Antong marsijagitan ma hamu sama hamu, songon panjagit ni Kristus di hamu sude laho pasangapkon Debata
Rom 15 : 7
Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.
Roma 15 : 7
Menerima orang lain adalah perkara mudah tapi sulit.Mudah jika yang kita terima itu berkenan bagi hati kita. Namun sulit jika yang bersangkutan bukan orang yang kita sukai. Firman Tuhan ini mengajak kita agar mampu menerima seorang akan yang lain. Mengapa? Karena dengan menerima seorang akan yang lain kita akan memperoleh kemuliaan Allah sama seperti Kristus telah menerima kita dalam keberdosaan kita. Menerima seorang akan yang lain akan mengesampingkan keberdosaan orang lain di hati kita. Kita harus mampu membuang jauh-jauh kesalahan orang lain yang dilakukannya kepada kita. Kita membuang jauh-jauh rasa sakit dan kebencian yang dilakukannya bagi kita, dan kita harus menerima dia apa adanya agar kita memperoleh kemuliaan Allah.
Sungguh pahit dan sulit. Namun bersama Yesus kita pasti dimampukan melakukan itu. Menerima seorang akan yang lain, membongkar rasa benci menjadi kasih. Menerima seorang akan yang lain akan merajuk rasa kasih yang mendalam bagi orang yang kita tidak sukai.
Marilah belajar meniru Yesus mengasihi orang yang berdosa, mengasihi orang yang membenciNya agar mereka juga beroleh kehidupan kekal sama seprti kita telah menerima kehidupan yang kekal itu.
Tapi anggo taringot tu ho Timoteus, marsitiopan tu angka pangajaran na tutu i ma ho, na dung niajarkon tu ho jana na nihaporsayaanmu situtu; harana diboto ho do sanga ise angka gurumu.
2 Timoteus 3 : 14
Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.
2 Timotius 3 : 14
Pegangan hidup merupakan sesuatu yang dicari orang. Apakah status kita dalam pergaulan sehari-hari sangat ditentukan dengan pegangan hidup seseorang. Ada banyak berpegang pada keberhasilan, harta dan lain sebagainya. Namun, Paulus memberikan arahan yang berbeda kepada anak rohaninya Timotius. Paulu mengajak agar Timotius tetap berpegang pada kebenaran yang diterima dari orang-orang yang telah mengajarkannya kepadanya. Berpegang kepada kebenaran merupakan dasar yang kuat dalam menjalani kehidupan ini. Sebab ada banyak kebenaran di dunia ini, namun tidak semua kebenaran itu memberikan hidup yang kekal. Hanya ada satu kebenaran yang mampu memberikan hidup yakni Yesus Kristus. Paulus juga menasihatkan Timotius agar tetap mengingat orang-orang yang telah berjasa dalam mengajarkan kebenaran itu kepadanya. Sebab dengan mengingat orang yang telah mengajarkan kebenaran itu kepada kita, maka kita akan berusaha meniru mereka untuk melanjutkan dan mengajarkan kebenaran itu kepada orang lain juga.
BEAM No.233 : 1
Bahat dope guruhononmu do, anso tudos dohot Tuhanmu ho
Hatigoranmu laing na hurang i, so tuk dope haporsayaanmi
Dirimu do dihaholongi ho, donganmu pe laing so di ingot ho
KEBANGKITAN KRISTUS MEMULIHKAN WAJAH KEMANUSIAAN (bdk. Ef.1:7-9)
Saudara-saudari Umat Kristen di manapun berada,
Salam-sejahtera Dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus!
Di tengah-tengah berbagai tantangan terhadap kehidupan, umat Kristen Indonesia dan sedunia kembali memasuki masa raya Paskah, hari peringatan Kebangkitan Kristus.
Pesan Paskah kali ini mengusung tema, “Kebangkitan Kristus Memulihkan Wajah Kemanusiaan” (bdk.Ef.1:7-9). Tema ini menginspirasi dan memotivasi kita untuk memusatkan pemikiran dan perhatian terhadap makna kebangkitan Kristus pada masa kini, khususnya ketika wajah kemanusiaan ditantang oleh berbagai peristiwa yang merusaknya.
Paskah adalah dasar dan pilar yang kokoh yang di atasnya iman Kristen dibangun, sebagaimana secara sangat jelas diungkapkan oleh Rasul Paulus:”Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sia juga kepercayaan kamu.”(I Kor.15:14). Alhasil, kebangkitan Kristus sekaligus memberikan keabsyahan bagi terciptanya suatu kemanusiaan baru, yang prototipenya terlihat di dalam persekutuan orang beriman yaitu gereja. Paskah memerdekakan kita dari kuk perbudakan yaitu kehidupan yang dikuasai oleh keraguan, kecemasan dan ketakutan dan sekaligus menghentar kita kepada kehidupan penuh pengharapan. Kebangkitan Kristus, dengan demikian memberikan kekuatan baru kepada kita untuk bersaksi dan melayani di tengah-tengah masyarakat dan komunitas kemanusiaan.
Kita meyakini bahwa semangat Paskah selalu memberikan rasa optimisme di tengah berbagai pesimisme dan keputusasaan. Dunia kita, tidak terkecuali Indonesia memang sedang menghadapi rupa-rupa kekerasan. Wajah kemanusiaan kita berkali-kali ditampar oleh ketidakmampuan kita untuk hidup berdampingan secara damai. Perbedaan suku, agama, ras, dan golongan, ketimbang diterima sebagai kekayaan untuk saling melengkapkan, justru dipandang sebagai kesalahan, bahkan dosa. Manusia menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Dalam keadaan seperti ini, Negara sepertinya tidak berdaya. Alih-alih mengayomi warganya dengan menegakkan keadilan dan kebenaran, Negara justru tidak hadir dalam peristiwa-peristiwa kekerasan yang sangat mencoreng wajah kemanusiaan kita. Maka lengkaplah krisis yang dialami oleh bangsa kita: sosial-politik, sosial-ekomomi, moral, bahkan identitas. Jikalau krisis ini tidak ditangani secara baik dan bertanggungjawab, maka bukan tidak mungkin bangsa dan negara kita akan semakin rapuh dan tidak mampu bertahan di depan mahkamah sejarah.
Kebangkitan Kristus, yang merupakan penegasan terhadap karya penebusan-Nya yang mengampuni dosa, menurut kasih setia-Nya (Ef.1:7) memberikan harapan baru guna memulihkan wajah kemanusiaan yang dirusak itu. Citra Allah (Imago Dei) yang terpecah-belah karena kekerasan dosa (bdk.Kej.1:26,27) dipulihkan oleh kuasa Kebangkitan itu. Itulah pula dasar optimisme kita, ketika di tengah berbagai tantangan-tantangan itu kita masih melihat terang. Masih banyak orang yang mendambakan, bahkan memperjuangkan pulihnya kembali wajah kemanusiaan kita, kendati untuk itu tidak jarang harga yang tinggi harus dibayar berupa kehidupan mereka sendiri. Gereja-gereja sedunia yang tergabung di dalam Dewan Gereja-gereja Sedunia (WCC) mencanangkan tahun 2001-2010 sebagai dekade mengatasi kekerasan (Decade to Overcome Violence). Ketika kita meninggalkan tahun 2010 tersebut, maka gereja-gereja sedunia, termasuk gereja-gereja di Indonesia dipanggil untuk melakukan evaluasi, bahkan pengujian diri (censura morum) benarkah kekerasan telah meninggalkan kehidupan kita? Ternyata belum. Namun Paskah mengingatkan kita agar tidak berputus asa. Kendati kekerasan masih melanda masyarakat kita, kita selalu dikuatkan dan diberi pengharapan untuk mampu mengatasinya.
Maka, dalam rangka menyambut Paskah tahun 2011 ini, kami mengajak semua orang beriman untuk semakin mengejawantahkan “Kebaikan Allah” (bdk.Mz. 145:9a) di dalam kehidupan sehari-hari, dan bahwa Ia membenci kekerasan. Hal-hal berikut kiranya mendapat perhatian kita:
a.
Perayaan Paskah hendaknya menjadi momentum bagi gereja-gereja dan umat Kristen untuk semakin mempererat persekutuan, tanpa memandang denominasi dalam arak-arakan oikoumenis, agar fungsi gereja sebagai garam dan terang dapat diimplementasikan secara optimal di tengah-tengah tantangan yang mendewa-dewakan kekerasan ini. Gereja-gereja dan umat Kristen hendaknya secara proaktif menyumbang bagi pemulihan wajah kemanusiaan melalui berbagai kesaksian dan pelayanannya.
b.
Semangat Paskah hendaknya mendorong sikap inklusif di antara sesama manusia yang wujudnya terlihat antara lain dalam hubungan dan kerja-sama lintas-agama yang lebih mengakar. Dengan demikian, gereja-gereja dan umat Kristen Indonesia akan memberikan smumbangan besar bagi perawatan kemajemukan bangsa kita, tidak bersifat diskriminatif, dan bersama-sama membangun keadaban publik yang mencerminkan keadilan, kebenaran dan kesejahteraan bersama.
c.
Perayaan Paskah hendaknya mampu mendorong gereja dan umat Kristen untuk lebih mewujudkan keberpihakan kepada kemanusiaan dengan berbagai pergumulannya.
Komitmen untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, guna memberi perspektif masa depan yang baru bagi pemulihan wajah kemanusiaan perlu menjadi fokus perhatian dan agenda kegiatan pelayanan dan kesaksian gereja-gereja.
Pesan Paskah ini kami akhiri dengan menggarisbawahi Firman Allah: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!....hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Rm.12:17-18)
Sude na hupardokkoni on nada asing sian na dung nipaboa ni angka panurirang hian bope si Musa;
B.Ni.Rasul 26 :22b
Dan apa yang kuberitakan itu tidak lain dari pada yang sebelumnya telah diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa,
B.Ni.Rasul 26 : 22b
Ketika kita hendak menyampaikan sebuah kebenaran maupun berita diperlukan sebuah otoritas berita tersebut. Otoritas dimaksud digunakan untuk meyakinkan pendengar berita agar mereka percaya. Jika otoritas pemberitaan kita tidak kuat maka keyakinan orang akan berita yang kita sampaikan pasti kurang. Demikianlah penulis Kisah Para Rasul menuliskan ayat harian ini. Paulus menyatakan bahwa otoritas pemberitaannya itu sebelumnya telah diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa. Paulus menghunjuk tokoh Perjanjian Lama agar para pendengarnya percaya dan yakin akan pemberitaannya. Hendaklah kita meniru hal ini agar setiap berita yang kita sampaikan memiliki otoritas Ilahi agar setiap perkataan yang kita beritakan dapat dimengerti setaip pendengarnya.
BEAM No.160 : 2 -- Na Ra Manjagit Tuku i
Jamita ni Tuhanta do podang na tajom i, na gabe siparmonang do na tong mamake i
Anak ni Debata, tongtong haposi i, parhosom ni sibolis i mantul dibaen i