Jumat, 26 Maret 2010


Minggu Jubilate, 25 April 2010 Zefanya 3:14-20


BERSUKACITALAH – BERGEMBIRALAH – BERSORAK-SORAILAH


Kita akan memasuki Minggu LETARE – yang mengajak kita untuk Bersukacitalah – Bergembiralah – Bersorak-sorailah. Pertanyaanya adalah: Apakah yang bisa membuat kita bersukacita, bergembira, bersorak-sorai? Jawabannya, ada dalam nas ini. Yaitu: karena kita punya Allah yang Mahapengampun, Mahakasih, Mahabaik. Allah yang tidak pernah berhenti mengasihi kita. Allah kita adalah Allah yang mengasihi. Pemahaman inilah yang memicu harapan Israel, sehingga mereka dapat bersukacita.

Mari kita simak apa yang terjadi pada Israel. Nabi Zefanya ini diduga bekerja pada pemulaan pemerintahan Raja Yosia di Yehuda (Israel Selatan) sekitar tahun 639 – 609 seb Masehi. Pokok pemberitaannya adalah tentang kedatangan “Hari Tuhan” (1:7 + 14). Hari Tuhan merupakan ancaman bagi dosa-dosa Yehuda dan dosa bangsa-bangsa. Bila kita membaca mulai dari pasal pertama kitab ini, kita akan gemetar membayangkan betapa dahsyatnya hari tersebut. Hari itu merupakan hari yang mengejutkan dan gelap gulita, merupakan hari kegemasan .. kesusahan dan kesulitan ... kemusnahan dan pemusnahan ... kegelapan dan kesuraman - kebinasaan (1:14 – 18). Simak beberapa perkataan Allah di pasal 1: Aku akan menyapu bersih ... dari atas muka bumi ... merebahkan ... melenyapkan ...mengacungkan tanganKu ... menghukum ... menggeledah. Dahsyat tenan (benar)!!!

Mengapa begitu dahsyatnya hukuman yang akan diterima Yehuda dan bangsa-bangsa pada Hari Tuhan itu. Jawabannya, tidak lain tidak bukan adalah karena dosa Yehuda dan bangsa-bangsa yang sangat menjijikkan Allah. Nabi Zefanya dengan keras menegor dosa mereka yang melacurkan diri dengan menyembah dewa-dewa: Baal, Milkom, tentara langit, dan kuasa kegelapan lainnya. Padahal itu merupakan kekejian di mata Tuhan (Ul. 7:25; 2Raja 21:11). Menyembah ilah lain selain Allah akan menimbulkan murka Allah. Walau kita sangat rajin ke gereja, membaca Alkitab, atau memberi sumbangan untuk gereja, tetapi bila kita masih memegang, menyimpan dan memercayai kuasa kegelapan (ajimat, ulpuhan ni datu, panjaga ni daging, pelaris, dll), bagi Allah, kita tetap menjijikkan. Di samping itu masih banyak lagi dosa-dosa Yeuhuda dan bangsa-bangsa yang membuat Allah harus murka., terutama perilaku mereka di masyarakat yang tidak mencerminkan bahwa mereka adalah bangsa Allah yang kudus.

Ini menjadi pergumulan kita. Setiap orang hendaknya memeriksa diri sendiri. Apakah Tuhan tidak sedang murka sekarang melihat segala tingkah laku kita? Bencana demi bencana menimpa bukan hanya negeri ini tetapi juga dunia. Topan, gempa bumi, longsor menjadi momok yang menyebabkan derita memilukan bagi banyak orang; harta benda yang telah dikumpulkan dan dibangun musnah seketika; banyak nyawa melayang tanpa pesan. Kejahatan merajalela. Bangsa kita terpukul dengan kasus rekaman Anggodo, yang memilukan hati penduduk negeri yang masih punya hati nurani. Ternyata, kondisi bangsa ini begitu bobroknya. Sementara pemimpin masih asyik merayakan pengangkatannya menjadi anggota dewan terhormat dan menteri, padahal rakyat gelisah menanti keadilan dan bantuan. Oh negeriku .... bila hari Tuhan datang, apa yang akan terjadi kepadamu?

Yang lebih perlu, secara pribadi mari kita mengoreksi diri, apakah perilakumu akan memaksa Allah untuk mendatangkan murkaNya? Tanya dirimu, apakah kita masih memiliki atau percaya pada kuasa kegelapan, dukun, mantera, panjaga ni daging, yang merupakan kekejian di mata Tuhan? Apakah perilaku kita di kantor, di pasar, di sekolah, di perjalanan, sudah mendukakan hati Tuhan? Apakah keluarga kita masih berkenan di hati Tuhan? Gumulilah itu setiap saat
Karena itulah, sebelum Hari Tuhan itu datang, Allah melalui Zefanya dengan keras menghimbau dan mengajak Yehuda dan semua bangsa agar BERTOBAT. “Carilah Tuhan, lakukan hukum-Nya – carilah keadilan – kerendahan hati – (pasal 2).

1. Dan hal yang mensukacitakan kita adalah, janji Allah yang pasti, bahwa bila kita mau bertobat, pasti, pasti dan pasti, Allah mau menerima kita kembali.

Tidak banyak atau hampir tidak ada orang yang mau menerima kembali isterinya yang sudah beberapa kali tertangkap basah berselingkuh. Biasanya, suaminya akan langsung menjatuhkan talak tiga, cerai. Tetapi Allah kita, tidak. Walau Israel, sebagai umat-Nya selalu berselingkuh dengan dewa-dewa dan ilah-ilah lain, tetapi Allah menunggu dengan setia, dan selalu membuka pintu maaf bagi Israel. Memang, Tuhan mau menghukum umat-Nya atas kesalahan itu, namun itu bukan talak tiga, bukan kata terakhir. Hukuman dari Tuhan hanyalah peringatan, agar Israel dan kita sadar akan dosa-dosa kita; hukuman Allah adalah cara untuk membawa kembali umatNya yang sudah terlanjur membelot dari jalan-Nya. Hukuman Allah adalah bagaikan gada dan cambuk seorang gembala untuk membawa dombanya kembali ke jalan yang benar. Allah kita selalu membuka pintu dan tangan-Nya, kapan kita mau kembali, Allah akan menyambut kita dengan tangan terbuka dan sukacita (Ingat Perumpamaan tentang Anak hilang)
Itulah sumber sukacita kita. Isteri mana yang tidak bersukacita, bila suaminya masih mengasihi dan mau menerima kembali, dia yang selalu berselingkuh? Ternyata, kasih setia Allah (khesed) jauh lebih besar melampaui dosa-dosa kita. Di Yesaya 54:8 Tuhan berkata: Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu. Dengan jaminan pengampunan inilah, Allah menyerukan: Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!
Kepastian akan pengampunan oleh kasih Allah inilah yang paling menonjol bagi iman orang Kristen. Di Yohannes 3:16 disampaikan: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Bagi orang Kristen yang percaya, dengan terang benderang dinyatakan bahwa kasih Allah jauh lebih besar dari murka-Nya. Ini paling nyata didemonstrasikan Allah di kayu salib Tuhan Yesus di Golgata. Di salib itu, Tuhan meproklamasikan kepada dunia bahwa Allah kita adalah Allah yang Mahapengampun, karena yang ditanggung (dipikul) oleh Yesus di sana tidak lain tidak bukan adalah dosa seluruh manusia.
Seorang penulis pernah mengatakan: Sikap dan kelakuanmu tidak mengubah kasih Allah terhadapmu. Jika kamu berpaling dari-Allah, atau memutuskan hubungan dengan-Allah, Allah ingin tetap bersamamu. Itu seperti halnya bila kamu menutup keran. Apakah airnya juga menghilang dari pipa? Tidak, tetapi tetap berada di situ, menunggumu memutar keran lagi. Allah seperti air itu, menunggu kamu kembali menjadi anak-Nya. Tiada ketidak-patuhan atau pemberontakan darimu yang bisa mengubahnya.
Itulah sumber sukacita orang percaya. Bila kita semakin menghayati pengorbanan Yesus di salib, terutama dengan kemenangan-Nya di dalam kebangkitan-Nya, tidak mungkin lagi ada orang Kristen yang mau terbenam dalam susah hati. Yang ada hanyalah sukacita, karena di dalam Yesus, Allah memberi jaminan bahwa Allah mau mengampuni dosa kita

2. Setelah Allah mau mengampuni dosa kita, Dia tidak menjauh, tetapi justru mau dekat dengan kita.

Kita baca di ayat 17 : “TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai. Wahh... luar biasa! Coba bayangkan, bila Allah ada di dekat-Mu, menjadi pahlawan yang memberi kemenangan, dan selalu bergembira karena engkau”. Mungkin, tidak ada lagi hal lain yang mensukacitakan hati selain dari hal ini. Sebuah jaminan penyertaan dan pengawalan yang luar biasa. Karena itu, Allah melalui Zefanya terus menerus menyerukan: Jangan takut – jangan takut (ayat 15, 16).
Janji penyertaan ini telah terwujud dengan kehadiran Yesus, yang adalah Immanuel, Allah yang beserta kita. Dan walau Yesus telah berangkat ke surga, Dia memberi jaminan: “Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat; 28:20).
Karena itu, orang percaya tidak perlu takut terhadap apapun selain kepada Allah. Jangan pernah mau diperbudak dan dikalahkan oleh Allah. Dan sebenarnya, di dalam Yesus kita lebih dari sekedar pemenang (Rm. 8, 37). We are the winners. Bila Anda kalah, bukan karena Yesus tidak mampu membantu Anda, tetapi, Anda yang telah memilih dan menyerahkan diri Anda untuk kalah. Karena itu jangan pernah mau kalah. Jangan takut. Tetapi bergembiralah, bersukacitalah.

3. Dan yang terakhir, yang membuat Israel bersukacita adalah janji akan ADANYA PEMULIHAN dari Allah.

Israel akan dipulihkan (ayat 20), bukan lagi sebagai bangsa yang dihina, dilecehkan oleh kuasa dan bangsa lain. Tetapi Tuhan akan mengangkat malapetaka dari mereka (ayat 18) – Tuhan akan memukul habis bangsa yang menindas Israel (ayat 19) – Tuhan akan mengembalikan nama baik dan kehormatan dan membuat Israel menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi (ay. 19)
Ini jugalah jaminan agar kita bisa bersukacita. Mungkin sekarang memang kita susah karena disusahi pihak lain. Izin membangun gereja dipersulit (walau menurut Undang-undag sangatlah mudah). Jabatan strategis ditutup bagi murid Kristus (sehingga banyak orang Kristen menjual imannya demi jabatan) – kita dilecehkan dan dianggap sebelah mata (sehingga banyak orang yang “monjap” – bersikap bunglon – suam-suam kuku tentang imannya). Kita sering menangis menghadapi “penyesahan” (pangaleleon) terselubung ini.
Tetapi, Tuhan Yesus yang bangkit menyerukan: jangan pernah takut. Kita akan dipulihkan – musuh-musuh Kristus akan dikalahkan. Tiada kuasa manapun yang bertahan terhadap kekuasaanNya. Karena itu jangan pernah kecut, takut atau minder. Di dalam Yesus, kita bukanlah pecundang yang mau kalah, tetapi kita lebih dari sekedar pemenang.

Karena itu, agar kita benar-benar dapat bersukacita, pilihan ada pada kita. Mereka yang mengenal dosanya tetapi tidak mau bertobat, akan dibebani, ditimpa, “didondoni” oleh dosanya; sukacitanya akan terkuras habis oleh dakwan-dakwan dosa di dalam hati nuraninya. Tetapi mereka yang mau mengaku dosa dan bertobat, Tuhan menjamin bahwa dosamu pasti akan diampuni, dan Tuhan mengasihiMu. Itu membuat sukacitanya akan berlimpah.
Mereka yang tidak mengenal kasih setia Allah akan takut, kecut, dan kalah; sukacitanya akan habis. Tetapi yang percaya dan mengimani kasih setia Allah yang nampak dalam kemenangan Kristus dalam kebangkitanNya, akan terus bersukacita walau didera derita – tetap semangat dan tidak takut walau musuh Kristus menghadang. Bukan karena nekat. Tetapi karena ada jaminan penyertaan Allah.
Karena itu, camkanlah seruan Paulus dalam Filipi 4:4 “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”. SELAMAT BERLETARE. Amin.





Pdt. STP. Siahaan

Minggu Miserikordias Domini, 18 April 2010 Ratapan 3:22-16


BERHARAPLAH PADA YESUS YANG MENANG




Keadaan sulit dan derita yang berat sering menghadirkan tanya: Apakah Tuhan masih ada? Apakah benar bahwa Tuhan mengasihi saya? Dengan gempa bumi dan bencana lainnya yang meluluh-lantakkan bumi Indonesia, banyak hati yang bertanya: Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita, mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Pertanyaan ini menunjukkan kondisi tanpa harapan.
Kondisi ini juga yang mewabah di kalangan Yahudi. Ketika derita demi derita mendera, seperti bisa kita baca mulai ayat pertama pasal 3 ini, penulis meratap. Membaca dafatr derita itu, hati kita akan milis dan bulu kuduk akan berdiri saking sakitnya. Mereka terbuang di Babilon; mereka jauh dari Yerusalem, kota kebanggaan mereka yang telah menjadi sunyi karena tiada lagi penduduknya, dan Bait Allah tumpuan harapan iman sebagai bukti penyertaan Tuhan bagi mereka telah dibumi-hanguskan. Saking beratnya derita itu, peratap ini merasa dia akan binasa (ayat 54).
Namun, terjadi perubahan yang drastis dalam diri si peratap. Mari kita baca ayat 21: “Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap” (BIS - Meskipun begitu harapanku bangkit kembali, ketika aku mengingat hal ini). Walau deritanya menindih perih, namun imannya melihat seberkas cahaya yang makin lama makin terang. Cahaya tersebut memberinya pengharapan baru, yang selanjutnya menyemangatinya menapaki hidup di depan. Imannya berkata: ada Tuhan. Dan Tuhan itu adalah Tuhan yang setia, yang kesetiaan-Nya kekal, terus menerus, dan diperbaharuiNya tiap pagi, tidak pernah basi. Dia juga Allah yang baik, yang pasti mau menolong setiap orang yang berharap padaNya dan yang mencari-Nya. Pengenalan dan keyakinan inilah yang memberinya harapan dan kekuatan baru.
Inilah perbedaan dari orang yang mengenal Tuhan dengan orang yang tidak pernah peduli dengan Tuhan. Sering, penderitaan menjadi batu ujian sekaligus pembuktian bagi mereka. Mereka yang tidak peduli dengan Tuhan, bila didera derita, akan langsung tenggelam hingga ke dasar yang terdalam dan tidak akan muncul-muncul lagi, bagaikan batu yang dilempar ke dalam sumur (bahasa Batakna: lonong). Mereka bukan hanya meratap tetapi menjadi putus asa, atau bunuh diri. Tetapi mereka yang mengenal dan percaya kepada Tuhan, ketika derita menderu, mereka meratap, bukan karena putus asa, tetapi ratapan minta tolong agar Tuhan mengulurkan tangan-Nya menolong mereka. Mereka bagaikan buah kelapa tua, yang sebentar akan terbenam, tetapi tidak akan tenggelam, karena akan bangkit dan muncul lagi ke permukaan. Walau memang ada yang timbul tenggelam, yang ketika ancaman datang mereka menyembunyikan diri (monjap), dan ketika keadaan sudah aman barulah mereka muncul, dan sering berlagak seperti pahlawan padahal tidak berbuat apa-apa.
Ada ahli mengatakan bahwa zaman kita sekarang sedang digerogoti sikap yang tanpa harapan. Mengapa? Karena kita sering terperangkap pada apa yang dapat disebut sebagai perangkap-perangkap kenyataan. Yaitu yang mengukur dan memutuskan segala sesuatu hanya berdasarkan fakta-fakta dan rumus-rumus matematis. Yang hanya percaya bahwa satu tambah satu hanyalah dua, selain itu dianggap mustahil (Contoh: Sajuta rupia do gajingku, hape balanjonami pe nunga 600 ribu, asing dope manggarar aek dohot listrik nang ongkos-ongkos. Ndang mungkin boi hami pasikolahon dakdanak on, dll)
Padahal, secara iman, pengharapan orang-orang percaya adalah pengharapan tanpa dasar, artinya tidak berdasarkan rumus matematika, dan tidak berharap pada hal-hal yang nampak di mata. Pengharapan orang Kristen adalah tertuju pada Misteri Allah (hahomion ni Debata). Karena Allah dapat melakukan apa yang mustahil bagi manusia. Bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk. 1:37), dan mujizat adalah spesialisasiNya, karena itu jangan batasi dirimu mempercayaiNya. Karena apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, atau didengar telinga atau yang belum pernah melintas dalam pikiran manusia, itu yang dilakukan Allah kepada orang yang mengasihiNya (1 Kor. 2:9).
Coba kita ingat apa yang dilakukan Allah kepada Sara, yang mandul dan sudah tua, tetapi dengan mujizat Allah, dia bisa melahirkan Isak. Ingat juga ketika Israel tiba di tepi Laut Merah, sementara pasukan Firaun telah mengejar dengan pasukan perang; mereka tidak mungkin bisa selamat. Tetapi Musa berkata: “TUHAN akan berjuang untuk kamu, dan kamu tak perlu berbuat apa-apa." (Kel. 14:14) dan benar, mereka selamat. Justru pasukan Firaun yang hanyut. Mujizat yang luar biasa!
Tetapi mujizat yang terbesar adalah ketika maut si penguasa dunia, dikalahkan oleh Yesus. Maut, kuasa yang tidak dapat dikalahkan manusia tetapi justru mengalahkan semua manusia, ternyata, dapat dikalahkan oleh kuasa kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Itulah kemenangan yang tiada tanding dan taranya. Kebangkitan Yesus mengalahkan maut, hanya dapat dilalukan oleh Tuhan Yesus, tidak dapat dilakukan “juruselamat” agama manapun.
Itulah dasar segala pengharapan kita. Dengan kebangkitan Yesus yang mengalahkan maut, bagi orang percaya tidak ada lagi yang mustahil. Segala derita, kesakitan, atau kesulitan apapun, menjadi mungkin kita kalahkan, bila mengandalkan kuasa Yesus. Buktinya: sepanjang sejarah, mulai dari berdirinya gereja, hingga hari ini, seluruh dunia bekerjasama menyusun kekuatan untuk menghancurkan umat Tuhan, orang Kristen di dunia ini. Namun, faktanya, jangankan hancur, tetapi justru semakin dibabat semakin merambat. Gereja tegak berdiri. Bukan oleh kekuatan-Nya, melainkan karena pertolongan Tuhan Yesus, Sang Penakluk dunia itu.
Karena itu, sebenarnya tidak ada alasan bagi orang percaya untuk takut apalagi putus asa. Kebangkitan Yesus, yang bila diimani dan diamalkan dengan benar, akan menghapus istilah takut dan putus asa dari kamus orang percaya. Dengan kebangkitan Tuhan Yesus, orang percaya tidak ditakdirkan untuk takut, kalah dan putus asa. Tetapi sebaliknya, telah dilantik menjadi pemenang, karena kuasa apapun tidak akan mampu memisahkan kita dari kasih Kristus (Rm. 8:34-39).
Namun demikian, Saudaraku, kita dapat juga jatuh. Seperti dikatakan Tuhan Yesus: roh memang penurut, tetapi daging lemah (Mat. 26:41). Kita masih lemah, karena kita adalah manusia juga. Namun ingat, bila kita kalah, bukan karena si iblis atau penderitaannya yang kuat. Bukan! Tetapi kita yang membiarkan diri kita dikalahkan. Atau, kita yang telah memilih untuk kalah. Mengapa? Karena sebenarnya, tidak ada pencobaan atau derita yang dibiarkan Allah menerpa kita di luar kemampuan kita, melainkan apa yang pas dengan kemampuan kita (band. 1Kor. 10:13). Dan, Tuhan adalah setia, pasti memberikan pertolongan kepada setiap orang yang mengasihi dan mencari-Nya. Karena itu, bila ada yang kalah, bukan karena Allah mentakdirkannya untuk kalah, dan bukan pula karena penderitaan atau pencobaan itu yang lebih kuat. Tidak! Tetapi, karena kita telah memilih dan membiarkan diri kita dikalahkan.
Karena itu, bila kita hubungkan dengan nats kotbah minggu depan ini, bila kita menghadapi masalah, kesulitan, derita atau pergumulan berat, hal yang harus kita lakukan adalah:
Pahami, imani, yakini bahwa kita punya Tuhan yang mampu mengalahkan kuasa apapun. Dan Dia adalah Allah yang mampu melakukan apapun, termasuk yang tidak dapat dilakukan oleh siapapun. Dia mampu mencelikkan mata orang buta, menghidupkan orang mati, menyembuhkan segala sakit penyakit, mengusir segala roh jahat dan setan sekalipun. Mujizat adalah spesialisasi-Nya. Karena itu jangan batasi imanmu untuk mempercayai dan menerimanya.
Dia adalah Allah yang Mahakasih. Pengorbanan dan kebangkitanNya adalah untukmu, demi engkau. Percayai itu.
Dia adalah Allah yang setia, yang patut dipercaya, dan terus menerus memenuhi janji-janiNya. Mujizat-Nya pasti dilakukannya untukmu, untuk kita hari ini dan di sini.
Tugas kita adalah, terus memanggil, meminta dan meminta di dalam harapan. Terkadang Tuhan menginginkan kita harus seperti orang buta dalam nats kotbah minggu depan, yaitu meratap, meratap dan meratap di dalam iman. Ratapan yang bukan karena keputus-asaan, melainkan untuk membuktikan pengharapan kita yang kokoh atas pertolongan Allah. Dan pasti, pada waktunya, Tuhan akan mmberikannya.
Berharaplah dalam keyakinan bahwa pertolongan Tuhan akan segera datang dan mewujud dalam hidupmu.
Karena itu, Saudaraku! Bila derita mendera hidupmu, jangan mau dikalahkan. Ingat, kita dikasihi oleh Yesus yang telah mengalahkan musuh dan derita kita. Dialah harapkan dan andalkan, kita pasti menang! Amin.




Pdt. STP. Siahaan

Minggu Quasiomodogeniti, 11 April 2010 Mazmur 8:2-7


NIKMATILAH BERKAT TUHAN





BERANGKAT DARI KEHINAAN TIBA KEPADA KEMULIAAN

Perubahan yang sangat mencolok tentang manusia tampak dalam pemberitaan Mazmur fasal 8 ini. Bahwa manusia hina kemudian menjadi makhluk mulia dinyatakan secara sederhana. Mazmur Daud ini menggugah hati kita merenungkan fenomena kemanusiaan yang berubah-ubah, agar kita sendiri dapat memilih posisi dan sikap yang benar di mata Tuhan.

Marilah kita membaca teks ini secara cermat dan baik. “8:2 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. 8:3 Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam. 8:4 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: 8:5 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? 8:6 Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. 8:7 Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.”

Dari ayat 2-7 kita memahami kalimat tentang siapa manusia itu. Firman ini menggambarkan secara terus-terang manusia sebagai makhluk yang hina, namun Allah telah melakukan rancangan yang ajaib, yang meninggikan manusia. Ada tujuh ungkapan dalam nas ini yang memosisikan manusia di tengah seluruh alam ciptaan Allah. Penempatan manusia oleh Allah di tengah jagad raya ciptaan Tuhan itu pastilah didasarkan atas tujuan mulia untuk mencapai karakter luhur, bagi kemuliaan Tuhan. Mari kita coba pahami posisi dan tugas tersebut dalam lingkup manusia apa adanya.
Pertama: “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan” (8:2). Manusia menyanyikan pernyataan hebat ini, bahwa keagungan dan kemuliaan Tuhan tetap menjadi prioritas bagi dirinya. Kemuliaan Tuhan tetap mengatasi langit. Kedudukan Pencipta tetaplah di atas dari ciptaan. Tuhan adalah Penguasa Tunggal atas seluruh ciptaan. Manusia harus menyanyikan dan menyadari hal itu untuk dirinya sendiri, agar manusia dapat mengajarkannya kepada seluruh makhuk bumi.

Kedua: ”Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam” (8:3). Sarana yang dipakai manusia untuk memuliakan Tuhan adalah dirinya sendiri, apa adanya, pola pikirnya yang masih murni, polos, spontan, tidak neko-neko. Dalam hal melakukannya, manusia tidak memanfaatkan (memakai apalagi mencuri) pemujian Tuhan itu untuk kepentingan diri sendiri. Bayi dengan apa adanya ia menjadi patokan dasar dari kemurnian dan keikhlasan kita memuji Tuhan. Sekaligus itulah senjata kita untuk dapat membungkam seluruh lawan-lawan Tuhan. Kelemahan, ketidakmampuan, bahkan hanya senyum dan tangisan, itulah senjata kita untuk menang di dalam Tuhan. Hanya dua rupa komunikasi seorang bayi: menangis (sedih) dan tersenyum (gembira). Dalam kedua pola inilah kita patut memuji Tuhan, ketika kita berduka dan bergembira, di saat kita gagal maupun sukses, pada waktu kita beruntung maupun rugi. Memuji Tuhan dalam semua kondisi kehidupan.

Ketiga: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan” (8:4). Pada ayat ini, manusia sudah mulai menyadari kemaha-akbaran Tuhan oleh semua ciptaan-Nya. Sungguh, manusia perlu melihat hamparan cakrawala itu, manusia patut berkeinginan memahami misteri bulan dan bintang-bintang, agar manusia sadar diri akan kesederhanaan, kenistaan – hametmeton ni dirina; namun di balik itu ia dapat menikmati langit, bulan dan bintang-bintang untuk menghibur dan memuaskan jiwa dan hatinya memuji Tuhan dalam sukacitanya.

Keempat: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Pertanyaan ini juga ditanyakan penulis Surat Ibrani (Ibr. 2:6) yang menunjukkan betapa pentingnya hal ini dipahami. Siapakah sesungguhnya manusia? Alkitab terjemahan Indonesia menyebut kata ‘manusia’ sebanyak 846 kali dari kitab Kejadian 1:26 hingga kitab Wahyu 21:17. (Di Bibel Batak Toba, disebut 1912 kali. Dan lebih banyak lagi dalam Alkitab King James Version, manusia disebut 4536 kali). Memang bagi Tuhan manusia itu berharga dan mulia; Manusia itulah yang merendahkan dirinya dan masuk ke jurang maut. Manusia pada titik yang paling rendah nyata dalam diri Yesus yang dihina dan disiksa oleh karena dosa dan kejahatan manusia. Dalam Yoh 19:5 dikatakan: Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah Manusia itu!" Yesus sendiri yang menyatakan diriNya Anak Manusia yang dipermuliakan pada akhir semua zaman. Wahyu 14:14 mencatat (“Anak Manusia” 85 kali disebut dalam Perjanjian Baru): “Dan aku melihat: sesungguhnya, ada suatu awan putih, dan di atas awan itu duduk seorang seperti Anak Manusia dengan sebuah mahkota emas di atas kepala-Nya dan sebilah sabit tajam di tangan-Nya.” Sesungguhnya manusia itulah centrum maksud dan pengasihan Allah, sehingga Tuhan Yesus datang ke dunia ini (Yoh 3:16).

Kelima: “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah”. (8:6a). Manusia dipersamakan dengan Allah. Posisi ini lebih tampak dalam fungsi pemeliharaan atas seluruh ciptaan. Daya cipta atau kreativitas yang ada pada manusia merupakan buah keillahian Tuhan dalam diri manusia. Kalau manusia pertama diciptakan dari debu tanah, manusia disuruh beranak-cucu untuk melanjutkan penciptaan itu. Manusia segambar dengan Allah, sehingga manusia mempunyai citra, sifat, tabiat dan nilai-nilai yang agak bersamaan dengan milik Tuhan. Kata “hampir sama seperti” menyadarkan kita bahwa setinggi apa pun posisi manusia, walau bagaimana pun hebatnya ia, manusia tetaplah manusia. Kita harus rendah hati dan sadar akan anugerah kasih Tuhan. Walau hampir sama seperti Allah, kita tetaplah membutuhkan ksih dan penyelamatan dari Tuhan.

Keenam: “dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (8:6b). Mahkota yang dimiliki manusia adalah kemuliaan dan hormat. Mahkota kehidupan dijanjikan akan diberikan kepada orang yang setia sampai mati (Wahyu 2:10c). Manusia diberi mahkota karena ia sudah berjuang dalam ketaatan dn kesetiaannya kepada Tuhan. Seorang penulis menegaskan: “No crown without cross” – Tidak ada mahkota tanpa salib. Tidak ada medali tanpa kemenangan dalam pertandingan. Manusia yang telah dimahkotai adalah manusia yang sudah teruji, lalu terpuji, karena sudah menjadi pemenang.

Ketujuh: “Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya (8:7) kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang (8:8) burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan (8:9). Manusia diberi kuasa untuk mengelola seluruh ciptaan milik Tuhan. Semuanya adalah milik, kekayaan, untuk kepentingan Tuhan; dan manusia hanya sebagai “pengelola” yang tentu saja boleh turut menikmatinya, namun tidak menikmatinya seperti seorang pencuri, sebagai orang asing, juga bukan seorang pelahap dan perusak, tetapi menikmati semua kekayaan Tuhan dengan penuh rasa syukur dan penuh tanggung jawab. Kuasa dan peluang serta berkat yang kita peroleh dari kemurahan Tuhan mestilah kita jalani dengan penuh rasa syukur, tanggung jawab dan dengan sukacita. Hanya dengan itu kita dapat mengakhirinya dengan pernyataan yang besar ini: “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (8:10). Amin.




Pdt. DR. M. Frans Ladestam Sinaga
HKBP Tangerang Kota

Senin, 22 Maret 2010

Bacaan Paskah 2, 5 April 2010 : Yesaya 26:15-19


Paskah 2, 5 April 2010 Yesaya 26:15-19


BANGKITLAH DAN BERSORAK-SORAI


MENGELUH DALAM DOA DAN PUJIAN

D
imulai dari ayat 1 fasal 26 ini kita dibersamakan dengan Nyanyian Puji-pujian, oleh umat pilihan Israel kepada Tuhan yang mengasihi mereka. Nyanyian mereka adalah kidung masa depan yang kelak akan terjadi dalam perjalanan sejarah bangsa itu. Namun Kidung Puji-pujian ini tidaklah melulu berisikan pujian; di dalamnya terkandung keluhan yang sangat dalam, doa permohonan dan ajakan untuk percaya kepada Tuhan. Tidak salah, kalau perikop ini kita namai “mengeluh dalam doa dan pujian” yang diungkapkan dengan cara berbisik (mengeluh dengan suara lirih) kepada Tuhan.
Nyanyian ini dimulai dengan kesaksian yang kuat tentang Tuhan yang menyelamatkan mereka. Dikatakan: “Pada waktu itu nyanyian ini akan dinyanyikan di tanah Yehuda: "Pada kita ada kota yang kuat, untuk keselamatan kita TUHAN telah memasang tembok dan benteng. Bukalah pintu-pintu gerbang, supaya masuk bangsa yang benar dan yang tetap setia! Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal” (26:1-4).
Di sini terungkap kebanggaan mereka atas Yerusalem sebagai kota yang kuat, tempat di mana mereka diselamatkan Tuhan. Pintu kota itu dibuka agar bangsa yang setia mendapatkan damai sejahtera dari Tuhan sebagai gunung batu yang kekal. Di masa pembuangan doxologi (pujian) ini muncul lagi di Yesaya 42:10-12 dalam konteks yang lebih luas dan spesifik. Dikatakan: “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya. Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung! Baiklah mereka memberi penghormatan kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau.”
Mereka memuji Tuhan “Sebab Ia sudah menundukkan penduduk tempat tinggi; kota yang berbenteng telah direndahkan-Nya sampai ke tanah dan dicampakkan-Nya sampai ke debu” (26:5); Sebaliknya, kaki orang-orang sengsara, telapak kaki orang-orang lemah akan menginjak-injaknya. Jejak orang benar adalah lurus, sebab Engkau yang merintis jalan lurus baginya (26:6-7). Inilah yang dinanti-nantikan mereka, yakni saat Tuhan menjalankan penghakiman atas bumi ini. Apakah itu? (a) Bahwa penduduk dunia akan belajar apa yang benar. (b) Bahwa tangan Tuhan dinaikkan, tetapi mereka tidak melihatnya. (c) Bahwa dalam kecemburuan Tuhan karena umat-Nya, mereka mendapat malu (d) Bahwa api akan memusnahkan dan memakan mereka habis! Mereka sudah mati, tidak akan hidup lagi, menjadi arwah, tidak akan bangkit pula; Mereka dihukum dan dimusnahkan, dan meniadakan segala ingatan kepada mereka (26:6-11,14).
Bagi umat yang setia itu: (a) TUHAN menyediakan damai sejahtera (b) Dalam penindasan, mereka tetap setia hanya memasyhurkan nama Tuhan (c) Jumlah umat kemuliaan Tuhan ini dibuat-Nya bertambah-tambah (d) Tuhan memperluas negeri mereka (26:12-13,15). Kalimat dalam ayat 15 ini menunjukkan hasil karya Tuhan yang membuat mereka sebagai bangsa yang menerima mujizat di balik semua penderitaan yang terjadi. Doa dan pengharapan mereka: akan terjadi mujizat pertumbuhan (bertambah-tambah) dan pengembangan (memperluas negeri) justeru di tengah ketidakmungkinan karena kepahitan hidup ini. “Ya TUHAN, Engkau telah membuat bangsa ini bertambah-tambah, ya, membuat bertambah-tambah umat kemuliaan-Mu; Engkau telah sangat memperluas negerinya.”


BERTUMBUH DAN BERKEMBANG DALAM PENINDASAN DUNIA

Sekali lagi, mujizat-mujizat semacam inilah yang sering kita alami dari kemurahan hati Tuhan Yesus. Oleh karya pengasihan Tuhan di balik, di dalam dan oleh semua aniaya dan penindasan yang terjadi dalam hidup kita, Tuhan mengadakan hal yang bertolak belakang menjadi kebaikan bagi kita. Mujizat pertumbuhan, mujizat perluasan, mujizat dalam pengembangan usaha, mujizat dalam peningkatan jabatan dan karir justru terjadi di tengah “penolakan”, “kebencian”, “rekayasa jahat” dan “aniaya” oleh penguasa dunia ini. Dan sekarang umat Israel sudah menjadi contoh bagi kita untuk mempercayai kebenaran Firman ini. Demikian juga rasul Paulus dalam 2 Korintus 4:8-9 mengatakan, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.”
Sampai di manakah batasan wilayah umat ini semakin diperluas? Ulangan 11:24 mencatat, “Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, kamulah yang akan memilikinya: mulai dari padang gurun sampai gunung Libanon, dan dari sungai itu, yakni sungai Efrat, sampai laut sebelah barat, akan menjadi daerahmu.” Yosua 1:3 mengatakan: “Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.” Yosua 14:9 juga dikatakan, “Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati.” Sungguh luar biasa rencana mujizat Tuhan. Anehnya, dengan mandat ini, maka semakin banyak – semakin jauh - wilayah yang diinjak kaki umat pilihan ini otomatis wilayah itu menjadi milik mereka, sekalipun mereka tiba di sana sebagai bangsa yang terbuang dan teraniaya. Fenomena ini terjadi sampai sekarang: Di mana umat ini berada di sana mereka diberkati dan menjadi pemilik. Berkat Tuhan memungkinkan kita umat-Nya di mana pun kita dilemparkan, di sana akan tumbuh, berakar, hidup dan berbuah.
Tuhan membuat umat-Nya bermutu tinggi dan menjadi berkat. Yesaya 26:16-19 mengatakan: “Ya TUHAN, dalam kesesakan mereka mencari Engkau; ketika hajaran-Mu menimpa mereka, mereka mengeluh dalam doa. Seperti perempuan yang mengandung yang sudah dekat waktunya untuk melahirkan, menggeliat sakit, mengerang karena sakit beranak, demikianlah tadinya keadaan kami di hadapan-Mu, ya TUHAN: Kami mengandung, kami menggeliat sakit, tetapi seakan-akan kami melahirkan angin: kami tidak dapat mengadakan keselamatan di bumi, dan tiada lahir penduduk dunia. Ya, TUHAN, orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah bangkitlah dan bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan arwah kembali.” Mereka yang setia berseru, berbisik dan mengeluh dalam doanya akan dihidupkan kembali oleh Tuhan. Kuasa pengasihan Tuhan bagaikan embun terang yang membangkitkan kembali dan menyegarkan benih-benih yang sebelumnya sudah “tergeletak” di tanah. Tuhan dengan kuasanya memberikan kehidupan baru.
Hari ini Pesta Kedua untuk memperingati, mensyukuri, mengimani dan meneladani Kebangkitan Tuhan Yesus. Nas ini berisi pernyataan Perjanjian Lama yang paling kuat dan tegas mengajarkan doktrin tentang kebangkitan tubuh (bnd. Ayb. 19:26; Mzm. 16:10; Dan. 12:2). Orang yang telah melayani Allah dengan setia akan bangkit dari bumi dan hidup kembali setelah mati (lih. Yoh. 5:28-29; 1Kor. 15:50-53; Flp. 3:21). Dia sudah bangkit. Umat pilihan-Nya yang dulu terpuruk akan dibangkitkan. Dari diri mereka tidak ada yang dapat dilahirkan. Mereka mengaku, “Kami mengandung, kami menggeliat sakit, tetapi seakan-akan kami melahirkan angin”. Dari diri kita sendiri kita tidak dapat menghasilkan apa-apa, apalagi untuk hidup kembali. Kita tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Kita sudah tergeletak bahkan terbuang tersia-sia di tanah – bumi dan kehidupan ita – ini. Dan syukurlah Tuhan Yesus sudah bangkit untuk menjadi kebangkitan kita. Maka bangkitlah dan bersorak-sorailah untuk kemuliaan nama Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.





Pdt. DR. M. Frans Ladestam Sinaga
HKBP Tangerang Kota, Jakarta-3

Jumat, 12 Maret 2010

Bacaan Paskah 1, 4 April 2010 : Roma 6:4-13


Paskah 1, 4 April 2010 Roma 6:4-13


MATI DALAM DOSA DAN
HIDUP BARU DALAM KRISTUS

Seorang anak SD kelas dua sedang belajar perkalian satu sampai sepuluh. Lalu ia ditanya oleh kakeknya, “Coba, berapa enam kali enam (6x6)?” “Tiga puluh enam kek!”. Jawabnya dengan lantang. Lalu kakeknya kembali bertanya: “Berapa sembilan kali delapan (9x8)?”. “Tujuh puluh dua kek!”, jawabnya dengan bangga lalu kakeknya bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya: “Berapa dua kali dua belas?” anak itu terdiam sebentar, lalu berteriak, “itu tidak ada kek!” Anak itu baru mengenal perkalian satu sampai sepuluh. Ia tidak tahu perkalian dua belas. Karena ia tidak tahu, lalu ia menganggap perkalian dua belas itu tidak ada.
Apa yang tidak kita ketahui, belum berarti bahwa itu tidak ada. Apa yang masih merupakan misteri, belum berarti bahwa itu tidak benar. Misalnya, mengenai tubuh Yesus yang dibangkitkan dalam peristiwa paskah. Apakah tubuh Yesus sesudah kebangkitan itu sama dan serupa dengan tubuh sebelum kebangkitan? Di mana letak kebenarannya? Alkitab memberi dua macam berita yang tampaknya seolah-olah saling bertentangan.
Di satu pihak, tubuh Yesus yang bangkit adalah sama dengan tubuhnya yang semula. Murid-murid-Nya mengenal Dia. Ia memperlihatkan lubang bekas paku pada tangan-Nya dan lubang bekas tombak pada lambung-Nya. Ia makan sepotong ikan di depan para murid-murid-Nya.
Namun, di lain pihak Yesus hadir dengan cara berada yang lain daripada sebelum kebangkitan-Nya. Ia bisa masuk begitu saja ke ruangan yang terkunci, sehingga para murid ketakutan karena dikiranya hantu. Dan kitab Injil Markus mencatat bahwa Yesus menampakkan diri “dalam rupa yang lain”. Dari kedua berita itu kita bisa menarik kesimpulan bahwa, di satu pihak ada kesinambungan, namun di lain pihak ada ketidak-sinambungan antara tubuh sebelum dan sesudah kebangkitan-Nya. Jika demikian apa yang hendak dimaksudkan Alkitab? Berita tentang tubuh Tuhan Yesus yang sinambung tetapi juga tidak sinambung? Alkitab hendak menegaskan bahwa Yesus yang bangkit itu adalah Yesus yang benar-benar Allah. Hal ini juga menunjukkan bahwa kebangkitan Tuhan Yesus bukan hanya sekedar hidup lagi dari kematian melainkan bahwa Ia dibangkitkan ke suatu hidup yang lain.
Kadang-kadang memang ada orang yang secara klinis sudah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter, lalu beberapa jam kemudian ia hidup lagi. Kebangkitan Yesus sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan kejadian seperti itu. Tuhan Yesus bukan hanya sekedar hidup lagi, melainkan Ia dibangkitkan ke suatu hidup yang baru. Sebelum Yesus bangkit dari kematian Dia mempunyai tubuh seperti manusia biasa (tubuh sarx), yaitu tubuh yang sementara, yang dapat sakit, rusak, mati dan busuk. Sedang tubuh Yesus setelah bangkit berubah menjadi tubuh kekal (soma) yaitu tubuh yang baru, yang tidak mau rusak, mati, busuk, melainkan kekal dan tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Itulah makna kebangkitan Yesus dari kematian. Dia telah mengalahkan dosa, iblis dan maut. Demikian juga orang yang percaya akan kebangkitan-Nya, akan beroleh keampunan dosa dan kehidupan yang kekal (Yoh. 3:16). Orang percaya selamat bukan karena kebaikannya dan karena kemampuannya untuk melakukan Hukum taurat dan tidak berbuat dosa, melainkan hanya karena anugerah Allah dalam iman Yesus Kristus (Rm. 3:21-31).
Seperti yang sering Paulus katakan dalam surat Roma ini, sekali lagi, di sini ia memberikan suatu argumentasi dalam perdebatannya melawan penentang yang mengatakan, bila keselamatan hanya oleh iman, marilah kita berbuat dosa. Pokok perdebatan itu timbul dari kalimat terakhir dari pasal yang lalu: “Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (6:1-2). Paulus sangat menentang pandangan seperti itu. Ia bertanya: “Apakah kamu berpendapat, bahwa seharusnya kita tetap berbuat dosa agar supaya memberikan lebih banyak kesempatan kasih karunia dinyatakan?” Allah melarang kita melakukan jalan seperti itu.
Hal itu berkenaan dengan keadaan di mana Paulus pada waktu itu menghadapi kebudayaan bahkan agama-agama misteri Yunani di kota Roma, yang penuh keajaiban. Mereka menawarkan kepada manusia kelepasan dari kesusahan, kesedihan dan ketakutan dalam dunia ini; dengan jalan mengadakan persekutuan dengan salah satu dewa. Agama misteri itu selalu dipentaskan dan selalu didasarkan pada cerita tentang suatu dewa yang menderita, mati dan bangkit kembali. Cerita itu dinamakan dalam suatu drama, sebelum seseorang boleh melihat drama itu, ia harus menjalani disiplin petapa. Ia harus dipersiapkan dengan cermat. Drama itu dimainkan dengan musik, lampu, dupa dan kegaiban. Ketika drama itu sedang dimainkan, orang itu melalui pengalaman emosional dipersatukan dengan dewa itu. Sebelum ia memasuki ini, ia harus melewati upacara yang selalu melambangkan kematian yang diikuti dengan kelahiran baru, dengan jalan inilah orang dilahirkan kembali (renatus in alternum) untuk hidup di kekekalan. Seorang yang telah melewati upacara ini mengatakan, bahwa ia melakukan “suatu kematian suka rela”. Hal ini sama sekali bukan hendak mengatakan bahwa Paulus meminjam ide-ide maupun kata-katanya dari praktek-praktek keyahudian atau kekafiran; tetapi kata-kata dan gambaran yang digunakannya sudah dikenal dan dimengerti oleh orang Yahudi dan Yunani ketika itu.
Berkaitan dengan itu, ada tiga hal yang perlu difahami orang Kristen: Pertama, hal yang sangat buruk sekali jikalau berusaha mengandalkan kasih karunia Allah dan menjadikannya alasan untuk berbuat dosa. Itu berarti bahwa ia mengambil keuntungan dari kasih untuk menghancurkan hati orang yang mengasihinya yaitu Allah sendiri. Kedua, orang yang masuk dalam persekutuan Kristen ialah orang yang bertekun dalam cara hidup yang sama sekali baru, dan harus berbeda dari dunia. Ketiga, seorang yang menerima Kristus, maka itu lebih daripada sekedar perubahan moral-etis, tetapi ada sesuatu identifikasi yang nyata dalam Kristus. Perubahan moral-etis tidak mungkin tanpa adanya persekutuan di dalam Kristus. Dalam arti manusia tidak dapat berbuat apa yang baik dan benar kecuali dia barada dalam Kristus (Yoh. 14:6)
Dengan demikian, seorang yang percaya dan hidup dalam Kristus, dia telah mati dalam dosa dan hidup baru dalam kasih Kristus dan pada wau yangsa harus menunjukkan pengalaman rohaninya dalam praktiknya. Kekristenan bukanlah hanya suatu pengalaman emosional, atau hanya pengakuan, melainkan suatu jalan hidup yang dinyatakan melalui tindakan dan perbuatan: “Christianity not only Creed, but also Deed”. Menjadi orang Kristen bukan untuk menikmati suatu pengalaman, bagaimanapun hebatnya. Tetapi bagaimana seseorang itu diarahkan untuk keluar dan menghadapi serangan-serangan dari dunia dan masalah-masalah yang ada. Memang biasa dalam kehidupan beragama untuk duduk di dalam Gereja dan menikmati gelombang perasaan yang meluap di hati kita. Dan tidak aneh jika kita duduk sendiri dan merasakan Kristus amat dekat. Tetapi Kekristenan yang berhenti sampai di situ adalah Kekristenan yang berhenti di tengah jalan. Emosi pengalaman rohani itu harus dinyatakan dalam tindakan. Kekristenan tidak hanya pengalaman pribadi, tetapi harus nyata dalam praktek hidup sehari-hari..
Pada saat seseorang masuk ke gelanggang kehidupan dunia, ia dihadap-mukakan dengan situasi-situasi menakjubkan. Untuk itu orang percaya harus turur serta berperan di dalamnya. Allah dapat bekerja melalui manusia, apabila ia hendak mengucapkan sepatah kata, Ia harus mencari orang untuk mengucapkannya. Apabila Allah ingin melakukan sesuatu, Ia harus mencari orang untuk mengerjakannya. Apabila Allah ingin membesarkan hati seseorang, Ia harus mencari orang untuk melakukan hal itu. Demikian juga dengan iblis, setiap orang didorong untuk berbuat dosa. Iblis mencari orang yang mau menggoda orang lain untuk berbuat dosa melalui kata-kata dan perbuatan mereka. Paulus seolah-olah mengatakan: Dalam dunia ini ada suatu perlawanan antara Allah dengan iblis, “pilihlah pihakmu!” Kita diperhadapkan dengan dua pilihan, yaitu menyerahkan diri menjadi orang yang berada di pihak Allah atau di pihak iblis.
Seseorang mungkin berkata: “Pilihan seperti itu tidak dapat saya lakukan, saya pasti gagal”. Paulus menjawab, “Jangan berkecil hati dan jangan putus asa: kamu tidak akan dikuasi lagi oleh dosa”. Mengapa? Karena kita tidak lagi dibawah Hukum Taurat melainkan dibawah anugerah dalam Krisus. Kita tidak lagi berusaha memenuhi tuntutan Hukuman Taurat, tetapi berusaha untuk hidup dalam Kristus yang hidup dalam kasih dan kasih karunia Allah. Kehidupan Kristen bukanlah suatu belaan untuk dipikul, melainkan suatu hak untuk hidup sesuai dengan kasih itu. “Bukanlah pengekangan tetapi dorongan kasih yang membebaskan kita dari dosa; bukan Gunung Sinai melainkan Kalvari yang menjadikan orang, anak-anak Allah” (Denney). Inspirasi orang-orang Kristen bukan datang dari ketakutan akan hukuman, tetapi dari keyakinan tentang apa yang telah Allah kerjakan bagi dia. Untuk itu, terimalah Yesus Kristus yangg telah bangkit itu menjadi Juru Selamatmu, matilah bersama dia dam dosa dan hiduplah dalam ehidupan baru dalam kasih-Nya. Amin




Pdt. B.T. Simarmata, M.Th
Dosen STT HKBP P.Siantar

Bacaan Jumat Agung, 2 April 2010 : Mika 7:7-12


Jumat Agung, 2 April 2010 Mika 7:7-12


BERHARAP KEPADA TUHAN

Renungan pada Jumat Agung ini, sangat mengesankan bagi kita. Mengapa? Sungguh, Firman Tuhan ini berhubungan dengan kondisi kita dewasa ini. Sebagai seorang nabi yang hidup di Israel Selatan (Moresyet), Mika memberitakan tuntutan Allah di tengah situasi kesederhanaan hidup seperti persoalan ladang-ladang yang dimiliki orang desa (2:2; 4:5). Dalam situasi seperti itu, perhatian lebih besar diberikan kepada nafsu serakah dan tindakan kasar dari orang-orang yang datang dari kota besar Yerusalem, yang rumah-rumah mewah mereka disewakan di Moresyet. Mereka suka menipu (6:11) dan merebut apa saja yang mereka inginkan (2:1-2; 6:9-11). Mereka merebut ladang-ladang karena utang yang tidak dibayar (2:2, 4).
Apa hubungannya antara teks ini dengan Jumat Agung yang umumnya berisikan via dolorosa (jalan penderitaan)? Lalu apa keterkaitan ini semua dengan kehidupan kita? Apa yang mau Tuhan sampaikan kepada kita semua? Inilah ketertarikan itu!
Di saat-saat cerminan hidup yang benar tidak dapat diharapkan, keadilan dan kebenaran seharusnya ditegakkan, suara nabi seharusnya berbicara, namun tidak juga berbicara, di saat-saat manusia seharusnya hidup saling tolong-menolong, namun berubah menjadi hidup yang serba ganas dan buas, kerakusan konsumtif dan konsumerisme semakin membahana. Di saat-saat seorang ayah dan ibu menjadi teladan tapi tidak kunjung menjadi teladan, di saat-saat pemimpin seyogianya melayani tapi malah memerintah sekehendak hatinya, hukum dipermainkan oleh mereka pemegang kendali hukum. Akibat situasi seperti itu, maka mulailah muncul krisis diri, krisis identitas. Tidak lagi ada yang bisa dipercaya. Tidak ada lagi yang menjadi panutan dan teladan. Tidak ada lagi yang memotivasi dan memberi semangat. Umumnya bila hal ini muncul maka timbul pesimistik. Hidup dipenuhi dengan sikap pesimis. Segala sesuatu tidak punya tujuan dan pengharapan. Begitulah kondisi Israel ketika itu. Seperti Indonesia saat ini seperti sebuah negeri kaum bedebah (hidup yang dikuasai para penguasa tanpa atau dengan menginjak-injak hukum).
Namun yang menarik bagi kita adalah, Mika tidak sama dengan orang yang pesismistik. Selalu ada pengharapan yang baru yang ia nantikan, sekalipun kondisi Israel tidak lagi mencerminkan umat Allah ketika itu (7:1-6). Iman Mika hidup dalam ungkapan dengan kesadaran dan pergumulan, Celakah aku!
Apa kiat agar kita tidak terjatuh dalam krisis identitas tersebut? Kuncinya ialah berharap kepada Tuhan. Tidak ada lagi selain itu. Hidup berpusat hanya pada Tuhan semata. Totalitas diri hanya berpaut pada-Nya. Masalahnya, sering dihadapi pemahaman bahwa hidup berpusat dengan Tuhan tentu hidup yang sukses. Hidup dengan Tuhan pasti jauh dari penderitaan dan kesengsaraan. Sadar atau tidak, teologi sukses sering menyelimuti pikiran manusia, yang berpikir: ”Hidup bersama dengan Tuhan tidak akan mengalami penderitaan lagi”. Padahal, hidup bersama Tuhan adalah lebih tepat dengan gambaran via dolorasa saat ini. Tidak ada keberhasilan diraih tanpa perjuangan (No sucsessfull without strugle. No crown without ross!. No gain without pain). Tuhan tidak pernah berjanji untuk memberikan kenyamanan dalam hidup ini. Yang Tuhan janjikan adalah Tuhan menyertai kita dalam segala perjalanan hidup ini. Artinya, dalam perjalanan kehidupan kita yang pasti terjadi dan nyata adalah penyertaan Tuhan kepada kita. Tuhan menyertai kita di kala susah dan juga menyertai kita di kala berbahagia. Tuhan menyertai kita di kala sakit dan pasti juga Tuhan menyertai kita di dalam masa-masa sehat. Tuhan menyertai kita di masa kesulitan ekonomi, dan juga menyertai kita di kala kita memiliki harta yang banyak. Tuhan pasti menyertai kita di kala anak-anak kita tidak berlaku baik kepada kita, dan pasti juga menyertai kita di kala anak-anak kita mendapatkan kesuksesannya. Penyertaan Tuhan tiada batasnya, bahkan Ia rela mati demi penyertaannya bagi kehidupan kita. Dia mati di kayu salib agar kita memperoleh hidup. Dia mati agar kita hidup. Sungguh luar biasa penyertaannya bagi kita umat ciptaan-Nya.
Sama seperti Kristus yang telah merendahkan diri-Nya di kayu salib untuk memenangkan banyak orang. Ia mati untuk kehidupan manusia. Ia mati agar kita hidup. Ia mengorbankan segalanya demi manusia mendapatkan segalanya. Ia menaklukkan kuasa kematian agar manusia tidak takut lagi kepada kuasa kematian. Kematian selalu menghampiri manusia. Persoalannya, sering kita menganggap kematian merupakan musibah. Namun bagi orang Kristen kematian adalah proses untuk meraih kehidupan yang kekal itu sendiri. Yesus sudah membuktikan itu.
Umumnya orang paling suka membalaskan kejahatan. Seharusnya, persoalan pembalasan atas kejahatan itu bukanlah hak manusia karena pembalasan sesungguhnya milik Tuhan walau memang benar dari realitanya manusia saling membalas kejahatan dan jatuh dalam jurang permusuhan. Paling tragisnya, kita paling suka menanti-nantikan lawan kita tersandung dan bersiap-siap menertawakannya. Itulah sikap mental orang bermusuhan. Mika tidak demikian. Persoalan hidupnya dibawa kepada Tuhan, dan ketika itulah sesungguhnya musuh telah bertekuk padanya. Mengapa? Karena musuh sesungguhnya diri sendiri. Bukan orang lain. Mika mengenal kelemahan dan kekurangannya sehingga ia mengharapkan Tuhan akan memuaskannya (7:8-10).
Dalam masa-masa Jumat Agung ini, marilah kita tidak saling menghujat dan membalas segala kesalahan dan dosa sesama manusia. Sama seperti Yesus ketika Dia dianiaya, difitnah selama perjalanan-Nya menuju kayu salib, Dia tidak pernah meminta pembalasan kepada musuh-musuh-Nya, melainkan Dia melepaskan pengampunan bagi orang yang telah berbuat jahat kepada-Nya. Dengan melepas pengampunan kepada pihak musuh kita, berarti kita telah memperoleh kekuatan ilahi dari Tuhan.
Dalam pergumulan hidunya, Mika pada akhirnya memiliki pengharapan akan masa depan. Ia punya visi yang jelas. Akan datang suatu hari bahwa pagar tembokmu akan dibangun kembali; pada hari itulah perbatasanmu akan diperluas. Pada hari itu orang akan menghadap engkau dari Asyur sampai Mesir, dari Mesir sampai sungai Efrat, dari laut ke laut, dari gunung ke gunung. Keterpautan Mika yang selalu berpusat pada Tuhan saja pada akhirnya menghasilkan pengharapan bahwa pasti ada perubahan. Pasti. Habis gelap terbitlah terang karena tidak mungkin gelap terus hadir dan berkuasa! Tidak mungkin setiap masalah dan persoalan tanpa solusi. Semua pasti ada jalan keluar. Kristus telah membuktikan itu. Ia membuktikan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang dan dibuktikannya dengan via dolorosa. Ini artinya tanpa pengharapan, tanpa semangat, tanpa kegairahan hidup kita tidak mampu berpikir jernih dan hidup bersemangat. Jadi hidup orang Kristen hendaknya punya visi ke depan karena hidup ini berjalan terus lurus ke depan menuju kekekalan.

Bahan diskusi
1. Bila hidup mengancam, apakah dasar pijakan kita? Hartakah? Posisi atau jabatan?
2. Bila situasi dalam keadaan kacau, hukum tidak diindahkan, kebenaran dan keadilan diinjak-injak, orang-orang lemah diperlakukan tidak wajar, apa yang dapat kita perbuat?
3. Bagaimana perasaan Bapak/Ibu dan Saudara/Saudari saat berhadapan dengan orang yang paling dibenci? Maukah kita memaafkannya seperti Kristus telah mengampuni kita dari dosa kita?
4. Apakah menurut Bapak/Ibu dan Saudara/Saudari sudah memiliki visi ke depan?
5. Bila kita memiliki misi ke depan, bagaimana cara kita untuk mewujudkan itu melalui misi?




Pdt. Budiman Tua Simarmata, M. Th.
Dosen STT-HKBP Pematangsiantar

Rabu, 03 Maret 2010

BAHAN CERAMAH TEMA DAN SUB TEMA SINODE AM XVI GKPA


BAHAN CERAMAH TEMA DAN SUB TEMA SINODE AM XVI GKPA
PADANGSIDIMPUAN, 15-19 JULI 2009

“BERGIATLAH UNTUK PEKERJAAN TUHAN”
(1Korintus 15:58b)
Ramli SN Harahap


Teks:

ANGKOLA-MANDAILING
Hara ni i hamu ale angka dongan na nihaholongan, sai togu ma hamu jana hot. MARSITUTU MA MARKAREJO DI TUHAN, angke diboto hamu do, sude na nikarejohonmunu di Tuhan, nada sayang boti sudena i

LAI
Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan GIATLAH SE-LALU DALAM PE-KERJAAN TUHAN! Sebab kamu tahu, bahwa dalam per-sekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia

KJV
Therefore, my beloved brethren, be ye stedfast, un-moveable, ALWAYS ABOUNDING IN THE WORK OF THE LORD, forasmuch as ye know that your labour is not in vain in the Lord

NOVUM TESTAMENTUM
ωστε αδελφοι μου αγαπητοι εδραιοι γινεσθε αμετακινητοι περισσευοντες εν τω εργω του κυριου παντοτε ειδοτες οτι ο κοπος υμων ουκ εστιν κενος εν κυριω



PENDAHULUAN

Kita patut bersyukur pada perhelatan Sinode Am XVI GKPA ini kita kembali berkumpul dan bersatu bersama di Kantor Pusat Pusat Pembinaan GKPA ini untuk selama 5 hari yang dimulai sejak 15-19 Juli 2009. Tentunya sebelum Sinode Am ini dimulai sudah banyak persiapan yang kita lakukan baik di tingkat Parlagutan, Resort, Distrik maupun Pusat, untuk menghadiri dan memasuki setiap persidangan sinode ini. Sinode Am XVI GKPA kali ini merupakan Sinode Am Kerja, artinya tugas sinode ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan tugas amanah Sinode Am XV yang lalu, dan sekaligus memantapkan ulang tugas-tugas sinode periode 2006-2011.

Kehadiran peserta Sinode Am Kerja XVI GKPA ini diberi tugas untuk memantapkan pelayanan GKPA periode 2006-2011 yang diterangi tema: “BERGIATLAH UNTUK PEKERJAAN TUHAN” (1Korintus 15:58b). Tema Sinode Am GKPA ini menjadi fokus kita selama periode ini. Artinya, dalam periode ini yang dituntut dari kita semua warga jemaat GKPA, para Sintua, para Bibelvrou, Diakones, Guru Parlagutan dan Pendeta GKPA adalah bergiat untuk perkerjaan Tuhan.

Jika kita perhatikan tema-tema Sinode Am GKPA, maka kita akan melihat penekanan-penekanan khusus setiap periode GKPA demi mencapai pertumbuhan dan perkembangan GKPA.

TEMA 1986-1991 : PERSEMBAHKANLAH TUBUHMU SEBAGAI PERSEMBAHAN YANG HIDUP (Rm.12:1)
TEMA 1991-1996 : KEMANDIRIAN TEOLOGI, DAYA, DAN DANA
TEMA 1996-2001 : BERTUMBUH BERSAMA MENUJU KEDEWASAAN DAN KEMANDIRIAN (Ef.4:11-16)
TEMA 2001-2006 : AKU MENETAPKAN KAMU UNTUK MENGHASILKAN BUAH
(Yoh.15:16b)
TEMA 2006-2011 : GIATLAH DALAM PEKERJAAN TUHAN (1Kor.15:58b)

Dari tema-tema sinode di atas, kita melihat bahwa pada awal kemandirian (panjaeon) GKPA (d/h. HKBP-A) tidak memiliki tema periode sebab pada awal kemandirian tersebut GKPA masih terfokus pada pembenahan pelayanan dan organisasi gereja. Namun sejak 1986, GKPA telah menetapkan tema-tema sinode am. Dengan tema-tema dimaksud, GKPA memiliki visi dan misi antar sinode untuk mencapai visi dan misi GKPA secara umum. Visi GKPA secara umum adalah “PATANAKHON HATA NI DEBATA DI LUAT ANGKOLA”.

Tema sinode kita diawali dengan mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, dengan mempersembahkan diri maka kita bisa mandiri di bidang teologi, daya, dan dana. Dengan adanya dasar teologi yang kuat di GKPA yang dibarengi peningkatan kualitas SDM pelayanan dan warga jemaat GKPA, serta dukungan seluruh warga jemaat GKPA dalam mendanai program pelayanan GKPA, maka GKPA diharapkan mampu bertumbuh secara bersama menuju kedewasaan dan kemandirian. Gereja dan warga jemaat yang sudah mandiri dan dewasalah diharapkan menghasilkan buah-buah yang tetap untuk menopang pertumbuhan GKPA. GKPA dan warga jemaat yang terus berbuah tetap itulah diharapkan mampu bergiat dalam perkerjaan Tuhan.


PENJELASAN TEKS

Kata giat dalam kata aslinya adalah perisseuontes (artinya: majulah). Kata giat ini dalam KUBI diberikan arti: (1) rajin, bergairah, dan bersemangat; (2) tangkas dan kuat. Sedangkan kata bergiat, artinya: berusaha dengan sungguh-sungguh. Giat berarti: aktivitas dalam pengertian setiap waktu, setiap saat, kapan pun, di mana pun juga dalam pekerjaan Tuhan harus ditandai dengan semangat. Dengan demikian, jika dikatakan bergiatlah, maka diharapkan dari kita supaya kita dengan rajin, bergairah dan bersemangat berusaha dengan sungguh-sungguh.

Untuk pekerjaan siapakah kita bergiat? Untuk perkerjaan Tuhan. Perhatikan kalimatnya, “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan”. Pekerjaan Tuhan itu bukanlah kita kerjakan untuk sekali saja, seminggu saja, sebulan saja, setahun saja, atau sepuluh tahun saja. Tetapi pekerjaan Tuhan itu kita kerjakan selalu. Kata “selalu” berarti terus-menerus, berkesinambungan, hingga akhir hidup kita.

Coba kita bayangkan, untuk kegiatan sebuah adat pernikahan, sebuah keluarga harus mempersiapkan segala sesuatunya agar keluarga tidak merasa malu dan dipermalukan di hadapan masyarakat yang hadir dalam pesta tersebut. Maka untuk mencapai kesuksesan pesta pernikahan itu maka setiap keluarga melaksanakan persiapan yang cukup matang, mulai dari ‘mangkhobar boru’ sampai kepada parbagashon boru’. Artinya, untuk sebuah pernikahan keluarga harus melaksanakan sebuah tahapan-tahap yang matang agar mereka tidak tercela di dalam masyarakat.

Demikianlah seharusnya dalam melaksanakan pekerjaan Tuhan. Kita harus mempersiapkan segala pelaksanaan pekerjaan Tuhan dengan sungguh-sungguh agar Tuhan tidak dipermalukan di hadapan umat, melainkan agar Tuhan dipermuliakan di hadapan umat. Dengan pengertian ini, maka setiap pelayanan kita di setiap jemaat, resort, distrik, pusat yang kita pimpin haruslah kita siapkan dengan begitu matang agar setiap apa yang kita laksanakan dalam pelayananan kita terasa bahwa nama Tuhan dipermuliakan.
Paulus mengatakan, “berdirilah teguh…jangan goyah”. Berdiri teguh itu adalah istilah yang dipakai dari akar kata duduk/kursi. Maka yang dimaksud Paulus di sini ialah bertahan, kuat, teguh. Sedangkan kata kedua yaitu ‘goyah’ itu istilah yang terkait dengan arti goncangan seperti goncangan gempa bumi maka jangan goyah berarti tidak goncang (unshakingly). Kita mengerti kalimat berdirilah teguh dan jangan goyah menyatakan hal yang bersifat defensif (bertahan). Paulus memberi nasihat pada jemaat di Korintus untuk bertahan. Paulus yang memberi nasihat ini berdasarkan konteks pasal ini yaitu perihal doktrinal, di mana maksudnya itu berdirilah teguh dan jangan digoyangkan oleh pengajaran sesat. Paulus memberi nasihat untuk berani bertahan karena Kristus pun pernah bertahan dan menang. Kebangkitan Kristus membangun pengharapan untuk bertahan. Bertahan di dalam pelayanan dan bertahan terhadap tantangan kedagingan. Maka dari itu hal yang paling sulit dalam penginjilan itu adalah bertahan terhadap dosa dan kedagingan. Supaya api penginjilan bisa tetap konsisten yaitu dengan bertahan terhadap kedagingan yang memudarkan api itu. Orang yang selesai ikut retreat penginjilan, pasti memiliki semangat/api yang bernyala-nyala. Setiap bertemu dengan orang tidak ada pembicaraan lain selain pembicaraan mengenai Injil. Tetapi ketika orang tersebut jatuh pada hal kedagingan, maka orang itu tidak lagi mencintai jiwa-jiwa, tidak lagi mencintai penginjilan, tidak lagi mencintai firman Tuhan. Bukan berarti tidak ada cinta atau cintanya berhenti, cintanya itu tetap ada, dan cinta itu tidak pernah berakhir. Perlu diingat bahwa cinta itu tidak pernah berakhir/berhenti tetapi beralih. Orang yang tidak lagi mencintai firman Tuhan, cintanya tetap ada namun telah beralih pada kedagingan/hal-hal duniawi. Salah satu sebab yang paling penting dari orang Kristen yang malas memberitakan Injil, adalah bertumbuhnya kasih akan hal-hal dunia.
Selanjutnya, Paulus mengatakan: “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan”. Kalimat ‘giatlah selalu’ itu harus kita kaitkan dengan istilah ‘jerih payah’ yang muncul di dalam kalimat terakhir di ayat 58. Kalimat ‘jerih payah’ ini seringkali dipakai Paulus dalam pelayanan seperti contohnya di Roma 16:12 (pada kata ‘bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan’). Akar kata ‘jerih payah’yang tertulis dalam surat 1 Korintus 15:58 memiliki kesamaan dengan akar kata ‘bekerja membanting tulang’ yang tertulis pada surat Roma 16:12. Bergiat itu artinya bekerja keras/bekerja mati-matian. Jikalau Kristus sudah menang dan bangkit, itu kemenangan yang terbesar, membangkitkan orang Kristen untuk berapi-api bekerja bagi Tuhan bukannya pasif. Semua orang Kristen harus militan. Bandingkan dengan orang komunis atau orang Saksi Yehuwa yang mempunyai sikap militan luar biasa.
Terakhir, Paulus mengatakan: “Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”. Pada ayat 13-14 dari pasal 15 ini dikatakan bahwa jikalau Kristus tidak bangkit maka pemberitaan kami sia-sia dan kepercayaanmu pun sia-sia. Paulus sudah membicarakannya bahwa bila Kristus tidak bangkit maka sia-sialah jerih payah kita. Kristus sudah jelas menang namun mengapa kita masih tidak berani berjerih payah bagiNya? Ingatlah, dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidaklah sia-sia. Tuhan pasti mengingat seluruh jerih payah kita di dalam pelayanan jauh melampaui manusia berdosa yang mengingat/menghitung jasa sesamanya yang turut berjerih payah bersama-sama.


BERGIATLAH UNTUK PEKERJAAN TUHAN


Dalam konteks ber-GKPA, apakah yang harus kita giatkan dan pekerjaan apa yang harus terus kita lakukan? Sebenarnya ada banyak hal yang harus kita kerjakan dengan giat secara terus menerus di dalam pelayanan GKPA baik secara organisasi gereja maupun pelayanan umat. Di bawah ini akan kita uraikan sebagian dari sekian banyak yang harus kita kerjakan di dalam ber-GKPA ini, yakni:

A. BERGIAT MEMPERTAJAM VISI DAN MISI GKPA

Sebelum membahas pertanyaan ini, saya mau mengajak kita kepada sebuah pertanyaan mendasar, yakni apakah visi dan misi GKPA? Pertanyaan ini perlu kita jawab secara pasti dan tegas. Mengapa? Karena dalam visi dan misi GKPA inilah tertuang pekerjaan Tuhan yang harus kita kerjakan dengan giat dan terus menerus.

Berdasarkan penelitian yang saya lakukan dalam seluruh dokumen-dokumen GKPA, tidak ditemukan secara tertulis visi dan misi GKPA ini. Visi dan misi GKPA hanya disampaikan secara “lisan” (oral) dari mulut ke mulut, namun tidak tercantum dalam Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA atau dalam dokumen GKPA lainnya. Kata para pendiri dan pelopor GKPA (founding fathers), visi GKPA adalah “PATANAKHON HATA NI DEBATA TU LUAT ANGKOLA” (MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN KE DAERAH ANGKOLA). Visi ini sungguh mulia. Itu makanya para pejuang panjaeon GKPA (d/h. HKBP-A) sangat bergiat dalam rangka memberitakan firman Tuhan ke daerah Angkola dengan cara menyumbang tenaga, pikiran, daya dan dana mereka agar penginjilan Firman Tuhan ke daeah Angkola yang tinggal di bona bulu semakin mantap dan baik. Mereka mau menyewakan rumahnya untuk dijadikan sebagai Kantor Pusat GKPA. Ada yang bekerja siang dan malam tanpa mengharap imbalan dari siapa pun. Artinya melalui visi GKPA ini, perhatian pelayanan GKPA adalah daerah Angkola-Mandailing bukan daerah perkotaan. Visi ini masih dipertahankan hingga 1990-an.

Namun seturut pergeseran waktu dan perkembangan jaman, visi dan misi GKPA pun turut bergeser. Perhatian pelayanan kita mulai bergerak dari desa ke kota. Bahkan perhatian pelayanan sudah sepenuhnya mulai mengarah ke daerah kota. Mengapa? Karena GKPA butuh perkembangan, karena GKPA ingin lebih besar, karena GKPA mau mengabarkan Injil ke pada orang-orang Angkola-Mandailing yang ada di perantauan agar mereka mendapatkan pelayanan dengan nuansa bahasa dan budaya Angkola-Mandailing di perantauan mereka. Akhirnya, mulailah GKPA mengembangkan pelayanannya untuk orang-orang Angkola-Mandailing di perantauannya.

GKPA juga tidak mau puas dengan hanya menginjili bagi orang-orang Angkola-Mandailing di perantauan, tetapi dengan semangan penginjilan yang luar biasa, GKPA juga membuka diri untuk suku-suku bangsa lain (misalnya: Toba, Nias, Jawa, Ambon, dll). GKPA bukan lagi gereja suku, melainkan GEREJA AM (TG ps.1). Gereja Am artinya bukan hanya gereja orang-orang Angkola-Mandailing saja, melainkan GEREJA SUKU BANGSA. Waulaupun nama organisasinya ada nama Angkola, itu hanya menampakkan identitas diri bahwa gereja kita tumbuh dan berada di daerah Angkola, tetapi pelayanannya kepada orang-orang kudus dan am.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka saya mengusulkan di dalam Sinode Am Kerja ini untuk mempertajam visi dan misi GKPA sebagai berikut:
1. Visi dan misi GKPA agar dituangkan dalam TG dan TL GKPA
2. Visi dan misi GKPA dipertajam sebagai berikut:


VISI GKPA WAKTU PANJAEON:

“PATANAKHON HATA NI DEBATA TU LUAT ANGKOLA”
(MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN KE DAERAH ANGKOLA)

USUL PERUBAHAN VISI GKPA:

“PATANAKHON HATA NI DEBATA TU HALAK ANGKOLA DOHOT TU SUDE NA BANGSO”
(MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN KEPADA ORANG ANGKOLA DAN KEPADA SUKU-SUKU BANGSA).

Pertajaman visi ini akan memperlihatkan bahwa GKPA bukan hanya terfokus lagi kepada pelayanan geografis Angkola saja tetapi mengembang ke lintas geografis di dunia ini untuk menjangkau orang-orang Angola dan suku-suku bangsa dunia ini. GKPA menjadi gereja yang mendunia walau berkantor pusat di Padangsidimpuan.
Untuk mencapai visi GKPA ini, maka kita harus mencapai dan mewujudkannya melalui misi GKPA. Misi GKPA ini harus tertuang dalam periode-periode kepemimpinan GKPA. Usulan saya sebagai misi GKPA adalah:


MISI GKPA:

a. Memberitakan Firman Allah supaya Firman Allah tersebut didengar, dipelihara dan dilaksanakan sebagai sumber kebahagiaan (Lukas 11:28).
b. Bersaksi, menegakkan dan mempertahankan KABAR BAIK sampai akhir zaman (Wahyu 2:10), bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya JALAN, KEBENARAN dan HIDUP (Yohanes 14:6).
c. Menyatakan kuasa Allah melalui pelayanan dalam masyarakat agar Firman Allah semakin bertumbuh dan berkembang.
d. Meningkatkan dan mengembangkan kesadaran dan kemampuan GKPA sebagai Gereja yang mandiri.
e. Untuk mencapai visi GKPA, maka GKPA bermisi menjadi gereja yang:
1. Giat
2. Kudus
3. Pemberita Injil (Patanakhon hata ni Debata)
4. Am (menyeluruh tanpa memandang suku)


B. BERGIAT MEMBENAHI GKPA

GKPA sebagai institusi memerlukan penatalayanan-penatalayanan baik penatalayanan organisasi gereja maupun penatalayanan pelayanan kepada warga jemaat GKPA. Karena itu tugas membenahi GKPA tidak bisa dikerjakan hanya sekali saja, melainkan pembenahan itu dikerjakan terus menerus hingga mencapai kesempurnaannya. Apa-apa saja yang perlu kita benahi?
1. Melayani sesuai aturan GKPA. Artinya, jika kita sebagai warga jemaat, bersikaplah sebagai warga jemaat, jika kita sebagai sintua, bekerjalah sebagai sintua, jika sebagai pendeta, melayanilah sebagai pendeta. Karena sudah diatur segala bentuk pelayanan kita dalam Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA. Jika sudah waktunya pensiun, ya pensiunlah, jangan lagi memaksakan diri untuk melakukan pelayanan itu biar GKPA ini semakin maju.
2. Benahi Aturan Peraturan yang baik. GKPA sebagai lembaga gereja harus memiliki jenjang hukum yang jelas dan tegas, mulai dari Keputusan Sinode, Keputusan Pucuk Pimpinan, Keputusan Ephorus, Keputusan Praeses, dan Keputusan Pendeta Resort. Dengan penetapan posisi keputusan ini, maka keputusan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan keputusan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, tidak boleh jabatan yang lebih rendah membatalkan keputusan yang lebih tinggi.
3. Benahi teologi dan doktrin GKPA. Teologi dan doktrin GKPA harus dijaga kemurniannya oleh seluruh warga GKPA agar GKPA semakin kuat dalam menghadapi perkembangan teologi jaman sekarang. GKPA dalam merumuskan dan menetapkan setiap teologi dan doktrin harus melalui sebuah sinode am (konsili) agar seluruh warga jemaat memahami dan menerimanya. Misalnya, dalam penetapan “Pangokuon Haporsayaan GKPA” (Pengakuan Iman) dari “Au porsaya di Debata Ama NA GUMOGO” menjadi “Au porsaya di Debata NA SUN MARKUASO”. “Au porsaya di Jesus Kristus... na manaon parhancita taran Pontius Silatus PARUHUM...” menjadi “Au porsaya di Jesus Kristus... na manaon parhancita taran Pontius Silatus...???”. Dalam bahasa Indonesia kalimatnya ada yang dihilangkan seperti: “Aku percaya kepada Yesus Kristus... yang menderita SENGSARA di bawah...” menjadi “Aku percaya kepada Yesus Kristus... yang menderita ??? di bawah...”. Dengan diberlakukannya AGENDA GKPA 1997, warga jemaat dibingungkan karena pemberlakuannya tidak melalui sinode am. Hal yang sama juga harus kita perhatikan dengan Logo, Lagu Mars GKPA dan Hymne GKPA. Logo, lagu Mars dan Hymne GKPA agar dimasukkan dalam TG & TL GKPA.
4. Benahi Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA. Dalam TG dan TL GKPA masih banyak yang harus kita benahi dengan semakin berkembangnya organisasi GKPA. Misalnya:
a. Utusan sinode am. Dulu GKPA belum memiliki distrik, sehingga utusan sinode hanya dari tingkat resort saja. Sekarang GKPA sudah memiliki distrik, namun utusan distrik untuk sinode am tidak ada.
b. Istilah sinode am. Istilah ini tidak tepat dipakai di dalam TG dan TL GKPA sebab kita tidak mengenal istilah sinode distrik dan resort. Sinode Am ada jika di bawahnya ada sinode-sinode lain seperti sinode distrik, sinode resort, sehingga sinode tertinggi adalah sinode am. Sementara dalam TG dan TL GKPA diaturkan hanya rapat Parlagutan, rapat resort dan rapat distrik, tapi di tingkat pusat tiba-tiba disebut sinode am, seharusnya yang cocok harus rapat pusat bukan sinode am.
c. Perlu ditambahkan dalam TG GKPA Bab IV psl.9: Pengakuan Iman (Konfesi) GKPA karena GKPA memiliki pengakuan iman itu yang harus disosialisasikan dalam tubuh GKPA.
d. Penyempurnaan Struktur GKPA. Pengertian dan struktur GKPA harus dibenahi agar resort itu memiliki jemaat induk yang tidak terpisahkan dari jemaat filial (pagaran)-nya.
e. Mempersiapkan Kode Etik Pelayan Gerejawi GKPA. Kode Etik Pelayan Gerejawi ini akan mengatur pola pelayanan yang semakin baik.


C. BERGIAT MENGEMBANGKAN GKPA

GKPA sebagai gereja harus mampu berdiri sejajar dengan gereja-gereja lain yang ada di Indonesia dan bahkan dunia ini. GKPA yang berkantor pusat di Kota Padangsidimpuan ini harus diperhitungkan oleh gereja lain dengan kualitas dan kuantitas SDM warga jemaat dan pelayan GKPA.
Bagaimanakah caranya agar GKPA bisa diperhitungkan dan berdiri sejajar dengan gereja lain?

C.1. Aku Cintai GKPA dan bangga menjadi warga jemaat GKPA. Kita harus merasa bangga sebagai warga jemaat GKPA. Saksikan kepada orang lain bahwa Anda adalah warga GKPA, dengan demikian orang lain akan tertarik menjadi warga jemaat GKPA. Ceritakan yang terbaik dari GKPA, jangan menjelek-jelekkan GKPA. Jika ada kejelekan GKPA, tugasmulah untuk memperbaikinya agar tidak jelek, tetapi menjadi tampan dan cantik. Aku Cinta GKPA adalah aku melakukan sebuah aksi/kegiatan aktif terhadap GKPA (manusianya baik secara universal, lokal maupun individual), berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan oleh GKPA. Aku Cinta GKPA harus diwujudkan melalui empat syarat yaitu: 1. Knowledge (pengenalan) 2. Responsibilty (tanggung jawab) 3. Care (perhatian) dan 4. Respect (saling menghormati).
Aku cinta GKPA berarti:
1. Aku harus mengenal GKPA (Knowledge). Apa yang harus kita kenal di GKPA ini? Kita harus mengenal: a) Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA, b) Bibel Angkola-Mandailing, c) Buku Agenda GKPA, d) Buku Ende Angkola-Mandailing, e) RPP GKPA (Hukum Siasat Gereja), f) Konfesi GKPA, g) Peraturan Kepegawaian GKPA, h) Almanak GKPA, i) Sioban Barita GKPA, j) Kalender GKPA, k) buku-buku terbitan GKPA, k) dan tak kalah pentingnya lagi, kita harus mengenal PENDETA GKPA.
2. Aku harus bertanggung jawab kepada GKPA (Responsibility). Berdasarkan Tata Laksana GKPA, setiap anggota Parlagutan wajib: a) Hidup sebagai murid Yesus Kristus, dengan menyatakannya melalui kelakuan dan perbuatan yang terpuji, memegang teguh ajaran Alkitab, serta memuliakan Nama Juru Selamat, Tuhan Yesus Kristus dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati dalam hidupnya. b) Setia mengikuti kebaktian Minggu dan kebaktian lainnya yang telah ditentukan oleh GKPA. c) Bertanggung jawab dalam mewujudkan persekutuan, pelayanan, perbuatan kasih dan kesaksian Gereja dengan jalan mengambil bagian dalam semua kegiatan dan pelayanan dilingkungan Parlagutan. d) Mendukung kegiatan dan pelayanan Parlagutan dengan doa dan dana melalui persembahan dan paritisipasi, termasuk mempersembahkan daya, pikiran dan talenta yang dimiliki. e) Membawa anaknya menerima Baptisan Kudus, membimbing dan mendidik anaknya didalam pengenalan kepada Yesus Kristus antara lain dengan mengikutsertakannya pada Sekolah Minggu dan pelajar sidi (katekisasi). f) Mengikuti dan ambil bagian dalam Sakramen Perjamuan Kudus bagi setiap Anggota Sidi. g) Mentaati Tata Gereja, Tata Laksana dan setiap Peraturan lainnya yang berlaku dalam lingkungan GKPA. h) Memelihara dan melestarikan perdamaian, keadilan, lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan Tuhan untuk kesejahteraan hidup umat manusia. i) Membina dan memantapkan kerukunan hidup beragama dan patuh pada hukum serta peraturan Pemerintah RI sebagai pengamalan ajaran Kristen dan Pancasila. j) Melunasi kewajiban keuangan/natura kepada GKPA melalui Majelis Parlagutan ditempat dia menjadi anggota. Bahkan aturan ini diperjelas lagi dalam RPP GKPA Bab II.A. ps.1 tentang IBADAH MINGGU:
a. Jemaat berkewajiban untuk setia mengikuti ibadah minggu dan persekutuan yang dilakukan Jemaat untuk menunjukka kerajinan dan persekutuan kepada Allah dan teman seiman (Ibr. 10:25).
b. Sebaiknya warga jemaat jangan melaksanakan pesta adat pada hari Minggu dan hari raya Kristen, yang membuat orang terganggu beribadah (Kel. 20:8-1).
c. Hukum penggembalaan/siasat akan dikenakan kepada Jemaat yang sudah 6 (enam) bulan tidak pernah ke Gereja (dan kebaktian-kebaktian yang lain) di dalam Jemaat setelah beberapa kali dinasihati Majelis Parlagutan.
d. Hukum penggembalaan/siasat dikenakan kepada Parhobas Parlagutan (Sintua, Pendeta, Gr.Parl.) yang sudah 3 (tiga) bulan terus-menerus tidak ke Gereja (dan kebaktian-kebaktian lainnya) di dalam Parlagutan setelah beberapa kali dinasihati Majelis Parlagutan dan disetujui Pendeta Resort.
e. Hukum penggembalaan/siasat dikenakan kepada Parhobas Parlagutan yang sudah 3 (tiga) bulan terus-menerus tidak mau melayani di Gereja (dan kebaktian-kebaktian lainnya) di dalam Parlagutan setelah beberapa kali dinasihati Majelis Parlagutan dan disetujui Pendeta Resort.
3. Aku harus perhatian kepada GKPA (Care). Sebagai orang yang benar-benar cinta kepada GKPA kita harus memperhatikan pertumbuhan gereja itu secara mendalam. Jika terlihat tidak bertumbuh maka kita “pupuk” rohani, “siraman” rohani, “sentuhan” rohani, “sapaan” rohani. Perhatian ini harus datang dari kedua belah pihak. Jemaat memperhatikan gereja, dan gereja juga harus memperhatikan jemaat Tuhan.
4. Aku harus menghormati GKPA (Respect). Menghormati GKPA artinya kita menjaga nama baik GKPA di setiap perilaku kehidupan kita. Menghormati GKPA juga berarti kita tidak malu menjadi warga jemaat GKPA, namun sebagai warga jemaat GKPA kita berani tampil di tengah-tengah dunia sebagai saksi Kristus.
C.2. Ikuti kemajuan dan perkembangan jaman. GKPA sebagai organisasi yang tinggal di dunia ini harus bisa memakai kemajuan jaman dan teknologi dalam tugas pelayanannya. Sudah saatnya GKPA memiliki website GKPA agar semakin dikenal di dunia maya. Coba kita bayangkan, warung-warung kopi saja sudah memiliki websitenya sendiri untuk menarik para pembelinya datang ke warung kopinya. Mengapa GKPA tidak pakai media elektronik ini untuk mengembangkan GKPA dan menarik orang-orang Angkola-Mandailing dan suku bangsa lain masuk dan mengenal GKPA? Karena itu, melalui sinode ini diharapkan uluran tangan para peserta yang mau terbeban untuk mendukung pelayanan ini, agar GKPA bisa berdiri sejajar dengan gereja lain.
C.3. Jangan jago kandang. Agar GKPA dikenal orang, maka jangan merasa sudah puas dengan apa yang ada di di GKPA. Banyak para warga jemaat dan pelayan GKPA sudah merasa puas dengan apa yang ada di GKPA sekarang sehingga tidak ada lagi inovasi baru dalam pengembangan GKPA. Bahkan yang lebih aneh dan tragis, karena tidak bisa lagi mengembangkan diri, maka para sintua jadi sibuk membentak-bentak pendetanya, karena merasa diri lebih hebat dari sang pendetanya. Itu namanya jago kandang. Kalau memang hebat jangan bentak pendetamu, tetapi bentak kebodohanmu agar pergi dari dirimu, supaya Anda menjadi pinta dan bisa dipakai orang. Artinya, GKPA sudah saatnya memikirkan pengembangan pelayanannya ke lembaga-lembaga lain, misalnya dengan mengutus para pendeta melayani di lembaga-lembaga agar GKPA semakin dikenal oleh dunia lain.


D. BERGIAT MEMBERI YANG TERBAIK BAGI GKPA

GKPA tidak akan bisa maju dan berkembang jika warga jamaat dan para pelayan gerejawi tidak memberi yang terbaik bagi GKPA. Memberi yang terbaik bagi GKPA itu berarti kita memberi yang tebaik untuk Tuhan. Memberi yang terbaik bagi GKPA bukan berarti mencatat apa yang telah kita berikan buat GKPA. Tetapi memberi yang terbaik bagi GKPA adalah dengan kerelaan dan hati yang tulus iklas. Memberi yang terbaik bagi GKPA bukan untuk diperhitungkan sebagai balas jasa. Jika ku beri yang terbaik bagi GKPA (baca: Tuhan) maka GKPA akan memberikan yang terbaik bagiku. Bukan. Sebab GKPA tidak bisa memberi yang terbaik bagi kita. Tetapi Tuhan pasti memberi yang terbaik bagi kita. Kita memberi bagi GKPA karena kita sudah merasa pertolongan Tuhan bagi kita. Kebaikan kita didasarkan atas keselamatan yang telah kita peroleh dari Tuhan.
Memberi yang terbaik bagi GKPA berarti memakai setiap waktu dan pertemuan dengan sebaik-baiknya demi kemajuan dan perkembangan GKPA. Artinya, jika kita datang ke sinode ini, itu berarti kita adalah orang pilihan dan orang terbaik dari parlagutan, resort dan distrik kita masing-masing. Sebagai orang-orang pilihan dan terbaik, maka kita juga harus bisa memberikan yang terbaik kepada GKPA dalam sinode ini. Bagaimana caranya? Ya, selama sinode ini berlangsung, jangan ada yang melakukan “sinode” di dalam “Sinode”. Artinya, ruangan tempat bersidang kita jangan ditambahi di ruang kantin, di ruang lain atau di kampung kita. Pakailah waktu yang baik ini saling memberi pemikiran, memberi ide, memberi masukan, dan memberi uang untuk GKPA agar GKPA semakin maju dan berkembang. Jangan beri lagi kritikan, cercaan, tuduhan, fitnahan bagi GKPA, karena kita tidak butuh itu lagi. GKPA sekarang butuh solusi, pemikiran, ide-ide yang terbaik demi memajukan pemberitaan firman Tuhan di dunia ini. Karena itu, giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan. Selamat bersinode.

Bacaan Minggu Palmarum, 28 Maret 2010 : Imamat 23:34-44


Minggu Palmarum, 28 Maret 2010 Imamat 23:34-44


HARI RAYA PONDOK DAUN
Mensyukuri penyertaan Allah dalam perjalanan umatNya
menuju masa depan yang lebih baik




Hari Raya Pondok Daun

Perayaan hari raya Pondok Daun, dalam kalender Israel kuno, jatuh pada hari ke limabelas bulan yang ke tujuh. Merayakan Hari Raya Pondok Daun adalah perintah Allah kepada Musa, untuk dilakukan bangsa Israel sepanjang masa. Hari raya itu dimaksudkan untuk mengenang perbuatan Allah, yang membebaskan Israel dari Mesir dan menuntun umat-Nya selama perjalanan di padang pasir. Ketika siang hari, Allah hadir melalui awan yang menuntun ke arah tujuan. Ketika malam menjelang, Allah hadir dengan tiang api, yang menyala-nyala di depan. Setelah beberapa hari, dan beberapa bulan, bahkan beberapa tahun, umat Allah, bangsa Israel berhenti di perjalanan. Mereka bertempat tinggal dipemukiman di daerah tertentu. Mereka perlu kembali sebagaimana suku bangsa yang lain, mempunyai tempat tinggal dan butuh mata pencaharian.
Di tengah perjalanan menuju tanah perjanjian, mereka berhenti, butuh beristirahat dan bekerja mencari nafkah untuk dapat hidup melanjutkan perjalanan selanjutnya. Mereka bercocok tanam dan bekerja. Mereka juga butuh tempat tinggal, pengganti rumah kediaman. Oleh karena mereka masih dalam perjalanan, rumah tempat tinggal yang didirikan bukanlah yang permanen, melainkan rumah tempat tinggal sementara. Untuk itu, mereka membuat kemah yang terdiri dari pelepah dan daun korma. Rumah tempat tinggal adalah sebuah pondok, yang dibangun dari dedaunan yang ada. Pondok yang terbuat dari daun tentu tahan untuk tempat tinggal beberapa bulan bahkan beberapa tahun. Dalam situasi seperti itu, bangsa Israel merasakan penyertaan Tuhan yang semakin nyata. Ternyata Allah bukan hanya menyertai mereka dalam perjalanan, tetapi juga dalam peristirahatan. Kasih Allah terus tersedia bagi umat Israel, sekalipun mereka tinggal di kemah, di pondok daun, tempat tinggal sementara. Untuk mengenang perbuatan Allah itu, Allah memerintahkan agar diadakan perayaan Hari Raya Pondok Daun, selama satu minggu penuh. Tujuannya adalah: “supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah Tuhan, Allahmu” (ay 33).

Gereja sebagai kemah Pondok Daun
Pondok Daun adalah kemah, tempat tinggal sementara. Dalam bahasa Inggris disebut tabernakel, dalam bahasa Batak disebut undungundung atau parlapelapean. Pondok Daun adalah kemah, persis sama dengan tabernakel, undungundung atau parlapelapean. Bangunan seperti itu bukan tempat tinggal permanen, bukan pula dibangun secara utuh dan kokoh dari semen. Pondok Daun, tabernakel, undungundung atau parlapelapean adalah bangunan seadanya dan sementara yang sewaktu-waktu dapat dicabut, dipindahkan dan dirombak kembali. Orang yang mendiami Pondok Daun, tabernakel, undungundung atau parlapelapean selalu siap untuk pindah, melanjutkan perjalanan, kapan saja dan ke mana saja. Israel masih perlu meneruskan perjalanannya, agar sampai ke tempat tujuan, ke Kanaan, ke tanah perjanjian. Sebab mereka yakin dan percaya, bahwa Tuhan akan selalu menemani dan mendampingi mereka dalam meneruskan perjalanan ke masa depan yang lebih baik.
Gereja dan orang Kristen masa kini juga sama seperti umat Israel yang berada di perjalanan menuju tanah perjanjian. Gereja dan orang Kristen telah keluar dari tanah Mesir, yaitu perbudakan dan perhambaan dosa, ketika kita belum menerima Kristus, ketika kita belum menjadi warga gereja. Akan tetapi sejak kita menjadi warga gereja, anggota persekutuan orang-orang kudus, ketika kita sudah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat, kita telah keluar dari perhambaan dosa dunia ini. Sekarang gereja dan kita sebagai orang Kristen yang bersekutu di dalamnya bagaikan berada di dalam perahu yang sedang berlayar menuju masa depan, atau seperti umat Israel yang berada di tengah perjalanan menuju tanah Kanaan, menuju tanah perjanjian, yaitu tujuan akhir, parousia Kristus – kedatangan-Nya yang kedua kali, dalam memperoleh kehidupan yang kekal.
Tentu, kita belum sampai ke tujuan akhir itu. Kita masih dalam perjalanan menuju masa depan yang lebih baik dan lebih indah itu. Selama kita berada di dalam gereja-Nya, maka kita yakin dan percaya bahwa setiap orang yang berada di dalamnya akan menjadi pewaris janji keselamatan dari Tuhan, yaitu janji kehidupan yang kekal. Oleh karena itu, keberadaan kita sekarang di dunia ini hanyalah buat sementara. Dalam arti teologis, gereja kita sekarang ini, sekalipun dibangun dari beton yang kuat dan kokoh, sebenarnya persis sama dengan tabernakel, undungundung atau parlapelapean, hanya tempat tinggal sementara. Gereja dan orang Kristen masih berada di tengah perjalanan menuju tujuan akhir. Pondok Daun, tabernakel, undungundung atau parlapelapen bukanlah tujuan akhir, melainkan tujuan antara untuk mencapai tujuan akhir. Sekalipun Allah memberkati umat-Nya ketika berada di dalam perjalanan padang pasir dan memberi kesempatan membangun tempat tinggal dari pondok daun, tetapi hal itu bukan segala-galanya. Allah masih akan memberikan masa depan yang terbaik, yaitu tanah perjanjian, tempat di mana tersedia susu dan madu yang bekelimpahan untuk kehidupan umat-Nya.
Gereja dan semua orang percaya yang masih hidup sekarang ini sama seperti umat Israel yang diberkati Tuhan dalam perjalanan padang pasir dan dalam peristirahatan untuk memiliki Pondok Daun sebagai tempat tinggal sementara. Gereja dan orang Kristen masih berada di dalam perjalan, belum sampai ke tempat tujuan yang dijanjikan Tuhan. Oleh karena itu gereja dan semua oprang Kristen harus menerima pemahaman seperti yang dikatakan penulis Ibrani: “Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya. Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang” (Ibr. 13: 13-14).
Perayaan hari raya Pondok Daun dimaksudkan agar umat Allah, bangsa Israel, tidak melupakan sejarah kehidupan yang dilaluinya. Di dalam sejarah itu, Allah sangat berperan, bertindak melakukan keselamatan melalui perbuatan-Nya yang maha dahsyat. Hal yang sama juga dialami gereja masa kini, dan juga dialami orang Kristen dalam kehidupan persekutuan dan kehidupan pribadi. Oleh karena itu perayaan hari raya Pondok Daun yang selalu dilaksanakan umat Israel setiap tahun untuk mengenang, memahami dan menghayati keselamatan yang diperbuat Allah kepada mereka perlu juga dihayati oleh gereja dan orang Kristen masa kini dengan memaknainya secara kontekstual pada masa kini, yaitu:
a. Allah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir. Namun Allah bukan hanya membawa umat-Nya keluar dari Mesir. Allah juga melindungi, membimbing, memelihara dan mencukupi segala kebutuhan mereka selama dalam perjalanan menuju tanah perjanjian. Allah menyelamatkan Israel dari pengejaran tentara Firaun, menyelamatkan mereka sekaligus mengalahkan musuh di laut mati. Allah memberikan air ketika umat-Nya haus, dan memberikan makanan manna, ketika mereka lapar. Allah membimbing dan menyertai umat-Nya pada waktu siang dan malam. Allah juga memberikan sandang, pangan dan tempat tinggal yang teduh, sekalipun dengan bahan yang sekedar ada, yang pondok daun. Pemahaman ini harus terus dihayati, sebab kesalamatan yang diperbuat Allah bukan hanya keselamatan jasmani, tetapi juga rohani. Sebab pada akhirnya, Israel bebas menyembah Allah, dan Allah mengasihi umat-Nya dengan berbagai bentuk keselamatan yang diperbuat-Nya.

b. Perayaan hari raya Pondok Daun juga mempunyai makna eskatologis bagi pemahaman gereja masa kini. Tempat tinggal pondok daun adalah tempat tinggal sementara, bukanlah tujuan akhir, sebab tujuan akhir adalah tanah perjanjian. Gereja adalah umat Allah yang sedang berjalan menuju tanah perjanjian. Gereja sebegai persekutuan terdiri dari berbagai denominasi. Bangunannya juga terdiri dari berbagai bahan materi. Akan tetapi semuanya itu adalah sementara, bukan tujuan akhir. Tujuan akhir kita adalah di paradeiso, di tanah perjanjian yaitu kehidupan yang kekal. Oleh karena itu tidak ada gereja yang benar bila hanya berdasarkan denominasi yang dianutnya atau oleh karena jumlah mayoritas warganya. Gereja yang benar adalah yang menerima dan percaya akan keselamatan yang diperbuat Allah di dalam dan oleh Yesus Kristus. Gereja yang benar juga tidak ditentukan oleh bangunannya. Karena bangunan gereja itu adalah pondok daun, tabernakel, undungundung atau parlapelapean sementara saja. Oleh karena itu apabila ada bangunan gereja yang dibakar, yang disegel, yang dibongkar dan diratakan dengan tanah, itu tidak akan berdampak kepada pengurangan jumlah orang percaya. Apabila ada orang percaya yang mati martyr oleh karena keyakinannya kepada Yesus Kristus, itu bukan indikasi semakin berkurangnya jumlah orang percaya. Justru semakin dibabat akan semakin merambat, sebab darah orang martir akan menjadi benih pertumbuhan gereja.

c. Perayaan hari raya Pondok Daun adalah ucapan syukur. Siapapun di antara kita layak bersyukur kepada Tuhan. Karena Tuhan itu maha baik. Ia selalu menyertai kita dalam waktu suka maupun duka, waktu siang maupun malam. Tuhan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan, sesuai dengan waktu dan kehendak-Nya. Perayaan hari raya Pondok Daun ini mengajak gereja dan semua orang percaya agar selalu bersyukur kepada Tuhan, Pencipta, Pelindung, Pemelihara dan Pembimbing kita, di mana kita hidup, bekerja dan melayani.
Ketiga poin ini merupakan motivasi kita untuk merenungkan perayaan hari raya Pondok Daun sebagaimana dilakukan umat Israel dahulu kala. Dengan demikian, kita sebagai umat Allah, turut dipanggil untuk turut serta merayakan dan mensyukuri semua perbuatan Allah, yang menyelamatkan kita di masa lalu sekaligus mengharapkan dan memohon agar Tuhan selalu beserta dengan kita dan memberkati kita pada saat ini dan masa-masa yang akan datang. Kendati kita berada di dunia ini dengan segala kemegahan yang kita miliki, semuanya itu adalah bersifat sementara. Pondok yang sementara, tempat persinggahan sementara. Itulah yang harus kita pahami. Apa yang kita miliki adalah sementara. Suami/istri, anak, harta dan kekayaan adalah sementara. Pondok yang menetap adalah surga. Karenanya, marilah kita terus berupaya membangun pondok yang menetap di surga melalui iman kepada Yesus Kristus.


Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing
Ketua STT HKBP Pematangsiantar

Senin, 01 Maret 2010

Bacaan Minggu Judika, 21 Maret 2010 : Roma 3:21-26


Minggu Judika, 21 Maret 2010 Roma 3:21-26


MANUSIA DIBENARKAN KARENA IMAN




Pendahuluan

Allah menciptakan manusia manurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27). Inilah pernyataan Alkitab tentang penciptaan manusia. Kesegambaran manusia dengan Allah dapat diartikan secara luas. Kesegambaran itu tentu saja bukan dalam arti kemiripan wajah. Bukan pula keserupaan tubuh. Manusia segambar dengan Allah berarti di dalam diri manusia ada keilahian Allah. Dalam tubuh, jiwa dan roh manusia ada kehendak dan keinginan Allah, sehingga manusia merupakan media mengenal dan memahami keberadaan Allah. Allah berkenaan dengan keberadaan manusia, sehingga Allah dapat dikenal melalui keberadaan manusia itu sendiri. Inilah arti kesegambaran Allah yang sesungguhnya.
Akan tetapi tidak lama setelah peristiwa penciptaan itu, manusia jatuh ke dalam dosa. “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (ay 23). Kejatuhan manusia ke dalam dosa menjadikan rusaknya gambar Allah yang ada di dalam diri manusia. Sejak itu manusia tidak lagi segambar dengan Allah. Begitu rusaknya gambar Allah di dalam diri manusia itu, sehingga di dalam diri manusia tidak lagi dapat ditemukan kehendak Allah. Dosa telah menghancurkan segala yang berkenaan dengan Allah di dalam diri manusia. Dosa telah memutus mata-rantai hubungan manusia dengan Allah. Bahkan sebaliknya telah terjadi pertentangan dan pemberontakan antara manusia dengan Allah. Apa yang dikehendaki manusia semuanya justru selalu melawan dengan kehendak Allah. Akibat dosa itu, tindakan dan perbuatan manusia merupakan wujud pemberontakan terhadap kehendak Allah.
Kejatuhan manusia ke dalam dosa menjadikan manusia itu diperbudak dosa dan menjadi milik iblis. Manusia yang semula adalah milik Allah, karena Allah yang menciptakannya, akhirnya menjadi jatuh ke tangan iblis. Sekalipun manusia memiliki keinginan untuk kembali kepada Allah penciptanya, tetapi ternyata manusia tidak dapat melepaskan diri dari kuasa dosa. Sebab manusia bukan hanya milik iblis tetapi telah menjadi hamba dosa.

Allah menyelamatkan manusia
Berbagai tindakan dan perbuatan telah dilakukan Allah untuk melepaskan manusia dari cengkraman dosa. Allah telah memberikan hukum-Nya, Hukum Taurat, untuk menuntun manusia ke jalan yang benar, tatapi manusia ternyata tidak dapat kembali kepada Allah. Hukum Taurat itu ternyata tidak dapat membenarkan manusia, sekalipun dijalankan dengan sebaik-baiknya. Kemudian Allah mengutus para nabinya, memberikan firman-Nya untuk dilaksanakan di dalam kehidupan sehari-hari, hal itu juga ternyata tidak dapat menyelamatkan manusia itu dari kuasa dosa.
Terakhir, Allah mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus menyelamatkan manusia dari kuasa dosa dan agar tidak menjadi milik iblis. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Akan-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepda-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3: 16). Allah menyelamatkan manusia melalui, di dalam dan oleh Yesus Kristus. Untuk itu Yesus Kristus harus menanggung penderitaan, bahkan mati di kayu salib, sebagai tebusan terhadap manusia. Paulus berkata: “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar” – “Ai arga do hamu ditobus” – “ karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (1Kor. 6: 20). Sebagai hasil konkritnya, Paulus mengatakan: “Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup” (Rm. 5:18).

Dibenarkan karena iman
Barangsiapa yang percaya kepada Yesus Kristus akan selamat. Itu berarti keselamatan diperoleh bukan lagi dengan cara melakukan hukum Taurat, tetapi cukup dengan beriman kepada-Nya. Berbagai peristiwa keselamatan yang dilakukan Yesus Kristus kepada orang berdosa hanya berdasarkan iman kepada-Nya. Hal itu dapat dilihat dalam berbagai peristiwa. Misalnya, seorang perempuan berdosa datang kepada Yesus untuk memohon pengampunan dosa. Ia menangis di kaki Yesus sambil meminyakinya dengan minyak yang harum dan menyekanya dengan rambutnya penuh kasih. Atas dasar sikap dan perbuatannya itu, Yesus berkata kepada perempuan berdosa itu: “Dosamu telah diampuni” – “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Luk. 7: 48, 50).
Hal yang sama juga dikatakan Yesus kepada salah seorang yang berpenyakit kusta: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk. 17:19). Demikian juga kepada orang yang buta yang disembuhkan Yesus dekat Yeriko, ketika meminta kesembuhan dari Yesus, ia berseru: “O Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus bertanya kepadanya; “Apa yang engkau kehendaki supaya Aku perbuat kepadamu?” Lalu orang buta itu menjawab: “Supaya aku melihat!” Lalu Yesus berkapa kepadanya: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Luk. 18: 38-42).
Rasul Paulus mengakomodir tindakan dan perbuatan Yesus terhadap orang berdosa, yaitu ‘imanmu yang menyelamatkan engkau’, menjadi pembenaran terhadap orang berdosa. Kebenaran Allah tidak lagi didasarkan atas pelaksanaan Hukum Taurat, sebagaimana memang disaksikan kitab Taurat itu sendiri dan kitab para nabi. Dalam hal ini rasul Pulus mengatakan: “Karena kami yakin bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat” (Rm. 3; 28).
Pembenaran Allah atas orang-orang berdosa didasarkan pada kasih-Nya. Puncak kasih Allah terhadap dunia, juga terhadap manusia berdosa, diperlihatkan Allah ketika Ia yang adalah firman Allah dan Allah sendiri menjadi manusia (Yoh. 1: 1-4,14). Karena Yesus Kristus adalah wujud kasih Allah kepada manusia maka barangsiapa yang percaya kepada-Nya akan selamat dan memperoleh kehidupan yang kekal. Percaya kepada Yesus, dalam arti beriman kepada-Nya menjadi dasar pembenaran manusia.
Martin Luther kemudian mengembangkan pemahaman pembenaran karena iman ini. Menurut Luther, siapapun orangnya tidak dapat selamat hanya dengan melakukan Hukum Taurat. Hukum Taurat tidak cukup dan tidak mampu menyelematkan manusia. Lagi pula, manusia sendiri tidak mungkin dan tidak mampu melakukan hukum Taurat dari dirinya sendiri. Oleh karena itu manusia tidak ada yang selamat dan dibenarkan dari dirinya sendiri. Manusia benar hanya karena dibenarkan Allah. Pembenaran Allah itu didasarkan atas kasih Allah terhadap manusia.
Pandangan Luther ini merupakan reaksi terhadap pemahaman gereja Katolik pada waktu itu, yang menekankan keselamatan dapat diperoleh sebagai jasa atas perbuatan baik. Perbedaan pandangan ini membuat Katolik dan Protestan (Lutheran) berseteru dan saling mengutuk selama hampir lima abad lamanya. Namun, kedua belah pihak sepakat mengakhiri perseteruan tersebut dengan adanya kesepakatan yang ditanda tangani pada 31 Oktober 1999 di Augsburg, Jerman, yaitu dengan tema The Joint Declaration on the Doctrine of Justification – Deklarasi Bersama tentang Ajaran Pembenaran, ditemukanlah titik temu antara pemahaman Katholik dengan Protestan tentang pembenaran karena iman. Gereja Katolik memahami perbuatan baik dapat diperhitungkan sebagai jasa untuk memperoleh keselamatan. Maksudnya adalah agar orang Kristen berupaya mewujudkan keselamatan yang diperolehnya sebagai anugrah Allah dalam bentuk perbuatan yang konkrit. Sedangkan gereja Protestan, khususnya gereja Lutheran, mengajarankan keselamatan hanya dengan anugrah Allah dan perbuatan tidak dapat diperhitungkan sebagai jasa memperoleh keselamatan. Maksudnya adalah agar orang Kristen tidak jatuh pada kesombongan diri, yang hanya mengandalkan perbuatannya untuk memperoleh keselamatan. Keselamatam itu hanya diperoleh melalui anugrah Allah dalam iman kepada Yesus Kristus.
Ajaran Luther itu didasarkan pada konsep pemahaman iman sola fide – hanya karena imanlah manusia diselamatkan. Iman kepada Yesus Kristuslah yang membenarkan kita di hadapan Allah – justification by faith. Oleh karena itu perbuatan manusia tidak akan dipertimbangkan untuk memperoleh keselamatannya. Perbuatan baik manusia bukanlah untuk memperoleh keselamatan, tetapi buah iman. Iman itu sendiri bukan merupakan usaha manusia tetapi adalah karya Roh Kudus yang bertumbuh di dalam diri manusia. Dengan demikian beriman kepada Yesus Kristus adalah juga anugrah Allah. Allah sendiri melalui Roh Kudus yang menanamkan dan bertumbuh dengan anugrah Allah, sola gratia – hanya oleh anugrah Allah. Berdasarkan pemahaman ini, maka akhirnya pembenaran oleh iman adalah anugrah Allah yang kita terima di dalam dan oleh Yesus Kristus.

Relevansi pembenaran karena iman
Pembenaran karena iman merupakan tindakan terobosan yang dilakukan Allah di dalam dan oleh Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia dari hukuman atas keberdosaannya. Akan tetapi beriman dan berbuat baik bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Ketika Paulus menekankan pembenaran oleh iman, dan bukan oleh perbuatan, maka itu dimaksudkan bahwa dasar hubungan manusia dengan Allah adalah di dalam iman kepada Yesus Kristus. Namun demikian orang beriman harus menghasilkan buah yang baik. Sebab tanpa buah yang baik, sebagaimana dikatakan rsul Yakobus, adalah iman yang mati (Yak. 2:17). Dengan demikian orang yang beriman harus memperlihatkan kelakuan dan perbuatan yang baik. Sementara orang yang dapat melakukan yang baik hanya dimungkinkan atas dasar iman kepada Yesus Kristus.
Kedua pemahaman ini, beriman dan berbuat baik, adalah sejalan dan mempunyai hubungan langsung. Oleh karena itu tidak perlu orang yang berbuat baik merasa bangga atas perbuatan baik yang dilakukannya. Sebab dengan melakukan hal-hal yang baik, itulah yang semestinya dilakukan oleh orang yang beriman. Sebaliknya, orang beriman tidak perlu merasa berbangga diri karena iman yang dimilikinya. Iman adalah anugrah, pemberian Allah, sehingga harus dapat diberlakukan di dalam tindak dan perbuatan yang konkrit. Ketika seseorang menyatakan dirinya sebagai orang Kristen, yang percaya kepada Yesus Kristus, maka ucapan dan perbuatannya harus sesuai dengan sejajar dengan pengakuannya. Ketika orang berbuat baik, misalnya mengasihi sesamanya, maka itupun harus disyukuri sebagai pemberian Allah. “Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh. 4:19). Marilahkita hayati dan memberlakukan dalam kehidupan kita sehari-hari, bahwa kita dibenarkan karena iman kepada Ysus Kristus.




Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing
Ketua STT HKBP Pematangsiantar