Kamis, 15 Mei 2008

(Draft terjemahan)HUKUM PENGGEMBALAAN DAN SIASAT DI GEREJA KRISTEN PROTESTAN ANGKOLA (G.K.P.A.)

I. PENGERTIAN, TUJUAN, DAN DASAR PENGGEMBALAAN / SIASAT

A. PENGERTIAN

1. Kasih

Hukum penggembalaan/siasat ialah aturan yg dipakai di tengah-tengah Jemaat GKPA utk menunjukkan kasih Allah, agar jemaat teratur dan agar kelihatan kesucian Allah di dalam Yesus Kristus Tuhan kita melalui Jemaat itu (Imamat 19:2,7,25; 1Pterus 1:15-16).

Perlu kita mengerti bahwa Hukum penggembalaan/siasat Jemaat tsb bukan hanya hukuman, tetapi kasih, karena hukum itu, ialah kasih yang dirumuskan di dalam kata/kalimat hata/kalimat. Melalui hukum ini, kasih yang diberlakukan di tengah jemaat tsb.

2. Penggembalaan

Jemaat memberlakukan Hukum penggembalaan/siasat bukan utk menghukumi tetapi mau menggembalakan dan membimbing agar kehendak Tuhan saja yg dilakukan Jemaat, dengan demikian kelihatanlah kemuliaan Allah.

3. Pengajaran

Hukum penggembalaan/siasat dibuat utk mengajari Jemaat supaya semakin berkelakuan yg baik dan teratur dan berdisiplin (1Korintus 14:33).

B. TUJUAN

1. Penuntun utk pertobatan hati

Hukum penggembalaan/siasat yg diberlakukan di dalam Jemaat bertujuan agar ada pertobatan hati, bukan utk menjauhkan maupun membuang org yg berdosa, tapi spy mrk mengenal sikap yg kurang, krn itulah yg dikehendaki Allah (Yehezkiel 33:11; 2Petrus 3:9b).

2. Menunjukkan kekudusan Allah

Jemaat, ialah persekutuan org Kristen yg kudus melalui darah Tuhan Yesus Kristus (1Petrus 2:9). Krn itu, Jemaat hrs hidup di dlm kekudusan sesuai yg dikehendaki Allah. Hukum penggembalaan/siasat dibuat utk org yg bersalah dan bagi org yang mencemarkan kekudusan Allah, agr jangan semakin menyebar perilaku seperti itu.

3. Kebersamaan di tengah Jemaat

Ditengah Jemaat harus kelihatan kebersamaan seluruh jemaat, krn jemaat sama2 ditebus Kristus. Krn itu, tdk selayaknya timbul kerusuhan maupun perkelahian di tengah Jemaat.

4. Kesetiaan pada aturan

Jemaat tidak ada pilih kasih di hadapan Tuhan, krn itu Jemaat hrs setia melakukan, menerima Hukum penggembalaan/siasat jika dia bersalah.

C. DASAR

1. Firman Tuhan yg tertulis dlm PB dan PL

Hukum penggembalaan/siasat didasarkan pada Firman Tuhan yg tertulis dlm PL dan PB.

Firman Tuhan yg berkata supaya Jemaat harus kudus, karena Allah adalah kudus (Imamat 19:2; Yesaya 6:6; 1Petrus 1:15-16).

Firman Tuhan juga yang mengatakan agar kelihatan kasih, penggembalaan dan siasat di tengah-tengah Jemaat (Matius 18:15-17; Yohanes 13:34-35; 21:15-17; 2Timoteus 3:16; 4:2b).

2. Tata Gereja / Tata Laksana GKPA

Hukum penggembalaan/siasat didasarkan pada Tata Gereja / Tata Laksana GKPA, krn Tata Gereja / Tata Laksana GKPA i sudah ditetapkan menjadi dasar dan sumber hukum pelayanan dalam Jemaat GKPA.

II. JENIS-JENIS SIASAT

  1. MENGENAI JEMAAT

1. IBADAH MINGGU

a. Jemaat berkewajiban utk setia mengikuti ibadah minggu dan persekutuan yg dilakukan Jemaat utk menampakkan kerajinan dan persekutuan kpd Allah dan teman seiman (Ibrani 10:25).

b. Sebaiknya warga jemaat jangan melaksanakan pesta adat pd hari minggu dan hari raya Kristen, yg membuat org terganggu beribadah (Kel. 20:8-1).

c. Hukum penggembalaan/siasat akan diberikan kpd Jemaat yg sudah 6 (enam) bulan tdk pernah ke Gereja (dan kebaktian-kebaktian yg lain) di dlm Jemaat setelah bbrp kali dinasihati Majelis Parlagutan.

d. Hukum penggembalaan/siasat dikenakan kpd Parhobas Parlagutan yg sudah 3 (tiga) bulan terus-menerus tdk ke Gereja (dan kebaktian-kebaktian lainnya) di dlm Parlagutan setelah bbrp kali dinasihati Majelis Parlagutan dan disetujui Pendeta Resort.

e. Hukum penggembalaan/siasat dikenakan kpd Parhobas Parlagutan yg sudah 3 (tiga) bulan terus-menerus tdk mau melayani di Gereja (dan kebaktian-kebaktian lainnya) di dlm Parlagutan setelah bbrp kali dinasihati Majelis Parlagutan dan disetujui Pendeta Resort.

2. BAPTISAN KUDUS

a. Baptisan Anak

i. Tanggung jawab orang tua untuk membawa anaknya menerima Baptisan Kudus. Karena itu orang tua yg tdk mau membawa anaknya menerima Baptisan Kudus setelah berselang 2 (dua) kali dilaksanakan Baptisan di tengah Jemaat, harus dinasihati.

ii. Melaksanakan bimbingan baptisan bagi Orang tua yg mau membawa anaknya utk dibaptiskan.

iii. Tidak boleh menerima orang tua yang tidak sama-sama hadir dalam bimbingan baptisan tsb, jikalau tdk ada halangannya.

iv. Bisa melaksanakan baptisan darurat bagi anak Kristen yg sakit keras yg dilaksanakan Parhobas, ortu anak tsb, atau jemaat. Setelah sembuh, maka anak tsb harus dibawa ke Gereja utk menerima berkat baptisan.

b. Baptisan bagi Orang Dewasa

i. Setiap orang yg mau menerima baptisan dewasa harus lebih dulu mengikuti pembelajaran di dalam Jemaat, dan mereka diterima menjadi jemaat parguru tardidi di dalam kebaktian minggu.

ii. Yg menerima baptisan dewasa sejalan dengan lepas sidi.

3. PERJAMUAN KUDUS

a. Perjamuan Kudus harus dilaksanakan di setiap jemaat GKPA.

b. Majelis Parlagutan harus melaksanakan persiapan Perjamuan Kudus.

c. Jemaat yg sudah 2 (dua) kali terus-menerus tdk mau mengikuti Perjamuan Kudus harus dinasihati dan Majelis Parlagutan mempertimbangkan keanggotaannya di dlm jemaat jika tdk ada perubahan hati setelah bbrp kali dinasihati.

d. Parhobas yg setahun tdk pernah mengikuti Perjamuan Kudus, maka tahbisan (tohonan)/jabatannya akan ditarik setelah dinasihati Majelis Parlagutan dan disetujui Pendeta Resort.

e. Dianjurkan agar setiap org yg sakit keras untuk menerima Perjamuan Kudus.

f. Hanya jemaat yg sudah lepas sidilah yg bisa mengikuti Perjamuan Kudus (Ligi TTL GKPA Bab IX).

4. LEPAS SIDI

a. Harus dilaksanakan belajar sidi bagi jemaat yg sudah menerima baptisan anak.

b. Orang tua bertanggung jawab utk menyuruh anak mereka mengikuti pelajaran sidi setelah berumur 14 tahun.

c. Anak pelajar sidi wajib mengikuti pelajaran sidi sedikit-dikitnya 100 (saratus) kali pertemuan sesuai dengan buku Panduan Sidi GKPA. Jika ada yg tidak memenuhinya, maka Majelis Parlagutan bersama dengan Pendeta Resort mempertimbangkannya.

d. Harus melaksanakan ujian kpd seluruh peserta pelajar sidi utk menguji pengetahuan mereka.

e. Tidak boleh menumpang lepas sidi di dalam Jemaat jika tdk ada surat keterangan dari Jemaat ybs bhw dia sdh belajar sidi.

5. TANGGUNG JAWAB WARGA JEMAAT KPD PARLAGUTAN

a. Seluruh Warga Jemaat harus ikut bertanggungjawab atas keperluan Parlagutan baik pelayanan organisasi, keuangan dan memajukan Parlagutan.

b. Warga jemaat berkewajiban memberikan Persembahan Bulanan dan kewajiban lainnya yang sudah ditetapkan pd rapat Parlagutan. Majelis Parlagutan harus menasihati warga jemaat yg tdk mau memberikan kewajibannya setelah bbrp kali dinasihati.

B. MENGENAI PERNIKAHAN

1. PERNIKAHAN

a. Persyaratan

i. Sudah berumur 21 thn (lk), dan 19 thn (pr). Dispensasi ttg hal ini diberikan Pendeta Resort setelah mempertimbangkan alasanna.

ii. Sudah lepas sidi, atau “parguru tardidi” yg dewasa.

iii. Disetujui ortu keduabelah pihak. Jika tdk ada persetujuan dari ortunya atau walinya, pemberkatan pernikahan dpt dilaksanakan bagi Lk/Pr yg umurnya sudah dianggap dewasa dari segi hukum dan harus membuat surat pernyataan.

iv. Setiap yg mau menerima berkat pernikahan harus diwartakan di Gareja. Jika tdk terpenuhi hal tsb, Pendeta Resort bisa memberikan disepensasi setelah mempertimbangkan alasannya bersama dengan Majelis Parlagutan.

v. Lk/Pr yg datang dari Gareja Katolik, atau Gereja yg lain yg tdk sedogma dengan GKPA, dpt menerima pemberkatan pernikahan setelah diperiksa surat baptisan/konfirmasinya dan membuat surat pernyataan kesiapan mereka utk mematuhi Peraturan2 yg berlaku di GKPA. Jika tdk ada surat baptisan/konfirmasinya, mk ybs hrs lepas sidi dulu, baru menerima pemberkatan.

vi. Pemberkatan pernikahan dpt diberikan kpd org janda setelah 9 (sembilan) bulan menjanda dan org duda 6 (enam) bulan menduda. Dispensasi dpt diberikan Pendeta Resort setelah mempertimbangkan alasannya.

vii. Bagi yg menerima berkat pernikahan diberikan Surat Akte Kawin, sbg tanda bukti resmi bhw mrk sdh menikah.

b. Parpadanan / Bimbingan Pra-Nikah

i. Bagi yg mau menikah hrs mengikuti parpadanan / bimbingan Pra-Nikah di hadapan Majelis Parlagutan yg dilaksanakan di Gareja atau di rumah.

ii. Pd saat parpadanan / bimbingan pra-nikah perlu:

Diperiksa surat-surat parhuriaon ybs.

Ditanya apakah masih ada hubungan ybs dg org lain yg belum dibereskan, yg bisa menghalangi berkat pernikahan mereka.

iii. Harus ada surat parhuriaon cln pengantin lk/pr yg berlainan Resort/Gereja agr bisa dilaksanakan parpadanan / bimbingan pran-nikah tsb, yg ditandatangani oleh Pendeta Resort.

iv. Harus dikenai siasat dan penggembalaan Gereja kpd calon pengantin yg mengingkari parpadanan / bimbingan pra-nikah yg sudah disetujui Pendeta Resort.

c. Pemberkatan

i. Pemberkatan pernikahan dilaksanakan di Gareja, di hadapan Parlagutan. Dispensasi ttg hal ini diberikan Pendeta Resort.

ii. Waktu dan pelaksanaan pemberkatan adalah atas kesepakatan pihak keluarga dengan Majelis Parlagutan.

iii. Jika Pendeta Resort tdk bisa(krn sst halangan), bisa diberikan surat kuasa kpd Guru Parlagutan utk melaksanakan pemberkatan pernikahan tsb.

iv. Tidak sempurna pernikahan org Kristen yg hanya dilaksanakan di Catatan Sipil.

v. Karena itu, harus dikenakan penggembalaan/hukum siasat bagi org yg hanya melaksanakan perkawinan di Catatan Sipil, pada hal mereka sudah satu rumah sbg suami-istri. Karena hal tsb sama artinya dengan kumpul kebo (namarbagas roharoha).

d. Yg tdk bisa menerima Pemberkatan Pernikahan

Lk dan Pr tdk dpt menerima berkat Pernikahan jika:

i. Telah menceraikan atau meninggalkan suami/istrinya selama yg diceraikannya itu belum menikah.

ii. Gadis yg telah hamil.

iii. Yg tdk seiman.

iv. Lk/Pr yg masih memiliki hubungan dengan org lain yang belum diselesaikannya.

v. Kawin lari tetapi belum lepas sidi.

e. Harus dinasihati/digembalakan

Warga Jemaat digembalakan dan dinasihati jika:

i. Yg kumpul kebo, yg tdk menerima pemberkatan di Gereja dan yg diberkati oleh raja.

ii. Yg masuk ke agama/sekte lain yg sedogma dengan GKPA.

iii. Anak yg lahir prematur, kecuali ada surat keterangan dokter.

iv. Yg menceraikan/meninggalkan suami/istrinya kecuali karena zinah.

v. Pisah ranjang atas kesepakatan bersama.

vi. Poligami (Na marsiduadua).

f. Yg tdk perlu digembalakan

Hukum penggembalaan ini tdk dikenai kpd Keluarga ataupun orangtuanya, kecuali dg terang2an mrk menyetujui dan mendukung sikap yg salah tsb, umpamana: yg menceraikan dan lain sebagainya.

g. Penerimaan kembali

Jemaat yg diterima kembali menjadi warga adalah:

i. Jemaat yg sdh melakukan kesalahan di tengah jemaat tetapi tingkah laku dan hatinya telah mengalami perubahan dan telah mengikuti pembelajaran (parguruan) yg ditentukan oleh Majelis Parlagutan.

ii. Jemaat yg kumpul kebo dan poligami setelah menjalani parguruan yg ditentukan Majelis Parlagutan.

iii. Pemuda/i yg menikah dengan agama lain setelah menjalani parguru tardidi.

2. ANAK LAHIR

a. Anak yg lahir hrs segera diberitahukan kpd Majelis Parlagutan agr diwartakan di Gereja.

b. Akan dikenakan penggembalaan/hukum siasat bagi keluarga (bpk/ibu) yg sepakat utk menggugurkan/aborsi.

C. MENGENAI YG MENINGGAL

1. PENGUBURAN

a. Tdk dilaksanakan Ibadah penguburan kpd anak yg lahir dan meninggal langsung. Pd acara penguburannya hanya berdoa saja dan diwartakan di Gareja.

b. Lonceng Gereja dibunyikan jika ada warga jemaat yg meninggal, agr memudahkan jemaat bhw ada yg sedang berdukacita.

c. Tetap dilaksanakan Ibadah penguburan kpd orang yg meninggal kendatipun masih dlm masa menjalani hukum penggembalaan/siasat Gereja.

d. Melaksanakan Ibadah penguburan bagi org lain yg meninggal pada saat kunjungan ke tengah2 jemaat jika ada surat hatorangan dari jemaat ybs yg di tandatangani Pendeta Resort.

e. Ibadah menutup jenazah Pendeta dan Parhobas dilaksanakan di Gareja. Demikian jg bagi warga jemaat, bisa dilaksanakan di Gareja jika ada permintaan keluarga yg bersangkutan.

f. Tdk boleh melaksanakan Ibadah penguburan bagi org yg bunuh diri; tetapi boleh saja melaksanakan acara nyanyian, berdoa dan renungan saat penguburannya.

g. Tdk boleh menjalankan ibadah penguburan bagi jenazah parguru tardidi, tetapi boleh melaksanakan acara penghiburan di rumah maupun di kuburan.

2. MENGGALI TULANG-BELULANG, MEMPERBAIKI KUBURAN, MEMBANGUN BALE, TUGU

a. Jika ada yg mau menggali tulang-belulang, harus diberitahukan kpd Majelis Parlagutan. Agar terjadi praktek yg berhubungan dengan kekafiran.

b. Tulang-belulang yg sudah digali, agr langsung di antar ke tempatnya yg baru. Jika hrs bermalam, maka harus disimpan di Gereja, dan tdk boleh lagi melaksanakan yg berhubungan dengan kekafiran.

c. Yg memperbaiki kuburan dan mendirikan bale, tugu sebaiknya diberitahukan kpd Majelis Parlagutan, agr Majelis membimbing dan memberikan nasihat agr tdk terjadi hal-hal yg berhubungan dg kekafiran. Perlu ditegaskan bhw tdk ada lagi hubungan org yg hidup dg yg mati. Jika ada jemaat yg melakukan yg menyimpang, Majelis Parlagutan harus menasihati dan menggembalakan.

3. Kebersamaan di tengah jemaat

Harus terlihat kebersamaan di tengah2 jemaat, krn kita sama2 ditebus Kristus. Karena perselisihan dan perkelahian tidak baik di tengah2 Jemaat.

D. MENGENAI AJARAN/IMAN

1. KEKAFIRAN

a. Warga Jemaat senantiasa hrs teguh mempersembahkan imannya di dlm hidupnya, dan imannya harus dinampakkan kpd sesama manusia, sbg garam dan terang dunia.

b. Akan dikenakan hukum penggembalaan/siasat Gereja bagi org yg melakukan hal2 yg berhubungan dg kekafiran, misalnya: pd saat kelahiran anak, pd saat sakit, pada saat menghadapi pergumulan, saat meninggal, dll.

2. SEKTE

  1. Semua warga jemaat harus mengikrarkan kemurnian ajaran yg diimani di GKPA.
  2. Harus dikenakan hukum penggembalaan/siasat Gereja bagi Parhobas yg menyebarkan ajaran sesat.
  3. Harus dikenakan hukum penggembalaan/siasat Gereja bagi warga jemaat dan Parhobas yg mengikuti dan melakukan ajaran sekte yg berlawanan dengan ajaran di GKPA, umpamanya: Baptis ulang dll.

E. MENGENAI PERILAKU YANG JAHAT

1. Setiap org hrs menghargai hidupnya sendiri dan orang lain juga tanpa pandang buluh.

2. Karena itu, hrs digembalakan org Kristen yg melakukan kejahatan misalnya:membunuh org, memperkosa, meracuni org, yg mencelakakan hidup org lain.

3. Akan dikenakan hukum penggembalaan/siasat Gereja bagi org Kristen yg sengaja menggugurkan kandungan (abortus provocatus).

4. Harus dikenakan hukum penggembalaan/siasat Gereja bagi pengedar/pemakai morfin, ganja, narkotika (obat-obat terlarang), dan seks bebas.

III. PRAKTEK DAN TINGKATAN PENGGEMBALAAN/HUKUMAN

Jemaatlah yg melakukan penggembalaan / hukuman melalui Majelis Parlagutan, karena kpd Allah dan aturan Jemaat itulah yg berdosa itu melakukan kesalahannya. Jemaat juga harus menyadari bhw banyak kekurangan yg dijumpai di tengah2 jemaatnya, karena itu jemaat selalu memohon kpd Allah agar hal2 yg tdk baik ini tdk merasuki jemaat-Nya, agr jemaat-Nya berjalan dengan baik dan benar.

Majelis Parlagutan yg menentukan penggembalaan/siasat Gereja yg sepatutnya dilaksanakan bagi org yg kena hukum penggembalaan/siasat Gereja setelah disetujui Pendeta Resort. Karenanya Majelis Parlagutan harus meneliti dengan baik bentuk kesalahan yg dilakukannya dengan mendengarkan dari ybs dan org lain yg berhubungan dg hal tsb.

Jemaatlah yg menjalankan penggembalaan tsb, dan seluruh jemaat mendoakan yg kena penggembalaan tsb, agr hatinya berubah semakin baik dan tdk menjauh dari Tuhan.

Org yg dikenakan hukum penggembalaan/siasat Grj hrs kita anggab sebagai saudara yg hilang yg membutuhkan bimbingan agr kembali pada kebenaran.

Jenis-jenis tingkatan hukuman penggembalaan yg dilakukan di tengah Jemaat:

A. HUKUMAN YG RINGAN

Dinasihati di depan Majelis Parlagutan, dan tdk perlu diwartakan di dlm Jemaat, bhw dianya sudah dinasihati oleh Majelis Parlagutan.

Ketentuan:

1. Mereka dibolehkan mengikuti semua kegiatan di tengah Jemaat termasuk sakramen.

2. Jika mrk tdk mau bertobat, maka kepadanya akan dikenakan hukuman yg lebih berat.

3. Khusus Parhobas yg kena hukuman yg ringan ini, tahbisan (tohonan)/jabatannya tdk ditarik.

4. Yg termasuk dalam hukuman yg ringan ini: jemaat yg malas ke Grj, yg bekerja pd hari minggu, yg tdk mau Perjamuan Kudus, yg tdk mau mendukung dan memikirkan kebutuhan Jemaat, yg tdk mau membawa anaknya utk menerima baptisan dan belajar sidi; yg berkata fitnah, yg menghina Parkobas Parlagutan, dll.

B. HUKUMAN YANG BERAT

Diwartakan di tengah2 Jemaat bhs ybs telah dikenakan hukum penggembalaan/siasat Grj, dan sejak saat itu ybs menjadi ruas parguru.

Ketentuan:

1. Ybs tdk bisa mengikuti sakramen selama di dlm masa pembelajaran (parguruan) minimal 6 (enam) bulan.

2. Ybs hrs memunjukkan pertobatan hatinya, dan hrs rajin ke Grj dan kegiatan gerejawi lainnya di dalam jemaat.

3. Khusus bagi Parhobas yg kena hukuman yg berat ini, jabatan ybs utk sementara ditarik, selama belum selesai masa hukuman yg dijalaninya.

4. Jemaat akan tetap melayani ybs pada saat mengalami musibah, penderitaan.

5. Yg termasuk hukuman yg berat ini: yg hamil di luar nikah, anak yg lahir prematur, yg pisah ranjang, yg berzinah, yg diberkati raja, dll.

C. HUKUMAN YG LEBIH BERAT

Diwartakan dalam jemaat bhw ybs telah dikenakan hukuman penggembalaan/siasat Gereja.

Ketentuan:

1. Ybs tdk boleh mengikuti sakramen selama masa menjalani hukuman minimal 1 (satu) tahun.

2. Ybs hrs menunjukkan pertobatan hatinya, dan rajin ke Grj dan kegiatan gerejawi lainnya.

3. Khusus bagi Parhobas Parlagutan yg kena hukuman yg lebih berat ini, tahbisan (tohonan)/jabatanna ditarik dari ybs.

4. Gereja tdk melayani ybs baik dlm peristiwa suka cita maupun duka cita, selama ybs masih menjalani hukuman.

5. Yg termasuk hukuman yg lebih berat ini: perbuatan yg berkenaan dg kekafiran, pembunuh manusia, abortus provokatus, yg mengajarkan ajaran sesat, dll.

D. HUKUMAN YG PALING BERAT SEKALI

Dikeluarkan dari jemaat.

Ketentuan:

1. Ybs tdk memiliki hubungan lagi dengan Gereja.

2. yb termasuk hukuman yg paling berat sekali ini: ybs berpoligami setelah Kristen, yg beralih agama.

IV. TANGGUNG JAWAB JEMAAT DAN PENERIMAAN KEMBALI

A. HUKUMAN YG RINGAN

1. Warga jemaat bertanggungjawab utk mendoakannya dan menasihati saudaranya yg bersalah agr segera kembali pada kebenaran dan persekutuan Jemaat.

2. Warga jemaat bertanggungjawab mengunjungi dan menggembalakan saudaranya yg kena hukuman penggembalaan/siasat Grj.

3. Warga jemaat harus ikut merasakan bhw hukuman itu sungguh sangat berat sekali karenanya warga jemaat harus bergumul bagi saudaranya yg kena hukuman tsb.

4. Warga jemaat harus rajin melaksanakan penggembalaan bagi orang yg kena hukum penggembalaan/siasat Grj serta mengarahkan ybs ke Grj dan ibadah2 lainnya yg dilaksanakan Gereja, dan menekankan pada hati ybs bhw sukacita besar di tengah jemaat tsb jika seorang berdosa kembali dari keberdosaannya pada kebenaran Firman Tuhan.

B. PENERIMAAN KEMBALI BAGI HUKUMAN A-B

  1. Hati setiap warga jemaat akan selalu terbuka utk menerima kembali orang yg telah bertobat, jika ybs berkeinginan kembali lagi pada persekutuan orang percaya di dalam Jemaat.
  2. Seseorang yg telah dihukum penggembalaan dpt diterima kembali jika:

a. Hati dan perilakunya telah memperlihatkan pertobatan dan telah meninggalkan perilaku yg membuat ybs dikenai hukum penggembalaan tsb.

b. Sudah rajin ke Gereja (ibada) dan ke kebaktian-kebaktian yg dilaksanakan Gereja.

c. Telah menjalani pembinaan yg telah ditentukan Majelis Parlagutan kpd ybs.

  1. Permohonan kembali pd persekutuan jemaat ybs disampaikan kpd Majelis Parlagutan.
  2. Seluruh warga jemaat yg dikenai hukuman penggembalaan kelompok A-B pengakuan dosa ybs, cukup hanya disampaikan kpd Majelis Parlagutan, dan pada saat itulah ybs sah diterima kembali sbg warga jemaat, dan diwartakan di tengah ibadah Minggu.

C. PENERIMAAN KEMBALI BAGI HUKUMAN C-D

1. Hati setiap warga jemaat akan selalu terbuka utk menerima kembali orang yg telah bertobat, jika ybs berkeinginan kembali lagi pada persekutuan orang percaya di dalam Jemaat.

2. Yg dikenai hukuman C-D ini harus mengaku dosa dan kesalahan mrk di depan Jemaat sewaktu ibadah Minggu.

3. Khussus bagi Parhobas Parlagutan yg diterima kembali, tahbisan (tohonan)/jabatannya bisa diberikan kembali, setelah dipertimbangkan oleh Majelis Parlagutan dan disetujui Pendeta Resort, dan warga jemaat tdk ada yg merasa keberatan.

PANUTUP

Harus diakui bhw sangatlah sulit menjalankan Hukum penggembalan/siasat Gereja ini bagi org-org yg melakukan kesalahan. Karena itu haruslah sangat hati2 dan teliti diperiksa oleh Majelis Parlagutan sewaktu memberikan satu hukuman bagi warga jemaat sesuai dengan pelanggarannya.

Dan banyak kemungkinan ditemukan bahwa kesalahan yg dilakukan warga jemaat tsb tdk tertulis (tapi tersirat) di dalam Hukum penggembalaan ini. Oleh karenanya, Majelis ni Parlagutan harus perlu hati-hati dan teliti memeriksa kesalahan warga jemaat agr mampu memutuskan ke jenis hukuman mana ybs dikenakan.

Kiranya kita selalu berdoa dan waspada menjaga diri kita masing-masing dan Warga jemaat agar pelaksanaan Hukum penggembalaan ini dijalankan sebaik dan seadil2nya di dalam Jemaat. Dengan demikian Firman Tuhan semakin murni di dalam Jemaat, dan kemuliaan Allah nyata serta iman warga jemaat semakin kokoh di dalam seluruh persekutuan warga Jemaat.

RUHUT PARMAHANION / PAMINCANGON GKPA

RUHUT PARMAHANION / PAMINCANGON

DI

GEREJA KRISTEN PROTESTAN ANGKOLA (G.K.P.A.)


I. PANGASTUION, TUJUAN, DOHOT OJAHAN NI PARMAHANION / PAMINCANGON

A. PANGASTUION

1. Holong ni roha

Ruhut Parmahanion/Pamincangon i ma sada aturan na di pake di tongatonga ni Parlagutan GKPA laho pataridahon holong na sian Debata, anso taratur Parlagutan i jana ansi tarida habadiaon ni Debata dibagasan Jesus Kristus Tuhanta i marhitehite Parlagutan i (Hamalimon 19:2,7,25; 1Pterus 1:15-16).

Porlu do tangkas astuanta bahaso Ruhut Parmahanion/Pamincangon ni Parlagutan i nada uhuman, tapi holong ni roha do, angke aturan i, i ma holong ni roha na dirumushon dibagasan hata/kalimat. Marhite Ruhut Parmahanion/Pamincangon on, holong ni roha do na giot patupaon di Parlagutan i.

2. Parmahanion

Dipatupa Parlagutan i Ruhut Parmahanion/Pamincangon on nada na giot manguhumi tapi namarmahani dohot manogunogu do anso tu lomo ni roha ni Debata sude parange ni ruas ni Parlagutan i, marhite gabe tarida ma hamuliaon dohot hasangapon ni Debata.

3. Pangajarion

Dipatupa muse Ruhut Parmahanion/Pamincangon on laho mangajari Parlagutan i anso mur denggan, mur taratur jana mur mardisiplin (1Korintus 14:33).

B. TUJUAN

1. Panogunoguon tu hamubaon ni roha

Parmahanion/Pamincangon na dipatupa ni Parlgautan i martujuan anso adong hamubaan ni roha, nada na giot padaohon sanga mangambungkon halak parsala i, tapi anso mur ditanda na hona Parmahanion/Pamincangon i do sude pangalaho na humurang, angke i do na di halomohon ni Debata (Jehezkiel 33:11; 2Petrus 3:9b).

2. Pataridahon habadiaon ni Debata

Parlagutan, i ma punguan ni halak Kristen na badia marhite mudar ni Tuhan Jesus Kristus (1Petrus 2:9). Harani i, angkon mangolu dibagasan habadian do ruas ni Parlagutan i hombar tu na ni halomohon ni Debata. Dipatupa Parmahanion/Pamincangon on tu halak na marsala dohot tu halak na paramunhon habadiaan ni Debata i, anso ulang mur rarat be muse pangalaho na songoni tu na asing.

3. Harentaon ditongatonga ni Parlagutan

Ditongatonga ni Parlagutan angkon tarida do harentaon (kebersamaan) ni sude ruas, harana rap na ditobus ni Kristus do hita seudena. Dibaen i, nada tama tubu hagaoron sanga parsalisian di tongatonga ni Parlagutan i.

4. Hasatiaan tu aturan

Nada mardia imbar ni Parlagutan di adopan ni Tuhanta, harani i angkon satia do sude ruas mangoloi, manjagit Parmahanion/Pamincangon i muda adong hasalaanna.

C. OJAHAN

1. Hata ni Debata na tarsura di Parjanjian Na Honok dohot Parjanjian Na Imbaru

Ruhut Parmahanion/Pamincangon na dipatupa di Parlagutan i marojahan tu Hata ni Debata na tarsurat di Bebel, Buku Na Badia (Parjanjian Na Honok dohot Parjanjian Na Imbaru.

Hata ni Debata do na mandok angkon Badia Parlagutan i, songon Debata Na Badia. Angke Na Badia do Debata (Hamalimon 19:2; Jesaya 6:6; 1Petrus 1:15-16).

Hata ni Debata muse do na mandok angkon tarida holong ni roha, parmahanion, panogunoguon, pangajarion dohot pamincangion di tongatonga ni Parlgautan i (Mateus 18:15-17; Johanes 13:34-35; 21:15-17; 2Timoteus 3:16; 4:2b).

2. Tata Gereja / Tata Laksana GKPA

Ruhut Parmahanion/Pamincangon na dipatupa di Parlagutan i mardomu muse do i tu Tata Gereja / Tata Laksana GKPA, angke Tata Gereja / Tata Laksana GKPA i madung ditotopkon gabe ojahan/haroroan ni sude pangkobasion di Parlagutan GKPA.

II. RUMANG NI SI PINCANGAN

  1. NA MARPARDOMUAN TU NGOLU PARHURIAON

1. PARMINGGUON

a. Kewajiban ni ruas ni Parlagutan i do anso totop mandohoti kebaktian minggu dohot punguanpunguan na dipatupa ni Parlagutan i pataridahon haburjuon dohot parsaoranna tu Debata dohot donganna sahaporsayaan (Ibrani 10:25).

b. Sadengganna ulang ma dipatupa ruas ni Parlagutan i horja/pesta adapt di ari minggu dohot di ari raya Kristen, na mambaen sundat halak rot u parmingguon/kebaktian (Haruruar 20:8-1).

c. Honahononkon do Ruhut Parmahanion/Pamincangon tu sada anggota na dung 6 (onom) bulan inda jungada be marminggu (dohot kebaktian-kebaktian na asing) di Parlagutan i dung jolo pigapiga noli dipaingot Majelis Parlagutan i.

d. Honahononkon do Ruhut Parmahanion/Pamincangon tu Parhobas ni Parlagutan na dung 3 (tolu) bulan padodot inda ro marminggu (dohot kebaktian-kebaktian na asing) di Parlagutan i dung jolo pigapiga noli dipaingot Majelis Parlagutan jana disetujui Pandita Resort.

e. Honahononkon do Ruhut Parmahanion/Pamincangon tu Parhobas ni Parlagutan na dung 3 (tolu) bulan padodot inda ra manghobasi di Parlagutan i (dohot kebaktian-kebaktian na asing) dung jolo pigapiga noli dipaingot Majelis Parlagutan jana disetujui Pandita Resort.

2. PANDIDION NA BADIA

a. Pandidion tu Dakdanak

i. Tanggung jawab ni natorasna do maroban dakdanak tu Pandidion na Badia na dipatupa ni Parlagutan. Harani i sipaingoton do halahi na so ra maroban dakdanakna tu Pandidion na Badia dung 2 (dua) noli padodot dipatupa Pandidion na Badia di Parlagutan i.

ii. Sipatupaon do parguruan tu natoras ni dakdanak na giot maroban dakdanakna tu Pandidion na Badia i.

iii. Nada sijagiton muda so rap ama dohot ina tu parguruan dohot Pandidion na Badia i muda so adong harana.

iv. Bisa do patupaon Pandidion na hinipu tu dakdanak ni halak Kristen na marnyae pasang na dipatupa ni parhobas, natoras ni dakdanak i, sang ape ruas. Muda dung malum dakdanak i sian nyaena i, angkon obanon do muse tu Pandidion na Badia laho manjagit pasupasu Pandidion.

b. Pandidion tu Namagodang

i. Sude na giot manjagit Pandidion na Badia tu namagodang angkon jolo mandohoti parguruan di Parlgautan i, jana dijagit ma halahi gabe ruas parguru tardidi di hatiha kebaktian minggu.

ii. Namanjagit Pandidion na Badia tu namagodang sadalan do i dohot na manghajongjongkon haporsayaan.

3. PAMUNAN NA BADIA

a. Sibaenon do Pamunan Na Badia di ganup Parlagutan GKPA.

b. Sibaenon ni Majelis Parlagutan do panghobasion patujolo ni Pamunan Na Badia di Parlagutan i.

c. Sipaingoton do ruas na dung 2 (dua) noli padodot inda ra mandohoti Pamunan Na Badia, jana sitimbangan ni Majelis Parlagutan i do keanggotaanna di Parlagutan i muda inda adong hamubaan ni rohana dung pigapiga noli dipaingot.

d. Sitarihon do tohonan/jabatan sian Parhobas ni Parlagutan na pola sataon inda mandohoti Pamunan Na Badia dung jolo dipaingot Majelis Parlagutan jana disetujui Pandita Resort.

e. Sisosoan do halak na marnyae pasang anso marpamunan na badia.

f. Angka ruas na dung mangoku haporsayaan do na tola mandohoti Pamunan Na Badia (Ligi TTL GKPA Bab IX).

4. MANGOKU HAPORSAYAAN

a. Sipatupaon do parguruan mangoku haporsayaan tu ruas na dung manjagit Pandidion Na Badia di hatiha dakdanak.

b. Tanggung jawab ni natoras do marsuru dakdanakna mandohoti parguruan laho mangoku haporsayaan dung marumur 14 taon daganak i.

c. Kewajiban ni dakdanak parguru do mandohoti parguruan na dipatupa ni Parlagutan i saotikotikna 100 (saratus) noli pertemuan hombar tu buku Panduan Sidi na ni haruarhon ni Kantor Pusat GKPA. Muda adong na so gok dope mandohoti parguruan i partimbangkonon ni Majelis Parlagutan ma i rap dohot Pandita Resort.

d. Sipatupaon do ujian tu sude parguru malua di jolo ni simatobangna laho patangkaskon parsiajaranna.

e. Nada tola dohot manumpang mangoku haporsayaan sada halak di sada Parlagutan muda so adong surat hatorangan sian Parlagutanna paboa na dung marguru ia.

5. TANGGUNG JAWAB NI RUAS TU PARLAGUTAN

a. Sude ruas ni Parlagutan angkon dohot do martanggungjawab tu haporluan ni Parlagutan i i ma di angka pelayanan organisasi, parhepengon dohot na pamajuhon Parlagutan i.

b. Kewajiban ni ruas ni Parlgautan do mangalehen Persembahan Bulanan dohot kewajiban na asing na dung ditontuhon ni rapot Parlagutan i. Sipincangon ni Majelis Parlagutan do ruas na so ra mangalehen kewajibanna dung pigapiga noli dipaingot.

  1. NAMARPARDOMUAN TU NGOLU PARSARIPEON

1. PARBAGASON

a. Persyaratan

i. Madung marumur 21 taon muda halaklahi, jana 19 taon muda dadaboru. Dispensasi tu son dilehen Pandita Resort dung jolo ditimbangi alasanna.

ii. Madung mangoku haporsayaan, sanga parguru tardidi na magodang.

iii. Disetujui natorasna keduabelah pihak. Muda so adong persetujuan sian natorasna sanga walina, bias do patupaon pamasumasuon parbagason tu halaklahi/dadaboru na dung dianggap tuk umurna sian segi hokum jana dung adong dibaen surat pernyataan.

iv. Sude na giot manjagit pasupasu parbagason angkon parjolo ditingtingkon di Gareja baru pe dipatupa pasupasuon. Muda nada terpenuhi aturan/pandohan na di ginjang i, bisa do dilehen Pandita Resort disepensasi dung jolo ditimbangi alasanna rap dohot Majelis Parlagutan.

v. Halaklahi/dadaboru na ro sian Gareja Katolik, sanga Gareja na asing na so sadogma dohot GKPA, baru bisa manjagit pasupasu parbagason muda dung jolo nitangkasan surat pandidion/konfirmasina jana dibaen surat pernyataan na masiris haradeon ni halahi mematuhi Peraturan-peraturan na marlaku di GKPA. Muda inda adong dope surat pandidion/konfirmasi ni halahi, angkon jolo mangoku haporsayaan do halahi, dungi pe dipatupa pasupasu parbagason.

vi. Pasupasu parbagason bias dipatupa tu na dung mabalu, dung solpu 9 (sambilan) bulan muda ina jana 6 (onom) muda ama. Dispensasi tu son dilehen Pandita Resort dung jolo ditimbangi alasanna.

vii. Tu na manjagit pasupasu parbagason di GKPA dilehen Surat Akte Kawin, songon tanda bukti na dung resmi halahi dipabagas.

b. Parpadanan / Bimbingan Pra-Nikah

i. Sude na giot manjagit pasupasu parbagason di GKPA angkon parjolo mandohoti parpadanan / bimbingan Pra-Nikah di jolo ni Majelis Parlagutan na dipatupa di Gareja sanga di bagas.

ii. Di hatiha parpadanan / bimbingan pra-nikah porlu do:

- Dipareso tangkas surat-surat parhuriaon ni halahi.

- Disapai betak adong dope hubungan ni halahi tu anak/boru na asing na so dipaberes dope, na bias mangambati pasupasu parbagason ni halahi.

iii. Angkon adong do surat parhuriaon ni anak/boru na paasingasing Resort/Gareja anso bias dipadalan parpadanan / bimbingan pran-nikah i, na ditandatangani ni Pandita Resort.

iv. Siparmahanion/sipincangon do halak na manguba, mangose padan dung dipatupa parpadanan/bimbingan pra-nikah di Parlagutan jana dung dietujui Pandita Resort.

c. Pamasumasuon

i. Sude Pamasumasuon Parbagason dipatupa di bagasan Gareja, di jolo ni Parlagutan i. Dispensasi tu son bisa dilehen Pandita Resort.

ii. Kesepakatan ni hasuhuton dohot Majelis Parlagutan do manontuhon ari Pamasumasuon Parbagason i.

iii. Muda inda bisa Pandita Resort (hara adong halanganna), bisa dilehen surat kuasa tu Guru Parlagutan anso dipatupa Pamasumasuon Parbagason i.

iv. Nada singkop parbagasan ni halak Kristen muda holan dipatupa di Catatan Sipil sajo.

v. Harani i siparmahanion/sipincangon do halak na holan mandalankon perkawinan di Catatan Sipil sajo, tapi madung rap halahi sbagas songon suami-istri. Angke sarupa do i dohot namarbagas roharoha.

d. Naso tola manjagit Pamasumasuon Parbagason

Nada tola manjagit Pamasumasuon Parbagason halaklahi sanga dadaboru muda:

i. Sude Namanyirangkon sanga manadingkon dadaboruna/halaklahina salolot so kawin dope na ni sirangkon nia i/na nitadingkon nia i.

ii. Dadaboru na dung tangkas sala langka(denggan pamatangna).

iii. Napaasingasing ugamo/haporsayaan.

iv. Halaklahi/dadaboru na adong dope sangkutpautna tu halak na asing na so dipaberes.

v. Na marlojong muda so mangoku haporsayaan dope.

e. Sipincangon

Sipincangon do ruas ni Parlagutan i muda:

i. Na marbagas roharoha, na so manjagit pamasumasuon parbagasan di Parlagutan i, dohot na di pasupasu raja.

ii. Na kehe tu ugamo/sekte na asing na so sadogma dohot GKPA.

iii. Na ma tibu tu sorang dakdanakna, asing na premature na marsurat keterangan dokter.

iv. Na manyirangkon/manadingkon dadaboru/halaklahina muda so harani na markarosuan/mangalangkup.

v. Na pasirangsirangon sian dos ni tahi ni halahi angkup bariba.

vi. Na marsiduadua.

f. Naso sipincangon

Nada pola sipincangon keluarga sanga orangtua ni ruas na hona pincang, kecuali na tangkas halahi dohot dibagasan dos ni tahi mangkarejohon pangalaho na salai, umpamana: na manyirangkon dohot angka na asing.

g. Sijagiton

Sijagiton do mulak tu Parlagutan i:

i. Sude ruas na mangalaosi aturan ni Parlagutan i, dung tangkas tarida hamubaan ni rohana, jana madung mandohoti parguruan na ditontuhon ni Majelis Parlagutan.

ii. Sude na marbagas roharoha sabalingkon ni na marsiduadua dung mandohoti/mandalani parguruan na ditontuhon Majelis Parlagutan.

iii. Anak/boru na mambuat boru/marbagas roharoha tu boru/anak parugamo na asing dung jolo parguru tardidi dadaboru/halaklahina i.

2. DAKDANAK NA SORANG

a. Sude dakdanak na baru sorang di Parlagutan anso tibu dipaboa tu Majelis Parlagutan anso ditingtingkon di Gareja.

b. Siparmahanion/sipincangon do ina dohot ama muda dohot ia mardos ni tahi namanggugurkon/aborsi.

  1. NAMARPARDOMUAN TU NAMONDING

1. PENGUBURAN

a. Nada sipadalanon Agenda penguburan tu dakdanak na monding manorus (dung sorang manigor monding). Di acara penguburanna tuk ma holan na martangiang sajo jana ditingtingkon di Gareja.

b. Sipaluon do lonceng di Gareja muda adong na monding sian ruas ni Parlagutan i, anso momo botoon ni halak bahaso na adong na masa di Parlagutan i namarsitaonon.

c. Padalanon do Agenda penguburan tu bangke ni halak haru pe hatiha mandalani parguruan na manopoti dope.

d. Padalanon do acara dohot Agenda penguburan tu halak na ro sanga tu halak na asing na monding di Parlagutan i, muda adong surat hatorangan sian Parlagutanna na di tandatangani Pandita Resort.

e. Acara paragendaon manutup batang tu bangke ni Pandita dohot sude Parhobas dipatupa di Gareja. Laing songoni ruas ni Parlagutan, bisa do di patupa di Gareja acara paragendaon manutup batang muda dipangido keluarga na bersangkutan.

f. Nada siapadalon paragendaon penguburan tu halak na manyingkot/bunu diri; tapi denggan do patupaon acara marende, martangiang dohot marjamita di hatiha penguburanna.

g. Nada sipadalanon acara paragendaon penguburan tu bangke ni parguru tardidi, tapi baenon do acara pangapoion di bagas sanga pe di kuburan ni namondingi.

2. MANGONGKAL HOLI, PADENGGAN KUBURAN, PAJONGJONG BALE, TUGU

a. Muda adong na giot mangongkal holi, dipabotohon ma tu Majelis Parlagutan. Ulang ma dipamasa di si karejo na marpardomuan tu hasipelebeguon.

b. Holiholi na dung diongkal, anso torus ma dipataru tu inganan na imbaru. Muda na ingkon marborngin do harani dao ni inganan, angkon simpankonon ma jolo holiholi i di Gereja, jana nada tola dipamasa di si karejo namarpardomuan tu hasipelebeguon.

c. Napadenggankon kuburan sanga na pajongjong bale, tugu denggan ma jolo dipabotohon tu Majelis Parlagutan, anso dohot halahi maniroi dohot mangelehen poda (anso ulang masa di si karejo na marpardomuan tu hasipelebeguon). Porlu do diondolkon, nada adong be hubungan/pardomuan ni halak na mangolu tu halak na dung mate i mangelehen/manjagit barang aha pe tu/sian halak na mangolu. Muda adong dope ruas na mangkarejohon na manyirpang sian i sitimbangon/siparmahanion/sipincangon ni Majelis Parlagutan do i.

3. Harentaon ditongatonga ni Parlagutan

Ditongatonga ni Parlagutan angkon tarida do harentaon (kebersamaan) ni sude ruas, harana rap na ditobus ni Kristus do hita seudena. Dibaen i, nada tama tubu hagaoron sanga parsalisian di tongatonga ni Parlagutan i.

  1. NA MARPARDOMUAN TU AJARAN/HAPORSAYAAN

1. HASIPELEBEGUON

a. Angkon an hot do halak Kristen manghaulkon haporsayaanna dibagasan ngoluna, jana angklon na tongtong do dipataridahon haporsayaanna tu dongan jolma, songon sira dohot sondang ni portibi on.

b. Siparmahanion/sipincangon do halak Kristen na mangkarejohon karejo na marpardomuan tu hasipelebeguon di bagasan ngoluna, umpamana: di hatiha parsorang ni dakdanak, di hatiha na marnyae, di hatiha na mangadopi parsoalan, di hatiha mangadopi bangke ni namonding, dohot angka na asing.

2. SEKTE

a. Sude ruas angkon manjago dohot manghatindangkon hapolinon ni ajaran na di haporsayai di GKPA.

b. Siparmahanion/sipincangon do ruas sanga Parhobas na pararatkon poda haliluon di Parlagutan i.

c. Siparmahanion/sipincangon do ruas sanga Parhobas na mandohoti dohot mangkarejohon ajaran ni sekte na maralo ajaranna tu ajaran na adong di GKPA, umpamana Baptis ulang dohot angka na asing.

  1. NA MARPARDOMUAN TU PANGALAHO NA JAHAT

1. Sude halak Kristen angkon manghargai ngolu/diri ni jolma sanga na ise pe i.

2. Harani i, siparmahanion/sipincangon do halak Kristen na mangkarejohon hajahaton umpamana: mamunu jolma, memperkosa, mangarasun, pasiaksiak ngolu ni donganna.

3. Siparmahanion/sipincangon do halak Krsiten na sengaja manggugurkon kandungan (abortus provocatus).

4. Siparmahanion/sipincangon do pengedar/pemakai morfin, ganja, narkotika (obat-obat terlarang), dohot na seks bebas.

III. PRAKTEK DOHOT TINGKATAN NI PAMINCANGON

Parlagutan i do na mandalankon pamincangon marhite Majelis Parlagutan, harana tu Debata dohot tu aturan ni Parlagautan i do si parsala i mangalaosi/mardosa. Angkon tangkas do dipangkilalahon Parlagutan i sude hahurangan na adong ti tongatonga ni ruasna, jana dibagasan tangiang mangido tu Debata anso dipasimbil Parlagutan i hahurangan-hahurangan i, anso mardalan dibagasan hasintongan Parlagutan i.

Majelis Parlagutan do na manontuhon parmahanion/pincangpincang na patut sidalankonon tu halak na hona Ruhut Parmahanion/Pamincangon dung disetujui Pandita Resort. Dibaen i angkon na tangkas do dipareso Majelis Parlagutan rumang ni hasalaan na giot sipincangon i marhite na mambege hatorangan sian halahi dohot sian na asing na marpardomuan tusi.

Parlagutan i do na mandalankon pamincangon i, jana angkon sude ruas ni Parlagutan i dohot manangiangkon na hona pincang i, anso muba rohana jana ulang tu pandelean na padaohon ibana sian Tuhan i.

Angkon etongon ni ruas ni Parlagutan i do halak na hona pincangon i songon kahanggi na dung lilu jana porlu togutoguon mulak tu hasintongan.

Adong pigapiga tingkatan ni pincangpincang na di patupa di Parlagutan i ma:

  1. PINCANGPINCANG NA NAYANG

Dipaingot di jolo ni Majelis Parlagutan, jana pola ditingtingkon di Parlagutan i, bahaso nadung dipaingot Majelis Parlagutan halahi.

Hatontuan:

  1. Tola do halahi mandohoti sude ulaon ni Parlagutan i termasuk sakramen.
  2. Muda inda ra halahi paubahon rohana, dipatupa pincangpincang na dumokdok sian na parjolo i.
  3. Khusus tu Parhobas na hona pincangpincang na nayang, nada pola ditarik tohonan/jabatanna.
  4. Na masuk tu horong pincangpincang na nayang i ma: ruas na losok marminggu, na manuntuk markarejo ari minggu, naso ra marpamunan na badia, na so mangkaringkotkan haporluan ni Parlagutan, na so mangkaringkothon mamboan dakdanakna tu pandidion na badia dohot tu parguruan; na patubutubu hata naso sintong, na palayaskon Parkobas ni Parlagutan i, dna.

  1. PINCANGPINCANG NA DOKDOK

Ditingtingkon do di tongatonga ni Parlagutan bahaso na hona Ruhut Parmahanion/Pamincangon halahi, jana mamungka sian i gabe ruas parguiru ma halahi.

Hatontuan:

  1. Inda tola halahi mandohoti sakramen salolot dibagasan parguruan minimal 6 (onom) bulan.
  2. Angkon dipataridahon halahi hamubaan ni rohana, jana angkon ringgas halahi tu parmingguan dohot angka ulaon na asing di Parlagutan i.
  3. Khusus tu Parhobas na hona pincangpincang na dokdok on, tarikon jabatanna sementara, painte so sidung dope pamincangon i tu halahi.
  4. Siantoan ni Parlagutan i do halahi muda masa arsak ni roha.
  5. Na masuk tu horong pincangpincang na dokdok on i ma: na sala langka di parbagasan, na matibu tu sorang dakdanak, na pasirangsirangon angkup ni tahi bariba, na markarosuan, na di pasupasu raja, dna.

  1. PINCANGPINCANG NA DUMOKDOK

Ditingtingkon do di tongatonga ni Parlagutan bahaso na hona Ruhut Parmahanion/Pamincangon halahi.

Hatontuan:

  1. Inda tola halahi mandohoti sakramen salolot dibagasan parguruan minimal 1 (sada) taon.
  2. Angkon dipataridahon halahi hamubaan ni rohana, jana angkon ringgas halahi tu parmingguan dohot angka ulaon na asing di Parlagutan i.
  3. Khusus tu Parhobas ni Parlagutan na hona pincangpincang na dumokdok on, tarikon do tohonan/jabatanna sian halahi.
  4. Nada siantoan ni Parlagutan i halahi di karejo jop ni roha dohot arsak ni roha, salolot mandalani Ruhut Parmahanion/Pamincangon i halahi.
  5. Na masuk tu horong pincangpincang na dumokdok on i ma: pangalaho namarpardomuan tu hasipelebeguon, sibunu jolma, abortus provokatus, na padalankon poda haliluon, dna.

  1. PINCANGPINCANG NA DOKDOK SITUTU

Dipabali halahi sian Parlagutan.

Hatontuan:

  1. Inda adong be hubungan/pardomuan ni halahi dohot Parlagutan.
  2. Na masuk tu horong pincangpincang na dokdok situtu on i ma: namarsiduadua ding Kristen ibana, na marbalik tu ugamo na asing.

IV. TANGGUNG JAWAB NI PARLAGUTAN DOHOT PANJAGITON MULAK

A. PINCANGPINCANG NA NAYANG

  1. Martanggungjawab do sude ruas ni Parlagutan i laho manangiangkon dohot paingotkon donganna na marsala i anso sigop halahi mulak tu hasintongan dohot tu parsaaoran ni Parlagutan i.
  2. Martanggungjawab do sude ruas ni Parlagutan i, manopot dohot mamarmahani donganna na hona Ruhut Parmahanion/Pamincangon.
  3. Angkon dohot do sude ruas ni Parlagutan i, manghilala bahaso na dokdok do pamincangon harani dosa jana gabe siarsakkonon ni sude ruas ni Parlagutan i do muda adong donganna na hona Ruhut Parmahanion/Pamincangon.
  4. Angkon ringgas do sude ruas ni parlagutan i mambaen panogunoguon tu halak na hona Ruhut Parmahanion/Pamincangon i mangarahon marminggu dohot kebaktian-kebaktian na dipatupa ni Parlagutan i, dohot manyuankon tu roha ni halahi bahaso na gabe sada jop ni roha do di Debata dohot di Parlagutan i, muda mulak pardosa i mandadingkon dosana tu hasintongan.

B. PANJAGITON MULAK TU NA HONA RUHUT PARMAHANION / PAMINCANGON NA NAYANG DOHOT NA DOKDOK (A-B)

  1. Ungkap do tongotng manjagit halak na ra paubahon rohana, muda dipangido halak na hona Ruhut Parmahanion/Pamincangon i giot mula tu parsaoran ni halak Kristen di Parlagutan i.
  2. Sijagiton do halak na hona Ruhut Parmahanion/Pamincangon i muda:

a. Madung tarida hamubaon ni rohana, jana madung ditadingkon halahi parange na mambaen hona Ruhut Parmahanion/Pamincangon halahi.

b. Madung ringgas ro marminggu dohot tu kebaktian-kebaktian na dipatupa Parlagutan i.

c. Madung sidung parguruan na ditontuhon ni Majelis Parlagutan tu halahi (na hona Ruhut Parmahanion/Pamincangon i).

  1. Tu Majelis Parlagutan do pangidohonon ni na hona Ruhut Parmahanion/Pamincangon i sangkap parmulakna tu parlagutan i.
  2. Sude na hona Ruhut Parmahanion/Pamincangon di kelompok A-B tuk ma di joloni Majelis Parlagutan manopoti hasalaanna, jana disi ma dijagit halahi mulak tu Parlagutan i, dung dipabotohon tu Pandita Resort, ditingtingkon ma di Gareja di parmulak ni halahi tu Parlagutan i.

C. PANJAGITON MULAK TU NA HONA RUHUT PARMAHANION / PAMINCANGON NA DUMOKDOK DOHOT NA DOKDOK SITUTU (C-D)

  1. Rade do Parlagutan i manjagit halak na paubahon rohana muda dipangido halahi giot mulak tu parsaoran ni halak Kristen na di Parlagutan i.
  2. Sude na hona Ruhut Parmahanion/Pamincangon tingkat na dumokdok doho na dokdok situtu angkon mangoku di jolo ni Parlagutan i di jolo ni Parlagatan hatiha kebaktian.
  3. Khussus tu Parhobas ni Parlagutan na dijagit mulak, bisa do muse dilehen tohonan/jabatanna, dung ditimbangi Majelis Parlagutan dohot disetujui Pandita Resort, jana nada adong na keberatan sian ruas ni Parlagutan i.

PANUIUP

Jotjot do maol padalankon Ruhut Parmahanion/Pamincangon on tu sada-sada halak namarsala. Dibaen i porlu do manat jana tangkas paresoon ni Majelis Parlagutan dinalaho mangalehen sada pincang-pincang hombar tu hasalaanna.

Jana sai adong do kemungkinan ni angka rumang hasalaan i na so tangkas tarsurat (tapi tersirat) di Ruhut Parmahanion/Pamincangon on. Dibahen i porlu muse do manat jana tangkas paresoon ni Majelis ni Parlagutan i sanga na tuhorong dia do sipatupaon pincang-pincangi hombar tu hasalaanna.

Sai anggiat ma tongtong hita mardongan tangiang jana jonggor manjagahon dirinta dohot Parlagutan i anso sintong mardalan panogu-noguon dohot parmahanion tu Parlagutan i. Marhite i gabe mur polin ma hata ni Debata na di Parlagutan i, mur tarida HabadiaanNa jana mur pita haporsayaan ni sude ruas ni Parlagutan i.