Kamis, 09 Desember 2010

Renungan: 1Thessalonians 5:16-28

widgeo.net


GIVE THANKS
IN ALL CIRCUMSTANCES
1Thessalonians 5:16-28

Honestly speaking, it is not easy to give thanks in all circumstances. Only when everything is runing well, then we are able to give thanks easily.  When you are in good health, have a good position, and involved in good business activities, then you can say thanks a lot. But, when we are facing bad situation, difficulties, suffering, bank liquidation, sickness, and other problems, can you still say thanks for all of them?
But, God wants us, His children, to give thanks in all circumstances. That is one of the difference between a believer and non-biliever, between Christian and non-Christian. You have to remember, God does not want us to give thanks for all circumstances, but in all circumstances. We are not asked to thank Him for sickness. But, even though we are sick we are able to thank God that His healing power is always with us.
One day, on the way to his church, Matthew Henry, a great preacher in the seventeenth century, fell in to hands of robbers. Even though he was beaten, his money was stolen, he still continoued on his way to the church to preach. While he was preaching he gave this testimony. He said: “When I was walking to this church, I was robbed by robbers. But I thank God for four reasons. First, I thank God because I was only robbed, not killed. Second, I thank God because this is the first time I was robbed. Third, I thank God because they took only part of my money. Fourth, I thank God because they robbed me, I didn’t rob them. You see, Matthew Henry was able to give thanks in all circumstances. He was able to see the positive things within a negative condition.
Concerning giving thanks in everything, I would like to describe three kinds of people. First, there are many people who do not know how to give thanks. Do you remember the story about ten men with leprosy who ask Jesus to heal them? (Luk. 17:11-19). When Jesus healed them, how many of them came back to Jesus to give thanks? Only one, right! Nine of them (or ninety percent) didn’t know that they should thank Jesus for healing them. They went home as soon as possible. They probably celeberated their health with their families. That means that only a few people are willing to say thanks. Most people do not.  The essence of this story is this. The key to happiness and joy is not to expect that people will thank when you help them. If you expect people to say thank you help them, that proves that you are not mature yet in faith. And also if you expect people to thank you for your help you will be very dissappointed, when people do not do what you expect. So, it is better to always give help to people without expecting any thanks from them. Martin Luther said: “Good work has no name.”
Second, there are many people who want to give thanks superficiallya. Only lip service. Remember the story about a tax collector and one Pharisee who went to the temple to pray (Luk. 18:9-14).  Do you know what the Pharisee said in his thanksgiving prayer? He said: “God, I thank you that I am not greedy, dishonest, or an adulterer, like everybody else. I thank you that I am not like that tax collector over there. I fast two days a week, and I give you one tenth of all my income.” Do you believe that this man was thanking God? Not at all. He was thanking himself for he felt that he was a good man. This is superficial thanks.
Third, there are a few people who can sincerely give thanks. I hope you are one them.

Renungan Harian: Johannes 14 : 27

widgeo.net
 
 Jika seorang tua mau meninggal, biasanya dia memberikan petuah dan pesan terakhir kepada anak dan keluarganya. Di samping pesan itu, dia juga pasti menyampaikan pembagian harta gono gininya. Artinya, orang tua itu meninggalkan harta bagi keturunannya. Meninggalkan sesuatu pasti akan dilakukan seseorang bagi yang ditinggalkannya.
Berbeda dengan konsep manusia itu, Allah tidak meninggalkan harta bendawi dan duniawi yang muda habis dan busuk. Allah dalam firman-Nya berjanji akan meninggalkan Damai sejahtera kepada setiap orang. Pemberian ini tidak sama dengan pemberian dunia. Sebab pemberian dunia tidak kekal sifatnya. Pemberian Allah kekal sifatnya. Damai sejahtera walau kita mengalami kemelut, masalah, penyakit dan lain sebagainya. Damai sejahtera tidak diukur dari harta benda yang sedang kita miliki. Damai sejahtera diukur dari kadar iman kita menerima Kristus sebagai Tuhan di dalam hati dan kehidupan kita.
Marilah kita menyambut kedatangan Kristus kali kedua di dalam kehidupan kita agar kita beroleh Damai Sejahtera itu. Amin




Hasonangan do Hutadingkon di hamu. Hasonangan na sian Au sandiri do na Hulehen tu hamu. Nada songon pangalehen ni portibi on anggo pangalehenKu hasonangan i tu hamu. Ulang pola susa rohamunu; ulang hamu mabiar.
Johannes 14 : 27

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
Yohanes 14 : 27


Ende No.41 : 2
Tutu sai didongani Ho sudena ganop ari
Tangiang ditangihon Ho bo pangidoannami
Tapi laing hurang dope i, angkon hai ida bohi-Mi

Rabu, 08 Desember 2010

Renungan Harian: Yesaya 40 : 31

widgeo.net


Menanti adalah sebuah pekerjaan yang sungguh membosankan dan menjengkelkan bagi setiap orang. Menunggu yang membosankan itu adalah menunggu yang tidak memiliki kesibukan dan pekerjaan yang positip. Memang jika kita menunggu tanpa ada aktifitas yang positif, maka menunggu itu adalah membosankan. Jika kita mengisi waktu menunggu itu dengan kegiatan yang bermakna dan berfaedah, maka pasti pekerjaan menunggu itu tidaklah membosankan.
Firman Tuhan dengan jelas dan tegas berkata bahwa orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru. Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya. Bahkan mereka berlari dan tidak menjadi lesu dan berjalan tetapi tidak lelah. Firman ini menjadi jaminan bagi kita bahwa ketika kita menanti kedatangan Kristus kali kedua dengan berbagai kegiatan yang memuliakan Tuhan, maka kita akan mendapatkan kekuatan baru setiap hari. Penantian kita tidak akan membosankan melainkan akan menyenangkan karena setiap hari kita mendapatkan pertolongan dan kekuatan baru dari Tuhan. 
Selamat menjalani Advent II!

Hape anggo di na mangido pangurupion sian TUHAN, dipasuang do hagogoan. Lopus tu ginjang manaek do halahi, songon na marhabongkon habong ni rajawali. Marlojongi do halahi so marnaloja, jana mardalan halahi nada ra gale.
Jesaya 40 : 31

Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.
Yesaya 40 : 31

Ende No.41 : 1-2
Dipaimahon halak-Mi, o Jesus haroro-Mu
Dihalungunhon halahi, tarida ma gogo-Mu
Andingan di pasonang Ho, angka na mangintehon Ho
Tibu ma ro o, Tuhan. Tibu ma ro o, Tuhan

Tutu sai didongani Ho sudena ganop ari
Tangiang ditangihon Ho bo pangidoannami
Tapi laing hurang dope i, angkon hai ida bohi-Mi

Jumat, 03 Desember 2010

Renungan Harian: Yesaya 7 : 14

widgeo.net

 Kelahiran Yesus memang tidak bisa diduga dan masuk akal. Dia akan terlahir dari seorang perawan Maria yang tidak pernah menikah dan bahkan masih dalam masa tunangan dengan Yususf. Rencana Tuhan dalam rangka menyelamatkan dunia dan manusia berdosa tidak bisa dipikirkan secara akal manusiawi. Pikiran Tuhan melebihi segala pikiran manusia di dunia ini. Tuhan sungguh mulia dalam rencana-Nya bagi kita.
Kelahiran Yesus di dunia jauh sebelum itu terjadi sudah dinubuatkan Yesaya. Yesus akan terlahir dari seorang perawan Maria. Kendati Maria sebagai ibu yang berbahagia melahirkan seorang Juruselamat manusia, bukan berarti Maria harus kita sembah. Tetapi Maria adalah alat Tuhan dalam rangka menggenapi rencana-Nya.

Hara ni i Tuhan sandiri ma mangalehen sada tanda di hamu: Sasintongna, sada halak anakboru angkon mardenggan pamatang jana manubuhon sada anak, jana goaronnia ma Anak i "Immanuel". *IMMANUEL: Di hata Ibrani marastuan do goar on: "Debata do rap dohot hita".
Jesaya 7 : 14

Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.
Yesaya 7 : 14

Ende No. 67 : 1-2
Ligi ma Rajamu ro manopotkon ho, o Sion
Nimmu ma : Sai ro ma Ho, jop rohangku Ho maringan
Dibagasan rohangki, anso Ho nampuna i

Ro ma Ho paruar ma sasude na dirohangku
Basu dohot mudar-Mi baen ias dohot rohangku
Asa jop ma roha-Mi mangingani rohangki

Renungan Harian:

widgeo.net

Masa Advent I ini kita diajak untuk membenci kejahatan. Sebab kejahatan akan mematikan nyawa orang. Mengasihi Tuhan berarti kita menyelamatkan nyawa orang lain. Mengasihi Tuhan berarti juga memeliharakan kehidupan kita dan bahkan melepaskan kita dari rencana-rencana jahat orang fasik.
Marilah kita saling mengasihi baik mengasihi sesama maupun mengasihi musuh. Dengan mengasihi kita membangkitkan semangat baru dan menanti kedatanganNya dalam kehidupan kita.


O hamu angka na manghaholongi TUHAN, hagigihon hamu ma hajahatan. Dibaen diondihon Tuhan do ngolu ni bangsoNa, dipalua Ia halahi sian kuaso ni halak na so hasaya.
Masmur 97 : 10

Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan! Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik.
Mazmur 97 : 10

Ende No.35 : 1+3
Jesus lehen hatorangan, hapistaran mangastui hata-Mi
Lehen mata namarnida, dohot roha naumboto dalan-Mi
Anso tongtong maradophon bohi-Mi mardalan hami ; Anso dirajai tondi-Mi ma hami

Sai martua ma nasida, na mambaen Jesus haposanna i
O sugari olo hita, laing Ibana parsigantunganta i
Ale Jesus, sai patogu hami na di parporangan
Anso dapot di ujungna hamonangan

Kamis, 02 Desember 2010

Renungan Harian: Jesaya 9 : 1

widgeo.net


 Dalam menjalani masa Advent I ini marilah kita melihat kilas balik perjalanan hidup kita masa lali di 2010. Mungkin banyak jalan yang kita lalui dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Perjalanan kita seolah berat dan tidak bisa kita lalui. Mengapa? Karena mungkin kita berjalan dalam kegelapan hati, kegelapan pikiran dan lain sebagainya. Orang yang berjalan dalam kegelapan pasti langkahnya terasa berat dan lamban. Tetapi orang yang berjalan dalam terang pasti langkahnya terasa ringan dan nyaman. Marilah masa Adventi I ini kita kembali ke jalan terang yang membawa kedamaian bagi kita semua.


Tapi nada jabat sadia honok nari, malua ma halahi sian hasusaan i. Angka luat na niinganan ni Marga Zebulon dohot Naftali jungada do dietong i na bile.
Jesaya 9 : 1


Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.
Yesaya 9 : 1

Ende No. 13 : 1
Nihormat boni puji Ho, Ama na ibo roha
Debata na gumogo Ho, na pangoluhon iba
Nara manyesa dosangki jana pasonang rohangki. Pinuji goar-Nia

Renungan: Yunus 2 :1 -10

widgeo.net
”DOA UCAPAN SYUKUR YUNUS” (Yunus 2 :1 -10)



1.      Kitab Yunus adalah sebuah buku yang berbeda dengan buku-buku nabi lainnya di Alkitab. Karena buku ini tidak berisi pesan sang nabi, melainkan menceritakan pengalaman Nabi Yunus, ketika ia mencoba menghindari perintah Tuhan. Tokoh yang mengalami hal ihwal yang agak lucu itu ialah seorang nabi yang hidup sezaman dengan raja Yerobeam II dan yang disebut namanya nabi Yunus bin Amitai dari Gat-Hefer (2Raj 14:25). Dalam bahasa Ibrani, Yunus disebut Jonah (יונה) yang berarti merpati”. Tuhan menyuruh dia pergi ke kota Niniwe, ibukota kerajaan Asyur, musuh Israel. "Kota besar" Niniwe, yang hancur pada thn. 612sM. dalam kitab Yunus hanya sebuah kenangan akan masa yang lampau. Tetapi Yunus tidak mau pergi ke kota itu untuk menyampaikan pesan Tuhan, karena ia yakin bahwa kalau orang Niniwe berhenti berbuat dosa, Tuhan tidak akan menjalankan rencana-Nya untuk menghancurkan kota itu. Akhirnya, setelah beberapa kejadian yang mengesankan, Yunus mentaati perintah Tuhan, tetapi kemudian ia mendongkol, karena Niniwe tidak jadi dihancurkan. Amanat kitab Yunus ialah bagaimana Tuhan berkuasa mutlak atas ciptaan-Nya. Tetapi lebih-lebih, buku ini menggambarkan Tuhan Yang Mahapenyayang dan pengampun, Tuhan yang lebih suka mengampuni dan menyelamatkan suatu bangsa daripada menghukum dan menghancurkannya, biarpun bangsa itu musuh umat-Nya sendiri. Tujuan kitab Yunus ialah menghibur dan sekaligus mengajar. Kisahnya berupa cerita pembinaan.
2.      Pasal 2:1-10. Yunus menyesali ketidaktaatannya. Setelah Nabi Yunus dibuang ke laut, Tuhan menolong dia dengan menyuruh ikan besar menelannya. Di dalam perut ikan besar itu Yunus berdoa. Doanya ucapan syukur, pujian, penyesalan, dan penyerahan diri kembali kepada Tuhan. Akhirnya ikan itu memuntahkan Yunus ke daratan. Sebenarnya pasal 2:1-9 ini merupakan tambahan kepada cerita tentang Yunus. Sebab pasal ini merupakan sebuah Mazmur. Mazmur ini sangat cocok dimasukkan ke dalam cerita Yunus karena mazmur ini sangat kena dengan apa yang Yunus alami, yaitu penyelamatan dari bahaya maut. Pemazmur ini mengatakan bahwa dia berseru kepada TUHAN dari tengah-tengah dunia orang mati (2:2). Dalam 1:17 telah kita ketahui bahwa penelanan oleh ikan besar berarti bahwa Yunus turun ke dunia orang mati. Yunuspun mengalami bahwa TUHAN melemparkannya “ke pusat lautan” (2:3).
3.      BERDOALAH YUNUS (ay.1). Inilah doa Yunus mohon kelepasan dari kematian dan ucapan syukurnya sesudah keluar dari perut ikan. (a) Dalam perut ikan, ternyata ia masih hidup lalu berseru kepada Tuhan. Sekalipun ia merasa bahwa dirinya secara praktis sudah mati (ay.6), Tuhan mendengar doanya dan menyelamatkan nyawanya. (b) Orang percaya hendaknya jangan putus asa dalam situasi yang sangat burukpun. Seperti Yunus, kita harus berseru kepada Allah memohon kemurahan dan pertolonganNya serta menyerahkan hidup kita ke dalam tanganNya.
TELAH KAU LEMPARKAN AKU (ay.3). Yunus sadar bahwa ia tidak taat dan tahu bahwa yang melemparkannya ke dalam laut adalah Allah. Kesedihannya dan ketakutannya yang terbesar adalah jikalau diusir dari hadapan Allah untuk selama-lamanya (ay.4). Hubungan dengan TUHAN sudah sangat dibahayakan dan mau diputuskan. Dunia PL berpendapat bahwa orang mati yang berada di dalam dunia orang mati tidak mempunyai hubungan lagi dengan TUHAN. TUHAN tidak mengingat mereka lagi, dan mereka sudah terputus kuasaNya (Mzm.88:6). Orang mati tidak memuji lagi kasih TUHAN, dan tidak memberitahukan lagi kesetiaanNya (Mzm.88:12-13).
TERINGATLAH AKU KEPADA TUHAN (ay.7). "Teringat" akan Tuhan (Ibr.’zakar’) artinya mengungkapkan hubungan erat antara TUHAN dan manusia. Bahwa Tuhan „mengingat“ akan manusia, hal itu berarti bahwa TUHAN melimpahkan berkat kepadanya (bd.Mzm.115:12) dan menunjukkan kasih setiaNya (Mzm.25:7) kepada umat manusia. Manusia „mengingat“ perbuatan besar yang TUHAN lakukan kepadanya (Mzm.77:12). Oleh karena itu manusia „mengingat“ akan Dia dalam waktu kesusahan besar (Mzm.42:7) dan menyerahkan diri kepadaNya dalam kepercayaan. Tuhan mengingat artinya juga bahwa Allah  hadir di sekitar kita sehingga kita dapat berseru kepadaNya setiap saat dalam iman, pengharapan dan kasih (bd.Ul.8:18).
UCAPAN SYUKUR... KORBAN (ay.9). Kita memuji TUHAN oleh karena perasaan syukur dan terima kasih atas penyelamatanNya. Kita bukan saja mengucapkan syukur dengan mulut, melainkan juga dengan mempersembahkan korban. Korban yang dipersembahkan adalah korban pengucapan syukur. Dengan mempersembahkan korban itu kita mengingat karya penyelamatan Allah yang kita terima sepanjang hidup kita. Pada saat  Yunus mempersembahkan korban syukur dan pujian yang sungguh-sungguh kepada Allah (ay.9), maka Allah turun tangan menolongnya (ay.10).
MEMUNTAHKAN YUNUS KE DARAT (ay.10). Kata „memuntahkan“ (Ibr. ’qia’) dalam PL merupakan gambaran yang cukup mengerikan (bd. Im.18:28; Yes.19:14). Yunus diselamatkan, tetapi sebagai "muntahan". Tidak disebutkan tempatnya di mana dimuntahkan. Ada yang mengatakan dimuntahkan di pantai barat Kanaan, dan ada juga mengatakan di pantai selatan Babel.

Pesan
1.  Kita belajar tentang Allah
o    Seluruh buku berisi tanggapan bahwa Allah itu adil, Ia akan menghukum orang yang bersalah, dan bahwa semua bangsa harus bertanggung jawab kepada-Nya -- tidak hanya bangsa Israel (Yun 1:2; 3:2,9,10)
o    Allah berdaulat di dalam dunia yang diciptakan-Nya. Ia dapat mengendalikan segala makhluk ciptaan-Nya, cuaca, bahkan tanam-tanaman. Kemudian, dalam sejarah bangsa Israel kita ketahui bahwa Ia bahkan mau memakai bangsa yang kafir dan kejam seperti bangsa Asyur (Yun 1:4,9,17; 2:10; 4:6-8)
o    Allah jugaa murah hati dan penuh belas kasihan, memelihara umat manusia -- bahkan binatang -- di samping secara istimewa menjadi Allah bangsa Israel (Yun 2:8,9; 3:9,10; 4:2,10,11).
2.  Kita belajar tentang Yunus
o    Yunus mewakili umat Allah yang mengenal kemurahan-Nya dan yang boleh membanggakan diri tentang hubungannya dengan Allah -- dan yang boleh berdoa kepada-Nya di saat-saat mengalami kesukaran. Kita melihat Yunus memuji Allah dan menyerahkan kembali kehidupannya kepada Dia (Yun 1:9; 2:1-9).
o    Yunus juga tidak tetap pendiriannya dan tidak taat. Ia berusaha untuk melarikan diri dari Allah yang telah menciptakan segala-Nya! Dia marah ketika Allah bermurah hati. Ia lebih kuatir tentang sebatang tanaman daripada tentang orang lain (Yun 1:3,10; 4:1-3,9 ).
3.  Kita belajar tentang orang kafir
o    Baik para pelaut maupun orang Niniwe yang sudah bertobat, mereka lebih bijaksana daripada sang nabi. Pandangan mereka tentang apa yang benar dan kesiapan mereka menanggapi pesan Allah membuat kita tercengang. Namun demikian, Yunus tidak menganggap mereka, karena mereka bukan orang Israel (Yun 1:13,14,16; 3:5-9).
Penerapan
1.   Kita juga tidak tetap pendirian
Seperti Yunus, kita juga sering siap untuk mengakui iman kita kepada Allah tanpa kesiapan untuk melihat apa arti semua itu. Kita juga seringkali sengaja berlaku tidak taat. Kita juga bisa berpikiran tidak logis seperti seseorang yang mencoba melarikan diri dari Yang Maha Kuasa. Lebih buruk lagi, kita juga bisa bersikap keras dan tidak berperasaan terhadap orang lain, bahkan pada waktu kita mengatakan bahwa kita mengenal kemurahan dan belas kasihan Allah.
2.   Kita juga sama egoisnya
Boleh jadi salah satu alasan mengapa Yunus menghendaki jatuhnya penghakiman adalah agar supaya reputasinya sebagai seorang nabi tidak menjadi rusak. Seperti dia, kita juga dapat menjadi jengkel karena hanya soal-soal kecil yang tidak berguna, sementara kita sama sekali tidak merasa prihatin terhadap orang lain.
3.   Allah memelihara kita semua
Allah mempedulikan semua orang, bukan hanya karena Allah bermaksud untuk menghakimi mereka, tetapi Ia sungguh-sungguh mengasihi apa yang telah diciptakan-Nya. Ini tidak berarti bahwa semua orang akan diselamatkan, tetapi hal ini berarti bahwa setiap orang mendapat kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Dia. Jika kita bersatu dengan Dia, maka ini berarti kesaksian dan pengutusan, di samping memberikan pelayanan sederhana kepada orang-orang yang bukan Kristen.
4.  Allah memberikan kesempatan kedua
Allah memberi Yunus kesempatan kedua untuk memenuhi tugas pengutusannya. Sementara kita tidak boleh mempermainkan Allah dan menganggap enteng kemurahan-Nya, kita tahu bahwa Ia sering memperlakukan kita seperti apa yang dilakukannya terhadap Yunus.


Pdt.Tuty Zastini Hutabarat,STh                                                                                         fidei’07     26/05/07