Jumat, 23 Januari 2015

Jamita Minggu : 1 Maret 2015: Markus 8: 31-38

widgeo.net




PENDAHULUAN

Topik di Minggu ini sebaiknyalah kita hubungkan dengan konteks dari Mat. 16:24. Firman Tuhan berkata; Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Kalau kita melihat konteks dari ayat ini, maka kita dapat melihat bahwa Yesus mengatakan perkataan tersebut setelah Dia menegur Petrus. Kalau sebelumnya Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Sang Mesias, Anak Allah yang hidup, Mrk. 8: 32-33, band. Mt 16:16-19, namun di ayat selanjutnya, rasul Petrus justru mencoba menghalangi Yesus untuk menerima rencana Allah, yaitu untuk menerima siksaan, dibunuh dan kemudian bangkit pada hari ke-tiga, baca kembali Mrk. 8: 31 dan lih. Luk. 16: 21-22). Di Mrk.8 ayat 32 dan 33 dikatakan bahwa Yesus menegur rasul Petrus dengan keras, karena Petrus menempatkan pemikiran sendiri di atas apa yang dipikirkan oleh Allah.

PENJELASAN, URAIAN DAN PEMAHAMANNYA

Penjelasan berikut dapat membantu pemahaman setiap orang Kristen, mendalami imannya, dan bahkan setia hidup matinya di dalam Kristus melalui:

1.      Penyangkalan diri berarti mengikuti Kristus

Setelah Yesus menegur Petrus, Dia kemudian mengatakan bahwa setiap orang yang mau mengikuti Yesus, harus melakukan apa yang dilakukan oleh Yesus, yaitu melaksanakan kehendak Bapa. Ini berarti seseorang harus melakukan doa seperti yang Yesus doakan di taman Getsemani “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Mt. 26:39,42,44). Ini juga berarti seseorang juga harus memikul salib, seperti yang Yesus lakukan. Namun, menerima penderitaan ini harus dilandasi oleh kasih kepada Allah, lih. 1Kor 13:3, dan kebenaran akan Kristus, lih. Mt 5:10-11.
2.      Penyangkalan diri berarti menempatkan kebenaran di atas segalanya

Jadi, menyangkal diri adalah menempatkan kebenaran dan kehendak Allah lebih tinggi daripada keinginan pribadi. Ini adalah suatu tindakan yang tidak mudah, karena kita sering melakukan apa-apa yang kita anggap gampang dan menguntungkan kita, tanpa mempertimbangkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Tuhan dalam kehidupan kita. Berapa banyak dalam kehidupan sehari-hari, kita bertanya terlebih dahulu kepada Allah sebelum mengambil keputusan-keputusan? Penyangkalan diri melibatkan pertobatan yang terus-menerus, karena penyangkalan diri melibatkan kerendahan hati yang menjadi dasar dari pertobatan dan spiritualitas Katolik. Penyangkalan diri adalah menempatkan dogma dan doktrin yang ditetapkan oleh Gereja Katolik lebih tinggi daripada interpretasi pribadi. Kalau Gereja Katolik mengajarkan bahwa pemakaian kontrasepsi (termasuk kondom) adalah berdosa, maka dengan kerendahan hati kita mengikuti pengajaran ini, walaupun ini sulit.

3.      Dasar dari penyangkalan diri

Penyangkalan diri yang terus-menerus yang didasari oleh kebenaran dan kasih kepada Allah, akan semakin membuat diri kita menjadi semakin mirip dengan Kristus. Dan penyangkalan diri ini akan membawa kita kepada kebebasan, karena kebenaran adalah membebaskan, lih. Yoh. 8:32. Dan dengan kebebasan yang benar ini, maka kita akan semakin mengikuti perintah Allah dengan lebih mudah dan lebih siap, karena mengikuti perintah Allah telah menjadi karakter atau menjadi bagian dan kebiasaan dari jiwa kita.

DASAR PEMIKIRAN DAN PENGEMBANGAN BERPIKIR

Dengan dasar pemahaman ini maka khotbah ini dapat kita perluas menjadi semakin memberkati melalui beberapa hal-hal berikut:

1.      Perkataan Yesus tentang diriNya sebagai Anak Manusia yang akan menanggung segala konsekuensi hidupNya untuk tebusan bagi umat manusia, ay. 31
a.       Menanggung banyak penderitaan, ay. 31
b.      Ditolak oleh tua-tua dan ahli-ahli Taurat, ay. 31
c.       Dibunuh dan bangkit sesudah hari ke-3, ay. 31
2.      Rasul Petrus sebagai penghalang untuk tujuan apa yang dikatakan Yesus, ay. 32-33
3.      Pemahaman yang benar tentang memikirkan apa yang dipikirkan Allah, bukan apa yang dipikirkan manusia, ay. 33
4.      Mengikut Yesus harus menyangkal diri, ay. 34
5.      Yesus adalah Juruselamat manusia dan sesungguhNya keselamatan hanya ada di dalam Dia, ay. 35-37
6.      Konsekuensi mengikut Yesus untuk besertaNya dalam kemuliaan Bapa, diiringi malakat-malaikat, 38

Dalam perenungan ini, kita akan memfokuskan pembahasan hanya pada hal menyangkal diri. Yesus mengatakan menyangkal diri adalah tuntutanNya bagi setiap orang yang mau mengikuti Dia. Apa artinya menyangkal diri? Menyangkal berarti menolak, menanggalkannya, atau menurut Lukas 14:26-27 berarti membenci (“Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu.”)

APPLIKASI/ PENGENAAN

Benarkah Yesus mengajarkan suatu agama yang membenci diri dan semua orang yang kita kasihi? Tidak! Apa yang ditekankan Yesus di dalam Lukas 14 itu ialah bahwa kesetiaan kita kepada Allah harus mengatasi semua keterikatan alami yang lebih rendah dari keterikatan kita kepada Allah, dan hanya dengan mengutamakan Allah semua hubungan kita baru akan menjadi baik dan sehat. Ini bukan perintah untuk memperlakukan diri dengan buruk, karena dalam tuntutan ini Yesus bukan memerintahkan kita untuk meniadakan identitas diri kita, dan menjadi “nobody” (“bukan siapa-siapa”); juga bukan perintah untuk menghina diri atau memperlakukan diri kita sebagai orang yang tidak berharga; karena Ia sendiri menunjukkan perhargaan yang demikian besar kepada kita sehingga rela berkorban bagi kita.

Dalam perintah ini terkandung kebenaran paradoks mengenai bagaimana seharusnya kita bersikap kepada diri kita sendiri. Pertama,  Di balik perintah untuk menyangkal diri terkandung maksud Allah yang positif bagi kita yaitu membawa kita ke dalam kepenuhan kemanusiaan yang telah Ia rencanakan bagi kita. Seperti yang diungkapkan dalam 2 Kor 3:18, Ia senantiasa membawa kita ke dalam kemuliaan yang semakin besar (band. 2 Kor 11:2). Kedua,  Namun karena di dalam diri kita, yang walaupun telah ditebus, masih memiliki banyak keinginan daging atau sifat-sifat dosa yang akan menghalangi maksud Allah bagi kita, bahkan dapat menghancurkan kita, maka kita harus menghancurkan sifat-sifat buruk ini atau kita yang akan dihancurkannya. Simson dikalahkan bukan oleh banyaknya tombak dan pedang tentara Filistin, juga bukan tipu muslihat Delilah, ia terutama dan pertama-tama, dikalahkan oleh nafsu dan kedagingannya sendiri, sehingga ia menyerahkan rahasia kekuatannya kepada seorang wanita dan dihina dan disiksa oleh orang-orang Filistin. Ketiga, Musuh terbesar setiap orang adalah diri sendiri, yaitu segala kebodohannya, kedagingannya dan keinginannya yang jahat. Hanya dengan menyangkal semua sisi buruk dan mengembangkan sisi positif dalam diri kita, kita akan mencapai kepenuhan maksud Allah yang mulia bagi kita. Karena itu, orang yang menyangkal diri adalah orang yang mengasihi dirinya sendiri, dan orang yang tidak mau menyangkal diri justru adalah orang yang membenci dirinya sendiri. Kekristenan tanpa penyangkalan diri bukanlah Kekristenan versi Yesus. Itu hanya Kekristenan buatan manusia yang akan membiarkan kita di dalam kemandegan rohani.

Lalu Apa arti menyangkal diri itu? Inti penyangkalan diri bukanlah menolak kesenangan atau menyiksa diri seperti yang diajarkan dalam asketisme. Perlu kita ingat selalu bahwa Kekristenan bukanlah agama yang negatif, yang merendahkan, tetapi agama positif, yang justru mengangkat hidup kita dalam kelimpahan dan berkat sejati dari Allah. Kerohanian sejati juga bukan sekedar menjalankan aktivitas agama seperti berdoa puasa, berbuat amal, dsb. Semua aktivitas agama ini pada dasarnya adalah hal yang baik,  tetapi jika kehilangan essensinya, semua kegiatan itu menjadi kemunafikan. Inilah kegagalan dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Tanpa penyangkalan diri yang penuh kerelaan kepada Allah sebagai Penguasa mutlak hidup kita, semua aktivitas agama dan pengalaman rohani kita akan kehilangan maknanya. Inti dari penyangkalan diri Kristen ialah:

Pertama, menyangkal diri berarti menyerahkan hak dan otoritas diri kita sepenuhnya kepada Allah. Manusia tidak pernah dimaksudkan sebagai makhluk otonom, yang menjalankan hidupnya berda sarkan hikmat dan kekuatannya sendiri. Setiap orang yang mencobanya pasti akan menemui kegagalan. Dalam kasus Adam dan Hawa kita belajar kebenaran yang berharga ini. Sebelumnya Adam dan Hawa hidup dalam kebergantungan mutlak kepada Allah, dan mereka berbahagia. Kemudian datanglah cobaan dari Iblis, yang menawarkan opsi yang berlawanan dengan firman Allah. Jika mereka tetap bergantung mutlak kepada Allah, mereka akan langsung menolak perkataan Iblis. Namun mereka menerimanya dan mempertimbangkannya opsi/pilihan kedua itu sebagai yang mungkin benar. Untuk berbuat demikian, mereka pasti harus terlebih dahulu menarik komitmen mereka kepada Allah, dan mengangkat diri sebagai penentu kebenaran antara Allah dan Iblis. Kesalahan mereka itu harus dibayar mahal, yaitu kematian mereka.

Menyangkal diri berarti mengakui ketergantungan kita kepada Allah, dan karena itu, kita menyerahkan hak dan otoritas diri kita sepenuhnya kepada Allah. Kita mengakui bahwa hidup yang diserahkan kepada Tuhan, sebagai pemegang hak dan otoritas penuh untuk menentukan bagaimana hidup kita dijalani bukan saja sudah seharusnya tetapi juga akan membawa kebaikan bagi kita. Frances Havergal mengungkapkan penyerahan diri yang total kepada Allah ini dengan indah dalam syair lagunya: Take My Life and Let It Be Consecrated. Semua yang ia miliki, ia baktikan kepada Tuhan: tangannya untuk melakukan kehendak Tuhan, kakinya untuk menyebarkan Injil, suaranya untuk memuji Sang Raja selamanya, hartanya semuanya menjadi milik Tuhan dan waktunya hanya untuk memuliakan Tuhan. Ia memeteraikan lagu tersebut dalam kesaksian hidupnya.

Dalam kehidupanNya di bumi, Kristus memberikan teladan yang indah bagi kita. Seluruh hidupNya adalah suatu penyerahan penuh untuk melakukan kehendak Bapa, dan puncaknya ialah ketika bergumul di taman Getsemani, Ia dengan konsisten menyerahkan diriNya untuk melakukan kehendak Allah sampai tuntas. Doa ‘Bapa Kami’ yang kita selalu kita ucapkan sebenarnya merupakan ungkapan kerinduan terbesar dari setiap pengikut Kristus; yaitu nama Allah, kerajaan Allah dan kehendak Allah sebagai concern terbesar hidup kita, dan bukan ambisi dan kehendak kita. Dalam buku kecil ‘Hatiku Rumah Kristus,’ Robert Boyd Munger mengungkapkan dengan indah bagaimana suatu kehidupan yang diserahkan sepenuhnya kepada Kristus sebagai penguasa hidup kita adalah cara terbaik untuk menjalani kehidupan Kristen. Ibu Teresa pernah mengatakan bahwa dirinya hanyalah pensil sederhana yang diserahkan ke dalam tangan Tuhan untuk Ia pakai sesukaNya untuk maksud Allah.

Kedua, menyangkal diri berarti pertempuran seumur hidup menaklukkan dosa dalam diri kita. Mau tidak mau, harus kita akui bahwa ada banyak sifat buruk di dalam diri kita. Untuk lepas dari keinginan dosa (indwelling sin) yang melekat dalam dirinya sampai inilah rasul Paulus bergumul sampai ia mendapatkan kemenangan rohani dalam diri Allah Tritunggal (Rom 7:13-8:17). Buku kecil Hati Manusia mengungkapkan bahwa di dalam hati setiap orang ada banyak sifat-sifat dosa yang mau menguasai kita. Penulis menggunakan berbagai macam binatang untuk melukiskan bermacam-macam dosa kita: burung merak (kesombongan), kambing (keras kepala), babi (hawa nafsu), kura-kura (kemalasan), harimau (amarah), ular (kelicikan) dan serigala (pencuri), dengan otaknya si Iblis. Kita harus menaklukkannya atau kita akan ditaklukkannya.

Dalam novel The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde diceritakan seorang dokter yang begitu baik, namun membiarkan sisi buruk kehidupannya secara bebas melampiaskan segala kesenangan daging, sampai akhirnya sisi buruknya itu menelan sisi baiknya, dan akhirnya menghancurkan hidupnya. Demikianlah, dosa yang dibiarkan bertumbuh dan berkembang di dalam diri kita, akhirnya akan menjadi kekuatan destruktif yang akan menghancurkan kita. Banyak kebiasaan buruk yang telah kita biarkan berurat akar di dalam diri kita, begitu sulit untuk kita atasi, sehingga kalau bukan anugerah Allah, hampir mustahil kita dapat terbebas darinya. Pentingnya penyangkalan atau penguasaan diri adalah hal yang dimengerti semua orang. Dalam buku Emotional Inteligence diceritakan eksperimen yang dilakukan pada sekelompok anak-anak sekolah. Dalam satu kelas, si guru membagikan kue mashmallow kepada setiap anak, tetapi mereka diminta untuk menunggu sampai guru kembali baru boleh dimakan. Siapa yang menuruti akan diberi kue ekstra. Lalu selam beberapa menit guru meninggalkan mereka. Dan segala tingkah laku anak-anak itu diawasi dan dicatat melalui kamera tersembunyi. Ada anak tidak dapat menahan, dan ada juga yang bisa menahannya. Riwayat anak-anak itu dicatat sampai mereka dewasa. Dan ditemukan penguasaan diri mereka itu berkorelasi dengan masa depan mereka. Mereka yang belajar menunda kesenangan ternyata lebih berhasil dalam studi dan karir.

Dalam Gal 5:19-21 Paulus memperingatkan kita bahwa orang yang menuruti keinginan daging tidak layak mendapat bagian di dalam Kerajaan Allah. Tidak seorangpun dari kita yang bebas dari dosa; karena itu, jangan ada orang yang menyombongkan diri. Biarlah setiap kita yang jatuh dalam berbagai macam dosa ini, berusaha untuk bangkit kembali dengan pertolongan Tuhan. Biarlah kita menyalibkan tubuh dosa kita sehingga dosa kehilangan kuasaNya di dalam diri kita. Inilah pengalaman rasul Paulus: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.“ (Gal 2:19-20)

Ketiga, menyangkal diri berarti meneguhkan maksud Allah yang mulia dalam diri kita. Penyangkalan diri bertujuan memulihkan gambar Allah dalam diri kita, supaya maksud Allah yang mulia terwujud di dalam diri kita. Karena itu, penyangkalan diri harus selalu disertai usaha pengembangan diri seperti yang dikehendaki Allah, yaitu bertumbuh dalam keserupaan Kristus, memiliki karakter ilahi, atau buah-buah Roh Kudus. Tanpa disertai sisi positif ini, maka penyangkalan diri akan menjadi sekedar tindakan agama yang negatif dan membebani, bukannya menimbulkan sukacita. Ingat, kekristenan bukan agama negatif, tetapi positif dan konstruktif. Jika telah belajar untuk menyangkal diri kita akan terbebas dari penjara egoisme yang membuat kita demikian terobsesi oleh diri sendiri (narciscus), inilah sebabnya orang tega-teganya memperalat dan mengorbankan orang lain demi kepentingan sendiri. Hanya setelah belajar untuk menyangkal diri, kita mampu melakukan kebaikan sejati kepada orang lain dan kepada dirinya sendiri. Selama belum menyangkal diri, bahkan ketika berbuat baik sekalipun, semua itu kita lakukan demi dirinya. Kita hanya berbuat baik kepada yang baik kepada kita, kepada orang yang kita sukai, kepada orang yang akan memberikan keuntungan kepada kita, atau yang suatu hari dapat menolong kita. Bahkan berbuat amal pun itu untuk mengumpulkan amal bagi kita, atau melaukan kebajikan yang sangat mulia, karena itu memberikan kesenangan rohani kita. Demikian juga, hanya setelah belajar untuk menyangkal diri kita baru dimampukan untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

KONKLUSI

Penyangkalan diri memampukan kita untuk mengakui diri kita hanya penatalayan Tuhan dan segala sesuatu yang ada pada diri kita: talenta, kepandaian, kekayaan, waktu, kesempatan, kelancaran, kesehatan, dsb adalah karunia dari Tuhan. Dan semua itu bukan untuk dipakai bagi kepentingan kita sendiri, apalagi untuk diboroskan atau untuk tujuan yang berdosa, sebaliknya kita akan memakai semua itu dengan rendah hati, disiplin dan dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan maksud dan ketetapan Allah. Penyangkalan diri juga membuat orang Kristen percaya bahwa berkat sejati berasal dari Tuhan. Karena itu, ia tidak akan secara tamak memakai cara-cara licik dan mencelakakan orang lain untuk mendapatkan keuntungan. Kita tidak akan iri karena orang lain mendapatkan keuntungan lebih besar, karena tahu ia tidak berhak mengatur bagaimana Tuhan memberi anugerahNya. Selain itu ia tahu, bahwa tanpa penyertaan Tuhan, semua keuntungan duniawi dapat menjadi kutuk baginya. Penyangkalan diri akan memampukan kita untuk bersyukur dan berbahagia dalam segala keadaan. Karena tahu bahwa Tuhan senantiasa memelihara kita menurut caraNya yang Ia pandang terbaik untuk kita, bukan maunya kita. Penyangkalan diri menjadikan orang tak terikat pada dunia sehingga ketika segalanya diambil kembali oleh Tuhan, walaupun ia dapat merasa susah, tetapi tidak akan tenggelam dalam keputusasaan.

Musuh setiap orang ialah dirinya sendiri: keegoisannya, hawa nafsu dan keinginan daging di dalam dirinya; bukanlah situasi luar seperti kurang pintar, kaya, kurang tampan atau kurang cantik, kurang mendapat kesempatan, dan sebagainya. Anak Tuhan harus berjuang menaklukkan dosa sehingga rencana Tuhan yang indah dapat terwujud dalam dirinya. Kemenangan pribadi atas atas diri sendiri inilah rahasia kemenangan rohani yang memberikan kesuksesan di bidang lain. Sebaliknya kegagalan untuk menaklukkan sifat-sifat buruk dalam diri kita secara pasti menghambat kemajuan yang diharapkan Tuhan dari kita. Kiranya Tuhan menolong kita menjadi muridNya yang sejati.

Akhirnya, seseorang yang menyangkal dirinya, bersama dengan pemazmur, akan menyanyikan “Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.” Mzm 119:35. Amin. 


Pdt. Benni Maklianto Siregar, M.Th.
GKPA Palembang

Hatorangan ni Sibasaon Minggu, 22 Pebruari 2015: Markus 1:9-15

widgeo.net

MAKNA PEMBAPTISAN YESUS
Markus 1:9-15

Minggu Invokavit
Minggu, 22 Pebruari 2015



1.      Pembaptisan Yesus dikisahkan oleh Matius, Markus, Lukas (Mat 3:13-17 Mrk 1:9-11 Luk 3:21-22) dan secara tak langsung juga oleh Yohanes (Yoh 1:32-34). Meskipun masing-masing Injil menyampaikannya dengan penekanan dan kekhususan masing-masing, ada unsur yang sama. Seperti orang banyak, Yesus datang mengikuti seruan Pembaptis untuk dibaptis sebagai tanda bertobat - menyatakan diri mau menjauhi hal-hal yang bisa menghalangi kehadiran Yang Ilahi sendiri. Inilah yang disampaikan Injil.
2.      Markus memberi laporan yang paling awal dan paling ringkas (Mrk 1:9-11). Di situ terdapat tiga hal (i) Yesus dibaptis oleh Yohanes di Yordan, (ii) sewaktu keluar dari air ia melihat langit terbelah dan Roh turun kepadanya seperti burung merpati, artinya, kekuatan surga yang dahsyat itu kini tampil dalam ujud yang lembut, (iii) saat itu juga ada suara dari langit yang mengatakan, "Engkau anakKu yang terkasih, kepadamulah Aku berkenan". Dalam peristiwa ini diperkenalkan siapa Yesus itu kepada umat manusia. Injil Matius dan Lukas menyampaikan kembali bahan Markus ini dan menerapkannya bagi pendengar mereka masing-masing. Di samping mengutarakan kembali ketiga hal yang dilaporkan Markus tadi, Matius (Mat 3:13-17) menambahkan percakapan antara Yohanes Pembaptis dan Yesus (ay. 14-15). Yohanes mengatakan bahwa dirinyalah yang semestinya dibaptis oleh Yesus. Namun Yesus menjawab semua ini terjadi untuk menggenapkan kehendak Allah. Percakapan ini ditampilkan Matius untuk menjernihkan pertanyaan apakah Yohanes lebih besar daripada Yesus. Hal ini sebetulnya sudah terungkap oleh Yohanes dalam Mat 3:11-12 (Mrk 1:7-8 Luk 3:15-17 bdk. Yoh 1:29-34), yakni bahwa yang akan datang itu lebih besar dari pada Yohanes sendiri. Selain hal itu, kata-kata yang terdengar dari langit yang menurut Markus (dan Lukas) diucapkan langsung kepada Yesus, dalam Matius tampil sebagai yang berupa pernyataan tentang Yesus. Hal ini akan dibicarakan lebih jauh di bawah.
3.      Konteks kisah Yesus dibaptis ini ialah ajakan Yohanes Pembaptis kepada orang banyak untuk bertobat, untuk berganti haluan hidup, sehingga mendapat penghapusan dosa. Penghapusan dosa di sini berarti memperoleh kembali kemerdekaan batin yang bakal membuat orang bisa berbesar hati. Banyak orang yang mengikuti seruan Yohanes itu. Suatu saat datang pula Yesus dan ikut dibaptis. Dalam peristiwa itu langit terbelah, Roh Kudus turun, dan terdengar sabda ilahi mengatakan Yesus itu putra terkasih, ia mendapat perkenan dari atas. Bila dibaca dalam konteks peristiwa pembaptisan orang banyak, peristiwa pembaptisan Yesus ini memperlihatkan datangnya kekuatan ilahi bersama "anak yang terkasih" ini untuk menyertai perjalanan orang-orang yang telah menyatakan kesediaan untuk berganti haluan tadi. Inilah yang dimaksud dengan "agar kehendak Allah digenapkan" (Mat 3:15). Yesus ini orang yang sedemikian dekat dengan kehadiran ilahi sendiri sehingga menurut kata-kata Markus, "Ia melihat" langit terbuka dan Roh Allah turun.
4.      HIDUP BARU DALAM ROH. Pada zaman Yesus baptisan yang lazim dikenal ialah baptisan Yohanes Pembaptis. Namun, yang dilakukan Yohanes sebetulnya bukan barang baru pada waktu itu. Praktek membaptis sudah dikenal para rahib di Qumran. Juga kelompok-kelompok orang saleh waktu itu menyatakan niat pembaharuan hidup mereka dengan baptisan. Seperti dapat disimpulkan dari Yoh 3:22-23, nanti Yesus membaptis orang seperti Yohanes juga. Dan sewaktu masih ada bersama Yesus, murid-muridnya pun memberikan baptisan (lihat Yoh 4:2), tentunya menurut baptisan Yohanes juga. Baru setelah peristiwa kebangkitan, baptisan di kalangan pengikut Yesus menjadi lebih khas. Ini tercermin dalam ajakan agar murid-murid membaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus (Mat 28:19). Dalam tradisi Kisah Para Rasul, baptisan dijalankan dalam nama Yesus (Kis 8:16; 10:48; 19:5) dalam arti orang menggabungkan diri dengan pengikut-pengikut Yesus. Karena Yesus tidak lagi ada bersama mereka secara badaniah, maka baptisan ini disebut baptisan dalam Rohnya, yakni Roh Kudus (Kis 1:5; 11:16) yang membawakan hidup baru, sama seperti yang diperoleh Yesus sendiri (Kis 10:37-38). Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa ia membaptis dengan air, sedangkan yang akan datang nanti akan membaptis dengan Roh dan api (Mat 3:11 Mrk 1:8 Luk 3:16 . bdk. Yoh 1:33). Air membersihkan. Tetapi air hanya membersihkan bagian luar. Api memurnikan luar dalam. Api dapat mengubah secara utuh. Ini bahasa kiasan. Cara penyampaian seperti itu menolong kita mengerti bahwa baptisan dengan Roh artinya diberi kemungkinan menempuh hidup baru dengan bimbingan dan kekuatan dari Tuhan sendiri.
5.      INILAH ANAKKU YANG TERKASIH...." Markus dan Lukas (Mrk 1:11 Luk 3:22) menyampaikan kembali kata-kata yang terdengar dari langit sebagai, "Engkaulah anak-Ku yang terkasih, kepadamulah Aku berkenan." Jadi yang disapa dengan kata-kata itu ialah Yesus sendiri. Markus mencatat dalam Mrk 1:10, ketika keluar dari air, setelah dibaptis, Yesus langsung "melihat langit terkoyak ..." Lukas menyampaikan kata-kata dari langit tadi setelah menyebut bahwa Yesus juga dibaptis dan "sedang berdoa ...." Kedua Injil ini memang hendak menekankan pengalaman batin Yesus ketika menerima baptisan itu. Pengalaman batin mendapati diri sebagai orang yang disapa sebagai "anak terkasih" oleh Dia yang ada di langit itu dimungkinkan oleh Roh Kudus yang turun ke atas Yesus. Ungkapan "anak terkasih" di situ berarti orang yang amat dekat, yang terpilih untuk menjalankan urusan-urusan Allah. Itulah maksud "kepadamu Aku berkenan". Pengalaman batin ini kemudian menjadi kekuatan Yesus. Bagaimana dengan pemberitaan Matius? Dalam Matius 3:17 didapati "Inilah anak-Ku yang terkasih, kepadanya Aku berkenan." Jadi bukan sapaan ilahi kepada Yesus sebagaimana tercatat dalam Markus dan Lukas, melainkan sebuah pernyataan tentang dia. Matius kiranya bermaksud membuat yang dialami Yesus secara batin tadi akhirnya juga menjadi pengalaman semua yang hadir di situ, termasuk siapa saja yang menjadi pembaca Injilnya. Jadi ada pewartaan mengenai siapa Yesus itu kepada orang banyak. Dia itu orang yang amat dekat ("anak-Ku yang terkasih") dengan Yang Ilahi dan mendapat perkenan dari-Nya untuk melakukan tindakan-tindakan di antara manusia atas nama-Nya.
Matius juga mendekatkan pengalaman batin Yesus kepada semua orang. Orang banyak dapat ikut serta di dalam pengalaman yang paling batin sekalipun. Bagaimana? Tentu saja bila ikut memperoleh Roh seperti Yesus sendiri. Dikatakan dalam Mat 3:17 (juga dalam Mrk 1:10 Luk 3:22), "Roh Allah seperti burung merpati turun ke atasnya." Roh yang bisa tampil sebagai api yang membakar itu kini tampil sebagai yang lemah lembut. Tetapi daya-Nya tetap sama. Dan kekuatan yang turun ke atas Yesus dalam ujud yang lembut itu akan menjadi juga baptisan bagi orang banyak. Yohanes Pembaptis sendiri telah pernah mengatakan hal ini ketika menegaskan bahwa dia yang akan datang itu akan membaptis dengan Roh dan api (lihat Mat 3:11 Mrk 1:8 Luk 3:16 Yoh 1:33).
6.      Apa yang bisa dipetik dari Injil mengenai pembaptisan Yesus tadi? Di muka dikatakan bahwa Yesus datang seperti orang banyak untuk menerima baptisan tobat, tetapi dalam kesempatan itu bukan hanya kesediaannya memberi ruang gerak bagi Roh Allah yang menjadi nyata, melainkan juga kehadiran kekuatan ilahi sendiri. Kesediaannya berbagi kehidupan dengan orang banyak, dengan ikut merasakan kegelisahan, siap mengambil bagian dalam kerisauan orang banyak dalam menantikan kedatangan yang dijanjikan - itulah yang membuatnya dipenuhi Roh, menjadikannya orang yang amat dekat dengan Yang Ilahi sendiri dan diserahi tugas menghadirkan-Nya kepada siapa saja. Kesediaannya berbagi keprihatinan dengan orang banyak itu menjadi jalan bagi Yang Ilahi untuk hadir di tengah-tengah manusia. Yang Mahakuasa tidak meninggalkan kemanusiaan yang gelisah, yang menderita, yang mengalami kesusahan. Dan sekarang ini juga Yang Ilahi masih bisa hadir menghibur dan menolong yang menderita lewat kesediaan orang-orang yang mempedulikan keadaan mereka.

Yogyakarta, Januari 2015


Ramli SN Harahap
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW)
Yogyakarta



Jamita Minggu, 22 Pebruari 2015: Masmur 25:1-10

widgeo.net

JALAN TUHAN KASIH SETIA DAN KEBENARAN
Masmur 25:1-10

Minggu Invokavit
Minggu, 22 Pebruari 2015




1.      Jalan kasih setia adalah jalan yang diberikan oleh TUHAN kepada manusia yang penuh dengan kasih setia. Jalan ini diberikan sebagai wujud kasih setia ALLAH. Wujud perhatian dan pembelaan ALLAH kepada orang-orang yang berpegang pada perjanjian ALLAH dan peringatan - peringatan-Nya. Mengapa kasih setia harus diberikan? Karena tidak banyak orang yang tetap berpegang kepada jalan TUHAN. Jalan TUHAN seakan adalah beban. Jalan TUHAN seakan adalah tidak sesuai dengan kebutuhan. Jalan TUHAN adalah seakan tidak sanggup memberikan solusi atas persoalan-persoalan hidupnya. Sehingga mereka lebih suka memilih jalan sendiri. Segala jalan TUHAN adalah kasih setia. Artinya tidak ada malapetaka di dalam jalan TUHAN. Tidak ada kecelakaan atau kehancuran di dalam jalan TUHAN. Meski sering jalan TUHAN susah dimengerti dengan akal sehat. Kadang jalan TUHAN tidak sanggup kita mengerti. Tetapi apapun yang terjadi, Firman TUHAN menyatakan bahwa segala jalan TUHAN adalah kasih setia.
2.      “Menjadi manusia itu sulit” pernah mendengar slogan ini? Benarkah menjadi manusia itu sulit? Mungkin lebih tepatnya kita sebutkan “Hati manusia itu rumit”, nah mungkin yang itu benar. Hati memang rumit dan penuh misteri yang tak terselami. Tetapi kita tidak bisa menyangkal bahwa hidup di bumi ini sulit juga. Contohnya sejak lahir kita sudah diperanakkan dalam dosa, hidup mengenal dosa dan teracuni oleh begitu banyak pemikiran dan prinsip dunia. Hidup itu sulit saat kita harus belajar hidup dengan baik, menghadapi masalah-masalah yang tidak pernah selesai, menghadapi rumitnya kisah cinta manusia, mengalami harus bekerja keras, mengalami kesusahan demi kesusahan badani. Itulah hidup…dan saya, anda masih hidup di bumi, maka tetap harus menghadapi kesulitan kehidupan ini. Memahami kehidupan di sekitar kita saja sudah sulit, termasuk sulitnya memahami hati dan pikiran orang yang terdekat dengan kita sekalipun. Lalu bagaimana manusia bisa memahami dan mengerti jalan-jalan Tuhan? bukankah ini mustahil??
3.      Daud adalah seorang Raja Israel yang hebat, dan kitapun mengakui hal itu. Tetapi kita juga percaya dia mengalami begitu banyak juga ketidakmengertian akan jalan-jalan Tuhan dalam hidupnya. Beban-beban yang begitu banyak, kesedihan, kesesakan, dan perjuangan mengiringi langkah Daud selama menjadi Raja yang besar. Bagaimana reaksi Daud saat dia menghadapi masalah? Ya, dia membawanya kepada Bapa dan mengangkat jiwanya. JIWA, adalah pusat kehidupan manusia juga selain roh. Dalam jiwa ada pikiran, perasaan, dan kehendak kita sebagai manusia. JIWA memiliki kekuatannya sendiri yang dapat mempengaruhi diri dan orang lain. Jiwa ini sangat mudah lemah dan tergoncang, jiwa manusia sangatlah rapuh dan mudah terseret oleh daging. Oleh karena itu angkatlah jiwa kita kepada Tuhan dan mempercayai Tuhan dalam segala keadaan.
4.      Maukah kita belajar mengenal jalan-jalan Tuhan? Ternyata jalan Tuhan itu bukan sekedar untuk dilalui, tetapi kita juga harus diajar tentang jalan-jalan Tuhan itu. Dalam kehidupan yang serba cepat ini, manusia terlalu sibuk untuk bisa diam dan belajar, apalagi merenung. Banyak yang tidak mau belajar setahap semi setahap, tetapi jika bisa instan dan langsung mengerti semuanya. Dalam Tuhan, kita tidak mungkin demikian! Sekalipun kita ingin cepat-cepat memahaminya, jika belum waktunya dibukakan untuk anda, maka itu tidak akan menambah kebaikan buat kita, mungkin malah ketidakpercayaan dan depresi, sebab otak yang sekecil ini, bagaimanakah menampung semua pikiran Allah? Belajarlah dari pengalaman masa lalu kita. Saat kita tahu kelemahan kita di area tertentu, janganlah mencobai diri kearah sana.
5.      TUHAN TETAP BAIK DAN BENAR. “Apapun yang terjadi, Tuhan tetap baik…” Ayat 8 teks ini menegaskan kepada kita semua tentang Pribadi Allah sendiri, yakni: BAIK dan BENAR. Pernahkah kita merasa Tuhan itu tidak baik kepada kita? Merasa Dia tidak adil, tidak sayang, tidak memperhatikan kita? Jika kita selalu bertanya kepada Tuhan “mengapa?!” maka mungkin sebetulnya kita belum berdamai dengan jalan hidup kita dan panggilan kita. Dia selalu baik, tidak pernah tidak baik. Dia selalu baik dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak-Nya. Dia benar, tidak pernah salah. Dia mengenal kita dan mengetahui jalan-jalan kita yang mendatangkan kebahagiaan. Sayangnya..banyak orang yang sesat jalannya tetapi tidak menyadarinya…. Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Amsal 16:25).
6.      JALAN KASIH SETIA DAN KEBENARAN. Mau tahu bagaimana jalan Tuhan itu? Mengapa kita harus mengikutinya? Ayat 10 yang menjadi kuncinya. Segala jalan Tuhan adalah kasih setia dan kebenaran. Di dalam jalan-Nya ada cinta yang hangat, kasih yang memulihkan dan memuaskan hasrat kita, dalam kasih-Nya ada kesetiaan kepada kita. Orang yang siap menerima hadirat Allah setiap hari, akan mengalami Tuhan dan berkobar sepanjang waktu. Tidak usah menunggu KKR besar dan anda di tumpang tangani. Api kita akan berkobar saat kita mengenal Pribadi-Nya, mengenal kasih setia-Nya. Firman Tuhan menjamin, barangsiapa berpegang pada Perjanjian dan peringatan-Nya, maka dia akan mengalami jalan Tuhan yang penuh kasih setia dan kebenaran. Bagaimanakah caranya agar jalan TUHAN itu dapat kita mengerti? Ada beberapa syaratnya, pertama, rendah hati. Lawan kata dari rendah hati adalah sombong. Tuhan membenci orang sombong, yaitu orang yang mengandalkan kekuatan dan caranya sendiri dalam menentukan jalan kehidupannya. Kenyataan Firman Tuhan ini menegaskan kepada kita bahwa Dia hanya dapat membimbing orang yang memang mau dibimbing-Nya, artinya rendah hati. Mazmur 25:9 Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. Kedua, takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan. Apa gambaran dalam pikiran kita mengenai ini? Takut akan Tuhan  bukanlah ketakutan, tetapi dengan taat, hormat, dan tunduk kepada Tuhan. Dengan memiliki roh yang takut akan Tuhan, kita dapat di tunjukkan jalan kebahagian dari Tuhan. Lihatlah janji Tuhan, bahwa kita akan menetap dalam kebahagiaan, bukankah ini yang paling dicari oleh manusia? Bahkan keturunannya akan mewarisi bumi. Selain kebahagiaan, ada bonus PLUS, yang menurut saya adalah yang terpenting dari semuanya. Apakah itu? Ya, Tuhan akan bergaul karib dengan kita. Bukankah keintiman, pengenalan akan Tuhan lebih penting dari apapun? Pengenalan akan Tuhan lebih penting daripada “Holly Land” atau Tanah Perjanjian kita! Dan ini memang benar. Apa gunanya mendapat Janji, Tanah Perjanjian, tetapi tiada Tuhan di dalamnya? Apa indahnya hidup tanpa bergaul karib dengan Kristus? Karena itu, ingatlah bahwa TUHAN itu BAIK dan BENAR dan Jalan TUHAN adalah KASIH SETIA dan KEBENARAN.

Selamat beribadah dan menikmati lawatan TUHAN!

Yogyakarta, Januari 2015


Ramli SN Harahap
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW)
Yogyakarta