Kamis, 03 Juni 2010

Bacaan Minggu 4 Setelah Trinitatis, 27 Juni 2010: Pengkhotbah 3:16-22







Minggu 4 Setelah Trinitatis,
Minggu, 27 Juni 2010 Pengkhotbah 3:16-22

“TIDAK ADA KELEBIHAN”

Pendahuluan

Jika Anda ingin disukai orang lain, janganlah membohongi diri sendiri dan berhati-hatilah saat menceritakan kebenaran tentang orang lain”. Seorang pengkhotbah suatu kali sengaja menguji jemaatnya memberitahu bahwa minggu depan ia berkhotbah tentang dosa kebohongan. Ia berpesan, “Untuk membantu Anda memahaminya saya ingin Anda semua membaca Markus pasal 17.” Pada minggu berikutnya, ketika bersiap menyampaikan khotbahnya, ia berkata, ”Saya ingin tahu berapa banyak di antara Anda telah membaca Markus pasal 17.” Semua orang mengacungkan jarinya. Pengkhotbah itu tersenyum dan berkata, ”Markus hanya memiliki 16 pasal. Sekarang saya akan memulai khotbah saya tentang kebohongan.

Itu adalah sedikit gambaran manusia yang penuh dengan kebohongan, tepatlah sebuah perkataan yang mengatakan, “Kupaslah atau garuklah kulit seorang Kristen, maka yang anda peroleh di bawah kulit yang tipis itu adalah seorang kafir”. Maksudnya adalah kekristenan itu sesungguhnya hanya setipis kulit. Bentur dia, gores dia, lukai dia, maka kulit itu akan rusak dan hancur. Kekristenan kita hanya setipis kulit yang melekat di dalam tubuh kita ini. Hanya sekedar pembungkus, pelapis semua kebusukan yang ada di dalamnya. Dari luar kelihatan bersih, mulus, tetapi di dalam begitu busuknya dan buruknya sifat dan perilakunya. Bentur dia, gores dia, lukai dia, maka kulitnya akan hancur dan kelihatanlah aslinya. Tidak ada bedanya denga orang lain yang tidak mengenal Kristus. Gelap tidak bisa diusir dengan gelap. Hanya oleh terang. Kebencianpun hanya dapat diusir dengan kasih, bukan dengan kebencian. Kebencian itu menyiksa dan menghancurkan. Menyiksa diri sendiri dan menghancurkan orang lain.


Penjelasan Teks

Buku Pengkhotbah ini berisi pemikiran yang merenungkan secara dalam betapa singkatnya hidup manusia itu yang penuh pertentangan, ketidakadilan, dan hal-hal yang sulit dimengerti. Maka disimpulkannya hidup ini sia-sia, seolah-olah tidak mengerti dengan maksud dan tindakan Allah dalam menentukan nasib manusia. Tetapi meskipun demikian dinasehatinya orang-orang untuk bekerja dengan giat dan untuk sebanyak mungkin dan selama mungkin menikmati pemberian-pemberian Allah. Kebanyakan pemikiran itu bernada sumbang bahkan putus asa.

Tetapi kenyataannya pemikiran ini menghasilkan keluasan berpikir untuk memepertimbangkan keragu-raguan dan keputusasaan dan bahkan bisa terhibur karena kita bisa melihat benar-benar sifat kita mengena dengan pemikiran tersebut dan pemikiran tersebut sebenarnya juga memberikan harapan tentang Allah harapan yang memberi arti kehidupan yang sebenarnya. Di ayat 16, ia menunjuk kepada suatu kenyataan pengalaman yang dilihatnya. Ditempat dimana dilakukan peradilan tiada terjadi sesuatu selain penyimpangan dari hukum. Di tempat di mana patut dijalankan keadilan, tapi hanya haus kekuasaan. Justru yang sebaliknya terjadi,.raja yang memegang kekuasaan yudikatif tertinggi menetapkan ketidakberesan. Sebagai kesimpulan penyelidikannya. Tiada hal yang baru di bawah matahari.
Pada ayat 17, ia memberikan pemikiran tentang Allah yang tidak segera mengadili setiap pelaku ketidak adilan. Tetapi sekalipun peradilan Allah tidak dalam segala hal segera tampak bagi kita, tiap perbuatan manusia harus mengalami penilaian Allah dan hal itu terjadi pada waktunya sendiri. Ada terkandung hiburan bagi mereka yang mengalami ketidakadilan namun bukanlah itu yang terpenting. Yang diutamakan adalah bahwa dalam segala usaha manusia tiada nilai tetap. Bahwa Allah pada waktunya akan mengadili tiap perbuatan manusia. Pada ayat 18 Pengkhotbah kembali menekankan walaupun hukum tiada segera tampak di dunia ini, dalam hal ini Allah ingin mengetahui bagaiman sikap manusia di tengah-tengah ketidakadilan. Apakah apabila ketidakadilan tidak segera dihukum manusia tetap bersedia menjalankan hukum, karena hukum harus tetap dijalankan.

Pada ayat 19 Pengkhotbah begitu keras mengatakan manusia itu sama dengan hewan, sama-sama mengalami nasib yang sama, keduanya menjadi mangsa kematian, mereka mempunyai satu nafas yang sama atau roh hidup. Semua manusia dan semua hewanti dak mempunyai hidup yang tetap. Mereka akan menuju ke suatu tempat yakni debu yang daripadanya mereka diciptakan oleh khalik bumi dan langit (ayat 20). Oleh karena itu, tiada sesuatu yang lebih baik bagi manusia daripada bergembira dalam pekerjaannya, karena hal itu adalah bagiannya. Tidak ada nilai tetap yang memberi kesenangan dalam jerih payah manusia. Allah akan sungguh mengadili pada waktunya tetapi hukum itu mungkin akan timbul jauh sesudah hidupnya.


Refleksi

Dalam perikop ini, Pengkhotbah menegaskan bagaimana kita semua harus percaya Tuhan. Allah telah mendunia, memanusia, merangkum seluruh dunia dalam pelukannya, melintasi batas dunia, menembus batas-batas budaya, seluruh umat manusia diterima Allah siapa saja, di mana saja, Dia melampaui batas-batas aliran dan denominasi, menghancukan ekslusivisme, Dia adalah hadiah bagi semua orang ketika Dia ingat dan prihatin akan dunia. Dia mempetaruhkan segala sesuatu termasuk diri-Nya untuk menawarkan dan mewujudkan kesukaan bagi dunia. Dia menyatakan solidaritasnya yang penuh terhadap penderitaan manusia. Dia mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dia tidak menyembunyikan fakta walaupaun manusia menolaknya, Dia menerima manusia dan melepaskan manusia dari topeng-topeng kepalsuan, yang hanya terpikat pada sesuatu yang besar, tinggi dan banyak. Pada hal jutru disitulah manusia banyak tertipu. Dia mengajak kita untuk mencintai yang kecil, lemah, dan sederhana. Mengajak kita untuk menukik sampai ke inti.
Dia telah menghadirkan kita di dunia ini dalam sebuah persekutuan yang aman, tenteram,dan penuh kedamaian, suatu tempat untuk bernaung yang nyaman dan menyenagkan, Ibarat sebuah pohon beringin yang rindang dan kokoh yang melindungi kita dari sengatan matahari siang yang membakar di tengah kegelisahan dan kelelahan hidup. Dia hidup dalam persekutuan yang senantiasa bergerak yang senantiasa mencari. Dia melihat semuanya ciptaan-Nya berkembang dan bertumbuh.

Kenapa manusia harus diadili dan mati? Karena manusia hanya merasa hadir untuk dirinya sendiri, menjadi ekslusif, berpikir tentang ketenteraman sendiri. Manusia diciptakan Tuhan bukan untuk berhura-hura, melarikan diri dari kesulitan dunia. Bukan untuk mencari kuasa, mencari laba, kenikmatan. Manusia ada di dalam dunia tidak di awan-awan atau surga. Di dunia menjadi berkat bagi semua orang. Kebebasannya terletak pada ketaatan, kemuliaannya terletak pada kerendahan hati yang kemenangannya terletak pada kekalahan. Hidup yang tidak menghitung untung dan rugi, tetapi hidup yang hanya ingin memberi dan memberi. Untuk meyatakan kehendak Allah dan ketaatan. Untuk menyatakan penghakiman Allah dan pertobatan manusia.




Pdt.Maruasas SP Nainggolan S.Si (Teol)
Melayani di Kantor Pusat HKBP Pearaja-Tarutung
Sekhus Kadep Diakonia

Bacaan Minggu 3 Setelah Trinitatis, 20 Juni 2010 : Ulangan 11:13-21





Minggu 3 Setelah Trinitatis,
Minggu, 20 Juni 2010 Ulangan 11:13-21

DENGARKANLAH SUNGGUH-SUNGGUH PERINTAH ALLAH

Pendahuluan

Setiap rencana yang tersusun rapi dan mempunyai tujuan yang jelas ada aturan atau pedoman, dan ada petunjuk yang harus dilakukakan supaya bisa berjalan atau terlaksana dengan baik. Bila kita mempunyai rencana dan tujuan yang baik pasti ada aturan yang harus dipatuhi untuk dijalankan, apalagi bila orang lain yang kita suruh untuk melaksanakannya. Ada aturan yang harus dipegang untuk menjalankannya supaya sesuai dengan yang diharapkan. Itulah pola dasar yang diterapkan Allah kepada umat Israel melalui pemimpinnya (Musa).Tuhan menetapkan apa yang harus dilakukan selama perjalanan yang akan dilalui. Suatu keharusan yang mutlak untuk dijalankan semua umat Israel tanpa kecuali; tua muda, orangtua dan hingga anak-anak menjadi pola hidup dan menjadi etos kerja sukses menurut kehendak Allah. Hal yang pokok harus diulangulangi supaya menjadi darah daging. Pidato Musa pada bulan-bulan akhir hidupnya, yang ditujukan kepada semua tua-tua Israel, segenap umat Israel untuk diteruskan berkelanjutan dari generasi ke generasi secara systematis dan terencana, terprogram dari keluarga (rumah), kapan dan dimana saja ada waktu yang tepat melalui pendidikan keluarga, pengajaran yang strategis, mudah dan murah untuk dilaksanakan.
Ada beberapa hal yang menjadi khotbah dari Nas ini: Pertama dan terutama, ialah Kesungguhan, sungguh-sungguh, tidak setengah-setengah, atau berdua hati tetapi dengan bulat hati, sepenuh hati mendengar perintah Tuhan, yang tentunya pada saat itu adalah ke sepuluh Taurat. Mengasihi Allah, dan beribadah kepadaNya. Kesungguhan itu nampak dari seluruh aspek kehidupan mereka, bukan yang dibuat-buat atau berpura-pura. Kesungguhan itu terbukti dari setiap perilaku umatnya, bukan hanya ucapan, perkataan belaka. Bukan pula hanya dalam upacara ritual mereka mengatakan mengasihi dan beribadah kepada Allah, tetapi hidupnya harus menjadi ibadah ibadah bagi Tuhan. Demikian juga kita yang mengaku percaya kepada Allah, Yesus Kristus dan percaya kepada Roh Kudus dengan sungguh-sungguh, dengan bulat hati, secara total dituntut untuk mengasihi Allah dan beribadah. Mengasihi dan beribadah dalam wujud kehidupan orang percaya sehari-hari; dalam tutur kata, perilaku, pekerjaan sekecil apapun menunjukkan apa yang menyukakan hati Tuhan. Mengasihi dan beribadah dalam praktik hidup kita sehari-hari dalam kehidupan keluarga, masyarakat. Mengasihi dan beribadah secara ritual ya, tetapi lebih lengkap dan sempurna mengasihi dan beribadah apabila kita praktikkan hidup dalam keadilan dan kebenaran, membela orang-orang yang lemah, dll (bnd. Mat. 25:35-46).
Kedua, Segenap hati dan segenap jiwa, maksudnya menunjukkan seluruh totalitas hidup, tanpa ragu meletakkan atau mempercayakan hidup seluruhnya kepada Tuhan. Tidak ada yang dapat menggantikan ketaatan dan kesetiaan kita secara total kepada Tuhan. Dan apabila semuanya itu telah ditunjukkan dalam sikap mereka, maka selanjutnya adalah menjadi pekerjaan Allah sendiri. Porsi yang mereka tunjukkan adalah Mengasihi Tuhan dan beribadah kepadanya, hal itu telah dibuat dalam hukum taurat yang pertama sampai kesepuluh (Kel. 20:1-17). Mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan jiwa: Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. Ketiga, Allah yang menjamin kelanjutan dari buah ketaatan kita akan Firman Allah. Allah mengatur kehidupan umatnya dan membuat semuanya teratur pada masanya untuk kehidupan manusia yang dimulai dari air kehidupan untuk tanah, tanaman yang memberi buah kehidupan dan juga rumput kehidupan untuk ternak supaya ada kelangsungan lingkungan hidup yang memberi kehidupan manusia; Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, dan Dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang. Allah membuat kelangsungan hidup alam, manusia dan hewan ternak secara simultan apabila kita setia dengan sungguh kepada Allah. Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. Keempat, Hati-hati, selalu ada godaan di tengah perjalanan hidup, dari kanan dan kiri atau mungkin tanpa kita sadari ada yang menggoda, membujuk kita sehingga kita menyimpang dari perintah Allah yang sudah ditetapkan. Godaan hedonisme, materialisme, sekuralisasi yang membuat kehidupan rohani kita semakin kering. Kehidupan yang serba instant membuat daya juang, pengorbanan dan kerja keras semakin kurang. Hidup yang menyodorkan serba mudah, gampang untuk menikmati dengan motto; nikmat sekarang besok sekarat. Godaan yang mengiurkan tetapi menyesatkan kehidupan rohani kita. Berhala (allah lain/ilah; sesuatu yang kita berhalakan, bukan hanya dunia animisme) masa kini yang kita dewakan menjadi ukuran sebagai puncak dan pusat kehidupan yaitu ungkapan orang kita Batak 3 H (Hamoraon, Hasangapon, Hagabeon/Harta kekayaan, Kehormatan/jabatan dan Keturunan). Ke tiga hal itu kita minta dari Allah adalah berkat kehidupan untuk ibadah, pelayanan, pengabdian kita untuk kemuliaan Allah yang memberi. Tidak semua orang memiliki ke tiga hal itu secara lengkap secara kuantitas dan kualitas yang sama. Ketiga hal itu bukan tujuan hidup orang percaya tetapi bahagian kehidupan yang kita cari dan pergunakan sesuai dengan kehendak Allah. Bagaimana kita mencari, mendapatkan kebutuhan kita sehari-hari (kebutuhan pokok), kebutuhan sosial dan bagaimana kita mempergunakan apa yang ada, yang kita miliki, yang kita terima, peroleh dari Tuhan. Perjalanan hidup menuju kehidupan yang kekal, di masa hidup di dunia adalah PMA (Penanaman Modal Akhirat). Perjalanan hidup kita di dunia; entah apa pun tugas, pekerjaan, fungsi kita di keluarga, usaha, pemerintah, swasta, dll. Kita diingatkan ulang dan berulang-ulang, siaran ulang dari generasi ke generasi: Hati-hatilah, supaya jangan hatimu terbujuk, sehingga kamu menyimpang dengan beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya (ayat 16). Bila hal itu tidak diindahkan maka sebab akibat pelanggaran itu mendatangkan resiko terhadap diri kita sendiri. Menutup kehidupan kita sendiri, dimana langit, hujan dan tanah tidak lagi bersahabat dan tidak memberi kehidupan bahkan menjadi sumber malapetaka, kehancuran, kematian bagi kehidupan manusia. Bukankah kita mengalami di negeri kita ini bencana Alam Sumatera Barat, Tasikmalaya, dll. Kita bukan mencari, ini dosa siapa, manusia telah berdosa, alam telah menunjukkan kemarahan, membuat derita bagi kita manusia.... maka akan bangkitlah murka TUHAN terhadap kamu dan Ia akan menutup langit, sehingga tidak ada hujan dan tanah tidak mengeluarkan hasil, lalu kamu lenyap dengan cepat dari negeri yang baik yang diberikan TUHAN kepadamu (ayat 17). Tetapi dibalik semuanya itu ada hikmah derita bencana itu membuat setiap insan yang berbeda suku, lapisan sosial-ekonomi, agama dan daerah bahkan dari lapisan dunia menyatu untuk menanggulangi, perduli, menunjukkan rasa iba, hati yang tergerak secara spontan dan bahkan arak-arakan. Derita akibat bencana menjadi perekat yang tidak ada pembatas untuk bersama-sama menanggulangi penderitaan sesama manusia.
Kelima, Kita mulai dari diri kita sendiri, menerima kuasa atau otoritas Firman Allah di dalam hati, hati menjadi pusat kendali kehidupan manusia. Hati dan jiwa adalah totalitas hidup manusia yang masih hidup yang mempunyai hubungan dengan Allah. Hati dan jiwa kita menjadi tempat kehadiran Allah, sehingga bukan lagi kemauan kita semata-mata yang mengatur, menguasai hidup kita. Dengan kedengar-dengaran akan Firman Allah kita tetap terkontrol oleh kemauan Allah. Menaruh perkataan Tuhan di dalam hati dan jiwa kita, berarti hidup kita menjadi persembahan bagi Tuhan (bnd. Rm. 12:1-2). Perkataan Tuhan itu diikatkan sebagai tanda pada tangan dan menjadi lambang di dahi. Firman Tuhan itu tidak akan pernah lupa dan terlupakan karena sudah menjadi bahagian hidup, bahkan menjadi habitus, karakter hidup, menjadi jati diri orang yang menaruh perkataan Tuhan itu di dalam hati dan di dalam jiwanya.Tanda yang dapat dilihat sebagai obyek, yang dapat difungsikan, diberi
artinya sehingga orang dapat memahaminya dengan jelas. Tanda di tangan untuk mengerjakan segala pekerjaan baik, tugas dan pekerjaan yang bisa dilihat oleh siapapun melalui kehidupan kita. Simbol atau lambang didahi menunjukkan wajah kehadiran Tuhan yang menunjukkan pemeliharaan, penyertaan Tuhan kepada umat-Nya.
Terakhir, Ada tugas dan tanggungjawab umat terhadap generasi secara berkelanjutan. Ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan secara berkelanjutan menjadi tugas dan tanggung jawab pendahulu kepada generasi berikutnya. Pengajaran yang berkesinambungan dari waktu ke waktu kepada generasi secara systematis dan terencana. Kurikulum yang dimulai dari anak-anak di rumah tangga secara informal, bersahabat kapan dan dimana ada waktu dan tempat yang tepat. Pengajaran itu Lengkap dengan metode atau cara yang efektif dan komunikatif dan strategis. Tradisi pengajaran pada jamannya dan konteks kehidupan masyarakat pada masanya. Diperintahkan menjadi kewajiban pengajaran akan Firman Tuhan tetap aktual sesuai dengan zamannya, sehingga mudah diterima anak-anak masa kini dan di tempatnya masing-masing. Menjadi tradisi yang menyelamatkan umat Tuhan, keluarga, dan bangsa di sepanjang sejarah. Pengajaran Firman Tuhan yang tidak dapat dibatasi ruang dan waktu kepada generasi menjadi tanggungjawab setiap keluarga. Dengan pengajaran Firman Allah itu akan mendatangkan berkat; panjang umur dan umur anak-anak di tanah perjanjian yang dijanjikan Allah. Berkat dan penyertaan Allah mengikuti setiap orang yang mengajarkan kebenaran Allah. Allah menggenapi apa yang telah dijanjikanNya, tidak ada yang kita ragukan asalkan kita tetap melakukan apa yang telah diperintahkan-Nya.
Sekali lagi dengarkanlah sungguh-sungguh perintah Allah dengan segenap hati dan jiwa kita. Allah akan menjamin masa depan kita, dan akan mencukupkan keperluan kita . Ingat selalu ada godaan di tengah perjalanan hidup, dari kanan dan kiri tanpa kita sadari ada yang menggoda, membujuk kita sehingga kita menyimpang dari perintah Allah yang sudah ditetapkan. Godaan hedonisme, materialisme, sekuralisasi yang membuat kehidupan rohani kita semakin gersang.
Mari kita praktikkan hidup kedengar-dengaran akan Firman Allah, yang kita mulai dari diri kita sendiri, menerima kuasa atau otoritas Firman Allah di dalam hati kita. Perkataan Tuhan itu kita ikatkan sebagai tanda pada tangan dan menjadi lambang di dahi. Sehingga tidak akan pernah lupa dan terlupakan karena sudah menjadi bahagian hidup kita, bahkan menjadi habitus, karakter hidup, dan menjadi jati diri kita.
Kita mempunyai Tugas dan tanggungjawab terhadap generasi yang akan datang secara berkelanjutan. Supaya ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan tetap berkelanjutan dari pendahulu kepada generasi berikutnya. Pengajaran yang berkesinambungan dari waktu ke waktu secara systematis dan terencana. Kurikulum yang dimulai dari anak-anak di rumah tangga secara informal, bersahabat kapan dan dimana ada waktu dan tempat yang tepat. Pengajaran itu Lengkap dengan metode atau cara yang efektif dan komunikatif dan strategis. Berkat dan penyertaan Allah mengikuti kita, dan Allah menggenapi apa yang telah dijanjikanNya, jangan kita ragu apabila kita sudah tetap melakukan apa yang telah diperintahkanNya. Diberkatilah orang-orang yang sungguh mengasihi dan beribadah kepada Allah. Amin.



Pdt.David.F. Sibuea,M.Th.
Praeses HKBPDistrik XXV Jambi

Bacaan Minggu 2 Setelah Trinitatis, 13 Juni 2010 : Yakobus 1:12-16





Minggu 2 Setelah Trinitatis,
Minggu, 13 Juni 2010

Yakobus 1:12-16

PENCOBAAN SECARA MORAL DATANG DARI DIRI KITA

Pendahuluan

Siapakah Yakobus? Sekilas mengenal siapakah YAKOBUS (Yunani Jakôbos, Ibrani; ya,aqob, ‘Si pegang tumit’, ‘penipu’). 1. Anak Zebedeus, dan mungkin juga anak Salome, kakak Yohanes, seorang nelayan Galilea, bersama adiknya Yohanes, dipanggil menjadi seorang dari ke-12 rasul (Mat 4:21). Ia disebut bersama Yohanes dan Petrus tanpa rasul-rasul lainnya, sewaktu putri Yairus dibangkitkan (Mrk. 5:37), sewaktu Yesus dipermuliakan di atas gunung (Mrk. 9:2, Luk.9:28 ) dan di Getsemani (Mrk. 14:33). Dia dan Yohanes, yang digelari Yesus ‘Boanerges, yang berarti anak-anak guruh’ (Mrk 3:17), ditegur oleh Yesus karena kegalakan mereka dan karena mereka kurang mengerti maksud kedatangan-Nya, tatkala mereka mengusulkan supaya meminta kemusnahan suatu desa di Samaria, sebab menolak Yesus yang sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem (Luk. 9:54).

2. Anak Alfeus, juga seorang dari ke-12 rasul (Mat. 10:39, Mrk. 3:18, Luk. 6:15 Kis. 1:13). Biasanya ia disebut Yakobus ‘Muda’, anak Maria (Mrk. 15:40). Dengan keterangan ‘Muda’ (Yunani ho mikros, ‘yang kecil’) dia dibedakan dari anak Zebedeus, atau kanena perawakannya lebih kecil dibandingkan temannya senama itu.
3. Adik Yesus, disebut bersama adiknya yang lain Yusuf, Simon dan Yudas (Mat. 13:55). Agaknya ia tidak mengakui otoritas Yesus selama Ia masih di bumi (lih. Mrk. 3:21; Yoh. 7:5). Sesudah Yesus bangkit dan menampakkan diri-Nya kepada Yakobus ini (1Kor. 15:7), ia menjadi pemimpin gereja Kristen Yahudi di Yerusalem (Gal. 1:19; 2:9; Kis. 12:17). Tradisi berkata bahwa Tuhan Yesus sendiri yang menunjuk dia menjadi uskup pertama di gereja Yerusalem (Eus., El-I 7. 19). Ia menjadi ketua Sidang Pertama di Yerusalem, yang dipanggil bersidang untuk mempertimbangkan syarat-syarat menerima orang-orang non-Yahudi masuk gereja Kristen, dan merumuskan ketetapan yang kemudian diumumkan di gereja-gereja Antiokhia, Siria dan Kilikia (Kis. 15:19-23). Ia tetap memimpin jemaat Yerusalem, dan berusaha menjaga kesatuan dengan Paulus dan misinya, waktu Paulus mengunjungi Yerusalem untuk kali terakhir (Kis 21:18 dab). Di kemudian hari, menurut Hegesipus, ia terkenal dengan nama ‘Si Jujur’,karena kesalehannya menuruti hukum Taurat Yahudi (Eus., EH. 2. 23). Ia mati martir dilempari dengan batu waktu Ananias menjabat Imam Besar pada masa pemerintahan sementara sepeninggal Festus, penguasa wakil Roma, thn 61 M (Jos., Ant. 20.9). Yerome (De viris illustribus 2) mencatat suatu serpihan dan Kitab Apokrifa yang hilang yaitu Gospel according to the Hebrew, yang memuat cerita pendek dan yang mungkin tidak benar terjadi mengenai penampakan Yesus sesudah bangkit kepada Yakobus. Menurut tradisi dialah penulis Surat Yakobus yang terdapat dalam kanon; di situ dia menerangkan dirinya sebagai ‘hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus’ (Yak. 1:1). Menurut Yosefus, Yakobus meninggal pada tahun 62 karena dirajam.
4. Ayah rasul Yudas (bukan Iskariot, Luk. 6:16; Kis. 1:13); Kitab Injil lainnya memuat nama Tadeus ganti Yudas. Tak ada yang diketahui tentang dia. dan tidak seorang pun bapak-bapak gereja yang mendukung dia.


1. Berbahagialah (bhs Yunani: makarios; adalah salah satu ungkapan yang lazim dalam sastra hikmat dan juga dikenal dalam sastra profan bahkan dalam PL (Mzm. 1: 1, Mzm. 32:1-2).
Menyatakan seseorang berbahagia dalam hidup sekarang berarti mengucapkan selamat atas pemberian yang diterimanya, atas sesuatu keadaan bahagia dalam hidup yang dinikmatinya. Dan menyatakan seseorang bahagia dalam hidup yang akan datang searti dengan memaklumkan sukacita yang akan dialaminya. Setiap orang ingin berbahagia, berbahagia karena cita-citanya terpenuhi, terkabul; mungkin karena harta kekayaan, jabatan, kesehatan, pendidikan, anak/keturunan. Kebahagiaan itu temporer, tidaklah abadi, sebab dibalik kebahagiaan ada juga penderitaan , pergumulan hidup yang dialami. Berbahagia dalam konteks ini adalah dalam hal pencobaan karena pengikut Kristus Yesus, sebagai murid, yang telah bersedia meninggalkan semuanya demi Kristus Yesus. Ternyata mengikut Yesus bukan berarti tiada derita
atau ATM (Ancaman, Tantangan, Masalah/Maut). Malah sebagai murid Yesus malah dipersiapkan kepada dunia yang penuh ATM (disuruh seperti domba di tengah serigala: Mat. 10: 16-33). Murid Yesus dan gereja mula-mula selalu menghadapi ATM/THR Tantangan Hambatan Rintangan kehidupan karena iman mengikut Yesus. Mereka yang berbahagia adalah orang yang bertahan dalam pencobaan, pencobaan itu merupakan ujian yang memproses kehidupan orang beriman apakah mampu bertahan, setia sampai ajal. Apabila ia sudah tahan uji maka ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah. Allah akan menepati janjinya kepada mereka yang tahan uji, yang tetap mengasihi Allah dalam situasi keadaan yang sulit, nyawa terancam oleh pihak yang belum mengenal Yesus Kristus. ATM adalah bahagian kehidupan murid Yesus tetapi mendapat 3 M: Menang, Menerima Mahkota yang dijanjikan. Allah tidak akan membiarkan orang-orang percaya apabila kita mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Dia yang memanggil kita, menghibur, menguatkan dalam pekerjaan dan perkataan yang baik ( Bnd. 2 Tes.2:13-17).


2. Apabila ada pencobaan janganlah ia berkata; pencobaan ini datang dari Allah Cobaan merupakan salah satu ciri khas hidup manusiawi; pertemuan antar dua insan, senantiasa merupakan cobaan kebebasan mereka.
Cobaan dalam arti yang demikian bukan dengan sendirinya godaan, melainkan suatu undangan kepada kehidupan yang lebih intensif dan kepada hubungan yang lebih mendalam. Di dalam Alkitab kadang-kadang Allah mencobai sahabat-sahabat-Nya; Abraham (Kej. 22:1, Ibr. 11:17), orang yang beriman tetapi biasanya Allah mencegah atau membebaskan manusia dari cobaan, serta selalu menyesuaikannya dengan kemampuan manusiawi. Cobaan yang terjadi itu menguji sikap seseorang, menilai seseorang dan membenarkan seseorang. Cobaan ini disebut dalam bahasa Yunani : dokimazo. Orang beriman harus menguji benda-benda, perasaan-perasaan, orang-orang, dirinya sendiri ( Luk. 12:56, Rm. 2:18, 1Kor. 11:28, 2Kor. 8:8, Gal. 6:4, Ef. 5:10, 1Tim. 3:10, 1Yoh 4:1). Sebab akibat dari mengikut Yesus, murid-murid mengalami ATM dari luar persekutuan jemaat mula-mula. Mereka mengalami kekerasan, ancaman dan tekanan baik dari tokoh/ahli agama maupun pemerintah yang berkuasa pada saat itu. Mereka yang berhati jahat akan terus berusaha menjatuhkan iman percaya kita, dan akan tetap menghambat dan juga mempersempit ruang kehidupan kita dari segala aspek kehidupan.


3. Allah tidak mencobai siapa-siapa"dan pencobaan itu bukan datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.
Untuk itu kita harus menghadapi segala persoalan karena iman percaya kepada Yesus Kristus sebagai pencobaan batin yang harus kita hadapi dan lalui. Orang-orang percaya yang meletakkan kepercayaannya kepada Yesus Kristus mengalami segala pencobaan yang datang dari orang-orang yang tidak beriman, yang pada konteks kehidupan para rasul-rasul atau gereja mula-mula yaitu para imam-imam kepala, ahli-ahli taurat, farisi dan saduki dan juga pemerintahan kekaiasaran Romawi pada waktu itu. Pencobaan yang mereka alami adalah penolakan, penganiayan dan lain-lain hal sebagai umat percaya orang Yahudi (kedua belas suku) yang terserak di perantauan ( di seluruh dunia pada waktu itu ). Bila kita kaitkan dengan konteks sekarang, masa kini dalam kehidupan orang-orang percaya yang berada di situasi-kedaaan tempat dimana kita berada, entah kita jauh dari kampung halaman, jauh dari pusat persekutuan gereja kita secara lembaga, di mana kita terserak dan berserak karena tugas dan pekerjaan atau karena situasi-keadaan yang terpaksa. Godaan terhadap iman percaya kita selalu ada, yang datang dari luar diri kita secara psikologis, secara sosiologis, secara sosial-ekonomi, dll. Orang Kristen (yang sungguh-sungguh pengikut Kristus Yesus) selalu mengalami cobaan, tetapi bukan cobaan yang datang dari Allah. Sekali lagi cobaan bukan datang dari Allah,.. Orang Kristen berada di tengah-tengah kehidupan dengan sesama manusia, dunia yang dapat mempengaruhi iman percaya kita, dunia yang dapat membuat kita tergoda, terbuai, jatuh dan jauh dari kehendak Allah. Bila iman kita tetap 4T ( Teguh/Tahan, Tegar, Tabah dan Tenang) kita akan disebut berbahagia. Dalam segala pencobaan yang datang dari luar diri kita maupun diri kita sendiri (kemauan-kemauan kita) kita tahan uji, tidak jatuh ke dalam pencobaan. Hasil perjuangan iman kita dengan pertolongan
dari Roh Kudus maka akan menerima mahkota kehidupan sebagai ganjaran yang dijanjikan Allah. Mahkota yang tidak mengalami kerusakan, kekal, dan abadi (Why. 4:4, 10, Why. 9:7, Why. 14:14). Dalam PL, mahkota berarti pengudusan penuh bagi Tuhan dari pihak seorang raja atau imam besar. Dalam arti kiasan: lambang kemuliaan moral. Waspadalah cobaan ada di mana-mana, setiap saat, waktu dan tempat ada cobaan, pencobaan entah itu dari luar diri kita bahkan dari diri kita sendiri. Mari, kita lengkapi diri kita dengan perlengkapan senjata rohani, kenakanlah seluruh perlengkapan alat-alat tehnologi rohani (Efesus 6: 10-20), sehingga kita dapat berkata; kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. (Rm. 5: 3-6) .


4. Pencobaan secara moral datang dari diri kita. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.
Keinginan yang dimaksud adalah istilah yang mengandung arti tidak tentu (kemungkinan baik atau buruk) atau mempunyai maksud yang baik (bnd. Luk. 22: 15, Flp. 1:23 ). Keinginan disini dipakai dengan kata kerja yang menganjurkan paksaan dan sifat menawan hati (terpikat/pikatan).Mengenai keinginan ini ada yang menerjemahkan dipancing dan dijerat. Ada perbedaan antara ke akuan dengan keinginan. Maka ke aku an membuahkan keinginan, sehingga dosa dilahirkan, lalu sesudah dosa itu menjadi dewasa, yaitu yang diwujudkan dalam perbuatan, maka tibalah gilirannya melahirkan maut. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut (ay. 15). Secara psikologis, kedagingan manusiawi kita memiliki keinginan jasmani, keinginan sosial ekonomi sebagaimana faktor kebutuhan manusi menurut para ahli; kebutuhan dasar hingga kebutuhan strata paling tinggi. Hal itu dapat membuat kita mengalami cobaan, pencobaan, dalam hal mencapai atau tidak tercapai dapat membuat kita jatuh ke dalam pencobaan. Semua tingkatan kebutuhan itu adalah bahagian kehidupan manusiawi, dari kebutuhan dasar hingga kehormatan bukanlah dosa, tetapi dapat membuat kita jatuh ke dalam dosa dan berbuat dosa bagi kita sendiri dan bagi orang lain apabila kita salah mendapatkan dan mempergunakannya. Keinginan baik ada di dalam diri kita dan keinginan jahat pun bisa terjadi dalam diri kita. Cobaan dari diri kita, kemauan kita secara jasmani yang tidak dapat kita kontrol, tidak dapat menahan diri dari segala godaan-godaan; konsumerisme, hedonisme, materialisme, dll. Keinginan-keinginan daging yang disebut Paulus perbuatan daging yaitu; percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri,.... (Gal. 5: 19-21). Dan barang siapa yang melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah.


5. Jangan sesat dan tersesat oleh dunia, atau sesuatu apapun.
Janganlah sesat. Ungkapan yang penuh kasih, persaudaraan dan sebuah harapan dan dambaan dari seorang hamba Allah yang mengabdi kepada Tuhan, bagi jemaat yang terserak dan berserak dimana dan kapan pun mengalami banyak hal (entah itu soal kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan iman) membuat tergoda dan jatuh ke dalam pencobaan. Di dalam dunia ini banyak hal yang menyesatkan sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar, dari segala aspek kehidupan dapat membuat kita sesat dan tersesat, dipaksa atau terpaksa karena berbagai faktor.
Dalam situasi-kondisi yang aman dan tidak aman kita bisa sesat, tersesat apabila kita tidak memiliki remote kontrol, bukan diri kita tetapi Roh Kudus yang diam dan tinggal di dalam kita. Dosa dan jatuh ke dalam dosa karena keinginan daging secara manusiawi dapat membuat kita sesat, mungkin karena kebutuhan-kebutuhan dasar atau kebutuhan sosial yang memaksa sehingga kita lupa norma-norma dan keputusan etis berdasarkan iman percaya kita. Siapa pun dan karena sesuatu apa pun dapat kita tersesat dan disesatkan. Oleh karena itu kita saling menguatkan, saling menasehati, saling memperhatikan, yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan mencari kesanangan kita sendiri, kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya (bnd. Rm. 15:1-13). Kekuatan iman, yang berpaut dan bersandar hanya kepada Tuhan Yesus itulah menjadi sumber kekuatan, pertolongan untuk memampukan kita berdiri teguh dan tidak goyah. Tidak cukup hanya mengenal dan percaya kepada Allah tanpa Kedekatan dan Ketaatan kita kepada Allah. Kedekatan dan ketaatan itu tercermin dalam semua aspek kehidupan kita. Mendekatlah kepada Tuhan, dan serahkanlah hidupmu kepada-Nya. Amin.



Pdt. David. F. Sibuea, M.Th.
Praeses Distrik XXV Jambi.

Bacaan Minggu 1 Setelah Trinitatis, 6 Juni 2010 : Rut 1:1-6




Minggu 1 Setelah Trinitatis,
Minggu 6 Juni 2010
Rut 1:1-6


TELADAN KEHIDUPAN NAOMI DAN RUT


Kita dapat membaca mengenai Naomi dan Rut di dalam Buku atau Kitab Rut. Cerita ini berlaku sewaktu zaman apabila para pemimpin Israel dipanggil Hakim-hakim. Ini adalah sebelum terdapat raja-raja. Naomi merupakan seorang perempuan Israel dari suku Yehuda. Rut adalah seorang perempuan muda dari Moab. Dia merupakan seorang bangsa bukan Yahudi (bangsa lain) dan seorang asing di kalangan bangsa Israel. Cerita ini penting di dalam sejarah Israel dan rencana Tuhan.
Bersama suaminya dan dua anak lelakinya, Naomi telah meninggalkan rumahnya di Yehuda dan pergi untuk tinggal di Moab. Keluarga itu pergi ke sana untuk mencari kehidupan yang lebih baik karena sedang terjadi kelaparan di Betlehem di mana mereka tinggal (Rut 1:1-2). Apabila orang Israel menuruti kehendak Tuhan, maka mereka diberkati. Namun apabila mereka menyembah tuhan-tuhan yang lain (yang palsu) mereka akan dihukum. Kadangkala Tuhan membiarkan bala tentera yang mengalahkan mereka dan merampas hasil tanaman mereka. Kadang-kadang mereka tidak mendapat hujan untuk membuatkan tanaman mereka tumbuh (Im. 25).
Bangsa Moab merupakan musuh lama Israel dan sering terjadi peperangan di antara mereka. Tetapi pada masa ini Israel berdamai dengan Moab. Bangsa Moab merupakan keturunan Lot anak saudara Abraham (Kej. 19:30-38). Jadi terdapat pertalian yang jauh di antara kedua bangsa ini. Namun begitu mereka tidak menyembah Tuhan yang sama ataupun mempunyai kepercayaan agama yang sama.
Suami Naomi bernama Elimelekh dan anak-anaknya bernama Mahlon dan Kilyon. Ketika berada di Moab, suami Naomi telah mati dan kedua anaknya menjadi dewasa dan menikah dengan perempuan Moab. Nama-nama mereka adalah Orpa dan Rut (Rut 1:3-4). Orang Israel diperintahkan untuk tidak menikah dengan bangsa lain di sekitar mereka, namun menikah dengan bangsa Moab dibenarkan (Ul. 7:1-3). Ini karena apabila orang Israel menikah dengan suku-suku lain mereka akan menyembah dewa-dewa kafir negeri lain.
Sepuluh tahun setelah kematian suaminya, Naomi banyak mengalami penderitaan. Kedua anaknya Mahlon dan Kilyon juga mati (Rut 1:5). Ketika di Moab, Naomi tidak menyembah tuhan bangsa Moab. Dia tetap setia kepada kepercayaannya. Dengan memelihara hukum Tuhan dan tidak menyembah dewa-dewa negeri asing, Naomi menjadi saksi Allah di hadapan orang Moab. Hal menjadi contoh yang baik untuk kita teladani. Sekalipun kita berada di sekitar orang yang berlainan agama dengan kita, kita harus tetap menyaksikan iman kita kepada mereka.
Ketika Naomi mengetahui bahwa bencana kelaparan di Yehuda itu telah berakhir, dia membuat keputusan untuk kembali pulang. Dia ingin bersama umatnya sendiri yang menyembah dan mempercayai Allah Israel. Juga, keluarganya telah mati jadi tiada alasannya lagi untuk tinggal lebih lama di Moab. Naomi masih mempunyai hubungan keluarga di tempatnya sendiri. Kedua anak mantunya yang sudah janda diberi kebebasan untuk memilih ikut bersamanya kembali ke Yerusalem. Akhirnya Orpa memilih untuk tinggal tetap di Moab, namun Rut memutuskan untuk ikut bersama mertuanya Naomi ke Yerusalem (Rut 1:6-15).
Rut bersumpah untuk pergi dengan Naomi dan menerima Allahnya Naomi (Rut 1:16-18). Artinya, Rut bersedia meninggalkan bangsanya sendiri dengan tuhan-tuhan dan kepercayaan mereka. Rut juga meninggalkan ibu-bapanya, saudara-saudaranya, teman-temannya.
Keputusan Rut ini menjadi pelajaran yang cukup berharga bagi kita. Rut berani mengambil resiko iman. Rut berani mengambil keputusan iman. Artinya, beriman adalah soal keputusan bukan pilihan. Jika Rut berani mengambil keputusan iman, bagaimana dengan kita.
Naomi dan Rut berangkat ke Yerusalem dan semua orang di sana gembira melihat kedatangan mereka. Naomi telah banyak berubah sehingga orang sekampungnya tidak mengenalinya lagi. Dia lebih tua dan kelihatan tidak gembira karena kehilangan kedua anaknya dan suaminya. Dia juga sudah miskin. Namun kendati demikian, Naomi tidak pernah meninggalkan Tuhannya (Rut 1:19-22).
Apa yang menjadi pelajaran dari kisah Naomi dan Rut ini? Pertama, kematian tidak merubah iman percaya. Naomi yang kehilangan suami dan kedua anaknya tidak membuat iman percayanya kendor untuk menyembah Allah yang benar. Terkadang ada banyak orang belum separah keadaan Naomi ini, tetapi sudah langsung goyah imannya. Ada yang memaki Tuhan, ada yang menjadi stress, depresi dan gila karena tidak mampu menerima kenyataan itu. Naomi tetap tegar kendati harus kehilangan orang-orang yang dikasihinya.
Kedua, krisis ekonomi tidak menghalalkan segala cara. Dulu Naomi dan suaminya berserta kedua anaknya pindah dari Betlehem ke Moab karena persoalan ekonomi. Harapan mereka ketika tiba di Moab maka keadaan ekonomi mereka akan membaik. Ternyata yang terjadi sebaliknya. Keadaan ekonomi semakin memburuk. Akhirnya, mereka mengambil keputusan lagi untuk kembali ke Betlehem demi memperbaiki keadaan ekonomi mereka. Di Betlehem mereka juga harus berjuang mempertahankan kehidupan mereka dengan pergi ke ladang Boas bekerja mencari sisa-sisa panen. Artinya, sesulit apapun keadaan ekonomi Naomi dan Rut, mereka tetap bertahan dalam iman yang benar. Mereka mencoba memperbaiki keadaan ekonomi mereka dengan cara-cara yang halal. Namun pada jaman sekarang, ada banyak orang untuk memperbaiki keadaan perekonomian keluarganya dengan cara-cara yang haram seperti korupsi, mencuri, menipu, dan lain sebagainya.
Ketiga, penderitaan membawa keselamatan jiwa. Ketika masa-masa sulit yang dihadapi Naomi terjadi keselamatan jiwa. Naomi memenangkan jiwa demi Allah Israel. Naomi membawa orang mengambil keputusan iman menerima Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Kisah Naomi ini memberi inspirasi bagi kita masa kini. Ketika kita mengalami penderitaan, mari kita lihat peluang membawa jiwa kepada Tuhan. Penderitaan menjadi salah satu bagian memberitakan Injil keselamatan bagi kita dan bagi orang yang berada di sekitar kita. Pergumulan hidup membawa orang semakin mengenal Allah dengan baik dan benar. Sehingga penderitaan bukanlah sesuatu yang menakutkan lagi, melainkan penderitaan menjadi kesempatan membawa jiwa-jiwa semakin dekat dengan Tuhan.
Keempat, menjanda bagian memberikan yang terbaik. Naomi dan Rut sama-sama menjanda. Mereka berdua sama-sama mengalami penderitaan. Naomi sudah tua. Rut masih muda. Masih ada memungkinkan untuk menikah lagi. Atau lebih ekstrimnya lagi, Rut masih memungkinkan sesuatu dengan kejandaannya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun, Rut mampu memberikan yang terbaik bagi ibu mertuanya, Naomi. Rut bekerja di ladang Boas tanpa harus menjual kehormatannya. Tanpa harus memakai kejandaannya demi membutuhi hidupnya dan mertuanya. Hal ini menjadi pelajaran bagi setiap orang percaya agar tidak memakai segala kesempatan untuk merusak dirinya dengan hal-hal yang tidak berkenan dengan Allah. Namun dalam situasi seburuk apapun yang sedang kita hadapi berilah yang terbaik bagi Tuhan dan sesama manusia. Rut menyayangi dan menghormati Naomi dan mau menurut ibu mertuanya. Artinya, Rut dalam keadaannya menjanda tetap memberikan pelayanan yang terbaik bagi mertuanya. Inilah pelajaran yang berharga dari nas renungan ini. Amin.




Pdt.Tuty Zastini Hutabarat,S.Th.
Pdt.GKPA