Senin, 26 Juli 2010

Bacaan Minggu 13 Setelah Trinitatis, 29 Agustus 2010: Roma 13:8-10

SIKAP KASIH
Roma 13:8-10
Minggu 13 Setelah Trinitatis, 29 Agustus  2010


Sebenarnya pasal 13:6-8 merupakan peralihan dari tema “takluk kepada pemerintah” ke tema “kasih”. Taat kepada pemerintah dan membayar pajak merupakan kewajiban yang dapat diselesaikan, sedangkan kasih merupakan kewajiban yang tak ada habis-habisnya.
“Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat” (Ay. 8). Ada dua kemungkinan untuk menerjemahkan ayat ini: 1) “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga...” atau 2) “Janganlah kamu juga membiarkan kewajiban yang tidak diselesaikan terhadap siapa pun juga...” Menurut Cranfield, ayat ini mengulangi apa yang dikatakan dalam pasal 13:7, yaitu bahwa kita harus membereskan segala kewajiban kita, dan tidak membiarkan utang yang sudah harus dilunasi. Menurutnya, ayat ini tidak melarang pinjam-meminjam, tetapi setiap utang harus dilunasi tepat sesuai dengan perjanjian. Menurut Dunn, kalimat ini disusun dengan sengaja seperti itu supaya dua arti tersebut muncul.
“...tetapi hendaklah kamu saling mengasihi”. Masalah pinjam-meminjam kurang jelas dalam ayat ini, tetapi satu hal sungguh jelas, yaitu bahwa kita yang telah ditebus oleh Yesus Kristus berutang besar kepada-Nya. Denan mengasihi, kita mulai melunasi utang tersebut yang sebenarnya bersifat kekal. Kasih merupakan kewajiban atau utang yang tidak dapat dilunasi karena selalu ada kesempatan-kesempatan baru untuk mengasihi orang lain.
Dalam pasal 8:12 Paulus berkata, “...kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging,” tetapidalam pasal itu ia tidak menjelaskan ia tidak menjelaskan kepada siapa kita berutang. Hal ini dilengkapi dalam pasal 13:8 di mana kita mengerti bahwa kita berutang kepada Tuhan, dan kepada sesama kita.
“Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat”. Jika pada suatu saat kita mengasihi orang, maka pada saat itu kita memenuhi perintah hukum Taurat  yang berkaitan dengan situasi itu.
“Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (Ayat 9). Ayat ini membuktikan bahwa “barangsiapa mengasihi sesama manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat”. Ayat ini, dari Imamat 19:18, dikutip beberapa kali dalam Perjanjian Baru.
Rabi Hillel, seorang tokoh agama Yahudi yang terkemuka, pernah berkata, “Apa yang kaubenci janganlah kaulakukan kepada sesamamu manusia; demikianlah seluruh hukum Taurat; sisanya hanya komentar, pergi dan pelajari!” Bagi rabi Hillel, tekanannya adapada “pergi dan pelajari”, sedangkan Rasul Paulus secara tidak langsung berkata, “Pergi dan lakukan!” Rupanya Paulus merasa puas, jikalau kita sungguh mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, sedangkan rabi Hillel lebih menekankan supaya hukum Taurat dipelajari.
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Beberapa tokoh sejarah gereja mengatakan bahwa kita harus mengasihi diri kita sendiri sebelum kita dapat mengasihi orang lain. Ajaran tersebut juga dipakai dalam psikologi Kristen pada jaman ini. Sesungguhnya ajaran tersebut tidak sesuai dengan firman Allah, dan tidak berasal dari ayat ini. Dalam firman Allah kita diperintahkan untuk mengasihi Allah dan juga mengasihi sesama kita manusia, tetapi sama sekali tidak ada perintah supaya kita mengasihi diri kita sendiri. Mengasihi diri sendiri adalah dosa. Mengasihi Allah dan sesama manusia adalah kehendak Allah.
Ayat ini berkata, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” bukan merupakan kekecualian. Dalam ayat ini kita diperintahkan untuk mengasihi orang lain, bukan diri kita sendiri. Manusia tidak perlu diperintahkan untuk mengasihi dirinya sendiri karena manusia yang berdosa sudah cukup pandai dalam mengasihi dirinya sendiri. Tidak ada orang yang harus dilatih untuk mengutamakan kepentingannya sendiri. Dengan kasih yang kuat seperti itu kamu harus mengasihi sesamamu manusia!
Luther berkata, “Saya percaya bahwa dengan perintah ‘seperti dirimu sendiri’ manusia tidak diperintahkan untuk mengasihi dirinya sendiri, tetapi kasih jahat yang dimilikinya dinyatakan kepadanya. Dengan kata lain, firman ini berkata kepadanya: Secara utuh Anda terarah kepada diri Anda sendiri, dan Anda penuh dengan kasih pada diri sendiri. Anda tidak dapat hidup secara benar, kecuali berhenti mengasihi diri sendiri dan dengan melupakan diri sendiri, Anda mengasihi sesama manusia.”
“Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat”. Dalam ayat ini pernyataan dalam pasal 13:9, di mana kita harus mengasihi, diulangi secara negatif. Karena dalam ayat ini dikatakan bahwa kita tidak berbuat jahat. Di bawah Hukum Taurat masyarakat diatur supaya tidak ada yang menyakiti atau menysahkan orang lain; dengan kata lain, supaya sesama manusia dikasihi. Utang yang pembayarannya ditunda-tunda merupakan salah satu kelakuan yang menyusahkan orang. Maka sesuai dengan hukum Taurat, dan sesuai dengan kehendak Allah, kita harus memberikan “kepada semua orang apa yang wajib.”
“Kasih adalah kegenapan hukum Taurat” Tujuan hukum Taurat adalah kebenaran, tetapi hukum Taurat tidak dapat mencapai tujuan itu. Sama seperti Kristus adalah tujuan hukum Taurat (bnd. 10:4), demikian juga kasih (yang dicapai dalam Kristus) adalah kegenapan hukum Taurat.
Apa yang mau disuarakan teks ini kepada kita? Pertama, kita jangan menolak tanggung jawab. Kekristenan jangan menolak tanggungjawab kita kepada siapapun baik itu kepada pemerintah terlebih kepada sesama manusia. Artinya, dari setiap orang dituntut pertanggung jawaban hidup. Apa yang telah dilakukannya kepada pemerintah dan kepada sesama nantinya semuanya itu dituntut dari kita. Karenanya, kita diajar untuk hidup lebih baik agar ketika kita diminta pertangunggjawaban, maka laporan kita baik kepada Tuhan.
Kedua, kita terus memiliki hutang kasih kepada sesama manusia. Hutang kasih ini harus kita bayar setiap hari kepada sesama manusia. Origenes berkata, “Hutang kasih tetap ada pada kita selamanya dan tidak pernah meninggalkan kita; inilah hutang yang kita semua laksanakan setiap hari dan selamanya berhutang.” Keyakinan Paulus ialah jika orang dengan jujur berusaha untuk menyelesaikan hutang kasih ini, ia akan dengan sendirinya memeliharakan semua hukum Allah. Ia tidak akan melakukan perzinahan, jika dua orang memperbolehkan nafsu jasmaninya menguasai mereka, sebenarnya, mereka tidak saling mengasihi, tetapi oleh karena kasih di antara mereka terlalu kecil: dalam kasih yang sejati, sekaligus ada hormat dan pengekangan nafsu yang mencegah kelakuan berdosa.
Ketiga, kasih tidak membinasakan. Karena kasih Kristus ada sama kita, maka tidak pernah sedetik pun kita berusaha menyakiti orang lain dan atau membinasakan mereka. Manusia tidak akan membunuh, karena kasih tidak pernah berusaha untuk membinasakan, bahkan kasih itu akan selalu membangun; kasih itu selalu baik hati.


Ramli SN Harahap

Bacaan Minggu 12 Setelah Trinitatis, 22 Agustus 2010: Kejadian 33:1-11

BERDAMAI KEMBALI DENGAN ESAU
                                                         Kejadian 33:1-11                                                                          


Untuk memahami teks ini secara utuh kita harus membacanya mulai dari pasal 32:1-33:20. Sementara Yakub melalukan perjalanan ke arah selatan, ia bertemu dengan “malaikat-malaikat Allah” (32:1). Ketika melihat mereka barangkali hati Yakub mendapat keberanian dan tentu pemandangan itu mengingatkan dia akan penglihatannya di Betel (28:11-15). Ia menamai tempat itu Mahanaim, yang artinya “dua perkemahan”, yang telah ditafsirkan sebagai dua kelompok malaikat atau sebuah perkemaham lain yang cocok dengan perkemahannya.
Setelah perpisahan selama bertahun-tahun oleh karena kebencian Esau yang sengit, Yakub berusaha untuk berdamai kembali dengan kakaknya. Yakub mengutus hamba-hambanya kepada Esau dengan salam yang rendah hati dan berbagai pemberian. Akan tetapi, Esau sudah dalam perjalanan untuk menemui Yakub, dan ia disertai empat ratus orang. Ketika Yakub mendengar hal ini, ia merasa sangat ketakutan. Cepat-cepat ia membagi seluruh kawanan ternak dan segala miliknya menjadi dua kelompok dengan maksud agar setidak-tidaknya satu kelompok bisa luput dari serangan, dan ia berdoa kepada Allahnya.
Doa Yakub ini membuktikan kerendahan hatinya yang tulus. Ia memohon kepada Allah supaya dilindungi dari Esau agar janji-janji perjanjian Tuhan dapat dipenuhi (28:11,22). Sekalipun Yakub percaya kepada Tuhan untuk memperoleh perlindungan, ia mengambil langkah selanjutnya untuk berdamai kembali dengan Esau. Sebagai suatu persembahan baginya Yakub memilih lebih dari lima ratus ekor domba dan ternak.
Ketika Yakub merenungkan pertemuannya dengan Esau, ia manjadi sangat prihatin dan cemas. Ia tinggal seorang diri dan melewatkan beberapa waktu sendirian saja. Keadaan ini akhirnya menimbulkan salah satu pengalaman yang paling luar biasa dalam hidupnya.
Sementara ia seorang diri, Yakub bergulat dengan seorang laki-laki sampai fajar menyingsing. Yakub memperingati pengalamannya itu dengan memberi nama khusus bagi tempat itu dengan nama Pniel karena “Aku telah melihat Allah berhadapan muka” (28:30).
Situasi itu menarik dan tegang. Pada waktu Esau dan Yakub saling mendekati, Yakub mengatur barisan keluarganya sedemikian rupa sehingga hamba-hamba perempuan beserta anak-anak mereka berada di muka, lalu Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali (33:1-2). Yakub menyambut Esau dengan bersujud sampai ke tanah tujuh kali (3), mengingatkan pada rasa hormat orang timur yang tercermin dalam Lempengan-lempengan Amarna. Pertemuan itu sama sekali tidak menunjukkan sikap gemar berperang, melainkan memperlihatkan sikap hangat dan akrab (4-7). Sebenarnya Esau agak terkejut karena pemberian yang banyak sekali dari Yakub; pada awalnya ia menolak tetapi akhirnya menerima pemberian itu (8-11). Keduanya sepakat untuk berpisah dengan damai, Esau ke pegunungan Seir (14) dan Yakub ke daerah sekitar Sikhem (17-20).
Jika kita rinci teks ini, maka kita akan membagi teks ini dalam dua bagian: 1) Yakub bertemu dengan Esau (33:1-7); dan 2) Yakub memberi hadiah kepada Esau (33:8-11).

1)    Yakub bertemu dengan Esau (33:1-7)

Yakub belum lama bertemu dengan Allah di Pniel. Di situ ia menerima nama agung yaitu Israel serta jaminan keamanan dalam perjalanan kehidupannya. Meskipun demikian, ketika melihat Esau, ia diliputi ketakutan. Ketakutannya adalah ketidakpercayaannya. Hal itu terbutkti dengan kenyataan berikut: (1) Yakub membentuk urutan kelompok-kelompok keluarganya sesuai dengan urutan untuk mengurangi bahaya; (2) Yakub maju kepada Esau dengan ‘sujud menyembah sampai ke tanah tujuh kali’. Sikap Yakub seperti ini lebih tepat disebut tindakan yang sangat pengecut dari sikap menghormati kakaknya. Jika dibandingkan dengan sikap Esau yang tidak begitu takut akan Allah, perbuatannya seperti memalukan. Malahan Esau menghadapi adik dan keluarganya dengan sikap yang terus terang (4-7). Esau berlari mendapatkan Yakub dan memeluk lehernya dan menciumnya serta memberi perhatian kepada keluarga Yakub.

2)    Yakub memberi hadiah kepada Esau (33:8-11)

Pemberian hadiah kepada Esau bukanlah suatu kesalahan Yakub. “Memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah”, perkataan Yakub ini bukan suatu penjilatan tetapi ungkapan atas pekerjaan Allah yang dinyatakan melalui Esau, kakaknya. Yakub pernah melihat wajah Allah, yaitu dalam peristiwa yang dialaminya di Pniel. Pada saat ini, Allah menyelamatkan Yakub dari tangan Esau seperti yang telah Ia janjikan kepadanya. Ketika bertemu dengan Esau, Yakub merasa bertemu dengan Allah yang telah bertemu dengannya di Pniel, oleh karena Allah bekerja melalui sifat Esau.

Apa yang mau disuarakan teks ini bagi kita? Pertama, usahakanlah berdamai walau ada banyak tantangan. Perseteruan Yakub dengan Esau sudah menjadi peristiwa yang sungguh memedihkan hati Esau. Yakub dipihak yang merasa bersalah jauh lebih kuatir dan ketakutan untuk bertemu dengan Esau. Karena Yakub yang memulai persoalan dengan Esau maka dialah yang mencoba membuat usaha perdamaian itu dengan Esau. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita saat ini. Jika kita merasakan bahwa kitalah yang membuat suatu persoalan dengan orang lain, maka sekarang usahakanlah agar dirimu kembali berdamai dengan dia yang engkau sakiti. Memang harus kita akui ada banyak tantangan yang dihadapi Yakub ketika mau berdamai itu. Hal itu menjadi tantangan bagi kita bukan menjadi penghalang bagi kita untuk tetap berdamai. Apapun yang terjadi usahakanlah agar kita bisa berdamai dengan yang kita sakiti yang kita benci selama ini.
Kedua, terimalah dengan baik ungkapan perdamaian orang lain. Ketika Yakub memberikan ungkapan perdamaian kepada Esau, Esau menolak ungkapan tersebut. Namun, akhirnya Esau menerima pemberian tersebut. Hal ini bukan berarti setiap perdamaian harus disimbolkan dengan pemberian sesuatu kepada yang kita sakiti. Bukan. Tetapi jika ada sesuatu yang diberikan karena rasa syukurnya atas perdamaian itu, terimalah dengan hati yang senang. Banyak hal mungkin yang tidak bisa kita ungkapkan dengan pemberian sesuatu. Dengan terjadinya perdamaian itu sebenarnya sudah menjadi kado atau pemberian yang cukup berharga yang harus kita terima.
Ketiga, hentikan segala permusuhan. Idealnya memang sebagai umat percaya, kita harus menghindari segala bentuk kekerasan dan permusuhan. Apalagi jika kita pakai kekerasan atau kelicikan demi mendapatkan kesenangan pribadi, itu perbuatan yang sungguh tidak terpuji. Walaupun dalam kisah ini Yakub memakai cara yang salah untuk mendapatkan berkat dari Tuhan, hal ini bukan berarti harus kita contoh dalam jaman ini. Kisah ini mau menyuarakan bahwa apa yang dikerjakan Yakub yang tidak benar di hadapan Tuhan harus tetap dipertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan. Konsekuensinya ialah Yakub harus merubah jati dirinya, dan bahkan namanya pun berubah menjadi Israel. Artinya, marilah kita berusaha dalam hidup ini menjauhkan diri dari hal-hal yang membuat orang lain sakit hati, membuat orang kurang enak sama kita, membuat orang lain jengkel terhadap kita. Tetapi marilah kita berbuat yang terbaik bagi sesama manusia, sebab Tuhan telah berbuat baik bagi kita (bnd. Mzm. 145:9a).





Ramli SN Harahap

Bacaan Minggu 11 Setelah Trinitatis, 15 Agustus 2010: 1Petrus 3:8-12

TIGA KARAKTER YANG
MEMBUAT DUNIA MAKIN BAIK
1Petrus 3:8-12
Minggu 11 Setelah Trinitatis, 15 Agustus  2010 




Di tengah dunia yang sangat diwarnai oleh kekerasan, agaknya ucapan Mahatma Gandhi sangat perlu untuk didengarkan kembali. Ia berkata, ”Mata ganti mata, maka seluruh dunia akan menjadi buta.” Di dalam setiap agama agaknya terdapat benturan yang hebat antara dua cara berpikir. Yang pertama adalah cara berpikir yang berporos pada keadilan yang mempergunakan hukum balas-dendam. Dalam cara berpikir ini, sesuatu disebut adil jika apa yang diterima seseorang diterima juga oleh orang lain dengan bobot yang sama. Jika seseorang berbuat jahat pada kita, maka kita berhak membalas orang itu dengan perlakuan yang sama. Jika perlu lebih kejam. Bahkan akibat cara berpikir yang pertama ini maka banyak manusia yang memberlakukan huku rimbah dalam hidupnya. Siapa yang lebih kuat maka dialah yang menang. Pokoknya keadilankulah yang paling adil di luar itu tidak ada keadilan lain. Makanya manusia cenderung untuk berkelahi karena cara berpikir yang pertama ini lebih menonjol dalam kehidupannya.
Cara berpikir yang kedua dilandasi sebuah semangat perdamaian yang menghargai kehidupan bersama sebagai tujuan yang mulia. Dalam Alkitab, akhirnya, kita membaca bahwa cara berpikir yang kedualah yang menang. Di dalam Yesus kita menyaksikan bahwa sikap mengalah tak sama dengan kalah; bahwa membalas kejahatan dengan kebaikan merupakan keluhuran yang mampu membuat kehidupan masih punya arti untuk dijalani secara serius; bahwa memberkati si pengutuk merupakan panggilan hidup setiap orang percaya. Cara berpikir inilah yang menjadi kehidupan orang percaya yang mengaku pengikut Kristus. Kita harus menunjukkan semangat perdamaian yang menghargai kehidupan bersama sehingga orang lain merasa sama dengan kita. Tujuan kita adalah sama-sama memuliakan Tuhan dalam segala profesi yang kita miliki. Walaupun ada perbedaan, tetapi bukan untuk mencerai-beraikan kita namun semakin melihat karya Tuhan dalam kepelbagaian itu.
   Teks kita (1 Petrus  3:8-12) mewartakan semangat hidup yang sama. Dalam pasal ini memberikan serangkaian nasihat praktis yang patut dikerjakan oleh semua orang percaya dalam hidup mereka. Serentetan nasihat praktis tersebut dapat dikelompokkan menjadi bagian penting, yang semuanya menjadi tanda bagi karakter ”orang-orang benar” (ay. 12). Setidaknya ada tiga karakter orang Kristen di dunia ini, yakni:
  
1.     Karakter yang pertama terkait dengan sikap hidup di dalam persekutuan yang terus-menerus mengusahakan kesatuan (ay. 8).
Di tengah dunia di mana perpecahan menjadi cara pintas untuk mengatasi perbedaan dan keberagaman, orang Kristen diundang untuk sungguh-sungguh mengusahakan kesatuan hati di dalam persekutuan cinta-kasih. 
2.     Karakter kedua muncul lewat kesediaan untuk memutuskan lingkaran balas dendam melalui pengampunan (ay. 9a).
Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan,” kata penulis surat ini. Kejahatan tak akan pernah selesai jika dibalas dengan kejahatan, selain bahwa ia akan makin menguat dan membelenggu kedua belah pihak. Hanya pengampunan yang mampu mengatasi kejahatan. Yang menarik, penulis mengusulkan cara untuk mengatasi lingkaran balas dendam itu, yaitu melalui kesediaan untuk memberkati (ay. 9b). Dan, pada saat kita membalas kejahatan dengan berkat, kita pun akan mendapat berkat (ay. 9c). 
3.     Karakter ketiga lebih bersifat personal, yaitu kesediaan kita untuk mengendalikan ucapan kita terhadap sesama (ay. 10).
Tidak jarang pertikaian, kebencian dan permusuhan muncul karena ketidakmampuan seseorang mengendalikan mulutnya. Ucapan seseorang lantas mengiris hati sesamanya atau menyelewengkan fakta menjadi gosip.
  
Ketiga karakter utama di atas tentu saja tidak akan membuat dunia bebas dari masalah, bahkan tak juga membuat gereja kita bebas dari problem. Namun, ketiganya, jika sungguh-sungguh diupayakan, akan membawa perubahan yang tak kecil bagi kehidupan kita di dalam gereja maupun masyarakat.
   Lebih dari itu, ketiga karakter tersebut memiliki dua sisi yang sama pentingnya: menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik. Keduanya perlu seimbang dan saling menopang. Kesediaan menjauhi kejahatan tanpa usaha melakukan yang baik hanya muncul dari orang-orang Kristen yang lari dari persoalan. Sejauh ia tak berbuat salah—sekalipun tak perlu juga melakukan kebaikan pada sesama—maka itu sudah cukup. Sebaliknya, kesediaan untuk melakukan kebaikan tanpa usaha menjauhi kejahatan hanya akan mengaburkan batas antara kebaikan dan kejahatan. Bukankah tindakan-tindakan yang tampak baik bisa menjadi manifestasi dari kejahatan yang luar biasa? Maka, keduanya perlu seimbang dan saling mendukung: jauhi kejahatan dan usahakan kebaikan.
   Komitmen untuk mengusahakan semua ini tentu saja bakal berbenturan dengan realitas sesehari yang jauh dari impian hidup bersama yang lebih baik. Tak jarang kita frustasi dan kecewa menyaksikan kepahitan hidup, sekalipun kita sudah berusaha untuk menaati kehendak Allah ini. Karena itu, percayalah, Saudara-saudara, bahwa seluruh nasihat yang kita baca hari ini tidak sekedar mengajar kita untuk menjadi seorang-orang yang berbudi dan bermoral baik. Lebih dari itu, semua kebaikan itu kita perjuangkan karena keyakinan bahwa Allah hidup, aktif bekerja dan memihak pada “orang-orang benar” dan mereka yang berusaha berjuang untuk hidup lebih baik sekalipun harus menderita dan “minta tolong” pada-Nya (ay. 12).




Pdt. Dr. Joas Adiprasetya
Puket I STT Jakarta

Bacaan Minggu 10 Setelah Trinitatis, 8 Agustus 2010 : Yeremia 23:1-8

SEBUAH JANJI BAGI UMAT YANG TERCERAI-BERAI
Yeremia 23:1-8 
Minggu 10 Setelah Trinitatis, 8 Agustus 2010



Salah satu akibat buruk dari gerakan Reformasi, di samping tentu akibat-akibat lain yang patut disyukuri, adalah kecenderungan yang kuat untuk bertikai dan menjadikan perpecahan sebagai jalan pintas untuk mengatasi pertikaian tersebut. Ketika seorang pemimpinan bersitegang dengan pemimpin lainnya, masing-masing berusaha mencari dukungan umat. Maka, umat yang tadinya tak tahu-menahu soal perseteruan para pemimpin mereka akhirnya terpengaruh dan ikut-ikutan memihak dan mengelompok. Maka, perpecahan pun sukar untuk dihindari. Perpecahan menjadi solusi bagi mereka. Berpisah lebih baik daripa tetap bersama dengan musuh. Sehingga dewasa ini semakin banyak berjamur gereja-gereja baru yang tumbuh di mana-mana di bumi persada nusantara ini. Akibat buruk ini sangat merugikan orang Kristen itu sendiri. Sesama penganut iman yang sama, tetapi saling bermusuhan.
Selain itu, umat juga bisa tercerai-berai dengan mudah karena para pemimpin gereja yang tak mampu menjadi teladan. Mereka kecewa dengan para gembala yang ternyata menampilkan sebuah pola hidup yang berkebalikan dengan apa yang mereka ucapkan sendiri. Maka, terjadilah krisis kepemimpinan. Dan, sekali lagi, umatlah yang menjadi korban. Pemimpin tidak lagi menjadi teladan umat gembalaannya. Pemimpin sibuk memikirkan jabatan organisasi gereja saja, dan mengabaikan jemaat gembalaannya. Yang diutamakan tugas-tugas organisasi melulu bukan tugas pelayanan umat. Umat bukan skala prioritas utama. Sehingga tidak jarang warga jemaat banyak yang merasa tidak simpatik dengan pemimpin rohaninya. Inilah juga akibat lain dari gerakan reformasi itu.
Kedua isu di atas hanyalah sedikit dari banyak contoh bagaimana umat bisa tercerai-berai karena para gembala yang gagal menjalankan fungsi penggembalaannya dengan baik. Mereka gagal meneladani Sang Gembala Agung, yaitu Yesus Kristus. Mereka gagal menjadikan Yesus tiruan dan Guru Agung. Sehingga banyak gembala saat ini belajar kepada gembal dunia yang sukses. Ketika dia melihat pendeta A berhasil dan terkenal, maka dia belajar kepada pendeta A tersebut agar dia bisa minimal menyamai ketenaran pendeta A itu. Manusia meneladani manusia biasa. Pada hal seharusnya seorang gembala itu harus meneladani dan belajar kepada Sang Guru Agung itu yakni Yesus Kristus.
Bacaan kita pagi ini juga berbicara tentang masalah yang kurang-lebih sama. Tidak terlalu jelas kesalahan apa yang dilakukan oleh para pemimpin Israel yang disebut sebagai ”para gembala” itu. Yang pasti, akibat kesalahan mereka, domba gembalaan yang sesungguhnya menjadi milik Allah itu tercerai-berai. Tak ada lagi kesatuan umat yang ditandai oleh cinta kasih, penghargaan dan persekutuan. Itulah makanya Allah berfirman, "Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!" Allah marah kepada para gembala yang tidak memperhatikan gembalaannya. Allah murka kepada para gembala yang hanya mengambil keuntungan pribadi dari para dombanya.
Akan tetapi, berita baik yang hendak disampaikan oleh teks kita adalah bahwa Allah tidak tinggal diam. Ia prihatin dengan umat-Nya yang tercerai-berai akibat kesalahan para gembala yang tadinya sangat dipercayai-Nya. Yang menjadi perhatian Allah pertama-tama adalah umat-Nya, bukan para pemimpin agama. Karena itu, ketika umat Allah tercerai-berai, Allah mengambil sikap yang sangat tegas. Sikap ini tentu menakutkan bagi para pemimpin agama, namun sekaligus menggembirakan bagi umat Allah. Dan Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri ke mana Aku mencerai-beraikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka: mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak. Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekor pun, demikianlah firman TUHAN.
Dari teks ini kita dapat melihat bahwa setidaknya ada tiga tindakan ilahi yang Allah lakukan kepada umat yang tercerai-berai itu:

Pertama, Ia mencela habis-habisan para pemimpin agama yang ”membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!” (ay. 1) dan “tidak menjaganya” (ay. 2).

Allah akan menghukum para pemimpin yang teledor dalam menjalankan tugas mereka sebagai seorang pemimpin. Dalam konteks kehidupan bergereja kita, para pemimpin itu bisa jadi adalah pendeta, sintua, atau pemimpin lainnya. Jika para pemimpin agama ini terus-menerus membiarkan warga jemaatnya disesah dan terserak oleh persoalan dunia yang tidak digembalakan para gembalanya, maka Tuhan akan marah kepada pemimpin agama ini. Mereka harus sungguh-sungguh sadar bahwa ketika mereka gagal menjalankan tugas yang Allah percayakan dan malah membuat umat Allah tercerai-berai, mereka akan berurusan dengan Allah sendiri. Agaknya, hal pertama ini dapat menjadi sebuah batu-uji bagi kepemimpinan kristiani. Seorang pemimpin Kristen yang baik selalu menjaga keutuhan gereja.

Kedua, Allah akan mengumpulkan kembali domba-doma yang tercerai-berai itu (ay. 3).

Bahkan, di ayat yang sama, Allah berjanji bahwa “mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak.” Maka, khotbah ini sesungguhnya ditujukan bukan hanya kepada para pemimpin gereja, namun juga kepada semua anggota jemaat. Percayalah, bahwa Allah sungguh memperhatikan nasib umat-Nya. Ia akan memulihkan jemaat-Nya yang tercerai-berai dan mengasuh mereka, agar mereka dapat terus bertumbuh dan berkembang. Jika pemimpin agama tidak mau lagi memperhatikan umat Tuhan, maka Tuhan akan turun tangan menggembalakan umat-Nya agar umat-Nya itu tidak dimangsa para pengajar sesat di dunia ini.

Ketiga, Allah juga berjanji untuk memberikan kepada umat-Nya para gembala baru yang setia dan bertanggung jawab (ay. 4).

Gereja kita mungkin pernah terluka karena keterpecahan yang menyedihkan hati Allah dan hati kita. Karena itu, doakanlah para pemimpin Anda yang ada sekarang, agar dapat menjadi pemimpin yang baik dan bertanggung jawab dalam menjaga keutuhan gereja Tuhan. Doakanlah terus agar setiap pendeta, sintua, dan majelis menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan dalam menjalankan tugas pelayanannya.
Yang menarik, janji Allah untuk menghimpun kembali umat-Nya dipandang setara dengan tindakan Allah dalam membebaskan bangsa Israel dari tanah Mesir (ay. 7-8). Usaha menyatukan gereja Tuhan, dengan demikian, merupakan sebuah proses pembebasan, karena keterpecahan tak ubahnya dengan pembelengguan dan penindasan. Kemanusiaan kita terpecah ketika kita berseteru dengan sesama kita. Sebaliknya, kita menjadi manusia sejati dan merdeka tatkala kita bersekutu dengan saudara-saudara seiman kita.
Karena itu, Saudara-saudara, usahakanlah selalu persaudaraan di dalam jemaat ini. Segala sesuatu yang mengakibatkan pertikaian dan perpecahan sudah pasti bukan berasal dari Allah, karena jika Allah berkarya, maka apapun yang dikerjakan Allah selalu mempersatukan.




Pdt. Dr. Joas Adiprasetya
Puket I STT Jakarta

Bacaan Minggu 9 Setelah Trinitatis, 1 Agustus 2010: Keluaran 23:6-9

TUHAN: PEJUANG DAN PENCINTA KEMERDEKAAN
Keluaran 23:6-9
Minggu 9 Setelah Trinitatis, 1 Agustus 2010 


Perintah TUHAN: Berpihak Pada Kebenaran.

Firman TUHAN dari Keluaran 23:6-9 menyapa kita pada hari ini. Firman TUHAN ini berisi: Larangan memperkosa hak orang miskin. Orang miskin sering menjadi korban kekuasaan dan korban kebijakan. Dalam masyarakat yang tidak sehat, orang miskin tidak berdaya membela haknya. Karena hukum sering dikangkangi, uang lebih memainkan peranan, maka orang atau yang lebih miskin menjadi korban. Siapa yang lebih kuat, finansial dan kuasa, dia yang menang.

Menjauhi diri dari perkara dusta. Akibat dari kekuatan financial dan kuasa, maka dusta merajalela ditempat penegakan keadilan.
Larangan membunuh orang tak bersalah dan orang benar. Akibatnya orang yang tak bersalah, atau orang benar menjadi korban. Pembunuhan orang benar dan kebenaran terjadi mulai dari tingkat terendah hingga hukuman mati.

Larangan menerima suap. Di belakang peristiwa atau proses peradilan, terjadi suap yang membuat penegak keadilan silau dan akhirnya memutarbalikkan kebenaran fakta.
Larangan menekan atau menindas orang asing. Keempat hal pertama dapat kita lihat dari perspektif hukum atau keadilan, karena memang konteks perintah yang disampaikan TUHAN sifatnya umum. Sedangkan yang terakhir sifatnya khusus, terhadap orang asing, umat dilarang menindas karena. Umat bisa dengan cepat memahami arti perintah TUHAN yang ke lima ini karena umat sudah pernah mengalami penindasan dalam bentuk perbudakan di Mesir.

Dengan demikian firman TUHAN berisi perintah kepada umat untuk berpihak kepada kebenaran. Perintah ini juga berlaku bagi kita. Berpihak pada kebenaran adalah ciri khas orang yang benar. Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, orang yang percaya sering disebut sebagai orang benar. Mereka adalah orang yang berpihak kepada kebenaran, membela kebenaran dan menjunjung tinggi kebenaran. Dengan demikian, perintah yang berisi larangan melakukan yang tidak benar, atau kejahatan, sama artinya dengan anjuran untuk menjunjung tinggi kebenaran. Itu tidak berlaku hanya untuk umat Allah dalam Perjanjian Lama, tetapi juga untuk. bagaimana perintah tersebut berlaku bagi kita? Kita adalah orang yang percaya kepada Allah di dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus datang bukan untuk meniadakan taurat dan kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya (Mateus 5:17). “Menggenapinya” berarti melaksanakannya sehingga tuntutannya tetap diberlakukan secara penuh sepanjang masa. Percaya kepada Yesus berarti turut serta memberlakukan tuntutan taurat dan kitab para nabi. Jadi, firman TUHAN juga mengajak kita untuk berpihak kepada kebenaran.

Perintah TUHAN: Petunjuk Kehidupan

Kepada siapa perintah ini ditujukan? Tadi kita bertanya dan belum terjawab secara tuntas. Perintah tersebut ditujukan kepada umat Tuhan. Kalau bukan, siapa lagi? Mari kita perhatikan ayat 9. Orang asing di tanah Mesir dalam Perjanjian Lama itu pasti mengacu kepada umat Allah, Israel. Mereka adalah keturunan Abraham, Ishak dan Yakub. Yakub kemudian disebut Israel. Keturunan Yakub menjadi besar di Israel. Mereka hidup dalam perbudakan. Kita dapat membayangkan betapa berat kehidupan umat, sebagai orang asing, yang diperbudak.
Sadar betapa berat kehidupan umat, baik secara religious, menyangkut kebebasan beribadah, maupun secara politis, diperbudak dan menjadi warga kelas rendah. Bagi umat itu sesuatu yang sangat menyakitkan. Kita bisa rasakan itu sedikit-sedikit. Memang, sedikit-sedikit. Karena menurut para ahli, dalam sejarah dunia, tidak ada yang lebih berat dari perbudakan di Mesir. Apakah itu betul? Yang jelas sangat berat! Tidak seberat di Indonesia.

Sangat berat, tetapi bukan akhir dari segala-galanya. Firman Tuhan ini merupakan bagian dari serangkaian firman yang panjang, dimulai dengan pernyataan: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (Keluaran 20:2). Setelah pernyataan ini, barulah TUHAN menyampaikan sepuluh perintah TUHAN dan dilanjutkan dengan serangkaian perintah, seperti yang kita dengar hari ini.

Apa artinya pernyataan itu bagi kita? Artinya, perintah TUHAN diberikan setelah TUHAN membebaskan umat dari perbudakan di Mesir. Dia bukan TUHAN yang sadis, memberi perintah yang berat dalam situasi hidup yang sangat berat, di perbudakan. Dia adalah TUHAN yang penuh anugerah. Dia tahu persis pergumulan umatNya. Dia mendengar seruan umatNya minta tolong. Dia ahli dalam berempati dan solidaritas. Dia membebaskan umatNya. Bagi TUHAN dan bagi umatNya, penderitaan yang sangat berat di Mesir bukan akhir dari segala-galaNya, karena Dialah TUHAN, Allah Israel!
Kita sekarang bisa mengerti. Setelah membebaskan umat, TUHAN memberi perintah. Perintah yang bisa dilaksanakan. Perintah yang berisi petunjuk kehidupan, yaitu petunjuk kehidupan bagi orang yang sudah dimerdekakan. Petunjuk untuk apa? Tidak lain dan tidak bukan: Petunjuk untuk hidup sebagai orang-orang merdeka! Perintah TUHAN memang kalau tidak dilaksanakan, maka akan menuding kita bersalah! Berbuat jahat! Kalau umat melaksanakannya, bukan agar mereka menjadi orang merdeka. Tetapi agar mereka hidup sesuai dengan kemerdekaan yang telah diterima dan memberlakukan itu bagi orang lain. Bagi umat itu berarti, dimerdekakan untuk menghormati kemerdekaan atau memerdekakan orang lain.

Apa artinya bagi kita? Kemerdekaan dari perbudakan di Mesir sering disejajarkan dari kemerdekaan dalam Kristus. Peristiwa itu bukan sekedar masa lalu. Kalau sekedar masa lalu, untuk apa itu menjadi khotbah saat ini? Itu kita hayati juga. Seluruh teologi pembebasan dan kemerdekaan dimotivasi dan digerakkan oleh pembebasan Allah Israel dari perbudakan di Mesir. Pembebasan dari Mesir sering disejajarkan dengan pembebasan dari perhambaan dan perbudakan dosa. Allah yang megerjakan pendamaian itu di dalam Kristus (2 Korintus 5:19). Ini merupakan aktualisasi dari pembebasan yang dikerjakan Allah Israel! Sebagai orang yang sudah merdeka, kita melaksanakan perintah TUHAN dalam arti menyesuaikan cara hidup kita agar sesuai dengan keberadaan kita sebagai orang merdeka. Bukan agar kita menjadi orang merdeka! Pembebasan yang derdimensi religious dan politis, ini mengisyaratkan tugas dan pelayanan kita sebagai orang Kristen. Orang Kristen tidak lagi memahami pelayanannya murni religious, menyangkut ibadah di gereja. Pelayanannya tidak sekedar berdimensi politis, tetapi harus politis. Kehidupan umat dan masyaraklat sudah lebih banyak diatur secara politis, dan dipolitisir. Konsekuensinya, pelayanan yang aktual dan kontekstual harus politis. Khotbah juga harus politis, menyentuh kehidupan warga yang sudah dipolitisir, tanpa harus mempolitisir kehidupan warga. Kita belum terbiasa dengan khotbah seperti ini, tetapi TUHAN, Allah Israel, sudah mendemonstrasikannya.

Perintah TUHAN: Menghormati Kemerdekaan Orang Lain

Kita masih bertanya lebih spesifik, lantas apa arti firman TUHAN ini bagi kita? Perintah TUHAN merupakan petunjuk kehidupan bagiorang yang merdeka. Tujuannya, agar sebagai orang merdeka,turut memerdekakan orang lain. Dengan kata lain, kita diajak firman TUHAN untuk terlibat dalam karya agung TUHAN, Allah Israel, memerdekakan orang lain, memperluas wilayah kemerdekaan. Ciri khas orang yang merdeka adalah hak untuk hidup dan mengatur kehidupannya. Dia juga merdeka untuk menghormati kemerdekaan orang lain.
Kemerdekaan untuk hidup layak dan sejahtera di bumi, tidak diberikan oleh siapapun. Oleh karena itu tidak bisa diberangus atau dikebiri oleh siapapun atau lembaga apapun. Realita menunjukkan bahwa hak untuk hidup sejahtera di bumi sering kali tidak dimiliki. Siapa yang memberikannya? TUHAN! Bagaimana TUHAN memberikannya? Ini sangat teologis! TUHAN ingin memberikannya melalui orang-orang yang merdeka. Melalui kita, melalui saudara dan saya.
Melalui perintahNya TUHAN membayangkan suatu kehidupan di dunia yang merdeka. Kemerdekaan yang dibutuhkan oleh dunia yang merasa terikat di dalamnya. Sayangnya sering kali dalam haliman kita mengatakan bahwa kita merdeka. Kita dimerdekakan Kristus. Tetapi kenyataannya, kita sering mengorbankan kemerdekaan kita bukan untuk kehidupan orang lain. Bukan untuk kebahagiaan orang lain. Sebaliknya, untuk kebahagiaan dan kesenangan semu:
Orang yang melakukan suap untuk mendapat jabatan atau posisi adalah orang yang tidak merdeka. Dia terikat oleh kuasa dan jabatan.
Orang yang menerima suap dan memutarbalikkan kebenaran fakta adalah orang yang tidak merdeka. Dia terikat oleh kenikmatan uang.
Orang yang memerkosa orang miskin karena merasa lebih berkuasa adalah orang yang tidak merdeka. Dia terikat oleh sistem yang korup.
Orang yang menindas adalah orang yang tidak merdeka. Dia terikat pada keangkuhan diri.

Sebagai pelayan TUHAN, saya juga harus mengatakan, orang yang takut posisi pelayanannya digeser dari tempat yang tidak “enak”, sehingga mendekatkan diri kepada kekuasaan, juga bukanlah pelayan yang merdeka. Ini berlaku juga bagi saya, karena saya juga adalah pelayan TUHAN. Semua kita sedang ditantang oleh firman TUHAN. Firman TUHAN sudah member kabar gembira, yaitu pembebasan.Kita telah dimerdekakan. Apakah kita mengikuti perintah TUHAN, petunjuk kehidupan dari TUHAN, sebagai orang merdeka? Atau, sebetulnya kita bukanlah orang merdeka? Saya mengajak kita semua berdoa,mohon kekuatan dan pimpinan Roh Kudus untuk hidup sebagai orang merdeka, mengikuti teladan dari TUHAN,Allah Israel dan teladan Yesus Kristus.Kiranya TUHAN semakin dipermuliakan melalui kehidupan kita, amin.

Pdt. Dr. Ir. Fridz P. Sihombing
Dosen STT HKBP P.Siantar

Selasa, 13 Juli 2010






PERANAN PEREMPUAN, GEREJA
DALAM MENANGGULANGI KENAKALAN REMAJA
Dra.Ramona Hasibuan*



I. Pendahuluan
Sebagaimana diketahui keluar merupan unit terkecil dari masyarakat yang kekelompokannya didasarkan ikatan perkawinan, ikatan darah atau ikatan berdasarkan hukum lainya seperti adopsi. Ikatan ini membentuk sebuah rumah tangga yang saling bertidak dan berhubungan satu sama lain dalam peranannya masing-masing sebagai ayah, ibu dan anak-anak.
Di Indonesia masih umum terjadi bahwa kedalam keluarga termasuk pula orangtua, saudara atau kemanakan baik dari pihak suami maupun pihak istri. Dengan demikian keluarga semacam ini lebih luas dan kompleks sifatnya dibanding dengan keluarga dalam pengertian moderen yang hanya terdiri atas bapak, ibu, dan anak saja. Hal ini diungkapkan karena keluarga merupakan wadah dn sarana yang sangat penting dan berpegaruh serta sangat menentukan dalam proses pembentukan dan pembinaan anak sebagai calon sebagai generasi penerus.
Perempuan, istri atau ibu dalam keluarga menduduki posisi dan mengemban tugas yang sangat penting karena pada hakekatnya perempuan adalah guru pertama dan utama dalam kehidupan seorang anak. Corak dan masa depan anak ditentukan oleh cara ditemukan oleh cara dan bentuk pendidikan yang diterimanya dari lingkungan hidupnya, yakni lingkungan keluarga yang pertama – tama dan terdekat yang dijalaninya dan lingkungan masyarakat. Perempuan berada di dalam lingkungan keluarga berperan sebagai istri dan sebagai ibu dan ini berarti perempuanlah yang bertindak sebagai pendidik pertama dalam meletakkan dasar-dasar ketinggian budi susila anak – anaknya yang kelak bakal menjadi anggota masyrakat yang jauh dari rona pengaruh kenakalan dan kejahatan.
Selaku ibu dan istri, perempuan di dalam rumah tangga memiliki penggaruh yang sangat menentukan corak dan pola keluarga dan ini pula yang menentukan tipe-tipe anak, apakah ia menjadi anggota masyarakat yang nakal, jahat, tanpa disiplin atau calon generasi penerus yang ideal, sehat dan kuat rohaniah dan jasmaniah. Juga memiliki ketahanan diri yang tangguh sebagai anggota masyarakat yang berbudi luhur. Berkaitan dengan kenyataan ini penting ditingkatkan kesadaran perempuan dalam perannya sebagai pendidik dan pembina generasi muda agar mereka tidak terperosok ke dalam kanca kenakalan yang dapat merugikan dirinya sendiri, masyrakat, bangsa dan negara.

II. Perempuan, Keluarga dan Masyarakat
Perempuan yang selalu dikatakan dikatakan sebagai makluk lemah sesungguhnya memiliki kekuatan dan ketahanan yang lebih tinggi jika di bandingkan dengan kaum laki-laki. Perempuan lebih tahan sakit, lebih tahan menderita, lebih tahan lapar, dan sebagainya meskipun kelihatan penuh manja dan lemah lembut. Perempuan dalam banyak hal memiliki kelebihan dalam proses pembetukan watak dan warna serta susunan keluarga atau ramah tangganya.
Tergantung pada perempuanlah apakah sebuah rumah tangga itu tenang, tenteram penuh dilimpahi kasih sayang, saling pengertian, penuh kedamain lahir batin. Ataukah terjadi sebaliknya suatu rumah tangga penuh percekcokan saling tidak mempercayai anak-anak tanpa disiplin dan tak pernah menerima kasih sayang, kacau balau, jauh dari kedamaian dan ketenteraman.
Ahli Amerika Serikat yang kenamaan Edwin H. Sutherland dan kawan-kawan berkata bahwa corak rumah tangga dan cara hubungan dalam keluarga sangat menentukan apakah anak-anak yang dipelihara dan dibesarkan didalamnya akan cenderung menjadi nakal atau tidak, Sutherland menyatakan bahwa rumah tangga yang menghasilkan anak - anak nakal sering mempunyai salah satu atau lebih kondisi –kondisi sebagaimana tersebut di bawah ini :
a. Anggota –angota yang lainya juga nakal, pemabuk, amoral.
b. Tidak adanya salah satu orang tua atau kedua orang tua karena kematian, perceraian, melarikan diri.
c. Kurangnya pengawasan orang tua karena masa bodoh, cacat inderanya atau sakit.
d. Ketidakserasian karena adanya yang “main kuasa sendiri”, iri hati, cemburu, terlalu padatnya anggota keluarga dan adanya pihak-pihak lain yang turut campur.
e. Perbedan ras, adat istiadat, agama, suasana di rumah-rumah piatu serta di panti - panti asuhan.
f. Tekanan ekonomi seperti penggaguran, kurangnya penghasilan serta ibu yang bekerja di luar rumah.
Sungguh pun kondisi tersebut diatas merupakan gambaran keadaan di Amerika Serikat namun dikemukakan pendapat Sutherland tersebut untuk lebih menonjolkan corak keluarga yang tidak tenteram, kacau, serba kekurangan ataupun keadaan broken home yang sangat cenderung menghasilkan anak – anak yang nakal. Bila Sutherland menekankan kondisi ekonomi yang sangat tertekan serta kepadatan isi rumah tangga ( banyaknya penghuni rumah atau anggota keluarga ) merupakan faktor yang mendorong “tercetaknya bibit-bibit nakal” maka dalam perkembangan masyarakat dewasa ini dengan kemajuan teknologi serta lancarnya arus komunikasi malahan kita melihat kenakalan anak-anak itu terjelma karena kemudahan –kemudahan serta kehidupan ekonomi yang berlimpah ruah tanpa dibarengi dengan perhatian serta disiplin yang di tanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya.
Pada kondisi yang serupa inilah semakin kelihatan pentingnya peranan seorang perempuan dalam rumah tangga. Tidak adanya ibu dalam rumah tangga.tidak ada ibu dalam rumah tangga apakah karna perceraian apakah karena perceraian, meninggal dunia, pergi ataupun harus bekerja di luar mencari nafkah, sangat mempengaruhi pola tingkah laku seorang anak. Sudah terbukti bahwa anak yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya cenderung menjadi anak yang tidak mempunyai disiplin, sama halnya dengan anak – anak yang terlampau berlebihan dimanjakan, dan dituruti segala kehendaknya oleh orang tuanya. Anak serupa ini cenderung menjadi anak yang keras, kemauan yang tidak menentu, tidak berdisiplin dan sering mau menang sendiri untuk akhirnya menjadi anak yang sok jago.
Seorang perempuan yang bijaksana pasti akan mengendalikan rumah tangganya dengan cara yang bijaksana, sejak melayani suami, menggasuh dan membimbing anak sampai menggatur pembelanjaan dan membina anggota keluarganya bahwa unsur agama sangat berperan dalam melancarkan kehidupan rumah tangga, akan dimanfaatkan pula oleh perempuan yang arif dan bijaksana dengan cara menanamkan jiwa keagamaan ke dalam dada, ke dalam hati sanubari anak-anaknya. Akan didiknya anak - anaknya untuk taqwa Tuhan Yang Maha Esa, akan diajarkannya anak - anaknya untuk berbuat nakal / jahat karena itu melanggar Firman Tuhan, akan di bimbingnya anak – anaknya untuk selalu berkata benar, bersikap jujur, saling mengasihi sesama manusia, menghormati orang tua dan guru, selalu berterima kasih dan bersyukur atas berkat dari Tuhan, bersabar dalam menjalani kehidupan, namun tetap rajin berusaha karena semuanya itu adalah perintah Tuhan dan di kehendaki Tuhan.
Perempuan semacam ini pasti merupakan ratu rumah tangga yang menciptakan keluarga yang damai, tentram dan diliputi kebahagian. Dan jika diamalkan bahwa keluarga itu merupakan sel-sel yang berbentuk organisme yang disebut masyarakat, maka masyarakat yang terdiri atas keluarga - keluarga yang ideal serupa ini akan merupakan suatu masyrakat yang damai, tentram, jauh dari kebusukan dan rona kenakalan
Dalam hubungan ini bukanlah sia – sia kata - kata mutiara yang mengungkapkan bahwa perempuan itu adalah tiang masyarakat, bila perempuannya rusak maka rusak pulalah masyarakat itu, bila perempuannya baik maka baik pulalah masyarakat itu.

III. Masalah Kenakalan Remaja
Sebelum beranjak ke kenakalan remaja kita tinjau dahulu apa itu kenakalan / kejahatan. Terhadap pengertian itu sendiri belum ada kata sepakat dari para ahli dalam memberikan definisinya, Sutherland menyebutkan bahwa tingkah laku kriminal adalah tingkah laku yang melanggar undang – undang. Pelanggaran terhadap undang – undang adalah kejahatan dan perbuatan – perbuatan itu diancam dengan hukuman. W.A.Bongber seorang ahlinya telah mengklasifikasikan kenakalan / kejahatan berdasarkan motif – motif para pelakunya yakni kejahatan ekonomi, seksual, politik dan kejahatan sebagai pembalasan dendam sebagai motif utama.
Secara umum yang menderita kerugian karena karena kenakalan \ kejahatan baik langsung maupun tidak langsung adalah masyarakat. Kerugian secara langsung dalam bentuk biaya pemeliharaan polisi dan peradilan disamping kerugian dalam bentuk kegelisahan atau bahkan terror, dalam hal ini individu adalah korban kenakalan / kejahatan dalam arti lebih khusus. Korban mungkin kehilangan sesuatu yang mempunyai nilai : rasa aman, uang, harta benda, harga diri bahkan nyawa.
Pada umumya perbuatan-perbuatan itu bukan saja perbuatan yang melanggar ketentuan hukum tapi juga perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Bukankah agama kita tidak membenarkan adanya pembunuhan, penganianyaan, penghinaan, pengkhianatan, pencurian, durhaka kepada orang tua serta perbuatan asusila lainya seperti perzinahan dsb.
Dari uraian terdahulu dapatlah disimpulkan bahwa yang nakal / penjahat itu adalah orang yang melakukan suatu perbuatan nakal / jahat. Mereka ini datangnya tentulah dari suatu keluarga tertentu dengan bakat tertentu atau pengaruh lingkungan tertentu yang sifatnya menyalahi kaidah sosial termasuk peraturan serta kaidah agama.
Oleh ahli kriminologi bahwa penjahat itu memulai karirnya pada usia yang sangat muda. Dengan demikian bibit - bibit kenakalan / kejahatan itu sudah mulai ada sejak masih anak - anak dengan lingkungan keluarga yang berpengaruh sedemikian rupa serta mendorong mereka untuk berbuat kenakalan.
Siapakah anak atau remaja? Masa anak-anak adalah tahap hidup manusia sesudah tahap prenatal, tahap baik. Tahap anak-anak di mulai pada usia sekitar 2 tahun - usia12 - 13tahun, kemudian tahap remaja adalah masa sekitar 13 – 14 sampai 18 – 19 tahun.
Pada tahap anak dan remaja ini faktor lingkungan sangat berpengaruh pada perkembangan pola tingkah laku anak. Kita sudah mengetahui bahwa yang dimaksud dengan lingkungan adalah segala hal yang ada disekitar manusia mulai dari alam sampai manusia lainnya
( keluarga dan masyrakat ).
Agar anak dan remaja selaku individu dapat memiliki ketahanan diri yang kuat untuk menolak pengaruh-pengaruh negative dari lingkungan dirinya maka mereka harus dibekali dengan disiplin dan pendidikan yang baik sejak usia dini. Bekal ketahanan diri yang kuat pada pemuasan dirinya ia mengalami benturan - benturan dengan lingkungannya atau bahkan bila ia mengalami frustasi. Ketahanan diri yang kuat akan mencegahnya untuk berbuat hal-hal yang negatif yang menjurus kepada kenakalan / kejahatan.
Kenakalan remaja disebabkan oleh dua faktor:
1. Faktor intern yang terdapat dalam diri anak dan remaja : intelegensi; usia dan jenis kelamin; kedudukan sebagai anak ( sulung, bungsu, tunggal ), kekecewaan ( frustasi )
yang membawa reaksi negative ( agresif, patah hati, dsb ), kejiwaan ( kleptomania ).
2. Faktor ekstern yang terdapat dalam anak / remaja : keadaan rumah tangga, keadaan ekonomi, pendidikan, pergaulan, pengaruh mass media ( pers, film, radio, televisi, video ).
Demikianlah yang dapat menimbulkan kenakalan remaja, dalam keadaan yang mana seyogyanya tertonjol peranan ibu / perempuan dalam proses perkembangan anak dan remaja sehingga tidak menjurus kepada hal-hal yang negative. Berdasarkan faktor - faktor dan kenyataan tersebut terutama di kota besar terdapat gejala – gejala kenakalan dsb :
1. Sering membolos dari sekolah, berkeliaran tanpa tujuan, hidup santai tanpa tanggung jawab dan cita-cita, berbuat kurang ajar terhadap orang tua dan guru, perkelahian antar sekolah.
2. Mengebut di jalanan, gangguan lalu lintas, perkelahian antar kelompok / gank.
3. Peredaran gambar dan bacaan porno, video yang mengakibatkan kurangnya gairah belajar, serta pengaruh negative yang tidak sesuai dengan jiwa pancasila.
4. Pergaulan bebas ( free seks ) di iringi pemakaian obat – obatan, perangsang dan kontrasepsi, narkotika dan minuman keras serta perbuatan liar tanpa kendali (moral dan agama).
5. Tindakan yang menuju ke arah kriminal, mulai mengganggu anak gadis, pemerkosaan, memeras, menggompas sampai membunuh.
Sesungguhya kenakalan / kejahatan remaja tersebut satu sama lain saling berkaitan, saling sebab menyebabkan, dan saling akibat dan mengakibatkan. Semuanya itu merupakan kenyataan adanya dekadensi moral yang melanda sebagian calon generasi penerus kita.

IV. Peranan Perempuan Dalam Menanggulangi Kejahatan
Sesungguhya berkewajiban dan harus merasa terhimbau untuk bertidak secara nyata dalam menanggulangi kenakalan remaja dalam masyrakat. Para perempuan itu hanya sebagai ibu rumah tangga saja ( house wife ) ataupun sebagai wanita karir ( wanita yang bekerja dan mencari mata pencarian ), kedua jenis perempuan ini dapat berperan secara aktif dalam masrakat yang terdiri dari keluarga damai, tentram tanpa di warnai debu - debu kenakalan dari kejahatan.
Secara sosiologis memang kenakalan itu dalam berbagai bentuk merupakan gejala penyakit masyarakat antara lain gelandangan, pengemis, pemabuk, penyakit jiwa, perdagangan manusia, dsb. Sebagaimana biologis maka kenakalan itu harus diatasi atau ditanggulangi. Dalam hubungan ini usaha dan cara menanggulangi dapat dilaksanakan dua tindakan :
1. Secara preventife ( usaha pencegahan )
2. Secara repressive ( usaha menghilangkan, membasmi atau mengurangi ).
Pada cara yang pertama, peran perempuan sangat penting artinya, mengingat kedudukan dan fungsinya sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga, dalam hal ini perempuan harus membina, membimbing dan mengarahkan anak – anak berkembangnya munculnya bibit kejiwaan anak – anaknya. Untuk tujuan tersebut seorang perempuan harus mampu menanamkan moral yang tinggi pada anak – anaknya, nilai keagamaan di dalam keluarga memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup kepada anaknya namun jangan sampai terlampau dimanjakan tanpa batas atau sebaliknya tanpa peduli. Menjadi kewajiban perempuan untuk menciptakan suasana dan lingkungan rumah tangganya serasi dan tenteram penuh kasih sayang sehingga rumah bagi anggota keluarga terutama anak – anak. Bagaikan teluk tempat berteduh.
Dalam hal keadaan ekonomi rumah tangga yang lemah maka anak – anak dapat diajak turut bertanggung jawab mengatasi kesulitan hidup, ajak mereka bekerja sama dalam berusaha secara halal dan memetik hasilnya.
Pada cara yang kedua, perempuan dapat berperan serta secara nyata dan aktif, perempuan dapat menjadi pekerja sosial mengelola panti asuhan, pusat rehabilitasi, ataupun korban narkoba dan minuman keras. Dan tentu saja dapat dikemukakan bahwa guru seorang perempuan dapat menyadarkan anak didiknya yang telah terjerumus kepada kenakalan meskipun tugas sebagai guru dalam banyak hak merupakan kegiatan yang bersiat preventive.
V. Kesimpulan dan Saran

Dari uraian yang terdahulu dapat disimpulkan bahwa perempuan menduduki posisi dan fungsi yang paling menentukan baik di dalam keluarga maupun masyarakat.
Selaku pendidik pertama dan utama di dalam rumah tangga seyogyanya perempuan harus mampu membina anak – anaknya yang merupakan calon generasi penerus untuk menjadi anak yang memiliki disiplin dan tanggung jawab baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat dan terutama bagi agamanya.
Dengan cara demikina perepuan telah memainkan perannya mencegah timbulnya kenakalan, apalagi jika dibarengi dengan peran aktif para perempuan dalam membasmi atau mengurangi kenakalan / kejahatan di dalam masyarakat. Melalui tulisan ini kami sarankan kiranya perempuan dalam melaksanakan fungsinya baik di dalam keluarga maupun di masyarakat lebih dulu dan tanpa bosan membekali diri dengan ilmu dan pengetahuan ( terutama agama ) yang sangat penting bagi usaha dan pembinanaan dan pembimbingan anak – anak. Secara nyata hendaknya setiap perempuan tetap memberikan suri tauladan, sesuaikan kata dengan perbuatan, jangan hanya menyuruh anak berbuat baik tetapi diri sendiri memberikan contoh buruk perbuatan – perbuatan bercela.


* Penulis, seorang mantan anggota Majelis Pusat GKPA dan Bendahara Pusat GKPA Pada awal Panjaeon HKBP-A. Sekarang tenaga dosen di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan

Selasa, 22 Juni 2010

RENUNGAN




KEMERDEKAAN YANG MEMBAWA KERUKUNAN
Ramli SN Harahap



Pengantar dan Latar-Belakang


Pada 17 Agustus 2010 kita merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-65. Yang mana oleh pertolongan Tuhan, kita telah dibebaskan dari penjajahan bangsa asing, sehingga kini kita dapat menjadi bangsa yang merdeka. Tetapi tidak berarti bangsa kita sekarang telah bebas dari penjajahan dalam arti yang sesungguhnya. Bangsa kita sekarang masih dijajah oleh kuasa dosa, sehingga kehidupan masyarakat kita masih saling menjajah, menindas atau berupaya untuk menundukkan sesama yang dianggap lemah. Sebagian kelompok masyarakat yang merasa dirinya kuat dan berkuasa terus berupaya untuk menekan dan menindas anggota kelompok masyarakat yang tidak berdaya, apakah penindasan dalam bidang sosial-ekonomi, etnis, budaya ataukah dalam bidang agama. Padahal ciri kehidupan masyarakat Indonesia sejak awal adalah pluralistis (majemuk). Tetapi dominasi “mayoritas” terhadap “minoritas” dalam kehidupan sehari-hari sering begitu kental sehingga terjadilah penindasan dalam berbagai bentuk. Itu sebabnya kita sering gagal untuk mewujudkan kehidupan yang rukun sebagai suatu bangsa. Di berbagai tempat di negara kita masih terjadi berbagai pertikaian dan konflik berdarah. Bila sebelum 1945, kita berhadapan dengan kuasa penjajahan bangsa asing; maka kini kita berhadapan dengan kuasa penjajahan yang dilakukan oleh sesama bangsa. Pola penjajahan “modern” yang terjadi saat ini, bisa jadi lebih buruk dari pada saat kita dijajah oleh bangsa asing. Jadi pada intinya sampai saat ini kita belum sepenuhnya bebas dari kuasa penjajahan. Karena itu peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus perlu dipahami secara komprehensif dan realistis yaitu kita harus terus berjuang untuk menegakkan keadilan dan kebebasan. Tujuannya agar peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia tersebut jangan hanya mengenang arogansi atau superioritas bangsa lain yang pernah menindas bangsa kita; tetapi kita melupakan dan mengabaikan arogansi atau superioritas setiap kelompok atau orang yang merasa dirinya “mayoritas”. Kehidupan bersama yang rukun akan terwujud ketika kita mampu hidup bersama dengan menghormati hak setiap orang dan tidak pernah memperlakukan orang lain secara diskriminatif dalam bidang apapun juga.


Merdeka menjadikan Hidup Lebih Rukun

Walau umat Israel semula dari satu keturunan yaitu dari keturunan Abraham dan Ishak, ternyata tidaklah mudah bagi mereka untuk hidup bersama dengan rukun. Bahkan Abraham dan Lot yang semula hidup bersama-sama, akhirnya mereka terpaksa berpisah ketika usaha dan kekayaan mereka bertambah (Kej. 13:6). Demikian pula halnya dengan Esau dan Yakub. Ketika harta milik mereka bertambah-tambah, maka kemudian Esau memilih meninggalkan Kanaan dan menetap di pegunungan Seir. Kej. 36:7 memberi kesaksian, yaitu: “Sebab harta milik mereka terlalu banyak, sehingga mereka tidak dapat tinggal bersama-sama”. Setelah raja Salomo wafat, maka kerajaan Israel terpecah menjadi 2 bagian yaitu kerajaan Israel Utara dan kerajaan Israel Selatan (I Raj. 12:16-20). Di antara rakyat dari kerajaan Israel Utara (Samaria) sering bertikai dengan rakyat dari kerajaan Israel Selatan (Yehuda). Karena itu pemazmur merindukan suatu kehidupan rukun di antara umat, sehingga dia berkata: “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” (Mzm. 133:2).

Walaupun demikian kerinduan pemazmur tersebut bukan sekedar suatu harapan yang “utopis” atau suatu harapan khayali dan tidak mungkin tercapai. Sebaliknya harapan dari pemazmur tersebut ditempatkan dalam janji penyertaan dan berkat Tuhan. Apabila umat bersedia bersandar kepada penyertaan dan berkat Tuhan, maka pastilah kehidupan mereka tidak akan terpecah-pecah. Mereka akan dikaruniai Tuhan suatu kehidupan rukun selama-lamanya. Segala perbedaan, persoalan dan kemajemukan yang mereka miliki tidak akan memisahkan mereka dari persekutuan umat. Penyertaan berkat Tuhan bagi umatNya disimbolkan dengan pengurapan minyak, yaitu: “Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya”.

Bagi umat Israel zaman itu, minyak memiliki makna dengan simbol yang khusus, yaitu:
a. Sebagai “pengharum”: persaudaraan yang rukun tentu akan mengharumkan identitas diri mereka sebagai umat Allah. Karena itu kitab Pengkhotbah berkata: “Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran”. Umat Israel umumnya gemar memakai minyak sebagai pengharum (Ams. 27:9), tetapi mereka lebih menghargai nama yang harum.
b. Sebagai media “pengobatan”: persaudaraan yang rukun tentu dapat mengobati berbagai penghalang dan luka-luka yang pernah mereka alami. Pada zaman dahulu minyak dipakai untuk mengoles orang-orang yang sakit (bnd. Mark. 6:13; Yak. 5:14). Dalam kehidupan masa kini simbolisasi minyak tersebut juga dapat diterapkan dalam pengertian rohaniah, yaitu dioleskan untuk menyembuhkan luka-luka batin yang meretakkan hubungan di antara sesama.
c. Sebagai media “penobatan” (pelantikan) seseorang dalam identitas yang baru: minyak dipakai untuk mengurapi seseorang sehingga dia diteguhkan untuk melaksanakan panggilan Tuhan secara khusus (I Sam. 10:1). Karena itu minyak juga dipakai sebagai simbol pengurapan Roh Kudus (Ibr. 1:9). Persaudaraan yang rukun akan terwujud ketika kita sebagai umat membuka diri untuk dikuduskan dan dimurnikan oleh Roh Kudus sehingga kita dimampukan untuk melaksanakan karya Tuhan yang mendamaikan.

Belajar dari Sikap Yusuf

Selain itu pemazmur menempatkan harapan akan persaudaraan yang rukun seperti embun yang turun dari gunung. Embun di pagi hari selain mampu menyejukkan udara, juga dapat memberi kesuburan dan kesegaran bagi tanaman. Karena itu tanaman di sekitar pegunungan umumnya tumbuh dengan sehat. Demikian pula persaudaraan yang rukun seharusnya ditandai oleh suasana hidup yang saling menyegarkan dan memberi pertumbuhan. Mereka akan selalu mampu mengatasi setiap kesalahpahaman, perbedaan-perbedaan dan permasalahan yang muncul. Sehingga suasana komunikasi yang terjalin senantiasa konstruktif, saling menumbuhkan dan menghormati. Mereka akan lebih mengedepankan kesetaraan hidup bersama dari pada sikap saling menguasai dan menundukkan. Mereka juga akan lebih mengedepankan kesediaan mengampuni dari pada sikap membalas dendam dan keinginan membunuh lawan. Sikap pengampunan dan kasih inilah yang diperlihatkan oleh Yusuf kepada saudara-saudaranya. Dari sudut manusiawi, tindakan dari saudara-saudara Yusuf sebenarnya sangat sulit dimaafkan. Mereka sebelumnya telah menganiaya, membuang Yusuf ke sumur dan menjual dia sebagai seorang budak. Seandainya kita pernah diperlakukan secara kejam oleh anggota keluarga, umumnya kita sangat sulit untuk memaafkan mereka. Luka-luka batin kita tersebut tidak akan sembuh secara otomatis oleh perjalanan waktu. Perasaan benci dan marah tetap tersemai dengan subur walaupun mereka telah menunjukkan perubahan (pembaharuan) hidup yang signifikan. Tetapi tidak demikian halnya dengan sikap Yusuf. Walaupun saat itu dia telah menjadi tangan kanan dari Firaun, ternyata Yusuf tidak mau menggunakan kekuasaannya untuk menghukum dan membalas kepada saudara-saudaranya yang telah berbuat jahat. Justru sebaliknya saat dia mengetahui saudara-saudaranya datang untuk membeli makanan di Mesir, Yusuf segera memberi pertolongan dan perlakuan khusus. Karena perasaan rindu yang begitu besar, Yusuf meminta agar dia dapat berbicara secara pribadi dengan saudara-saudaranya. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana saudara-saudara Yusuf yang sangat terkejut, ketika Yusuf akhirnya memperkenalkan dirinya. Namun yang pasti saudara-saudara Yusuf waktu itu sempat ketakutan ketika mengetahui bahwa penguasa yang berbicara kepada mereka ternyata adalah Yusuf (Kej. 45:3). Tetapi Yusuf berkata: “Marilah dekat-dekat”. Maka mendekatlah mereka (Kej. 45:4).

Ungkapan “marilah dekat-dekat” berasal dari istilah: naw-gash' yang berarti: mengajak seseorang untuk mendekat secara intim seperti hubungan seorang pria dengan seorang wanita. Yusuf bukan hanya tidak mau membalas dendam atas perbuatan jahat dari para saudaranya; tetapi dia justru memperlihatkan kasih yang sangat personal dan memberi mereka penghiburan dengan perspektif teologis yaitu bahwa tindakan mereka menjual dia di masa lampau pada hakikatnya untuk melaksanakan rencana Allah yang menyelamatkan. Di Kej. 45:5 Yusuf berkata: “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu”. Perkataan Yusuf yang penuh dengan pengampunan seperti embun yang menyejukkan dan juga seperti minyak yang menyembuhkan hati saudara-saudaranya.

Kualitas Diri Dalam Rajutan Ilahi

Sikap pengampunan dari Yusuf tersebut menunjukkan suatu kualitas pribadi yang telah dikuduskan oleh Allah. Peristiwa pahit dan penderitaan yang pernah dialami tidak membuat Yusuf terpuruk dalam kemarahan, kebencian dan dendam. Sebaliknya pengalaman yang pahit dan penuh penderitaan dihayati oleh Yusuf sebagai bagian dari proses pembentukan karakter dan rencana Allah dalam kehidupannya. Penderitaannya dihayati oleh Yusuf seperti minyak urapan yang memurnikan dan menguduskan dirinya. Sehingga Yusuf makin dimampukan oleh Tuhan untuk melihat seluruh perjalanan hidupnya sebagai suatu rajutan ilahi untuk menyelamatkan sesama dan keluarganya yang menderita. Di Kej. 45:7-8, Yusuf berkata: “Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir”. Rajutan ilahi tersebut yang memampukan Yusuf untuk memiliki kebijaksanaan dan kekayaan pengampunan kepada setiap orang yang pernah berlaku jahat kepadanya. Bukankah seharusnya bangsa kita memiliki kualitas diri seperti Yusuf? Kebesaran bangsa kita bukan ditentukan oleh jumlah penduduk, jumlah mayoritas pemeluk suatu agama atau kelompok mayoritas yang berkuasa; tetapi lebih ditentukan oleh kebesaran hati yang dilandasi oleh kasih dan pengampunan. Namun sayangnya kita sering mendorong sesama dan bangsa ini untuk mengingat luka-luka lama. Kita sering terjebak dalam pemberian cap dan “stigma” kepada seseorang atau kelompok; sehingga kita tidak mampu bersikap obyektif dan adil. Sehingga apabila seseorang atau suatu kelompok pernah melakukan kesalahan di masa lampau, maka mereka kemudian divonis seumur hidup sebagai pembuat masalah (trouble-maker). Bahkan kalau perlu seluruh keturunan dan keluarga dikaitkan dengan kesalahan seseorang. Pemerintah Orde Baru dahulu berulangkali dalam pernyataan politis menegaskan bahwa anggota keluarga yang terlibat dalam Partai Komunis Indonesia tidak diperbolehkan untuk menjadi pegawai negeri atau anggota militer, dan Kartu tanda penduduknya diberi tanda khusus. Kita dapat melihat perbedaan yang sangat esensial antara kualitas diri dari Yusuf yang bijaksana dan penuh pengampunan dengan sikap pemerintah Orde Baru atau berbagai organisasi massa yang terus menghidupkan permusuhan dan kebencian kepada khalayak ramai. Dalam hal ini pemerintah Orde Baru atau berbagai organisasi massa tersebut tidak memiliki kualitas diri sebagai orang-orang yang dikuduskan. Hati mereka sarat dengan kecurigaan, permusuhan, kebencian, dan sikap yang menggeneralisir. Itu sebabnya ucapan dan perkataan mereka senantiasa menyebarkan permusuhan dan kebencian kepada banyak orang.

Karena itu Tuhan Yesus mengingatkan bahwa hati manusia dapat menjadi sumber dari hal-hal yang najis. Di Mat. 15:18, Tuhan Yesus berkata: “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat”. Ketika hati kita belum dikuduskan oleh Tuhan, maka hati kita akan menjadi sumber dosa yang menyebar melalui ucapan atau perkataan. Yang mana ucapan dan tindakan yang lahir dari hati yang najis senantiasa dapat mematikan orang lain. Karena itu kualitas diri tidak akan terwujud hanya dengan berbagai pelatihan etika dan pembinaan moral apabila hati kita belum dikuduskan oleh Tuhan. Kualitas diri juga tidak akan tercapai ketika kita hanya memperhatikan soal-soal makanan yang haram dan halal. Sebab makanan tersebut tidak akan membaharui inti dari spiritualitas kita. Karakter bangsa kita tidak akan diperbaharui oleh ketaatan mereka terhadap jenis makanan yang halal dan menolak makanan yang dianggap haram. Tetapi kualitas diri akan terwujud dalam kehidupan kita ketika kita bersedia dirajut dan “dioperasi” oleh Allah melalui berbagai pengalaman yang pahit dan getir. Sebab berbagai pengalaman yang pahit dan getir tersebut tidak lagi dilihat dari sudut manusiawi kita, tetapi kita melihatnya dari perspektif yang baru secara teologis, yaitu Allah berkenan membentuk dan memproses kita untuk menjadi alatNya yang kudus. Perspektif teologis inilah yang memampukan kita untuk membuang berbagai perasaan dendam dan sakit hati terhadap setiap orang yang memusuhi dan menganiaya kita. Sehingga kita dimampukan untuk hidup rukun dengan setiap orang, bahkan rekonsiliasi (berdamai) dengan para lawan kita.

Rekonsiliasi yang Transformatif

Abraham dan Lot pernah berpisah, tetapi Abraham tetap peduli dan membantu Lot saat dia mengalami kesulitan (Kej. 14:14-16). Esau dan Yakub pernah bermusuhan, tetapi mereka dapat kembali rujuk dan saling mengampuni (Kej. 33:4). Contoh-contoh tersebut menggambarkan peristiwa rekonsiliasi yang transformatif, sebab kedua pihak mampu berdamai dan saling menolong. Mereka membuka diri terhadap anugerah kasih Allah yang berfungsi seperti minyak untuk mengobati setiap luka-luka batin dan seperti embun yang memberi kesegaran dan pertumbuhan. Jika pemazmur berkata: “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” (Mzm. 133:2), apakah setiap kita sebagai bangsa Indonesia juga berlaku seperti Esau dan Yakub; ataukah seperti Abraham kepada Lot? Khususnya apakah kita mau bersikap seperti Yusuf yang kaya dengan pengampunan kepada saudara-saudaranya yang pernah berbuat jahat kepadanya? Saat kita dipercaya oleh Tuhan suatu jabatan atau kekuasaan tertentu, apakah kita memanfaatkan untuk menolong dan memberi berkat kepada orang-orang yang pernah melukai hati kita? Ataukah sikap yang sebaliknya! Saat kita dipercaya suatu jabatan atau kekuasaan tertentu, apakah kita pakai untuk meniadakan dan menghancurkan kekuatan dari para lawan kita? Dalam hal ini kita diingatkan bahwa keselamatan dan berkat berupa jabatan yang kita terima pada hakikatnya terjadi karena kemurahan hati Allah. Seharusnya Allah menghukum kita saat kita tidak taat kepada-Nya (Rm. 11:30). Tetapi di dalam Kristus, Allah berkenan menunjukkan kemurahan-Nya kepada kita. Jika demikian, mengapa kita yang telah menerima kemurahan dan pengampunan dari Allah, tidak memberlakukan kemurahan dan pengampunan-Nya tersebut kepada orang-orang yang pernah menyakiti dan memusuhi kita? Bukankah kemurahan dan pengampunan Allah laksana minyak dan embun yang mampu menghidupkan dan mendamaikan kehidupan bersama? Marilah kita memaknai kemerdekaan RI ini dengan sebuah kerukunan bersama kendatipun kita berbeda adanya. Semoga!

RENUNGAN









MORALITAS BARU
Ramli SN Harahap




Apakah moralitas baru diterima sebagai perilaku Kristen saat ini?
Moralitas baru mulai dianut secara luas di tahun 1960'an sebagai sistim nilai baru menggantikan moralitas lama yang dianggap sudah kuno/kolot. Moralitas baru sesungguhnya bukanlah hal baru karena merupakan hasil pembenaran atas perilaku menyimpang dan ketidakpercayaan manusia selama berabad-abad.

Para pembela moralitas baru atau 'etika situasi', umumnya berpandangan bahwa alasan-alasan manusialah yang harus dijadikan dasar penentuan moralitas itu sendiri. Mereka menerima pewahyuan sebagai sumber nilai-nilai etika namun pada saat yang sama menolak norma/ hukum tersebut, kecuali pada bagian perintah mengasihi Allah dan sesama. Etika situasi tidak didasarkan pada apa yang dianggap benar atau salah, tapi pada apa yang dirasa cocok.

Atas dasar apakah seseorang bisa menerima pewahyuan tapi hanya pada satu bagiannya saja? Ketika akal manusia mulai membuat penilaian pada wahyu Allah, orang kehilangan hak untuk mengklaim bagian manapun dari wahyu sebagai hal yang mengikat.

Ajaran utama metode situasional adalah kasih yang tidak bersandar pada kebaikan hakiki, yakni dasar penentuan salah dan benar, kasih dalam metode situasional dapat 'berpikir', lemah, dan tak berdaya. Ia dengan jelas membedakan kasih dan kepatuhan, kebenaran dan kebijaksanaan.

Walau moralitas baru menjadi terkenal setelah mendapat dukungan dari pemuka-pemuka agama, namun dalam moralitas itu sendiri tidak terdapat nilai "Kristen". Sebuah etika baru dapat dikatakan memiliki nilai Kristen jika didasarkan pada Alkitab.

Dari awal hingga akhir, Alkitab menunjukkan bahwa Allah mengharapkan tindakan nyata dari manusia ciptaan-Nya, dan harapan itu dituangkan dalam perjanjian lama melalui Sepuluh Perintah Allah. Para penganut etika situasi biasanya mengatakan bahwa Kristus sendiri telah menghapuskan aturan-aturan dalam Perjanjian Lama dan menggantinya dengan satu hukum yaitu kasih. Kristus memang mengatakan bahwa mengasihi Tuhan dan sesama adalah dua hukum yang terutama dan kita tidak boleh mengabaikannya, tapi untuk menggenapi perintah tersebut, Tuhan tidak membiarkan manusia tanpa aturan/hukum (Matius 22:35-40).

Kristus dengan tegas mengatakan "Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum taurat atau kitab para nabi; Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan menggenapinya (Matius 5:17). Lebih jauh Ia juga memperingatkan untuk tidak membatalkan perintah yang paling kecil sekalipun namun agar mematuhinya (Matius 5:19). Dalam menggenapi hukum itu, Kristus sangat menekankan pada ketaatan/ kepatuhan hati, bukan pada bentuk ibadah yang terlihat dari luar.

Pada khotbah dibukit, Kristus menyebutkan secara khusus hukum Perjanjian Lama dengan penekanan yang lebih dalam. Misalnya, bukan saja 'jangan membunuh'; 'jangan membenci' juga adalah perintah yang sama pentingnya (Matius 5:21-22). Contoh lainnya, Dia menetapkan hukum tentang perzinahan (5:27-28), perceraian (5:31-32), mengambil sumpah, memberi sedekah, berdoa, berpuasa. Kristus tidak membatalkan Hukum; Ia menunjukkan bahwa ketaatan sejati haruslah berasal dari dalam sebagaimana kepatuhan yang terlihat di luar.

Mengasihi Allah dan sesama adalah dua perintah terutama, bukan karena Allah tidak mengharapkan manusia mentaati perintah lainnya, namun karena perintah yang lain tidak mungkin bisa dipenuhi jika hati manusia masih memberontak terhadap penciptaNya.

Etika situasi dimaksudkan untuk menunda, mengabaikan, atau merusak prinsip dasar karena merasa dirinya dapat memberi lebih banyak kasih dibanding melalui ketaatan/kepatuhan. Etika tersebut secara jelas merusak gambaran kasih dalam alkitab "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah Nya. Perintah-perintahNya itu tidak berat (I Yoh. 5:3).

Kasih menurut Alkitab, tidak terpisahkan dari kepatuhan pada wahyu Allah. Yesus berkata, "Jika engkau mengasihiKu, engkau akan mengikuti perintah-perintahKu" (Yoh. 14:15). Etika situasi tidak bisa begitu saja berkata bahwa hukum kasih telah menggantikan hukum-hukum lainnya dalam Alkitab, karena keduanya berjalan seiring.

Moralitas baru begitu populer karena menolak semua aturan hukum kecuali kasih. Moralitas tersebut dipakai untuk membenarkan perselingkuhan, aborsi, homoseksualitas, mencuri, mabuk-mabukan, dan penggunaan obat bius. Seseorang dapat merasionalisasi berbagai penyimpangan perilaku atas nama kasih karena tidak dituntun alkitab, padahal ia tidak mengetahui apa sebenarnya mengasihi itu!

Injil Yesus Kristus membebaskan seseorang dari keterikatan hukum melalui anugrah keselamatan oleh kemurahan-Nya, jadi bukan karena hasil ibadah. Injil ini memberikan hidup baru bagi orang percaya sehingga seseorang dengan suka cita melakukan perintah-perintah Allah. Orang-orang Kristen mengalami janji-janji Kristus, "Kamu adalah sahabatKu, jika kamu melakukan perintahKu (Yoh. 15:14).


Dikutip dari Henry Morris dan Martin Clark, The Bible Has the Answer, (Master Books, 1987)