itab Mazmur ibarat sumur yang menghasilkan air jernih di padang gurun kehidupan yang penuh dengan ancaman, kegelisahan, kekecewaan, bahkan perasaan putus asa oleh lingkungan yang tak bersahabat. Kitab Mazmur senantiasa memancarkan air segar yang dapat memuaskan rasa dahaga, memberi kelegaan dan kekuatan baru bagi para musafir yang mencari kebahagiaan dengan satu keyakinan, di suatu tempat kebahagiaan itu akan dimiliki karena pada waktunya jalan keluar dari segala persoalan hidupnya akan ditemukan juga. Namun, sama seperti Tuhan Yesus yang meminta air kepada seorang perempuan Samaria (Yoh. 4), dibutuhkan sebuah timba untuk mengambil air segar dari dalam sumur itu. Aa beberapa merek dan bentuk “timba” yang tersedia untuk mengambil air segar dari sumur Mazmur 69 ini; kita bebas memilih sesuai dengan kebutuhan kita.
1.“Berseru dalam Kepasrahan!”
Ada banyak orang yang berusaha untuk menyelamatkan diri dari ancaman bahaya yang dihadapinya, namun semakin dia berusaha dengan segala cara, usahanya tak menghasilkan apa-apa, bahkan semakin dalam ia terperosok ke dalam keputusasaan. Ada kalanya kita harus belajar mengikuti Pemazmur dalam Mazmur 69 ini, mengambil timba dengan merek “Berseru dalam Kepasrahan.” Pemazmur berhenti melakukan usaha apa pun, dan membiarkan dirinya seperti orang bodoh yang tinggal menunggu ajal, dia diam saja seperti orang tak berdaya. Pemazmur hanya mampu berseru dalam kepasrahan kepada Tuhan. “Berseru dalam kepasrahan” itulah timba yang untuk memperoleh air segar yang mengusir rasa putus asa dari dalam hatinya, dan menumbuhkan tunas pengharapan akan pertolongan Tuhan yang segera akan membuahkan keselamatan.
Berhenti mengandalkan usaha dan pikiran kadang-kadang dianggap tidak rasional pada zaman ini. Memang. Tapi, untuk mengenal kasih dan kuasa Tuhan, kita harus berseru dalam kepasrahan: “Selamatkanlah aku, ya Allah!” Selama kita merasa sanggup menyelesaikan persoalan kita, pada saat itu kita juga merasa tidak membutuhkan pertolongan Tuhan. Hanya orang yang merasa lemah, dan terancam gagal saja yang sungguh-sungguh berseru memohon pertolongan Tuhan. Pemazmur dengan sadar dan penuh perhitungan akal budi (jadi bukan irrasional), menyimpulkan bahwa kalau Tuhan tidak menolongnya, memang dia pasti akan mati. Sebab, seperti seseorang yang tenggelam ke dalam rawa berlumpur (Batak: gambo lisop) akan semakin tenggelam lebih dalam lagi oleh setiap gerakan yang dilakukannya, oleh karena itu dia harus berhenti bergerak, diam saja menunggu pertolongan dating. Ada kalanya orang percaya, yang benar-benar pasrah kepada kasih dan kuasa Tuhan membiarkan saja “gelombang pasang” (ay. 3) menghanyutkannya. Orang percaya sungguh yakin, bahwa tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkannya dari gelombang pasang, sehingga dia tidak akan hanyut tanpa seizing Tuhan (baca: Yes. 59:1).
2.“Berseru dalam Keyakinan!”
Pasrah tidak harus berarti negatip. Pasrah harus dilihat sebagai sikap iman yang penuh keyakinan akan kasih dan kuasa Tuhan. Pasrah yang postitip ini membuat seseorang tak berhenti berharap dan berseru (baca: berdoa) dalam keterbukaan untuk mengungkapkan segala perasaan dan pengalaman yang menerpa hidupnya. “Lesu aku karena berseru-seru.” “Kerongkonganku kering.” “Mataku nyeri karena mengharapkan Tuhan.” Ketiga ungkapan perasaan dan pengalaman itu menunjukkan keterbukaan Pemazmur, tidak ada yang tidak diungkapkannya. Mengapa semua itu harus diungkapkan? Apakah Tuhan tidak tahu apa yang dialami oleh umat-Nya? Sungguh, Tuhan tahu semua yang tejadi pada umat-Nya, tidak ada yang tidak diketahuinya, sampai ke dalam lubuk hati kita yang terdalam. Tetapi, Tuhan juga menghargai keterbukaan orang percaya, sebagai ungkapan betapa besar komitmen orang itu untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Bukankah Yesus juga pernah bertanya kepada seorang yang akan disembuhkan-Nya: “Apakah engkau mau disembuhkan?” (Batak:”Naeng malum ho?”).
Berseru dalam keyakinan adalah berarti bahwa ketika kita meminta pertolongan Tuhan dan belas kasihan-Nya, maka pada saat yang sama kita harus benar-benar jujur pada diri kita, dan tidak berusaha untuk membela diri atas penderitaan yang kita alami. Bahkan jangan sampai kita memohon pertolongan Tuhan, tetapi pada saat yang sama kita mencari “kambing hitam” atas persoalan yang kita hadapi. Pemazmur pada ayat 4-5 memang membeberkan apa yang sedang mengancam keselamatannya, bahwa ada banyak musuh yang menginginkan kematiannya, ada banyak yang memfitnahnya, ada banyak bahkan tak terhitung musuh yang mengintai nyawanya. Tetapi, satu hal yang menarik adalah Pemazmur sama sekali tidak bicra tentang siapa orang dibalik penderitaannya, tak seorangpun yang dituduhnya, karena sesungguhnya nama-nama orang itu ada “di kantong” Tuhan. Tuhan mengenal persis siapa yang membuat orang percaya itu menderita. Oleh karena itu, yang dibutuhkan Pemazmur adalah mengungkapkan secara terbuka perasaannya dan semua yang dialaminya, selanjutnya dia yakin Tuhan akan mengurus perkaranya satu persatu.
3.“Berseru dalam Kerendahan Hati!”
Merek timba yang ketiga adalah “Berseru dalam Kerendahan Hati!” Timba yang satu ini menolong Pemazmur untuk melakukan introspeksi diri, di mana ia secara terbuka mengaku bahwa mungkin dia tidak sepenuhnya bersih dari kesalahan atau kelalaian yang menyebabkan persoalan-persoalan itu menghimpitnya dari berbagai arah. Orang percaya tidak harus selalu berarti orang sempurna, walaupun orang percaya pada akhirnya harus bertumbuh menuju kesempurnaan hidup seperti Yesus Kristus yang tak bercacat. Namun, orang percaya tetap membuka diri atas koreksi dan teguran. Orang percaya tidak pernah alergi dengan kritik dan perubahan. Orang percaya selalu siap berubah.
Orang percaya sama sekali tidak pernah berpikir untuk dirinya sendiri. Orang percaya benar-benar melakukan self-evaluation (koreksi diri) yang cermat dan tidak mau disebut egois. Oleh karena itu Pemazmur tidak mau orang-orang yang percaya dan berharap kepada Tuhan menjadi malu karena kesalahannya. Pemazmur sungguh tidak mau menjadi batu sandungan bagi saudara-saudaranya seiman. Orang percaya benar-benar menjaga nama baik teman sepersekutuannya. Orang percaya bertanggungjawab untuk mencegah segala bentuk pencemaran terhadap nama baik Gerejanya. Sehingga Pemazmur secara terbuka mengatakan “janganlah kena noda-noda …orang-orang yang mencari Engkau, ya Tuhan, Allah” (ay. 7). Artinya, orang percaya dengan rendah hati mengungkapkan kerinduannya akan pertolongan Tuhan, sambil menjaga kepentingan dan nama baik orang lain.
4.“Berseru dalam Kesetiaan!”
Pada akhirnya Pemazmur meperkenalkan timba merek lain, yakni “Berseru dalam Kesetiaan!” Apa yang terjadi dalam hidupnya adalah konsekuensi dari kesetiaannya kepada Tuhan (ay. 8-14). Pemazmur tidak segan-segan mengatakan: “Sebab oleh karena Engkaulah aku menanggung cela, noda meliputi mukaku…” Apakah Pemazmur bermaksud untuk membanggakan pelayanan yang telah dilakukannya? Sama sekali tidak. Sebab, yang ingin diungkapkannya adalah bahwa semua penderitaan dan ancaman itu datang oleh karena ia setia kepada Tuhan. Kepedulian dan kesungguhannya beribadah dan memperhatikan apa yang dibutuhkan Gereja, itulah yang menyebabkan orang lain mencelanya dan memburuk-burukkan namanya (ay. 8), bahkan mendiskreditkannya dari lingkungan keluarga (ayat 9).Memang, Pemazmur tidak menyebutkan apa-apa tentang apa saja yang sudah dilakukannya untuk Tuhan dan Jemaat. Hal itu dianggap tidak etis, dan itulah buktinya bahwa Pemazmur tidak bermaksud untuk bermegah dengan pelayanan dan pengorbanan yang sudah dilakukannya.
Saat ini sudah banyak orang yang tidak segan-segan membeberkan apa saja yang pernah diberikannya untuk Gereja. Apalagi ketika seseorang merasa kurang dihargai, bisa jadi orang yang merasa sudah berbuat banyak itu mengatakan: “tanpa aku, jemaat ini tidak ada apa-apanya!” Atau melah menghardik pendeta dengan keras: “Kami yang memberi anda makan!”Orang percaya tidak akan mengatakan hal seperti itu. Sebab, apa pun yang dilakukannya, dan sebesar apa pun jasanya bagi jemaat, semua itu dilakukannya dalam kasih, dan untuk Tuhan. Apa yang diberikan untuk Tuhan sama sekali tidak boleh diambil lagi, seperti nyanyian persembahan kita: “Nasa na nilehonMi…” Oleh karena itu, orang percaya akan selalu bertekun berdoa dan bahkan berpuasa. Walaupun orang percaya sudah berpuasa untuk tidak menghakimi, berpuasa untuk tidak membanggakan jasa-jasanya,berpuasa untuk tidak membela diri, dan berpuasa dari membalaskan kejahatan orang lain, namun penderitaan dan cibiran orang masih juga tidak terbendung. Namun, orang percaya tidak pernah jemu melayani, tidak pamrih melakukan yang baik dan benar, senantiasa setia beribadah dan melayani Tuhan. Mengapa orang percaya selalu berseru dalam kesetiaan? Karena, Tuhan dengan kasih setia-Nya adalah Penolong yang setia (ay. 14).
Singkatnya, orang Kristen yang benar tidak akan menyerah terhadap tekanan apa pun, dan tak gentar menghadapi ancaman nyawa sekalipun. Orang percaya selalu berseru dalam kepasrahan, keyakinan, kerendahan hati, dan kesetiaan. Sebab, orang percaya sepenuhnya yakin akan kasih dan kuasa Tuhan yang tidak akan pernah terlambat memberikan pertolongan. Orang percaya tidak perlu lari dari masalah, sebaliknya akan menghadapi setiap masalah dengan tegar dan penuh pengharapan, bahwa pada waktunya Tuhan akan memahkotainya kemenangan dan sukacita yang tak ternilai. Penderitaan bukanlah akhir segala-galanya, penderitaan dapat menjadi jalan Tuhan untuk menunjukkan kasih dan kuasa-Nya yang tak terjangkau dan tak terbendung oleh apa pun. Selamat menjadi orang Kristen yang tangguh! Amin.
esungguhnya, sukacita itu merupakan kebutuhan yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia sepanjang perjalanan sejarah. Tak seorang pun dari antara manusia di dunia ini yang mendambakan dukacita sekalipun mau tidak mau duka cita itu akan datang mengganggu hidupnya. Sebaliknya, manusia mengarahkan seluruh energy, waktu materi dan pikirannya bahkan segenap hidupnya untuk menggapai sukacita itu sendiri sekalipun tidak semua dari antara mereka yang dapat menikmatinya.
Sesungguhnya bahwa pada penciptaan, Tuhan sendiri telah menempatkan manusia yang Ia ciptakan itu dalam wadah dan suasana yang penuh dengan sukacita yakni di taman Eden (Kej. 1:31; 2:8,15). Sempurnalah sukacita itu karena hidup tanpa perkelahian, tanpa tipu daya, tanpa kelaparan, sebaliknya semua ciptaan Tuhan yang ada di dalamnya hidup dalam korelasi yang rukun dan damai serta berkecukupan. Tidak ada persoalan, tidak ada tangis dan ratapan, tidak ada rasa lelah dan rasa sakit. Segala aspek kehidupan itu memang sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhanagar kehidupan benar-benar menjadi kenikmatan yang luar biasa. Semuanya itu telah menghantar kehidupan manusia dan segala ciptaan berada pada kondisi yang penuh dengan sukacita.
Namun sesungguhnya, ketika manusia jatuh ke dalam dosa (Kej 3), ketika manusia ditakhlukkan oleh iblis, maka murkalah Allah. Allah mengusir manusia ciptaanNya itu dari taman Eden, taman yang penuh dengan sukacita itu. Itu berarti kehidupan manusia telah keluar dari kehidupan sukacita dan memasuki suasana yang baru yakni keidupan yang penuh dengan kekelaman. Tuhan sendiri melalui malaikatNy telah menjaga ketat apa yang disebut pohon kehidupan. Itu berarti bahawa hidup manusia itu tidak akan dapat kembali memasuki taman Eden, dengan kata lain, bahwa manusia itu tidak diperbolehkan lagi untuk bersatu dengan sukacita itu. Maka demikianlah hidup manusia itu berada pada perjalanan yang penuh dengan tantangan “multi dimensi”.
Selain rusaknya persekutuan dengan Allah, rusak pulalah persekutuan dengan sesama manusia. Menurut cerita Alkitab, disharmonisasi, perkelahian atau persengketaan telah diawali oleh pembunuhan Kain terhadap adiknya Habel (Kej 4). Kehidupan seperti in pasti menghilangkan sukcita bersama. Demikianlah perjalanan hidup manusia itu, bukan saja menghadapi konflik horizontal tetapi juga harus menghadapi bencana alam dan kelaparan sebagai konsekwensi logis daripada dosa dan kesalahan. Kita dapat bandingkan misalnya ketika bencana alam air bah meluluhlantahkan kehidupan manusia saat itu, hanya satu keluarga Nuh yang tersisa karena pertolongan kasih Tuhan (Kej 7-8). Keluarga Yakub juga harus mengalami kelaparan akibat bencana alam berupa musim kemarau yang berkepanjangan sehingga mereka harus pindah dan hidup di tanah orang (Mesir) (Kej 46), yang pada akhirnya keturunan mereka menjadi kaum jajahan yang tertindas (Kel 1). Tentu hal ini juga menghempaskan sukacita itu. Kemudian satu bangsa lahir melalui Yakub yakni bangsa Israel, suatu bangsa yang degil dan keras kepala dimana pada saat yang ditentukan oleh Tuhan mereka harus menerima hukuman dimana sukacita semakin jauh daripadanya. Mereka terbuang ke Babel.
2.Kebersamaan dalam sukacita
Sesungguhnya, perikop ini berkumandang pada kehidupan umat Israel setelah Allah menyelamatkan meraka dari penghukuman di Babel. Dengan demikian, bahwa konteks ‘sukacita’ disini ialah suacita usai penghakiman Allah. Maka makna yang dapat kita petik ialah, bahwa penghakiman Allah bukanlah akhir perjalanan, dengan kata lain bahwa sesungguhnya tujuanpemeliharaan bahkan penghakiman Allah ialah sukacita itu sendiri.
Jika penghakiman Allah mendatangkan dukacita maka sukacita menjadi buah daripada keselamatan yang diberikan oleh Tuhan. Artinya sukacita merupakan anugerah Tuhan. Keselamatan itu tidak diberikan hanya kepada satu orang melainkan kepada umatNya agar seluruh umat benarbenar secara kolektip dapat merasakan sukacita itu. Dalam perikop ini, kebersamaan sukacita itu dihayati di suatu kota yang dijanjikan dan diberikan oleh Tuhan yakni Jerusalem. Suka cita bukan di negeri orang melainkan di negeri sendiri. Dan semua penghuni negeri dapat menikmati sukacita itu tanpa ada diskriminasi.
Kemudian,umat Israel akan menjadi “pintu gerbang” dimana segala bangsa akan bersukacita. Kenapa? Karena visi dan missi Allah bersifat universal bahwa sukacita itu adalah milik dan berkat untuk semua.
Bagaimana sukacita itu dapat dirasakan? Sukacita yang sesungguhnya hanya dapat dirasakan ketika terjadi harmonisasi komunikasi dan interaksi antara Allah dengan manusia. Persekutuan kedua belah pihak mutlak menjadi landasan sukacita itu. Hal ini jelas, dimana pada perikop ini persekutuan keduabelah phak digambarkan ibarat persekutuan antara seorang ibu dengan bayinya. Sang ibu memberikan nafkah bagi anaknya justru dari dalam dirinya sendiri yaitu ASI. Si bayi juga memiliki ketergantungan penuh terhadap ibunya dimana ia harus digendong. Itu artinya bahwa sesungguhnya manusia itu adalah ibarat seorang bayi di hadapan Tuhan. Apa yang kita lakukan dan dihasilkan oleh perbuatan kitatidak mampu membawa sukacita yangsesungguhnya, karena sukacita yang sesungguhnya itu ada pada dan mengalir dari diri Allah. Maka barang siapa yang hidup dalam persekutuan dengan Allah, niscaya dia akan bersukacita. Jika tidak, maka sukacitanya hanyalah temporer atau sementara.
Umat Israel secara kollektip digambarkan seperti rumput muda yang baru bertumbuh. Dimana sebelumnya umat Israel ibarat rumput yang terpotong lalu layu di dalam kekuasaan penjajahan Bangsa Babel. Tetap keselamatan dari Allah kembali melahirkan umat Israel secara baru dan akan bertumbuh dengan lebat, artinya akan terjadi pembangunan secara holistik (rohani dan jasmani).
3.Suka cita yang temporer
Ada apa dengan sukacita yang temporer. Secara jujur, harus diakui bahwasanya sukacita yang temporer ada di dalam kehidupan kita. Akan tetapi, apa yang dinamakan sukacita temporer jelas tidak akan ‘survive’ (tidak bertahan lama). Misalnya, ketika kita dalam keadaan sehat, beruntung, kenyang, dll, alangkah besarnya sukacita kita. Sebaliknya, ketika kita dalam keadaan sakit,rugi, lapar dll, maka sukacita kita akan surut. Kedua hal ini wajar bagi kita sebagai manusia dan keduanya akan silih berganti kita alami dan rasakan sepanjang nafas kehiduan kita. Oleh karena itu, maka sukacita yang dimaksudkan oleh Tuhan dalam perikop ini bahkan dalam keseluruhan firmannya bukanlah sukacita yang temporer melainkan suka citayang abadi.
4.Suka cita yang abadi
Sukacita yang abadi ialah sukacita yang sekali untuk selamalamanya. Rasul Paulus dalam Filippi 4:4 menekankan sukacita yang abadi. “Always be joyful”, bersukacitalah senantiasa. Sukacita yang abadi itu justru melampaui segala abad, melampaui batas situasi dan kondisi kehidupan. Sukacita yang abadi inilah yang mengatasi sukacita temporer dalam diri manusia. Kemudian, sukacita yang abadi ini jugalah yang mendampingi dan menolong orang percaya dikala ia mengalami banyak pergumulan hidup. Itu sebabnya, setiap orang percaya tidak akan pernah merasa angkuh, sombong ketika ia banyak menikmati sukacita yang temporer. Sebaliknya, setiap orang percaya tidak akan menyerah, frustrasi dan putus asa ketika ia mengalami banyak problema kehidupan.
Kalau begitu, apa sebenarnya sukacita yang abadi itu?
Dalam perikop ini amatlah jelas bahwa sukacita yang abadi dapat diperoleh hanya karena persekutuan dengan Allah, dimana FirmanNya akan seperti air susu ibu senantiasa mengalir ke dalam hati kita menjadi sumber kekuatan, penghiburan dan menjadi pedoman hidup. Firman Allah sesungguhnya terpusat pada Yesus Kristus (Yoh 1:1-14). Yesus Kristus melakukan penebusan satu kali untuk selamalamanya. Maka sukacita yang abadi itu ialah keselamatan dari kuasa kegelapan dan dosa (Yoh 3:16).
Maka setiap orang tidak boleh melupakan penebusan Allah terhadap dirinya sendiri melalui Kristus Yesus. Karena penebusan dan keselamatan dari dosa itulah yang menjadi akar daripada sukacita yang abadi itu. Bahkan lebih dari pada itu, bahwa suka cita yang abadi itu telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan orang-orang percaya. Oleh karenanya, setiap orang percaya hendaklah melangkah dan melaksanakan setiap pekerjaannya di dalam sukacita yang dari pada Tuhan kita Yesus Kristus. Orang yang berbuat, berperilaku, bekerja dan melayani di dalam penuh sukacita maka akanmenambah sukacita bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain.
Seminar Parnership Se-Asia ini merupakan Program Bersama yang dilaksanakan United Evangelism Mission (UEM) Asia. Seminar ini menghadirkan 15 gereja anggota UEM yang berada di wilayah Asia.
Seminar ini bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat persaudaraan di antara seluruh anggota UEM yang berada di Asia, Afrika dan Eropa.
Untuk mengikuti seminar ini, GKPA mengutus dua orang perserta, yakni: Pdt.A.L.Hutasoit,MA (Ephorus) dan Pdt.Ramli SN Harahap (Ka.Biro I GKPA).
B.Kegiatan yang Dilaksanakan
Kegiatan ini dirancang untuk lima hari pertemuan yang dimulai sejak 22 Maret 2011. Ibadah pembukaan dipimpin Pdt.Burju Purba,DPS (Mantan Ephorus HKI). Seusai ibadah, Koordinator UEM Regional Asia, Pdt.Rhani Mercado menyampaikan kata sambutan yang mewakili ibu Sonia Parera-Hummel (Sekretaris Eksekutif UEM untuk Asia). Kemudian dia menjelaskan akan tugas-tugas yang hendak dicapai dalam seminar ini dan bagaimana bentuk pertemuan yang telah dirancang panitia. Panitia juga akan mengadakan “eksposur” ke berbagai lapanang partnership di wilayah Tarutung, Siborongborong, Balige dan P.Siantar.
Seminar ini memberikan banyak masukan dari berbagai nara sumber pada Selasa, 22 Maret 2011, yakni,
1. UEM Evolution: From Foreign Mission to International Communion (Pdt.HM.Girsang--GKPS)
3. UEM as Partnership: Its corporate Identity (Pdt.Rhanie Merchado --- UEM Regional Asia)
Pada Rabu, 23 Maret 2011 dibahas beberapa topik, yakni:
1. What is German in Partnership (Pdt.Matius Barus,MTh -- Ketua Moderamen GBKP)
2. Diskusi Kelompok
3. Pleno Hasil Kelompok
Kemudian pada Kamis, 24 Maret 2011, mengadakan perjalanan eksposur ke 4 daerah, yakni: Tarutung, Siborongborong, Balige, dan P.Siantar.
Pada Jumat, 25 Maret 2011 akan melaksanakan perjalanan Wisata keliling Danau Toba dan pada malam hari akan melaksanakan Culture Night dan penutupan Seminar yang akan dipimpin oleh Pdt.Gomar Gultom,MTh (Sekum PGI)
C.Hasil yang Dicapai
Pertemuan ini menghasilkan beberapa kesepakatan, antara lain:
1.Setiap gereja anggota UEM terus meningkatkan hubungan partnership yang telah ada agar tidak terjadi ketidakharmonisan di dalam hubungan timbale balik.
2.Setiap gereja anggota UEM harus merubah mental, dari mental menerima menjadi mental memberi.
3.Setiap gereja anggota UEM harus mampu memberikan hal-hal yang berguna dalam hubungan partnership, seperti: mengadakan Minggu Partnership di setiap Juni tiap tahunna.
4.Setiap gereja anggota UEM harus mampu melaksanakan program selatan-selatan, dan selatan-utara dalam hal berbagai issue.
D.Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan:
Kemitraan merupakan sebuah hubungan yang sangat menguntungkan setiap gereja anggota UEM karena itu haruslah ditingkatkan hubungan kemitraan ini untuk hari yang akan datang
Saran:
Agar GKPA dengan sungguh-sungguh mempergunakan kemitraan ini dalam rangka menopang GKPA mencapai visi dan misinya di tengah-tengah dunia ini.
E.Penutup
Demikianlah laporan ini diperbuat untuk dapat dibimbing dan diarahkan lebih baik lagi.