Selasa, 27 April 2010

Bacaan Pestakosta 1, 23 Mei 2010 Ibrani 8:8-13


Pestakosta 1, 23 Mei 2010 Ibrani 8:8-13


HIDUP DALAM PERJANJIAN YANG BARU


Hari ini kita kembali merayakan Pentakosta, salah satu peristiwa penting dalam sejarah umat Tuhan berupa pencurahan Roh Kudus (Kis. 2). Pada waktu yang bersamaan, peristiwa ini menandai lahirnya gereja, sehingga secara teologis dapat dikatakan, kita sedang merayakan hari ulang tahun gereja! Dalam perayaan ini, firman Tuhan menjadi landasan perenungan kita diambil dari surat Ibrani yang banyak berbicara tentang keunggulan Kristus dan perjanjian baru yang diprakarsai-Nya bila dibandingkan dengan Perjanjian Lama. Harus diakui, teks kita memang tidak berbicara secara langsung tentang Roh Kudus sendiri! Namun, tentu saja kita tetap dapat merefleksikannya dalam kaitan dengan karya Roh dalam kehidupan umat percaya.
Kita tidak tahu siapa penulis surat Ibrani. Kita juga tidak tahu siapa penerima surat ini! Namun, tanpa informasi yang jelas tentang latar belakangnya pun, kita masih dapat merenungkan pesannya bagi kita sekarang. Yang jelas, dibandingkan dengan banyak tulisan Perjanjian Baru, hal-hal yang dibicarakan dalam surat Ibrani memang terkesan sangat Yahudi. Boleh jadi, awalnya surat ini merupakan khotbah-khotbah untuk mereka yang berlatar Yahudi, atau ingin mengetahui hubungan antara sistem lama keYahudian dan sistem baru Kekristenan.
Dan kalau dinilai dari bahasa yang digunakan penulisnya, jelaslah khotbah-khotbah itu disampaikan dengan bahasa “tinggi”. Penulisnya benar-benar seorang yang sangat piawai dalam mengungkapkan pemikirannya dalam bahasa Yunani! Ini merupakan contoh menarik bagi kita sekarang. Adakalanya khotbah harus disampaikan sesederhana mungkin dalam bahasa yang “ringan”, supaya dapat dimengerti dengan mudah. Adakalanya, khotbah perlu juga diuraikan dalam bahasa yang lebih sesuai buat orang-orang yang berpendidikan tinggi ataupun memiliki cita rasa bahasa yang tinggi.
Pesan dari surat yang panjang ini memang terfokus pada hubungan antara sistem lama Keyahudian dan sistem baru Kekristenan. Yang dilakukan mirip dengan apa yang sekarang disebut “kontekstualisasi”. Supaya relevan bagi manusia yang hidup dalam situasi yang berbeda dengan sistem keyakinan yang berbeda pula, isi firman Tuhan itu perlu juga mengambil wujud dan bahkan isi yang sesuai dengan berbagai konteksnya. Penulis surat Ibrani benar-benar piawai dalam soal ini. Sebagai contoh, karena sistem keagamaan Yahudi terpusat pada sistem imamat dan kurban, ia menafsirkan ulang peran dan keutamaan Kristus berdasarkan sistem-sistem ini. Karena Imam Agung sangat penting perannya dalam sistem agama Yahudi, ia mengidentifikasi Kristus sebagai Imam Agung pula! Tetapi, sebagai Imam Agung yang sempurna! “Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.” (7:26-27).
Seperti yang disebutkan dalam teks epistel kita, sebagai Imam Agung yang melintasi semua langit (4:14; 8:1), Kristus menjalankan imamat yang lebih tinggi berdasarkan janji yang lebih tinggi dalam bingkai perjanjian baru yang lebih mulia (8:5-6). Semua yang ada sebelumnya dalam sistem lama hanyalah gambaran dan bayangan dari apa yang sesungguhnya ada di surga (8:5).
Dalam konteks itulah, nubuat Nabi Yeremia dikutip oleh penulis surat Ibrani (Yer. 31:31-34). Ketidaksetiaan Israel sepanjang sejarahnya bersama Tuhan sudah nyata. Hukuman Tuhan atas mereka menandai jalan panjang penuh penderitaan yang mereka lalui di bawah kekuasaan bangsa-bangsa asing. Dalam visi kenabian, rupanya solusinya bukan dengan mengoreksi sistemnya saja. Tetapi, juga orang-orangnya! Tentu saja mereka sudah memiliki Taurat beserta segala rincian yang mengatur berbagai aspek kehidupan mereka. Namun, seperti yang sering dikritik para nabi, semua yang baik itu belum menjamin terwujudnya hidup otentik yang sungguh-sungguh ingin memberlakukan kehendak Tuhan. Simak saja kritik berikut dari seorang nabi lainnya: “Dan Tuhan telah berfirman: ‘Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan’ (Yes. 29:13).
Rupanya yang juga tidak bisa tidak harus terjadi ialah “pembaruan batin” (bnd. Rm. 12:2), sebagaimana dinubuatkan dalam kutipan dari Yeremia: “Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Ibr. 8:10). Dengan kata lain, kulit dikontraskan dengan isi. Keberagamaan formal dengan keberagamaan otentik. Sungguh benar yang sering dikeluhkan banyak orang menyangkut sistem apa saja, termasuk religius: sistem yang bagus saja tidak cukup, karena tetap saja akan menjadi korup di tangan manusia korup. Kualitas manusianya juga amat menentukan! Jika batin sudah dibarui sehingga semakin selaras dengan kehendak Allah, maka semua yang diperlukan untuk mengatur kehidupan dan tindak tanduk tidak begitu sulit lagi diciptakan atau diubah sesuai dengan kebutuhan.
Tidak tanggung-tanggung, dalam visi kenabian Yeremia, bahkan kelak orang tak perlu lagi mengatakan: “Kenallah Tuhan”. Mengapa? Sebab mereka telah mengenal Tuhan! Ya, tentu saja aneh jika kepada mereka yang sudah mengenal dan mengaku Tuhan secara sungguh-sungguh masih diminta untuk mengenal-Nya! Jadi, inti perjanjian baru yang diunggulkan melebihi perjanjian lama sebelumnya ialah: pembaruan batin sehingga umat Tuhan benar-benar mengenal Tuhannya, tidak hanya di bibir saja tetapi terlebih lagi nyata lewat buah-buah kehidupannya.
Bagaimanakah pembaruan batin itu terjadi? Lewat karya Roh Kudus! Di sinilah, pekerjaan Roh dapat menjadi renungan yang relevan pada perayaan Pentakosta, kendati teks epistel kita tidak secara ekspisit menyebutnya. Dalam bagian lain dari surat Ibrani, Roh Kudus disebutkan telah memberi kesaksian mengenai kesempurnaan karya Kristus yang menggantikan sistem kurban dan imamat yang lama (10:15; bnd. 9:8). Kristus sendiri digambarkan telah mempersembahkan diri sebagai kurban tak bercatat, yakni dengan perantaraan “Roh yang kekal” (9:14), sehingga darah kurban-Nya itu menyucikan hati nurani kita untuk lepas dari perbuatan sia-sia (harfiah: “perbuatan-perbuatan mati”, nekron ergon).
Ini dapat dibandingkan dengan berbagai uraian Rasul Paulus tentang karya Roh! Dalam surat Galatia, misalnya, ia menegaskan, “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging” (Gal. 5:17). “Hiduplah oleh Roh maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging” (5:16)! Memakai istilah dalam surat Ibrani, keinginan daging, yakni keinginan menurut tabiat manusia yang berdosa, tidak dapat memenuhi aturan yang berlaku dalam sistem lama! Keadaan yang tidak menguntungkan ini selalu dieksploitasi oleh kuasa dosa (bnd. Rm. 7:13). Sistem yang lebih unggul tentu menawarkan kekuatan yang membebaskan manusia berdosa dari “lingkaran setan” ini!
Dalam Perjanjian Baru, itulah yang dipahami sebagai karya Roh Kudus. Berulang kali ditegaskan, di dalam Kristus, kita telah dibebaskan dari sistem lama berdasarkan Taurat, supaya kita hidup dan melayani dalam keadaan baru menurut Roh (mis. Rm. 7:6; 8:2; Gal 5:16). Roh Kuduslah yang menguduskan dan memperbarui hidup orang percaya (Tit. 3:5; 2Tes. 2:13). Roh inilah juga yang telah mengingatkan agar umat Tuhan tidak mengeraskan hati bila mendengar firman-Nya (Ibr. 3:7).
Berbagai gambaran seperti “ciptaan baru” (2Kor. 5:17) dan “manusia baru” (Ef. 4:24; Kol 3:10) pada dasarnya mengungkapkan pesan yang sama. Di dalam Kristus dan oleh kuasa Roh Kudus, umat percaya kini tak lagi hidup sekadar melaksanakan berbagai kewajiban dan tuntutan hukum ilahi. Sistem yang lama telah terlampaui. Di dalam Kristus, yang baru telah datang (2Kor. 5:17)! Mereka yang hidup dalam perjanjian baru itu, sewajarnya menghasilkan buah-buah Roh seperti kasih, damai sejahtera, kesabaran dan kesetiaan (Gal. 5:20)!
Karya Roh seperti itu memang kurang “spektakuler” bila dibandingkan karunia-karunia Roh dalam bentuk berbagai mujizat melalui orang percaya (Ibr. 2:4; bnd. 1Kor. 12:10; Gal. 3:5). Padahal, bukankah sekarang ini banyak orang mendambakan berbagai pengalaman rohani yang “menggelora” sebagai manifestasi kepenuhan Roh? Pencurahan Roh seperti yang terjadi pada Pestakosta pertama di antara umat Kristen perdana sering diasosiasikan dengan gejala-gejala seperti bahasa lidah, baptisan Roh, penglihatan, dan berbagai mujizat penyembuhan. Namun, dilihat dalam kaitan dengan karya Roh Kudus, teks epistel kita kiranya menggarisbawahi aspek penting dari karya Roh itu, yang tidak kalah pentingnya, kalau tidak lebih penting, daripada fenomena yang serba spektakuler, yakni pembaruan batin yang menghasilkan ketaatan baru! Kristus sebagai Imam Besar yang telah mencapai kesempurnaan (5:9), melalui Roh-Nya masih terus berkarya membarui kita sebagai ciptaan-Nya yang baru (bnd. 2Kor. 5:17).
Seperti yang ditegaskan penulis surat Ibrani sendiri, di dalam sistem perjanjian baru, kita memiliki keberanian untuk masuk ke hadiran Allah yang kudus (10:19). Kita diajak untuk menghadap Dia dengan hati yang tulus ikhlas karena telah dibersihkan dari nurani yang jahat (10:22). Semuanya ini sekali lagi mengandaikan bahwa hukum Tuhan itu kini sudah membatin dan membentuk nurani yang baru (8:10; 10:16).
Bukankah aspek “nurani” ini sangat perlu direnungkan ketika dalam dunia kita semakin banyak manusia yang kehilangan nurani untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah? Bukankah dalam dimensi etis inilah sebenarnya manifestasi Roh sungguh efektif untuk memberi dampak bagi dunia kita? Mungkinkah kita beribadah dengan “nurani yang bersih” sementara kehidupan kita di luar ruang ibadah justru berbanding terbalik dengan apa yang dikehendaki-Nya? Perenungan atas teks epistel mengajak kita untuk mempertanyakan dan mempertanggungjawabkan isi keyakinan kita sebagai umat yang dengan perantaraan Kristus telah menerima perjanjian yang lebih baik. Kiranya Imam Surgawi itu terus menolong kita dalam perjalanan iman kita dan membawanya sampai mencapai kesempurnaan seperti Dia (5:9; 12:2). Amin.





Pdt.Dr.Anwar Tjen
Pdt.GKPI

Bacaan Minggu Exaudi, 16 Mei 2010 Matius 14:22-33


Minggu Exaudi, 16 Mei 2010 Matius 14:22-33


TUHAN, TOLONGLAH AKU !



Evangelium Matius bersama-sama dengan Markus, Lukas dan Yohanes, pertama-tama harus dilihat sebagai satu kesatuan, yang dalam tataran Biblika Perjanjian Baru disebut Injil atau Evangelium. Sesuai dengan namanya, ‘euanggelion’, keempat kitab ini berisikan Kabar Baik tentang Yesus Kristus sebagai jalan keselamatan. Bertitik-tolak dari sudut pandang masing-masing kitab, keempat kitab ini menceritakan tentang Yesus yang datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa orang yang percaya kepada-Nya. Kedatangan Yesus sungguh menjadi suka-cita bagi orang percaya; namun sebaliknya, kedatangan Yesus menjadi penghakiman yang berisi penghukuman bagi orang-orang yang tidak percaya. Namun kitab-kitab Injil selalu menekankan bahwa kasih setia dan pengasihan Tuhan lebih besar dari murka-Nya. Itu sebabnya Yesus selalu menyerukan, “Bertobatlah, karena kerajaan Allah sudah hadir!”

1. Namun dalam konstelasi keempat kitab Injil tersebut, masing-masing kitab tentu memiliki karakteristik masing-masing. William Barclay dengan gamblang menggambarkan konstelasi itu sebagai berikut: “Masing-masing penulis dari keempat Injil telah melakukan pekerjaannya dari sudut pandang tertentu. Seringkali para penulis Injil-injil tersebut dilukiskan pada jendela kaca, dalam bentuk simbol. Simbol-simbol itu berbeda-beda tetapi yang paling umum adalah ini. Lambang dari Markus adalah seorang laki-laki. Markus adalah yang paling sederhana dan sangat lugu dalam penyajiannya. Lambang Matius adalah seekor singa. Matius adalah seorang Yahudi yang menulis untuk orang Yahudi dan ia melihat di dalam diri Yesus, Sang Mesias itu, singa dari suku Yehuda, yang telah dinubuatkan oleh nabi-nabi. Lambang Yohanes adalah burung rajawali. Seekor burung rajawali dapat terbang lebih tinggi daripada burung lainnya. Demikianlah Injil Yohanes, Injil ini suatu Injil teologis; pemikiran-pemikirannya lebih tinggi dari yang lain. Lambang Lukas adalah anak lembu. Anak lembu adalah binatang yang biasanya dipakai sebagai kurban; dan Lukas melihat bahwa Yesus adalah kurban untuk seluruh dunia.” Terlepas dari kekhasan masing-masing simbol ini, yang sangat penting kita lihat di sini sehubungan dengan nas kita adalah Injil Matius serta kekhususannya. Berbeda dengan kitab-kitab Injil lainnya, penulis lebih memberi perhatian kepada orang Yahudi. Hal itu berarti, Kabar Baik itu terlebih dahulu ditujukan kepada orang Yahudi.
2. Tentu, nas ini, Matius 14:22-33, akan dilihat, diposisikan dan dipahami dalam konteks besar seperti itu, yakni perhatian Yesus secara khusus kepada orang Yahudi. Berbeda dengan kitab-kitab Injil lainnya, penulis kitab ini melihat pertama-tama orang Yahudi sebagai tujuan keselamatan yang daripada Allah dalam diri Yesus Kristus. Namun kitab ini tidak berhenti hanya di situ. Pergerakan misi bersifat sentrifugal (dari dalam ke luar). Demikian juga berita keselamatan yang daripada Yesus pertama-tama diberitakan kepada orang Yahudi, kemudian kepada seluruh dunia ini. Apakah ini adil? Adil menurut Tuhan. Mengapa? Karena umat Israel dijadikan Tuhan menjadi alat di dalam karya dan tangan-Nya. Israel harus menjadi berkat bagi bangsa-bangsa (election for service). Dalam pemahaman demikianlah hendak kita lihat nas kita, Matius 14:22-33. Nas ini merupakan suatu cerita tentang Yesus berjalan di atas air. Cerita ini juga ada dalam Injil Markus 6:45-52 dan Yohanes 6:16-21 sebagai nas-nas paralel (sinoptis)-nya. Namun seiring dengan kekhasannya, hanya nas ini yang menceritakan tentang kisah Petrus yang memohon kepada Yesus agar dia diijinkan menjumpaiNya dengan berjalan di atas air. Pencantuman cerita ini tentu berhubungan dengan ‘tokoh Petrus’ yang dianggap sangat khas Yahudi.
3. Nas ini ditulis cukup sistematis seiring dengan alur atau jalan pikirannya yang teratur:
a. Ayat 22 – 23: Yesus dan murid-murid-Nya berpisah untuk sementara
Sesudah kelima ribu orang itu makan, terjadilah suatu hal yang tidak biasa terjadi, yakni Yesus yang biasanya bersama-sama dengan murid-murid-Nya, sekarang memerintahkan mereka untuk berangkat tanpa Dia sendiri ikut. Ia melepaskan diri-Nya dari orang banyak juga, sampai Yesus tinggal seorang diri. Yoh. 6:15 menerangkan latarbelakang kelakuan Yesus itu; setelah orang banyak menjadi insaf betul tentang mujizat yang telah terjadi, mereka mau memaksa Yesus untuk menjadi raja (Mesias tokoh politis, Mesias yang triumphant). Memang Tuhan mempunyai rencana supaya Yesus menjadi raja atas seluruh dunia, namun demikian Yesus tahu bahwa pada saat itu belum waktunya. Karena itu, Yesus menjauhkan murid-murid-Nya, supaya mereka tidak dipengaruhi emosi orang banyak, dan Ia menyuruh juga orang banyak itu pergi. Yesus tinggal seorang diri. Namun demikian, Ia bukan seorang diri; Allah ada, dan Yesus memergunakan waktu untuk berdoa kepada-Nya.
b. Ayat 24 – 27: Yesus menjumpai murid-murid-Nya di tengah danau
Keduabelas murid yang pada malam itu berdayung dalam perahu, sementara Yesus berdoa di bukit, mengalami kesusahan. Mereka sudah beberapa mil (kira-kira 5 km) dari pantai; karena angin sakal yang kencang mereka harus berdayung keras-keras untuk maju. Tmbahan pula, hati mereka tidak tenang, oleh karena mereka telah hamper diusir oleh Tuhan Yesus setelah lima ribu orang itu makan.
Tetapi Yesus tidak melupakan murid-murid-Nya. Boleh jadi dari bukit Ia dapat melihat perahu itu sebagai suatu titik di tengah-tengah ombak; di samping itu dapat diduga bahwa dengan pengetahuan ajaib Yesus menyadari kesusahan mereka. Yesus mau datang kepada mereka dan bagi Yesus air tidak menjadi halangan; Ia berjalan di atas air danau itu. Waktu mereka melihat Yesus, yang pada malam itu berjalan di atas air, maka mereka mengira bahwa Ia hantu, dan mereka berteriak-teriak sebab ketakutan. Tetapi Yesus mengatakan: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut”.
c. Ayat 28 – 32: Petrus berjalan di atas air
Riwayat ini, tentang Petrus yang berjalan di atas air sama seperti Yesus, hanya ada di Injil Matius. Beberapa orang menganggap cerita ini sebagai ‘legenda atau dongeng tentang orang suci’. Namun biasanya legenda seperti itu menceritakan kepercayaan dari orang-orang suci tertentu. Padahal, dalam cerita ini justru ketidakpercayaan Petrus yang dipaparkan. Itu sebabnya, menurut banyak ahli cerita ini adalah cerita asli juga, oleh karena kelakuan Petrus dalam cerita ini cocok sekali dengan tabiat Petrus yang kita kenal dari peristiwa-peristiwa lain. Petrus adalah seorang yang sangat spontan, dan dengan sifat spontan itu ia memohon supaya ia diperbolehkan datang kepada Yesus dengan berjalan di atas air. Menurut kepercayaan Petrus, andaikata Yesus menyuruhnya datang, maka Yesus akan memberi kepadanya kemungkinan untuk berjalan di atas air. Setelah menerima ijin dari Yesus maka dengan penuh kepercayaan Petrus turun dari pearhu, dan benar-benar ia dapat berjalan di atas air menuju Yesus. Tetapi waktu ia mulai memerhatikan angin dan ombak, takutlah dia dan ia mulai tenggelam. Begitulah hal iman: selama kita memusatkan perhatian kita kepada Yesus, kita kuat dalam iman, tetapi apabila kita melupakan Yesus, iman menjadi pudar dan kita tenggelam.
Waktu Petrus insaf bahwa ia mulai tenggelam, ia berteriak kepada Yesus: ‘Tolonglah aku’. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa seruan itu adalah teriakan yang terakhir dari seorang yang sedang tenggelam dan dengan serentak langkah yang pertama kea rah iman yang baru, sebab ia minta tolong kepada Yesus. Yesus mengulurkan tangan-Nya dan memegang Petrus, tetapi menegurnya juga, sebab ia sudah bimbang dan kurang percaya. Lalu Petrus dapat berjalan di atas air pula bersama-sama dengan Yesus. Bersama-sama mereka naik ke perahu dan atas perintah Yesus angin menjadi reda juga.
d. Ayat 33 : Respons murid-murid atas kedatangan Yesus
Orang-orang yang ada di perahu itu (yakni murid-murid Yesus) tercengang atas semua hal yang baru terjadi dan mereka menyembah Yesus. Perkataan Yunani yang dipakai di sini berarti berlutut di hadapan Yesus. Perkataan ini menandakan sikap yang cocok terhadap Yesus, yakni patut kita bertelut di hadapan-Nya dan kita menyembah-Nya. Pada kesempatan itu murid-murid mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah. Sulit ditentukan di sini apa yang mereka maksudkan dengan gelar tersebut. Murid-murid Yesus percaya kepada Yesus, tetapi pengetahuannya tentang Yesus masih dalam perkembangan. Barulah di Matius 16, Petrus akan mengaku bahwa Yesus adalah Mesias. Boleh jadi maksud mereka bahwa Yesus lain dari segala manusia, atau bahwa Ia wakil Allah, atau bahwa Ia sudah menerima kuasa penuh dari pihak Allah.
4. Nas ini kita perdengarkan sebagai dasar persekutuan kita dalam Minggu Exaudi. Ada tiga hal yang hendak kita lihat di sini:
a. Ketika murid-murid itu ketakutan maka mereka tidak mampu mengenal Yesus. Dalam situasi seperti itu, mereka dengan mudah dan cepat mengambil kesimpulan bahwa Ia adalah hantu. Keadaan seperti ini juga sangat banyak ditemukan masa kini. Ketika manusia dihantui ketakutan maka dia tidak akan mampu mengenal Yesus dan Yesus sendiri dianggap hantu. Dalam keadaan seperti ini Yesus sendiri datang dan berkata, “Ini Aku, Yesus Juru Selamatmu.”
b. Ketika kita percaya kepada Yesus maka kita mungkin dengan mudahnya akan berkata, “Aku dapat dengan mudah menelusuri gelombang dan ombak hidup ini.” Mungkin pada awalnya kita bisa. Namun ketika kita sadar bahwa ombak itu sungguh-sungguh ada dan siap menghadang kita di depan, maka iman kita goyah dan kemampuan kita menghadapi ombak itu segera runtuh. Dalam keadaan seperti itu, kita datang dan berseru kepada Yesus, “Yesus, tolong aku.”
c. Ketika Petrus berteriak minta tolong maka Yesus segera mengulurkan tangan-Nya dan mereka berjalan bersama. Dalam keadaan bersama dengan Yesus maka Petrus kembali dapat berjalan di atas air. Hidup ini juga seperti itu. Ketika kita berseru minta tolong kepada Yesus maka Yesus datang menolong kita. Dalam hidup bersama dengan Yesus maka kita dapat tegar kembali menghadapi ombak hidup ini.
Kesimpulannya ialah, betapa pentingnya memelihara hidup bersama dengan Yesus (to be with Jesus).
5. Teriakan Petrus barangkali menjadi ‘model’ bagi teriakan umat masa kini. ‘Tuhan, tolonglah aku!’ Teriakan ini membawa kita ke ‘alam sadar’ bahwa hidup ini ternyata penuh dengan gelombang dan ombak, besar atau kecil, banyak atau sedikit. Tentu, inilah yang hendak digambarkan dan diingatkan oleh simbol PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), yakni kapal yang sedang berlayar di tengah lautan. Simbol ini hendak mengingatkan gereja dan setiap orang Kristen bahwa bagaikan kapal yang sedang berlayar di tengah lautan, begitulah hidup di dunia ini. Kita tidak boleh berkata, “Jangan dulu ada tantangan dan pergumulan dalam hidup saya.” Yang boleh kita katakana ialah ‘selamat datang tantangan dan semoga saya siap memenangkannya.’
6. Lau, ketika kita sadar bahwa tantangan silih-berganti menggerogoti hidup kita maka kita segera datang dan berseru minta tolong kepada Tuhan. Pertanyaan selanjutnya ialah, bagaimana kita memahami jawaban Tuhan akan teriakan dan seruan kita? Cerita berikut ini kiranya menjadi perenungan berharga untuk kita:
Seorang sufi yang sungguh-sungguh hidup dalam kesalehan dan sangat bergantung pada Sang Khalik, suatu kali mengalami musibah besar di daerahnya. Daerah tempat tinggalnya mengalami banjir yang sangat hebat, beberapa warga dan jamaahnya sudah mengungsi ke tempat yang lebih aman. Ketua RT setempat meminta supaya sang Sufi turut mengungsi bersama mereka untuk mencari tempat yang lebih aman dan nyaman, tetapi Sufi ini menolak. Dia mengatakan, Sang Khalik akan datang menjemput dia nanti untuk menyelamatkannya, jadi tidak perlu mengungsi.
Hari semakin sore, sementara hujan terus-menerus mengguyur daerah tersebut hingga air mulai menggenangi lantai rumah-rumah penduduk hingga 50 cm. Sebagian besar penduduk sudah mengungsi, sementara Sufi pindah ke teras rumahnya dan naik ke meja makan yang telah dipindahkannya ke teras untuk menyelamatkan diri menunggu Sang Khalik menolong dirinya dengan mengangkatnya ke tempat yang lebih tinggi.
Tiba-tiba datanglah sebuah perahu karet dari tim SAR nasional yang sedang melakukan ‘sweeping’ terhadap penduduk-penduduk yang mungkin belum terangkut untuk diselamatkan, mengingat gelagat alam yang kurang baik dan belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Petugas tim SAR membujuk sang Sufi untuk ikut perahu mereka ke tempat yang aman. Namun, Sufi tersebut tetap bersikeras tidak mau ikut. Dia yakin, Sang Pencipta akan datang sendiri menyelamatkan dirinya. Tim SAR pun tidak bisa berbuat apa-apa atas keyakinan Sufi ini, dan mereka pun pergi. Ketika air sudah menutupi rumah, Sufi ini naik ke atap rumahnya. Rupanya, tim SAR tidak kehilangan akal untuk menyelamatkan Sufi. Mereka menggunakan helicopter menyisir daerah yang terkena banjir dan mendapati sang Sufi sedang duduk di atap rumahnya. Tim SAR kembali mengajak dia untuk ikut ke helicopter mencari tempat yang lebih aman di pengungsian mengingat banjir yang semakin besar. Kembali Sufi tersebut menjawab bahwa dia tidak akan mau ikut tim SAR karena berdasarkan keyakinannya Sang Khalik yang akan turun menolongnya.
Hingga banjir tidak dapat dibendung lagi, seluruh rumah terendam air. Setibanya di surga, pertanyaan yang langsung diajukan kepada Sang Khalik adalah “Gusti yang Maha Mulia, Junjunganku dan Sang Penciptaku, jika hamba diijinkan bertanya kepada-Mu, mengapa ketika banjir tadi Engkau tidak datang menolong hamba. Hamba sudah lama menunggu datangnya pertolongan, namun pertolongan-Mu tak kunjung datang jua hingga hamba bertemu muka dengan Gusti saat ini?”
Dengan tersenyum Sang Pencipta menjawab, “Wahai hamba-Ku yang setia, bukankah Aku sudah mengirim perahu karet dan helicopter untuk menolong engkau?” Barulah sang Sufi merasakan bahwa kehadiran Sang Khalik adalah bersifat transenden dan imanen.
Bukankah pengalaman seperti itu banyak kita temukan juga masa kini? Ketika kita mengalami pergumulan lalu kita berseru kepada Tuhan seperti seruan Petrus ini, “Tuhan, tolonglah aku!” Lalu, apa keyakinan kita? Kita sering masih mengandalkan pikiran dan keinginan kita lalu kita ingin agar jawaban atas seruan kita selalu sesuai dengan pikiran dan keinginan kita juga. Sesungguhnya, ketika kita berseru minta tolong, kita pasti menjawab. Persoalannya ialah jawabannya sesuai dengan kehendak Allah, bukan kehendak kita. Dalam keadaan seperti itu, kita sering tidak mampu menerima atau tidak mampu memahami jawaban Allah.

Begitulah kiranya Gereja dan orang Kristen memahami pertolongan Yesus dalam hidup keseharian kita. Pertolongan Yesus senantiasa hadir dalam hidup kita. Ketika kita berseru minta tolong kepada Yesus maka jawaban Yesus hanya satu, yakni “Ya!” Persoalannya ialah apakah kita percaya akan jawaban ini dan bagaimana kita memahaminya? Percaya akan pertolongan Yesus akan memampukan kita memahami bentuk dan wujud pertolongan-Nya dalam hidup kita.




Pdt. Leo Dunan Sibarani, M.Th.
Dosen STT HKBP Pematangsiantar

Bacaan Kenaikan Tuhan Yesus, 13 Mei 2010 Mazmur 110:1-7


Kenaikan Tuhan Yesus, 13 Mei 2010 Mazmur 110:1-7


DUDUKLAH DI SEBELAH KANAN-KU


1. Menurut ahli Biblika Perjanjian Lama, M.C. Barth dan B.A. Pareira, Mazmur 110 ini digolongkan ke dalam jenis ‘Mazmur Raja’. Sebagai Mazmur Raja, Mazmur ini tentu berbicara tentang raja. Raja adalah pejabat kerajaan Allah. Sebab itu, dia dapat memohon kepada Tuhan supaya diberi kekuasaan atas semua raja dan penguasa di muka bumi ini. Dengan pemahaman demikianlah, takhta Daud adalah takhta Tuhan, Allah yang maha tinggi.
Ada dua unsur di dalam setiap Mazmur jenis ini, yakni :
a. Firman Tuhan kepada raja.
b. Doa untuk raja.
Mazmur 110 ini dinyanyikan pada hari pemahkotaan atau ulang tahun pemahkotaan tersebut. Karena hubungan raja yang erat dengan kerajaan Tuhan dan dengan Sion maka Mazmur-mazmur Raja ini harus selalu diikat dalam hubungan dengan madah ‘Tuhan Raja’ dan ‘Nyanyian Sion’. Mungkin ditanyakan mengapa Mazmur-mazmur ini yang begitu mengagungkan raja Israel oleh jemaah Yahudi sesudah pembuangan tetap dipertahankan dan tidak dikeluarkan dari kitab puji-pujian mereka. Mazmur-mazmur ini tetap dipertahankan karena mereka memupuk pengharapan mesianis. Pengharapan ini dikukuhkan oleh pewartaan para nabi (Yes. 9:1-6; 11:1-10; Am. 9:11-12; Yer. 23:5-8; Yeh. 34:23-24; 37:24).
2. Selanjutnya, Mazmur Raja ini dalam tradisi umat Israel Perjanjian Lama berhubungan dengan ‘pelantikan seorang raja’. Menurut Christoph Barth, pengangkatan seorang raja di Israel ada segi dan tahapnya yang tersembunyi pada pemandangan mata orang. Apabila Allah melihat atau memilih orang-Nya, pun apabila Ia mengurapinya dengan perantaraan seorang nabi, dan terutama sekali apabila roh-Nya mulai berkuasa atas orang yang terpilih itu, maka semuanya ini merupakan tindakan-tindakan yang bersifat rahasia. Tetapi pengangkatan itu ada juga tahapnya yang nyata, di mana segala-galanya berlangsung di muka umum, dengan lembaga-lembaga masyarakat tertentu sebagai pelaksana dan saksi. Upacara resmi ini sudah biasa disebut penobatan atau pelantikan seorang raja. Sungguhpun harus dibedakan, tetapi kedua bidang itu tak dapat dipisah-pisahkan yang satu dari pada yang lain. Jelaslah pengangkatan tersembunyi oleh Tuhan itu sudah merupakan tindakan politik, seperti sebaliknya penobatan nyata oleh masyarakat itupun merupakan upacara keagamaan yang bersifat rohani.
Berdasarkan kesaksian-kesaksian Alkitab, dapatlah diduga dengan cara bagaimanakah upacara penobata itu berlansung. Urutannya kira-kira sebagai berikut:
- Calon raja mengambil tempat berdirinya di atas suatu tempat yang terangkat tinggi, di halaman bait suci.
- Raja dikenakan jejamang, mahkota dan/atau lain lambang jabatan jabatan raja.
- Raja diserahi piagam pelantikan berisi nama-nama penobatan, ketetapan-ketetapan mengenai hak dan kewajibannya, dan firman ilahi dengan pemberian tugas, penyerahan kuasa dan janji penyertaan.
- Raja diurapi sebagai tanda pemberian tugas dan penyerahan kuasa dari pihak masyarakat.
- Raja disambut dengan aklamasi atau sorak-sorai orang banyak.
- Raja dituntun ke istana, lalu dipersilahkan duduk di takhta kerajaan.
- Para pembesar/wakil masyarakat mengangkat sumpah setia di hadapan raja.
Sebenarnya adat penobatan ini tidaklah merupakan keistimewaan. Bangsa-bangsa tetangga orang Israel, bahkan bangsa-bangsa lain di semua benua dan sejak ribuan tahun telah mempunyai adat yang hamper serupa. Di mana saja ada raja, di situpun ada upacara penobatan, lengkap dengan penyerahan lambang kekuasaan berdasarkan tugas masyarakat dan jaminan ilahi. Semuanya diakhiri pada saat di mana raja baru itu sudah duduk di takhtanya. Itu sebabnya, keistimewaan orang Israel tidak terletak di dalam adat penobatan yang mereka pakai. Perbedaannya justru terletak di tiga acara, yaitu penyerahan piagam, pengurapan dan unsure duduk di atas takhta.
3. Dengan menyimak upacara penobatan (pelantikan) tersebut maka dapat dilihat penekanan umat Israel akan prinsip yang tidak boleh hilang dalam pemerintahan mereka, yakni ‘theokrasi’. Prinsip harus jelas, tegas dan tetap; namun teknis yang boleh berubah sesuai dengan kebutuhan dan situasi kondisi. Demikian halnya dalam pemerintahan umat Israel. Prinsipnya adalah teokrasi, di mana Allah-lah yang memerintah atas mereka. Namun di sisi lain, pelaksanaan teokrasi ini yang boleh berubah sesuai kondisi.
4. Dalam pemahaman umat Israel tentang fungsi dan kedudukan seorang raja ini, maka pada akhirnya mereka sampai kepada ‘raja adil yang akan datang’. Pemahaman seperti ini membuka pintu kepada pengharapan Mesias dalam diri seorang raja. Sehubungan dengan itu, J.L. Ch. Abineno mengatakan bahwa Mazmur 110 masuk ke dalam golongan ‘Mazmur Mesias’. Oleh penulis-penulis Perjanjian Baru, mazmur ini banyak sekali dikutip dan dihubungkan dengan hidup dan pekerjaan Yesus. Pertama-tama oleh Markus dalam ceriteranya tentang pemeriksaan Yesus oleh Imam Besar. Di situ kita membaca, bahwa waktu Imam Besar bertanya kepada-Nya apakah Ia Mesias, Anak dari Yang Terpuji, Ia menjawab: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit (14:62). Selanjutnya oleh Lukas dalam pemberitaannya tentang khotbah Petrus pada hariraya Pentakosta di Yerusalem. Dalam khotbahnya itu Petrus katakan, bahwa yang dimaksudkan oleh Mazmur 110:1 dengan ‘tuanku – yang Tuhan suruh duduk di sebelah kanan-Nya, sampai Ia membuat musuh-musuhnya menjadi tumpuan kakinya – ialah Yesus, yang telah disalibkan oleh orang-orang Yahudi, tetapi yang telah dibuat oleh Allah menjadi Tuhan dan Kristus (Kis. 2:35). Kesaksian ini kita juga temui dalam surat Ibrani. Dalam Ibrani 1:3 penulis katakan, bahwa sesudah Yesus selesai mengadakan penyucian dosa, Ia ‘duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi’.
Dengan demikian cukup masuk akal kalau Mazmur ini paling sering dikutip dalam Perjanjian Baru. Fokus perhatian kutipan-kutipan itu adalah dua pernyataan Tuhan bagi raja, yang pertama menyangkut kekuasaan yang diserahkan kepadanya (ay. 1) dan yang kedua martabat imamat untuk selamanya (ay. 4). Dari dua pernyataan ini struktur mazmur ini jelas, terdiri dari dua bait yang disusun sejajar: rumus pengantar singkat (1a dan 4a) mengawali pernyataan meriah Tuhan (1b dan 4b), yang setiap kali disusul oleh enam baris yang keluar dari mulut pemazmur sendiri (ayat 2-3 dan 5-7).
Kebanyakan penafsir sekarang sepakat bahwa – sama seperti Mazm. 2 – mazmur ini pernah digunakan berkaitan dengan raja Yehuda, barangkali dalam rangka penobatannya di Bait Allah. Namun penting dilihat juga bahwa gambaran yang diberikan mazmur ini tentang seorang raja – imam yang duduk di sebelah kanan Allah dan diberi kuasa dan kemenangan atas segala musuhnya, jauh melampaui kenyataan historis lembaga monarkhi di Israel.
5. Dengan latar belakang demikianlah, kita hendak memahami, memosisikan dan memaparkan nas ini, Mazmur 110:1-7.
a. Ayat 1 – 2: Pelantikan raja di Sion (Installation of the King on Zion)
Mazmur ini dibuka dengan ‘the typical oracle of a prophet’ (formula utusan dari seorang nabi). Formula ini merupakan legitimasi bahwa apa yang akan dipaparkan dalam mazmur ini betul-betul merupakan firman Allah, bukan perkataan manusia belaka. Kemudian dalam ayat ini Tuhan member kepada sang raja kedudukan di sebelah kanan-Nya. Tindakan ini tidak lain daripada mengangkatnya sebagai wakil atau wazir-nya yang dengan demikian diberi bagian penuh dalam kemahakuasaan Allah. Lukas melihatnya terwujud dalam pengangkatan Yesus ke surge (Kis. 2:34-35). Kuasa yang diberikan kepada raja itu akan menjadi konkret dalam penaklukan total musuh-musuh (bnd. Yos. 10:24). Allah sendiri akan mengerjakannya untuk raja-Nya.
Dalam ayat 2 pemazmur menjelaskan bahwa Tuhan sendiri mengambil tongkat kekuasaan raja dan membuat lingkaran besar dengannya untuk menggambarkan luasnya wilayah kekuasaan sang raja. Kendatipun penaklukan musuh-musuh masih merupakan masa depan, namun sang raja diajak untuk sekarang juga memerintah atas mereka. Dalam perjuangan itu ia mendapat dukungan penuh dari bangsanya yang rela dan siap baginya. Mereka dinugerahkan kepadanya seperti embun yang lahir dari kandungan pagi.
b. Ayat 3 – 4: Raja dan Imam selama-lamanya (King and Priest for Ever)
Dalam bait kedua Tuhan kembali berbicara, bahkan dengan nada yang lebih pasti dan tidak terbatalkan. Raja-Nya adalah juga imam, sama seperti Melkisedek, raja Salem yang juga imam Allah yang Mahatinggi (Kej. 14:18). Sang raja yang tadi dilantik sebagai wakil Allah di bumi, sekaligus juga mewakili manusia di hadapan Allah. Dalam gabungan pemerintahan dan imamat tergabunglah kuasa dan belas kasih. Raja yang memerintah atas musuh-musuhnya tidak merajalela melainkan juga iba hati bagi yang bersalah. Ia imam untuk selamanya. Pemazmur menjelaskan bahwa itu berkat perlindungan Tuhan yang selalu di sisi raja-imam.
c. Ayat 5 – 7: Kegemilangan dan kemanangan (Triumph and Victory)
Di sini kembali ditegaskan bahwa Ia imam untuk selamanya. Pemazmur menjelaskan bahwa itu berkat perlindungan Tuhan yang selalu di sisi raja-imam (ayat 5a). Sisi balik dari perlindungan itu adalah penghakiman atas musuh-musuh, hal mana digambarkan dengan sangat dahsyat dalam ayat 5b-6. Tidak jelas apakah ‘Ia’ di sini menunjuk kepada Allah atau kepada raja-imam. Barangkali yang terakhir. Raja Mesias ditampilkan dalam peran-Nya sebagai hakim akhir zaman. Ayat terakhir mengiaskan bagaimana Ia dalam perjuangan yang meletihkan selalu disegarkan dengan kekuatan baru, sehingga ia dapat mengangkat kepala dalam keyakinan bahwa akan menang.
6. Nas ini akan menjadi dasar persekutuan kita dalam merayakan pesta peringatan kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Sehubungan dengan itu, yang menjadi pertanyaan ialah: Apakah dasar alkitabiah yang dapat disumbangkan oleh nas ini kepada kita orang Kristen dan kepada gereja kita? Kenaikan Yesus ke surga merupakan sebuah momentum bahwa Yesus kembali ke ke-Allah-annya di surga. Realita ini sekaligus juga merupakan peringatan bagi setiap orang Kristen bahwa tujuan hidup manusia bukanlah dunia ini, tetapi surga, di mana di sana Tuhan Allah memerintah selama-lamanya.
Selanjutnya, nas ini juga memberikan ‘model’ takhta kerajaan yang ideal dan sejati bagi orang Kristen dan bagi gereja sepanjang masa. Model apakah itu? Di dalam dunia tetapi bukan dari dunia. Demikian juga kerajaan Allah ada di dunia ini, di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Namun, kerajaan Allah bukanlah seperti kerajaan dunia ini, karena Yesus yang adalah Mesias, bukan Mesias tokoh politis yang gilang gemilang (triumphant) akan tetapi Mesias yang menderita, sebagaimana dinubuatkan oleh para nabi Perjanjian Lama.
7. Kalau demikian halnya, nas ini juga sekaligus perenungan untuk kita dalam pesta kenaikan Tuhan Yesus ini. Renungan apa yang patut kita gumuli dalam pesta ini? Berikut ini suatu kutipan dipaparkan guna menolong kita menghayati perenungan itu. Dalam suatu kesempatan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Herman Musakabe, mengemukakan bahwa sikap orang Kristen sering kali sama seperti para murid Yesus yang terus-menerus menengadah ke atas ketika Yesus naik ke surga. Begitu asyiknya mereka menengadah sehingga harus diingatkan oleh para malaikat bahwa masalah sebenarnya tidak terletak di ‘atas’ tetapi justru di sini, dalam dunia yang sangat konkret. Kata-kata ini kita pakai sebagai titik tolak untuk melihat tinjauan teologis dari perenungan kita. Hal ini dimaksudkan untuk menjelaskan kaitan antara cara dan sikap kita bertindak di dunia ini (sekularisasi) dengan kehidupan keberagamaan (religiositas) kita. Sekularisasi merupakan pengertian yang sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari kita dewasa ini, lebih-lebih ketika sekarang kita sedang memasuki abad ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology). Masalah kita adalah apakah keberagamaan kita cukup ‘kuat’ untuk menghadapi proses sekularisasi yang sedang berlangsung dewasa ini? Sekularisasi adalah sikap yang lebih mengarahkan perhatian kepada hal-hal dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan dunia masa kini, suatu kesadaran akan otonomi ranah sekular, sekaligus penolakan terhadap segala sesuatu yang bersifat sekularisme. Tentu saja, defenisi ini adalah perumusan yang sangat popular. Namun demikian, pengertian sesungguhnya tidak sesederhana itu. Sekularisasi tidak dapat hanya dikaitkan dengan ketidakpercayaan dengan ketidakperdulian terhadap hal-hal yang bersifat keagamaan.
Apa yang hendak ditegaskan di sini? Ada dua hal yang harus selalu direnungkan oleh orang Kristen ketika merayakan hari Kenaikan Yesus, yakni:
a. Yesus naik ke surga untuk menyediakan tempat bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Hal ini sekaligus hendak mengingatkan orang Kristen sepanjang masa bahwa bukanlah dunia ini tujuan hidup orang Kristen. Tujuan hidup orang Kristen adalah surga, di mana di sana orang percaya akan menerima hidup selama-lamanya.
b. Namun peristiwa itu juga hendak mengingatkan bahwa kita, orang-orang Kristen, masih ada dan hidup di dunia ini. Oleh karena itu, orang Kristen ditantang untuk selalu memaknai dan merespons hidup di dunia ini secara benar dan positif. Itu sebabnya, orang Kristen harus memahami secara benar sekularisasi, bukan sekularisme.




Pdt. Leo Dunan Sibarani, M.Th.
Dosen STT HKBP Pematangsiantar

Senin, 26 April 2010

Bacaan Minggu Rogate, 2 Mei 2010 1Timotius 2:1-7


Minggu Rogate, 2 Mei 2010 1Timotius 2:1-7


BERDOA BERSAMA ORANG PERCAYA



Sendainya putri Anda berumur lima tahun datang dan memohon kepada Anda sebanyak tiga kali pada hari itu dengan waktu yang berbeda. Permintaannya seperti ini: “Bapak, ayo bermain bersamaku!” “Aku lapar, beri aku makan” “Maaf, kalau butuh uang, ambil saja tabunganku.” Tidak satupun dari permintaannya dengan rengekan itu berhasil menarik perhatian orang tuanya. Semua permintaan itu penting dan sungguh-sungguh keluar dari hatinya. Tanggapan Anda, mungkin semua permintaan itu sama bagi putrimu, tetapi tidak sama bagi Anda. Keinginannya agar dapat bermain bersama Anda sangat besar, dan dia berharap Anda mau bermain. Bagi putri Anda bermain itu sangat penting dan harus segera dilaksanakan. Anda merasa tersanjung ketika diajaknya bermain, namun Anda merasa bahwa bermain bukan prioritas utama bagi umat manusia. Makan merupakan permintaan yang sangat penting bagi Anda terlebih bila sudah tiba saatnya untuk makan. Namun akan berbeda tanggapan Anda bila meminta makan disertai permintaan bermain sebelumnya. Demikian juga masalahnya dengan tabungan yang diberikan kepada Anda. Jika Anda membicarakan masalah keuangan dengan istri Anda dan putri Anda mendengar tunggakan yang belum dibayar padahal sudah jatuh tempo, tentu dia mendengar pembicaraan itu hanya sebatas masalah uang. Putri Anda mempunyai tabungan ayamnya. Saat itu dia akan menolong Anda dengan memberikan tabungannya. Tawaran itu membuat Anda tersentuh. Apakah Anda segera mengambil tabungannya karena kepekaannya, karena tidak mementingkan dirinya, karena keinginannya untuk menolong Anda?
Ada tiga permohonan yang berbeda. Ada tiga tingkatan keprihatinan yang berbeda.
Pertama, Doa kita dapat juga disebut sebagai daftar permintaan. Allah selalu merasa tergerak dan penuh perhatian terhadap para pendoa yang secara sadar mendoakan sesuatu yang dapat memengaruhi tingkat kepekaan-Nya terhadap kebutuhan kita. Allah tidak akan mendiamkan para pendoa yang sungguh-sungguh memohon dari hatinya yang terdalam di mana Tuhan juga mengetahuinya. Kitab 1 Timotius 2 ini memberitahukan kepada kita agar mendoakan semua orang, raja-raja dan para pembesar. Paulus menulis surat ini dari Makedonia untuk menopang anaknya itu dalam iman. Timotius mengalami masalah dalam jemaat di Efesus, kebaktian-kebaktian umum sudah tidak lagi berjalan menurut peraturan dan tidak efektif sebab para anggota jemaat tidak menaati Firman Tuhan. Secara umum gambaran orang lain terhadap umat Kristen ketika itu tidak baik, sebab mereka tidak ikut menyembah dewi-dewi yang ada di Efesus sehingga mereka tidak disukai pemerintah. Paulus menasihati para anggota jemaat akan tanggung jawab mereka secara rohani. Paulus menuliskan surat ini kepada Timotius agar jemaat hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup (1Tim. 3:15). Perilaku yang menarik dari keluarga Allah adalah mengenai doa-doanya. Meski tidak masuk ke kuil untuk sembahyang tetapi setiap orang Kristen diminta agar mendoakan semua orang, raja-raja dan semua pembesar. Paulus meminta agar setiap orang Kristen menjaga perilakunya dalam kehidupan masyarakat yang asing.
Kedua, Doa merupakan komunikasi langsung antara manusia kepada Tuhan dan itu juga alat yang penuh kuasa yang dapat kita gunakan. Doa membuat jaringan antara dunia ini dan dunia kekekalan terhubung dan membuat segala sesuatu menjadi mungkin bagi Tuhan terwujud dalam hidup seseorang dan di dunia ini. Ketiga, Doa juga membawa kita kepada kehendak Allah, mengarahkan sikap dan perasaan kita kepada-Nya. Doa yang benar lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kita mendoakan banyak orang karena kita berdoa di dalam Kristus. Di dalam Kristus kita menjadi lebih peduli pada semua orang – meskipun itu musuh kita – dan menginginkan keselamatan mereka. Melalui doa kita semua terhubung dan menyatu di dalam persekutuan bersama Allah atau Tuhan atau Roh Kudus. Kristus menjadi mediator antara manusia dan Allah, dan doalah yang menjadi sarananya. Paulus meminta agar jemaat menaikan doa permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur yang memunyai jenis dan arti yang berbeda tetapi saling terkait.

Jenis-Jenis Doa
Doa merupakan Landasan utama kehidupan seorang Kristen. Tanpa doa tidak ada kuasa. Sehat tidaknya kehidupan doa kita bisa dilihat dari seberapa besar kuasa doa dalam kehidupan Anda, khususnya dalam mengatasi pengaruh dosa. Paulus menasihatkan agar menaikkan permohonan, mengandung arti mengajukan permintaan untuk kebutuhan yang sudah pasti. Dalam menyampaikan permohonan ini kita harus merendahkan hati, dan biasanya doa ini dilakukan ketika menghadapi krisis. Doa syafaat, selalu digunakan untuk memohon pemenuhan kebutuhan yang selalu datang. Permohonan yang disampaikan di sini selalu dalam keadaan khusus. Doa ini biasanya ketika kita menghadapi tugas pengaturan yang rutin. Kemudian mengucap syukur, salam yang diungkapkan untuk memberkati penerima. Biasanya doa seperti ini dilakukan ketika para pemimpin telah membawa negerinya kepada kemakmuran, atau keluar dari krisis. Bentuk apapun yang akan kita pakai dalam berdoa tentunya kita harus menyerahkan hati kita sepenuhnya kepada-Nya. Dengan perkataan lain, di hadapan Allah kita mencurahkan segenap jiwa dan berharap penuh kepada Allah. Paulus meminta jemaat untuk berdoa karena dia tergerak melakukan sesuatu untuk menolong. Ada kuasa yang berlimpah-limpah pada saat kita bersekutu bersama orang percaya di dalam doa. Ada pergumulan iman mereka di dalam doa. Doa tidak mengandalkan kekuatan sendiri sebab akan sia-sia usaha tersebut, tetapi ketekunan dalam berdoa yang dikerjakan di dalam kita melalui Roh Kudus membuat kita berkenan di hadapan Allah. Roh Tuhan akan mengajari dan memampukan kita dalam berdoa (Rm. 8:26). Di dalam persekutuan yang benar, di mana ada Roh Allah yang mendatangkan kesatuan di antara dua orang atau lebih yang beriman di dalam doa tentang sesuatu yang akan diminta kepada Allah, atau di mana Roh Allah menaruh beban yang sama di dalam hati dua orang atau lebih, maka di dalam doa-doa semacam itu ada kuasa penuh yang akan mengubah dunia.

Mendoakan Penguasa
Doa orang percaya sebagai jemaat dan doa-doa pribadi orang percaya adalah untuk semua orang, raja-raja dan para pembesar. Mendoakan para pembesar akan menciptakan kebiasaan baik umat Kristen, meski pada saat itu Kaisar Nero penguasa di Roma. Kekejamannya tercatat dalam sejarah yang membakar banyak umat Kristen sebagai api unggun yang menerangi kota. Mendoakan mereka agar hatinya berubah. Mendoakan raja-raja dan para pembesar agar kita dapat hidup tenang dan tenteram. Hidup dalam ketentraman dapat membuat kita menjalani hidup dengan pasti, dan relasi dengan orang lain dapat lebih baik. Meski di dalam segala kekafiran dan pelecehan agama akan menciptakan situasi yang berbeda antara hidup saleh dan ketegangan. Situasi itu bukan saja terhadap sesama tetapi juga hubungan kita terhadap Tuhan. Namun Allah bisa mengubah segalanya, dan Paulus menyadari bahwa bagi Allah segala kemungkinan bisa terjadi. Di samping itu juiga kita perlu mendoakan agar tercipta kedamaian. Adanya damai menunjukkan bahwa Allah sebagai penguasa mutlak, dan Allah juga dapat memengaruhi penguasa melakukan kehendak-Nya. Untuk itu Paulus mendorong Timotius agar mengajak umat berdoa dengan tiada henti untuk semua orang, terlebih-lebih yang menolak Injil. Terkadang kita lupa untuk mendoakan orang-orang yang membenci kita atau yang memusuhi umat Kristen. Padahal mereka selalu hadir di sekitar kita (lih. Mat. 5:44-45a).
Tuhan menginginkan agar kita selalu mendoakan bukan hanya orang-orang yang kita kenal, tetapi juga yang tidak kita kenal. Tuhan akan mengubah hati mereka, karena kita menyadari bahwa doa-doa kita tidak menuju pada kesia-siaan. Dia bukan seperti allah lain, Dialah Allah Juruselamat kita yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan. Jadi kita selalu datang kehadirat-Nya dalam doa yang tiada henti. Kita memerlukan doa setiap hari dan dukungan agar terhindar dari ketidakjujuran yang bisa muncul perlahan-lahan pada setiap orang dari antara umat Kristen. Dosa selalu mengintip setiap orang karena sifat kedosaan yang telah kita warisi.

Mengapa Kita Harus Berdoa?
Paulus menasihatkan jemaat Efesus agar mendoakan “semua orang” yang menjelaskan semua orang di dunia ini masuk dalam pengaruh doa tersebut. Itu berarti kita mendoakan orang-orang yang sudah selamat dan yang belum selamat, orang-orang yang dekat dengan kita dan yang jauh, musuh-musuh kita dan juga sahabat-sahabat kita. Para pemimpin yang sangat kita hormati atau para pemimpin yang tidak kita hormati sebagai orang yang memimpin kita. Mendoakan mereka adalah untuk kebaikan kita sendiri: “agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan” (2:2b). “Tenang” mengarahkan kita kepada keadaan yang ada di sekeliling kita, sedangkan “tenteram” mempunyai maksud kepada sikap kita yang tenang di dalam diri kita.
Kita mendoakan semua orang karena Allah menghendaki agar semua orang mengetahui rencana keselamatan Allah melalui iman di dalam Yesus Kristus. Lingkungan yang tenang dan tenteram didambakan banyak orang dan keadaan itu memberikan kesempatan kepada umat Kristen melaksanakan ibadahnya dalam kedamaian. Pemerintah yang baik dapat dibantu untuk menciptakan situasi tersebut. Kita patut bersyukur tinggal di negeri yang menghargai kebebasan setiap orang untuk mengungkapkan iman kita tanpa harus bersembunyi. Namun kita juga harus waspada terhadap kebenaran politis yang dapat meniadakan hak-hak kita untuk hal-hal yang pokok dari iman kita. Kita juga harus waspada dan mendoakan umat Kristen yang mangalami penganiayaan karena iman mereka dan juga kekerasan yang dialami oleh umat Kristen di Indonesia dan negara lainnya.
Allah menginginkan semua orang diselamatkan, dan Yesus telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia. Namun Dia juga mengatakan karena sempit jalan menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya (Mat. 7:14). Tawaran itu disampaikan kepada semua orang tetapi tidak semua orang akan menerimanya. Itu sebabnya kita diminta untuk terus mendoakan dan bersaksi kepada setiap orang bahwa kita mampu meraihnya. Bisa saja orang menggunakan “Doa Bapa Kami” dalam mengawali hari-hari dalam hidupnya dan memohon bahwa Nama Allah dikuduskan dan jadilah kehendak-Nya di dalam dan melalui hidup kita. Ada orang yang melakukan kebiasaan ini.
Untuk bersekutu terhadap Tuhan, kita harus bersekutu dengan sahabat kita sesama orang percaya. Yesus menunjuk firman-Nya dalam Matius 5:23 ketika Dia memerintahkan seseorang yang akan mempersembahkan persembahannya di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau berdamailah dahulu sebelum persembahan itu dilaksanakan. Penting sekali untuk kita perhatikan antara kata dan tindakan untuk menunjukkan bahwa iman kita itu benar. Paulus dari awal sudah menunjukkan kepada kita betapa pentingnya berdoa. Diperlukan orang-orang percaya, baik secara pribadi dan komunal untuk berdoa dengan tekun karena dengan doa kita melibatkan Allah dalam tujuan yang hendak kita capai.
Doa adalah nafas kehidupan Kristen. Oleh karena itu doa tidak dipakai hanya sewaktu-waktu melainkan menyangkut seluruh totalitas hidup manusia. Doa menjadi bagian dari hidup manusia yakni kerohaniannya yang dipersiapkan untuk menjadi orang Kristen yang kuat dan bertumbuh dalam iman. Amin





Pdt Tigor Sitanggang, M.Th.

Bacaan Minggu Kantate, 2 Mei 201 Mazmur 66:16-20


Minggu Kantate, 2 Mei 201 Mazmur 66:16-20


PUJILAH ALLAH YANG MENDENGAR DAN MEMPERHATIKAN ENGKAU


Minggu ini disebut dengan Kantate. Artinya, “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan.” Menyanyikan pujian atas segala perbuatan Allah yang pernah dilakukannya terhadap kita. Apakah alasan kita untuk menyanyikan pujian? Mungkin saja hidup kita susah, mungkin kita harus bekerja keras, mungkin juga pekerjaan kita kurang berhasil. Dalam situasi seperti itu bagaimana kita bisa menyanyikan kidung pujian? Nyanyian pujian bisa dilantunkan bila kita mengingat perbuatan atau apa yang dilakukan-Nya terhadap diri kita. Puji-pujian merupakan saat kita bernyanyi tentang Allah, pujian yang berhubungan dengan tindakan Allah yang kita rasakan karena anugerah, dan berkat-Nya; dan ketika kita beribadah kita bernyanyi kepada-Nya.
Berikut ini pengalaman seorang Bapak ketika keluarga berkunjung ke rumahnya. Kunjungan keluarga merupakan saat bahagia karena berkumpul bersama saudara yang tidak bisa dilakukan setiap saat. Begitu juga dengan kehadiran seorang keponakan yang masih balita bersama dengan keluarga yang datang dari kota lain tentu sangat menyenangkan hati. “Namun selama menginap, ada kebiasaan yang tidak menyenangkan terjadi di mana ia paling sering mengutak-atik pesawat TV kami,” demikian dikatakan oleh seorang Bapak. Meski sudah dilarang, masih tetap melakukannya. Sampai pada akhirnya TV itu rusak akibat perbuatannya. Keadaan itu sangat mengganggu, karena tidak ada TV maka tidak bisa menonton film kesukaan, berita dan acara lainnya. Aku pun mulai mengomel, “wah, kalau TV rusak kita tidak ada hiburan sama sekali nih,” ujar Bapak itu sedikit jengkel sambil melirik keponakan mungil mereka.
Di tengah didera oleh kejengkelan itulah aku merasa Tuhan berbicara lembut dalam hatiku. “Nak, siapakah sumber penghiburanmu? Selama ini matamu lebih banyak tertuju pada-Ku atau pesawat TV?” Seketika itu pun aku bagai disadarkan oleh Tuhan, aku tersadar bahwa tanpa aku sadari aku menjadi pecandu acara TV. Aku lebih menyukai acara TV daripada mencari kehendak Tuhan. Ketikan gundah, aku lebih suka menonton acara komedi atau film. Bukannya mencari penghiburan dan kedamaian dari Tuhan, aku menjadikan TV sebagai sumber penghiburan untukku. Menonton acara TV bisa mengalihkan perhatian kita dari Tuhan sebagai sumber kehidupan.
Pemazmur menikmati berkat Allah bukan formalitas saja tanpa dasar dan penghayatan arti dan makna sesungguhnya, tanpa penghayatan kristiani. Pemazmur merenungkan perbuatan-perbuatan Allah yang dilakukan-Nya ketika mereka berada di tanah Mesir. Mereka diperbudak dan Allah turun tangan melalui Musa untuk melepaskan mereka dari kekuasaan pemerintah Mesir. Peristiwa keluaran tidak dengan serta merta membuat bangsa Israel keluar dari Mesir dan memasuki tanah pengharapan, tetapi peristiwa itu dipakai Allah untuk mendidik bangsa itu agar semakin mengenal dan merasakan perbuatan Tuhan dalam hidup mereka. Begitu dahsyatnya perbuatan Tuhan dalam peristiwa itu yang membuat Firaun tunduk dalam kekuasaan Allah. Bangsa Israel dibebaskan menuju tanah pengharapan. Keluar dari Mesir meningkatkan nilai kemanusiaan bangsa itu, kepala mereka bisa tegak berdiri meninggalkan negeri yang telah memperbudak mereka. Umat Tuhan lahir karena perbuatan Allah di Mesir dan peristiwa Laut Teberau menjadi peristiwa yang tidak terlupakan bangsa itu dan pemazmur sendiri. Dia tidak pernah melupakan kekuasaan Tuhan. Ditambah lagi, dia sering mengalami perlindungan dan berkat Allah dalam hidupnya, meski musuhnya banyak dan mengalami masa-masa sulit dia selalu percaya kepada Tuhan.
Mazmur ini menunjukkan rangkaian antara pujian dan ucapan syukur di dalam doa yang disampaikan secara pribadi maupun bersama-sama atas peristiwa masa lampau dan masa kini. Kita bisa melihat dalam ayat 16-19 dan kesimpulan pada ayat 20 dalam kasih karunia Allah atas kebaikan-Nya. Ayat-ayat itu sebagai kesaksian pribadi yang berdiri di tengah-tengah komunitas peserta ibadah untuk mengajak semua orang dalam ibadah untuk mensyukuri perbuatan-Nya yang ajaib. Kita melihat pemazmur bersyukur dan memuji Allah terus secara berulang-ulang. Rasa syukur bisa mengarah kepada ungkapan pribadi tetapi puji-pujian mengubah doa pribadi menjadi komunal dan meluas. Memuji Allah memerlukan pemusatan pikiran secara komunal, berbeda dari rasa syukur yang melihat apa yang telah dilakukan Allah kepadaku. Namun memuji bisa menciptakan jarak antara si pemuji dan Allah, jadi diperlukan ungkapan rasa syukur untuk melihat peran Allah secara pribadi kepadaku. Hal itu sangat berhubungan antara pengakuan terhadap perbuatan Allah di masa lampau dengan tindakan-Nya di masa kini, keberadaannya tidak terpisah namun berbeda cara mengungkapkannya dan penyataannya meski dari Allah yang sama.
Mazmur ini mengarahkan kita juga kepada peristiwa Paskah. Peristiwa Keluaran diulang dalam peristiwa kebangkitan Yesus dengan cara baru di mana puji-pujian kita berakar dalam kebangkitan-Nya dari kubur. Hal-hal yang membuat kita menderita, susah dan berduka berubah kepada kesatuan dalam kemenangan Tuhan terhadap kematian dan Yesus Kristus tetap hidup di antara orang-orang percaya. Dia menang atas kuasa dosa, maut dan iblis. Dia mati di kayu salib karena dosa-dosa kita. Itulah sukacita kita. Itu jugalah doa rasa syukur kita mengingat karya Allah yang begitu besar di masa lalu dan melihat kuasa yang sama yang bekerja pada masa kini dalam diri setiap orang percaya (umat-Nya). Bagi orang Jahudi seluruh sejarah kehidupan mereka berhubungan dan dirangkum dalam peristiwa Keluaran; bagi umat Kristen peristiwa itu terdapat dalam kebangkitan Yesus. Peristiwa keluaran terjadi kepada bangsa Israel; kebangkitan Yesus terjadi terhadap individu. Namun setiap orang Jahudi menanggapi peristiwa keluaran itu diulang dalam gerak peristiwa hidup mereka sendiri secara pribadi. Selanjutnya, umat Kristiani juga akan melihat kebangkitan Yesus berulang dalam setiap peristiwa hidup mereka secara pribadi dan juga dalam kehidupan bersama sebagai gereja. Kebaikan Allah yang membawa umat Israel keluar dari perbudakan dan Yesus yang bangkit dari mati dapat mengantarkan kita keluar dari godaan – depresi, alkohol, sex, agama, hubungan-hubungan, kerja atau uang. Semua itu dapat dilakukan oleh karena kasih setia (hesed: Ibrani; dan agape: Yunani) dari Allah yang sama. Puji-pujian muncul sebagai tanggapan kita karena kita mengetahui apa yang dilakukan Allah dalam hidup kita.

Apa yang dilakukan-Nya terhadap kita?
Semua orang percaya diajak untuk memuji Allah. Dalam Yesaya 43:21 dijelaskan alasan mengapa kita sebagai ciptaan-Nya harus memuji Tuhan. Puji-pujian berasal dari hati yang penuh kasih terhadap Allah. Kita mengasihi Allah karena Dia telah lebih dulu mengasihi kita. Tanpa kasih setia-Nya pujian kita terasa lemah. Kasih itu lahir dari hubungan kita bersama Tuhan melalui Yesus Kristus yang merupakan bagian terpenting dari puji-pujian kita. Alkitab juga memberitahu kita bahwa bukan hanya kita yang memuji-Nya tetapi: segala ciptaan memuji Dia (Mzm. 148:7-10); matahari, bulan dan segala bintang memuji Dia (Mzm 19:1; 148:3); para malaikat memuji Dia (Mzm. 148:2); bahkan orang-orang yang terhukum dipakai Allah untuk memuji Dia (Mzm. 76:10); anak-anak juga diajar untuk memuji Dia (Mzm. 78:4). Pemazmur memuji Tuhan karena berbagai peristiwa yang telah dilaluinya bersama Tuhan ketika keluar dari Mesir, melewati Laut Merah dan memasuki tanah perjanjian dengan harapan baru yang lebih baik. Allah membebaskan umat-Nya agar umat-Nya menikmati hidup yang lebih berarti dan memiliki tujuan.

Memuji Dia dalam kelemahan kita
Dalam ibadah, orang percaya akan mengaku kebesaran Allah dalam hormat dan rasa takut untuk merespon kekudusan Allah. Pengakuan itu bukan hanya karena Allah kudus tetapi juga dosa merupakan beban dalam hidup dan berdampak pada jawaban Allah terhadap doa kita yang tersembunyi. Jelasnya, agar doa kita cukup efektif, maka dosa harus dihindarkan. Doa berawal dari pengakuan dosa kita kepada Tuhan. Dalam penderitaan kita perlu berpegang teguh terhadap janji Tuhan karena Dia adalah Allah Yang Pemurah, yang mau turun tangan menolong kita yang menderita. Dia turun hingga mati di kayu salib, dan kita melihat anugerah dan kasih karunia-Nya melalui Kristus. Dengan iman kita memegang teguh perkataan Yesus di kayu salib yang mengatakan “sudah selesai”. Itu adalah janji-Nya dan bukan hukuman atas dosa-dosa kita, sebab Allah telah menghukum-Nya. Kita tidak pantas menerima kasih karunia-Nya itu, namun kita menemukannya di dalam Kristus yang mengaruniakannya kepada kita. Itulah yang dilakukan oleh iman kita, yang dapat menyembuhkan ketakutan-ketakutan kita dan yang menjadi ungkapan doa dari Pemazmur.
Seorang Lutheran yang suka menulis lagu himne bernama Paul Gerhardt pernah mengalami kegetiran hidup namun masih mampu menyanyikan lagu pujian karena kasih setia-Nya. Dia mempunyai lima anak tetapi tiga sudah meninggal ketika masih bayi, dan dia kehilangan satu dari dua putranya. Dalam situasi yang menyedihkan itu istrinya mulai letih akibat deraan derita dan cemas. Perlahan-lahan dan dalam waktu yang panjang situasi semakin memburuk dan ibu itu meninggal dunia. Akhirnya Gerhardt ditinggal bersama satu putranya yang berumur 6 tahun ketika itu. Dalam berbagai peristiwa pahit yang dialaminya itu dia mampu menciptakan lagu-lagu yang sangat indah. Ada beberapa lagunya dalam Kidung Jemaat salah satu di antaranya nomor 290: “Takkah Patut ‘Ku Bernyanyi,” dalam ayat pertama kita mendengar:
“Takkah patut ‘ku bernyanyi syukur bagi Tuhanku, kar’na rahmat tak berbanding yang melimpah selalu? Memang sungguh dan setia, tak terhingga kasih-Nya dan kekal bimbingan-Nya bagi yang mengabdi Dia. Biar dunia lenyap, kasih Allah ‘kan tetap.”
Nyanyian ini juga ada dalam Buku Ende HKBP, dan merupakan kesaksian kita bersama seperti Pemazmur. Nyanyian ini sebagai ungkapan perasaan dan iman kita kepada Tuhan. Kalau kita perhatikan doa dan lagu ini mengajak kita untuk bernyanyi seperti Pemazmur:
Marilah, dengarlah … aku hendak menceritakan apa yang dilakukan-Nya terhadap diriku, Allah telah mendengar, Ia memperhatikan doa yang kuucapkan. Allah tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku.
Sebagaimana dia mampu mengungkapkan perasaan dan imannya demikian juga dia mampu meraih anugerah Tuhan karena imannya menguatkan dia. Pada bagian akhir Mazmur ini pemazmur memiliki keyakinan yang teguh bukan hanya karena Allah tidak menolak doanya tetapi juga karena kasih setia-Nya melimpah dalam hidupnya. Demikian juga Paul Gerhardt menutup lagu himnenya dengan menuliskan:
“Kar’na tak berkesudahan Bapa kasih sayangMu, maka ‘ku bertadah tangan bagai anak padaMu: b’ri hidupku diiringi oleh kuasa Roh Kudus siang-malam dan terus, agar Dikau kukasihi sampai umurku genap dan kupuji Kau tetap!”
Dalam hidup pemazmur nyanyian ini berlangsung dalam rasa syukur atas pertolongan Tuhan melewati penderitaan dan perjalanan panjang dan sulit yang dapat berakibat pada depresi dan putus asa. Kita berharap bahwa nyanyian dan pujian kita juga akan mengajak kita untuk menyaksikan bagaimana Allah yang setia akan datang menolong kita.
Dalam hidup dan di gereja kita mungkin mengalami perasaan letih, lesu dan lemah, keadaan seperti itu tidak hanya menyerang anda sendiri, namun jangan berkepanjangan. Yeremia juga pernah berada dalam situasi yang kacau dan bahan ejekan orang, dia merasa Allah menipunya dan membuat dia mulai menyerah (Yeremia 20); Paulus juga merasa ditinggalkan Allah ketika di penjara. Namun dalam seluruh persoalan yang mereka hadapi, mereka selalu berdoa agar tetap kuat dan mengarahkan pandangannya kepada Yesus Kristus. Ketika mengalami situasi yang buruk sekalipun dan kita merasa Allah membenci kita, kita ingin diajak oleh pemazmur untuk mendengar nyanyian ini dan belajar dari pemazmur untuk tetap teguh memegang janji-Nya, Dia akan mendengarkan doamu dan membebaskan engkau dari keputusasaan.

Memuji Allah Meneguhkan Iman Kita
Pemazmur di sini meyakini tindakan Allah dalam hidupnya mengarahkan dia kepada kebaikan-kebaikan hidup. Dalam Mazmur 106:12 juga kita bisa melihat ungkapan yang berharga dari umat Israel, mereka percaya maka mereka bernyanyi. Mereka percaya lalu mereka memuji Allah. Puji-pujian merupakan unsur dasar bagi iman mereka. Puji-pujian tidak keluar dari mulut dengan sia-sia atau dengan sembarangan. Iman akan mengarahkan kita kepada puji-pujian. Mungkin kita mengalami banyak persoalan, susah atau berduka, reaksi umat beriman akan berdoa. Doa membuat iman kita tumbuh lalu mengarahkan kita kepada pujian. Kalau iman bertumbuh, namun jika tidak melakukan pujian maka iman akan lenyap. Kita perlu belajar melakukan pujian. Puji-pujian itu timbul karena kasih setia Tuhanterhadap kita, dan kata kasih setia dalam kitab Perjanjian Lama ditulis sekitar 250 kali. Kata ini menunjuk kepada kasih Allah yang setia terhadap segala janji-janji-Nya, dan mempunyai arti yang cukup luas seperti kemurahan, kebaikan dan panjang sabar. Kebaikan Allah itu mengajar kita untuk tidak tegar tengkuk seperti bangsa Israel. Dalam buku “The One-Minute Manager,” Kenneth Blanchard memesankan untuk mengembangkan perilaku “one-minute praising,” di mana para manejer (orang tua, pasutri, dll) mencoba untuk merangkul seseorang agar melakukan sesuatu dengan baik dan benar. Mereka memuji orang itu selama 60 detik untuk hal-hal baik pada diri orang itu. Tindakan itu tidak mudah karena pada kenyataannya kita sering menemukan orang-orang lebih mudah mengecam perilaku seseorang dalam setiap 60 detik daripada memujinya. Ini juga patut diperhatikan oleh gereja, sebab sering ditemukan orang-orang yang tidak bisa memuji Tuhan dalam hidupnya. Sebaiknya kita memuji Tuhan, karena semakin sering kita memuji Dia atas segala hal yang telah diberikan-Nya kepada kita maka kita semakin kurang untuk mengecam orang lain. Bila kita sering memuji Tuhan dalam ibadah di gereja maka kita akan melihat kuasa dan Roh-Nya bergerak melalui gereja.
Mendengar dan mengetahui bahwa Allah memperhatikan kita tentu memerlukan iman yang teguh. Dalam situasi kehidupan yang penuh ketakutan seperti sekarang ini mengakibatkan banyak orang berada di bawah tekanan mental. Untuk mengatasi keadaan itu banyak orang yang mengonsumsi obat penenang yang terjual secara resmi. Banyak penyakit menyerang seseorang diakibatkan oleh stress yang berdampak pada radang pencernaan dan penyakit lainnya karena tekanan rasa takut dan kecemasan. Para pakar kesehatan berpendapat bahwa 70% pasien yang berobat bukan karena memiliki masalah gangguan jasmani, tetapi mereka mengalami ketegangan syaraf, tekanan rasa takut atau khawatir. Banyak orang menderita dari rasa tidak aman. Pakar kesehatan itu menyarankan agar mereka mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus. Iman adalah satu-satunya jalan keluar bagi manusia. Iman kepada Kristus mengarahkan pandangan kita ke arah realitas kekal. Melalui iman kita mengetahui bahwa dunia ini akan berlalu. Segala sesuatu akan berlalu. Namun, kemurahan dan kasih setia Tuhan tidak berlalu. Itulah yang membuat kita memuji Tuhan yang tetap mendengar dan memperhatikan kita. Amin



Pdt. Tigor Sitanggang, MTh

Jumat, 26 Maret 2010


Minggu Jubilate, 25 April 2010 Zefanya 3:14-20


BERSUKACITALAH – BERGEMBIRALAH – BERSORAK-SORAILAH


Kita akan memasuki Minggu LETARE – yang mengajak kita untuk Bersukacitalah – Bergembiralah – Bersorak-sorailah. Pertanyaanya adalah: Apakah yang bisa membuat kita bersukacita, bergembira, bersorak-sorai? Jawabannya, ada dalam nas ini. Yaitu: karena kita punya Allah yang Mahapengampun, Mahakasih, Mahabaik. Allah yang tidak pernah berhenti mengasihi kita. Allah kita adalah Allah yang mengasihi. Pemahaman inilah yang memicu harapan Israel, sehingga mereka dapat bersukacita.

Mari kita simak apa yang terjadi pada Israel. Nabi Zefanya ini diduga bekerja pada pemulaan pemerintahan Raja Yosia di Yehuda (Israel Selatan) sekitar tahun 639 – 609 seb Masehi. Pokok pemberitaannya adalah tentang kedatangan “Hari Tuhan” (1:7 + 14). Hari Tuhan merupakan ancaman bagi dosa-dosa Yehuda dan dosa bangsa-bangsa. Bila kita membaca mulai dari pasal pertama kitab ini, kita akan gemetar membayangkan betapa dahsyatnya hari tersebut. Hari itu merupakan hari yang mengejutkan dan gelap gulita, merupakan hari kegemasan .. kesusahan dan kesulitan ... kemusnahan dan pemusnahan ... kegelapan dan kesuraman - kebinasaan (1:14 – 18). Simak beberapa perkataan Allah di pasal 1: Aku akan menyapu bersih ... dari atas muka bumi ... merebahkan ... melenyapkan ...mengacungkan tanganKu ... menghukum ... menggeledah. Dahsyat tenan (benar)!!!

Mengapa begitu dahsyatnya hukuman yang akan diterima Yehuda dan bangsa-bangsa pada Hari Tuhan itu. Jawabannya, tidak lain tidak bukan adalah karena dosa Yehuda dan bangsa-bangsa yang sangat menjijikkan Allah. Nabi Zefanya dengan keras menegor dosa mereka yang melacurkan diri dengan menyembah dewa-dewa: Baal, Milkom, tentara langit, dan kuasa kegelapan lainnya. Padahal itu merupakan kekejian di mata Tuhan (Ul. 7:25; 2Raja 21:11). Menyembah ilah lain selain Allah akan menimbulkan murka Allah. Walau kita sangat rajin ke gereja, membaca Alkitab, atau memberi sumbangan untuk gereja, tetapi bila kita masih memegang, menyimpan dan memercayai kuasa kegelapan (ajimat, ulpuhan ni datu, panjaga ni daging, pelaris, dll), bagi Allah, kita tetap menjijikkan. Di samping itu masih banyak lagi dosa-dosa Yeuhuda dan bangsa-bangsa yang membuat Allah harus murka., terutama perilaku mereka di masyarakat yang tidak mencerminkan bahwa mereka adalah bangsa Allah yang kudus.

Ini menjadi pergumulan kita. Setiap orang hendaknya memeriksa diri sendiri. Apakah Tuhan tidak sedang murka sekarang melihat segala tingkah laku kita? Bencana demi bencana menimpa bukan hanya negeri ini tetapi juga dunia. Topan, gempa bumi, longsor menjadi momok yang menyebabkan derita memilukan bagi banyak orang; harta benda yang telah dikumpulkan dan dibangun musnah seketika; banyak nyawa melayang tanpa pesan. Kejahatan merajalela. Bangsa kita terpukul dengan kasus rekaman Anggodo, yang memilukan hati penduduk negeri yang masih punya hati nurani. Ternyata, kondisi bangsa ini begitu bobroknya. Sementara pemimpin masih asyik merayakan pengangkatannya menjadi anggota dewan terhormat dan menteri, padahal rakyat gelisah menanti keadilan dan bantuan. Oh negeriku .... bila hari Tuhan datang, apa yang akan terjadi kepadamu?

Yang lebih perlu, secara pribadi mari kita mengoreksi diri, apakah perilakumu akan memaksa Allah untuk mendatangkan murkaNya? Tanya dirimu, apakah kita masih memiliki atau percaya pada kuasa kegelapan, dukun, mantera, panjaga ni daging, yang merupakan kekejian di mata Tuhan? Apakah perilaku kita di kantor, di pasar, di sekolah, di perjalanan, sudah mendukakan hati Tuhan? Apakah keluarga kita masih berkenan di hati Tuhan? Gumulilah itu setiap saat
Karena itulah, sebelum Hari Tuhan itu datang, Allah melalui Zefanya dengan keras menghimbau dan mengajak Yehuda dan semua bangsa agar BERTOBAT. “Carilah Tuhan, lakukan hukum-Nya – carilah keadilan – kerendahan hati – (pasal 2).

1. Dan hal yang mensukacitakan kita adalah, janji Allah yang pasti, bahwa bila kita mau bertobat, pasti, pasti dan pasti, Allah mau menerima kita kembali.

Tidak banyak atau hampir tidak ada orang yang mau menerima kembali isterinya yang sudah beberapa kali tertangkap basah berselingkuh. Biasanya, suaminya akan langsung menjatuhkan talak tiga, cerai. Tetapi Allah kita, tidak. Walau Israel, sebagai umat-Nya selalu berselingkuh dengan dewa-dewa dan ilah-ilah lain, tetapi Allah menunggu dengan setia, dan selalu membuka pintu maaf bagi Israel. Memang, Tuhan mau menghukum umat-Nya atas kesalahan itu, namun itu bukan talak tiga, bukan kata terakhir. Hukuman dari Tuhan hanyalah peringatan, agar Israel dan kita sadar akan dosa-dosa kita; hukuman Allah adalah cara untuk membawa kembali umatNya yang sudah terlanjur membelot dari jalan-Nya. Hukuman Allah adalah bagaikan gada dan cambuk seorang gembala untuk membawa dombanya kembali ke jalan yang benar. Allah kita selalu membuka pintu dan tangan-Nya, kapan kita mau kembali, Allah akan menyambut kita dengan tangan terbuka dan sukacita (Ingat Perumpamaan tentang Anak hilang)
Itulah sumber sukacita kita. Isteri mana yang tidak bersukacita, bila suaminya masih mengasihi dan mau menerima kembali, dia yang selalu berselingkuh? Ternyata, kasih setia Allah (khesed) jauh lebih besar melampaui dosa-dosa kita. Di Yesaya 54:8 Tuhan berkata: Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu. Dengan jaminan pengampunan inilah, Allah menyerukan: Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!
Kepastian akan pengampunan oleh kasih Allah inilah yang paling menonjol bagi iman orang Kristen. Di Yohannes 3:16 disampaikan: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Bagi orang Kristen yang percaya, dengan terang benderang dinyatakan bahwa kasih Allah jauh lebih besar dari murka-Nya. Ini paling nyata didemonstrasikan Allah di kayu salib Tuhan Yesus di Golgata. Di salib itu, Tuhan meproklamasikan kepada dunia bahwa Allah kita adalah Allah yang Mahapengampun, karena yang ditanggung (dipikul) oleh Yesus di sana tidak lain tidak bukan adalah dosa seluruh manusia.
Seorang penulis pernah mengatakan: Sikap dan kelakuanmu tidak mengubah kasih Allah terhadapmu. Jika kamu berpaling dari-Allah, atau memutuskan hubungan dengan-Allah, Allah ingin tetap bersamamu. Itu seperti halnya bila kamu menutup keran. Apakah airnya juga menghilang dari pipa? Tidak, tetapi tetap berada di situ, menunggumu memutar keran lagi. Allah seperti air itu, menunggu kamu kembali menjadi anak-Nya. Tiada ketidak-patuhan atau pemberontakan darimu yang bisa mengubahnya.
Itulah sumber sukacita orang percaya. Bila kita semakin menghayati pengorbanan Yesus di salib, terutama dengan kemenangan-Nya di dalam kebangkitan-Nya, tidak mungkin lagi ada orang Kristen yang mau terbenam dalam susah hati. Yang ada hanyalah sukacita, karena di dalam Yesus, Allah memberi jaminan bahwa Allah mau mengampuni dosa kita

2. Setelah Allah mau mengampuni dosa kita, Dia tidak menjauh, tetapi justru mau dekat dengan kita.

Kita baca di ayat 17 : “TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai. Wahh... luar biasa! Coba bayangkan, bila Allah ada di dekat-Mu, menjadi pahlawan yang memberi kemenangan, dan selalu bergembira karena engkau”. Mungkin, tidak ada lagi hal lain yang mensukacitakan hati selain dari hal ini. Sebuah jaminan penyertaan dan pengawalan yang luar biasa. Karena itu, Allah melalui Zefanya terus menerus menyerukan: Jangan takut – jangan takut (ayat 15, 16).
Janji penyertaan ini telah terwujud dengan kehadiran Yesus, yang adalah Immanuel, Allah yang beserta kita. Dan walau Yesus telah berangkat ke surga, Dia memberi jaminan: “Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat; 28:20).
Karena itu, orang percaya tidak perlu takut terhadap apapun selain kepada Allah. Jangan pernah mau diperbudak dan dikalahkan oleh Allah. Dan sebenarnya, di dalam Yesus kita lebih dari sekedar pemenang (Rm. 8, 37). We are the winners. Bila Anda kalah, bukan karena Yesus tidak mampu membantu Anda, tetapi, Anda yang telah memilih dan menyerahkan diri Anda untuk kalah. Karena itu jangan pernah mau kalah. Jangan takut. Tetapi bergembiralah, bersukacitalah.

3. Dan yang terakhir, yang membuat Israel bersukacita adalah janji akan ADANYA PEMULIHAN dari Allah.

Israel akan dipulihkan (ayat 20), bukan lagi sebagai bangsa yang dihina, dilecehkan oleh kuasa dan bangsa lain. Tetapi Tuhan akan mengangkat malapetaka dari mereka (ayat 18) – Tuhan akan memukul habis bangsa yang menindas Israel (ayat 19) – Tuhan akan mengembalikan nama baik dan kehormatan dan membuat Israel menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi (ay. 19)
Ini jugalah jaminan agar kita bisa bersukacita. Mungkin sekarang memang kita susah karena disusahi pihak lain. Izin membangun gereja dipersulit (walau menurut Undang-undag sangatlah mudah). Jabatan strategis ditutup bagi murid Kristus (sehingga banyak orang Kristen menjual imannya demi jabatan) – kita dilecehkan dan dianggap sebelah mata (sehingga banyak orang yang “monjap” – bersikap bunglon – suam-suam kuku tentang imannya). Kita sering menangis menghadapi “penyesahan” (pangaleleon) terselubung ini.
Tetapi, Tuhan Yesus yang bangkit menyerukan: jangan pernah takut. Kita akan dipulihkan – musuh-musuh Kristus akan dikalahkan. Tiada kuasa manapun yang bertahan terhadap kekuasaanNya. Karena itu jangan pernah kecut, takut atau minder. Di dalam Yesus, kita bukanlah pecundang yang mau kalah, tetapi kita lebih dari sekedar pemenang.

Karena itu, agar kita benar-benar dapat bersukacita, pilihan ada pada kita. Mereka yang mengenal dosanya tetapi tidak mau bertobat, akan dibebani, ditimpa, “didondoni” oleh dosanya; sukacitanya akan terkuras habis oleh dakwan-dakwan dosa di dalam hati nuraninya. Tetapi mereka yang mau mengaku dosa dan bertobat, Tuhan menjamin bahwa dosamu pasti akan diampuni, dan Tuhan mengasihiMu. Itu membuat sukacitanya akan berlimpah.
Mereka yang tidak mengenal kasih setia Allah akan takut, kecut, dan kalah; sukacitanya akan habis. Tetapi yang percaya dan mengimani kasih setia Allah yang nampak dalam kemenangan Kristus dalam kebangkitanNya, akan terus bersukacita walau didera derita – tetap semangat dan tidak takut walau musuh Kristus menghadang. Bukan karena nekat. Tetapi karena ada jaminan penyertaan Allah.
Karena itu, camkanlah seruan Paulus dalam Filipi 4:4 “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”. SELAMAT BERLETARE. Amin.





Pdt. STP. Siahaan

Minggu Miserikordias Domini, 18 April 2010 Ratapan 3:22-16


BERHARAPLAH PADA YESUS YANG MENANG




Keadaan sulit dan derita yang berat sering menghadirkan tanya: Apakah Tuhan masih ada? Apakah benar bahwa Tuhan mengasihi saya? Dengan gempa bumi dan bencana lainnya yang meluluh-lantakkan bumi Indonesia, banyak hati yang bertanya: Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita, mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Pertanyaan ini menunjukkan kondisi tanpa harapan.
Kondisi ini juga yang mewabah di kalangan Yahudi. Ketika derita demi derita mendera, seperti bisa kita baca mulai ayat pertama pasal 3 ini, penulis meratap. Membaca dafatr derita itu, hati kita akan milis dan bulu kuduk akan berdiri saking sakitnya. Mereka terbuang di Babilon; mereka jauh dari Yerusalem, kota kebanggaan mereka yang telah menjadi sunyi karena tiada lagi penduduknya, dan Bait Allah tumpuan harapan iman sebagai bukti penyertaan Tuhan bagi mereka telah dibumi-hanguskan. Saking beratnya derita itu, peratap ini merasa dia akan binasa (ayat 54).
Namun, terjadi perubahan yang drastis dalam diri si peratap. Mari kita baca ayat 21: “Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap” (BIS - Meskipun begitu harapanku bangkit kembali, ketika aku mengingat hal ini). Walau deritanya menindih perih, namun imannya melihat seberkas cahaya yang makin lama makin terang. Cahaya tersebut memberinya pengharapan baru, yang selanjutnya menyemangatinya menapaki hidup di depan. Imannya berkata: ada Tuhan. Dan Tuhan itu adalah Tuhan yang setia, yang kesetiaan-Nya kekal, terus menerus, dan diperbaharuiNya tiap pagi, tidak pernah basi. Dia juga Allah yang baik, yang pasti mau menolong setiap orang yang berharap padaNya dan yang mencari-Nya. Pengenalan dan keyakinan inilah yang memberinya harapan dan kekuatan baru.
Inilah perbedaan dari orang yang mengenal Tuhan dengan orang yang tidak pernah peduli dengan Tuhan. Sering, penderitaan menjadi batu ujian sekaligus pembuktian bagi mereka. Mereka yang tidak peduli dengan Tuhan, bila didera derita, akan langsung tenggelam hingga ke dasar yang terdalam dan tidak akan muncul-muncul lagi, bagaikan batu yang dilempar ke dalam sumur (bahasa Batakna: lonong). Mereka bukan hanya meratap tetapi menjadi putus asa, atau bunuh diri. Tetapi mereka yang mengenal dan percaya kepada Tuhan, ketika derita menderu, mereka meratap, bukan karena putus asa, tetapi ratapan minta tolong agar Tuhan mengulurkan tangan-Nya menolong mereka. Mereka bagaikan buah kelapa tua, yang sebentar akan terbenam, tetapi tidak akan tenggelam, karena akan bangkit dan muncul lagi ke permukaan. Walau memang ada yang timbul tenggelam, yang ketika ancaman datang mereka menyembunyikan diri (monjap), dan ketika keadaan sudah aman barulah mereka muncul, dan sering berlagak seperti pahlawan padahal tidak berbuat apa-apa.
Ada ahli mengatakan bahwa zaman kita sekarang sedang digerogoti sikap yang tanpa harapan. Mengapa? Karena kita sering terperangkap pada apa yang dapat disebut sebagai perangkap-perangkap kenyataan. Yaitu yang mengukur dan memutuskan segala sesuatu hanya berdasarkan fakta-fakta dan rumus-rumus matematis. Yang hanya percaya bahwa satu tambah satu hanyalah dua, selain itu dianggap mustahil (Contoh: Sajuta rupia do gajingku, hape balanjonami pe nunga 600 ribu, asing dope manggarar aek dohot listrik nang ongkos-ongkos. Ndang mungkin boi hami pasikolahon dakdanak on, dll)
Padahal, secara iman, pengharapan orang-orang percaya adalah pengharapan tanpa dasar, artinya tidak berdasarkan rumus matematika, dan tidak berharap pada hal-hal yang nampak di mata. Pengharapan orang Kristen adalah tertuju pada Misteri Allah (hahomion ni Debata). Karena Allah dapat melakukan apa yang mustahil bagi manusia. Bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk. 1:37), dan mujizat adalah spesialisasiNya, karena itu jangan batasi dirimu mempercayaiNya. Karena apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, atau didengar telinga atau yang belum pernah melintas dalam pikiran manusia, itu yang dilakukan Allah kepada orang yang mengasihiNya (1 Kor. 2:9).
Coba kita ingat apa yang dilakukan Allah kepada Sara, yang mandul dan sudah tua, tetapi dengan mujizat Allah, dia bisa melahirkan Isak. Ingat juga ketika Israel tiba di tepi Laut Merah, sementara pasukan Firaun telah mengejar dengan pasukan perang; mereka tidak mungkin bisa selamat. Tetapi Musa berkata: “TUHAN akan berjuang untuk kamu, dan kamu tak perlu berbuat apa-apa." (Kel. 14:14) dan benar, mereka selamat. Justru pasukan Firaun yang hanyut. Mujizat yang luar biasa!
Tetapi mujizat yang terbesar adalah ketika maut si penguasa dunia, dikalahkan oleh Yesus. Maut, kuasa yang tidak dapat dikalahkan manusia tetapi justru mengalahkan semua manusia, ternyata, dapat dikalahkan oleh kuasa kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Itulah kemenangan yang tiada tanding dan taranya. Kebangkitan Yesus mengalahkan maut, hanya dapat dilalukan oleh Tuhan Yesus, tidak dapat dilakukan “juruselamat” agama manapun.
Itulah dasar segala pengharapan kita. Dengan kebangkitan Yesus yang mengalahkan maut, bagi orang percaya tidak ada lagi yang mustahil. Segala derita, kesakitan, atau kesulitan apapun, menjadi mungkin kita kalahkan, bila mengandalkan kuasa Yesus. Buktinya: sepanjang sejarah, mulai dari berdirinya gereja, hingga hari ini, seluruh dunia bekerjasama menyusun kekuatan untuk menghancurkan umat Tuhan, orang Kristen di dunia ini. Namun, faktanya, jangankan hancur, tetapi justru semakin dibabat semakin merambat. Gereja tegak berdiri. Bukan oleh kekuatan-Nya, melainkan karena pertolongan Tuhan Yesus, Sang Penakluk dunia itu.
Karena itu, sebenarnya tidak ada alasan bagi orang percaya untuk takut apalagi putus asa. Kebangkitan Yesus, yang bila diimani dan diamalkan dengan benar, akan menghapus istilah takut dan putus asa dari kamus orang percaya. Dengan kebangkitan Tuhan Yesus, orang percaya tidak ditakdirkan untuk takut, kalah dan putus asa. Tetapi sebaliknya, telah dilantik menjadi pemenang, karena kuasa apapun tidak akan mampu memisahkan kita dari kasih Kristus (Rm. 8:34-39).
Namun demikian, Saudaraku, kita dapat juga jatuh. Seperti dikatakan Tuhan Yesus: roh memang penurut, tetapi daging lemah (Mat. 26:41). Kita masih lemah, karena kita adalah manusia juga. Namun ingat, bila kita kalah, bukan karena si iblis atau penderitaannya yang kuat. Bukan! Tetapi kita yang membiarkan diri kita dikalahkan. Atau, kita yang telah memilih untuk kalah. Mengapa? Karena sebenarnya, tidak ada pencobaan atau derita yang dibiarkan Allah menerpa kita di luar kemampuan kita, melainkan apa yang pas dengan kemampuan kita (band. 1Kor. 10:13). Dan, Tuhan adalah setia, pasti memberikan pertolongan kepada setiap orang yang mengasihi dan mencari-Nya. Karena itu, bila ada yang kalah, bukan karena Allah mentakdirkannya untuk kalah, dan bukan pula karena penderitaan atau pencobaan itu yang lebih kuat. Tidak! Tetapi, karena kita telah memilih dan membiarkan diri kita dikalahkan.
Karena itu, bila kita hubungkan dengan nats kotbah minggu depan ini, bila kita menghadapi masalah, kesulitan, derita atau pergumulan berat, hal yang harus kita lakukan adalah:
Pahami, imani, yakini bahwa kita punya Tuhan yang mampu mengalahkan kuasa apapun. Dan Dia adalah Allah yang mampu melakukan apapun, termasuk yang tidak dapat dilakukan oleh siapapun. Dia mampu mencelikkan mata orang buta, menghidupkan orang mati, menyembuhkan segala sakit penyakit, mengusir segala roh jahat dan setan sekalipun. Mujizat adalah spesialisasi-Nya. Karena itu jangan batasi imanmu untuk mempercayai dan menerimanya.
Dia adalah Allah yang Mahakasih. Pengorbanan dan kebangkitanNya adalah untukmu, demi engkau. Percayai itu.
Dia adalah Allah yang setia, yang patut dipercaya, dan terus menerus memenuhi janji-janiNya. Mujizat-Nya pasti dilakukannya untukmu, untuk kita hari ini dan di sini.
Tugas kita adalah, terus memanggil, meminta dan meminta di dalam harapan. Terkadang Tuhan menginginkan kita harus seperti orang buta dalam nats kotbah minggu depan, yaitu meratap, meratap dan meratap di dalam iman. Ratapan yang bukan karena keputus-asaan, melainkan untuk membuktikan pengharapan kita yang kokoh atas pertolongan Allah. Dan pasti, pada waktunya, Tuhan akan mmberikannya.
Berharaplah dalam keyakinan bahwa pertolongan Tuhan akan segera datang dan mewujud dalam hidupmu.
Karena itu, Saudaraku! Bila derita mendera hidupmu, jangan mau dikalahkan. Ingat, kita dikasihi oleh Yesus yang telah mengalahkan musuh dan derita kita. Dialah harapkan dan andalkan, kita pasti menang! Amin.




Pdt. STP. Siahaan

Minggu Quasiomodogeniti, 11 April 2010 Mazmur 8:2-7


NIKMATILAH BERKAT TUHAN





BERANGKAT DARI KEHINAAN TIBA KEPADA KEMULIAAN

Perubahan yang sangat mencolok tentang manusia tampak dalam pemberitaan Mazmur fasal 8 ini. Bahwa manusia hina kemudian menjadi makhluk mulia dinyatakan secara sederhana. Mazmur Daud ini menggugah hati kita merenungkan fenomena kemanusiaan yang berubah-ubah, agar kita sendiri dapat memilih posisi dan sikap yang benar di mata Tuhan.

Marilah kita membaca teks ini secara cermat dan baik. “8:2 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. 8:3 Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam. 8:4 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: 8:5 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? 8:6 Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. 8:7 Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.”

Dari ayat 2-7 kita memahami kalimat tentang siapa manusia itu. Firman ini menggambarkan secara terus-terang manusia sebagai makhluk yang hina, namun Allah telah melakukan rancangan yang ajaib, yang meninggikan manusia. Ada tujuh ungkapan dalam nas ini yang memosisikan manusia di tengah seluruh alam ciptaan Allah. Penempatan manusia oleh Allah di tengah jagad raya ciptaan Tuhan itu pastilah didasarkan atas tujuan mulia untuk mencapai karakter luhur, bagi kemuliaan Tuhan. Mari kita coba pahami posisi dan tugas tersebut dalam lingkup manusia apa adanya.
Pertama: “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan” (8:2). Manusia menyanyikan pernyataan hebat ini, bahwa keagungan dan kemuliaan Tuhan tetap menjadi prioritas bagi dirinya. Kemuliaan Tuhan tetap mengatasi langit. Kedudukan Pencipta tetaplah di atas dari ciptaan. Tuhan adalah Penguasa Tunggal atas seluruh ciptaan. Manusia harus menyanyikan dan menyadari hal itu untuk dirinya sendiri, agar manusia dapat mengajarkannya kepada seluruh makhuk bumi.

Kedua: ”Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam” (8:3). Sarana yang dipakai manusia untuk memuliakan Tuhan adalah dirinya sendiri, apa adanya, pola pikirnya yang masih murni, polos, spontan, tidak neko-neko. Dalam hal melakukannya, manusia tidak memanfaatkan (memakai apalagi mencuri) pemujian Tuhan itu untuk kepentingan diri sendiri. Bayi dengan apa adanya ia menjadi patokan dasar dari kemurnian dan keikhlasan kita memuji Tuhan. Sekaligus itulah senjata kita untuk dapat membungkam seluruh lawan-lawan Tuhan. Kelemahan, ketidakmampuan, bahkan hanya senyum dan tangisan, itulah senjata kita untuk menang di dalam Tuhan. Hanya dua rupa komunikasi seorang bayi: menangis (sedih) dan tersenyum (gembira). Dalam kedua pola inilah kita patut memuji Tuhan, ketika kita berduka dan bergembira, di saat kita gagal maupun sukses, pada waktu kita beruntung maupun rugi. Memuji Tuhan dalam semua kondisi kehidupan.

Ketiga: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan” (8:4). Pada ayat ini, manusia sudah mulai menyadari kemaha-akbaran Tuhan oleh semua ciptaan-Nya. Sungguh, manusia perlu melihat hamparan cakrawala itu, manusia patut berkeinginan memahami misteri bulan dan bintang-bintang, agar manusia sadar diri akan kesederhanaan, kenistaan – hametmeton ni dirina; namun di balik itu ia dapat menikmati langit, bulan dan bintang-bintang untuk menghibur dan memuaskan jiwa dan hatinya memuji Tuhan dalam sukacitanya.

Keempat: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Pertanyaan ini juga ditanyakan penulis Surat Ibrani (Ibr. 2:6) yang menunjukkan betapa pentingnya hal ini dipahami. Siapakah sesungguhnya manusia? Alkitab terjemahan Indonesia menyebut kata ‘manusia’ sebanyak 846 kali dari kitab Kejadian 1:26 hingga kitab Wahyu 21:17. (Di Bibel Batak Toba, disebut 1912 kali. Dan lebih banyak lagi dalam Alkitab King James Version, manusia disebut 4536 kali). Memang bagi Tuhan manusia itu berharga dan mulia; Manusia itulah yang merendahkan dirinya dan masuk ke jurang maut. Manusia pada titik yang paling rendah nyata dalam diri Yesus yang dihina dan disiksa oleh karena dosa dan kejahatan manusia. Dalam Yoh 19:5 dikatakan: Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah Manusia itu!" Yesus sendiri yang menyatakan diriNya Anak Manusia yang dipermuliakan pada akhir semua zaman. Wahyu 14:14 mencatat (“Anak Manusia” 85 kali disebut dalam Perjanjian Baru): “Dan aku melihat: sesungguhnya, ada suatu awan putih, dan di atas awan itu duduk seorang seperti Anak Manusia dengan sebuah mahkota emas di atas kepala-Nya dan sebilah sabit tajam di tangan-Nya.” Sesungguhnya manusia itulah centrum maksud dan pengasihan Allah, sehingga Tuhan Yesus datang ke dunia ini (Yoh 3:16).

Kelima: “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah”. (8:6a). Manusia dipersamakan dengan Allah. Posisi ini lebih tampak dalam fungsi pemeliharaan atas seluruh ciptaan. Daya cipta atau kreativitas yang ada pada manusia merupakan buah keillahian Tuhan dalam diri manusia. Kalau manusia pertama diciptakan dari debu tanah, manusia disuruh beranak-cucu untuk melanjutkan penciptaan itu. Manusia segambar dengan Allah, sehingga manusia mempunyai citra, sifat, tabiat dan nilai-nilai yang agak bersamaan dengan milik Tuhan. Kata “hampir sama seperti” menyadarkan kita bahwa setinggi apa pun posisi manusia, walau bagaimana pun hebatnya ia, manusia tetaplah manusia. Kita harus rendah hati dan sadar akan anugerah kasih Tuhan. Walau hampir sama seperti Allah, kita tetaplah membutuhkan ksih dan penyelamatan dari Tuhan.

Keenam: “dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (8:6b). Mahkota yang dimiliki manusia adalah kemuliaan dan hormat. Mahkota kehidupan dijanjikan akan diberikan kepada orang yang setia sampai mati (Wahyu 2:10c). Manusia diberi mahkota karena ia sudah berjuang dalam ketaatan dn kesetiaannya kepada Tuhan. Seorang penulis menegaskan: “No crown without cross” – Tidak ada mahkota tanpa salib. Tidak ada medali tanpa kemenangan dalam pertandingan. Manusia yang telah dimahkotai adalah manusia yang sudah teruji, lalu terpuji, karena sudah menjadi pemenang.

Ketujuh: “Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya (8:7) kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang (8:8) burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan (8:9). Manusia diberi kuasa untuk mengelola seluruh ciptaan milik Tuhan. Semuanya adalah milik, kekayaan, untuk kepentingan Tuhan; dan manusia hanya sebagai “pengelola” yang tentu saja boleh turut menikmatinya, namun tidak menikmatinya seperti seorang pencuri, sebagai orang asing, juga bukan seorang pelahap dan perusak, tetapi menikmati semua kekayaan Tuhan dengan penuh rasa syukur dan penuh tanggung jawab. Kuasa dan peluang serta berkat yang kita peroleh dari kemurahan Tuhan mestilah kita jalani dengan penuh rasa syukur, tanggung jawab dan dengan sukacita. Hanya dengan itu kita dapat mengakhirinya dengan pernyataan yang besar ini: “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (8:10). Amin.




Pdt. DR. M. Frans Ladestam Sinaga
HKBP Tangerang Kota

Senin, 22 Maret 2010

Bacaan Paskah 2, 5 April 2010 : Yesaya 26:15-19


Paskah 2, 5 April 2010 Yesaya 26:15-19


BANGKITLAH DAN BERSORAK-SORAI


MENGELUH DALAM DOA DAN PUJIAN

D
imulai dari ayat 1 fasal 26 ini kita dibersamakan dengan Nyanyian Puji-pujian, oleh umat pilihan Israel kepada Tuhan yang mengasihi mereka. Nyanyian mereka adalah kidung masa depan yang kelak akan terjadi dalam perjalanan sejarah bangsa itu. Namun Kidung Puji-pujian ini tidaklah melulu berisikan pujian; di dalamnya terkandung keluhan yang sangat dalam, doa permohonan dan ajakan untuk percaya kepada Tuhan. Tidak salah, kalau perikop ini kita namai “mengeluh dalam doa dan pujian” yang diungkapkan dengan cara berbisik (mengeluh dengan suara lirih) kepada Tuhan.
Nyanyian ini dimulai dengan kesaksian yang kuat tentang Tuhan yang menyelamatkan mereka. Dikatakan: “Pada waktu itu nyanyian ini akan dinyanyikan di tanah Yehuda: "Pada kita ada kota yang kuat, untuk keselamatan kita TUHAN telah memasang tembok dan benteng. Bukalah pintu-pintu gerbang, supaya masuk bangsa yang benar dan yang tetap setia! Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal” (26:1-4).
Di sini terungkap kebanggaan mereka atas Yerusalem sebagai kota yang kuat, tempat di mana mereka diselamatkan Tuhan. Pintu kota itu dibuka agar bangsa yang setia mendapatkan damai sejahtera dari Tuhan sebagai gunung batu yang kekal. Di masa pembuangan doxologi (pujian) ini muncul lagi di Yesaya 42:10-12 dalam konteks yang lebih luas dan spesifik. Dikatakan: “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya. Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung! Baiklah mereka memberi penghormatan kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau.”
Mereka memuji Tuhan “Sebab Ia sudah menundukkan penduduk tempat tinggi; kota yang berbenteng telah direndahkan-Nya sampai ke tanah dan dicampakkan-Nya sampai ke debu” (26:5); Sebaliknya, kaki orang-orang sengsara, telapak kaki orang-orang lemah akan menginjak-injaknya. Jejak orang benar adalah lurus, sebab Engkau yang merintis jalan lurus baginya (26:6-7). Inilah yang dinanti-nantikan mereka, yakni saat Tuhan menjalankan penghakiman atas bumi ini. Apakah itu? (a) Bahwa penduduk dunia akan belajar apa yang benar. (b) Bahwa tangan Tuhan dinaikkan, tetapi mereka tidak melihatnya. (c) Bahwa dalam kecemburuan Tuhan karena umat-Nya, mereka mendapat malu (d) Bahwa api akan memusnahkan dan memakan mereka habis! Mereka sudah mati, tidak akan hidup lagi, menjadi arwah, tidak akan bangkit pula; Mereka dihukum dan dimusnahkan, dan meniadakan segala ingatan kepada mereka (26:6-11,14).
Bagi umat yang setia itu: (a) TUHAN menyediakan damai sejahtera (b) Dalam penindasan, mereka tetap setia hanya memasyhurkan nama Tuhan (c) Jumlah umat kemuliaan Tuhan ini dibuat-Nya bertambah-tambah (d) Tuhan memperluas negeri mereka (26:12-13,15). Kalimat dalam ayat 15 ini menunjukkan hasil karya Tuhan yang membuat mereka sebagai bangsa yang menerima mujizat di balik semua penderitaan yang terjadi. Doa dan pengharapan mereka: akan terjadi mujizat pertumbuhan (bertambah-tambah) dan pengembangan (memperluas negeri) justeru di tengah ketidakmungkinan karena kepahitan hidup ini. “Ya TUHAN, Engkau telah membuat bangsa ini bertambah-tambah, ya, membuat bertambah-tambah umat kemuliaan-Mu; Engkau telah sangat memperluas negerinya.”


BERTUMBUH DAN BERKEMBANG DALAM PENINDASAN DUNIA

Sekali lagi, mujizat-mujizat semacam inilah yang sering kita alami dari kemurahan hati Tuhan Yesus. Oleh karya pengasihan Tuhan di balik, di dalam dan oleh semua aniaya dan penindasan yang terjadi dalam hidup kita, Tuhan mengadakan hal yang bertolak belakang menjadi kebaikan bagi kita. Mujizat pertumbuhan, mujizat perluasan, mujizat dalam pengembangan usaha, mujizat dalam peningkatan jabatan dan karir justru terjadi di tengah “penolakan”, “kebencian”, “rekayasa jahat” dan “aniaya” oleh penguasa dunia ini. Dan sekarang umat Israel sudah menjadi contoh bagi kita untuk mempercayai kebenaran Firman ini. Demikian juga rasul Paulus dalam 2 Korintus 4:8-9 mengatakan, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.”
Sampai di manakah batasan wilayah umat ini semakin diperluas? Ulangan 11:24 mencatat, “Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, kamulah yang akan memilikinya: mulai dari padang gurun sampai gunung Libanon, dan dari sungai itu, yakni sungai Efrat, sampai laut sebelah barat, akan menjadi daerahmu.” Yosua 1:3 mengatakan: “Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.” Yosua 14:9 juga dikatakan, “Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati.” Sungguh luar biasa rencana mujizat Tuhan. Anehnya, dengan mandat ini, maka semakin banyak – semakin jauh - wilayah yang diinjak kaki umat pilihan ini otomatis wilayah itu menjadi milik mereka, sekalipun mereka tiba di sana sebagai bangsa yang terbuang dan teraniaya. Fenomena ini terjadi sampai sekarang: Di mana umat ini berada di sana mereka diberkati dan menjadi pemilik. Berkat Tuhan memungkinkan kita umat-Nya di mana pun kita dilemparkan, di sana akan tumbuh, berakar, hidup dan berbuah.
Tuhan membuat umat-Nya bermutu tinggi dan menjadi berkat. Yesaya 26:16-19 mengatakan: “Ya TUHAN, dalam kesesakan mereka mencari Engkau; ketika hajaran-Mu menimpa mereka, mereka mengeluh dalam doa. Seperti perempuan yang mengandung yang sudah dekat waktunya untuk melahirkan, menggeliat sakit, mengerang karena sakit beranak, demikianlah tadinya keadaan kami di hadapan-Mu, ya TUHAN: Kami mengandung, kami menggeliat sakit, tetapi seakan-akan kami melahirkan angin: kami tidak dapat mengadakan keselamatan di bumi, dan tiada lahir penduduk dunia. Ya, TUHAN, orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah bangkitlah dan bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan arwah kembali.” Mereka yang setia berseru, berbisik dan mengeluh dalam doanya akan dihidupkan kembali oleh Tuhan. Kuasa pengasihan Tuhan bagaikan embun terang yang membangkitkan kembali dan menyegarkan benih-benih yang sebelumnya sudah “tergeletak” di tanah. Tuhan dengan kuasanya memberikan kehidupan baru.
Hari ini Pesta Kedua untuk memperingati, mensyukuri, mengimani dan meneladani Kebangkitan Tuhan Yesus. Nas ini berisi pernyataan Perjanjian Lama yang paling kuat dan tegas mengajarkan doktrin tentang kebangkitan tubuh (bnd. Ayb. 19:26; Mzm. 16:10; Dan. 12:2). Orang yang telah melayani Allah dengan setia akan bangkit dari bumi dan hidup kembali setelah mati (lih. Yoh. 5:28-29; 1Kor. 15:50-53; Flp. 3:21). Dia sudah bangkit. Umat pilihan-Nya yang dulu terpuruk akan dibangkitkan. Dari diri mereka tidak ada yang dapat dilahirkan. Mereka mengaku, “Kami mengandung, kami menggeliat sakit, tetapi seakan-akan kami melahirkan angin”. Dari diri kita sendiri kita tidak dapat menghasilkan apa-apa, apalagi untuk hidup kembali. Kita tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Kita sudah tergeletak bahkan terbuang tersia-sia di tanah – bumi dan kehidupan ita – ini. Dan syukurlah Tuhan Yesus sudah bangkit untuk menjadi kebangkitan kita. Maka bangkitlah dan bersorak-sorailah untuk kemuliaan nama Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.





Pdt. DR. M. Frans Ladestam Sinaga
HKBP Tangerang Kota, Jakarta-3