Rabu, 19 Agustus 2009

Bacaan Minggu 06 September 2009: Roma 15 : 5 - 9

PERSEKUTUAN KRISTEN


Adalah lebih mudah membentuk perkumpulan daripada memelihara kesatuan. Lihatlah banyaknya perkumpulan-perkumpulan yang terbentuk, tetapi belum tentu mereka bersatu. Hal seperti itu disebut orang Batak dengan: “masidaisan tanggurung, alai ndang masipadohan” (bahu bersentuhan, tetapi tidak saling bicara). Itu bisa digambarkan seperti orang di angkutan umum, bahunya saling bersentuhan tetapi tidak ada komunikasi. Atau, seperti bertetangga, dinding rumah boleh satu, tetapi penghuninya tidak saling sapa. Ini hanya contoh kecil saja, yang menunjukkan berkumpul tetapi tidak bersatu.
Nas ini mau menasihatkan umat Kristen untuk tidak hanya sekadar berkumpul, tetapi harus sungguh-sungguh bersekutu dan bersatu. Tidak mudah memang, sebab ada banyak perbedaan yang dimiliki setiap anggotanya. Katakanlah misalnya seperti yang disoroti Paulus dalam Surat Roma ini, terutama dalam pasal 14-15. Terdapat perbedaan asal-usul masuk Kristen (Yahudi, non-Yahudi); soal makanan (berpatang, tak berpantang); soal hari (ada yang menganggap hari yang satu lebih penting daripada yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama), ada yang imannya kuat, dan ada yang lemah. Daftar ini akan makin panjang lagi jika melihat banyaknya perbedaan di antara gereja-gereja sekarang ini. Alhasil, perbedaan ini telah menimbulkan ketegangan dan mengancam hidup persekutuan sesama umat Kristen. Terjadilah saling menghakimi, menyebut diri/kelompoknyalah Kristen yang benar, dan menghinakan yang lain. Jika keadaan ini terus dibiarkan berlanjut, maka akan muncul konflik yang mengarah pada perpecahan dan permusuhan.
Hal inilah yang mendorong Paulus untuk memberikan tanggapan dan saran-saran teologisnya. Ia mengakui adanya perbedaan-perbedaan, dan itu tidak mungkin dihilangkan. Tetapi ia melarang dengan keras supaya jangan ada yang saling menghakimi. Sebab menurutnya, tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup dan matinya untuk dirinya sendiri, melainkan baik hidup maupun mati kita adalah milik Tuhan (Rm.14:8). Artinya, setiap kita yang berbeda-beda ini adalah milik Tuhan yang satu. Itulah dasar kesatuan orang percaya, yaitu: “kita satu di dalam Tuhan, dan ada satu Tuhan untuk semua”. Karena itu, menurut Paulus, setiap orang Kristen harus mengabdikan dirinya untuk membangun dan memperindah bangunan persekutuan kristiani, justru karena ada perbedaan-perbedaan. Ia menyebut: “setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya” (Rm.15:2). Berarti, perbedaan itu dapat menjadi sumberdaya (kekayaan) yang potensil membangun kebaikan dan keindahan persekutuan Kristen, tubuh Kristus itu.
Sebetulnya, sudah sejak awal, Allah menghendaki perbedaan dan bukan kesamaan atau seragam (uniformis). Lihatlah misalnya, ketika Allah menciptakan bumi dan segala isinya. Ada langit, ada bumi; ada darat, ada air; ada siang, ada malam; ada laki-laki, ada perempuan, dll. Beragam, tidak seragam; berbeda, tidak sama. Tetapi toh dengan perbedaan itu Allah menilai hasil ciptaan-Nya dengan nilai baik, bahkan sungguh amat baik. Hal yang sama juga kita lihat dalam ajaran Paulus tentang solidaritas tubuh dalam 1 Korintus 12. Ada banyak anggota tubuh, dan berbeda satu dengan yang lain. Tetapi semua saling membutuhkan dan bekerjasama untuk membangun tubuh yang satu. Dengan begitu, terbentuklah satu tubuh yang baik dan indah. Persekutuan yang satu, baik dan indah seperti inilah yang didamba Paulus terjadi di antara orang Kristen, yang ditandai dengan kerukunan dan saling menerima satu akan yang lain.

Kerukunan

Di samping tanggapan dan saran teologis, Paulus juga menyampaikan doa, yaitu: “supaya Alah sumber ketekunan dan penghiburan itu mengaruniakan kerukunan kepada kamu sesuai dengan kehendak Kristus”. Artinya, Kristus menghendaki supaya persekutuan umat Kristen itu bersatu dengan rukun (bnd.Yoh.17:11b). Untuk memahami “kerukunan” ini dapat kita baca Mazmur 133:1. Dari situ dapat disebut bahwa persekutuan Kristen itu adalah persekutuan “saudara seiman” dalam keluarga Allah. Maka jika mereka dapat “diam bersama dengan rukun”, oh, alangkah baik dan indahnya. Pertama, di dalamnya terdapat persamaan derajat atau persaudaraan egaliter. Dimasukkan dalam keluarga, berarti identitas seseorang dikenal, dihargai. Dimasukkan dalam keluarga juga ada “kursi” dan “meja” untuk setiap anggotanya. Itu berarti haknya terjamin, dan memiliki akses pada kehidupan. Dalam keluarga, tak seorang pun boleh disanjung bagai dewa atau “anak mas”, sementara yang lain dipandang sebelah mata atau diremehkan. Melainkan, kita harus saling mengasihi dan menghargai satu sama lain.
Kedua adalah harmoni, justru karena ada perbedaan itu. Keenam tali gitar, misalnya, berbeda ukuran dan suaranya. Dalam koor juga ada empat suara atau lebih yang berbeda. Tetapi jika distel, terdapatlah harmoni/keserasian, yang membuat suara terasa indah dan enak didengar. Demikianlah dalam persekutuan orang Kristen itu terdapat banyak perbedaan. Ini perlu diatur (manage) supaya ada harmoni, sehingga satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah. Kata kunci di sini adalah kerendahan hati dan kesediaan mengabdikan diri/potensi bagi kebersamaan. Jadi, bukan kesamaan tetapi kebersamaan. Ketiga adalah sharing dan solidaritas. Kita semua dikarunia Tuhan talenta atau potensi yang berbeda-beda. Karunia ini bukanlah untuk diri kita sendiri, tetapi untuk kita pergunakan dalam pembangunan hidup bersama. Karena apa? Karena kita bukanlah mahluk sempurna yang serba bisa. Semua kita memiliki kekurangan dan keterbatasan. Sebab itulah kita perlu sharing, saling berbagi, dan solider. Ini penting sebab kerukunan itu bukan hanya berarti tidak bertengkar atau ribut, tetapi juga terdapat kepeduliaan terhadap sesama, terutama terhadap saudara-saudara kita yang paling lemah (bnd.Rom.15:1; 1 Kor.12:23b). Jadi, dalam kerukunan itu harus ada diakonia kasih, dan alamatnya yang pertama adalah saudara seiman yang paling membutuhkan (Gal.6:10).

Saling menerima

Kemudian, Paulus menasihatkan: “terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus menerima kita” (ay. 7). Kristus menerima semua orang tanpa membeda-bedakannya, sehingga di dalam Kristus tidak ada lagi perbedaan (Gal.3:28). Demikianlah orang Kristen harus saling menerima satu dengan yang lain. Saling menerima berarti menjadikan seseorang itu sebagai sesama, atau bagian dari diri kita sendiri. Dengan cara inilah, persekutuan seiman dapat diwujudkan.
Masalah yang sering terjadi adalah bahwa cara kita memperlakukan manusia tidak sama. Penyambutan kita terhadap seseorang, tergantung pada status yang disandangnya. Bukan manusianya, tetapi hartanya dan penampilannya yang kita lihat. Maka, yang kaya kita hormati; yang miskin kita pandang sebelah mata. Yang kaya kita hantar dan persilahkan duduk; sementara si miskin kita suruh cari tempat sendiri, berdiri saja atau duduk di tempat yang tidak layak (Yak.2: 1-4).
Yang benar adalah semua orang harus diterima sebagai sesama manusia yang mempunyai martabat. Penerimaan kita terhadap seseorang bukan terletak pada status sosialnya (kaya-miskin; konglomerat atau kong yang melarat), tetapi lebih pada keberadaannya sebagai manusia yang diciptakan Allah menurut gambar-Nya, dan yang untuknya juga Kristus mati. Pada kesegambaran dengan Allah dan penebusan Kristus itulah melekat martabat manusia. Maka, pembeda-bedaan manusia sama artinya dengan perendahan derajat seseorang. Dan itu juga berarti menghina Pencipta dan Penebusnya. Sebaliknya, jika terdapat hubungan yang saling menerima, maka persekutuan itu layak dipersembahkan menjadi kemuliaan Allah.
Sudah jelas, bahwa maksud Allah ketika memilih satu bangsa tertentu (Israel) menjadi umat-Nya, bukanlah untuk menolak atau tidak menerima bangsa-bangsa yang lain. Melainkan, itu hanyalah sebuah strategi misi pelayanan, yaitu: supaya melalui umat pilihan pertama itu tersebar karya keselamatan kepada seluruh bangsa. Dan maksud itu digenapi Yesus Kristus dengan sempurna melalui pelayanan dan pengorban-Nya. Jadi, karya Kristus itu bukan hanya untuk orang Yahudi, tetapi juga untuk seluruh bangsa. Alamat kasih Tuhan itu juga adalah semua orang; dan semua orang diundang memasuki Kerajaan Allah.
Jika demikian, maka persekutuan Kristen bukanlah persekutuan yang tertutup, yang terbatas daya tampungnya, atau yang pelayanannya dibatasi hanya untuk ‘kalangan sendiri’ saja. Melainkan, persekutuan yang terbuka (opensif), oikumenis, dan mengglobal. Gereja harus menjadi tempat bertumpunya semua orang dari berbagai suku, ras, kebudayaan, dan lain-lain. Syaratnya hanya satu, yaitu: beriman kepada Kristus. Dengan cara inilah Tuhan memakai gereja mewujudkan persaudaraan global. Semakin banyak anggotanya, semakin kuat. Tentulah ini harus diikuti dengan peningkatan mutu kesatuannya. Bukan saling sikut, apalagi saling sikat. Melainkan, terdapat pola hidup anggotanya yang saling mengakui, saling menghormati, dan saling melayani, sehingga seluruh bangsa turut memuliakan Allah dan menyanyikan mazmur bagi-Nya. Amen.




Pdt.Dahlan Munthe, MTh.

Bacan Minggu 30 Agustus 2009: Galatia 4 : 22 - 28

“KERUKUNAN: HIDUP BERDAMPINGAN DENGAN ORANG YANG BERBEDA PANDANGAN/ORIENTASI HIDUP”

Pengantar.
Ayat-ayat yang ditentukan menjadi epistel ini nampaknya mau mengungkapkan satu teologi yang bukan berdasarkan nas yang tertulis dalam Alkitab. Sebab menurut Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) Galatia 4 itu terdiri dari tiga nas (kelompok ayat berdasarkan isi):
1. Ayat 1 – 11 berisi penjelasan bahwa tidak ada lagi perhambaan.
2. Ayat 12 – 20 berisi tentang penjelasan hubungan Rasul Paulus dengan jemaat Galatia.
3. Ayat 21 – 31 berisi tentang fungsi hukum Taurat yang ada di Perjanjian Lama bagi umat kristen (yang percaya kepada Yesus). Dalam hal ini Rasul Paulus mengambil contoh atau gambaran Hagar dan Sara dalam kehidupan Abraham.
Sehubungan dengan itu saya lebih dahulu memberi penjelasan tentang maksud nas ke tiga ini berdasarkan pembagian nas menurut LAI dan kemudian mencoba memberi penjelasan sesuai tema minggu “Kerukunan: Hidup berdampingan dengan orang yang berbeda pandangan/orientasi hidup”.

INJIL DAN HUKUM TAURAT

Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman (Gal.3:24).

Seorang anak remaja bertanya kepada pendeta: “Pak pendeta! Mengapa tidak kita lakukan semua yang tertulis dalam kitab ‘Musa’ yaitu tentang Hukum Taurat?” “Berilah contohnya!”, kata pendeta. “Sunat (Kej.34:22), pantang makan darah (Im.17:10-12), hari Sabat (Kel.20:8-11) dan masih banyak lagi”, kata remaja itu. Pendeta memberi penjelasan: “Tentang hal itu, Yesus pernah berkata: Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi (Yoh.13:34), di tempat lain, Yesus juga berkata bahwa bukan hal-hal yang lahiriah (harfiah) dalam hal melaksanakan hukum Taurat, tetapi lebih kepada yang rohani, yang dari perasaan seperti keadilan, kejujuran dan yang sejenisnya (bnd. Luk.11:37-52)”. Pertanyaan si remaja di atas juga menjadi masalah di jemaat Galatia setelah Rasul Paulus meninggalkan Galatia.
Salah satu masalah yang mau diselesaikan Rasul Paulus melalui surat Galatia ialah pendapat yang mengatakan bahwa “menjadi kristen yang benar harus melakukan Hukum Taurat secara murni dan konsekwen”. Pendapat ini datang dari orang-orang kristen Galatia yang berlatar-belakang Yudaisme (kejahudian; agama dan adat-istiadat Yahudi). (catatan: yang dimaksud dengan Hukum Taurat Yahudi ialah seluruh yang tertulis dalam kitab Kejadian sampai Ulangan. Kitab-kitab inilah yang disebut Kitab Taurat orang Yahudi). Rasul Paulus tidak setuju penggunaan hukum Taurat secara hurufiah, karena hukum Taurat tertulis adalah mematikan (bnd. 2Kor.3:6). Kita tidak bisa membayangkan seperti apa kekristenan seandainya mengikuti pendapat orang Kristen yang berlatar-belakang Yahudi itu.
Contoh yang dipakai Rasul Paulus untuk menjelaskan makna hukum Taurat ialah Hagar dan Sara, yang keduanya melahirkan anak bagi Abraham. Hukum Taurat tertulis adalah ibarat Hagar dan anak yang dia lahirkan Ismail, dan ‘hukum anugerah’ adalah ibarat Sara dan anaknya Ishak. Kedua-duanya adalah untuk Abraham. Ismail dan Ishak sama-sama anak Abraham, tetapi Ismail terusir dari Abraham (Kej.21:14). Hagar dan Ismail terusir dari keluarga Abraham setelah Sara melahirkan Ishak. Hagar dan Ismail berguna bagi Abraham sebelum Ishak lahir. Karena Hagar menyombongkan diri terhadap Sara maka dia dan Ismail diusir dari kehidupan Abraham. Inilah gambaran yang dibuat Paulus untuk menjelaskan hukum Taurat tertulis dengan Firman Tuhan di dalam Yesus Kristus.
Menurut Rasul Paulus bahwa hukum Taurat adalah penuntun (Batak: siparorot) (Gal.3:24). Yang dituntun (diparorot) biasanya adalah anak kecil usia di bawah satu tahun sampai dua tahun, biasa disebut ‘batita atau balita’ dimana pada saat si anak telah menanjak usia dua tahun ke atas dia tidak lagi dituntun untuk berjalan. Hukum Taurat sebagai ‘penuntun’ memberi arti bahwa pada satu saat yang dituntun akan bebas dari yang menuntun, yaitu ketika si anak telah dewasa. Gambaran itulah yang diberikan Rasul Paulus untuk menjelaskan fungsi hukum Taurat dalam sejarah bangsa Yahudi.
Keadaan dewasa yang dimaksudkan Rasul Paulus ialah ketika Yesus Kristus telah datang dan manusia telah menaruh percaya kepada-Nya. Rasul Paulus memberitakan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dimana Dia telah mengajar manusia untuk hidup sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Yesus mengajar murid-murid-Nya dan masyarakat banyak untuk menerima ‘perintah yang baru yaitu kasih (Yoh.13:34) agar manusia melakukan kasih terhadap Allah, terhadap sesamanya manusia dan terhadap seluruh yang diciptakan Allah.

KERUKUNAN
Hidup berdampingan dengan orang yang berbeda pandangan/orientasi hidup.

Nas di atas (Gal.4:22-28) adalah analisis Rasul Paulus tentang cerita Hagar, Sara dan Abraham yang tertulis dalam kitab Kejadian 16 dan 21. Dari kacamata kristiani, ada dua tindakan Abaraham yang salah dalam cerita Kejadian 16 dan 21:
1. Tindakan Abraham yang beristeri dua. Abraham memperisteri Hagar sebagai isteri kedua atas kekwatiran tidak punya keturunan lagi dari isteri pertama Sara. Rasul Paulus melarang beristeri dua (1 Tim.3:2, 12).
2. Tindakan Abraham yang mengusir Hagar dari rumahmya (Kej.21). Abraham mengusir Hagar karena dorongan Sara, dimana menurut Sara, Hagar menyakiti hatinya karena dia mandul (Kej. 21: 8-21). Rasul Paulus memaknai pengusiran Hagar itu sebagai cara untuk menjelaskan siapa anak “kedagingan” dan siapa anak “perjanjian”. Ismail anak Hagar adalah anak kedagingan dan Ishak anak Sara adalah anak perjanjian. Dari sudut pandang kekristenan hal “pengusiran” tersebut tidak dapat dibenarkan. Yesus pernah berkata: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat.5:44; Luk.6:27, 35).
Ajaran Yesus yang menyuruh para pengikutnya mengasihi musuh, adalah ajaran yang sangat revolusioner bagi mereka yang hidup dalam hukum atau adat-istiadat pembalasan. Kita tau bahwa dalam hukum atau adat-istiadat Yahudi berlaku hukum pembalasan. Tertulis: “... sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki (Ul.19:21; bd. Kel. 21:23).
Beberapa resep yang dapat ditawarkan agar orang yang berbeda pandangan/orientasi hidup dapat hidup berdampingan:
1. Menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa perbedaan yang terdapat dalam diri setiap orang, setiap suku bukanlah ciptaan manusia akan tetapi ciptaan Tuhan. Jadi, menerima perbedaan berarti mempercayai Tuhan sebagai Pencip dan Maha Kuasa.
2. Menerima perbedaan apa adanya.
3. Berusaha menemukan kesamaan, dan bukan sebaliknya.
4. Melaksanakan secara bersama-sama apa yang mungkin menjadi kebutuhan bersama seperti memerangi kemiskinan, kebodohan, pengrusakan lingkungan hidup.

Rabu, 12 Agustus 2009

PESAN SINODE AM XVI GEREJA KRISTEN PROTESTAN ANGKOLA

PESAN SINODE AM XVI
GEREJA KRISTEN PROTESTAN ANGKOLA
(G.K.P.A.)

Kepada

Seluruh Warga Jemaat dan Pelayan Gereja Kristen Protestan Angkola
di seluruh Indonesia


Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus!

Sinode Am XVI GKPA yang dihadiri Peserta sebanyak 193 orang dan Peninjau 31 orang yang berasal dari 28 Resort dan 1 Resort Persiapan yang ada di GKPA, berjalan dengan baik dan sukses. Hal ini terjadi berkat dukungan dan doa seluruh warga jemaat GKPA. Sinode Am tersebut dilaksanakan dari 15-19 Juli 2009 di Kantor Pusat GKPA, Kota Padangsidimpuan.
Sinode Am XVI GKPA secara resmi dibuka oleh Pucuk Pimpinan GKPA, Pdt.A.L.Hutasoit,M.A. Pembukaan ini ditandai dengan pemukulan gong. Dengan dibukanya persidangan sinode ini, maka Pucuk Pimpinan GKPA mengharapkan seluruh peserta sinode dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang berharga demi kemajuan GKPA ke masa depan.
Sinode Am XVI GKPA diresmikan pembukaannya Gubernur Sumatera Utara yang diwakili Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sumatera Utara, Ir. Josep Siswanto. Gubernur dalam sambutannya mengucapkan selamat bersinode dan mengharapkan agar GKPA semakin menunjukkan perananya dalam masyarakat dan berbangsa melalui peningkatkan kehidupan kerohanian warganya.
Acara persemian Pembukaan juga dihadiri oleh Bupati Tapanuli Selatan Ir. H. Ongku B. Hasibuan,MM dan Wakil Bupati Ir. Aldinz Rapollo Siregar,MM dan istri, Walikota Padangsidimpuan, dan Kakandepag Kota Padangsidimpuan. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padangsidimpuan dalam sambutannya mengatakan “berbangga hati karena GKPA satu-satunya gereja yang berpusat di Tapanuli Selatan dan mengajak agar GKPA menjadi mitra pemerintah dalam memelihara kerukunan antar dan inter umat beragama dan turut memajukan Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padangsidimpuan”.
Pdt.M.H.Sitorus,S.Th. mewakili BKAG Tapanuli Selatan (Tap-Sel) dalam sambutannya mengatakan berbangga hati atas kehadiran dan peran aktif GKPA dalam menghidupkan kerjasama dan kegiatan beroikumene selama ini. Sementara itu Maritje mewakili Gereja Mennonite di Belanda, mengatakan bahwa Gereja Mennonite sangat senang bermitra dengan GKPA dan mengharapkan supaya partnership (kemitraan) semakin ditingkatkan pada masa-masa mendatang.
Demikian juga undangan khusus GKPA, Parlindungan Purba anggota DPD-RI utusan daerah Sumatera Utara, dalam sambutannya mengatakan sangat bangga dengan GKPA karena GKPA salah satu gereja yang sangat peduli dengan masalah-masalah di daerahnya dan mengucapkan terimakasih atas kerjasama yang dijalin selama ini.
Akhirnya, Pucuk Pimpinan GKPA Pdt. A.L.Hutasoit,M.A. (Ephorus) mengajak seluruh sinodestan mensyukuri berkat dan pemeliharaan Tuhan selama ini dan mengajak untuk bersama-sama semakin aktif menggumuli tema dan sub-tema GKPA demi kemajuan GKPA di masa depan.
Sinode Am XVI GKPA berjalan dengan baik berkat kerja keras seluruh panitia sinode am yang telah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk kelancaran sinode. Sinode Am juga berjalan dengan lancar atas dukungan dari pemerintah, pribadi-pribadi yang telah memberikan kontribusinya dalam pelaksanaan sinode.
Sinode Am XVI GKPA ini ber-tema: “BERGIATLAH DALAM PEKERJAAN TUHAN” (1 Korintus 15:58b) dan sub tema: “Peran dan Fungsi Gereja Dalam Menghadapi Krisis Global di Era Modernisasi”. Pada acara pembukaan sinode am, para sinodestan dan undangan disuguhi dengan tarian-tarian budaya Angkola yang dibawakan oleh Anak-anak Sekolah Minggu dan persembahan lagu-lagu pujian oleh Koor Gabungan GKPA Jl.Teuku Umar.
Sinode Am disemangati oleh dua peristiwa sejarah penginjilan yakni, pertama, semangat 175 tahun Kekristenan di Pakantan, Kecamatan Pakantan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang dirayakan pada 11-12 Juli 2009 dan kedua, semangat menyambut 150 tahun Kekristenan di daerah Angkola Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) pada April 2011. Kedua momen peristiwa itu membuat semua peserta semakin bersemangat mengikuti sinode, mengingat daerah Angkola-Mandailing sebagai tempat persemaian Injil, yang menjadikan kita percaya kepada Kristus.
GKPA juga bersyukur atas terselenggaranya dengan baik, aman, lancar dan damai pesta demokrasi pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI yang dilaksanakan pada tanggal 8 Juli 2009 yang lalu dan akan mendukung sepenuhnya Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih.
Dalam proses penyelenggaraannya, Sinode Am XVI GKPA juga mendalami beberapa materi, di antaranya:
1. “Refarat Tema GKPA” yang dibawakan oleh Pdt. Ramli SN. Harahap, M.Th, mengajak kita kepada perenungan untuk mempertajam visi dan misi GKPA ke masa depan.
2. “Pelayan dan Pelayanan” oleh Pdt. Dr. M. Frans Ladestam Sinaga yang menekankan begitu mulia dan berharganya seorang pelayan di mata Tuhan. Hal ini patut selalu disyukuri oleh para pelayan dalam pelayanan yang dilaksanakan dengan kualitas yang baik. Oleh karena itu mulai tahun ini, GKPA harus semakin giat meningkatkan mutu pelayan dan pelayananya.
3. ”Gereja dan Pluralisme” oleh Pdt. Dr. Ir. Fridz Sihombing, mengatakan bahwa berdasarkan Alkitab gereja yang berada di dunia dan di tengah-tengah masyarakat harus ikut memasuki masalah-masalah yang berbeda-beda. Hal ini meneladani Kristus yang adalah untuk dunia. Oleh karena itu, masalah pluralisme, khususnya di Indonesia harus dipahami dan dijiwai bersama dalam kaitan misi Kristus di dunia ini.

Sebagai wadah bermusyawarah dan pengambilan keputusan tertinggi untuk mewujudkan maksud dan tujuan GKPA, Sinode Am XVI bertugas:
1. Mengevaluasi laporan pelayanan Pucuk Pimpinan dan Majelis Pusat 2006-2009;
2. Menetapkan dan mensahkan: Penjelasan Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA; Peraturan Pokok Kepegawaian GKPA; dan Tata Urutan Peraturan GKPA;
3. Membicarakan Program 2009-2011 sesuai dengan PTPB yang ditetapkan pada Sinode Am XV tahun 2006.

Sinode Am diakhiri dengan Ibadah Perjamuan Kudus yang diikuti sebagian peserta, dan ditutup oleh Pucuk Pimpinan GKPA pada hari Minggu 19 Juli 2009 di GKPA Jl.Teuku Umar Padangsidimpuan. Kami mengharapkan seluruh keputusan Sinode Am supaya dipedomani dan dilaksanakan secara bersama-sama.
Bertitik tolak dari seluruh aktivitas dan rangkaian sinode yang telah dilaksanakan, maka kami menyampaikan pesan-pesan sebagai berikut:
1. Mengajak seluruh anggota jemaat GKPA untuk merenungkan dan mempertajam pemahaman Visi dan Misi GKPA yang telah ditetapkan oleh para pendiri GKPA pada masa Panjaeon. Untuk itu sangatlah penting terus mensosialisasikan visi dan misi tersebut pada semua tingkatan.
2. Mengharapkan seluruh anggota jemaat GKPA agar semakin taat kepada aturan-peraturan yang berlaku, demi peningkatan ketertiban/kedisiplinan dan kemajuan GKPA.
3. Agar seluruh anggota jemaat GKPA bahu-membahu melaksanakan Program Pelayanan sebagaimana yang telah dituangkan dalam PTPB sesuai arahan Tema GKPA “Bergiatlah dalam Pekerjaan Tuhan”.
4. Agar seluruh jemaat GKPA, mendukung dan berpartisipasi aktip dalam mempersiapkan: (a) Pesta Olop-Olop 35 tahun, (b) Jubelium 150 tahun Kekristenan di daerah Angkola dan (c) Sinode Am (Periode ) XVII GKPA 2011.
5. GKPA sebagai persekutuan orang percaya, akan terus memberikan kesempatan dalam kegiatan-kegiatan bergereja bagi kategorial-kategorial yang ada.
6. Meningkatkan peran GKPA dalam melaksanakan zending ke dalam dan keluar sebagai salah satu wujud tri tugas panggilan gereja.
7. Kita patut bersyukur kepada Tuhan bahwa kesadaran seluruh anggota jemaat dalam menunjukkan kewajiban-kewajibannya semakin baik. Hal ini, khususnya dapat dilihat dari peningkatan jumlah Persembahan Bulanan dan Dana Asset dari tahun 2006-2009. Hal ini perlu dipertahankan bahkan di tingkatkan untuk masa depan demi pembangunan Tubuh Kristus.
8. Mengharapkan seluruh Pelayan Gereja menjadi teladan dalam menunjukkan tanggung jawab dan kewajibannya dalam gereja.
9. GKPA berperan aktif dalam memelihara dan meningkatkan kerukunan antarumat beragama di manapun berada dan melayani.
10. GKPA menyambut baik dan mendukung sepenuhnya keputusan Pemerintah RI yang menjadikan Sipirok, Ibu Kota Tapanuli Selatan. Untuk itu seluruh anggota jemaat GKPA diharapkan semakin memperlihatkan dan meningkatkan eksistensi GKPA di Tapanuli Selatan.
11. GKPA harus berperan aktif dalam memelihara kelestarian lingkungan hidup dalam rangka mewujudkan keadilan; perdamaian dan keutuhan ciptaan.
12. GKPA sangat prihatin atas peristiwa ledakan bom yang terjadi di Hotel J.W.Marriot dan Ritz Carlton yang menewaskan 9 orang dan puluhan korban luka-luka pada 17 Juli 2009. GKPA mendoakan agar seluruh keluarga yang meninggal dan luka-luka agar diberi kekuatan untuk menghadapi peristiwa ini. Kiranya peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi pada hari-hari yang akan datang.

Demikianlah pesan Sinode Am XVI GKPA ini kami sampaikan, dengan selalu mengingat akan pesan Rasul Petrus: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9).

Padangsidimpuan, 19 Juli 2009

Sinode Am XVI GKPA



Pdt. A. L. Hutasoit, M.A. Pdt. P. H. Harahap, S.Th
Ephorus Sekretaris Jenderal

Bacaan Minggu 23 Agustus 2009: Lukas 10 : 25 - 37

KASIH UNTUK DILAKUKAN, BUKAN DITEORIKAN!

Pendahuluan
Penulis Injil Lukas yang umumnya terkenal dengan sebutan dokter Lukas, bukanlah seorang Yahudi. Latar belakang non Yahudi ini tercermin dari pengkisahannya tentang kehidupan Yesus dengan menonjolkan sifat universal berita keselamatan yang dibawa Yesus. Yesus datang untuk semua orang. Lukas secara khusus memperlihatkan sisi kehidupan pelayanan Yesus kepada masyarakat kalangan bawah di Yudea, yaitu orang-orang miskin, kaum perempuan, anak-anak dan orang-orang yang paling berdosa, yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat, khususnya masyarakat Yahudi. Lukas menyatakan bahwa Injil itu mencakupi juga bangsa-bangsa lain, dan khususnya orang Samaria yang dipandang rendah oleh orang Yahudi pada masa itu (bnd. bagian pembacaan kita ini, di mana Yesus justru memakai contoh seorang Samaria sebagai orang yang patut diteladani kebaikannya).
Sifat universal berita keselamatan dalam Injil Lukas ini bahkan sudah dinyatakan pada bagian awal injil ini. Dalam menyajikan keturunan Yesus dalam silsilah, ia menelusuri silsilah itu sampai Adam sebagai bapa umat manusia. Jika kita membandingkan Markus 1:2-3 dengan Lukas 3:4-6 terlihat Lukas mengutip juga Yesaya 40:3-5, sebab di sana dikatakan bahwa keselamatan itu ditawarkan kepada semua bangsa.

Penjelasan Nas
Kisah tentang orang Samaria yang baik hati ini mengambil tempat atau berlatar jalan dari Yerusalem menuju Yerikho. Jarak antara dua kota ini kurang lebih 20 mil atau membutuhkan waktu sekitar lima jam waktu tempuh. Jalan yang menghubungkan kedua kota tersebut – yang biasanya dilalui oleh orang-orang pada zaman itu – sempit, berbatu-batu, dengan gunung-gunung batu yang penuh gua dan lubang. Kondisi yang demikian merupakan tempat yang bagus bagi para penyamun. Karena jalan ini sangat berbahaya, ia disebut ‘jalan darah’. Jalan inilah yang ditempuh oleh korban perampokan yang ada dalam bagian pembacaan kita ini.
Dalam kisah ini diperlihatkan beberapa karakter manusia, yang seringkali menjadi karakter kita juga.
a. Ada seorang yang sedang bepergian. Untuk menghindari bahaya perampokan ketika melewati ‘jalan darah’ ini biasanya orang berjalan berombongan. Namun, dalam bacaan kita dikatakan seorang. Ini menunjukkan bahwa orang ini seorang yang berani, tekun dan tahan terhadap medan perjalanan yang keras itu. Orang ini akhirnya dirampok juga karena memang betapa bahaya jalan yang ditempuhnya.
b. Datang seorang imam. Imam ini baru selesai melakukan tugas keimamannya di Yerusalem dan hendak pulang ke Yerikho. Banyak juga imam yang tinggal di kota Yerikho. Imam tersebut dengan tergesa-gesa menghindari orang yang dirampok tersebut. Alasan ia menghindar dan tidak menolong orang tersebut karena takut tercemar, sebab dikiranya orang tersebut mungkin saja sudah mati. Menurut peraturan keimamatan, bila seorang imam menyentuh mayat maka ia menjadi najis, dan dia bisa kehilangan hak melayani di Bait Allah. Rupanya imam ini lebih mengutamakan peraturan-peraturan keagamaan dan keuntungan dirinya sendiri ketimbang menolong orang yang sedang sekarat. Yang seremonial diletakkannya di atas yang asasi atau fundamental.
c. Datang seorang Lewi. Orang Lewi ini awalnya berjalan lebih dekat dengan korban perampokan tersebut, tetapi kemudian cepat-cepat menghindar. Mengapa? Sebab para penyamun pada ‘jalan darah’ itu memiliki kebiasaan untuk mempergunakan umpan-umpanan. Orang Lewi takut kalau-kalau orang yang tergeletak itu justru merupakan seorang perampok yang hanya berpura-pura menjadi korban perampokan. Orang Lewi tersebut lebih memikirkan keselamatannya sendiri. Ia tidak akan mau mengambil resiko untuk menolong orang lain.
d. Lalu datang seorang Samaria. Ia menolong orang itu karena terdorong oleh belas kasihan yang sungguh-sungguh. Tepat sekali cara menolongnya; dibalutnya luka-luka orang yang malang itu, disiraminya dengan minyak dan anggur. Setelah korban bisa berjalan, ia menemani dan mengantarnya ke penginapan yang layak untuk pengobatan yang lebih lanjut dan istirahat yang cukup dari si korban. Ia bahkan menanggung seluruh ongkos penginapan orang itu. Ia tidak setengah-setengah menolong orang tersebut.

Dari perumpamaan ini sesungguhnya Yesus tidak memberi jawab secara langsung terhadap apa yang ditanyakan oleh ahli Taurat. Yesus justru secara retoris membalikkan pertanyaan tersebut berdasarkan perumpamaan yang diceritakan itu, “Siapakah dari ketiga orang itu yang bertindak sebagai sesamanya terhadap orang itu?” Maksud Yesus dengan pertanyaan retoris itu ialah janganlah ajukan pertanyaan teoritis siapakah sesamaku, tetapi mulailah secara praktis dengan bertindak sendiri sebagai sesama. Yesus tidak mau bersoal jawab secara teoritis dengan ahli Taurat itu mengenai obyek/sasaran dari kasih kepada sesama, tetapi secara langsung mau berbicara tentang subyek/pelaku dari kasih kepada sesama tersebut.
Penggunaan figur seorang Samaria oleh Yesus hendak menunjukkan dan mengatakan bahwa adalah masih lebih baik dan berbelas kasih orang-orang yang dianggap berdosa dan hina oleh orang-orang Yahudi. Dan memperlihatkan bahwa justru seorang Samaria yang lebih mengenal dan mengasihi Allah ketimbang orang-orang Yahudi yang lebih mengutamakan hal-hal legal seremonial dan keuntungan dirinya sendiri itu. Mereka mengatakan bahwa mereka mengasihi Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya, padahal dalam kenyataan menolong seorang yang sangat perlu ditolong saja tidak bisa hanya karena ia adalah orang lain, bukan orang Yahudi. Yesus juga hendak menunjukkan bahwa kasih itu sesungguhnya melampaui batas-batas yang dibuat oleh manusia dengan hukum-hukumnya.

Aplikasi/renungan
• Kasih kepada Allah tidak akan berarti kalau kasih kepada sesama tidak mewujud nyata dalam kasih terhadap sesama kita yang ada di dunia ini. Kalau kita menyatakan bahwa kita mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, maka tunjukkanlah terlebih dulu pengakuan itu dengan aksi nyata mengasihi orang lain. Mengasihi bukan sebatas dalam kata-kata, di bibir saja, tetapi melakukan sesuatu yang nyata. Kita jangan menjadi orang Kristen NATO, No Action Talk Only, seperti ahli Taurat yang menguji Yesus tersebut.
• Kasih terhadap sesama melampaui batas-batas suku, agama, ras, golongan, status, dan batas-batas seremonial serta legal yang dibuat oleh kita manusia. Sebagaimana kasih Kristus adalah universal dan tak terperi, demikian juga semestinya kasih kita sebagai umat manusia dan sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus. Kita jangan menolong orang lantaran ia sesuku, seagama, sependapat, sestatus, segolongan, dan se…lainnya. Jangan! Untuk kita menolong dan mengasihi orang lain, kita harus bisa, mau dan berani melewati semua barikade-barikade yang dibuat oleh manusia tersebut.
• Pelaksanaan kasih tersebut tidak membutuhkan teori-teori besar tentang apa itu kasih, kepada siapa selayaknya dan sebenarnya kita menyalurkan kasih kita itu, dan sebagainya. Sebaliknya, hanya membutuhkan praktik. Cukup praktik, bukan teori. Dalam praktik kasih, bahkan akan tampak secara tersirat kasih Allah yang besar itu kepada kita.
• Kita juga jangan menolong setengah-setengah. Asal saya sudah menolong, asal saya sudah berbuat, lalu selanjutnya terserah. Kisah orang Samaria yang baik hati mengkritik tindakan dan pola pikir kita yang demikian. Kalau ada orang yang benar-benar tidak berdaya, tidak memiliki kekuatan sama sekali dan sangat membutuhkan uluran tangan kasih kita, mari kita lakukan dengan total, all out (sebab Allah pun sesungguhnya all out kepada kita, bukan!), pengorbanan yang penuh dan sungguh, seperti orang Samaria yang menolong korban perampokan yang sama sekali sudah tidak berdaya itu.

Bacaan Minggu 16 Agustus 2009: Galatia 5 : 13 - 15

DIMERDEKAKAN atau BEBAS SENDIRI ?

Yesus adalah sosok yang luar biasa, Pembebas agung sungguh mulia, benarkah? Yesus lahir dengan kemiskinan, papa dan kumuh. Dia terancam dan akan dibunuh oleh Herodes yang haus kuasa dan sangat kejam itu. Yesus tidak pernah mengeluh, menggerutu atau bersungut-sungut, tetapi dengan kesadaran penuh, Dia takut akan Allah Bapa (Ayb. 6:14). Segala sesuatu dilayani-Nya dengan tulus dan penuh kasih. Satu hal yang paling mengharu-birukan hati adalah Yesus harus menanggung penderitaan oleh laknat dunia yang dimainkan para figuran hingga berakhir di Kalvari, mati…. tanpa pernah menyalahkan siapa pun. Di sinilah kepatuhan hidup yang ajaib, tetap menuruti perintah-Nya dalam kebebasan universal dan berpegang pada perjanjianNya (1Raja 3:3; Neh.1:5) sesuai dengan ketetapan-ketetapan Allah Bapa surgawi.
1. Mengenal kebebasan yang sudah ditetapkan Tuhan sejak awal.
Iblis pasti bersukacita atas ketidak-mampuan kita memilih yang benar dalam hidup ini. Ia pasti menyukai tengiknya aroma dari perbuatan salah dan kejahatan kita, lalu tersebar di surat kabar, di rumah, di ruang kerja bahkan di dalam gedung gereja kita. Dosa itu mengasikkan dan Allah itu membosankan bahkan menindas! Inilah kebohongan yang paling disukai iblis. Marilah kita simak pelan-pelan, bagaimana iblis itu menyerang kita :
Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang yang ada didarat yang dijadikan Tuhan Allah. Ular berkata kepada perempuan itu, "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon yang ada dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" (Kej. 3 : 1).
Adakah kita melihat jelas serangan awal iblis terhadap manusia? Ia menempatkan Allah sebagai sosok penguasa yang suka menekan, menghambat kebebasan; sekaligus membosankan dengan larangan-larangan-Nya. Namun Hawa masih mau melawan bukan semuanya, tetapi hanya buah pohon yang ada di pertengahan taman ini, tidak boleh diraba dan dimakan, agar kami terhindar dari kematian. Lalu kita menyimak lagi, bagaimana iblis tidak pernah lelah menggunakan kebohongan: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya, matamu akan terbuka, dan kamu akan seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat" (Kej. 3 : 4-5).
Kebohongan yang sangat halus dan tidak kentara ini tertanam dalam diri Hawa, lalu benih-benihnya bertumbuh, membuat dia terjebak dalam dua pilihan. Namun Ia memilih "kebenaran" iblis daripada kebenaran Allah, di situlah ia jatuh. Alangkah rapuhnya manusia pertama itu di hadapan iblis, lalu bagaimana bisa dia bertahan hidup benar dihadapan Sang penciptanya?
Memang Tuhan memberikan aturang, melarang tetapi bukan berarti menghentikan kebebasan kita; sebab kita bukanah alat mainan (robot) atau boneka Tuhan. Dia tetap memberikan hak sepenuhnya kepada kita untuk mengambil keputusan akhir. Manusia diberi hikmat dan kehendak yang bebas (merdeka) untuk mengendalikan pikiran dan perasaannya. Artinya, justru kita adalah ciptaan yang sungguh diberi kemerdekaan. Ketika Tuhan membuat "larangan" di Eden, bukanlah untuk menyakiti atau merancang sesuatu yang salah/jahat kepada kita. Namun sebaiknya, dia menjaga kita agar tidak terjebak oleh kemolekan duniawi, tidak terpukau oleh rangsangan kedagingan, dan tidak mabuk oleh dukungan suasana dan lingkungan sekitar, terlena, lalu kehilangan jati diri, dan berakhir kepada kematian yang sangat mengerikan.
Ternyata, manusia itu bukanlah makhluk yang merdeka. Ia adalah seorang hamba, seorang budak. Tuhan telah menciptakan manusia, dan manusia itu diberiNya kebebasan untuk memilih: Taat atau tidak. Maksud Tuhan dengan manusia itu ialah supaya ia dengan rela dan bebas menurut pengetahuan dan kehendaknya sendiri memandang hidup ini sebagai tugas dan pengabdian kepada Dia sang khalik, yang memang sungguh harus dipuji dan dimuliakan dengan sadar.
Namun, ketika manusia itu mengambil keputusan untuk tidak lagi mengabdi kepada Tuhan dan dengan sadar mengesampingkan kehendak Tuhan; maka di sanalah dia telah meninggalkan kebebasannya, sebab ia telah menyerahkan dirinya diikat dan dikuasai oleh kejahatan. Manusia menjadi lemah dan tidak berdaya terhadap kekuasaan-kekuasaan yang akan memperbudak dirinya. Barangsiapa (setiap orang) berbuat dosa, ia adalah hamba dosa (Yoh. 8:34). Orang yang menjadi hamba dosa, tidak lagi merdeka, walau memang dia bebas melakukan kehendaknya. Artinya, berbuat dosa terikat dalam perbudakan. Pergelangan kaki kita terbelenggu oleh lingkaran besi yang berkarat, yang diikat dengan rantai yang kuat. Berbuat dosa berarti terenggutnya alas kaki, pakaian dan kaus kita. Berbuat dosa sama seperti diculik oleh seorang berjaket kulit hitam yang jahat dan berkeringat, bermuka masam dan suka meludah, ia berperawakan besar. Cambuknya melayang sesuka hatinya dan tidak akan ada waktu untuk menyembuhkan luka bekas cambukannya. Cambuk itu selalu melukai sampai darah bercucuran. Namun kebebasan yang telah diberikan oleh Yesus adalah sebuah karunia. Dengan karunia itu Yesus telah membebaskan kita agar kita dimampukan menjadi kawan sekerja Allah; supaya kita menjadi anak-anakNya yang tinggal di dalam rumahN-ya, dan menjadi hambaNya yang mengabdi didalam kebun tamannya.
Yesus datang sambil membawa pesan kemerdekaan: Jadi apabila itu memerdekakan kamu, maka kamu pun benar-benar merdeka (Yoh. 8:36). Bukankah kita telah mendengar firman Tuhan, Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, untuk membebaskan orang yang tertindas (Luk. 4:18-19). Mengikut Yesus, dan hidup dalam kehendak-Nya berarti sebuah "kemerdekaan" yang utuh. Sedang berbuat dosa, maka kembali kepada perbudakan Paulus mengatakan, ”karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Gal. 5:1). Dr. Marthin Luther, seorang tokoh reformasi Kristen abad XVI secara gamblang menyuarakan bahwa kemerdekaan manusia Kristen yang ketika dia menjadi tuan yang bebas atas segala sesuatu, dan tidak takluk kepada siapapun juga. Lalu pernyataan ini disambut pula dengan ceria oleh Dr. Alexander Vinet melalui kesaksiannya mengatakan, "Di dunia ini, agama Kristen adalah benih kebebasan yang tidak akan pernah mati". Hal yang menarik adalah bahwa warga gereja Anglikan, juga mengagungkan kemerdekaan hidup sebagai pengikut Yesus, dengan sebuah ungkapan dalam "Book of Prayer" (buku doa)nya demikian: "Oh God, whose service perfect freedom" (Ya Allah, mengabdi kepadaMu adalah sebuah kemerdekaan yang sempurna).
2. Hidup yang dimerdekakan (dibebaskan) adalah sebuah sukacita surgawi
Nikmatilah kemerdekaanmu menjadi sukacita di dalam Tuhan; sebab ada waktunya kesempatan itu akan berlalu dari hari-hari hidupmu. Orang yang bersukacita, bukan berarti tidak ada lagi persoalan di dalam dirinya. Mereka masih mengalami berbagai masalah hidup, bahkan pergumulan yang bermuara kepada penderitaan. Namun orang yang merdeka di dalam Tuhan memandang semuanya itu sebagai bagian dari proses pertumbuhan rohani. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan sebagai orang yang benar-benar enjoy di dalam Tuhan.
i) Buang kekhawatiranmu! rasa khawatir tidak akan membuat hidup kita semakin ringan, tetapi justru sebaliknya, akan memperberat keadaan kita sendiri. Kekhawatiran itu justru tidak banyak gunanya (Mat. 6:27). Namun, apakah itu berarti kita hanya pasrah saja? Burung-burung memang dipelihara Tuhan. (ay. 25-26) tapi ingat bahwa Tuhan tidak melemparkan makanan kesarangnya, bukan? Kita tetap berusaha sambil dilandasi sebuah keyakinan Allah tetap memelihara kita!
ii) Pakailah kacamata kekekalan! Marilah kita memandang bukan dari sudut pandang kita yang sangat terbatas. Tetapi pakailah kacamata kekekalan Allah, walau memang kita harus menghadapi berbagai tantangan, menjalani aneka kesulitan. Satu hal yang kita perlukan adalah bagiamana kita boleh tabah sambil meyakini, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Rm. 8:28).
iii) Mari menerima kenyataan! Kita tidak bisa mengatur semua hal yang ada di dunia ini supaya sesuai dengan kehendak kita. Ada faktor-faktor tertentu, terutama hal-hal yang ada di luar diri kita yang sungguh tidak dapat kita ubah. Terhadap kenyataan yang tidak dapat kita ubah, lebih baik kita pasrah dan menerima kenyataan dengan perasaan damai.
iv) Mari mulai menghitung berkat dan bersyukurlah! Bersyukur, artinya berterimakasih dan menghargai apa yang telah kita miliki saat ini. Rasa syukur memenuhi perasaan hati kita, dengan kegembiraan yang dalam; itulah berkat yang melimpah. Benyamin Franklin mengatakan, "kita tidak pernah menghargai air, sampai suatu saat nanti sumber air menjadi kering". Kadangkala kita tidak menghargai orang, benda, atau kemudahan yang kita miliki sampai suatu saat kita kehilangan semuanya itu. Yang penting adalah bukan berapa banyak yang kita miliki, tetapi berapa banyak yang kita nikmati dalam kehidupan ini. Untuk itulah ajakan Firman Tuhan melalui Rasul Paulus kali ini: alangkah indahnya disaat kita diingatkan…! Jadilah orang yang merdeka di dalam Tuhan, sekaligus menjadi orang yang benar-benar beroleh pembaharuan dari pengasihan Tuhan.
3. Kebebasan itu adalah sebuah pembaharuan budi….
Secara langsung kita akan mengambil contoh konkrit dari kehidupan seorang tokoh Alkitab, yakni Yeremia. Dia masih amat muda belia (remaja tingting), sebagai anak desa dari kampung Anatot, yang tidak banyak dikenal orang. Yeremia bukanlah seorang yang terkenal dan punya banyak relasi dengan kelompok imam-imam besar dan raja-raja di Yerusalem; bahkan iapun bukanlah seorang yang pandai bicara. Karena itu, ia berusaha menolak ketika Allah memanggil dia untuk menyampaikan firmanNya, "Ah, Tuhan Allah, sesungguhnya aku ini tidak pandai bicara, sebab aku ini masih muda (Yer. 1:6). Namun kemudian, ia toh menerima panggilan itu dengan seluruh diri dan kemampuannya mengucapkan seluruh Firman yang disampaikan melalui dirinya. Rela menderita siksaan dan dipenjarakan agar ia menutup mulut, namun dalam penjarapun ia terus berbicara. bahkan ketika dimasukkan ke dalam sumur kering agar ia MPP (mati pelan-pelan) oleh rasa lapar dan haus, justru ia tidak pernah gentar melawan seluruh kebatilan oleh para penguasa dan pengusaha. Apakah yang dapat kita petik dari pengalamannya? Yeremia mewariskan kemerdekaan, memilih sebuah keutamaan yang sangat relevan bagi pembentukan dan pertumbuhan kepribadian kaum kristen. Inilah pembaharuan budi: Ketika setiap orang diantara kita selalu berani berkata "ya" pada setiap rencana dan kehendak Allah. Hanya dengan sikap itulah kita boleh diubahkan. Dengan iman, setiap orang diantara kita rela berkorban, menjadi tangan dan lidah Tuhan, sekaligus berani menghadapi berbagai tantangan.
4. Apakah yang kita perlukan?
Rasul Paulus menyerukan, “Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor. 5:17). Kalau firman ini ditujukan kepada kita, bahwa sungguh kita sudah mempunyai status baru dan berada di dalam kawasan baru pula. Inilah modal dasar memampukan kita bergaul secara intim dengan Tuhan.. Walau memang karena keberdosaan kita yang nista tidak selayaknya bersahabat dengan Dia yang Maha kudus dan mulia; namun karena kita sudah diubah dan dicipta baru, kita dapat hidup dalam relasi baru itu. Dimerdekakan dari segala keterikatan dunia. Tuhan memerintahkan agar setiap saat kita harus berusaha untuk lebih baik. Artinya, hari ini harus lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini. Kita boleh lebih baik sebab Tuhan telah mendamaikan kita dengan diri-Nya. Menjadi lebih baik sebab Yesus telah membayar lunas seluruh hutang dosa kita; untuk itu jangan sungkan lagi menjadi orang yang memang dimerdekakan.
Kristen yang sungguh merdeka adalah mereka yang memiliki kandungan jiwa yang bermutu tinggi, sekaligus memanfaatkannya secara optimal untuk membangun dan memperbaharui suasana dimana ia berada. Hidup orang Kristen yang lebih baik adalah sisi-sisi tampilan yang menarik, cantik dan menawan. Sedap dipandang mata, memikat dan penuh daya tarik. Dengan melihatnya saja, hati kita sudah terhibur dan ingin segera mendapatkannya.

Senin, 27 Juli 2009

Bacaan Minggu 09 Agustus 2009: Matius 16 : 24 - 28

BAGAIMANA MENGIKUT YESUS ?
Pendahuluan

“Mari, ikutlah Aku”. Kalimat singkat Yesus itu telah mengubah hidup dua belas orang Galilea dan dikemudian hari ribuan juta orang lainnya di segala benua. Apa maksud ajakan itu? Di Matius 4: 19-20 tertulis:” Yesus berkata kepada mereka,’Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”. Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikut Dia.” Jadi, ajakan Tuhan Yesus,”Mari, ikutlah Aku,” mempunyai arti yang bersifat khusus: ‘Mari berjalanlah di belakang-Ku.” Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk berjalan di belakang-Nya. Apa arti berjalan di belakang seseorang?
Dalam budaya Timur tengah di zaman itu seorang murid secara harfiah memang akan berada di belakang gurunya, baik pada waktu berjalan maupun pada waktu menunggu keledai. Sungguh tidak sopan baginya untuk berjalan di depan atau di sebelah gurunya. Tetapi ajakan Tuhan Yesus untuk berjalan di belakang-Nya tentu bukan dalam arti sempit.
Dalam pemikiran umat Israel di zaman Perjanjian Lama, mengikuti seseorang atau berjalan di belakang seseorang mengandung arti mengiringi, menaati, mencintai, menyerahkan diri dan mengabdikan diri. Begitulah kita membaca tentang Elisa yang mengikuti nabi Elia (1Raja. 19:20), Rut yang mengikuti Naomi (Rut 1:14), mempelai wanita yang mengikuti mempelai pria (Yer. 2:2), budak yang mengikuti Abigail (1 Sam. 25:42). Di sini mengikuti seseorang berarti menyerahkan hidup kita kepada orang itu dengan segala akibatnya. Yesus mempersiapakan murid-murid-Nya, agar mereka menjadi saksi yang tangguh di dunia ini. Untuk itu Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya syarat-syarat bagaimana mengikut Dia.

1.Menyangkal dirinya dan memikul salib
Mengikuti atau berjalan di belakang seseorang pasti membawa akibat atau dampak. Hidup kita pasti akan berubah dan perubahan itu tergantung dari siapa yang kita ikuti. Misalkan kita mengikuti hidup seorang pendaki gunung. Pasti banyak hal yang berubah dalam hidup kita: waktu tidur dan waktu bangun kita, tempat-tempat yang kita kunjungi, pergaulan kita, menu makanan kita, kegiatan sehari-ahri kita, pakaian kita dan lainnya. Tetapi yang lebih mendasar lagi gaya hidup kita akan berubah.
Demikian juga halnya, jika kita mengikuti dan berjalan di belakang Tuhan Yesus. Hidup kita mau tidak mau akan berubah, karena Tuhan Yesus mempunyai gaya hidup yang sungguh-sungguh unik. Mari kita telusuri jalan hidup Tuhan Yesus mulai dari Gurun Yehuda, dari sana terus ke Galilea, kemudian ke Kapernaum, ke Yerusalem, berjalan melintasi daerah Samaria, dengan perahu menyeberangi Danau Genesaret, kemudian berjalan lagi mengelilingi wilayah Galilea, dari sana menuju Kaisaria Filipi. Dan di disinilah pengakuan Petrus tentang Mesias,” Engkau adalah Mesias” (Mat.16:16). Sejak waktu itu ajaran baru yang lebih mendalam sudah mungkin dimulai karena mereka sudah mengetahui siapa Dia sebenarnya. Segera sesudah pengakuan itu dinyatakan, maka tafsiran mengenai penderitaan harus diberikan. Jalan yang ditempuh murid-murid haruslah sama dengan jalan yang ditempuh gurunya. Menyangkal dirinya berarti berkata’tidak’ kepada keinginan untuk berdiri sendiri. Siapa yang tidak mau menyangkal dirinya sendiri, tetapi mau hidup menurut kemauannya sendiri, ia akan kehilangan hidup yang sejati, yakni hidup dalam persekutuan dengan Allah. Tetapi siapa yang bersedia melepaskan cara hidup menueurt kemauannya sendiri itu, ia akan berhasil menemukan hidup yang sejati.Memikul salibnya, di sini bukan tertulis “salib-Ku melainkan”salibnya. Salib yang perlu kita pikul bukanlah salib Kristus, melainkan salib kita sendiri. Mengapa Tuhan Yesus menyuruh kita memikul salib kita masing-masing? Apa maksudnya? Salib adalah lambing penderitaan sebagai pengorbanan. Tidak ada orang yang menghendaki penderitaan. Namun kenyataannya dalam hidup ini tidak ada orang yang luput dari penderitaan. Penderitaan ada sebagai bagian dari hidup kita dalam pelbagai bentuk yang berbeda. Yesus menerima penderitaan secara aktif, yaitu memanfaatkan penderitaan sebagai pelajaran untuk menumbuhkan atau mendewasakan ketaatan-Nya kepada Bapa di Sorga. Di Ibrani 5:8 tertulis,”…Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan_Nya. Dalam memanggil orang-orang untuk mengikut Dia, Tuhan Yesus tidak menjanjikan jalan hidup yang penuh dengan keberhasilan atau jalan hidup yang tidak menghadapi pendritaan. Tuhan Yesus justru mengingatkan bahwa mereka harus mau memikul salib. Bersedia memikul salib merupakan prasyarat untuk menbgikut Yesus, sebab dalam jalan hidup Yesus pun ada penderitaan.

2.Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya
“Barangsiapa mau menyelamatkan nayawanya”, artinya siapa yang tidak mau menyangkal dirinya sendiri, tetapi mau hidup menurut kemauannya sendiri, ai akan kehilangan hidup yang sejati, yakni hidup dalam persekutuan dengan Allah. Tetapi siapa yang bersedia melepaskan cara hidup menurut kemauannya sendiri itu, ia akan berhasil menemukan hidup yang sejati. Bukan hidup dengan kuantitas dengan lamanya, tetapi dengan kualitas dengan mutunya. Dengan kata lain, hidup sejati bukanlah pertama-tama berarti suatu hidup-tanpa akhirnya, tetapi suatu hidup yang mutunya lebih tinggi, yakni hidup yang tulen dan sejati seperti yang diperoleh dengan cara hidup dalam persekutuan dengan Allah.
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Perbandingan apa pun tidak dapat diadakan antara apa seseorang dan apa yang dimilikinya. (bnd. 6:25). Tuhan Yesus tidak pernah membujuk atau memohon orang menjadi pengikut-Nya, melainkan mengajak dan menentang sambil memperlihatkan konsekuensi yang perlu ditanggung. Yesus tidak menjanjikan kemudahan melainkan kekuatan. Yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus bukanlah perjalanan yang mudah, melainkan kekuatan untuk menghadapi perjalanan yang sulit supaya perjalanan ini bisa kita tempuh dengan selamat sampai akhirnya.
Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya”. Hanya Injil Matius yang memuat kata-kata ini, yang diambil dari Mazmur 62:13; Amsal 24:12. Perbuatan adalah bukti dari sikap (bnd.7:21). Ayat ini menunjukkan bahwa kata-kata tidak dapat dijadikan pengganti perbuatan. Tuhan membalas setiap orang menurut perbuatannya, tetapi terlebih-lebih karena Tuhan yang melindunginya bertindak dengan kasih-setia terhadap umat-nya dan menugaskan pemerintah untuk’memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras-pemeras.
“Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya”. Apa maksud Yesus dalam perkataan ini? Sebelum generasi ini berlalu mereka akan melihat tanda-tanda dari Kerajaan Allah sedang berlangsung. Tidak dapat diragukan bahwa hal ini akan berlangsung. Sesuatu datang ke dalam dunia yang mulai merubahnya. Hal itu memang terjadi demikian jikalau kita, kadang-kadang, berbalik dari perasaan pesimisme kita dan memikirkan terang yang lama-kelamaan menembus ke dalam dunia ini. Bergembiralah, Kerajaan itu sedang datang dan kita akan bersyukur kepada Allah untuk segala tanda kedatangan-Nya.

Bacaan Minggu 2 Agustus 2009: Amsal 16 : 16 - 20

MEMPEROLEH HIKMAT SUNGGUH JAUH MELEBIHI MEMPEROLEH EMAS, DAN MENDAPAT PENGERTIAN JAUH LEBIH BERHARGA DARIPADA MENDAPAT PERAK

Orang di seluruh dunia selalu mencari yang lebih baik, entah itu dalam membeli buah di pasar atau memilih tempat tinggal. Kita menguji, merenungkan, membandingkan, dan akhirnya membuat pilihan berdasarkan apa yang kita yakini sebagai yang lebih baik. Saya tidak dapat membayangkan ada orang yang berkata, “Saya pilih yang ini, karena saya yakin ini lebih buruk.”
Kitab Amsal berisi perbandingan-perbandingan yang mengarahkan kita pada jalan yang benar di dalam hidup. Karena tujuan kitab itu adalah memberikan kepada pembacanya pengetahuan dan hikmat atas dasar sikap takut akan Tuhan (Ams. 1:2,7), maka tidak mengejutkan apabila terdapat pernyataan, “Hal ini lebih baik daripada hal itu.”
Dalam kitab Amsal pasal 16, kita membaca bahwa lebih baik memperoleh hikmat daripada emas atau perak (ay. 16); lebih baik rendah hati di antara orang miskin daripada sombong di antara orang kaya (ay. 19); lebih baik bersikap sabar daripada memimpin kota (ay. 32). Sebagian orang memiliki kemampuan untuk bijaksana sekaligus kaya. Namun, saat dihadapkan dengan pilihan di antara kedua hal itu, Amsal mengatakan bahwa hikmat adalah pilihan yang lebih baik.
Ketika kita membaca kitab Amsal, marilah kita mencari tanda-tanda yang berkata, “Ini lebih baik!” Saat firman Allah membentuk pikiran kita dan menuntun pilihan-pilihan kita, kita akan menemukan bahwa jalan-Nya selalu lebih baik.
Oleh sebab itu, perolehlah hikmat, dan perolehlah pengertian. Hikmat adalah kemampuan untuk melihat kebenaran seperti Allah melihatnya. Menjadi bijak adalah suatu pilihan, bukan sesuatu yang otomatis. Ada orang yang berasumsi bahwa ketika rambut mereka sudah ubanan, hikmat akan datang dengan sendirinya. Itu adalah mitos. Ada orang yang lebih tua yang bijak, namun itu adalah karena mereka melewatkan bertahun-tahun hidup bersama Allah. Hikmat adalah sesuatu yang Anda kejar dengan aktif; bukan semata-mata hasil dari melewatkan waktu bertahun-tahun dengan makan, tidur, bernafas. Ada harga yang harus dibayar untuk memperoleh hikmat termasuk membangun standar Allah kedalam hidup kita agar kita menghormati-Nya dalam segala yang kita perbuat.
Hikmat mencakup belajar mengasihi orang lain seperti Yesus mengasihi setiap manusia. Hikmat mencakup mengejar sasaran-sasaran yang dikejar Allah.
Ada suatu kisah. Suatu hari, dahulu kala, sebuah gereja yang mengagumkan berdiri di sebuah bukit yang tinggi di sebuah kota yang besar. Jika dihiasi lampu-lampu untuk sebuah perayaan istimewa, gereja itu dapat dilihat hingga jauh di sekitarnya. Namun demikian ada sesuatu yang jauh lebih menakjubkan dari gereja ini ketimbang keindahannya: legenda yang aneh dan indah tentang loncengnya.
Di sudut gereja itu ada sebuah menara berwarna abu-abu yang tinggi, dan di puncak menara itu, demikian menurut kata orang, ada sebuah rangkaian lonceng yang paling indah di dunia. Tetapi kenyataannya tak ada yang pernah mendengar lonceng-lonceng ini selama bertahun-tahun. Bahkan tidak juga pada hari Natal. Karena merupakan suatu adat pada Malam Natal bagi semua orang untuk datang ke gereja membawa persembahan mereka bagi bayi Kristus. Dan ada masanya di mana sebuah persembahan yang sangat tidak biasa yang diletakkan di altar akan menimbulkan alunan musik yang indah dari lonceng-lonceng yang ada jauh di puncak menara. Ada yang mengatakan bahwa malaikatlah yang membuatnya berayun. Tetapi akhir-akhir ini tak ada persembahan yang cukup luar biasa yang layak memperoleh dentangan lonceng-lonceng itu.
Sekarang beberapa kilometer dari kota, di sebuah desa kecil, tinggal seorang anak laki-laki bernama Pedro dengan adik laki-lakinya. Mereka hanya tahu sangat sedikit tentang lonceng-lonceng Natal itu, tetapi mereka pernah mendengar mengenai kebaktian di gereja itu pada Malam Natal dan mereka memutuskan untuk pergi melihat perayaan yang indah itu.
Sehari sebelum Natal sungguh menggigit dinginnya, dengan salju putih yang telah mengeras di tanah. Pedro dan adiknya berangkat awal di siang harinya, dan meskipun cuaca dingin mereka mencapai pinggiran kota saat senja. Mereka baru saja akan memasuki salah satu pintu gerbang yang besar ketika Pedro melihat sesuatu berwarna gelap di salju di dekat jalan mereka.
Itu adalah seorang wanita yang malang, yang terjatuh tepat di luar pintu kota, terlalu sakit dan lelah untuk masuk ke kota di mana ia dapat memperoleh tempat berteduh. Pedro berusaha membangunkannya, tetapi ia hampir tak sadarkan diri. "Tak ada gunanya, Dik. Kau harus meneruskan seorang diri."
"Tanpamu?" teriak adiknya. Pedro mengangguk perlahan. "Wanita ini akan mati kedinginan jika tak ada yang merawatnya. Semua orang mungkin sudah pergi ke gereja saat ini, tetapi kalau kamu pulang pastikan bahwa kau membawa seseorang untuk membantunya. Saya akan tinggal di sini dan berusaha menjaganya agar tidak membeku, dan mungkin menyuruhnya memakan roti yang ada di saku saya."
"Tapi saya tak dapat meninggalkanmu!" adiknya memekik. "Cukup salah satu dari kita yang tidak menghadiri kebaktian," kata Pedro. "Kamu harus melihat dan mendengar segala sesuatunya dua kali, sekali untukmu dan sekali untukku. Saya yakin bayi Kristus tahu betapa saya ingin menyembah-Nya. Dan jika kamu memperoleh kesempatan, bawalah potongan perakku ini dan saat tak seorangpun melihat, taruhlah sebagai persembahanku."
Demikianlah ia menyuruh adiknya cepat-cepat pergi ke kota, dan mengejapkan mata dengan susah payah untuk menahan air mata kekecewaannya.
Gereja yang besar tersebut sungguh indah malam itu; sebelumnya belum pernah terlihat seindah itu. Ketika organ mulai dimainkan dan ribuan orang bernyanyi, dinding-dinding gereja bergetar oleh suaranya.
Pada akhir kebaktian tibalah saatnya untuk berbaris guna meletakkan persembahan di altar. Ada yang membawa permata, ada yang membawa keranjang yang berat berisi emas. Seorang penulis terkenal meletakkan sebuah buku yang telah ditulisnya selama bertahun-tahun. Dan yang terakhir, berjalanlah sang Raja negeri itu, sama seperti yang lain berharap ia layak untuk memperoleh dentangan lonceng Natal.
Gumaman yang keras terdengar di seluruh ruang gereja ketika sang Raja melepaskan dari kepalanya mahkota kerajaannya, yang dipenuhi batu-batu berharga, dan meletakkannya di altar. "Tentunya," semua berkata, "kita akan mendengar lonceng-lonceng itu sekarang!" Tetapi hanya hembusan angin dingin yang terdengar di menara.
Barisan orang sudah habis, dan paduan suara memulai lagu penutup. Tiba-tiba saja, pemain organ berhenti bermain. Nyanyian berhenti. Tak terdengar suara sedikitpun dari siapa saja di dalam gereja. Sementara semua orang memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan, terdengarlah dengan perlahan-tetapi amat jelas-suara lonceng-lonceng di menara itu. Kedengaran sangat jauh tetapi sangat jelas, alunan musik itu terdengar jauh lebih manis daripada suara apapun yang pernah mereka dengar.
Maka mereka semuapun berdiri bersama dan melihat ke altar untuk menyaksikan persembahan besar apakah yang membangunkan lonceng yang telah berdiam sekian lama. Tetapi yang mereka lihat hanyalah sosok kekanak-kanakan adik laki-laki Pedro, yang telah perlahan-lahan merangkak di sepanjang lorong kursi ketika tak seorangpun memperhatikan, dan meletakkan potongan kecil perak milik Pedro di altar.
Dari kisah di atas dapat kita simpulkan bahwa memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga daripada mendapat perak. Marilah kita mengejar dan memperoleh hikmat dan mendapat pengertian yang ilahi agar hidup kita dipenuhi berkat ilahi. Amin.






Ramli SN Harahap

Rabu, 01 Juli 2009

Bacaan Alkitab Minggu 12 Juli 2009: Mazmur 148 : 3 - 14

AKU MEMUJI TUHAN



Kidung Jemaat, No. 64:1-2.

Segala makhluk memuji kemuliaan dan kebesaran Allah. Tumbuh-tumbuhan, dari semak-semak belukar sampai pohon besar, dari hewan melata sampai binatang buas, turut serta memuji Tuhan. Segala yang hidup yang ada di darat, di laut dan di udara selalu bersorak-sorai memuliakan kebesaran Allah. Semua ciptaan Allah, makhluk hidup atau benda mati, yang kecil dan yang besar, yang kelihatan dan tidak kelihatan turut serta memuji Tuhan.
Manusia tentu tidak ketinggalan. Manusia sebagai makhota ciptaan Tuhan, yang paling berharga dan paling mulia dari segala ciptaan, mengambil prakarsa terdepan bagaimana cara memuji Tuhan. Untuk itu manusia membentuk ritus, tatacara memuji dan memuliakan Tuhan. Untuk itu manusia memnyusun acara ibadah, sebagaimana dimiliki semua agama, sebagai cara menyembah dan memuliakan Tuhan.
Bagaimana tumbuh-tumbahn memuji dan memulikan Tuhan? Bagaimana binatang-binatang memuji dan memulikan kebesaran Tuhan? Mungkin karena kita kurang familier, kurang dekat dan kurang bersahabat dengan alam, dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang, maka kita kurang paham bagaimana mereka memuji Tuhan. Mungkin kita kurang menyadari bahwa cara manusia manusia memuji dan memuliakan Tuhan berbeda dengan cara hewan dan tumbuhan-tumbuhan. Mungkin kita memang tidak tahu bagaimana cara tumbuh-tumbuhan memuji Tuhan. Kita memang tidak tahu sama sekali bagaimana cara hewan memuji dan memuliakan Tuhan. Akan tetapi bukan karena kita tahu lantas kita boleh katakan bahwa hewan dan tumbuh-tumbuhan sama sekalai tiak memuji dan memuliakan Tuhan. Firman Tuhan yang kita renungkan sekarang ini merupakan bukti bahwa segala hewan dan tumbuh-tumuhan turut serta, ambil bagian dan berprakarsa memuji dan memuliakan Tuhan. Tentunya dengan caranya masing-masing.
Akan tetapi daripada mempersoalkan bagaimana hewan dan tumbuh-tumbuhan memuji dan memuliakan Tuhan, lebih baik kita renungkan kita manusia, diri kita sendiri. Sudah bagaimana manusia sekarang ini memuji dan memuliakan Tuhan. Apakah cara kita sudah tepat memuji dan memuliakan Tuhan? Apakah ibadah kita, sebagaimana selama ini kita lasakanakan, sudah benar di hadapan Tuhan? Pernahkan kita bertanya, kepada sesama terlebih kepada Tuhan sendiri, apakah ibadah kita berkenan di hadapan Tuhan?
Kita sebagai manusia, makhkota ciptaan Tuhan, tentu tidak mau kalah dengan hewan, binatang dan ciptaan lainnya dalam memuji Tuhan. Sebagai manusia, yang adalah gambar dan memiliki citra Allah, manusia seharus memegang kendali dalam mengarahkan semua ciptaan Allah untuk memuji dan memuliakan nama-Nya. Raja-raja dan manusia biasa, pembesar-pembesar pemerintah dunia dan rakyat jelata, yang sudah tua bangka dan masih muda belia, teruna maupun anak dara, anak kecil, orok yang masih dipangkuan, bahkan bayi di dalam kandungan, semuanya turut serta memuji dan memuliakan Tuhan. Biarlah semuanya memuji-muji Tuhan, sebab nama-Nya saja yang luhur, keagungan-Nya mengatasi semua yang ada di langit, di bumi maupun yang ada di bawahnya.
Lalu bagaimana kita memuji Tuhan? Bagaimana kita memuliakan nama-Nya? Tuhan menciptakan mulut bagi kita untuk kita pakai memuji nama-Nya. Dengan mulut kita dapat memuliakan Tuhan dengan kidung nyanyian, mengucapkan kata dengan pujian. Tuhan mencipatakan tangan bagi kita. Dengan tangan, kita dapat melayani Tuhan melalui perbuatan. Tuhan juga menciptakan kaki bagi kita. Dengan kaki kita dapat berjalan dan pergi ke suatu tujuan dalam melakukan Firman Tuhan. Terlebih, Tuhan menciptakan pikiran dan hati bagi kita. Dengan hati dan pikiran, kita dapat menimbang-nimbang mana yang berkenan di hati Tuhan dan yang tidak berkenan kepada-Nya, mana yang disukai Tuhan dan mana yang tidak disukai-Nya. Apabila semua pemberian Tuhan itu kita pakai untuk memuliakan Dia, maka hati dan pikiran kita akan menjadi tempat Tuhan tinggal dan bersemayam. Tuhan akan selalu hidup bersama kita. Dengan demikian, semua keberadaan kita, hati, pikiran dan kekuatan yang ada pada kita menjadi alat dan tempat memuji dan memuliakan Tuhan.
Oleh karena itu, sebenarnya Tuhan sendiri telah menciptakan kita dan menciptakan segala yang ada pada kita, tubuh kita, tangan, kaki, hati dan pikiran kita untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Itu berarti tidak ada lagi pertanyaan sebenarnya, bagaimana memuji Tuhan? Tidak perlu ada pertanyaan, dengan apa aku memuji Dia? Sebab hidup kita, segala sesuatu yang kita miliki secara total adalah untuk Dia dan untuk kemuliaan nama-Nya.

Bacaan Alkitab Minggu 5 Juli 2009: Mazmur 104 : 14 - 24

GEREJA & LINGKUNGAN HIDUP

Sadarkah kita bahwa alam tempat tinggal kita ini makin rusak? Dalam peringatan hari lingkungan hidup tanggal 5 Juni yang lalu, banyak orang menyoroti kerusakan lingkungan hidup. Kita merasakan bumi yang makin panas, banjir, juga pencemaran udara, air dan tanah, adalah masalah yang menimbulkan banyak dampak negatif bagi manusia. Gaya hidup manusia yang tidak ramah lingkungan dan eksploitasi alam yang berlebihan telah membuat alam ini berduka. Lingkungan hidup menjadi rusak dan terjadilah ketidakadilan ekolog.
Mengapa lingkungan hidup kita menjadi rusak? Adakah cara pandang dan sikap manusia yang salah terhadap alam? Tentu saja. Pemahaman dan cara pandang orang terhadap lingkungan hidup mempengaruhi sikap mereka dalam memperlakukan alam. Misalnya ada pandangan bahwa manusia adalah pusat alam semesta (anthroposentris). Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem. Alam dilihat hanya sebagai obyek, alat, dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Alam hanya bernilai sejauh menunjang kepentingan manusia. Tentu pandangan seperti itu menghasilkan sikap yang tidak bersahabat dengan alam, misalnya eksploitasi alam yang berlebihan dan sikap yang tidak peduli dengan kerusakan alam.
Lalu, bagaimanakah pandangan kita (orang Kristen) terhadap alam atau lingkungan hidup? Alkitab sebagai sumber nilai dan moral kristiani menjadi pijakan dalam memandang dan mengapresiasi alam. Alkitab sebenarnya mengajak manusia memberikan penghargaan yang tinggi terhadap ciptaan Allah lainnya, termasuk alam atau lingkungan hidup. Perhatikanlah kajian teologis berikut ini:
Semua ciptaan adalah berharga, cerminan keagungan Allah (Mazmur 104). Kebesaran Tuhan yang Maha Agung bagi karya cipataan-Nya (dalam artian lingkungan hidup) tampak dalam Mazmur 104. Perikop ini menggambarkan ketakjuban pemazmur yang telah menyaksikan bagaimana Tuhan yang tidak hanya mencipta tapi juga menumbuh-kembangkannya dan terus memelihara ciptaan-Nya. Ayat 13, 16, 18 dan 17 misalnya, menggambarkan pohon-pohon diberi makan oleh Tuhan, semua ciptaan menantikan makanan dari Tuhan. Yang menarik adalah bukan hanya manusia yang menanti kasih dan berkat Allah tapi seluruh ciptaan (unsur lingkungan hidup). Di samping itu penonjolan kedudukan dan kekuasaan manusia atas ciptaan lainnya di sini tidak tampak. Itu berarti bahwa baik manusia maupun ciptaan lainnya tunduk pada kemahakuasaan Allah. Dalam ayat 30, secara khusus dikatakan: “Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.” Kata “roh” seringkali dikaitkan dengan unsur kehidupan, atau hidup itu sendiri. Ini berarti seluruh makluk ciptaan di alam semesta ini diberikan unsur kehidupan oleh Tuhan. Ayat ini jelas menunjukan bahwa bukan hanya manusia yang diberi kehidupan tapi juga ciptaan lainnya. Betapa berharganya seluruh ciptaan di hadapan Tuhan. Roh Allah terus berkarya dan memberikan kehidupan.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa sebagai pencipta, Allah sesuai rencana-Nya yang agung telah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan maksud dan fungsinya masing-masing dalam hubungan harmonis yang terintegrasi dan saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lainnya. Jadi sikap eksploitatif terhadap alam merupakan bentuk penodaan dan perusakan terhadap karya Allah yang agung itu.
Semua ciptaan (kosmos) diselamatkan melalui Kristus (Kolose 1:15-23). Dalam perikop ini diungkap dimensi kosmologis yang terkait erat dengan hal keutamaan Kristus, khususnya karya pendamaian, penebusan dan penyelamatan-Nya atas semua ciptaan. Dalam ayat 23 dikatakan bahwa Injil diberitakan kepada ktisis (seluruh alam). Melalui Kristus dunia diciptakan, dan melalui Kristus pula Allah berinisiatif melakukan pendamaian dengan ciptaan-Nya. Sekarang alam berada di bawah kuasa-Nya dan dengan demikian kosmos mengalami pendamaian. Bagian ini juga menekankan arti universal tentang peristiwa Kristus melalui penampilan dimensi-dimensi kosmosnya dan melalui pembicaraan tentang keselamatan bagi seluruh dunia, termasuk semua ciptaan. Kristus membawa pendamaian dan keharmonisan bagi semua ciptaan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Penebusan Kristus juga dipahami sebagai penebusan kosmis yang mencakup seluruh alam dan ciptaan. Penyelamatan juga mencakup pendamaian atau pemulihan hubungan yang telah rusak antara manusia dan ciptaan lainnya.
Demikianlah dapat disimpulkan bahwa baik manusia maupun segala ciptaan atau makluk yang lain merupakan suatu kesatuan kosmik yang memiliki nilai yang berakar dan bermuara di dalam Kristus.
Dengan memperhatikan kajian teologis di atas maka melahirkan teologi kontekstual-ekologis sebagai berikut:
a. Teologi Ciptaan. Teologi ciptaan menekankan karya Allah yang memberikan hidup kepada seluruh ciptaan (Mazmur 104). Dalam hal ini manusia dilihat sebagai bagian integral dari alam bersama tumbuh-tumbuhan, hewan dan ciptaan lainnya. Tanggungjawab manusia adalah bekerja untuk Tuhan dalam memelihara dan mengelola lingkungan hidup, bukan mendominasi apalagi mengeksploitasinya. Teologi seperti ini juga pernah dirumuskan dalam KTT Bumi di Rio de Jeneiro tahun 1992.
b. Solidaritas dengan alam. Kesadaraan bahwa seluruh ciptaan berharga di mata Tuhan, membawa kita untuk membagun sikap solidaritas dengan alam. Kita memperlakukan lingkungan hidup sebagai sesama ciptaan yang harus dikasihi, dijaga, dipelihara dan dipedulikan. Kita mencintai dan memperlakukan lingkungan hidup dengan sentuhan kasih sebagaimana sikap Tuhan. Kita membangun solidaritas baru dengan alam yang telah rusak.
c. Spiritualitas Ekologis. Spiritualitas ini dibangun dengan dasar penghayatan iman bahwa semua ciptaan diselamatkan dan dibaharui oleh Tuhan. Pembaharuan itu menciptakan kehidupan yang harmonis. Spiritualitas ekologis mempunyai dasar pada pengalaman manusiawi yang berhadapan dengan kehancuran lingkungan hidup sekaligus berhadapan dengan pengalaman akan yang Mahakudus, yang mengatasi segalanya. Dalam pengalaman ini kita dipanggil untuk secara kreatif memelihara kualitas kehidupan, dipanggil untuk bersama Sang Penyelenggara hidup ikut serta mengusahakan syalom, kesejahteraan bersama dengan seluruh alam. Spiritualitas ekologis terwujud dalam macam-macam tindakan etis sebagai wujud tanggungjawab untuk ikut memelihara lingkungan hidup.

Konkretnya, apa yang dapat gereja lakukan untuk mewujudkan pandangan teologi seperti tersebut di atas? Selama ini gereja hanya berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan kebaktian atau kegiatan lain yang melayani manusia. Sudah saatnya gereja menyadari bahwa gereja memiliki tugas panggilan menjaga keutuhan ciptaan atau kelestarian lingkungan hidup, misalnya dengan membuat program-program sebagai berikut:
a. Pembinaan tentang kesadaran ekologis. Pembinaan ini merupakan upaya gereja untuk mengingatkan anggotanya bahwa alam adalah ciptaan Allah yang harus dihargai dengan memelihara dan melestarikannya. Misalnya dalam PA atau pembinaan khusus dan tema-tema kebaktian.
b. Perayaan lingkungan hidup dalam liturgi. Misalnya membuat ibadah khusus untuk merayakan hari lingkungan hidup. Dalam ibadah, ada baiknya kita melakukan penyesalan dosa terhadap alam semesta karena ulah manusia yang telah merusak alam. Penting juga untuk menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu rohani yang bertemakan alam.
c. Menyuarakan suara kenabian terhadap kerusakan lingkungan hidup. Gereja perlu menyuarakan kritik atau memberikan masukan-masukan bagi masyarakat ataupun pemerintah terkait dengan upaya melestarikan lingkungan hidup.
d. Menata lingkungan gereja dengan memperhatikan keseimbangan ekologis. Misalnya jangan habiskan tanah untuk mendirikan bangunan tapi berikan ruang untuk tanam-tanaman. Kita bisa membangun lingkungan gereja yang hijau dan asri.
e. Gerakan penanaman pohon bagi seluruh warga gereja.
f. Mengajak anggota jemaat membudayakan gaya hidup yang ramah dan dekat dengan alam, misalnya dengan memisahkan sampah plastik, membuat lingkungan sekitar rumah menjadi hijau dengan tanam-tanaman.
g. Membangun kerjasama dengan lembaga atau kelompok pecinta alam, misalnya WALHI, untuk memperjuangkan pembangunan yang berwawasan ekologis.





Ramli SN Harahap

Bacaan Alkitab Minggu 28 Juni 2009: 2Petrus 3 : 3 - 10

KEDATANGAN KRISTUS KALI KEDUA

Seiring dengan perkembangan gereja pada abad pertama, para pengajar sesat pun tetap berupaya untuk mempengaruhi anggota jemaat. Dengan kata lain, ada semacam pertandingan dan perseteruan antara para pembela ajaran Kristus yang benar dengan pengajar-pengajar palsu yang sesat. Anehnya, sering terjadi justru ajaran sesat itu lebih menarik perhatian sebab para penganjurnya berupaya mengemas ajarannya dengan metode yang lebih menarik.
Salah satu persoalan penting yang menjadi pokok perdebatan pada waktu itu adalah tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Sebenarnya, bukan hanya pada surat 2 Petrus tema ini menjadi persoalan penting, sudah terjadi jauh sebelumnya. Pada surat kiriman kepada Korintus pun masalah ini sudah muncul.
Pengajaran tentang kedatangan Kristus mempengaruhi sikap dan moral jemaat. Jemaat mula-mula percaya Kristus akan datang segera dan sebagian dari antara mereka masih akan melihat kedatangan-Nya kedua kali itu (bnd. 1Tes.1:11; 2Tes. 2:1-4). Tetapi berhubung sampai masa 2 Petrus ini Kristus belum juga datang, banyak dari anggota jemaat yang kecewa. Para pengajar sesat mempergunakan peluang itu untuk memengaruhi mereka. Mereka mengatakan bahwa Kristus tidak akan datang sebagaimana telah dijanjikan-Nya. Mereka tidak perlu menyianyiakan waktu dan pikiran untuk mengingat-ingat kedatangan Kristus. Itu merupakan pekerjaan sia-sia. Lebih baik mempergunakan waktu dan kesempatan yang ada untuk menikmati hidup, melakukan apa saja yang disukai seseorang. Akibatnya perbuatan yang tidak sesuai dengan moralitas kekiristenan menjadi semakin berkembang.
Para pengajar sesat itu mengejek orang-orang Kristen tentang penundaan kedatangan Yesus Kristus. Penundaan kedatangan Kristus menjadi dasar bagi pengajar sesat menyerang ajaran rasul-rasul. Berhubung masih banyak anggota jemaat yang masih muda (baru masuk menjadi anggota jemaat), mereka mudah terpengaruh dengan ajaran sesat itu. Oleh sebab itu banyak orang yang murtad, meninggalkan ajaran yang benar itu dan kembali kepada kepercayaan lama, bahkan sebagian dari antara mereka menjadi penganut synkritisme (bnd. Ibr 6:1-8).
Melalui surat ini penulis hendak mengingatkan jemaat bahwa Kristus pasti akan datang. Penundaaan kedatangan-Nya itu bukan urusan manusia tetapi sesuai dengan rencana Allah. Manusia tidak akan pernah mampu menetapkan kedatangan Yesus kedua kalinya. Keterlambatan itu justru menjadi bukti kasih Allah akan manusia yang tidak menghendaki manusia binasa. Dengan keterlambatan itu berarti masih ada waktu atau kesempatan untuk bertobat. Allah tidak pernah mengingkari apa yang Dia janjikan. Dia selalu setia dan menggenapnya.
Pengajaran kedatangan Kristus segera tidak perlu dipahami secara harfiah. “Kata segera” bukan berarti besok. Jika keyakinan tentang kedatangan-Nya yang segera akan terjadi berkembang di dalam jemaat mula-mula, bisa saja ajaran itu sengaja dikembangkan oleh para pengajar sesat pula. Sebab sekalipun pada awalnya Paulus mengatakan “maranatha, datanglah ya Tuhan” (1Kor.16:22) tetapi itu dalam konteks menginggatkan anggota jemaat agar tetap berja-jaga, berdoa dan tetap melakuka pekerjaan kasih. Paulus tidak pernah mengatakan kepada anggota jemaat supaya mereka meninggalkan pekerjaan yang baik karena Kristus akan datang segera (bnd. 2Tes.3:1-12). Yesus pun tidak pernah menjanjikan hari yang tepat dari kedatangan-Nya itu. Menjawab pertanyaan para murid-Nya tentang kedatangan-Nya, Dia menjawab tidak seorang pun yang mengetahui, bahkan Dia sendiri pun tidak mengetahui, hanya Bapa di surga yang mengetahuinya (Mat.24:36; Why. 1:6-7).
Menurut pengajar sesat tidak ada yang berubah di bumi sejak masa nenek moyang. Segala sesuatu itu tetap seperti semula. Dengan alasan itu, mereka mengatakan bahwa penantian kedatangan Kristus itu merupakan kesia-siaan saja. Untuk melawan ajaran sesat itu, maka penulis surat Petrus kedua ini membuka mata anggota jemaat untuk mengerti dengan baik kebenaran ajaran para rasul. Apakah betul tidak ada yang berubah seperti ditudukan para pengajar sesat itu? Tuduhan seperti itu tidak beralasan, sebab sejak penciptaan banyak yang berubah. Tidak ada yang kekal di muka bumi ini, semua berubah dan berkembang. Langit dan bumi (yang berada di bawah langit) terbentuk dari air samudera raya (Kej.1:2). Dunia yang tercipta itu terjadi oleh air. Artinya, air sangat penting untuk berdirinya dunia ini dengan menyoroti dua segi yakni: air merupakan asal usul baik untuk terbentuknya dunia maupun untuk kelanjutannya kemudian. Tetapi bumi yang tercipta demikian itu menjadi binasa ketika digenangi air pada masa Nuh (Kej.7:21). Seluruh dunia turut hanyut akibat keampuhan air itu.
Dengan penjelasan itu, Petrus mau menyapa anggota jemaat agar memahami dan mempercayai perbuatan kasih Tuhan kepada umat manusia dengan menyelamatkan Nuh beserta anak-anaknya. Sebenarnya, jika Tuhan tidak menunjukkan anugerah-Nya, Dia bisa saja menghancurkan semuanya termasuk Nuh sehingga tidak ada lagi generasi manusia berikutnya. Jadi jika para pengajar sesat itu mengatakan tidak ada yang berubah, peristiwa air bah itu pun sudah merupakan perubahan.
Sesudah dunia lama binasa, maka terbitlah suatu dunia ciptaan baru yang tetap terdiri atas langit dan bumi seperti dunia lama dan dunia mendatang. Manusia sekarang hidup dalam dunia sementara yang dipelihara oleh Allah, tetapi dunia yang sedang berjalan menuju kepada suatu kebinasaan lagi. Dunia yang sekarang akan terbakar oleh api, dan berkaitan dengan itu maka orang-orang yang tidak beriman juga akan binasa. Tetapi semua kejadian itu bukan merupakan hukum alam, Allah yang maha kuasa Pencipta langit dan bumi yang telah melakukannnya. Rencana dan kehendak Tuhan yang harus terjadi bukan suatu proses hukum alam. Dunia dan segala sesuatu di alam semesta itu berada pada sejarah keselamatan yang dirancang oleh Allah. Maka tidak ada suatu kejadian apa pun di luar pengetahuan Allah. Bumi, alam semesta, manusia dan semua makhluk harus hidup pada sejarah keselamatan Allah, tidak mungkin keluar dari garis ketentuan itu.
Berlandaskan Mazmur 90:4 penulis surat Petrus ini menambahkan argumentasi teologis tentang pokok yang dipersoalkan tadi. Menurut rasul ini, Allah tidak pernah dibatasi oleh waktu sebab Dia sendirilah yang menciptakan waktu. Jangka waktu yang dipahami manusia berbeda dengan jangka waktu Tuhan. Oleh sebab itu, sekalipun terjadi penundaan kedatangan Kristus kedua-kalinya, bagi Allah waktu itu hanya singkat saja. Bagi Tuhan, satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama satu hari. Artinya, batas-batas waktu yang berlaku bagi manusia tidak berlaku bagi Tuhan.
Bisa saja Tuhan menyudahi segala-galanya dengan cepat. Namun, Allah tidak melakukannya sebab Tuhan menghendaki keselamatan semua orang (bnd 1Tim. 2:4). Allah tidak lalai dalam penundaan kedatangan Kristus itu, tetapi justru hal itu menunjuk kepada kesabaran-Nya. Allah menunggu umat-Nya yang sudah berbalik itu untuk bertobat sebelum masa pengampunan itu berlalu. Para pengajar sesat itu pun harus bertobat dan kembali ke jalan Tuhan. Semakin lama Allah bersabar maka semakin besar pula kesempatan serta peluang bagi orang-orang berdosa kembali ke jalan yang benar. Penundaan kedatangan-Nya itu merupakan bukti kasih dan kemurahan Allah bagi manusia.
Penundaan kedatangan-Nya yang menjadi wujud kepeduliaan-Nya kepada umat manusia seharusnya ditanggapi dengan positip, yakni agar tetap waspada dan berdoa. Hari Tuhan pasti akan terjadi, tetapi sebagaimana dikatakan di atas hanya Allah sendiri yang tahu. Kalau hari Tuhan itu sudah terjadi, peluang dan kesempatan itu sudah berlalu. Manusia tidak mungkin lagi menyelamatkan dirinya. Dengan memakai gambaran yang terdapat dalam PL, kembali penulis mengingatkan jemaat agar sungguh-sungguh bertobat. Orang-orang Kristen tidak boleh terbawa arus pemikiran pengajar sesat itu. Benar, Tuhan belum datang kedua kalinya, tetapi tidak berarti bahwa Tuhan sama sekali sudah lupa sehingga Dia tidak akan datang lagi. Tuhan “pasti” akan datang. Kedatangan-Nya seperti pencuri pada malam hari, tiba-tiba dan tidak pernah diberitahukan sebelumnya. Orang-orang Kristen tidak perlu menghitung-hitung hari kedatangan-Nya itu, siapa pun tidak mungkin melakukannya. Perbedaan orang-orang Kristen beriman dari “yang lainnya” adalah orang-orang Kristen senantiasa siap menghadapi kedatangan Tuhan, kapanpun dan bagaimanapun caranya. Orang-beriman akan senantiasa siap menghadapi panggilan dan kedatangan Tuhan, dan tetap konsisten berjanji melakukan yang terbaik di dalam hidupnya.
Sepanjang masa, gereja menghadapi para pengajar sesat yang berupaya menaklukkan jemaat dan membawa mereka keluar dari gereja. Sering terjadi cara dan metode para pengajar sesat itu lebih menarik dari cara gereja yang sudah mapan (gereja mainstream). Hedonisme, materialisme, libertinisme, synkritisme, dan sebagainya semakin berkembang dan mudah mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat modern. Semakin banyak manusia yang tidak takut terhadap hukuman Tuhan. Mereka mengatakan, hukuman Tuhan itu hanya peringatan isapan jempol yang menakut-nakuti manusia. Katanya, hukuman itu tidak perlu dihiraukan. Sebaliknya mereka mengajak manusia untuk menikmati kehidupan dunia modern ini sesuka hati masing, hidup berfoya-foya sebab kesempatan hidup tidak akan datang dua kali. Mereka tidak mau perduli kepada ajaran surga dan neraka, sebab bagi mereka surga itu adalah kenikmatan saja.
Kita melihat betapa banyak orang yang terjebak dengan ajaran sesat ini. Banyak dari antara umat manusia (termasuk anggota gereja) yang sudah terperangkap dalam jerat kenikmatan sesaat antara lain: ketergantungan kepada obat-obat terlarang, seks bebas, dan sebagainya. Banyak dari antara mereka yang sudah terperangkap dan terjerumus ke dalam lumpur dosa itu kemudian hari menyesal, tetapi penyesalannya sudah terlambat. Kita bisa membaca di dalam media semakin banyak orang yang mengidap penyakit HIV/AIDs, penyakit yang tidak mungkin diobati. Anehnya, penyakit yang sudah mendunia ini semakin meraja lela dan tidak ditakuti oleh banyak orang, lupa kepada akibat yang ditimbulkannya. Mata manusia telah gelap oleh kenikmatan sesaat itu.
Nas ini mengingatkan manusia (kita) tentang kedatangan Tuhan. Makna kedatangan Tuhan bagi kita bukan hanya menyangkut hari kiamat yang kita tidak tahu kapan akan terjadi tetapi juga berkaitan dengan kedatangan-Nya untuk memanggil kita dari dunia ini menghadap Allah Bapa di surga. Kapan dia memanggil seseorang tidak ada yang tahu. Oleh sebab itu, sebagai orang beriman kita harus berjaga-jaga, mempergunakan waktu yang diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya melakukan yang baik dan berguna untuk sesama dan dunia. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa keselamatan kekal telah dikerjakan Kristus untuk kita dan telah dianugerahkan-Nya. Namun, Iblis tidak akan pernah berhenti menggoda kita agar menanggalkan mahkota keselamatan itu. Maka, berjaga-jagalah, waspadalah, dan tetap berdoa. Tuhan memberkati kita semua.

Jumat, 19 Juni 2009

RENUNGAN: 2 Timotius 4 : 1-8

“It Is Not The End” (2 Timotius 4 : 1-8)

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”

PENDAHULUAN

Dalam rangka mengakhiri tugas Kepengurusan Persekutuan Naposobulung GKPA Penjernihan tahun 2006-2008 dan pemilihan pengurus baru periode 2008-2010, maka kita akan membahas tema: It Is Not The End. Sebenarnya dengan tema ini secara sederhana kita sudah memahami dan mengerti apa arti dan tujuan tema ini bahwa tugas kepengurusan bisa saja berakhir, namun bukan berarti tugas pelayanan kita di PNGKPA Penjernihan juga ikut berakhir, melainkan tugas pelayanan kita itu akan terus berlangsung dengan bentuk yang lain pula. Artinya PNGKPA Penjernihan memulai babak baru dalam pelayanan di gereja GKPA Penjernihan.

I. ARTI DAN MAKNA PELAYANAN
“Siapakah yang senang kalau harus melayani orang lain?” ujar Plato. Rupanya Plato lebih jujur daripada kita. Sebab sering kali kita berkata bahwa kita mau melayani orang lain, namun dalam prakteknya kita bersikap: Eh, enaknya nyuruh-nyuruh, memangnya aku jongos dia?
Dalam gereja orang juga senang berbicara tentang pelayanan. Begitu sering orang menggunakan kata melayani sehingga artinya menjadi kabur. Seorang pemuda mendapat tugas dari gereja, lalu ketika bendahara mau mengganti ongkos jalan, pemuda itu menjawab, “Tak usah, ini pelayanan.” Di sini pelayanan berarti melakukan sesuatu secara sukarela. Ketika sebuah gereja di Sumba meminta bantuan dana untuk pembangunan gedung, orang mengangguk dan berkata, “Ya, kita perlu melayani mereka.” Di sini pelayanan berarti memberi sumbangan. Minggu depan yang akan melayani permandian kudus adalah Pdt.Poltak. Di sini pelayanan berarti melakukan atau memimpin.
Kata melayani digunakan oleh Perjanjian Baru juga dalam banyak arti. Ada empat macam kata yang digunakan dalam bahasa aslinya, yaitu diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo.
Diakoneo berarti menyediakan makanan di meja untuk majikan. Orang yang melakukannya disebut diakonos dan pekerjaannya disebut diakonia (Lih. Luk.17:8). Namun dalam Lukas 22:26-27, Yesus memberi arti yang baru bagi diakoneo, yaitu melayani orang yang justru lebih rendah kedudukannya dari kita. Dalam 1Petrus 4:10 kata diakoneo berarti menggunakan karisma yang ada pada kita untuk kepentingan dan kebaikan orang lain. Rasul Paulus menganggap pekerjaannya sebagai suatu diakonia dan dirinya sebagai diakonos bagi Kristus (2Kor.11:23) dan bagi umat (Kol.1:25).
Douleo adalah menghamba yang dilakukan oleh seorang doulos (budak). Paulus memakai kata itu untuk menggambarkan bahwa kita yang semula menghamba kepada pelbagai kuasa jahat, dibebaskan oleh Kristus supaya kita bisa menghamba kepada Kristus (Gal.4:1-11). Suatu hal yang kontras dan tajam diperlihatkan di Filipi 2:5-7, yaitu bahwa Yesus yang walaupun mempunyai rupa Allah namun telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang doulos.
Leitourgeo berarti bekerja untuk kepentingan rakyat atau kepentingan umum. Orang yang berbuat itu disebut leitourgos dan pekerjaan luhur itu disebut leitourgia. Kata itu juga dapat berarti melakukan upacara dan ibadah kepada para dewa. Dari situ kita menggunakan kata liturgi untuk kata ibadah.
Latreuo berarti bekerja untuk mendapat latron yaitu gaji atau upah. Latreuo ini berarti memberikan persembahan kepada Tuhan. Penggunaan yang mencolok terdapat dalam Roma 12:1 di mana Paulus berpesan supaya kita mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan sebagai logike latreia, artinya persembahan yang pantas.
Pelbagai kata ini digunakan oleh gereja abad pertama dengan arti melayani, mengabdi atau menghamba kepada Tuhan dan kepada orang lain. Apa sebabnya kita didorong untuk melayani Tuhan dan orang lain? Dasarnya adalah karena Yesus sendiri sudah melayani kita. Seluruh hidup dan Yesus selama 33 tahun ditandai oleh jiwa melayani. Tujuan hidup-Nya bukanlah untuk mendapatkan pelayanan, melainkan untuk memberikan pelayanan. Isi hidup-Nya bukan dilayani, melainkan melayani. Alkitab tidak menggambarkan Yesus sebagai Tuhan yang berjaya atau berkuasa, melainkan sebagai Tuhan yang melayani dan menghamba, Yesus adalah diakonos (pelayan), bahkan doulos (budak).
Dengan demikian secara sederhana dapat dikatakan bahwa PNGKPA Penjernihan ini terpanggil untuk tugas pelayanan diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo; dipanggil untuk melayani, mengabdi atau menghamba kepada Tuhan dan kepada orang lain, secara umum untuk GKPA Penjernihan dan khususnya untuk PNGKPA Penjernihan.

II. PENUHILAH TUGAS PANGGILAN PELAYANANMU
Kehidupan Kristen dimulai dari kesadaran akan panggilan Tuhan karena Yesus mengatakan bukan kamu yang memilih Aku tetapi Aku yang memilih kamu. Berarti dari mulanya Allah memilih kita. Setelah Allah memilih kita, maka Allah menguduskan kita dan memanggil kita. Setelah kita dipanggil, maka Allah memperlengkapi hidup kita dengan memberikan kuasa, wibawa dan pengalaman-pengalaman rohani agar kita mampu bersaksi bagi Kristus.

Bagaimana kita menyadari dan menanggapi tugas panggilan itu?

1. Kristus Yesus yang akan menjadi hakim (ay.1).
Pelayanan kita bukan untuk menyenangkan manusia, bukan untuk mencari muka. Banyak orang ketika dipuji, maka pelayanannya makin baik, tetapi ketika dia dikritik, pelayanannya makin mundur. Kalau kita menyadari bahwa Yesus yang menjadi hakim dalam pelayanan kita, maka pelayanan kita harus benar di hadapan Allah. Jadi yang menjadi hakim dalam pelayanan kita bukan manusia, bukan rekan sepelayanan kita, bukan keluarga kita melainkan Kristus sendiri yang menjadi hakim. Karena itu pikirkanlah dan kerjakanlah apa yang menyenangkan hati Tuhan.
2. Senantiasa memberitakan Firman (ay.2).
Memberitakan Firman tidak identik dengan menjadi ‘pendeta’, ‘sintua’, ‘penginjil’, dll. Memberitakan firman adalah perkara yang mudah. Kita memberitakan Firman lewat nasihat-nasihat, tegoran, menyatakan apa yang salah, melawan ajaran yang sesat, lewat perilaku, sikap, prinsip hidup kita. Sehingga kita menjadi surat Kristus yang terbuka yang bisa dibaca oleh setiap orang di sekitar kita.

3. Kuasailah diri dalam segala hal (ay.5).
Menguasai diri berarti sadar dalam segala hal, sabar menderita, tunaikan tugas pelayanan. Jangan memakai penderitaan sebagai alat untuk bersikap kasar kepada orang lain. Namun melalui penderitaan kita terus menunaikan tugas pelayanan.

4. Kesiapan untuk berkorban (ay.6).
Dalam pelayanan banyak yang harus kita korbankan. Kadangkala bukan darah yang tertumpah tapi harga diri, sifat-sifat kedagingan kita yang harus kita tanggalkan. Tanpa pengorbanan dalam pelayanan tiada kemuliaan. Karena itu kita harus berani berkorban demi Kristus dalam pelayanan kita.

5. Bertahan sampai akhir (7-8).
Banyak orang yang semangat dalam awal pelayanannya, namun semakin lama semakin redup dan lenyap. Seorang pelayan harus memiliki semangat yang bertahan sampai akhirnya. Agar kita mampu bertahan hingga akhirnya maka kita harus membangun integritas diri kita. Inilah cerita terbesar tentang integritas. Ketika rasul Paulus berbicara tentang kematian, dia berbicara tentang reputasi yang diinginkannya. Paulus membuat 3 pernyataan yang luar biasa. Pertama: “Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik“ (“I fought a good fight”). Aku berjuang sebagai pejuang yang baik. Kita harus berjuang untuk setiap yang kita lakukan. Kita tidak boleh membiarkan diri kita dirusak oleh hal-hal yang kotor dan najis yang ingin menghancurkan kita. Kita harus berjuang untuk integritas kita. Kita harus berjuang untuk kejujuran kita. Kita harus berjuang untuk kesuksesan kita. Janganlah kita dikenal orang sebagai pejuang yang tidak baik/jahat. Bangun reputasimu sebagai pejuang yang baik. Kedua, “Aku telah mencapai garis akhir” (“I finished the task”). Aku berjuang sampai selesai. Bila kita diberikan tugas, kerjakan sampai tuntas, jangan setengah-setengah. Kerjakan sampai tuntas. Pernyataan ketiga, “Aku telah memelihara iman” (“I Kept the Faith”). Ini pernyataan penting, menjaga iman kita. Selalu jaga imanmu. Jaga imanmu dalam pergaulanmu, jaga imanmu pekerjaanmu, jaga imanmu di dalam keluargamu. Berdirilah pada nilai-nilai imanmu.
III. BAHAYA DALAM PELAYANAN PEMUDA GEREJA

Jika kita telah mengetahui apa arti pelayanan dan menyadari tugas panggilan itu, maka berhati-hatilah agar kita tidak jatuh dalam bahaya pelayanan pemuda Gereja. Saudara pernah dengar tidak yang namanya bahaya pelayanan pemuda Gereja. Apakah sebenarnya bahaya-bahaya dalam pelayanan kita itu?

1. Tidak memiliki visi yang jelas. Salah satu kesalahan terbesar di pelayanan adalah: tidak tahu visi. Banyak yang tidak tahu visinya dan cuma mengalir aja. Apakah itu visi? (1) Visi adalah sesuatu yang ingin dicapai masa mendatang. Yang ingin dicapai itu adalah kualitas, jumlah, ukuran keberhasilan. (2) Visi merupakan sesuatu kesadaran luas tentang: di mana kita sekarang, kemana kita hendak pergi, gambaran pencapaian pelayanan di masa depan. (3) Visi merupakan gambaran mental dari: apa yang sudah lampau, apa yang sekarang (kurang baik), apa yang akan datang (lebih baik). (4) Visi mempunyai daya dorong untuk: membantu mewujud-nyatakan, mengatasi berbagai kesulitan, berbuat lebih baik. Contoh visi pemuda: “Menjadi mitra Kristus dalam pelayanan Gereja”

2. Tidak memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Karena pemuda/i gereja adalah orang-orang yang sibuk kerja di kantor, kuliah dan lain sebagainya dan ditambah lagi tugas pelayanan di gereja, maka sering kali mereka jatuh dalam bahaya tidak memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Jangan heran, kalau tidak hati-hati, bisa-bisa pelayanan pemuda gereja itu kolaps. Keliatannya rohani banget, sibuk buat pekerjaan Tuhan, tapi sebenarnya dalamnya kosong, kering kerontang, karena tidak punya waktu buat duduk diam di kaki Tuhan. Pelayanannya cuma program belaka, cuma kejar target, cuma karena disuruh sama pengurus, strictly business… Tidak heran kalau rata-rata keluhan mereka di Senin pagi adalah “Kenapa ya gue kok rasanya capeeee banget waktu bangun pagi???” Itu karena mereka tidak punya “api” lagi di hati mereka. Api mereka sudah padam karena mereka tidak pernah menyalakan api bakaran di pagi hari, membakar korban persembahan bagi Tuhan secara teratur setiap pagi dengan cara saat teduh, berdoa, bernyanyi memuji menyembah Tuhan dengan tenang.

3. Melayani karena “terpaksa”. Sebagai akibat dari main tarik sana-sini, banyak orang yang diserahi tugas atau jabatan pada tempat yang salah. Misalnya “terpaksa” jadi ketua NHKBP cuma karena tidak ada orang lain lagi yang bersedia atau “dipaksa” jadi pengurus agar mau masuk NHKBP. Jika kita melayani karena “terpaksa” maka hati-hati jangan-jangan nanti juga Tuhan pun memberi berkat kepadamu karena “terpaksa” juga. Oleh karena itu layanilah Tuhan dan sesamamu dengan hati yang rela dan tulus iklas agar Tuhan memberimu kemampuan yang luar biasa.

4. Intrik cinta. Yang namanya kegiatan atau pelayanan pemuda, pasti ada benih-benih cinta yang ditabur atau tertabur. Wajar sih, naman ya juga anak muda. Tidak salah kalau selama pelayanan itu ada yang jadian atau pacaran. Tapi tidak semua yang pacaran itu akan menikah. Pasti pasangan yang jadian sampai menikah persentasenya lebih sedikit dibanding yang pasangan yang putus. Mungkin karena memang tidak cocok, mungkin karena selingkuh, mungkin karena sakit hati, dll. Apapun alasannya, yang namanya putus cinta itu pasti sakit. Tidak jarang karena intrik cinta dalam pemuda gereja ini sering menjadi pemicu hancur dan rusaknya pelayanan di dalam organisasi pemuda. Apalagi jika yang menjadi pelaku itu adalah salah seorang dari pengurus NHKBP, masalahnya lebih rumit lagi. Karena itu, berhati-hatilah menjalin cinta di dalam pelayanan. Jangan karena cinta, pelayanan rusak. Tetapi karena cinta jadikanlah pelayananmu semakin baik dan maju.

IV. PENUTUP

Pada malam ini, bagi Pengurus PNGKPA Penjernihan periode 2006-2008 akan mengakhiri pertandingan dan pelayanannya. Apakah arti mengakhiri tugas pelayanan ini? Pertama, biarlah Kristus yang menjadi hakim dalam seluruh tugas yang telah kita lakukan selama periode ini. Artinya setiap pekerjaan yang baik dan benar di mata Tuhan akan menjadi berkat bagi NHKBP Kernolong dan seluruh warga jemaat. Karena itu jika ada hal-hal yang tidak baik selama periode ini jangan hakimi dirimu, jangan hakimi orang lain, sebab hanya Yesus yang menjadi hakim dalam tugas pelayananmu. Kedua, kuasailah dirimu. Ketika banyak kritikan dan ocehan yang diterima selama ini baik dari teman dan pihak gereja jangan ditanggapi dengan emosi, jangan mengendorkan semangat pelayanan, jangan mengakhiri tugas pelayanannya dari NHKBP Kernolong alias meninggalkannya tetapi harus tetap di NHKBP untuk memberikan dukungan bagi pengurus yang baru nantinya. Ketiga, bersiaplah berkorban. Berkorban untuk memperbaiki pelayanan NHKBP Kernolong ini untuk semakin maju dan berkembang. Keempat, bertahanlah sampai akhir. Artinya jangan berhenti sampai di sini. Jangan berhenti berpartisipasi, memberikan dukungan doa dan dana bagi NHKBP Kernolong ini. It is not the end.
Bangunlah reputasi integritasmu mulai sekarang. Tujuan kita adalah melayani orang lain, bukanlah membebani orang lain. Biarlah di akhir nanti kita semua dapat berkata, “Aku sudah berjuang sebagai pejuang yang baik, Aku sudah menyelesaikan tugasku dan Aku sudah menjaga imanku.”


Ramli SN Harahap
Jl.Pengariaran No.16A
Bendungan Hilir, 10210
Jakarta Pusat
HP. 0813 848 808 26
Email: ramlyharahap@yahoo.com
http://ramlyharahap.blogspot.com

Bacaan Minggu 28 Juni 2009: 2Petrus 3 : 3 - 10

KEDATANGAN KRISTUS KALI KEDUA

Seiring dengan perkembangan gereja pada abad pertama, para pengajar sesat pun tetap berupaya untuk mempengaruhi anggota jemaat. Dengan kata lain, ada semacam pertandingan dan perseteruan antara para pembela ajaran Kristus yang benar dengan pengajar-pengajar palsu yang sesat. Anehnya, sering terjadi justru ajaran sesat itu lebih menarik perhatian sebab para penganjurnya berupaya mengemas ajarannya dengan metode yang lebih menarik.
Salah satu persoalan penting yang menjadi pokok perdebatan pada waktu itu adalah tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Sebenarnya, bukan hanya pada surat 2 Petrus tema ini menjadi persoalan penting, sudah terjadi jauh sebelumnya. Pada surat kiriman kepada Korintus pun masalah ini sudah muncul.
Pengajaran tentang kedatangan Kristus mempengaruhi sikap dan moral jemaat. Jemaat mula-mula percaya Kristus akan datang segera dan sebagian dari antara mereka masih akan melihat kedatangan-Nya kedua kali itu (bnd. 1Tes.1:11; 2Tes. 2:1-4). Tetapi berhubung sampai masa 2 Petrus ini Kristus belum juga datang, banyak dari anggota jemaat yang kecewa. Para pengajar sesat mempergunakan peluang itu untuk memengaruhi mereka. Mereka mengatakan bahwa Kristus tidak akan datang sebagaimana telah dijanjikan-Nya. Mereka tidak perlu menyianyiakan waktu dan pikiran untuk mengingat-ingat kedatangan Kristus. Itu merupakan pekerjaan sia-sia. Lebih baik mempergunakan waktu dan kesempatan yang ada untuk menikmati hidup, melakukan apa saja yang disukai seseorang. Akibatnya perbuatan yang tidak sesuai dengan moralitas kekiristenan menjadi semakin berkembang.
Para pengajar sesat itu mengejek orang-orang Kristen tentang penundaan kedatangan Yesus Kristus. Penundaan kedatangan Kristus menjadi dasar bagi pengajar sesat menyerang ajaran rasul-rasul. Berhubung masih banyak anggota jemaat yang masih muda (baru masuk menjadi anggota jemaat), mereka mudah terpengaruh dengan ajaran sesat itu. Oleh sebab itu banyak orang yang murtad, meninggalkan ajaran yang benar itu dan kembali kepada kepercayaan lama, bahkan sebagian dari antara mereka menjadi penganut synkritisme (bnd. Ibr 6:1-8).
Melalui surat ini penulis hendak mengingatkan jemaat bahwa Kristus pasti akan datang. Penundaaan kedatangan-Nya itu bukan urusan manusia tetapi sesuai dengan rencana Allah. Manusia tidak akan pernah mampu menetapkan kedatangan Yesus kedua kalinya. Keterlambatan itu justru menjadi bukti kasih Allah akan manusia yang tidak menghendaki manusia binasa. Dengan keterlambatan itu berarti masih ada waktu atau kesempatan untuk bertobat. Allah tidak pernah mengingkari apa yang Dia janjikan. Dia selalu setia dan menggenapnya.
Pengajaran kedatangan Kristus segera tidak perlu dipahami secara harfiah. “Kata segera” bukan berarti besok. Jika keyakinan tentang kedatangan-Nya yang segera akan terjadi berkembang di dalam jemaat mula-mula, bisa saja ajaran itu sengaja dikembangkan oleh para pengajar sesat pula. Sebab sekalipun pada awalnya Paulus mengatakan “maranatha, datanglah ya Tuhan” (1Kor.16:22) tetapi itu dalam konteks menginggatkan anggota jemaat agar tetap berja-jaga, berdoa dan tetap melakuka pekerjaan kasih. Paulus tidak pernah mengatakan kepada anggota jemaat supaya mereka meninggalkan pekerjaan yang baik karena Kristus akan datang segera (bnd. 2Tes.3:1-12). Yesus pun tidak pernah menjanjikan hari yang tepat dari kedatangan-Nya itu. Menjawab pertanyaan para murid-Nya tentang kedatangan-Nya, Dia menjawab tidak seorang pun yang mengetahui, bahkan Dia sendiri pun tidak mengetahui, hanya Bapa di surga yang mengetahuinya (Mat.24:36; Why. 1:6-7).
Menurut pengajar sesat tidak ada yang berubah di bumi sejak masa nenek moyang. Segala sesuatu itu tetap seperti semula. Dengan alasan itu, mereka mengatakan bahwa penantian kedatangan Kristus itu merupakan kesia-siaan saja. Untuk melawan ajaran sesat itu, maka penulis surat Petrus kedua ini membuka mata anggota jemaat untuk mengerti dengan baik kebenaran ajaran para rasul. Apakah betul tidak ada yang berubah seperti ditudukan para pengajar sesat itu? Tuduhan seperti itu tidak beralasan, sebab sejak penciptaan banyak yang berubah. Tidak ada yang kekal di muka bumi ini, semua berubah dan berkembang. Langit dan bumi (yang berada di bawah langit) terbentuk dari air samudera raya (Kej.1:2). Dunia yang tercipta itu terjadi oleh air. Artinya, air sangat penting untuk berdirinya dunia ini dengan menyoroti dua segi yakni: air merupakan asal usul baik untuk terbentuknya dunia maupun untuk kelanjutannya kemudian. Tetapi bumi yang tercipta demikian itu menjadi binasa ketika digenangi air pada masa Nuh (Kej.7:21). Seluruh dunia turut hanyut akibat keampuhan air itu.
Dengan penjelasan itu, Petrus mau menyapa anggota jemaat agar memahami dan mempercayai perbuatan kasih Tuhan kepada umat manusia dengan menyelamatkan Nuh beserta anak-anaknya. Sebenarnya, jika Tuhan tidak menunjukkan anugerah-Nya, Dia bisa saja menghancurkan semuanya termasuk Nuh sehingga tidak ada lagi generasi manusia berikutnya. Jadi jika para pengajar sesat itu mengatakan tidak ada yang berubah, peristiwa air bah itu pun sudah merupakan perubahan.
Sesudah dunia lama binasa, maka terbitlah suatu dunia ciptaan baru yang tetap terdiri atas langit dan bumi seperti dunia lama dan dunia mendatang. Manusia sekarang hidup dalam dunia sementara yang dipelihara oleh Allah, tetapi dunia yang sedang berjalan menuju kepada suatu kebinasaan lagi. Dunia yang sekarang akan terbakar oleh api, dan berkaitan dengan itu maka orang-orang yang tidak beriman juga akan binasa. Tetapi semua kejadian itu bukan merupakan hukum alam, Allah yang maha kuasa Pencipta langit dan bumi yang telah melakukannnya. Rencana dan kehendak Tuhan yang harus terjadi bukan suatu proses hukum alam. Dunia dan segala sesuatu di alam semesta itu berada pada sejarah keselamatan yang dirancang oleh Allah. Maka tidak ada suatu kejadian apa pun di luar pengetahuan Allah. Bumi, alam semesta, manusia dan semua makhluk harus hidup pada sejarah keselamatan Allah, tidak mungkin keluar dari garis ketentuan itu.
Berlandaskan Mazmur 90:4 penulis surat Petrus ini menambahkan argumentasi teologis tentang pokok yang dipersoalkan tadi. Menurut rasul ini, Allah tidak pernah dibatasi oleh waktu sebab Dia sendirilah yang menciptakan waktu. Jangka waktu yang dipahami manusia berbeda dengan jangka waktu Tuhan. Oleh sebab itu, sekalipun terjadi penundaan kedatangan Kristus kedua-kalinya, bagi Allah waktu itu hanya singkat saja. Bagi Tuhan, satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama satu hari. Artinya, batas-batas waktu yang berlaku bagi manusia tidak berlaku bagi Tuhan.
Bisa saja Tuhan menyudahi segala-galanya dengan cepat. Namun, Allah tidak melakukannya sebab Tuhan menghendaki keselamatan semua orang (bnd 1Tim. 2:4). Allah tidak lalai dalam penundaan kedatangan Kristus itu, tetapi justru hal itu menunjuk kepada kesabaran-Nya. Allah menunggu umat-Nya yang sudah berbalik itu untuk bertobat sebelum masa pengampunan itu berlalu. Para pengajar sesat itu pun harus bertobat dan kembali ke jalan Tuhan. Semakin lama Allah bersabar maka semakin besar pula kesempatan serta peluang bagi orang-orang berdosa kembali ke jalan yang benar. Penundaan kedatangan-Nya itu merupakan bukti kasih dan kemurahan Allah bagi manusia.
Penundaan kedatangan-Nya yang menjadi wujud kepeduliaan-Nya kepada umat manusia seharusnya ditanggapi dengan positip, yakni agar tetap waspada dan berdoa. Hari Tuhan pasti akan terjadi, tetapi sebagaimana dikatakan di atas hanya Allah sendiri yang tahu. Kalau hari Tuhan itu sudah terjadi, peluang dan kesempatan itu sudah berlalu. Manusia tidak mungkin lagi menyelamatkan dirinya. Dengan memakai gambaran yang terdapat dalam PL, kembali penulis mengingatkan jemaat agar sungguh-sungguh bertobat. Orang-orang Kristen tidak boleh terbawa arus pemikiran pengajar sesat itu. Benar, Tuhan belum datang kedua kalinya, tetapi tidak berarti bahwa Tuhan sama sekali sudah lupa sehingga Dia tidak akan datang lagi. Tuhan “pasti” akan datang. Kedatangan-Nya seperti pencuri pada malam hari, tiba-tiba dan tidak pernah diberitahukan sebelumnya. Orang-orang Kristen tidak perlu menghitung-hitung hari kedatangan-Nya itu, siapa pun tidak mungkin melakukannya. Perbedaan orang-orang Kristen beriman dari “yang lainnya” adalah orang-orang Kristen senantiasa siap menghadapi kedatangan Tuhan, kapanpun dan bagaimanapun caranya. Orang-beriman akan senantiasa siap menghadapi panggilan dan kedatangan Tuhan, dan tetap konsisten berjanji melakukan yang terbaik di dalam hidupnya.
Sepanjang masa, gereja menghadapi para pengajar sesat yang berupaya menaklukkan jemaat dan membawa mereka keluar dari gereja. Sering terjadi cara dan metode para pengajar sesat itu lebih menarik dari cara gereja yang sudah mapan (gereja mainstream). Hedonisme, materialisme, libertinisme, synkritisme, dan sebagainya semakin berkembang dan mudah mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat modern. Semakin banyak manusia yang tidak takut terhadap hukuman Tuhan. Mereka mengatakan, hukuman Tuhan itu hanya peringatan isapan jempol yang menakut-nakuti manusia. Katanya, hukuman itu tidak perlu dihiraukan. Sebaliknya mereka mengajak manusia untuk menikmati kehidupan dunia modern ini sesuka hati masing, hidup berfoya-foya sebab kesempatan hidup tidak akan datang dua kali. Mereka tidak mau perduli kepada ajaran surga dan neraka, sebab bagi mereka surga itu adalah kenikmatan saja.
Kita melihat betapa banyak orang yang terjebak dengan ajaran sesat ini. Banyak dari antara umat manusia (termasuk anggota gereja) yang sudah terperangkap dalam jerat kenikmatan sesaat antara lain: ketergantungan kepada obat-obat terlarang, seks bebas, dan sebagainya. Banyak dari antara mereka yang sudah terperangkap dan terjerumus ke dalam lumpur dosa itu kemudian hari menyesal, tetapi penyesalannya sudah terlambat. Kita bisa membaca di dalam media semakin banyak orang yang mengidap penyakit HIV/AIDs, penyakit yang tidak mungkin diobati. Anehnya, penyakit yang sudah mendunia ini semakin meraja lela dan tidak ditakuti oleh banyak orang, lupa kepada akibat yang ditimbulkannya. Mata manusia telah gelap oleh kenikmatan sesaat itu.
Nas ini mengingatkan manusia (kita) tentang kedatangan Tuhan. Makna kedatangan Tuhan bagi kita bukan hanya menyangkut hari kiamat yang kita tidak tahu kapan akan terjadi tetapi juga berkaitan dengan kedatangan-Nya untuk memanggil kita dari dunia ini menghadap Allah Bapa di surga. Kapan dia memanggil seseorang tidak ada yang tahu. Oleh sebab itu, sebagai orang beriman kita harus berjaga-jaga, mempergunakan waktu yang diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya melakukan yang baik dan berguna untuk sesama dan dunia. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa keselamatan kekal telah dikerjakan Kristus untuk kita dan telah dianugerahkan-Nya. Namun, Iblis tidak akan pernah berhenti menggoda kita agar menanggalkan mahkota keselamatan itu. Maka, berjaga-jagalah, waspadalah, dan tetap berdoa. Tuhan memberkati kita semua.



Pdt.Dr.Jamilin Sirait