Selasa, 09 November 2010

Bacaan Minggu, 28 Nopember 2010: 2Petrus 1:1-8

widgeo.net
Minggu Adven I, 28 November  2010                                                                                                                                                  


MENGENAL KRISTUS LEBIH MENDALAM
2Petrus 1:1-8

 


I.        PENGANTAR


Surat Petrus yang kedua  ini ditujukan kepada seluruh umat Kristen yang mula-mula.  Surat ini ditulis terutama untuk menentang pekerjaan guru-guru  yang
mengajarkan hal-hal yang salah, dan juga untuk memberantas  perbuatan-perbuatan tak patut yang dihasilkan oleh ajaran guru-guru itu (pasal 2). Supaya tidak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran itu,  orang Kristen harus berpegang kepada ajaran yang benar tentang Allah dan tentang Yesus Kristus -- yaitu ajaran yang disampaikan  oleh
orang-orang yang telah menyaksikan dan mendengar sendiri Yesus mengajar yakni
para Rasul dan saksi mata kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya (1:16-17).  Yang terutama dirisaukan dalam surat ini ialah adanya orang-orang yang mengajar bahwa Kristus tidak akan datang lagi untuk kedua kalinya. Surat ini menerangkan bahwa kedatangan Kristus itu nampaknya lambat karena Allah "tidak mau seorang pun binasa. Ia ingin supaya semua orang bertobat dari dosa-dosanya" (pasal 3). 
Khotbah epistel kita kali ini menekankan hal anugerah dan kasih karunia Allah yang direspons dengan iman yang  dinamis dan termanifestasi dalam perbuatan-perbuatan baik, sehingga pengenalan tetentang Tuhan semakin sempurna dan janji kekal menjadi upah yang diterima.
 


II.    ISI /KETERANGAN AYAT

Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Kristus... (ayat 1).  Prasa ini bukanlah sekadar menjelaskan identitas sipengirim, sebagaimana lajimnya sebuah surat.   Ada yang lebih penting lagi dalam hal ini yakni kata ‘hamba dan rasul’.  Ini sebuah status. Status istimewa ini  berfungsi sebagai legitimasi atas otoritas pesanya serta kekuatan kesahihan suratnya.   Menyusul munculnya penyesat dengan ajaran baru tentang kristologi murahan dari gurui-guru palsu yang faktanya tidak pernah bertemu dengan Yesus. Untuk kekuatan apologet inilah si pengirim surat memakai gelar dan jabatan kerasulannya.  Bahwa bagaimanapun, saksi kunci kehidupan Yesus yakni para rasul lebih berkompeten menjelaskan tentang ajaran Kristus daripada orang lain.  Mereka telah melihat dan merasakan serta menderita bersama dan karena Kristus.  Mereka mengalami secara lebih   luas dan lebih dalam tentang Dia.
Kasih karunia dan damai sejahtera oleh pengenalan akan Allah dan Tuhan Yesus (ayat 2).  Ini adalah rangkaian anugerah yang otomatis terjadi saat mengenal (baca : menerima) Tuhan Yesus Kristus.  Bahkan kesempatan untuk menerima Tuhan itu sendiri sebagai Jurus’lamat adalah sebuah anugerah yang besar.  Pengenalan akan Allah dan Tuhan Yesus adalah start awal bukti empirik dari keselamatan itu.  Momen penerimaan dan pengenalan itulah menjadi batas antara kasih Tuhan akan dunia secara universal dengan kasih Tuhan atas diri sendiri secara pribadi.   Tanpa mengenal Yesuspun anugerah Tuhan tercurah ke dunia ini. Kemudian, anugerah Tuhan itu diwartakan menjadi sebuah penawaran.   Tanpa memaksa dan tanpa terpaksa orang secara bebas  memilih menolak atau menerima.  Ketika menerima,  nyatalah anugerah itu sebagai milik pribadi bukan milik dunia ini saja.  Uniknya lagi  yang mengerjakan
penerimaan itu juga dari Tuhan sendiri—yakni Roh Kudus.  Ia dimulai dari anugerah dan di akhiri oleh anugerah.
Kuasa Ilahi-Nya yang menganugerahkan segala sesuatu yang berguna untuk hidup saleh..(ayat 3).   Ayat ini sangat indah sekali.    Ayat ini menengahi pandangan Paulus dengan Yakobus berkenaan dengan Iman dan perbuatan. Paulus mencatat, ”Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. (Ef. 2 : 8 - 9). Paulus  seolah meniadakan tempat bagi tanggapan manusia atas keselamatan.   Murni anugerah, titik.   Kelihatan kontras dengan Yakobus  yang mengagungkan pengejaran manusia atas keselamatan melalui perbuatan.  Yakobus misalnya menuliskan begini: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (Yak.  2:14).
Petrus dalam pembahasan ini menengahi dengan sangat bersahaja.  Kuasa
Ilahinya menganugerahi  kita kemampuan untuk hidup saleh.    Di mana ada anugerah keselamatan disitu ada kesalehan. Bukannya di mana ada kesalehan disitu ada anugerah.   Orang diselamatkan bukan karena saleh, tetapi orang yang diselamatkan pasti menjadi saleh.
Luput dari hawa nafsu dunia ....(ayat 3b).  Ini adalah kodrat ilahi sebagai dampak mendalam atas penghayatan anugerah keselamatan itu.   Petrus melihat
bahwa orang yang telah menerima dan mengenal Tuhan orientasi hidupnya akan  lurus ke arah Kristus dengan segala karakter rohani-Nya.    Titik berangkat dengan arah yang benar ini sangat menentukan seseorang membangun kesalehannya.  Logika penulis kitab ini, bahwa orang yang senantiasa memikirkan kebesaran keselamatan dan memandang kemegahan Kristus tidak akan mempunyai waktu lagi memikirkan hawa nafsu yang rendahan itu.   Maka hendaklah orang percaya bertindak progressive.   Bangunlah kebajikandi atas iman.  Bangunlah di atas kebajikan  pengetahuan.   Rangkailah pengetahuan dengan penguasaan diri.   Lengkapilah penguasaan diri dengan ketekunan.   Ramulah ketekunan dengan kesalehan.  Nyatakanlah kesalehan dengan kasih terhadap sesama dan semua orang.
Ini  benar-benar merupakan pola dan  tuntunan praktis orang beriman.    Polanya dimuali dari anugerah Allah, iman manusia,  bangunan kesalehan, kebajikan dan
disempurnakan dengan solidaritas sosial. Kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita (ayat 8).   Ini menyempurnakan pemahaman kita akan tujuan melakukan kebaikan itu yakni untuk melengkapi pengenalan kita akan Dia yang mempunyai anugerah keselamatan itu. Kalau ingin mengenal Kristus lebih mendalam, caranya adalah melalui  tindakan yang lebih mendalam pula.  Belajar melalui tindakan. Kesempurnaan pengenalan kita bertumbuh dalam proses  keseharian. Tetapi orang yang tidak rela mencemplungkan diri dalam pola, dinamika dan pengejawantahan Anugerah itu, ia akan semakin mengalami kegelapan. Dan kegelapan yang paling gulita adalah sampai-sampai ia tidak mengetahui pengampunan dosanya telah berlangsung. Waspadalah.


III. KESIMPULAN

1.    Ajaran yang benar, yang di wartakan Tuhan hingga melalui raul-rasul-Nya, mengajarkan bahwa  Anugerah keselamatan yang sungguh-sungguh diterima secara pribadi selalu kelihatan dengan kesalehannya yang terus bertumbuh hari lepas hari. 
2.    Titik awal yang benar serta arah yang sesuai yakni dari anugerah dan dengan iman;  akan menolong pembiasaan hidup kudus yang jauh dari hawa nafsu kedagingan.   Isilah pikiran dengan pertumbuhan iman, kesolehan dan perbuatan baik maka pikiran yang cemar berangsur menyingkir.
3.    Dimana ada anugerah keselamatan diterima secara pribadi, disitu ada kesalehan dan perbuatan baik.   Sebab bukan karena kesalehan anugerah itu datang tetapi karena kasih Allah.




Pdt. Mangara Sinamo
,S.Th.
Pendeta GKPPD Resort Jakarta

Bacaan Minggu, 21 Nopember 2010: Yehezkiel 39:1-7

widgeo.net
Minggu Akhir Tahun Gerejawi, 21 November  2010                                                                                                                                


KEDAULATAN TUHAN
 Yehezkiel 39:1-7



I.        PENDAHULUAN


Berdasarkan fasal 1:1,  Yehezkiel telah berada dalam pembuangan ketika ia  diangkat Tuhan menjadi nabi.  Hasil penelitian menyingkapkan bahwa Yehezkiel diangkut pada pembuangan pertama tahun 597 sM.   Dan hancur totalnya Yerusalem dan pembuangan massal umat Yehuda terjadi sepuluh tahun kemudian.  Legitimasi profetis atas dirinya itu di mulai
Tuhan dengan memberikan penglihatan atasnya.   Dari ayat pembuka kitab ini pula dinyatakan bahwa Yehezkiel dipanggil
menjadi nabi pada umur tiga puluh tahun.  Dan sekurang-kurangnya ia bernubuat selama 23 tahun. Kehancuran bangsa Yehuda tergema dalam setiap nubuatan Nabi Yehezkiel.  Entah musabab kehancuran itu,  atau  kekacauan bangsa-bangsa,  hari pembalasan bagi bangsa-bangsa penindas, serta pemulihan keselamatan Israel (Yehuda).    Pasal 39 kitab ini merupakan nubuatan dan apokalipse tentang perang besar di masa depan di mana kemenangan berada di tangan Israel. Tetapi nas ini juga sekaligus mengandung makna alegoris tertentu tentang pertikaian abadi antara pasukan kebaikan melawan gerombolan kefasikan.  Perang itu yang diakhiri dengan kemenangan bangsa Tuhan serta merupakan penghiburan penyeimbang atas kekalahan yang berlarut-larut selama ini. Karena nats ini merupakan penyingkapan masa depan, berarti essensinya adalah pemulihan kembali kekalahan perang selama ini dan pemenuhan yang menghiburkan  hati orang yang sedang tertindas.  Perwujudannya berada di masa depan yang bisa saja segera terjadi atau bisa juga akan terpenuhi jauh di jaman akhir.   Itulah pokok penting ulasan kita kali ini.



II.   Isi/ Keterangan Ayat


Bernubuatlah melawan Gog... (ayat 1).  G..R. Beasly dan Murray  mendeskripsikan secara rinci tentang Gog dan Magog ini (Tafsiran Masa kini-2: hal 538).  Gog adalah nama tempat orang bar-bar.  Magog sendiri adalah nama rajanya.  Gog dan Magog secara lambang mewakili bangsa-bangsa fasik di seluruh dunia.  Mesekh dan Tubal selalu digabungkan pula dengan Gog ini, baik dalam penyebutan dalam kitab suci maupun tulisan sekuler jaman itu (bnd. Kej. 10:2).  Mesekh dan tubal terletak di sebelah timur Asia kecil dan biasanya disamakan dengan Frigia dan Kapadokia.  Apapun nama kota yang disebut ini, intinya adalah bahwa mereka adalah bangsa fasik yang melawan kekudusan Tuhan. Perang bangsa fasik melawan bangsa Tuhan ini digambarkan secara besar-besaran (bnd. ayat 12).  Bahkan akhir dari kekalahan bangsa Gog ini dilukiskan demikian dahsyat hingga diperlukan waktu tujuh tahun  untuk membakar perlengkapan perang Magog dan diperlukan waktu tujuh bulan untuk  mengubur penyerbu-penyerbu itu (bnd. ayat 9, 12).
Pengepungan musuh yang gagal (ayat 2-4).  Ayat ini sebagai cerminan
akan balasan atas pengepungan yang menghancurkan Yerusalem saat
itu.   Bangsa Tuhan sama sekali tak berdaya kala itu, karena Tuhan memang menghendakinya demikian. Tapi kemudian, nubuat penghiburan ini membalikkan fakta di mana pengepungan yang lebih dahsyat dan tidak berimbang atas Israel di waktu  mendatang tidak akan berhasil karena Tuhan melumpuhkannya. Kegagahan bangsa fasik ini akan segera berakhir karena  tangan Tuhan sendiri telah terancung atasnya. Api Yang menghanguskan (ayat 6). Sebuah serangan super dahsyat untuk melumpuhkan musuh yang kuat.  Melambangkan bahwa semata-mata peperangan itu bukan dimainkan oleh manusia tetapi oleh Allah sendiri.  Memang jauh sebelumnya Tuhan telah berjanji akan berperang bagi umatnya kalau umat itu setia (Kel. 14 : 14).   
Di kemudian hari di Perjanjian Baru, secara lebih dramatisir Rasul Yohanes, Penulis kitab Wahyu menuliskannya demikian: Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya, dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka, dan Iblis yang menyesatkan itu pun dibuang... (Why. 20 : 8-10). Kefasikan dan keganasan Gog dan Magog lumpuh oleh kuasa Tuhan.  Kemenangan Israel diraih secara sempurna dan gilang gemilang  dan masa pemerintahan Tuhan yang sungguh-sungguh berdaulat sedang di mulai.
Dari paparan di atas  terasa bahwa Nubuat itu dapat menjangkau tiga bentuk waktu.  Waktu di mana Yehezkiel bernubuat di mana mereka yang terbuang dihiburkan dalam penderitaan mereka. Waktu  sekarang ini di mana kita umat Tuhan sedang bergumul pula melawan kefasikan dan penganiayaan serta pengepungan oleh musuh-musuh iman kita. Akhirnya waktu di akhir jaman di mana perang itu berlangsung dahsyat yang dimenangkan mutlak oleh Tuhan Yesus sendiri.  Konteks dekat sendiri terpenuhi setelah Bangsa Yehuda kembali dari pembuangan tahun 538 sM. Nubuatan itu terjadi.
Konteks sekarang di mana kita masih berada dalam ketegangan melawan pengaruh Iblis dan pasukannya namun telah dijanjikan kemenangan bagi orang yang mengandalkan Kuasa Yesus. Dan Konteks  akhir jaman yang
masih kita nantikan sebagai kemenangan sempurna bersama Yesus Kristus.


III.    Kesimpulan


Bagaimanapun jenis dan alur dari kisah nubuatan ini, intinya adalah bahwa kekuatan  besar pasukan kefasikan dan keganasan fasukan Iblis sipenyesat akan berakhir di tangan  Penguasa Sorga yang akan meluluh lantakkan kefasikan dan para pengikut-pengikutnya. Dan Kedaulatan Tuhan secara sempurna akhirnya akan tewujud dan damai sejahtera menjadi bagian orang-orang yang setia
mengikut Dia
. Dan Semua kemenangan yang akan segera terjadi itu akan
menguatkan orang yang sedang tertindas,   meneguhkan orang-orang yang bimbang dan menghiburkan orang-orang yang
sedih.  Karena Tuhan Yesus sendiri akan menghibur dan menghapus air mata mereka dan menghapuskan segala peperangan, perkabungan dan isak tangis. Dan Ia akan menghapus segala air
mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi
perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama
itu telah berlalu."
(Why.  21:4).
Berangkat dari kemenangan itu pulalah umat Tuhan di harapkan bertahan dalam kesetiaan, membereritakan perbuatan-Nya yang ajaib dan  menolong orang mengenal kebaikan Allah, karena untuk itulah orang percaya dipanggil di dalam Tuhan Yesus Kristus.   Amen.




Pdt. Mangara Sinamo
,S.Th.
Pendeta GKPPD Resort Jakarta


Bacaan Minggu, 14 Nopember 2010: Lukas 16:10-13

widgeo.net
Minggu 24 Setelah Trinitatis, 14 Nopember 2010                                                                                                                                              

BERLAKULAH SETIA DAN BENAR
MENGABDILAH KEPADA ALLAH
Lukas 16:10-13




Perumpamaan Yesus tentang bendahara yang tidak jujur yang terdapat dalam Lukas pasal 16 dipandang sebagai perumpamaan yang sulit dimengerti. Bagaimana tidak? Di dalam perumpamaan ini seakan-akan Yesus membela dan menyetujui tindakan korupsi dan penipuan yang dilakukan bendahara yang memboroskan harta tuannya dan melakukan tindakan penipuan dengan mengurangi hutang dari orang-orang yang berhutang kepada tuannya.  Benarkah Yesus membela perbuatan penipuan dan korupsi? Jawabnya: Tidak. Ay. 8b yang mengatakan: “Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang”, merupakan inti dari perumpamaan Yesus ini. Perkataan Yesus dapat kita artikan:  “jika bendahara atau penata – usaha yang lalim itu berlaku sangat bijaksana dalam hal perkara-perkara duniawi, dan mengambil tindakan dengan mengingat masa depannya di dunia ini, teristimewa pula kita yang adalah anak-anak terang tentulah harus berikhtiar dalam perkara-perkara rohani, yang mempunyai arti yang menentukan untuk kehidupan dalam Kerajaan Allah yang menjadi soal sekarang ini dan di masa depan.” Apa yang dikatakan Yesus disini merupakan tantangan kepada anak-anak terang untuk lebih memikirkan hal-hal yang rohani melebihi dari anak-anak dunia memikirkan mengenai masa depannya. Ay.10-13 semakin menjelaskan bahwa perumpamaan Yesus ini tidaklah bertujuan untuk melegalkan perbuatan korupsi dan penipuan karena dalam soal harta milik duniawi pun kita dituntut dan harus berlaku setia dan benar.
Siapa setia dan benar dalam perkara-perkara kecil, ia setia dan benar juga dalam perkara-perkara besar. Di sini dipertentangkan “sedikit” dengan “banyak”: siapa yang dapat dipercaya/setia dalam perkara-perkara kecil, ia dapat dipercaya (ia setia) juga dalam perkara-perkara yang besar; tetapi siapa yang tidak setia (tidak benar) dalam perkara-perkara kecil, ia tidak setia (tidak benar) dalam perkara-perkara besar (bnd. Luk. 19:17 ; Mat. 25:21). Kalau kita membaca ay.11 yang dimaksud dengan “perkara-perkara kecil” itu adalah harta milik duniawi (=”mamon yang tidak baik”), sedangkan “perkara-perkara besar” itu disebutkan “harta yang sesungguhnya” yaitu keselamatan.
   Di sini Yesus mengajarkan kepada kita bahwa belajar menjadi setia dimulai dari perkara-perkara kecil. Seseorang yang tidak setia dalam mengelola pendapatan dan penggunaan harta duniawi akan sama saja saat mengendalikan perkara-perkara yang rohani. Jika seseorang sangat buruk dalam mengelola keuangan, sangat sukar untuk mempercayainya dengan kekayaan rohani. Itulah sebabnya kita semua perlu dibebaskan dari cinta uang (1Tim. 6:10). Kita sedikitpun tidak akan dipercaya memiliki perkara-perkara besar sampai kita setia dalam perkara-perkara kecil, khususnya setia dalam penggunaan uang. Masalah uang cukup pelik dan terkait dengan kehidupan kita. Saat kita berbicara tentang pekerjaan, pendidikan, pakaian, rumah, kebutuhan sehari-hari, pergi berlibur dan lain-lain, semuanya ini melibatkan uang. Padahal uang itu perkara kecil dalam panggilan kesetiaan kita. Jika kita tidak setia dan tidak benar dalam keuangan (dalam perkara-perkara kecil), siapa yang akan mempercayakan kita harta sesungguhnya? Dan siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?  Tuhan sudah mempercayakan banyak hal kepada kita anak-anakNya. Dia telah melimpahkan anugerah dan karunia ke atas kita. Dia memenuhi hati kita dengan kasih-Nya, Dia telah memberikan kita otoritas dan kuasa. Dia mengurapi kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Dia memberikan kita kemampuan untuk menghasilkan kekayaan yang sesungguhnya bukan milik kita; sesuatu yang tidak akan kita bawa ke liang kubur ketika ajal menjemput kita, sebaliknya semuanya itu akan kita tinggalkan. Benda-benda itu tidak dapat menjadi milik kita yang permanen. Sebaliknya di surga kita akan memperoleh apa yang sungguh-sungguh dan yang secara kekal menjadi milik kita. Dan apa yang akan kita peroleh di surga tergantung bagaimana kita menggunakan benda-benda di mana kita hanyalah bendaharanya.  Tuhan ingin agar kita setia dan benar  terhadap SEMUA yang telah Dia berikan kepada kita agar kita dapat menggenapi panggilanNya.
   Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan sebab seorang hamba tidak akan sungguh-sungguh setia kepada keduanya. Bagaimana kita mengelola keuangan sangat menentukan sikap kita terhadap uang. Sikap kita terhadap uang akan menyatakan penundukan diri kita terhadap Tuhan. Tentu saja, sikap tunduk atau pemberontakan kita terhadap Tuhan akan memberikan dampak terhadap bagaimana cara mengumpulkan kekayaan dan menggunakannya. Uang memiliki kekuatan yang menggoda. Semakin banyak yang kita dapatkan semakin kita menginginkannya. Siapakah tuan bagi kita, Tuhan atau uang? Saat menghadapi masalah, seberapa baikkah kita dapat dipercaya? Apakah kita menjadi tidak setia dan tidak benar kepada atasan atau kepada keluarga dengan menyalahgunakan waktu, uang atau bahkan jabatan? Apakah kita mau mengendalikan uang atau uang yang mengendalikan kita? Dengan bisa dipercaya dalam keuangan berarti membuka pintu untuk kekayaan rohani lebih lagi.
   Bagaimana kita mengelola keuangan hanyalah merupakan salah satu aspek yang dapat memperlihatkan apakah kita seorang penata layan yang baik atau tidak. Sudah jelas dikatakan bahwa tidak mungkin untuk mengabdi kepada dua tuan: Tuhan dan Mamon/kekayaan. Sebab jika kita mengabdi kepada dua tuan, bisa terjadi yang seorang dikasihi yang lainnya dibenci, kepada yang seorang  kita setia tetapi kepada yang lain kita tidak mengindahkannya. Pilihlah, mengabdi kepada Tuhan atau kepada uang. Jika kita mengabdi kepada Tuhan, kita menjadi bijaksana dalam menggunakan uang karena kita mengelola uang tersebut bagi kemuliaanNya. Di lain pihak, jika kita setia kepada kekayaan, pada akhirnya kita pasti akan melayani uang karena uang telah menjadi tuan kita.
   Tuhan menginginkan kita menjadi orang yang bertanggungjawab atas segala sesuatu yang telah Dia percayakan kepada kita. Untuk dapat bertanggungjawab kita harus mempunyai dasar yang teguh dalam berhubungan dan memperlakukan uang atau mammon yaitu hidup setia dan benar. Mamon itu dapat menjadi sahabat kita, tetapi ia juga dapat menjadi musuh yang hendak membinasakan iman kita. Setia kepada Allah dan benar dalam berbakti kepada Allah akan menyelamatkan kita dari cobaan Iblis yang memakai mammon untuk menjatuhkan kita. Boleh bersahabat dengan mammon namun tetap sadar bahwa kita adalah milik Allah. Mamon atau uang yang ada dalam penguasaan kita dimaksudkan agar kita dapat memakainya, namun dengan menyadari bahwa uang itu adalah milik Allah. Pada waktu kita berhasil mengumpulkan banyak uang, lalu berkata bahwa itu adalah hasil jerih payah kita, milik kita pribadi, maka kita sedang berada dalam keadaan yang berbahaya. Mamon atau uang akan merantaikan hati kita dan menjadi budaknya sehingga kita binasa dalam kuasanya. Yesus mengingatkan: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”.  Allah adalah tuan yang paling eksklusif. Kita menjadi miliknya seratus persen atau tidak sama sekali. Oleh sebab itu, berlakulah setia dan benar dengan apa yang ada pada kita (harta, kekayaan, uang, jabatan, dll) dengan memakainya untuk kemuliaan Tuhan. Setialah dalam perkara-perkara kecil maka kepada kita akan dipercayakan perkara-perkara besar. Mengabdilah kepada Tuhan maka harta yang sesungguhnya yaitu keselamatan dan kehidupan yang kekal akan dianugerahkan kepada kita. Amin.


Pdt. Agus Dasa Silitonga, STh
HKBP Kernolong - Jakarta