Jumat, 24 April 2009

Renungan: ”KEBAHAGIAAN DALAM KEBERSAMAAN” ( Mazmur 33 : 12 )

”KEBAHAGIAAN DALAM KEBERSAMAAN”
( Mazmur 33 : 12 )
Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!

Apakah kebahagiaan itu?

Kebahagiaan ialah suatu keadaan perasaan aman damai serta gembira. Dengan kata lain, kebahagiaan melebihi perasaan kegembiraan. Umumnya, kegembiraan berhubungan dengan suatu kejadian atau pencapaian yang khusus, sedangkan kebahagiaan berhubungan dengan keadaan yang lebih umum seperti kesenangan hidup atau kehidupan berumah tangga. Bagaimanapun, kedua perasaan ini sangat berkaitan dan subjektif.
Kebahagiaan seseorang tidak dapat diukur atau digambarkan, dan berubah-ubah mengikuti situasi dan kondisi. Orang yang kelihatan bahagia belum tentu berbahagia, dan orang yang kelihatan tidak bahagia belum tentu tidak berbahagia. Hanya orang itu sendiri yang tahu dan merasakan apakah dia bahagia atau tidak.
Pengertian kebahagiaan berbeda-beda antara seorang dengan yang lain. Ada yang merasa bahagia kalau dia mendapat makanan, pakaian dan kediaman yang paling sederhana, terhindar daripada penyakit, kelaparan, dan perang. Sebaliknya, ada orang merasa tidak bahagia meskipun hidupnya dalam keadaan yang aman, mewah, sehat, dan senang. Ada orang merasa tidak bahagia sekalipun, walaupun dia mempunyai kuasa, status, dan kekayaan.
Umumnya seseorang akan merasa gembira jika apa yang dihayati dan diingininya dapat diperoleh dan dinikmati. Dengan kata lain, kegembiraan dan kebahagiaan sangat berkaitan dengan harapan. Ini dapat menerangkan mengapa seseorang yang hanya mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.50.000,- merasa lebih gembira dibandingkan dengan seseorang yang mendapatkan kenaikan gaji sebanyak Rp.100.000,- Keadaan ini bisa terjadi apabila orang yang mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.50.000,- hanya berharap dia akan mendapatkan Rp.30.00,- sedangkan orang yang mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.100.000,- merasa kecewa karena dia mengharapkan naik pangkat dan kenaikan gaji sebanyak sekurang-kurangnya Rp.200.000,- Contoh ini juga dapat menerangkan mengapa seseorang yang hanya mendapat gaji sebanyak Rp.1.500.000,- sebulan merasa lebih bahagia, dibandingkan dengan orang yang mendapat gaji sebanyak Rp.15.000.000,- sebulan.
Namun demikian, jangan kita lupa bahwa emosi dan perasaan bahagia manusia adalah bersifat fana dan sementara. Kebahagiaan tidak pernah dan tidak akan kekal abadi karena dalam kenyataan hidup, adalah mustahil sama sekali bagi siapa saja untuk memperoleh dan menikmati apa yang dia ingini. Tambahan pula, keinginan dan hawa nafsu manusia sentiasa berubah-ubah, malahan bertentangan dengan dirinya sendiri.
Semakin kita tidak merasa bahagia, semakin kuat pula perasaan kecewa, sedih, dan tidak puas hati menekan diri kita. Perasaan kecewa, sedih, dan tidak puas hati akan mendorong manusia memperjuangkan dan menggila-gilakan kebahagiaan. Akibatnya, mereka akan tergila-gila dalam mencari-cari kebahagiaan. Umpamanya, dalam cita-cita menikmati kebahagian berkat dari uang, seorang pemuda sanggup menyamun atau membunuh, dan seorang wanita mungkin sanggup menjual kehormatannya.
Memang benar, manusia mengalami kekecewaan, ketegangan hidup, serta ketidakpuasan jauh lebih daripada menikmati kebahagiaan dan kepuasan. Tetapi kalau kita sadar bahwa kebahagiaan terletak pada hidup, dan hidup itu ialah kebahagiaan, maka sudah tentu kita akan merasa bahagia selama-lamanya. Kebahagiaan tetap dapat dicari, dialami dan dirasai, jika kita puas dengan keadaan hidup yang ada pada kita (manghasabamhon aha na adong). Tegasnya, kita akan hidup penuh bahagia jika kita berpuas hati dengan keberadaan kita, sambil itu berencana memperbaiki keberadaan kita. Perbuatan memperoleh kebahagiaan dengan mengakibatkan kerugian atau kesengsaraan orang lain akan dikutuki oleh Tuhan dan masyarakat.


Apakah Rahasia Kebahagiaan?

1. Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.
2. Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.
3. Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.
4. Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin kita menunjukkan seberapa banyak kita tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan kita. Mengapa bebek disebut “bodoh”? Karena terlalu banyak bercuap-cuap.
5. Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati: memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar kita. Sebab, setiap ciptaan adalah milik kita. Kita semua adalah ciptaan TUHAN yang satu.
6. Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.
7. Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila kita menganggap mereka penting, kita akan memiliki sahabat ke manapun kita pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.
8. Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati kita terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.
9. Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara! yang tidak prinsipil.


Kesimpulan

Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurahhatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya.
Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri “Aku bebas dalam diriku”.
Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup kita dengan kebahagiaan.
Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka sebagaimana mereka adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu?

Bacaan Alkitab Minggu 26 April 2009: 1 Petrus 5 : 1 – 5

GEMBALAKANLAH KAWANAN DOMBA ALLAH


1. Seorang ahli Biblika Perjanjian Baru, Warren W. Wiersbe, menyimpulkan isi surat 1 Petrus ini dengan perkataan ‘be hopeful’, yang artinya berpengharapan penuh. Kesimpulan ini tentu merujuk kepada situasi historis yang dihadapi oleh gereja perdana atau orang Kristen pada waktu itu, yakni penderitaan. Hal ini tentu merujuk kepada sejarah gereja perdana (gereja mula-mula), di mana orang Kristen (gereja) mengalami penghambatan dari kekaisaran Romawi. Oleh karena itu dapat dibayangkan bahwa orang Kristen pada waktu itu sangat menderita di bawah tekanan pemerintah Romawi. Orang Kristen menderita karena statusnya sebagai Kristen. Namun penderitaan itu adalah bagian dari pergumulan iman sebagaimana Kristus rela menderita.
2. Itu sebabnya, tujuan penulisan surat ini juga berhubungan erat dengan situasi historis yang dihadapi jemaat pada waktu itu. Tujuannya ialah hendak menghibur dan menguatkan orang Kristen agar senantiasa bertahan menghadapi penderitaan. Merujuk kepada penekanan surat 1 Petrus ini, Willi Marxsen berkata: Penderitaan adalah kehormatan sejauh orang menanggungnya sebagai orang Kristen dan bukan sebagai penjahat (4:12-19). Sebagai sebuah kehormatan maka orang Kristen harus bersyukur jika Tuhan masih menginzinkan kita menderita sebagai upaya kita ikut bagian dalam penderitaan Kristus. Tidak ada mahkota tanpa salib. Salib adalah simbol penderitaan bukan kemenangan. Pernyataan-pernyataan serupa ini hendaknya senantiasa mengisi khasanah hidup setiap orang Kristen. Jangan pernah bermimpi untuk memperoleh kemenangan tanpa perjuangan; dan … tiada hidup tanpa tantangan. Melarikan diri dari tantangan bukanlah solusi terbaik, namun hadapilah tantangan sebagai pejuang-pejuang Kristus.
3. Perikop 1 Petrus 5 : 1 – 5 juga harus dilihat dalam konteks penghiburan itu. Mudah dipahami betapa pentingnya upaya memperjelas komitmen pelayanan ketika tantangan dan pergumulan datang menghadang. Bukan hanya di situ, seorang pelayan dituntut menjadi teladan, termasuk dalam ketegaran menghadapi tantangan itu. Itu sebabnya, para ahli PB mengatakan bahwa perikop ini adalah tentang ‘how to be a good shepherd’ (bagaimana menjadi seorang gembala yang baik). Gembala yang baik adalah gembala yang senantiasa tegar dalam tugas panggilannya meskipun di tengah berbagai pergumulan. Selanjutnya ditegaskan ‘times of persecution demand that God’s people have adequate spiritual leadership’ (ketika penganiayaan datang menghadang maka umat Allah dituntut memiliki pemimpin spiritual sejati). Pemimpin sejati ini akan menjadi soko guru, sumber inspirasi dan semangat perjuangan. Dalam hal ini keteladanan dituntut dan ditunggu dari seorang pemimpin.
4. Menyingkap isi perikop ini, satu pertanyaan pembuka perlu didengungkan: What are the personal qualities that make for a successful pastor? Pertanyaan ini hendak memberi penegasan akan personal qualities (kualitas personal) yang harus dimiliki oleh seorang gembala yang baik. Dalam perikop ini ada tiga kualitas personal yang harus dimiliki oleh seorang gembala yang baik, yaitu:
a. A vital personal experience with Christ (memiliki pengalaman pribadi yang vital bersama Kristus, 5:1). Pengalaman vital atau unik ini tentu merupakan barometer kualitas iman. Itu sebabnya dalam ayat 1 ini Yohanes memperkenalkan diri bukan sebagai rasul tetapi sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Pernyataan ini menunjukkan betapa dalamnya hubungan personal Yohanes dengan Yesus. Tentu dalam proses kebersamaan ini Yohanes menemukan pendidikan pendewasaan iman hingga layak menjadi teladan. Itu sebabnya Yohanes rindu berbagi pengalaman (sharing) dengan jemaat perdana yang tengah dalam proses pembentukan identitas dan pencitraan diri sebagai Kristen sejati.
b. A loving concern for God’s sheep (keperdulian dalam kasih terhadap domba Allah, 5:2-3). Keperdulian atas dasar kasih ini tentu memampukan setiap gembala memiliki loyalitas dan dedikasi yang tinggi terhadap tugas panggilannya. Dia akan senantiasa melayani dengan tulus dan suka cita, tidak sekali-kali karena terpaksa. Dengan segala ketulusan ini maka terciptalah motivasi yang murni hanya untuk mengabdi kepada Alah, bukan karena mau mencari keuntungan. Pendangkalan akan motif pelayanan terjadi ketika pelayan tidak lagi hidup dalam kasih yang tulus.
c. A desire to please Christ alone (keinginan untuk hanya menyenangkan Kristus, 5:4). Gembala yang baik ialah gembala yang rela berkorban demi tugas yang diemban. Dia hanya bekerja untuk tugas dan panggilannya. Itu berarti, dia hanya melayani tuan yang memberikan tugas tersebut. Tujuannya hanya satu yakni menyenangkan hati tuannya. Demikianlah juga setiap gembala harus menyenangkan Kristus bukan manusia.

5. Perikop ini juga dilengkapi dengan himbauan kepada orang-orang muda agar menumbuh-kembangkan dalam dirinya sikap tunduk kepada orang-orang yang tua. Apa yang hendak kita lihat di sini? Ada upaya untuk menata hidup jemaat dalam bingkai kerendahan hati. Jika setiap gembala jemaat melayani dengan rendah hati maka orang-orang muda juga dituntut merespons pelayanan itu dengan rendah hati. Dengan kerendahan hati ini maka kerjasama dan saling mengisi akan tercipta. Bila hal ini terwujud maka hanya nama Tuhanlah yang dimuliakan.
6. Nas ini akan menjadi dasar persekutuan kita dalam Minggu Miserikordias Domini. Apa yang hendak kita lihat di sana ? Miserikordias Domini artinya nyanyikanlah belas kasihan Tuhan. Penekanan utama di sini adalah mengenai belas kasihan Tuhan dan perbuatanNya yang baik kepada kita. Belas kasihan itu sendiri bukanlah karena perbuatan manusia. Lalu dihubungkan dengan nas kita, yang hendak ditegaskan ialah belas kasihan Tuhan yang diwujud-nyatakan dalam campur tanganNya memimpin dan membimbing hidup kita. Tentu kemepimpinan dan bimbingan Tuhan itu akan direalisasikan dalam tugas para hambaNya. Yesus adalah gembala yang baik (Yoh. 10). Tindak lanjutnya, para gembala jemaat juga harus menjadi gembala yang baik. Biarlah dengan penggembalaan yang baik, setiap orang semakin merasakan belas kasihan Tuhan.
7. Gembala yang baik harus rela menderita. Sejenak berenung dari kisah perjalanan Dietrich Boenhoefer. Dia berkata The Cost of Discipleship. Betapa mahalnya mengikut Yesus. Seorang pengikut Yesus harus rela menderita. Itu sebabnya dia berkata lagi Follow Jesus and… die. Barangsiapa yang hendak mengikut Yesus dia harus rela sampai mengorbankan nyawanya sekalipun. Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan komitmen, kebulatan tekad dan kekuatan yang hanya dari Tuhan.
8. Dalam pola hidup demikianlah para pelayan dituntut menjadi gembala dalam tugas pelayanannya. Merujuk kepada nas kita, ada tiga kualitas personal yang harus dia miliki, yakni :
a. Harus memiliki pengalaman yang unik dan vital akan persekutuannya dengan Tuhan. Pengalaman unik yang dimaksud di sini adalah hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan.
b. Harus memiliki keperdulian yang tinggi atas dasar kasih.
c. Harus memiliki komitmen untuk hanya menyenangkan Tuhan.

9. Siapakah gembala itu? Gembala bukan hanya pelayan tahbisan (pelayan penuh waktu). Gembala adalah semua orang yang telah menjadi bagian dari persekutuan dalam Gereja sebagai tubuh Kristus. Oleh karena itu, nas ini juga hendak berbicara kepada kita semua. Melalui nas ini Gereja sebagai suatu persekutuan orang kudus diajak berbenah ini untuk semakin meningkatkan intensitas pelayanannya. Hal ini menuntut jemaat yang semakin misioner.

Kamis, 16 April 2009

Jamita: Jesaya 46:3-4

“HOT DO HAHOLONGAN NI TUHAN I DI HITA”


1. Angka debata ganaganaan nada margogo i paluahon dirina sandiri apalagi ma giot paluahon halak na asing (1-2). Debata Bel dohot Nebo ima ganaganaan ni halak Babilonia. Madung lolot dewa on disomba halak Babilonia laho manghirim hamajuon dan hasukseson (pat. Dan.5:4). Disomba halahi do dewa on hape nada bisa mangurupi halahi jumpa masa hamaolon di ngoluna. Nada jugada margogo patung i laho mangalo musu ni halahi na sai torus mamorangi halahi. Gabe dianggap halak Babilonia do sarupa Bel dohot Nebot tu Jahowa. Harani i dipaboa Debata do tu halahi aha na giot tarjadi tu ganaganaan ni tangan ni halahini i. Ditutungi jana ditapori halahi angka debatana, dibaen nada i Debata. Hum patung na nibaen sian hayu dohot batu sajo do i antong na nibaen ni tangan ni jolma; hara ni i do umbaen na bisa disegoi jolma. Na jumorbut muse ro ma angka mara tu tongatonga ni bangso i marhitehite bangsi Asyur hape nada margogo muse patung na disomba ni halahi i paluahon halahini sian parmaraan i.
2. Debata na sintong nada jungada mangagohon bangso-Na. “Ale pomparan ni si Jakob, tangihon ma Au…” Pandohan on pataridahon Debata na mangolu nada padiarhon angka bangso-Na ditaluhon musuna. Nada sarupa hagogoon ni Jahowa dohot debata Bel sanga Nebo. Mamungka sian bortian, Hutuhuk hamu; mamungka sorang, Huhunti hamu. Holong ni rohan ni Jahowa tu na porsaya i mamungka sian bortian lopus matobang jana ubanon obuk. Artina Jahowa manjagahon bangso Israel sian nasa mara. Nada dipaloas TUHAN sanga ise pe manyosak halahi; digorahon Ia angka raja laho mangondingi halahi (pat. Ms.105 :12-15). Songon halihi na mangajar anakna habang, ditarehon habongna anso ulang madabu. Songon i do TUHAN manjagahon Israel, anso ulang madabu (Pangarataion 32:11). Madung taida sanga aha Na dibaen Tuhan maradopkon halak Mesir, jana sanga songon dia dibaen Tuhan maroban bangso Israel mardongan kuaso na godang songon unggas rajawali na maroban anakna di ginjang ni habongna. Musa nada sabar di tingki na mamboan bangso Israel haruar sian Mesir, tapi Tuhan sobar do mangaramoti sude ngolu ni bangso i (Ba.Rasul 13:18). Madung diramoti Tuhan halahi sian bortian dope lopus tu sadari on. Muda songoni ma sobar dohot holong ni Tuhan mangaramoti ngolunta siganop ari, antong tama ma tutu sombaon jana pujionta denggan basa dohot holong ni rohaNa i tu hita. Harana sanga ise na tubu dibagasan Tuhan i pasti do diramoti Ibana ro di ujung ni ngoluna. Pangaramotion ni Tuhan i nada tanggungtanggung. Tanggung jawab ni Tuhan i nada golomgolom riaria. Tapi pasti ro di salolot ni lolotna. Hara ni i tapuji ma Tuhan i tongtong angke Ibana partobus hian.
3. Marjanji do Tuhan paboa nada tadinghononNia bangsonai. Au Debatamunu, giot mangondihon hamu; lopus matobang jana ubanon obukmunu. Au na manompa hamu, sai na sarihononKu do hamu, sai na paluaonKu jana urupanKu hamu. Muda pamatang ni jolma i muda mur matobang mur tu galena nama. Nada lobas ia be bagi namahua. Tapi anggo holong dohot pandonganion ni Tuhan nada mur gale. Tapi sai na dongananNa do halak na porsayai dung matobang halahi. Muda pe nada adong be donganna na ra mangurupi ia di hagaleonna, na sai rade do Tuhan i mandongani halahi di hatotobangna. Sai tongtong do Debata na gabe pambelanta; tanganNa na so ra mantak i panungkolinta. Dipaorot Ia musu sian jolonta, disuru Ia hita mangaropuk sude alonta (Pangarataion 33:27). Pangaramotion ni Tuhan lobi sian pangaramotion ni sahalak simatobang tu angka anakhonna. Na giot idaonta sian on ima : naparjolo, sude bangso Israel i angkon torus do manghirim di pangaramotion ni Tuhan di ngoluna. Harana holang pangaramotion ni Tuhan do na manongtong ro di salolot ni lolotna. Paduahon, pangaramotion ni Tuhan nada jungada manadinghon bangso i, tapi muda pangaramotion ni jolma adong do batasna. Nada tarbaen jolma mangaramoti dirina sanga pe keluargana lopus tu na matobang. Isarana sada simatobang na dung tobang situtu belum tentu bisa diparorot angka anakhonna dohot denggan. Tapi Tuhan torus do mangaramoti halahi di hatotobangna. Patoluhon, hot do pangaramotion ni Tuhan sian dakdanak lopus tu na matobang. Muda dung dihaholongi Tuhan nada dipadiar Ia na di haholonganNa i marsiak bagi. Tapi holong ni Tuhani torus di mandongani hita di pardalanan ni ngolunta.

Jamita: Johanes 5:1-9a

“PAMALUM NA NAMARSAHIT DI PARIDIAN BETHESDA”

1. Tanda halonganan pamalum na marsahit on nada dipaboa sude angka parbarita nauli na mandokhon holan di Galilea do tanda halongangan i. Tapi si Johanes manyurat sada tanda halongangan i di Jerusalem. Tingki i masa do parpestaan di Jerusalem ima pesta Paska. Dung i adong ma pesta ni halak Jahudi, gabe dohot ma Jesus tu Jerusalem. Adong piga-piga pesta na adong di halak Jahudi ima : a) Pesta Purim na biasa dilaksanahon tanggal 14-15 bulan Adar/Desember (Est.3:7, 9:24); b) Pesta Undung-undung Bulung Rata (Joh.7:2) na ditoruskon tu pesta Pantekosta di bulan September; c) Parningotan Pangompoion Bagas Ni Debata (10:22) di bulan November; dohot d) Pesta Paska (2:13; 6:4; 13:1) dohot angka pesta-pesta na asing na so pola targoaran di son. Songon halak Jahudi, Jesus sai torus do mandohoti pesta-pesta ni halak Jahudi on harana tiap taon do halahi mangarayahon pesta-pesta on. Pesta na biasa dipatupa di Jerusalem ima pesta Paska. Jadi kehe ma Jesus tu pesta Paska i na maringanan di Jerusalem. Sian on diajari do hita paboa Jesus sai mangharingkothon mandohoti sude angka karejo di tonga-tonga ni masyarakat dohot di tonga-tonga ni parlagutan i (pat. Ibrani 10 :25).
2. Di Jerusalem adong ma sada "Horbangan Biri-biri," jonok tu paridian na digoari di bahasa Heber Bethesda. Paridian on dipajongjong aso adong inganan paridian dohot parlangelangean (patudos B.Rasul 27:43). Marragam rupo do pandohan ni paridian on, adong na mandokhon: Bezatha, Bethzatha, Betzetha, Belzetha, Belzatha, Berzeta; dohot Bethsaida. Tapi na paling jotjot didokhon goarna ima Bethesda, muda di bagasan bahasa Heber (Bethchasdah) narmarlapatan ma i bagas asi ni roha (the house of mercy). Harana di paridian on adong asi ni roha ni Debata Ama laho pamalumhon sudena angka na marsahit dohot angka na marsitaonon. Inganan paridian on nada pola manggarar agia aha pe harana holan mangasahon huaso ni Tuhan do umbaen na malum sahit ni na marnyae i. Halak Jahudi sandiri pe nada jungada marpikir laho manjagit pajak sanga bayaran sian angka halak nadung malum sian paridian Bethesda i.
3. Mansai bahat do angka na marnyae na so tolap gogo be. Tapi sian sude na marnyae i, holan sahit na tolu on do na dipaboa tu hita ima na mapitung, na timpang, dohot na pangpangon. Biasi holan on di paboa si Johanes? Angke holan na marsahit na sitolu rupo on do na so margogo mandabuhon dirina parjolo tu paridian i, muda manggulsak aek Bethesda i. Gabe sai lumolot ma halak na marnyae sitolu nyae on malum sian sude angka namarnyae di inganan i. Na mapitung i, nada bisa diligi ia muda manggulsak aek i, gabe nada tarbaen ia parjolo be marlange di paridian i. Songoni muse na timpang i. Diligin ia do aek manggulsak tapi nada bisa ia hipas manimbung tu paradian Bethesda i. Mur ma muse na pangpangon i, atik pe diboto ia madung manggulsak aek i, tapi nada tarbaen ia morot sian podoman ni i laho manimbung tu aek paridian i. Jadi muda so adong halak na mangurupi halahi, sapanjang manyahena nada bisa halahini malum sian nyaena i. I do umbaen pola 38 taon sada bayo nada jungada dope ia dapotan kesempatan parjolo dung manggulsak aek i. Gabe lolot ma ia marsitaon on. Ise do na ra mangurupi ia aso dapot ia hamalumon i? Holan Jesus do na ro mangaligi ia di nyae na niadopan nia i. Dung ro Jesus gabe dipamalum ma ia so pola ingkon masuk tu aek i. Hita angka dongan, bahat do nuaeng di tongatonganta na gale angka na mapitung, na timpang dohot angka napangpangon naso tarbaen halahi haruar sian nyae ni halahi i. Adong do nuaeng on angka keluarga marpulupulu taon diarsahi angka anakhonna, adong do angka keluarga na marpulupulu taon marhosom ni roha tu angka donganna, dohot angka na asing i. Sapa-sapa di hita nuaeng, ise do na ra mangurupi halahi haruar sian sahit ni halahi i? Alusna ima hita angka na porsaya na rade rohana manyurduhon tanganna mangurupi halahi na mapitung, na timpang dohot napangpangon i, aso dapot halahi hamalumon na sian Tuhanta i. Mansai bahat do angka donganta na marsahit di Rumah Sakit, na marsitanonon di penjara, natumatangis di sihabunian. Hita ma kehe tu si laho mangubati roha ni halahi na gale, na magopu aso margogo halahi dapotan haluaan na sian Tuhan Jesus.
4. Hamamalum na sian paridian Bethesda i mijur marhitehite surusuruan ni Tuhan tu bagasan paridian i, manggaor aek i. Jana sanga ise sian na marnyae i parjolo masuk tu paridian i hatiha manggulsak aekna i, malum ma nyaena i; sanga na nyae aha pe angkon malum. Pangubation na sian surusuruan i, ima huaso na sian Debata do i na marhuaso laho pamalum sudena angka ragam ni nyae. Surusuruan ni Tuhan margogo manggulsak aek i paradehon hamalumon tu sude na dung paintehon hamalumon ni sahitna be. Suang songoni do panghobasionta di tongatonga ni parlagutan i. Surusuruan ni Tuhan i sasintong na torus dope manggulsak hamalumon ni sahit ni angka na porsaya i marhitehite aek hangoluan i. Di pake Jesus do sude angka panghobasionta di tongatonga ni Parlagutan i pabaorhon hamalumon ni nyae na adong di pardagingon dohot partondion ni ruas ni Tuhan i.
5. Taligi ma jolo sada bayo nadung tolu pulu salapan taon honokna marnyae. Nyae nia i mansai poran situtu. Madung gale ia pamatangna, nada marguna be angka pangurupi na dipake ia salolotna on laho pahusorhon pamatang ni i tu paridian Bethesda i. Hira na di bagasan penjara do panghilalaanna, angke nada adong na bisa tarkarejohon ia be. Lumolot noma ia marnyae sian na hisar jana pola do giot mago panghirimon nia tu hamalumon. Sianon taida bahaso nada jungada hape do angka Malim, Farisi, Siboto surat tu paridian (Rumah Sakit) Bethesda on. Nada adong program ni halahi mangurupi na gale pamatang na di rumah sakit Bethesda i. Di situasi si songoni ro ma Jesus tu RS Bethesda i jana pasuo dohot bayo na dung lolot payak dipodomanna i jana huhut didodok Jesus ma tusia, "Giot dehe ho malum?". Angke diboto Jesus do nadung lolot sajo bayo i payak dipodomanna jana nada adong namangurupi ia muda marhusor aek i. Dialusi bayo na marnyae i ma, "Nada adong donganku dison Tuhan na pamasuk au tu paridian i muda hatiha manggulsak aek i. Jadi hatiha giot masuk dope au tu paridian i, hape ma dipajolo halak na asing masuk." Sian alusi diboto Jesus do bahaso malungun do bayo i di hamalumon. Sian on taligi bahaso di kesibukan ni Jesus mangajari dohot manjamitai angka na porsaya i, disompathon ia do mangebati inganan ni angka na marsahit ima rumah sakit. Ro do Jesus tu inganan ni na gale pamatang laho mangurupi halahi di hagaleonna bahkan mangalehen haluaan marhitehite hamalumon ni nyae ni halahi. Antong sada tugas na arga do on di hita angka sisean ni Jesus sadarion. Aso taharingkothon manangianghon huhut mangebati angka donganta na gale pamatangna harani nyae na ampe di pamatangna. Ai donganta do halahi na di haholongi Jesus. Hita pe angkon tahaholongi ma halahi jana tapaboa jamita na denggan i tu halahi aso dapotan hamalumon halahi sian nasa nyaena be.
6. Sapasapa ni Jesus on angkon porlu begeonta. Harana nada holan tu namarnyae si 38 taon i sapasapa i. "Giot dehe ho malum?". Sapasapa on lalu ma tu hita muse. "Giot dehe ho malum sanga sesa dosamu?". Bahat do halak Kristen nuaeng nada ra ia sesa dosania. Nada jop rohania malua ia sian hajahaton. Umjop do rohania mangolu di hagolapan sian mangolu di hatorangan. Muda bayo i, 38 taon ma ia marnyae gabe malungun do ia hamalumon. Muda hita mapiga pulu taon hita di bagasan dosa, ma piga pulu taon hita mangolu dibagasan hajahatan. Giot dehe hita malua sian i? Muda giot do hita malua sian i sudena alusi ma Jesus di tingki on aso malum dihilala ho (pat.Mat.8:3).
7. Namangihut muse muda taparateatehon cara ni Jesus giot pamalum bayo na marnyae i, agak andul do sian na somal. "Jongjong ma ho, oban lagemi jana mardalan ma ho" Biasana muda giot malum na marnyae angkon marlange do ia tu paridian Bethesda i dung jolo manggulsak aek paridian i. Tapi hatihai Jesus pamalum bayo i nada pola disuru Jesus ia masuk tu paridian i, holan sandok hata do gabe malum ma dilala bayo i. Biasi songoni? Naparjolo, Jesus patuduhon bahaso cara pangubationNia jumeges sian aek paridian Bethesda i. Harana hamalumon ni bayo i nada holan malum boti ia, tapi gabe margogo situtu do ia mamboan lagenia i jana mardalan. Paduahon, Jesus paboahon bahaso sanga na ise pe na marnyae muda ro tu Jesus angkon dapotan hamalumon atik pe di ari Sabat i. Napatoluhon, Jesus mangalo tradisi hamalumon ni halak Jahudi tingki i, nada holan sian aek paridian Bethesda sajo dapot hamalumon tapi dibagasan Jesus sandiri do mual ni hamalumon na sanggam.

Senin, 13 April 2009

KHOTBAH

FAEDAH MORAL DARI HIKMAT
(Amsal 2:1-10)

Pendahuluan
Dalam tradisi Israel kuno mempunyai tiga golongan hamba Tuhan: para imam, para nabi, dan para bijak ("orang yang berhikmat"). Kelompok orang bijak khususnya dikaruniai hikmat dan nasihat ilahi mengenai masalah-masalah kehidupan praktis dan filosofis. Amsal merupakan hikmat para bijak yang terilhamkan.
Istilah Ibrani mashal, yang diterjemahkan "amsal", bisa berarti "ucapan" orang bijak, "perumpamaan", atau "peribahasa hikmat“. Karena itu ada beberapa ajaran (ucapan orang bijak) yang agak panjang dalam kitab ini (mis. 1:20-33; 2:1-22; 5:1-14), dan juga aneka pernyataan ringkas yang menggugah berisi hikmat untuk hidup dengan bijaksana dan benar.
Sebagaimana Daud menjadi sumber tradisi bermazmur di Israel, demikian Salomo menjadi sumber tradisi hikmat (lih.1:1; 10:1; 25:1). Menurut 1Raja 4:32, Salomo menghasilkan 3.000 amsal dan 1005 kidung semasa hidupnya.
Tujuan kitab Amsal dinyatakan dengan jelas dalam 1:2-7: memberi hikmat dan pengertian mengenai perilaku yang bijak, kebenaran, keadilan dan kejujuran (1:2-3) sehingga (1) orang yang tidak berpengalaman dapat menjadi orang bijak (1:4), (2) kaum muda dapat memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan (1:4) dan (3) orang bijak bisa menjadi lebih bijak lagi (1:5-6).
Sebuah amsal ialah suatu pepatah, perbandingan atau pertanyaan singkat-padat yang mengungkapkan suatu prinsip atau sebuah pengamatan tentang perilaku manusia dari sudut pandangan Allah. Amsal-amsal ini digubah untuk mengajar umat Allah (khususnya kaum muda) bagaimana menjalankan hidup yang menyenangkan Dia, memiliki hidup yang berhasil dan berbahagia, dan menjauhi kesusahan-kesusahan hidup yang diakibatkan oleh dosa.

Penjelasan Ayat
MENYIMPAN PERINTAHKU. Hanya dengan menyimpan firman Allah di dalam pikiran kita maka kita akan belajar untuk hidup dengan bijaksana dan benar dalam hubungan kita dengan Allah (ay.5). Kita dapat mengalahkan dosa dengan perintah-perintah Allah di dalam hati kita (Mzm 119:11 - Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau) dan firman Kristus yang tinggal di dalam diri kita (Yoh. 15:7; Yak.1:21 - Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu).
BERSERU KEPADA PENGERTIAN. Mempelajari firman Allah harus disertai sikap doa yang sungguh-sungguh berseru memohon hikmat dan pengertian. Belajar saja mungkin menjadikan kita sarjana Alkitab, tetapi berdoa bersama belajar firman Allah mengizinkan Roh Kudus mengambil penyataan itu dan mengubah kita menjadi orang yang rohani.
HIKMAT AKAN MASUK KE DALAM HATIMU. Hanya ketika hikmat Allah memasuki hati kita – yaitu: motivasi, keinginan, dan pikiran – barulah akan menghasilkan hidup dan kuasa (bd.4:23). Untuk mencapai hal ini, Roh kebenaran harus bekerja di dalam jiwa kita (Yoh.16:13-14) sehingga semua perintah dan jalan Allah menjadi kesenangan bagi kita.
TEMPUHLAH JALAN ORANG BAIK. Berkat-berkat memperoleh hikmat meliputi: (1) belajar takut akan Tuhan sehingga terpelihara dari kejahatan sepanjang perjalanan hidup (5-8); (2) memiliki kemampuan untuk membedakan yang baik dari yang jahat sehingga dapat mengelakkan tragedi-tragedi dosa (11); (3) keinginan untuk menjauhi orang jahat dan bergaul dengan orang benar dan baik (12-15,20); (4) menjauhi kebejatan seksual (16-19); (5) memperoleh berkat-berkat yang dijanjikan Allah (21).


Renungan/Aplikasi
Orang Batak terkenal dengan "umpama" dan "umpasa"-nya. Ini membuktikan bahwa kita orang Batak adalah termasuk orang-orang yang berhikmat dalam menjalani kehidupan ini.
Dalam tradisi kehidupan bermasyarakat orang Batak, unsur pengajaran mendapat perhatian yang cukup banyak. Pengajaran dari orang tua kepada anak-anaknya, juga dari penatua-penatua kepada generasi muda baik dalam kehidupan berkeluarga maupun interaksi dalam kekeluargaan di satu-sati desa. Misalnya:
(a) Umpama ttg Belajar hikmat kehidupan: Jolo tinoto asa nirabi (bd. Psl.34:14 - Sai jaga ma dilam maradophon hajahaton, jala bibirmu maradophon pangkuling sipaotooto); Napuran sirara uruk di toru ni dangkana; naso masuk sipaingot sumolsoli rohana (bd. Poda 10:17 - Mardalan di lapang tu hangoluan do manang ise na mangaramoti pangajaran, alai manang ise na manjua pinsangpinsang, na mangaliluhon do).
(b) Umpama menghormati orangtua mendapat berkat: ++ Ianggo pansur di alaman, hinandangan dohot halak-halak; ianggo na pantun marama, halomoan ni sude halak; ++ Na niombakhon hudali, pauk tu tano liat; na tois marama, ra tung gomahon ni babiat, alai na pantun marina, sai dapotan parsaulian.
(c) Umpama ttg keluaga mertua dan sesama manusia: ++ Dulang na so dulangon, dulang bajora di bonana; hulahula ndang jadi sumpaon, habiaran sapatana.
(d) Umpama ttg Tuhan Penolong: ++ Badobado bidang tu laklak ni antahasi; atik songon dia pe roham na naeng marhilang; adong do Debata Ama na mangasi; ++ Jongjong hau tinaba, dililit andor marhaliang; jongjong do Amanta Debata, marnida halak na hinilang.
Dan masih banyak lagi perumpamaan orang Batak yang tidak pernah lagi digali dalam rangka pengajaran terhadap anak-anak dan generasi muda sekarang. Demikian juga dengan pengajaran iman Kristen kita. Sudah jarang orang tua memberikan pengajaran hikmat kepada mereka dari kebenaran firman Tuhan. Bahkan orang lebih suka mempercayakan pengajaran iman anak-anaknya kepada orang lain atau pihak dan lembaga lain.
Harus kita akui bahwa banyak manfaat moral dari pengajaran hikmat ini. Mengapa pemuda/i dan generasi orang Batak kurang berhikmat? Karena pengajaran hikmat para leluhur kita dahulu telah dilupakan manusia zaman sekarang. Mengapa pemuda/i Kristen kurang berhikmat? Karena pengajaran hikmat Tuhan yang tertuang dalam Alkitab tidak berulang-ulang kita wariskan kepada anak-anak dan generasi kita saat ini.
Padahal faedah moral jika kita mengajarkan hikmat kepada mereka generasi penerus kita ini adalah: (1) orang yang tidak berpengalaman dapat menjadi orang bijak (1:4), (2) kaum muda dapat memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan (1:4) dan (3) orang bijak bisa menjadi lebih bijak lagi (1:5-6).
Marilah kita bergiat mengajarkan hikmat dari Tuhan kepada generasi penerus kita agar mereka kelak menjadi anak yang penuh dengan hikmat. Kita melahirkan sebuah generasi yang hidup dan berpikir sesuai dengan kebenaran, jalan, dan pola Allah. Hikmat artinya mendekati seluruh kehidupan dari sudut pandang Allah. Hikmat itu datang hanya kepada mereka yang mencarinya melalui hubungan yang benar dengan Allah (ay.7) dan mempelajari firmanNya dengan rajin (3:1-3). Amin.

RENUNGAN

VITALITAS
Kej. 2:4-7

Apa yg hendak dikatakan oleh ayat2 itu? (a) bhw bumi diciptakan oleh Tuhan u/ ‘diusahakan’, ‘diolah’, ‘dikerjakan’; (b) bhw manusia diciptakan oleh Tuhan (al.) u/ ‘mengusahakan’, ‘mengelola’ dan ‘ mengerjakan’ bumi; dan (c) u/ maksud itulah, “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya”
Dlm bhs Ibr, kelihatan hub yg sangat erat antara adama (=tanah) dengan adam (=manusia). ‘Adam’ atau manusia adalah ‘makhluk adama’. Dibuat dari adama, untuk mengusahakan adama. Ada yg menarik lagi: ‘mengusahakan tanah’ atau secara umum melakukan pekerjaan fisik (kerja kasar). Dlm bhs Ibrnya adalah abudah. Dan abudah amat mirip atau amat erat hubnya dg ibadah!. Abudah adalah ibadah. Bekerja adalah ibadah! Luar biasa, bukan?
Ini hanya hendak mengatakan bhw kerja atau bekerja itu, sec teologis dan sec alkitabiah, adalah sesuatu yg mulia. Paling sedikit, bukan sesuatu yg rendah atau hina. Dlm hub ini, yaitu bhw bekerja itu mulia.
Yg menarik ketika Tuhan membentuk manusia dengan maksud al u/ mengusahakan ‘tanah’ atau ‘bumi’, apa yg Allah lakukan? Ay 7, “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya…” Artinya, manusia baru dapat memenuhi fungsinya dan melaksanakan tugasnya untuk bekerja mengolah bumi, kalau di dalam dirinya ada kedua2nya yakni ‘debu tanah’ dan ‘nafas hidup’. Pada satu pihak, sbg ‘debu tanah’ ia sama dg ciptaan Tuhan yg lain. Tetapi sbg ‘nafas hidup’, ia mengandung sesuatu yg ‘ilahi’ di dalam dirinya.
Karena itu, jangan terlalu sering kita katakan, “Yah, saya ini ‘kan manusia biasa!” – lalu menyerah begitu saja kpd godaan Iblis. Justru karena kita manusia, kita tidak ‘biasa’ melainkan ‘luar biasa’. Dlm 2Kor.4:7 dikatakan bhw kita ini hanya ‘bejana tanah liat’, bejana lempung, yg ringkih, rentan, mudah pecah! Akan tetapi, di dlm bejana itu kita menyimpan harta yg luar biasa, yaitu kekuatan yg melimpah-limpah yg berasal dari Allah. Jangan kita lupa itu! Kalau orang Jakarta bilang, “Jangan malu-maluin Tuhan, dengan gampang kalah, gampang menyerah, sering kali kalah sebelum berjuang!”
Sebelum manusia bisa bekerja, Tuhan harus terlebih dahulu menghembuskan nafas hidup atau Roh kehidupan. Kalau Cuma adama saja atau debu tanah saja, ya dia tdk ada bedanya dengan yg harus dikelola. Tidak mungkin. Kita mampu mengelola tanah karena kita memiliki perbedaan dengan tanah. Tetapi kalau cuma ‘nafas hidup’ saja atau ‘roh’ saja, jadi seperti hantu, mustahil pula mencangkul atau membajak tanah. Iya, bukan?
Jadi dan inilah firman Tuhan yang ingin kita renungkan: ada hub timbal balik antara spiritualitas (iman) dan vitalitas (hidup). Tanpa spiritualitas, kita tdk akan punya vitalitas. Hidup kita akan seperti air – tawar, hambar, tanpa rasa dan tanpa warna. Tetapi juga sebaliknya: spiritualitas yg benar itu hrs menghasilkan vitalitas, gairah hidup, semangat kerja. Karena memang tujuan dan maksud itulah, Tuhan menghembuskan roh kehidupan. Supaya Adam mengusahakan adama.
Salah benar kalau ada orang yg karena spiritualitasnya yg menggebu-gebu, malah mengundurkan diri dari dunia ini, pikirannya cuma ke surga! Salah! Tuhan tidak memberikan Roh-Nya untuk hal seperti itu.
Perhatikan urutannya baik-baik! Kita dapat membayangkan, betapa setelah Yesus naik ke surga, dengan sebelumnya memberikan amanatNya (Amanat Agung – Mt.28:18-20) – murid-murid aja tdk ingin cepat-cepat bekerja, ingin bertindak – action! Tetapi malaikat Tuhan berpesan: Jangan terlalu cepat! Pulang dulu ke Yerusalem! Tunggu beberapa hari. Kalian mesti belajar bagaimana bersekutu, bagaimana bergantung kepada Tuhan melalui doa, dan belajar diam! Sabar, jangan grusah-grusuh, pokoknya sibuk!
Jadi inti firman Tuhan untuk kita adalah seimbang! Hiduplah yg seimbang dan ini sangat relevan. Di gereja, mencari org yg mau berperan aktif banyak. Mencari org yg ‘rohani’ banyak mudah. Tetapi yg seimbang? Tdk banyak! Yg banyak justru seimbang dalam arti spiritualitas no, vitalitas no. Aktif tdk, rohani juga tidak. Padahal yg dikehendaki Tuhan adalah keseimbangan yg positif: tinggi spriritualitasnya, tinggi pula vitalitasnya.
Dalam Islam ada ungkapan yg indah begini, Bertakwalah seolah-olah besok akan kiamat: tetapi bekerjalah seolah-olah dunia tdk pernah akan kiamat.” Dalam 1Kor.15:19, Rasul Paulus berbicara mengenai orang yg paling malang di dunia ini. (Artinya paling sial, paling celaka, paling bodoh). Siapa itu? “Orang yg hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus.”
“Menaruh pengharapan kpd Kristus” tentu baik dan jauh lebih lumayan daripada tdk percaya sama sekali kepadaNya. Namun demikian, kata Paulus, kalau pengharapan kita kpd Kristus itu hanya dipusatkan u/ kepentingan kita dalam hiduo yg fana ini (percaya kpd Kristus spy tubuh kita sehat dan jauh dari sakit, atau spy tubuh kita jauh dari halangan, atau spy usaha dagang kita untung dan berkembang, tdk mengalami kerugian) – kalau pengharapan kita hanya u/ itu saja, Paulus tdk mengatakan kita salah, atau dosa. Tetapi kita adalah orang yg paling malang, dalam arti juga paling bodoh di dunia ini. Mengapa bodoh? Karena mubazir! Sama seperti misalnya orang membeli rumah mewah sekali, harganya sekian milyar rupiah, tetapi cuma dipakai u/ gudang dedak, atau kandang kambing. Salah? Ya, tdk! Tetapi bodoh! Mengapa? Baca Ayb.14:7-12. Artinya jangan hanya mencari sukses di dunia tetapi carilah sukses ke surga. Seimbang mengumpulkan harta di dunia, dan mengumpulkan harta di surga.
Dalam tanggung jawab kita kepada orang lain, harus ada keseimbangan antara keluarga, kerja dan gereja. Jangan timpang! Terlalu aktif di gereja, lalu lupa keluarga, lupa kerja! Terlalu getol kerja, lupa keluarga, apalagi gereja! Atau begitu mencintai keluarga mengabaikan keja dan gereja.
Kalau kita buat penelitian, maka kerja dan keluarga itu – dapat kita duga – pasti menempati ranking paling atas dalam skala prioritas kita. Dan gereja ranking paling bawah (kecuali yg ekstrim).
Yg disebut seimbang dan yg dikehendaki Tuhan: bukan masing2 dapat 30%. Kalau 1 hari 24 jam: 8 jam u/ kel, 8 jam u/ kerja, 8 jam u/ grj. Bukan sepertiga atau 30% u/ masing2. U/ masing2 Tuhan menuntut 100% tanggung jawab. Tanggung jawab di tempat kerja, bukan 33% tetapi 100%. Di keluarga begitu dan di gereja pun begitu.
100% t.jawab! Ini tidak sama dengan 100% waktu! Tdk bisa juga masing2 dapat sepertiga waktu supaya seimbang. Bukan. Apalagi jk kita lihat situasi di Jkt, orang rata2 bekerja berangkat 06.30 pagi dan sampai di rumah kembali pkl 19.00. Jadi 12 jam u/ kerja, sisa 12 jam: 7 jam istirahat dan 5 jam u/ kel & grj.
Tdk apa yg menentukan bukan kuantitas tetapi kualitas. Walaupun kurang 5 jam dpt kita alokasikan u/ kel, yg penting t jawab, perhatian, dan komitment 100%. Ingat: Tuhan tidak menuntut lebih dari yang kita punya dan yang kita ada (2Kor.8:12).




RAMLI SN HARAHAP

Epistel Minggu 19 April 2009

SIAP UNTUK MELAKUKAN YANG BAIK
Titus 3 : 3 - 7

Latar belakang Teks
Kitab Titus adalah salah satu bagian dari Surat Penggembalaan yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam konteks sejarah awal pertumbuhan gereja. Tetapi yang perlu diingat bahwa Ketiga Kitab Pasotral/ Kitab Penggembalaan ini adalah ditulis dalam masa akhir dari kehidupan Paulus, sehingga ada kerinduan dalam hatinya agar kabar baik yang selama ini giat dikerjakannya agar jangan percuma tetapi bisa berkembang. Oleh karena itu ia membutuhkan tenaga muda yang bias menjadi kadernya secara utuh yang melanjutkan semangat , pikiran dan visi misi yang telah diperjuangkan selama ini. Dalam arti Kitab Pastoral adalah sebuah kitab yang berisi upaya-upaya dalam memelihara , mempertahankan dan memperdalam daya kelola gereja yang baru bertumbuh kea rah yang lebih berkualitas sesuai dengan transformasi nilai-nilai lama dari budaya local ke nilai-nilai yanlebih tajam dan universal dalam budaya Kristen. Budaya Kreta yang menjadi “medan” dari kabar baik, adalah sebuah tantangan historis dari Injil, dengan menyiapkan upaya sistematik dari Paulus dengan memanggil Penilik penilik Jemaat sebagai kader atau “agen perubahan” yang kokoh dalam hal teladan atau contoh nilai-nilai baru yang semaksimal mungkin menjadi cahaya pengharapan baru di daerah Kreta, dimana Surat Paulus ini dialamatkan. Orang Kreta disebut dengan karakter: “pembohong, binatang buas, pelahap dan malas”(1:12), adalah tugas berat dari Titus untuk menawarkan perubahan ke arah yang lebih baik dan positip dengan memakai penilik jemaat yang tidak bercacat (1:6). Orang Kreta adalah sebuah nama sindiran dari karakter yang menunjuk sifat-sifat durhaka atau pemberontak.
Kitab ini ditulis dalam kondisi Rasul Paulus yang masih terus giat sekali untuk melakukan ekspansi zending dengan harapan bahwa semua orang kafir harus mendapatkan kabar Baik sebelum datangnya eskhaton (hari kedatangan Yesus kedua kali). Paulus lebih berperan sebagai “perintis” zending ke daerah-daerah yang belum mengenai Kabai Baik, sehingga beliau hendak fokus untuk mencari dan menanamkan Injil kepada daerah yang masih terbentang luas di antara daratan Asia Kecil dan daratan Eropa. Dalam hal inilah Paulus memahami bahwa kabar baik itu bukan hanya perlu untuk disebar atau diwartakan ke seluruh dunia tetapi perlu sekali untuk dipertahankan dan dipelihara kemurniannya dari segala ajaran-ajaran palsu yang beredar keras sekali di daerah Kreta.

A. EKSPLORASI TEKS
Perikop epistel kita kali ini, lebih terfokus ke bagian akhir dari Kitab Titus, yaitu bagian “tona na parpudi/pesan-pesan akhir Paulus” kepada Titus, anaknya dalam iman. Pesan akhir ini memberikan kesan bahwa Paulus juga membuktikan bahwa orang Kristen bukan hanya berbuat untuk gereja yang selalu dihantam ajaran tidak sehat secara internal, tetapi tidak lupa juga untuk mengabdikan diri dan hidupnya ke dalam bingkai “the responsibility of social”, sebuah gambaran bahwa orang Kristen adalah bukan anti sosial di mana ia hidup, dan tidak melulu hanya “soor” sendiri dengan surganya, tetapi ditekankan untuk “tunduk” kepada pemerintah. Kata tunduk artinya bahwa orang Kristen selalu siap untuk mendukung segala sesuatu perbuatan yang baik yang sesuai dengan ketertiban dan kesejahteraan bersama.
Dalam bingkai tanggungjawab itulah Rasul Paulus sebenarnya mengingatkan bahwa “dulunya” orang-orang Kristen Kreta adalah hidup dalam kejahilan, tidak taat, sesat, hamba nafsu, dengki keji dan saling membenci (3:3) mungkin bisa dibanding orang Batak yang hidup dalam karakter HOsom, Teal, Elat dan Late (HOTEL). Artinya Paulus menekankan komparasi masa lalu dan masa sekarang dalam konteks hidup baru dalam anugrah Tuhan. Hidup dalam dalam pengharapan orang Kreta yang baru, orang Kreta yang loyal di Tuhan, bukan orang Kreta Durhaka atau Pemberontak. Itulah visi perubahan Rasul Paulus yang dititipkan kepada Titus. Artinya bahwa karakter lama yang merupakan karakter kafir/sipelebegu itu sudah saatnya dikikis dalam kontek soteriologi yang membuka sebuah dimensi pengharapan baru. Pengharapan yang dasarnya dalam ayat 4: “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita….” Yang mana “yang dahulu” kafir harus dilawan dengan komitmen anugrah Agung dari Tuhan Yesus dengan rahmatnya, bukan dengan perbuatan baik , tetapi dengan mengandalkan perbuatan sempurna Tuhan di dalam rahmatNya. Artinya perbuatan baik tidaklah sama dengan perbuatan sempurna, hanya Tuhan yang bisa melakukan kesempurnaan sejati dalam anugrah yang luar biasa.
Jika dikatakan tentang “pemandian lahir kembali dan pembaharuan yang dikerjakan leh Roh Kudus,”(ay. 5), adalah sebuah istilah yang menggambarkan proses transformasi dari kehidupan dahulu yang jahil ke dalam sebuah pembaharuan karakter yang ditopang oleh kekuatan Roh Tuhan ke dalam karakter baru, bukan karena kemampuan sendiri, tetapi dengan energy atau tenaga dari Roh Tuhan, sebab sebuah perubahan adalah sebuah proses pergumulan yang tidak gampang seperti membalikkan telapak tangan, tetapi adalah perjuangan yang memerlukan perlawanan kokoh untuk tabiat lama agar tidak muncul dan berbuah dalam perbuatan. Artinya peperangan itu adalah sebuah “pemandian”(bnd. istilah baptizo), bukan pemandian secara pisik yang ditekankan Paulus, tetapi sebuah pengaruh rohani ke dalam diri seseorang yang percaya. Jika pemandian pisik, berarti tidak perlu lagi ada pergumulan batin, tetapi sering kali ditafsirkan sesat sebagai “pembaptisan ulang” yang sama kali naïf dan dangkal. Alkitab tidak pernah sekalipun menekankan bahwa orang lahir baru harus “dimandikan” secara fisik. Seperti Nikodemus yang mempertanyakan alhir baru dari dimensi dilahirkan kembali dari rahim ibunya, tetapi Yesus menekankan bukan rahim yang lama, tetapi “rahim yang baru” di dalam Roh Tuhan. Kelahiran kembali adalah gambaran bahwa adanya paradigm yang baru dalam memandang hidup ini, yang mana paradigm itu lahir dari campur tangan Anugrah Tuhan yang menggugah manusia dalam pengorbanan Yesus di Golgata. Sedangkan baptis selam atau baptis ulang, hanyalah sebuah tipu daya teologi untuk memasukkkan orang lain menjadi anggota / member dari organisasi gereja, dengan kata lain, baptisan ulang adalah sesungguhnya bukan tindakan Roh Tuhan tetapi tindakan organisasi manusia yang mengatasnamakan Tuhan saja.
Demikian juga dengan “pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” adalah sebuah tuntunan atau bimbingan pribadi atau dan dalam persekutuan / koinonia, bahwa bimbingan itu memberikan arah dan tuntunan pertumbuhan rohani ke arah yang sempurna dalam menjawab semua tantangan realitas hidup. Pemandian dan pembaharuan, dua kata yang menarik dalam surat Paulus kali ini, adalah dalam rangka menekankan tentang Yohanes 3:5-6: “Aku berkata kepadaMu, sesungguhnya jika manusia tidak dilahirkan dari air dan roh, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh.” Artinya jika manusia sudah sanggup dalam kekuatan kebersamaannya dalam Roh Tuhan mengikis nafsu daging, nafsu pemberontak orang Kreta, yang malas, dengki, pembual, pelahap itu harus dilawan dalam kekuatan Roh Anugrah, bahwa Juruslamat akan menyertai komitmen orang-orang kafir atau jahil yang mau meninggalkkan kejahilannya, serta masuk ke dalam hidup lembut dan tertib di dalam Tuhan.
Artinya, bahwa dalam ayat 7 ditekankan dimana tujuan proses itu adalah untuk mencapai hidup kekal. Eternal Life, tidak bisa didapatkan begitu saja, tetapi yang berhak mendapatkan itu adalah selain orang yang pasti mempunyai jaminan hidup kekal, tetapi hidup kekal itu merupakan hadiah yang diberikan kepada orang-orang yang tahu bersyukur atau berterimakasih. Orang yang hidup baru adalah orang yang merespon anugrah mahal itu dengan rasa syukur yang mendalam dalam proses menjadi orang Kreta yang baru. Proses keselamatan Tuhan itu, harus disambut dengan respek atau rasa hormat dalam karakter yang diinginkan oleh Sang Pemberi Anugrah, dimana rasa hormat itu diwujudkan dengan “pakaian pesta” yaitu komitmen dan tabiat baru dalam melawan segala kebiasaan using di tempo doeloe itu. Eternal Life adalah gambaran bahwa perjuangan kita di dalam Tuhan itu bukanlah perjuangan hampa tetapi jelas dan tegas dalam membuktikan diri dalam dunia bahwa kita adalah orang-orang yang baru. Pulau Kreta adalah salah satu dunia atau pentas atau panggung bagi orang-orang sorga yang melatih hati dan pikirannya untuk sesuai dengan Sang Juruslamat, yang mempunyai kunci sorga. Pentas dibutuhkan, bukan seperti pentas sandiwara, tetapi realitas dari manusia yang rela menjadi serupa dan hidup ento kristou di dunia ini.
Jika dilihat dalam perikop 3:3-7 ini, maka dapat disimpulkan bahwa pesan terakhir Surat Paulus ini mengharapkan agar orang-orang percaya itu adalah orang-orang yang SIAP UNTUK MELAKUKAN YANG BAIK, tetapi bukan dari dirinya sendiri melainkan dalam konsep Rahmat atau kash karunia dari Tuhan, yang membuktikan kontribusi orang Kristen di tengah-tengah masyarakat social maupun dalam dunia pemerintahan, sehingga fungsi sebagai Garam dan Terang Dunia dari umat Kristus dapat semakin bersinar dalam perbuatan baik.

B. APLIKASI
Dalam konteks orang Indonesia, ada beberapa kesamaan sifat orang Kreta pada waktu 2000 tahun yang lalu, budaya malas dan tidak jujur serta larut dengan mitos-mitos masa lalu kejayaan Raja Sriwijaya dan Gajah Mada tempo dulu, telah membuktikan bahwa masih banyak sekali hutang orang Kristen untuk membangun NKRI yang lebih baik. Keadilan dan kemakmuran bersama semakin jauh dari impian, karena banyak sekali orang rakus atau kemaruk yang memamerkan keserakahan dan arogansi sepihak, sementara kekuatan mayoritas selalu mempropagandakan diri untuk menggeser ideologi Negara kita. Selain doa, Kristen harus berbuat dan membuktikan pengaruhnya sebagai barisan “agama kasih” yang mengobarkan nilai-nilai loyalitas dengan setia selalu kepada prinsip-prinsip kasih yang menopang Negara ini ke dalam jalan yang tidak sesat. Gereja harus melebur dalam barisan anti kebohongan, anti kemalasan, anti premanisme dan anarkhir. Orang Kristen adalah orang yang tertib, jujur dan pekerja keras, tertib dan bersih. Kita seharusnya masih malu, sebagai contoh konkrit, di mana ada beberapa kawasan preman, profesi dan daerah Kristen yang sering diwarnai alkohol/lapo tuak, preman dan kumuh karena parit tersumbat dan halaman rumah yang kotor. Kesan itu seharusnya adalah kesan yang tidak lagi muncul dalam suasana lingkungan komunitas Kristen.
Dalam hal inilah, masih relevan kita pahami Teologi Pengharapan, dari Jurgen Moltmann, di mana dalam konteks yang jauh dari pengharapan, kita masih bertindak positip demi membenahi apa yang perlu dilakukan baik secara pribadi, keluarga maupun secara kolektif, sebagai respon kita terhadap ajaran anugrah yang dari Yesus Kristus. Dimana orang Kristen harus melakukan tindakan nyata dalam membuktikan dirinya sebagai bagian yang bukan minoritas di Negara ini, terutama bukan minoritas dalam hal menunjukkan pengabdian dan kontribusi positip di NKRI. Gereja sudah saatnya bersinar terang sebagai bukti bahwa gereja kita tidak sibuk hanya memikirkan dirinya sendiri dengan berbagai dilemma organisasi manusia yang membuat tenaga kita kurang bersinar dan dikenal Negara tercinta ini. Kita harus siap untuk berbuat baik karena anugrah keselamatan sudah kita miliki. Nilai-nilai “anugrah” Tuhan itu harus membumi dan bisa dirasakan oleh semua orang, semua suku, semua agama di NKRI. Anugrah yang tidak membumi, hanyalah sebatas khotbah organisasi yang memberikan utopia yang muluk-muluk, yang tidak berpihak kepada rakyat kecil, sebagaimana Tuhan kita yang berpihak nyata kepada rakyat kecil dan tertindas. Orang Kristen yang berjuang merubah watak orang Pulau Kreta lama, demikian juga orang Kristen Indonesia harus merubah watak orang Indonesia lama ke dalam “Indonesia Yang Baru”, yang lebih adil dan sejahtera .

Sabtu, 04 April 2009

Bahan Sermon Ama GKPA

”MEMPERKUAT DASAR ROHANI:
PEMURIDAN GAYA HIDUP”
(Yesaya 54 : 13)

Semua anakmu akan menjadi murid TUHAN, dan besarlah kesejahteraan mereka
Ketika saatnya tiba, kita akan mengakhiri perjalanan hidup kita di dunia ini. Jika hidup kita berakhir, hal apakah yang akan kita wariskan bagi anak-cucu kita? Jika kita mewariskan hal-hal duniawi saja, hal itu tidak akan kekal, warisan itu akan sirna dan habis seturut dengan waktu dan kondisi. Namun jika harta rohani kita wariskan, maka warisan ini tidak akan hilang begitus saja, melainkan warisan itu akan tetap dikenang sepanjang masa. Oleh sebab itu, selama masih ada kesempatan diberikan Tuhan kepada kita, marilah kita mengembangkan sistem rohani dalam diri anak-cucu kita. Bagaimana caranya? Dalam Ulangan 6:4-6, Musa memerintahkan para orangtua mengikuti perintah Allah. “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu” (Ul.6:7-9).
Selanjutnya ada suatu pertanyaan yang sangat penting: pada zaman ini, bagaimana kita dapat membicarakan dan mengulang-ulang kebenaran itu sementara berada di rumah, dalam perjalanan, sedang berbaring, atau sedang bangun? Ada beberapa cara yang harus kita hidupi dan lakoni dalam rangka memperkuat dasar rohani anak-anak kita yaitu:
1. Jadilah teladan. Ketika anak kita melihat hidup kita, apakah mereka hanya melihat seseorang yang memiliki pengetahuan tentang Allah, memercayai hal-hal yang benar, dan menghindari hal-hal buruk, ataukah mereka sungguh-sungguh dapat melihat seseorang yang akrab dan punya hubungan kasih yang terus bertumbuh dengan Yesus Kristus? Panggilan utama kita bukan menjadi orangtua yang baik. Panggilan utama kita adalah menjadi teladan tentang hubungan kasih yang nyata dengan Allah yang hidup.
2. Mendefinisikan kerohanian yang sesungguhnya. Kerohanian yang sejati ditandai oleh banyak hal, terutama orangtua yang lapar dan haus akan kebenaran. Dunia telah membuat kita lapar dan haus akan kesenangan, dorongan, hal-hal baru, kepuasan, berkat, dan keberhasilan. Budaya kita lebih menekankan materialisme daripada kedewasaan. Kita hidup dalam generasi adiktif yang lebih dikendalikan oleh keinginan akan kepemilikan materi dan hal-hal lain yang membuat kita tampak berhasil. Allah tidak menciptakan kita untuk lapar dan haus akan pengalaman, berkat dan keberhasilan. Musuh besar dari lapar akan Allah bukanlah racun, tetapi makanan enak. Bukan sekumpulan dosa yang akan melemahkan hasrat kita akan perkara surgawi, tetapi tanggapan kita yang tak habis-habisnya terhadap hal-hal yang dunia tawarkan.
3. Tunjukkan kedisiplinan. Hadapilah kenyataan ini: hal penting yang dapat dilakukan orangtua adalah mencetak dan membentuk karakter rohani anak. Namun bagaimana kita dapat membantu anak-anak mengembangkan karakter yang saleh dalam masyarakat yang tidak mengetahui arti integritas? Tidak cukup sekedar mendisiplinkan anak-anak sehingga mereka berlaku baik dan tidak mempermalukan kita. Pengembangan karakter yang sejati harus dimulai dari batin, dengan motif yang benar, hasrat yang tidak mementingkan diri sendiri, dan pikiran murni yang timbul dari hubungan yang akrab dengan Allah. Jika anak-anak sehat secara rohani, kita tidak perlu khawatir ketika mereka bergaul dalam masyarakat. Pembentukan rohani melaju melampaui informasi rohani. Pembentukan rohani meliputi proses pembentukan karakter dan sifat-sifat Kristus dalam diri kita. Unsur kunci dari pembentukan rohani adalah pengembangan rohani. Menerapkan kedisiplinan saja tidak akan menghasilkan murid. Menampilkan perilaku rohani tidak secara otomatis dapat menghasilkan kerinduan akan Tuhan.
4. Mengembangkan kepekaan suara hati. Eli seorang pilihan Allah. Sebagai imam, ia tampak cukup berhasil. Ia memimpin bangsa Israel selam 40 tahun. Ia berkuasa, berpengaruh dan disegani. Ia dihormati, dikenal sebagai pekerja keras, dan setia dalam banyak hal. Namun, Eli sadar bahwa keberhasilan dalam satu hal tidak menjamin keberhasilan dalam hal lain. Kegagalannya sebagai orangtua, ketidakmampuannya dalam membantu anak-anaknya mengembangkan kepekaan suara hati mereka, membuat Eli kehilangan pengaruh sebagai seorang imam. Kegagalannya untuk menuntun anak-anaknya menodai kekudusan Allah dan Bait Suci (baca 1Sam.1:12,17,25-26). Anak-anak Eli tidak mengembangkan kepekaan mereka terhadap suara hati dan mereka tidak tahu bagaimana merasa malu. Mereka tidak peka terhadap dosa mereka sendiri dan mengabaikan ajaran Allah serta peringatan ayah mereka. Akar permasalahan yang dihadapi anak-anak bukanlah kurangnya gizi, informasi, atau lingkungan sosial yang lebih baik. Bukan pula rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri dan kurangnya kesempatan. Masalah utama mereka adalah bahwa mereka berdosa. Oleh sebab itu, tugas kita sebagai orangtua adalah menuntun dan membantu anak-anak agar tidak melakukan dosa dan menjadi orang yang benar. Anak-anak tidak akan pernah mengembangkan kepekaan terhadap suara hati mereka jika tidak melihat keteladanan pada diri orangtua mereka.
5. Perdalam kehidupan doa kita. Tujuan kita berdoa bukanlah untuk bergantung pada jawaban doa itu, tetapi kepada Allah. Banyak keluarga Kristen sangat sedikit menghargai kuasa doa dalam kehidupannya. Doa sangat penting dalam pengasuhan anak. Kita harus menekankan kepada anak-anak kita bahwa kegiatan yang dilakukan di Gereja tidaklah lebih rendah daripada kegiatan yang dilakukannya di sekolah maupun di luar sekolah. Kita harus menegaskan dan menanamkan kepada anak-anak kita bahwa Pendalaman Alkitab dan doa merupakan hal yang terpenting dilakukan daripada yang lainnya (bnd. Mat.6:33). Dengan penekanan seperti itu, maka anak-anak kita akan belajar mengasihi Tuhan. Mereka dapat belajar pentingnya hidup bagi Dia. Mereka dapat mulai mengembangkan disiplin rohani. Mereka dapat dipakai Allah memengaruhi dunia sekitar mereka.

Masih banyak hal yang mungkin kita bisa daftarkan di luar yang baru saja kita bahas di atas. Dari berbagai pengalaman kita mari kita gali dan sharing bersama, bagaimanakah kita sebagai orangtua meletakkan dasar rohani kepada anak-anak kita. Dan harus kita ingat bahwa cara yang terbaik dalam rangka meletakkan dasar iman rohani anak kita adalah dengan gaya pemuridan. Hidup kita menjadi guru dan pembelajaran kepada anak-anak kita. Artinya kita harus jadikan pemuridan sebagai gaya hidup kita sehari-hari. Amin!




Ramli SN Harahap fidei/gladys’08 211108

Jumat, 03 April 2009

ULASAN TEOLOGI: KESULITAN MENERAPKAN HUKUM TAURAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI ORANG KRISTEN

KESULITAN MENERAPKAN HUKUM TAURAT
DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI ORANG KRISTEN

I. PENDAHULUAN
Orang-orang Kristen sering menghadapi beberapa rintangan dan kesulitan untuk mengerti Hukum Taurat dan menerapkan serta melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan mereka merasa bahwa ada sebuah jarak antara mereka dengan hukum-hukum Taurat yang tertulis dalam Perjanjian Lama (PL) yang sudah kuno.
Peranan, fungsi dan makna Hukum Taurat dalam perjalanan kehidupan ke-Kristen-an saat ini sudah mulai ‘kabur’. Hukum Taurat tidak lagi dipahami dan dimengerti sebagai hukum yang bersumber dari Allah sendiri yang harus dipatuhi dan dilakukan. Orang Kristen saat ini sudah lebih mematuhi produk hukum yang dibuat oleh manusia dari pada mematuhi hukum yang dibuat oleh Allah sendiri. Manusia lebih takut melanggar hukum manusia dari pada melanggar hukum Tuhan.
Ada banyak tantangan dan kesulitan yang dihadapi oleh Gereja untuk menerapkan Hukum Taurat dalam perjalanan kehidupan orang percaya. Dalam bahasan ini kita akan mencoba melihat beberapa kesulitan yang dihadapi Gereja dan bagaimana solusi yang akan ditempuh baik secara teologis maupun secara praktis.

II. PENGERTIAN HUKUM TAURAT
a. Pengertian
Alkitab bahasa Indonesia menerjemahkan tora - תורה (bhs.Ibrani) dan nomos - ηομος (bhs.Yunani), yang masing-masing muncul kira-kira 200 kali, dengan ‘hukum Taurat’, ‘hukum’ saja. Sejak permulaan istilah tora digunakan untuk menggambarkan ajaran mengenai satu hal, keputusan-keputusan yang diambil untuk memecahkan soal yang musykil. Contoh yang baik ditemukan dalam Hag.2:11-13, di mana ditanyakan keputusan para imam mengenai soal ketahiran. Keputusan para imam, petunjuk mereka bagi tingkah laku umat disebut tora, ‘ajaran’.
b. Sifat dari Hukum Perjanjian Lama
Hukum PL ialah koleksi hukum-hukum yang Allah berikan kepada bangsa Israel selama zaman Musa. Lebih dari enam ratus hukum mengatur ketaatan bangsa Israel kepada Allah. Kita mendapatkan kumpulan hukum-hukum ini di tiga bagian utama dalam Pentateukh (lima kitab pertama dari PL). Koleksi tertua dikenal dengan sebutan kitab perjanjian (Kel.20:1-23:33, sebutan ini dipakai di 24:7). Yang paling akhir terdapat di hukum-hukum dari kitab Ulangan (4:33-29:1). Hukum ini diberikan oleh Musa di lembah Moab sebelum ia meninggal dan sebelum bangsa Israel masuk ke Negeri Perjanjian. Tujuan Musa ialah untuk memperingati bangsa Israel agar tidak berbuat dosa sebagaimana mereka pernah berdosa di belantara. Sebab itu ia mengulangi (seringkali dengan variasi) bagian-bagian yang pernah diberikan di hukum yang pertama. Yang menarik ialah baik kitab perjanjian dan hukum dari Kitab Ulangan mulai dengan Sepuluh Hukum (Kel.20:1-17 dan Ul. 5:6-21).
Kitab Imamat dan Bilangan terdapat di antara kedua hukum tersebut. Seperti Kitab Keluaran dan Ulangan, kedua kitab itu merupakan kitab-kitab yang menggabungkan naratif dan hukum. Uraian tentang peraturan-peraturan yang terdapat dalam Kitab Imamat dan Bilangan kebanyakan berfokus kepada ibadah formal bangsa Israel, yaitu tentang peraturan-peraturan yang berhubungan dengan imam, korban-korban, dan ritual pengudusan.
Beberapa peraturan-peraturan di Kitab Imamat yang menetapkan seseorang bersih atau najis, sukar kita terima pada masa kini. Bagi kita sekarang, persoalan bersih atau najis berkaitan dengan kesehatan fisik. Bagi para imam di zaman PL, hal ini berhubungan dengan kesucian agama. Seseorang yang bersih berarti ia berada dalam keadaan yang benar untuk menghampiri Allah yang berkuasa dan kudus. Orang yang menghampiri Allah dalam keadaan najis berarti ia akan mengalami malapetaka.
Pikiran serupa berlaku untuk makanan-makanan yang kosher (tidak haram, boleh dimakan). Beberapa macam daging tidak boleh dimakan, tetapi bukan karena mereka dianggap tidak sehat. Rupanya mereka dianggap tidak mewakili bagian ciptaan yang kudus. Hewan-hewan yang tidak haram mempunyai beberapa karakteristik yang tidak dimiliki oleh hewan-hewan yang haram. Umpamanya, hewan-hewan darat yang boleh dimakan harus memamah biak dan berkuku belah (Im.11:1-8). Unta, kelinci, dan babi tidak termasuk golongan hewan ini. Pemisahan hewan-hewan haram dan tidak haram mempunyai persamaan di antara manusia yang juga terbagi menjadi tidak haram (Israel) dan haram (bangsa kafir).
c. Hukum Moral, Sipil dan Ritual
Ketika kita mengamati hukum-hukum Musa, kita mendapati bahwa hukum-hukum ini berhubungan dengan isu-isu penting yang beraneka ragam, dan mencakup hubungan antara Allah dengan manusia dan antara sesama manusia. Umpamanya, kita sudah melihat bahwa sebagian besar hukum-hukum dalam Kitab Imamat dan Bilangan berhubungan dengan ibadah formal bangsa Israel, tetapi ada juga hukum-hukum yang berhubungan dengan bangsa Israel sebagai seorang anggota masyarakat dan dalam menjalankan peraturan-peraturan moral yang khusus. Kitab Keluaran dan Ulangan juga berisi hukum-hukum yang berhubungan dengan manusia sebagai makhluk bermoral, anggota masyarakat dan orang yang beribadah.
Sebab itu sekarang sudah menjadi praktik umum untuk membedakan tiga macam hukum Perjanjian Lama. Disamping ada hukum moral, ada juga hukum sipil dan ritual. Pertama, hukum moral menyatakan prinsip-prinsip Allah untuk berhubungan yang benar dengan Dia dan dengan sesama. Sepuluh Hukum merupakan ekspresi kehendak Allah yang paling jelas dan kuat untuk umatNya. Kedua, hukum-hukum sipil. Hukum-hukum ini mengatur bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah yang menjadi umat pilihanNya. Ketiga, hukum ritual yang menggambarkan bagaimana bangsa Israel harus menyembah Tuhan.
d. Peranan Hukum Taurat bagi bangsa Israel
Menurut A van Selms, pengaruh tora dalam hidup bangsa Israel banyak sekali, kendati penulis-penulis pada waktu itu mengeluh bahwa tora diabaikan. Telah disinggung bahwa nubuat di Israel mengandaikan adanya tora dalam bentuk lisan atau tertulis (bd. Mi.6:8; Hos.4:2; Yer.7:9). Kitab-kitab seperti Hakim-Hakim, Samuel dan Raja-Raja menyajikan sejarah Israel dari sudut pandang tora, sambil menunjukkan bahwa waktu-waktu ketaatan kepada Allah adalah waktu-waktu kelimpahan kebendaan maupun kerohanian, sementara bila tora diabaikan maka tibalah bencana menimpa Israel. Mazmur 1, 19, dan 119 memuliakan tora sebagai anugerah Allah yang terbesar. Bahkan dalam Amsal, seperti telah kita lihat tora sering diberi arti pengajaran manusia, hukum ilahi dipuji sebagai permulaan segala hikmat dan kebahagiaan (lih. Amsal 28:4,7,9,18). Penetapan Pentateukh pada akhirnya sebagai buku pegangan dasar dari semua tora, bertepatan dengan hilangnya semangat kenabian, menyebabkan bangkitnya kelompok pimpinan kerohanian baru, yaitu ‘ahli-ahli Taurat’, dan Ezra merupakan teladan pertama (Ezr.7:6; Neh.8:1-8). Lebih dalam Selms mengatakan bahwa bagi bangsa yang terserak-serak di kemudian hari, tora terbukti lebih penting dari ibadah korban di Yerusalem.

III. KESULITAN MENERAPKAN HUKUM TAURAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Bagi warga jemaat Kristen saat ini, hukum Taurat bukanlah sesuatu yang harus diwajibkan untuk dikerjakan. Mereka melihat hukum ini bukan hukum yang harus dipatuhi untuk zaman ini. Hukum Taurat hanya merupakan pengetahuan sejarah Alkitab saja. Pengajaran Hukum Taurat ini pun kurang begitu ditekankan oleh pihak gereja lagi. Gereja mungkin menganggap bahwa pengajaran utama ialah pengajaran tentang kasih Yesus Kristus. Dampak langsung bagi warga jemaat bila tidak melakukan hukum Taurat dirasakan tidak ada sehingga hukum Taurat itu sendiri tidak dihargai sebagai sesuatu hukum yang mutlak harus dipatuhi.
Kesulitan yang sering membuat Hukum Taurat itu dilaksanakan, menurut Eka Darmaputra dalam bukunya, “Sepuluh Perintah Allah – Museumkan saja?” mengatakan, bahwa setidaknya ada tiga alasan mengapa kita perlu memuseumkan Sepuluh Perintah Allah:
1. Pertama, adalah karena menurut mereka, roh yang sedang bertiup kencang di zaman kita sekarang adalah “roh kemerdekaan”. Semangat kebebasan. Kemerdekaan dan kebebasan yang dicapai melalui perjuangan panjang dan penuh pengorbanan. Karenanya, manusia tak mau kehilangan itu lagi – walau sedikit.
2. Kedua,Dasa Titah dihormati sebagai salah satu warisan sejarah yang tak ternilai. Namun ya begitulah, rasa hormat tersebut hanyalah penghargaan seperti yang diberikan orang terhadap, misalnya, sebuah jambangan antik dari dinasti Ming, atau manuskrip kuno macam Serat Centini.
3. Ketiga, Dasa Titah dianggap tidak fungsional lagi karena kita adalah “umat Perjanjian Baru” (PB). Sepuluh Perintah Allah adalah produk Perjanjian Lama. Hukum kasih dalam Perjanjian Baru lebih akurat untuk kita ikuti!

Di dalam kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai beberapa kesulitan untuk menjalankan Sepuluh Perintah Tuhan ini. Pada hal, menurut Al.Budyapranata Pr., Sepuluh Titah Tuhan ini singkat sekali, karena ditujukan untuk semua orang, sehingga isinya jelas, juga untuk orang yang bodoh sekali pun.
Di bawah ini akan kita bahas sebagian dari Sepuluh Titah Tuhan tentang beberapa kesulitan dan tantangan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari:
1. Perintah Pertama: “Akulah Tuhan Allahmu, seru Tuhan kita, tidak boleh ada Allah lain, kecuali Aku”. Menurut Eka Darmaputra, tantangan kita dalam menghayati perintah ini adalah dengan adanya Politeisme dan Henoteisme. Politeisme adalah orang yang menganggap bahwa Tuhan itu tidak cuma satu, tapi banyak. Orang beribadah kepada bermacam-macam Tuhan. Sedangkan para penganut Henoteisme – berbeda dengan penganut politeisme – siap untuk menerima, percaya, dan menyembah satu “allah” saja. Mereka tidak beribadah kepada banyak “allah”, tidak pula menyembah “allah” yang lain, kecuali kepada yang “satu” itu. Bagi para “henoteis”, “allah” orang lain itu adalah “Allah” juga. Bukan “allah” palsu atau apa. Cuma saja, “allah” tersebut adalah “allah” orang lain. “Allah”-nya, bukan “Allah”-ku. “Allah” mereka, bukani “Allah” kita!
2. Perintah Kedua: “Janganlah perbuat bagimu patung yang menyerupai apa pun, yang ada di langit, atau yang ada di bumi, atau yang ada di dalam air untuk disembah atau bertaqwa kepadanya.” Secara positif perintah ini menganjurkan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Luk.10:27) Namun dalam menjalankan perintah ini pada zaman sekarang, kita menghadapi tantangan dari beberapa aliran seperti: Materialisme dan Humanisme. Materialisme, mengajarkan, bahwa nilai yang tertinggi di dunia ini adalah materi (benda) saja. Tidak ada jiwa, tidak ada roh, tidak ada kebahagiaan kekal, dan tidak ada Tuhan. Bahkan sering kali yang menjadi berhalanya adalah: “Aku”nya, atau kesenangannya sendiri. Sedangkan Humanisme, adalah bentuk pemujuaan yang berpusat pada manusia. Dasar pandangan humanisme adalah bahwa manusia itu adalah otonom, sudah bisa berdiri sendiri tanpa membutuhkan Tuhan alam hidupnya. Manusia adalah penguasa dan pengatur alam semesta. Tuhan itu tidak ada. Sebab Tuhan itu menurut mereka hanyalah semacam fantasi atau ilusi manusia saja.
3. Perintah Ketiga: “Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan seenaknya karena Allah akan menghukum orang yang menyalahgunakan nama-Nya.” Perintah ini mengingatkan kita akan keluhuran Nama Tuhan. Maka dalam perintah ini terkandung tujuan: Sebutlah Nama Tuhan hanya demi keluhuranNya. Tantangan untuk menjalankan perintah ini adalah melalui Sumpah Palsu dan Menyalah-gunakan Agama. Sumpah palsu berarti menghina Tuhan.
4. Perintah Keempat: “Ingat dan sucikanlah hari yang dikuduskan itu…” Maka dalam perintah ini sebenarnya terkandung maksud: (1) Waktu (hari) khusus yang harus kita istimewakan bagi Tuhan. (2) Supaya kita berani merefleksikan tujuan hidup dan kerja kita di hadapan Tuhan untuk dapat menemukan rencana Tuhan di dalamnya. Tantangan yang sering kita hadapi untuk melaksanakan perintah ini adalah kebijakan pemerintah/instansi/perusahaan negara/perusahaan swasta yang mewajibkan bekerja pada hari Minggu. Kemudian seringnya para jemaat melaksanakan adat-istiadat, arisan, berlibur pada hari Minggu.
5. Perintah Keenam: “Jangan membunuh.” Perintah ini menganjurkan agar kita menghargai kehidupan manusia; menghargai hak hidup, dan mempertahankan nilai kehidupan. Namun yang sering kita hadapi dalam melakukan perintah ini adalah: Bunuh diri, mematikan orang lain, abortus, euthanasia, membahayakan orang lain karena kelalaian, hukuman mati, perang.
6. Perintah Ketujuh: “Jangan engakau berjinah” Tantangan dalam melakukan hukum ini adalah: selingkuh, perceraian, polygami, dll.

IV. SOLUSI SECARA TEOLOGIS DAN PRAKTIS
a. Secara Teologis
Kasih tanpa hukum, kacau-balau, tetapi hukum tanpa kasih, kaku. Pepatah ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Jika Gereja terlalu menekankan kasih atau anugerah, dan melalaikan hukum Tuhan (Taurat), maka bisa saja Gereja itu akan mengalami kekacau-balauan. Sebaliknya, jika Gereja hanya menekankan hukum, dan melalaikan kasih dan anugerah Allah, maka akan terjadi kekakuan. Kita harus memelihara Hukum Tuhan (Taurat) supaya orang menahan diri berbuat dosa. Namun perlu ditekankan seperti yang dikatakan Martin Luther, bahwa fungsi dan kuasa terpenting dari hukum itu adalah untuk menampakkan dengan jelas dan terang dosa asali itu.
Bagi bangsa Israel di zaman perbudakan di Mesir dan bagi umat percaya sekarang, keselamatan berasal hanya karena oleh anugerah Tuhan. Sebagaimana Paulus menekankan, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Rm.3:20). Peran hukum pada zaman ini sama seperti pada zaman lalu: hukum merupakan petunjuk bagi kehidupan kita yang berasal dari Tuhan yang murah hati agar kita boleh menyenangkan Dia dan menjadi kebaikan untuk kita.
Sebagaimana orang Kristen, kita mengetahui dengan jelas akan ketidakmampuan kita melakukan hukum Taurat. Kita tahu bahwa kita adalah pelanggar-pelanggar hukum. Paulus menekankan keberdosaan manusia yang bersifat universal dengan mengutip Perjanjian Lama: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.” (Roma 3:10-12 // Mzm.14:1-3 // Mzm.53:1-3)
Kesalahan manusia bukan dari banyaknya dosa. Yakobus memperingati kita berusaha menyelamatkan diri melalui kebaikan kita bahwa “barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. Sebab Ia yang mengatakan: "Jangan berzinah", Ia mengatakan juga: "Jangan membunuh". Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga” (Yak. 2:10-11).
Tetapi keadaan buruk manusia ternyata lebih menyedihkan. Melalui penerangan dari Khotbah di Bukit (Mat. 5-7), di mana Yesus menekankan Hukum Taurat, sukar dipercaya bahwa ada banyak orang yang tidak pernah berzinah. Di dalam ajaranNya, semua hukum mempunyai sebuah pengertian internal yang radikal. Bayangkan umpamanya tentang perintahNya mengenai hukum ketujuh:
Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. (Mat.5:27-30)
Jadi bagaimana hukum PL mempengaruhi kita? Yesus dan para rasul dengan jelas memakai banyak kebenaran dari Sepuluh Hukum. Penyembahan berhala, menghujat, mengutuk orang tua, mencuri, berzinah, membunuh, berdusta, tamak tetap merupakan kesalahan. Prinsip-prinsip etika umum dari Sepuluh Hukum tetap berlaku bagi orang percaya di Perjanjian Baru (PB).
Jadi apakah kita menaati hukum Perjanjian Lama? Ada dua paham berbeda yang ada pada zaman ini untuk mewakili pendapat tentang pokok ini. Pada dasarnya ajaran Dispensasi dan ajaran Theonomi merupakan pandangan hermeneutika, tetapi keduanya berfokus pada hukum Taurat dalam hal-hal tertentu. Ada yang melihat penganut ajaran Dispensasi bertendensi membedakan PL sebagai waktu di mana Allah bekerja melalui hukum sedangkan PB sebagai sebuah masa anugerah. C.I. Scoffield berkata: “Pemisahan yang paling jelas dan nyata dari Firman Kebenaran ialah antara Hukum dan Anugerah. Sesungguhnya, prinsip-prinsip yang kontras ini merupakan karakteristik dua dispensasi yang paling penting yaitu antara orang Yahudi dan orang Kristen… Alkitab tidak pernah, dalam tiap disepensasi, mencampurkan dua prinsip ini. Pandangan ini oleh banyak penganut dispensasi zaman sekarang tidak dipegang secara eksplisit, sehingga berakibat pada minimalisasi hukum yaitu sebuah sikap yang kurang menghargai hukum PL.
Di pihak lain, ajaran Theonomi (bhs Yunani untuk “hukum Allah”) berpendapat bahwa hukum-hukum PL dan hukumnya terus berlaku sampai sekarang. Ringkasnya, pendekatan ajaran Theonomi terhadap hukum ialah memegang ajaran Yesus dengan serius baik secara dogmatik dan harafiah. “Iota dan titik” dari hukum Taurat tetap masih berlaku. Kesinambungan ketat tetap ada antara PL dan PB. Penganut ajaran Theonomi percaya bahwa tanggung jawab pemerintah ialah menjalankan hukum-hukum PL yang seharusnya menjadi blueprint bagi masyarakat banyak.
Ajaran Theonomi dan dispensasi mewakili dua pendekatan ekstrim tentang hukum Taurat. Meskipun ajaran theologia mereka amat ortodoks, tetapi mereka secara radikal berbeda pendapat tentang hubungan antara PL dan PB. Ajaran Theonomi menekankan kesinambungan antara PL dab PB, sedangkan ajaran Dispensasi menekankan ketidaksinambungan antara PL dan PB.
Tetapi menurut Tremper Longman III , ada kelemahan-kelemahan dalam ajaran Theonomi. Pertama, Hukum PL ditujukan kepada umat Allah ketika mereka merupakan sebuah bangsa. Umat Allah merupakan sebuah grup politik berbeda, yaitu bangsa Israel; dan sebuah fungsi utama yang disebut hukum-hukum yang berkenaan dengan kasus dan khususnya hukuman-hukumannya ialah untuk menjaga bangsa pilihan ini bebas dari dosa. Masa ini Allah tidak bekerja melalui sebuah bangsa pilihan, tetapi melalui sebuah umat pilihan yang meliputi bangsa-bangsa di dunia. Kedua, Allah memberi bangsa Israel hukum Taurat sebelum Yesus Kristus diwahyukan ke dalam dunia. Singkatnya, kita tidak dapat menerima kesinambungan di antara kedua Perjanjian dalam hal pelaksanaan hukum dan hukuman-hukumannya. Pasal-pasal penting dari PB memberikan konfirmasi bahwa sesuatu yang baru sedang bekerja.
Saat ini kita akan melihat hanya satu hukum, yaitu mengenai perzinahan. Perzinahan dihukum oleh hukum ketujuh (Kel.20:14; Ul.5:18). Hukum kasus memberitahukan kita hukumannya: “Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati: laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel” (Ul.22:22). Berdasarkan hukum PL ini, ajaran Theonomi berargumentasi bahwa pada masa ini, perzinahan harus dihukum mati. Tetapi kalau kita membaca PB dengan teliti, justru mengajar yang lain. Kita ingat kembali Yoh.7:53-8:11 mengenai wanita yang ditangkap sedang berzinah. Wanita itu adalah seorang pezinah. Dia hampir dirajam, tetapi Yesus menengahi dan menahan perajam dengan tantangan "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu" (8:7). Ketika Yesus memandang wanita ini, Dia berkata kepadanya bahwa Dia tidak menghukumnya. Yesus menyuruh dia pergi dengan peringatan agar “jangan berbuat dosa lagi” (ay.11)
Solusi lain menurut Eka Darmaputra , yang mengutip pendapat William Barclay melalui buku kecilnya yang berjudul The Ten Commandments, yakni: Pertama: Barclay menolak anggapan bahwa semata-mata karena kita adalah umat “PB”, maka kita serta-merta kita lalu punya alasan untuk mencampakkan semua yang berbau PL. Salah besar! Sebutan “PB” justru hendak mengingatkan bahwa ia tidak muncul tiba-tiba. Ia punya akar sejarah. Ia punya ibu yang mengandung dan melahirkannya. Tak akan ada yang “baru”, bila tak ada yang “lama”. Kedua, Barclay juga menyangkal bahwa Dasa Titah (Sepuluh Perintah Allah) adalah semata-mata etikanya orang Yahudi dan orang Kristiani saja. Tidak! Dasa Titah mengandung nilai-nilai yang universal. Setiap masyarakat dari bangsa, agama, dan zaman apa pun yang berniat membangun kehidupan berama yang baik, tertib, serta sejahtera, suka atau tidak suka harus menyepakati nilai-nilai Dasa Titah sebagai pegangan normatif bersama.
b. Secara praktis:
1. Gereja harus memberikan penjelasan-penjelasan teologis tentang makna dan fungsi Hukum Taurat bagi kehidupan setiap orang percaya. Bahwasanya, setiap orang yang percaya kepada Tuhan, dia wajib berpegang dan melakukan Hukum Tuhan (Taurat) dalam perjalanan hidupnya sehari-hari.
2. Membuat rumusan teologi yang diangkat dan digali dari Sepuluh Perintah Allah tersebut, misalnya: teologi tanah, teologi hari Sabat, teologi perang, teologi perzinahan, dan lain-lain.
3. Memasukkan Pembacaan Hukum Taurat di dalam rumusan ibadah (liturgi) Gereja setiap Minggu. Karena liturgi adalah sebagai kekuatan untuk bertindak. Pembacaan seperti itu sedikit banyaknya akan turut juga mempengaruhi gerak-langkah kita. Mengapa hal ini perlu dimasukkan? Karena Hukum Taurat itu merupakan penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman (bnd. Gal.3:24). Dengan dibacakannya Hukum Taurat ini, maka kita dapat mengingat dosa pelanggaran kita mulai hari Senin hingga Sabtu. Dan pada hari Minggu itu kita mohon ampun dosa kepada Tuhan. Jika dibandingkan dengan ibadah Gereja di Timur – seperti gereja Syiria khususnya di kota Antiokia, kira-kira antara tahun 350-380 – dalam tata ibadah mereka mencantumkan pembacaan Torat.
4. Membuat dan mengembangkan Hukum Siasat Gereja yang didasarkan kepada Hukum Taurat agar setiap warga jemaat semakin mudah memahami dan melakukan perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari, agar tidak terlampau menekankan satu bagian saja dari Hukum Taurat.
5. Menerbitkan buku tentang Sepuluh Hukum Taurat serta penjelasan praktis bagi warga jemaat.
6. Memasukkan Sepuluh Hukum Taurat ke kurikulum pelajar Sidi Gereja.
7. Membuat konsekuensi teologis jika Hukum Taurat dilanggar dan tidak dipatuhi. Memang harus diakui bahwa bukan Hukum Taurat yang menyelamatkan, tetapi sebagai bukti orang yang sudah diselamatkan harus mematuhi Hukum Taurat. Dan jika orang yang sudah diselamatkan itu sendiri tidak melaksanakan hukum Taurat dalam hidup kesehariannya, maka dia akan menerima hukuman-hukuman. Misalnya jika hari Sabat dilanggar maka seseorang itu harus ditegur (Yes.58:13), apalagi jika motifnya keserakahan ekonomi (Yer.19:21-27; Am.8:5-6).

V. DAFTAR PUSTAKA
Abineno, J.L.Ch. Ibadah Djemaat Di Timur dan Di Barat, BPK GM, Jakarta, 1961
Bahnsen, Greg L. Theonomy in Christian Ethics, Presbiterian and Reformed, Nutley, NJ, 1977
Budyapranata Pr., Al. Etika Praktis: Berdasarkan Sepuluh Perintah Allah, Yayasan Andi, Yogyakarta
Darmaputra, Eka. Sepuluh Perintah Allah – Museumkan Saja?, Gloria Graffa, Yogyakarta, 2005
Kantor Pusat GKPA, Ruhut Parmahanion/Pamincangon ni Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA),1999.
Karman, Yonky. Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, BPK GM, Jakarta, 2005
Longman III, Tremper. Memahami Perjanjian Lama: Tiga Pertanyaan Penting, (Alih bahasa Cornelius Kuswanto, SAAT, Malang, 2002
Lutheran Literatur Team, Buku Konkordia: Pasal-Pasal Smalkalden, LKS, P.Siantar, 1986
Pakpahan, M. Hatorangan Ni Agenda HKBP, HKBP Distrik IX, Bandung, 1954
Scofield, C.I. Rightly Dividing the Word of Truth, Fundamental Truth, Findlay, Ohio, 1940
Selms, A van. “Taurat” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, (Penyuntung J.D.Douglas), YKBK/OMF, Jakarta, 1999

Rabu, 01 April 2009

LAPORAN BUKU

LAPORAN BUKU

THE ORIGINAL JESUS
The Life and Vision of a Revolutionary
by
TOM WRIGHT
(Oxford: Lion Publishing, 1996) 34-55




PENDAHULUAN

Untuk melihat lebih dalam tentang pemikiran Tom Wright, kali ini kita akan melihat uraiannya tentang “Dua Sisi Cerita” dan “Khotbah di Bukit”. Wright ingin membuktikan kepada kita bahwa penelitian Yesus sejarah melalui perumpamaan dan pengajaranNya sungguh menggembirakan.

DUA SISI CERITA
Dua sisi cerita ini digali dari perumpamaan Yesus tentang “Anak yang hilang”(Luk.15:1-2, 11-32). Pada umumnya kita menggambarkan bahwa cerita anak yang hilang ini adalah bahan cerita untuk anak-anak: illustrasi-illustrasi kecil. Tapi Wright mengatakan ide-idenya nyata, kendati pun cerita ini abstrak.
Menurut orang, cerita Yesus ini, hanya merupakan ‘cerita-cerita duniawi dengan pengertian sorgawi’. Tetapi itu omong kosong! Cerita-ceritaNya jauh lebih kuat dari hal duniawi itu. Cerita-cerita Yesus menciptakan dunia-dunia. Menceritakan cerita dengan cara yang berbeda akan mengubah dunia. Dan itulah maksud dan tujuan Yesus.
Wright mengatakan, manusia pada masa Yesus mengetahui bahwa cerita-cerita merupakan sebuah usaha; atau cara untuk mendapatkan pengertian yang nyata. Tetapi untuk mengerti cerita Yesus yang nyata saat ini bukan selalu mudah. Manusia dalam zaman Yesus akan mengetahui apa yang Yesus bicarakan; tetapi bagi kita, hal ini adalah upaya membuat sejarah kembali dengan pemikiran terdalam dari pendengar asli.

Sebuah berita revolusioner
Wright menceritakan bahwa Yesus membawa berita yang revolusioner di mana seseorang bisa menanggalkan segala harkat dan martabatnya demi orang yang berdosa yang kembali dari jalannya yang salah. Wright menelusuri keadaan orang desa pada abad pertama di Palestina bahwa setiap orang mengenal siapa seseorang dan siapa dia. Setiap orang mengenal siapa yang lebih senior. Kemasyarakatan ini memberikan sebuah nilai tinggi pada umur dan hikmat. Mereka menghormati para tua-tua dengan bertindak bermartabat tinggi. Yesus menceritakan cerita tentang seorang tokoh senior, figur yang dihormati yang melemparkan martabatnya dari jendela dan berlari di jalan.
Kemudian berita revolusioner yang lain adalah adanya kejutan. Ceritanya sangat dikenal, tetapi biasanya kita tidak menghargainya. Seharusnya disebut cerita Ayah yang Berlari, tetapi hal ini lebih terkenal sebagai cerita Anak yang Hilang.
Seorang ayah yang memiliki dua anak. Anak yang bungsu meminta kepada ayahnya harta warisan bagiannya. Cerita ini mengejutkan bagi umat yang pertama mendengar. Di dalam kemasyarakatan kita, anak-anak sering meminta ayahnya untuk memberi dengan banyak. Bahkan dengan nada yang mengancam ‘Aku ingin Anda meninggal’. Hal ini membuat ketakutan pada ayah.
Dan ayah tentu setuju pada permintaan itu. Dan memberikan tanah milik bagian anaknya. Anak bungsu menjual harta warisannya dan pergi meninggalkan keluarganya. Dia menghabiskan uangnya, dia pun melarat; akhirnya dia memberi makan babi-babi. Tetapi jauh dalam pikirannya mengatakan pada dirinya bahwa lebih baik kembali ke rumah ayahnya.
Inilah kejutan berikutnya. Pada umumnya seseorang yang merasa malu dan berdosa tidak akan mau kembali ke rumah. Dia telah membuat marah ayahnya; dia merasa malu pada seluruh keluarga. Tetapi dia pulang ke rumah dan mujizat pun terjadi. Ayahnya yang sudah tua itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Tidak hanya itu; dia membuat pesta bagi seluruh desa itu. ‘Inilah anakku yang telah mati, dan hidup kembali.’
Namun anak sulung sangat marah kepada ayahnya di depan para tamu-tamunya. Tetapi sang ayah secara dewasa memberikan penjelasan bagi anak sulung. Ayahnya ingin agar anak sulungnya mengerti hal yang membahagiakan dia. Lagi-lagi ayahnya merendahkan martabatnya sendiri. “Adikmu ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."
Kejutan terakhir di dalam cerita ini adalah akhir cerita ini begitu cepat. Seperti ketika kita menonton film, pada akhir ceritanya saat kita ingin mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya, Yesus membiarkan ceritanya gantung mengawang di udara.

Apa yang dia dapatkan?
Dari cerita tersebut, Wright memaparkan akibat yang Yesus terima dari masyarakat dan dari golongan agama. Jadi apakah makna semuanya itu? Apakah sesungguhnya kenyataan dibalik cerita ini? Inilah cerita umum tentang kasih Allah bagi kita, anak-anak yang boros. Inilah salah satu sisi menurut Wright. Cerita ini bagaikan bangsa Israel yang pergi ke pembuangan, dan kemudian kembali lagi! Cerita ini menceritakan tentang Kerajaan Allah, tentang pembebasan bangsa Israel.
Tetapi mengapa Yesus menceritakannya dengan jalan ini, dengan karakter ini? Inti cerita ini adalah alasan berpesta. Yesus dikritisi secara luar biasa oleh wali-wali keturunan tradisi-tradisi, sebab Yesus merayakan Kerajaan Allah, bukan dengan orang benar dan golongan keagamaan, melainkan dengan orang-orang hina, orang tak beragama, dan orang pinggiran.
Kendati pun Yesus menerima kritikan tersebut, Yesus tetap menjelaskan mengapa Yesus bertindak di dalam cara yang memalukan. Yesus membawa Kerajaan Allah; Dia membawa pembebasan yang nyata, kembali dari pembuangan, sehingga tentulah ada sebuah pesta. Lebih dalam Yesus menjawab: inilah anakKu, inilah saudaramu, telah mati dan hidup kembali – Israel hidup kembali. Gambaran lain Wright hubungkan dengan penglihatan nabi Yehezkiel tentang tulang-tulang kering di sebuah lembah, semuanya menjadi hidup (Yehz. 37:1-6, 11-14). Hal ini merupakan sebuah kebangkitan bagi bangsa Israel.
Sisi yang kedua menurut Wright adalah tentang anak sulung dalam cerita ini. Anak sulung ini adalah orang yang tidak ingin mendengar versi Yesus tentang cerita Kerajaan Allah. Mereka ingin menjaga versi Kerajaan Allah mereka secara utuh. Mereka ingin memegang erat-erat martabat kepribadian atau bangsa atau budaya mereka daripada mengejar nabi aneh yang merayakan Kerajaan Allah dengan umat yang salah. Maka Yesus menyebut mereka dengan umat yang tidak menginginkan Israel kembali dari pembuangan. Di dalam kitab Yahudi mereka adalah orang-orang Samaria.
Yesus menceritakan seluruh kebaikan orang-orang dalam cerita-cerita ini. Setiap orang sama seperti sebuah dinamit yang siap meledak setiap saat. Dia pergi ke sana ke mari merencanakan bahan peledak di dalam hati dan pikiran umat. Kerajaan Allah, pemerintahan Allah yang baru sedang berlangsung untuk merubah segala sesuatunya; seluruh dunia akan berbalik. Dengan demikian siapakah yang mempersiapkan hidup dengan cerita ini? Inilah pertanyaan yang bergema dari cerita ini sejak saat itu hingga hari ini.
Dari cerita ini dapat kita lihat bahwa tak ada mediasi antara anak yang hilang dengan ayahnya sendiri. Pada hal dalam tradisi Israel dosa umat manusia selalu dipulihkan melalui institusi Bait Allah yang dipimpin oleh imam. Yesus mengajarkan sebuah kerahiman Allah yang bukan berasal dari institusi Bait Allah.

KHOTBAH DI BUKIT
Dalam bagian ini, Wright menguraikan pengajaran Yesus di bukit yang dikenal dengan “Khotbah di Bukit” (Mat.4:23,25; 5:1-16, 38-45). Pada zaman Yesus, pegunungan-pegunungan di atas Laut Galilea digunakan untuk revolusi-revolusi kudus. Orang Romawi membawa kerajaan Allah ke dalamnya – dengan paksaan jika perlu. Mengapa Yesus pergi ke sana untuk mengajar pengikutnya? Dan apakah isi khotbah yang membuat mereka tersungkur di hadapan Yesus? Orang-orang berpikir bahwa Khotbah di Bukit merupakan pusat Kekristenan. Tetapi apakah yang diberitakannya?
Bukit merupakan sebuah simbol bangkitnya seorang pemimpin baru. Para nabi kalau naik gunung, hal itu menggambarkan akan ada seorang pemipin baru. Misalnya Musa yang naik gunung Sinai. Musa menjadi pemimpin bagi bangsa Israel. Jika Yesus disebut naik ke bukit, hal itu berarti Yesus akan menjadi pemimpin baru bagi bangsa Israel. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bukit merupakan simbol bagi pengangkatan Yesus sebagai pemimpin baru bagi bangsa Israel.
Menurut sebagian orang, bahwa Khotbah di Bukit secara sederhana terdiri dari kata-kata Yesus kepada umat untuk berbuat baik kepada orang lain. Gambaran umum yang terkenal dari khotbah ini adalah kelemah-lembutan, kehidupan keagamaan yang romantis, terhindar dari dunia. Pendapat lain mengatakan, dengan Khotbah di Bukit ini, kita akan berpikir bahwa Yesus hanya berbicara tentang bagaimana manusia ke sorga setelah mati.

Sebuah manifesto bagi perubahan
Apakah yang diberitakan khobah di bukit itu? Menurut Wright, ketika Yesus pertama memberikan apa yang sekarang kita sebut Khotbah di Bukit, Dia sedang menaiki sesuatu yang akan menunjukkan pada kita lebih seperti sebuah kenyataan politik. Dia bagaikan seseorang yang sedang menghidupkan dukungan bagi sebuah gerakan baru, seorang penyebab besar. Dia disebut para pendengarNya, secara sederhana, sebuah jalan menjadi Israel, sebuah jalan menjadi umat Allah di dunia ini.
Untuk dapat menggumuli apa artinya ini, menurut Wright, kita butuh kembali ke dalam tradisi tertua Israel. Mengapa ada ‘umat pilihan’ di dalam tempat pertama? Menurut Alkitab, Allah Pencipta memilih Abraham dan keluarganya, nenek moyang Israel dan pemecah persoalan seluruh dunia. Israel disebut menjadi umat pilihan dengan tujuan: umat yang kepadanya Allah akan menjadikan dunia baik. Israel disebut menjadi terang dunia dan garam dunia.
Orang Israel pada waktu itu bertanya, apakah orang miskin bisa menjadi terang dunia? Akan datangkah Kerajaan Allah itu? Yesus menjawab dengan tegas tidak. Yesus memanggil dan menegur para orang sezamanNya menjadi umat Allah di dalam jalan yang radikal. Yesus dengan bijaksana mengumumkan berkat Allah – tetapi dia memberkati orang-orang yang berdosa: orang miskin, orang yang berdukacita, lembut, lapar, miskin hati, yang dianiaya, pembawa damai. Ketika revolusi yang nyata tiba, dia nampaknya berkata orang-orang revolusioner tidak akan diterima. (bnd. Luk.1:53)

Membuat dunia menjadi jungkir balik
Yesus telah memutar segala sesuatunya terbalik. Dia menuntut bahwa kepatuhan yang nampak dari luar tidaklah cukup. Allah menginginkan sebuah perubahan segalanya – termasuk hati umat. Jika seseorang menampar pipi kananmu, mereka akan memukul dengan belakang tangan – sebagai hal yang memalukan. Tetapi Yesus memutar balikkan dengan berkata: “Jika mereka memukul engkau kembali berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat.5:39). Artinya, jika mereka menampar pipi kiri itu berarti kita mereka anggap setara dengan mereka. Yesus mau mengajarkan bahwa yang hina bisa menjadi orang yang setara dan dihormati.
Seluruh khotbah berbicara tentang resiko besar iman: yang merubah dunia, hingga sekarang. Jika kita mau percaya bahwa Allah adalah Allah, maka kita membiarkan kebangsaan dan prioritas pribadi kita berubah. Maka Yesus menekankan khotbahNya dengan sebuah peringatan. Jangan sangka bahwa hal ini sebuah pilihan di antara yang lain. Hanya inilah jalan pergi, jalan Israel yang benar yang menuju umat Allah (bnd. Mat.7:15-20).

Revolusioner yang nyata
Beberapa para pendengarnya mengikutiNya; dan dari sana mereka disebut dua belas orang dan membawa mereka ke bukit kembali untuk mengutus mereka untuk tugas yang mulia (Mrk.3:13-19). Dengan demikian, ketika Yesus memilih kedua belas muridNya dan memberikan tugas mulia di sana, hal itu harus dilihat bahwa begitu banyak pendiri gerakan revolusioner.
Pesan ini datang dari bukit Galilea kepada pintu kota kudus, Yerusalem itu sendiri, 70 mil ke selatan. Hal yang utama di Yerusalem adalah bait Allah, sering menunjukkan sebagai ‘rumah’ yang sederhana, yang dibangun di atas batu Bukit Sion dan orang Yahudi melihatnya sebagai simbol keamanan mereka.
Pada akhir Khotbah di Bukit, Yesus menunjuk tantangan hikmat pada seluruh orang yang berpihak kepada bait Allah. Seseorang berkata, siapa yang mendengar suaraku dan mereka lakukan – mereka akan menjadi orang yang sungguh-sungguh bijaksana, orang yang membangun rumahnya di atas batu. Dengan kata lain, adalah gerakan bait Allah yang benar. Allah bekerja di dalam Yesus, hal yang nyata pada bait Allah yang menjadi hal yang berguna bagi semua orang. Inilah dinamit keagamaan dan politik.
Pemimpin Israel pada zaman Yesus menolak teguranNya, tidak mendengar peringatanNya dan terus mengejar mimpi revolusi militer mereka, menjaga terang bagi mereka sendiri dan memastikan bahwa hanya merekalah terang dunia. Banyak orang Yahudi tahbisan mengikuti pemimpin mereka kepada kehancuran. Dan rumah Allah dihancurkan oleh Romawi hanya empat puluh tahun setelah Yesus mengingatkan mereka tentang hal itu.

TANGGAPAN ATAS LAPORAN
Tom Wright dalam pembukaannya mengatakan bahwa bukunya ini dibagi dalam dua bagian yaitu: Pertama, sebagian isi buku ini bersumber dari versi yang ditunjukkan dalam TV. Dalam bagian ini kita menemukan kisah-kisah tentang Yesus dulu dan sekarang. Kedua, sebagian lagi ditambahkan supaya orang yang terkecoh oleh bagian pertama dapat melihat bagaimana mereka mungkin mengikuti isu-isu yang berkembang dan mulai menemukan banyak dari dalamnya. Dalam bagian ini Wright menawarkan pemikiran yang lebih luas dengan membaca Injil dengan kedua mata yang terbuka.
Dua bagian yang sedang kita bicarakan tadi merupakan cerita dan pengajaran yang didengar dan diceritakan dulu dan hendak dimengerti juga oleh pendengarnya pada zaman sekarang. Wright mencoba mengerti seluruh cerita perumpamaan dan pengajaran Yesus dari pemahaman masyarakat pada zaman Yesus dan memahaminya pada saat sekarang ini. Bahkan Wright berpendapat bahwa dengan menceritakan cerita perumpamaan dan pengajaran Yesus dengan cara yang berbeda akan mengubah dunia saat ini. Dalam bagian dua bukunya ini nanti (Membaca Injil dengan kedua mata terbuka), Wright akan lebih menjelaskan lebih dalam bahwa cerita-cerita bukanlah hanya bahan cerita anak-anak, pengikat yang indah di sekitar sisi pemikiran serius yang abstrak. Melainkan cerita-cerita itu merupakan dinamit dan eksplosif yang melakukan segala sesuatu; yang merubah segala sesuatu dan membuat segala sesuatu.
Wright menceritakan juga bahwa Yesus membawa berita yang revolusioner di mana seseorang bisa menanggalkan segala harkat dan martabatnya demi orang yang berdosa yang kembali dari jalannya yang salah. Kemudian berita revolusioner yang lain adalah adanya sebuah kejutan di dalam gerakan Yesus. Jelaslah bahwa bagi Wright cerita Anak Hilang itu membawa dua sisi yakni sisi pertama, cerita ini mengisyarakan akan kebangkitan bangsa Israel dari pembuangan. Dan sisi yang kedua, cerita ini mengisyaratkan tentang orang Israel yang tidak mengakui kedatangan Mesias itu.
Pendekatan Wright ini lebih bersifat pastoral yang mencoba melihat Yesus dari sisi perumpamaan dan pengajaranNya dan diaplikasikan ke dalam dunia saat ini. Atau dapat dikatakan bahwa Wright mempolitisasi cerita Anak Hilang ini menjadi cerita kebangkitan bangsa Israel. Agar cerita ini menjadi cerita masa kini yang mampu merubah dunia maka Wright menghubungkan cerita ini dengan kebangkitan bangsa Israel. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendekatan ini kurang mengacu kepada pendekatan sejarah yang objektif. Pada hal penemuan dokumen gulungan Laut Mati (1947) telah membuka peluang untuk menyelidiki Yesus sejarah itu. Penemuan ini mentah-mentah ditolak Wright. Sementara Bock, telah mencoba melakukan pendekatan penelitian sejarah tentang Yesus sejarah itu baik melalui naskah gulungan Laut Mati sejak pertengahan abad kedua puluh satu. Pendekatan yang agak berbeda sedikit dipaparkan oleh Nolan yang mengatakan bahwa tidak ada gunanya membuat Yesus relevan. Yang dapat kita lakukan ialah melihatNya dari perspektif zaman kita dengan budi yang terbuka.
Pendekatan yang hampir sama dengan Wright dilakukan oleh Boehlke . Boehlke mengatakan bahwa sejak abad pertama gereja sudah berusaha dengan giat untuk merumuskan siapa sebenarnya Yesus. Mau tidak mau munculnya Yesus dalam panggung sejarah menantang orang-orang untuk meninjau kembali pandangan mereka tentang “Allah” dan “Manusia”. Dan kenyataannya ialah bahwa kedua hal ini nampaknya baru dapat dipahami dengan lebih mendalam, jika orang-orang bersedia melibatbkan diri secara sungguh-sungguh dalam suatu petualangan yang mulia, seraya membuka hati dan pikiran kepada bimbingan Tuhan. Penelitian yang lebih dalam juga dilakukan Boehlke dengan melihat peristiwa-peristiwa yang menunjuk kepada identitas ilahi Yesus yakni peristiwa yang berkaitan dengan hukum Taurat, tatkala Ia mengklaim wewenang ilahi seperti yang dinyatakanNya dalam Khotbah di Bukit. Di situ enam kali diulangiNya formula yang sama, yang begini bunyinya, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu…” (Mat.5:21-22a).
Pada bagian kedua bahasan ini Wright memaparkan Khotbah di Bukit sebagai sebuah gerakan revolusioner di mana Yesus yang sedang menghidupkan dukungan bagi sebuah gerakan baru. Hal bertolak belakang dengan pendapat Abineno . Abineno mengatakan bahwa semua yang Yesus – seperti yang kita baca dalam kitab-kitab Injil – tidak mengorganisir suatu gerakan yang besar. Pengikut-pengikutNya tidak banya: - dengan beberapa pengecualian – hanya terbatas pada orang-orang Galilea, orang-orang kecil. Bahkan lebih dalam Abineno mengatakan bahwa pemberitaan Yesus tidak banyak membawa hasil: tidak mengubah situasi politik dan religius yang ada pada waktu itu. PengaruhNya hanya terbatas pada daerah-daerah tertentu saja. Berbeda dengan Wright, Eckardt mengatakan bahwa cara yang paling memadai untuk mengungkapkan gagasan-gagasan pokok dari amanat dan misi Yesus sejarah adalah dengan memandangNya sebagai seorang pejuang Israel, bangsaNya.
Perjuangan Yesus mengenai Kerajaan Allah, Eckardt memberikan dua hipotesa, yakni: Pertama, Yesus berhasil dengan cakupan percaya diri, untuk memajukan kedatangan Kerajaan Allah dengan kepercayaanNya bahwa diriNya sendiri dipanggil atau ditantang untuk memikul peran sebagai Mesias. Kedua, seluruh dasar pengharapan Yesus terbukti pada akhirnya sebagai suatu khayalan saja. Kegagalan ini adalah kegagalanNya, namun bagiNya, ini juga adalah kegagalan Allah. Menurut Ioanes Rakhmat dalam beberapa catatan penerjemahan buku Eckardt, seandaninya Kerajaan Allah sudah datang sepenuh-penuhnya pada masa kehidupan dan pelayanan Yesus (tahun 30-an) sesuai dengan keyakinan dan pengharapan Yesus dari Nazaret, sehingga karenanya Ia bukanlah seorang Mesias yang gagal, maka akan muncul pertanyaan mendasar dan mengganggu, apakah itu yang pasti dikehendaki Allah? Lebih jauh dikatakan bahwa dapat dipastikan Allah tidak berpikir bahwa dunia yang didiami manusia harus diganti sama sekali dengan yang baru, yaitu Kerajaan adikodrati dari Allah. Justru karena Kerajaan Allah tidak datang dengan sepenuh-penuhnya pada tahun 30-an, maka sejarah masih berlangusung. Di dalam sejarah yang masih berlangsung inilah, usaha-usaha untuk memahami dan mengalami kehadiran tindakan Allah yang menyelamatkan di dalam Yesus Kristus dapat terus dilakukan.



KEPUSTAKAAN

Abineno, J.L.Ch. Yesus Dari Nazaret, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006)
Bock, Darrel L. Studying the Historical Jesus: A Guide to Sources and Methods (Michigan: Baker Academic, Grand Rapids, 2002)
Boehlke, Robert R. Siapakah Yesus Sebenarnya? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001)
Eckardt, A.Roy. Menggali Ulang Yesus Sejarah: Kristologi Masakini (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996)
Nolan, Albert. Yesus Bukan Orang Kristen? Rekonstruksi singkat, akurat dan seimbang tentang hidup Yesus historis (Yogyakarta: Kanisius, 2005)
Wright, Tom. The Original Jesus: The Life and Vision of a Revolutionary (Oxford: Lion Publishing, 1996)