Jumat, 19 Juni 2009

RENUNGAN: 2 Timotius 4 : 1-8

“It Is Not The End” (2 Timotius 4 : 1-8)

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”

PENDAHULUAN

Dalam rangka mengakhiri tugas Kepengurusan Persekutuan Naposobulung GKPA Penjernihan tahun 2006-2008 dan pemilihan pengurus baru periode 2008-2010, maka kita akan membahas tema: It Is Not The End. Sebenarnya dengan tema ini secara sederhana kita sudah memahami dan mengerti apa arti dan tujuan tema ini bahwa tugas kepengurusan bisa saja berakhir, namun bukan berarti tugas pelayanan kita di PNGKPA Penjernihan juga ikut berakhir, melainkan tugas pelayanan kita itu akan terus berlangsung dengan bentuk yang lain pula. Artinya PNGKPA Penjernihan memulai babak baru dalam pelayanan di gereja GKPA Penjernihan.

I. ARTI DAN MAKNA PELAYANAN
“Siapakah yang senang kalau harus melayani orang lain?” ujar Plato. Rupanya Plato lebih jujur daripada kita. Sebab sering kali kita berkata bahwa kita mau melayani orang lain, namun dalam prakteknya kita bersikap: Eh, enaknya nyuruh-nyuruh, memangnya aku jongos dia?
Dalam gereja orang juga senang berbicara tentang pelayanan. Begitu sering orang menggunakan kata melayani sehingga artinya menjadi kabur. Seorang pemuda mendapat tugas dari gereja, lalu ketika bendahara mau mengganti ongkos jalan, pemuda itu menjawab, “Tak usah, ini pelayanan.” Di sini pelayanan berarti melakukan sesuatu secara sukarela. Ketika sebuah gereja di Sumba meminta bantuan dana untuk pembangunan gedung, orang mengangguk dan berkata, “Ya, kita perlu melayani mereka.” Di sini pelayanan berarti memberi sumbangan. Minggu depan yang akan melayani permandian kudus adalah Pdt.Poltak. Di sini pelayanan berarti melakukan atau memimpin.
Kata melayani digunakan oleh Perjanjian Baru juga dalam banyak arti. Ada empat macam kata yang digunakan dalam bahasa aslinya, yaitu diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo.
Diakoneo berarti menyediakan makanan di meja untuk majikan. Orang yang melakukannya disebut diakonos dan pekerjaannya disebut diakonia (Lih. Luk.17:8). Namun dalam Lukas 22:26-27, Yesus memberi arti yang baru bagi diakoneo, yaitu melayani orang yang justru lebih rendah kedudukannya dari kita. Dalam 1Petrus 4:10 kata diakoneo berarti menggunakan karisma yang ada pada kita untuk kepentingan dan kebaikan orang lain. Rasul Paulus menganggap pekerjaannya sebagai suatu diakonia dan dirinya sebagai diakonos bagi Kristus (2Kor.11:23) dan bagi umat (Kol.1:25).
Douleo adalah menghamba yang dilakukan oleh seorang doulos (budak). Paulus memakai kata itu untuk menggambarkan bahwa kita yang semula menghamba kepada pelbagai kuasa jahat, dibebaskan oleh Kristus supaya kita bisa menghamba kepada Kristus (Gal.4:1-11). Suatu hal yang kontras dan tajam diperlihatkan di Filipi 2:5-7, yaitu bahwa Yesus yang walaupun mempunyai rupa Allah namun telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang doulos.
Leitourgeo berarti bekerja untuk kepentingan rakyat atau kepentingan umum. Orang yang berbuat itu disebut leitourgos dan pekerjaan luhur itu disebut leitourgia. Kata itu juga dapat berarti melakukan upacara dan ibadah kepada para dewa. Dari situ kita menggunakan kata liturgi untuk kata ibadah.
Latreuo berarti bekerja untuk mendapat latron yaitu gaji atau upah. Latreuo ini berarti memberikan persembahan kepada Tuhan. Penggunaan yang mencolok terdapat dalam Roma 12:1 di mana Paulus berpesan supaya kita mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan sebagai logike latreia, artinya persembahan yang pantas.
Pelbagai kata ini digunakan oleh gereja abad pertama dengan arti melayani, mengabdi atau menghamba kepada Tuhan dan kepada orang lain. Apa sebabnya kita didorong untuk melayani Tuhan dan orang lain? Dasarnya adalah karena Yesus sendiri sudah melayani kita. Seluruh hidup dan Yesus selama 33 tahun ditandai oleh jiwa melayani. Tujuan hidup-Nya bukanlah untuk mendapatkan pelayanan, melainkan untuk memberikan pelayanan. Isi hidup-Nya bukan dilayani, melainkan melayani. Alkitab tidak menggambarkan Yesus sebagai Tuhan yang berjaya atau berkuasa, melainkan sebagai Tuhan yang melayani dan menghamba, Yesus adalah diakonos (pelayan), bahkan doulos (budak).
Dengan demikian secara sederhana dapat dikatakan bahwa PNGKPA Penjernihan ini terpanggil untuk tugas pelayanan diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo; dipanggil untuk melayani, mengabdi atau menghamba kepada Tuhan dan kepada orang lain, secara umum untuk GKPA Penjernihan dan khususnya untuk PNGKPA Penjernihan.

II. PENUHILAH TUGAS PANGGILAN PELAYANANMU
Kehidupan Kristen dimulai dari kesadaran akan panggilan Tuhan karena Yesus mengatakan bukan kamu yang memilih Aku tetapi Aku yang memilih kamu. Berarti dari mulanya Allah memilih kita. Setelah Allah memilih kita, maka Allah menguduskan kita dan memanggil kita. Setelah kita dipanggil, maka Allah memperlengkapi hidup kita dengan memberikan kuasa, wibawa dan pengalaman-pengalaman rohani agar kita mampu bersaksi bagi Kristus.

Bagaimana kita menyadari dan menanggapi tugas panggilan itu?

1. Kristus Yesus yang akan menjadi hakim (ay.1).
Pelayanan kita bukan untuk menyenangkan manusia, bukan untuk mencari muka. Banyak orang ketika dipuji, maka pelayanannya makin baik, tetapi ketika dia dikritik, pelayanannya makin mundur. Kalau kita menyadari bahwa Yesus yang menjadi hakim dalam pelayanan kita, maka pelayanan kita harus benar di hadapan Allah. Jadi yang menjadi hakim dalam pelayanan kita bukan manusia, bukan rekan sepelayanan kita, bukan keluarga kita melainkan Kristus sendiri yang menjadi hakim. Karena itu pikirkanlah dan kerjakanlah apa yang menyenangkan hati Tuhan.
2. Senantiasa memberitakan Firman (ay.2).
Memberitakan Firman tidak identik dengan menjadi ‘pendeta’, ‘sintua’, ‘penginjil’, dll. Memberitakan firman adalah perkara yang mudah. Kita memberitakan Firman lewat nasihat-nasihat, tegoran, menyatakan apa yang salah, melawan ajaran yang sesat, lewat perilaku, sikap, prinsip hidup kita. Sehingga kita menjadi surat Kristus yang terbuka yang bisa dibaca oleh setiap orang di sekitar kita.

3. Kuasailah diri dalam segala hal (ay.5).
Menguasai diri berarti sadar dalam segala hal, sabar menderita, tunaikan tugas pelayanan. Jangan memakai penderitaan sebagai alat untuk bersikap kasar kepada orang lain. Namun melalui penderitaan kita terus menunaikan tugas pelayanan.

4. Kesiapan untuk berkorban (ay.6).
Dalam pelayanan banyak yang harus kita korbankan. Kadangkala bukan darah yang tertumpah tapi harga diri, sifat-sifat kedagingan kita yang harus kita tanggalkan. Tanpa pengorbanan dalam pelayanan tiada kemuliaan. Karena itu kita harus berani berkorban demi Kristus dalam pelayanan kita.

5. Bertahan sampai akhir (7-8).
Banyak orang yang semangat dalam awal pelayanannya, namun semakin lama semakin redup dan lenyap. Seorang pelayan harus memiliki semangat yang bertahan sampai akhirnya. Agar kita mampu bertahan hingga akhirnya maka kita harus membangun integritas diri kita. Inilah cerita terbesar tentang integritas. Ketika rasul Paulus berbicara tentang kematian, dia berbicara tentang reputasi yang diinginkannya. Paulus membuat 3 pernyataan yang luar biasa. Pertama: “Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik“ (“I fought a good fight”). Aku berjuang sebagai pejuang yang baik. Kita harus berjuang untuk setiap yang kita lakukan. Kita tidak boleh membiarkan diri kita dirusak oleh hal-hal yang kotor dan najis yang ingin menghancurkan kita. Kita harus berjuang untuk integritas kita. Kita harus berjuang untuk kejujuran kita. Kita harus berjuang untuk kesuksesan kita. Janganlah kita dikenal orang sebagai pejuang yang tidak baik/jahat. Bangun reputasimu sebagai pejuang yang baik. Kedua, “Aku telah mencapai garis akhir” (“I finished the task”). Aku berjuang sampai selesai. Bila kita diberikan tugas, kerjakan sampai tuntas, jangan setengah-setengah. Kerjakan sampai tuntas. Pernyataan ketiga, “Aku telah memelihara iman” (“I Kept the Faith”). Ini pernyataan penting, menjaga iman kita. Selalu jaga imanmu. Jaga imanmu dalam pergaulanmu, jaga imanmu pekerjaanmu, jaga imanmu di dalam keluargamu. Berdirilah pada nilai-nilai imanmu.
III. BAHAYA DALAM PELAYANAN PEMUDA GEREJA

Jika kita telah mengetahui apa arti pelayanan dan menyadari tugas panggilan itu, maka berhati-hatilah agar kita tidak jatuh dalam bahaya pelayanan pemuda Gereja. Saudara pernah dengar tidak yang namanya bahaya pelayanan pemuda Gereja. Apakah sebenarnya bahaya-bahaya dalam pelayanan kita itu?

1. Tidak memiliki visi yang jelas. Salah satu kesalahan terbesar di pelayanan adalah: tidak tahu visi. Banyak yang tidak tahu visinya dan cuma mengalir aja. Apakah itu visi? (1) Visi adalah sesuatu yang ingin dicapai masa mendatang. Yang ingin dicapai itu adalah kualitas, jumlah, ukuran keberhasilan. (2) Visi merupakan sesuatu kesadaran luas tentang: di mana kita sekarang, kemana kita hendak pergi, gambaran pencapaian pelayanan di masa depan. (3) Visi merupakan gambaran mental dari: apa yang sudah lampau, apa yang sekarang (kurang baik), apa yang akan datang (lebih baik). (4) Visi mempunyai daya dorong untuk: membantu mewujud-nyatakan, mengatasi berbagai kesulitan, berbuat lebih baik. Contoh visi pemuda: “Menjadi mitra Kristus dalam pelayanan Gereja”

2. Tidak memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Karena pemuda/i gereja adalah orang-orang yang sibuk kerja di kantor, kuliah dan lain sebagainya dan ditambah lagi tugas pelayanan di gereja, maka sering kali mereka jatuh dalam bahaya tidak memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Jangan heran, kalau tidak hati-hati, bisa-bisa pelayanan pemuda gereja itu kolaps. Keliatannya rohani banget, sibuk buat pekerjaan Tuhan, tapi sebenarnya dalamnya kosong, kering kerontang, karena tidak punya waktu buat duduk diam di kaki Tuhan. Pelayanannya cuma program belaka, cuma kejar target, cuma karena disuruh sama pengurus, strictly business… Tidak heran kalau rata-rata keluhan mereka di Senin pagi adalah “Kenapa ya gue kok rasanya capeeee banget waktu bangun pagi???” Itu karena mereka tidak punya “api” lagi di hati mereka. Api mereka sudah padam karena mereka tidak pernah menyalakan api bakaran di pagi hari, membakar korban persembahan bagi Tuhan secara teratur setiap pagi dengan cara saat teduh, berdoa, bernyanyi memuji menyembah Tuhan dengan tenang.

3. Melayani karena “terpaksa”. Sebagai akibat dari main tarik sana-sini, banyak orang yang diserahi tugas atau jabatan pada tempat yang salah. Misalnya “terpaksa” jadi ketua NHKBP cuma karena tidak ada orang lain lagi yang bersedia atau “dipaksa” jadi pengurus agar mau masuk NHKBP. Jika kita melayani karena “terpaksa” maka hati-hati jangan-jangan nanti juga Tuhan pun memberi berkat kepadamu karena “terpaksa” juga. Oleh karena itu layanilah Tuhan dan sesamamu dengan hati yang rela dan tulus iklas agar Tuhan memberimu kemampuan yang luar biasa.

4. Intrik cinta. Yang namanya kegiatan atau pelayanan pemuda, pasti ada benih-benih cinta yang ditabur atau tertabur. Wajar sih, naman ya juga anak muda. Tidak salah kalau selama pelayanan itu ada yang jadian atau pacaran. Tapi tidak semua yang pacaran itu akan menikah. Pasti pasangan yang jadian sampai menikah persentasenya lebih sedikit dibanding yang pasangan yang putus. Mungkin karena memang tidak cocok, mungkin karena selingkuh, mungkin karena sakit hati, dll. Apapun alasannya, yang namanya putus cinta itu pasti sakit. Tidak jarang karena intrik cinta dalam pemuda gereja ini sering menjadi pemicu hancur dan rusaknya pelayanan di dalam organisasi pemuda. Apalagi jika yang menjadi pelaku itu adalah salah seorang dari pengurus NHKBP, masalahnya lebih rumit lagi. Karena itu, berhati-hatilah menjalin cinta di dalam pelayanan. Jangan karena cinta, pelayanan rusak. Tetapi karena cinta jadikanlah pelayananmu semakin baik dan maju.

IV. PENUTUP

Pada malam ini, bagi Pengurus PNGKPA Penjernihan periode 2006-2008 akan mengakhiri pertandingan dan pelayanannya. Apakah arti mengakhiri tugas pelayanan ini? Pertama, biarlah Kristus yang menjadi hakim dalam seluruh tugas yang telah kita lakukan selama periode ini. Artinya setiap pekerjaan yang baik dan benar di mata Tuhan akan menjadi berkat bagi NHKBP Kernolong dan seluruh warga jemaat. Karena itu jika ada hal-hal yang tidak baik selama periode ini jangan hakimi dirimu, jangan hakimi orang lain, sebab hanya Yesus yang menjadi hakim dalam tugas pelayananmu. Kedua, kuasailah dirimu. Ketika banyak kritikan dan ocehan yang diterima selama ini baik dari teman dan pihak gereja jangan ditanggapi dengan emosi, jangan mengendorkan semangat pelayanan, jangan mengakhiri tugas pelayanannya dari NHKBP Kernolong alias meninggalkannya tetapi harus tetap di NHKBP untuk memberikan dukungan bagi pengurus yang baru nantinya. Ketiga, bersiaplah berkorban. Berkorban untuk memperbaiki pelayanan NHKBP Kernolong ini untuk semakin maju dan berkembang. Keempat, bertahanlah sampai akhir. Artinya jangan berhenti sampai di sini. Jangan berhenti berpartisipasi, memberikan dukungan doa dan dana bagi NHKBP Kernolong ini. It is not the end.
Bangunlah reputasi integritasmu mulai sekarang. Tujuan kita adalah melayani orang lain, bukanlah membebani orang lain. Biarlah di akhir nanti kita semua dapat berkata, “Aku sudah berjuang sebagai pejuang yang baik, Aku sudah menyelesaikan tugasku dan Aku sudah menjaga imanku.”


Ramli SN Harahap
Jl.Pengariaran No.16A
Bendungan Hilir, 10210
Jakarta Pusat
HP. 0813 848 808 26
Email: ramlyharahap@yahoo.com
http://ramlyharahap.blogspot.com

Bacaan Minggu 28 Juni 2009: 2Petrus 3 : 3 - 10

KEDATANGAN KRISTUS KALI KEDUA

Seiring dengan perkembangan gereja pada abad pertama, para pengajar sesat pun tetap berupaya untuk mempengaruhi anggota jemaat. Dengan kata lain, ada semacam pertandingan dan perseteruan antara para pembela ajaran Kristus yang benar dengan pengajar-pengajar palsu yang sesat. Anehnya, sering terjadi justru ajaran sesat itu lebih menarik perhatian sebab para penganjurnya berupaya mengemas ajarannya dengan metode yang lebih menarik.
Salah satu persoalan penting yang menjadi pokok perdebatan pada waktu itu adalah tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Sebenarnya, bukan hanya pada surat 2 Petrus tema ini menjadi persoalan penting, sudah terjadi jauh sebelumnya. Pada surat kiriman kepada Korintus pun masalah ini sudah muncul.
Pengajaran tentang kedatangan Kristus mempengaruhi sikap dan moral jemaat. Jemaat mula-mula percaya Kristus akan datang segera dan sebagian dari antara mereka masih akan melihat kedatangan-Nya kedua kali itu (bnd. 1Tes.1:11; 2Tes. 2:1-4). Tetapi berhubung sampai masa 2 Petrus ini Kristus belum juga datang, banyak dari anggota jemaat yang kecewa. Para pengajar sesat mempergunakan peluang itu untuk memengaruhi mereka. Mereka mengatakan bahwa Kristus tidak akan datang sebagaimana telah dijanjikan-Nya. Mereka tidak perlu menyianyiakan waktu dan pikiran untuk mengingat-ingat kedatangan Kristus. Itu merupakan pekerjaan sia-sia. Lebih baik mempergunakan waktu dan kesempatan yang ada untuk menikmati hidup, melakukan apa saja yang disukai seseorang. Akibatnya perbuatan yang tidak sesuai dengan moralitas kekiristenan menjadi semakin berkembang.
Para pengajar sesat itu mengejek orang-orang Kristen tentang penundaan kedatangan Yesus Kristus. Penundaan kedatangan Kristus menjadi dasar bagi pengajar sesat menyerang ajaran rasul-rasul. Berhubung masih banyak anggota jemaat yang masih muda (baru masuk menjadi anggota jemaat), mereka mudah terpengaruh dengan ajaran sesat itu. Oleh sebab itu banyak orang yang murtad, meninggalkan ajaran yang benar itu dan kembali kepada kepercayaan lama, bahkan sebagian dari antara mereka menjadi penganut synkritisme (bnd. Ibr 6:1-8).
Melalui surat ini penulis hendak mengingatkan jemaat bahwa Kristus pasti akan datang. Penundaaan kedatangan-Nya itu bukan urusan manusia tetapi sesuai dengan rencana Allah. Manusia tidak akan pernah mampu menetapkan kedatangan Yesus kedua kalinya. Keterlambatan itu justru menjadi bukti kasih Allah akan manusia yang tidak menghendaki manusia binasa. Dengan keterlambatan itu berarti masih ada waktu atau kesempatan untuk bertobat. Allah tidak pernah mengingkari apa yang Dia janjikan. Dia selalu setia dan menggenapnya.
Pengajaran kedatangan Kristus segera tidak perlu dipahami secara harfiah. “Kata segera” bukan berarti besok. Jika keyakinan tentang kedatangan-Nya yang segera akan terjadi berkembang di dalam jemaat mula-mula, bisa saja ajaran itu sengaja dikembangkan oleh para pengajar sesat pula. Sebab sekalipun pada awalnya Paulus mengatakan “maranatha, datanglah ya Tuhan” (1Kor.16:22) tetapi itu dalam konteks menginggatkan anggota jemaat agar tetap berja-jaga, berdoa dan tetap melakuka pekerjaan kasih. Paulus tidak pernah mengatakan kepada anggota jemaat supaya mereka meninggalkan pekerjaan yang baik karena Kristus akan datang segera (bnd. 2Tes.3:1-12). Yesus pun tidak pernah menjanjikan hari yang tepat dari kedatangan-Nya itu. Menjawab pertanyaan para murid-Nya tentang kedatangan-Nya, Dia menjawab tidak seorang pun yang mengetahui, bahkan Dia sendiri pun tidak mengetahui, hanya Bapa di surga yang mengetahuinya (Mat.24:36; Why. 1:6-7).
Menurut pengajar sesat tidak ada yang berubah di bumi sejak masa nenek moyang. Segala sesuatu itu tetap seperti semula. Dengan alasan itu, mereka mengatakan bahwa penantian kedatangan Kristus itu merupakan kesia-siaan saja. Untuk melawan ajaran sesat itu, maka penulis surat Petrus kedua ini membuka mata anggota jemaat untuk mengerti dengan baik kebenaran ajaran para rasul. Apakah betul tidak ada yang berubah seperti ditudukan para pengajar sesat itu? Tuduhan seperti itu tidak beralasan, sebab sejak penciptaan banyak yang berubah. Tidak ada yang kekal di muka bumi ini, semua berubah dan berkembang. Langit dan bumi (yang berada di bawah langit) terbentuk dari air samudera raya (Kej.1:2). Dunia yang tercipta itu terjadi oleh air. Artinya, air sangat penting untuk berdirinya dunia ini dengan menyoroti dua segi yakni: air merupakan asal usul baik untuk terbentuknya dunia maupun untuk kelanjutannya kemudian. Tetapi bumi yang tercipta demikian itu menjadi binasa ketika digenangi air pada masa Nuh (Kej.7:21). Seluruh dunia turut hanyut akibat keampuhan air itu.
Dengan penjelasan itu, Petrus mau menyapa anggota jemaat agar memahami dan mempercayai perbuatan kasih Tuhan kepada umat manusia dengan menyelamatkan Nuh beserta anak-anaknya. Sebenarnya, jika Tuhan tidak menunjukkan anugerah-Nya, Dia bisa saja menghancurkan semuanya termasuk Nuh sehingga tidak ada lagi generasi manusia berikutnya. Jadi jika para pengajar sesat itu mengatakan tidak ada yang berubah, peristiwa air bah itu pun sudah merupakan perubahan.
Sesudah dunia lama binasa, maka terbitlah suatu dunia ciptaan baru yang tetap terdiri atas langit dan bumi seperti dunia lama dan dunia mendatang. Manusia sekarang hidup dalam dunia sementara yang dipelihara oleh Allah, tetapi dunia yang sedang berjalan menuju kepada suatu kebinasaan lagi. Dunia yang sekarang akan terbakar oleh api, dan berkaitan dengan itu maka orang-orang yang tidak beriman juga akan binasa. Tetapi semua kejadian itu bukan merupakan hukum alam, Allah yang maha kuasa Pencipta langit dan bumi yang telah melakukannnya. Rencana dan kehendak Tuhan yang harus terjadi bukan suatu proses hukum alam. Dunia dan segala sesuatu di alam semesta itu berada pada sejarah keselamatan yang dirancang oleh Allah. Maka tidak ada suatu kejadian apa pun di luar pengetahuan Allah. Bumi, alam semesta, manusia dan semua makhluk harus hidup pada sejarah keselamatan Allah, tidak mungkin keluar dari garis ketentuan itu.
Berlandaskan Mazmur 90:4 penulis surat Petrus ini menambahkan argumentasi teologis tentang pokok yang dipersoalkan tadi. Menurut rasul ini, Allah tidak pernah dibatasi oleh waktu sebab Dia sendirilah yang menciptakan waktu. Jangka waktu yang dipahami manusia berbeda dengan jangka waktu Tuhan. Oleh sebab itu, sekalipun terjadi penundaan kedatangan Kristus kedua-kalinya, bagi Allah waktu itu hanya singkat saja. Bagi Tuhan, satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama satu hari. Artinya, batas-batas waktu yang berlaku bagi manusia tidak berlaku bagi Tuhan.
Bisa saja Tuhan menyudahi segala-galanya dengan cepat. Namun, Allah tidak melakukannya sebab Tuhan menghendaki keselamatan semua orang (bnd 1Tim. 2:4). Allah tidak lalai dalam penundaan kedatangan Kristus itu, tetapi justru hal itu menunjuk kepada kesabaran-Nya. Allah menunggu umat-Nya yang sudah berbalik itu untuk bertobat sebelum masa pengampunan itu berlalu. Para pengajar sesat itu pun harus bertobat dan kembali ke jalan Tuhan. Semakin lama Allah bersabar maka semakin besar pula kesempatan serta peluang bagi orang-orang berdosa kembali ke jalan yang benar. Penundaan kedatangan-Nya itu merupakan bukti kasih dan kemurahan Allah bagi manusia.
Penundaan kedatangan-Nya yang menjadi wujud kepeduliaan-Nya kepada umat manusia seharusnya ditanggapi dengan positip, yakni agar tetap waspada dan berdoa. Hari Tuhan pasti akan terjadi, tetapi sebagaimana dikatakan di atas hanya Allah sendiri yang tahu. Kalau hari Tuhan itu sudah terjadi, peluang dan kesempatan itu sudah berlalu. Manusia tidak mungkin lagi menyelamatkan dirinya. Dengan memakai gambaran yang terdapat dalam PL, kembali penulis mengingatkan jemaat agar sungguh-sungguh bertobat. Orang-orang Kristen tidak boleh terbawa arus pemikiran pengajar sesat itu. Benar, Tuhan belum datang kedua kalinya, tetapi tidak berarti bahwa Tuhan sama sekali sudah lupa sehingga Dia tidak akan datang lagi. Tuhan “pasti” akan datang. Kedatangan-Nya seperti pencuri pada malam hari, tiba-tiba dan tidak pernah diberitahukan sebelumnya. Orang-orang Kristen tidak perlu menghitung-hitung hari kedatangan-Nya itu, siapa pun tidak mungkin melakukannya. Perbedaan orang-orang Kristen beriman dari “yang lainnya” adalah orang-orang Kristen senantiasa siap menghadapi kedatangan Tuhan, kapanpun dan bagaimanapun caranya. Orang-beriman akan senantiasa siap menghadapi panggilan dan kedatangan Tuhan, dan tetap konsisten berjanji melakukan yang terbaik di dalam hidupnya.
Sepanjang masa, gereja menghadapi para pengajar sesat yang berupaya menaklukkan jemaat dan membawa mereka keluar dari gereja. Sering terjadi cara dan metode para pengajar sesat itu lebih menarik dari cara gereja yang sudah mapan (gereja mainstream). Hedonisme, materialisme, libertinisme, synkritisme, dan sebagainya semakin berkembang dan mudah mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat modern. Semakin banyak manusia yang tidak takut terhadap hukuman Tuhan. Mereka mengatakan, hukuman Tuhan itu hanya peringatan isapan jempol yang menakut-nakuti manusia. Katanya, hukuman itu tidak perlu dihiraukan. Sebaliknya mereka mengajak manusia untuk menikmati kehidupan dunia modern ini sesuka hati masing, hidup berfoya-foya sebab kesempatan hidup tidak akan datang dua kali. Mereka tidak mau perduli kepada ajaran surga dan neraka, sebab bagi mereka surga itu adalah kenikmatan saja.
Kita melihat betapa banyak orang yang terjebak dengan ajaran sesat ini. Banyak dari antara umat manusia (termasuk anggota gereja) yang sudah terperangkap dalam jerat kenikmatan sesaat antara lain: ketergantungan kepada obat-obat terlarang, seks bebas, dan sebagainya. Banyak dari antara mereka yang sudah terperangkap dan terjerumus ke dalam lumpur dosa itu kemudian hari menyesal, tetapi penyesalannya sudah terlambat. Kita bisa membaca di dalam media semakin banyak orang yang mengidap penyakit HIV/AIDs, penyakit yang tidak mungkin diobati. Anehnya, penyakit yang sudah mendunia ini semakin meraja lela dan tidak ditakuti oleh banyak orang, lupa kepada akibat yang ditimbulkannya. Mata manusia telah gelap oleh kenikmatan sesaat itu.
Nas ini mengingatkan manusia (kita) tentang kedatangan Tuhan. Makna kedatangan Tuhan bagi kita bukan hanya menyangkut hari kiamat yang kita tidak tahu kapan akan terjadi tetapi juga berkaitan dengan kedatangan-Nya untuk memanggil kita dari dunia ini menghadap Allah Bapa di surga. Kapan dia memanggil seseorang tidak ada yang tahu. Oleh sebab itu, sebagai orang beriman kita harus berjaga-jaga, mempergunakan waktu yang diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya melakukan yang baik dan berguna untuk sesama dan dunia. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa keselamatan kekal telah dikerjakan Kristus untuk kita dan telah dianugerahkan-Nya. Namun, Iblis tidak akan pernah berhenti menggoda kita agar menanggalkan mahkota keselamatan itu. Maka, berjaga-jagalah, waspadalah, dan tetap berdoa. Tuhan memberkati kita semua.



Pdt.Dr.Jamilin Sirait

Bacaan Minggu 21 Juni 2009: Mazmur 107 : 33 - 43

SIKECIL YANG INDAH

Para ahli berpendapat bahwa Mazmur ini adalah mengenai kembalinya bangsa Israel dari pembuangan Babel. Sementara itu orang bijak mengatakan bahwa Mazmur ini adalah renungan tentang nasib kehidupan Israel yang dikembalikan Tuhan.
Orang yang dalam pembuangan atau pengungsian pasti mengalami berbagai penderitaan karena adanya tekanan dan penindasan dari penguasa. Juga karena adanya kekurangan pangan dan kemiskinan. Karena berbagai penyakit dan gangguan kejiwaan atau stress. Namun demikian, kesadaran umat Tuhan, sekembalinya ke Tanah Perjanjian tidak lupa untuk mengucapkan syukur. Ucapan syukur itu disampaikan karena pertolongan Tuhan, khusunya karena telah terlepas dari penderitaan selama pembuangan, dan juga karena mendapat bimbingan dalam perjalanan. Mereka juga bersyukur karena diizinkan Tuhan menduduki kembali Tanah Perjanjian.
Sayang sekali ketika mereka masuk ke negeri Perjanjian itu mereka mendapati penduduk asli yang jahat, sehingga Tuhan telah menghukum mereka dengan membuat sungai-sungai menjadi padang gurun, tanah subur menjadi padang asin, dan pancaran- pancaran air menjadi tanah gersang. Tetapi masuknya kembali bangsa Israel, Tuhan berkehendak untuk mengubah kondisi Tanah Perjanjian itu menjadi tanah yang elok. Kita tahu bahwa Tanah Perjanjian adalah bagian dari rencana Tuhan bagi umat-Nya. Umat Tuhan itu memang harus bekerja keras untuk mengubah nasib mereka. Alam yang mereka hadapi adalah alam liar yang tandus dan gersang. Oleh karenanya mereka berusaha untuk menjadikannya tanah yang subur agar dapat menghasilkan. Padang belantara mereka ciptakan menjadi kota yang dapat didiami dengan nyaman. Orang-orang lapar mereka perhatikan untuk dapat menikmati kehidupan yang layak. Tanah yang telah menjadi subur mereka jadikan kebun anggur. Tanah gersang menjadi padang rumput bagi ternak mereka, sehingga hewan peliharaan mereka semakin bertambah banyak. Pertambahan penduduk pun semakin pesat. Bangsa Israel adalah bangsa yang kecil jumlahnya bila disbanding dengan bangsa lain di sekitarnya. Oleh sebab itu dalam pemandangan Tuhan bangsa itu disebut orang sebagai Si Kecil Yang Indah. Itulah berkat Tuhan atas iman mereka. Namun demikian tidak semua orang Israel merasa puas dengan keadaan mereka saat itu. Orang-orang yang kurang iman membuat ulah dengan menimbulkan kerusuhan. Para pemimpin mereka hinakan sehingga kehilangan muka. Banyak yang melarikan diri dan tersesat di jalan (ay.40). Mereka juga menimbulkan pemberontakan sehingga banyak yang mati. Banyak pula yang kelaparan dan menderita sakit atas ulah mereka sendiri. Datang pula hukuman Tuhan dengan krisis ekonomi. Akhirnya mereka insyaf bahwa penderitaan yang mereka alami adalah cara Tuhan menegur mereka, maka mereka kembali kepada Tuhan dan Tuhan memberi hikmat atas mereka. Lalu mereka berpegang pada kebenaran Tuhan. Tuhan juga memperhatikan mereka dengan segala kemurahan-Nya.
Apakah kita pernah merasakan teguran Tuhan? Bagaimanakah respon kita terhadap teguran itu?
Memang respon kita bisa bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa teguran Tuhan memang merupakan rencana Tuhan untuk mendisiplinkan umat-Nya, agar insyaf bahwa Tuhan dengan tindakan-Nya itu menaruh belas kasihan. Orang yang rela menerima teguran Tuhan dan menyadari bahwa atas kesalahannya itu Tuhan menghukumnya. Bila hukuman itu diterima secara iman, maka pastilah Tuhan akan mengembalikan dia ke jalan kebenaran, sehingga ia hidup di jalan Tuhan. Tetapi bagi mereka yang tidak mengakui teguran Tuhan sebagai tindakan disiplin, tidak akan pernah merasakan belas kasih Tuhan yang nyata (Ibr.12:8). Yang harus kita renungkan adalah bahwa tindakan Tuhan dalam mendisiplinkan kita selalu mengambil dasar atas kesalahan atau dosa kita. Bagaikan seorang ayah yang menghajar anaknya agar menjadi penurut dan tidak berbuat kesalahan lagi. Tetapi ada juga maksud Tuhan yang lain, bahwa tindakan disiplin itu tidak didasarkan atas kesalahan melainkan atas dasar upaya mendidik kita menuju kepada iman yang kuat. Oleh karenanya tindakan Tuhan kadang sangat menyakitkan, namun bila kita renungkan ulang kita akan menemukan berkat yang indah dari padanya.
Tuhan memang sering mempergunakan masa-masa yang sulit kita untuk menyatakan teguran-Nya. Melalui sulitnya kita mencari nafkah, sulitnya kita mendapat kesembuhan dari suatu penyakit, sulitnya kita menemukan pasangan hidup, sulitnya kita menemukan kebahagiaan rumah tangga. Semua kesulitan itu merupakan teguran. Semua teguran itu mengajak kita untuk bertahan dalam iman. Maka nanti belakangan kita akan tahu bahwa Tuhan telah membangun pengharapan di dalam hidup kita. Pengharapan itu akan menuju ke sesuatu yang indah. Bahwa Ia akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pkh.3:11). Misalnya, kesulitan ekonomi atau krisis pangan dalam keluarga kita, kenyataannya oleh ketahanan iman, setelah kita berhemat dan menerapkan sistem ekonomi yang benar, maka kita dapat menemukan kemudahan-kemudahan dan kelimpahan. Kemudian kita bersorak “Bravo! Tuhan memang Pemurah. Amin”.
Melalui Mazmur bacaan kita hari ini, maka kita tahu bahwa Tuhan menyatakan kuasanya atas alam semesta, yakni melalui sungai-sungai, padang gurun, tanah tandus, pancaran-pancaran air, kebun buah- buahan, hujan dan panas. Semuanya itu dinyatakan kepada bangsa Israel untuk dikerjakan dan diusahakan agar mendatangkan rejeki bagi mereka. Oleh karenanya kedatangan kembali bangsa Israel ke Tanah Perjanjian itu tidak perlu merasa takut kekurangan atau kemiskinan, sebab Tuhan telah menyediakan alam untuk menjadi berkat bagi mereka.
Terkadang kita merasa takut tidak kebagian rejeki. Takut tidak dapat makan. Takut tidak memperoleh nafkah. Padahal Tuhan telah menyediakan begitu banyak lahan dalam berbagai bidang: pertanian, industri, seni dan budaya. Mata kita kadang tertutup tidak melihat peluang yang tersedia itu. Rama seorang tuna netra sejak lahir, dia belajar komputer sejak kecil, sehingga mampu menciptakan komputer bersuara. Akhirnya mampu menulis buku yang berjudul, “Amazing Blind”. Kemampuannya itu dia dapatkan dengan belajar keras; mula-mula belajar mengenal huruf Braille, kemudian huruf Latin. Belajar pula menangkap pengertian berbagai bahasa, sehingga mampu berbahasa Inggris dengan baik, baik pasif maupun aktif. Peluang itulah yang tidak dia sia-siakan untuk bertahan hidup kecukupan dan bahkan bahkan tenar sebagai tuna netra yang berhasil.
Tuhan memiliki rencana yang indah buat umat pilihan-Nya, termasuk kita (Rm. 11:25), agar kita tidak akan pernah kekurangan. Karenanya Tuhan telah menyediakan banyak peluang. Tinggal kita bisa melihat peluang itu atau tidak. Jika kita melihat peluang itu Tuhan itu juga menyediakan berkat bagi yang mau bekerja keras. Kadang peluang itu kita anggap terlalu kecil, jika dikerjakan hasilnya pun kecil, makanya cara mengerjakannya pun kecil-kecilan saja. Benar-benar bila seseorang menganggap segala sesuatu itu kecil, hasilnya kecil, maka dia sendiri akan tetap selalu kecil dan tidak akan menjadi orang besar.
Kita orang Kristen jumlahnya sedikit. Orang menyebut kita sebagai golongan minoritas. Tetapi jangan lupa bahwa Tuhan memandang kita sebagai “Si Kecil yang Indah”, sebab kita dimiliki dan memiliki ‘Permata yang Indah’ yaitu Yesus Kristus. Kita yakin, sebagai anak Tuhan tidak perlu merasa kecil hati terhadap umat lain. Dalam hal ini bangsa Israel telah mebuktikan, meskipun kecil namun Tuhan memakainya untuk menjadi kebesaran nama-Nya. Ilustrasi berikut semoga menjadi gambaran yang ideal tentang berkat Tuhan.
Seorang bayi mungil digendong oleh ibunya, ditutup kain selimut sehingga tidak nampak mukanya. Nama bayi itu Sumini. Su artinya Indah. Mini artinya kecil. Si Kecil yang Indah. Ketika seorang ibu tetangga membuka selimut penutup muka Sumini, ibu itu terbelalak dan terdiam. Ibu Sumini hanya tersenyum. Ibu yang lain ketika melihat Sumini segera berteriak menyebut nama Tuhan, “Oh Tuhan, ampunilah dosaku”. Ibu Sumini tetap tersenyum. Rupanya Sumini adalah penyandang cacat bibir sumbing hingga langit-langitnya kelihatan.
Sumini rupanya anak bongsor, cepat menjadi besar. Banyak orang mencibir Sumini dan orang tuanya. Ada yang mengejek, mengolok-olok dengan mengatakan, “Dia kuwalat, makanya sekarang kena tulah”. Ibu Sumini hanya diam dan tersenyum. Hingga pada suatu hari ada pengumuman dari Dinas Kesehatan Kota bahwa akan ada operasi bibir sumbing gratis. Ibu Sumini sebagai pendaftar yang pertama. Pendek kata, Sumini berhasil dioperasi sangat sempurna. Sekarang Sumini menjadi gadis cantik yang ceria dan pintar. Dia rajin belajar hingga berhasil lulus dari Fakultas Kedokteran. Sekarang dr. Sumini membuka praktek di kampungnya dan disegani banyak orang. Orang- orang yang dulu mencibir, mengejek dan mengolok-olok pada berdatangan meminta maaf. Ada pula yang membawa anak untuk berobat kepadanya. Bahkan ada anak tetangga yang lahir tanpa daun telinga, Sumini mengusahakan daun telinga cangkokan secara gratis pula. Dr. Sumini “si Kecil yang Indah” benar-benar indah di mata Tuhan dan di mata banyak orang. Rupanya bagi orang yang berserah berkat Tuhan tidak pernah mengecewakan dan tidak pernah disangka orang. Berbuat kebaikan kepada semua orang tidak ada ruginya, meskipun kecil, percayalah bahwa akan menjadi “Si Kecil yang Indah”.




Pdt. Widyantoro,STh. M.Div

Bacaan Minggu 21 Juni 2009: Mazmur 107 : 33 - 43

SIKECIL YANG INDAH

Para ahli berpendapat bahwa Mazmur ini adalah mengenai kembalinya bangsa Israel dari pembuangan Babel. Sementara itu orang bijak mengatakan bahwa Mazmur ini adalah renungan tentang nasib kehidupan Israel yang dikembalikan Tuhan.
Orang yang dalam pembuangan atau pengungsian pasti mengalami berbagai penderitaan karena adanya tekanan dan penindasan dari penguasa. Juga karena adanya kekurangan pangan dan kemiskinan. Karena berbagai penyakit dan gangguan kejiwaan atau stress. Namun demikian, kesadaran umat Tuhan, sekembalinya ke Tanah Perjanjian tidak lupa untuk mengucapkan syukur. Ucapan syukur itu disampaikan karena pertolongan Tuhan, khusunya karena telah terlepas dari penderitaan selama pembuangan, dan juga karena mendapat bimbingan dalam perjalanan. Mereka juga bersyukur karena diizinkan Tuhan menduduki kembali Tanah Perjanjian.
Sayang sekali ketika mereka masuk ke negeri Perjanjian itu mereka mendapati penduduk asli yang jahat, sehingga Tuhan telah menghukum mereka dengan membuat sungai-sungai menjadi padang gurun, tanah subur menjadi padang asin, dan pancaran- pancaran air menjadi tanah gersang. Tetapi masuknya kembali bangsa Israel, Tuhan berkehendak untuk mengubah kondisi Tanah Perjanjian itu menjadi tanah yang elok. Kita tahu bahwa Tanah Perjanjian adalah bagian dari rencana Tuhan bagi umat-Nya. Umat Tuhan itu memang harus bekerja keras untuk mengubah nasib mereka. Alam yang mereka hadapi adalah alam liar yang tandus dan gersang. Oleh karenanya mereka berusaha untuk menjadikannya tanah yang subur agar dapat menghasilkan. Padang belantara mereka ciptakan menjadi kota yang dapat didiami dengan nyaman. Orang-orang lapar mereka perhatikan untuk dapat menikmati kehidupan yang layak. Tanah yang telah menjadi subur mereka jadikan kebun anggur. Tanah gersang menjadi padang rumput bagi ternak mereka, sehingga hewan peliharaan mereka semakin bertambah banyak. Pertambahan penduduk pun semakin pesat. Bangsa Israel adalah bangsa yang kecil jumlahnya bila disbanding dengan bangsa lain di sekitarnya. Oleh sebab itu dalam pemandangan Tuhan bangsa itu disebut orang sebagai Si Kecil Yang Indah. Itulah berkat Tuhan atas iman mereka. Namun demikian tidak semua orang Israel merasa puas dengan keadaan mereka saat itu. Orang-orang yang kurang iman membuat ulah dengan menimbulkan kerusuhan. Para pemimpin mereka hinakan sehingga kehilangan muka. Banyak yang melarikan diri dan tersesat di jalan (ay.40). Mereka juga menimbulkan pemberontakan sehingga banyak yang mati. Banyak pula yang kelaparan dan menderita sakit atas ulah mereka sendiri. Datang pula hukuman Tuhan dengan krisis ekonomi. Akhirnya mereka insyaf bahwa penderitaan yang mereka alami adalah cara Tuhan menegur mereka, maka mereka kembali kepada Tuhan dan Tuhan memberi hikmat atas mereka. Lalu mereka berpegang pada kebenaran Tuhan. Tuhan juga memperhatikan mereka dengan segala kemurahan-Nya.
Apakah kita pernah merasakan teguran Tuhan? Bagaimanakah respon kita terhadap teguran itu?
Memang respon kita bisa bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa teguran Tuhan memang merupakan rencana Tuhan untuk mendisiplinkan umat-Nya, agar insyaf bahwa Tuhan dengan tindakan-Nya itu menaruh belas kasihan. Orang yang rela menerima teguran Tuhan dan menyadari bahwa atas kesalahannya itu Tuhan menghukumnya. Bila hukuman itu diterima secara iman, maka pastilah Tuhan akan mengembalikan dia ke jalan kebenaran, sehingga ia hidup di jalan Tuhan. Tetapi bagi mereka yang tidak mengakui teguran Tuhan sebagai tindakan disiplin, tidak akan pernah merasakan belas kasih Tuhan yang nyata (Ibr.12:8). Yang harus kita renungkan adalah bahwa tindakan Tuhan dalam mendisiplinkan kita selalu mengambil dasar atas kesalahan atau dosa kita. Bagaikan seorang ayah yang menghajar anaknya agar menjadi penurut dan tidak berbuat kesalahan lagi. Tetapi ada juga maksud Tuhan yang lain, bahwa tindakan disiplin itu tidak didasarkan atas kesalahan melainkan atas dasar upaya mendidik kita menuju kepada iman yang kuat. Oleh karenanya tindakan Tuhan kadang sangat menyakitkan, namun bila kita renungkan ulang kita akan menemukan berkat yang indah dari padanya.
Tuhan memang sering mempergunakan masa-masa yang sulit kita untuk menyatakan teguran-Nya. Melalui sulitnya kita mencari nafkah, sulitnya kita mendapat kesembuhan dari suatu penyakit, sulitnya kita menemukan pasangan hidup, sulitnya kita menemukan kebahagiaan rumah tangga. Semua kesulitan itu merupakan teguran. Semua teguran itu mengajak kita untuk bertahan dalam iman. Maka nanti belakangan kita akan tahu bahwa Tuhan telah membangun pengharapan di dalam hidup kita. Pengharapan itu akan menuju ke sesuatu yang indah. Bahwa Ia akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pkh.3:11). Misalnya, kesulitan ekonomi atau krisis pangan dalam keluarga kita, kenyataannya oleh ketahanan iman, setelah kita berhemat dan menerapkan sistem ekonomi yang benar, maka kita dapat menemukan kemudahan-kemudahan dan kelimpahan. Kemudian kita bersorak “Bravo! Tuhan memang Pemurah. Amin”.
Melalui Mazmur bacaan kita hari ini, maka kita tahu bahwa Tuhan menyatakan kuasanya atas alam semesta, yakni melalui sungai-sungai, padang gurun, tanah tandus, pancaran-pancaran air, kebun buah- buahan, hujan dan panas. Semuanya itu dinyatakan kepada bangsa Israel untuk dikerjakan dan diusahakan agar mendatangkan rejeki bagi mereka. Oleh karenanya kedatangan kembali bangsa Israel ke Tanah Perjanjian itu tidak perlu merasa takut kekurangan atau kemiskinan, sebab Tuhan telah menyediakan alam untuk menjadi berkat bagi mereka.
Terkadang kita merasa takut tidak kebagian rejeki. Takut tidak dapat makan. Takut tidak memperoleh nafkah. Padahal Tuhan telah menyediakan begitu banyak lahan dalam berbagai bidang: pertanian, industri, seni dan budaya. Mata kita kadang tertutup tidak melihat peluang yang tersedia itu. Rama seorang tuna netra sejak lahir, dia belajar komputer sejak kecil, sehingga mampu menciptakan komputer bersuara. Akhirnya mampu menulis buku yang berjudul, “Amazing Blind”. Kemampuannya itu dia dapatkan dengan belajar keras; mula-mula belajar mengenal huruf Braille, kemudian huruf Latin. Belajar pula menangkap pengertian berbagai bahasa, sehingga mampu berbahasa Inggris dengan baik, baik pasif maupun aktif. Peluang itulah yang tidak dia sia-siakan untuk bertahan hidup kecukupan dan bahkan bahkan tenar sebagai tuna netra yang berhasil.
Tuhan memiliki rencana yang indah buat umat pilihan-Nya, termasuk kita (Rm. 11:25), agar kita tidak akan pernah kekurangan. Karenanya Tuhan telah menyediakan banyak peluang. Tinggal kita bisa melihat peluang itu atau tidak. Jika kita melihat peluang itu Tuhan itu juga menyediakan berkat bagi yang mau bekerja keras. Kadang peluang itu kita anggap terlalu kecil, jika dikerjakan hasilnya pun kecil, makanya cara mengerjakannya pun kecil-kecilan saja. Benar-benar bila seseorang menganggap segala sesuatu itu kecil, hasilnya kecil, maka dia sendiri akan tetap selalu kecil dan tidak akan menjadi orang besar.
Kita orang Kristen jumlahnya sedikit. Orang menyebut kita sebagai golongan minoritas. Tetapi jangan lupa bahwa Tuhan memandang kita sebagai “Si Kecil yang Indah”, sebab kita dimiliki dan memiliki ‘Permata yang Indah’ yaitu Yesus Kristus. Kita yakin, sebagai anak Tuhan tidak perlu merasa kecil hati terhadap umat lain. Dalam hal ini bangsa Israel telah mebuktikan, meskipun kecil namun Tuhan memakainya untuk menjadi kebesaran nama-Nya. Ilustrasi berikut semoga menjadi gambaran yang ideal tentang berkat Tuhan.
Seorang bayi mungil digendong oleh ibunya, ditutup kain selimut sehingga tidak nampak mukanya. Nama bayi itu Sumini. Su artinya Indah. Mini artinya kecil. Si Kecil yang Indah. Ketika seorang ibu tetangga membuka selimut penutup muka Sumini, ibu itu terbelalak dan terdiam. Ibu Sumini hanya tersenyum. Ibu yang lain ketika melihat Sumini segera berteriak menyebut nama Tuhan, “Oh Tuhan, ampunilah dosaku”. Ibu Sumini tetap tersenyum. Rupanya Sumini adalah penyandang cacat bibir sumbing hingga langit-langitnya kelihatan.
Sumini rupanya anak bongsor, cepat menjadi besar. Banyak orang mencibir Sumini dan orang tuanya. Ada yang mengejek, mengolok-olok dengan mengatakan, “Dia kuwalat, makanya sekarang kena tulah”. Ibu Sumini hanya diam dan tersenyum. Hingga pada suatu hari ada pengumuman dari Dinas Kesehatan Kota bahwa akan ada operasi bibir sumbing gratis. Ibu Sumini sebagai pendaftar yang pertama. Pendek kata, Sumini berhasil dioperasi sangat sempurna. Sekarang Sumini menjadi gadis cantik yang ceria dan pintar. Dia rajin belajar hingga berhasil lulus dari Fakultas Kedokteran. Sekarang dr. Sumini membuka praktek di kampungnya dan disegani banyak orang. Orang- orang yang dulu mencibir, mengejek dan mengolok-olok pada berdatangan meminta maaf. Ada pula yang membawa anak untuk berobat kepadanya. Bahkan ada anak tetangga yang lahir tanpa daun telinga, Sumini mengusahakan daun telinga cangkokan secara gratis pula. Dr. Sumini “si Kecil yang Indah” benar-benar indah di mata Tuhan dan di mata banyak orang. Rupanya bagi orang yang berserah berkat Tuhan tidak pernah mengecewakan dan tidak pernah disangka orang. Berbuat kebaikan kepada semua orang tidak ada ruginya, meskipun kecil, percayalah bahwa akan menjadi “Si Kecil yang Indah”.




Pdt. Widyantoro,STh. M.Div

Jumat, 12 Juni 2009

Bacaan Minggu 14 Juni 2009: Ayub 38 : 25 - 33

SADARILAH KESALAHANMU!


Ayub adalah yang yang mengakui kemahakuasaan dan keagunan Allah. Ayub, secara teoritis, tahu bahwa tidak ada manusia yang benar dan cukup berharga di hadapan Allah (ps. 9 khususnya ayat 1,2). Tetapi berkaitan dengan kasusnya (apalagi setelah mendengar ‘tuduhan’ teman-temannya bahwa ia pasti sudah bersalah) ia menolak bahwa dirinya bersalah di hadapan Allah. Ia ‘menuduh’ Allah-lah yang sudah bertindak tanpa alasan untuk ‘menghancurkan’nya. Tetapi juga dikatakan bahwa ia sangat berharap bahwa Allah juga akan menjadi saksi/pembela yang akan membenarkan dirinya (termasuk dalam perkaranya dengan Allah! – 16:19-21). ‘Tuduhan’nya bahwa tindakan Allah ‘sewenang-wenang lebih berkaitan dengan keyakinannya akan kemahakuasaan Allah: Allah punya hak mutka untuk bertindak apapun. Karena itu,’tuduhan’nya tidak disertai dengan tindakan meninggalkan Allah! Ia tetap setia kepada Allah, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan (bnd. dengan pengenalan Allah akan Ayub dalam 1:8). Secara tersirat Ayub menyatakan Allah tidak dibatasi moral (boleh bertindak sewenang-wenang). Penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (seperti sikap Ayub), tanpa pengenalan akan jati diri Allah, bisa berakibat ‘penilaian’ yang keliru tentang Allah.
Keputusan yang dijatuhkan kepada Ayub oleh para sahabatnya telah menggelapkan jalan hikmat sampai Elihu angkat bicara. Jalan itu kini tercerahkan sepenuhnya oleh suara dari dalam badai (38:1). Sangatlah tepat bahwa pendekatan Tuhan kepada Ayub adalah dalam bentuk tantangan. Dengan cara yang sama pula Dia telah menghadapi Iblis (bnd. 1:7,8; 2:2-3). Allah menantang Iblis dan Ayub dengan cara mengkonfrontasi mereka dengan karya-karya-Nya yang ajaib. Dan karena Ayub sendiri merupakan hasil karya ilahi yang dengannya Iblis ditantang, maka melalui keberhasilan-Nya untuk menantang Ayub ini Allah melengkapi kemenangan-Nya dalam tantangan-Nya kepada Iblis. Tantangan yang disampaikan Allah kepada Ayub dilaksanakan dalam dua tahap (38:1-39:34 dan 40:1-41:34) dengan suatu waktu sela di pertengahan jalan yang ditandai dengan awal penyerahan diri Ayub (39:35-38).
Pasal 38 ini melaporkan bahwa Allah menjawab Ayub, dan itu terjadi di dunia ini menurut kebebasan kedaulatan Allah, dan pada waktu yang sesuai dengan ketentuan Allah. Pasal 38 dan 39 membawa kita berwisata mengamati langit, laut, bintang-bintang dan binatang-binatang.
Dalam pasal ini Ayub mencoba mencari jawab atas kejadian yang menimpa dirinya karena ketiga teman Ayub tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan hatinya sehingga Ayub bertanya kepada Allah. Tuhan pun menjawab seluruh pertanyaan Ayub dan jawaban itu berupa pertanyaan balik yang tajam kepada Ayub dan Tuhan menuntut jawaban dari Ayub (Ayb. 38 – 42). Menghadapi tantangan yang bertubi-tubi itu ia tidak dapat berkata-kata. Ayub pun mencabut perkataannya dan menyesalkan diri. Ayub adalah seorang yang jujur dan Tuhan memberikan jawaban yang jujur. Ayub bertemu dengan Tuhan yang berdaulat dan dia mengenal Tuhan yang sejati. Hati-hati, setan tidak berhasil membuat Ayub berdosa tetapi bukan berarti setan akan berhenti Tidak! Setan akan terus mencari orang yang dapat ditelannya (1Pet. 5:8).
Hari ini, mungkin kita mengalami pergumulan iman yang berat di mana kita sulit mengenali Allah, namun ketahuilah Tuhan ada di sana, Dia mengendalikan seluruh aspek hidup kita, Dia akan menjagai kita. Sesungguhnya, tidak perlu bagi kita mendapatkan jawaban dari Tuhan. Asal sudah bertemu dengan Tuhan maka semua itu sudah cukup menghentikan seluruh pergumulan kita tentang Allah. Berarti iman kita tidak salah. Kitab Yakobus 5:11 memberikan suatu kesimpulan tentang pergumulan Ayub, yakni Ayub disebut sebagai orang yang berbahagia karena ketekunannya atau yang diterjemahkan sebagai ketahanan (endurance, bhs Inggris). Allah telah memberikan peluang bagi Ayub untuk masuk dalam satu tingkatan iman yang lebih dalam dan lebih dalam lagi adalah juga Allah yang sama yang akan memberikan peluang bagi kita untuk masuk dalam tingkatan iman yang lebih tinggi lagi.
Apa yang bisa kita renungkan dari pasal 38 ini?
Pertama, Yahweh bersabda. Allah menyatakan diri-Nya melalui badai. Badai dengan kilat, guruh, asap dan bunyi menyatakan sekaligus menyelubungi keagungan Allah. Karena kedegilan Ayub, maka Allah memakai badai untuk menjawab Ayub. Dengan badai itulah maka Ayub sadar dan menyesal akan perbuatannya kepada Allah. Hal ini mau mengajarkan kepada kita agar kita lebih berhati-hati di dalam menyampaikan segala uneg-uneng maupun kekesalan kita kepada Allah. Jangan sampai Allah mengeluarkan badai kepada kita untuk menjawab segala tuntutan dan sungut-sungut kita kepada-Nya. Biarlah Tuhan berkarya seleluasanya bagi kehidupan kita.
Kedua, Hikmat Allah kelihatan dalam ciptaan-Nya. ’Marilah, Aku akan membuat engkau terheran-heran,’ kata Allah, dengan rumitnya dan ruwetnya semuanya itu! Dasar bumi diletakkan (38:4), bintang-bintang fajar bersorak-sorak dengan girang (38:7). Sejak itu, mereka tetap menyanyikan perayaan Pencipata itu dengan penuh kegirangan. Perhatikanlah samudera raya, kekuatannya yang mengacaukan telah dibendung (38:8-11), langit, kedalaman, terang, dan gelap-gulita (38:12-21). Pernahkah engkau masuk ke dalam perbendaharaan salju, atau perbendaharaan hujan batu (38:22)? Dan bagaimana dengan hujan (38:25-30)? Menengadahlah, lihatlah bintang Kartika dan bintang Belantik, lihatlah awan, kilat dan kabut (38:31-38). Apakah engkau melihat semuanya itu? Ayo jalan-jalan menikmati ciptaan-Ku itu: amatilah keajaibannya: saksikanlah bagaimana semuanya diatur sehingga tertib yang satu dengan yang lain, sesuai pola dan tujuan yang sudah ditentukan. Untuk menjawab tuntutan Ayub Allah memakai segala ciptaan-Nya agar Ayub sadar akan kasih setia Tuhan kepadanya. Allah tidak pernah meninggalkan Ayub sedetik pun. Hal ini mau mengajarkan kepada kita bahwa sesulit apa pun yang sedang kita hadapi, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, tetapi Tuhan terus menyertai kita dalam seluruh perjalanan hidup kita.
Ketiga, Ayub menyesal. Ayub selama ± 20 pasal mengajukan permohonan, permintaan, keluh kesah, dan kekecewaannya kepada Tuhan. Saat-saat itu, Allah tidak menjawab sedikitpun sampai pasal 37. Tetapi setelah Tuhan menjawabnya di pasal 38-41, Ayub menyesal bahwa apa yang pernah dimintanya lahir dari ketidakmengertiannya kepada rencana Tuhan. Sekarang, Ayub tidak peduli dengan apa yang sudah diambil daripadanya (harta, keluarga), karena mendapatkan Tuhan lebih dari segalanya. Ayub tidak meminta kepada Tuhan selain dari apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya untuk berdoa bagi teman-temannya yang sudah mengecewakan hati Tuhan (42:7). Melalui permintaan Ayub, Tuhan mengampuni teman-teman Ayub (42:9). Tidak hanya itu, Tuhan pun memberkati Ayub dengan berlimpah-limpah (42:10-16), tanpa sedikitpun Ayub meminta Tuhan memulihkan keadaannya. Firman Tuhan hanya mengatakan, ”Lalu Tuhan memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu” (42: 10).
Tuhan bisa memberikan tanpa kita meminta/berdoa kepada-Nya, karena Dia Mahapemurah dan Mahakuasa. Tetapi Tuhan akan menahan jawaban doa kita agar kita datang kepada-Nya, karena yang Tuhan inginkan adalah






Ramli SN Harahap

Selasa, 26 Mei 2009

Minggu Pentakosta : Yehezkiel 11 : 19 - 20

HIDUPLAH SENANTIASA DALAM BIMBINGAN ROH KUDUS


Pendahuluan

Kedatangan Roh Kudus atau hari turunnya Rohu’ul Kudus adalah bukti kebenaran Firman Tuhan Yesus, karena di kala Dia mau naik ke Sorga, Dia pernah menjanjikan bahwa akan diutusnya Roh Kudus untuk bersama murid-murid-Nya (Kis. 1:8).
Dipahami secara kronologis bahwa saat kedatangan Roh Kudus adalah hari kelima puluh, yang dihitung dari hari kebangkitan hingga ke hari kenaikan Tuhan Yesus: 40 hari dan dari hari kenaikan hingga hari kedatangan Roh Kudus: 10 hari, maka dimengerti bahwa hari kedatangan Roh Kudus adalah hari kelima puluh atau dalam sebutan bahasa Yunani disebut hari Pentakosta (hari kelima puluh).
Hari turunnya Roh Kudus adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh para murid Tuhan Yesus, hal itu terjadi sewaktu mereka berkumpul di Yerusalem yang terdiri dari 16 suku bangsa dan dengan jumlah jiwa mencapai 120 orang.. Dalam acara perkumpulan itu mereka juga melakukan pemilihan Rasul untuk menggantikan Yudas Iskariot yang telah mengakhiri hidupnya dan di sana terpilihlah Matias sebagai pengganti Yudas Iskariot lewat proses undi. (Kis. 1:23 – 26).
Setelah itulah tiba-tiba terdengar suara yang menderu dibarengi tiupan angin keras dan tanpak lidah-lidah seperti nyala api dan menghinggapi mereka maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus (Kis. 2:1-4).
Peristiwa itu adalah suatu kejutan besar dan menimbulkan berbagai interpretasi dan pemahaman yang bercorak ragam, namun melalui khotbah Petrus yang sungguh bersemangat, maka jelaslah maksud dari peristiwa itu, yakni tentang kebenaran kebangkitan Kristus dan Dialah yang telah naik ke sorga serta menjanjikan kedatangan Roh Kudus sebagaimana kamu lihat dan kamu dengar di sini. Dengan demikian jelaslah bagi mereka arti dari semua peristiwa itu (Kis. 2 : 32 - 33).
Oleh pengamat Sejarah Gereja memahami bahwa pada hari turunnya Roh’ul Kudus, di situlah juga hari kelahiran gereja di dunia yang mengemban minimal 3 (tiga) pokok tugas yang sangat mendesak dan prinsip, yakni : Koinonia (bersekutu), Marturia (bersaksi), dan Diakonia (melayani).
Setelah orang banyak memahami makna peristiwa besar itu, lalu mereka bertanya kepada Petrus, apakah yang harus kami perbuat ? Jawab Petrus: “Bertobatlah kamu, agar memperoleh pengampunan dan menerima karunia Roh Kudus“.

Penjelasan Nats.

Sama halnya dengan makna nas ini (Yehez. 11:19–20) karena sengaja dikenakan kepada hari Pantakoste ke II, bahwa Israel perlu mendapat pertobatan, perubahan dan pembaharuan. Selaku umat yang dipanggil Tuhan menjadi umat pilihan-Nya perlu menyadari dirinya, perilakunya, perbuatan termasuk sikap mereka kepada Tuhan yang sering menunjukkan kemurtadan. Maka perlu mereka dengan segera berpaling kepada Tuhan dan meninggalkan kepercayaan kepada dewa-dewa yang menjijikan serta melupakan segala perbuatan-perbuatan yang keji itu. Soalnya bagi mereka perlu dengan segera ada perubahan yang signifikan yang betul-betul tampil beda dari antara bangsa-bangsa sekitar.
Secara konkrit bahwa selaku umat pilihan Tuhan dan yang dipanggil hidup dalam suatu persekutuan dan di tempatkan di satu tempat yakni, tanah Israel, maka Tuhan sungguh-sungguh menghendaki agar mereka memiliki:
Pertama : Hati yang lain (yang baru) dan betul-betul berbeda dari sifat orang di sekitar mereka (tampil beda).
Kedua : Roh yang baru (kekuatan baru, sikap yang baru, karakter yang baru, perilaku dan kepribadian yang baru). Ada perubahan hidup yang prinsip dan mendasar.
Ketiga : Tekad untuk menjauhkan hati yang keras, hati yang membantu, hati yang degil.
Keempat : Hati yang taat, yang loyal, tidak menentang dan tidak selalu bersungut-sungut dan komplein.

Dengan demikian maka dalam praktek kehidupan mereka sehari-hari akan nampak di depan mata umum bahwa mereka dengan setia :
 Hidup sesuai dengan ketetapan dan peraturan Tuhan, tanpa ada alternatif (pilihan) yang lain.
 Hidup dan berperilaku sebagai umat Tuhan.

Dan itu perlu dan harus dinampakkan sebab Tuhan adalah Allah mereka. Dengan kata lain mereka wajib dan bertanggung jawab berperilaku yang lajim sebagai umat dan pilihan Tuhan.

Applikasi dan Renungan

a. Merayakan hari kedatangan Roh Kudus pada hari kedua telah semakin menipis (sirna). Agaknya sebagian besar umat kristen tidak lagi memanfaatkan hari pesta kedua turunnya Roh Kudus untuk menyelenggarakan ibadah / kebaktian yang sungguh-sungguh (sama halnya hari kedua Natal dan hari kedua Paskah). Jika kita renungkan sebentar bahwa pernah hari kedua Roh Kudus, kebangkitan dan Natal di negara ini sebagai hari fakultatif dalam hubungan hari kerja. artinya jika benar-benar dipergunakan untuk berkebaktian maka tidak menjadi persoalan (tidak dianggap absen) kalaupun tidak masuk kantor. Tetapi sekarang tidak lagi, kenapa? Karena memang orang Kristen ternyata tidak berkebaktian lagi di pesta ke II (dua), sehingga dipastikanlah hari raya kedua Natal , Paskah dan Pentakosta menjadi hari kerja penuh.
b. Kedatangan Roh Kudus menyadarkan segenap umat kristen dan seluruh warga jemaat tentang perilaku dan perbuatan kita masing-masing. Apakah dalam setiap kegiatan dan aktifitas di keseharian kesibukan kita menunjukkan keperbedaan yang khas (tampil beda) dari yang bukan Kristen selaku orang yang percaya kepada Kristus dan menjadi contoh dan teladan bagi sesama kita ?
c. Apakah tanda-tanda dalam hidup ini, bahwa kita yang memperoleh kekuatan Roh Kudus memiliki sikap yang menunjukkan ketaatan, dan jauh dari kekerasan dan hati yang degil dan membatu ?
d. Bagaimana selayaknya yang hendak kita nampakkan dalam praktek hidup sehari-hari sebagai pertanda bahwa kita adalah orang yang menuruti perintah dan Firman Tuhan ?
e. Bagaimana supaya gereja : warga dan majelis gereja berhati lembut, taat dan jauh dari kekerasan ?

Scopus.

Hiduplah senantiasa dalam bimbingan Roh Kudus. sebab semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah (Rom. 8 ; 14).



Medan, awal Oktober 2008



Pdt. M.S.P Sitorus, MTh
Pendeta HKBP Ressort Medan II

Bacaan Minggu 31 Mei 2009: Yesaya 40 : 12 - 14

SIAPAKAH YANG SETARA DENGAN ALLAH?

Pengantar

Kita hidup di dalam masyarakat majemuk, yang memiliki beragam kepercayaan. Dalam kondisi demikian, kadangkala jemaat mengalami kebingungan dan bertanya: “Allah manakah yang benar?”
Pertanyaan tersebut adalah sebuah pertanyaan yang sangat relevan dan penting untuk dijawab. Untuk itu, nas Alkitab, yang menjadi epistel di hari Pentakosta pertama ini, sangat baik untuk kita simak bersama-sama. Nas ini berbicara mengenai topik yang sangat penting, yaitu tentang diri Allah sendiri. Perjanjian Lama menggambarkan bahwa sejak umat Allah keluar dari Mesir, umat tersebut sering berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lain. Dalam kondisi yang demikian, umat tersebut diperhadapkan kepada allah-allah (ilah-ilah) lokal yang dipercayai oleh masyarakat setempat. Meski demikian, melalui nabi-nabi, TUHAN ALLAH dengan tegas mengingatkan agar umat menjauhkan diri dari ilah-ilah tersebut dan tetap percaya kepada-Nya. Dengan perkataan lain, Allah menuntut loyalitas tunggal kepada-Nya.

Pembahasan

Kitab Yesaya dapat dibagi menjadi tiga periode. Periode pertama adalah pasal 1-39 (739-701 SM). Periode kedua adalah pasal 40-55 (605-539 SM) dan periode ketiga adalah pasal 56-66 (539-400 SM). Teks Alkitab yang baru kita baca termasuk periode kedua, di mana pada periode tersebut, umat Allah (bangsa Yehuda) berada dalam pembuangan di Babel. Hal itu terjadi akibat dosa dan pelanggaran mereka, di mana mereka hidup memberontak dengan percaya dan beribadah kepada ilah lain. Dalam keadilan-Nya, Allah menghukum umat tersebut melalui tangan musuh mereka. Sebagai bangsa yang hidup dalam pembuangan, mereka tidak memiliki kemerdekaan, umat Allah sangat menderita dan hidup putus asa.
Alkitab menjelaskan bahwa Allah yang adil, adalah juga Allah yang penuh kasih. Karena itu, Dia tidak menghendaki umat-Nya terus hidup dalam penderitaan. Dia berkenan menerima mereka yang mau bertobat dan kembali kepada-Nya. Pasal ini dengan jelas menyatakan kabar baik, berita keselamatan dan penghiburan bagi umat-Nya. Itulah sebabnya, di dalam ayat permulaan kita membaca: “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya (Yes. 40:1-2). Pada ayat berikutnya, nabi menunjuk kepada Allah yang kuat dan berkuasa (10) yang sanggup memelihara dan menggembalakan umat-Nya (11). Selanjutnya, kita membaca serangkaian pertanyaan yang berhubungan dengan pribadi. Perhatikan kata “Siapa” diulang beberapa kali dalam pasal ini (ayat 12, 13, 14, 18, 25).

Manusia jauh lebih kecil dari ciptaan Allah
Kita akan membagi pertanyaan dalam nas bacaaan kita tersebut menjadi dua bagian. Mari kita mulai dengan yang pertama, yaitu, yang berhubungan dengan ciptaan. Salah satu cara untuk mengenal kekerdilan manusia dan kebesaran Allah, adalah dengan memandang kepada alam, ciptaan Allah. Pada ayat 12, pertanyaan berhubungan dengan kebesaran ciptaan Allah. Di sini ada empat pertanyaan:
• Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya?
• Siapa yang mengukur langit dengan jengkal?
• Siapa yang menyukat debu tanah dengan takaran?
• Siapa yang menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca?

Bagaimanakah jemaat sekalian menjawab pertanyaan tersebut di atas? Isi dari pertanyaan tersebut mengandung kontras yang sangat menyolok. Di satu sisi, air laut sangatlah luas, dan di sisi lain, lekuk tangan manusia sangatlah kecil. Lalu, siapakah yang memiliki lekuk tangan yang sanggup menakar air laut tersebut? Jawabnya, tentu saja tidak ada. Hal yang sama dengan langit yang sedemikian luas. Siapakah yang memiliki jengkal sedemikian besar sehingga sanggup mengukur langit? Jawabnya juga tidak ada. Demikian juga dengan debu tanah yang sedemikian berat. Siapakah yang memiliki takaran yang sanggup menyukat debu tanah tersebut? Jawabnya, juga negatif. Hal yang sama dengan gunung-gunung atau bukit-bukit yang sedemikian tinggi dan berat. Siapakah yang sanggup menimbangnya? Sudah pasti, jawabnya, kembali tidak ada. Dengan perkataan lain, jika kita menyimak tantangan nabi tersebut di atas, maka semua jawabnya bersifat negatif: tidak ada. Atau lebih tegas lagi, tidak mungkin ada. Jika ada pribadi yang sanggup melakukannya, maka pribadi itu hanyalah Allah, yaitu satu-satunya pribadi yang menciptakan semua hal tersebut.

Allah jauh lebih besar dari semua
Jika pada ayat 12 pertanyaan pertama dikaitkan dengan ciptaan Allah, yang jauh lebih besar dari manusia, maka pada ayat 13 dan 14, pertanyaan yang kedua, berhubungan dengan diri Allah sendiri. “Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?” (13). Jika kita perhatikan dengan teliti, maka pertanyaan kedua ini (ay. 13) muncul segera setelah pertanyaan pertama (ay. 12). Jadi, kedua pertanyaan tersebut masih berhubungan. Jika demikian, jawaban apakah yang diharapkan dari ayat 13 tersebut? Sama dengan pertanyaan pertama, jawabnya juga bersifat negatif. Artinya, tidak ada seorangpun, termasuk ilah manapun yang dapat mengatur Roh Tuhan. Tidak mungkin seorang manusia atau ilah, bagaimanapun besarnya, dapat memberi petunjuk dan nasihat kepada Allah.
Jika demikian halnya, pertanyaan-pertanyaan dalam ayat 14 juga harus dijawab dengan nada negatif. Allah tidak perlu meminta nasihat kepada siapapun. Tidak ada seorangpun yang sanggup mengajar Allah tentang keadilan, pengetahuan dan pengertian. Hal itu tidak mungkin dilakukan oleh manusia atau mahluk apapun. Jadi, dengan jelas dan tegas teks tersebut menyatakan bahwa Allah di atas semua mahluk. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Allah. Kebenaran itulah yang kemudian diulang-ulang pada ayat-ayat berikutnya: “Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?”(40:18; Lih. juga ay. 25).

Penerapan

Disadari atau tidak, masih ada dari anggota jemaat kita yang belum menjadikan Allah satu-satunya pribadi yang dipercaya dan disembah. Hal itu dapat terlihat dari praktek perdukunan di sekitar kita. Dengan sedih saya memberitahukan bahwa beberapa kali saya bertemu dengan anggota jemaat yang masih berhubungan dengan dukun-dukun. Pada kondisi ‘normal’, mereka kelihatannya, baik-baik saja. Percaya kepada Tuhan dan rajin ke Gereja. Akan tetapi, ketika dalam kondisi ‘kepepet’, misalnya, ketika penyakit yang diderita anggota keluarga tidak sembuh-sembuh juga, maka mereka pergi kepada orang ‘pintar’ (istilah kita, “nisungkun ma na malo”). Yang lebih menyedihkan lagi, beberapa dari yang terlibat dukun tersebut di atas adalah majelis (sintua)! Praktek perdukunan tersebut, sungguh merupakan tindakan yang menyesatkan dan sia-sia. Beberapa dari mereka yang saya layani, bahkan sempat menjadi gila dan dipasung (kedua kaki dan tangan diikat dengan balok). Ada lagi, seorang istri yang baru menikah, akhirnya terancam bercerai karena setiap kali roh jahat itu menyerangnya (kambuh), maka dia membenci suaminya.
Di pihak lain, kita juga dapat melihat gaya hidup orang-orang yang walaupun kelihatannya percaya kepada Allah, tetapi dalam kenyataan hidup sehari-hari, mereka mengandalkan manusia. Itulah yang terjadi dengan seorang ayah yang saya layani. Ayah tersebut sedemikian ingin agar anaknya berhasil dalam kariernya. Karena itu, sekalipun dia telah berdoa, dia jungkir balik mencari backing untuk mendukung karier anaknya tersebut. Dalam hati, muncul pemikiran, sejauh mana sebenarnya orang tersebut percaya kepada doanya. Apakah semangatnya untuk berserah mencari backing kepada manusia (pejabat tertentu) sama dengan kepada Allah? Nampaknya, tidak demikian. Kiranya, melalui firman Tuhan hari ini, saudara semua semakin beriman dan bersandar hanya kepada Allah dan tidak pernah beralih kepada dukun, ilah atau ciptaan lainnya. Firman Tuhan hari ini menegaskan kembali bahwa hanya ada satu Allah yang sejati. Dia adalah Pencipta alam semesta serta yang mengatur dan mengendalikannya. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan-Nya.-



Pdt. Ir. Mangapul Sagala, D.Th

Kamis, 14 Mei 2009

Bacaan Minggu 17 Mei 2009: Yakobus 1 : 2 - 8

IMAN YANG MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK


I. Pendahuluan
Banyak ahli PB menyetujui bahwa Yakobus saudara Tuhan Yesus adalah kepala jemaat Kristen di Yeruslem yang menulis surat ini. Ia akan dikagumi dan dihormati semua orang (Gal. 2:12). Isi surat ini adalah mencerminkan bahwa penulisnya adalah orang Yahudi, karena ia banyak sekali mengutip PL, yang diduga akrab dengan kitab-kitab Ibrani (bnd. 1:1) kedua belas suku di perantauan, dan anak sulung (1:18). Ia mengirim surat ini kepada kedua belas suku yang di perantauan yaitu orang Yahudi Kristen. Keadaan jemaat yang tidak menunjukkan kerukunan sejati, yang membuat sikap yang memisah-misahkan diri (bnd. 2:1). Karena ia banyak sekali mengutip PL, yang diduga akrab dengan kitab-kitab Ibrani (bnd 1:1), fitnah, iri hati, dan dusta (bnd 3:14) dan kebencian (bnd 4:2). Pembaca kitab Yakobus adalah kedua belas suku yang tersebar di perantauan.

II. Penjelasan ayat
Dengan memperhatikan perikop ini maka kita dapat melihat bahwa orang beriman itu harus memiliki keistimewaan dibandingkan dengan orang yang tidak beriman, yaitu:

2.1. Memiliki Iman yang mendatangkan kebahagaiaan
Para pembaca kitab Yakobus mengalami banyak pencobaan terutama di bidang ekonomi dan sosial (bnd. Yak. 1:9-10) ada yang miskin dan yang kaya, tentu akan berdampak pada kehidupan masyarakat. Bisa juga kesulitan yang mereka alami adalah akibat dari kurangnya penerimaan masyarakat di sekitar mereka sehingga mereka difitnah diejek dan dianiaya, tetapi mungkin juga karena mereka ditimpa kemiskinan (Yak. 2:1-13, 5:1-6) dan penyakit (Yak 5:14-15). Namun sebagaimana biasanya pergumulan jemaat mula-mula maka dapat dikatakan juga bahwa pencobaan adalah karena mereka beriman kepada Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Sehingga karena mereka beriman akan mengalami pergumulan hidup menghadapi berbagai macam tantangan yang datang dari dunia sekitar karena perbedaan agama (keyakinan), kebudayaan dan pengetahuan.

2.2. Memiliki Iman yang mendatangkan ketekunan
Mereka yang harus mengalami pencobaan ini diajak untuk menerima pencobaan itu dengan gembira, karena pencobaan itu mengandung ujian terhadap iman untuk menghasilkan kemurnian dan keteguhan. Beriman bukan saja menerima yang enak-enak seperti bersukacita, berbahagia, atau tanpa tantangan. Bila demikian iman itu akan bertumbuh dengan rapuh dan akan cepat dan hilang. Iman yang dibangun berbagai persoalan hidup akan membentuk iman yang tahan uji, kokoh dan tumbuh serta berbuah. Dalam arak-arakan panjang perjalanan gereja, selalu berhadapan dengan tantangan hidup. Namun demikian halnya gereja tidak boleh membiarkan terang kebenaran padam sekali pun banyak tantangan. Justru semakin banyak tantangan ketegaran dan kemurnian iman semakin nyata ditunjukkan. Orang percaya tidak boleh larut dalam pencobaan, tetapi ia akan memenangkannya dengan bersukacita dalam kemenangan Kristus. Kemenangan itu telah nyata dalam karya Roh Kudus yang memberikan penghiburan dan pertolongan terhadap orang percaya. Jadi dengan adanya pencobaan maka nyata jelas pertolongan Tuhan diterima oleh orang beriman.

2.3. Memiliki Iman yang mampu menghadapi tantangan
Penulis mengajak agar bertekun dalam pencobaan, ini menunjuk pada upaya yang bersengaja dari orang beriman itu harus nyata. Ia tidak boleh memiliki kepercayaan yang rapuh. Artinya ia harus memiliki iman yang terus-menerus berusaha menuju kematangan iman yang dalam dirinya. Ia tidak boleh terpengaruh pada godaan dunia ini yang cenderung mengajak manusia pada hidup yang beriorentasi kepada kenikmatan semu atau sementara saja. Tetapi dengan mengharapkan pertolongan Allah ia berjuang untuk tidak tergoda kepada usaha yang memiliki harta kekayaan dan tingginya status sosial.
Dengan bersikap seperti itu maka orang beriman itu bertumbuh menuju pada kesempurnaan hidup di mana ia akan mengenal betapa besarnya pertolongan Allah dalam hidupnya yang menjadikan ia beriman. Ia tidak merasa kehilangan kebahagiaan walaupun orang beriman itu akan menjalani proses menuju hidup yang benar dan sempurna dengan pencobaan yang ada. Orang beriman tidak hidup dengan penuh semangat dan harapan bahwa hari ini akan lebih baik dari hari kemarin dan hari esok akan lebih baik dari hari ini. Jadi iman itu hidup dan bertumbuh dengan kuasa dari Allah menuju pada kesempurnaan.

2.4. Memiliki Iman yang membuahkan hikmat
Hikmat adalah hal yang praktis yang dilakaukan untuk mengambil keputusan yang jitu, hikmat yang benar ada dalam Alkitab adalah pemberian Tuhan (2 Taw 1:10-12; Efs. 1:17). Hikmat ini akan diberikan oleh Allah dengan murah hati, artinya diberikan dengan utuh dan bulat dengan sesungguhnya. Sehingga dengan hikmat yang diberikan itu orang beriman juga dimampukan untuk memiliki sikap kerelaan memberi (bnd. Mat 7:7-12; Ul. 15:10). Dengan hikmat maka orang percaya akan mampu menjawab kebenaran iman yang diberikan Tuhan kepadan-Nya. Allah memberikan hikmat (sifat yang ingin memiliki pengetahuan dan melakukannya) kepada orang percaya. Orang beriman harus memohon kekuatan dari Allah untuk memiliki hikmat ini sehingga pada akhirnya tidak ada orang yang bermegah kepada dirinya sendiri ketika ia dapat memiliki hikmat itu, tetapi akan senantiasa memuliakan Allah yang memberi hikmat itu.

2.5. Memiliki Iman yang teguh dan tidak bimbang
Hanya dengan permohonan kepada Allah saja kita mendapat pertolongan dalam hidup ini. Permohonan yang diajukan hendaklah dengan iman artinya dalam doa itu kita harus menunjukkan kesungguhan kita, berdoa dengan sepenuh hati. Allah tidak menginginkan ada orang yang memiliki hati yang mendua. Kita harus percaya sepenunya kepada Allah saja. Dengan percaya kepada-Nya bahwa Ia akan mewujudkan doa kita dengan rencana-Nya, maka kita akan jauh dari sikap hati yang kacau. Kita akan menunjukkaan sikap berdoa yang benar terhadap Tuhan kita yang penuh kuasa dan keteraturan, sehingga dengan sikap seperti itu maka sukacita akan senantiasa memenuhi hidup kita. Jadi dalam memohon, kita harus jelas menunjukkan siapa Allah yang kita puji. Tanpa iman yang teguh dan utuh kepada Allah saja maka kita akan terombang-ambing oleh pencobaan dunia yang terus menerus semakin dasyat. Lex orandi lex credendi lex preprendi, artinya dari doa kita diketahui siapa yang kita percayai dan dari situ juga akan terlihat bagaimana kita bertindak dalam hidup sehari-hari. Bila kita berseru kepada Allah yang berkuassa atas dunia ini maka kita mempercayai-Nya dan kita akan beribadah kepada-Nya dan dengan tuntutannya kita akan menujukkan sikap hidup yang dikehendaki-Nya.

III. Aplikasi/penerapan
Sepanjang sejarah bahwa gereja yang di dalamnya orang-orang percaya kepada Yesus Kristus selalu menghadapi persoalan-persoalan hidup yang dapat mencobai imannya. Pertanyaan yang sering muncul adalah dengan apa dan kuasa siapa orang percaya (orang beriman) agar dapat menghadapi persoalan hidup yang muncul dalam kehidupan sehari-hari sebagai manusia yang hidup dalam masyarakat dan gereja, sebagai mahluk individu, sosial, religi dan berbudaya. Hanya dengan beriman kepada Allah dan mempercayainya dengan sungguh-sungguh setiap orang dapat bersukacita (berbahagia). Percayalah kepada Yesus maka kamu dan seisi rumahmu akan diselamatkan. Dan perbuatlah yang baik kepada semua orang Amin



Pdt.Pahala J.Simanjuntak,MTh

Kamis, 07 Mei 2009

BAHAN PEMBINAAN PNGKPA: Yesaya 40:29

“TETAP TEGAR DI TENGAH MASA SUKAR”
(Yesaya 40:29)

Untuk membahas tema ini kita lebih dulu melihat apa yang sedang dibicarakan oleh Yesaya dalam teks ini. Pada ayat 28, Yesaya membicarakan “TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya”. Allah tidak menjadi lelah seperti manusia, yang telah berusaha sekuat tenaganya, dan merasa letih lesu (bnd. Yes. 44:12; Yer.51:58). Alah tidak menjadi lesu seperti orang yang bersusah, lalu cape (Yes. 49:4; 43:22). Allah tidak terdua pengertian-Nya, artinya tidak dapat diikuti, diselidiki sebagaimana jalan pikiran manusia.
Manusia bisa menjadi lelah dan menjadi lesu dalam menghadapi masa-masa sukar. Namun Allah tidak menjadi lelah dan menjadi lesu ketika menghadapi masa-masa sukar. Di kelemahan manusia yang menjadi lelah dan lesu ketika menghadapi masa sukar itulah Allah memberi kekuatan. Allah yang tinggi luhur itu berkenan kepada manusia yang lemah. Berita ini dibawakan dalam bahasa mazmur (bnd. Yes. 40:12-31 dengan Mzm. 33:6-22).
Manusia yang telah kehabisan tenaga dan lelah, manusia yang tak berdaya lagi (harfiah: ‘mereka yang tidak ada kuasanya’) diberikan kekuatan, bahkan semangat (harfiah: ‘kuasa’, daya gerak), sehingga manusia bisa berlari dan tidak menjadi lesu, berjalan dan tidak menjadi lelah.
Teks ini sebenarnya berbicara tentang manusia yang berada dalam penderitaan, yang kasihan akan dirinya dan kecewa terhadap Allah. Manusia terkurung dalam perasaan hatinya dan tidak memandang ke depan lagi, oleh karena itu manusia tidak sanggup menerima berita bahwa Tuhan akan segera melepaskan manusia dari penderitaan itu. Manusia tidak percaya lagi tanpa bukti, tidak berani mengambil resiko, lebih suka tinggal dalam kesusahan yang sudah biasa mereka alami. Sikap seperti ini masih kita jumpai dalam kehidupan pemuda/i gereja. Pemuda/i gereja yang malang nasibnya, yang tidak dihargai dalam pergaulannya, maupun di kalangan golongan masyarakat yang merasa terbelakang atau terancam.
Kita tidak menyangkal adanya keadaan dan situasi tersebut di tengah-tengah pemuda/i gereja. Itu fakta dan kenyataan. Realita kehidupan bergereja. Yesaya sendiri tidak menyangkal penderitaan orang-orang Israel pada masa itu, Yesaya tidak menegor sikap orang Israel itu. Namun Yesaya membuka sebuah keakanan yang baik bagi mereka yang mengalami penderitaan. Dengan maksud itu Yesaya mengantarkan orang yang menderita itu ke tempat di mana mereka memuji Tuhan, karena siapa yang memandang kepada Tuhan, dibebaskan dari rintangan-rintangan yang melumpuhkannya dan sanggup berjalan lagi.

Bagaimanakah caranya agar kita bisa tetap tegar di tengah masa sukar?

Pertama, pujilah Tuhan. Dengan pujian kepada Tuhan membuat kita bisa tetap tegar dan mampu menerima realita kehidupan ini. Lalu di mana kita dapat memuji Tuhan agar kita tidak lumpuh dan tidak lelah dan lesu? Jawabannya adalah dalam persekutuan orang-orang kudus. Persekutuan orang-orang kudus itu terdapat dalam lingkungan gereja, terdapat dalam persekutuan pemuda/i gereja, terdapat dalam persekutuan doa, terdapat dalam penelaahan Alkitab, terdapat dalam kelompok paduan suara/kor/VG, dll. Ketika kita mulai memuji Tuhan, maka semangat kita akan bangkit kembali. Dengan pujian kepada Tuhan, kita akan dipulihkan dari rasa lelah dan lesu yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pujian kepada Tuhan, kita akan beroleh kekuatan baru setiap hari. Kekuatan itu selalu baru dan tak pernah terlambat. Dengan pujian kepada Tuhan, kita mendapat berkat yang berkelimpahan (bnd. Mzm. 69:31-32).
Kedua, nantikan Tuhan. Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (Yes. 40:31). Mengapa diumpamakan dengan burung rajawali? Coba kita mengamati burung rajawali (elang). Burung rajawali betapa indah dan elegan ketika mengembangkan kedua sayapnya dan melayang bebas di angkasa. Burung rajawali adalah burung yang berukuran cukup besar. Lebar kedua sayapnya ketika direntangkan setidaknya bisa mencapai dua meter. Burung rajawali pun diketahui membangun sarangnya tinggi di atas gunung. Untuk mencapai sebuah puncak ketinggian tertentu di mana burung itu bisa melayang megah dan bebas tentu tidak mudah. Seekor burung rajawali harus mengepakkan sayapnya dengan kuat melawan angin kencang dan badai untuk bisa sampai ke sebuah ketinggian tertentu. Burung rajawali pun harus berani menghadapi dan menentang badai untuk bisa melewatinya. Tapi usaha keras burung rajawali untuk menentang angin dan badai tidaklah sia-sia. Ketika mereka berada di atas badai dan angin kencang, mereka bisa melayang-layang bebas dengan indahnya.
Dari sifat burung rajawali itu bisa kita tarik kesimpulan bahwa berada di tempat rendah, kita akan merasakan berbagai masalah yang terus menerpa kita bak angin kencang dan badai. Jika kita memutuskan untuk berhenti dan puas hanya di tempat rendah, kitapun bisa goyah diterpa angin dan badai masalah. Untuk bisa mengatasinya adalah dengan berani mengambil langkah untuk naik lebih tinggi, sehingga kita bisa berada di atas segala permasalahan duniawi. Dengan berada di atas, kita tidak akan mudah goncang di terpa badai, malah mungkin kita tidak lagi merasakannya! Dunia boleh ditimpa krisis, dunia boleh goncang, namun hanya ketika kita berada di ataslah kita akan selamat, tidak kurang suatu apapun, malah bisa seolah burung rajawali yang melayang-layang dengan penuh sukacita.
Bagaimana agar kita bisa terbang ke tempat yang tinggi? Kita haruslah terus menanti-nantikan Tuhan. Terus bergantung tanpa putus pengharapan. Pengharapan akan Tuhan tidaklah pernah mengecewakan. "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." (Rm. 5:5). Itu janji Tuhan, dan kita tahu janji Tuhan itu adalah "ya dan amin". (2 Kor. 1:20). Mungkin waktunya tidaklah sama dengan keinginan kita, tapi kita tahu bahwa apa yang dirancang Tuhan bagi kita adalah semua yang terbaik. Semua Dia sediakan untuk kita miliki. Karena itulah pengharapan dalam menanti-nanti Tuhan tidak akan pernah mengecewakan. Bagi kita semua yang terus bertekun dan patuh, kita akan dibawa seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya, tidak akan lesu dan tidak akan lelah, meskipun harus menempuh angin dan badai sekalipun. "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya." (Yesaya 40:29).
Prosesnya tidaklah gampang. Seperti burung rajawali yang harus mengepakkan sayapnya dengan sekuat tenaga berulang-ulang agar dapat menembus angin untuk naik ke atas, demikian pula ketika kita hendak melatih kerohanian kita untuk terus menapak naik. Kita harus mematahkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang mungkin nikmat buat kita, kita harus keluar dari zona kenyamanan kita yang sering membuat kita terlena. Untuk bisa "terbang" di atas masalah, kita harus berani menghadapi masa-masa sukar dan tidak menghindar darinya. Namun percayalah, jika kita adalah orang percaya yang setia menanti-nantikan Tuhan, maka dalam proses untuk naik terbang tersebut kita akan ditopang oleh Allah, sehingga kita tidak menjadi lesu dan lelah. Pada suatu saat nanti, kita akan berada di atas, dan tidak lagi terpengaruh oleh angin, badai, gempa dan goncangan-goncangan hidup lainnya. Ada janji Tuhan yang sangat besar menanti di atas. Karena itu teruslah bertekun untuk terbang naik bak rajawali bersama Allah yang akan terus menguatkan kita.
Setiap orang hidup memiliki masalah yang harus dihadapi. Apakah itu masalah keuangan, keluarga, pekerjaan, pasangan hidup, atau penderitaan karena sakit penyakit. Dari masalah sederhana sampai yang pelik. Ada masalah yang baru muncul, ada juga yang sudah bertahun-tahun dihadapi dan belum terselesaikan. Sudah berusaha, sudah berdoa tetapi belum juga teratasi. Bagi beberapa orang hal seperti ini dapat membuat pengharapan pupus dan bahkan merasa Tuhan sudah berpaling darinya.
Hati-hati!, ini adalah tipuan iblis untuk membuat orang jauh dari Tuhan. Itulah sebabnya akhir-akhir ini sering terdengar pemberitaan di media masa tentang orang atau keluarga yang bunuh diri karena merasa masalahnya terlalu berat dan tidak ada jalan keluar. Atau mungkin tidak bunuh diri tetapi hatinya menjadi tawar dan imannya kepada Tuhan sirna. Sejak jaman Alkitab Perjanjian Lama, tipuan seperti ini sudah dilakukan iblis. Dalam Yesaya 40:27 tertulis : Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?". Iblis berusaha menarik umat percaya untuk menjauh dari Tuhan, agar merasa ditinggalkan, lalu mulai bersungut-sungut atau menyalahkan dan akhirnya meninggalkan Tuhan.
Tetapi hari ini mari kita kembali kepada kebenaran firman Tuhan. Daud adalah orang percaya yang sering menghadapi masalah berat bahkan sampai mengancam nyawanya, tetapi pengalamannya bersama Tuhan mengajarkan untuk percaya bahwa selalu ada pertolongan dari Tuhan. Mazmur 121 : 1-2, “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Jadi jangan putus asa, sebab tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya”.
Percayalah, Allah kita adalah Allah yang Maha Kuasa, yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung, yang tidak terduga pengertian-Nya. Dia punya saat yang terbaik untuk memberikan pertolongan, dan itu tidak pernah terlambat. Dia Allah pencipta, tidak mungkin Dia akan meninggalkan ciptaan yang dikasihi-Nya yang sudah ditebus dengan darah Anak-Nya. Pertolongan selalu ada di dalam Tuhan bagi semua yang percaya dan tetap mengasihi Dia. Mungkin kita berkata – saya tahu semua ini – tetapi untuk saya kapan itu saatnya? Sebab saya sudah lama tamat sekolah SMA/kuliah tetapi belum ada pekerjaan yang layak bagiku, umurku sudah mulai banyak tapi pendampingku belum kutemukan, aku sudah lima tahun kerja tetapi belum ada promosi jabatan, aku sudah punya pacar tapi tiba-tiba putus, aku sering tidak sependapat dengan orangtuaku, aku selalu dilecehkan oleh teman-temanku, dan lain-lain. Kapan pertolongan untuk saya datang ?
Saudara, mungkin pertolongan belum datang sekarang. Tetapi Tuhan sudah berjanji menolong. Firman-Nya berkata: “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya..... orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”. (Yesaya 40: 29-31). Jadi, nantikan saja pertolongan-Nya. Kalau pagi belum datang pertolongan itu, harapkan malam. Kalau malam belum datang juga pertolongan itu, harapkan esok pagi. Kalau besok belum datang pertolongan-Nya, harapkan lusa, demikian seterusnya. Terus setia berharap maka pertolongan itu akan datang sebab Tuhan sudah menjanjikannya, dan pasti akan digenapi dalam hidup saudara.
Umat Israel dalam bacaan kita juga tengah mengalami masa-masa yang berat. Mereka harus kehilangan tanah air dan hidup sebagai bangsa “buangan” di negeri asing. Begitu berat rasanya hidup yang mesti dijalani hingga mereka merasa, “Hidupku tersembunyi dari Tuhan, dan hakku tidak diperhatikan Allahku” (ayat 27). Namun, benarkah Tuhan telah meninggalkan mereka? Tidak. Tuhan tidak pernah berhenti memerhatikan mereka (ayat 28); juga memberi kekuatan dan semangat (ayat 29). Kuncinya: tidak bersandar pada kekuatan sendiri (ayat 30), dan tetap berpaut kepada-Nya (ayat 31).
Jadi, apabila hidup kita menjadi sulit; beban hidup menekan hebat, kesusahan terus menghantam, dan kita seolah-olah berjalan di lorong gelap tak berujung, janganlah berkecil hati. Tetaplah berpaut kepada-Nya. Kasih-Nya melampaui kasih seorang ibu kepada anak kandungnya (Yesaya 49:15). Benar, Dia tidak selalu mengabulkan apa yang kita inginkan, tetapi Dia tidak akan pernah mengecewakan. Tuhan tidak menjanjikan jalan hidup yang mulus tetapi dia menjanjikan kekuatan kepada orang yang menanti-nantikan-Nya.
Menanti-nantikan Tuhan melibatkan berpengharapan kepada Dia, meletakkan keyakinan kita pada Dia, dan bukan pada diri kita sendiri. Bagi semua yang mengandalkan Dia karena sadar akan kelemahan mereka, "mereka seumpama rajawali yang [akan] naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka [akan] berlari dan tidak menjadi lesu, mereka [akan] berjalan dan tidak menjadi lelah." Dengan demikian, pengakuan kita bisa berbunyi demikian, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku'' (Flp. 4:13).
Janji dalam Yesaya 40 ini diberikan Tuhan kepada umat pilihan-Nya melalui nabi Yesaya, yang sedang mengalami masa yang sulit di tengah pembuangan. Bangsa pilihan Tuhan ini diminta untuk mempersiapkan diri untuk menerima pertolongan dari Tuhan dan melihat kuasa Tuhan yang akan menyelamatkan mereka.
Dalam kehidupan yang serba sulit ini, hendaklah kita menyadari bahwa sesungguhnya kita membutuhkan pertolongan dari atas, seperti pemazmur berkata: “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah datang pertolonganku? Pertolonganku datang dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi” (Mzm. 121).
Pertolongan manusia sangatlah terbatas. Di tengah situasi krisis ekonomi global, marilah kita mengandalkan pertolongan dari Tuhan.
1. Tuhan adalah Allah kekal. Memiliki kuasa supernatural. Dia, sumber kekuatan yang dapat diandalkan.
2. Tidak terduga pengertian-Nya. Dia sumber hikmat dan pengertian. Tuhan mengerti pergumulan kita dan masalah-masalah yang kita hadapi. Kita perlu hikmat dari Tuhan untuk menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi dalam hidup ini. “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, - yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit -, maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin”(Yak. 1:5-6). Kalau kita minta hikmat kepada Allah, dengan iman Dia akan memberikan dengan murah hati.

Kasih-Nya tanpa batas. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tidak berdaya. Orang yang mengandalkan Tuhan tidak kuatir dalam tahun kering. “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”(Yer. 17:7-8). Ia akan bersandar kepada TUHAN menghadapi segala tantangan dan masalah dengan iman yang teguh. “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibr. 11:6).

Fidei & Gladys’08
Ramli SN Harahap
Email: ramlyharahap@yahoo.com; www.ramlyharahap.blogspot.com
HP: 0812 1998 0 500; 021-9483 2681

KHOTBAH: Galatia 6:9

“JANGAN JEMU-JEMU BERBUAT BAIK”
________________________________________
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9)

Sudah terlalu sering dan kerap kita mendengar kata-kata "berbuat baik", atau juga di dalam ibadah gereja, sering kali kata - kata "berbuat baik” ini dilontarkan.

Memang kita sebagai orang percaya, kita dianjurkan untuk berbuat kebaikan kepada sesama kita sesuai dengan firman Tuhan yang berkata "Kasihilah sesamamu manusia," di dalam kehidupan kita setiap harinya, sering kali kita kurang atau bahkan tidak pernah sama sekali melakukan apa yang di sebut "berbuat baik". Atau terkadang kita berbuat baik hanya untuk orang- orang yang kita kenal dan kita kasihi saja, juga untuk orang-orang yang kita anggap senasib, seagama, serumpun, sedaerah, semarga, dan lain-lainnya.
Ada satu kisah tentang tokoh terkenal yang melakukan Firman Tuhan dengan nyata / riil yaitu Ibu Theresia. Dia memberikan seluruh hidupnya untuk pelayanan di Negara India wilayah Calcuta.

Ibu Theresia, dilahirkan dengan nama Agnes Gonxha Bojaxhiu pada tahun 1910 di Negara Yugoslavia. Pada tahun 1928 ia memutuskan untuk menjadi seorang biarawati dan mendapat tugas untuk bergabung dengan suster2 di Loreto Dublin Irlandia, setelah itu ia bertugas ke biara Lotto di Darjeeling
India. Pada tahun 1929 ia mulai mengajar ilmu
geografi di SMU Saint Mary bagi gadis2 di
Calcuta.

Di masa itu kota Calcuta, jalan-jalan penuh sesak
dengan pengemis, orang kusta, tunawisma dan
yang paling menyentuh hati Ibu Theresia adalah
bayi-bayi yang di telantarkan begitu saja di jalan-
jalan, bahkan di tempat-tempat yang kotor dan bau
seperti tempat sampah.

Sejak saat itu hatinya terusik melihat keadaan kota Calcuta yang sedemikian parahnya, tanpa ada yang peduli dan merasa kasihan melihat nasib mereka yang terlantar itu.
Maka ia memutuskan keluar dari SMA tersebut dan sepenuh hati dan waktu juga tenaga untuk membantu masyarakat yang begitu memprihatinkan. Usaha Ibu Theresia ini juga mendapat dukungan dari mantan murid2 SMA tersebut dan mereka juga sepenuh hati membantu dalam dana dan tenaga. Setiap orang yang mau bergabung dengan Ibu Theresia ini di tuntut untuk mengabdikan hidupnya bagi pelayanan orang miskin tanpa menerima upah dalam bentuk apapun juga.

Suatu ketika saat Ibu Theresia pulang bersama rekan2nya di malam hari, mereka menemukan 4 orang yang keadaannya luka parah, dan salah seorang dari mereka kondisinya sangat parah di banding yang lain.

Ibu Theresia berkata, "Rawatlah 3 orang lainnya, biarkan saya sendiri yang merawat yang terluka parah ini". Ibu Theresia melakukan segala cara dengan penuh kasih dan senyum untuk mengobatinya, tiba-tiba orang yang kondisinya sangat parah ini menggenggam tangan ibu Theresia sambil berkata, " Ibu....terima....kasih," kemudian orang itu meninggal.

Kisah lain juga menceritakan suatu kali Ibu Theresia dan suster2 lain mengangkat seorang laki2 dari selokan, kondisi badannya setengah membusuk dan di penuhi oleh ulat-ulat. Hati Ibu Theresia, sangat tergugah dengan keadaannya, bahkan orang ini pun di rawat sendiri oleh Ibu Theresia dengan kasih sayang.
Hingga suatu hari saat orang ini sedang di rawat,
orang ini berkata kepada Ibu Theresia, "Ibu hari ini
aku akan mati sebagai seorang malaikat, bukan
sebagai gelandangan, terima kasih ibu, aku
melihat kasih Yesus ada dalammu" dan orang
itu pun langsung meninggal dalam dekapan Ibu
Theresia.

Kisah tadi menunjukkan bahwa kasih itu universal, artinya kasih itu tanpa harus membedakan ras, suku, agama, dan lain-lainnya. Bahkan hampir 99% orang-orang yang di bantu, di rawat, di sembuhkan Ibu Theresia itu dari golongan hindu, islam dan syiah.

000

Salah satu dari sepuluh hukum Torat adalah kuduskanlah hari Sabat. Hari Sabat adalah hari Perhentian bagi Tuhan. Semua orang Israel harus istirahat, dan memberikan waktu untuk Tuhan, berhenti mencari nafkah, dari enam hari kerja atau berlelah. Tetapi pada zaman Tuhan Yesus, orang Yahudi mempersempit makna hari Sabat, dengan men-”tuhan”kan hari Sabat. Begitu ekstrim sehingga orang-orang Farisi dan ahli-ahli Torat mengkritik Yesus karena menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Tetapi terhadap kritikan itu Yesus berbalik bertanya kepada mereka, ‘apabila kambing dombamu masuk lobang pada hari Sabat, apakah kamu tidak mengangkatnya, atau ada yang mau sakit dan butuh kesembuhan apakah tidak perlu diobati? Orang Farisi terdiam karena menyembuhkan adalah suatu perbuatan baik. Yesus memberikan satu pelajaran bahwa untuk berbuat baik tidak ada batas waktu. Memang hari ketujuh Tuhan tetapkan sebagai hari berhenti bekerja supaya manusia tahu beristirahat. Tetapi dalam soal kebaikan, dalam soal hal-hal yang rohani, Tuhan berkata jangan jemu-jemu berbuat baik. Perbuatan baik tidak mengenal istirahat.

Dalam ayat di atas Tuhan melarang kita untuk tidak jemu-jemu (tidak bosan-bosan) berbuat baik. Jika berbuat baik, kita akan menuai bila kita tidak menjadi lemah. Iblis selalu berusaha melemahkankan kita supaya kita berhenti berbuat baik dan tidak terus-menerus (continue) berbuat baik. Tetapi Firman Tuhan menganjurkan selama masih ada kesempatan (peluang) marilah kita berbuat baik kepada semua orang tetapi terutama kepada kawan-kawan seiman.

Kita semua diselamatkan bukan karena perbuatan baik. Kita diselamatkan karena augerah, karunia, pemberian Tuhan. Keselamatan itu tidak bisa dibeli dengan uang, dengan kebaikan, dll. Keselamatan bukan karena korban-korban kita, justru keselamatan terjadi karena Yesus telah berkorban untuk kita di salib Golgota. Tetapi kemudian setelah kita percaya kepada Yesus, setelah kita bertobat, maka iman kita harus disertai dengan perbuatan baik. Surat Yakobus berkata IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH NOL.

Ada tiga perbuatan baik yang harus kita lakukan supaya iman kita bertumbuh :

1. PERBUATAN BAIK DENGAN KORBAN-KORBAN (Ibrani 13:15-16)

Senantiasa (anytime) kita harus mempersembahkan korban syukur kepada Allah. Bagaimana kita mempersembahkan korban syukur kepada Allah? Dengan ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dari mulut kita harus selalu keluar pujian syukur kepada Tuhan. Walaupun mungkin kita mengalami tekanan, penyakit, kesusahan, tetapi justru dalam situasi yang demikian kita harus menaikkan pujian syukur kepada Tuhan supaya Tuhan campur tangan.
Firman Allah ini juga mengingatkan kita untuk jangan lupa berbuat baik memberikan bantuan. Banyak orang Kristen gampang untuk memuji Tuhan tetapi sulit untuk berkorban. Orang percaya harus belajar untuk memberikan korban-korban; korban untuk pekerjaaan Tuhan, korban untuk pembangunan gereja, korban untuk keperluan para hamba Tuhan, korban untuk pelayanan misi, korban untuk janda-janda dan yatim piatu, korban untuk penginjilan, dll. Korban-korban itu merupakan perbuatan baik kita.

2. PERBUATAN BAIK DENGAN PERKATAAN-PERKATAAN YANG PENUH BERKAT KEPADA ORANG LUAR (Kolose 4:5-6)

“….Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar….”. Ini adalah satu perbuatan baik melalui ucapan kita kepada orang lain. Setiap perkataan kita harus bisa memberikan kesaksian dan menjadi berkat bagi orang lain. Kalau terjadi bencana alam, apa kata-kata kita. Kalau percobaan datang, apa kata-kata kita. Perkataan orang Kristen harus membangun, harus memberikan berkat. Efesus 4:29, 5:6. Kata-kata kita jangan yang kosong tetapi kata-kata yang bermanfaat dan bisa menguatkan orang lain. Misalnya dengan kita memberi informasi kepada orang yang bertanya karena tidak tahu jalan, itu telah memberikan bantuan bagi orang yang memerlukannya. Penting sekali kita belajar memberkati orang luar dengan perkataan kita.

3. PERBUATAN BAIK DENGAN BERSAKSI (Matius 5:14-16; Yesaya 60:1-3)

Tuhan Yesus memberikan penugasan kepada semua orang yang percaya untuk menjadi terang dunia. Menjadi terang dunia dengan perbuatan-perbuatan yang baik sehingga orang memuliakan Tuhan. Apabila gereja bangkit dan bangun menyatakan terangnya, maka orang-orang berduyun-duyun datang kepada terang itu. Kita musti bisa menjadi terang kepada tetangga kita, kepada suku lain, kepada orang di luar gereja kita. Terang ini adalah perbuatan baik kita menjangkau orang-orang luar yang belum memiliki terang. Nyatakan terangmu supaya orang lain dapat keluar dari kegelapan, di lingkungan kita, di kantor, di sekolah, di komunitas kita, dll.

Sudahkah kita berbuat baik kepada setiap orang seperti yang Tuhan perintahkan di dalam firmanNya berikut ini :

1. Galatia 6 : 9 "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah".

2. 2 Tesalonika 3 : 13 "Dan kamu, saudara- saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik".

3. Matius 22 : 39 "Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".

4. Markus 12 : 31 "Dan hukum yang kedua ialah:
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama
dari pada kedua hukum ini."

5. Galatia 5 : 14 "Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!"

6. Yakobus 2: 8 "Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik." Dan bila seluruh isi Alkitab itu kita peras, maka akan keluar inti sarinya yaitu "KASIH" Mudah di katakan namun terkadang susah di laksanakan, tapi saya berharap kita bisa dan mau memulai untuk berbuat baik kepada siapapun juga.

Bacaan Alkitab Minggu 10 Mei 2009 : Matius 11 : 25 - 30

KEBENARAN DAN KELEGAAN BAGI YANG MENERIMA YESUS
Minggu Kantate

Pendahuluan
Raja Salomo terkenal sebagai raja yang bijaksana sekaligus pandai. Ingatlah cerita Salomo yang mampu mengembalikan seorang bayi kepada ibu yang sebenarnya. Salomo mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, karena ia sangat dekat kepada Tuhan. Sehingga kebenaran dinyatakan kepadanya. Ia menjadi disegani dan ditakuti oleh raja-raja di sekitarnya karena kebijaksaannya. Lalu mengapa pada ayat 25, Yesus justru menyembunyikan sesuatu kepada orang bijak dan orang pandai? Bukankah ini aneh? Atau apa maksudnya?

Membuka Hati dan Rendah Hati
Bila kita membaca pasal 11-13, akan mengerti kenapa Yesus berkata demikian. Konteksnya pada pasal ini, Yesus berhadapan dengan ahli-ahli Taurat dan orang Farise yang meragukan Yesus sebagai mesias. Padalah Yesus sudah tunjukkan keilahian-Nya melalui karya-karya penyembuhan dan lain-lain. Namun mereka tetap tidak bertobat. Lalu apa persoalannya sehingga mereka tidak percaya kepada Yesus? Sebenarnya ini bukan persoalan sudah tau atau tidak, sudah ngerti atau tidak. Tetapi ini lebih persoalan hati. Hati para ahli taurat dan orang Farise itu tertutup rapat terhadap yang mereka tau dan lihat. Terlebih mereka tidak rendah hati.
Ahli taurat dan Farisi tetap tegar hati dan tidak percaya kepada apa yang Yesus ajarkan. Mereka banyak baca kitab suci dan ahli taurat tapi tidak terbuka menerima apa yang mereka baca dan Yesus ajarkan. Mereka malah menjadi sombong dengan yang mereka tahu. Merasa suci dari orang lain. Merasa benar dari orang lain. Mereka membuka mata, membuka telinga, tetapi menutup hati. Jika sudah tutup hati, komunikasi akan berhenti. Maka itu sama dengan titik mati untuk tidak merubah diri. Itu sebabnya Tuhan menyembunyikan diriNya kepada mereka. Justru siapa sangka, Tuhan menyatakan diriNya kepada orang kecil. Tuhan lebih dekat kepada mereka. Kenapa bisa?
Orang kecil yang dimaksud pada nas ini adalah anak-anak atau orang yang belum dewasa. Dalam arti luasnya adalah orang yang belum matang berilmu, namun mampu menerima kehadiran Allah dalam diri Yesus Kristus. Inilah kelebihan dari orang kecil itu yaitu mampu membuka diri menerima Yesus Kristus dan rendah hati. Mereka mampu merespons Injil dengan positif.
Tuhan ingin dalam kehidupan iman Kristen kita, kita mempunyai hati seperti bayi yang setiap saat mau diajar dan dibentuk oleh Firman. Bukankah justru jika menjadi seperti anak kecil, kita masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat. 18:3).
Orang yang merasa diri bijak biasanya ia adalah orang yang sok tahu segala hal sehingga kalau ada orang lain yang mengatakan tentang kebenaran, ia akan menutup diri. Orang seperti demikian ini tidak akan pernah mendapatkan suatu pengetahuan karena belum apa-apa ia merasa pandai dan mempunyai banyak pengetahuan. Oleh sebab itu, bagi Yesus, murid sejati adalah yang banyak tau, namun juga mampu menerima kehadiran Yesus dalam hatinya.
Di zaman saat ini, selain membutuhkan orang bijak dan pintar, kita membutuhkan orang yang terbuka dan rendah hati. Namun jika disuruh memilih, mau orang pintar atau rendah hati? Rasanya lebih baik berteman kepada orang terbuka dan rendah hati walau tidak begitu pintar. Saya mempunyai seorang teman sekelas yang pintar, jago bahasa Inggris lagi. Tapi sayang orangnya tinggi hati. Maunya pendapatnya yang benar dan sifatnya tertutup. Akibatnya, di kelas dia tidak punya banyak teman bahkan dikucilkan teman-teman. Jika rapat kelas, kehadirannya tidak dianggap penting, karena tidak akan bisa komunikasi baik dengannya. Demikianlah teman-teman meresponnya. Orang tidak akan membuka diri kepada orang yang tertutup dan tinggi hati. Orang cenderung hanya mau terbuka kepada orang yang juga mau terbuka.
Pribadi yang baik adalah yang mampu membuka hati dan rendah hati. Ia adalah yang bersifat open minded. Orang open minded biasanya lebih mudah untuk mengubah worlview-nya dari pada orang yang tinggi hati. Mengubah cara pandang tidaklah gampang, karena diperlu pengorbanan. Ia harus rela meninggalkan cara pandangnya yang lama. Namun seseorang yang memiliki keterbukaan hati dan pengorbanan menjadi tempat yang subur untuk bertumbuhnya didikan dan ajaran yang benar. Yesus sangat suka kepada yang memiliki open minded, karena akan mudah dididik dan diberikan kebenaranNya. Murid-murid Yesus adalah orang yang mampu membuka diri. Cara pandang mereka melihat Yesus berbeda dengan orang Farise. Murid-murid melihat Yesus sebagai Tuhan dan Guru, namun orang Farise melihat seperti itu. Murid yang open minded akhirnya meninggal gaya hidup mereka sebagai penjala ikan menjadi penjala orang .
Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang open minded terhadap ajaran Tuhan. Sehingga gereja yang open minded akan menjadi tempat dinyatakanNya kebenaran Tuhan. Demikian juga kepada keluarga yang terbuka kepada firman Tuhan dan menerimanya akan mendapat kebenaran Tuhan. Bagi yang menutup diri atau tidak perduli kepada firman Tuhan, kepadanya aka tersembunyi kebenaran Tuhan. Tuhan telah membuka diri untuk menerima keberdosaan kita. Oleh karena itu kita juga hendaknya terbuka dan rendah hati menerima kehadiran Tuhan.
Itulah sebabnya Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya karena berlaku benar dan adil. Bapa-Nya menyatakan kebenarannya pada orang yang tepat yaitu orang-orang kecil, orang-orang yang mau membuka diri dan menerima kehadiran-Nya. Hanya bagi orang yang demikian, kebenaran dinyatakan dan Injil dapat tumbuh berkembang. Agak sulit bagi orang yang berkuasa untuk masuk sorga (Mat. 19:23). Sebab tinggi hati dan ketertutupan hati cenderung melekat padanya.

Yesus Memberi Kelegaan Bagi Yang Memikul Salib
Kehidupan orang kecil sering dikuasai oleh orang yang berkuasa, orang yang pintar dan bijak. Bahkan orang kecil sering menangis karena penindasan yang mereka terima. Sehingga menjadi letih lesu menanggung penindasan atau beban yang berat. Mereka seakan tidak berdaya menanggungnya. Namun tidak berhenti sampai disitu. Yesus menawarkan kepada mereka tertindas, yang menderita dan orang-orang kecil untuk datang kepada-Nya, karena Ia akan memberikan kelegaan. Sungguh tawaran yang luar biasa.
Harus diakui bahwa setiap orang memiliki beban hidup yang berat. Kondisi ekonomi yang tidak baik, menyebabkan sulitnya memenuhi kebutuhan hidup. Keadaan ini sangat dirasakan oleh orang-orang kecil. Penduduk kota Jakarta lebih banyak dihuni oleh orang miskin. Mereka tinggal di tempat-tempat kumuh. Jiwa dan badan mereka sangat letih untuk mendapatkan hidup yang cukup. Hidup terancam karena kurang mendapat asupan gizi yang cukup. Nyawa diintai oleh penyakit yang tidak dapat disembuhkan karena ketidakmampuan mengakses layanan kesehatan. Masyarakat juga akan mengalami lesu yang berkepanjangan di masa mendatang karena rendahnya kualitas dan kuantitas pendidikan kita saat ini.
Bagaimanakah dampak turunannya? Banyak yang tidak tahan memikul penderitaan itu. Deretan jumlah orang bunuh diri di tanah air terus bertambah, akibat himpitan masalah yang banyak. Penderitaan dan beban berat dapat membuat orang jatuh ke dalam dosa. Lalu bagaimanakah sikap kita bila dalam keadaan letih lesu? Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya, karena Ia akan memberikan kelegaan.
Yang menarik, justru mengatakan? ”pikullah kuk yang kupasang”. Pengikut Kristus harus memikul kuk itu, bukan justru menghindar atau membuang kuk itu. Yesus menuntut dengan tegas agar seorang hamba setia mengemban kuknya. Bagi orang Yahudi, ”kuk” adalah simbol ketaatan pada hukum dan hikmat Tuhan. Orang Kristen diminta untuk patuh dan taat menerima kuk itu. Kita harus belajar kepada Tuhan. Walau dihina, diludahi bahkan mati di kayu salib, Ia tetap setia memikul penderitaan itu. Kenapa bisa? Karena kuk itu enak dan ringan.
Kuknya enak dan ringan bukan karena sesuatu itu mudah untuk dilakukan atau jalannya aman. Justru sebaliknya, salib adalah menakutkan (Mat. 16:24), berada di tengah serigala (Mat. 10:16). Kuk dari Yesus itu enak dan ringan karena itu adalah jalan Tuhan dan merupakan pendahuluan dari penebusan jiwa manusia.. Bila dilihat pada sapi, kuk itu menjadi beban namun sekaligus penuntun. Jadi salib dan penderitaan itu adalah juga penuntun. Kemudian kuk yang dipasang itu tidak merugikan yang memikulnya. Justru akan membawanya kepada kelegaan. Membawa kelegaan di bumi dan juga di sorga. Undangan dan janji Yesus inilah yang harus kita nyanyikan sebagai nyanyian baru dalam hidup kita. Menyuarakan dengan syukur bahwa Tuhan tidak memberikan kehidupan yang lebih baik, jika tetap setia dalam memikul kuknya. Bukalah hatimu akan kehadiranNya. Amin.