejadian sampai Ulangan. Kitab-kitab inilah yang disebut Kitab Taurat orang Yahudi). Rasul Paulus tidak setuju penggunaan hukum Taurat secara hurufiah, karena hukum Taurat tertulis adalah mematikan (bnd. 2Kor.3:6). Kita tidak bisa membayangkan seperti apa kekristenan seandainya mengikuti pendapat orang Kristen yang berlatar-belakang Yahudi itu.
Contoh yang dipakai Rasul Paulus untuk menjelaskan makna hukum Taurat ialah Hagar dan Sara, yang keduanya melahirkan anak bagi Abraham. Hukum Taurat tertulis adalah ibarat Hagar dan anak yang dia lahirkan Ismail, dan ‘hukum anugerah’ adalah ibarat Sara dan anaknya Ishak. Kedua-duanya adalah untuk Abraham. Ismail dan Ishak sama-sama anak Abraham, tetapi Ismail terusir dari Abraham (Kej.21:14). Hagar dan Ismail terusir dari keluarga Abraham setelah Sara melahirkan Ishak. Hagar dan Ismail berguna bagi Abraham sebelum Ishak lahir. Karena Hagar menyombongkan diri terhadap Sara maka dia dan Ismail diusir dari kehidupan Abraham. Inilah gambaran yang dibuat Paulus untuk menjelaskan hukum Taurat tertulis dengan Firman Tuhan di dalam Yesus Kristus.
Menurut Rasul Paulus bahwa hukum Taurat adalah penuntun (Batak: siparorot) (Gal.3:24). Yang dituntun (diparorot) biasanya adalah anak kecil usia di bawah satu tahun sampai dua tahun, biasa disebut ‘batita atau balita’ dimana pada saat si anak telah menanjak usia dua tahun ke atas dia tidak lagi dituntun untuk berjalan. Hukum Taurat sebagai ‘penuntun’ memberi arti bahwa pada satu saat yang dituntun akan bebas dari yang menuntun, yaitu ketika si anak telah dewasa. Gambaran itulah yang diberikan Rasul Paulus untuk menjelaskan fungsi hukum Taurat dalam sejarah bangsa Yahudi.
Keadaan dewasa yang dimaksudkan Rasul Paulus ialah ketika Yesus Kristus telah datang dan manusia telah menaruh percaya kepada-Nya. Rasul Paulus memberitakan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dimana Dia telah mengajar manusia untuk hidup sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Yesus mengajar murid-murid-Nya dan masyarakat banyak untuk menerima ‘perintah yang baru yaitu kasih (Yoh.13:34) agar manusia melakukan kasih terhadap Allah, terhadap sesamanya manusia dan terhadap seluruh yang diciptakan Allah.
KERUKUNAN
Hidup berdampingan dengan orang yang berbeda pandangan/orientasi hidup.
Nas di atas (Gal.4:22-28) adalah analisis Rasul Paulus tentang cerita Hagar, Sara dan Abraham yang tertulis dalam kitab Kejadian 16 dan 21. Dari kacamata kristiani, ada dua tindakan Abaraham yang salah dalam cerita Kejadian 16 dan 21:
1. Tindakan Abraham yang beristeri dua. Abraham memperisteri Hagar sebagai isteri kedua atas kekwatiran tidak punya keturunan lagi dari isteri pertama Sara. Rasul Paulus melarang beristeri dua (1 Tim.3:2, 12).
2. Tindakan Abraham yang mengusir Hagar dari rumahmya (Kej.21). Abraham mengusir Hagar karena dorongan Sara, dimana menurut Sara, Hagar menyakiti hatinya karena dia mandul (Kej. 21: 8-21). Rasul Paulus memaknai pengusiran Hagar itu sebagai cara untuk menjelaskan siapa anak “kedagingan” dan siapa anak “perjanjian”. Ismail anak Hagar adalah anak kedagingan dan Ishak anak Sara adalah anak perjanjian. Dari sudut pandang kekristenan hal “pengusiran” tersebut tidak dapat dibenarkan. Yesus pernah berkata: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat.5:44; Luk.6:27, 35).
Ajaran Yesus yang menyuruh para pengikutnya mengasihi musuh, adalah ajaran yang sangat revolusioner bagi mereka yang hidup dalam hukum atau adat-istiadat pembalasan. Kita tau bahwa dalam hukum atau adat-istiadat Yahudi berlaku hukum pembalasan. Tertulis: “... sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki (Ul.19:21; bd. Kel. 21:23).
Beberapa resep yang dapat ditawarkan agar orang yang berbeda pandangan/orientasi hidup dapat hidup berdampingan:
1. Menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa perbedaan yang terdapat dalam diri setiap orang, setiap suku bukanlah ciptaan manusia akan tetapi ciptaan Tuhan. Jadi, menerima perbedaan berarti mempercayai Tuhan sebagai Pencip dan Maha Kuasa.
2. Menerima perbedaan apa adanya.
3. Berusaha menemukan kesamaan, dan bukan sebaliknya.
4. Melaksanakan secara bersama-sama apa yang mungkin menjadi kebutuhan bersama seperti memerangi kemiskinan, kebodohan, pengrusakan lingkungan hidup.
Rabu, 12 Agustus 2009
PESAN SINODE AM XVI GEREJA KRISTEN PROTESTAN ANGKOLA
PESAN SINODE AM XVI
GEREJA KRISTEN PROTESTAN ANGKOLA
(G.K.P.A.)
Kepada
Seluruh Warga Jemaat dan Pelayan Gereja Kristen Protestan Angkola
di seluruh Indonesia
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus!
Sinode Am XVI GKPA yang dihadiri Peserta sebanyak 193 orang dan Peninjau 31 orang yang berasal dari 28 Resort dan 1 Resort Persiapan yang ada di GKPA, berjalan dengan baik dan sukses. Hal ini terjadi berkat dukungan dan doa seluruh warga jemaat GKPA. Sinode Am tersebut dilaksanakan dari 15-19 Juli 2009 di Kantor Pusat GKPA, Kota Padangsidimpuan.
Sinode Am XVI GKPA secara resmi dibuka oleh Pucuk Pimpinan GKPA, Pdt.A.L.Hutasoit,M.A. Pembukaan ini ditandai dengan pemukulan gong. Dengan dibukanya persidangan sinode ini, maka Pucuk Pimpinan GKPA mengharapkan seluruh peserta sinode dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang berharga demi kemajuan GKPA ke masa depan.
Sinode Am XVI GKPA diresmikan pembukaannya Gubernur Sumatera Utara yang diwakili Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sumatera Utara, Ir. Josep Siswanto. Gubernur dalam sambutannya mengucapkan selamat bersinode dan mengharapkan agar GKPA semakin menunjukkan perananya dalam masyarakat dan berbangsa melalui peningkatkan kehidupan kerohanian warganya.
Acara persemian Pembukaan juga dihadiri oleh Bupati Tapanuli Selatan Ir. H. Ongku B. Hasibuan,MM dan Wakil Bupati Ir. Aldinz Rapollo Siregar,MM dan istri, Walikota Padangsidimpuan, dan Kakandepag Kota Padangsidimpuan. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padangsidimpuan dalam sambutannya mengatakan “berbangga hati karena GKPA satu-satunya gereja yang berpusat di Tapanuli Selatan dan mengajak agar GKPA menjadi mitra pemerintah dalam memelihara kerukunan antar dan inter umat beragama dan turut memajukan Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padangsidimpuan”.
Pdt.M.H.Sitorus,S.Th. mewakili BKAG Tapanuli Selatan (Tap-Sel) dalam sambutannya mengatakan berbangga hati atas kehadiran dan peran aktif GKPA dalam menghidupkan kerjasama dan kegiatan beroikumene selama ini. Sementara itu Maritje mewakili Gereja Mennonite di Belanda, mengatakan bahwa Gereja Mennonite sangat senang bermitra dengan GKPA dan mengharapkan supaya partnership (kemitraan) semakin ditingkatkan pada masa-masa mendatang.
Demikian juga undangan khusus GKPA, Parlindungan Purba anggota DPD-RI utusan daerah Sumatera Utara, dalam sambutannya mengatakan sangat bangga dengan GKPA karena GKPA salah satu gereja yang sangat peduli dengan masalah-masalah di daerahnya dan mengucapkan terimakasih atas kerjasama yang dijalin selama ini.
Akhirnya, Pucuk Pimpinan GKPA Pdt. A.L.Hutasoit,M.A. (Ephorus) mengajak seluruh sinodestan mensyukuri berkat dan pemeliharaan Tuhan selama ini dan mengajak untuk bersama-sama semakin aktif menggumuli tema dan sub-tema GKPA demi kemajuan GKPA di masa depan.
Sinode Am XVI GKPA berjalan dengan baik berkat kerja keras seluruh panitia sinode am yang telah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk kelancaran sinode. Sinode Am juga berjalan dengan lancar atas dukungan dari pemerintah, pribadi-pribadi yang telah memberikan kontribusinya dalam pelaksanaan sinode.
Sinode Am XVI GKPA ini ber-tema: “BERGIATLAH DALAM PEKERJAAN TUHAN” (1 Korintus 15:58b) dan sub tema: “Peran dan Fungsi Gereja Dalam Menghadapi Krisis Global di Era Modernisasi”. Pada acara pembukaan sinode am, para sinodestan dan undangan disuguhi dengan tarian-tarian budaya Angkola yang dibawakan oleh Anak-anak Sekolah Minggu dan persembahan lagu-lagu pujian oleh Koor Gabungan GKPA Jl.Teuku Umar.
Sinode Am disemangati oleh dua peristiwa sejarah penginjilan yakni, pertama, semangat 175 tahun Kekristenan di Pakantan, Kecamatan Pakantan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang dirayakan pada 11-12 Juli 2009 dan kedua, semangat menyambut 150 tahun Kekristenan di daerah Angkola Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) pada April 2011. Kedua momen peristiwa itu membuat semua peserta semakin bersemangat mengikuti sinode, mengingat daerah Angkola-Mandailing sebagai tempat persemaian Injil, yang menjadikan kita percaya kepada Kristus.
GKPA juga bersyukur atas terselenggaranya dengan baik, aman, lancar dan damai pesta demokrasi pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI yang dilaksanakan pada tanggal 8 Juli 2009 yang lalu dan akan mendukung sepenuhnya Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih.
Dalam proses penyelenggaraannya, Sinode Am XVI GKPA juga mendalami beberapa materi, di antaranya:
1. “Refarat Tema GKPA” yang dibawakan oleh Pdt. Ramli SN. Harahap, M.Th, mengajak kita kepada perenungan untuk mempertajam visi dan misi GKPA ke masa depan.
2. “Pelayan dan Pelayanan” oleh Pdt. Dr. M. Frans Ladestam Sinaga yang menekankan begitu mulia dan berharganya seorang pelayan di mata Tuhan. Hal ini patut selalu disyukuri oleh para pelayan dalam pelayanan yang dilaksanakan dengan kualitas yang baik. Oleh karena itu mulai tahun ini, GKPA harus semakin giat meningkatkan mutu pelayan dan pelayananya.
3. ”Gereja dan Pluralisme” oleh Pdt. Dr. Ir. Fridz Sihombing, mengatakan bahwa berdasarkan Alkitab gereja yang berada di dunia dan di tengah-tengah masyarakat harus ikut memasuki masalah-masalah yang berbeda-beda. Hal ini meneladani Kristus yang adalah untuk dunia. Oleh karena itu, masalah pluralisme, khususnya di Indonesia harus dipahami dan dijiwai bersama dalam kaitan misi Kristus di dunia ini.
Sebagai wadah bermusyawarah dan pengambilan keputusan tertinggi untuk mewujudkan maksud dan tujuan GKPA, Sinode Am XVI bertugas:
1. Mengevaluasi laporan pelayanan Pucuk Pimpinan dan Majelis Pusat 2006-2009;
2. Menetapkan dan mensahkan: Penjelasan Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA; Peraturan Pokok Kepegawaian GKPA; dan Tata Urutan Peraturan GKPA;
3. Membicarakan Program 2009-2011 sesuai dengan PTPB yang ditetapkan pada Sinode Am XV tahun 2006.
Sinode Am diakhiri dengan Ibadah Perjamuan Kudus yang diikuti sebagian peserta, dan ditutup oleh Pucuk Pimpinan GKPA pada hari Minggu 19 Juli 2009 di GKPA Jl.Teuku Umar Padangsidimpuan. Kami mengharapkan seluruh keputusan Sinode Am supaya dipedomani dan dilaksanakan secara bersama-sama.
Bertitik tolak dari seluruh aktivitas dan rangkaian sinode yang telah dilaksanakan, maka kami menyampaikan pesan-pesan sebagai berikut:
1. Mengajak seluruh anggota jemaat GKPA untuk merenungkan dan mempertajam pemahaman Visi dan Misi GKPA yang telah ditetapkan oleh para pendiri GKPA pada masa Panjaeon. Untuk itu sangatlah penting terus mensosialisasikan visi dan misi tersebut pada semua tingkatan.
2. Mengharapkan seluruh anggota jemaat GKPA agar semakin taat kepada aturan-peraturan yang berlaku, demi peningkatan ketertiban/kedisiplinan dan kemajuan GKPA.
3. Agar seluruh anggota jemaat GKPA bahu-membahu melaksanakan Program Pelayanan sebagaimana yang telah dituangkan dalam PTPB sesuai arahan Tema GKPA “Bergiatlah dalam Pekerjaan Tuhan”.
4. Agar seluruh jemaat GKPA, mendukung dan berpartisipasi aktip dalam mempersiapkan: (a) Pesta Olop-Olop 35 tahun, (b) Jubelium 150 tahun Kekristenan di daerah Angkola dan (c) Sinode Am (Periode ) XVII GKPA 2011.
5. GKPA sebagai persekutuan orang percaya, akan terus memberikan kesempatan dalam kegiatan-kegiatan bergereja bagi kategorial-kategorial yang ada.
6. Meningkatkan peran GKPA dalam melaksanakan zending ke dalam dan keluar sebagai salah satu wujud tri tugas panggilan gereja.
7. Kita patut bersyukur kepada Tuhan bahwa kesadaran seluruh anggota jemaat dalam menunjukkan kewajiban-kewajibannya semakin baik. Hal ini, khususnya dapat dilihat dari peningkatan jumlah Persembahan Bulanan dan Dana Asset dari tahun 2006-2009. Hal ini perlu dipertahankan bahkan di tingkatkan untuk masa depan demi pembangunan Tubuh Kristus.
8. Mengharapkan seluruh Pelayan Gereja menjadi teladan dalam menunjukkan tanggung jawab dan kewajibannya dalam gereja.
9. GKPA berperan aktif dalam memelihara dan meningkatkan kerukunan antarumat beragama di manapun berada dan melayani.
10. GKPA menyambut baik dan mendukung sepenuhnya keputusan Pemerintah RI yang menjadikan Sipirok, Ibu Kota Tapanuli Selatan. Untuk itu seluruh anggota jemaat GKPA diharapkan semakin memperlihatkan dan meningkatkan eksistensi GKPA di Tapanuli Selatan.
11. GKPA harus berperan aktif dalam memelihara kelestarian lingkungan hidup dalam rangka mewujudkan keadilan; perdamaian dan keutuhan ciptaan.
12. GKPA sangat prihatin atas peristiwa ledakan bom yang terjadi di Hotel J.W.Marriot dan Ritz Carlton yang menewaskan 9 orang dan puluhan korban luka-luka pada 17 Juli 2009. GKPA mendoakan agar seluruh keluarga yang meninggal dan luka-luka agar diberi kekuatan untuk menghadapi peristiwa ini. Kiranya peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi pada hari-hari yang akan datang.
Demikianlah pesan Sinode Am XVI GKPA ini kami sampaikan, dengan selalu mengingat akan pesan Rasul Petrus: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9).
Padangsidimpuan, 19 Juli 2009
Sinode Am XVI GKPA
Pdt. A. L. Hutasoit, M.A. Pdt. P. H. Harahap, S.Th
Ephorus Sekretaris Jenderal
GEREJA KRISTEN PROTESTAN ANGKOLA
(G.K.P.A.)
Kepada
Seluruh Warga Jemaat dan Pelayan Gereja Kristen Protestan Angkola
di seluruh Indonesia
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus!
Sinode Am XVI GKPA yang dihadiri Peserta sebanyak 193 orang dan Peninjau 31 orang yang berasal dari 28 Resort dan 1 Resort Persiapan yang ada di GKPA, berjalan dengan baik dan sukses. Hal ini terjadi berkat dukungan dan doa seluruh warga jemaat GKPA. Sinode Am tersebut dilaksanakan dari 15-19 Juli 2009 di Kantor Pusat GKPA, Kota Padangsidimpuan.
Sinode Am XVI GKPA secara resmi dibuka oleh Pucuk Pimpinan GKPA, Pdt.A.L.Hutasoit,M.A. Pembukaan ini ditandai dengan pemukulan gong. Dengan dibukanya persidangan sinode ini, maka Pucuk Pimpinan GKPA mengharapkan seluruh peserta sinode dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang berharga demi kemajuan GKPA ke masa depan.
Sinode Am XVI GKPA diresmikan pembukaannya Gubernur Sumatera Utara yang diwakili Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sumatera Utara, Ir. Josep Siswanto. Gubernur dalam sambutannya mengucapkan selamat bersinode dan mengharapkan agar GKPA semakin menunjukkan perananya dalam masyarakat dan berbangsa melalui peningkatkan kehidupan kerohanian warganya.
Acara persemian Pembukaan juga dihadiri oleh Bupati Tapanuli Selatan Ir. H. Ongku B. Hasibuan,MM dan Wakil Bupati Ir. Aldinz Rapollo Siregar,MM dan istri, Walikota Padangsidimpuan, dan Kakandepag Kota Padangsidimpuan. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padangsidimpuan dalam sambutannya mengatakan “berbangga hati karena GKPA satu-satunya gereja yang berpusat di Tapanuli Selatan dan mengajak agar GKPA menjadi mitra pemerintah dalam memelihara kerukunan antar dan inter umat beragama dan turut memajukan Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padangsidimpuan”.
Pdt.M.H.Sitorus,S.Th. mewakili BKAG Tapanuli Selatan (Tap-Sel) dalam sambutannya mengatakan berbangga hati atas kehadiran dan peran aktif GKPA dalam menghidupkan kerjasama dan kegiatan beroikumene selama ini. Sementara itu Maritje mewakili Gereja Mennonite di Belanda, mengatakan bahwa Gereja Mennonite sangat senang bermitra dengan GKPA dan mengharapkan supaya partnership (kemitraan) semakin ditingkatkan pada masa-masa mendatang.
Demikian juga undangan khusus GKPA, Parlindungan Purba anggota DPD-RI utusan daerah Sumatera Utara, dalam sambutannya mengatakan sangat bangga dengan GKPA karena GKPA salah satu gereja yang sangat peduli dengan masalah-masalah di daerahnya dan mengucapkan terimakasih atas kerjasama yang dijalin selama ini.
Akhirnya, Pucuk Pimpinan GKPA Pdt. A.L.Hutasoit,M.A. (Ephorus) mengajak seluruh sinodestan mensyukuri berkat dan pemeliharaan Tuhan selama ini dan mengajak untuk bersama-sama semakin aktif menggumuli tema dan sub-tema GKPA demi kemajuan GKPA di masa depan.
Sinode Am XVI GKPA berjalan dengan baik berkat kerja keras seluruh panitia sinode am yang telah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk kelancaran sinode. Sinode Am juga berjalan dengan lancar atas dukungan dari pemerintah, pribadi-pribadi yang telah memberikan kontribusinya dalam pelaksanaan sinode.
Sinode Am XVI GKPA ini ber-tema: “BERGIATLAH DALAM PEKERJAAN TUHAN” (1 Korintus 15:58b) dan sub tema: “Peran dan Fungsi Gereja Dalam Menghadapi Krisis Global di Era Modernisasi”. Pada acara pembukaan sinode am, para sinodestan dan undangan disuguhi dengan tarian-tarian budaya Angkola yang dibawakan oleh Anak-anak Sekolah Minggu dan persembahan lagu-lagu pujian oleh Koor Gabungan GKPA Jl.Teuku Umar.
Sinode Am disemangati oleh dua peristiwa sejarah penginjilan yakni, pertama, semangat 175 tahun Kekristenan di Pakantan, Kecamatan Pakantan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang dirayakan pada 11-12 Juli 2009 dan kedua, semangat menyambut 150 tahun Kekristenan di daerah Angkola Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) pada April 2011. Kedua momen peristiwa itu membuat semua peserta semakin bersemangat mengikuti sinode, mengingat daerah Angkola-Mandailing sebagai tempat persemaian Injil, yang menjadikan kita percaya kepada Kristus.
GKPA juga bersyukur atas terselenggaranya dengan baik, aman, lancar dan damai pesta demokrasi pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI yang dilaksanakan pada tanggal 8 Juli 2009 yang lalu dan akan mendukung sepenuhnya Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih.
Dalam proses penyelenggaraannya, Sinode Am XVI GKPA juga mendalami beberapa materi, di antaranya:
1. “Refarat Tema GKPA” yang dibawakan oleh Pdt. Ramli SN. Harahap, M.Th, mengajak kita kepada perenungan untuk mempertajam visi dan misi GKPA ke masa depan.
2. “Pelayan dan Pelayanan” oleh Pdt. Dr. M. Frans Ladestam Sinaga yang menekankan begitu mulia dan berharganya seorang pelayan di mata Tuhan. Hal ini patut selalu disyukuri oleh para pelayan dalam pelayanan yang dilaksanakan dengan kualitas yang baik. Oleh karena itu mulai tahun ini, GKPA harus semakin giat meningkatkan mutu pelayan dan pelayananya.
3. ”Gereja dan Pluralisme” oleh Pdt. Dr. Ir. Fridz Sihombing, mengatakan bahwa berdasarkan Alkitab gereja yang berada di dunia dan di tengah-tengah masyarakat harus ikut memasuki masalah-masalah yang berbeda-beda. Hal ini meneladani Kristus yang adalah untuk dunia. Oleh karena itu, masalah pluralisme, khususnya di Indonesia harus dipahami dan dijiwai bersama dalam kaitan misi Kristus di dunia ini.
Sebagai wadah bermusyawarah dan pengambilan keputusan tertinggi untuk mewujudkan maksud dan tujuan GKPA, Sinode Am XVI bertugas:
1. Mengevaluasi laporan pelayanan Pucuk Pimpinan dan Majelis Pusat 2006-2009;
2. Menetapkan dan mensahkan: Penjelasan Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA; Peraturan Pokok Kepegawaian GKPA; dan Tata Urutan Peraturan GKPA;
3. Membicarakan Program 2009-2011 sesuai dengan PTPB yang ditetapkan pada Sinode Am XV tahun 2006.
Sinode Am diakhiri dengan Ibadah Perjamuan Kudus yang diikuti sebagian peserta, dan ditutup oleh Pucuk Pimpinan GKPA pada hari Minggu 19 Juli 2009 di GKPA Jl.Teuku Umar Padangsidimpuan. Kami mengharapkan seluruh keputusan Sinode Am supaya dipedomani dan dilaksanakan secara bersama-sama.
Bertitik tolak dari seluruh aktivitas dan rangkaian sinode yang telah dilaksanakan, maka kami menyampaikan pesan-pesan sebagai berikut:
1. Mengajak seluruh anggota jemaat GKPA untuk merenungkan dan mempertajam pemahaman Visi dan Misi GKPA yang telah ditetapkan oleh para pendiri GKPA pada masa Panjaeon. Untuk itu sangatlah penting terus mensosialisasikan visi dan misi tersebut pada semua tingkatan.
2. Mengharapkan seluruh anggota jemaat GKPA agar semakin taat kepada aturan-peraturan yang berlaku, demi peningkatan ketertiban/kedisiplinan dan kemajuan GKPA.
3. Agar seluruh anggota jemaat GKPA bahu-membahu melaksanakan Program Pelayanan sebagaimana yang telah dituangkan dalam PTPB sesuai arahan Tema GKPA “Bergiatlah dalam Pekerjaan Tuhan”.
4. Agar seluruh jemaat GKPA, mendukung dan berpartisipasi aktip dalam mempersiapkan: (a) Pesta Olop-Olop 35 tahun, (b) Jubelium 150 tahun Kekristenan di daerah Angkola dan (c) Sinode Am (Periode ) XVII GKPA 2011.
5. GKPA sebagai persekutuan orang percaya, akan terus memberikan kesempatan dalam kegiatan-kegiatan bergereja bagi kategorial-kategorial yang ada.
6. Meningkatkan peran GKPA dalam melaksanakan zending ke dalam dan keluar sebagai salah satu wujud tri tugas panggilan gereja.
7. Kita patut bersyukur kepada Tuhan bahwa kesadaran seluruh anggota jemaat dalam menunjukkan kewajiban-kewajibannya semakin baik. Hal ini, khususnya dapat dilihat dari peningkatan jumlah Persembahan Bulanan dan Dana Asset dari tahun 2006-2009. Hal ini perlu dipertahankan bahkan di tingkatkan untuk masa depan demi pembangunan Tubuh Kristus.
8. Mengharapkan seluruh Pelayan Gereja menjadi teladan dalam menunjukkan tanggung jawab dan kewajibannya dalam gereja.
9. GKPA berperan aktif dalam memelihara dan meningkatkan kerukunan antarumat beragama di manapun berada dan melayani.
10. GKPA menyambut baik dan mendukung sepenuhnya keputusan Pemerintah RI yang menjadikan Sipirok, Ibu Kota Tapanuli Selatan. Untuk itu seluruh anggota jemaat GKPA diharapkan semakin memperlihatkan dan meningkatkan eksistensi GKPA di Tapanuli Selatan.
11. GKPA harus berperan aktif dalam memelihara kelestarian lingkungan hidup dalam rangka mewujudkan keadilan; perdamaian dan keutuhan ciptaan.
12. GKPA sangat prihatin atas peristiwa ledakan bom yang terjadi di Hotel J.W.Marriot dan Ritz Carlton yang menewaskan 9 orang dan puluhan korban luka-luka pada 17 Juli 2009. GKPA mendoakan agar seluruh keluarga yang meninggal dan luka-luka agar diberi kekuatan untuk menghadapi peristiwa ini. Kiranya peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi pada hari-hari yang akan datang.
Demikianlah pesan Sinode Am XVI GKPA ini kami sampaikan, dengan selalu mengingat akan pesan Rasul Petrus: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9).
Padangsidimpuan, 19 Juli 2009
Sinode Am XVI GKPA
Pdt. A. L. Hutasoit, M.A. Pdt. P. H. Harahap, S.Th
Ephorus Sekretaris Jenderal
Bacaan Minggu 23 Agustus 2009: Lukas 10 : 25 - 37
KASIH UNTUK DILAKUKAN, BUKAN DITEORIKAN!
Pendahuluan
Penulis Injil Lukas yang umumnya terkenal dengan sebutan dokter Lukas, bukanlah seorang Yahudi. Latar belakang non Yahudi ini tercermin dari pengkisahannya tentang kehidupan Yesus dengan menonjolkan sifat universal berita keselamatan yang dibawa Yesus. Yesus datang untuk semua orang. Lukas secara khusus memperlihatkan sisi kehidupan pelayanan Yesus kepada masyarakat kalangan bawah di Yudea, yaitu orang-orang miskin, kaum perempuan, anak-anak dan orang-orang yang paling berdosa, yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat, khususnya masyarakat Yahudi. Lukas menyatakan bahwa Injil itu mencakupi juga bangsa-bangsa lain, dan khususnya orang Samaria yang dipandang rendah oleh orang Yahudi pada masa itu (bnd. bagian pembacaan kita ini, di mana Yesus justru memakai contoh seorang Samaria sebagai orang yang patut diteladani kebaikannya).
Sifat universal berita keselamatan dalam Injil Lukas ini bahkan sudah dinyatakan pada bagian awal injil ini. Dalam menyajikan keturunan Yesus dalam silsilah, ia menelusuri silsilah itu sampai Adam sebagai bapa umat manusia. Jika kita membandingkan Markus 1:2-3 dengan Lukas 3:4-6 terlihat Lukas mengutip juga Yesaya 40:3-5, sebab di sana dikatakan bahwa keselamatan itu ditawarkan kepada semua bangsa.
Penjelasan Nas
Kisah tentang orang Samaria yang baik hati ini mengambil tempat atau berlatar jalan dari Yerusalem menuju Yerikho. Jarak antara dua kota ini kurang lebih 20 mil atau membutuhkan waktu sekitar lima jam waktu tempuh. Jalan yang menghubungkan kedua kota tersebut – yang biasanya dilalui oleh orang-orang pada zaman itu – sempit, berbatu-batu, dengan gunung-gunung batu yang penuh gua dan lubang. Kondisi yang demikian merupakan tempat yang bagus bagi para penyamun. Karena jalan ini sangat berbahaya, ia disebut ‘jalan darah’. Jalan inilah yang ditempuh oleh korban perampokan yang ada dalam bagian pembacaan kita ini.
Dalam kisah ini diperlihatkan beberapa karakter manusia, yang seringkali menjadi karakter kita juga.
a. Ada seorang yang sedang bepergian. Untuk menghindari bahaya perampokan ketika melewati ‘jalan darah’ ini biasanya orang berjalan berombongan. Namun, dalam bacaan kita dikatakan seorang. Ini menunjukkan bahwa orang ini seorang yang berani, tekun dan tahan terhadap medan perjalanan yang keras itu. Orang ini akhirnya dirampok juga karena memang betapa bahaya jalan yang ditempuhnya.
b. Datang seorang imam. Imam ini baru selesai melakukan tugas keimamannya di Yerusalem dan hendak pulang ke Yerikho. Banyak juga imam yang tinggal di kota Yerikho. Imam tersebut dengan tergesa-gesa menghindari orang yang dirampok tersebut. Alasan ia menghindar dan tidak menolong orang tersebut karena takut tercemar, sebab dikiranya orang tersebut mungkin saja sudah mati. Menurut peraturan keimamatan, bila seorang imam menyentuh mayat maka ia menjadi najis, dan dia bisa kehilangan hak melayani di Bait Allah. Rupanya imam ini lebih mengutamakan peraturan-peraturan keagamaan dan keuntungan dirinya sendiri ketimbang menolong orang yang sedang sekarat. Yang seremonial diletakkannya di atas yang asasi atau fundamental.
c. Datang seorang Lewi. Orang Lewi ini awalnya berjalan lebih dekat dengan korban perampokan tersebut, tetapi kemudian cepat-cepat menghindar. Mengapa? Sebab para penyamun pada ‘jalan darah’ itu memiliki kebiasaan untuk mempergunakan umpan-umpanan. Orang Lewi takut kalau-kalau orang yang tergeletak itu justru merupakan seorang perampok yang hanya berpura-pura menjadi korban perampokan. Orang Lewi tersebut lebih memikirkan keselamatannya sendiri. Ia tidak akan mau mengambil resiko untuk menolong orang lain.
d. Lalu datang seorang Samaria. Ia menolong orang itu karena terdorong oleh belas kasihan yang sungguh-sungguh. Tepat sekali cara menolongnya; dibalutnya luka-luka orang yang malang itu, disiraminya dengan minyak dan anggur. Setelah korban bisa berjalan, ia menemani dan mengantarnya ke penginapan yang layak untuk pengobatan yang lebih lanjut dan istirahat yang cukup dari si korban. Ia bahkan menanggung seluruh ongkos penginapan orang itu. Ia tidak setengah-setengah menolong orang tersebut.
Dari perumpamaan ini sesungguhnya Yesus tidak memberi jawab secara langsung terhadap apa yang ditanyakan oleh ahli Taurat. Yesus justru secara retoris membalikkan pertanyaan tersebut berdasarkan perumpamaan yang diceritakan itu, “Siapakah dari ketiga orang itu yang bertindak sebagai sesamanya terhadap orang itu?” Maksud Yesus dengan pertanyaan retoris itu ialah janganlah ajukan pertanyaan teoritis siapakah sesamaku, tetapi mulailah secara praktis dengan bertindak sendiri sebagai sesama. Yesus tidak mau bersoal jawab secara teoritis dengan ahli Taurat itu mengenai obyek/sasaran dari kasih kepada sesama, tetapi secara langsung mau berbicara tentang subyek/pelaku dari kasih kepada sesama tersebut.
Penggunaan figur seorang Samaria oleh Yesus hendak menunjukkan dan mengatakan bahwa adalah masih lebih baik dan berbelas kasih orang-orang yang dianggap berdosa dan hina oleh orang-orang Yahudi. Dan memperlihatkan bahwa justru seorang Samaria yang lebih mengenal dan mengasihi Allah ketimbang orang-orang Yahudi yang lebih mengutamakan hal-hal legal seremonial dan keuntungan dirinya sendiri itu. Mereka mengatakan bahwa mereka mengasihi Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya, padahal dalam kenyataan menolong seorang yang sangat perlu ditolong saja tidak bisa hanya karena ia adalah orang lain, bukan orang Yahudi. Yesus juga hendak menunjukkan bahwa kasih itu sesungguhnya melampaui batas-batas yang dibuat oleh manusia dengan hukum-hukumnya.
Aplikasi/renungan
• Kasih kepada Allah tidak akan berarti kalau kasih kepada sesama tidak mewujud nyata dalam kasih terhadap sesama kita yang ada di dunia ini. Kalau kita menyatakan bahwa kita mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, maka tunjukkanlah terlebih dulu pengakuan itu dengan aksi nyata mengasihi orang lain. Mengasihi bukan sebatas dalam kata-kata, di bibir saja, tetapi melakukan sesuatu yang nyata. Kita jangan menjadi orang Kristen NATO, No Action Talk Only, seperti ahli Taurat yang menguji Yesus tersebut.
• Kasih terhadap sesama melampaui batas-batas suku, agama, ras, golongan, status, dan batas-batas seremonial serta legal yang dibuat oleh kita manusia. Sebagaimana kasih Kristus adalah universal dan tak terperi, demikian juga semestinya kasih kita sebagai umat manusia dan sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus. Kita jangan menolong orang lantaran ia sesuku, seagama, sependapat, sestatus, segolongan, dan se…lainnya. Jangan! Untuk kita menolong dan mengasihi orang lain, kita harus bisa, mau dan berani melewati semua barikade-barikade yang dibuat oleh manusia tersebut.
• Pelaksanaan kasih tersebut tidak membutuhkan teori-teori besar tentang apa itu kasih, kepada siapa selayaknya dan sebenarnya kita menyalurkan kasih kita itu, dan sebagainya. Sebaliknya, hanya membutuhkan praktik. Cukup praktik, bukan teori. Dalam praktik kasih, bahkan akan tampak secara tersirat kasih Allah yang besar itu kepada kita.
• Kita juga jangan menolong setengah-setengah. Asal saya sudah menolong, asal saya sudah berbuat, lalu selanjutnya terserah. Kisah orang Samaria yang baik hati mengkritik tindakan dan pola pikir kita yang demikian. Kalau ada orang yang benar-benar tidak berdaya, tidak memiliki kekuatan sama sekali dan sangat membutuhkan uluran tangan kasih kita, mari kita lakukan dengan total, all out (sebab Allah pun sesungguhnya all out kepada kita, bukan!), pengorbanan yang penuh dan sungguh, seperti orang Samaria yang menolong korban perampokan yang sama sekali sudah tidak berdaya itu.
Pendahuluan
Penulis Injil Lukas yang umumnya terkenal dengan sebutan dokter Lukas, bukanlah seorang Yahudi. Latar belakang non Yahudi ini tercermin dari pengkisahannya tentang kehidupan Yesus dengan menonjolkan sifat universal berita keselamatan yang dibawa Yesus. Yesus datang untuk semua orang. Lukas secara khusus memperlihatkan sisi kehidupan pelayanan Yesus kepada masyarakat kalangan bawah di Yudea, yaitu orang-orang miskin, kaum perempuan, anak-anak dan orang-orang yang paling berdosa, yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat, khususnya masyarakat Yahudi. Lukas menyatakan bahwa Injil itu mencakupi juga bangsa-bangsa lain, dan khususnya orang Samaria yang dipandang rendah oleh orang Yahudi pada masa itu (bnd. bagian pembacaan kita ini, di mana Yesus justru memakai contoh seorang Samaria sebagai orang yang patut diteladani kebaikannya).
Sifat universal berita keselamatan dalam Injil Lukas ini bahkan sudah dinyatakan pada bagian awal injil ini. Dalam menyajikan keturunan Yesus dalam silsilah, ia menelusuri silsilah itu sampai Adam sebagai bapa umat manusia. Jika kita membandingkan Markus 1:2-3 dengan Lukas 3:4-6 terlihat Lukas mengutip juga Yesaya 40:3-5, sebab di sana dikatakan bahwa keselamatan itu ditawarkan kepada semua bangsa.
Penjelasan Nas
Kisah tentang orang Samaria yang baik hati ini mengambil tempat atau berlatar jalan dari Yerusalem menuju Yerikho. Jarak antara dua kota ini kurang lebih 20 mil atau membutuhkan waktu sekitar lima jam waktu tempuh. Jalan yang menghubungkan kedua kota tersebut – yang biasanya dilalui oleh orang-orang pada zaman itu – sempit, berbatu-batu, dengan gunung-gunung batu yang penuh gua dan lubang. Kondisi yang demikian merupakan tempat yang bagus bagi para penyamun. Karena jalan ini sangat berbahaya, ia disebut ‘jalan darah’. Jalan inilah yang ditempuh oleh korban perampokan yang ada dalam bagian pembacaan kita ini.
Dalam kisah ini diperlihatkan beberapa karakter manusia, yang seringkali menjadi karakter kita juga.
a. Ada seorang yang sedang bepergian. Untuk menghindari bahaya perampokan ketika melewati ‘jalan darah’ ini biasanya orang berjalan berombongan. Namun, dalam bacaan kita dikatakan seorang. Ini menunjukkan bahwa orang ini seorang yang berani, tekun dan tahan terhadap medan perjalanan yang keras itu. Orang ini akhirnya dirampok juga karena memang betapa bahaya jalan yang ditempuhnya.
b. Datang seorang imam. Imam ini baru selesai melakukan tugas keimamannya di Yerusalem dan hendak pulang ke Yerikho. Banyak juga imam yang tinggal di kota Yerikho. Imam tersebut dengan tergesa-gesa menghindari orang yang dirampok tersebut. Alasan ia menghindar dan tidak menolong orang tersebut karena takut tercemar, sebab dikiranya orang tersebut mungkin saja sudah mati. Menurut peraturan keimamatan, bila seorang imam menyentuh mayat maka ia menjadi najis, dan dia bisa kehilangan hak melayani di Bait Allah. Rupanya imam ini lebih mengutamakan peraturan-peraturan keagamaan dan keuntungan dirinya sendiri ketimbang menolong orang yang sedang sekarat. Yang seremonial diletakkannya di atas yang asasi atau fundamental.
c. Datang seorang Lewi. Orang Lewi ini awalnya berjalan lebih dekat dengan korban perampokan tersebut, tetapi kemudian cepat-cepat menghindar. Mengapa? Sebab para penyamun pada ‘jalan darah’ itu memiliki kebiasaan untuk mempergunakan umpan-umpanan. Orang Lewi takut kalau-kalau orang yang tergeletak itu justru merupakan seorang perampok yang hanya berpura-pura menjadi korban perampokan. Orang Lewi tersebut lebih memikirkan keselamatannya sendiri. Ia tidak akan mau mengambil resiko untuk menolong orang lain.
d. Lalu datang seorang Samaria. Ia menolong orang itu karena terdorong oleh belas kasihan yang sungguh-sungguh. Tepat sekali cara menolongnya; dibalutnya luka-luka orang yang malang itu, disiraminya dengan minyak dan anggur. Setelah korban bisa berjalan, ia menemani dan mengantarnya ke penginapan yang layak untuk pengobatan yang lebih lanjut dan istirahat yang cukup dari si korban. Ia bahkan menanggung seluruh ongkos penginapan orang itu. Ia tidak setengah-setengah menolong orang tersebut.
Dari perumpamaan ini sesungguhnya Yesus tidak memberi jawab secara langsung terhadap apa yang ditanyakan oleh ahli Taurat. Yesus justru secara retoris membalikkan pertanyaan tersebut berdasarkan perumpamaan yang diceritakan itu, “Siapakah dari ketiga orang itu yang bertindak sebagai sesamanya terhadap orang itu?” Maksud Yesus dengan pertanyaan retoris itu ialah janganlah ajukan pertanyaan teoritis siapakah sesamaku, tetapi mulailah secara praktis dengan bertindak sendiri sebagai sesama. Yesus tidak mau bersoal jawab secara teoritis dengan ahli Taurat itu mengenai obyek/sasaran dari kasih kepada sesama, tetapi secara langsung mau berbicara tentang subyek/pelaku dari kasih kepada sesama tersebut.
Penggunaan figur seorang Samaria oleh Yesus hendak menunjukkan dan mengatakan bahwa adalah masih lebih baik dan berbelas kasih orang-orang yang dianggap berdosa dan hina oleh orang-orang Yahudi. Dan memperlihatkan bahwa justru seorang Samaria yang lebih mengenal dan mengasihi Allah ketimbang orang-orang Yahudi yang lebih mengutamakan hal-hal legal seremonial dan keuntungan dirinya sendiri itu. Mereka mengatakan bahwa mereka mengasihi Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya, padahal dalam kenyataan menolong seorang yang sangat perlu ditolong saja tidak bisa hanya karena ia adalah orang lain, bukan orang Yahudi. Yesus juga hendak menunjukkan bahwa kasih itu sesungguhnya melampaui batas-batas yang dibuat oleh manusia dengan hukum-hukumnya.
Aplikasi/renungan
• Kasih kepada Allah tidak akan berarti kalau kasih kepada sesama tidak mewujud nyata dalam kasih terhadap sesama kita yang ada di dunia ini. Kalau kita menyatakan bahwa kita mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, maka tunjukkanlah terlebih dulu pengakuan itu dengan aksi nyata mengasihi orang lain. Mengasihi bukan sebatas dalam kata-kata, di bibir saja, tetapi melakukan sesuatu yang nyata. Kita jangan menjadi orang Kristen NATO, No Action Talk Only, seperti ahli Taurat yang menguji Yesus tersebut.
• Kasih terhadap sesama melampaui batas-batas suku, agama, ras, golongan, status, dan batas-batas seremonial serta legal yang dibuat oleh kita manusia. Sebagaimana kasih Kristus adalah universal dan tak terperi, demikian juga semestinya kasih kita sebagai umat manusia dan sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus. Kita jangan menolong orang lantaran ia sesuku, seagama, sependapat, sestatus, segolongan, dan se…lainnya. Jangan! Untuk kita menolong dan mengasihi orang lain, kita harus bisa, mau dan berani melewati semua barikade-barikade yang dibuat oleh manusia tersebut.
• Pelaksanaan kasih tersebut tidak membutuhkan teori-teori besar tentang apa itu kasih, kepada siapa selayaknya dan sebenarnya kita menyalurkan kasih kita itu, dan sebagainya. Sebaliknya, hanya membutuhkan praktik. Cukup praktik, bukan teori. Dalam praktik kasih, bahkan akan tampak secara tersirat kasih Allah yang besar itu kepada kita.
• Kita juga jangan menolong setengah-setengah. Asal saya sudah menolong, asal saya sudah berbuat, lalu selanjutnya terserah. Kisah orang Samaria yang baik hati mengkritik tindakan dan pola pikir kita yang demikian. Kalau ada orang yang benar-benar tidak berdaya, tidak memiliki kekuatan sama sekali dan sangat membutuhkan uluran tangan kasih kita, mari kita lakukan dengan total, all out (sebab Allah pun sesungguhnya all out kepada kita, bukan!), pengorbanan yang penuh dan sungguh, seperti orang Samaria yang menolong korban perampokan yang sama sekali sudah tidak berdaya itu.
Langganan:
Postingan (Atom)