Rabu, 03 Maret 2010

BAHAN CERAMAH TEMA DAN SUB TEMA SINODE AM XVI GKPA


BAHAN CERAMAH TEMA DAN SUB TEMA SINODE AM XVI GKPA
PADANGSIDIMPUAN, 15-19 JULI 2009

“BERGIATLAH UNTUK PEKERJAAN TUHAN”
(1Korintus 15:58b)
Ramli SN Harahap


Teks:

ANGKOLA-MANDAILING
Hara ni i hamu ale angka dongan na nihaholongan, sai togu ma hamu jana hot. MARSITUTU MA MARKAREJO DI TUHAN, angke diboto hamu do, sude na nikarejohonmunu di Tuhan, nada sayang boti sudena i

LAI
Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan GIATLAH SE-LALU DALAM PE-KERJAAN TUHAN! Sebab kamu tahu, bahwa dalam per-sekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia

KJV
Therefore, my beloved brethren, be ye stedfast, un-moveable, ALWAYS ABOUNDING IN THE WORK OF THE LORD, forasmuch as ye know that your labour is not in vain in the Lord

NOVUM TESTAMENTUM
ωστε αδελφοι μου αγαπητοι εδραιοι γινεσθε αμετακινητοι περισσευοντες εν τω εργω του κυριου παντοτε ειδοτες οτι ο κοπος υμων ουκ εστιν κενος εν κυριω



PENDAHULUAN

Kita patut bersyukur pada perhelatan Sinode Am XVI GKPA ini kita kembali berkumpul dan bersatu bersama di Kantor Pusat Pusat Pembinaan GKPA ini untuk selama 5 hari yang dimulai sejak 15-19 Juli 2009. Tentunya sebelum Sinode Am ini dimulai sudah banyak persiapan yang kita lakukan baik di tingkat Parlagutan, Resort, Distrik maupun Pusat, untuk menghadiri dan memasuki setiap persidangan sinode ini. Sinode Am XVI GKPA kali ini merupakan Sinode Am Kerja, artinya tugas sinode ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan tugas amanah Sinode Am XV yang lalu, dan sekaligus memantapkan ulang tugas-tugas sinode periode 2006-2011.

Kehadiran peserta Sinode Am Kerja XVI GKPA ini diberi tugas untuk memantapkan pelayanan GKPA periode 2006-2011 yang diterangi tema: “BERGIATLAH UNTUK PEKERJAAN TUHAN” (1Korintus 15:58b). Tema Sinode Am GKPA ini menjadi fokus kita selama periode ini. Artinya, dalam periode ini yang dituntut dari kita semua warga jemaat GKPA, para Sintua, para Bibelvrou, Diakones, Guru Parlagutan dan Pendeta GKPA adalah bergiat untuk perkerjaan Tuhan.

Jika kita perhatikan tema-tema Sinode Am GKPA, maka kita akan melihat penekanan-penekanan khusus setiap periode GKPA demi mencapai pertumbuhan dan perkembangan GKPA.

TEMA 1986-1991 : PERSEMBAHKANLAH TUBUHMU SEBAGAI PERSEMBAHAN YANG HIDUP (Rm.12:1)
TEMA 1991-1996 : KEMANDIRIAN TEOLOGI, DAYA, DAN DANA
TEMA 1996-2001 : BERTUMBUH BERSAMA MENUJU KEDEWASAAN DAN KEMANDIRIAN (Ef.4:11-16)
TEMA 2001-2006 : AKU MENETAPKAN KAMU UNTUK MENGHASILKAN BUAH
(Yoh.15:16b)
TEMA 2006-2011 : GIATLAH DALAM PEKERJAAN TUHAN (1Kor.15:58b)

Dari tema-tema sinode di atas, kita melihat bahwa pada awal kemandirian (panjaeon) GKPA (d/h. HKBP-A) tidak memiliki tema periode sebab pada awal kemandirian tersebut GKPA masih terfokus pada pembenahan pelayanan dan organisasi gereja. Namun sejak 1986, GKPA telah menetapkan tema-tema sinode am. Dengan tema-tema dimaksud, GKPA memiliki visi dan misi antar sinode untuk mencapai visi dan misi GKPA secara umum. Visi GKPA secara umum adalah “PATANAKHON HATA NI DEBATA DI LUAT ANGKOLA”.

Tema sinode kita diawali dengan mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, dengan mempersembahkan diri maka kita bisa mandiri di bidang teologi, daya, dan dana. Dengan adanya dasar teologi yang kuat di GKPA yang dibarengi peningkatan kualitas SDM pelayanan dan warga jemaat GKPA, serta dukungan seluruh warga jemaat GKPA dalam mendanai program pelayanan GKPA, maka GKPA diharapkan mampu bertumbuh secara bersama menuju kedewasaan dan kemandirian. Gereja dan warga jemaat yang sudah mandiri dan dewasalah diharapkan menghasilkan buah-buah yang tetap untuk menopang pertumbuhan GKPA. GKPA dan warga jemaat yang terus berbuah tetap itulah diharapkan mampu bergiat dalam perkerjaan Tuhan.


PENJELASAN TEKS

Kata giat dalam kata aslinya adalah perisseuontes (artinya: majulah). Kata giat ini dalam KUBI diberikan arti: (1) rajin, bergairah, dan bersemangat; (2) tangkas dan kuat. Sedangkan kata bergiat, artinya: berusaha dengan sungguh-sungguh. Giat berarti: aktivitas dalam pengertian setiap waktu, setiap saat, kapan pun, di mana pun juga dalam pekerjaan Tuhan harus ditandai dengan semangat. Dengan demikian, jika dikatakan bergiatlah, maka diharapkan dari kita supaya kita dengan rajin, bergairah dan bersemangat berusaha dengan sungguh-sungguh.

Untuk pekerjaan siapakah kita bergiat? Untuk perkerjaan Tuhan. Perhatikan kalimatnya, “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan”. Pekerjaan Tuhan itu bukanlah kita kerjakan untuk sekali saja, seminggu saja, sebulan saja, setahun saja, atau sepuluh tahun saja. Tetapi pekerjaan Tuhan itu kita kerjakan selalu. Kata “selalu” berarti terus-menerus, berkesinambungan, hingga akhir hidup kita.

Coba kita bayangkan, untuk kegiatan sebuah adat pernikahan, sebuah keluarga harus mempersiapkan segala sesuatunya agar keluarga tidak merasa malu dan dipermalukan di hadapan masyarakat yang hadir dalam pesta tersebut. Maka untuk mencapai kesuksesan pesta pernikahan itu maka setiap keluarga melaksanakan persiapan yang cukup matang, mulai dari ‘mangkhobar boru’ sampai kepada parbagashon boru’. Artinya, untuk sebuah pernikahan keluarga harus melaksanakan sebuah tahapan-tahap yang matang agar mereka tidak tercela di dalam masyarakat.

Demikianlah seharusnya dalam melaksanakan pekerjaan Tuhan. Kita harus mempersiapkan segala pelaksanaan pekerjaan Tuhan dengan sungguh-sungguh agar Tuhan tidak dipermalukan di hadapan umat, melainkan agar Tuhan dipermuliakan di hadapan umat. Dengan pengertian ini, maka setiap pelayanan kita di setiap jemaat, resort, distrik, pusat yang kita pimpin haruslah kita siapkan dengan begitu matang agar setiap apa yang kita laksanakan dalam pelayananan kita terasa bahwa nama Tuhan dipermuliakan.
Paulus mengatakan, “berdirilah teguh…jangan goyah”. Berdiri teguh itu adalah istilah yang dipakai dari akar kata duduk/kursi. Maka yang dimaksud Paulus di sini ialah bertahan, kuat, teguh. Sedangkan kata kedua yaitu ‘goyah’ itu istilah yang terkait dengan arti goncangan seperti goncangan gempa bumi maka jangan goyah berarti tidak goncang (unshakingly). Kita mengerti kalimat berdirilah teguh dan jangan goyah menyatakan hal yang bersifat defensif (bertahan). Paulus memberi nasihat pada jemaat di Korintus untuk bertahan. Paulus yang memberi nasihat ini berdasarkan konteks pasal ini yaitu perihal doktrinal, di mana maksudnya itu berdirilah teguh dan jangan digoyangkan oleh pengajaran sesat. Paulus memberi nasihat untuk berani bertahan karena Kristus pun pernah bertahan dan menang. Kebangkitan Kristus membangun pengharapan untuk bertahan. Bertahan di dalam pelayanan dan bertahan terhadap tantangan kedagingan. Maka dari itu hal yang paling sulit dalam penginjilan itu adalah bertahan terhadap dosa dan kedagingan. Supaya api penginjilan bisa tetap konsisten yaitu dengan bertahan terhadap kedagingan yang memudarkan api itu. Orang yang selesai ikut retreat penginjilan, pasti memiliki semangat/api yang bernyala-nyala. Setiap bertemu dengan orang tidak ada pembicaraan lain selain pembicaraan mengenai Injil. Tetapi ketika orang tersebut jatuh pada hal kedagingan, maka orang itu tidak lagi mencintai jiwa-jiwa, tidak lagi mencintai penginjilan, tidak lagi mencintai firman Tuhan. Bukan berarti tidak ada cinta atau cintanya berhenti, cintanya itu tetap ada, dan cinta itu tidak pernah berakhir. Perlu diingat bahwa cinta itu tidak pernah berakhir/berhenti tetapi beralih. Orang yang tidak lagi mencintai firman Tuhan, cintanya tetap ada namun telah beralih pada kedagingan/hal-hal duniawi. Salah satu sebab yang paling penting dari orang Kristen yang malas memberitakan Injil, adalah bertumbuhnya kasih akan hal-hal dunia.
Selanjutnya, Paulus mengatakan: “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan”. Kalimat ‘giatlah selalu’ itu harus kita kaitkan dengan istilah ‘jerih payah’ yang muncul di dalam kalimat terakhir di ayat 58. Kalimat ‘jerih payah’ ini seringkali dipakai Paulus dalam pelayanan seperti contohnya di Roma 16:12 (pada kata ‘bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan’). Akar kata ‘jerih payah’yang tertulis dalam surat 1 Korintus 15:58 memiliki kesamaan dengan akar kata ‘bekerja membanting tulang’ yang tertulis pada surat Roma 16:12. Bergiat itu artinya bekerja keras/bekerja mati-matian. Jikalau Kristus sudah menang dan bangkit, itu kemenangan yang terbesar, membangkitkan orang Kristen untuk berapi-api bekerja bagi Tuhan bukannya pasif. Semua orang Kristen harus militan. Bandingkan dengan orang komunis atau orang Saksi Yehuwa yang mempunyai sikap militan luar biasa.
Terakhir, Paulus mengatakan: “Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”. Pada ayat 13-14 dari pasal 15 ini dikatakan bahwa jikalau Kristus tidak bangkit maka pemberitaan kami sia-sia dan kepercayaanmu pun sia-sia. Paulus sudah membicarakannya bahwa bila Kristus tidak bangkit maka sia-sialah jerih payah kita. Kristus sudah jelas menang namun mengapa kita masih tidak berani berjerih payah bagiNya? Ingatlah, dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidaklah sia-sia. Tuhan pasti mengingat seluruh jerih payah kita di dalam pelayanan jauh melampaui manusia berdosa yang mengingat/menghitung jasa sesamanya yang turut berjerih payah bersama-sama.


BERGIATLAH UNTUK PEKERJAAN TUHAN


Dalam konteks ber-GKPA, apakah yang harus kita giatkan dan pekerjaan apa yang harus terus kita lakukan? Sebenarnya ada banyak hal yang harus kita kerjakan dengan giat secara terus menerus di dalam pelayanan GKPA baik secara organisasi gereja maupun pelayanan umat. Di bawah ini akan kita uraikan sebagian dari sekian banyak yang harus kita kerjakan di dalam ber-GKPA ini, yakni:

A. BERGIAT MEMPERTAJAM VISI DAN MISI GKPA

Sebelum membahas pertanyaan ini, saya mau mengajak kita kepada sebuah pertanyaan mendasar, yakni apakah visi dan misi GKPA? Pertanyaan ini perlu kita jawab secara pasti dan tegas. Mengapa? Karena dalam visi dan misi GKPA inilah tertuang pekerjaan Tuhan yang harus kita kerjakan dengan giat dan terus menerus.

Berdasarkan penelitian yang saya lakukan dalam seluruh dokumen-dokumen GKPA, tidak ditemukan secara tertulis visi dan misi GKPA ini. Visi dan misi GKPA hanya disampaikan secara “lisan” (oral) dari mulut ke mulut, namun tidak tercantum dalam Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA atau dalam dokumen GKPA lainnya. Kata para pendiri dan pelopor GKPA (founding fathers), visi GKPA adalah “PATANAKHON HATA NI DEBATA TU LUAT ANGKOLA” (MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN KE DAERAH ANGKOLA). Visi ini sungguh mulia. Itu makanya para pejuang panjaeon GKPA (d/h. HKBP-A) sangat bergiat dalam rangka memberitakan firman Tuhan ke daerah Angkola dengan cara menyumbang tenaga, pikiran, daya dan dana mereka agar penginjilan Firman Tuhan ke daeah Angkola yang tinggal di bona bulu semakin mantap dan baik. Mereka mau menyewakan rumahnya untuk dijadikan sebagai Kantor Pusat GKPA. Ada yang bekerja siang dan malam tanpa mengharap imbalan dari siapa pun. Artinya melalui visi GKPA ini, perhatian pelayanan GKPA adalah daerah Angkola-Mandailing bukan daerah perkotaan. Visi ini masih dipertahankan hingga 1990-an.

Namun seturut pergeseran waktu dan perkembangan jaman, visi dan misi GKPA pun turut bergeser. Perhatian pelayanan kita mulai bergerak dari desa ke kota. Bahkan perhatian pelayanan sudah sepenuhnya mulai mengarah ke daerah kota. Mengapa? Karena GKPA butuh perkembangan, karena GKPA ingin lebih besar, karena GKPA mau mengabarkan Injil ke pada orang-orang Angkola-Mandailing yang ada di perantauan agar mereka mendapatkan pelayanan dengan nuansa bahasa dan budaya Angkola-Mandailing di perantauan mereka. Akhirnya, mulailah GKPA mengembangkan pelayanannya untuk orang-orang Angkola-Mandailing di perantauannya.

GKPA juga tidak mau puas dengan hanya menginjili bagi orang-orang Angkola-Mandailing di perantauan, tetapi dengan semangan penginjilan yang luar biasa, GKPA juga membuka diri untuk suku-suku bangsa lain (misalnya: Toba, Nias, Jawa, Ambon, dll). GKPA bukan lagi gereja suku, melainkan GEREJA AM (TG ps.1). Gereja Am artinya bukan hanya gereja orang-orang Angkola-Mandailing saja, melainkan GEREJA SUKU BANGSA. Waulaupun nama organisasinya ada nama Angkola, itu hanya menampakkan identitas diri bahwa gereja kita tumbuh dan berada di daerah Angkola, tetapi pelayanannya kepada orang-orang kudus dan am.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka saya mengusulkan di dalam Sinode Am Kerja ini untuk mempertajam visi dan misi GKPA sebagai berikut:
1. Visi dan misi GKPA agar dituangkan dalam TG dan TL GKPA
2. Visi dan misi GKPA dipertajam sebagai berikut:


VISI GKPA WAKTU PANJAEON:

“PATANAKHON HATA NI DEBATA TU LUAT ANGKOLA”
(MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN KE DAERAH ANGKOLA)

USUL PERUBAHAN VISI GKPA:

“PATANAKHON HATA NI DEBATA TU HALAK ANGKOLA DOHOT TU SUDE NA BANGSO”
(MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN KEPADA ORANG ANGKOLA DAN KEPADA SUKU-SUKU BANGSA).

Pertajaman visi ini akan memperlihatkan bahwa GKPA bukan hanya terfokus lagi kepada pelayanan geografis Angkola saja tetapi mengembang ke lintas geografis di dunia ini untuk menjangkau orang-orang Angola dan suku-suku bangsa dunia ini. GKPA menjadi gereja yang mendunia walau berkantor pusat di Padangsidimpuan.
Untuk mencapai visi GKPA ini, maka kita harus mencapai dan mewujudkannya melalui misi GKPA. Misi GKPA ini harus tertuang dalam periode-periode kepemimpinan GKPA. Usulan saya sebagai misi GKPA adalah:


MISI GKPA:

a. Memberitakan Firman Allah supaya Firman Allah tersebut didengar, dipelihara dan dilaksanakan sebagai sumber kebahagiaan (Lukas 11:28).
b. Bersaksi, menegakkan dan mempertahankan KABAR BAIK sampai akhir zaman (Wahyu 2:10), bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya JALAN, KEBENARAN dan HIDUP (Yohanes 14:6).
c. Menyatakan kuasa Allah melalui pelayanan dalam masyarakat agar Firman Allah semakin bertumbuh dan berkembang.
d. Meningkatkan dan mengembangkan kesadaran dan kemampuan GKPA sebagai Gereja yang mandiri.
e. Untuk mencapai visi GKPA, maka GKPA bermisi menjadi gereja yang:
1. Giat
2. Kudus
3. Pemberita Injil (Patanakhon hata ni Debata)
4. Am (menyeluruh tanpa memandang suku)


B. BERGIAT MEMBENAHI GKPA

GKPA sebagai institusi memerlukan penatalayanan-penatalayanan baik penatalayanan organisasi gereja maupun penatalayanan pelayanan kepada warga jemaat GKPA. Karena itu tugas membenahi GKPA tidak bisa dikerjakan hanya sekali saja, melainkan pembenahan itu dikerjakan terus menerus hingga mencapai kesempurnaannya. Apa-apa saja yang perlu kita benahi?
1. Melayani sesuai aturan GKPA. Artinya, jika kita sebagai warga jemaat, bersikaplah sebagai warga jemaat, jika kita sebagai sintua, bekerjalah sebagai sintua, jika sebagai pendeta, melayanilah sebagai pendeta. Karena sudah diatur segala bentuk pelayanan kita dalam Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA. Jika sudah waktunya pensiun, ya pensiunlah, jangan lagi memaksakan diri untuk melakukan pelayanan itu biar GKPA ini semakin maju.
2. Benahi Aturan Peraturan yang baik. GKPA sebagai lembaga gereja harus memiliki jenjang hukum yang jelas dan tegas, mulai dari Keputusan Sinode, Keputusan Pucuk Pimpinan, Keputusan Ephorus, Keputusan Praeses, dan Keputusan Pendeta Resort. Dengan penetapan posisi keputusan ini, maka keputusan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan keputusan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, tidak boleh jabatan yang lebih rendah membatalkan keputusan yang lebih tinggi.
3. Benahi teologi dan doktrin GKPA. Teologi dan doktrin GKPA harus dijaga kemurniannya oleh seluruh warga GKPA agar GKPA semakin kuat dalam menghadapi perkembangan teologi jaman sekarang. GKPA dalam merumuskan dan menetapkan setiap teologi dan doktrin harus melalui sebuah sinode am (konsili) agar seluruh warga jemaat memahami dan menerimanya. Misalnya, dalam penetapan “Pangokuon Haporsayaan GKPA” (Pengakuan Iman) dari “Au porsaya di Debata Ama NA GUMOGO” menjadi “Au porsaya di Debata NA SUN MARKUASO”. “Au porsaya di Jesus Kristus... na manaon parhancita taran Pontius Silatus PARUHUM...” menjadi “Au porsaya di Jesus Kristus... na manaon parhancita taran Pontius Silatus...???”. Dalam bahasa Indonesia kalimatnya ada yang dihilangkan seperti: “Aku percaya kepada Yesus Kristus... yang menderita SENGSARA di bawah...” menjadi “Aku percaya kepada Yesus Kristus... yang menderita ??? di bawah...”. Dengan diberlakukannya AGENDA GKPA 1997, warga jemaat dibingungkan karena pemberlakuannya tidak melalui sinode am. Hal yang sama juga harus kita perhatikan dengan Logo, Lagu Mars GKPA dan Hymne GKPA. Logo, lagu Mars dan Hymne GKPA agar dimasukkan dalam TG & TL GKPA.
4. Benahi Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA. Dalam TG dan TL GKPA masih banyak yang harus kita benahi dengan semakin berkembangnya organisasi GKPA. Misalnya:
a. Utusan sinode am. Dulu GKPA belum memiliki distrik, sehingga utusan sinode hanya dari tingkat resort saja. Sekarang GKPA sudah memiliki distrik, namun utusan distrik untuk sinode am tidak ada.
b. Istilah sinode am. Istilah ini tidak tepat dipakai di dalam TG dan TL GKPA sebab kita tidak mengenal istilah sinode distrik dan resort. Sinode Am ada jika di bawahnya ada sinode-sinode lain seperti sinode distrik, sinode resort, sehingga sinode tertinggi adalah sinode am. Sementara dalam TG dan TL GKPA diaturkan hanya rapat Parlagutan, rapat resort dan rapat distrik, tapi di tingkat pusat tiba-tiba disebut sinode am, seharusnya yang cocok harus rapat pusat bukan sinode am.
c. Perlu ditambahkan dalam TG GKPA Bab IV psl.9: Pengakuan Iman (Konfesi) GKPA karena GKPA memiliki pengakuan iman itu yang harus disosialisasikan dalam tubuh GKPA.
d. Penyempurnaan Struktur GKPA. Pengertian dan struktur GKPA harus dibenahi agar resort itu memiliki jemaat induk yang tidak terpisahkan dari jemaat filial (pagaran)-nya.
e. Mempersiapkan Kode Etik Pelayan Gerejawi GKPA. Kode Etik Pelayan Gerejawi ini akan mengatur pola pelayanan yang semakin baik.


C. BERGIAT MENGEMBANGKAN GKPA

GKPA sebagai gereja harus mampu berdiri sejajar dengan gereja-gereja lain yang ada di Indonesia dan bahkan dunia ini. GKPA yang berkantor pusat di Kota Padangsidimpuan ini harus diperhitungkan oleh gereja lain dengan kualitas dan kuantitas SDM warga jemaat dan pelayan GKPA.
Bagaimanakah caranya agar GKPA bisa diperhitungkan dan berdiri sejajar dengan gereja lain?

C.1. Aku Cintai GKPA dan bangga menjadi warga jemaat GKPA. Kita harus merasa bangga sebagai warga jemaat GKPA. Saksikan kepada orang lain bahwa Anda adalah warga GKPA, dengan demikian orang lain akan tertarik menjadi warga jemaat GKPA. Ceritakan yang terbaik dari GKPA, jangan menjelek-jelekkan GKPA. Jika ada kejelekan GKPA, tugasmulah untuk memperbaikinya agar tidak jelek, tetapi menjadi tampan dan cantik. Aku Cinta GKPA adalah aku melakukan sebuah aksi/kegiatan aktif terhadap GKPA (manusianya baik secara universal, lokal maupun individual), berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan oleh GKPA. Aku Cinta GKPA harus diwujudkan melalui empat syarat yaitu: 1. Knowledge (pengenalan) 2. Responsibilty (tanggung jawab) 3. Care (perhatian) dan 4. Respect (saling menghormati).
Aku cinta GKPA berarti:
1. Aku harus mengenal GKPA (Knowledge). Apa yang harus kita kenal di GKPA ini? Kita harus mengenal: a) Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA, b) Bibel Angkola-Mandailing, c) Buku Agenda GKPA, d) Buku Ende Angkola-Mandailing, e) RPP GKPA (Hukum Siasat Gereja), f) Konfesi GKPA, g) Peraturan Kepegawaian GKPA, h) Almanak GKPA, i) Sioban Barita GKPA, j) Kalender GKPA, k) buku-buku terbitan GKPA, k) dan tak kalah pentingnya lagi, kita harus mengenal PENDETA GKPA.
2. Aku harus bertanggung jawab kepada GKPA (Responsibility). Berdasarkan Tata Laksana GKPA, setiap anggota Parlagutan wajib: a) Hidup sebagai murid Yesus Kristus, dengan menyatakannya melalui kelakuan dan perbuatan yang terpuji, memegang teguh ajaran Alkitab, serta memuliakan Nama Juru Selamat, Tuhan Yesus Kristus dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati dalam hidupnya. b) Setia mengikuti kebaktian Minggu dan kebaktian lainnya yang telah ditentukan oleh GKPA. c) Bertanggung jawab dalam mewujudkan persekutuan, pelayanan, perbuatan kasih dan kesaksian Gereja dengan jalan mengambil bagian dalam semua kegiatan dan pelayanan dilingkungan Parlagutan. d) Mendukung kegiatan dan pelayanan Parlagutan dengan doa dan dana melalui persembahan dan paritisipasi, termasuk mempersembahkan daya, pikiran dan talenta yang dimiliki. e) Membawa anaknya menerima Baptisan Kudus, membimbing dan mendidik anaknya didalam pengenalan kepada Yesus Kristus antara lain dengan mengikutsertakannya pada Sekolah Minggu dan pelajar sidi (katekisasi). f) Mengikuti dan ambil bagian dalam Sakramen Perjamuan Kudus bagi setiap Anggota Sidi. g) Mentaati Tata Gereja, Tata Laksana dan setiap Peraturan lainnya yang berlaku dalam lingkungan GKPA. h) Memelihara dan melestarikan perdamaian, keadilan, lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan Tuhan untuk kesejahteraan hidup umat manusia. i) Membina dan memantapkan kerukunan hidup beragama dan patuh pada hukum serta peraturan Pemerintah RI sebagai pengamalan ajaran Kristen dan Pancasila. j) Melunasi kewajiban keuangan/natura kepada GKPA melalui Majelis Parlagutan ditempat dia menjadi anggota. Bahkan aturan ini diperjelas lagi dalam RPP GKPA Bab II.A. ps.1 tentang IBADAH MINGGU:
a. Jemaat berkewajiban untuk setia mengikuti ibadah minggu dan persekutuan yang dilakukan Jemaat untuk menunjukka kerajinan dan persekutuan kepada Allah dan teman seiman (Ibr. 10:25).
b. Sebaiknya warga jemaat jangan melaksanakan pesta adat pada hari Minggu dan hari raya Kristen, yang membuat orang terganggu beribadah (Kel. 20:8-1).
c. Hukum penggembalaan/siasat akan dikenakan kepada Jemaat yang sudah 6 (enam) bulan tidak pernah ke Gereja (dan kebaktian-kebaktian yang lain) di dalam Jemaat setelah beberapa kali dinasihati Majelis Parlagutan.
d. Hukum penggembalaan/siasat dikenakan kepada Parhobas Parlagutan (Sintua, Pendeta, Gr.Parl.) yang sudah 3 (tiga) bulan terus-menerus tidak ke Gereja (dan kebaktian-kebaktian lainnya) di dalam Parlagutan setelah beberapa kali dinasihati Majelis Parlagutan dan disetujui Pendeta Resort.
e. Hukum penggembalaan/siasat dikenakan kepada Parhobas Parlagutan yang sudah 3 (tiga) bulan terus-menerus tidak mau melayani di Gereja (dan kebaktian-kebaktian lainnya) di dalam Parlagutan setelah beberapa kali dinasihati Majelis Parlagutan dan disetujui Pendeta Resort.
3. Aku harus perhatian kepada GKPA (Care). Sebagai orang yang benar-benar cinta kepada GKPA kita harus memperhatikan pertumbuhan gereja itu secara mendalam. Jika terlihat tidak bertumbuh maka kita “pupuk” rohani, “siraman” rohani, “sentuhan” rohani, “sapaan” rohani. Perhatian ini harus datang dari kedua belah pihak. Jemaat memperhatikan gereja, dan gereja juga harus memperhatikan jemaat Tuhan.
4. Aku harus menghormati GKPA (Respect). Menghormati GKPA artinya kita menjaga nama baik GKPA di setiap perilaku kehidupan kita. Menghormati GKPA juga berarti kita tidak malu menjadi warga jemaat GKPA, namun sebagai warga jemaat GKPA kita berani tampil di tengah-tengah dunia sebagai saksi Kristus.
C.2. Ikuti kemajuan dan perkembangan jaman. GKPA sebagai organisasi yang tinggal di dunia ini harus bisa memakai kemajuan jaman dan teknologi dalam tugas pelayanannya. Sudah saatnya GKPA memiliki website GKPA agar semakin dikenal di dunia maya. Coba kita bayangkan, warung-warung kopi saja sudah memiliki websitenya sendiri untuk menarik para pembelinya datang ke warung kopinya. Mengapa GKPA tidak pakai media elektronik ini untuk mengembangkan GKPA dan menarik orang-orang Angkola-Mandailing dan suku bangsa lain masuk dan mengenal GKPA? Karena itu, melalui sinode ini diharapkan uluran tangan para peserta yang mau terbeban untuk mendukung pelayanan ini, agar GKPA bisa berdiri sejajar dengan gereja lain.
C.3. Jangan jago kandang. Agar GKPA dikenal orang, maka jangan merasa sudah puas dengan apa yang ada di di GKPA. Banyak para warga jemaat dan pelayan GKPA sudah merasa puas dengan apa yang ada di GKPA sekarang sehingga tidak ada lagi inovasi baru dalam pengembangan GKPA. Bahkan yang lebih aneh dan tragis, karena tidak bisa lagi mengembangkan diri, maka para sintua jadi sibuk membentak-bentak pendetanya, karena merasa diri lebih hebat dari sang pendetanya. Itu namanya jago kandang. Kalau memang hebat jangan bentak pendetamu, tetapi bentak kebodohanmu agar pergi dari dirimu, supaya Anda menjadi pinta dan bisa dipakai orang. Artinya, GKPA sudah saatnya memikirkan pengembangan pelayanannya ke lembaga-lembaga lain, misalnya dengan mengutus para pendeta melayani di lembaga-lembaga agar GKPA semakin dikenal oleh dunia lain.


D. BERGIAT MEMBERI YANG TERBAIK BAGI GKPA

GKPA tidak akan bisa maju dan berkembang jika warga jamaat dan para pelayan gerejawi tidak memberi yang terbaik bagi GKPA. Memberi yang terbaik bagi GKPA itu berarti kita memberi yang tebaik untuk Tuhan. Memberi yang terbaik bagi GKPA bukan berarti mencatat apa yang telah kita berikan buat GKPA. Tetapi memberi yang terbaik bagi GKPA adalah dengan kerelaan dan hati yang tulus iklas. Memberi yang terbaik bagi GKPA bukan untuk diperhitungkan sebagai balas jasa. Jika ku beri yang terbaik bagi GKPA (baca: Tuhan) maka GKPA akan memberikan yang terbaik bagiku. Bukan. Sebab GKPA tidak bisa memberi yang terbaik bagi kita. Tetapi Tuhan pasti memberi yang terbaik bagi kita. Kita memberi bagi GKPA karena kita sudah merasa pertolongan Tuhan bagi kita. Kebaikan kita didasarkan atas keselamatan yang telah kita peroleh dari Tuhan.
Memberi yang terbaik bagi GKPA berarti memakai setiap waktu dan pertemuan dengan sebaik-baiknya demi kemajuan dan perkembangan GKPA. Artinya, jika kita datang ke sinode ini, itu berarti kita adalah orang pilihan dan orang terbaik dari parlagutan, resort dan distrik kita masing-masing. Sebagai orang-orang pilihan dan terbaik, maka kita juga harus bisa memberikan yang terbaik kepada GKPA dalam sinode ini. Bagaimana caranya? Ya, selama sinode ini berlangsung, jangan ada yang melakukan “sinode” di dalam “Sinode”. Artinya, ruangan tempat bersidang kita jangan ditambahi di ruang kantin, di ruang lain atau di kampung kita. Pakailah waktu yang baik ini saling memberi pemikiran, memberi ide, memberi masukan, dan memberi uang untuk GKPA agar GKPA semakin maju dan berkembang. Jangan beri lagi kritikan, cercaan, tuduhan, fitnahan bagi GKPA, karena kita tidak butuh itu lagi. GKPA sekarang butuh solusi, pemikiran, ide-ide yang terbaik demi memajukan pemberitaan firman Tuhan di dunia ini. Karena itu, giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan. Selamat bersinode.

Bacaan Minggu Palmarum, 28 Maret 2010 : Imamat 23:34-44


Minggu Palmarum, 28 Maret 2010 Imamat 23:34-44


HARI RAYA PONDOK DAUN
Mensyukuri penyertaan Allah dalam perjalanan umatNya
menuju masa depan yang lebih baik




Hari Raya Pondok Daun

Perayaan hari raya Pondok Daun, dalam kalender Israel kuno, jatuh pada hari ke limabelas bulan yang ke tujuh. Merayakan Hari Raya Pondok Daun adalah perintah Allah kepada Musa, untuk dilakukan bangsa Israel sepanjang masa. Hari raya itu dimaksudkan untuk mengenang perbuatan Allah, yang membebaskan Israel dari Mesir dan menuntun umat-Nya selama perjalanan di padang pasir. Ketika siang hari, Allah hadir melalui awan yang menuntun ke arah tujuan. Ketika malam menjelang, Allah hadir dengan tiang api, yang menyala-nyala di depan. Setelah beberapa hari, dan beberapa bulan, bahkan beberapa tahun, umat Allah, bangsa Israel berhenti di perjalanan. Mereka bertempat tinggal dipemukiman di daerah tertentu. Mereka perlu kembali sebagaimana suku bangsa yang lain, mempunyai tempat tinggal dan butuh mata pencaharian.
Di tengah perjalanan menuju tanah perjanjian, mereka berhenti, butuh beristirahat dan bekerja mencari nafkah untuk dapat hidup melanjutkan perjalanan selanjutnya. Mereka bercocok tanam dan bekerja. Mereka juga butuh tempat tinggal, pengganti rumah kediaman. Oleh karena mereka masih dalam perjalanan, rumah tempat tinggal yang didirikan bukanlah yang permanen, melainkan rumah tempat tinggal sementara. Untuk itu, mereka membuat kemah yang terdiri dari pelepah dan daun korma. Rumah tempat tinggal adalah sebuah pondok, yang dibangun dari dedaunan yang ada. Pondok yang terbuat dari daun tentu tahan untuk tempat tinggal beberapa bulan bahkan beberapa tahun. Dalam situasi seperti itu, bangsa Israel merasakan penyertaan Tuhan yang semakin nyata. Ternyata Allah bukan hanya menyertai mereka dalam perjalanan, tetapi juga dalam peristirahatan. Kasih Allah terus tersedia bagi umat Israel, sekalipun mereka tinggal di kemah, di pondok daun, tempat tinggal sementara. Untuk mengenang perbuatan Allah itu, Allah memerintahkan agar diadakan perayaan Hari Raya Pondok Daun, selama satu minggu penuh. Tujuannya adalah: “supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah Tuhan, Allahmu” (ay 33).

Gereja sebagai kemah Pondok Daun
Pondok Daun adalah kemah, tempat tinggal sementara. Dalam bahasa Inggris disebut tabernakel, dalam bahasa Batak disebut undungundung atau parlapelapean. Pondok Daun adalah kemah, persis sama dengan tabernakel, undungundung atau parlapelapean. Bangunan seperti itu bukan tempat tinggal permanen, bukan pula dibangun secara utuh dan kokoh dari semen. Pondok Daun, tabernakel, undungundung atau parlapelapean adalah bangunan seadanya dan sementara yang sewaktu-waktu dapat dicabut, dipindahkan dan dirombak kembali. Orang yang mendiami Pondok Daun, tabernakel, undungundung atau parlapelapean selalu siap untuk pindah, melanjutkan perjalanan, kapan saja dan ke mana saja. Israel masih perlu meneruskan perjalanannya, agar sampai ke tempat tujuan, ke Kanaan, ke tanah perjanjian. Sebab mereka yakin dan percaya, bahwa Tuhan akan selalu menemani dan mendampingi mereka dalam meneruskan perjalanan ke masa depan yang lebih baik.
Gereja dan orang Kristen masa kini juga sama seperti umat Israel yang berada di perjalanan menuju tanah perjanjian. Gereja dan orang Kristen telah keluar dari tanah Mesir, yaitu perbudakan dan perhambaan dosa, ketika kita belum menerima Kristus, ketika kita belum menjadi warga gereja. Akan tetapi sejak kita menjadi warga gereja, anggota persekutuan orang-orang kudus, ketika kita sudah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat, kita telah keluar dari perhambaan dosa dunia ini. Sekarang gereja dan kita sebagai orang Kristen yang bersekutu di dalamnya bagaikan berada di dalam perahu yang sedang berlayar menuju masa depan, atau seperti umat Israel yang berada di tengah perjalanan menuju tanah Kanaan, menuju tanah perjanjian, yaitu tujuan akhir, parousia Kristus – kedatangan-Nya yang kedua kali, dalam memperoleh kehidupan yang kekal.
Tentu, kita belum sampai ke tujuan akhir itu. Kita masih dalam perjalanan menuju masa depan yang lebih baik dan lebih indah itu. Selama kita berada di dalam gereja-Nya, maka kita yakin dan percaya bahwa setiap orang yang berada di dalamnya akan menjadi pewaris janji keselamatan dari Tuhan, yaitu janji kehidupan yang kekal. Oleh karena itu, keberadaan kita sekarang di dunia ini hanyalah buat sementara. Dalam arti teologis, gereja kita sekarang ini, sekalipun dibangun dari beton yang kuat dan kokoh, sebenarnya persis sama dengan tabernakel, undungundung atau parlapelapean, hanya tempat tinggal sementara. Gereja dan orang Kristen masih berada di tengah perjalanan menuju tujuan akhir. Pondok Daun, tabernakel, undungundung atau parlapelapen bukanlah tujuan akhir, melainkan tujuan antara untuk mencapai tujuan akhir. Sekalipun Allah memberkati umat-Nya ketika berada di dalam perjalanan padang pasir dan memberi kesempatan membangun tempat tinggal dari pondok daun, tetapi hal itu bukan segala-galanya. Allah masih akan memberikan masa depan yang terbaik, yaitu tanah perjanjian, tempat di mana tersedia susu dan madu yang bekelimpahan untuk kehidupan umat-Nya.
Gereja dan semua orang percaya yang masih hidup sekarang ini sama seperti umat Israel yang diberkati Tuhan dalam perjalanan padang pasir dan dalam peristirahatan untuk memiliki Pondok Daun sebagai tempat tinggal sementara. Gereja dan orang Kristen masih berada di dalam perjalan, belum sampai ke tempat tujuan yang dijanjikan Tuhan. Oleh karena itu gereja dan semua oprang Kristen harus menerima pemahaman seperti yang dikatakan penulis Ibrani: “Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya. Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang” (Ibr. 13: 13-14).
Perayaan hari raya Pondok Daun dimaksudkan agar umat Allah, bangsa Israel, tidak melupakan sejarah kehidupan yang dilaluinya. Di dalam sejarah itu, Allah sangat berperan, bertindak melakukan keselamatan melalui perbuatan-Nya yang maha dahsyat. Hal yang sama juga dialami gereja masa kini, dan juga dialami orang Kristen dalam kehidupan persekutuan dan kehidupan pribadi. Oleh karena itu perayaan hari raya Pondok Daun yang selalu dilaksanakan umat Israel setiap tahun untuk mengenang, memahami dan menghayati keselamatan yang diperbuat Allah kepada mereka perlu juga dihayati oleh gereja dan orang Kristen masa kini dengan memaknainya secara kontekstual pada masa kini, yaitu:
a. Allah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir. Namun Allah bukan hanya membawa umat-Nya keluar dari Mesir. Allah juga melindungi, membimbing, memelihara dan mencukupi segala kebutuhan mereka selama dalam perjalanan menuju tanah perjanjian. Allah menyelamatkan Israel dari pengejaran tentara Firaun, menyelamatkan mereka sekaligus mengalahkan musuh di laut mati. Allah memberikan air ketika umat-Nya haus, dan memberikan makanan manna, ketika mereka lapar. Allah membimbing dan menyertai umat-Nya pada waktu siang dan malam. Allah juga memberikan sandang, pangan dan tempat tinggal yang teduh, sekalipun dengan bahan yang sekedar ada, yang pondok daun. Pemahaman ini harus terus dihayati, sebab kesalamatan yang diperbuat Allah bukan hanya keselamatan jasmani, tetapi juga rohani. Sebab pada akhirnya, Israel bebas menyembah Allah, dan Allah mengasihi umat-Nya dengan berbagai bentuk keselamatan yang diperbuat-Nya.

b. Perayaan hari raya Pondok Daun juga mempunyai makna eskatologis bagi pemahaman gereja masa kini. Tempat tinggal pondok daun adalah tempat tinggal sementara, bukanlah tujuan akhir, sebab tujuan akhir adalah tanah perjanjian. Gereja adalah umat Allah yang sedang berjalan menuju tanah perjanjian. Gereja sebegai persekutuan terdiri dari berbagai denominasi. Bangunannya juga terdiri dari berbagai bahan materi. Akan tetapi semuanya itu adalah sementara, bukan tujuan akhir. Tujuan akhir kita adalah di paradeiso, di tanah perjanjian yaitu kehidupan yang kekal. Oleh karena itu tidak ada gereja yang benar bila hanya berdasarkan denominasi yang dianutnya atau oleh karena jumlah mayoritas warganya. Gereja yang benar adalah yang menerima dan percaya akan keselamatan yang diperbuat Allah di dalam dan oleh Yesus Kristus. Gereja yang benar juga tidak ditentukan oleh bangunannya. Karena bangunan gereja itu adalah pondok daun, tabernakel, undungundung atau parlapelapean sementara saja. Oleh karena itu apabila ada bangunan gereja yang dibakar, yang disegel, yang dibongkar dan diratakan dengan tanah, itu tidak akan berdampak kepada pengurangan jumlah orang percaya. Apabila ada orang percaya yang mati martyr oleh karena keyakinannya kepada Yesus Kristus, itu bukan indikasi semakin berkurangnya jumlah orang percaya. Justru semakin dibabat akan semakin merambat, sebab darah orang martir akan menjadi benih pertumbuhan gereja.

c. Perayaan hari raya Pondok Daun adalah ucapan syukur. Siapapun di antara kita layak bersyukur kepada Tuhan. Karena Tuhan itu maha baik. Ia selalu menyertai kita dalam waktu suka maupun duka, waktu siang maupun malam. Tuhan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan, sesuai dengan waktu dan kehendak-Nya. Perayaan hari raya Pondok Daun ini mengajak gereja dan semua orang percaya agar selalu bersyukur kepada Tuhan, Pencipta, Pelindung, Pemelihara dan Pembimbing kita, di mana kita hidup, bekerja dan melayani.
Ketiga poin ini merupakan motivasi kita untuk merenungkan perayaan hari raya Pondok Daun sebagaimana dilakukan umat Israel dahulu kala. Dengan demikian, kita sebagai umat Allah, turut dipanggil untuk turut serta merayakan dan mensyukuri semua perbuatan Allah, yang menyelamatkan kita di masa lalu sekaligus mengharapkan dan memohon agar Tuhan selalu beserta dengan kita dan memberkati kita pada saat ini dan masa-masa yang akan datang. Kendati kita berada di dunia ini dengan segala kemegahan yang kita miliki, semuanya itu adalah bersifat sementara. Pondok yang sementara, tempat persinggahan sementara. Itulah yang harus kita pahami. Apa yang kita miliki adalah sementara. Suami/istri, anak, harta dan kekayaan adalah sementara. Pondok yang menetap adalah surga. Karenanya, marilah kita terus berupaya membangun pondok yang menetap di surga melalui iman kepada Yesus Kristus.


Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing
Ketua STT HKBP Pematangsiantar

Senin, 01 Maret 2010

Bacaan Minggu Judika, 21 Maret 2010 : Roma 3:21-26


Minggu Judika, 21 Maret 2010 Roma 3:21-26


MANUSIA DIBENARKAN KARENA IMAN




Pendahuluan

Allah menciptakan manusia manurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27). Inilah pernyataan Alkitab tentang penciptaan manusia. Kesegambaran manusia dengan Allah dapat diartikan secara luas. Kesegambaran itu tentu saja bukan dalam arti kemiripan wajah. Bukan pula keserupaan tubuh. Manusia segambar dengan Allah berarti di dalam diri manusia ada keilahian Allah. Dalam tubuh, jiwa dan roh manusia ada kehendak dan keinginan Allah, sehingga manusia merupakan media mengenal dan memahami keberadaan Allah. Allah berkenaan dengan keberadaan manusia, sehingga Allah dapat dikenal melalui keberadaan manusia itu sendiri. Inilah arti kesegambaran Allah yang sesungguhnya.
Akan tetapi tidak lama setelah peristiwa penciptaan itu, manusia jatuh ke dalam dosa. “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (ay 23). Kejatuhan manusia ke dalam dosa menjadikan rusaknya gambar Allah yang ada di dalam diri manusia. Sejak itu manusia tidak lagi segambar dengan Allah. Begitu rusaknya gambar Allah di dalam diri manusia itu, sehingga di dalam diri manusia tidak lagi dapat ditemukan kehendak Allah. Dosa telah menghancurkan segala yang berkenaan dengan Allah di dalam diri manusia. Dosa telah memutus mata-rantai hubungan manusia dengan Allah. Bahkan sebaliknya telah terjadi pertentangan dan pemberontakan antara manusia dengan Allah. Apa yang dikehendaki manusia semuanya justru selalu melawan dengan kehendak Allah. Akibat dosa itu, tindakan dan perbuatan manusia merupakan wujud pemberontakan terhadap kehendak Allah.
Kejatuhan manusia ke dalam dosa menjadikan manusia itu diperbudak dosa dan menjadi milik iblis. Manusia yang semula adalah milik Allah, karena Allah yang menciptakannya, akhirnya menjadi jatuh ke tangan iblis. Sekalipun manusia memiliki keinginan untuk kembali kepada Allah penciptanya, tetapi ternyata manusia tidak dapat melepaskan diri dari kuasa dosa. Sebab manusia bukan hanya milik iblis tetapi telah menjadi hamba dosa.

Allah menyelamatkan manusia
Berbagai tindakan dan perbuatan telah dilakukan Allah untuk melepaskan manusia dari cengkraman dosa. Allah telah memberikan hukum-Nya, Hukum Taurat, untuk menuntun manusia ke jalan yang benar, tatapi manusia ternyata tidak dapat kembali kepada Allah. Hukum Taurat itu ternyata tidak dapat membenarkan manusia, sekalipun dijalankan dengan sebaik-baiknya. Kemudian Allah mengutus para nabinya, memberikan firman-Nya untuk dilaksanakan di dalam kehidupan sehari-hari, hal itu juga ternyata tidak dapat menyelamatkan manusia itu dari kuasa dosa.
Terakhir, Allah mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus menyelamatkan manusia dari kuasa dosa dan agar tidak menjadi milik iblis. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Akan-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepda-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3: 16). Allah menyelamatkan manusia melalui, di dalam dan oleh Yesus Kristus. Untuk itu Yesus Kristus harus menanggung penderitaan, bahkan mati di kayu salib, sebagai tebusan terhadap manusia. Paulus berkata: “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar” – “Ai arga do hamu ditobus” – “ karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (1Kor. 6: 20). Sebagai hasil konkritnya, Paulus mengatakan: “Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup” (Rm. 5:18).

Dibenarkan karena iman
Barangsiapa yang percaya kepada Yesus Kristus akan selamat. Itu berarti keselamatan diperoleh bukan lagi dengan cara melakukan hukum Taurat, tetapi cukup dengan beriman kepada-Nya. Berbagai peristiwa keselamatan yang dilakukan Yesus Kristus kepada orang berdosa hanya berdasarkan iman kepada-Nya. Hal itu dapat dilihat dalam berbagai peristiwa. Misalnya, seorang perempuan berdosa datang kepada Yesus untuk memohon pengampunan dosa. Ia menangis di kaki Yesus sambil meminyakinya dengan minyak yang harum dan menyekanya dengan rambutnya penuh kasih. Atas dasar sikap dan perbuatannya itu, Yesus berkata kepada perempuan berdosa itu: “Dosamu telah diampuni” – “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Luk. 7: 48, 50).
Hal yang sama juga dikatakan Yesus kepada salah seorang yang berpenyakit kusta: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk. 17:19). Demikian juga kepada orang yang buta yang disembuhkan Yesus dekat Yeriko, ketika meminta kesembuhan dari Yesus, ia berseru: “O Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus bertanya kepadanya; “Apa yang engkau kehendaki supaya Aku perbuat kepadamu?” Lalu orang buta itu menjawab: “Supaya aku melihat!” Lalu Yesus berkapa kepadanya: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Luk. 18: 38-42).
Rasul Paulus mengakomodir tindakan dan perbuatan Yesus terhadap orang berdosa, yaitu ‘imanmu yang menyelamatkan engkau’, menjadi pembenaran terhadap orang berdosa. Kebenaran Allah tidak lagi didasarkan atas pelaksanaan Hukum Taurat, sebagaimana memang disaksikan kitab Taurat itu sendiri dan kitab para nabi. Dalam hal ini rasul Pulus mengatakan: “Karena kami yakin bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat” (Rm. 3; 28).
Pembenaran Allah atas orang-orang berdosa didasarkan pada kasih-Nya. Puncak kasih Allah terhadap dunia, juga terhadap manusia berdosa, diperlihatkan Allah ketika Ia yang adalah firman Allah dan Allah sendiri menjadi manusia (Yoh. 1: 1-4,14). Karena Yesus Kristus adalah wujud kasih Allah kepada manusia maka barangsiapa yang percaya kepada-Nya akan selamat dan memperoleh kehidupan yang kekal. Percaya kepada Yesus, dalam arti beriman kepada-Nya menjadi dasar pembenaran manusia.
Martin Luther kemudian mengembangkan pemahaman pembenaran karena iman ini. Menurut Luther, siapapun orangnya tidak dapat selamat hanya dengan melakukan Hukum Taurat. Hukum Taurat tidak cukup dan tidak mampu menyelematkan manusia. Lagi pula, manusia sendiri tidak mungkin dan tidak mampu melakukan hukum Taurat dari dirinya sendiri. Oleh karena itu manusia tidak ada yang selamat dan dibenarkan dari dirinya sendiri. Manusia benar hanya karena dibenarkan Allah. Pembenaran Allah itu didasarkan atas kasih Allah terhadap manusia.
Pandangan Luther ini merupakan reaksi terhadap pemahaman gereja Katolik pada waktu itu, yang menekankan keselamatan dapat diperoleh sebagai jasa atas perbuatan baik. Perbedaan pandangan ini membuat Katolik dan Protestan (Lutheran) berseteru dan saling mengutuk selama hampir lima abad lamanya. Namun, kedua belah pihak sepakat mengakhiri perseteruan tersebut dengan adanya kesepakatan yang ditanda tangani pada 31 Oktober 1999 di Augsburg, Jerman, yaitu dengan tema The Joint Declaration on the Doctrine of Justification – Deklarasi Bersama tentang Ajaran Pembenaran, ditemukanlah titik temu antara pemahaman Katholik dengan Protestan tentang pembenaran karena iman. Gereja Katolik memahami perbuatan baik dapat diperhitungkan sebagai jasa untuk memperoleh keselamatan. Maksudnya adalah agar orang Kristen berupaya mewujudkan keselamatan yang diperolehnya sebagai anugrah Allah dalam bentuk perbuatan yang konkrit. Sedangkan gereja Protestan, khususnya gereja Lutheran, mengajarankan keselamatan hanya dengan anugrah Allah dan perbuatan tidak dapat diperhitungkan sebagai jasa memperoleh keselamatan. Maksudnya adalah agar orang Kristen tidak jatuh pada kesombongan diri, yang hanya mengandalkan perbuatannya untuk memperoleh keselamatan. Keselamatam itu hanya diperoleh melalui anugrah Allah dalam iman kepada Yesus Kristus.
Ajaran Luther itu didasarkan pada konsep pemahaman iman sola fide – hanya karena imanlah manusia diselamatkan. Iman kepada Yesus Kristuslah yang membenarkan kita di hadapan Allah – justification by faith. Oleh karena itu perbuatan manusia tidak akan dipertimbangkan untuk memperoleh keselamatannya. Perbuatan baik manusia bukanlah untuk memperoleh keselamatan, tetapi buah iman. Iman itu sendiri bukan merupakan usaha manusia tetapi adalah karya Roh Kudus yang bertumbuh di dalam diri manusia. Dengan demikian beriman kepada Yesus Kristus adalah juga anugrah Allah. Allah sendiri melalui Roh Kudus yang menanamkan dan bertumbuh dengan anugrah Allah, sola gratia – hanya oleh anugrah Allah. Berdasarkan pemahaman ini, maka akhirnya pembenaran oleh iman adalah anugrah Allah yang kita terima di dalam dan oleh Yesus Kristus.

Relevansi pembenaran karena iman
Pembenaran karena iman merupakan tindakan terobosan yang dilakukan Allah di dalam dan oleh Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia dari hukuman atas keberdosaannya. Akan tetapi beriman dan berbuat baik bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Ketika Paulus menekankan pembenaran oleh iman, dan bukan oleh perbuatan, maka itu dimaksudkan bahwa dasar hubungan manusia dengan Allah adalah di dalam iman kepada Yesus Kristus. Namun demikian orang beriman harus menghasilkan buah yang baik. Sebab tanpa buah yang baik, sebagaimana dikatakan rsul Yakobus, adalah iman yang mati (Yak. 2:17). Dengan demikian orang yang beriman harus memperlihatkan kelakuan dan perbuatan yang baik. Sementara orang yang dapat melakukan yang baik hanya dimungkinkan atas dasar iman kepada Yesus Kristus.
Kedua pemahaman ini, beriman dan berbuat baik, adalah sejalan dan mempunyai hubungan langsung. Oleh karena itu tidak perlu orang yang berbuat baik merasa bangga atas perbuatan baik yang dilakukannya. Sebab dengan melakukan hal-hal yang baik, itulah yang semestinya dilakukan oleh orang yang beriman. Sebaliknya, orang beriman tidak perlu merasa berbangga diri karena iman yang dimilikinya. Iman adalah anugrah, pemberian Allah, sehingga harus dapat diberlakukan di dalam tindak dan perbuatan yang konkrit. Ketika seseorang menyatakan dirinya sebagai orang Kristen, yang percaya kepada Yesus Kristus, maka ucapan dan perbuatannya harus sesuai dengan sejajar dengan pengakuannya. Ketika orang berbuat baik, misalnya mengasihi sesamanya, maka itupun harus disyukuri sebagai pemberian Allah. “Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh. 4:19). Marilahkita hayati dan memberlakukan dalam kehidupan kita sehari-hari, bahwa kita dibenarkan karena iman kepada Ysus Kristus.




Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing
Ketua STT HKBP Pematangsiantar

Kamis, 25 Februari 2010

RENUNGAN: PEKERJAAN ATAU PELAYANAN


PEKERJAAN ATAU PELAYANAN

Bila Anda melakukannya untuk mendapatkan nafkah, itu Pekerjaan.

Bila Anda melakukannya karena Tuhan, itu Pelayanan.

Bila Anda keluar karena ada yang mengkritik Anda, itu Pekerjaan.

Bila Anda terus bekerja sekalipun dikritik habis-habisan, itu Pelayanan.

Bila Anda berhenti karena tidak ada yang berterimakasih, itu Pekerjaan.

Bila Anda terus bekerja walaupun tidak pernah dikenal siapa pun, itu Pelayanan.

Bila Anda merasa semakin sulit menikmati yang Anda kerjakan, itu Pekerjaan.

Bila Anda semakin sulit untuk tidak menikmatinya, itu Pelayanan.

Bila yang Anda pikirkan adalah kesuksesan, itu Pekerjaan.

Bila Anda pikirkan adalah kesetiaan, itu Pelayanan.

Gereja yang biasa-biasa saja dipenuhi oleh jemaat yang bekerja.

Gereja yang luar biasa saja dipenuhi oleh jemaat yang melayani.

Rabu, 24 Februari 2010

PUISI: “DOA UNTUK ANAKKU SAYANG”


“DOA UNTUK ANAKKU SAYANG”

 Kelak, Suatu saat nanti, Aku akan semakin tua, ingatanku mungkin semakin berkurang, kekuatanku mungkin semakin melemah dan keberadaanku mungkin semakin menyita perhatianmu. Jika kelak saat itu tiba, bukalah kembali surat ini dan bacalah,……….
 Jika banyak makanan yang tercecer di saat aku makan, bersabarlah, ingatlah dulu aku dengan sabar memunguti setiap butir nasi yang kau tumpahkan di saat engkau baru belajar makan.
 Jika aku susah makan, jangan memaksa aku dengan amarahmu, ingatlah dulu aku membujukmu dengan senyum agar engau mau menghabiskan makananmu
 Jika aku enggan mandi, jangan memarahiku, Ingatlah, dulu aku pun bersusah paya menyruh engkau mandi sampai akhirnya kau baru mau mandi asal aku memandikanmu
 Jika aku kesulitan mengancingkan bajuku, janganlah kesal, ingatlah dulu aku yang mengajarimu cara berpakaian yang rapi dan sopan.
 Jika aku mengulang kalimat yang sama sampai berulang-ulang kali, jangan mencemohku, ingatlah, dulu dengan senang hati aku pun membacakan cerita dengan kalimat yang sama berulang-ulang kali agar hatimu: senang dan membuatmu tertidur pulas.
 Jika aku lupa mengucapkan kata-kata untuk mengikuti pembicaraan kita, bersabarlah, ingatlah dulu dengan kesabaranku aku mengajarimu huruf demi huruf hingga menjadi satu kata dan merangkai sebuah kalimat. Dengan bekal itu, kau dapat membaca semua buku yang memperkaya akal budimu dan membuatmu terampil berbicara di kalangan mana saja.
 Jika kedua kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku, bantulah aku, ingatlah dulu kedua tanganku ini selalu merengkuhmu dan menopangmu agar kaki-kaki mungilmu dapat melangkah dan berjalan kelar melihat keindahan dunia
 Jika tubuhku ini melemah dan mulai sakit-sakitan, janganmengumpat aku, Ingatlah, dulu di saat badanmu lemah dan engkau terbaring sakit, dengan setia aku menggendongmu hingga tenang, menemanimu tidur dan merawtamu sampai engkau sembuh dan kau tersenyum kembali
 Jika aku sering menangis, hapuslah air mataku dengan kelembutan kasihmu, mungkin saat itu aku hanya kesepian dan merindukan saat-saat dulu ketika aku membesarkanmu dengan segenap hati dan kasih sayangku.
 Jika aku lupa berdoa dan pergi ke Gereja, jangan bosan untuk mengingatkan, Ingatlah dulu aku tidak akan pernah enggan mengingatkanmu berdoa dan menemanimu pergi ke gereja, karena aku tahu dari situlah engkau mendapat sumber kekuatan dan kebahagiaan bagi hidupmu.
 Jika segala kekuatanku dulu telah berubah menjadi kekuranganku kini, Janganlah engkau membuang aku dari hadapanmu dan melupakan aku dari ingatanmu. Namun bentuklah dan dukunglah aku senantiasa dengan kasih sayangmu dan doa-doamu, agar aku dapat memiliki arti dan meninggalkan arti bagi hdupmu.
 Satu hal yang tidak akan berubah dalam hidupku, adalah syukurku telah memilikimu sebagai anakku, anugerah terindah yang diberikan Tuhan dalam hidupku. Dan jika aku tidak sempat mengatakannya, simpanlah ini dalam hatimu, bahagiamu itulah selalu doaku

Papa dan Mama

Selasa, 23 Februari 2010

Bacaan Minggu Letare, 14 Maret 2010 : Masmur 115:9-15


Minggu Letare, 14 Maret 2010 Masmur 115:9-15


KEMULIAAN HANYA BAGI ALLAH



Pendahuluan

B
agaimana sebagai orang Kristen kita harus hidup di tengah-tengah masyarakat? Kita merenungkan Mazmur 115 ini yang mempunyai pokok permasalahan yang sama. Mazmur ini adalah suatu jawaban iman Israel sesudah pembuangan terhadap tantangan zaman: umat Israel hidup sebagai minoritas di tengah-tengah bangsa-bangsa besar yang berkuasa atasnya dan memandang hina TUHAN, Allah suku-suku yang dijajah itu. Jemaat tidak melarikan dari duni ini, bangsa Israel harus hidup sebagai umat Allah di tengah-tengah bangsa –bangsa lain yang ada di sekitarnya. Kalau kita mengingat apa yang dikatakan oleh Yesus, kita harus menjadi “garam” yang mengasihi, menjadi “terang” yang menyinari, menjadi “ragi” yang mengkhamiri dunia atau masyarakat di mana kita hidup (Mat. 5:13-14). Rasul Paulus, dalam Roma 12:2, menulis, ”Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini”. Maksudnya, jangan hanya ikut-ikutan dengan apa yang ada dalam masyarakat. Pegang teguh identitas dan integritas kita sebagai orang Kristen! Jangan lumer, jangan luntur, jangan aus oleh gesekan dan benturan dengan nilai-nilai dan roh-roh zaman yang ada di dalam masyarakat. Apakah betul gereja menggarami, menerangi, mengkhamiri masyarakat? Atau justru sebaliknya: digarami, bukan menggarami? Siapa mengatakan bahwa gontok-gontokan hanya ada di luar gereja? Atau korupsi, feodalisme, dan paternalisme? Apa borok yang ada di dalam masyarakat yang tidak menghinggapi juga orang-orang Kristen? Ini realitasnya! Idealnya, orang Kristen itu mesti menjadi villa di atas bukit. Indah dipandang. Pantas jadi teladan dan panutan semua orang. Tetapi realitasnya, tidak jarang kita ini hanya gubuk, yang kalau tidak lebih buruk paling sedikit juga tidak lebih baik daripada yang lain.


1. Hanya Allah yang berkuasa sedang dewa-dewa bangsa lain hanya buatan tangan manusia dan sama sekali tidak berdaya.

Jawaban bangsa Israel atas ejekan bangsa-bangsa lain yang berkata, ”Di mana Allah mereka?”(ayat 1-2). Israel menyatakan imannya bahwa hanya Allahnya yang berkuasa sedang dewa-dewa bangsa lain hanyalah buatan tangan manusia dan sama sekali tak berdaya (ay.3-8). Mereka berpendirian bahwa hanya Allah yang tampak dan menjamin kebesaran umat pujaannya yang punya arti. Jawaban orang Israel jelas: “Allah kita di surga” (bnd. Mzm. 2:4 dan 113:4). Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya (Mzm. 135:6). Tuhan bebas “mengasihi umat-Nya dengan sukarela (Hos. 14:5) dan “menghukumnya karena segala kesalahannya”(Am. 3:2). Allah orang Israel tidak dapat diperalat orang demi kepentingan mereka; Ia menentukan sendiri menurut kehendak-Nya dengan penuh kemerdekaan. Allah tidak bertindak sewenang-wenang, rancangan yang dijalankan-Nya demi kebaikan manusia melebihi daya paham orang-orang itu (Yes. 55:9).Di zaman modern ini, apakah masih ada yang menyembah patung berhala? Tentu praktik penyembahan berhala ini dengan amt tegas dan jelas,”Jangan membuat bagimu patung…Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu” Jelas. Tegas. Tandas. Ya, kita tak melakukannya. Bahkan ada yang begitu ekstremnya, sampai-sampai patung hiasan yang tak bersalah apa-apa mesti dibakar musnah. Namun kita waspadai, prktik penyembahan berhala itu muncul dalam bentuk lain yang lebih berbahaya, karena sering tak kentara. Terselubung rapi bukan di dalam sebuah kantong kian atau patung, tetapi justru di balik kesalehan dan ketaatan beragama kita. Orang-orang yang menyembah berhala itu, memperlakukan ilahnya sebagai milik pribadinya. Dimasukkan dan dikeluarkan dari kantong, kapan saja sesuai dengan keperluannya. Kita juga kadang-kadang tergoda melakukan hal yang sama? Memperlakukan Allah sebagai milik pribadi, dan bukan kita yang dimiliki-Nya? Allah kita ciptakan menurut gambar kita, bukan kita yang diciptakan menurut gambar Allah. Sebab itu, Allahlah yang mesti menyesuaikan diri dengan konsep-konsepsi kita, dengan keinginan-keinginan kita. Bukan sebaliknya. Ia yang mesti melayani kita. Bukan sebaliknya. Kita lupa bahwa Allah tak pernah mungkin kita atur sekehendak kita.”Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalanmu bukan jalan-Ku, demikian firman Tuhan.”(Yes.55:8).

2. Percayalah kepada Tuhan - Dia pertolongan mereka dan perisai mereka

Berturut-turut umat Israel seluruhnya, para imam keturunan Harun dan orang-orang yang takut akan Tuhan-yaitu orang asing yang menerima Allah yang esa sebagai Tuhannya-diajak dengan khikmat: ”Percayalah kepada Tuhan” dan suatu kor menyambut “Dialah pertolongan dan perisai mereka.” Sebagai perisai Allah menyelamatkan (Mzm. 7:11), melindungi (Mzm. 18:3,31; 144:1), menyembunyikan (Mzm. 119:114) dan menolong sedemikian rupa sehingga orang-orng-Nya dapat mengangkat kepalanya kembali. Orang-orang yang percaya akan Tuhan itu pun aman: mereka dikelilingi kasih setia (Mzm. 32:10), berdiri seperti gunung yang tidak goyah (Mzm. 125:1; bnd. 112:7; Yes. 26:4) dan tahu dengan pasti bahwa TUHAN akan bertindak (Mzm. 37::3,5; bnd. 62:9) sehingga mereka dapat menghadapi tantangan-tantangan dengan tenang (Yes. 30:15). Oleh sebab itu, peserta ibadat diminta agar tetap percaya kepada Tuhan. Percaya berarti kita berserah diri kepada tuntunan dan bimbingan Tuhan dalam seluruh derap langkah kita.

3. Diberkati orang yang mengandalkan TUHAN

Kepastian sebagai tanda umat Allah ialah kepastian mengenai perhatian dan kebaikan-Nya: Ia telah mengingat, ia akan memberkati, dan dalam hubungan ini tidak seorangpun yang Ia lewati. Diberkati orang yang mengandalkan TUHAN yang percaya kepada Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan, ia kan seperti pohon yang ditanam di tepi air” (Yer. 17:7dyb). Bila Tuhan mengingat umat-Nya, Ia bertindak sesuai dengan perjanjian-Nya (Mzm. 105:8; 106:45; 111:5) dan kasih setia-Nya (Mzm. 98:3; bnd. ay.1 di atas) dan memberi berkat kepada umat Israel seluruhnya, kepada para imam dan kepada orang-orang luar yang telah mengakui Dia sebagai Allah mereka. Berkat ini menyeluruh, menyangkut baik orang-orang kecil maupun besar (senada dengan tua-muda, bnd. Yer. 6:16; 16:6;31:34; Yoh.3:5), ia datang dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi, dan tidak kenal halangan mana pun juga (bnd. ay.2b-3a). ”Kiranya Tuhan memberi pertambahan kepada kamu,kepada kamu dan kepada anak-anakmu” (ayat 14). Doa mengikuti sebagai unsur yang hakiki dalam kepercayaan sejati, karena kepercayaan adalah sikap yang hanya mencari Allah untuk pertolongan dan memandang di dalam Dia satu-satunya sumber kecukupan bagi kemasakinian umat-Nya dan masa depan (anak-anakmu) mereka. Sikap penuh percaya ini terungkap dalam doa, dialaskan pada kemahakuasaan Allah yang dicontohkan dalam penciptaan-Nya atas langit dan bumi. Orang-orang yahudi diajak untuk tidak memikirkan hormat mereka sendiri, melainkan kemuliaan Allah saja. Dari sorga pada waktu yang ditentukan-Nya sendiri Ia akan memberkati mereka di dunia ini. Itu sebabnya mereka memuji nama-Nya dengan penuh percaya.


Renungan

Sebagai umat Kristen kita pun merupakan suatu minoritas di dunia modern. Kita tidak hidup di tengah-tengah bangsa-bangsa yang membanggakan dewa-dewa. Akan tetapi ancaman baru dari orang yang mendewakan kuasa, harta dan teknologi. Orang-orang itu melihat alam ciptaan Allah sebagai sumber kekayaan dan memanfaatkannya tanpa pamrih: air dan udara dicemari, hutan digunduli, tumbuhan dan margasatwa tertentu punah, kesempatan hidup angkatan yang akan dating dibahayakan-serentak dengan itu orang-orang yang lemah ekonomi atau kesehatannya tersisih.
Kita hanya dapat menghadapi ancaman itu dengan mengikuti Dia yang memihak kepada orang yang kecil dan miskin dan memelihara dunia ciptaan-Nya. Sebagai umat kristiani kita mengikrarkan janji untuk bekerja demi”keadilan, perdamaian dan pemeliharaan dunia ciptaan Allah”. Biar pekerjaan itu sulit, Allah akan memberkatinya dan kita akan memuliakan Dia.”
Tidak mungkin terjun dan bergaul di dalam masyarakat tanpa terpengaruh masyarakat itu. Tidak mungkin! Tuhan tidak mempersoalkan, kalau masyarakat mempengaruhi kita. Yang tidak dikehendaki Tuhan adalah kalau kita berbalik dan berpaut kepada yang ada dis ekitar kita dan tidak lagi kepada Tuhan.





Pdt.Dr.Luhut P. Hutajulu, M.Th.
HKBP Kebayoran Baru

Jumat, 19 Februari 2010

KUNJUNGAN KADEP DIAKONIA HKBP KE KANTOR PUSAT GKPA


KUNJUNGAN KADEP DIAKONIA HKBP KE
KANTOR PUSAT GKPA
Ka.Biro I GKPA



Ephorus GKPA menerima kunjungan Kadep Diakonia HKBP Pdt.Nelson Siregar,STh yang didampingi Praeses HKBP Distrik I Tapsel-Sumbar, Pdt.Marolop MP.Sinaga,M.Th.

Pucuk Pimpinan GKPA, Pdt.Abraham L.Hutasoit,MA menerima kunjungan Kepala Departemen (Kadep) Diakonia HKBP Pdt.Nelson Siregar,STh dan Praeses HKBP Distrik I Tapsel-Sumbar Pdt.Marolop MP.Sinaga,MTh di ruangan Ephorus GKPA pada Selasa, 16 Pebruari 2010. Kunjungan Kadep Diakonia HKBP ini membicarakan masalah diakonia gereja HKBP dan GKPA. Disamping itu, Pucuk Pimpinan GKPA dan Kadep Diakonia HKBP juga membicarakan permasalahan pembakaran Gereja HKBP dan Pentakosta di daerah Sibuhuan, Barumun, Palas. GKPA turut prihatin atas kejadian dimaksud dan mendukung langkah-langkah yang dilakukan berbagai pihak demi tercapainya kerukuna umat beragama di daerah Sibuhuan. Seusai bertemu dengan Pucuk Pimpinan GKPA, Kadep Diakonia HKBP berencana akan mengunjungi HKBP Sibuhuan bersama Praeses HKBP Distrik I Tapsel-Sumbar dan didampingi Ka.Diakonia HKBP Distrik I, Sahat Tua Sinaga.

Kamis, 18 Februari 2010

PEMBINAAN PEMUDA GKPA: ”BERTUMBUH DI DALAM KASIH”


”BERTUMBUH DI DALAM KASIH”
( Filipi 1 : 9 - 10 )

Berbicara tentang pertumbuhan akan selalu dikaitkan dengan pertambahan atau perkembangan menuju ke arah sesuatu entah itu ke arah baik (sempurna) atau bahkan ke arah buruk. Teks yang akan menjadi bahan penelaahan kita malam ini akan mengulas petumbuhan kasih seseorang ke arah yang lebih baik. Setelah Paulus meyakinkan anggota-aggota jemaat di Filipi akan kasihnya kepada mereka dan akan persekutuan mereka dalam kasih-karunia Allah (ay.7-8), Paulus sekarang melanjutkan ucapan-syukurnya (ay.3-6) dengan suatu syafaat. “Inilah doaku” (τούτο προσεύχομαι = untuk ini aku berdoa). Apakah isi doa Paulus itu? Isi doanya adalah “semoga kasihmu makin melimpah” (Їνα ή άγάπη ύμών έτι μάλλον καϊ μάλλον περισσεύη = yaitu kasihmu terus-menerus bertambah). Paulus tahu dan akui bahwa mereka mempunyai kasih yang melimpah. Hal itu telah berulang-ulang ia alami. Tetapi kasih itu – terutama satu sama lain – belum sempurna, masih kurang (bd.1:27-30; 2:1-5; 4:2). Mereka masih ada di dunia, di dalam daging, belum mencapai tujuan perjalanan (=tanah air di sorga, 3:20) dan masih di tengah jalan. Karena itu Paulus berdoa, semoga kasih mereka semakin bertambah, makin melimpah secara kwalitatif. Ungkapan Yunani “eti mallon kai mallon perisseuei” lebih menekankan pada “bertambah baik” dalam pengetahuan dan pengertian di segala bidang.
Pertumbuhan yang Paulus minta ialah supaya mereka beroleh pengetahuan yang dalam, penuh dan benar, agar mereka – dengan perasaan dan intuisi yang murni – dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang wajib dilakukan dan mana yang harus ditolak sehingga sikap mereka dalam segala sesuatu sesuai dengan kehendak Allah. Dan karena itu, menurut Paulus, pertumbuhan itu hanya mungkin oleh kasih – kasih yang mempertajam penglihatan, yang memperterang pengertian, yang memperhalus perasaan – dan kasih mereka itu makin melimpah.
Bertumbuh di dalam kasih akan membuka pengenalan yang lebih mendalam. Apabila kita mengasihi sesuatu, kita ingin semakin banyak belajar mengenalnya; apabila kita mengasihi seseorang, kita ingin semakin banyak mengenalnya; apabila kita mengasihi Yesus, kita ingin belajar mengenal Dia dan kebenaranNya. Kasih selalu peka terhadap pikiran dan hati orang yang dikasihi itu. Apabila kasih secara buta dan serampangan melukai perasaan orang yang dikasihi, itu sama sekali bukan kasih. Apabila kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus, maka kita ingin menjadi peka terhadap kehendakNya. Demikian juga apabila kita semakin bertumbuh di dalam kasih kepada Kristus, maka kita juga akan mencintai Gereja (baca: PNGKPA) dan semakin peka terhadap kebutuhan dan kehendak Gereja kita. PNGKPA akan semakin bergiat ambil bagian dalam pelayanan GKPA. Kalau kita mau bertanya mengapa PNGKPA masih kurang memberikan perhatian kepada Gereja? Maka jawabnya sudah jelas karena pertumbuhan kasih Kristus itu belum nyata dan terasa di hati kita masing-masing.
Pertumbuhan kasih ini Paulus makin jelas pada ayat berikutnya yaitu supaya mereka dapat memilih apa yang baik (=yang utama, yang agung), supaya mereka suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus. Hidup yang demikian tidak dapat dihasilkan oleh manusia sendiri. Itu adalah pekerjaan Allah. Secara singkat dapat dikatakan bahwa pertumbuhan yang diharapkan Paulus adalah pertumbuhan ke arah yang lebih baik. Artinya PNGKPA yang bertumbuh itu mampu memilih apa yang baik dan menjadikan dirinya suci dan tidak ingin menyebabkan orang lain tersandung. Kata yang dipakai untuk “suci” cukup menarik yaitu ϊλικρινείς – eilikrineis (=yang murni). Kata ini berasal dari kata eile, ‘sinar matahari’ dan krinein, ’menghakimi’ yang menggambarkan sesuatu yang mampu bertahan di bawah ujian matahari. Artinya petumbuhan kasih itu memampukan karakter kita bertahan terhadap setiap cahaya yang jatuh di atas kehidupan kita. Jika ada banyak cahaya kehidupan yang menimpa kita, maka kita mampu menghadapinya dan memilih yang terbaik dari cahaya yang kita terima itu.
Pertumbuhan kasih adalah hasil dari kepercayaan kita kepada Yesus Kristus. "Orang yang benar akan hidup dengan iman" (Galatia 3:11). Hidup yang berdasarkan iman akan membolehkan kita semakin mempercayai Tuhan dalam segala hal dan mempraktikkan hal-hal berikut:
T -- Tiap-tiap hari, datang ke hadirat Tuhan melalui doa (Yohanes 15:7).
U -- Usaha dalam membaca Alkitab setiap hari (Kisah 17:11).
M -- Mentaati Tuhan dari waktu ke waktu (Yohanes 14:21).
B -- Bersaksi tentang Kristus melalui percakapan dan cara hidup anda (Matius 4:19, Yohanes 15:8).
U -- Usaha dalam mempercayai Tuhan dalam segala hal kehidupan anda (1 Petrus 5:7).
H -- Hendaklah anda membiarkan Roh Kudus menguasai dan memberi kuasa kepada anda dalam kehidupan seharian dan kesaksian anda (Galatia 5:16, 17; Kisah 1:8).

Alkitab dipenuhi dengan ayat-ayat tentang pertumbuhan dan tentang bertambah besar. Lukas, misalnya, melukiskan keadaan Yesus dan Yohanes sebagai bertambah besar. Yohanes "bertambah besar dan makin kuat di dalam rohnya" (1:80), demikian pula Yesus "makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (2:25). "Bertambah besar" merupakan kata terakhir mengenai Yesus maupun Yohanes sebelum pelayanan mereka di muka umum diceritakan. Keduanya bertambah besar dan menjadi sempurna pula dalam pelayanan mereka.
Petrus juga menekankan kepada orang percaya, "bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus" (2 Petrus 3:18). Petrus membandingkan mereka dengan bayi- bayi yang baru lahir, ia menyuruh mereka agar "selalu ingin akan air susu yang murni dan rohani, supaya oleh-Nya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan" (1 Petrus 2:2).
Pertumbuhan merupakan kiasan pokok dalam beberapa perumpamaan yang melibatkan kita untuk berpartisipasi dalam kerajaan Allah. Gambaran pertumbuhan yang dinyatakan secara paling dramatis terdapat dalam Injil Yohanes (12:24). Yesus mengatakan bahwa jikalau biji itu tidak jatuh ke tanah dan mati, benih itu tidak akan bertumbuh. Pertumbuhan merupakan perhatian utama Injil Yohanes-- menjadi dewasa dalam segala sesuatu yang Allah lakukan di dalam Kristus, mengumpulkan semua bagian hidup kita dan semua seluk-beluk kehidupan Yesus menjadi satu keutuhan.
Jikalau kita menjalani kehidupan beriman secara alkitabiah, pertumbuhan merupakan sesuatu yang paling wajar di dunia ini. Jikalau Allah bekerja di dalam kita, dengan sendirinya kita akan bertumbuh. Sebagian besar pertumbuhan itu terjadi secara tidak disadari. Terjadinya pertumbuhan kasih itu tidak bisa kita lihat, pertumbuhan itu hanya kita lihat setelah pertumbuhan itu sudah terjadi--dan mereka yang paling dekat dengannya sering kali menjadi orang yang paling tidak menyadari.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk memajukan dan menolong pertumbuhan di dalam diri kita dan diri orang lain. Tetapi pertumbuhan yang sebenarnya berlangsung dengan cara yang misterius, jauh melampaui kemampuan kita untuk menyelidiki dan mengawasinya. Satu hal yang perlu disadari ialah pertumbuhan orang Kristen merupakan pekerjaan Roh; Ia yang memberikan arah dan bentuknya. Kita hanya bisa melihat secara heran pada apa yang telah terjadi. Pertumbuhan kasih yang sehat membutuhkan kehadiran orang lain--saudara seiman, pendeta, dan guru jemaat serta penatua. Dengan hidup secara terpencil dan menyendiri, kita tidak bisa bertumbuh.
Melalui apakah pertumbuhan kasih itu kita lakukan? Tuhan memberikan kita bermacam-macam sarana untuk bertumbuh misalnya: doa dan Alkitab, ibadah, pendalaman Alkitab (Bible Study), latihan kor, aktif dalam kepengurusan PNGKPA, dan atau pelayanan lainnya. Pertumbuhan rohani tidak bisa terjadi dalam keterpencilan. Pertumbuhan kasih bukanlah hal pribadi antara orang Kristen dengan Allah. Misalnya dalam ibadah, kita datang di hadapan Allah yang mengasihi kita di tengah- tengah orang lain yang juga Ia cintai. Dalam ibadah, kita dengan sengaja membuka diri untuk pekerjaan Allah dan untuk kebutuhan sesama kita, kedua-duanya mengharuskan kita untuk tumbuh menjadi sempurna menurut gambar Allah. Ibadah secara teratur dan setia sangat penting bagi pertumbuhan kasih, sama halnya dengan makanan dan tempat bernaung bagi anak yang sedang tumbuh. Ibadah merupakan terang dan udara, yang di dalamnya pertumbuhan kasih berlangsung. Dengan pertumbuhan kasih ini akan memampukan kita berkomunikasi dengan Tuhan, berkomunikasi dengan sesama PNGKPA, berkomunikasi dengan jemaat, berkomunikasi dengan sekitar kita. Semoga kita semakin bertumbuh dalam kasih!!!



Ramli SN Harahap fidei/gladys’07 241107

Selasa, 16 Februari 2010

Bacaan Minggu Okuli, 7 Maret 2010 : 2Korintus 1:3-7


Minggu Okuli, 7 Maret 2010 2Korintus 1:3-7


MENGUCAP SYUKUR WALAU DALAM PENDERITAAN



Pendahuluan

K
alu mau jujur, tidaklah mudah mengucap syukur dengan tulus, karena substansi pengucapan syukur sebenarnya adalah pengorbanan, bukan hanya sekedar basa-basi. Memang dalam keadaan baik, mudah sekali orang mengucap syukur. Namun, pada saat keadaan yang buruk, waktu kita cemas, sedih, datang kepahitan, resesi ekonomi, devaluasi, likuidasi bank dan sebagainya, dapatkah kita mengucapkan syukur? Acap kali terjadi dalam hidup ini, seseorang begitu gembira dan mengucapkan syukur, jika dia berhasil dalam hidup sehari-hari. Mungkin karena dia memperoleh keuntungan yang tidak disangka-sangka atau keuntungan yang diperjuangkan, hingga berhasil. Mungkin juga karena anaknya berhasil menyelesaikan studinya dan mungkin oleh hal-hal lain. Hal itu lumrah terjadi dalam hidup ini. Sebaliknya ada sementara orang bila menghadapi dan mengalami penderitaan dia tidak mampu mensyukuri penderitaan yang menimpa hidupnya. Mungkin dia bersungut-sungut dan frustrasi bahkan hingga putus asa atas penderitaan yang dialaminya. Lalu bagaimana dengan kita? Tetapi Tuhan menghendaki dan menuntut kepada kita anak-anak-Nya agar kita “mengucap syukur dalam segala hal”. Harap dicatat, bukan untuk segala hal, tetapi dalam segala hal.
Kita tidak disuruh mengucap syukur karena kita jatuh sakit. Tetapi walaupun kita sakit, kita hendaknya masih dapat melihat tangan Tuhan yang mahakasih memegang tangan kita, lalu kita mengucap syukur. Sebagai orang yang beriman kepada Kristus kita terpanggil untuk meneladani hidup Paulus seperti tertulis pada 2 Korintus 1:3-9 ini. Kita dapat membaca bahwa Paulus memuji Allah atas belas kasihan-Nya yang besar. Paulus merasakan bahwa dia harus melalui keadaan yang mencemaskan yang disebutnya dalam ayat 8 dan ayat 9 yang menurut imannya sudah sangat memperkaya dia terhadap sifat Allah. Karena dikatakan: “Sebab kami mau, saudara-saudara supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati”. Dengan perkataan itu Paulus menjelaskan bahwa walau menderita, tetapi akhirnya tetap bersyukur. Paulus menerangkan sebabnya ia merasa begitu terharu oleh penghiburan ilahi. Di Asia kecil ia mendapat kesukaran yang begitu menjadikannya putus asa, sehingga ia menjadi yakin bahwa akhir hidupnya sudah tiba, tetapi pertolongan yang tak diduga-duga seolah-olah bangkit.


1. Allah sumber segala penghiburan

Atas keadaan itu Paulus mengaku dan percaya bahwa Allah adalah Bapa yang penuh belas kasihan, Bapa sumber segala penghiburan. Pengakuan itu muncul karena Paulus merasakan pertolongan Tuhan di saat menghadapi penderitaan, di mana penderitaan itu memberi pengertian bagi dia akan pengenalan yang benar terhadap Tuhan. Artinya di balik kejadian penderitaan itu, dia melihat sesuatu yang memperkaya dia semakin mengenal Allah. Atau dengan perkataan lain di balik penderitaan itu, Tuhan mau mengatakan sesuatu yang lebih baik dalam hidup kita. Oleh sebab itu sebagai orang yang beriman kepada Allah, apapun yang terjadi, sukacita atau penderitaan kita senantiasa mengucap syukur kepada Dia.
Tentu Paulus tidak mengatakan agar seseorang bersyukur jika mengalami penderitaan, oleh karena kejahatan atau karena kesalahannya (bnd.1 Pet.3:13-22). Bagi orang yang demikian baiklah dia bertobat dalam hidupnya dan serta merta meninggalkan kejahatannya dan berpaling kepada Tuhan. Penderitaan yang dialami Paulus yang kita contoh dan teladani ialah: menderita karena mengikut Kristus, karena percaya kepada Kristus, karena memberitakan Firman dan kerajaan Allah. Hal itu dapat kita baca pada 2 Korintus 11: 23-28, “dia lebih banyak berjerit lelah’ sering di dalam penjara;didera di luar batas, kerap kali dalam bahaya maut; lima kali disesah orang yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali didera, satu kali dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam terkatung-katung di tengah laut, sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak-pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahay di tengah laut dan bahay dari pihak saudara-saudara palsu. Dia menjerit lelah dan bekerja berat, kerap kaqli tidak tidur, lapar dan dahaga, kerap kali berpuasa kedinginan dan tanpa pakain namun urusannya sehari-hari untuk memelihara semua jemaat”.
Kebutuhan akan penghiburan itu disoroti dengan dengan acuan-acuan kepada kesusahan, penderitaan, kehancuran, rasa putus asa dalam hidup, rasa dijatuhi hukuman mati dan menghadapi bahaya maut. Kepastian akan pertolongan Ilahi digarisbawahi oleh pengulangan dua kali “menyelamatkan” dalam ayat 10. ”Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami lagi”. Allah telah menyelamatkan hamba-Nya dalam situasi yang sangat berbahaya. Hal itu meneguhkan pernyataan Paulus sebagai rasul. Juga mengilhaminya untuk tugasnya saat ini:memberikan penghiburan bagi orang lain. Yang lebih penting daripada mengidentifikasikan secara tepat krisis yang diacunya adalah taktik penggembalaan Paulus; ia ingin mengikatkan dirinya dengan para pembacanya sebagai orang yang selalu yakin akan belas kasih Allah.

2. Oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah

Karena kesukaran-kesukaran yang luar biasa, Paulus mendapat pengalaman yang dalam dan berharga akan penghiburan Allah. Ia menguraikan penderitaannya bagaikan ikut mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus. Penderitaan dan penghiburan sang Rasul tentu banyak menguntungkan orang Korintus, sekaligus menguntungkan orang-orang percaya pada masa sekarang ini.
Pertama, Paulus sendiri sekarang menjadi lebih lengkap melayani mereka, karena pengalaman-pengalaman yang dialami seorang Kristen bukan dimaksudkan untuk dirinya sendiri saja, melainkan juga untuk kepentingan orang lain, supaya orang lain sama seperti Paulus kokoh di dalam iman jika mengalami penderitaan bahkan mampu bersyukur jika mengalami penderitaan.
Kedua, orang Korintus dan pengikut Kristus pada zaman ini dapat belajar dan menimba dari sumber penghiburan yang sama, yaitu Bapa dalam Kristus Yesus Tuhan kita. Jika mengalami penderitaan; janganlah pergi kepada kekuatan lain, tetapi datanglah dan berserah hanya kepada Dia sumber dari segala penghiburan. Yesus berkata: ”Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Mat.5:4).. Hiburan ini adalah hiburan dari Mesias. Yaitu bagi mereka yang mengalami penderitaan dan yang datang berserah mohon bantuan pertolongan atau penghiburan dari Kristus Tuhan, mereka tidak pergi dan minta tolong kepada kuasa lain di dunia ini. Kemudian juga dapat kita lihat bahwa orang-orang yang mengalami penderitaan adalah orang yang berbahagia di hadapan Allah. Karena Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat. 5:10-11).
Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa orang yang mengalami penderitaan bahkan dianiaya karena kebenaran karena Kristus dan difitnahkan segala yang jahat, orang itu adalah orang yang berbahagia, kebahagiaan hingga mewarisi Kerajaan Sorga. Jika demikian kita terpanggil untuk senantiasa bersyukur dan memuji serta memuliakan Tuhan walau kita mengalami penderitaan.
Penderitaan Kristus juga memiliki kemuliaan, penghiburan yang melimpah. Berarti ada dua hal. Yang percaya pada salib dan yakin kelak memiliki pengharapan kemuliaan (lih.Flp. 3:10-11; Rm. 8:17; 1Ptr. 4:13; 5:1). Selanjutnya, di dalam Kristus berkat Allah hadir untuk melingkupi hidup setiap orang, sehingga orang yang menderita memperoleh penghiburan.


3. Renungan:

Ada sebuah ilustrasi: Seorang raja yang gemar berburu berangkat dengan pasukannya ke hutan. Entah kenapa jari kelingkingnya terputus oleh pisau yang tajam. Penasehatnya mencoba menghibur baginda tetapi baginda tetap merasa sedih. Kemudian penasihat berkata: baiklah baginda bersyukur atas kejadian ini. Raja itu marah, sudah jari terpotong dan sakit lagi, kok disuruh bersyukur, ”penasihat apa kamu!” lalu menyuruh pasukannya untuk menangkap dan memenjarakan dia selama tiga tahun. Satu bulan kemudian, oleh karena kegemaran baginda tetap berburu, baginda mengajak rombongan dan penasihat barunya. Rombongan dibagi dan baginda bersama dengan penasihat barunya. Entah kenapa mereka tersesat tidak mengetahui medan hutan tempat di mana mereka berburu. Tiba-tiba datang segerombolon orang primitif yang juga berburu. Lalu menangkap baginda dan penasihatnya untuk diajadikan persembahan kepada dewa yang disembah orang primitif itu. Mereka dimandikan sebelum dipersembahkan kepada dewa. Tiba giliran kedua kepada baginda dan pada waktu memandikannya kelihatan jarinya terpotong alias cacat. Akhirnya dia dilepaskan karena tidak cocok yang cacat untuk dipersembahkan kepada dewa. Dengan susah payah baginda kembali dan tiba di istana. Begitu tiba di istana baginda memerintahkan agar penasihatnya dilepaskan/dikeluarkan dari penjara. Kemudian baginda minta maaf kepada penasihat itu, lalu berkata, ”kamu adalah penasihat yang benar dan kebijaksana. Karena apa yang kamu katakana adalah benar, agar kita selalu bersyukur.” Saya harus bersyukur, karena jari kelingkingku ini terputus, sehingga saya boleh selamat dari tangan orang-orang primitip itu, kata baginda dengan terharu.
Raja itu menceritakan semua kejadian yang mereka alami di tempat berburu dan bagaiamana ia dapat kembali dengan selamat pulang ke istana. Setelah baginda selesai menceritakan semua, kemudian penasihat itu juga serta merta mengatakan kepada baginda syukurlah baginda memenjarakan saya, karena bila tidak, mungkin saya sudah dipersembahkan orang-orang primitip itu kepada dewa mereka. Saya mungkin sudah dibunuh oleh orang-orang primitif itu, menjadi persembahan bagi dewa mereka.”
Karena kasih Allah yang begitu besar inilah kita seharusnya mampu mengucap syukur dalam segala hal. Dengan menydari siapa kita dan siapa Allah bagi kita, maka sama seperti Paulus, kita akan mampu berkata-kata: ”Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp.1:21). Jadi, kendati kita merasa sakit, gagal, banyak masalah, namun kita bersyukur karena kita memiliki Kristus yang menjadi Juruselamat kita dari segala kesulitan kita. Marilah kita bersyukur dan bernyanyi seperti Maria: ”Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hati bergembira karena Allah Juruselamatku”(Luk.1:46-47).






Pdt.Dr.Luhut P. Hutajulu,M.Th.
HKBP Kebayoran Baru

Bacaan Minggu Reminiscere, 28 Pebruari 20 : Lukas 7:36-50


Minggu Reminiscere, 28 Pebruari 2010 Lukas 7:36-50


IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU


D
alam nas ini seorang Farisi di kota Nain mengundang Yesus untuk makan di rumahnya, dan undangan itu dipenuhi oleh Yesus dengan tulus. Sebenarnya kita dapat menduga apa yang tersirat dalam hati orang Farisi itu, karena Farisi adalah suatu golongan dari kalangan rabi-rabi dan ahli Taurat yang sangat perpengaruh. Golongan tersebut berpegang pada Taurat Musa dan adat istiadat nenek moyang Yahudi, dengan demikian mereka menaati seluruh hukum dan peraturan secara mutlak. Jadi maksud Farisi yang mengundang Yesus itu bukanlah untuk menghormati serta belajar tentang kerohanian dari Yesus, melainkan sebagai cara bagaimana ia mengetahui lebih mendalam tentang gerak-gerik Yesus dan akhirnya mudah menjebak serta menangkap Dia. Dengan perkataan lain, undangan ini bermuara pada kemunafikan, karena dilakukan pengundang sebagai cara untuk menemukan kesalahan orang lain.
Kemunafikan sedemikian hendaknya dapat kita hindarkan dalam hidup kita, berpura-pura ramah mengundang orang makan, pada hal maksudnya untuk menjebak orang itu serta untuk mencari bahan-bahan untuk megadukakan dia. Pura-pura memberikan sesuatu kepada kita padahal hendak menjebak kita agar terbukti telah melakukan kesalahan. Pancingan dan jebakan berpakaian undangan makan merupakan bahaya dalam kehidupan masyarakat modern sekarang ini. Di kota-kota besar sudah musim sekarang ini tradisi mengundang makan. Baik cofee morning, dinner party, dan jamuan kasih lainnya. Ada yang positif dan ada yang negatif maksudnya. Yang bermaksud negatif biasanya memanfaatkan acara makan itu untuk mempengaruhi yang diundang untuk menyetujui maksud-maksud jahatnya. Dengan memberi makan ada sesuatu perminataan yang hendak disampaikan kepada kita agar kita tidak bisa mengelak dan harus menyetujui kehendak dan keinginannya. Pembicaraan-pembicaraan yang bernuansa kolusi, korupsi dan nepotisme tidak jarang terjadi dalam acara-acara undangan makan siang atau makan malam di restoran anu atau di cafe anu yang full AC, full musik dan full-full lainnya. Yesus sering menghujat orang-orang Farisi yang munafik. Yang kelihatan seoalah-olah malaikat tetapi sebenarnya serigala yang siap menerkam mangsanya. Marilah kita mengisi kerohanian kita dengan firman Tuhan agar kita terhindar dari kemunafikan. Kemunafikan bisa hengkang dari kehidupan kita jika kerohanian kita kita tingkatkan kualitasnya. Tapi jangan salah banyak juga orang yang munafik terlihat seperti orang yang lebih rohani padahal sebenarnya rohana.
Setelah mendengar kabar bahwa Yesus makan di rumah orang Farisi itu, seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa datang menjumpai Dia sambil membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi (an alabaster jar of perfume). Buli-buli pualam adalah botol berbentuk dua globe yang berbeda besarnya yang dihubungkan dengan leher. Biasanya parfum atau minyak wangi yang dituangkan ke buli-buli pualam adalah parfum yang mahal dan berkualitas baik. Karena sudah mengenal dirinya penuh dosa, perempuan itu ingin bertobat. Ia sudah pasti pernah mendengar khotbah-khotbah Yesus sebelumnya. Ia memutuskan sendiri bahwa dirinya akan memasuki suatu kehidupan baru di dalam Tuhan. Kedatangannya itu didorong oleh keyakinan bahwa kasih Yesus begitu besar sehingga ia dapat memperoleh keampunan dosa.
Sambil menangis perempuan itu menjumpai Yesus dan berdiri di belakang kaki-Nya. Yesus duduk di kursi tetapi kaki-Nya tidak dijulurkan ke bawah meja makan, melainkan menjauh dari meja makan itu. Di posisi kaki sedemikianlah perempuan berdiri di belakangnya. Yesus tentu tahu apa maksud perempuan itu sehingga memposisikan kakinya lebih bebas dari meja itu. Posisi kaki itu memungkinkan perempuan tersebut dapat membasahi kaki Yesus dengan air matanya serta menyekanya dengan rambutnya sendiri. Kemudian diciumnya kaki Yesus serta diminyakinya dengan parfum yang berkualitas sangat tinggi yang dituangkan dari dalam buli-buli pualam. Seyogianya minyak wangi itu dipergunakan meminyaki bagian kepala Yesus, namun akhirnya dibuat meminyaki kaki-Nya. Hal yang mirip dilakukan Maria dari Betania ketika ia “mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau wangi semerbak di seluruh rumah itu” (Yoh. 12:3). Maria dari Betania melakukan itu menjelang hari-hari penyaliban Yesus, sehingga Yesus menyebutnya “hal ini mengingat hari penguburan-Ku” keampunan dosanya (ay. 7). Namun perempuan berdosa yang dalam nas ini melakukannya murni karena haus akan keampuan dosa.
Pelajaran dari nas ini cukup penting bagi kita di mana sadar atau tidak sadar kita adalah orang berdosa di mata Tuhan. Kita sering melanggar hukum dan kehendak Allah. Namun Allah Mahakuasa dan Mahapengasih. Ia senantiasa rela menantikan kedatangan kita untuk mengakui dosa kita. Bahkan Ia telah rela berkorban di kayu salib untuk memberikan keampunan dosa dan keselamatan bagi kita. Kerendahan hati dan rasa haus akan penebusan dosa kita oleh Yesus menjadi renungan yang dapat kita petik dari nas ini. Seharusnya kita yang merasa berdosa ini harus datang bersembah sujud di bawah kaki Yesus sembari mengaku segala dosa yang telah kita perbuat agar Dia mau mengampuni kita. Persoalannya, seringka kali kita tidak merasa berdosa dan bersalah di hadapan Tuhan sehingga Tuhan tidak mau mengampuni kita. Sering kali kita merasa orang kudus, padahal bukan orang kudus. Merasa kudus belum tentu orang kudus. Tetapi merasa berdosa dan datang meminta pengampunan kepada Yesus, merekalah yang disebut orang kudus. Karena Yesus telah mengampuni dosa-dosa orang yang merasa berdosa dan datang meminta pengampunan kepada-Nya.
Ternyata niat baik dan murni untuk memperoleh pengampunan dosa dari perempuan itu tidak masuk akal orang Farisi yang menjadi tuan rumah dalam jamuan makan dalam nas ini. Ia langsung spontan mengatakan dalam hatinya bawa seharusnya Yesus tahu siapa diri-Nya dan siapa perempuan itu. Menurut Farisi itu, tidak pantas Yesus yang adalah Nabi dan suci itu dijamah oleh seorang perempuan berdosa. Ia langsung membuat pemisahan antara Yesus yang adalah Nabi dan kudus dengan seorang perempuan yang berlumur dosa. Pandangan Farisi tersebut adalah sebuah sikap ‘kesombongan rohani’(hibris rohani) yang membanding-bandingkan tingkat hidup kerohanian yag satu kudus yang satu lagi berdosa dan yang berpendapat bahwa yang kudus tidak pantas berkomunikasi dengan yang berdosa. Sikap kesombongan rohani ternyata dihindarkan oleh Yesus. Sang Juruselamat justru merasa bahwa Ia datang dari surga ke dunia ini adalah untuk menyelamatkan orang-orang berdosa.
Yesus membuat sebuah perumpamaan tentang dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Hutang yang seorang 500 dinar dan yang seorang lainnya 50 dinar. Pelepas uang tersebut memutihkan utang kedua orang itu karena keduanya tidak sanggup membayarnya. Yesus bertanya kepada Simon siapa di antara dua orang itu lebih banyak mengasihi pelepas uang itu. Jawaban Simon tepat: yang berhutang 500 dinar itu. Yesus menjelaskan kepada Simon bahwa perbuatan perempuan berdosa itu, yang meminyaki dan mencium kaki Yesus, yang notabene tidak dilakukan Simon, menunjukkan betapa dalamnya rasa kerinduan perempuan berdosa itu untuk memperoleh kempunan dosanya. Dengan demikian dosanya yang banyak itu telah diampuni. Seperti diketahui dalam tradisi Yahudi, tindakan membasahi kaki sesama dengan air mata dan menyekanya dengan rambut merupakan perbuatan yang paling tinggi dalam rangka menunjukkan keramahan. Tidak ada lagi perbuatan yang ramah selain meminyaki kaki orang lain. Dosa perempuan berdosa itu telah diampuni sehingga dia menjadi orang kudus. Tetapi dosa orang yang merasa tidak berdosa itu tidak diampuni sehingga mereka tetap berdosa. Apakah kita golongan orang Farisi yang merasa tidak berdosa atau golongan perempuan berdosa yang merasa berdosa?
Kasih yang besar yang ditunjukkan perempuan berdosa itu kepada Yesus menjadi bukti dari penyesalan dirinya akan dosa-dosanya, tetapi bukanlah dasar untuk penebusan dosa. Dalam nas ini jelas dikatakan bahwa perempuan itu diselamatkan oleh iman (bnd. Ef. 1:7). Ucapan Yesus kepada perempuan itu yang berbunyi “imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (ay. 50) menegaskan bahwa dosa-dosanya sudah diampuni dan ia dapat mengalami damai sejahtera Allah. Kepada kita umat yang berdosa ini juga diserukan bahwa iman kita telah menyelamatkan kita firman Tuhan senantiasa menyinari kita yang “diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera” (1:79). Denngan demikian dapat kita tegaskan bahwa perempuan berdosa itu adalah orang yang memiliki iman akan pengampunan dosanya. Sehingga dengan iman yang kuat itulah dia memperoleh keselamatan. Dengan beriman kita beroleh keselamatan. Dengan iman perempuan berdosa itu maka dia memperoleh keselamatan. Bukan dengan minyak yang diberikannya maka dia selamat, tetapi dengan imannya dia selamat. Dan orang yang beriman pasti memberikan sesuatu bagi Tuhan sebagai tanda bahwa dia telah menerima pengampunan dosa. Marilah kita yakin akan jaminan dari Tuhan Yesus bahwa iman kita telah menyelamatkan kita, dan kita membuahkan iman itu dalam kehidupan keseharian kita. Amin.




Pdt. Dr. Binsar Nainggolan
Kadep Marturia HKBP

Bacaan Minggu Invokavit, 21 Pebruari 2010 : Yeremia 10 : 6 - 10


Minggu Invokavit, 21 Pebruari 2010 Yeremia 10 : 6 - 10


TINGGALKANLAH PENYEMBAHAN BERHALA-BERHALA



K
itab Nabi Yeremia adalah kitab yang terpanjang di Alkitab, kalau dihitung dari jumlah kata. Isinya berupa pengakuan kepada kemahakuasaan Allah serta nasihat kepada umat-Nya bangsa Israel. Bagi Yeremia, Allah adalah Yang Mahakuasa, yang menciptakan bumi dengan segala kekuatan-Nya. Allah adalah juga mahahadir di mana-mana. Allah adalah Allah, bukan hanya bagi orang Yehuda, melainkan juga bagi segenap bangsa.
Yeremia terpangil untuk menyampaikan pesan-pesan Allah berupa teguran Allah kepada bangsa Yehuda yang hidup dalam kebebalan dan sebagian jatuh ke dalam penyembahan berhala. Karena keberanian Nabi Yeremia menegur bangsa itu, maka ia sering mengalami kesulitan dan dikejar-kejar penguasa yang lalim dan kejam. Namun ia tetap tegar dalam menghadapi situasi yang terkadang mengancam nyawanya. Puncak ketegarannya tampak pada kenyataan di mana ia tidak takut-takut untuk menyuarakan nubuatan tentang destruksi kerajaan Yehuda (yang secara lalim diperintah antara lain oleh Raja Manasye) sebagai hukuman atas kejahatan bangsa itu.
Tetapi penghakiman Allah terhadap umat-Nya, walaupun dahsyat, bukanlah kata yang terakhir yang menjadi karya terakhir Allah dalam sejarah. Anugerah dan pemenuhan atas janji Allah akan menang. Setelah penghakiman Allah, akan datang pemulihan dan pembaharuan. Israel akan dipulihkan kembali, perjanjian Allah dengan Israel, Daud dan orang-orang Lewi akan diwujudkan. Bahkan Allah akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, yakni akan menaruh Taurat-Nya dalam batin mereka dan menuliskan-Nya dalam batin mereka (31:31-34).

Sebagai pengajaran dan nasihat kepada orang Israel, Yeremia menekankan bahwa yang pertama, tidak ada yang sama seperti Tuhan Allah. Tak seorangpun manusia di dunia ini yang mampu menyamai Dia, sekalipun dari antara raja-raja, kaum penguasa dan kaum pengusaha. Ini ditekankan untuk menjawab sikap sebagian orang waktu itu yang merasa dirinya perkasa dan besar. Keperkasaan manusia terbatas, namun keperkasaan Allah tak terbatas. Hanya Tuhan Allah sendirilah yang bersifat ‘super natural’ yang keberadaannya jauh di atas pengetahuan dan kekuatan manusia. Ia adalah Pencipta dan sekaligus Pemelihara kita makhluk ciptaan-Nya. Allah sendiri mengemukakan siapa diri-Nya: “Aku akan memberitahukan kepada mereka kekuasaan-Ku dan keperkasaan-Ku, supaya mereka tahu, bahwa nama-Ku Tuhan” (16:21).
Hal yang kedua yang tidak dapat disamai manusia dalam kebesaran Allah adalah kebijaksanaan-Nya. Banyak orang bijaksana di zaman nabi Yeremia yang dapat mengajarkan hikmat dan pengetahuan kepada masyarakat luas, tetapi ajaran mereka tidak mampu menjawab persoalan-persoalan kehidupan secara menyeluruh. Kebijaksanaan mereka hanya berlaku sesaat. Tetapi kebijaksanaan Allah tidak ada bandingannya, karena tidak saja menjawab persoalan manusia kini dan di sini, tetapi juga memberikan keselamatan, keampunan dosa, dan hidup yang kekal kepada umat-Nya. Inilah yang seyogianya membuat raja-raja di dunia takut kepada Allah. Allah sendirilah Raja bangsa-bangsa yang patut ditakuti oleh semua orang karena kebijaksanaan-Nya. Kebijaksanaan Allah berupa anugerah keselamatan itu direalisir melalui karya keselamatan oleh Yesus Kristus. Kristus adalah penggenapan nubuatan nabi Yeremia tentang kebijaksanaan Allah yang tidak terselami manusia. Rasul Paulus juga di Perjanjian Baru mengingatkan kebesaran kebijaksanaan Allah melalui seruan: “Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? ... Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil” (Rm. 1:20-21).
Teguran Allah melalui Yeremia kepada bangsa Israel yang sebagian mempraktikkan penyembahan berhala diperinci dengan mengatakan “berhala itu semuanya bodoh dan dungu; petunjuk dewa itu sia-sia”. Istilah ‘sisa-sia’ sering dipergunakan Yeremia untuk berhala dan dewa-dewa (8:19, 14:22). Kenapa disebut bodoh, dungu dan sia-sia? Pertama, karena dewa dan berhala itu disembah buat sesuatu suku tertentu, sedangkan Allah Yahwe yang kita sembah adalah Raja bangsa-bangsa di seluruh dunia. Kedua, karena berhala itu hanya terbuat kayu belaka, perak kepingan dan emas. Semua berhala sedemikian hanyalah buatan tangan manusia, yakni tukang-tukang dan ahli-ahli. Perak kepingan di sini dibawa dari Tarsia, suatu tempat yang merujuk Tartessus di Spanyol atau mungkin juga sebuah pulau di Laut Tengah, atau mungkin pula sebuah daerah di pantai Afrika Utara. Sedangkan Ufas selaku asal emas di sini adalah sebuah tempat yang hanya disebut dalam ayat ini tanpa penjelasan di kawasan mana itu. Yeremia menyerukan umat Israel supaya jangan terperdaya dan tertipu untuk menyembah berhala seperti itu. Umat itu diserukan meninggalkan penyembahan kepada berhala buatan tangan manusia, sebaliknya agar umat itu menyembah Allah yang menciptakan alam semesta. Mereka diserukan untuk tidak mendengar petunjuk dewa, dan sebaliknya mendengar petunjuk Allah. Petunjuk Allah membawa umat manusia menuju kehidupan, sedangkan petunjuk dewa-dewa dan berhala-berhala membawa manusia ke jurang penderitaan.

Sekarang ini sungguh banyak dewa dan berhala yang disembah oleh masyarakat modern. Berhala adalah sesuatu benda atau seseorang yang kita cintai dan sayangi melebihi cinta dan sayang kita kepada Tuhan. Jika kita mencintai harta kita lebih tinggi daripada kepada Tuhan, maka harta sudah menjadi berhala bagi kita. Jika kita mencintai suami atau isteri atau anak kita lebih tinggi daripada cinta kita kepada Tuhan, maka hati-hati kita telah memberhalakan suami, isteri dan anak-anak kita. Ringkasnya, jika kita mencintai atau menghargai sesuatu atau seseorang lebih daripada Tuhan, maka itu semuanya sudah menjadi berhala bagi kita.
Ada sebagian orang, walaupun sudah tedaftar sebagai warga gereja, tetapi secara diam-diam masih menyembah dewa-dewa dan berhala-berhala. Ada yang menyembah “na martua gunung pusuk buhit”, atau “na martua tuktuk tarabunga”, atau “sumangot ni ompu”, dewa di gunung kidul, dan sebagainya. Hal ini dapat disebut roh-roh sinkretistis, yang mencampurkan dua atau lebih kepercayaan dalam diri satu orang. Semuanya perlu ditinggalkan karena Tuhan Allah tidak senang melihat umat-Nya menjadi penganut sinkretisme. Bahkan sekarang tidak sedikit orang yang jatuh menjadi penyembah berhala mammon, di mana bagi mereka ini uang adalah ukuran tertinggi dalam hidupnya. Apapun dihalalkan demi memperoleh uang. Di media massa sehari-hari kita baca berita tentang betapa banyak orang yang dihinggapi roh mammonisme yang berwujud pada tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme. Para pelakunya tidak mengenal tingkat sosial, jabatan dan tingkap pendidikan formal. Pembunuhan, perampokan dan penjerumusan terhadap sesama terjadi demi mewujudkan niat untuk menyembah dewa mammon. Banyak sekali orang-orang modern yang jatuh kepada hedonisme dan konsumerisme sebagai hasil dan pengaruh pendewaan uang.
Nas ini ternyata sungguh relevan untuk menyerukan agar penyembah berhala dan dewa-dewa sekarang ini kembali ke jalan Allah. Ia sajalah Allah yang benar (1 Tes. 1:9). Kebenaran-Nya diwujudkan dalam karya penyelamatan oleh Dia melalui Anak-Nya Yesus Kristus yang telah membenarkan kita orang-orang berdosa. Ia juga adalah Allah yang hidup (Ul. 5:26) dan Raja yang kekal (Kel. 15:18 dan Mzm. 10:16). Keberadaan Allah yang Maha Kuasa membuat bumi goncang karena murka-Nya dan bangsa-bangsa tdak tahan akan geram-Nya. Murka dan kegeraman Allah tidak sama dengan murka dan kegeraman manusia, karena murka Tuhan adalah bahagian dari kasih-Nya yang mendidik umat-Nya. Karenanya, sejak sekarangn mulailah mencintai Tuhan lebih dari pada apa yang kita miliki dan apa yang bersama dengan kita sekarang. Utamakan mencitai Tuhan daripa cinta akan harta, uang, keluarga, hobi dan kesenangan lainnya. Jangan jadikan berhala-berhala modern hidup di sekitar pribadi, rumah tangga, kantor, usaha kita. Singkirkan segera jika berhala itu mulai menyusup ke dalam kehidupan kita. Jika kita sudah mulai menghargai suami lebih daripada Tuhan, berhentilah dan sadarlah bahwa suami itu ciptaan Tuhan, bukan Tuhan yang harus dihargai lebih daripada Tuhan. Kendati sulit untuk meninggalkan berhala-berhala modern jaman sekarang tetapi mulailah sejak dini. Yang paling berbahaya sekarang adalah, jika Hand Phone kita tinggal di rumah, kita mau kembali ke rumah untuk mengambil HP tersebut, tetapi jika Alkitab tinggal di rumah ketika mau beribadah ke Gereja, kita tidak mau kembali lagi ke rumah mengambil Alkitab tersebut. Bahkan ketika kita bangun tidur, hal yang pertama kita cari adalah HP bukan Alkitab atau Buku Ende. Hati-hati, jangan-jangan HP juga sudah termasuk berhala yang kita butuhkan dan hormati lebih dariupada Tuhan. Karena itu, hiduplah dalam kehendak Allah. Amin.



Pdt. Dr. Binsar Nainggolan
Kadep Marturia HKBP