Rabu, 18 Agustus 2010

Bacaan Minggu, 19 September 2010: 1Yohanes 2:11-17

MEWASPADAI TIPU MUSLIHAT IBLIS
 1Yohanes 2:11-17
Minggu 16 Setelah Trinitatis, 19 September  2010


 

Menjadi seorang Kristen bukanlah merupakan jaminan akan memiliki kehidupan yang mudah. Menjadi seorang Kristen bukan berarti memiliki hidup yang tanpa pergumulan. Menjadi seorang Kristen memiliki arti bahwa segala tantangan, pergumulan hidup dan segala persoalan akan dihadapi bersama Kristus dan mencari solusi serta bertindak dengan cara-cara yang dikehendaki Kristus.
Dalam surat Yohanes yang pertama ini, secara khusus dalam pasal 2:11-17, Yohanes mengingatkan setiap orang Kristen supaya terus hidup dalam kasih Tuhan, serta mewujudkannya dengan melaksanakan kehendan Tuhan melalui kehidupannya. Orang Kristen cenderung melupakan kasih Tuhan serta kasihnya kepada Tuhan. Tantangan hidup yang dihadapi sehari-hari dapat membuat manusia fokus pada diri sendiri, yang akhirnya melupakan tujuan Tuhan dalam kehidupannya.
Jika kita memperhatikan ayat 12-14 dalam bahasa aslinya (bahasa Yunani), Yohanes menujukan surat ini kepada empat kelompok orang Kristen. Pengelompokan ini tidak didasaran pada usia, tetapi pada tingkat kedewasaan orang Kristen. Jika kita memperhatikan dalam terjemahan bahasa Indonesia, hanya terlihat tiga kelompok, tetapi jika kita memperhatikan dalam bahasa aslinya ada empat kelompok.
Dalam ayat 12 dikatakan, “Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak”. Kata anak-anak dalam ayat 12 ini berbeda dengan kata anak-anak dalam ayat 14. Kata anak-anak dalam ayat 12 ini digunakan kata τεκνίον (teknion) yang berarti bayi. Dalam ayat 12 Yohanes berkata, “Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya”. Yohanes sedang berbicara kepada para petobat baru, orang Kristen baru yang digolongkan Yohanes sebagai bayi rohani. Mereka ini bukanlah bayi dalam pengertian jasmani, karena sudah pasti tidak bisa membaca surat yang ditujukan Yohanes. Mereka adalah para petobat baru, orang percaya baru, dank arena itu penekanan Yohanes adalah pengampunan dosa dalam nama Kristus. Ketika Yohanes menyebutkan bayi bagi orang yang baru menjadi Kristen tersebut, Yohanes kembali mengingatkan bahwa dosa mereka telah diampuni oleh Tuhan Yesus. Orang yang baru menjadi Kristen harus tetapi diingatkan akan status mereka sebagai orang-orang yang telah diampuni dosanya dalam Tuhan Yesus Kristus. Hal ini sangat penting, supaya mereka tidak memiliki keraguan akan pengampunan dosa dan akan kehidupan yang kekal, yang telah dianugerahkan Tuhan kepada mereka.
Kemudian dalam ayat 14 Yohanes berkata, “Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa”. Kata anak-anak yang digunakan dalam ayat ini adalah παιδίον (paidion) yang berarti anak-anak yang sudah bertumbuh, dan bukan bayi lagi. Itulah sebabnya penekanan Yohanes bukan lagi pertobatan dan pengampunan dosa, tetapi pengenalan akan Bapa. Orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatnya akan bertumbuh pada pengenalan akan Tuhan. Sebagaimana bayi bertumbuh menjadi anak-anak yang semakin menenal bapanya, demikian juga orang Kristen yang bertumbuh akan semakin mengenal Tuhannya. Sebagaimana anak-anak yang bertumbuh mengenal karakter bapanya, demikian juga orang Kristen yang bertumbuh akan semakin mengenal karakter Tuhan. Sebagaimana anak-anak yang bertumbuh berusaha meniru karakter dan perilaku bapanya, demikian juga orang Kristen yang bertumbuh akan meniru karakter dan perilaku Tuhannya. Tuhan sendiri menghendaki agar semua orang memiliki karakter seperti Kristus (bnd. Rm. 8:29)
Kelompok yang ketiga tujuan dari surat Yohanes ini adalah orang-orang muda. Masih dalam ayat 14 Yohanes berkata, “Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.” Kata orang-orang muda dalam bahasa Yunani digunakan kata νεανίσκος (neaniskos) yang berarti anak muda yang berusia dibawah 40 tahun. Sebagaimana anak-anak bertumbuh menjadi orang muda, demikian juga orang Kristen harus terus bertumbuh dan meninggalkan kekanak-kanakan mereka.
Ada tiga ciri khas dari kelompok orang Kristen yang telah bertumbuh ini, yaitu: (1) Firman Allah diam di dalam dirinya; (2) menjadi kuat; dan (3) mengalahkan yang jahat. Orang Kristen yang telah menuju kedewasaan harus senantiasa memelihara firman Tuhan dalam kehidupannya. Seorang Kristen harus terus mempelajari firman Tuhan, manaruhnya dalam hatinya, dan mengaplikasikannya dalam kehidupannya. Dengan demikian mereka akan terus bertumbuh dan menjadi kuat. Seorang Kristen tidak akan mungkin bertumbuh dan menjadi kuat tanpa mempelajari firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Yohanes mengatakan bahwa orang Kristen yang bertumbuh bukan hanya memelihara firman Tuhan dalam hidupnya, tetapi juga menjadi kuat. Itulah sebabnya, orang Kristen yang bertumbuh menjadi dewasa mampu mengalahkan yang jahat. Orang Kristen yang bertumbuh menuju kedewasaan, tidak mau terbawa-bawa kedalam kejahatan, tidak mau melakukan kejahatan, tidak akan dikalahkan oleh kejahatan, tetapi akan mengalahkan kejahatan.
Kelompok yang terakhir yang menjadi tujuan dari surat Yohanes ini adalah para bapa. Dalam ayat 13 Yohanes berkata, “Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya.” Perkataan yang sama diulang Yohanes kembali pada ayat 14. Kata bapa dalam bahasa Yunani digunakan kata πατήρ (patēr) yang selain bapa juga bisa diterjemahkan dengan orang tua. Ini merupakan kelompok tertinggi dalam fase kehidupan manusia. Kata bapa dalam konteks ini menunjukkan fase kedewasaan. Dalam kehidupan rohani, ini merupakan orang Kristen yang dewasa. Yohanes mengatakan bahwa para bapa telah mengenal Tuhan dari mulanya atau sejak mereka menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Kata mengenal yang dalam bahasa Yunani digunakan kata bukan hanya sekedar kenal atau sekedar tahu, tetapi bergaul akrab atau bersahabat. Orang yang telah memiliki kedewasaan rohani, atau orang Kristen yang dewasa, bergaul akrab atau bersahabat dengan Tuhan. Kata mengenal memiliki pengertian yang sangat dalam, dimana interaksi antara orang yang saling mengenal telah berlangsung lama. Hal yang sama juga pernah dikatakan Paulus dalam Filipi 3:10, dimana yang Paulus rindukan sebagai orang Kristen yang telah dewasa adalah untuk mengenal Kristus.
Setelah Yohanes menjelaskan siapa saja yang menjadi tujuan suratnya, yaitu kelompok orang yang baru menerima Kristus, bayi rohani, yang masih anak-anak dalam kerohanian, yang sudah menuju kedewasaan dan juga orang Kristen yang telah menjadi dewasa dalam iman, kemudian Yohanes memberikan pesan. Sekalipun tujuan surat ini adalah orang-orang Kristen yang memiliki tingkat kedewasaan rohani yang berbeda, tetapi pesan yang disampaikan Yohanes adalah sama. Dalam ayat 15a,  Yohanes berkata, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya.” Selanjutnya dalam ayat 15 b Yohanes mengatakan bahwa, “Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.”
Apa yang diajarkan oleh Yohanes sangat serius yaitu jika kita mengasihi dunia ini dan apa yang ada didalamnya, maka kasih Bapa tidak mungkin ada dalam diri kita. Kita harus memahami bertul apa yang dimaksud oleh Yohanes dengan kalimat jangan mengasihi dunia ini dan apa yang ada di dalamnya. Yohanes tidak mengajarkan bahwa kita tidak boleh mengasihi orang lain, atau tidak mengasihi keluarga, atau siapa saja yang ada di dunia ini. Yohanes dengan sengaja menjelaskan apa yang dimaksud dengan “Jangan mengasihi dunia ini” dalam ayat selanjutnya.
Dalam ayat 16 Yohanes menjelaskan apa yang dimaksud dengan segala yang ada dalam dunia. Yohanes berkata, “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” Ada tiga kata yang sangat penting dalam ayat 16 ini yang harus diwaspadai oleh orang Kristen, siapapun dia, bagaimanapun tingkat kedewasaannya, karena setiap hari orang Kristen diperhadapkan pada ketiga kata tersebut. Kata yang sangat penting dan sangat perlu diwaspadai itu adalah (1) keinginan daging, (2) keinginan mata dan (3) keangkuhan hidup.
Manusia pertama yaitu Adam dan Hawa, dicobai oleh Iblis melalui ketiga aspek ini. Tuhan Yesus sebelum memulai pelayanannya juga dicobai oleh Iblis melalui ketiga aspek ini. Manusia sampai saat ini juga dicobai melalui ketiga aspek ini, dan sampai kapanpun, semua manusia termasuk orang Kristen pada tingkatan kerohanian apapun akan tetap dicobai melalui ketiga aspek ini.
Awal kejatuhan manusia kedalam dosa dikarenakan pencobaan melalui keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Jika kita memperhatikan proses kejatuhan manusia pertama kedalam dosa dalam kitab Kejadian 3:5-6, ada tiga kata yang sejajar dengan peringatan yang diberikan Yohanes. Ketika Hawa melihat buah yang ditawarkan Iblis, Hawa mengatakan bahwa buah itu baik untuk dimakan, yang berbicara tentang keinginan daging. Kemudian Hawa mengatakan bahwa buah itu sedap kelihatannya yang berbicara tentang keinginan mata. Masih dalam ayat yang sama, Hawa mengatakan bahwa pohon itu menarik hati karena member pengertian, yang dikatakan Iblis menjadi seperti Allah, dan ini berbicara tentang keangkuhan hidup. Iblis mengatakan bahwa jika Hawa memakan buah itu, maka dia akan menjadi seperti Allah. Hawa ingin menyamai kedudukannya dengan Tuhan, dan ini merupakan dosa yang sangat besar dari keangkuhan hidup.
Jika kita juga memperhatikan bagaimana Tuhan Yesus dicobai, juga melalui ketiga aspek ini. Ketika Iblis meminta Yesus untuk mengubah batu menjadi roti, hal ini berbicara tentang keinginan daging. Ketika Iblis memperlihatkan keindahan seluruh dunia ini kepada Yesus, hal tersebut berbicara tentang keinginan mata. Ketika Iblis meminta Yesus untuk menjatuhkan diri dari menara supaya para malaikan menggendongnya sehingga tidak jatuh, hal ini berbicara mengenai keangkuhan hidup.
Sampai saat ini semua orang, tanpa kecuali, termasuk orang Kristen selalui dicobai kedalam ketiga aspek ini. Setiap hari kita diperhadapkan pada pencobaan yang berhubungan dengan keinginan daging. Sampai saat ini kita diperhadapkan pada pencobaan yang berhubungan dengan keinginan mata. Sampai saat ini kita diperhadapkan pada pencobaan yang berhubungan dengan keangkuhan hidup. Semua pencobaan ini dilakukan Iblis, supaya kita terpisah dari Tuhan, tidak bergantung pada Tuhan, serta memusatkan seluruh perhatian kita pada keinginan kita sendiri. Itulah sebabnya Yohanes menegaskan, jika kita mengasihi dunia ini, tidak mungkin kasih Bapa ada dalam diri kita.




Ev. Frans Silalahi
Jakarta

Bacaan Minggu, 12 September 2010: Yesaya 2:1-3

KEMEGAHAN BAIT TUHAN
Yesaya 2:1-3
Minggu 15 Setelah Trinitatis, 12 September  2010  



Bagian khotbah ini adalah suatu nubuatan dari Nabi Yesaya tentang Yerusalem yang sering disamakan dengan Gunung Tuhan. Hal ini kita kenal dari rumusan: yom Jahwe (Hari Tuhan) di mana dari hari-hari yang dilewati manusia ada satu hari yang ditentukan oleh Tuhan bagi Dia dalam merealisasikan kehendak-Nya. Makanya hari ini kita katakan nubuatan karena belum terlaksana. Nubuatan ini adalah menyangkut Bait Allah di Yerusalem yang menunjukkan kemegahannya. Dan memang menurut hasil survey sejarah bahwa Bait Allah di Yerusalem tidak ada duanya di dunia pada waktunya.Terlebih Bait Allah yang didirikan Raja Salomo tidak ada bangunan seperti itu lagi di seantero dunia ini. Baik arsitektur atau fisik bangunannya. Akan tetapi bukan hal bangunannya yang mau dikatakan Yesaya dalam nas ini, tetapi kemegahan dari segi atau aspek lain yaitu menjadi megah karena tempat itulah tempat untuk umat-Nya bersekutu dan bertemu dan merasakan kehadiran Tuhan di dalam kehidupan.Jadi disamping kemegahan bangunan ingin melihat terlebih bertemu dengan Tuhan di tempat itu.Disitulah letak kemegahan tempat itu. Ada dua hal yang mau disampaikan kepada kita, yaitu: 1) Bertemu dengan Tuhan; dan 2) Tempat ajaran kebenaran Allah.
 

Bait Allah tempat bertemu dengan Tuhan 
 
Apakah ketika kita datang ke Bait Allah adalah tujuan kita untuk bertemu dengan Tuhan? Benar. Tetapi kenyataan orang rindu ke Bait Allah sebenarnya aneka macam motivasinya. Ada yang datang ke Gereja bukan mau bertemu dengan Tuhan, tetapi bertemu dengan pengkhotbah. Hal ini terbukti kalau ada pengkhotbah yang sudah dikenalnya tidak baik berkhotbah, maka hal ini sering sekali membuat orang menggerutu. “Kalau saya tahu dia yang khotbah pasti saya tidak datang di Gereja ini, lebih baik aja persembahan saya kirimkan tadinya”. Atau kalau penetua yang khotbah, warga nyelutuk apa yang dia tau, dia kan sama dengan saya. Melihat apa yang kita alami dari kejadian itu berarti dia bukan bertemu dengan Tuhan.Tetapi bertemu dengan pengkhotbahnya.
Ada yang mungkin membela diri. Maksud kita memang bertemu dengan Tuhan, tetapi bisa saja pengkhotbah itu jadi batu sandungan bagi kita untuk bertemu dengan Tuhan. Masa kalau kita beli kaset apakah kita tidak memilih kaset yang berkwalitas, kita tidak mungkin membeli kaset yang sumbang. Karena itu hal ini juga merupakan tantangan bagi semua pelayan, seharusnya meningkatkan dan membekali dirinya untuk memperlengkapi warga untuk menjabarkan imannya di tengah-tengah dunia ini. Artinya khotbah menjadikan orang untuk rindu bertemu dengan Tuhan.
Agar kemegahan Gereja semakin nyata maunya Gereja bukan hanya berkoak-koak tanpa makna dalam kehidupan. Terlebih dalam situasi sekarang ini seperti yang dikatakan Alvin Toffler dalam buku Megatrend-nya: Bahwa pada abad ini di Negara ketiga minat keagamaan (minat religius) orang makin meningkat.  Minat religius bukan identik dengan kekristenan tetapi bisa saja itu kepercayaan agama tertentu (banyak sekarang menganut religius mistik, makanya  kepercayaan kekafiran makin banyak pengikutnya). Bagi Gereja pelayan melihat tantangan ini merupakan kesempatan untuk memotivasi orang untuk bertemu dengan Tuhannya.Bukankah itu sekarang yang terjadi banyak warga yang jajan rohani hanya untuk mencari religius yang pas di dalam hidupnya. Tantangan yang merupakan kesempatan agar manusia semakin bergairah untuk bertemu dengan Tuhannya.
 
Pernah bapak T.B.Simatupang (almarhum) berkata sebelum memulai ceramah: “Seandainya Gereja kita masing-masing pada satu malam secara misterius raib, tidak ada sama sekali. Nah sewaktu pagi hari semua manusia sekeliling Gereja itu melihat, menurut kamu siapakah yang melihat itu yang pertama sekali menangis?” Kami menjawab dengan spontanitas yang jelas kita sebagai warga yang telah bersusah payah membangunnya pasti itulah yang pertama menitikkan airmata. Pak T.B.Simatupang menjawab bahwa itu adalah hal yang biasa, tetapi yang luar biasa jika orang yang berasal dari agama lain yang pertama menangis, sungguh di situlah letak keagungan, kemegahan Bait Allah itu. Kenapa Gereja berdiri selalu ditentang agama lain? Kita harus koreksi diri, masih tampakkah keagungan Gereja  dan kemegahannya? Seandainya Gereja benar-benar tempat bertemu dengan Allah, tidak ada pun izin Gereja berdiri pasti orang lain yang tidak seiman pun akan berkata, “Dirikanlah Gereja di sini karena Gereja merupakan berkat bagi kami”. Apakah nubuatan Yesaya ini menjadi kenyataan saat ini. Bait Allah menjulang tinggi karena benar Tempat kelimpahan Berkat Allah.
 

Gereja adalah tempat ajaran kebenaran Firman Tuhan  
 
Sewaktu Tuhan Yesus memasuki Bait Allah Dia membalikkan Meja penukaran uang  sambil berkata: “Mengapa  Rumah Bapa kamu jadikan menjadi ajang penipuan” (menjadi sarang Penyamun). Kenapa orang tertarik akan kekristenan mula-mula. Melihat diri para Rasul ada penjala ikan, pemungut cukai, apa yang mereka tau, tetapi kalau kita baca di dalam Kisah Para Rasul pertambahan orang Kristen begitu significan sampai ke jumlah yang banyak (sampai 6.000 orang).Tidak lain karena di tengah Gereja dipenuhi kasih, jika di masyarakat sikut-menyikut, di Gereja hidup damai, jika di masyarakat terjadi kelas-kelas sosial tetapi di Gereja sama rasa dan sama rata masih dapat bersatu di dalam Perjamuan Kudus.
Jika di masyarakat terjadi kecurangan segala jenis kejahatan dan di Gereja pun terjadi hal yang demikian, apa daya tarik orang datang ke Gereja untuk menerima kebenaran Firman Tuhan. Apakah itu sama dengan hanya rumusan-rumusan yang tidak pernah jadi kenyataan (atau H2O yang tidak pernah menjadi air ?). Perpecahan yang telah pernah terjadi di Gereja kita antara kelompok “SSA” dengan “TIARA” adalah merupakan borok yang sangat berbau busuk bagi kehidupan kita.
Sewaktu masih anak-anak dahulu, kalau ribut di Gereja para Sintua terus berkata: “Jangan ribut, kamu pikir Gereja ini pakter Tuak, kalau ribut di pakter Tuak sana”. Pada waktu peristiwa itu malah yang sebaliknya yang terjadi: “Jangan ribut di kedai saya ini, ini bukan Gereja HKBP, kalau berantam dan ribut pergi ke Gereja HKBP di sana”. Sakit memang jika kita mendengar perkataan seperti itu, padahal tidak ada yang kita ributkan, kita ribut berantam hanya memperebutkan keranjang kosong. Kalau berantam di terminal masih ada yang kita rebut paling sedikit uang komisi penumpang, tetapi di Gereja tidak ada sama sekali.
Gereja dan kehadiran orang-orang percaya adalah merupakan kebenaran Firman Tuhan yang nyata dalam kehidupan. Sehingga orang rindu akan kebenaran itu karena ddapat dijadikan pedoman kehidupan. Sehingga banyak orang berkata marilah kita memasuki Gunung Tuhan dan memasuki pelataran-Nya, karena kebenaran akan kita dengar menjadi pedoman kehidupan.
Kemegahan Bait Allah itu akan terjadi jika sesama warga jemaat saling membangun, saling mengasihi, saling menopang untuk menanggung beban yang ada. Gereja berfungsi menjadi garam dan terang bagi masyarakat sekitar. Gereja tidak arogan kepada masyarakat sekitar. Gereja tidak eksklusif (merasa di luar) masyarakat, tetapi gereja harus inklusif (di dalam) masyarakat. Gereja terlibat dalam persoalan kehidupan ril masyarakat sekitar, sehingga kemegahan gereja tampak karena Gereja memberi sesuatu bagi masyarakat sekitarnya.
 



Pdt Armada Sitorus, M.Th.
Praeses HKBP Distrik Toba Hasundutan

Bacaan Minggu, 5 September 2010: Kejadian 21:22-34

KEBAIKAN TUHAN BAGI ORANG PERCAYA
   Kejadian 21:22-34
Minggu 14 Setelah Trinitatis, 5 September  2010  



Terlalu sering kita dengar dan lihat bahwa setiap pergantian atau pelantikan menjadi pejabat, atau menjadi dokter angkat sumpah atau janji. Apapun namanya itu prinsipnya sama dengan yang dikatakan Yesus: “Jika ya katakanlah ya , jika tidak katakanlah tidak, selainnya berasal dari si jahat” (Mat. 5:37). Prinsip kehidupan seperti itulah memang cara hidup  (way of life)  dari orang Kristen, karena biar angkat sumpah atau janji toh banyak kita lihat apa yang diungkapkan dalam janji dan sumpah itu dilanggar juga. Apakah kaum medis tidak angkat sumpah kenapa ada mal-praktek, pengguguran, kenapa ada penyalahgunaan kekuasaan dari para pejabat sampai diseret kepada pengadilan. Sumpah adalah semacam mainan kata belaka. Nilai janji tidaklah dihayati, seperti janji anak muda kepada gadis yang dicintai. Bagaimanapun tingginya gunung akan kudaki, dalamnya jurang akan kuturuni, hujan lebat malam yang gelap gulita akan kutempuk untuk menemuimu seorang. Nyatanya ketika malam Minggu sewaktu wakuncar (wajib kunjungi pacar) datang hujan rintik-rintik, dia tidak mau menemui gadis idamannya. Seandainya kekasihnya bertanya di mana tadi malam kenapa tidak datang ke rumah, jawabanya spontanitas, “kan hujan”. Padahal janjinya selangit. Demikian juga janji seorang pemabuk, selama pengaruh alkohol semakin menaik wah  dia selalu mengumbar janji, bereslah itu, Dan sesudah sadar kita tagih janjinya, kapan saya katakan itu? Sama juga dengan janji-janji sewaktu pemilu legislatif yang baru lalu, wah kita terpesona, tetapi apa nyatanya sesudah dia telah menduduki yang diinginkan.
 
Apakah janji itu sudah sedemikian dangkalnya dan tidak punya makna? Marilah kita belajar dari perjanjian yang terjadi antara Abimelek dengan Abraham yang mereka perbuat di Bersyeba. Abimelek adalah raja Geral yang termasuk wilayah  Falistim. Memang sudah lama ada rumusan atau formula pernjanjian yang beredar di Asi Minoru bentuk perjanjian antara dua orang yang statusnya sama, yang diambil dari konsep perjanjian bangsa Hethi. Menurut bentuknya: seekor binatang disembelih dan membagi dengan membelah binatang atas dua bagian yang sama, kedua bagian dipisahkan kesebelah kiri dan kesebelah kanan, sehingga ada semacam gang yang akan dijalani kedua belah pihak yang berjanji. Dengan disaksikan oleh saksi sambil mereka berdua berjalan di gang binatang yang mereka sembelih mereka  berkata: “Kami berjanji akan tetap setia tentang ……………. ( isi perjanjian ) dan barang siapa di antara kami yang tidak setia nasibnya akan sama dengan binatang yang kami sembelih ini”. Ide perjanjian inilah yang mungkin mewarnai perjanjian seperti yang tertulis di dalam perikop ini (bnd. ayat 27, mengambil domba dan lembu). Mereka bersumpah itu atas dasar hormat (mengasihi ) dan tertariknya Abimelek akan kuasa Allah yang dinyatakan di dalam mimpinya (Kej. 20: 3-5 ). Atas dasar kekuasaan Allah Abimelek berjanji kepada Abraham bukan karena kebaikan Abraham, malah Abraham berdusta dengan mengatakan bahwa Sarah adalah saudarinya, sehingga Abimelek jatuh kepada hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Allah. Artinya perjanjian itu ada sangkut pautnya dengan Allah dan sangat berhubungan erat dengan Allah, tidak bisa dilepaskan. Inilah yang dilihat oleh Abimelek sehingga dia rela menyerahkan tanahnya untuk ditinggali Abraham. Kerelaan timbul karena memandang Allah yang berkuasa. Allah Penuh Kasih, karena lebih besar pengasihannya kepada Abraham yang penuh cacad dan aib (yang diancam hukuman mati yang bakal serupa dengan upah pelanggaran Abimelek). Biarpun Abraham memakai ilmu selamat demi keselamatannya mengorbankan istrinya menjadi istri orang lain asal dia selamat di negeri asing itu. Jadi kedua orang itu berjanji atas pengakuan akan Allah yang Mahakuasa dan Penuh Kasih, seakan Tuhan menjadi saksi atas janji mereka.
Dari peristiwa ini kita banyak belajar banyak hal tentang banyak hal yaitu komitmen  kita di hadapan Allah dalam hal mengikut Tuhan kita. Sebagai orang percaya kita harus konsekwen dengan tekad dan janji kita sekali mengikut Kristus tetaplah mengikut Kristus. Atau di dalam istilah penerbangan sering disebut: Point of no return, sekali melaju teruslah terbang. Sekali kita lahir, kita tidak mungkin lagi untuk kembali kerahim ibu kita. Itulah fakta kehidupan kita. Sekali kita membajak janganlah melihat kebelakang lagi. Jangan seperti Yunus yang kemudian ingkar janji. Sekali kita menjadi milik Kristus jadilah menjadi milik Kristus. Menerima Kristus adalah keputusan bukan pilihan. Keputusan berarti memiliki resiko. Keputusan berarti ada sesuatu yang harus dipertanggung  jawabkan. Keputusan berarti ada sesuatu yang harus dikerjakan.  Ada banyak orang yang menganggab bahwa menjadi Kristen adalah pilihan. Daripada tidak memiliki agama, ya pilih aja agama Kristen. Sehingga dia memang tidak memiliki  rasa tanggungjawab sebagai seorang Kristen. Tidak merasa terbeban jika tidak melakukan sesuatu bagi Kristus. Tidak merasa kurang jika tidak pergi beribadah ke gereja, partangiangan wyek, kegiatan gerejawi lainnya yang diselenggarakan oleh gereja. Karena Kristen sebagai pilihan, maka lebih baik dia duduk-duduk di kedai (lapo) daripada ke gereja dan partangiangan, lebih suka membahas politik daripada Firman Tuhan.
Jika mengikut Kristus merupakan pilihan, maka kita akan sulit mengenal dan mengetahui bagaimana kebaikan Tuhan itu bagi hidup kita. Kebaikan Tuhan itu akan kita rasakan jika kita memutuskan mengikut Kristus. Tidak mungkin kita mengatakan seorang Bupati itu baik, jika kita tidak pernah bersamanya, mengikuti dia makan di restoran, atau mengikuti Bupati dalam pertemuan masyarakat. Orang akan lebih mudah mengatakan kebaikan seorang Bupati jika dia telah pernah bersama dan mengikuti Bupati itu. Demikianlah kita, kebaikan Kristus itu kita rasakan jika kita putuskan untuk bersama Kristus, mengikut Kristus dalam perjalanan hidup kita masing-masing.
 
Hal yang kedua di dalam renungan ini adalah bahwa Abraham mengabadikan tempat mereka bersumpah atau berjanji itu dengan menanam pohon tamariska di Bersyeba dan memanggil Nama Tuhan di sana. Abraham mendirikan sebuah tanda atas kebaikan Tuhan yang telah diterima oleh umat Israel. Dengan Nama Allah yang Kekal. Boleh kita samakan ini semacam tugu yang monumental bagi Abraham sebagai bukti nyata kebaikan Tuhan yang dia rasakan dan terima. Allah memelihara dengan memberi tanah dan mengasihi dia yang tidak menghukum pelanggarannya. Memang di dalam Perjanjian Lama tentang perbuatan Allah itu sering diabadikan dengan: Eben Haeser (Sampai sekarang Allah menolong kita). Bethel tempat Yakub bermimpi dengan membuat batu dan di sana kemudian di bangun Bait Allah. Demikian juga kehidupan kita banyak sekali hal-hal yang kita terima dan rasakan kebaikan Allah dan pemeliharaa-Nya. Ini bukan berarti supaya kita mendirikan tugu yang secara phisik dan material, tetapi mungkin banyak cara kita untuk mengabadikan sesuatu yang kita terima dari Tuhan seperti mengabadikan di dalam diri anak-anak melalui nama, sehingga setiap kita memanggil nama anak kita diingatkan akan perbuatan Allah di dalam diri kita. Misalnya, si Dame (damai), dengan memanggil nama Dame, kita mengingat bahwa kita harus melakukan kedamaian bagi sesama manusia. Asal jangan terjadi sebaliknya, namanya si Dame, tetapi perilakunya selalu membawa persoalan, membawa kekacauan. Setiap datang si Dame, selalu ada yang akan terjadi. Karena itu abadikanlah dan meteraikanlah perbuatan Tuhan di dalam hidupmu, sehingga menimbulkan kerinduan yang hangat akan kehadiran Tuhan di dalam hidup kita ini. Amin.
 
 
 
 
 
Pdt Armada Sitorus, M.Th.
Praeses HKBP Distrik Toba Hasundutan

Senin, 26 Juli 2010

Bacaan Minggu 13 Setelah Trinitatis, 29 Agustus 2010: Roma 13:8-10

SIKAP KASIH
Roma 13:8-10
Minggu 13 Setelah Trinitatis, 29 Agustus  2010


Sebenarnya pasal 13:6-8 merupakan peralihan dari tema “takluk kepada pemerintah” ke tema “kasih”. Taat kepada pemerintah dan membayar pajak merupakan kewajiban yang dapat diselesaikan, sedangkan kasih merupakan kewajiban yang tak ada habis-habisnya.
“Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat” (Ay. 8). Ada dua kemungkinan untuk menerjemahkan ayat ini: 1) “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga...” atau 2) “Janganlah kamu juga membiarkan kewajiban yang tidak diselesaikan terhadap siapa pun juga...” Menurut Cranfield, ayat ini mengulangi apa yang dikatakan dalam pasal 13:7, yaitu bahwa kita harus membereskan segala kewajiban kita, dan tidak membiarkan utang yang sudah harus dilunasi. Menurutnya, ayat ini tidak melarang pinjam-meminjam, tetapi setiap utang harus dilunasi tepat sesuai dengan perjanjian. Menurut Dunn, kalimat ini disusun dengan sengaja seperti itu supaya dua arti tersebut muncul.
“...tetapi hendaklah kamu saling mengasihi”. Masalah pinjam-meminjam kurang jelas dalam ayat ini, tetapi satu hal sungguh jelas, yaitu bahwa kita yang telah ditebus oleh Yesus Kristus berutang besar kepada-Nya. Denan mengasihi, kita mulai melunasi utang tersebut yang sebenarnya bersifat kekal. Kasih merupakan kewajiban atau utang yang tidak dapat dilunasi karena selalu ada kesempatan-kesempatan baru untuk mengasihi orang lain.
Dalam pasal 8:12 Paulus berkata, “...kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging,” tetapidalam pasal itu ia tidak menjelaskan ia tidak menjelaskan kepada siapa kita berutang. Hal ini dilengkapi dalam pasal 13:8 di mana kita mengerti bahwa kita berutang kepada Tuhan, dan kepada sesama kita.
“Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat”. Jika pada suatu saat kita mengasihi orang, maka pada saat itu kita memenuhi perintah hukum Taurat  yang berkaitan dengan situasi itu.
“Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (Ayat 9). Ayat ini membuktikan bahwa “barangsiapa mengasihi sesama manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat”. Ayat ini, dari Imamat 19:18, dikutip beberapa kali dalam Perjanjian Baru.
Rabi Hillel, seorang tokoh agama Yahudi yang terkemuka, pernah berkata, “Apa yang kaubenci janganlah kaulakukan kepada sesamamu manusia; demikianlah seluruh hukum Taurat; sisanya hanya komentar, pergi dan pelajari!” Bagi rabi Hillel, tekanannya adapada “pergi dan pelajari”, sedangkan Rasul Paulus secara tidak langsung berkata, “Pergi dan lakukan!” Rupanya Paulus merasa puas, jikalau kita sungguh mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, sedangkan rabi Hillel lebih menekankan supaya hukum Taurat dipelajari.
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Beberapa tokoh sejarah gereja mengatakan bahwa kita harus mengasihi diri kita sendiri sebelum kita dapat mengasihi orang lain. Ajaran tersebut juga dipakai dalam psikologi Kristen pada jaman ini. Sesungguhnya ajaran tersebut tidak sesuai dengan firman Allah, dan tidak berasal dari ayat ini. Dalam firman Allah kita diperintahkan untuk mengasihi Allah dan juga mengasihi sesama kita manusia, tetapi sama sekali tidak ada perintah supaya kita mengasihi diri kita sendiri. Mengasihi diri sendiri adalah dosa. Mengasihi Allah dan sesama manusia adalah kehendak Allah.
Ayat ini berkata, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” bukan merupakan kekecualian. Dalam ayat ini kita diperintahkan untuk mengasihi orang lain, bukan diri kita sendiri. Manusia tidak perlu diperintahkan untuk mengasihi dirinya sendiri karena manusia yang berdosa sudah cukup pandai dalam mengasihi dirinya sendiri. Tidak ada orang yang harus dilatih untuk mengutamakan kepentingannya sendiri. Dengan kasih yang kuat seperti itu kamu harus mengasihi sesamamu manusia!
Luther berkata, “Saya percaya bahwa dengan perintah ‘seperti dirimu sendiri’ manusia tidak diperintahkan untuk mengasihi dirinya sendiri, tetapi kasih jahat yang dimilikinya dinyatakan kepadanya. Dengan kata lain, firman ini berkata kepadanya: Secara utuh Anda terarah kepada diri Anda sendiri, dan Anda penuh dengan kasih pada diri sendiri. Anda tidak dapat hidup secara benar, kecuali berhenti mengasihi diri sendiri dan dengan melupakan diri sendiri, Anda mengasihi sesama manusia.”
“Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat”. Dalam ayat ini pernyataan dalam pasal 13:9, di mana kita harus mengasihi, diulangi secara negatif. Karena dalam ayat ini dikatakan bahwa kita tidak berbuat jahat. Di bawah Hukum Taurat masyarakat diatur supaya tidak ada yang menyakiti atau menysahkan orang lain; dengan kata lain, supaya sesama manusia dikasihi. Utang yang pembayarannya ditunda-tunda merupakan salah satu kelakuan yang menyusahkan orang. Maka sesuai dengan hukum Taurat, dan sesuai dengan kehendak Allah, kita harus memberikan “kepada semua orang apa yang wajib.”
“Kasih adalah kegenapan hukum Taurat” Tujuan hukum Taurat adalah kebenaran, tetapi hukum Taurat tidak dapat mencapai tujuan itu. Sama seperti Kristus adalah tujuan hukum Taurat (bnd. 10:4), demikian juga kasih (yang dicapai dalam Kristus) adalah kegenapan hukum Taurat.
Apa yang mau disuarakan teks ini kepada kita? Pertama, kita jangan menolak tanggung jawab. Kekristenan jangan menolak tanggungjawab kita kepada siapapun baik itu kepada pemerintah terlebih kepada sesama manusia. Artinya, dari setiap orang dituntut pertanggung jawaban hidup. Apa yang telah dilakukannya kepada pemerintah dan kepada sesama nantinya semuanya itu dituntut dari kita. Karenanya, kita diajar untuk hidup lebih baik agar ketika kita diminta pertangunggjawaban, maka laporan kita baik kepada Tuhan.
Kedua, kita terus memiliki hutang kasih kepada sesama manusia. Hutang kasih ini harus kita bayar setiap hari kepada sesama manusia. Origenes berkata, “Hutang kasih tetap ada pada kita selamanya dan tidak pernah meninggalkan kita; inilah hutang yang kita semua laksanakan setiap hari dan selamanya berhutang.” Keyakinan Paulus ialah jika orang dengan jujur berusaha untuk menyelesaikan hutang kasih ini, ia akan dengan sendirinya memeliharakan semua hukum Allah. Ia tidak akan melakukan perzinahan, jika dua orang memperbolehkan nafsu jasmaninya menguasai mereka, sebenarnya, mereka tidak saling mengasihi, tetapi oleh karena kasih di antara mereka terlalu kecil: dalam kasih yang sejati, sekaligus ada hormat dan pengekangan nafsu yang mencegah kelakuan berdosa.
Ketiga, kasih tidak membinasakan. Karena kasih Kristus ada sama kita, maka tidak pernah sedetik pun kita berusaha menyakiti orang lain dan atau membinasakan mereka. Manusia tidak akan membunuh, karena kasih tidak pernah berusaha untuk membinasakan, bahkan kasih itu akan selalu membangun; kasih itu selalu baik hati.


Ramli SN Harahap

Bacaan Minggu 12 Setelah Trinitatis, 22 Agustus 2010: Kejadian 33:1-11

BERDAMAI KEMBALI DENGAN ESAU
                                                         Kejadian 33:1-11                                                                          


Untuk memahami teks ini secara utuh kita harus membacanya mulai dari pasal 32:1-33:20. Sementara Yakub melalukan perjalanan ke arah selatan, ia bertemu dengan “malaikat-malaikat Allah” (32:1). Ketika melihat mereka barangkali hati Yakub mendapat keberanian dan tentu pemandangan itu mengingatkan dia akan penglihatannya di Betel (28:11-15). Ia menamai tempat itu Mahanaim, yang artinya “dua perkemahan”, yang telah ditafsirkan sebagai dua kelompok malaikat atau sebuah perkemaham lain yang cocok dengan perkemahannya.
Setelah perpisahan selama bertahun-tahun oleh karena kebencian Esau yang sengit, Yakub berusaha untuk berdamai kembali dengan kakaknya. Yakub mengutus hamba-hambanya kepada Esau dengan salam yang rendah hati dan berbagai pemberian. Akan tetapi, Esau sudah dalam perjalanan untuk menemui Yakub, dan ia disertai empat ratus orang. Ketika Yakub mendengar hal ini, ia merasa sangat ketakutan. Cepat-cepat ia membagi seluruh kawanan ternak dan segala miliknya menjadi dua kelompok dengan maksud agar setidak-tidaknya satu kelompok bisa luput dari serangan, dan ia berdoa kepada Allahnya.
Doa Yakub ini membuktikan kerendahan hatinya yang tulus. Ia memohon kepada Allah supaya dilindungi dari Esau agar janji-janji perjanjian Tuhan dapat dipenuhi (28:11,22). Sekalipun Yakub percaya kepada Tuhan untuk memperoleh perlindungan, ia mengambil langkah selanjutnya untuk berdamai kembali dengan Esau. Sebagai suatu persembahan baginya Yakub memilih lebih dari lima ratus ekor domba dan ternak.
Ketika Yakub merenungkan pertemuannya dengan Esau, ia manjadi sangat prihatin dan cemas. Ia tinggal seorang diri dan melewatkan beberapa waktu sendirian saja. Keadaan ini akhirnya menimbulkan salah satu pengalaman yang paling luar biasa dalam hidupnya.
Sementara ia seorang diri, Yakub bergulat dengan seorang laki-laki sampai fajar menyingsing. Yakub memperingati pengalamannya itu dengan memberi nama khusus bagi tempat itu dengan nama Pniel karena “Aku telah melihat Allah berhadapan muka” (28:30).
Situasi itu menarik dan tegang. Pada waktu Esau dan Yakub saling mendekati, Yakub mengatur barisan keluarganya sedemikian rupa sehingga hamba-hamba perempuan beserta anak-anak mereka berada di muka, lalu Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali (33:1-2). Yakub menyambut Esau dengan bersujud sampai ke tanah tujuh kali (3), mengingatkan pada rasa hormat orang timur yang tercermin dalam Lempengan-lempengan Amarna. Pertemuan itu sama sekali tidak menunjukkan sikap gemar berperang, melainkan memperlihatkan sikap hangat dan akrab (4-7). Sebenarnya Esau agak terkejut karena pemberian yang banyak sekali dari Yakub; pada awalnya ia menolak tetapi akhirnya menerima pemberian itu (8-11). Keduanya sepakat untuk berpisah dengan damai, Esau ke pegunungan Seir (14) dan Yakub ke daerah sekitar Sikhem (17-20).
Jika kita rinci teks ini, maka kita akan membagi teks ini dalam dua bagian: 1) Yakub bertemu dengan Esau (33:1-7); dan 2) Yakub memberi hadiah kepada Esau (33:8-11).

1)    Yakub bertemu dengan Esau (33:1-7)

Yakub belum lama bertemu dengan Allah di Pniel. Di situ ia menerima nama agung yaitu Israel serta jaminan keamanan dalam perjalanan kehidupannya. Meskipun demikian, ketika melihat Esau, ia diliputi ketakutan. Ketakutannya adalah ketidakpercayaannya. Hal itu terbutkti dengan kenyataan berikut: (1) Yakub membentuk urutan kelompok-kelompok keluarganya sesuai dengan urutan untuk mengurangi bahaya; (2) Yakub maju kepada Esau dengan ‘sujud menyembah sampai ke tanah tujuh kali’. Sikap Yakub seperti ini lebih tepat disebut tindakan yang sangat pengecut dari sikap menghormati kakaknya. Jika dibandingkan dengan sikap Esau yang tidak begitu takut akan Allah, perbuatannya seperti memalukan. Malahan Esau menghadapi adik dan keluarganya dengan sikap yang terus terang (4-7). Esau berlari mendapatkan Yakub dan memeluk lehernya dan menciumnya serta memberi perhatian kepada keluarga Yakub.

2)    Yakub memberi hadiah kepada Esau (33:8-11)

Pemberian hadiah kepada Esau bukanlah suatu kesalahan Yakub. “Memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah”, perkataan Yakub ini bukan suatu penjilatan tetapi ungkapan atas pekerjaan Allah yang dinyatakan melalui Esau, kakaknya. Yakub pernah melihat wajah Allah, yaitu dalam peristiwa yang dialaminya di Pniel. Pada saat ini, Allah menyelamatkan Yakub dari tangan Esau seperti yang telah Ia janjikan kepadanya. Ketika bertemu dengan Esau, Yakub merasa bertemu dengan Allah yang telah bertemu dengannya di Pniel, oleh karena Allah bekerja melalui sifat Esau.

Apa yang mau disuarakan teks ini bagi kita? Pertama, usahakanlah berdamai walau ada banyak tantangan. Perseteruan Yakub dengan Esau sudah menjadi peristiwa yang sungguh memedihkan hati Esau. Yakub dipihak yang merasa bersalah jauh lebih kuatir dan ketakutan untuk bertemu dengan Esau. Karena Yakub yang memulai persoalan dengan Esau maka dialah yang mencoba membuat usaha perdamaian itu dengan Esau. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita saat ini. Jika kita merasakan bahwa kitalah yang membuat suatu persoalan dengan orang lain, maka sekarang usahakanlah agar dirimu kembali berdamai dengan dia yang engkau sakiti. Memang harus kita akui ada banyak tantangan yang dihadapi Yakub ketika mau berdamai itu. Hal itu menjadi tantangan bagi kita bukan menjadi penghalang bagi kita untuk tetap berdamai. Apapun yang terjadi usahakanlah agar kita bisa berdamai dengan yang kita sakiti yang kita benci selama ini.
Kedua, terimalah dengan baik ungkapan perdamaian orang lain. Ketika Yakub memberikan ungkapan perdamaian kepada Esau, Esau menolak ungkapan tersebut. Namun, akhirnya Esau menerima pemberian tersebut. Hal ini bukan berarti setiap perdamaian harus disimbolkan dengan pemberian sesuatu kepada yang kita sakiti. Bukan. Tetapi jika ada sesuatu yang diberikan karena rasa syukurnya atas perdamaian itu, terimalah dengan hati yang senang. Banyak hal mungkin yang tidak bisa kita ungkapkan dengan pemberian sesuatu. Dengan terjadinya perdamaian itu sebenarnya sudah menjadi kado atau pemberian yang cukup berharga yang harus kita terima.
Ketiga, hentikan segala permusuhan. Idealnya memang sebagai umat percaya, kita harus menghindari segala bentuk kekerasan dan permusuhan. Apalagi jika kita pakai kekerasan atau kelicikan demi mendapatkan kesenangan pribadi, itu perbuatan yang sungguh tidak terpuji. Walaupun dalam kisah ini Yakub memakai cara yang salah untuk mendapatkan berkat dari Tuhan, hal ini bukan berarti harus kita contoh dalam jaman ini. Kisah ini mau menyuarakan bahwa apa yang dikerjakan Yakub yang tidak benar di hadapan Tuhan harus tetap dipertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan. Konsekuensinya ialah Yakub harus merubah jati dirinya, dan bahkan namanya pun berubah menjadi Israel. Artinya, marilah kita berusaha dalam hidup ini menjauhkan diri dari hal-hal yang membuat orang lain sakit hati, membuat orang kurang enak sama kita, membuat orang lain jengkel terhadap kita. Tetapi marilah kita berbuat yang terbaik bagi sesama manusia, sebab Tuhan telah berbuat baik bagi kita (bnd. Mzm. 145:9a).





Ramli SN Harahap

Bacaan Minggu 11 Setelah Trinitatis, 15 Agustus 2010: 1Petrus 3:8-12

TIGA KARAKTER YANG
MEMBUAT DUNIA MAKIN BAIK
1Petrus 3:8-12
Minggu 11 Setelah Trinitatis, 15 Agustus  2010 




Di tengah dunia yang sangat diwarnai oleh kekerasan, agaknya ucapan Mahatma Gandhi sangat perlu untuk didengarkan kembali. Ia berkata, ”Mata ganti mata, maka seluruh dunia akan menjadi buta.” Di dalam setiap agama agaknya terdapat benturan yang hebat antara dua cara berpikir. Yang pertama adalah cara berpikir yang berporos pada keadilan yang mempergunakan hukum balas-dendam. Dalam cara berpikir ini, sesuatu disebut adil jika apa yang diterima seseorang diterima juga oleh orang lain dengan bobot yang sama. Jika seseorang berbuat jahat pada kita, maka kita berhak membalas orang itu dengan perlakuan yang sama. Jika perlu lebih kejam. Bahkan akibat cara berpikir yang pertama ini maka banyak manusia yang memberlakukan huku rimbah dalam hidupnya. Siapa yang lebih kuat maka dialah yang menang. Pokoknya keadilankulah yang paling adil di luar itu tidak ada keadilan lain. Makanya manusia cenderung untuk berkelahi karena cara berpikir yang pertama ini lebih menonjol dalam kehidupannya.
Cara berpikir yang kedua dilandasi sebuah semangat perdamaian yang menghargai kehidupan bersama sebagai tujuan yang mulia. Dalam Alkitab, akhirnya, kita membaca bahwa cara berpikir yang kedualah yang menang. Di dalam Yesus kita menyaksikan bahwa sikap mengalah tak sama dengan kalah; bahwa membalas kejahatan dengan kebaikan merupakan keluhuran yang mampu membuat kehidupan masih punya arti untuk dijalani secara serius; bahwa memberkati si pengutuk merupakan panggilan hidup setiap orang percaya. Cara berpikir inilah yang menjadi kehidupan orang percaya yang mengaku pengikut Kristus. Kita harus menunjukkan semangat perdamaian yang menghargai kehidupan bersama sehingga orang lain merasa sama dengan kita. Tujuan kita adalah sama-sama memuliakan Tuhan dalam segala profesi yang kita miliki. Walaupun ada perbedaan, tetapi bukan untuk mencerai-beraikan kita namun semakin melihat karya Tuhan dalam kepelbagaian itu.
   Teks kita (1 Petrus  3:8-12) mewartakan semangat hidup yang sama. Dalam pasal ini memberikan serangkaian nasihat praktis yang patut dikerjakan oleh semua orang percaya dalam hidup mereka. Serentetan nasihat praktis tersebut dapat dikelompokkan menjadi bagian penting, yang semuanya menjadi tanda bagi karakter ”orang-orang benar” (ay. 12). Setidaknya ada tiga karakter orang Kristen di dunia ini, yakni:
  
1.     Karakter yang pertama terkait dengan sikap hidup di dalam persekutuan yang terus-menerus mengusahakan kesatuan (ay. 8).
Di tengah dunia di mana perpecahan menjadi cara pintas untuk mengatasi perbedaan dan keberagaman, orang Kristen diundang untuk sungguh-sungguh mengusahakan kesatuan hati di dalam persekutuan cinta-kasih. 
2.     Karakter kedua muncul lewat kesediaan untuk memutuskan lingkaran balas dendam melalui pengampunan (ay. 9a).
Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan,” kata penulis surat ini. Kejahatan tak akan pernah selesai jika dibalas dengan kejahatan, selain bahwa ia akan makin menguat dan membelenggu kedua belah pihak. Hanya pengampunan yang mampu mengatasi kejahatan. Yang menarik, penulis mengusulkan cara untuk mengatasi lingkaran balas dendam itu, yaitu melalui kesediaan untuk memberkati (ay. 9b). Dan, pada saat kita membalas kejahatan dengan berkat, kita pun akan mendapat berkat (ay. 9c). 
3.     Karakter ketiga lebih bersifat personal, yaitu kesediaan kita untuk mengendalikan ucapan kita terhadap sesama (ay. 10).
Tidak jarang pertikaian, kebencian dan permusuhan muncul karena ketidakmampuan seseorang mengendalikan mulutnya. Ucapan seseorang lantas mengiris hati sesamanya atau menyelewengkan fakta menjadi gosip.
  
Ketiga karakter utama di atas tentu saja tidak akan membuat dunia bebas dari masalah, bahkan tak juga membuat gereja kita bebas dari problem. Namun, ketiganya, jika sungguh-sungguh diupayakan, akan membawa perubahan yang tak kecil bagi kehidupan kita di dalam gereja maupun masyarakat.
   Lebih dari itu, ketiga karakter tersebut memiliki dua sisi yang sama pentingnya: menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik. Keduanya perlu seimbang dan saling menopang. Kesediaan menjauhi kejahatan tanpa usaha melakukan yang baik hanya muncul dari orang-orang Kristen yang lari dari persoalan. Sejauh ia tak berbuat salah—sekalipun tak perlu juga melakukan kebaikan pada sesama—maka itu sudah cukup. Sebaliknya, kesediaan untuk melakukan kebaikan tanpa usaha menjauhi kejahatan hanya akan mengaburkan batas antara kebaikan dan kejahatan. Bukankah tindakan-tindakan yang tampak baik bisa menjadi manifestasi dari kejahatan yang luar biasa? Maka, keduanya perlu seimbang dan saling mendukung: jauhi kejahatan dan usahakan kebaikan.
   Komitmen untuk mengusahakan semua ini tentu saja bakal berbenturan dengan realitas sesehari yang jauh dari impian hidup bersama yang lebih baik. Tak jarang kita frustasi dan kecewa menyaksikan kepahitan hidup, sekalipun kita sudah berusaha untuk menaati kehendak Allah ini. Karena itu, percayalah, Saudara-saudara, bahwa seluruh nasihat yang kita baca hari ini tidak sekedar mengajar kita untuk menjadi seorang-orang yang berbudi dan bermoral baik. Lebih dari itu, semua kebaikan itu kita perjuangkan karena keyakinan bahwa Allah hidup, aktif bekerja dan memihak pada “orang-orang benar” dan mereka yang berusaha berjuang untuk hidup lebih baik sekalipun harus menderita dan “minta tolong” pada-Nya (ay. 12).




Pdt. Dr. Joas Adiprasetya
Puket I STT Jakarta

Bacaan Minggu 10 Setelah Trinitatis, 8 Agustus 2010 : Yeremia 23:1-8

SEBUAH JANJI BAGI UMAT YANG TERCERAI-BERAI
Yeremia 23:1-8 
Minggu 10 Setelah Trinitatis, 8 Agustus 2010



Salah satu akibat buruk dari gerakan Reformasi, di samping tentu akibat-akibat lain yang patut disyukuri, adalah kecenderungan yang kuat untuk bertikai dan menjadikan perpecahan sebagai jalan pintas untuk mengatasi pertikaian tersebut. Ketika seorang pemimpinan bersitegang dengan pemimpin lainnya, masing-masing berusaha mencari dukungan umat. Maka, umat yang tadinya tak tahu-menahu soal perseteruan para pemimpin mereka akhirnya terpengaruh dan ikut-ikutan memihak dan mengelompok. Maka, perpecahan pun sukar untuk dihindari. Perpecahan menjadi solusi bagi mereka. Berpisah lebih baik daripa tetap bersama dengan musuh. Sehingga dewasa ini semakin banyak berjamur gereja-gereja baru yang tumbuh di mana-mana di bumi persada nusantara ini. Akibat buruk ini sangat merugikan orang Kristen itu sendiri. Sesama penganut iman yang sama, tetapi saling bermusuhan.
Selain itu, umat juga bisa tercerai-berai dengan mudah karena para pemimpin gereja yang tak mampu menjadi teladan. Mereka kecewa dengan para gembala yang ternyata menampilkan sebuah pola hidup yang berkebalikan dengan apa yang mereka ucapkan sendiri. Maka, terjadilah krisis kepemimpinan. Dan, sekali lagi, umatlah yang menjadi korban. Pemimpin tidak lagi menjadi teladan umat gembalaannya. Pemimpin sibuk memikirkan jabatan organisasi gereja saja, dan mengabaikan jemaat gembalaannya. Yang diutamakan tugas-tugas organisasi melulu bukan tugas pelayanan umat. Umat bukan skala prioritas utama. Sehingga tidak jarang warga jemaat banyak yang merasa tidak simpatik dengan pemimpin rohaninya. Inilah juga akibat lain dari gerakan reformasi itu.
Kedua isu di atas hanyalah sedikit dari banyak contoh bagaimana umat bisa tercerai-berai karena para gembala yang gagal menjalankan fungsi penggembalaannya dengan baik. Mereka gagal meneladani Sang Gembala Agung, yaitu Yesus Kristus. Mereka gagal menjadikan Yesus tiruan dan Guru Agung. Sehingga banyak gembala saat ini belajar kepada gembal dunia yang sukses. Ketika dia melihat pendeta A berhasil dan terkenal, maka dia belajar kepada pendeta A tersebut agar dia bisa minimal menyamai ketenaran pendeta A itu. Manusia meneladani manusia biasa. Pada hal seharusnya seorang gembala itu harus meneladani dan belajar kepada Sang Guru Agung itu yakni Yesus Kristus.
Bacaan kita pagi ini juga berbicara tentang masalah yang kurang-lebih sama. Tidak terlalu jelas kesalahan apa yang dilakukan oleh para pemimpin Israel yang disebut sebagai ”para gembala” itu. Yang pasti, akibat kesalahan mereka, domba gembalaan yang sesungguhnya menjadi milik Allah itu tercerai-berai. Tak ada lagi kesatuan umat yang ditandai oleh cinta kasih, penghargaan dan persekutuan. Itulah makanya Allah berfirman, "Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!" Allah marah kepada para gembala yang tidak memperhatikan gembalaannya. Allah murka kepada para gembala yang hanya mengambil keuntungan pribadi dari para dombanya.
Akan tetapi, berita baik yang hendak disampaikan oleh teks kita adalah bahwa Allah tidak tinggal diam. Ia prihatin dengan umat-Nya yang tercerai-berai akibat kesalahan para gembala yang tadinya sangat dipercayai-Nya. Yang menjadi perhatian Allah pertama-tama adalah umat-Nya, bukan para pemimpin agama. Karena itu, ketika umat Allah tercerai-berai, Allah mengambil sikap yang sangat tegas. Sikap ini tentu menakutkan bagi para pemimpin agama, namun sekaligus menggembirakan bagi umat Allah. Dan Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri ke mana Aku mencerai-beraikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka: mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak. Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekor pun, demikianlah firman TUHAN.
Dari teks ini kita dapat melihat bahwa setidaknya ada tiga tindakan ilahi yang Allah lakukan kepada umat yang tercerai-berai itu:

Pertama, Ia mencela habis-habisan para pemimpin agama yang ”membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!” (ay. 1) dan “tidak menjaganya” (ay. 2).

Allah akan menghukum para pemimpin yang teledor dalam menjalankan tugas mereka sebagai seorang pemimpin. Dalam konteks kehidupan bergereja kita, para pemimpin itu bisa jadi adalah pendeta, sintua, atau pemimpin lainnya. Jika para pemimpin agama ini terus-menerus membiarkan warga jemaatnya disesah dan terserak oleh persoalan dunia yang tidak digembalakan para gembalanya, maka Tuhan akan marah kepada pemimpin agama ini. Mereka harus sungguh-sungguh sadar bahwa ketika mereka gagal menjalankan tugas yang Allah percayakan dan malah membuat umat Allah tercerai-berai, mereka akan berurusan dengan Allah sendiri. Agaknya, hal pertama ini dapat menjadi sebuah batu-uji bagi kepemimpinan kristiani. Seorang pemimpin Kristen yang baik selalu menjaga keutuhan gereja.

Kedua, Allah akan mengumpulkan kembali domba-doma yang tercerai-berai itu (ay. 3).

Bahkan, di ayat yang sama, Allah berjanji bahwa “mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak.” Maka, khotbah ini sesungguhnya ditujukan bukan hanya kepada para pemimpin gereja, namun juga kepada semua anggota jemaat. Percayalah, bahwa Allah sungguh memperhatikan nasib umat-Nya. Ia akan memulihkan jemaat-Nya yang tercerai-berai dan mengasuh mereka, agar mereka dapat terus bertumbuh dan berkembang. Jika pemimpin agama tidak mau lagi memperhatikan umat Tuhan, maka Tuhan akan turun tangan menggembalakan umat-Nya agar umat-Nya itu tidak dimangsa para pengajar sesat di dunia ini.

Ketiga, Allah juga berjanji untuk memberikan kepada umat-Nya para gembala baru yang setia dan bertanggung jawab (ay. 4).

Gereja kita mungkin pernah terluka karena keterpecahan yang menyedihkan hati Allah dan hati kita. Karena itu, doakanlah para pemimpin Anda yang ada sekarang, agar dapat menjadi pemimpin yang baik dan bertanggung jawab dalam menjaga keutuhan gereja Tuhan. Doakanlah terus agar setiap pendeta, sintua, dan majelis menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan dalam menjalankan tugas pelayanannya.
Yang menarik, janji Allah untuk menghimpun kembali umat-Nya dipandang setara dengan tindakan Allah dalam membebaskan bangsa Israel dari tanah Mesir (ay. 7-8). Usaha menyatukan gereja Tuhan, dengan demikian, merupakan sebuah proses pembebasan, karena keterpecahan tak ubahnya dengan pembelengguan dan penindasan. Kemanusiaan kita terpecah ketika kita berseteru dengan sesama kita. Sebaliknya, kita menjadi manusia sejati dan merdeka tatkala kita bersekutu dengan saudara-saudara seiman kita.
Karena itu, Saudara-saudara, usahakanlah selalu persaudaraan di dalam jemaat ini. Segala sesuatu yang mengakibatkan pertikaian dan perpecahan sudah pasti bukan berasal dari Allah, karena jika Allah berkarya, maka apapun yang dikerjakan Allah selalu mempersatukan.




Pdt. Dr. Joas Adiprasetya
Puket I STT Jakarta

Bacaan Minggu 9 Setelah Trinitatis, 1 Agustus 2010: Keluaran 23:6-9

TUHAN: PEJUANG DAN PENCINTA KEMERDEKAAN
Keluaran 23:6-9
Minggu 9 Setelah Trinitatis, 1 Agustus 2010 


Perintah TUHAN: Berpihak Pada Kebenaran.

Firman TUHAN dari Keluaran 23:6-9 menyapa kita pada hari ini. Firman TUHAN ini berisi: Larangan memperkosa hak orang miskin. Orang miskin sering menjadi korban kekuasaan dan korban kebijakan. Dalam masyarakat yang tidak sehat, orang miskin tidak berdaya membela haknya. Karena hukum sering dikangkangi, uang lebih memainkan peranan, maka orang atau yang lebih miskin menjadi korban. Siapa yang lebih kuat, finansial dan kuasa, dia yang menang.

Menjauhi diri dari perkara dusta. Akibat dari kekuatan financial dan kuasa, maka dusta merajalela ditempat penegakan keadilan.
Larangan membunuh orang tak bersalah dan orang benar. Akibatnya orang yang tak bersalah, atau orang benar menjadi korban. Pembunuhan orang benar dan kebenaran terjadi mulai dari tingkat terendah hingga hukuman mati.

Larangan menerima suap. Di belakang peristiwa atau proses peradilan, terjadi suap yang membuat penegak keadilan silau dan akhirnya memutarbalikkan kebenaran fakta.
Larangan menekan atau menindas orang asing. Keempat hal pertama dapat kita lihat dari perspektif hukum atau keadilan, karena memang konteks perintah yang disampaikan TUHAN sifatnya umum. Sedangkan yang terakhir sifatnya khusus, terhadap orang asing, umat dilarang menindas karena. Umat bisa dengan cepat memahami arti perintah TUHAN yang ke lima ini karena umat sudah pernah mengalami penindasan dalam bentuk perbudakan di Mesir.

Dengan demikian firman TUHAN berisi perintah kepada umat untuk berpihak kepada kebenaran. Perintah ini juga berlaku bagi kita. Berpihak pada kebenaran adalah ciri khas orang yang benar. Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, orang yang percaya sering disebut sebagai orang benar. Mereka adalah orang yang berpihak kepada kebenaran, membela kebenaran dan menjunjung tinggi kebenaran. Dengan demikian, perintah yang berisi larangan melakukan yang tidak benar, atau kejahatan, sama artinya dengan anjuran untuk menjunjung tinggi kebenaran. Itu tidak berlaku hanya untuk umat Allah dalam Perjanjian Lama, tetapi juga untuk. bagaimana perintah tersebut berlaku bagi kita? Kita adalah orang yang percaya kepada Allah di dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus datang bukan untuk meniadakan taurat dan kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya (Mateus 5:17). “Menggenapinya” berarti melaksanakannya sehingga tuntutannya tetap diberlakukan secara penuh sepanjang masa. Percaya kepada Yesus berarti turut serta memberlakukan tuntutan taurat dan kitab para nabi. Jadi, firman TUHAN juga mengajak kita untuk berpihak kepada kebenaran.

Perintah TUHAN: Petunjuk Kehidupan

Kepada siapa perintah ini ditujukan? Tadi kita bertanya dan belum terjawab secara tuntas. Perintah tersebut ditujukan kepada umat Tuhan. Kalau bukan, siapa lagi? Mari kita perhatikan ayat 9. Orang asing di tanah Mesir dalam Perjanjian Lama itu pasti mengacu kepada umat Allah, Israel. Mereka adalah keturunan Abraham, Ishak dan Yakub. Yakub kemudian disebut Israel. Keturunan Yakub menjadi besar di Israel. Mereka hidup dalam perbudakan. Kita dapat membayangkan betapa berat kehidupan umat, sebagai orang asing, yang diperbudak.
Sadar betapa berat kehidupan umat, baik secara religious, menyangkut kebebasan beribadah, maupun secara politis, diperbudak dan menjadi warga kelas rendah. Bagi umat itu sesuatu yang sangat menyakitkan. Kita bisa rasakan itu sedikit-sedikit. Memang, sedikit-sedikit. Karena menurut para ahli, dalam sejarah dunia, tidak ada yang lebih berat dari perbudakan di Mesir. Apakah itu betul? Yang jelas sangat berat! Tidak seberat di Indonesia.

Sangat berat, tetapi bukan akhir dari segala-galanya. Firman Tuhan ini merupakan bagian dari serangkaian firman yang panjang, dimulai dengan pernyataan: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (Keluaran 20:2). Setelah pernyataan ini, barulah TUHAN menyampaikan sepuluh perintah TUHAN dan dilanjutkan dengan serangkaian perintah, seperti yang kita dengar hari ini.

Apa artinya pernyataan itu bagi kita? Artinya, perintah TUHAN diberikan setelah TUHAN membebaskan umat dari perbudakan di Mesir. Dia bukan TUHAN yang sadis, memberi perintah yang berat dalam situasi hidup yang sangat berat, di perbudakan. Dia adalah TUHAN yang penuh anugerah. Dia tahu persis pergumulan umatNya. Dia mendengar seruan umatNya minta tolong. Dia ahli dalam berempati dan solidaritas. Dia membebaskan umatNya. Bagi TUHAN dan bagi umatNya, penderitaan yang sangat berat di Mesir bukan akhir dari segala-galaNya, karena Dialah TUHAN, Allah Israel!
Kita sekarang bisa mengerti. Setelah membebaskan umat, TUHAN memberi perintah. Perintah yang bisa dilaksanakan. Perintah yang berisi petunjuk kehidupan, yaitu petunjuk kehidupan bagi orang yang sudah dimerdekakan. Petunjuk untuk apa? Tidak lain dan tidak bukan: Petunjuk untuk hidup sebagai orang-orang merdeka! Perintah TUHAN memang kalau tidak dilaksanakan, maka akan menuding kita bersalah! Berbuat jahat! Kalau umat melaksanakannya, bukan agar mereka menjadi orang merdeka. Tetapi agar mereka hidup sesuai dengan kemerdekaan yang telah diterima dan memberlakukan itu bagi orang lain. Bagi umat itu berarti, dimerdekakan untuk menghormati kemerdekaan atau memerdekakan orang lain.

Apa artinya bagi kita? Kemerdekaan dari perbudakan di Mesir sering disejajarkan dari kemerdekaan dalam Kristus. Peristiwa itu bukan sekedar masa lalu. Kalau sekedar masa lalu, untuk apa itu menjadi khotbah saat ini? Itu kita hayati juga. Seluruh teologi pembebasan dan kemerdekaan dimotivasi dan digerakkan oleh pembebasan Allah Israel dari perbudakan di Mesir. Pembebasan dari Mesir sering disejajarkan dengan pembebasan dari perhambaan dan perbudakan dosa. Allah yang megerjakan pendamaian itu di dalam Kristus (2 Korintus 5:19). Ini merupakan aktualisasi dari pembebasan yang dikerjakan Allah Israel! Sebagai orang yang sudah merdeka, kita melaksanakan perintah TUHAN dalam arti menyesuaikan cara hidup kita agar sesuai dengan keberadaan kita sebagai orang merdeka. Bukan agar kita menjadi orang merdeka! Pembebasan yang derdimensi religious dan politis, ini mengisyaratkan tugas dan pelayanan kita sebagai orang Kristen. Orang Kristen tidak lagi memahami pelayanannya murni religious, menyangkut ibadah di gereja. Pelayanannya tidak sekedar berdimensi politis, tetapi harus politis. Kehidupan umat dan masyaraklat sudah lebih banyak diatur secara politis, dan dipolitisir. Konsekuensinya, pelayanan yang aktual dan kontekstual harus politis. Khotbah juga harus politis, menyentuh kehidupan warga yang sudah dipolitisir, tanpa harus mempolitisir kehidupan warga. Kita belum terbiasa dengan khotbah seperti ini, tetapi TUHAN, Allah Israel, sudah mendemonstrasikannya.

Perintah TUHAN: Menghormati Kemerdekaan Orang Lain

Kita masih bertanya lebih spesifik, lantas apa arti firman TUHAN ini bagi kita? Perintah TUHAN merupakan petunjuk kehidupan bagiorang yang merdeka. Tujuannya, agar sebagai orang merdeka,turut memerdekakan orang lain. Dengan kata lain, kita diajak firman TUHAN untuk terlibat dalam karya agung TUHAN, Allah Israel, memerdekakan orang lain, memperluas wilayah kemerdekaan. Ciri khas orang yang merdeka adalah hak untuk hidup dan mengatur kehidupannya. Dia juga merdeka untuk menghormati kemerdekaan orang lain.
Kemerdekaan untuk hidup layak dan sejahtera di bumi, tidak diberikan oleh siapapun. Oleh karena itu tidak bisa diberangus atau dikebiri oleh siapapun atau lembaga apapun. Realita menunjukkan bahwa hak untuk hidup sejahtera di bumi sering kali tidak dimiliki. Siapa yang memberikannya? TUHAN! Bagaimana TUHAN memberikannya? Ini sangat teologis! TUHAN ingin memberikannya melalui orang-orang yang merdeka. Melalui kita, melalui saudara dan saya.
Melalui perintahNya TUHAN membayangkan suatu kehidupan di dunia yang merdeka. Kemerdekaan yang dibutuhkan oleh dunia yang merasa terikat di dalamnya. Sayangnya sering kali dalam haliman kita mengatakan bahwa kita merdeka. Kita dimerdekakan Kristus. Tetapi kenyataannya, kita sering mengorbankan kemerdekaan kita bukan untuk kehidupan orang lain. Bukan untuk kebahagiaan orang lain. Sebaliknya, untuk kebahagiaan dan kesenangan semu:
Orang yang melakukan suap untuk mendapat jabatan atau posisi adalah orang yang tidak merdeka. Dia terikat oleh kuasa dan jabatan.
Orang yang menerima suap dan memutarbalikkan kebenaran fakta adalah orang yang tidak merdeka. Dia terikat oleh kenikmatan uang.
Orang yang memerkosa orang miskin karena merasa lebih berkuasa adalah orang yang tidak merdeka. Dia terikat oleh sistem yang korup.
Orang yang menindas adalah orang yang tidak merdeka. Dia terikat pada keangkuhan diri.

Sebagai pelayan TUHAN, saya juga harus mengatakan, orang yang takut posisi pelayanannya digeser dari tempat yang tidak “enak”, sehingga mendekatkan diri kepada kekuasaan, juga bukanlah pelayan yang merdeka. Ini berlaku juga bagi saya, karena saya juga adalah pelayan TUHAN. Semua kita sedang ditantang oleh firman TUHAN. Firman TUHAN sudah member kabar gembira, yaitu pembebasan.Kita telah dimerdekakan. Apakah kita mengikuti perintah TUHAN, petunjuk kehidupan dari TUHAN, sebagai orang merdeka? Atau, sebetulnya kita bukanlah orang merdeka? Saya mengajak kita semua berdoa,mohon kekuatan dan pimpinan Roh Kudus untuk hidup sebagai orang merdeka, mengikuti teladan dari TUHAN,Allah Israel dan teladan Yesus Kristus.Kiranya TUHAN semakin dipermuliakan melalui kehidupan kita, amin.

Pdt. Dr. Ir. Fridz P. Sihombing
Dosen STT HKBP P.Siantar