Jumat, 23 Januari 2015

BAHAN BACAAN ALKITAB (EPISTEL) Minggu, 17 Agustus 2014 : Kejadian 17:1-7

widgeo.net
Minggu,  17 Agustus 2014
Minggu 12 Setelah Trinitatis

Khotbah: Markus 8:31-38                                               Bacaan: Kejadian 17:1-7

PERJANJIAN ALLAH DENGAN ABRAM

 


1.      Secara umum manusia memahami kata perjanjian sebagai keterlibatan antara dua pihak yang mengadakan ikatan atau kontrak kerjasama yang disertai dengan syarat-syarat atau sangsi yang harus dipenuhi oleh pihak- pihak yang membuat perjanjian itu. Pada intinya perjanjian yang dibuat adalah untuk kepentingan bersama dan menghasilkan keuntungan untuk kedua belah pihak. Jika salah satu pihak merasa tidak puas atau melanggar syarat dalam kesepakatan itu maka sangsi diberlakukan atau perjanjian dibatalkan. Tidaklah demikian dengan perjanjian Allah. Dalam perjanjian antara Allah dengan manusia, Allah-lah yang memanggil untuk mengadakan perjanjian dan inti dari perjanjian itu adalah penyaluran kasih karunia dan keselamatan yang akan diberikan Allah berdasarkan kedaulatan-Nya. Berbeda dengan perjanjian yang dibuat oleh manusia yang berdasarkan kesepakatan bersama, perjanjian Allah disusun dan ditetapkan oleh Allah sendiri, bersifat umum dan juga khusus. Seperti contoh perjanjian pelangi antara Allah dengan Nuh maupun perjanjian antara Allah dengan Abraham yang bersifat umum dan berlaku kekal selamanya. Adapun perjanjian Sinai antara Tuhan Allah dengan bangsa Israel bersifat khusus dan berlaku sesuai dengan syarat-syarat yang ditetapkan.
2.      Perjanjian merupakan suatu kelaziman fundamental dalam penataan kehidupan bersama antara dua pihak atau lebih. Perjanjian Allah dengan Abram yang kemudian menjadi Abraham, sebelumnya juga ada semacam Perjanjian yang disebut Proto Euanggelion, atau Pra-Injil, dalam Kejadian 3:15. Abraham menjadi bapak banyak bangsa, ia akan sangat banyak keturunannya. Allah membuat Perjanjian yang kekal dengan Abraham, dan keturunannya. Seluruh Tanah Kanan akan diberikan Allah kepadanya dan keturunannya. Tanah itu milik mereka. Setelah ALLAH menyatakan perjanjian-Nya kepada Abram, IA mengganti nama Abram menjadi Abraham. Tidak seperti manusia yang hanya dapat sekadar berharap, tujuan ALLAH mengganti nama Abram pasti akan membawa dampak positif sesuai dengan arti nama baru tersebut. Sebelum nama Abraham diberikan, ALLAH telah memberikan jaminan bahwa Abraham pasti menjadi pribadi seperti arti nama yang diberikan-Nya itu. Arti nama Abraham bukanlah suatu harapan kosong, melainkan kenyataan yang pasti terjadi. Hal ini terlihat jelas dalam perkataan ALLAH kepada Abraham dalam teks ini. TUHAN telah menetapkan jalan hidup kita. Atas dasar itulah TUHAN memberikan nama kepada kita. Sedangkan nama yang diberikan oleh manusia tidak berpengaruh bagi nasib seseorang. Contohnya, sekalipun seseorang diberi nama "Sehat", tetapi jika suatu saat TUHAN menetapkan penyakit menimpanya maka dia tidak akan dapat menolak datangnya penyakit itu. Sebaliknya, jika arti nama yang diberikan orangtua kita kurang baik, jika TUHAN menetapkan segala sesuatu yang baik terjadi dalam hidup kita, maka yang baik itu pasti terjadi. Oleh karena itu jika ada di antara kita yang memiliki nama yang "tidak sesuai harapan", jangan pernah merasa takut ataupun risau. Mungkin secara psikologis nama yang disandang seseorang dapat berpengaruh. Misalnya saja seorang yang kaya raya dan penampilannya selalu up to date, tetapi namanya berkesan kampungan sehingga secara psikologis ia merasa malu. Jangan mengkait-kaitkan persoalan yang kita hadapi dengan arti nama yang kita sandang. Sebab tidak ada hubungannya sama sekali. Mungkin kita pernah mendengar istilah "keberatan nama". Misalnya, orangtua memberi nama tertentu kepada anaknya dengan harapan arti nama itu berpengaruh positif bagi masa depan anaknya itu. Tetapi kenyataannya si anak seringkali sakit-sakitan, dan sepertinya selalu ada saja masalah yang menimpa. Orangtua anak itu mulai beranggapan bahwa penyebabnya adalah nama anaknya itu terlalu "berat", sehingga ada istilah "keberatan nama". Atas dasar pemikiran itulah, orangtua mengganti nama anaknya dengan nama lain yang dianggap dapat membawa berkah atau solusi dari segala persoalan yang selalu menimpa anaknya itu.
3.      Sekitar empat ribu tahun yang lalu Allah mengadakan perjanjian dengan Abraham. Apa saja isinya? Perjanjian itu, yang dibuat dalam kitab Kejadian 12:1-4 dan diteguhkan dalam kitab Kejadian 13:14-17, 15:1-7, dan 17:1-8, berisikan tujuh bagian yang berbeda satu sama lain.    Pertama, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar.” Janji ini digenapi dalam tiga cara: Dalam keturunan Abraham secara alamiah, yaitu bangsa Yahudi. “Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya …”  Dalam keturunan Abraham secara rohaniah, yaitu semua orang percaya, baik Yahudi maupun bukan-Yahudi. Digenapi juga melalui Ismael. Kedua, “Aku akan memberkati engkau.” Janji ini digenapi dalam dua cara: Secara sementara dan secara rohani. Ketiga, “… serta membuat namamu masyhur.” Nama Abraham terkenal ke seluruh dunia. Keempat, “Dan engkau akan menjadi berkat.” Lihat surat Galatia 3:13,14. Kelima, “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau.” Penggenapan janji ini berkaitan erat dengan kalimat berikutnya. Keenam, “… dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau.” Janji ini secara ajaib digenapi dalam sejarah penyebaran bangsa Yahudi ke seluruh dunia.
Orang-orang atau bangsa yang menganiaya orang Yahudi mengalami berbagai musibah, sebaliknya mereka yang melindungi orang Yahudi mengalami berkat baik secara nasional maupun secara perorangan. Ke depan dan selanjutnya, kebenaran janji ini masih akan terus terbukti dengan lebih mengherankan. Ketujuh, “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Ini adalah janji agung tentang keselamatan yang digenapi di dalam keturunan Abraham, Kristus (Gal. 3:16, Yoh. 8:56-58). Janji ini lebih meneguhkan lagi janji Allah tentang keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala ular (Kej. 3:15).
4.      Pada pasal 17 ini isi Perjanjian Allah dengan Abraham berkisar pada masalah “keturunan” (“zera”), karena hanya dengan adanya “keturunan” tadi Abraham dapat berkembang menjadi “bapa sejumlah besar bangsa.  Itulah sebabnya namanya diubah dari “Abram” (“Bapa Yang Tinggi”)  menjadi “Abraham” (Ab = Abba= Bapa/ Raham = Sejumlah Besar Orang). Disamping  mengenai “keturunan” isi Perjanjian itu menyangkut “negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan”  yaitu bumi Israel. Memang tempat tinggal diperlukan kalau keturunan Abraham menjadi banyak. Dan kepada keturunan yang akan tinggal di Tanah Perjanjian inilah, Allah mengatakan “Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.” atau “Aku akan menjadi Allah mereka”, artinya keturunan Abraham akan memiliki ikatan Perjanjian yang Khusus dengan Allah, yaitu menjadi bangsa pilihan, umat Allah milik Allah sendiri, yaitu bangsa Israel  sebagai anak-anak Abraham secara jasmani, dalam Perjanjian Lama (Kel. 19:5-6), dan  Gereja, yaitu “Israel milik Allah” (Gal. 6:16) sebagai anak-anak Abraham secara rohani, dalam Perjanjian Baru (I Ptr. 2:9). Lebih jauh dijelaskan bahwa keturunan yang menurut Perjanjian Allah, itu harus  yang berasal dari Ishak dikatakan demikian oleh Kitab Suci:    “Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya." Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" (Kej. 17: 15-18). Allah dalam PerjanjianNya tak pernah membahas status Hagar kepada Abraham, karena Hagar bukanlah ibu dari anak Perjanjian itu, dan Hagar bukanlah Permaisuri, bukan “Ratu”, bukan “Sarah”. Tetapi dengan Sarah, Allah memberikan status yang sama dengan Abraham, dimana kedua-duanya diberi nama baru, yang tadinya ibu anak Perjanjian itu bernama “Sarai” (“Bersifat Ke-Putri-an”) sekarang menjadi “Sarah/Sara” (“Sang Putri”/”Sang Ratu”) karena ia akan menjadi  “ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya” , dimulai dengan lahirnya Ishak melaluinya, sebagaimana Abram juga menjadi “Abraham” (Bapa Sejumlah Besar Orang), karena ia  akan “menjadi bapa sejumlah besar bangsa”  dan “engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja”, melalui Ishak anak Sarah itu.  Penegasan bahwa anak Perjanjian itu memang harus datang melalui melalui Ishak ini dilakukan Allah untuk yang terakhir kalinya ketika Yahweh menampakkan diri bersama dengan dua orang malaikatNya kepada Abraham demikian: ”Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah,……. Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki." Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya. Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid. Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?" Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: "Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua? Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki." (Kej. 18: 1-2, 10-14).
5.      Dari semua data yang ada dalan Kitab Suci ini jelaslah bahwa “keturunan”  Abraham yang dimaksud itu memang lahir dari Sara, yaitu Ishak, dan bukan dari Hagar, yaitu Ismael Hal ini lebih ditegaskan lagi oleh sabda Allah kepada Abraham, ketika Abraham memohon kepada Allah: ”Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" (Kej. 17:18). Permohonan Abraham ini dilakukan setelah Allah memberitahu bahwa Sara akan melahirkan anak dalam ayat-ayat sebelumnya yang telah kita kutip diatas. Dari kacamata manusiawi dapat dimengerti bahwa Abraham menyayangi Ismael,  karena memang dia itu anaknya juga, meskipun lahir dari seorang budak. Namun dari  kacamata rencana Ilahi, dan Perjanjian Allah, pastilah tidak demikian. Karena sebelum Ismael lahir, Perjanjian itu sudah ada dulu, dan waktu Perjanjian dibuat Abraham memang dimaksudkan memiliki anak dengan Sarai. Hagar tidak masuk hitungan dalam Perjanjian tadi, karena Hagar belum muncul dalam skenario sejarah hidup Abraham. Berarti lahirnya Ismael memang bukan yang dimaksudkan Allah dalam Perjanjian itu, meskipun ditoleransi. Allah tetap bertahan pada PerjanjianNya, sebab Allah itu tak bersifat plin-plan, dan tidak tunduk pada pikiran Abraham yang berubah-ubah itu.  Oleh karenanya jawab Allah atas permohonan Abraham itu tegas tanpa kompromi, yaitu: ”Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.”  (Kej. 17:19). Dari ayat ini jelas bahwa  dengan Ishak, bukan dengan Ismael, yang lahir melalui Sara, bukan melalui Hagar,  itulah, Allah mengatakan  “Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya”. Jadi anak Perjanjian itu adalah Ishak, dan Perjanjian kekal itu adalah dengan Ishak, tetapi bukan untuk dirinya sendiri melainkan “untuk keturunannya”  (sekali lagi “zera” = benih, dalam bentuk tunggal). Dan itulah sebabnya ditegaskan lagi oleh Allah sendiri bahwa “yang akan disebut keturunan (“zera”) mu  ialah yang berasal dari Ishak.” (Kej. 21:12c). Penekanan kepada “keturunan” (“benih”) ini penting sekali untuk dimengerti, karena ketika Allah menjanjikan kepada Abraham bahwa “olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." (Kejadian 12:3c), maka dengan berkembangnya waktu makin dijelaskan bahwa berkat untuk “kaum di muka bumi”  yang akan terjadi “olehmu”  yaitu “oleh”, “melalui”, dan “didalam” Abraham itu, ternyata bukan oleh Abraham secara pribadi, namun “Oleh keturunanmu (“zera”) lah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." (Kej. 22:18).  Ini dikatakan oleh Allah setelah Abraham taat perintah Yahweh (Kej. 22:3-9)  untuk mengorbankan anaknya yang tunggal (Kej. 22:1-2), karena waktu terjadinya perintah pengorbanan ini Ismael sudah tidak bersama Ishak lagi (Kej. 21: 14-21)  dan juga bahwa hanya Ishaklah anak Perjanjian satu-satunya. Dimana dikatakan: ”Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.” (Kej. 22: 10-13). Peristiwa pengorbanan Ishak ini adalah tipologi dari pengorbanan Kristus diatas Salib. Perjanijian berkat Allah yang kekal bagi segenap umat di bumi itu adalah Perjanjian di dalam Kristus, yaitu Perjanjian Keselamatan. Itulah sebabnya kita makin disadarkan betapa agungnya misteri kedatangan Kristus yang akan kita rayakan dalam masa Natal beberapa hari lagi ke depan ini.  Kita telah persiapkan diri melalui puasa “Milad Al-Masih” ini, sehingga waktu kita merayakan Milad/Kelahiran itu nanti, bukan pesta-pestanya atau hura-huranya yang kita ingat namun penggenapan Perjanjian yang mengikat kita dengan Perjanjian Allah yang kekal bagi keselamatan kita, yang digenapi melalui kedatangan Kristus ke dunia ini yang harus menjadi renungan kita yang mendalam.


Yogyakarta, 31 Agustus 2014





                                                                                   
Ramli SN Harahap
Pendeta GKPA
Pascasarja S3 UKDW Yogyakarta
HP 0812 1998 0500
harahapramly@yahoo.com
                                                                                                                        fidei-gladys







KHOTBAH Minggu, 1 Maret 2015: Markus 8:31-38

widgeo.net
Minggu,  1 Maret 2015
Minggu Passion III - Reminiscere

Khotbah: Markus 8:31-38                                               Bacaan: Kejadian 17:1-7

MENYANGKAL DIRI DAN MEMIKUL SALIB

 

1.      Untuk menjadi pengikut Yesus membutuhkan pengorbanan. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui dan dijalani. Tahapan itu adalah menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus. Ketiga tahapan ini merupakan syarat mutlak bagi setiap orang yang telah memutuskan jalan hidupnya untuk beriman kepada Yesus. Menerima Yesus adalah gampang dan mudah, tetapi memeliharan dan mempertahankan menjadi mengikut Yesus adalah perkara yang sulit. Menerima Yesus adalah murah sekali tetapi mengikut Yesus harus dibayar mahal. Karena itu, dalam khotbah hari ini kita akan membahas secara mendalam apa yang dimaksud dengan mengikut Yesus dan menjadi murid Yesus. Apa tanggung jawab dan konsekuensi yang harus kita terima sebagai pengikut Yesus.
2.      Menjadi Murid Kristus artinya, mengikuti Dia. Ketika Kristus memanggil para murid-Nya, Ia mengucapkan kata-kata perintah, "Ikutlah Aku" (Matius 4:19 ; 8:22; 9:9; 19:21; Markus 1:17; 2:14; 10:21; Lukas 5:27; 9:59; 18:22; Yohanes 1:43; 21:19; 21:22). Murid Kristus yang sejati adalah seorang yang mengikut Dia di dalam menjalankan tugas, dan akan terus mengikut Dia sampai mencapai kemuliaan-Nya. Orang itu harus mengikut Dia, bukan mengatur-atur Dia melakukan ini dan itu, seperti yang diperbuat Petrus yang lupa daratan. Seorang murid Kristus akan mengikut Dia, seperti domba mengikut gembalanya, seperti pelayan yang mengikut tuannya, prajurit yang mengikut komandannya. Ia adalah orang yang menuju kepada tujuan akhir yang sama dengan yang dituju Kristus, yaitu kemuliaan Allah dan kemuliaan sorga. Ia seorang yang berjalan di jalan yang sama yang dilalui Kristus, dipimpin oleh Roh-Nya, mengikuti Jejak langkah-Nya, tunduk kepada perintah-perintah-Nya. dan mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi (Why. 14:4).
3.      Menjadi murid Yesus tentunya punya aturan dan persyaratan. Apakah syarat-syarat mengikut Yesus?
Pertama,  ia harus menyangkal dirinya. Sebelumnya Petrus menasihati Kristus untuk menyayangkan diri-Nya sendiri (Mat. 16 :22), dan dia mungkin akan memberi nasihat yang sama untuk kasus yang serupa. Namun, Kristus memberi tahu mereka semua. bahwa mereka harus sangat jauh dari menyayangkan diri mereka sendiri, dan malah sebaliknya, harus menyangkat diri sendiri. Dalam hal ini mereka harus mengikut Kristus, karena kelahiran-Nya, kehidupan-Nya, dan kematian-Nya, semua merupakan tindakan penyangkalan diri yang tiada henti-hentinya. Penyangkalan diri memang merupakan pelajaran yang sulit dan keras, dan bertentangan dengan watak daging dan darah. Namun, tindakan ini tidak lebih dari apa yang telah dipelajari dan dikerjakan oleh Guru kita di hadapan kita dan untuk kita, keduanya untuk penebusan kita dan sebagai petunjuk bagi kita. Lagi pula seorang hamba tidak tebih dari tuannya. Perhatikanlah, semua murid dan pengikut Yesus Kristus harus menyangkal diri mereka sendiri. Menyangkal diri artinya mengalahkan keinginan kita sendiri. Barangkali tidak semua orang tidak memiliki harta benda atau kekayaan.  Tetapi setiap orang pasti memiliki dirinya atau kehendak sendiri. Setiap orang bebas untuk memilih cara hidupnya dan biasanya diri sendiri itulah yang dijadikan pusat perhatian hidupnya (segala sesuatu untuk saya)! Menyangkal diri berarti pusat perhatian itu harus  berubah. Bukan diri sendiri lagi yang menjadi satu-satunya pusat perhatian. Menyangkal diri berarti dengan sukarela melepaskan milik peribadi yang paling berharga yaitu keinginan dan kehendak pribadi dan menempat-kannya berada di bawah kehendak Allah.  Jika kita memutuskan untuk mengikut Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh  maka  bukan kehendak kita lagi yang berkuasa atas diri kita melainkan kehendak Kristus. Hal ini juga sejajar dengan apa yang dikatakan Rasul Paulus dalam Galatia 2:20, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku...”

Kedua, ia harus memikul salibnya. Yang dimaksudkan dengan salib di sini adalah seluruh penderitaan kita, baik yang kita derita sebagai manusia maupun sebagai orang Kristen, meliputi segala kemalangan karena ketentuan ilahi, penganiayaan oleh karena kebenaran, setiap masalah yang menimpa kita, baik karena berbuat baik ataupun karena tidak melakukan sesuatu yang jahat. Segala kesukaran yang kita derita sebagai orang Kristen sangat cocok disebut salib-salib, karena mengingatkan kita akan kematian di atas kayu salib, yang dialami Kristus karena ketaatan-Nya. Salib-Nya itu seharusnya membuat kita bersedia menerima segala kesukaran kita dan tidak usah takut kepadanya. Salib-Nya itu seharusnya membuat kita sadar bahwa sama dengan Dia, kita juga harus menanggung kesukaran, karena Dia juga telah menanggungnya sebelumnya bagi kita.

Salib siapa yang harus kita pikul? Banyak orang mengira itu adalah salib Kristus. Dikatakan, “Barangsiapa mau mengikut Aku, ia harus memikul salibnya”. Salib yang perlu kita pikul bukanlah salib Kristus, melainkan salib kita sendiri. Mengapa Tuhan Yesus menyuruh kita memikul salib kita masing-masing? Apa maksudnya? Salib adalah lambang penderitaan. Tidak sedikit orang Kristen berpendapat bahwa memikul salib berarti menerima dengan ikhlas penderitaan yang menjadi nasib mereka dan tidak berusaha atau berjuang untuk mengatasinya (nrimo). Namun bukan ini yang dimaksud Tuhan Yesus dan penulis Injil  Markus mengenai hal memikul salib. Ketika Yesus berseru kepada para pendengarnya agar mereka memikul salib,Tuhan Yesus sebenarnya berbicara mengenai komitmen memikul salib yang berlangsung seumur hidup.  Biarpun pilihan itu harus mereka bayarkan dengan penderitaan, penghinaan, bahkan dengan kematian sekalipun. Mereka  siap menanggung segala resiko sebagai keputusan untuk mengikut Tuhan Yesus.  Orang yang telah memilih untuk mengikut Yesus dengan sepenuh hati dalam hidupnya, sadar bahwa hidupnya pasti akan menghadapi banyak penderitaan, seperti hidup Tuhan Yesus. Memang tidak ada orang yang menghendaki penderitaan. Kita juga tidak perlu mencari-cari penderitaan. Penderitaan itu ada sebagai bagian dari hidup manusia. Tetapi sebagai pengikut Tuhan Yesus, bukan penderitaan itulah yang harus diperhatikan dan menjadi fokus dalam hidup kita.

Saya ambil contoh sederhana, misalnya orang yang sedang jatuh cinta. Orang itu rela berkorban dan melakukan apapun demi sang kekasih. Biasanya,  ketika masih sedang pacaran, kalau kaki kekasih terantuk batu saja, wah repotnya bukan main dan penuh perhatian,  “Sakit nggak kakinya?” Barangkali kalau disuruh ngurut atau memijat kaki sang kekasih pun mau. Tapi kalau sudah menikah, jadi suami istri, maka biasanya bukan perhatian yang diberikan melainkan omelan. “Eh, mata elu di mana sih? Jalan aja terantuk batu”. Biasanya, kalau sedang pacaran, menunggu kekasih berjam-jam tidak apa-apa- tidak terasa karena kita melakukan untuk orang yang kita kasihi. Tetapi kalau sudah menikah disuruh nunggu 15 menit saja sudah ribut, “Lama amat sih?”Saudara-saudara, sebagai pengikut Yesus memang kita harus menderita tetapi penderitaan itu menjadi tidak terasa bagi kita karena yang  menjadi pusat perhatian hidup kita satu saja, yakni Tuhan Yesus yang kita kasihi. Kita rela menderita demi Kristus yang kita kasihi. Penyakit, musibah, persoalan rumah tangga dan persoalan lain memang kurang menyenangkan. Tetapi kita tidak dapat menghindar dari bagian-bagian yang kurang menyenangkan itu. Kita tidak boleh hanya mau bagian yang enaknya saja. Pokoknya saya ingin menjadi orang Kristen supaya semuanya berjalan dengan mulus dan lancar.Saudara-saudara,  bagian-bagian yang tidak enak dalam kehidupan ini pun harus kita pikul. Itu adalah salib kita. Sebagai orang Kristen kita tidak menerima penderitaan sebagai nasib atau takdir. Sekali lagi bukan berarti kita harus hidup menderita terus, bukan! Tetapi kita memanfaatkan penderitaan itu sebagai pelajaran untuk menumbuhkan dan mendewasakan ketaatan, ketergantungan dan iman  kita kepada Tuhan. Penderitaan adalah obat mujarab agar dekat dengan Tuhan.

Ketiga, ia harus mengikut Yesus. Syarat ketiga yang Yesus katakan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku...Ia harus mengikut Aku”. Seorang pengikut Yesus senantiasa sadar bahwa tempatnya adalah di belakang Yesus. Dalam budaya Timur Tengah di jaman itu, seorang murid secara hurfiah memang akan berada di belakang gurunya. Baik pada saat berjalan kaki maupun pada saat menunggang keledai. Sungguh tidak sopan bagi murid untuk berjalan di depan atau di samping gurunya. Tetapi ajakan Tuhan Yesus untuk berjalan di belakangnya tentu bukan dalam arti hurufiah. Dalam pemikiran umat Israel di jaman Perjanjian Lama, mengikuti seseorang atau berjalan di belakang seseorang mengandung arti mengiringi, mentaati, mencintai, menyerahkan diri dan mengabdikan diri. Namun pada kenyataannya, sebagai murid Tuhan Yesus kita sering lupa akan hal ini. Karena kesuksesan dalam usaha atau keberhasilan dalam karier, kita menjadi lupa  diri akan keberadaan kita sebagai pengikut Kristus dan menjadi sombong. Seolah-olah kita tidak lagi membutuhkan Kristus dalam hidup kita. Kita yang punya kuasa ,bukan Tuhan. Kalau perlu, Tuhan yang kita atur untuk mengikuti kehendak kita. Kita di depan dan Tuhan di belakang.Saudara-saudara, mengikut Yesus di sini berarti Tuhan Yesus mengajak kita untuk berjalan di belakang-Nya dan mengikuti Dia. Mengikut Yesus berarti menyerahkan hidup kita kepada Dia dengan segala konsekuensinya. Oleh sebab itu, diperlukan iman untuk mengikut Tuhan Yesus. Bukan sekedar percaya (To Believe) tetapi mempercayakan diri (To Trust). Kita percaya bahwa Tuhan Yesus dapat menolong tetapi belum tentu kita mau menyerahkan diri untuk ditolong. 

Ada kisah tentang seorang atheis. Satu kali, ia pergi naik gunung. Namun di tengah perjalanan, ia terperosok hanpir jatuh ke jurang. Untung,  ia masih bisa bergantung pada potongan dahan pohon. Tapi ia tidak berdaya dan tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri nya. Dalam ketidakberdayaannya, ia berseru, “Tuhan kalau Engkau ada, tolong aku.” Tapi sunyi tidak ada jawaban apa-apa. Ia ulangi lagi, “Tuhan kalau engkau ada, tolong aku. “kali ini aku sungguh berjanji mau percaya pada-Mu”. Tiba-tiba ada jawaban, Apa benar-benar, engkau percaya kepada-Ku? Benar Tuhan tapi tolong aku segera”. “Kalau engkau percaya aku, lepaskan peganganmu.” “Ah Tuhan yang benar aja, masa aku mesti lepaskan peganganku.” ” Engkau percaya padaKu tidak?, lepaskan peganganmu” Beriman kepada Tuhan harus disertai dengan perbuatan.

Itulah ketiga syarat yang diminta Tuhan Yesus kepada setiap orang yang mau mengikut Dia. Bagaimanakah dengan kehidupan kita sebagai pengikut Kristus? Di tengah arus jaman yang mengutamakan kepentingan pribadi dan kesuksesan dan kemak-muran? Apakah kita masih setia menempuh jalan salib seperti yang dilakukan Tuhan Yesus?Saudara-saudara , marilah kita merenung sejenak dan bertanya kepada diri kita masing-masing. Apakah selama ini kita sungguh-sungguh dan komitmen dalam hal  pengikut  Kristus? Memberi diri untuk dipimpin oleh-Nya? Atau barangkali, kita mau berjalan sendiri di depan dan berharap Tuhan mengikuti kita?  Kiranya Firman Tuhan ini boleh menguatkan dan menumbuhkan iman percaya kita kepada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus memberkati kita semua

4.      Pertanyaan selanjutnya yang timbul dalam benak kita adalah mengapakah kita harus menyangkal diri dan memikul salib? Ada beberapa alasan mengapa kita harus menyangkal diri dalam rangka mengikut Yesus. Pertama, karena menyangkal diri dan memikul salib, berarti kehilangan nyawa di muka bumi ini, adalah layak dilakukan sebagai konsekuensi pengikut Kristus. Inilah yang hendak Markus jelaskan melalui paradoks kalimat dalam ayat 35 yang sebenarnya, sangat sulit untuk dipaparkan. Dalam ayat 35 Markus hendak menjelaskan bahwa mereka yang mengaku hendak mengikut Yesus jelas akan menapak jalan penderitaan-Nya. Ini adalah konsekuensi yang layak, karena sesungguhnya hanya di dalam Dia terdapat hidup yang sebenarnya. Tetapi, bagi mereka yang menolak untuk menderita, maka mereka bukanlah pengikut Yesus yang sejati. Siapa yang menolak ajakan Yesus berarti “mau menyelamatkan nyawanya” dan konsekuensinya adalah jelas, “kehilangan nyawanya”. Mereka yang enggan menyangkal diri dan memikul salib, tidak benar-benar serius untuk menjadi murid Kristus, dan demikian tidak turut bergabung dalam damai yang sejati dalam Dia. Kepada mereka yang mungkin menolak ajakan-Nya, dalam ayat 36 Yesus berkata, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Seolah-olah di sini sedang ditunjukkan sebuah kontras, bahwa kenyamanan dan kemanan hidup di dunia ini (yang diraih dengan menolak mengikut Kristus) tidaklah berarti! Dengan demikian, pengikut Kristus tidak perlu takut menderita, menyangkal diri dan memikul salib, karena kehilangan hidup di bumi ini adalah layak dialami. Bukankah Ia juga tidak mendapatkan kenyamanan dan kehidupan semasa di muka bumi ini? Kedua, Disini dapat kita lihat, menyangkal diri dan memikul salib menyebabkan kita layak untuk bersama-sama dengan Dia di dalam Kerajaan-Nya (meneruskan kontras dalam ayat 35 dengan ayat 38) Ingatlah bahwa gambaran salib pada mulanya adalah tanda dari sesuatu yang memalukan, gambaran dari penghinaan dan caci-maki. Maka dari itu, mereka yang enggan memikul salib adalah mereka yang  “malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini.” Mereka yang enggan menderita adalah mereka yang akan tidak layak untuk bersama dengan Dia nanti, ketika “Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” Karena mereka yang menolak untuk menderita dengan Dia itu berarti menolak untuk dipermalukan, dan dengan demikian tidak layak untuk bersama-sama dengan Anak Manusia yang sudah dipermalukan dan menapak jalan kehinaan. Maka dari itu, ingatlah, bahwa jika kita sebagai pengikut Kristus menderita karena Dia di bumi, itu akan membuat kita pantas untuk bersama-sama dengan Dia, ketika “langit dan bumi yang baru” itu tiba!
5.      Akhirnya, dalam usaha untuk mengerti makna salib yang sejati, kita dapat mengerti arti salib yang adalah tanda itu. Salib, yang ada di mana-mana, adalah tanda pengikut Kristus. Dan, makna salib yang sesungguhnya lebih dari sekedar untuk bergaya. Pengikut Kristus diminta untuk memikulnya. Memikul salib berarti menyangkal diri. Memikul salib berarti mengalami penderitaan. Memikul salib berarti dipermalukan oleh dunia. Memikul salib berarti menapak jalan kematian ragawi. Semuanya sama, dengan apa yang telah dijalani Yesus pada abad pertama.  Lalu, bagaimana pembaca masa kini mendengarkan ajakan Yesus, dan merelasikan pengertian akan arti salib itu dalam kehidupan sehari-hari? Kepada mereka yang memakai salib di hari-hari dan kehidupannya, Markus menyerukan suara yang sama, suara yang lantang dan tegas, suara yang menantang kita untuk memikul salib, menyangkal diri dan mengikut Dia! Bergabung dalam jalan penderitaan-Nya! Dengan demikian, apakah penderitaan kita? Apakah salib kita? Apa yang membuat kita malu? Segenap orang Kristen, para murid-murid Kristus dipanggil untuk mengikut Dia. Ikut Yesus berarti mengambil jalan yang berbeda dengan dunia. Itu berarti, ketika kita berada di pekerjaan, kita melaksanakannya dengan cara, tindakan, tujuan dan motivasi sesuai dengan nilai-nilai etika kerajaan Allah, bukan nilai kerajaan dunia. Itu berarti, ketika kita berada di lingkungan akademis –kampus mau pun sekolah, PMK atau pun PSK- kita menjalaninya juga dengan jalan yang sesuai dengan prinsip-prinsip pemuridan Kerajaan Allah. Nilai-nilai yang bersendikan kejujuran, kasih, keadilan, kemanusiaan, egaliterian, dan perdamaian. Kita berani memerjuangkan tindakan perlawanan terhadap sikap hidup yang menghasilkan ketidakadilan, intoleransi, korupsi dan kebobrokan moral. Kita berani menantang rezim-rezim korup yang tidak manusiawi, eksploitasi alam demi kepentingan politik dan ekonomis. Inti dari jalan penderitaan di masa kini adalah kita berani melangkah dalam jalan atau gaya hidup yang berbeda dengan dunia. Dan jika bagi dunia, nilai-nilai kerajaan Allah yang kita junjung itu adalah kebodohan, membuat kita terhina, menderita dan bahkan teraniaya secara fisik, mental dan psikologis, itu adalah layak untuk kita pikul dan alami. Salib adalah tanda, identitas pengikut Kristus yang mengambil bagian dalam jalan penderitaan-Nya, mengubahkan hidup dan mendobrak konteks dunia. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. (Mat.5:10-12).



Yogyakarta, 31 Agustus 2014





                                                                                   
Ramli SN Harahap
Pendeta GKPA
Pascasarja S3 UKDW Yogyakarta
HP 0812 1998 0500
harahapramly@yahoo.com
                                                                                                                        fidei-gladys

TAHUN PEMUDA MEMBANGKITKAN PEMUDA GKPA MENGEMBANGKAN PELAYANAN

widgeo.net
Ramli SN Harahap *



1.       Tahun ini merupakan Tahun Pemuda GKPA. Sebagai tahun pemuda diharapkan para pemuda GKPA dapat memberikan sumbangsih pemikiran, karya, tenaga untuk mengembangkan pelayanan di organisasi GKPA untuk menyikapi perkembangan yang terjadi di tengah-tengah Gereja dan masyarakat.
2.       Tantangan pemuda saat ini. Ditengah arus kemajuan teknologi saat ini, tantangan pemuda GKPA adalah pertama, melawan “pengaruh sosial media” (sosmed) seperti: facebook, twitter, whats app, line, dan lain-lain sebagainya. Pemuda bisa tahan dihadapan smart phone, note book, dan laptopnya berjam-jam menikmati kebersamaannya dengan dunia maya. Pemuda sudah lebih menghabiskan waktunya berhubungan dengan dunia maya dibandingkan dengan dunia nyata. Kedua, menjadikan Facebook sebagai “tuhan”. Saya takut pemuda sekarang sudah lebih menganggap face book  sebagai “tuhan” yang selalu setia menyertainya. Face book hadir di setiap saat (maha hadir). Jika pemuda bermasalah, dia akan mencurahkan isi hatinya ke face book. Jika sedang bête, berkelahi dan galau, dia memberitahukannya ke face book. Bagi mereka face book menjadi jawaban atas setiap persoalan hidupnya. Jika kita bandingkan intensitas pemuda setiap hari, rata-rata pemuda menuliskan statusnya minimal 5 kali sehari, 20 kali meng-like status orang, 10 kali memberi komentar pada status orang, dan browsing status orang. Artinya, waktunya habis dan disedot si face book itu. Padahal, untuk membaca Firman Tuhan, dia hanya sekali sehari saja, itu pun kalau ingat. Yang sering terjadi dia hanya mengisi Firman Tuhan dalam hidupnya hanya sekali seminggu melalui khotbah di Gereja. Kondisi ini sangat mempengaruhi karakter dan sikap serta perilaku pemuda. Ketiga, tidak peduli kepada sesama dan lingkungan. Akibat keseriusannya berhubungan dengan dunia maya, maka pemuda tidak memiliki rasa kepeduliannya lagi dengan sesama manusia. Tubuh mereka bisa berdekatan, tetapi pikiran mereka saling berjauhan. Di dalam satu rumah sudah jarang berbicara dan berkomunikasi dengan baik, karena setiap orang sudah sibuk dengan smart phone-nya masing-masing. Mereka duduk bersama tetapi tidak saling melihat dan memperhatikan lagi karena semua mata mereka tertuju kepada si Hand Phone-nya. Orang yang terlalu asyik dengan dunia yang diciptakannya sendiri sehingga tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya. Hal ini sering dilakukan orang yang kecanduan internet atau Facebook. Tidak peduli dengan lingkungan sekitar, dunianya berubah menjadi dunia internet atau facebook. Minimnya sosialisasi dengan lingkungan. Ini dampak dari terlalu sering dan terlalu lama bermain internet atau facebook. Keempat, The Net Generation (Generasi Internet). Generasi internet  telah memasuki budaya generasi muda saat ini, dan membawa dampak positif dan negatif. Dampak negatif dari adanya Tekonologi Informasi adalah: (a) Derasnya arus informasi dan telekomunikasi menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai budaya asli bangsa kita. (b)    Mengurangi bahkan dapat menghilangkan ikatan batin dan moral yang biasanya dekat dalam hubungan social antar masyarakat. Contoh: situs jejaring sosial yang banyak bermunculan membuat orang tak memiliki kebutuhan untuk bertemu langsung. (c) Semakin lemahnya kewibawaan tradisi-tradisi yang ada di masyarakat,  seperti lunturnya sikap ramah-tamah, gotong royong dan sopan-santun yang dipengaruhi oleh budaya barat, seperti perubahan cara berpakaian, pemakaian yang dicampur-campur bahasa asing (bahasa juga salah satu budaya bangsa), serta pergaulan yang bebas. (d) Pola interaksi antar manusia yang berubah. Kehadiran komputer pada kebanyakan rumah tangga golongan menengah ke atas telah merubah pola interaksi keluarga. Komputer yang disambungkan dengan telepon telah membuka peluang bagi siapa saja untuk berhubungan dengan dunia luar. Program internet relay chatting (IRC), internet, dan e-mail telah membuat orang asyik dengan kehidupannya sendiri. Selain itu tersedianya berbagai warung internet (warnet) telah memberi peluang kepada banyak orang yang tidak memiliki komputer dan saluran internet sendiri untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui internet. Kini semakin banyak orang yang menghabiskan waktunya sendirian dengan komputer. Melalui program internet relay chatting (IRC) anak-anak bisa asyik mengobrol dengan teman dan orang asing kapan saja. Kelima, budaya popular. Dengan semaraknya sinetron, film, dan musik hiburan, maka pemuda saat ini telah dicekoki dengan budah populer. Budaya populer (populer culture) atau yang umum disingkat sebagai budaya pop mulai merebak di kalangan masyarakat modern pada abad ke 20. Pengaruh zaman yang memang tak terelakkan telah begitu kuat melanda negara-negara Barat di mana keterbukaan dan kebebasan menjadi ciri sekaligus aspirasi masyarakatnya. Seiring dengan arus deras globalisasi teknologi yang menyeruak ke seluruh permukaan planet ini, maka perkembangan budaya zaman itu terimbas ke mana mana dengan dampak yang sangat dahsyat. Kalangan remaja atau anak baru gede (ABG), boleh di kata merupakan generasi yang paling cepat menyerap dan menerapkan segala jenis produk perubahan karena mereka adalah kelompok lapisan masyarakat yang paling terpengaruh langsung oleh budaya populer. Kita tak dapat menutup mata terhadap pergeseran nilai-nilai budaya yang terus menerus terjadi akibat perubahan zaman. Pembangunan di satu sisi menjanjikan perbaikan kondisi hidup, tapi di sisi lain ia juga meninggalkan bahkan meningkatkan berbagai permasalahan negatif yang tidak kurang seriusnya. Bahkan tidak jarang dampak destruktifnya lebih cepat menyebar, lebih kuat dan lebih gawat dibandingkan daya konstruktifnya.. Contoh yang paling aktual adalah maraknya peredaran pil-pil "XTC" (baca Ecstacy) di kota-kota besar tanah air. Hampir setiap hari kita membaca atau mendengar terungkapnya kasus berkaitan dengan pil setan itu. Itu baru yang terbongkar, belum terhitung berapa lagi kasus yang tak sempat terungkap. Alam budaya populer pada zaman ini ditandai dengan sejumlah faham atau trend gaya atau nilai falsafah hidup berbentuk "isme" seperti yang berikut: (a) Materialisme: yang paling penting dalam hidup ini adalah memiliki kekayaan bendawi, aset atau harta yang bersifat material, uang dan alat tukar sejenis. Maka orientasi dan sukses hidup semata-mata diukur dengan standar kekayaan materi. (b) Eksistensialisme: yang terutama hidup hanyalah untuk momen saat ini. Itulah yang dimiliki pada hari ini, sehingga tak perlu repot-repot memikirkan kenangan masa lain maupun mengantisipasi perkembangan masa depan. (c) Individualisme: pribadi yang paling penting dalam hidup adalah diri sendiri. Tak perlu dicampuri oleh orang lain. Karena itu egoisme mutlak perlu dibangun agar diri mampu menyelesaikan segala sesuatu untuk kebaikan diri. (d) Hedonisme: yang harus menjadi obsesi seumur hidup adalah bersenang senang menikmati hidup. Tujuan hidup semata-mata adalah membahagiakan diri. Puaskanlah segala keinginan hati dengan melampiaskan hawa nafsu. (e) Sekularisme: Allah itu tidak penting karena hal agama sudah tidak relevan dalam menjawab kebutuhan manusia pada hari ini. Yang terbaik adalah mengandalkan potensi diri yang dianggap sudah dewasa dalam dunia ini. (f) Pragmatisme: Apa yang bisa diharapkan dan diterima adalah yang bisa jalan; artinya manusia harus bisa memutuskan pilihannya atas perkara-perkara atau metoda metoda hidup berfungsi. Semua kebajikan diukur dari hasil akhirnya. (g) Moral relativisme: Di dunia ini tidak ada hal yang absolut. Segala sesuatu itu tidak mutlak benar maupun tidak mutlak salah. Karena itu hiduplah dengan sewajarnya, tak perlu memperjuangkan apa yang dianggap paling benar. (h) Utopianisme: Pada dasarnya semua manusia itu baik. Dunia akan menuju kepada keadaan yang semakin membaik. Hanya ciptakanlah lingkungan hidup yang baik maka segala kejahatan akan pudar dan lenyap dengan sendirinya. (j) Fatalisme: Nasib hidup adalah suratan takdir. Manusia tak akan bisa menghindar dari gilasan zaman. Diri menjadi seperti apa adanya tidaklah terlepas dari perlakuan orang lain dalam sistem masyarakat yang dominan membentuk hidup.
3.       Di situasi dan kondisi seperti ini, Pemuda GKPA hendak bangkit dan bangun serta keluar dari persoalan itu. Aapakah yang bisa dilakukan pemuda dalam menghadapi tantangan di atas? Pertama, Gerakan SMS Firman Tuhan. Setiap hari kita merenungkan dan kirimkan Firman setiap hari kepada teman-teman. Mengimbangi kemahahadiran facebook di kalangan pemuda, kita harus mengisi kegiatan yang lebih positif. Pemuda mencoba merenungkan Firman Tuhan yang telah ditetapkan di Almanak GKPA, lalu di membagikan Firman itu kepada rekan-rekan pemuda GKPA lainnya. Dengan saling mengirimkan Firman Tuhan, maka pemuda GKPA bisa bangkit dan membantu pelayanan di tengah-tengah Gereja. Kita percaya dengan memberitakan Firman Tuhan melalui SMS maka pemuda GKPA telah ikut serta mengembangkan Kerajaan Tuhan di dunia ini. Seorang pemuda GKPA minimal mengirimkan 10 sms kepada nomor kontak sahabatnya. Gerakan sms ini akan memberikan manfaat bagi semua pemuda GKPA untuk bertumbuh di dalam iman. Kedua, Gerakan Peduli Sesama. Pemuda GKPA memelopori untuk saling peduli dengan sesama teman. Daripada kita menghabiskan waktu memperhatikan si maya, lebih baik kita memperhatikan teman-teman kita. Misalnya, pemuda GKPA setiap bulan membuat Gerakan Rp. 10.000,- untuk mengumpulkan dana beasiswa bagi pemuda GKPA yang membutuhkan biaya sekolah dan studinya. Uang yang terkumpul ini akan diberikan kepada anak-anak muda yang tidak memiliki dana untuk sekolah. Dengan kegiatan ini, pemuda GKPA membangkitkan semangat belajar, dan membangkitkan rasa persaudaraan yang kuat untuk memajukan dan mencerdaskan warga jemaat GKPA. Ketiga, Persekutuan Doa. Pemuda GKPA membuat tim-tim doa. Setiap pemuda memiliki jam-jam doa baik di rumah maupun di dalam persekutuan di Gereja. Pemuda memiliki teman doa yang saling mendoakan. Doa sangat membantu menguatkan hati orang percaya. Keempat, Pendalaman Alkitab. Pendalaman Alkitab merupakan sarana yang paling kuat untuk menghadapi tantangan zaman. Pemuda yang memiliki pengetahuan Firman Tuhan yang baik dan benar akan bisa memilah mana yang baik dan dan mana yang jahat. Pendalaman Alkitab ini bisa dilakukan dengan berbagai metode seperti: ceramah, diskusi, seminar, dialog, dll. Kelima, mempertahankan budaya. Walau dunia sekarang menawarkan budaya populer, tetapi pemuda GKPA harus memiliki prinsip hidup bahwa pemuda GKPA harus tetap mempertahankan budaya Batak dan budaya kekristenan dalam menghadapi kemajuan zaman. Budaya populer bisa saja ada di tengah-tengah kita, tetapi kita tidak mau digoda dan jatuh dalam jeratnya. Kita perkuat budaya kita dengan berbagai cara, seperti: melatih pemuda memakai bahasa daerah, memakai pakaian daerah, mengkonsumsi makanan daerah, dan lain sebagainya. Kita harus mencintai budaya kita daripada budaya luar.
4.       Tahun Pemuda GKPA tidak hanya sebuah pesta dan perayaan yang hanya dilaksanakan sekali dan tidak bekelanjutan. Usai pesta maka usailah semua kegiatan. Tahun Pemuda bukan berarti hanya tahun ini saja pemuda mau berkarya tetapi pemuda harus berkarya sepanjang hidup. Hindari pemuda yang berkarya seperti pisang, yang setelah berbuah maka dia ditebang dan mati. Kongres bisa saja usai, namun pemuda tidak akan berhenti berkarya walau kongres sudah usai dilaksanakan. Pemuda GKPA harus bangkit menghadapi tantangan zaman ini. Bangkit berarti dia berdiri dan berjalan melawan dengan karya nyata. Pemuda ikut aktif dalam menumbuhkan dan mengembangkan Gereja dan pelayanan. GKPA bisa bertumbuh hingga saat ini sangat besar ditopang oleh pemuda GKPA di berbagai tempat. Karena itu, marilah pemuda GKPA tunjukkan kemampuanmu untuk membangun Tubuh Kristus di dunia ini melalui GKPA.
* Penulis adalah pendeta GKPA yang sedang menjalani studi lanjutan Program Pascasarjana Doktoral Teologi di UKDW Yogyakarta.