Jumat, 26 November 2010

Renungan Harian: Halumbaan 22 : 7

widgeo.net

Yesus Kristus telah datang ke dunia ini kali pertama. Dia terlahir di kandang domba di Betlehem. Namun Dia berjanji akan datang kali kedua ke dunia ini. Kedatangan-Nya itu tak seorang pun tahu. Karena kedatangan itu misteri, maka kita diajak untuk setia menanti kedatangan-Nya itu. Hanya orang yang setia menanti dan siap menerima kedatangan-Nya itulah disebut orang yang berbahagia. Berbahagia karena mereka akan menjadi penghuni surga kekekalan. Karenanya marilah kita senantiasa siap dan setia menanti kedatangan-Nya yang agung itu.

"Ligi ma! Tibu do au ro! Martua ma sanga ise halak na marmomos angka sipaingot sian hasurirangon na di bagasan buku on!"
Halumbaan 22 : 7

"Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!"
Wahyu 22 : 7

Ende No.449 : 1-2

Sada goar na ummarga, sian sandok goar i
Goar ni Tuhanta Jesus, i do na ummarga i
Refr. :   Goar-Mi Tuhanki, i ma ende-endengki
Goar-Mi Jesuski, na pasabam rohangki

Sai tarapul do rohangku jana sonang tondingki
Goar-Mi do sinjatangku maralohon musu i      (Refr.)

Kamis, 25 November 2010

Renungan Harian: Mazmur 30 : 4

widgeo.net


Memuji Tuhan adalah sebuah karya agung manusia bagi pencipta-Nya. Memuji Tuhan sangatlah mudah dikerjakan. Misalnya saja dengan menyanyikan sebuah lagu pujian, kita telah memuji Tuhan. Mudah bukan. Tetapi juga bisa dikatakan sulit sebab tidak semua orang mau memuji Tuhan. 
Memuji Tuhan sebenarnya bukan hanya dengan melantunkan lagu pujian, tetapi melalui sikap, tutur kata, dan tingkah laku kita. Memuji Tuhan dengan perkataan yang baik yang tidak menyakiti orang lain. Sikap yang baik atas karya orang lain, bukan menghina dan mengkritisi saja. Bertingkah laku yang baik agar orang senang melihat kita dan bahkan mau menyembah Allah yang kita sembah.
Inilah beberapa cara memuji Tuhan dalam kehidupan ini. Mari mulailah memuji Tuhan dalam hidupmu bagi yang belum memulainya dan teruskan bagi yang setia memuji Tuhan.

Endehon ma puji-pujian di TUHAN, o hamu bangsoNia na nihaholongan-Nia! jana haulkon ma hatarimakasion tu goarNa Na Badia!
Masmur 30 : 4


Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkan-lah syukur kepada nama-Nya yang kudus.
Mazmur 30 : 4


Ende No.18 : 1-2
Endehononku Ho Jahowa, angke Debata na mangolu Ho
Suruhon Tondi Parbadia, tu au anso tarpuji au peto
Markitehite Jesus Anak-Mi goar-Mu na tongtong marsangap i

Rade do dalan tu Anak-Mu, anso dioban Ia au tu Ho
Tongtong rajai pikiranku, paro Tondi-Mu tu rohangku do
Sonang situtu hulala dung i, goar-Mu pe sai huendehon i

Rabu, 24 November 2010

Renungan Harian: Daniel 12 : 13

widgeo.net



Burju ma anggo ho Daniel lalu tu ujungna. Marujung ma ngolumu, tapi ngot ma ho mangulahi manjagit upamu di hatiha na parpudi."
Daniel 12 : 13

Tetapi engkau, pergilah sampai tiba akhir zaman, dan engkau akan beristirahat, dan akan bangkit untuk mendapat bagianmu pada kesudahan zaman."
Daniel 12 : 13

Kesetiaan memberitakan Injil adalah sebuah kesukaan besar bagi Bapa di Surga. Setiap pelayanan ataupun hamba Tuhan pasti berkeinginan mengakhiri masa pelayanannya hingga akhirnya. Cita-cita inilah yang tiba pada kehidupan Daniel. Ketika Daniel memasuki masa tuanya, Tuhan memberikan jaminan hidup masa tuanya dengan berkata, "Pergilah  sampai tiba akhir zaman, dan engkau akan beristirahat...." Janji Tuhan ini menjadikan penguat iman bagi setiap orang percayaa saat ini. Tuhan akan tetap setia kepada setiap orang yang setia kepada-Nya.

Ende No.153 : 1-2
Ihutkon Au hamu sude pandok ni Tuhan Jesus
Porsoonmuna ma muse nauhum ni si bolis?
Hayu parsilang jagit ma, mangihut Au salolotna

Hupatidahon do peto naso tama baenonmu
Bo hageduhanmunu pe na patut nipauba
Lopus tu Surgo i muse hutogu pe hamu sude
widgeo.net
PARTUTURON NI BATAK



Setiap bahasa yang ada di dunia ini pasti memiliki kata ganti orang. Bahasa Batak yang menjadi salah satu bahasa budaya yang ada di dunia memiliki cukup banyak kata ganti untuk orang. Kata ganti ini lebih dikenal dalam Bahasa Batak dengan sebutan “Tutur” atau “Partuturan”
Berikut ini saya sajikan beberapa tutur yang ada di dalam adat Batak:

1. Ahu > Au = aku, saya
2. Anak = anak laki-laki
3. Amang > damang > damang parsinuan =ayah, bapak.
4. Amang, sapaan umum menghormati kaum laki-laki.
5. Amanta > amanta raja, sering digunakan dalam sebuah acara pertemuan.
6. Amang Uda, adik laki-laki dari ayah kita.
7. Amang Uda, suami dari adik ibu kita.
8. Amang Tua, abang dari ayah kita.
9. Amang Tua, suami dari kakak ibu kita sendiri.
10. Amang Uda/Amang Tua, suami dari pariban ayah kita.
11. Angkang = Abang, Angkangdoli, abang yang sudah kawin.
12. Angkang Boru, isteri abang. Kakak yang boru tulang kita.
13. Anggi, adik (lk), adik (pr) boru tulang
14. Anggi Doli, suami dari Anggi Boru. Adik (lk) sudah kawin.
15. Anggi Boru, isteri adik kita yang laki-laki.
16. Amangboru, saudara perempuan ayah kita.
17. Amangtua/inangtua (mangulaki), ompung ayah kita.
18. Ama Naposo, anak (lk) abang/adik dari hula-hula kita.
19. Angkangboru (mangulaki), namboru ayah dari seorang perempuan.
20. Ampara, penyapa awal sealur marga, marhaha-maranggi, sapaan untuk saudara semarga (lk).
21. Ale-ale, teman akrab, bisa saja berbeda marga.
22. Bao, amangbao, suami dari eda seorang ibu.
23. Bao, inangbao, isteri dari tunggane kita (abang/adik isteri).
24. Bere, semua anak (lk + prp) dari para saudara perempuan kita.
25. Bere, semua kakak/adik dari menantu laki-laki kita.
26. Boru, semua pihak keluarga menantu lk kita / amangboru.
27. Boru, anak kandung kita (prp) bersama suaminya.
28. Borutubu, semua menantu (lk) / isteri dari satu ompung.
29. Boru Nagojong, borunamatua, keturunan namboru kakek.
30. Boru diampuan, keturunan dari namboru ayah.
31. Bonatulang, tulang dari ayah kita.
32. Bona niari, tulang dari kakek kita.
33. Bonaniari binsar, tulang dari ayah kakek kita.
34. Damang = ayah = bapak
35. Damang, sebutan kasih sayang dari anak kepada ayah mereka.
36. Damang, digunakan juga oleh ibu kepada anaknya sendiri.
37. Dainang, sebutan kasih sayang anak kepada ibu mereka.
38. Dainang, digunakan uga oleh ayah kepada anak perempuannya.
39. Daompung, baoa+boru, kakek atau nenek kita.
40. Datulang, sebutan hormat khusus kepada tulang.
41. Dahahang (baoa+boru), abang kita atau isterinya.
42. Dongan saboltok, dongan sabutuha (sebutan lokal).
43. Dongantubu, abang adik, serupa marga.
44. Dongan sahuta, kekerabatan akrab karena tinggal dalam satu huta.
45. Dongansapadan, dianggap semarga karena diikat oleh padan/janji.
46. Eda, kakak atau adik ipar antar perempuan.
47. eda, sapa awal antara sesama wanita.
48. Hahadoli, sebutan seorang isteri terhadap abang (kandung) suaminya.
49. Haha doli, abang dari urutan struktur, dapat juga tidak semarga lagi.
50. Haha = abang. No. 48 & 49, berbeda sekali artinya.
51. Hahaboru, isteri abang kita, yang dihormati.
52. Haha Ni Hela, abang dari mantu kita.
53. Haha Ni Uhum, paling tua dalam silsilah sekelompok.
54. Hula-hula, keluarga abang/adik dari isteri kita.
55. Hela, menantu (lk) kita sendiri.
56. Hela, juga terhadap suami anak abang/anak adik kita.
57. Hami, sebutan kita terhadap pihak sebelah kita sendiri.
58. Hamu, sebutan atas pihak lawan bicara.
59. Hita, menunjuk kelompok kita sendiri.
60. Halak, menunjuk kepada kelompok orang lain.
61. Ho, kau, terhadap satu orang tertentu, tutur bawah kita.
62. Halak i, dihormati karena pantangan, terhadap bao, parumaen.
63. Ibebere, keluarga dari suami bere kita yang perempuan.
64. Ito, iboto, kakak atau adik perempuan kita, serupa marga.
65. Ito, tutur sapa awal dari lk terhadap prp atau sebaliknya.
66. Ito, panggilan kita kepada anak gadis dari namboru.
67. Iba, = ahu, saya.
68. Ibana, dia, penunjuk kepada seseorang yang sebaya kita.
69. Inang=dainang, ibu. Juga sebutan kasih kepada puteri kita.
70. Inang(simatua)=ibu mertua.
71. Inangbao, isteri dari hula-hula atau tunggane kita.
72. Inanta, sebutan penghormatan bagi wanita, sudah kawin.
73. Inanta soripada, kaum ibu yang lebih dihormati dalam acara.
74. Inanguda, isteri dari adik ayah. Ada juga inanguda marpariban.
75. Inangtua, isteri dari abang ayah. Juga inangtua marpariban.
76. Inangbaju, semua adik prp dari ibu kita, belum kawin.
77. Inangnaposo, isteri dari paraman/amangnaposo kita.
78. Indik-indik, cucu dari cucu prp kita. Sudah amat jarang ada.
79. Jolma, jolmana, = isterinya. Jolmangku = isteriku.
80. Lae, tutur sapa anak laki-laki tulang dengan kita (lk).
81. Lae, tutur sapa awal perkenalan antara dua laki-laki.
82. Lae, suami dari kakak atau adik kita sendiri (lk)
83. Lae, anak laki-laki dari namboru kita (lk)
84. Maen, anak-gadis dari hula-hula kita.
85. Marsada inangboru, abang adik karena ibu kita kakak-adik.
86. Namboru, kakak atau adik ayah kita. Sudah kawin atau belum.
87. Nantulang, isteri dari tulang kita.
88. Nasida, penunjuk seseorang yang dihormati. Atau = mereka.
89. Nasida, halk-nasida, amat dihormati karena berpantangan.
90. Natoras, orangtua kandung. Angkola = natobang.
91. Natua-tua, orangtua yang dihormati. Misalnya: amanta natua-tua i.
92. Nini, anak dari cucu laki-laki.
93. Nono, anak dari cucu perempuan kita
94. Ondok-ondok, cucu dari cucu laki-laki kita. Sudah jarang.
95. Ompung, ompungdoli, ompung suhut, ayah dari bapak kita.
96. Ompungbao, daompung, orangtua dari ibu kandung kita.
97. Ompungboru, ibu dari ayah kita.
98. Pahompu, cucu. anak – anak dari semua anak kita.
99. Pinaribot, sebutan penghormatan kepada wanita dalam acara.
100.Paramaan, anak (lk) dari hula-hula kita.
101.Parboruon, semua kelompok namboru atau menantu (lk) kita.
102.Pargellengon -idem- tetapi lebih meluas.
103.Parrajaon, semua kelompok dari hula-hula dan tulang kita.
104.Pariban, abang-adik karena isteri juga kakak-beradik.
105.Pariban, semua anak prp dari pihak tulang kita.
106. Pariban, anak perempuan yang sudah kawin, dari pariban mertua perempuan.
107. Parumaen = mantu prp. isteri anak kita.
108. Pamarai, abang atau adik dari suhut utama, orang kedua.
109. Rorobot, tulangrorobot, tulang isteri (bukan narobot).
110.Sinonduk = suami. Parsonduk bolon = isteri, pardijabu.
111.Simatua doli dan simatua boru = mertua lk dan prp.
112.Simolohon = simandokhon = iboto, kakak atau adik lk.
113.Suhut, pemilik hajatan. Paidua ni suhut, orang kedua.
114.Tulang, abang atau adik dari ibu kita.
115.Tulang/nantulang, mertua dari adik kita yang laki-laki.
116.Tulang naposo = paraman yang sudah kawin.
117.Tulang Ni Hela, tulang dari pengantin laki-laki.
118.Tulang/nantulang mangulaki, panggilan cucu kepada mertua.
119.Tunggane, semua abang dan adik (lk) dari isteri kita.
120.Tunggane, semua anak laki-laki dari tulang kita.
121.Tunggane doli, amang siadopan, amanta jabunami = suami
122.Tunggane bour, inang siadopan, pardijabunami, = isteri.
123.Tunggane huta, raja dalam sebuah huta, kelompok pendiri huta.
124.Tuan doli = suami.
125.Tuan boru = isteri.

Bogor, 5 Juli 2010
Adapted from: nadver dan Learning Forum

Senin, 22 November 2010

PESAN NATAL BERSAMA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) TAHUN 2010

widgeo.net
PESAN NATAL BERSAMA
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI)
TAHUN 2010
“Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia”
(bdk. Yoh. 1:9)



Saudara-saudari yang terkasih,
segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
1.    Pada saat ini kita semua sedang berada di dalam suasana merayakan kedatangan Dia, yang mengatakan: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup”1. Dalam merenungkan peristiwa ini, rasul Yohanes dengan tepat mengungkapkan: “Terang yang sesungguhnya itu sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”2.Suasana yang sama juga meliputi perayaan Natal kita yang terjalin dan dikemas untuk merenungkan harapan itu dengan tema:“Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia”.
2.    Saudara-saudari terkasih,
      Kita bersyukur boleh hidup dalam suatu negara yang secara konsti-tusional menjamin kebebasan beragama. Namun akhir-akhir ini gejala-gejala kekerasan atas nama agama semakin tampak dan mengancam kerukunan hidup beragama dalam masyarakat. Hal ini mencemaskan pihak-pihak yang mengalami perlakuan yang tidak wajar dalam masyarakat kita. Kita semakin merasa risau akan perkembangan “peradaban” yang mengarus-utamakan jumlah penganut agama; “peradaban” yang memenangkan mereka yang bersuara keras berhadapan dengan mereka yang tidak memiliki kesempatan bersuara; “peradaban” yang memenangkan mereka yang hidup mapan atas mereka yang terpinggirkan. Peradaban yang sedemikian itu pada gilirannya akan menimbulkan perselisihan, kebencian dan balas-dendam: suatu peradaban yang membuahkan budaya kematian daripada budaya cinta yang menghidupkan.
Keadaan yang juga mencemaskan kita adalah kehadiran para penanggungjawab publik yang tidak sepenuhnya memperjuang-kan kepentingan rakyat kebanyakan. Para penanggungjawab publik memperlihatkan kinerja dan moralitas yang cenderung merugikan kesejahteraan bersama. Sorotan media massa terhadap kinerja penanggungjawab publik yang kurang peka terhadap kepentingan masyarakat, khususnya yang terungkap dengan praktik korupsi dan mafia hukum hampir di segala segi kehidupan berbangsa, sungguh-sungguh memilukan dan sangat memprihatinkan, karena itu adalah kejahatan sosial.
Sementara itu, keadaan masyarakat yang semakin jauh dari sejahtera, termasuk sulitnya lapangan kerja, semakin memperparah kemiskinan di daerah pedesaan dan perkotaan. Keadaan ini diperberat lagi oleh musibah dan bencana yang sering terjadi, baik karena faktor murni alami maupun karena dampak campur-tangan kesalahan manusiawi, terutama dalam penanganan dan penanggulangannya. Sisi-sisi gelap dalam peradaban masyarakat kita dewasa ini membuat kita semakin membutuhkan Terang yang sesungguhnya itu.
Terang yang sesungguhnya, yaitu Yesus Kristus yang menjelma menjadi manusia, sudah datang ke dalam dunia. Walaupun banyak orang  menolak Terang itu, namun Terang yang sesung-guhnya ini membawa pengharapan sejati bagi umat manusia. Di tengah kegelapan, Terang itu menumbuhkan pengharapan bagi mereka yang menjadi korban ketidak-adilan. Bahkan di tengah bencana pun muncul kepedulian yang justru melampaui batas-batas suku, agama, status sosial dan kelompok apa pun. Terang itu membawa Roh yang memerdekakan kita dari pelbagai kegelapan, sebagaimana dikatakan oleh Penginjil Lukas: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampai-kan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang3.
Natal adalah tindakan nyata Allah untuk mempersatukan kembali di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya4. Semua yang dilihat-Nya baik adanya itu5, yang telah dirusakkan dan diceraiberaikan oleh kejahatan manusia, menemukan dirinya di dalam Terang itu. Oleh karena itu, dengan menyambut dan merayakan Natal sebaik-baiknya, kita menerima kembali, dan demikian juga menyatukan diri kita dengan   karya penyelamatan Allah yang baik bagi semua orang.
Di dalam merayakan Natal sekarang ini, kita semua kembali diingatkan, bahwa Terang sejati itu sedang datang dan sungguh-sungguh ada di dalam kehidupan kita. Terang itu, Yesus Kristus, berkarya dan membuka wawasan baru bagi kesejahteraan umat manusia serta keutuhan ciptaan. Inilah semangat yang selayaknya menjiwai kita sendiri serta suasana di mana kita sekarang sedang menjalani pergumulan hidup ini.
3.    Saudara-saudari terkasih,
      Peristiwa Natal membangkitkan harapan dalam hidup dan sekaligus memanggil kita untuk tetap mengupayakan kesejahteraan semua orang. Kita juga dipanggil dan diutus untuk menjadi terang yang membawa pengharapan, dan terus bersama-sama mencari serta menemukan cara-cara yang efektif dan manusiawi untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama.
·         Bersama Rasul Paulus, kami mengajak seluruh umat kristiani di tanah air tercinta ini: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan”6, karena dengan membalas kejahatan dengan kejahatan, kita sendirilah yang dikalahkannya.
·         Selanjutnya kita wajib ikut-serta mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur, bahkan melalui usaha-usaha kecil tetapi konkret seperti menjalin hubungan baik dengan sesama warga masyarakat demi kesejahteraan bersama. Kita turut menjaga dan memelihara serta melestarikan lingkungan alam ciptaan, antara lain dengan menanam pohon dan mengelola pertanian selaras alam, dengan tidak membuang sampah secara sembarangan; mempergunakan air dan listrik seperlunya, mempergunakan alat-alat rumahtangga yang ramah lingkungan.
·         Dalam situasi bencana seperti sekarang ini kita melibatkan diri secara proaktif dalam pelbagai gerakan solidaritas dan kepedulian sosial bagi para korban, baik yang diprakarsai gereja, masyarakat maupun pemerintah.
·         Marilah kita memantapkan penghayatan keberimanan kristiani kita, terutama secara batiniah, sambil menghindarkan praktik-praktik ibadat keagamaan kita secara lahiriah, semu dan dangkal. Hidup beragama yang sejati bukan hanya praktik-praktik lahiriah yang ditetapkan oleh lembaga keagamaan, melainkan berpangkal pada hubungan yang erat dan mesra dengan Allah secara pribadi.
Akhirnya, marilah kita menyambut dan merayakan kedatangan-Nya dalam kesederhanaan dan kesahajaan penyembah-penyembah-Nya yang pertama, yakni para gembala di padang Efrata, tanpa jatuh ke dalam perayaan gegap-gempita yang lahiriah saja. Marilah kita percaya kepada Terang itu yang sudah bermukim di antara kita, supaya kita menjadi anak-anak Terang7.[1]Dengan demikian perayaan Natal menjadi kesempatan mulia bagi kita untuk membangkitkan dan menggerakkan peradaban kasih sebagai tanda penerimaan akan Terang itu dalam lingkungan kita masing-masing. Dengan pemikiran serta ungkapan hati itu, kami mengucapkan:
SELAMAT NATAL 2010 DAN TAHUN BARU 2011

Jakarta, 12 November 2010    
Atas nama

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA                 KONFERENSI WALIGEREJA
       DI INDONESIA  (PGI),                                   INDONESIA (KWI),
                               
    Pdt. Dr. A.A. Yewangoe               Mgr. M.D. Situmorang OFM Cap.
               Ketua Umum                                                   Ketua

      Pdt. Gomar Gultom, M.Th.                       Mgr. J.M. Pujasumarta

             Sekretaris Umum                                      Sekretaris Jenderal



[1] Yoh.8:12; 2Lih.Yoh.1:9-11; 3Luk.4:18-19; 4Lih.Ef.1:10; 5Lih.Kej.1:10; 6Rom.12:21; 7Lih.Yoh.12:36.

SELAMAT JALAN Pdt.CHARLES SIREGAR,STh Pendeta GKPA Resort P.Baru (2006-2010)

widgeo.net

Pendeta GKPA Resort P.Baru (2006-2010)

Pendeta kelahiran 5 Oktober 1963 ini menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit (RS) Lancang Kuning Pekan Baru pada Minggu, 21 Nopember 2010 pada pukul 13.30 wib. Pendeta ini hamper lebih kurang enam bulan mengalami perawatan akibat penyakit kanker perut stadium 3b. Perawatan pendeta ini dimulai dari Rumah Sakit di Pekan Baru, kemudian dirujuk ke RS Pirngadi Medan dan akhirnya ke RS Gatot Subroto Jakarta.

Manusia berencana, namun Tuhan yang menentukan. Keluarga, GKPA dan warga jemaat GKPA Resort P.Baru telah berusaha membawa pendeta ini untuk menerima perawatan yang sebaik-baiknya demi kesembuhan dari penyakit yang menggerogoti tubuhnya ini, namun jalan Tuhan jauh lebih baik. Tuhan lebih mengasihi dia daripada kasih manusia. Tuhan tidak menginginkan hamba-Nya ini lama-lama mengalami sakit yang semakin mendalam ini. Tuhan akhirnya menentukan jalan terbaik dengan mengakhiri masa hidupnya di dunia ini.

Pendeta ini memulai masa pelayanannya dengan menjalani masa vicariatnya di Kantor Pusat GKPA sejak 1 Desember 199, kemudian melanjutkan vicariatnya di GKPA Medan Barat Resort Medan Barat sejak 1 Pebruari 2000 hingga 1 Nopember 2000. Masa vicariatnya ini kemudian dilanjutkan di GKPA Jl.Teuku Umar Resort Khusus Padangsidimpuan Timur (d/h. Resort Padangsidimpuan Timur) sejak 1 Nopember 2000 hingga 1 April 2002.

Setelah menyelesaikan masa-masa vicaritanya di GKPA, Pdt.Charles Siregar,STh menerima tahbisan pendeta di GKPA pada Minggu, 17 Maret 2002 di GKPA P.Berandan Resort P.Berandan.

Penempatan pertama pendeta ini setelah menerima tahbisan pendeta adalah di GKPA Jl.Teuku Umar Resort Khusus Padangsidimpuan Timur sebagai pendeta diperbantukan sejak  1 April 2002 hingga 1 Juni 2002. Karier pelayanannya kemudian dipintahtugaskan menjadi pendeta GKPA Resort Labuhan Batu sejak 1 Juni 2002 hingga 1 September 2006. Pelayanan terakhir yang dipegang pendeta ini sebelum meninggal dunia adalah sebagai pendeta GKPA Resort Pekan Baru sejak 1 September 2006 hingga 21 Nopember 2010.

Pdt.Charles Hasiholan Siregar,STh menikah dengan Pdt.Tiari Br.Panjaitan,BTh dan dikaruniakan Tuhan seorang putra, Samuel Bryan Siregar yang masih berusia enam (6) tahun.

Pendeta ini dikebumikan pada hari Selasa, 23 Nopember 2010 di Tempat Pemakaman Keluarga di Kampung Jambu Sipirok Tapanuli Selatan. Kerinduan pendeta ini selama hidupnya adalah ketika menjalani masa pensiunnya kelak dari GKPA akan tinggal menetap di Sipirok. Itulah yang menjadikan pendeta ini dikebumikan di Sipirok tempat asal orangtuanya dan leluhurnya.

Marilah kita mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan Pendeta ini tabah dan kuat menerima kehendak Tuhan ini dan diberikan kekuatan menjalani hidup ke masa depan yang penuh harapan.


Ramli SN Harahap