SADARILAH KESALAHANMU!
Ayub adalah yang yang mengakui kemahakuasaan dan keagunan Allah. Ayub, secara teoritis, tahu bahwa tidak ada manusia yang benar dan cukup berharga di hadapan Allah (ps. 9 khususnya ayat 1,2). Tetapi berkaitan dengan kasusnya (apalagi setelah mendengar ‘tuduhan’ teman-temannya bahwa ia pasti sudah bersalah) ia menolak bahwa dirinya bersalah di hadapan Allah. Ia ‘menuduh’ Allah-lah yang sudah bertindak tanpa alasan untuk ‘menghancurkan’nya. Tetapi juga dikatakan bahwa ia sangat berharap bahwa Allah juga akan menjadi saksi/pembela yang akan membenarkan dirinya (termasuk dalam perkaranya dengan Allah! – 16:19-21). ‘Tuduhan’nya bahwa tindakan Allah ‘sewenang-wenang lebih berkaitan dengan keyakinannya akan kemahakuasaan Allah: Allah punya hak mutka untuk bertindak apapun. Karena itu,’tuduhan’nya tidak disertai dengan tindakan meninggalkan Allah! Ia tetap setia kepada Allah, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan (bnd. dengan pengenalan Allah akan Ayub dalam 1:8). Secara tersirat Ayub menyatakan Allah tidak dibatasi moral (boleh bertindak sewenang-wenang). Penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (seperti sikap Ayub), tanpa pengenalan akan jati diri Allah, bisa berakibat ‘penilaian’ yang keliru tentang Allah.
Keputusan yang dijatuhkan kepada Ayub oleh para sahabatnya telah menggelapkan jalan hikmat sampai Elihu angkat bicara. Jalan itu kini tercerahkan sepenuhnya oleh suara dari dalam badai (38:1). Sangatlah tepat bahwa pendekatan Tuhan kepada Ayub adalah dalam bentuk tantangan. Dengan cara yang sama pula Dia telah menghadapi Iblis (bnd. 1:7,8; 2:2-3). Allah menantang Iblis dan Ayub dengan cara mengkonfrontasi mereka dengan karya-karya-Nya yang ajaib. Dan karena Ayub sendiri merupakan hasil karya ilahi yang dengannya Iblis ditantang, maka melalui keberhasilan-Nya untuk menantang Ayub ini Allah melengkapi kemenangan-Nya dalam tantangan-Nya kepada Iblis. Tantangan yang disampaikan Allah kepada Ayub dilaksanakan dalam dua tahap (38:1-39:34 dan 40:1-41:34) dengan suatu waktu sela di pertengahan jalan yang ditandai dengan awal penyerahan diri Ayub (39:35-38).
Pasal 38 ini melaporkan bahwa Allah menjawab Ayub, dan itu terjadi di dunia ini menurut kebebasan kedaulatan Allah, dan pada waktu yang sesuai dengan ketentuan Allah. Pasal 38 dan 39 membawa kita berwisata mengamati langit, laut, bintang-bintang dan binatang-binatang.
Dalam pasal ini Ayub mencoba mencari jawab atas kejadian yang menimpa dirinya karena ketiga teman Ayub tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan hatinya sehingga Ayub bertanya kepada Allah. Tuhan pun menjawab seluruh pertanyaan Ayub dan jawaban itu berupa pertanyaan balik yang tajam kepada Ayub dan Tuhan menuntut jawaban dari Ayub (Ayb. 38 – 42). Menghadapi tantangan yang bertubi-tubi itu ia tidak dapat berkata-kata. Ayub pun mencabut perkataannya dan menyesalkan diri. Ayub adalah seorang yang jujur dan Tuhan memberikan jawaban yang jujur. Ayub bertemu dengan Tuhan yang berdaulat dan dia mengenal Tuhan yang sejati. Hati-hati, setan tidak berhasil membuat Ayub berdosa tetapi bukan berarti setan akan berhenti Tidak! Setan akan terus mencari orang yang dapat ditelannya (1Pet. 5:8).
Hari ini, mungkin kita mengalami pergumulan iman yang berat di mana kita sulit mengenali Allah, namun ketahuilah Tuhan ada di sana, Dia mengendalikan seluruh aspek hidup kita, Dia akan menjagai kita. Sesungguhnya, tidak perlu bagi kita mendapatkan jawaban dari Tuhan. Asal sudah bertemu dengan Tuhan maka semua itu sudah cukup menghentikan seluruh pergumulan kita tentang Allah. Berarti iman kita tidak salah. Kitab Yakobus 5:11 memberikan suatu kesimpulan tentang pergumulan Ayub, yakni Ayub disebut sebagai orang yang berbahagia karena ketekunannya atau yang diterjemahkan sebagai ketahanan (endurance, bhs Inggris). Allah telah memberikan peluang bagi Ayub untuk masuk dalam satu tingkatan iman yang lebih dalam dan lebih dalam lagi adalah juga Allah yang sama yang akan memberikan peluang bagi kita untuk masuk dalam tingkatan iman yang lebih tinggi lagi.
Apa yang bisa kita renungkan dari pasal 38 ini?
Pertama, Yahweh bersabda. Allah menyatakan diri-Nya melalui badai. Badai dengan kilat, guruh, asap dan bunyi menyatakan sekaligus menyelubungi keagungan Allah. Karena kedegilan Ayub, maka Allah memakai badai untuk menjawab Ayub. Dengan badai itulah maka Ayub sadar dan menyesal akan perbuatannya kepada Allah. Hal ini mau mengajarkan kepada kita agar kita lebih berhati-hati di dalam menyampaikan segala uneg-uneng maupun kekesalan kita kepada Allah. Jangan sampai Allah mengeluarkan badai kepada kita untuk menjawab segala tuntutan dan sungut-sungut kita kepada-Nya. Biarlah Tuhan berkarya seleluasanya bagi kehidupan kita.
Kedua, Hikmat Allah kelihatan dalam ciptaan-Nya. ’Marilah, Aku akan membuat engkau terheran-heran,’ kata Allah, dengan rumitnya dan ruwetnya semuanya itu! Dasar bumi diletakkan (38:4), bintang-bintang fajar bersorak-sorak dengan girang (38:7). Sejak itu, mereka tetap menyanyikan perayaan Pencipata itu dengan penuh kegirangan. Perhatikanlah samudera raya, kekuatannya yang mengacaukan telah dibendung (38:8-11), langit, kedalaman, terang, dan gelap-gulita (38:12-21). Pernahkah engkau masuk ke dalam perbendaharaan salju, atau perbendaharaan hujan batu (38:22)? Dan bagaimana dengan hujan (38:25-30)? Menengadahlah, lihatlah bintang Kartika dan bintang Belantik, lihatlah awan, kilat dan kabut (38:31-38). Apakah engkau melihat semuanya itu? Ayo jalan-jalan menikmati ciptaan-Ku itu: amatilah keajaibannya: saksikanlah bagaimana semuanya diatur sehingga tertib yang satu dengan yang lain, sesuai pola dan tujuan yang sudah ditentukan. Untuk menjawab tuntutan Ayub Allah memakai segala ciptaan-Nya agar Ayub sadar akan kasih setia Tuhan kepadanya. Allah tidak pernah meninggalkan Ayub sedetik pun. Hal ini mau mengajarkan kepada kita bahwa sesulit apa pun yang sedang kita hadapi, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, tetapi Tuhan terus menyertai kita dalam seluruh perjalanan hidup kita.
Ketiga, Ayub menyesal. Ayub selama ± 20 pasal mengajukan permohonan, permintaan, keluh kesah, dan kekecewaannya kepada Tuhan. Saat-saat itu, Allah tidak menjawab sedikitpun sampai pasal 37. Tetapi setelah Tuhan menjawabnya di pasal 38-41, Ayub menyesal bahwa apa yang pernah dimintanya lahir dari ketidakmengertiannya kepada rencana Tuhan. Sekarang, Ayub tidak peduli dengan apa yang sudah diambil daripadanya (harta, keluarga), karena mendapatkan Tuhan lebih dari segalanya. Ayub tidak meminta kepada Tuhan selain dari apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya untuk berdoa bagi teman-temannya yang sudah mengecewakan hati Tuhan (42:7). Melalui permintaan Ayub, Tuhan mengampuni teman-teman Ayub (42:9). Tidak hanya itu, Tuhan pun memberkati Ayub dengan berlimpah-limpah (42:10-16), tanpa sedikitpun Ayub meminta Tuhan memulihkan keadaannya. Firman Tuhan hanya mengatakan, ”Lalu Tuhan memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu” (42: 10).
Tuhan bisa memberikan tanpa kita meminta/berdoa kepada-Nya, karena Dia Mahapemurah dan Mahakuasa. Tetapi Tuhan akan menahan jawaban doa kita agar kita datang kepada-Nya, karena yang Tuhan inginkan adalah
Ramli SN Harahap
BLOG INI BERSIFAT TERBUKA UNTUK DIKOMENTARI DAN DIKRITISI DEMI KEMAJUAN WAWASAN BERPIKIR, DAN BERTEOLOGI MASA KINI
Jumat, 12 Juni 2009
Selasa, 26 Mei 2009
Minggu Pentakosta : Yehezkiel 11 : 19 - 20
HIDUPLAH SENANTIASA DALAM BIMBINGAN ROH KUDUS
Pendahuluan
Kedatangan Roh Kudus atau hari turunnya Rohu’ul Kudus adalah bukti kebenaran Firman Tuhan Yesus, karena di kala Dia mau naik ke Sorga, Dia pernah menjanjikan bahwa akan diutusnya Roh Kudus untuk bersama murid-murid-Nya (Kis. 1:8).
Dipahami secara kronologis bahwa saat kedatangan Roh Kudus adalah hari kelima puluh, yang dihitung dari hari kebangkitan hingga ke hari kenaikan Tuhan Yesus: 40 hari dan dari hari kenaikan hingga hari kedatangan Roh Kudus: 10 hari, maka dimengerti bahwa hari kedatangan Roh Kudus adalah hari kelima puluh atau dalam sebutan bahasa Yunani disebut hari Pentakosta (hari kelima puluh).
Hari turunnya Roh Kudus adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh para murid Tuhan Yesus, hal itu terjadi sewaktu mereka berkumpul di Yerusalem yang terdiri dari 16 suku bangsa dan dengan jumlah jiwa mencapai 120 orang.. Dalam acara perkumpulan itu mereka juga melakukan pemilihan Rasul untuk menggantikan Yudas Iskariot yang telah mengakhiri hidupnya dan di sana terpilihlah Matias sebagai pengganti Yudas Iskariot lewat proses undi. (Kis. 1:23 – 26).
Setelah itulah tiba-tiba terdengar suara yang menderu dibarengi tiupan angin keras dan tanpak lidah-lidah seperti nyala api dan menghinggapi mereka maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus (Kis. 2:1-4).
Peristiwa itu adalah suatu kejutan besar dan menimbulkan berbagai interpretasi dan pemahaman yang bercorak ragam, namun melalui khotbah Petrus yang sungguh bersemangat, maka jelaslah maksud dari peristiwa itu, yakni tentang kebenaran kebangkitan Kristus dan Dialah yang telah naik ke sorga serta menjanjikan kedatangan Roh Kudus sebagaimana kamu lihat dan kamu dengar di sini. Dengan demikian jelaslah bagi mereka arti dari semua peristiwa itu (Kis. 2 : 32 - 33).
Oleh pengamat Sejarah Gereja memahami bahwa pada hari turunnya Roh’ul Kudus, di situlah juga hari kelahiran gereja di dunia yang mengemban minimal 3 (tiga) pokok tugas yang sangat mendesak dan prinsip, yakni : Koinonia (bersekutu), Marturia (bersaksi), dan Diakonia (melayani).
Setelah orang banyak memahami makna peristiwa besar itu, lalu mereka bertanya kepada Petrus, apakah yang harus kami perbuat ? Jawab Petrus: “Bertobatlah kamu, agar memperoleh pengampunan dan menerima karunia Roh Kudus“.
Penjelasan Nats.
Sama halnya dengan makna nas ini (Yehez. 11:19–20) karena sengaja dikenakan kepada hari Pantakoste ke II, bahwa Israel perlu mendapat pertobatan, perubahan dan pembaharuan. Selaku umat yang dipanggil Tuhan menjadi umat pilihan-Nya perlu menyadari dirinya, perilakunya, perbuatan termasuk sikap mereka kepada Tuhan yang sering menunjukkan kemurtadan. Maka perlu mereka dengan segera berpaling kepada Tuhan dan meninggalkan kepercayaan kepada dewa-dewa yang menjijikan serta melupakan segala perbuatan-perbuatan yang keji itu. Soalnya bagi mereka perlu dengan segera ada perubahan yang signifikan yang betul-betul tampil beda dari antara bangsa-bangsa sekitar.
Secara konkrit bahwa selaku umat pilihan Tuhan dan yang dipanggil hidup dalam suatu persekutuan dan di tempatkan di satu tempat yakni, tanah Israel, maka Tuhan sungguh-sungguh menghendaki agar mereka memiliki:
Pertama : Hati yang lain (yang baru) dan betul-betul berbeda dari sifat orang di sekitar mereka (tampil beda).
Kedua : Roh yang baru (kekuatan baru, sikap yang baru, karakter yang baru, perilaku dan kepribadian yang baru). Ada perubahan hidup yang prinsip dan mendasar.
Ketiga : Tekad untuk menjauhkan hati yang keras, hati yang membantu, hati yang degil.
Keempat : Hati yang taat, yang loyal, tidak menentang dan tidak selalu bersungut-sungut dan komplein.
Dengan demikian maka dalam praktek kehidupan mereka sehari-hari akan nampak di depan mata umum bahwa mereka dengan setia :
Hidup sesuai dengan ketetapan dan peraturan Tuhan, tanpa ada alternatif (pilihan) yang lain.
Hidup dan berperilaku sebagai umat Tuhan.
Dan itu perlu dan harus dinampakkan sebab Tuhan adalah Allah mereka. Dengan kata lain mereka wajib dan bertanggung jawab berperilaku yang lajim sebagai umat dan pilihan Tuhan.
Applikasi dan Renungan
a. Merayakan hari kedatangan Roh Kudus pada hari kedua telah semakin menipis (sirna). Agaknya sebagian besar umat kristen tidak lagi memanfaatkan hari pesta kedua turunnya Roh Kudus untuk menyelenggarakan ibadah / kebaktian yang sungguh-sungguh (sama halnya hari kedua Natal dan hari kedua Paskah). Jika kita renungkan sebentar bahwa pernah hari kedua Roh Kudus, kebangkitan dan Natal di negara ini sebagai hari fakultatif dalam hubungan hari kerja. artinya jika benar-benar dipergunakan untuk berkebaktian maka tidak menjadi persoalan (tidak dianggap absen) kalaupun tidak masuk kantor. Tetapi sekarang tidak lagi, kenapa? Karena memang orang Kristen ternyata tidak berkebaktian lagi di pesta ke II (dua), sehingga dipastikanlah hari raya kedua Natal , Paskah dan Pentakosta menjadi hari kerja penuh.
b. Kedatangan Roh Kudus menyadarkan segenap umat kristen dan seluruh warga jemaat tentang perilaku dan perbuatan kita masing-masing. Apakah dalam setiap kegiatan dan aktifitas di keseharian kesibukan kita menunjukkan keperbedaan yang khas (tampil beda) dari yang bukan Kristen selaku orang yang percaya kepada Kristus dan menjadi contoh dan teladan bagi sesama kita ?
c. Apakah tanda-tanda dalam hidup ini, bahwa kita yang memperoleh kekuatan Roh Kudus memiliki sikap yang menunjukkan ketaatan, dan jauh dari kekerasan dan hati yang degil dan membatu ?
d. Bagaimana selayaknya yang hendak kita nampakkan dalam praktek hidup sehari-hari sebagai pertanda bahwa kita adalah orang yang menuruti perintah dan Firman Tuhan ?
e. Bagaimana supaya gereja : warga dan majelis gereja berhati lembut, taat dan jauh dari kekerasan ?
Scopus.
Hiduplah senantiasa dalam bimbingan Roh Kudus. sebab semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah (Rom. 8 ; 14).
Medan, awal Oktober 2008
Pdt. M.S.P Sitorus, MTh
Pendeta HKBP Ressort Medan II
Pendahuluan
Kedatangan Roh Kudus atau hari turunnya Rohu’ul Kudus adalah bukti kebenaran Firman Tuhan Yesus, karena di kala Dia mau naik ke Sorga, Dia pernah menjanjikan bahwa akan diutusnya Roh Kudus untuk bersama murid-murid-Nya (Kis. 1:8).
Dipahami secara kronologis bahwa saat kedatangan Roh Kudus adalah hari kelima puluh, yang dihitung dari hari kebangkitan hingga ke hari kenaikan Tuhan Yesus: 40 hari dan dari hari kenaikan hingga hari kedatangan Roh Kudus: 10 hari, maka dimengerti bahwa hari kedatangan Roh Kudus adalah hari kelima puluh atau dalam sebutan bahasa Yunani disebut hari Pentakosta (hari kelima puluh).
Hari turunnya Roh Kudus adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh para murid Tuhan Yesus, hal itu terjadi sewaktu mereka berkumpul di Yerusalem yang terdiri dari 16 suku bangsa dan dengan jumlah jiwa mencapai 120 orang.. Dalam acara perkumpulan itu mereka juga melakukan pemilihan Rasul untuk menggantikan Yudas Iskariot yang telah mengakhiri hidupnya dan di sana terpilihlah Matias sebagai pengganti Yudas Iskariot lewat proses undi. (Kis. 1:23 – 26).
Setelah itulah tiba-tiba terdengar suara yang menderu dibarengi tiupan angin keras dan tanpak lidah-lidah seperti nyala api dan menghinggapi mereka maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus (Kis. 2:1-4).
Peristiwa itu adalah suatu kejutan besar dan menimbulkan berbagai interpretasi dan pemahaman yang bercorak ragam, namun melalui khotbah Petrus yang sungguh bersemangat, maka jelaslah maksud dari peristiwa itu, yakni tentang kebenaran kebangkitan Kristus dan Dialah yang telah naik ke sorga serta menjanjikan kedatangan Roh Kudus sebagaimana kamu lihat dan kamu dengar di sini. Dengan demikian jelaslah bagi mereka arti dari semua peristiwa itu (Kis. 2 : 32 - 33).
Oleh pengamat Sejarah Gereja memahami bahwa pada hari turunnya Roh’ul Kudus, di situlah juga hari kelahiran gereja di dunia yang mengemban minimal 3 (tiga) pokok tugas yang sangat mendesak dan prinsip, yakni : Koinonia (bersekutu), Marturia (bersaksi), dan Diakonia (melayani).
Setelah orang banyak memahami makna peristiwa besar itu, lalu mereka bertanya kepada Petrus, apakah yang harus kami perbuat ? Jawab Petrus: “Bertobatlah kamu, agar memperoleh pengampunan dan menerima karunia Roh Kudus“.
Penjelasan Nats.
Sama halnya dengan makna nas ini (Yehez. 11:19–20) karena sengaja dikenakan kepada hari Pantakoste ke II, bahwa Israel perlu mendapat pertobatan, perubahan dan pembaharuan. Selaku umat yang dipanggil Tuhan menjadi umat pilihan-Nya perlu menyadari dirinya, perilakunya, perbuatan termasuk sikap mereka kepada Tuhan yang sering menunjukkan kemurtadan. Maka perlu mereka dengan segera berpaling kepada Tuhan dan meninggalkan kepercayaan kepada dewa-dewa yang menjijikan serta melupakan segala perbuatan-perbuatan yang keji itu. Soalnya bagi mereka perlu dengan segera ada perubahan yang signifikan yang betul-betul tampil beda dari antara bangsa-bangsa sekitar.
Secara konkrit bahwa selaku umat pilihan Tuhan dan yang dipanggil hidup dalam suatu persekutuan dan di tempatkan di satu tempat yakni, tanah Israel, maka Tuhan sungguh-sungguh menghendaki agar mereka memiliki:
Pertama : Hati yang lain (yang baru) dan betul-betul berbeda dari sifat orang di sekitar mereka (tampil beda).
Kedua : Roh yang baru (kekuatan baru, sikap yang baru, karakter yang baru, perilaku dan kepribadian yang baru). Ada perubahan hidup yang prinsip dan mendasar.
Ketiga : Tekad untuk menjauhkan hati yang keras, hati yang membantu, hati yang degil.
Keempat : Hati yang taat, yang loyal, tidak menentang dan tidak selalu bersungut-sungut dan komplein.
Dengan demikian maka dalam praktek kehidupan mereka sehari-hari akan nampak di depan mata umum bahwa mereka dengan setia :
Hidup sesuai dengan ketetapan dan peraturan Tuhan, tanpa ada alternatif (pilihan) yang lain.
Hidup dan berperilaku sebagai umat Tuhan.
Dan itu perlu dan harus dinampakkan sebab Tuhan adalah Allah mereka. Dengan kata lain mereka wajib dan bertanggung jawab berperilaku yang lajim sebagai umat dan pilihan Tuhan.
Applikasi dan Renungan
a. Merayakan hari kedatangan Roh Kudus pada hari kedua telah semakin menipis (sirna). Agaknya sebagian besar umat kristen tidak lagi memanfaatkan hari pesta kedua turunnya Roh Kudus untuk menyelenggarakan ibadah / kebaktian yang sungguh-sungguh (sama halnya hari kedua Natal dan hari kedua Paskah). Jika kita renungkan sebentar bahwa pernah hari kedua Roh Kudus, kebangkitan dan Natal di negara ini sebagai hari fakultatif dalam hubungan hari kerja. artinya jika benar-benar dipergunakan untuk berkebaktian maka tidak menjadi persoalan (tidak dianggap absen) kalaupun tidak masuk kantor. Tetapi sekarang tidak lagi, kenapa? Karena memang orang Kristen ternyata tidak berkebaktian lagi di pesta ke II (dua), sehingga dipastikanlah hari raya kedua Natal , Paskah dan Pentakosta menjadi hari kerja penuh.
b. Kedatangan Roh Kudus menyadarkan segenap umat kristen dan seluruh warga jemaat tentang perilaku dan perbuatan kita masing-masing. Apakah dalam setiap kegiatan dan aktifitas di keseharian kesibukan kita menunjukkan keperbedaan yang khas (tampil beda) dari yang bukan Kristen selaku orang yang percaya kepada Kristus dan menjadi contoh dan teladan bagi sesama kita ?
c. Apakah tanda-tanda dalam hidup ini, bahwa kita yang memperoleh kekuatan Roh Kudus memiliki sikap yang menunjukkan ketaatan, dan jauh dari kekerasan dan hati yang degil dan membatu ?
d. Bagaimana selayaknya yang hendak kita nampakkan dalam praktek hidup sehari-hari sebagai pertanda bahwa kita adalah orang yang menuruti perintah dan Firman Tuhan ?
e. Bagaimana supaya gereja : warga dan majelis gereja berhati lembut, taat dan jauh dari kekerasan ?
Scopus.
Hiduplah senantiasa dalam bimbingan Roh Kudus. sebab semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah (Rom. 8 ; 14).
Medan, awal Oktober 2008
Pdt. M.S.P Sitorus, MTh
Pendeta HKBP Ressort Medan II
Bacaan Minggu 31 Mei 2009: Yesaya 40 : 12 - 14
SIAPAKAH YANG SETARA DENGAN ALLAH?
Pengantar
Kita hidup di dalam masyarakat majemuk, yang memiliki beragam kepercayaan. Dalam kondisi demikian, kadangkala jemaat mengalami kebingungan dan bertanya: “Allah manakah yang benar?”
Pertanyaan tersebut adalah sebuah pertanyaan yang sangat relevan dan penting untuk dijawab. Untuk itu, nas Alkitab, yang menjadi epistel di hari Pentakosta pertama ini, sangat baik untuk kita simak bersama-sama. Nas ini berbicara mengenai topik yang sangat penting, yaitu tentang diri Allah sendiri. Perjanjian Lama menggambarkan bahwa sejak umat Allah keluar dari Mesir, umat tersebut sering berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lain. Dalam kondisi yang demikian, umat tersebut diperhadapkan kepada allah-allah (ilah-ilah) lokal yang dipercayai oleh masyarakat setempat. Meski demikian, melalui nabi-nabi, TUHAN ALLAH dengan tegas mengingatkan agar umat menjauhkan diri dari ilah-ilah tersebut dan tetap percaya kepada-Nya. Dengan perkataan lain, Allah menuntut loyalitas tunggal kepada-Nya.
Pembahasan
Kitab Yesaya dapat dibagi menjadi tiga periode. Periode pertama adalah pasal 1-39 (739-701 SM). Periode kedua adalah pasal 40-55 (605-539 SM) dan periode ketiga adalah pasal 56-66 (539-400 SM). Teks Alkitab yang baru kita baca termasuk periode kedua, di mana pada periode tersebut, umat Allah (bangsa Yehuda) berada dalam pembuangan di Babel. Hal itu terjadi akibat dosa dan pelanggaran mereka, di mana mereka hidup memberontak dengan percaya dan beribadah kepada ilah lain. Dalam keadilan-Nya, Allah menghukum umat tersebut melalui tangan musuh mereka. Sebagai bangsa yang hidup dalam pembuangan, mereka tidak memiliki kemerdekaan, umat Allah sangat menderita dan hidup putus asa.
Alkitab menjelaskan bahwa Allah yang adil, adalah juga Allah yang penuh kasih. Karena itu, Dia tidak menghendaki umat-Nya terus hidup dalam penderitaan. Dia berkenan menerima mereka yang mau bertobat dan kembali kepada-Nya. Pasal ini dengan jelas menyatakan kabar baik, berita keselamatan dan penghiburan bagi umat-Nya. Itulah sebabnya, di dalam ayat permulaan kita membaca: “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya (Yes. 40:1-2). Pada ayat berikutnya, nabi menunjuk kepada Allah yang kuat dan berkuasa (10) yang sanggup memelihara dan menggembalakan umat-Nya (11). Selanjutnya, kita membaca serangkaian pertanyaan yang berhubungan dengan pribadi. Perhatikan kata “Siapa” diulang beberapa kali dalam pasal ini (ayat 12, 13, 14, 18, 25).
Manusia jauh lebih kecil dari ciptaan Allah
Kita akan membagi pertanyaan dalam nas bacaaan kita tersebut menjadi dua bagian. Mari kita mulai dengan yang pertama, yaitu, yang berhubungan dengan ciptaan. Salah satu cara untuk mengenal kekerdilan manusia dan kebesaran Allah, adalah dengan memandang kepada alam, ciptaan Allah. Pada ayat 12, pertanyaan berhubungan dengan kebesaran ciptaan Allah. Di sini ada empat pertanyaan:
• Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya?
• Siapa yang mengukur langit dengan jengkal?
• Siapa yang menyukat debu tanah dengan takaran?
• Siapa yang menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca?
Bagaimanakah jemaat sekalian menjawab pertanyaan tersebut di atas? Isi dari pertanyaan tersebut mengandung kontras yang sangat menyolok. Di satu sisi, air laut sangatlah luas, dan di sisi lain, lekuk tangan manusia sangatlah kecil. Lalu, siapakah yang memiliki lekuk tangan yang sanggup menakar air laut tersebut? Jawabnya, tentu saja tidak ada. Hal yang sama dengan langit yang sedemikian luas. Siapakah yang memiliki jengkal sedemikian besar sehingga sanggup mengukur langit? Jawabnya juga tidak ada. Demikian juga dengan debu tanah yang sedemikian berat. Siapakah yang memiliki takaran yang sanggup menyukat debu tanah tersebut? Jawabnya, juga negatif. Hal yang sama dengan gunung-gunung atau bukit-bukit yang sedemikian tinggi dan berat. Siapakah yang sanggup menimbangnya? Sudah pasti, jawabnya, kembali tidak ada. Dengan perkataan lain, jika kita menyimak tantangan nabi tersebut di atas, maka semua jawabnya bersifat negatif: tidak ada. Atau lebih tegas lagi, tidak mungkin ada. Jika ada pribadi yang sanggup melakukannya, maka pribadi itu hanyalah Allah, yaitu satu-satunya pribadi yang menciptakan semua hal tersebut.
Allah jauh lebih besar dari semua
Jika pada ayat 12 pertanyaan pertama dikaitkan dengan ciptaan Allah, yang jauh lebih besar dari manusia, maka pada ayat 13 dan 14, pertanyaan yang kedua, berhubungan dengan diri Allah sendiri. “Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?” (13). Jika kita perhatikan dengan teliti, maka pertanyaan kedua ini (ay. 13) muncul segera setelah pertanyaan pertama (ay. 12). Jadi, kedua pertanyaan tersebut masih berhubungan. Jika demikian, jawaban apakah yang diharapkan dari ayat 13 tersebut? Sama dengan pertanyaan pertama, jawabnya juga bersifat negatif. Artinya, tidak ada seorangpun, termasuk ilah manapun yang dapat mengatur Roh Tuhan. Tidak mungkin seorang manusia atau ilah, bagaimanapun besarnya, dapat memberi petunjuk dan nasihat kepada Allah.
Jika demikian halnya, pertanyaan-pertanyaan dalam ayat 14 juga harus dijawab dengan nada negatif. Allah tidak perlu meminta nasihat kepada siapapun. Tidak ada seorangpun yang sanggup mengajar Allah tentang keadilan, pengetahuan dan pengertian. Hal itu tidak mungkin dilakukan oleh manusia atau mahluk apapun. Jadi, dengan jelas dan tegas teks tersebut menyatakan bahwa Allah di atas semua mahluk. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Allah. Kebenaran itulah yang kemudian diulang-ulang pada ayat-ayat berikutnya: “Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?”(40:18; Lih. juga ay. 25).
Penerapan
Disadari atau tidak, masih ada dari anggota jemaat kita yang belum menjadikan Allah satu-satunya pribadi yang dipercaya dan disembah. Hal itu dapat terlihat dari praktek perdukunan di sekitar kita. Dengan sedih saya memberitahukan bahwa beberapa kali saya bertemu dengan anggota jemaat yang masih berhubungan dengan dukun-dukun. Pada kondisi ‘normal’, mereka kelihatannya, baik-baik saja. Percaya kepada Tuhan dan rajin ke Gereja. Akan tetapi, ketika dalam kondisi ‘kepepet’, misalnya, ketika penyakit yang diderita anggota keluarga tidak sembuh-sembuh juga, maka mereka pergi kepada orang ‘pintar’ (istilah kita, “nisungkun ma na malo”). Yang lebih menyedihkan lagi, beberapa dari yang terlibat dukun tersebut di atas adalah majelis (sintua)! Praktek perdukunan tersebut, sungguh merupakan tindakan yang menyesatkan dan sia-sia. Beberapa dari mereka yang saya layani, bahkan sempat menjadi gila dan dipasung (kedua kaki dan tangan diikat dengan balok). Ada lagi, seorang istri yang baru menikah, akhirnya terancam bercerai karena setiap kali roh jahat itu menyerangnya (kambuh), maka dia membenci suaminya.
Di pihak lain, kita juga dapat melihat gaya hidup orang-orang yang walaupun kelihatannya percaya kepada Allah, tetapi dalam kenyataan hidup sehari-hari, mereka mengandalkan manusia. Itulah yang terjadi dengan seorang ayah yang saya layani. Ayah tersebut sedemikian ingin agar anaknya berhasil dalam kariernya. Karena itu, sekalipun dia telah berdoa, dia jungkir balik mencari backing untuk mendukung karier anaknya tersebut. Dalam hati, muncul pemikiran, sejauh mana sebenarnya orang tersebut percaya kepada doanya. Apakah semangatnya untuk berserah mencari backing kepada manusia (pejabat tertentu) sama dengan kepada Allah? Nampaknya, tidak demikian. Kiranya, melalui firman Tuhan hari ini, saudara semua semakin beriman dan bersandar hanya kepada Allah dan tidak pernah beralih kepada dukun, ilah atau ciptaan lainnya. Firman Tuhan hari ini menegaskan kembali bahwa hanya ada satu Allah yang sejati. Dia adalah Pencipta alam semesta serta yang mengatur dan mengendalikannya. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan-Nya.-
Pdt. Ir. Mangapul Sagala, D.Th
Pengantar
Kita hidup di dalam masyarakat majemuk, yang memiliki beragam kepercayaan. Dalam kondisi demikian, kadangkala jemaat mengalami kebingungan dan bertanya: “Allah manakah yang benar?”
Pertanyaan tersebut adalah sebuah pertanyaan yang sangat relevan dan penting untuk dijawab. Untuk itu, nas Alkitab, yang menjadi epistel di hari Pentakosta pertama ini, sangat baik untuk kita simak bersama-sama. Nas ini berbicara mengenai topik yang sangat penting, yaitu tentang diri Allah sendiri. Perjanjian Lama menggambarkan bahwa sejak umat Allah keluar dari Mesir, umat tersebut sering berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lain. Dalam kondisi yang demikian, umat tersebut diperhadapkan kepada allah-allah (ilah-ilah) lokal yang dipercayai oleh masyarakat setempat. Meski demikian, melalui nabi-nabi, TUHAN ALLAH dengan tegas mengingatkan agar umat menjauhkan diri dari ilah-ilah tersebut dan tetap percaya kepada-Nya. Dengan perkataan lain, Allah menuntut loyalitas tunggal kepada-Nya.
Pembahasan
Kitab Yesaya dapat dibagi menjadi tiga periode. Periode pertama adalah pasal 1-39 (739-701 SM). Periode kedua adalah pasal 40-55 (605-539 SM) dan periode ketiga adalah pasal 56-66 (539-400 SM). Teks Alkitab yang baru kita baca termasuk periode kedua, di mana pada periode tersebut, umat Allah (bangsa Yehuda) berada dalam pembuangan di Babel. Hal itu terjadi akibat dosa dan pelanggaran mereka, di mana mereka hidup memberontak dengan percaya dan beribadah kepada ilah lain. Dalam keadilan-Nya, Allah menghukum umat tersebut melalui tangan musuh mereka. Sebagai bangsa yang hidup dalam pembuangan, mereka tidak memiliki kemerdekaan, umat Allah sangat menderita dan hidup putus asa.
Alkitab menjelaskan bahwa Allah yang adil, adalah juga Allah yang penuh kasih. Karena itu, Dia tidak menghendaki umat-Nya terus hidup dalam penderitaan. Dia berkenan menerima mereka yang mau bertobat dan kembali kepada-Nya. Pasal ini dengan jelas menyatakan kabar baik, berita keselamatan dan penghiburan bagi umat-Nya. Itulah sebabnya, di dalam ayat permulaan kita membaca: “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya (Yes. 40:1-2). Pada ayat berikutnya, nabi menunjuk kepada Allah yang kuat dan berkuasa (10) yang sanggup memelihara dan menggembalakan umat-Nya (11). Selanjutnya, kita membaca serangkaian pertanyaan yang berhubungan dengan pribadi. Perhatikan kata “Siapa” diulang beberapa kali dalam pasal ini (ayat 12, 13, 14, 18, 25).
Manusia jauh lebih kecil dari ciptaan Allah
Kita akan membagi pertanyaan dalam nas bacaaan kita tersebut menjadi dua bagian. Mari kita mulai dengan yang pertama, yaitu, yang berhubungan dengan ciptaan. Salah satu cara untuk mengenal kekerdilan manusia dan kebesaran Allah, adalah dengan memandang kepada alam, ciptaan Allah. Pada ayat 12, pertanyaan berhubungan dengan kebesaran ciptaan Allah. Di sini ada empat pertanyaan:
• Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya?
• Siapa yang mengukur langit dengan jengkal?
• Siapa yang menyukat debu tanah dengan takaran?
• Siapa yang menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca?
Bagaimanakah jemaat sekalian menjawab pertanyaan tersebut di atas? Isi dari pertanyaan tersebut mengandung kontras yang sangat menyolok. Di satu sisi, air laut sangatlah luas, dan di sisi lain, lekuk tangan manusia sangatlah kecil. Lalu, siapakah yang memiliki lekuk tangan yang sanggup menakar air laut tersebut? Jawabnya, tentu saja tidak ada. Hal yang sama dengan langit yang sedemikian luas. Siapakah yang memiliki jengkal sedemikian besar sehingga sanggup mengukur langit? Jawabnya juga tidak ada. Demikian juga dengan debu tanah yang sedemikian berat. Siapakah yang memiliki takaran yang sanggup menyukat debu tanah tersebut? Jawabnya, juga negatif. Hal yang sama dengan gunung-gunung atau bukit-bukit yang sedemikian tinggi dan berat. Siapakah yang sanggup menimbangnya? Sudah pasti, jawabnya, kembali tidak ada. Dengan perkataan lain, jika kita menyimak tantangan nabi tersebut di atas, maka semua jawabnya bersifat negatif: tidak ada. Atau lebih tegas lagi, tidak mungkin ada. Jika ada pribadi yang sanggup melakukannya, maka pribadi itu hanyalah Allah, yaitu satu-satunya pribadi yang menciptakan semua hal tersebut.
Allah jauh lebih besar dari semua
Jika pada ayat 12 pertanyaan pertama dikaitkan dengan ciptaan Allah, yang jauh lebih besar dari manusia, maka pada ayat 13 dan 14, pertanyaan yang kedua, berhubungan dengan diri Allah sendiri. “Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?” (13). Jika kita perhatikan dengan teliti, maka pertanyaan kedua ini (ay. 13) muncul segera setelah pertanyaan pertama (ay. 12). Jadi, kedua pertanyaan tersebut masih berhubungan. Jika demikian, jawaban apakah yang diharapkan dari ayat 13 tersebut? Sama dengan pertanyaan pertama, jawabnya juga bersifat negatif. Artinya, tidak ada seorangpun, termasuk ilah manapun yang dapat mengatur Roh Tuhan. Tidak mungkin seorang manusia atau ilah, bagaimanapun besarnya, dapat memberi petunjuk dan nasihat kepada Allah.
Jika demikian halnya, pertanyaan-pertanyaan dalam ayat 14 juga harus dijawab dengan nada negatif. Allah tidak perlu meminta nasihat kepada siapapun. Tidak ada seorangpun yang sanggup mengajar Allah tentang keadilan, pengetahuan dan pengertian. Hal itu tidak mungkin dilakukan oleh manusia atau mahluk apapun. Jadi, dengan jelas dan tegas teks tersebut menyatakan bahwa Allah di atas semua mahluk. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Allah. Kebenaran itulah yang kemudian diulang-ulang pada ayat-ayat berikutnya: “Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?”(40:18; Lih. juga ay. 25).
Penerapan
Disadari atau tidak, masih ada dari anggota jemaat kita yang belum menjadikan Allah satu-satunya pribadi yang dipercaya dan disembah. Hal itu dapat terlihat dari praktek perdukunan di sekitar kita. Dengan sedih saya memberitahukan bahwa beberapa kali saya bertemu dengan anggota jemaat yang masih berhubungan dengan dukun-dukun. Pada kondisi ‘normal’, mereka kelihatannya, baik-baik saja. Percaya kepada Tuhan dan rajin ke Gereja. Akan tetapi, ketika dalam kondisi ‘kepepet’, misalnya, ketika penyakit yang diderita anggota keluarga tidak sembuh-sembuh juga, maka mereka pergi kepada orang ‘pintar’ (istilah kita, “nisungkun ma na malo”). Yang lebih menyedihkan lagi, beberapa dari yang terlibat dukun tersebut di atas adalah majelis (sintua)! Praktek perdukunan tersebut, sungguh merupakan tindakan yang menyesatkan dan sia-sia. Beberapa dari mereka yang saya layani, bahkan sempat menjadi gila dan dipasung (kedua kaki dan tangan diikat dengan balok). Ada lagi, seorang istri yang baru menikah, akhirnya terancam bercerai karena setiap kali roh jahat itu menyerangnya (kambuh), maka dia membenci suaminya.
Di pihak lain, kita juga dapat melihat gaya hidup orang-orang yang walaupun kelihatannya percaya kepada Allah, tetapi dalam kenyataan hidup sehari-hari, mereka mengandalkan manusia. Itulah yang terjadi dengan seorang ayah yang saya layani. Ayah tersebut sedemikian ingin agar anaknya berhasil dalam kariernya. Karena itu, sekalipun dia telah berdoa, dia jungkir balik mencari backing untuk mendukung karier anaknya tersebut. Dalam hati, muncul pemikiran, sejauh mana sebenarnya orang tersebut percaya kepada doanya. Apakah semangatnya untuk berserah mencari backing kepada manusia (pejabat tertentu) sama dengan kepada Allah? Nampaknya, tidak demikian. Kiranya, melalui firman Tuhan hari ini, saudara semua semakin beriman dan bersandar hanya kepada Allah dan tidak pernah beralih kepada dukun, ilah atau ciptaan lainnya. Firman Tuhan hari ini menegaskan kembali bahwa hanya ada satu Allah yang sejati. Dia adalah Pencipta alam semesta serta yang mengatur dan mengendalikannya. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan-Nya.-
Pdt. Ir. Mangapul Sagala, D.Th
Kamis, 14 Mei 2009
Bacaan Minggu 17 Mei 2009: Yakobus 1 : 2 - 8
IMAN YANG MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK
I. Pendahuluan
Banyak ahli PB menyetujui bahwa Yakobus saudara Tuhan Yesus adalah kepala jemaat Kristen di Yeruslem yang menulis surat ini. Ia akan dikagumi dan dihormati semua orang (Gal. 2:12). Isi surat ini adalah mencerminkan bahwa penulisnya adalah orang Yahudi, karena ia banyak sekali mengutip PL, yang diduga akrab dengan kitab-kitab Ibrani (bnd. 1:1) kedua belas suku di perantauan, dan anak sulung (1:18). Ia mengirim surat ini kepada kedua belas suku yang di perantauan yaitu orang Yahudi Kristen. Keadaan jemaat yang tidak menunjukkan kerukunan sejati, yang membuat sikap yang memisah-misahkan diri (bnd. 2:1). Karena ia banyak sekali mengutip PL, yang diduga akrab dengan kitab-kitab Ibrani (bnd 1:1), fitnah, iri hati, dan dusta (bnd 3:14) dan kebencian (bnd 4:2). Pembaca kitab Yakobus adalah kedua belas suku yang tersebar di perantauan.
II. Penjelasan ayat
Dengan memperhatikan perikop ini maka kita dapat melihat bahwa orang beriman itu harus memiliki keistimewaan dibandingkan dengan orang yang tidak beriman, yaitu:
2.1. Memiliki Iman yang mendatangkan kebahagaiaan
Para pembaca kitab Yakobus mengalami banyak pencobaan terutama di bidang ekonomi dan sosial (bnd. Yak. 1:9-10) ada yang miskin dan yang kaya, tentu akan berdampak pada kehidupan masyarakat. Bisa juga kesulitan yang mereka alami adalah akibat dari kurangnya penerimaan masyarakat di sekitar mereka sehingga mereka difitnah diejek dan dianiaya, tetapi mungkin juga karena mereka ditimpa kemiskinan (Yak. 2:1-13, 5:1-6) dan penyakit (Yak 5:14-15). Namun sebagaimana biasanya pergumulan jemaat mula-mula maka dapat dikatakan juga bahwa pencobaan adalah karena mereka beriman kepada Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Sehingga karena mereka beriman akan mengalami pergumulan hidup menghadapi berbagai macam tantangan yang datang dari dunia sekitar karena perbedaan agama (keyakinan), kebudayaan dan pengetahuan.
2.2. Memiliki Iman yang mendatangkan ketekunan
Mereka yang harus mengalami pencobaan ini diajak untuk menerima pencobaan itu dengan gembira, karena pencobaan itu mengandung ujian terhadap iman untuk menghasilkan kemurnian dan keteguhan. Beriman bukan saja menerima yang enak-enak seperti bersukacita, berbahagia, atau tanpa tantangan. Bila demikian iman itu akan bertumbuh dengan rapuh dan akan cepat dan hilang. Iman yang dibangun berbagai persoalan hidup akan membentuk iman yang tahan uji, kokoh dan tumbuh serta berbuah. Dalam arak-arakan panjang perjalanan gereja, selalu berhadapan dengan tantangan hidup. Namun demikian halnya gereja tidak boleh membiarkan terang kebenaran padam sekali pun banyak tantangan. Justru semakin banyak tantangan ketegaran dan kemurnian iman semakin nyata ditunjukkan. Orang percaya tidak boleh larut dalam pencobaan, tetapi ia akan memenangkannya dengan bersukacita dalam kemenangan Kristus. Kemenangan itu telah nyata dalam karya Roh Kudus yang memberikan penghiburan dan pertolongan terhadap orang percaya. Jadi dengan adanya pencobaan maka nyata jelas pertolongan Tuhan diterima oleh orang beriman.
2.3. Memiliki Iman yang mampu menghadapi tantangan
Penulis mengajak agar bertekun dalam pencobaan, ini menunjuk pada upaya yang bersengaja dari orang beriman itu harus nyata. Ia tidak boleh memiliki kepercayaan yang rapuh. Artinya ia harus memiliki iman yang terus-menerus berusaha menuju kematangan iman yang dalam dirinya. Ia tidak boleh terpengaruh pada godaan dunia ini yang cenderung mengajak manusia pada hidup yang beriorentasi kepada kenikmatan semu atau sementara saja. Tetapi dengan mengharapkan pertolongan Allah ia berjuang untuk tidak tergoda kepada usaha yang memiliki harta kekayaan dan tingginya status sosial.
Dengan bersikap seperti itu maka orang beriman itu bertumbuh menuju pada kesempurnaan hidup di mana ia akan mengenal betapa besarnya pertolongan Allah dalam hidupnya yang menjadikan ia beriman. Ia tidak merasa kehilangan kebahagiaan walaupun orang beriman itu akan menjalani proses menuju hidup yang benar dan sempurna dengan pencobaan yang ada. Orang beriman tidak hidup dengan penuh semangat dan harapan bahwa hari ini akan lebih baik dari hari kemarin dan hari esok akan lebih baik dari hari ini. Jadi iman itu hidup dan bertumbuh dengan kuasa dari Allah menuju pada kesempurnaan.
2.4. Memiliki Iman yang membuahkan hikmat
Hikmat adalah hal yang praktis yang dilakaukan untuk mengambil keputusan yang jitu, hikmat yang benar ada dalam Alkitab adalah pemberian Tuhan (2 Taw 1:10-12; Efs. 1:17). Hikmat ini akan diberikan oleh Allah dengan murah hati, artinya diberikan dengan utuh dan bulat dengan sesungguhnya. Sehingga dengan hikmat yang diberikan itu orang beriman juga dimampukan untuk memiliki sikap kerelaan memberi (bnd. Mat 7:7-12; Ul. 15:10). Dengan hikmat maka orang percaya akan mampu menjawab kebenaran iman yang diberikan Tuhan kepadan-Nya. Allah memberikan hikmat (sifat yang ingin memiliki pengetahuan dan melakukannya) kepada orang percaya. Orang beriman harus memohon kekuatan dari Allah untuk memiliki hikmat ini sehingga pada akhirnya tidak ada orang yang bermegah kepada dirinya sendiri ketika ia dapat memiliki hikmat itu, tetapi akan senantiasa memuliakan Allah yang memberi hikmat itu.
2.5. Memiliki Iman yang teguh dan tidak bimbang
Hanya dengan permohonan kepada Allah saja kita mendapat pertolongan dalam hidup ini. Permohonan yang diajukan hendaklah dengan iman artinya dalam doa itu kita harus menunjukkan kesungguhan kita, berdoa dengan sepenuh hati. Allah tidak menginginkan ada orang yang memiliki hati yang mendua. Kita harus percaya sepenunya kepada Allah saja. Dengan percaya kepada-Nya bahwa Ia akan mewujudkan doa kita dengan rencana-Nya, maka kita akan jauh dari sikap hati yang kacau. Kita akan menunjukkaan sikap berdoa yang benar terhadap Tuhan kita yang penuh kuasa dan keteraturan, sehingga dengan sikap seperti itu maka sukacita akan senantiasa memenuhi hidup kita. Jadi dalam memohon, kita harus jelas menunjukkan siapa Allah yang kita puji. Tanpa iman yang teguh dan utuh kepada Allah saja maka kita akan terombang-ambing oleh pencobaan dunia yang terus menerus semakin dasyat. Lex orandi lex credendi lex preprendi, artinya dari doa kita diketahui siapa yang kita percayai dan dari situ juga akan terlihat bagaimana kita bertindak dalam hidup sehari-hari. Bila kita berseru kepada Allah yang berkuassa atas dunia ini maka kita mempercayai-Nya dan kita akan beribadah kepada-Nya dan dengan tuntutannya kita akan menujukkan sikap hidup yang dikehendaki-Nya.
III. Aplikasi/penerapan
Sepanjang sejarah bahwa gereja yang di dalamnya orang-orang percaya kepada Yesus Kristus selalu menghadapi persoalan-persoalan hidup yang dapat mencobai imannya. Pertanyaan yang sering muncul adalah dengan apa dan kuasa siapa orang percaya (orang beriman) agar dapat menghadapi persoalan hidup yang muncul dalam kehidupan sehari-hari sebagai manusia yang hidup dalam masyarakat dan gereja, sebagai mahluk individu, sosial, religi dan berbudaya. Hanya dengan beriman kepada Allah dan mempercayainya dengan sungguh-sungguh setiap orang dapat bersukacita (berbahagia). Percayalah kepada Yesus maka kamu dan seisi rumahmu akan diselamatkan. Dan perbuatlah yang baik kepada semua orang Amin
Pdt.Pahala J.Simanjuntak,MTh
I. Pendahuluan
Banyak ahli PB menyetujui bahwa Yakobus saudara Tuhan Yesus adalah kepala jemaat Kristen di Yeruslem yang menulis surat ini. Ia akan dikagumi dan dihormati semua orang (Gal. 2:12). Isi surat ini adalah mencerminkan bahwa penulisnya adalah orang Yahudi, karena ia banyak sekali mengutip PL, yang diduga akrab dengan kitab-kitab Ibrani (bnd. 1:1) kedua belas suku di perantauan, dan anak sulung (1:18). Ia mengirim surat ini kepada kedua belas suku yang di perantauan yaitu orang Yahudi Kristen. Keadaan jemaat yang tidak menunjukkan kerukunan sejati, yang membuat sikap yang memisah-misahkan diri (bnd. 2:1). Karena ia banyak sekali mengutip PL, yang diduga akrab dengan kitab-kitab Ibrani (bnd 1:1), fitnah, iri hati, dan dusta (bnd 3:14) dan kebencian (bnd 4:2). Pembaca kitab Yakobus adalah kedua belas suku yang tersebar di perantauan.
II. Penjelasan ayat
Dengan memperhatikan perikop ini maka kita dapat melihat bahwa orang beriman itu harus memiliki keistimewaan dibandingkan dengan orang yang tidak beriman, yaitu:
2.1. Memiliki Iman yang mendatangkan kebahagaiaan
Para pembaca kitab Yakobus mengalami banyak pencobaan terutama di bidang ekonomi dan sosial (bnd. Yak. 1:9-10) ada yang miskin dan yang kaya, tentu akan berdampak pada kehidupan masyarakat. Bisa juga kesulitan yang mereka alami adalah akibat dari kurangnya penerimaan masyarakat di sekitar mereka sehingga mereka difitnah diejek dan dianiaya, tetapi mungkin juga karena mereka ditimpa kemiskinan (Yak. 2:1-13, 5:1-6) dan penyakit (Yak 5:14-15). Namun sebagaimana biasanya pergumulan jemaat mula-mula maka dapat dikatakan juga bahwa pencobaan adalah karena mereka beriman kepada Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Sehingga karena mereka beriman akan mengalami pergumulan hidup menghadapi berbagai macam tantangan yang datang dari dunia sekitar karena perbedaan agama (keyakinan), kebudayaan dan pengetahuan.
2.2. Memiliki Iman yang mendatangkan ketekunan
Mereka yang harus mengalami pencobaan ini diajak untuk menerima pencobaan itu dengan gembira, karena pencobaan itu mengandung ujian terhadap iman untuk menghasilkan kemurnian dan keteguhan. Beriman bukan saja menerima yang enak-enak seperti bersukacita, berbahagia, atau tanpa tantangan. Bila demikian iman itu akan bertumbuh dengan rapuh dan akan cepat dan hilang. Iman yang dibangun berbagai persoalan hidup akan membentuk iman yang tahan uji, kokoh dan tumbuh serta berbuah. Dalam arak-arakan panjang perjalanan gereja, selalu berhadapan dengan tantangan hidup. Namun demikian halnya gereja tidak boleh membiarkan terang kebenaran padam sekali pun banyak tantangan. Justru semakin banyak tantangan ketegaran dan kemurnian iman semakin nyata ditunjukkan. Orang percaya tidak boleh larut dalam pencobaan, tetapi ia akan memenangkannya dengan bersukacita dalam kemenangan Kristus. Kemenangan itu telah nyata dalam karya Roh Kudus yang memberikan penghiburan dan pertolongan terhadap orang percaya. Jadi dengan adanya pencobaan maka nyata jelas pertolongan Tuhan diterima oleh orang beriman.
2.3. Memiliki Iman yang mampu menghadapi tantangan
Penulis mengajak agar bertekun dalam pencobaan, ini menunjuk pada upaya yang bersengaja dari orang beriman itu harus nyata. Ia tidak boleh memiliki kepercayaan yang rapuh. Artinya ia harus memiliki iman yang terus-menerus berusaha menuju kematangan iman yang dalam dirinya. Ia tidak boleh terpengaruh pada godaan dunia ini yang cenderung mengajak manusia pada hidup yang beriorentasi kepada kenikmatan semu atau sementara saja. Tetapi dengan mengharapkan pertolongan Allah ia berjuang untuk tidak tergoda kepada usaha yang memiliki harta kekayaan dan tingginya status sosial.
Dengan bersikap seperti itu maka orang beriman itu bertumbuh menuju pada kesempurnaan hidup di mana ia akan mengenal betapa besarnya pertolongan Allah dalam hidupnya yang menjadikan ia beriman. Ia tidak merasa kehilangan kebahagiaan walaupun orang beriman itu akan menjalani proses menuju hidup yang benar dan sempurna dengan pencobaan yang ada. Orang beriman tidak hidup dengan penuh semangat dan harapan bahwa hari ini akan lebih baik dari hari kemarin dan hari esok akan lebih baik dari hari ini. Jadi iman itu hidup dan bertumbuh dengan kuasa dari Allah menuju pada kesempurnaan.
2.4. Memiliki Iman yang membuahkan hikmat
Hikmat adalah hal yang praktis yang dilakaukan untuk mengambil keputusan yang jitu, hikmat yang benar ada dalam Alkitab adalah pemberian Tuhan (2 Taw 1:10-12; Efs. 1:17). Hikmat ini akan diberikan oleh Allah dengan murah hati, artinya diberikan dengan utuh dan bulat dengan sesungguhnya. Sehingga dengan hikmat yang diberikan itu orang beriman juga dimampukan untuk memiliki sikap kerelaan memberi (bnd. Mat 7:7-12; Ul. 15:10). Dengan hikmat maka orang percaya akan mampu menjawab kebenaran iman yang diberikan Tuhan kepadan-Nya. Allah memberikan hikmat (sifat yang ingin memiliki pengetahuan dan melakukannya) kepada orang percaya. Orang beriman harus memohon kekuatan dari Allah untuk memiliki hikmat ini sehingga pada akhirnya tidak ada orang yang bermegah kepada dirinya sendiri ketika ia dapat memiliki hikmat itu, tetapi akan senantiasa memuliakan Allah yang memberi hikmat itu.
2.5. Memiliki Iman yang teguh dan tidak bimbang
Hanya dengan permohonan kepada Allah saja kita mendapat pertolongan dalam hidup ini. Permohonan yang diajukan hendaklah dengan iman artinya dalam doa itu kita harus menunjukkan kesungguhan kita, berdoa dengan sepenuh hati. Allah tidak menginginkan ada orang yang memiliki hati yang mendua. Kita harus percaya sepenunya kepada Allah saja. Dengan percaya kepada-Nya bahwa Ia akan mewujudkan doa kita dengan rencana-Nya, maka kita akan jauh dari sikap hati yang kacau. Kita akan menunjukkaan sikap berdoa yang benar terhadap Tuhan kita yang penuh kuasa dan keteraturan, sehingga dengan sikap seperti itu maka sukacita akan senantiasa memenuhi hidup kita. Jadi dalam memohon, kita harus jelas menunjukkan siapa Allah yang kita puji. Tanpa iman yang teguh dan utuh kepada Allah saja maka kita akan terombang-ambing oleh pencobaan dunia yang terus menerus semakin dasyat. Lex orandi lex credendi lex preprendi, artinya dari doa kita diketahui siapa yang kita percayai dan dari situ juga akan terlihat bagaimana kita bertindak dalam hidup sehari-hari. Bila kita berseru kepada Allah yang berkuassa atas dunia ini maka kita mempercayai-Nya dan kita akan beribadah kepada-Nya dan dengan tuntutannya kita akan menujukkan sikap hidup yang dikehendaki-Nya.
III. Aplikasi/penerapan
Sepanjang sejarah bahwa gereja yang di dalamnya orang-orang percaya kepada Yesus Kristus selalu menghadapi persoalan-persoalan hidup yang dapat mencobai imannya. Pertanyaan yang sering muncul adalah dengan apa dan kuasa siapa orang percaya (orang beriman) agar dapat menghadapi persoalan hidup yang muncul dalam kehidupan sehari-hari sebagai manusia yang hidup dalam masyarakat dan gereja, sebagai mahluk individu, sosial, religi dan berbudaya. Hanya dengan beriman kepada Allah dan mempercayainya dengan sungguh-sungguh setiap orang dapat bersukacita (berbahagia). Percayalah kepada Yesus maka kamu dan seisi rumahmu akan diselamatkan. Dan perbuatlah yang baik kepada semua orang Amin
Pdt.Pahala J.Simanjuntak,MTh
Kamis, 07 Mei 2009
BAHAN PEMBINAAN PNGKPA: Yesaya 40:29
“TETAP TEGAR DI TENGAH MASA SUKAR”
(Yesaya 40:29)
Untuk membahas tema ini kita lebih dulu melihat apa yang sedang dibicarakan oleh Yesaya dalam teks ini. Pada ayat 28, Yesaya membicarakan “TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya”. Allah tidak menjadi lelah seperti manusia, yang telah berusaha sekuat tenaganya, dan merasa letih lesu (bnd. Yes. 44:12; Yer.51:58). Alah tidak menjadi lesu seperti orang yang bersusah, lalu cape (Yes. 49:4; 43:22). Allah tidak terdua pengertian-Nya, artinya tidak dapat diikuti, diselidiki sebagaimana jalan pikiran manusia.
Manusia bisa menjadi lelah dan menjadi lesu dalam menghadapi masa-masa sukar. Namun Allah tidak menjadi lelah dan menjadi lesu ketika menghadapi masa-masa sukar. Di kelemahan manusia yang menjadi lelah dan lesu ketika menghadapi masa sukar itulah Allah memberi kekuatan. Allah yang tinggi luhur itu berkenan kepada manusia yang lemah. Berita ini dibawakan dalam bahasa mazmur (bnd. Yes. 40:12-31 dengan Mzm. 33:6-22).
Manusia yang telah kehabisan tenaga dan lelah, manusia yang tak berdaya lagi (harfiah: ‘mereka yang tidak ada kuasanya’) diberikan kekuatan, bahkan semangat (harfiah: ‘kuasa’, daya gerak), sehingga manusia bisa berlari dan tidak menjadi lesu, berjalan dan tidak menjadi lelah.
Teks ini sebenarnya berbicara tentang manusia yang berada dalam penderitaan, yang kasihan akan dirinya dan kecewa terhadap Allah. Manusia terkurung dalam perasaan hatinya dan tidak memandang ke depan lagi, oleh karena itu manusia tidak sanggup menerima berita bahwa Tuhan akan segera melepaskan manusia dari penderitaan itu. Manusia tidak percaya lagi tanpa bukti, tidak berani mengambil resiko, lebih suka tinggal dalam kesusahan yang sudah biasa mereka alami. Sikap seperti ini masih kita jumpai dalam kehidupan pemuda/i gereja. Pemuda/i gereja yang malang nasibnya, yang tidak dihargai dalam pergaulannya, maupun di kalangan golongan masyarakat yang merasa terbelakang atau terancam.
Kita tidak menyangkal adanya keadaan dan situasi tersebut di tengah-tengah pemuda/i gereja. Itu fakta dan kenyataan. Realita kehidupan bergereja. Yesaya sendiri tidak menyangkal penderitaan orang-orang Israel pada masa itu, Yesaya tidak menegor sikap orang Israel itu. Namun Yesaya membuka sebuah keakanan yang baik bagi mereka yang mengalami penderitaan. Dengan maksud itu Yesaya mengantarkan orang yang menderita itu ke tempat di mana mereka memuji Tuhan, karena siapa yang memandang kepada Tuhan, dibebaskan dari rintangan-rintangan yang melumpuhkannya dan sanggup berjalan lagi.
Bagaimanakah caranya agar kita bisa tetap tegar di tengah masa sukar?
Pertama, pujilah Tuhan. Dengan pujian kepada Tuhan membuat kita bisa tetap tegar dan mampu menerima realita kehidupan ini. Lalu di mana kita dapat memuji Tuhan agar kita tidak lumpuh dan tidak lelah dan lesu? Jawabannya adalah dalam persekutuan orang-orang kudus. Persekutuan orang-orang kudus itu terdapat dalam lingkungan gereja, terdapat dalam persekutuan pemuda/i gereja, terdapat dalam persekutuan doa, terdapat dalam penelaahan Alkitab, terdapat dalam kelompok paduan suara/kor/VG, dll. Ketika kita mulai memuji Tuhan, maka semangat kita akan bangkit kembali. Dengan pujian kepada Tuhan, kita akan dipulihkan dari rasa lelah dan lesu yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pujian kepada Tuhan, kita akan beroleh kekuatan baru setiap hari. Kekuatan itu selalu baru dan tak pernah terlambat. Dengan pujian kepada Tuhan, kita mendapat berkat yang berkelimpahan (bnd. Mzm. 69:31-32).
Kedua, nantikan Tuhan. Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (Yes. 40:31). Mengapa diumpamakan dengan burung rajawali? Coba kita mengamati burung rajawali (elang). Burung rajawali betapa indah dan elegan ketika mengembangkan kedua sayapnya dan melayang bebas di angkasa. Burung rajawali adalah burung yang berukuran cukup besar. Lebar kedua sayapnya ketika direntangkan setidaknya bisa mencapai dua meter. Burung rajawali pun diketahui membangun sarangnya tinggi di atas gunung. Untuk mencapai sebuah puncak ketinggian tertentu di mana burung itu bisa melayang megah dan bebas tentu tidak mudah. Seekor burung rajawali harus mengepakkan sayapnya dengan kuat melawan angin kencang dan badai untuk bisa sampai ke sebuah ketinggian tertentu. Burung rajawali pun harus berani menghadapi dan menentang badai untuk bisa melewatinya. Tapi usaha keras burung rajawali untuk menentang angin dan badai tidaklah sia-sia. Ketika mereka berada di atas badai dan angin kencang, mereka bisa melayang-layang bebas dengan indahnya.
Dari sifat burung rajawali itu bisa kita tarik kesimpulan bahwa berada di tempat rendah, kita akan merasakan berbagai masalah yang terus menerpa kita bak angin kencang dan badai. Jika kita memutuskan untuk berhenti dan puas hanya di tempat rendah, kitapun bisa goyah diterpa angin dan badai masalah. Untuk bisa mengatasinya adalah dengan berani mengambil langkah untuk naik lebih tinggi, sehingga kita bisa berada di atas segala permasalahan duniawi. Dengan berada di atas, kita tidak akan mudah goncang di terpa badai, malah mungkin kita tidak lagi merasakannya! Dunia boleh ditimpa krisis, dunia boleh goncang, namun hanya ketika kita berada di ataslah kita akan selamat, tidak kurang suatu apapun, malah bisa seolah burung rajawali yang melayang-layang dengan penuh sukacita.
Bagaimana agar kita bisa terbang ke tempat yang tinggi? Kita haruslah terus menanti-nantikan Tuhan. Terus bergantung tanpa putus pengharapan. Pengharapan akan Tuhan tidaklah pernah mengecewakan. "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." (Rm. 5:5). Itu janji Tuhan, dan kita tahu janji Tuhan itu adalah "ya dan amin". (2 Kor. 1:20). Mungkin waktunya tidaklah sama dengan keinginan kita, tapi kita tahu bahwa apa yang dirancang Tuhan bagi kita adalah semua yang terbaik. Semua Dia sediakan untuk kita miliki. Karena itulah pengharapan dalam menanti-nanti Tuhan tidak akan pernah mengecewakan. Bagi kita semua yang terus bertekun dan patuh, kita akan dibawa seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya, tidak akan lesu dan tidak akan lelah, meskipun harus menempuh angin dan badai sekalipun. "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya." (Yesaya 40:29).
Prosesnya tidaklah gampang. Seperti burung rajawali yang harus mengepakkan sayapnya dengan sekuat tenaga berulang-ulang agar dapat menembus angin untuk naik ke atas, demikian pula ketika kita hendak melatih kerohanian kita untuk terus menapak naik. Kita harus mematahkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang mungkin nikmat buat kita, kita harus keluar dari zona kenyamanan kita yang sering membuat kita terlena. Untuk bisa "terbang" di atas masalah, kita harus berani menghadapi masa-masa sukar dan tidak menghindar darinya. Namun percayalah, jika kita adalah orang percaya yang setia menanti-nantikan Tuhan, maka dalam proses untuk naik terbang tersebut kita akan ditopang oleh Allah, sehingga kita tidak menjadi lesu dan lelah. Pada suatu saat nanti, kita akan berada di atas, dan tidak lagi terpengaruh oleh angin, badai, gempa dan goncangan-goncangan hidup lainnya. Ada janji Tuhan yang sangat besar menanti di atas. Karena itu teruslah bertekun untuk terbang naik bak rajawali bersama Allah yang akan terus menguatkan kita.
Setiap orang hidup memiliki masalah yang harus dihadapi. Apakah itu masalah keuangan, keluarga, pekerjaan, pasangan hidup, atau penderitaan karena sakit penyakit. Dari masalah sederhana sampai yang pelik. Ada masalah yang baru muncul, ada juga yang sudah bertahun-tahun dihadapi dan belum terselesaikan. Sudah berusaha, sudah berdoa tetapi belum juga teratasi. Bagi beberapa orang hal seperti ini dapat membuat pengharapan pupus dan bahkan merasa Tuhan sudah berpaling darinya.
Hati-hati!, ini adalah tipuan iblis untuk membuat orang jauh dari Tuhan. Itulah sebabnya akhir-akhir ini sering terdengar pemberitaan di media masa tentang orang atau keluarga yang bunuh diri karena merasa masalahnya terlalu berat dan tidak ada jalan keluar. Atau mungkin tidak bunuh diri tetapi hatinya menjadi tawar dan imannya kepada Tuhan sirna. Sejak jaman Alkitab Perjanjian Lama, tipuan seperti ini sudah dilakukan iblis. Dalam Yesaya 40:27 tertulis : Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?". Iblis berusaha menarik umat percaya untuk menjauh dari Tuhan, agar merasa ditinggalkan, lalu mulai bersungut-sungut atau menyalahkan dan akhirnya meninggalkan Tuhan.
Tetapi hari ini mari kita kembali kepada kebenaran firman Tuhan. Daud adalah orang percaya yang sering menghadapi masalah berat bahkan sampai mengancam nyawanya, tetapi pengalamannya bersama Tuhan mengajarkan untuk percaya bahwa selalu ada pertolongan dari Tuhan. Mazmur 121 : 1-2, “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Jadi jangan putus asa, sebab tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya”.
Percayalah, Allah kita adalah Allah yang Maha Kuasa, yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung, yang tidak terduga pengertian-Nya. Dia punya saat yang terbaik untuk memberikan pertolongan, dan itu tidak pernah terlambat. Dia Allah pencipta, tidak mungkin Dia akan meninggalkan ciptaan yang dikasihi-Nya yang sudah ditebus dengan darah Anak-Nya. Pertolongan selalu ada di dalam Tuhan bagi semua yang percaya dan tetap mengasihi Dia. Mungkin kita berkata – saya tahu semua ini – tetapi untuk saya kapan itu saatnya? Sebab saya sudah lama tamat sekolah SMA/kuliah tetapi belum ada pekerjaan yang layak bagiku, umurku sudah mulai banyak tapi pendampingku belum kutemukan, aku sudah lima tahun kerja tetapi belum ada promosi jabatan, aku sudah punya pacar tapi tiba-tiba putus, aku sering tidak sependapat dengan orangtuaku, aku selalu dilecehkan oleh teman-temanku, dan lain-lain. Kapan pertolongan untuk saya datang ?
Saudara, mungkin pertolongan belum datang sekarang. Tetapi Tuhan sudah berjanji menolong. Firman-Nya berkata: “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya..... orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”. (Yesaya 40: 29-31). Jadi, nantikan saja pertolongan-Nya. Kalau pagi belum datang pertolongan itu, harapkan malam. Kalau malam belum datang juga pertolongan itu, harapkan esok pagi. Kalau besok belum datang pertolongan-Nya, harapkan lusa, demikian seterusnya. Terus setia berharap maka pertolongan itu akan datang sebab Tuhan sudah menjanjikannya, dan pasti akan digenapi dalam hidup saudara.
Umat Israel dalam bacaan kita juga tengah mengalami masa-masa yang berat. Mereka harus kehilangan tanah air dan hidup sebagai bangsa “buangan” di negeri asing. Begitu berat rasanya hidup yang mesti dijalani hingga mereka merasa, “Hidupku tersembunyi dari Tuhan, dan hakku tidak diperhatikan Allahku” (ayat 27). Namun, benarkah Tuhan telah meninggalkan mereka? Tidak. Tuhan tidak pernah berhenti memerhatikan mereka (ayat 28); juga memberi kekuatan dan semangat (ayat 29). Kuncinya: tidak bersandar pada kekuatan sendiri (ayat 30), dan tetap berpaut kepada-Nya (ayat 31).
Jadi, apabila hidup kita menjadi sulit; beban hidup menekan hebat, kesusahan terus menghantam, dan kita seolah-olah berjalan di lorong gelap tak berujung, janganlah berkecil hati. Tetaplah berpaut kepada-Nya. Kasih-Nya melampaui kasih seorang ibu kepada anak kandungnya (Yesaya 49:15). Benar, Dia tidak selalu mengabulkan apa yang kita inginkan, tetapi Dia tidak akan pernah mengecewakan. Tuhan tidak menjanjikan jalan hidup yang mulus tetapi dia menjanjikan kekuatan kepada orang yang menanti-nantikan-Nya.
Menanti-nantikan Tuhan melibatkan berpengharapan kepada Dia, meletakkan keyakinan kita pada Dia, dan bukan pada diri kita sendiri. Bagi semua yang mengandalkan Dia karena sadar akan kelemahan mereka, "mereka seumpama rajawali yang [akan] naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka [akan] berlari dan tidak menjadi lesu, mereka [akan] berjalan dan tidak menjadi lelah." Dengan demikian, pengakuan kita bisa berbunyi demikian, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku'' (Flp. 4:13).
Janji dalam Yesaya 40 ini diberikan Tuhan kepada umat pilihan-Nya melalui nabi Yesaya, yang sedang mengalami masa yang sulit di tengah pembuangan. Bangsa pilihan Tuhan ini diminta untuk mempersiapkan diri untuk menerima pertolongan dari Tuhan dan melihat kuasa Tuhan yang akan menyelamatkan mereka.
Dalam kehidupan yang serba sulit ini, hendaklah kita menyadari bahwa sesungguhnya kita membutuhkan pertolongan dari atas, seperti pemazmur berkata: “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah datang pertolonganku? Pertolonganku datang dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi” (Mzm. 121).
Pertolongan manusia sangatlah terbatas. Di tengah situasi krisis ekonomi global, marilah kita mengandalkan pertolongan dari Tuhan.
1. Tuhan adalah Allah kekal. Memiliki kuasa supernatural. Dia, sumber kekuatan yang dapat diandalkan.
2. Tidak terduga pengertian-Nya. Dia sumber hikmat dan pengertian. Tuhan mengerti pergumulan kita dan masalah-masalah yang kita hadapi. Kita perlu hikmat dari Tuhan untuk menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi dalam hidup ini. “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, - yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit -, maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin”(Yak. 1:5-6). Kalau kita minta hikmat kepada Allah, dengan iman Dia akan memberikan dengan murah hati.
Kasih-Nya tanpa batas. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tidak berdaya. Orang yang mengandalkan Tuhan tidak kuatir dalam tahun kering. “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”(Yer. 17:7-8). Ia akan bersandar kepada TUHAN menghadapi segala tantangan dan masalah dengan iman yang teguh. “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibr. 11:6).
Fidei & Gladys’08
Ramli SN Harahap
Email: ramlyharahap@yahoo.com; www.ramlyharahap.blogspot.com
HP: 0812 1998 0 500; 021-9483 2681
(Yesaya 40:29)
Untuk membahas tema ini kita lebih dulu melihat apa yang sedang dibicarakan oleh Yesaya dalam teks ini. Pada ayat 28, Yesaya membicarakan “TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya”. Allah tidak menjadi lelah seperti manusia, yang telah berusaha sekuat tenaganya, dan merasa letih lesu (bnd. Yes. 44:12; Yer.51:58). Alah tidak menjadi lesu seperti orang yang bersusah, lalu cape (Yes. 49:4; 43:22). Allah tidak terdua pengertian-Nya, artinya tidak dapat diikuti, diselidiki sebagaimana jalan pikiran manusia.
Manusia bisa menjadi lelah dan menjadi lesu dalam menghadapi masa-masa sukar. Namun Allah tidak menjadi lelah dan menjadi lesu ketika menghadapi masa-masa sukar. Di kelemahan manusia yang menjadi lelah dan lesu ketika menghadapi masa sukar itulah Allah memberi kekuatan. Allah yang tinggi luhur itu berkenan kepada manusia yang lemah. Berita ini dibawakan dalam bahasa mazmur (bnd. Yes. 40:12-31 dengan Mzm. 33:6-22).
Manusia yang telah kehabisan tenaga dan lelah, manusia yang tak berdaya lagi (harfiah: ‘mereka yang tidak ada kuasanya’) diberikan kekuatan, bahkan semangat (harfiah: ‘kuasa’, daya gerak), sehingga manusia bisa berlari dan tidak menjadi lesu, berjalan dan tidak menjadi lelah.
Teks ini sebenarnya berbicara tentang manusia yang berada dalam penderitaan, yang kasihan akan dirinya dan kecewa terhadap Allah. Manusia terkurung dalam perasaan hatinya dan tidak memandang ke depan lagi, oleh karena itu manusia tidak sanggup menerima berita bahwa Tuhan akan segera melepaskan manusia dari penderitaan itu. Manusia tidak percaya lagi tanpa bukti, tidak berani mengambil resiko, lebih suka tinggal dalam kesusahan yang sudah biasa mereka alami. Sikap seperti ini masih kita jumpai dalam kehidupan pemuda/i gereja. Pemuda/i gereja yang malang nasibnya, yang tidak dihargai dalam pergaulannya, maupun di kalangan golongan masyarakat yang merasa terbelakang atau terancam.
Kita tidak menyangkal adanya keadaan dan situasi tersebut di tengah-tengah pemuda/i gereja. Itu fakta dan kenyataan. Realita kehidupan bergereja. Yesaya sendiri tidak menyangkal penderitaan orang-orang Israel pada masa itu, Yesaya tidak menegor sikap orang Israel itu. Namun Yesaya membuka sebuah keakanan yang baik bagi mereka yang mengalami penderitaan. Dengan maksud itu Yesaya mengantarkan orang yang menderita itu ke tempat di mana mereka memuji Tuhan, karena siapa yang memandang kepada Tuhan, dibebaskan dari rintangan-rintangan yang melumpuhkannya dan sanggup berjalan lagi.
Bagaimanakah caranya agar kita bisa tetap tegar di tengah masa sukar?
Pertama, pujilah Tuhan. Dengan pujian kepada Tuhan membuat kita bisa tetap tegar dan mampu menerima realita kehidupan ini. Lalu di mana kita dapat memuji Tuhan agar kita tidak lumpuh dan tidak lelah dan lesu? Jawabannya adalah dalam persekutuan orang-orang kudus. Persekutuan orang-orang kudus itu terdapat dalam lingkungan gereja, terdapat dalam persekutuan pemuda/i gereja, terdapat dalam persekutuan doa, terdapat dalam penelaahan Alkitab, terdapat dalam kelompok paduan suara/kor/VG, dll. Ketika kita mulai memuji Tuhan, maka semangat kita akan bangkit kembali. Dengan pujian kepada Tuhan, kita akan dipulihkan dari rasa lelah dan lesu yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pujian kepada Tuhan, kita akan beroleh kekuatan baru setiap hari. Kekuatan itu selalu baru dan tak pernah terlambat. Dengan pujian kepada Tuhan, kita mendapat berkat yang berkelimpahan (bnd. Mzm. 69:31-32).
Kedua, nantikan Tuhan. Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (Yes. 40:31). Mengapa diumpamakan dengan burung rajawali? Coba kita mengamati burung rajawali (elang). Burung rajawali betapa indah dan elegan ketika mengembangkan kedua sayapnya dan melayang bebas di angkasa. Burung rajawali adalah burung yang berukuran cukup besar. Lebar kedua sayapnya ketika direntangkan setidaknya bisa mencapai dua meter. Burung rajawali pun diketahui membangun sarangnya tinggi di atas gunung. Untuk mencapai sebuah puncak ketinggian tertentu di mana burung itu bisa melayang megah dan bebas tentu tidak mudah. Seekor burung rajawali harus mengepakkan sayapnya dengan kuat melawan angin kencang dan badai untuk bisa sampai ke sebuah ketinggian tertentu. Burung rajawali pun harus berani menghadapi dan menentang badai untuk bisa melewatinya. Tapi usaha keras burung rajawali untuk menentang angin dan badai tidaklah sia-sia. Ketika mereka berada di atas badai dan angin kencang, mereka bisa melayang-layang bebas dengan indahnya.
Dari sifat burung rajawali itu bisa kita tarik kesimpulan bahwa berada di tempat rendah, kita akan merasakan berbagai masalah yang terus menerpa kita bak angin kencang dan badai. Jika kita memutuskan untuk berhenti dan puas hanya di tempat rendah, kitapun bisa goyah diterpa angin dan badai masalah. Untuk bisa mengatasinya adalah dengan berani mengambil langkah untuk naik lebih tinggi, sehingga kita bisa berada di atas segala permasalahan duniawi. Dengan berada di atas, kita tidak akan mudah goncang di terpa badai, malah mungkin kita tidak lagi merasakannya! Dunia boleh ditimpa krisis, dunia boleh goncang, namun hanya ketika kita berada di ataslah kita akan selamat, tidak kurang suatu apapun, malah bisa seolah burung rajawali yang melayang-layang dengan penuh sukacita.
Bagaimana agar kita bisa terbang ke tempat yang tinggi? Kita haruslah terus menanti-nantikan Tuhan. Terus bergantung tanpa putus pengharapan. Pengharapan akan Tuhan tidaklah pernah mengecewakan. "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." (Rm. 5:5). Itu janji Tuhan, dan kita tahu janji Tuhan itu adalah "ya dan amin". (2 Kor. 1:20). Mungkin waktunya tidaklah sama dengan keinginan kita, tapi kita tahu bahwa apa yang dirancang Tuhan bagi kita adalah semua yang terbaik. Semua Dia sediakan untuk kita miliki. Karena itulah pengharapan dalam menanti-nanti Tuhan tidak akan pernah mengecewakan. Bagi kita semua yang terus bertekun dan patuh, kita akan dibawa seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya, tidak akan lesu dan tidak akan lelah, meskipun harus menempuh angin dan badai sekalipun. "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya." (Yesaya 40:29).
Prosesnya tidaklah gampang. Seperti burung rajawali yang harus mengepakkan sayapnya dengan sekuat tenaga berulang-ulang agar dapat menembus angin untuk naik ke atas, demikian pula ketika kita hendak melatih kerohanian kita untuk terus menapak naik. Kita harus mematahkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang mungkin nikmat buat kita, kita harus keluar dari zona kenyamanan kita yang sering membuat kita terlena. Untuk bisa "terbang" di atas masalah, kita harus berani menghadapi masa-masa sukar dan tidak menghindar darinya. Namun percayalah, jika kita adalah orang percaya yang setia menanti-nantikan Tuhan, maka dalam proses untuk naik terbang tersebut kita akan ditopang oleh Allah, sehingga kita tidak menjadi lesu dan lelah. Pada suatu saat nanti, kita akan berada di atas, dan tidak lagi terpengaruh oleh angin, badai, gempa dan goncangan-goncangan hidup lainnya. Ada janji Tuhan yang sangat besar menanti di atas. Karena itu teruslah bertekun untuk terbang naik bak rajawali bersama Allah yang akan terus menguatkan kita.
Setiap orang hidup memiliki masalah yang harus dihadapi. Apakah itu masalah keuangan, keluarga, pekerjaan, pasangan hidup, atau penderitaan karena sakit penyakit. Dari masalah sederhana sampai yang pelik. Ada masalah yang baru muncul, ada juga yang sudah bertahun-tahun dihadapi dan belum terselesaikan. Sudah berusaha, sudah berdoa tetapi belum juga teratasi. Bagi beberapa orang hal seperti ini dapat membuat pengharapan pupus dan bahkan merasa Tuhan sudah berpaling darinya.
Hati-hati!, ini adalah tipuan iblis untuk membuat orang jauh dari Tuhan. Itulah sebabnya akhir-akhir ini sering terdengar pemberitaan di media masa tentang orang atau keluarga yang bunuh diri karena merasa masalahnya terlalu berat dan tidak ada jalan keluar. Atau mungkin tidak bunuh diri tetapi hatinya menjadi tawar dan imannya kepada Tuhan sirna. Sejak jaman Alkitab Perjanjian Lama, tipuan seperti ini sudah dilakukan iblis. Dalam Yesaya 40:27 tertulis : Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?". Iblis berusaha menarik umat percaya untuk menjauh dari Tuhan, agar merasa ditinggalkan, lalu mulai bersungut-sungut atau menyalahkan dan akhirnya meninggalkan Tuhan.
Tetapi hari ini mari kita kembali kepada kebenaran firman Tuhan. Daud adalah orang percaya yang sering menghadapi masalah berat bahkan sampai mengancam nyawanya, tetapi pengalamannya bersama Tuhan mengajarkan untuk percaya bahwa selalu ada pertolongan dari Tuhan. Mazmur 121 : 1-2, “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Jadi jangan putus asa, sebab tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya”.
Percayalah, Allah kita adalah Allah yang Maha Kuasa, yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung, yang tidak terduga pengertian-Nya. Dia punya saat yang terbaik untuk memberikan pertolongan, dan itu tidak pernah terlambat. Dia Allah pencipta, tidak mungkin Dia akan meninggalkan ciptaan yang dikasihi-Nya yang sudah ditebus dengan darah Anak-Nya. Pertolongan selalu ada di dalam Tuhan bagi semua yang percaya dan tetap mengasihi Dia. Mungkin kita berkata – saya tahu semua ini – tetapi untuk saya kapan itu saatnya? Sebab saya sudah lama tamat sekolah SMA/kuliah tetapi belum ada pekerjaan yang layak bagiku, umurku sudah mulai banyak tapi pendampingku belum kutemukan, aku sudah lima tahun kerja tetapi belum ada promosi jabatan, aku sudah punya pacar tapi tiba-tiba putus, aku sering tidak sependapat dengan orangtuaku, aku selalu dilecehkan oleh teman-temanku, dan lain-lain. Kapan pertolongan untuk saya datang ?
Saudara, mungkin pertolongan belum datang sekarang. Tetapi Tuhan sudah berjanji menolong. Firman-Nya berkata: “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya..... orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”. (Yesaya 40: 29-31). Jadi, nantikan saja pertolongan-Nya. Kalau pagi belum datang pertolongan itu, harapkan malam. Kalau malam belum datang juga pertolongan itu, harapkan esok pagi. Kalau besok belum datang pertolongan-Nya, harapkan lusa, demikian seterusnya. Terus setia berharap maka pertolongan itu akan datang sebab Tuhan sudah menjanjikannya, dan pasti akan digenapi dalam hidup saudara.
Umat Israel dalam bacaan kita juga tengah mengalami masa-masa yang berat. Mereka harus kehilangan tanah air dan hidup sebagai bangsa “buangan” di negeri asing. Begitu berat rasanya hidup yang mesti dijalani hingga mereka merasa, “Hidupku tersembunyi dari Tuhan, dan hakku tidak diperhatikan Allahku” (ayat 27). Namun, benarkah Tuhan telah meninggalkan mereka? Tidak. Tuhan tidak pernah berhenti memerhatikan mereka (ayat 28); juga memberi kekuatan dan semangat (ayat 29). Kuncinya: tidak bersandar pada kekuatan sendiri (ayat 30), dan tetap berpaut kepada-Nya (ayat 31).
Jadi, apabila hidup kita menjadi sulit; beban hidup menekan hebat, kesusahan terus menghantam, dan kita seolah-olah berjalan di lorong gelap tak berujung, janganlah berkecil hati. Tetaplah berpaut kepada-Nya. Kasih-Nya melampaui kasih seorang ibu kepada anak kandungnya (Yesaya 49:15). Benar, Dia tidak selalu mengabulkan apa yang kita inginkan, tetapi Dia tidak akan pernah mengecewakan. Tuhan tidak menjanjikan jalan hidup yang mulus tetapi dia menjanjikan kekuatan kepada orang yang menanti-nantikan-Nya.
Menanti-nantikan Tuhan melibatkan berpengharapan kepada Dia, meletakkan keyakinan kita pada Dia, dan bukan pada diri kita sendiri. Bagi semua yang mengandalkan Dia karena sadar akan kelemahan mereka, "mereka seumpama rajawali yang [akan] naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka [akan] berlari dan tidak menjadi lesu, mereka [akan] berjalan dan tidak menjadi lelah." Dengan demikian, pengakuan kita bisa berbunyi demikian, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku'' (Flp. 4:13).
Janji dalam Yesaya 40 ini diberikan Tuhan kepada umat pilihan-Nya melalui nabi Yesaya, yang sedang mengalami masa yang sulit di tengah pembuangan. Bangsa pilihan Tuhan ini diminta untuk mempersiapkan diri untuk menerima pertolongan dari Tuhan dan melihat kuasa Tuhan yang akan menyelamatkan mereka.
Dalam kehidupan yang serba sulit ini, hendaklah kita menyadari bahwa sesungguhnya kita membutuhkan pertolongan dari atas, seperti pemazmur berkata: “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah datang pertolonganku? Pertolonganku datang dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi” (Mzm. 121).
Pertolongan manusia sangatlah terbatas. Di tengah situasi krisis ekonomi global, marilah kita mengandalkan pertolongan dari Tuhan.
1. Tuhan adalah Allah kekal. Memiliki kuasa supernatural. Dia, sumber kekuatan yang dapat diandalkan.
2. Tidak terduga pengertian-Nya. Dia sumber hikmat dan pengertian. Tuhan mengerti pergumulan kita dan masalah-masalah yang kita hadapi. Kita perlu hikmat dari Tuhan untuk menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi dalam hidup ini. “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, - yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit -, maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin”(Yak. 1:5-6). Kalau kita minta hikmat kepada Allah, dengan iman Dia akan memberikan dengan murah hati.
Kasih-Nya tanpa batas. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tidak berdaya. Orang yang mengandalkan Tuhan tidak kuatir dalam tahun kering. “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”(Yer. 17:7-8). Ia akan bersandar kepada TUHAN menghadapi segala tantangan dan masalah dengan iman yang teguh. “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibr. 11:6).
Fidei & Gladys’08
Ramli SN Harahap
Email: ramlyharahap@yahoo.com; www.ramlyharahap.blogspot.com
HP: 0812 1998 0 500; 021-9483 2681
KHOTBAH: Galatia 6:9
“JANGAN JEMU-JEMU BERBUAT BAIK”
________________________________________
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9)
Sudah terlalu sering dan kerap kita mendengar kata-kata "berbuat baik", atau juga di dalam ibadah gereja, sering kali kata - kata "berbuat baik” ini dilontarkan.
Memang kita sebagai orang percaya, kita dianjurkan untuk berbuat kebaikan kepada sesama kita sesuai dengan firman Tuhan yang berkata "Kasihilah sesamamu manusia," di dalam kehidupan kita setiap harinya, sering kali kita kurang atau bahkan tidak pernah sama sekali melakukan apa yang di sebut "berbuat baik". Atau terkadang kita berbuat baik hanya untuk orang- orang yang kita kenal dan kita kasihi saja, juga untuk orang-orang yang kita anggap senasib, seagama, serumpun, sedaerah, semarga, dan lain-lainnya.
Ada satu kisah tentang tokoh terkenal yang melakukan Firman Tuhan dengan nyata / riil yaitu Ibu Theresia. Dia memberikan seluruh hidupnya untuk pelayanan di Negara India wilayah Calcuta.
Ibu Theresia, dilahirkan dengan nama Agnes Gonxha Bojaxhiu pada tahun 1910 di Negara Yugoslavia. Pada tahun 1928 ia memutuskan untuk menjadi seorang biarawati dan mendapat tugas untuk bergabung dengan suster2 di Loreto Dublin Irlandia, setelah itu ia bertugas ke biara Lotto di Darjeeling
India. Pada tahun 1929 ia mulai mengajar ilmu
geografi di SMU Saint Mary bagi gadis2 di
Calcuta.
Di masa itu kota Calcuta, jalan-jalan penuh sesak
dengan pengemis, orang kusta, tunawisma dan
yang paling menyentuh hati Ibu Theresia adalah
bayi-bayi yang di telantarkan begitu saja di jalan-
jalan, bahkan di tempat-tempat yang kotor dan bau
seperti tempat sampah.
Sejak saat itu hatinya terusik melihat keadaan kota Calcuta yang sedemikian parahnya, tanpa ada yang peduli dan merasa kasihan melihat nasib mereka yang terlantar itu.
Maka ia memutuskan keluar dari SMA tersebut dan sepenuh hati dan waktu juga tenaga untuk membantu masyarakat yang begitu memprihatinkan. Usaha Ibu Theresia ini juga mendapat dukungan dari mantan murid2 SMA tersebut dan mereka juga sepenuh hati membantu dalam dana dan tenaga. Setiap orang yang mau bergabung dengan Ibu Theresia ini di tuntut untuk mengabdikan hidupnya bagi pelayanan orang miskin tanpa menerima upah dalam bentuk apapun juga.
Suatu ketika saat Ibu Theresia pulang bersama rekan2nya di malam hari, mereka menemukan 4 orang yang keadaannya luka parah, dan salah seorang dari mereka kondisinya sangat parah di banding yang lain.
Ibu Theresia berkata, "Rawatlah 3 orang lainnya, biarkan saya sendiri yang merawat yang terluka parah ini". Ibu Theresia melakukan segala cara dengan penuh kasih dan senyum untuk mengobatinya, tiba-tiba orang yang kondisinya sangat parah ini menggenggam tangan ibu Theresia sambil berkata, " Ibu....terima....kasih," kemudian orang itu meninggal.
Kisah lain juga menceritakan suatu kali Ibu Theresia dan suster2 lain mengangkat seorang laki2 dari selokan, kondisi badannya setengah membusuk dan di penuhi oleh ulat-ulat. Hati Ibu Theresia, sangat tergugah dengan keadaannya, bahkan orang ini pun di rawat sendiri oleh Ibu Theresia dengan kasih sayang.
Hingga suatu hari saat orang ini sedang di rawat,
orang ini berkata kepada Ibu Theresia, "Ibu hari ini
aku akan mati sebagai seorang malaikat, bukan
sebagai gelandangan, terima kasih ibu, aku
melihat kasih Yesus ada dalammu" dan orang
itu pun langsung meninggal dalam dekapan Ibu
Theresia.
Kisah tadi menunjukkan bahwa kasih itu universal, artinya kasih itu tanpa harus membedakan ras, suku, agama, dan lain-lainnya. Bahkan hampir 99% orang-orang yang di bantu, di rawat, di sembuhkan Ibu Theresia itu dari golongan hindu, islam dan syiah.
000
Salah satu dari sepuluh hukum Torat adalah kuduskanlah hari Sabat. Hari Sabat adalah hari Perhentian bagi Tuhan. Semua orang Israel harus istirahat, dan memberikan waktu untuk Tuhan, berhenti mencari nafkah, dari enam hari kerja atau berlelah. Tetapi pada zaman Tuhan Yesus, orang Yahudi mempersempit makna hari Sabat, dengan men-”tuhan”kan hari Sabat. Begitu ekstrim sehingga orang-orang Farisi dan ahli-ahli Torat mengkritik Yesus karena menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Tetapi terhadap kritikan itu Yesus berbalik bertanya kepada mereka, ‘apabila kambing dombamu masuk lobang pada hari Sabat, apakah kamu tidak mengangkatnya, atau ada yang mau sakit dan butuh kesembuhan apakah tidak perlu diobati? Orang Farisi terdiam karena menyembuhkan adalah suatu perbuatan baik. Yesus memberikan satu pelajaran bahwa untuk berbuat baik tidak ada batas waktu. Memang hari ketujuh Tuhan tetapkan sebagai hari berhenti bekerja supaya manusia tahu beristirahat. Tetapi dalam soal kebaikan, dalam soal hal-hal yang rohani, Tuhan berkata jangan jemu-jemu berbuat baik. Perbuatan baik tidak mengenal istirahat.
Dalam ayat di atas Tuhan melarang kita untuk tidak jemu-jemu (tidak bosan-bosan) berbuat baik. Jika berbuat baik, kita akan menuai bila kita tidak menjadi lemah. Iblis selalu berusaha melemahkankan kita supaya kita berhenti berbuat baik dan tidak terus-menerus (continue) berbuat baik. Tetapi Firman Tuhan menganjurkan selama masih ada kesempatan (peluang) marilah kita berbuat baik kepada semua orang tetapi terutama kepada kawan-kawan seiman.
Kita semua diselamatkan bukan karena perbuatan baik. Kita diselamatkan karena augerah, karunia, pemberian Tuhan. Keselamatan itu tidak bisa dibeli dengan uang, dengan kebaikan, dll. Keselamatan bukan karena korban-korban kita, justru keselamatan terjadi karena Yesus telah berkorban untuk kita di salib Golgota. Tetapi kemudian setelah kita percaya kepada Yesus, setelah kita bertobat, maka iman kita harus disertai dengan perbuatan baik. Surat Yakobus berkata IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH NOL.
Ada tiga perbuatan baik yang harus kita lakukan supaya iman kita bertumbuh :
1. PERBUATAN BAIK DENGAN KORBAN-KORBAN (Ibrani 13:15-16)
Senantiasa (anytime) kita harus mempersembahkan korban syukur kepada Allah. Bagaimana kita mempersembahkan korban syukur kepada Allah? Dengan ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dari mulut kita harus selalu keluar pujian syukur kepada Tuhan. Walaupun mungkin kita mengalami tekanan, penyakit, kesusahan, tetapi justru dalam situasi yang demikian kita harus menaikkan pujian syukur kepada Tuhan supaya Tuhan campur tangan.
Firman Allah ini juga mengingatkan kita untuk jangan lupa berbuat baik memberikan bantuan. Banyak orang Kristen gampang untuk memuji Tuhan tetapi sulit untuk berkorban. Orang percaya harus belajar untuk memberikan korban-korban; korban untuk pekerjaaan Tuhan, korban untuk pembangunan gereja, korban untuk keperluan para hamba Tuhan, korban untuk pelayanan misi, korban untuk janda-janda dan yatim piatu, korban untuk penginjilan, dll. Korban-korban itu merupakan perbuatan baik kita.
2. PERBUATAN BAIK DENGAN PERKATAAN-PERKATAAN YANG PENUH BERKAT KEPADA ORANG LUAR (Kolose 4:5-6)
“….Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar….”. Ini adalah satu perbuatan baik melalui ucapan kita kepada orang lain. Setiap perkataan kita harus bisa memberikan kesaksian dan menjadi berkat bagi orang lain. Kalau terjadi bencana alam, apa kata-kata kita. Kalau percobaan datang, apa kata-kata kita. Perkataan orang Kristen harus membangun, harus memberikan berkat. Efesus 4:29, 5:6. Kata-kata kita jangan yang kosong tetapi kata-kata yang bermanfaat dan bisa menguatkan orang lain. Misalnya dengan kita memberi informasi kepada orang yang bertanya karena tidak tahu jalan, itu telah memberikan bantuan bagi orang yang memerlukannya. Penting sekali kita belajar memberkati orang luar dengan perkataan kita.
3. PERBUATAN BAIK DENGAN BERSAKSI (Matius 5:14-16; Yesaya 60:1-3)
Tuhan Yesus memberikan penugasan kepada semua orang yang percaya untuk menjadi terang dunia. Menjadi terang dunia dengan perbuatan-perbuatan yang baik sehingga orang memuliakan Tuhan. Apabila gereja bangkit dan bangun menyatakan terangnya, maka orang-orang berduyun-duyun datang kepada terang itu. Kita musti bisa menjadi terang kepada tetangga kita, kepada suku lain, kepada orang di luar gereja kita. Terang ini adalah perbuatan baik kita menjangkau orang-orang luar yang belum memiliki terang. Nyatakan terangmu supaya orang lain dapat keluar dari kegelapan, di lingkungan kita, di kantor, di sekolah, di komunitas kita, dll.
Sudahkah kita berbuat baik kepada setiap orang seperti yang Tuhan perintahkan di dalam firmanNya berikut ini :
1. Galatia 6 : 9 "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah".
2. 2 Tesalonika 3 : 13 "Dan kamu, saudara- saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik".
3. Matius 22 : 39 "Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".
4. Markus 12 : 31 "Dan hukum yang kedua ialah:
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama
dari pada kedua hukum ini."
5. Galatia 5 : 14 "Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!"
6. Yakobus 2: 8 "Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik." Dan bila seluruh isi Alkitab itu kita peras, maka akan keluar inti sarinya yaitu "KASIH" Mudah di katakan namun terkadang susah di laksanakan, tapi saya berharap kita bisa dan mau memulai untuk berbuat baik kepada siapapun juga.
________________________________________
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9)
Sudah terlalu sering dan kerap kita mendengar kata-kata "berbuat baik", atau juga di dalam ibadah gereja, sering kali kata - kata "berbuat baik” ini dilontarkan.
Memang kita sebagai orang percaya, kita dianjurkan untuk berbuat kebaikan kepada sesama kita sesuai dengan firman Tuhan yang berkata "Kasihilah sesamamu manusia," di dalam kehidupan kita setiap harinya, sering kali kita kurang atau bahkan tidak pernah sama sekali melakukan apa yang di sebut "berbuat baik". Atau terkadang kita berbuat baik hanya untuk orang- orang yang kita kenal dan kita kasihi saja, juga untuk orang-orang yang kita anggap senasib, seagama, serumpun, sedaerah, semarga, dan lain-lainnya.
Ada satu kisah tentang tokoh terkenal yang melakukan Firman Tuhan dengan nyata / riil yaitu Ibu Theresia. Dia memberikan seluruh hidupnya untuk pelayanan di Negara India wilayah Calcuta.
Ibu Theresia, dilahirkan dengan nama Agnes Gonxha Bojaxhiu pada tahun 1910 di Negara Yugoslavia. Pada tahun 1928 ia memutuskan untuk menjadi seorang biarawati dan mendapat tugas untuk bergabung dengan suster2 di Loreto Dublin Irlandia, setelah itu ia bertugas ke biara Lotto di Darjeeling
India. Pada tahun 1929 ia mulai mengajar ilmu
geografi di SMU Saint Mary bagi gadis2 di
Calcuta.
Di masa itu kota Calcuta, jalan-jalan penuh sesak
dengan pengemis, orang kusta, tunawisma dan
yang paling menyentuh hati Ibu Theresia adalah
bayi-bayi yang di telantarkan begitu saja di jalan-
jalan, bahkan di tempat-tempat yang kotor dan bau
seperti tempat sampah.
Sejak saat itu hatinya terusik melihat keadaan kota Calcuta yang sedemikian parahnya, tanpa ada yang peduli dan merasa kasihan melihat nasib mereka yang terlantar itu.
Maka ia memutuskan keluar dari SMA tersebut dan sepenuh hati dan waktu juga tenaga untuk membantu masyarakat yang begitu memprihatinkan. Usaha Ibu Theresia ini juga mendapat dukungan dari mantan murid2 SMA tersebut dan mereka juga sepenuh hati membantu dalam dana dan tenaga. Setiap orang yang mau bergabung dengan Ibu Theresia ini di tuntut untuk mengabdikan hidupnya bagi pelayanan orang miskin tanpa menerima upah dalam bentuk apapun juga.
Suatu ketika saat Ibu Theresia pulang bersama rekan2nya di malam hari, mereka menemukan 4 orang yang keadaannya luka parah, dan salah seorang dari mereka kondisinya sangat parah di banding yang lain.
Ibu Theresia berkata, "Rawatlah 3 orang lainnya, biarkan saya sendiri yang merawat yang terluka parah ini". Ibu Theresia melakukan segala cara dengan penuh kasih dan senyum untuk mengobatinya, tiba-tiba orang yang kondisinya sangat parah ini menggenggam tangan ibu Theresia sambil berkata, " Ibu....terima....kasih," kemudian orang itu meninggal.
Kisah lain juga menceritakan suatu kali Ibu Theresia dan suster2 lain mengangkat seorang laki2 dari selokan, kondisi badannya setengah membusuk dan di penuhi oleh ulat-ulat. Hati Ibu Theresia, sangat tergugah dengan keadaannya, bahkan orang ini pun di rawat sendiri oleh Ibu Theresia dengan kasih sayang.
Hingga suatu hari saat orang ini sedang di rawat,
orang ini berkata kepada Ibu Theresia, "Ibu hari ini
aku akan mati sebagai seorang malaikat, bukan
sebagai gelandangan, terima kasih ibu, aku
melihat kasih Yesus ada dalammu" dan orang
itu pun langsung meninggal dalam dekapan Ibu
Theresia.
Kisah tadi menunjukkan bahwa kasih itu universal, artinya kasih itu tanpa harus membedakan ras, suku, agama, dan lain-lainnya. Bahkan hampir 99% orang-orang yang di bantu, di rawat, di sembuhkan Ibu Theresia itu dari golongan hindu, islam dan syiah.
000
Salah satu dari sepuluh hukum Torat adalah kuduskanlah hari Sabat. Hari Sabat adalah hari Perhentian bagi Tuhan. Semua orang Israel harus istirahat, dan memberikan waktu untuk Tuhan, berhenti mencari nafkah, dari enam hari kerja atau berlelah. Tetapi pada zaman Tuhan Yesus, orang Yahudi mempersempit makna hari Sabat, dengan men-”tuhan”kan hari Sabat. Begitu ekstrim sehingga orang-orang Farisi dan ahli-ahli Torat mengkritik Yesus karena menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Tetapi terhadap kritikan itu Yesus berbalik bertanya kepada mereka, ‘apabila kambing dombamu masuk lobang pada hari Sabat, apakah kamu tidak mengangkatnya, atau ada yang mau sakit dan butuh kesembuhan apakah tidak perlu diobati? Orang Farisi terdiam karena menyembuhkan adalah suatu perbuatan baik. Yesus memberikan satu pelajaran bahwa untuk berbuat baik tidak ada batas waktu. Memang hari ketujuh Tuhan tetapkan sebagai hari berhenti bekerja supaya manusia tahu beristirahat. Tetapi dalam soal kebaikan, dalam soal hal-hal yang rohani, Tuhan berkata jangan jemu-jemu berbuat baik. Perbuatan baik tidak mengenal istirahat.
Dalam ayat di atas Tuhan melarang kita untuk tidak jemu-jemu (tidak bosan-bosan) berbuat baik. Jika berbuat baik, kita akan menuai bila kita tidak menjadi lemah. Iblis selalu berusaha melemahkankan kita supaya kita berhenti berbuat baik dan tidak terus-menerus (continue) berbuat baik. Tetapi Firman Tuhan menganjurkan selama masih ada kesempatan (peluang) marilah kita berbuat baik kepada semua orang tetapi terutama kepada kawan-kawan seiman.
Kita semua diselamatkan bukan karena perbuatan baik. Kita diselamatkan karena augerah, karunia, pemberian Tuhan. Keselamatan itu tidak bisa dibeli dengan uang, dengan kebaikan, dll. Keselamatan bukan karena korban-korban kita, justru keselamatan terjadi karena Yesus telah berkorban untuk kita di salib Golgota. Tetapi kemudian setelah kita percaya kepada Yesus, setelah kita bertobat, maka iman kita harus disertai dengan perbuatan baik. Surat Yakobus berkata IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH NOL.
Ada tiga perbuatan baik yang harus kita lakukan supaya iman kita bertumbuh :
1. PERBUATAN BAIK DENGAN KORBAN-KORBAN (Ibrani 13:15-16)
Senantiasa (anytime) kita harus mempersembahkan korban syukur kepada Allah. Bagaimana kita mempersembahkan korban syukur kepada Allah? Dengan ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dari mulut kita harus selalu keluar pujian syukur kepada Tuhan. Walaupun mungkin kita mengalami tekanan, penyakit, kesusahan, tetapi justru dalam situasi yang demikian kita harus menaikkan pujian syukur kepada Tuhan supaya Tuhan campur tangan.
Firman Allah ini juga mengingatkan kita untuk jangan lupa berbuat baik memberikan bantuan. Banyak orang Kristen gampang untuk memuji Tuhan tetapi sulit untuk berkorban. Orang percaya harus belajar untuk memberikan korban-korban; korban untuk pekerjaaan Tuhan, korban untuk pembangunan gereja, korban untuk keperluan para hamba Tuhan, korban untuk pelayanan misi, korban untuk janda-janda dan yatim piatu, korban untuk penginjilan, dll. Korban-korban itu merupakan perbuatan baik kita.
2. PERBUATAN BAIK DENGAN PERKATAAN-PERKATAAN YANG PENUH BERKAT KEPADA ORANG LUAR (Kolose 4:5-6)
“….Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar….”. Ini adalah satu perbuatan baik melalui ucapan kita kepada orang lain. Setiap perkataan kita harus bisa memberikan kesaksian dan menjadi berkat bagi orang lain. Kalau terjadi bencana alam, apa kata-kata kita. Kalau percobaan datang, apa kata-kata kita. Perkataan orang Kristen harus membangun, harus memberikan berkat. Efesus 4:29, 5:6. Kata-kata kita jangan yang kosong tetapi kata-kata yang bermanfaat dan bisa menguatkan orang lain. Misalnya dengan kita memberi informasi kepada orang yang bertanya karena tidak tahu jalan, itu telah memberikan bantuan bagi orang yang memerlukannya. Penting sekali kita belajar memberkati orang luar dengan perkataan kita.
3. PERBUATAN BAIK DENGAN BERSAKSI (Matius 5:14-16; Yesaya 60:1-3)
Tuhan Yesus memberikan penugasan kepada semua orang yang percaya untuk menjadi terang dunia. Menjadi terang dunia dengan perbuatan-perbuatan yang baik sehingga orang memuliakan Tuhan. Apabila gereja bangkit dan bangun menyatakan terangnya, maka orang-orang berduyun-duyun datang kepada terang itu. Kita musti bisa menjadi terang kepada tetangga kita, kepada suku lain, kepada orang di luar gereja kita. Terang ini adalah perbuatan baik kita menjangkau orang-orang luar yang belum memiliki terang. Nyatakan terangmu supaya orang lain dapat keluar dari kegelapan, di lingkungan kita, di kantor, di sekolah, di komunitas kita, dll.
Sudahkah kita berbuat baik kepada setiap orang seperti yang Tuhan perintahkan di dalam firmanNya berikut ini :
1. Galatia 6 : 9 "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah".
2. 2 Tesalonika 3 : 13 "Dan kamu, saudara- saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik".
3. Matius 22 : 39 "Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".
4. Markus 12 : 31 "Dan hukum yang kedua ialah:
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama
dari pada kedua hukum ini."
5. Galatia 5 : 14 "Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!"
6. Yakobus 2: 8 "Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik." Dan bila seluruh isi Alkitab itu kita peras, maka akan keluar inti sarinya yaitu "KASIH" Mudah di katakan namun terkadang susah di laksanakan, tapi saya berharap kita bisa dan mau memulai untuk berbuat baik kepada siapapun juga.
Bacaan Alkitab Minggu 10 Mei 2009 : Matius 11 : 25 - 30
KEBENARAN DAN KELEGAAN BAGI YANG MENERIMA YESUS
Minggu Kantate
Pendahuluan
Raja Salomo terkenal sebagai raja yang bijaksana sekaligus pandai. Ingatlah cerita Salomo yang mampu mengembalikan seorang bayi kepada ibu yang sebenarnya. Salomo mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, karena ia sangat dekat kepada Tuhan. Sehingga kebenaran dinyatakan kepadanya. Ia menjadi disegani dan ditakuti oleh raja-raja di sekitarnya karena kebijaksaannya. Lalu mengapa pada ayat 25, Yesus justru menyembunyikan sesuatu kepada orang bijak dan orang pandai? Bukankah ini aneh? Atau apa maksudnya?
Membuka Hati dan Rendah Hati
Bila kita membaca pasal 11-13, akan mengerti kenapa Yesus berkata demikian. Konteksnya pada pasal ini, Yesus berhadapan dengan ahli-ahli Taurat dan orang Farise yang meragukan Yesus sebagai mesias. Padalah Yesus sudah tunjukkan keilahian-Nya melalui karya-karya penyembuhan dan lain-lain. Namun mereka tetap tidak bertobat. Lalu apa persoalannya sehingga mereka tidak percaya kepada Yesus? Sebenarnya ini bukan persoalan sudah tau atau tidak, sudah ngerti atau tidak. Tetapi ini lebih persoalan hati. Hati para ahli taurat dan orang Farise itu tertutup rapat terhadap yang mereka tau dan lihat. Terlebih mereka tidak rendah hati.
Ahli taurat dan Farisi tetap tegar hati dan tidak percaya kepada apa yang Yesus ajarkan. Mereka banyak baca kitab suci dan ahli taurat tapi tidak terbuka menerima apa yang mereka baca dan Yesus ajarkan. Mereka malah menjadi sombong dengan yang mereka tahu. Merasa suci dari orang lain. Merasa benar dari orang lain. Mereka membuka mata, membuka telinga, tetapi menutup hati. Jika sudah tutup hati, komunikasi akan berhenti. Maka itu sama dengan titik mati untuk tidak merubah diri. Itu sebabnya Tuhan menyembunyikan diriNya kepada mereka. Justru siapa sangka, Tuhan menyatakan diriNya kepada orang kecil. Tuhan lebih dekat kepada mereka. Kenapa bisa?
Orang kecil yang dimaksud pada nas ini adalah anak-anak atau orang yang belum dewasa. Dalam arti luasnya adalah orang yang belum matang berilmu, namun mampu menerima kehadiran Allah dalam diri Yesus Kristus. Inilah kelebihan dari orang kecil itu yaitu mampu membuka diri menerima Yesus Kristus dan rendah hati. Mereka mampu merespons Injil dengan positif.
Tuhan ingin dalam kehidupan iman Kristen kita, kita mempunyai hati seperti bayi yang setiap saat mau diajar dan dibentuk oleh Firman. Bukankah justru jika menjadi seperti anak kecil, kita masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat. 18:3).
Orang yang merasa diri bijak biasanya ia adalah orang yang sok tahu segala hal sehingga kalau ada orang lain yang mengatakan tentang kebenaran, ia akan menutup diri. Orang seperti demikian ini tidak akan pernah mendapatkan suatu pengetahuan karena belum apa-apa ia merasa pandai dan mempunyai banyak pengetahuan. Oleh sebab itu, bagi Yesus, murid sejati adalah yang banyak tau, namun juga mampu menerima kehadiran Yesus dalam hatinya.
Di zaman saat ini, selain membutuhkan orang bijak dan pintar, kita membutuhkan orang yang terbuka dan rendah hati. Namun jika disuruh memilih, mau orang pintar atau rendah hati? Rasanya lebih baik berteman kepada orang terbuka dan rendah hati walau tidak begitu pintar. Saya mempunyai seorang teman sekelas yang pintar, jago bahasa Inggris lagi. Tapi sayang orangnya tinggi hati. Maunya pendapatnya yang benar dan sifatnya tertutup. Akibatnya, di kelas dia tidak punya banyak teman bahkan dikucilkan teman-teman. Jika rapat kelas, kehadirannya tidak dianggap penting, karena tidak akan bisa komunikasi baik dengannya. Demikianlah teman-teman meresponnya. Orang tidak akan membuka diri kepada orang yang tertutup dan tinggi hati. Orang cenderung hanya mau terbuka kepada orang yang juga mau terbuka.
Pribadi yang baik adalah yang mampu membuka hati dan rendah hati. Ia adalah yang bersifat open minded. Orang open minded biasanya lebih mudah untuk mengubah worlview-nya dari pada orang yang tinggi hati. Mengubah cara pandang tidaklah gampang, karena diperlu pengorbanan. Ia harus rela meninggalkan cara pandangnya yang lama. Namun seseorang yang memiliki keterbukaan hati dan pengorbanan menjadi tempat yang subur untuk bertumbuhnya didikan dan ajaran yang benar. Yesus sangat suka kepada yang memiliki open minded, karena akan mudah dididik dan diberikan kebenaranNya. Murid-murid Yesus adalah orang yang mampu membuka diri. Cara pandang mereka melihat Yesus berbeda dengan orang Farise. Murid-murid melihat Yesus sebagai Tuhan dan Guru, namun orang Farise melihat seperti itu. Murid yang open minded akhirnya meninggal gaya hidup mereka sebagai penjala ikan menjadi penjala orang .
Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang open minded terhadap ajaran Tuhan. Sehingga gereja yang open minded akan menjadi tempat dinyatakanNya kebenaran Tuhan. Demikian juga kepada keluarga yang terbuka kepada firman Tuhan dan menerimanya akan mendapat kebenaran Tuhan. Bagi yang menutup diri atau tidak perduli kepada firman Tuhan, kepadanya aka tersembunyi kebenaran Tuhan. Tuhan telah membuka diri untuk menerima keberdosaan kita. Oleh karena itu kita juga hendaknya terbuka dan rendah hati menerima kehadiran Tuhan.
Itulah sebabnya Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya karena berlaku benar dan adil. Bapa-Nya menyatakan kebenarannya pada orang yang tepat yaitu orang-orang kecil, orang-orang yang mau membuka diri dan menerima kehadiran-Nya. Hanya bagi orang yang demikian, kebenaran dinyatakan dan Injil dapat tumbuh berkembang. Agak sulit bagi orang yang berkuasa untuk masuk sorga (Mat. 19:23). Sebab tinggi hati dan ketertutupan hati cenderung melekat padanya.
Yesus Memberi Kelegaan Bagi Yang Memikul Salib
Kehidupan orang kecil sering dikuasai oleh orang yang berkuasa, orang yang pintar dan bijak. Bahkan orang kecil sering menangis karena penindasan yang mereka terima. Sehingga menjadi letih lesu menanggung penindasan atau beban yang berat. Mereka seakan tidak berdaya menanggungnya. Namun tidak berhenti sampai disitu. Yesus menawarkan kepada mereka tertindas, yang menderita dan orang-orang kecil untuk datang kepada-Nya, karena Ia akan memberikan kelegaan. Sungguh tawaran yang luar biasa.
Harus diakui bahwa setiap orang memiliki beban hidup yang berat. Kondisi ekonomi yang tidak baik, menyebabkan sulitnya memenuhi kebutuhan hidup. Keadaan ini sangat dirasakan oleh orang-orang kecil. Penduduk kota Jakarta lebih banyak dihuni oleh orang miskin. Mereka tinggal di tempat-tempat kumuh. Jiwa dan badan mereka sangat letih untuk mendapatkan hidup yang cukup. Hidup terancam karena kurang mendapat asupan gizi yang cukup. Nyawa diintai oleh penyakit yang tidak dapat disembuhkan karena ketidakmampuan mengakses layanan kesehatan. Masyarakat juga akan mengalami lesu yang berkepanjangan di masa mendatang karena rendahnya kualitas dan kuantitas pendidikan kita saat ini.
Bagaimanakah dampak turunannya? Banyak yang tidak tahan memikul penderitaan itu. Deretan jumlah orang bunuh diri di tanah air terus bertambah, akibat himpitan masalah yang banyak. Penderitaan dan beban berat dapat membuat orang jatuh ke dalam dosa. Lalu bagaimanakah sikap kita bila dalam keadaan letih lesu? Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya, karena Ia akan memberikan kelegaan.
Yang menarik, justru mengatakan? ”pikullah kuk yang kupasang”. Pengikut Kristus harus memikul kuk itu, bukan justru menghindar atau membuang kuk itu. Yesus menuntut dengan tegas agar seorang hamba setia mengemban kuknya. Bagi orang Yahudi, ”kuk” adalah simbol ketaatan pada hukum dan hikmat Tuhan. Orang Kristen diminta untuk patuh dan taat menerima kuk itu. Kita harus belajar kepada Tuhan. Walau dihina, diludahi bahkan mati di kayu salib, Ia tetap setia memikul penderitaan itu. Kenapa bisa? Karena kuk itu enak dan ringan.
Kuknya enak dan ringan bukan karena sesuatu itu mudah untuk dilakukan atau jalannya aman. Justru sebaliknya, salib adalah menakutkan (Mat. 16:24), berada di tengah serigala (Mat. 10:16). Kuk dari Yesus itu enak dan ringan karena itu adalah jalan Tuhan dan merupakan pendahuluan dari penebusan jiwa manusia.. Bila dilihat pada sapi, kuk itu menjadi beban namun sekaligus penuntun. Jadi salib dan penderitaan itu adalah juga penuntun. Kemudian kuk yang dipasang itu tidak merugikan yang memikulnya. Justru akan membawanya kepada kelegaan. Membawa kelegaan di bumi dan juga di sorga. Undangan dan janji Yesus inilah yang harus kita nyanyikan sebagai nyanyian baru dalam hidup kita. Menyuarakan dengan syukur bahwa Tuhan tidak memberikan kehidupan yang lebih baik, jika tetap setia dalam memikul kuknya. Bukalah hatimu akan kehadiranNya. Amin.
Minggu Kantate
Pendahuluan
Raja Salomo terkenal sebagai raja yang bijaksana sekaligus pandai. Ingatlah cerita Salomo yang mampu mengembalikan seorang bayi kepada ibu yang sebenarnya. Salomo mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, karena ia sangat dekat kepada Tuhan. Sehingga kebenaran dinyatakan kepadanya. Ia menjadi disegani dan ditakuti oleh raja-raja di sekitarnya karena kebijaksaannya. Lalu mengapa pada ayat 25, Yesus justru menyembunyikan sesuatu kepada orang bijak dan orang pandai? Bukankah ini aneh? Atau apa maksudnya?
Membuka Hati dan Rendah Hati
Bila kita membaca pasal 11-13, akan mengerti kenapa Yesus berkata demikian. Konteksnya pada pasal ini, Yesus berhadapan dengan ahli-ahli Taurat dan orang Farise yang meragukan Yesus sebagai mesias. Padalah Yesus sudah tunjukkan keilahian-Nya melalui karya-karya penyembuhan dan lain-lain. Namun mereka tetap tidak bertobat. Lalu apa persoalannya sehingga mereka tidak percaya kepada Yesus? Sebenarnya ini bukan persoalan sudah tau atau tidak, sudah ngerti atau tidak. Tetapi ini lebih persoalan hati. Hati para ahli taurat dan orang Farise itu tertutup rapat terhadap yang mereka tau dan lihat. Terlebih mereka tidak rendah hati.
Ahli taurat dan Farisi tetap tegar hati dan tidak percaya kepada apa yang Yesus ajarkan. Mereka banyak baca kitab suci dan ahli taurat tapi tidak terbuka menerima apa yang mereka baca dan Yesus ajarkan. Mereka malah menjadi sombong dengan yang mereka tahu. Merasa suci dari orang lain. Merasa benar dari orang lain. Mereka membuka mata, membuka telinga, tetapi menutup hati. Jika sudah tutup hati, komunikasi akan berhenti. Maka itu sama dengan titik mati untuk tidak merubah diri. Itu sebabnya Tuhan menyembunyikan diriNya kepada mereka. Justru siapa sangka, Tuhan menyatakan diriNya kepada orang kecil. Tuhan lebih dekat kepada mereka. Kenapa bisa?
Orang kecil yang dimaksud pada nas ini adalah anak-anak atau orang yang belum dewasa. Dalam arti luasnya adalah orang yang belum matang berilmu, namun mampu menerima kehadiran Allah dalam diri Yesus Kristus. Inilah kelebihan dari orang kecil itu yaitu mampu membuka diri menerima Yesus Kristus dan rendah hati. Mereka mampu merespons Injil dengan positif.
Tuhan ingin dalam kehidupan iman Kristen kita, kita mempunyai hati seperti bayi yang setiap saat mau diajar dan dibentuk oleh Firman. Bukankah justru jika menjadi seperti anak kecil, kita masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat. 18:3).
Orang yang merasa diri bijak biasanya ia adalah orang yang sok tahu segala hal sehingga kalau ada orang lain yang mengatakan tentang kebenaran, ia akan menutup diri. Orang seperti demikian ini tidak akan pernah mendapatkan suatu pengetahuan karena belum apa-apa ia merasa pandai dan mempunyai banyak pengetahuan. Oleh sebab itu, bagi Yesus, murid sejati adalah yang banyak tau, namun juga mampu menerima kehadiran Yesus dalam hatinya.
Di zaman saat ini, selain membutuhkan orang bijak dan pintar, kita membutuhkan orang yang terbuka dan rendah hati. Namun jika disuruh memilih, mau orang pintar atau rendah hati? Rasanya lebih baik berteman kepada orang terbuka dan rendah hati walau tidak begitu pintar. Saya mempunyai seorang teman sekelas yang pintar, jago bahasa Inggris lagi. Tapi sayang orangnya tinggi hati. Maunya pendapatnya yang benar dan sifatnya tertutup. Akibatnya, di kelas dia tidak punya banyak teman bahkan dikucilkan teman-teman. Jika rapat kelas, kehadirannya tidak dianggap penting, karena tidak akan bisa komunikasi baik dengannya. Demikianlah teman-teman meresponnya. Orang tidak akan membuka diri kepada orang yang tertutup dan tinggi hati. Orang cenderung hanya mau terbuka kepada orang yang juga mau terbuka.
Pribadi yang baik adalah yang mampu membuka hati dan rendah hati. Ia adalah yang bersifat open minded. Orang open minded biasanya lebih mudah untuk mengubah worlview-nya dari pada orang yang tinggi hati. Mengubah cara pandang tidaklah gampang, karena diperlu pengorbanan. Ia harus rela meninggalkan cara pandangnya yang lama. Namun seseorang yang memiliki keterbukaan hati dan pengorbanan menjadi tempat yang subur untuk bertumbuhnya didikan dan ajaran yang benar. Yesus sangat suka kepada yang memiliki open minded, karena akan mudah dididik dan diberikan kebenaranNya. Murid-murid Yesus adalah orang yang mampu membuka diri. Cara pandang mereka melihat Yesus berbeda dengan orang Farise. Murid-murid melihat Yesus sebagai Tuhan dan Guru, namun orang Farise melihat seperti itu. Murid yang open minded akhirnya meninggal gaya hidup mereka sebagai penjala ikan menjadi penjala orang .
Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang open minded terhadap ajaran Tuhan. Sehingga gereja yang open minded akan menjadi tempat dinyatakanNya kebenaran Tuhan. Demikian juga kepada keluarga yang terbuka kepada firman Tuhan dan menerimanya akan mendapat kebenaran Tuhan. Bagi yang menutup diri atau tidak perduli kepada firman Tuhan, kepadanya aka tersembunyi kebenaran Tuhan. Tuhan telah membuka diri untuk menerima keberdosaan kita. Oleh karena itu kita juga hendaknya terbuka dan rendah hati menerima kehadiran Tuhan.
Itulah sebabnya Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya karena berlaku benar dan adil. Bapa-Nya menyatakan kebenarannya pada orang yang tepat yaitu orang-orang kecil, orang-orang yang mau membuka diri dan menerima kehadiran-Nya. Hanya bagi orang yang demikian, kebenaran dinyatakan dan Injil dapat tumbuh berkembang. Agak sulit bagi orang yang berkuasa untuk masuk sorga (Mat. 19:23). Sebab tinggi hati dan ketertutupan hati cenderung melekat padanya.
Yesus Memberi Kelegaan Bagi Yang Memikul Salib
Kehidupan orang kecil sering dikuasai oleh orang yang berkuasa, orang yang pintar dan bijak. Bahkan orang kecil sering menangis karena penindasan yang mereka terima. Sehingga menjadi letih lesu menanggung penindasan atau beban yang berat. Mereka seakan tidak berdaya menanggungnya. Namun tidak berhenti sampai disitu. Yesus menawarkan kepada mereka tertindas, yang menderita dan orang-orang kecil untuk datang kepada-Nya, karena Ia akan memberikan kelegaan. Sungguh tawaran yang luar biasa.
Harus diakui bahwa setiap orang memiliki beban hidup yang berat. Kondisi ekonomi yang tidak baik, menyebabkan sulitnya memenuhi kebutuhan hidup. Keadaan ini sangat dirasakan oleh orang-orang kecil. Penduduk kota Jakarta lebih banyak dihuni oleh orang miskin. Mereka tinggal di tempat-tempat kumuh. Jiwa dan badan mereka sangat letih untuk mendapatkan hidup yang cukup. Hidup terancam karena kurang mendapat asupan gizi yang cukup. Nyawa diintai oleh penyakit yang tidak dapat disembuhkan karena ketidakmampuan mengakses layanan kesehatan. Masyarakat juga akan mengalami lesu yang berkepanjangan di masa mendatang karena rendahnya kualitas dan kuantitas pendidikan kita saat ini.
Bagaimanakah dampak turunannya? Banyak yang tidak tahan memikul penderitaan itu. Deretan jumlah orang bunuh diri di tanah air terus bertambah, akibat himpitan masalah yang banyak. Penderitaan dan beban berat dapat membuat orang jatuh ke dalam dosa. Lalu bagaimanakah sikap kita bila dalam keadaan letih lesu? Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya, karena Ia akan memberikan kelegaan.
Yang menarik, justru mengatakan? ”pikullah kuk yang kupasang”. Pengikut Kristus harus memikul kuk itu, bukan justru menghindar atau membuang kuk itu. Yesus menuntut dengan tegas agar seorang hamba setia mengemban kuknya. Bagi orang Yahudi, ”kuk” adalah simbol ketaatan pada hukum dan hikmat Tuhan. Orang Kristen diminta untuk patuh dan taat menerima kuk itu. Kita harus belajar kepada Tuhan. Walau dihina, diludahi bahkan mati di kayu salib, Ia tetap setia memikul penderitaan itu. Kenapa bisa? Karena kuk itu enak dan ringan.
Kuknya enak dan ringan bukan karena sesuatu itu mudah untuk dilakukan atau jalannya aman. Justru sebaliknya, salib adalah menakutkan (Mat. 16:24), berada di tengah serigala (Mat. 10:16). Kuk dari Yesus itu enak dan ringan karena itu adalah jalan Tuhan dan merupakan pendahuluan dari penebusan jiwa manusia.. Bila dilihat pada sapi, kuk itu menjadi beban namun sekaligus penuntun. Jadi salib dan penderitaan itu adalah juga penuntun. Kemudian kuk yang dipasang itu tidak merugikan yang memikulnya. Justru akan membawanya kepada kelegaan. Membawa kelegaan di bumi dan juga di sorga. Undangan dan janji Yesus inilah yang harus kita nyanyikan sebagai nyanyian baru dalam hidup kita. Menyuarakan dengan syukur bahwa Tuhan tidak memberikan kehidupan yang lebih baik, jika tetap setia dalam memikul kuknya. Bukalah hatimu akan kehadiranNya. Amin.
Jumat, 01 Mei 2009
RENUNGAN: 1Raja 9:1-10:29
”KETAATAN MENDATANGKAN BERKAT DARI TUHAN”
(Bacaan Alkitab: 1Raja 9:1 – 10:29; 2Taw.7:11 – 9:28)
Orang bijak berkata, "Kita akan menuai apa yang kita tabur“. Jika kita menanam satu biji jagung, maka kita menuai setongkol jagung. Satu tongkol berisi ratusan biji jagung. Jelas, bahwa yang dituai selalu lebih banyak daripada yang ditanam.
Ketaatan, yaitu melakukan perintah atau ketetapan Firman Tuhan, juga bisa digambarkan seperti menanam. Tuhan memberkati orang yang taat kepadaNya. Ketika raja Salomo melakukan segala sesuatu sesuai dengan Firman Tuhan, kerajaannya menjadi jaya dan bangsa Israel menikmati berbagai berkat Tuhan.
Janji Tuhan Kepada Salomo (1Raja-Raja 9:1-9)
Sekali Tuhan berjanji, maka tidak akan pernah diingkariNya, Ia pasti menepati janjiNya. Dalam ayat 4-7, terdapat kata: “Jika… maka…”, berarti janji Tuhan itu bersyarat. Syaratnya adalah, kesetiaan serta ketaatan umat dalam melakukan firmanNya. Apabila umat Tuhan taat, maka Dia pasti memberkati sesuai dengan janjiNya. Jika umat Tuhan memberontak dan melanggar firmanNya, maka Tuhan pasti menghukum. Tuhan memberkati orang yang taat, sebab itu kita harus berkeputusan untuk selalu menaati Dia.
Janji Tuhan kepada Salomo adalah perjanjian bersyarat. Untuk dapat mengetahui isi perjanjian itu serta persyaratannya, bacalah 1Raja-Raja 9:4-8! Jika Salomo setia kepada Tuhan, maka Tuhan akan meneguhkan kerajaannya; dan apabila Salomo tidak setia, maka Tuhan akan mendatangkan malapetaka terhadap kerajaannya. Jika Salomo dan bangsa Israel memberontak kepada Tuhan, maka Bait Allah tempat nama Tuhan diam pun akan ditinggalkan Tuhan, dihancurkan, bahkan bangsa Israel akan dibuang.
Tuhan sangat marah terhadap umatNya yang menyembah berhala. Tetapi Tuhan berkenan kepada setiap orang yang taat melakukan firmanNya dan setia beribadah hanya kepada Dia. Beribadah kepada Tuhan berarti melayani Tuhan dengan benar dan dengan hati yang murni, teguh, jujur dan tulus.
Dalam Alkitab terdapat banyak janji Tuhan kepada umatNya. Agar kita dapat menaati Tuhan setiap hari dalam perkataan dan perbuatan, maka kita harus membaca dan mendengar firmanNya setiap hari. Janji-janji Tuhan akan menjadi berkat bagi setiap orang yang menaatiNya.
Keberhasilan Usaha Salomo (1Raja-Raja 9:10-28)
Setiap usaha yang dilakukan dengan gigih, penuh perjuangan, dan pantang menyerah, cepat atau lambat akan mendatangkan hasil. Kegagalan hanya untuk orang yang gampang menyerah. Dalam ayat 10 tercatat secara ringkas kerja keras Salomo dalam membangun Bait Allah dan istana kerajaannya. Ia menghabiskan waktu selama 20 tahun.
Sebahagian orang menghendaki keberhasilan secara instant (baca:gampang dan cepat), tanpa doa dan tanpa kerja keras. Keberhasilan yang diraih dengan cara yang instant, biasanya tidak tahan uji dan kadangkala dicapai dengan menghalalkan segala cara. Misalnya, ada orang yang ingin cepat kaya, lalu meminta bantuan kepada dukun. Akan tetapi orang yang hidup taat kepada Tuhan, meraih keberhasilan sebagai berkat Tuhan melalui perjuangan yang keras, yaitu berdoa dan bekerja (Ora et Labora).
Setiap usaha yang dilakukan Salomo diberkati Tuhan, karena ia mencari Tuhan terlebih dahulu dengan membangun Bait Suci bagi Allah; kerajaannya menjadi jaya sehingga orang Israel hidup aman dan sejahtera. Salomo menghargai bantuan Hiram (ay.11), ia memperkuat hubungan internasional. Salomo berhasil menjalankan pemerintahannya dengan baik.
Keberhasilannya adalah berkat dari Tuhan, dan kerja keras adalah cara untuk memperolehnya. Oleh karena itu, Tuhan tidak boleh dilupakan. Salomo mengingat dan memuliakan Tuhan dengan membawa persembahan kepada Tuhan (ay.25).
Harta Kekayaaan Salomo (10:14-29)
Berkat Tuhan bisa bersifat rohani, bisa pula bersifat materi. Harta kekayaan Salomo yang dicatat dalam 1Raja-Raja 10:14-29 adalah berkat-berkat yang bersifat materi. Artinya, Salomo diberkati Allah dengan berkat materi, sehingga ia menjadi sangat kaya. Kekayaan Salomo merupakan bukti bahwa Tuhan selalu menepati janjiNya (1Raja 3:11-13).
Kekayaan Salomo tidak terhitung banyaknya. Dalam ayat 14 disebutkan, "Adapun emas, yang dibawa kepada Salomo dalam satu tahun ialah seberat enam ratus enam puluh enam talenta“. Satu talenta sama dengan 34 kilogram. Berarti penghasilan dari emas setahun adalah 666 x 34 = 22.644 kilogram. Jika harga emas satu gram Rp. 100.000,- maka harga emasnya setiap tahun adalah 22.644 x 100.000 = 2.264.400.000.000,-
Untuk mengetahui semua kekayaan Salomo bacalah 1Raja-Raja 10:14-29! Salomo memperoleh kekayaan itu bukan dengan korupsi atau mencuri. Ia adalah raja yang bijaksana, penuh dengan hikmat Tuhan, sehingga ia dapat menjalankan roda kerajaan dengan baik. Sebagai hasilnya adalah kekayaan dan kemakmuran kerajaan Israel. Dengan kata lain, Salomo menjadi kaya raya karena hikmat dari Tuhan.
Kesimpulan
Tuhan berjanji akan memberkati orang yang taat kepadaNya. Selama menaati Tuhan, Salomo mengalami berbagai keberhasilan. Keberhasilan yang berkenan kepada Tuhan adalah keberhasilan karena usaha dan kerja keras yang dilakukan dalam ketaatan kepada FirmanNya. Tuhan memberkati orang yang hidup sesuai dengan firmanNya.
Penerapan
Pada sehelai kertas, tulislah:
1. Hasil-hasil yang pernah kau terima karena ketaatanmu
2. Hukuman-hukuman yang pernah kau terima karena ketidaktaatanmu, baik dalam hal berdoa, belajar, maupun berkaitan dengan ketaatanmu terhadap perintah orang tua, peraturan di sekolah Minggu, di sekolah, maupun dalam bermain, dan lain-lain.
(Bacaan Alkitab: 1Raja 9:1 – 10:29; 2Taw.7:11 – 9:28)
Orang bijak berkata, "Kita akan menuai apa yang kita tabur“. Jika kita menanam satu biji jagung, maka kita menuai setongkol jagung. Satu tongkol berisi ratusan biji jagung. Jelas, bahwa yang dituai selalu lebih banyak daripada yang ditanam.
Ketaatan, yaitu melakukan perintah atau ketetapan Firman Tuhan, juga bisa digambarkan seperti menanam. Tuhan memberkati orang yang taat kepadaNya. Ketika raja Salomo melakukan segala sesuatu sesuai dengan Firman Tuhan, kerajaannya menjadi jaya dan bangsa Israel menikmati berbagai berkat Tuhan.
Janji Tuhan Kepada Salomo (1Raja-Raja 9:1-9)
Sekali Tuhan berjanji, maka tidak akan pernah diingkariNya, Ia pasti menepati janjiNya. Dalam ayat 4-7, terdapat kata: “Jika… maka…”, berarti janji Tuhan itu bersyarat. Syaratnya adalah, kesetiaan serta ketaatan umat dalam melakukan firmanNya. Apabila umat Tuhan taat, maka Dia pasti memberkati sesuai dengan janjiNya. Jika umat Tuhan memberontak dan melanggar firmanNya, maka Tuhan pasti menghukum. Tuhan memberkati orang yang taat, sebab itu kita harus berkeputusan untuk selalu menaati Dia.
Janji Tuhan kepada Salomo adalah perjanjian bersyarat. Untuk dapat mengetahui isi perjanjian itu serta persyaratannya, bacalah 1Raja-Raja 9:4-8! Jika Salomo setia kepada Tuhan, maka Tuhan akan meneguhkan kerajaannya; dan apabila Salomo tidak setia, maka Tuhan akan mendatangkan malapetaka terhadap kerajaannya. Jika Salomo dan bangsa Israel memberontak kepada Tuhan, maka Bait Allah tempat nama Tuhan diam pun akan ditinggalkan Tuhan, dihancurkan, bahkan bangsa Israel akan dibuang.
Tuhan sangat marah terhadap umatNya yang menyembah berhala. Tetapi Tuhan berkenan kepada setiap orang yang taat melakukan firmanNya dan setia beribadah hanya kepada Dia. Beribadah kepada Tuhan berarti melayani Tuhan dengan benar dan dengan hati yang murni, teguh, jujur dan tulus.
Dalam Alkitab terdapat banyak janji Tuhan kepada umatNya. Agar kita dapat menaati Tuhan setiap hari dalam perkataan dan perbuatan, maka kita harus membaca dan mendengar firmanNya setiap hari. Janji-janji Tuhan akan menjadi berkat bagi setiap orang yang menaatiNya.
Keberhasilan Usaha Salomo (1Raja-Raja 9:10-28)
Setiap usaha yang dilakukan dengan gigih, penuh perjuangan, dan pantang menyerah, cepat atau lambat akan mendatangkan hasil. Kegagalan hanya untuk orang yang gampang menyerah. Dalam ayat 10 tercatat secara ringkas kerja keras Salomo dalam membangun Bait Allah dan istana kerajaannya. Ia menghabiskan waktu selama 20 tahun.
Sebahagian orang menghendaki keberhasilan secara instant (baca:gampang dan cepat), tanpa doa dan tanpa kerja keras. Keberhasilan yang diraih dengan cara yang instant, biasanya tidak tahan uji dan kadangkala dicapai dengan menghalalkan segala cara. Misalnya, ada orang yang ingin cepat kaya, lalu meminta bantuan kepada dukun. Akan tetapi orang yang hidup taat kepada Tuhan, meraih keberhasilan sebagai berkat Tuhan melalui perjuangan yang keras, yaitu berdoa dan bekerja (Ora et Labora).
Setiap usaha yang dilakukan Salomo diberkati Tuhan, karena ia mencari Tuhan terlebih dahulu dengan membangun Bait Suci bagi Allah; kerajaannya menjadi jaya sehingga orang Israel hidup aman dan sejahtera. Salomo menghargai bantuan Hiram (ay.11), ia memperkuat hubungan internasional. Salomo berhasil menjalankan pemerintahannya dengan baik.
Keberhasilannya adalah berkat dari Tuhan, dan kerja keras adalah cara untuk memperolehnya. Oleh karena itu, Tuhan tidak boleh dilupakan. Salomo mengingat dan memuliakan Tuhan dengan membawa persembahan kepada Tuhan (ay.25).
Harta Kekayaaan Salomo (10:14-29)
Berkat Tuhan bisa bersifat rohani, bisa pula bersifat materi. Harta kekayaan Salomo yang dicatat dalam 1Raja-Raja 10:14-29 adalah berkat-berkat yang bersifat materi. Artinya, Salomo diberkati Allah dengan berkat materi, sehingga ia menjadi sangat kaya. Kekayaan Salomo merupakan bukti bahwa Tuhan selalu menepati janjiNya (1Raja 3:11-13).
Kekayaan Salomo tidak terhitung banyaknya. Dalam ayat 14 disebutkan, "Adapun emas, yang dibawa kepada Salomo dalam satu tahun ialah seberat enam ratus enam puluh enam talenta“. Satu talenta sama dengan 34 kilogram. Berarti penghasilan dari emas setahun adalah 666 x 34 = 22.644 kilogram. Jika harga emas satu gram Rp. 100.000,- maka harga emasnya setiap tahun adalah 22.644 x 100.000 = 2.264.400.000.000,-
Untuk mengetahui semua kekayaan Salomo bacalah 1Raja-Raja 10:14-29! Salomo memperoleh kekayaan itu bukan dengan korupsi atau mencuri. Ia adalah raja yang bijaksana, penuh dengan hikmat Tuhan, sehingga ia dapat menjalankan roda kerajaan dengan baik. Sebagai hasilnya adalah kekayaan dan kemakmuran kerajaan Israel. Dengan kata lain, Salomo menjadi kaya raya karena hikmat dari Tuhan.
Kesimpulan
Tuhan berjanji akan memberkati orang yang taat kepadaNya. Selama menaati Tuhan, Salomo mengalami berbagai keberhasilan. Keberhasilan yang berkenan kepada Tuhan adalah keberhasilan karena usaha dan kerja keras yang dilakukan dalam ketaatan kepada FirmanNya. Tuhan memberkati orang yang hidup sesuai dengan firmanNya.
Penerapan
Pada sehelai kertas, tulislah:
1. Hasil-hasil yang pernah kau terima karena ketaatanmu
2. Hukuman-hukuman yang pernah kau terima karena ketidaktaatanmu, baik dalam hal berdoa, belajar, maupun berkaitan dengan ketaatanmu terhadap perintah orang tua, peraturan di sekolah Minggu, di sekolah, maupun dalam bermain, dan lain-lain.
RENUNGAN: 1Petrus 3:8-12
PERSEKUTUAN DAN PERSAUDARAAN
1Petrus 3 : 8 - 12
"Persekutuan dan persaudaraan yang rukun adalah dambaan setiap orang di dunia ini. Bagaimanakah agar impian ini menjadi kenyataan? Persektuan dan persaudaraan ini terwujud jika kita memiliki nilai-nilai hidup seperti: Pertama, Seia sekata. Harus kita akui bahwa kita memiliki banyak latar belakang yang berbeda-beda menurut suku, bahasa dan adat istiadat, pendidikan, pekerjaan, cara berpikir dan sebagainya, namun kita harus benar-benar sehati, seia-sekata, supaya dapat hidup sebagai persekutuan yang mau mengerti satu dengan yang lain. Situasi yang demikian menggambarkan bahwa jemaat merupakan organ atau badan yang hidup, di mana terdapat berbagai-bagai anggota atau suatu badan yang sangat berlainan bentuknya dan sangat beraneka ragam fungsinya. Di dalam keberanekaragaman itu anggota-anggota dapat saling membantu dan saling mengisi satu sama lain. Tidak ada yang menganggap dirinya lebih berharga dan lebih tinggi. Baik Tuhan Yesus maupun rasul-rasul, sering menekankan kesatuan di dalam persekutuan. Tuhan Yesus dalam doaNya supaya "murid dan pengikutNya, menjadi satu“ (ut omnes unum sint). Rasul Paulus menggarisbawahi dalam surat kirimannya kepada jemaat di Roma, Korintus, dan Efesus, “meskipun anggota-anggota itu berlainan dan mempunyai talenta-talenta yang sangat berlainan, namun mereka tetap satu badan, satu organ yang hidup“.
Kedua, seperasaan (sympathein=sama merasai sakit). Dalam satu organ yang hidup, bila tangan terluka, sesungguhnya tidak hanya tangan saja yang menderita, melainkan seluruh tubuh menderita kesakitan. Begitulah sifat organ yang hidup, di mana semua anggota ikut menderita apabila salah satu anggota mengalami kesakitan dan sama-sama bersukacita apabila salah satu anggota bersukaria (1Kor.12:26).
Ketiga, mengasihi. Pusat atau azas hidup orang Kristen adalah kasih karena hakikat atau kesempurnaan Allah adalah mengasihi dunia. Kasih adalah sumber dari segala kebajikan. Kasih itu panjang sabar, kasih menjauhkan dengki, kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong dan sebagainya. Artinya kita diharapkan memiliki persekutuan dan persaudaraan yang rukun (bd.Mzm.133). Jika pada kita tidak ada kasih sudah barang tentu persaudaraan itu tidak dapat dinikmati.
Keempat, penyayang. Sifat penyayang ini harus didasari atas kepenyayangan Tuhan kepada kita yang rela berkorban menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia. Kita juga harus mampu menyayangi suami-istri dan anak-anak, serta orang lain tanpa memandang suku, ras dan budaya.
Kelima, rendah hati. Dengan rendah hati kita mampu mengalahkan kesombongan dan kecongkakan kita. Karena sifat kesobongan dan kecongkakan inilah yang sering merusak persekutuan dan persaudaraan di antara kita. Sifat rendah hati akan menjadikan persekutuan kita akan semakin indah dan bahagia.
1Petrus 3 : 8 - 12
"Persekutuan dan persaudaraan yang rukun adalah dambaan setiap orang di dunia ini. Bagaimanakah agar impian ini menjadi kenyataan? Persektuan dan persaudaraan ini terwujud jika kita memiliki nilai-nilai hidup seperti: Pertama, Seia sekata. Harus kita akui bahwa kita memiliki banyak latar belakang yang berbeda-beda menurut suku, bahasa dan adat istiadat, pendidikan, pekerjaan, cara berpikir dan sebagainya, namun kita harus benar-benar sehati, seia-sekata, supaya dapat hidup sebagai persekutuan yang mau mengerti satu dengan yang lain. Situasi yang demikian menggambarkan bahwa jemaat merupakan organ atau badan yang hidup, di mana terdapat berbagai-bagai anggota atau suatu badan yang sangat berlainan bentuknya dan sangat beraneka ragam fungsinya. Di dalam keberanekaragaman itu anggota-anggota dapat saling membantu dan saling mengisi satu sama lain. Tidak ada yang menganggap dirinya lebih berharga dan lebih tinggi. Baik Tuhan Yesus maupun rasul-rasul, sering menekankan kesatuan di dalam persekutuan. Tuhan Yesus dalam doaNya supaya "murid dan pengikutNya, menjadi satu“ (ut omnes unum sint). Rasul Paulus menggarisbawahi dalam surat kirimannya kepada jemaat di Roma, Korintus, dan Efesus, “meskipun anggota-anggota itu berlainan dan mempunyai talenta-talenta yang sangat berlainan, namun mereka tetap satu badan, satu organ yang hidup“.
Kedua, seperasaan (sympathein=sama merasai sakit). Dalam satu organ yang hidup, bila tangan terluka, sesungguhnya tidak hanya tangan saja yang menderita, melainkan seluruh tubuh menderita kesakitan. Begitulah sifat organ yang hidup, di mana semua anggota ikut menderita apabila salah satu anggota mengalami kesakitan dan sama-sama bersukacita apabila salah satu anggota bersukaria (1Kor.12:26).
Ketiga, mengasihi. Pusat atau azas hidup orang Kristen adalah kasih karena hakikat atau kesempurnaan Allah adalah mengasihi dunia. Kasih adalah sumber dari segala kebajikan. Kasih itu panjang sabar, kasih menjauhkan dengki, kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong dan sebagainya. Artinya kita diharapkan memiliki persekutuan dan persaudaraan yang rukun (bd.Mzm.133). Jika pada kita tidak ada kasih sudah barang tentu persaudaraan itu tidak dapat dinikmati.
Keempat, penyayang. Sifat penyayang ini harus didasari atas kepenyayangan Tuhan kepada kita yang rela berkorban menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia. Kita juga harus mampu menyayangi suami-istri dan anak-anak, serta orang lain tanpa memandang suku, ras dan budaya.
Kelima, rendah hati. Dengan rendah hati kita mampu mengalahkan kesombongan dan kecongkakan kita. Karena sifat kesobongan dan kecongkakan inilah yang sering merusak persekutuan dan persaudaraan di antara kita. Sifat rendah hati akan menjadikan persekutuan kita akan semakin indah dan bahagia.
Rabu, 29 April 2009
RENUNGAN: Matius 16:16
WHO IS JESUS?
Hingga kini ketiga Injil Sinoptik memperkenalkan Yesus terutama lewat ajarannya, lewat penyembuhan yang dilakukannya, termasuk tindakan mengusir roh jahat, dan lewat peristiwa perbanyakan roti. Orang mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya dia itu dan bagaimana ia dapat mengerjakan semua itu. Semakin disadari bahwa dia lain dari orang-orang luar biasa lainnya. Siapakah dia sesungguhnya? Dalam Mat 16:13-19 yang dibacakan pada hari raya Petrus. Petrus menyuarakan kesadaran para murid bahwa Yesus itu Mesias, anak Allah yang hidup. Penegasan ini sebetulnya satu sisi saja dalam pewartaan mengenai siapa sebenarnya Yesus. Sisi yang lain menyangkut perjalanan ke arah penderitaan, wafat dan kebangkitan Yesus yang diungkapkan ketiga Injil Sinoptik langsung sesudah penegasan akan kemesiasan Yesus.
POKOK PEWARTAAN
Memang ada pelbagai perkiraan di masyarakat mengenai siapa Yesus itu. Dan di Kaisaria Filipi para murid diajak Yesus berbicara mengenai pelbagai pendapat mengenai dirinya. Sudah matang saatnya para murid dituntun mengenali siapa dia itu sebenarnya. Mereka telah mendengar ajarannya, telah melihat perbuatannya, dan menyaksikan kekuatannya. Kini tibalah waktunya memahami siapa dia itu.
Tentu saja mulai disadari bahwa Yesus yang mempesona dan diikuti banyak orang ini ialah dia yang resmi ditugasi Allah dan kedatangannya yang dinanti-nantikan banyak orang. Dialah Mesias yang diharapkan membangun kembali umat Allah seperti dahulu kala. Dialah yang bakal memimpin orang banyak makin mendekat kepada Allah sendiri. Di dalam kesadaran orang banyak, Mesias ini ialah keturunan Daud yang akan mengawali zaman adil dan damai. Dalam keagamaan Yahudi, gagasan Mesias seperti ini disatukan dengan pengertian "Anak Manusia", seperti terungkap dalam penglihatan Daniel (Dan 7:13). Gereja Awal juga percaya bahwa Yesus ialah tokoh ini.
Keyakinan di atas mau tak mau berhadapan dengan kenyataan bahwa Yesus akhirnya mengalami penderitaan, ditolak oleh para pemimpin masyarakat Yahudi yang sah ("tetua, imam kepala dan ahli Taurat" ialah tiga macam anggota di dalam Sanhedrin, badan resmi masyarakat Yahudi) sampai dibunuh. Namun demikian, nanti dengan pelbagai cara para murid Yesus juga mengalami kebangkitan Yesus pada hari ketiga. Dan pengalaman inilah yang membuat mereka percaya bahwa Yesus itulah sungguh Mesias.
Rumusan penegasan Petrus yang disampaikan secara sederhana tapi tegas dalam Mrk 8:29 "Engkaulah Mesias" mengungkapkan pokok kepercayaan yang tumbuh dalam Gereja Awal. Bukan tanpa arti bila dalam ketiga Injil Sinoptik pemberitahuan pertama mengenai penderitaan, wafat dan kebangkitan didahului dengan penegasan Petrus mengenai siapa sebenarnya Yesus itu. Penegasan ini kemudian dipertajam rumusannya oleh Matius dan Lukas dengan cara masing-masing. Menurut Mat 16:16, Petrus berkata, "Engkaulah Mesias, anak Allah yang hidup!" (Mat 16:16). Matius menambahkan "anak Allah yang hidup" untuk menggarisbawahi bahwa Allah-lah yang memilih Yesus sebagai pewarta kehadiranNya di dunia. Matius juga bermaksud menjelaskan bahwa Mesias yang dinanti-nantikan ini bukan pemimpin politik atau penguasa yang bakal membangun kembali kejayaan Israel dengan kekuatan militer. Maklum di kalangan Yahudi harapan akan Mesias politik ini amat kuat. Persoalan ini tidak amat terasa dalam lingkungan Lukas yang bukan berasal dari kalangan Yahudi. Mereka lebih berminat memahami apakah kuasa dan kekuatan Yesus itu memang berasal dari Allah sendiri. Karena itu ditandaskan dalam Luk 9:20 bahwa Mesias tadi "dari Allah". Maksudnya, Yesus datang dari Dia dan menunjukkan bahwa Allah sendiri bertindak dalam diri Yesus untuk membebaskan manusia dari kuasa-kuasa jahat, dari penyakit, dari kekersangan batin. Inilah yang membuat Yesus betul-betul menjadi Mesias bagi semua orang.
SIAPAKAH "ANAK MANUSIA" ITU?
Ketika Yesus menanyai murid-muridnya apa kata orang mengenai siapa "Anak Manusia" ada jawaban yang bermacam-macam. Ungkapan "Anak Manusia" dipakai merujuk pada diri Yesus. Dalam kesadaran orang Yahudi pada zaman Yesus, ada kaitan antara tokoh yang dinanti-nantikan datangnya sebagai Mesias dengan penglihatan dalam Dan 7:13 yang menggambarkan tokoh yang mirip manusia itu terlihat datang mengarah kepada Yang Mahakuasa dan mendapat kuasa di bumi dan di langit.
Dengan memakai ungkapan itu Yesus hendak memperkenalkan dirinya yang sesungguhnya. Ia tidak bertanya mengenai apa kata orang mengenai ajarannya, mengenai tindakannya, mengenai kelakuannya. Ia ingin mendengar bagaimana orang menerapkan siapa tokoh yang terarah kepada Yang Mahakuasa itu, siapa "Anak Manusia" tadi. Para murid diajak menengarai pelbagai pandangan yang ada mengenai dirinya: ia seperti Yohanes Pembaptis, tokoh spiritual yang masih segar dalam ingatan orang, juga bisa dibandingkan dengan Elia, seorang nabi besar yang diceritakan telah naik ke langit dan tentunya akan kembali diutus Allah mendatangi umat pada saat-saat mereka membutuhkan dampingan dan arahan, atau seperti nabi Yeremia yang dikenal tak jemu-jemunya memperingatkan umat dan para pemimpin agar tetap setia pada Allah di tengah penderitaan dan mengajarkan kerohanian yang sejati dan bukan praktek luar-luar saja.
BAGI KALIAN, SIAPA AKU INI?
Pendapat-pendapat itu tidak bisa dikatakan meleset. Walaupun demikian, ada pemahaman yang dapat lebih menolong. Yesus menanyai Petrus dengan ungkapan yang berbeda, "Tetapi apa katamu, siapakah aku ini?" Tidak lagi ditanyakan apa kata orang, melainkan apa katamu. Juga tidak lagi dipakai sebutan "Anak Manusia", melainkan "aku". Petrus kini tampil sebagai wakil para murid yang kemudian mempersaksikan Yesus Kristus dan meneruskan wartanya. Pertanyaan Yesus kepadanya bukan pertanyaan kepada individu Petrus saja. Setelah menanyai para murid, pada ay. 15 disebutkan Yesus bertanya kepada "mereka" - yakni para murid tadi. Terjemahan LAI "apa katamu" tidak amat jelas. Memang dalam bahasa Indonesia "-mu" bisa berarti tunggal bisa pula jamak. Teks asli dalam bahasa Yunani memakai kata "kalian" yang hanya bisa berarti jamak. Maka pertanyaan tadi jelas ditujukan kepada para murid, begitu juga menurut Injil Markus dan Lukas. Dalam situasi itulah Petrus tampil mewakili para murid. Oleh karena itu, tak usah ditafsirkan bahwa di sini ada imbauan untuk menumbuhkan jawaban iman yang digarap secara pribadi, bukan rumus-rumus yang siap pakai saja. Memang iman yang dewasa dan kuat juga semakin pribadi sifatnya. Tetapi tanya jawab dengan Petrus ini bukan ke sana arahnya.
Jawaban Petrus juga mencerminkan pemahaman para murid. Memang kemudian Matius secara khusus menyoroti Petrus. Setelah penegasan tadi, pada ay. 17, Matius menambahkan episode Yesus menyebut Petrus berbahagia karena pengetahuan tadi didapat bukan dari manusia melainkan dari Bapa di surga. Kemudian dalam dua ayat berikutnya Simon disebut Yesus sebagai batu karang dasar Gereja dibangun yang tak bakal terkalahkan oleh maut, ia juga disebut pemegang kunci surga (Mat 16:18-19). Tambahan ini tidak ada dalam Injil lain.
BATU KARANG DAN KUNCI
Batu karang jadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, Yunaninya "petra", ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu menghunjam. Dikatakan juga bahwa alam maut (Yunaninya "hades", Ibraninya "syeol") takkan bisa menguasainya, maksudnya takkan dapat mematikan kumpulan orang yang percaya tadi.
Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya ialah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tak tergoyah. Petrus digambarkan sebagai tempat Yesus mendirikan umat yang takkan terkuasai alam maut.
Gambaran di atas dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga! Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tak ada jalan ke surga bagi daya-daya maut. Apa yang dilepaskannya di bumi, yakni manusia yang bila dibiarkan sendirian akan menjadi mangsa lubang syeol menganga tadi. Tidak amat membantu bila kata-kata itu ditafsirkan sebagai penugasan Petrus menjadi "juru kunci gerbang surga" menentukan siapa orang diperkenankan masuk dan dibiarkan di luar tidak peka konteks. Malah tafsiran itu akan membuat warta Injil Matius kurang terasa.
Bisakah gagasan kunci Kerajaan Surga dipakai sebagai dasar bagi wibawa takhta apostolik Paus penerus Petrus? Tentu saja, asal dilandasi dengan pengertian di atas. Bukan dalam artian juru kunci gerbang ke arah keselamatan, membuka atau menutup akses ke surga, melainkan sebagai penangkal kekuatan-kekuatan alam maut. Pernyataan itu memuat penugasan melindungi umat, bukan pemberian kuasa menghakimi.
Hingga kini ketiga Injil Sinoptik memperkenalkan Yesus terutama lewat ajarannya, lewat penyembuhan yang dilakukannya, termasuk tindakan mengusir roh jahat, dan lewat peristiwa perbanyakan roti. Orang mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya dia itu dan bagaimana ia dapat mengerjakan semua itu. Semakin disadari bahwa dia lain dari orang-orang luar biasa lainnya. Siapakah dia sesungguhnya? Dalam Mat 16:13-19 yang dibacakan pada hari raya Petrus. Petrus menyuarakan kesadaran para murid bahwa Yesus itu Mesias, anak Allah yang hidup. Penegasan ini sebetulnya satu sisi saja dalam pewartaan mengenai siapa sebenarnya Yesus. Sisi yang lain menyangkut perjalanan ke arah penderitaan, wafat dan kebangkitan Yesus yang diungkapkan ketiga Injil Sinoptik langsung sesudah penegasan akan kemesiasan Yesus.
POKOK PEWARTAAN
Memang ada pelbagai perkiraan di masyarakat mengenai siapa Yesus itu. Dan di Kaisaria Filipi para murid diajak Yesus berbicara mengenai pelbagai pendapat mengenai dirinya. Sudah matang saatnya para murid dituntun mengenali siapa dia itu sebenarnya. Mereka telah mendengar ajarannya, telah melihat perbuatannya, dan menyaksikan kekuatannya. Kini tibalah waktunya memahami siapa dia itu.
Tentu saja mulai disadari bahwa Yesus yang mempesona dan diikuti banyak orang ini ialah dia yang resmi ditugasi Allah dan kedatangannya yang dinanti-nantikan banyak orang. Dialah Mesias yang diharapkan membangun kembali umat Allah seperti dahulu kala. Dialah yang bakal memimpin orang banyak makin mendekat kepada Allah sendiri. Di dalam kesadaran orang banyak, Mesias ini ialah keturunan Daud yang akan mengawali zaman adil dan damai. Dalam keagamaan Yahudi, gagasan Mesias seperti ini disatukan dengan pengertian "Anak Manusia", seperti terungkap dalam penglihatan Daniel (Dan 7:13). Gereja Awal juga percaya bahwa Yesus ialah tokoh ini.
Keyakinan di atas mau tak mau berhadapan dengan kenyataan bahwa Yesus akhirnya mengalami penderitaan, ditolak oleh para pemimpin masyarakat Yahudi yang sah ("tetua, imam kepala dan ahli Taurat" ialah tiga macam anggota di dalam Sanhedrin, badan resmi masyarakat Yahudi) sampai dibunuh. Namun demikian, nanti dengan pelbagai cara para murid Yesus juga mengalami kebangkitan Yesus pada hari ketiga. Dan pengalaman inilah yang membuat mereka percaya bahwa Yesus itulah sungguh Mesias.
Rumusan penegasan Petrus yang disampaikan secara sederhana tapi tegas dalam Mrk 8:29 "Engkaulah Mesias" mengungkapkan pokok kepercayaan yang tumbuh dalam Gereja Awal. Bukan tanpa arti bila dalam ketiga Injil Sinoptik pemberitahuan pertama mengenai penderitaan, wafat dan kebangkitan didahului dengan penegasan Petrus mengenai siapa sebenarnya Yesus itu. Penegasan ini kemudian dipertajam rumusannya oleh Matius dan Lukas dengan cara masing-masing. Menurut Mat 16:16, Petrus berkata, "Engkaulah Mesias, anak Allah yang hidup!" (Mat 16:16). Matius menambahkan "anak Allah yang hidup" untuk menggarisbawahi bahwa Allah-lah yang memilih Yesus sebagai pewarta kehadiranNya di dunia. Matius juga bermaksud menjelaskan bahwa Mesias yang dinanti-nantikan ini bukan pemimpin politik atau penguasa yang bakal membangun kembali kejayaan Israel dengan kekuatan militer. Maklum di kalangan Yahudi harapan akan Mesias politik ini amat kuat. Persoalan ini tidak amat terasa dalam lingkungan Lukas yang bukan berasal dari kalangan Yahudi. Mereka lebih berminat memahami apakah kuasa dan kekuatan Yesus itu memang berasal dari Allah sendiri. Karena itu ditandaskan dalam Luk 9:20 bahwa Mesias tadi "dari Allah". Maksudnya, Yesus datang dari Dia dan menunjukkan bahwa Allah sendiri bertindak dalam diri Yesus untuk membebaskan manusia dari kuasa-kuasa jahat, dari penyakit, dari kekersangan batin. Inilah yang membuat Yesus betul-betul menjadi Mesias bagi semua orang.
SIAPAKAH "ANAK MANUSIA" ITU?
Ketika Yesus menanyai murid-muridnya apa kata orang mengenai siapa "Anak Manusia" ada jawaban yang bermacam-macam. Ungkapan "Anak Manusia" dipakai merujuk pada diri Yesus. Dalam kesadaran orang Yahudi pada zaman Yesus, ada kaitan antara tokoh yang dinanti-nantikan datangnya sebagai Mesias dengan penglihatan dalam Dan 7:13 yang menggambarkan tokoh yang mirip manusia itu terlihat datang mengarah kepada Yang Mahakuasa dan mendapat kuasa di bumi dan di langit.
Dengan memakai ungkapan itu Yesus hendak memperkenalkan dirinya yang sesungguhnya. Ia tidak bertanya mengenai apa kata orang mengenai ajarannya, mengenai tindakannya, mengenai kelakuannya. Ia ingin mendengar bagaimana orang menerapkan siapa tokoh yang terarah kepada Yang Mahakuasa itu, siapa "Anak Manusia" tadi. Para murid diajak menengarai pelbagai pandangan yang ada mengenai dirinya: ia seperti Yohanes Pembaptis, tokoh spiritual yang masih segar dalam ingatan orang, juga bisa dibandingkan dengan Elia, seorang nabi besar yang diceritakan telah naik ke langit dan tentunya akan kembali diutus Allah mendatangi umat pada saat-saat mereka membutuhkan dampingan dan arahan, atau seperti nabi Yeremia yang dikenal tak jemu-jemunya memperingatkan umat dan para pemimpin agar tetap setia pada Allah di tengah penderitaan dan mengajarkan kerohanian yang sejati dan bukan praktek luar-luar saja.
BAGI KALIAN, SIAPA AKU INI?
Pendapat-pendapat itu tidak bisa dikatakan meleset. Walaupun demikian, ada pemahaman yang dapat lebih menolong. Yesus menanyai Petrus dengan ungkapan yang berbeda, "Tetapi apa katamu, siapakah aku ini?" Tidak lagi ditanyakan apa kata orang, melainkan apa katamu. Juga tidak lagi dipakai sebutan "Anak Manusia", melainkan "aku". Petrus kini tampil sebagai wakil para murid yang kemudian mempersaksikan Yesus Kristus dan meneruskan wartanya. Pertanyaan Yesus kepadanya bukan pertanyaan kepada individu Petrus saja. Setelah menanyai para murid, pada ay. 15 disebutkan Yesus bertanya kepada "mereka" - yakni para murid tadi. Terjemahan LAI "apa katamu" tidak amat jelas. Memang dalam bahasa Indonesia "-mu" bisa berarti tunggal bisa pula jamak. Teks asli dalam bahasa Yunani memakai kata "kalian" yang hanya bisa berarti jamak. Maka pertanyaan tadi jelas ditujukan kepada para murid, begitu juga menurut Injil Markus dan Lukas. Dalam situasi itulah Petrus tampil mewakili para murid. Oleh karena itu, tak usah ditafsirkan bahwa di sini ada imbauan untuk menumbuhkan jawaban iman yang digarap secara pribadi, bukan rumus-rumus yang siap pakai saja. Memang iman yang dewasa dan kuat juga semakin pribadi sifatnya. Tetapi tanya jawab dengan Petrus ini bukan ke sana arahnya.
Jawaban Petrus juga mencerminkan pemahaman para murid. Memang kemudian Matius secara khusus menyoroti Petrus. Setelah penegasan tadi, pada ay. 17, Matius menambahkan episode Yesus menyebut Petrus berbahagia karena pengetahuan tadi didapat bukan dari manusia melainkan dari Bapa di surga. Kemudian dalam dua ayat berikutnya Simon disebut Yesus sebagai batu karang dasar Gereja dibangun yang tak bakal terkalahkan oleh maut, ia juga disebut pemegang kunci surga (Mat 16:18-19). Tambahan ini tidak ada dalam Injil lain.
BATU KARANG DAN KUNCI
Batu karang jadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, Yunaninya "petra", ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu menghunjam. Dikatakan juga bahwa alam maut (Yunaninya "hades", Ibraninya "syeol") takkan bisa menguasainya, maksudnya takkan dapat mematikan kumpulan orang yang percaya tadi.
Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya ialah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tak tergoyah. Petrus digambarkan sebagai tempat Yesus mendirikan umat yang takkan terkuasai alam maut.
Gambaran di atas dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga! Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tak ada jalan ke surga bagi daya-daya maut. Apa yang dilepaskannya di bumi, yakni manusia yang bila dibiarkan sendirian akan menjadi mangsa lubang syeol menganga tadi. Tidak amat membantu bila kata-kata itu ditafsirkan sebagai penugasan Petrus menjadi "juru kunci gerbang surga" menentukan siapa orang diperkenankan masuk dan dibiarkan di luar tidak peka konteks. Malah tafsiran itu akan membuat warta Injil Matius kurang terasa.
Bisakah gagasan kunci Kerajaan Surga dipakai sebagai dasar bagi wibawa takhta apostolik Paus penerus Petrus? Tentu saja, asal dilandasi dengan pengertian di atas. Bukan dalam artian juru kunci gerbang ke arah keselamatan, membuka atau menutup akses ke surga, melainkan sebagai penangkal kekuatan-kekuatan alam maut. Pernyataan itu memuat penugasan melindungi umat, bukan pemberian kuasa menghakimi.
Bacaan Alkitab Minggu, 3 Mei 2009: 1Tesalonika 2 : 13 - 20
DI BALIK PERJUANGAN BERAT: “KAMULAH SUKACITA KAMI”
Betapa melegakan, betapa membahagiakan! Demikian ungkapan seorang ibu yang baru saja menyaksikan wisuda putranya yang bungsu. Peristiwa yang kelihatan biasa-biasa itu baginya luar biasa! Betapa tidak, dalam usia relatif muda, ia ditinggal suami dan harus berjuang mengasuh enam orang anak. Dengan gaji minim seorang guru ditambah dengan berbagai kerja “serabutan”, akhirnya perjuangan panjang itu berbuah! Semua anaknya yang menyadari betapa beratnya perjuangan sang ibu, berjuang sepenuh hati untuk menyelesaikan studi sebaik mungkin dan secepat mungkin. Bahkan, ada yang mulai bekerja sementara studi. Ketika ditanya apakah ibu yang mengagumkan ini pernah merasa nyaris putus asa (mandele), ia mengaku dengan jujur: Ya, tentu saja. Tetapi, dengan pertolongan Tuhan, tegasnya, itu tidak sampai menghentikan perjuangannya demi anak-anaknya. Sudah sepantasnyalah, ibu yang telah berjuang keras itu bersukacita dan bangga melihat hasil jerih lelahnya!
Serupa tapi tak sama, sungguh berat pergumulan yang dialami Paulus dalam misinya mewartakan Kabar Baik “sampai ke ujung bumi” (Kis 1.8). Beberapa kali ia menyebutkan bagaimana ia ditindas, habis akal, dianiaya, dihempas, dihajar, didera, dipenjara (2Kor 4.8-9; 6.4-10), pendeknya “nyaris mati”! Situasi ini juga yang dialaminya ketika ia tinggal di Tesalonika. Sebelumnya, ia dipenjara di Filipi karena hasutan beberapa orang yang meraup keuntungan besar dari hasil tenungan (Kis 16:13-18). Paulus barangkali tidak menyadari “pil pahit” yang harus ditelannya dengan mengusir roh tenung dari seorang perempuan!
Namun, ia bukan Paulus yang kita kenal jika menyerah begitu saja kepada kesulitan! Memang luar biasa, tampaknya ia tidak mengenal kata “jera”, persis seperti yang ditulisnya: “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa” (2Kor. 4:8). Jadi, sama sekali tidak mengherankan jika setelah dilepaskan dari penjara, ia langsung meneruskan kegiatan misinya, “seperti biasa”. Ya, seperti biasa seolah peristiwa yang masih segar itu tidak meninggalkan trauma apa-apa.
Di Tesalonika, seperti biasa, ia mulai dari sinagoge, tempatnya beribadah secara rutin sebagai orang Yahudi (Kis. 17:1-2). Ia bersaksi tentang Mesias yang menderita sampai mati, tetapi bangkit lagi membawa kehidupan! Beberapa orang sebangsanya menjadi percaya. Namun, yang paling banyak menyambut pewartaannya justru sejumlah besar orang Yunani dan perempuan-perempuan terkemuka. Orang-orang inilah yang menyambut pewartaan Paulus bukan sebagai perkataan manusia tetapi sungguh-sungguh sebagai firman Allah (1Tes. 2:13). Paulus berhasil meletakkan fondasi bagi berdirinya gereja Kristus di kota itu. Lagi-lagi, bukan tanpa perlawanan! Paulus dan Silas kembali menjadi korban hasutan. Oleh orang-orang sebangsanya yang iri hati, mereka difitnah sebagai sebagai pengacau yang tunduk kepada raja selain Kaisar di Roma (Kis. 17:6). Situasi yang kembali memanas memaksa Paulus dan Silas meninggalkan Tesalonika.
Perlawanan orang Yahudi terhadap pewartaan Injil oleh Paulus, seperti yang diungkapkan dalam surat pertama kepada jemaat Tesalonika, harus kita renungkan dengan hati-hati. Cukup ganjil juga, Paulus berbicara seolah-olah sebagai “orang luar”, seolah-olah ia tidak termasuk orang Yahudi. Bahasanya pun bukan main tajam. “Orang-orang Yahudi itu”, tegas Paulus, “telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya kami” (1Tes. 2:15). Mereka betul-betul digambarkan sebagai orang yang tak peduli pada apa yang dikehendaki Tuhan. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, mereka dicap sebagai orang yang memusuhi semua manusia! Pernyataan Paulus terkesan begitu keras: “Sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya!”
Kita perlu berhati-hati! Pernyataan seperti ini selama ribuan tahun telah menjadi karikatur gereja terhadap umat Yahudi. Dalam kitab-kitab Injil, potret negatif ini turut dilestarikan. Begitu pula, tulisan Bapa-bapa Gereja turut mengabadikannya. Yohanes Krisostomus, misalnya, mengecam orang Yahudi sebagai penipu, sinagogenya penuh setan dan lebih najis dari tempat pelacuran. Bahkan, Bapa Reformator kita Martin Luther tidak terlepas dari sikap anti-Yahudi! Dalam suatu polemik terhadap orang Yahudi, Luther mengecam mereka sebagai pembantai manusia. Ia bahkan menganjurkan agar sinagoge mereka dibumihanguskan, kitab-kitab suci mereka disita dan mereka diusir saja ke Palestina! Sungguh tragis, gambaran anti-Yahudi senegatif itu kelak berkembang menjadi kebijakan anti-Semitik di masa Hitler yang pada masa kecilnya pernah aktif dalam paduan suara di gereja. Seperti yang kita ketahui dari sejarah, lebih dari enam juta orang Yahudi dibantai oleh rezim Nazi di bawah pemerintahan Hitler.
Ya, kita harus membaca Alkitab dengan hati-hati. Paulus dalam surat pertama Tesalonika tidak menganjurkan agar orang Kristen membenci, apalagi membalas perbuatan saudara sebangsa Yesus! Benar, Paulus mengalami penghambatan dari saudara-saudara sebangsanya. Namun, seperti yang diungkapkannya kelak dalam surat Roma, “keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah supaya mereka diselamatkan” (Rm. 10:1)! Dapat dikatakan, keinginan dan doa Paulus sama bagi saudara sebangsanya dan orang-orang dari bangsa bangsa lain.
Fokus perhatian Paulus dalam teks yang menjadi bahan perenungan kita adalah pada hubungannya dengan orang Kristen Tesalonika. Sejarah misi sudah menunjukkan betapa sulitnya masa-masa permulaan itu umumnya bagi gereja-gereja muda. Wajar saja jika terdapat resistensi terhadap apa yang dianggap “asing” dan bisa mengancam tatanan yang sudah mapan. Itu berlaku baik bagi masyarakat Yahudi maupun yang bukan Yahudi. Paulus mengalami penolakan dari kalangan sebangsanya. Orang Kristen Tesalonika yang kebanyakan berasal dari kalangan bukan Yahudi juga mengalami hal yang serupa dari teman-teman sebangsanya (1Tes. 2:14).
Oleh karena situasi yang penuh tantangan itu, Paulus yang terpaksa meninggalkan Tesalonika sewajarnya merasa prihatin! Ia ingin tahu apa yang bakal terjadi dengan jemaat yang masih muda itu. Ia kemudian mengutus Timotius ke Tesalonika untuk mencari tahu tentang keadaan mereka dan sekaligus meneguhkan iman mereka (1Tes. 3:1-2). Demikianlah semestinya hati seorang gembala jemaat yang bagaikan bapa terhadap anak-anaknya (2:11). Kabar seperti apa yang dibawa Timotius ketika ia menemui Paulus di Korintus? Ternyata, kabar sukacita. Sungguh patut disyukuri, jemaat yang didirikannya dengan perjuangan berat tetap hidup dalam firman Tuhan! Tidak sia-sia kehadiran Paulus di antara mereka (2:1)! Kabar sukacita itulah yang mendorongnya untuk menyurati mereka. Tentu tak terbayangkan oleh Paulus, surat pertama yang ditulisnya sekitar tahun 50 akan dihimpun kelak sebagai bagian Perjanjian Baru dan dibaca sebagai firman Tuhan bagi generasi Kristen selanjutnya!
Sejarah misi di tanah Batak merupakan salah satu contoh tentang tantangan yang harus dihadapi gereja yang baru terbentuk. Tidak sedikit resistensi dari masyarakat Batak terhadap kehadiran orang-orang asing yang dijuluki sibontar mata, pembawa agama asing ke tanah Batak. Sejarah mencatat, penolakan itu bahkan telah menelan korban jiwa dari pihak para pewarta Injil, seperti yang terjadi pada Munson dan Lyman di Lobu Pining. Orang-orang Batak yang kemudian menjadi Kristen juga menghadapi hambatan dari saudara-saudara sebangsanya. Apa yang terjadi seandainya para perintis pewartaan Injil itu dipaksa kembali ke negeri asal mereka hanya beberapa bulan setelah mereka “berhasil” mendirikan gereja di tanah Batak? Apakah gereja yang baru seumur jagung itu segera lenyap? Mungkin saja. Tetapi, mungkin juga tidak! Jemaat di Tesalonika adalah contoh nyata. Tanpa dampingan Paulus, tokoh perintisnya, mereka tetap berdiri di atas dasar firman Tuhan, sungguh pun mereka menghadapi tantangan berat. Benih yang ditabur tetap tumbuh. Bukan penabur yang menentukan, tetapi Allah sendirilah yang memberi pertumbuhan (1Kor. 3:6).
Kita dapat belajar dari hubungan yang “sehat” antara tokoh Paulus dengan jemaat yang dirintisnya! Walaupun peran perintis seperti Paulus tentu saja penting dan patut dikenang, iman jemaat tidak tergantung padanya. Malah, Paulus dalam bagian lain surat pertama Tesalonika menyatakan betapa hatinya terhibur oleh anak-anak rohaninya yang ternyata tetap berdiri teguh tanpa dia (1Tes. 2:7). Tidak begitu banyak contoh-contoh seperti ini dalam sejarah misi. Kebanyakan, perintis yang notabene adalah orang asing tidak langsung memberdayakan orang Kristen setempat untuk mandiri. Bahkan, menurut almarhum Uskup Stephen Neill, kebanyakan memiliki mentalitas penjajah (colonial complex). Dalam penilaian mereka, orang Kristen setempat belum mampu berdikari. Iman mereka masih belum matang. Tunggu matang dulu, dan tidak jarang sampai “kematangan”, barulah diserahkan wewenang untuk mengelola sumber-sumber daya setempat.
Sampai sekarang pun, mentalitas seperti itu masih ada. Hampir semua tergantung pada pelayan gereja yang ditahbiskan. Pendeta atau mereka yang dipanggil “hamba Tuhan” memegang peran utama sampai ke urusan yang kecil-kecil. Jemaat merasa kurang “afdal” kalau bukan pelayan tahbisan yang berdoa. Dalam bentuk yang agak ekstrem, yang terjadi adalah kultus individu. Jika ketergantungan seperti ini yang membuat sang hamba Tuhan merasa sukacita, itu namanya salah kaprah! Begitu pula, tak perlu seorang hamba Tuhan merasa bersukacita, apalagi berbangga hati, hanya karena telah berhasil mengerahkan sumber-sumber daya dalam jemaat untuk membangun berbagai fasilitas fisik yang kasatmata. Kerja keras seperti itu bukan tak berguna dan dari sudut pandang manusia boleh-boleh saja disebut “prestasi”. Akan tetapi, jika kita belajar dari apa yang ditulis Paulus, harus dikatakan, “prestasi” demikian tidak dapat dijadikan dasar untuk bersukacita. Proyek-proyek “mercu suar” tidak akan diperhitungkan pada kedatangan Tuhan!
Yang seharusnya membuat seorang pelayan Tuhan bersukacita adalah ketika firman Tuhan yang ditabur sungguh-sungguh bertumbuh dan berbuah dalam kehidupan umat. Di rumah, dalam hidup bertetangga. Di tempat-tempat kerja. Dalam sepak terjang di masyarakat pada umumnya. Ya, dalam hidup sehari-hari di luar gereja! Kemuliaan seorang hamba Tuhan dan sukacitanya terletak pada firman yang bekerja dalam hidup umat. Ya, firman yang bekerja (energeomai, 2:13), yang energinya terwujud dalam hidup orang percaya secara nyata! Itulah iman yang teruji dalam segala situasi, termasuk dalam krisis dan berbagai kesulitan. Seperti doa dan harapan Paulus, iman demikianlah yang nyata dalam kasih yang melimpah-limpah kepada saudara-saudara seiman dan juga semua orang (1Tes. 2:13). Jika itu yang terjadi, segala jerih juang yang dilakukan barulah dapat dikatakan tidak sia-sia dan benar-benar membawa sukacita! Amin.
Betapa melegakan, betapa membahagiakan! Demikian ungkapan seorang ibu yang baru saja menyaksikan wisuda putranya yang bungsu. Peristiwa yang kelihatan biasa-biasa itu baginya luar biasa! Betapa tidak, dalam usia relatif muda, ia ditinggal suami dan harus berjuang mengasuh enam orang anak. Dengan gaji minim seorang guru ditambah dengan berbagai kerja “serabutan”, akhirnya perjuangan panjang itu berbuah! Semua anaknya yang menyadari betapa beratnya perjuangan sang ibu, berjuang sepenuh hati untuk menyelesaikan studi sebaik mungkin dan secepat mungkin. Bahkan, ada yang mulai bekerja sementara studi. Ketika ditanya apakah ibu yang mengagumkan ini pernah merasa nyaris putus asa (mandele), ia mengaku dengan jujur: Ya, tentu saja. Tetapi, dengan pertolongan Tuhan, tegasnya, itu tidak sampai menghentikan perjuangannya demi anak-anaknya. Sudah sepantasnyalah, ibu yang telah berjuang keras itu bersukacita dan bangga melihat hasil jerih lelahnya!
Serupa tapi tak sama, sungguh berat pergumulan yang dialami Paulus dalam misinya mewartakan Kabar Baik “sampai ke ujung bumi” (Kis 1.8). Beberapa kali ia menyebutkan bagaimana ia ditindas, habis akal, dianiaya, dihempas, dihajar, didera, dipenjara (2Kor 4.8-9; 6.4-10), pendeknya “nyaris mati”! Situasi ini juga yang dialaminya ketika ia tinggal di Tesalonika. Sebelumnya, ia dipenjara di Filipi karena hasutan beberapa orang yang meraup keuntungan besar dari hasil tenungan (Kis 16:13-18). Paulus barangkali tidak menyadari “pil pahit” yang harus ditelannya dengan mengusir roh tenung dari seorang perempuan!
Namun, ia bukan Paulus yang kita kenal jika menyerah begitu saja kepada kesulitan! Memang luar biasa, tampaknya ia tidak mengenal kata “jera”, persis seperti yang ditulisnya: “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa” (2Kor. 4:8). Jadi, sama sekali tidak mengherankan jika setelah dilepaskan dari penjara, ia langsung meneruskan kegiatan misinya, “seperti biasa”. Ya, seperti biasa seolah peristiwa yang masih segar itu tidak meninggalkan trauma apa-apa.
Di Tesalonika, seperti biasa, ia mulai dari sinagoge, tempatnya beribadah secara rutin sebagai orang Yahudi (Kis. 17:1-2). Ia bersaksi tentang Mesias yang menderita sampai mati, tetapi bangkit lagi membawa kehidupan! Beberapa orang sebangsanya menjadi percaya. Namun, yang paling banyak menyambut pewartaannya justru sejumlah besar orang Yunani dan perempuan-perempuan terkemuka. Orang-orang inilah yang menyambut pewartaan Paulus bukan sebagai perkataan manusia tetapi sungguh-sungguh sebagai firman Allah (1Tes. 2:13). Paulus berhasil meletakkan fondasi bagi berdirinya gereja Kristus di kota itu. Lagi-lagi, bukan tanpa perlawanan! Paulus dan Silas kembali menjadi korban hasutan. Oleh orang-orang sebangsanya yang iri hati, mereka difitnah sebagai sebagai pengacau yang tunduk kepada raja selain Kaisar di Roma (Kis. 17:6). Situasi yang kembali memanas memaksa Paulus dan Silas meninggalkan Tesalonika.
Perlawanan orang Yahudi terhadap pewartaan Injil oleh Paulus, seperti yang diungkapkan dalam surat pertama kepada jemaat Tesalonika, harus kita renungkan dengan hati-hati. Cukup ganjil juga, Paulus berbicara seolah-olah sebagai “orang luar”, seolah-olah ia tidak termasuk orang Yahudi. Bahasanya pun bukan main tajam. “Orang-orang Yahudi itu”, tegas Paulus, “telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya kami” (1Tes. 2:15). Mereka betul-betul digambarkan sebagai orang yang tak peduli pada apa yang dikehendaki Tuhan. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, mereka dicap sebagai orang yang memusuhi semua manusia! Pernyataan Paulus terkesan begitu keras: “Sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya!”
Kita perlu berhati-hati! Pernyataan seperti ini selama ribuan tahun telah menjadi karikatur gereja terhadap umat Yahudi. Dalam kitab-kitab Injil, potret negatif ini turut dilestarikan. Begitu pula, tulisan Bapa-bapa Gereja turut mengabadikannya. Yohanes Krisostomus, misalnya, mengecam orang Yahudi sebagai penipu, sinagogenya penuh setan dan lebih najis dari tempat pelacuran. Bahkan, Bapa Reformator kita Martin Luther tidak terlepas dari sikap anti-Yahudi! Dalam suatu polemik terhadap orang Yahudi, Luther mengecam mereka sebagai pembantai manusia. Ia bahkan menganjurkan agar sinagoge mereka dibumihanguskan, kitab-kitab suci mereka disita dan mereka diusir saja ke Palestina! Sungguh tragis, gambaran anti-Yahudi senegatif itu kelak berkembang menjadi kebijakan anti-Semitik di masa Hitler yang pada masa kecilnya pernah aktif dalam paduan suara di gereja. Seperti yang kita ketahui dari sejarah, lebih dari enam juta orang Yahudi dibantai oleh rezim Nazi di bawah pemerintahan Hitler.
Ya, kita harus membaca Alkitab dengan hati-hati. Paulus dalam surat pertama Tesalonika tidak menganjurkan agar orang Kristen membenci, apalagi membalas perbuatan saudara sebangsa Yesus! Benar, Paulus mengalami penghambatan dari saudara-saudara sebangsanya. Namun, seperti yang diungkapkannya kelak dalam surat Roma, “keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah supaya mereka diselamatkan” (Rm. 10:1)! Dapat dikatakan, keinginan dan doa Paulus sama bagi saudara sebangsanya dan orang-orang dari bangsa bangsa lain.
Fokus perhatian Paulus dalam teks yang menjadi bahan perenungan kita adalah pada hubungannya dengan orang Kristen Tesalonika. Sejarah misi sudah menunjukkan betapa sulitnya masa-masa permulaan itu umumnya bagi gereja-gereja muda. Wajar saja jika terdapat resistensi terhadap apa yang dianggap “asing” dan bisa mengancam tatanan yang sudah mapan. Itu berlaku baik bagi masyarakat Yahudi maupun yang bukan Yahudi. Paulus mengalami penolakan dari kalangan sebangsanya. Orang Kristen Tesalonika yang kebanyakan berasal dari kalangan bukan Yahudi juga mengalami hal yang serupa dari teman-teman sebangsanya (1Tes. 2:14).
Oleh karena situasi yang penuh tantangan itu, Paulus yang terpaksa meninggalkan Tesalonika sewajarnya merasa prihatin! Ia ingin tahu apa yang bakal terjadi dengan jemaat yang masih muda itu. Ia kemudian mengutus Timotius ke Tesalonika untuk mencari tahu tentang keadaan mereka dan sekaligus meneguhkan iman mereka (1Tes. 3:1-2). Demikianlah semestinya hati seorang gembala jemaat yang bagaikan bapa terhadap anak-anaknya (2:11). Kabar seperti apa yang dibawa Timotius ketika ia menemui Paulus di Korintus? Ternyata, kabar sukacita. Sungguh patut disyukuri, jemaat yang didirikannya dengan perjuangan berat tetap hidup dalam firman Tuhan! Tidak sia-sia kehadiran Paulus di antara mereka (2:1)! Kabar sukacita itulah yang mendorongnya untuk menyurati mereka. Tentu tak terbayangkan oleh Paulus, surat pertama yang ditulisnya sekitar tahun 50 akan dihimpun kelak sebagai bagian Perjanjian Baru dan dibaca sebagai firman Tuhan bagi generasi Kristen selanjutnya!
Sejarah misi di tanah Batak merupakan salah satu contoh tentang tantangan yang harus dihadapi gereja yang baru terbentuk. Tidak sedikit resistensi dari masyarakat Batak terhadap kehadiran orang-orang asing yang dijuluki sibontar mata, pembawa agama asing ke tanah Batak. Sejarah mencatat, penolakan itu bahkan telah menelan korban jiwa dari pihak para pewarta Injil, seperti yang terjadi pada Munson dan Lyman di Lobu Pining. Orang-orang Batak yang kemudian menjadi Kristen juga menghadapi hambatan dari saudara-saudara sebangsanya. Apa yang terjadi seandainya para perintis pewartaan Injil itu dipaksa kembali ke negeri asal mereka hanya beberapa bulan setelah mereka “berhasil” mendirikan gereja di tanah Batak? Apakah gereja yang baru seumur jagung itu segera lenyap? Mungkin saja. Tetapi, mungkin juga tidak! Jemaat di Tesalonika adalah contoh nyata. Tanpa dampingan Paulus, tokoh perintisnya, mereka tetap berdiri di atas dasar firman Tuhan, sungguh pun mereka menghadapi tantangan berat. Benih yang ditabur tetap tumbuh. Bukan penabur yang menentukan, tetapi Allah sendirilah yang memberi pertumbuhan (1Kor. 3:6).
Kita dapat belajar dari hubungan yang “sehat” antara tokoh Paulus dengan jemaat yang dirintisnya! Walaupun peran perintis seperti Paulus tentu saja penting dan patut dikenang, iman jemaat tidak tergantung padanya. Malah, Paulus dalam bagian lain surat pertama Tesalonika menyatakan betapa hatinya terhibur oleh anak-anak rohaninya yang ternyata tetap berdiri teguh tanpa dia (1Tes. 2:7). Tidak begitu banyak contoh-contoh seperti ini dalam sejarah misi. Kebanyakan, perintis yang notabene adalah orang asing tidak langsung memberdayakan orang Kristen setempat untuk mandiri. Bahkan, menurut almarhum Uskup Stephen Neill, kebanyakan memiliki mentalitas penjajah (colonial complex). Dalam penilaian mereka, orang Kristen setempat belum mampu berdikari. Iman mereka masih belum matang. Tunggu matang dulu, dan tidak jarang sampai “kematangan”, barulah diserahkan wewenang untuk mengelola sumber-sumber daya setempat.
Sampai sekarang pun, mentalitas seperti itu masih ada. Hampir semua tergantung pada pelayan gereja yang ditahbiskan. Pendeta atau mereka yang dipanggil “hamba Tuhan” memegang peran utama sampai ke urusan yang kecil-kecil. Jemaat merasa kurang “afdal” kalau bukan pelayan tahbisan yang berdoa. Dalam bentuk yang agak ekstrem, yang terjadi adalah kultus individu. Jika ketergantungan seperti ini yang membuat sang hamba Tuhan merasa sukacita, itu namanya salah kaprah! Begitu pula, tak perlu seorang hamba Tuhan merasa bersukacita, apalagi berbangga hati, hanya karena telah berhasil mengerahkan sumber-sumber daya dalam jemaat untuk membangun berbagai fasilitas fisik yang kasatmata. Kerja keras seperti itu bukan tak berguna dan dari sudut pandang manusia boleh-boleh saja disebut “prestasi”. Akan tetapi, jika kita belajar dari apa yang ditulis Paulus, harus dikatakan, “prestasi” demikian tidak dapat dijadikan dasar untuk bersukacita. Proyek-proyek “mercu suar” tidak akan diperhitungkan pada kedatangan Tuhan!
Yang seharusnya membuat seorang pelayan Tuhan bersukacita adalah ketika firman Tuhan yang ditabur sungguh-sungguh bertumbuh dan berbuah dalam kehidupan umat. Di rumah, dalam hidup bertetangga. Di tempat-tempat kerja. Dalam sepak terjang di masyarakat pada umumnya. Ya, dalam hidup sehari-hari di luar gereja! Kemuliaan seorang hamba Tuhan dan sukacitanya terletak pada firman yang bekerja dalam hidup umat. Ya, firman yang bekerja (energeomai, 2:13), yang energinya terwujud dalam hidup orang percaya secara nyata! Itulah iman yang teruji dalam segala situasi, termasuk dalam krisis dan berbagai kesulitan. Seperti doa dan harapan Paulus, iman demikianlah yang nyata dalam kasih yang melimpah-limpah kepada saudara-saudara seiman dan juga semua orang (1Tes. 2:13). Jika itu yang terjadi, segala jerih juang yang dilakukan barulah dapat dikatakan tidak sia-sia dan benar-benar membawa sukacita! Amin.
Jumat, 24 April 2009
Renungan: ”KEBAHAGIAAN DALAM KEBERSAMAAN” ( Mazmur 33 : 12 )
”KEBAHAGIAAN DALAM KEBERSAMAAN”
( Mazmur 33 : 12 )
Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!
Apakah kebahagiaan itu?
Kebahagiaan ialah suatu keadaan perasaan aman damai serta gembira. Dengan kata lain, kebahagiaan melebihi perasaan kegembiraan. Umumnya, kegembiraan berhubungan dengan suatu kejadian atau pencapaian yang khusus, sedangkan kebahagiaan berhubungan dengan keadaan yang lebih umum seperti kesenangan hidup atau kehidupan berumah tangga. Bagaimanapun, kedua perasaan ini sangat berkaitan dan subjektif.
Kebahagiaan seseorang tidak dapat diukur atau digambarkan, dan berubah-ubah mengikuti situasi dan kondisi. Orang yang kelihatan bahagia belum tentu berbahagia, dan orang yang kelihatan tidak bahagia belum tentu tidak berbahagia. Hanya orang itu sendiri yang tahu dan merasakan apakah dia bahagia atau tidak.
Pengertian kebahagiaan berbeda-beda antara seorang dengan yang lain. Ada yang merasa bahagia kalau dia mendapat makanan, pakaian dan kediaman yang paling sederhana, terhindar daripada penyakit, kelaparan, dan perang. Sebaliknya, ada orang merasa tidak bahagia meskipun hidupnya dalam keadaan yang aman, mewah, sehat, dan senang. Ada orang merasa tidak bahagia sekalipun, walaupun dia mempunyai kuasa, status, dan kekayaan.
Umumnya seseorang akan merasa gembira jika apa yang dihayati dan diingininya dapat diperoleh dan dinikmati. Dengan kata lain, kegembiraan dan kebahagiaan sangat berkaitan dengan harapan. Ini dapat menerangkan mengapa seseorang yang hanya mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.50.000,- merasa lebih gembira dibandingkan dengan seseorang yang mendapatkan kenaikan gaji sebanyak Rp.100.000,- Keadaan ini bisa terjadi apabila orang yang mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.50.000,- hanya berharap dia akan mendapatkan Rp.30.00,- sedangkan orang yang mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.100.000,- merasa kecewa karena dia mengharapkan naik pangkat dan kenaikan gaji sebanyak sekurang-kurangnya Rp.200.000,- Contoh ini juga dapat menerangkan mengapa seseorang yang hanya mendapat gaji sebanyak Rp.1.500.000,- sebulan merasa lebih bahagia, dibandingkan dengan orang yang mendapat gaji sebanyak Rp.15.000.000,- sebulan.
Namun demikian, jangan kita lupa bahwa emosi dan perasaan bahagia manusia adalah bersifat fana dan sementara. Kebahagiaan tidak pernah dan tidak akan kekal abadi karena dalam kenyataan hidup, adalah mustahil sama sekali bagi siapa saja untuk memperoleh dan menikmati apa yang dia ingini. Tambahan pula, keinginan dan hawa nafsu manusia sentiasa berubah-ubah, malahan bertentangan dengan dirinya sendiri.
Semakin kita tidak merasa bahagia, semakin kuat pula perasaan kecewa, sedih, dan tidak puas hati menekan diri kita. Perasaan kecewa, sedih, dan tidak puas hati akan mendorong manusia memperjuangkan dan menggila-gilakan kebahagiaan. Akibatnya, mereka akan tergila-gila dalam mencari-cari kebahagiaan. Umpamanya, dalam cita-cita menikmati kebahagian berkat dari uang, seorang pemuda sanggup menyamun atau membunuh, dan seorang wanita mungkin sanggup menjual kehormatannya.
Memang benar, manusia mengalami kekecewaan, ketegangan hidup, serta ketidakpuasan jauh lebih daripada menikmati kebahagiaan dan kepuasan. Tetapi kalau kita sadar bahwa kebahagiaan terletak pada hidup, dan hidup itu ialah kebahagiaan, maka sudah tentu kita akan merasa bahagia selama-lamanya. Kebahagiaan tetap dapat dicari, dialami dan dirasai, jika kita puas dengan keadaan hidup yang ada pada kita (manghasabamhon aha na adong). Tegasnya, kita akan hidup penuh bahagia jika kita berpuas hati dengan keberadaan kita, sambil itu berencana memperbaiki keberadaan kita. Perbuatan memperoleh kebahagiaan dengan mengakibatkan kerugian atau kesengsaraan orang lain akan dikutuki oleh Tuhan dan masyarakat.
Apakah Rahasia Kebahagiaan?
1. Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.
2. Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.
3. Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.
4. Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin kita menunjukkan seberapa banyak kita tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan kita. Mengapa bebek disebut “bodoh”? Karena terlalu banyak bercuap-cuap.
5. Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati: memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar kita. Sebab, setiap ciptaan adalah milik kita. Kita semua adalah ciptaan TUHAN yang satu.
6. Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.
7. Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila kita menganggap mereka penting, kita akan memiliki sahabat ke manapun kita pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.
8. Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati kita terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.
9. Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara! yang tidak prinsipil.
Kesimpulan
Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurahhatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya.
Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri “Aku bebas dalam diriku”.
Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup kita dengan kebahagiaan.
Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka sebagaimana mereka adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu?
( Mazmur 33 : 12 )
Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!
Apakah kebahagiaan itu?
Kebahagiaan ialah suatu keadaan perasaan aman damai serta gembira. Dengan kata lain, kebahagiaan melebihi perasaan kegembiraan. Umumnya, kegembiraan berhubungan dengan suatu kejadian atau pencapaian yang khusus, sedangkan kebahagiaan berhubungan dengan keadaan yang lebih umum seperti kesenangan hidup atau kehidupan berumah tangga. Bagaimanapun, kedua perasaan ini sangat berkaitan dan subjektif.
Kebahagiaan seseorang tidak dapat diukur atau digambarkan, dan berubah-ubah mengikuti situasi dan kondisi. Orang yang kelihatan bahagia belum tentu berbahagia, dan orang yang kelihatan tidak bahagia belum tentu tidak berbahagia. Hanya orang itu sendiri yang tahu dan merasakan apakah dia bahagia atau tidak.
Pengertian kebahagiaan berbeda-beda antara seorang dengan yang lain. Ada yang merasa bahagia kalau dia mendapat makanan, pakaian dan kediaman yang paling sederhana, terhindar daripada penyakit, kelaparan, dan perang. Sebaliknya, ada orang merasa tidak bahagia meskipun hidupnya dalam keadaan yang aman, mewah, sehat, dan senang. Ada orang merasa tidak bahagia sekalipun, walaupun dia mempunyai kuasa, status, dan kekayaan.
Umumnya seseorang akan merasa gembira jika apa yang dihayati dan diingininya dapat diperoleh dan dinikmati. Dengan kata lain, kegembiraan dan kebahagiaan sangat berkaitan dengan harapan. Ini dapat menerangkan mengapa seseorang yang hanya mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.50.000,- merasa lebih gembira dibandingkan dengan seseorang yang mendapatkan kenaikan gaji sebanyak Rp.100.000,- Keadaan ini bisa terjadi apabila orang yang mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.50.000,- hanya berharap dia akan mendapatkan Rp.30.00,- sedangkan orang yang mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.100.000,- merasa kecewa karena dia mengharapkan naik pangkat dan kenaikan gaji sebanyak sekurang-kurangnya Rp.200.000,- Contoh ini juga dapat menerangkan mengapa seseorang yang hanya mendapat gaji sebanyak Rp.1.500.000,- sebulan merasa lebih bahagia, dibandingkan dengan orang yang mendapat gaji sebanyak Rp.15.000.000,- sebulan.
Namun demikian, jangan kita lupa bahwa emosi dan perasaan bahagia manusia adalah bersifat fana dan sementara. Kebahagiaan tidak pernah dan tidak akan kekal abadi karena dalam kenyataan hidup, adalah mustahil sama sekali bagi siapa saja untuk memperoleh dan menikmati apa yang dia ingini. Tambahan pula, keinginan dan hawa nafsu manusia sentiasa berubah-ubah, malahan bertentangan dengan dirinya sendiri.
Semakin kita tidak merasa bahagia, semakin kuat pula perasaan kecewa, sedih, dan tidak puas hati menekan diri kita. Perasaan kecewa, sedih, dan tidak puas hati akan mendorong manusia memperjuangkan dan menggila-gilakan kebahagiaan. Akibatnya, mereka akan tergila-gila dalam mencari-cari kebahagiaan. Umpamanya, dalam cita-cita menikmati kebahagian berkat dari uang, seorang pemuda sanggup menyamun atau membunuh, dan seorang wanita mungkin sanggup menjual kehormatannya.
Memang benar, manusia mengalami kekecewaan, ketegangan hidup, serta ketidakpuasan jauh lebih daripada menikmati kebahagiaan dan kepuasan. Tetapi kalau kita sadar bahwa kebahagiaan terletak pada hidup, dan hidup itu ialah kebahagiaan, maka sudah tentu kita akan merasa bahagia selama-lamanya. Kebahagiaan tetap dapat dicari, dialami dan dirasai, jika kita puas dengan keadaan hidup yang ada pada kita (manghasabamhon aha na adong). Tegasnya, kita akan hidup penuh bahagia jika kita berpuas hati dengan keberadaan kita, sambil itu berencana memperbaiki keberadaan kita. Perbuatan memperoleh kebahagiaan dengan mengakibatkan kerugian atau kesengsaraan orang lain akan dikutuki oleh Tuhan dan masyarakat.
Apakah Rahasia Kebahagiaan?
1. Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.
2. Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.
3. Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.
4. Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin kita menunjukkan seberapa banyak kita tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan kita. Mengapa bebek disebut “bodoh”? Karena terlalu banyak bercuap-cuap.
5. Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati: memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar kita. Sebab, setiap ciptaan adalah milik kita. Kita semua adalah ciptaan TUHAN yang satu.
6. Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.
7. Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila kita menganggap mereka penting, kita akan memiliki sahabat ke manapun kita pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.
8. Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati kita terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.
9. Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara! yang tidak prinsipil.
Kesimpulan
Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurahhatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya.
Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri “Aku bebas dalam diriku”.
Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup kita dengan kebahagiaan.
Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka sebagaimana mereka adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu?
Bacaan Alkitab Minggu 26 April 2009: 1 Petrus 5 : 1 – 5
GEMBALAKANLAH KAWANAN DOMBA ALLAH
1. Seorang ahli Biblika Perjanjian Baru, Warren W. Wiersbe, menyimpulkan isi surat 1 Petrus ini dengan perkataan ‘be hopeful’, yang artinya berpengharapan penuh. Kesimpulan ini tentu merujuk kepada situasi historis yang dihadapi oleh gereja perdana atau orang Kristen pada waktu itu, yakni penderitaan. Hal ini tentu merujuk kepada sejarah gereja perdana (gereja mula-mula), di mana orang Kristen (gereja) mengalami penghambatan dari kekaisaran Romawi. Oleh karena itu dapat dibayangkan bahwa orang Kristen pada waktu itu sangat menderita di bawah tekanan pemerintah Romawi. Orang Kristen menderita karena statusnya sebagai Kristen. Namun penderitaan itu adalah bagian dari pergumulan iman sebagaimana Kristus rela menderita.
2. Itu sebabnya, tujuan penulisan surat ini juga berhubungan erat dengan situasi historis yang dihadapi jemaat pada waktu itu. Tujuannya ialah hendak menghibur dan menguatkan orang Kristen agar senantiasa bertahan menghadapi penderitaan. Merujuk kepada penekanan surat 1 Petrus ini, Willi Marxsen berkata: Penderitaan adalah kehormatan sejauh orang menanggungnya sebagai orang Kristen dan bukan sebagai penjahat (4:12-19). Sebagai sebuah kehormatan maka orang Kristen harus bersyukur jika Tuhan masih menginzinkan kita menderita sebagai upaya kita ikut bagian dalam penderitaan Kristus. Tidak ada mahkota tanpa salib. Salib adalah simbol penderitaan bukan kemenangan. Pernyataan-pernyataan serupa ini hendaknya senantiasa mengisi khasanah hidup setiap orang Kristen. Jangan pernah bermimpi untuk memperoleh kemenangan tanpa perjuangan; dan … tiada hidup tanpa tantangan. Melarikan diri dari tantangan bukanlah solusi terbaik, namun hadapilah tantangan sebagai pejuang-pejuang Kristus.
3. Perikop 1 Petrus 5 : 1 – 5 juga harus dilihat dalam konteks penghiburan itu. Mudah dipahami betapa pentingnya upaya memperjelas komitmen pelayanan ketika tantangan dan pergumulan datang menghadang. Bukan hanya di situ, seorang pelayan dituntut menjadi teladan, termasuk dalam ketegaran menghadapi tantangan itu. Itu sebabnya, para ahli PB mengatakan bahwa perikop ini adalah tentang ‘how to be a good shepherd’ (bagaimana menjadi seorang gembala yang baik). Gembala yang baik adalah gembala yang senantiasa tegar dalam tugas panggilannya meskipun di tengah berbagai pergumulan. Selanjutnya ditegaskan ‘times of persecution demand that God’s people have adequate spiritual leadership’ (ketika penganiayaan datang menghadang maka umat Allah dituntut memiliki pemimpin spiritual sejati). Pemimpin sejati ini akan menjadi soko guru, sumber inspirasi dan semangat perjuangan. Dalam hal ini keteladanan dituntut dan ditunggu dari seorang pemimpin.
4. Menyingkap isi perikop ini, satu pertanyaan pembuka perlu didengungkan: What are the personal qualities that make for a successful pastor? Pertanyaan ini hendak memberi penegasan akan personal qualities (kualitas personal) yang harus dimiliki oleh seorang gembala yang baik. Dalam perikop ini ada tiga kualitas personal yang harus dimiliki oleh seorang gembala yang baik, yaitu:
a. A vital personal experience with Christ (memiliki pengalaman pribadi yang vital bersama Kristus, 5:1). Pengalaman vital atau unik ini tentu merupakan barometer kualitas iman. Itu sebabnya dalam ayat 1 ini Yohanes memperkenalkan diri bukan sebagai rasul tetapi sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Pernyataan ini menunjukkan betapa dalamnya hubungan personal Yohanes dengan Yesus. Tentu dalam proses kebersamaan ini Yohanes menemukan pendidikan pendewasaan iman hingga layak menjadi teladan. Itu sebabnya Yohanes rindu berbagi pengalaman (sharing) dengan jemaat perdana yang tengah dalam proses pembentukan identitas dan pencitraan diri sebagai Kristen sejati.
b. A loving concern for God’s sheep (keperdulian dalam kasih terhadap domba Allah, 5:2-3). Keperdulian atas dasar kasih ini tentu memampukan setiap gembala memiliki loyalitas dan dedikasi yang tinggi terhadap tugas panggilannya. Dia akan senantiasa melayani dengan tulus dan suka cita, tidak sekali-kali karena terpaksa. Dengan segala ketulusan ini maka terciptalah motivasi yang murni hanya untuk mengabdi kepada Alah, bukan karena mau mencari keuntungan. Pendangkalan akan motif pelayanan terjadi ketika pelayan tidak lagi hidup dalam kasih yang tulus.
c. A desire to please Christ alone (keinginan untuk hanya menyenangkan Kristus, 5:4). Gembala yang baik ialah gembala yang rela berkorban demi tugas yang diemban. Dia hanya bekerja untuk tugas dan panggilannya. Itu berarti, dia hanya melayani tuan yang memberikan tugas tersebut. Tujuannya hanya satu yakni menyenangkan hati tuannya. Demikianlah juga setiap gembala harus menyenangkan Kristus bukan manusia.
5. Perikop ini juga dilengkapi dengan himbauan kepada orang-orang muda agar menumbuh-kembangkan dalam dirinya sikap tunduk kepada orang-orang yang tua. Apa yang hendak kita lihat di sini? Ada upaya untuk menata hidup jemaat dalam bingkai kerendahan hati. Jika setiap gembala jemaat melayani dengan rendah hati maka orang-orang muda juga dituntut merespons pelayanan itu dengan rendah hati. Dengan kerendahan hati ini maka kerjasama dan saling mengisi akan tercipta. Bila hal ini terwujud maka hanya nama Tuhanlah yang dimuliakan.
6. Nas ini akan menjadi dasar persekutuan kita dalam Minggu Miserikordias Domini. Apa yang hendak kita lihat di sana ? Miserikordias Domini artinya nyanyikanlah belas kasihan Tuhan. Penekanan utama di sini adalah mengenai belas kasihan Tuhan dan perbuatanNya yang baik kepada kita. Belas kasihan itu sendiri bukanlah karena perbuatan manusia. Lalu dihubungkan dengan nas kita, yang hendak ditegaskan ialah belas kasihan Tuhan yang diwujud-nyatakan dalam campur tanganNya memimpin dan membimbing hidup kita. Tentu kemepimpinan dan bimbingan Tuhan itu akan direalisasikan dalam tugas para hambaNya. Yesus adalah gembala yang baik (Yoh. 10). Tindak lanjutnya, para gembala jemaat juga harus menjadi gembala yang baik. Biarlah dengan penggembalaan yang baik, setiap orang semakin merasakan belas kasihan Tuhan.
7. Gembala yang baik harus rela menderita. Sejenak berenung dari kisah perjalanan Dietrich Boenhoefer. Dia berkata The Cost of Discipleship. Betapa mahalnya mengikut Yesus. Seorang pengikut Yesus harus rela menderita. Itu sebabnya dia berkata lagi Follow Jesus and… die. Barangsiapa yang hendak mengikut Yesus dia harus rela sampai mengorbankan nyawanya sekalipun. Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan komitmen, kebulatan tekad dan kekuatan yang hanya dari Tuhan.
8. Dalam pola hidup demikianlah para pelayan dituntut menjadi gembala dalam tugas pelayanannya. Merujuk kepada nas kita, ada tiga kualitas personal yang harus dia miliki, yakni :
a. Harus memiliki pengalaman yang unik dan vital akan persekutuannya dengan Tuhan. Pengalaman unik yang dimaksud di sini adalah hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan.
b. Harus memiliki keperdulian yang tinggi atas dasar kasih.
c. Harus memiliki komitmen untuk hanya menyenangkan Tuhan.
9. Siapakah gembala itu? Gembala bukan hanya pelayan tahbisan (pelayan penuh waktu). Gembala adalah semua orang yang telah menjadi bagian dari persekutuan dalam Gereja sebagai tubuh Kristus. Oleh karena itu, nas ini juga hendak berbicara kepada kita semua. Melalui nas ini Gereja sebagai suatu persekutuan orang kudus diajak berbenah ini untuk semakin meningkatkan intensitas pelayanannya. Hal ini menuntut jemaat yang semakin misioner.
1. Seorang ahli Biblika Perjanjian Baru, Warren W. Wiersbe, menyimpulkan isi surat 1 Petrus ini dengan perkataan ‘be hopeful’, yang artinya berpengharapan penuh. Kesimpulan ini tentu merujuk kepada situasi historis yang dihadapi oleh gereja perdana atau orang Kristen pada waktu itu, yakni penderitaan. Hal ini tentu merujuk kepada sejarah gereja perdana (gereja mula-mula), di mana orang Kristen (gereja) mengalami penghambatan dari kekaisaran Romawi. Oleh karena itu dapat dibayangkan bahwa orang Kristen pada waktu itu sangat menderita di bawah tekanan pemerintah Romawi. Orang Kristen menderita karena statusnya sebagai Kristen. Namun penderitaan itu adalah bagian dari pergumulan iman sebagaimana Kristus rela menderita.
2. Itu sebabnya, tujuan penulisan surat ini juga berhubungan erat dengan situasi historis yang dihadapi jemaat pada waktu itu. Tujuannya ialah hendak menghibur dan menguatkan orang Kristen agar senantiasa bertahan menghadapi penderitaan. Merujuk kepada penekanan surat 1 Petrus ini, Willi Marxsen berkata: Penderitaan adalah kehormatan sejauh orang menanggungnya sebagai orang Kristen dan bukan sebagai penjahat (4:12-19). Sebagai sebuah kehormatan maka orang Kristen harus bersyukur jika Tuhan masih menginzinkan kita menderita sebagai upaya kita ikut bagian dalam penderitaan Kristus. Tidak ada mahkota tanpa salib. Salib adalah simbol penderitaan bukan kemenangan. Pernyataan-pernyataan serupa ini hendaknya senantiasa mengisi khasanah hidup setiap orang Kristen. Jangan pernah bermimpi untuk memperoleh kemenangan tanpa perjuangan; dan … tiada hidup tanpa tantangan. Melarikan diri dari tantangan bukanlah solusi terbaik, namun hadapilah tantangan sebagai pejuang-pejuang Kristus.
3. Perikop 1 Petrus 5 : 1 – 5 juga harus dilihat dalam konteks penghiburan itu. Mudah dipahami betapa pentingnya upaya memperjelas komitmen pelayanan ketika tantangan dan pergumulan datang menghadang. Bukan hanya di situ, seorang pelayan dituntut menjadi teladan, termasuk dalam ketegaran menghadapi tantangan itu. Itu sebabnya, para ahli PB mengatakan bahwa perikop ini adalah tentang ‘how to be a good shepherd’ (bagaimana menjadi seorang gembala yang baik). Gembala yang baik adalah gembala yang senantiasa tegar dalam tugas panggilannya meskipun di tengah berbagai pergumulan. Selanjutnya ditegaskan ‘times of persecution demand that God’s people have adequate spiritual leadership’ (ketika penganiayaan datang menghadang maka umat Allah dituntut memiliki pemimpin spiritual sejati). Pemimpin sejati ini akan menjadi soko guru, sumber inspirasi dan semangat perjuangan. Dalam hal ini keteladanan dituntut dan ditunggu dari seorang pemimpin.
4. Menyingkap isi perikop ini, satu pertanyaan pembuka perlu didengungkan: What are the personal qualities that make for a successful pastor? Pertanyaan ini hendak memberi penegasan akan personal qualities (kualitas personal) yang harus dimiliki oleh seorang gembala yang baik. Dalam perikop ini ada tiga kualitas personal yang harus dimiliki oleh seorang gembala yang baik, yaitu:
a. A vital personal experience with Christ (memiliki pengalaman pribadi yang vital bersama Kristus, 5:1). Pengalaman vital atau unik ini tentu merupakan barometer kualitas iman. Itu sebabnya dalam ayat 1 ini Yohanes memperkenalkan diri bukan sebagai rasul tetapi sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Pernyataan ini menunjukkan betapa dalamnya hubungan personal Yohanes dengan Yesus. Tentu dalam proses kebersamaan ini Yohanes menemukan pendidikan pendewasaan iman hingga layak menjadi teladan. Itu sebabnya Yohanes rindu berbagi pengalaman (sharing) dengan jemaat perdana yang tengah dalam proses pembentukan identitas dan pencitraan diri sebagai Kristen sejati.
b. A loving concern for God’s sheep (keperdulian dalam kasih terhadap domba Allah, 5:2-3). Keperdulian atas dasar kasih ini tentu memampukan setiap gembala memiliki loyalitas dan dedikasi yang tinggi terhadap tugas panggilannya. Dia akan senantiasa melayani dengan tulus dan suka cita, tidak sekali-kali karena terpaksa. Dengan segala ketulusan ini maka terciptalah motivasi yang murni hanya untuk mengabdi kepada Alah, bukan karena mau mencari keuntungan. Pendangkalan akan motif pelayanan terjadi ketika pelayan tidak lagi hidup dalam kasih yang tulus.
c. A desire to please Christ alone (keinginan untuk hanya menyenangkan Kristus, 5:4). Gembala yang baik ialah gembala yang rela berkorban demi tugas yang diemban. Dia hanya bekerja untuk tugas dan panggilannya. Itu berarti, dia hanya melayani tuan yang memberikan tugas tersebut. Tujuannya hanya satu yakni menyenangkan hati tuannya. Demikianlah juga setiap gembala harus menyenangkan Kristus bukan manusia.
5. Perikop ini juga dilengkapi dengan himbauan kepada orang-orang muda agar menumbuh-kembangkan dalam dirinya sikap tunduk kepada orang-orang yang tua. Apa yang hendak kita lihat di sini? Ada upaya untuk menata hidup jemaat dalam bingkai kerendahan hati. Jika setiap gembala jemaat melayani dengan rendah hati maka orang-orang muda juga dituntut merespons pelayanan itu dengan rendah hati. Dengan kerendahan hati ini maka kerjasama dan saling mengisi akan tercipta. Bila hal ini terwujud maka hanya nama Tuhanlah yang dimuliakan.
6. Nas ini akan menjadi dasar persekutuan kita dalam Minggu Miserikordias Domini. Apa yang hendak kita lihat di sana ? Miserikordias Domini artinya nyanyikanlah belas kasihan Tuhan. Penekanan utama di sini adalah mengenai belas kasihan Tuhan dan perbuatanNya yang baik kepada kita. Belas kasihan itu sendiri bukanlah karena perbuatan manusia. Lalu dihubungkan dengan nas kita, yang hendak ditegaskan ialah belas kasihan Tuhan yang diwujud-nyatakan dalam campur tanganNya memimpin dan membimbing hidup kita. Tentu kemepimpinan dan bimbingan Tuhan itu akan direalisasikan dalam tugas para hambaNya. Yesus adalah gembala yang baik (Yoh. 10). Tindak lanjutnya, para gembala jemaat juga harus menjadi gembala yang baik. Biarlah dengan penggembalaan yang baik, setiap orang semakin merasakan belas kasihan Tuhan.
7. Gembala yang baik harus rela menderita. Sejenak berenung dari kisah perjalanan Dietrich Boenhoefer. Dia berkata The Cost of Discipleship. Betapa mahalnya mengikut Yesus. Seorang pengikut Yesus harus rela menderita. Itu sebabnya dia berkata lagi Follow Jesus and… die. Barangsiapa yang hendak mengikut Yesus dia harus rela sampai mengorbankan nyawanya sekalipun. Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan komitmen, kebulatan tekad dan kekuatan yang hanya dari Tuhan.
8. Dalam pola hidup demikianlah para pelayan dituntut menjadi gembala dalam tugas pelayanannya. Merujuk kepada nas kita, ada tiga kualitas personal yang harus dia miliki, yakni :
a. Harus memiliki pengalaman yang unik dan vital akan persekutuannya dengan Tuhan. Pengalaman unik yang dimaksud di sini adalah hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan.
b. Harus memiliki keperdulian yang tinggi atas dasar kasih.
c. Harus memiliki komitmen untuk hanya menyenangkan Tuhan.
9. Siapakah gembala itu? Gembala bukan hanya pelayan tahbisan (pelayan penuh waktu). Gembala adalah semua orang yang telah menjadi bagian dari persekutuan dalam Gereja sebagai tubuh Kristus. Oleh karena itu, nas ini juga hendak berbicara kepada kita semua. Melalui nas ini Gereja sebagai suatu persekutuan orang kudus diajak berbenah ini untuk semakin meningkatkan intensitas pelayanannya. Hal ini menuntut jemaat yang semakin misioner.
Langganan:
Postingan (Atom)