BLOG INI BERSIFAT TERBUKA UNTUK DIKOMENTARI DAN DIKRITISI DEMI KEMAJUAN WAWASAN BERPIKIR, DAN BERTEOLOGI MASA KINI
Selasa, 01 Februari 2011
Luar biasa. Allah adalah Allah yang luar biasa. Jika manusia disakiti biasanya dia akan langsung memikirkan pembalasan kepada orang yang menyakitinya. Jika manusia menerima perlakuan jahat dari orang lain pasti dia akan memikirkan perbuatan jahat yang lebih jahat lagi kepada orang tersebut. Itulah kemanusiaan kita. Allah berbeda dengan manusia. Kendati kita manusia ini berkali-kali berbuat dosa dan kejatahan di hadapan Tuhan, Tuhan tidak pernah sedetik pun berpikir dan berencana kejahatan kepada kita. Tidak pernah terbertik pada pikiran Allah pembalasan akan dosa-dosa kita.
Paulus sendiri berkata bahwa sebenarnya upah dosa adalah maut alias kematian (Rm.3:23). Artinya, ketika kita melakukan dosa, pada saat itu sebenarnya kita harus dihukum kematian. Namun Allah bertindak lain. Dia tidak menghukum dan membalaskan dosa dan kejahatan kita kepada kita melainkan Allah berkeinginan agar setiap orang pendosa dan penjahat kembali ke jalan Tuhan ke jalan kebenaran.
Kembali ke jalan benar merupakan keinginan Tuhan yang terdalam. Jalan yang benar akan memberikan hidup dan keselamatan. Allah adalah jalan dan kebenaran. Dunia ini banyak menawarkan jalan namun jalan itu tidak memiliki nilai-nilai kebenaran.
Karenanya, marilah kita kembali ke jalan yang benar agar kita memperoleh hidup yang kekal. Sebab hanya berjalan dalam jalanNya Allahlah kita akan beroleh keselamatan. Jangan tunda lagi, kembalilah ke jalan yang benar. Bertobatlah...
Dokkon ma tu halahi, mangasahon Au na mangolu, Tuhan DEBATA nada jop rohangKu muda mate halak parjahat i; tapi sugari mulak ma nian ia manadingkon angka dosana anso tongtong ia mangolu.
Jeheskiel 33 : 11
Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup.
Yehezkiel 33 : 11
BEAM No. 302 : 1+3
1.Bahat dope inganan i, dihorja markaroan. I pe hamu pardosa i, sai olo ma porsaya
Tuhanta do mamio ho tu hasonangan situtu. Hamu, hamu di pio Debata
3.Dosamu dipikiri ho na so tama be dohot, indada hara dosami dibaen na sundat bongkot
Angke ma sesa dosami digarar Tuhan Jesus i. Ias, bontar ma sesa dosami.
Apakah saya masih mungkin diampuni? Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita belum berjalan melenceng terlalu jauh? Bagaimana kita dapat menyakini bahwa kita belum membuat diri kita terampuni di hadapan Allah? Jawabannya tidak ditemukan dalam kemampuan kita untuk melupakan segala kesalahan kita, atau dalam kemampuan kita untuk mengampuni diri sendiri, atau bahkan dalam kemampuan kita untuk merasa diampuni. Jawabannya dapat ditemukan dalam jangkauan Allah yang sedemikian besar untuk menanggung penderitaan dan hukuman yang layak kita terima.
"Mengampuni dan melupakan" kesalahan orang lain. Segampang itukah? Seorang istri yang sering disiksa oleh suaminya berkata "Dia telah begitu melukai perasaan saya. Bagaimana mungkin saya dapat memaafkan segala perbuatannya? "Seorang anak yang tidak diperhatikan oleh ayahnya selama bertahun-tahun berkata, "Mengapa saya harus memaafkan perbuatan tersebut?". Seorang pemakai obat bius yang ingin merubah jalan hidupnya berkata, "Apakah Tuhan benar-benar akan mengampuni segala perbuatan yang pernah kulakukan?
Arti pengampunan
Secara umum perkataan “ampun” bermakna membersihkan, memaafkan, membatalkan hutang. Bila kita membuat kesalahan kepada orang, kita meminta maaf supaya hubungan dengannya dapat dipulihkan. Pengampunan dosa bukan diberikan karena orang itu patut diampuni. Pengampunan dosa ialah suatu tindakan kasih sayang, belas kasihan dan rahmat. Pengampunan ialah suatu keputusan untuk tidak mengambil tindakan hukum kepada seseorang, walaupun dia telah membuat salah kepada kita.
Dalam Kamus Universal Oxford pengampunan adalah: (a) Perbuatan mengampuni; keadaan atau hakikat diampuni, (b) Perangai atau kesediaan untuk mengampuni. Maka pengampunan dipahami sebagai keadaan saling membalas dan juga sebagai perangai atau keadaan pemikiran. Akal pikiran itu sendiri harus bersifat mengampuni.
Jika kita mengampuni (forgive), maka pengampunan itu menjadi telah mengampuni (forgave). Ia terdiri dari dua kata FOR dan GIVE (v) yang berarti: (a) Untuk memberi atau menganugerahkan, (b) Mengalah, berhenti menyimpan (dendam dsb), (c) Mengampuni (hutang); melepaskan tuntutan balasan, mengampuni (kesalahan)…, (d) Melepaskan dendam terhadap, mengampuni (seorang yang bersalah). Juga (kini jarang) meninggalkan tuntutan terhadap seorang yang berhutang, (e) Membuat alasan untuk atau memberi penghormatan yang terlalu baik…
Kebutuhan Akan Pengampunan
Alkitab berkata bahwa kita semua memerlukan pengampunan dosa dari Tuhan. Kita semua telah berbuat dosa. Pengkhotbah 7:20 mengatakan, “ Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!” Dan jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita (1Yoh.1:8). Semua dosa adalah perbuatan menentang Tuhan (Mazmur 51:4). Akibatnya, kita memerlukan pengampunan Tuhan. Pengampunan adalah hak istimewa Tuhan (Mzm.130:4; Dan.9:9). Jika dosa kita tidak diampuni, kita akan menderita selama-lamanya (Mat.25:46; Yoh. 3:36).
Maka pengampunan sebenarnya adalah tindakan menyerah. Kita menyerahkan hak kita untuk mengampuni kesalahan orang lain. Apabila kita mengampuni kita berhenti menyimpan perasaan tidak baik terhadap seseorang. Kita membuang rasa benci dan duka. Memang pengampunan tidak datang dengan sendirinya dari diri kita tetapi kita dapat melakukannya dengan pertolongan Tuhan. Pengampunan memerlukan waktu untuk membentuk belas kasihan. Semakin kita membenci, semakin sukar untuk mengampuni. Namun pengampunan adalah penting sekali untuk kesehatan emosi dan rohani.
Aspek penting dalam memahami pengampunan adalah bahwa perbuatan yang memerlukan pengampunan ialah perbuatan yang melanggar hukum Tuhan. Oleh karena itu setiap kita melakukan dosa maka kita memerlukan pengampunan Tuhan. Misalnya Daud memohon, “Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!” (Mzm.51:4).
Karena Allah membenci dosa, harga sebuah pengampunan sangatlah tinggi. Alkitab menuliskan beberapa syarat untuk pengampunan:
Pengorbanan. Ibrani 9:22 berkata tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan." Dalam Perjanjian Lama diperlukan korban domba yang tak bercacat untuk meredakan murka Allah. Yesus, Anak Allah yang tak berdosa, mati di kayu salib dan menjadi korban penebusan dosa. Yesus membayar pengampunan bagi kita ketika mati di kayu salib (1 Petrus 3:18a; Efesus 1:7).
Mengampuni sesama. Syarat untuk pengampunan dosa adalah mengampuni sesama. 1Korintus 13:5 berkata "Kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain". Ingat bahwa Amsal 17:9 mengajarkan pada kita bahwa sahabat sejati mengampuni. Allah juga menjadikan mengampuni sesama sebagai syarat untuk menerima pengampunan dariNya. (Bd.Mat. 6:14,15; Ef. 4:32)
Pengakuan Dosa. Kita harus mengakui dosa kita pada Allah jika ingin hubungan kita dengan Dia dipulihkan. Melihat kebutuhan akan pengampunan, kita mengetahui dosa dapat memisahkan hubungan kita dengan Allah. Pengakuan adalah jalan untuk memulihkan hubungan kita dengan Allah, karena walau kita tidak setia, Ia tetap setia (2 Timotius 2:13). "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yoh 1:9)
Bertobat. Kita harus memutuskan untuk berubah, berpaling dari dosa kita."Karena itu beginilah jawab Tuhan :"Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan dihadapanKu." (Yeremia 15:19a)
Kita harus mengampuni orang lain
Kita akan diampuni oleh Tuhan bila kita mengampuni orang lain (Mrk.11:25-26; Luk.11:4; Mat.6:12-15). Maka hubungan setiap orang dengan Tuhan tergantung secara langsung pada hubungan mereka dengan sesamanya sendiri. Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya (1Yoh.4:20). Kita harus mengampuni orang lain karena Tuhan telah mengampuni kita demi Kristus. Kristus telah diutus untuk mendamaikan kita dengan Tuhan. Oleh karena Kristus telah mengampuni kita dalam kematianNya, begitu juga kita harus mengampuni sesama kita. Kita harus memandang orang lain sebagaimana Tuhan memandang kita.
Menyimpan dendam mengakibatkan lebih banyak kerusakan psikologi bagi kita. Dendam mengganggu pertumbuhan rohani dan hubungan kita dengan Tuhan. Rasa benci dan dendam, menghalangi Roh Kudus berdiam di dalam kita atau bekerja di dalam kita. Oleh karena itu kita perlu membersihkan kebencian dan kejahatan dari hati kita agar Roh Kudus tinggal di dalam kita. Kita harus mengoyakkan hati kita, yang melambangkan pertobatan (Yoel 2:13; Mrk.11:25).
Pengampunan adalah untuk memberi dan menerima (2Kor.5:19). Rasul Petrus tahu betapa sukarnya untuk mengampuni dan Petrus bertanya kepada Kristus berapa kali sepatutnya mengampuni(Mat.18:22, bd. Yes.50:6 dan Rat.3:30). Tuhan memang dapat mengampuni dan melupakan (Yeremia 31:34 dan Mazmur 103:12) namun Alkitab tidak menyuruh kita untuk melupakan dosa dan kesalahan kita. Jadi ingat – Berbuat salah adalah sifat manusia. Mengampuni adalah sifat ilahi. Perkara paling sukar adalah untuk mengampuni diri kita sendiri. Apabila suatu dosa atau kesalahan dibereskan dalam pertobatan, maka Tuhan mengampuni kita. Kita harus menerima pengampunan itu. Namun jangan lagi mengulanginya agar kita tidak terus merasa bersalah.
3.Daud telah mengampuni Saul. Daud melepaskan Saul karena Saul adalah orang yang diurapi Tuhan (1Sam.24:10-12, 23; 26:9).
4.Yesus mengampuni musuh-musuhnya (Luk.23:34).
5.Pengampunan para pemimpin dan rakyat diperoleh melalui perantaraan Nabi-nabi dan para imam.. Yerobeam telah dipulihkan melalui perantaraan para nabi (1Raja 13:6).
6.Paulus mengampuni saudara seiman dalam nama Yesus Kristus (2Kor.2:10).
Hasil dari Pengampunan
Alkitab menjanjikan beberapa hal atas pengampuan:
Kebahagiaan. Tuhan memberkati orang yang diampuniNya. "Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi. Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan dan yang tidak berjiwa penipu." (Mazmur 32:1-2)
Allah tidak lagi mengingat kesalahan kita. Hasil dari pengampunan adalah Allah tidak mengingat kesalahan kita. Karena darah Kristus telah menutupi dosa kita, Allah tidak mengingat-ingat dosa kita. "Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu." (Yesaya 43:25)
Allah mengangkat kita dari dosa. "Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkanNya dari pada kita pelanggaran kita" (Mazmur 103:12)
Kita dapat mengampuni diri sendiri. Saat kita diampuni, kita dapat mengampuni diri kita sendiri. "Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku, dan berlari-lari pada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus." (Filipi 3:13,14)
"Memang lidah tak bertulang, tak terbatas kata-kata...“Penggalan syair lagu ini, harus diakui tentunya juga menjadi bagian dari kehidupan kita. Bahkan ada istilah yang mengatakan, "Karena berbicara tidak membayar maka orang sering berbicara sesuka hatinya“. Ini juga suatu realita yang tidak bisa kita pungkiri seringkali terjadi dalam kehidupan kita dan sekeliling kita. Lalu yang menjadi perenungan bagi kita saat ini adalah, „Apakah benar bahwa kaum perempuan sangat dekat dengan identik keberadaannya dengan gosip, yang nota bene maknanya bertendensi negatif?“ Inilah yang akan kita diskusikan dalam PA saat ini.
PENJELASAN NAS
Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.
Nas ini sebenarnya merupakan bagian dari perikop yang berjudul, „Pendengar atau pelaku Firman“ (1:19-27). Salah satu ciri orang yang hidup di dalam Tuhan, adalah cepat untuk mendengar tetapi lambat untuk berkata-kata (ay.19). Seseorang yang sudah mendengar firman, diajak kepada suatu tingkatan kualitas yang lebih tinggi lagi yaitu menjadi pelaku firman. Ketika firman yang didengar dilakukan, maka di situlah pelaku menjadi garam dan terang serta saluran berkat bagi orang lain. Lalu mengapa Yakobus mengajak kita untuk lambat berkata-kata? Apakah salah jika berkata-kata menyampaikan Firman dan Kebenaran itu? Tentu saja bukan itu yang dimaksudkan oleh Yakobus. Yang menjadi persoalan pokok adalah perlunya pengendalian diri (mengekang) terhadap apa yang akan disampaikan. Sehingga apa yang diucapkan lidah kita, menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan bagi Tuhan. Orang seperti inilah orang yang beribadah.
PEREMPUAN DAN GOSIP
Menurut KUBI, gosip berarti: obrolan tentang orang-orang lain, cerita negatif tentang seseorang, pergunjingan, mengunjingkan orang lain, mendesas-desuskan.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa gosip adalah membicarakan orang lain tanpa sepengetahuan orang itu. Biasanya gosip berisi rincian pembicaraan yang bersifat pribadi dan negatif, yang menempatkan orang yang menjadi obyek gosip dalam posisi yang buruk. “Ah, kami tidak sedang membicarakan skandal orang lain, kok!” begitu sanggah kita. Namun tetap saja kata-kata kita yang sia-sia dapat menimbulkan luka di hati orang lain.
Hal Yang Sangat Buruk Tentang Gosip
Alkitab menyebutkan pembicaraan yang sia-sia ini sederhana saja: dosa. Bila kita masih menganggap gosip sebagai dosa kecil, coba kita lihat teman-temannya: Roma 1:29-30 menyatakan gosip sebagai pelanggaran, dengan kategori yang sama seperti “kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, kedengkian, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.” Apapun yang setingkat dengan pembunuhan dan kedengkian pastilah memiliki kuasa merusak yang serius!
Gosip sangat merusak hubungan. Gosip “menceraikan sahabat yang karib” (Amsal 16:28), menimbulkan permusuhan, kemarahan, dan kepahitan. Jika kita melihat suatu komunitas Kristen yang dipenuhi dengan gosip, maka kita dapat melihat keluarga-keluarga yang berantakan, penuh dengan masalah dan saling curiga satu dengan yang lain.
Semakin Rinci Isinya, Semakin Buruk Jadinya
Membicarakan orang lain pasti akan mendorong sikap membenarkan diri sendiri. Gosip itu ibarat anggur beracun, di balik kulit luar yang menggoda berupa perhatian kepada sesama, di dalamnya terdapat racun egoisme. Dengan atau tanpa kita sadari, kita sering membocorkan rahasia atau kesalahan orang lain untuk keuntungan kita sendiri, meskipun kita bersikeras bahwa kita melakukannya untuk menolong orang itu. Dengan bergosip, kita bukan hanya mencoba menunjukkan bahwa kita “tahu segalanya”, namun kita juga menyatakan secara tidak langsung bahwa kita lebih baik ketimbang orang lain yang kita gosipkan itu.
Di sinilah kita melihat godaan yang kuat untuk bergosip: Ketika kita bergosip, kita merasa lebih tinggi, lebih hebat daripada orang lain. Apalagi bila kita membungkusnya dalam rupa suatu pertemuan doa, di mana kita terdorong untuk “memberi perhatian yang lebih dalam terhadap seorang saudara”, kita merasa mendapatkan kepuasan sebagai orang yang “lebih rohani” daripada orang lain, padahal kepuasan sesaat seperti itu sungguh merupakan sikap yang buruk bagi diri kita sendiri maupun bagi gereja.
Tips Menghindari Gosip
Dengan bergosip, kita sebenarnya sedang menunjukkan bahwa kita adalah orang berdosa yang sedang menipu diri sendiri dan tidak cukup dewasa untuk dapat dipercaya dalam menjaga kerahasiaan orang lain. Kita tidak menaati firman Allah dan merusak tubuh-Nya. Kita tidak perlu terjerat ke dalam pencobaan ini. Berikut adalah tips yang mudah-mudahan dapat membantu kita.
1.Kenalilah gosip sebagaimana adanya.
Kita harus setuju dengan apa yang dikatakan Alkitab tentang gosip, yakni sebagai dosa. Ketika kita membicarakan hal-hal yang buruk tentang orang lain, dapat dipastikan bahwa tindakan kita itu salah. Kecuali bila hal itu memang diperlukan guna membeberkan semuanya, misalnya dalam melaporkan suatu kejahatan atau memberitahu orangtua tentang perilaku buruk anaknya. Bila selama ini kita selalu tergoda untuk bergosip, berhentilah mencari pembenaran. Izinkanlah Roh Kudus menyadarkan dan membawa kita kepada pertobatan.
2.Pahamilah betapa luasnya kerusakan yang ditimbulkan oleh gosip.
“Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar… sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.” Demikian peringatan dari Yakobus kepada gereja Tuhan (Yakobus 3:5-6). Sesuatu yang pada awalnya tampak tidak berbahaya itu, sebenarnya merupakan virus mematikan yang membahayakan kesehatan tubuh Kristus. Bila kita peduli tentang kesatuan di dalam gereja sebagaimana yang dilakukan Tuhan (Yohanes 17:20-21), maka kita akan selalu berusaha menghindari diri kita dari membicarakan hal yang sia-sia.
3.Dapatkan kembali kuasa perkataan Anda untuk menguatkan dan membangun orang lain.
Yakobus 3:2-4 mengajar kita bahwa ibarat kemudi kapal, lidah yang kecil dapat mengarahkan keseluruhan hidup kita kepada kehidupan atau kematian. Bila kita menyadari bahwa perkataan kita memiliki kuasa yang besar untuk melakukan hal yang baik maupun yang jahat, tentu kita tidak lagi akan meremehkan bahaya gosip, dan kita akan mulai memakai kata-kata kita hanya untuk membangun orang lain.
4.Bila Anda sedang mendengarkan gosip dari lawan bicara Anda, maka gantikanlah gosipnya itu dengan pujian yang baik.
Gantikanlah kata-kata yang menyakitkan dengan simpati yang murni. Gantikanlah laporan jahat yang Anda terima dengan suatu pesan positif tentang orang yang sedang digosipkan itu. Dengan begitu, Anda sedang menelanjangi dosa gosip, dan hal itu dapat meluruskan motivasi si penggosip dan membawanya kepada pertobatan dan pendamaian. I Petrus 4:8 mengingatkan kita, “Kasih menutupi banyak sekali dosa.”
Dengan menghindari dosa gosip, berarti kita sedang membangun diri sendiri dan orang lain, dan kita akan menemukan bahwa hanya Allah yang dapat memuaskan kebutuhan kita, bukan dengan menjadi manusia super, yang merasa lebih baik dibandingkan orang lain. Juga, kita akan menemukan sukacita dalam menggunakan kata-kata yang membawa kehidupan bagi tubuh Kristus.
PENUTUP
Pepatah Inggris berkata, ‘Silence is Golden’ (diam itu emas). Kita tentu saja tidak harus terlebih dahulu menjadi bisu untuk bisa mencapai kualitas emas itu. Namun kita harus berkhidmat dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam berkata-kata dan mendengar. Sebelum mengatakan sesuatu ingatlah: ‘pikirkan terlebih dahulu, rasakan terlebih dahulu’ barulah berkata-kata. Sehingga apa yang terucap nantinya tidak menjadi sia-sia, dan kita pun tidak menyesal karenanya. Apa yang ada dalam pikiran dan hati adalah milik kita semata, namun isi hati dan pikiran yang sudah terungkap melalui kata-kata bukan lagi milik kita melainkan milik orang lain. Apa yang terucap tidak akan pernah dapat ditarik kembali sekali pun dengan kata maaf. Ada seorang yang menebarkan sekarung kapas. Kapas terbang ditiup angin. Pertanyaan bisakah kapas dikumpulkan secara utuh kembali? Jawabnya tentu tidak bisa. Begitulah kata-kata yang sudah terucap tidak bisa ditarik kembali. Karena itu berhati-hatilah. Amin!
Kekristenan bukanlah pengecut melainkan mampu menghadapi kenyataan hidup. Hal ini tampak dari pernyataan Yesus kepada Bapa di Surga. Yesus tidak menginginkan orang percaya dipindahkan dari dunia yang penuh pergumulan ini kepada dunia lain yang tidak punya pergumulan. Yesus meminta agar orang percaya itu tetap tinggal dan berada di dalam dunia untuk menyelesaikan seluruh pergumulan hidup itu dengan mengadanlak kekuatan dari Tuhan Yesus sendiri.
Permintaan Yesus sangat sederhana sekali, yakni: lindungilah mereka. Yesus meminta agar Bapa Surgawi melindungi setiap orang yang percaya kepadaNya. Perlindungan jauh lebih mahal harganya daripada lari dari kenyataan hidup. Perlindungan memberikan keberanian dalam menghadapi kenyataan hidup di dunia ini. Perlindungan akan memberikan kematangan iman dan pertumbuhan iman ke arah Kristus.
Karena itu, janganlah meminta agar penderitaan, masalah dan pergumulan lari daripada kita melainkan mintalah penyertaan Tuhan ketika kita menghadapi penderitaan, pergumulan hidup di dunia ini. Jangan lari dari kenyataan, tetapi hadapilah dengan kekuatan dari Tuhan.
Selamat beraktifitas.
Nada Hupangido anso diparuar Damang halahi sian portibi on tapi on do na Hupangido, anso dijagohon Damang halahi maradopkon si Jahat i.
Johannes 17 : 15
Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.
Yohanes 17 : 15
BEAM No. 351:1-2
1. Debata tontong donganku bo tudia au muse
ia do hangoluanku na pature sasude
muda di sapai Ia ho, alusan ku ma tu ho :
Debata dongan ku do.
2. Di bagasan hasusaan dipasonangan Ia au
Muda dumpang parmaraan dumpang tolonganNa au
Muda di sapai ho, alusanku ma tu ho :
Debata dongan ku do.
Huayak dosami songon alogo, salamu Hupaorot songon ombun na dihabangkon ni alogo. Hara ni i mulak ma ho tu Au, angke Au do Sipaluamu.
Jesaya 44 : 22
Aku telah menghapus segala dosa pemberontakanmu seperti kabut diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup. Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku telah menebus engkau!.
Yesaya 44 : 22
Ende No. 304 : 2+4
2. Dosamu di porsan di Golgota i
Disi do digarar sude utangmi,
disi do digarar sude utangmi
4. Ro ma ho mangholos pangalahomi
Tu Yesus pasahat sude arsakmi,
tu Yesus pasahat sude arsakmi