Jumat, 15 Februari 2008

BAHAN KHOTBAH

”LEBIH BAIK” (Amsal 15 : 13 - 17)


1. Jika kita membaca Amsal 9:1-6: “Hikmat telah mendirikan rumahnya, menegakkan ketujuh tiangnya…” dapat menampilkan gambaran seorang arsitek, ahli bangunan, atau orang yang baru saja selesai membuat sebuah rumah. Terbayang orang yang sigap mengawasi jalannya pembangunan, tidak mudah diakali, orang yang dapat menilai keadaan dan pintar bergaul sehingga urusannya beres. Tetapi gambaran tadi rada berubah ketika membaca teks Ibraninya. Pertama-tama yang tampil dalam Amsal tadi itu jelas perempuan, bukan lelaki. Dan namanya ialah Hikmat, Ibraninya hokma, artinya “kebijaksanaan”, dan genus kata itu dalam bahasa Ibrani (dan Arab) femininum. Tetapi Hokma dan Hikmat itu Yunaninya ialah Sophia. Semua calon imam yang belajar di seminari diajar untuk menyukai dan menyenangi Sophia. Bahkan yang sudah rada berumur pun mesti juga begitu.
2. Kata Amsal sebetulnya berasal dari kata Arab amthal, jamak dari mithl- yang bunyinya kepleset dalam bahasa Indonesia jadi “misal” (=kayak, seperti). Ibraninya mashal, jamaknya meshalim, yang diterjemahkan dengan “amsal”, bisa berarti “ucapan” orang bijak, “perumpamaan”, atau “peribahasa berhikmat”. Memang seluruh kitab Amsal hendak mengibaratkan hal-hal pelik dengan yang bisa dimengerti. Ini kegiatan yang mengasyikkan, paling tidak menurut orang zaman itu. Coba lihat, pada pembukaan kitab ini, Amsal 1:1-6, tajam-tajam disoroti apa itu isi “misal-misal” tadi: belajar kenal dengan Sophie (Amsal 1:2), yang kemudian dijelaskan sebagai mendapat “didikan”, yakni “pengajaran” dan diterangkan lebih jauh sebagai “mengerti kata-kata yang ada maknanya (Ibraninya: לְהָבִין אִמְרֵי בִינָה ”le-havin imre bina”, supaya paham wacana yang ada isinya. Jadi mengenal Sophie sama dengan pandai-pandai menangkap makna dalam isyarat-isyarat bahasa. Bukan isyarat lambaian tangan atau kerdipan mata, atau bahasa tubuh lain yang lazim dipakai. Ibraninya menarik, “…imre bina” itu ialah wacana yang ada isi pengetahuannya, bukan tong kosong yang berbunyi nyarting. Sang Pengamsal kiranya mengajak orang pandai-pandai membedakan wacana yang ada isinya dari kata-kata kosong. Jadi menurut Amsal, jangan buang waktu mendalami omongan yang tak memberi apa-apa.
3. Dengan kata lain, Hikmat atau kebijaksanaan tidak lain adalah kemampuan untuk melihat, memilih dan melakukan apa yang lebih baik; kemampuan untuk membuat prioritas yang tepat. Perhatikan tiga kata kerja yang dipakai disini. (1) melihat; (2) memilih; (3) melakukan apa yang lebih baik. Tidak gampang untuk bisa melihat, memilih, dan melakukan yang lebih baik. Kita biasanya cenderung memilih yang menarik, yang menjanjikan keuntungan yang besar, cepat, dan gampang. Padahal kita tahu betul, yang kelihatan lebih menarik itu belum tentu lebih baik. Atau kita melihat apa yang lebih baik. Namun demikian, ini juga belum jaminan bahwa kita juga akan memilih yang lebih baik. Siapa yang tahu, bahwa “menyatakan kebenaran” itu lebih baik daripada “menjilat”. Tetapi, dunia ini penuh dengan para penjilat!
4. Ada yang mengatakan, bahwa hidup adalah seni membuat prioritas. Sukses ditentukan di sini. Inti dari pendidikan akhlak, karakter, budi pekerti adalah memampukan anak-anak kita memilih yang lebih baik. Tahu mana yang harus diutamakan dan didahulukan di dalam hidup ini. Ini catatan khusus bagi para orangtua. Beri mereka contoh dan pedoman bagaimana memilih prioritas! Sekarang apa yang dikatakan oleh ayat-ayat kita ini mengenai apa yang lebih baik atau yang mesti kita prioritaskan itu?
5. “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat” (ay.13). Menurut ayat ini, kita diajak untuk lebih memprioritaskan hati yang gembira. Mengapa? Karena dengan keadaan hati yang gembira akan membuat wajah berseri-seri. Kemudian, hati yang gembira adalah obat yang manjur (Ams.17:22). Sebaliknya jika kita tidak mampu menjaga hati kita agar terus bergembira, tetapi hati kita mengalami kepedihan, maka akibatnya kita akan mengalami semangat yang patah (turun) dan bahkan mengeringkan tulang. Jika tulang kita kering maka kita akan sulit melakukan segala sesuatu. Alagi jika tulang kita ini sudah keropos, maka hidup ini bagaikan tak berarti lagi. Hati juga bisa panas karena melihat keberhasilan orang lain, sehingga Kain membunuh Habel adik kandungnya sendiri (Kej.4:5). Hati Yakub panas, sehingga dia bertengkar dengan Laban (Kej.31:36). Hati juga bisa mengeras, sehingga tidak mau mendengarkan Tuhan (Kel.7:13dyb; 9:1dyb). Dan masih banyak lagi persoalan hati ini, tetapi bukan itu yang diinginkan pengamsal dari kita. Dengan demikian, jagalah hati kita agar tetap bergembira.
6. “Hati orang berpengertian mencari pengetahuan, tetapi mulut orang bebal sibuk dengan kebodohan” (ay.14). Prioritas hati yang berikut adalah hati yang berpengertian. Mengapa? Karena orang yang berpengertian akan memperoleh bahan pertimbangan (1:5), di bibir orang berpengertian terdapat hikmat (10:13), orang yang berpengertian berkepala dingin (17:27), hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan (18:15), dan jikalau orang yang berpengertian ditegur, ia menjadi insaf (19:25). Tetapi mulut orang bebal sibuk dengan kebodohan. Pada zaman teknologi tinggi dalam media komunikasi dan hiburan ini, kita harus menjaga dengan seksama hati dan pikiran kita. Kita ternyata adalah orang bebal apabila kita sibuk dengan hal-hal yang menduakan Roh Kudus dan mencemarkan kebenaran Allah (bd. Rm.1:32). Orang bijaksana hanya akan memenuhi pikiran mereka dengan hal yang mulia, benar, dan murni (Flp. 4:8).
7. “Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta” (ay.15). Ayat ini merupakan kebalikan dari ayat 13-14 di atas. Hari-hari orang yang hatinya susah, pedih, dll, pasti buruk semuanya. Artinya tak satu pun hari-harinya yang membahagiakan, selalu hari-hari hidupnya diterpa dengan masalah-masalah. Hal ini bukan berarti bagi orang yang hatinya bergembira hari-harinya tidak mengalami penderitaan dan kesusahan. Tetapi yang jelas pasti ada perbedaan orang yang hatinya bergembira dengan orang yang hatinya berkesusahan dalam menghadapi problematika kehidupannya. Orang yang hatinya bergembira akan senyum menghadapi hari-harinya karena ada kekuatan yang dimilikinya yaitu dari Tuhan, sedangkan orang yang hatinya berkesusahan akan selalu mengandalkan kekuatannya untuk menghadapi persoalan hidup ini.
8. “Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan” (ay.16). Amsal tidak berbicara mengenai “apa yang paling baik”. Sebab kalau soal “apa yang paling baik”, siapa yang tidak tahu? yaitu takut akan Tuhan plus banyak harta. Jika kita hanya mencari apa yang paling baik, mudah saja bukan? Asal takut akan Tuhan, diberi banyak harta! Wah sekarang juga, pasti orang antri mau takut akan Tuhan! Tetapi realitas hidup ini ‘kan tidak begitu. Karena itu, Amsal berbicara mengenai ‘yang lebih baik’. Bukan yang paling baik. Menurut orang bijaksana yang menulis kitab Amsal ini, yang paling tidak enak dalam hidup ini adalah hidup dalam kecemasan. Hidup dalam ketakutan. Stres. Ketegangan. Kalau kita bijaksana, jangan mau hidup dengan begini! Tegaskan kepada diri kita, kepada anak-anak kita agar jangan mau memilih hidup yang begitu. Jangan memilih ‘hidup dalam kecemasan’, sekalipun diiming-iming ‘banyak harta’. Bagaimana caranya supaya tidak hidup dalam kecemasan? Kata Amsal, hiduplah ‘takut akan Tuhan’! Kalau hidup kita lurus, mungkin kita tidak bisa kaya, tetapi hati kita sejahtera. Sebaliknya, kalau kita selingkuh, curang, culas, tidak takut akan Tuhan, kita bisa sukses secara duniawi, tetapi hati kita tidak tentram. Pilih yang mana? Kalau kita bijaksana, prioritaskan ‘hidup yang tentram’, hati yang sejahtera dari pada semua yang lain, termasuk ‘banyak harta’.
9. “Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian”(ay.17). Kalau kita bijaksana, jangan pilih hidup dalam kebencian. Termasuk di sini hidup dalam dendam, amarah, benci, menyimpan-nyimpan kesalahan orang, iri, dengki, cemburu dan sejenisnya. Kata Amsal, kalau hati kita penuh dengan hal seperti itu, biarpun ada daging steak lembu impor dua kilo di depan kita – kita tidak bisa menikmatinya! Sebaliknya, walaupun makanan cuma dengan nasi hangat plus sambal tempe dan sayur lodeh – tetapi hati bersih, tidak ada duri, hati penuh dengan kasih, pasti nikmat.


KESIMPULAN:
1. Hidup ini penuh dengan skala prioritas. Karenanya marilah kita lebih memprioritaskan hidup hati yang lebih baik. Lebih baik hati yang gembira, berpengertian agar hari-hari kita menyenangkan dan hidup kita lebih tentram.
2. Lebih baik memprioritaskan hidup bersekutu dengan Tuhan daripada bergelimang harta dunia yang tidak menyelamatkan. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Mat.6:33).







Ramli SN Harahap fidei’07 080207

BAHAN KHOTBAH

“LAYAKKAH AKU MENGHAKIMI?”
Roma 14 : 10 – 12


PENDAHULUAN

Sebagian kebanyakan orang Kristen pada abad pertama begitu pula jemaat Kristen di Roma terdiri atas orang Yahudi dan orang bukan Yahudi. Golongan orang Yahudi sebelum menjadi percaya kepada Kristus Mesias, biasa memelihara perintah-perintah Hukum Taurat. Bagi mereka perintah-perintah itu menentukan seluruh pola hidupnya. Golongan orang bukan Yahudi terdiri dari mereka yang biasa hidup tanpa hukum Taurat. Agaknya sebagian besar mereka sebelum masuk Kristen tertarik oleh agama Yahudi dan mengikuti ibadah dalam Synagoge. Tetapi karena mereka merasa tidak sanggup memelihara seluruh perintah hukum Taurat, bagi mereka hukum Taurat itu justru menjadi rintangan untuk mendapat bagian dalam keselamatan yang oleh Allah orang Yahudi telah dijanjikan kepada umatNya. Di dalam Kristus rintangan itu sudah dihapuskan.

KETERANGAN NAS

Setelah menunjukkan dasar persaudaraan, rasul mengulang nasehat yang telah diberikannya dalam ayat 3. Sama seperti di situ, ia tidak memihak. Ia menegor golongan orang “lemah” yang cenderung untuk “menghakimi” saudaranya yang kuat. Tetapi ia menegor juga golongan orang “kuat” yang cenderung untuk “menghina” saudaranya yang lemah. Perkataan Paulus di sini agak bernada menegor. Dalam terang persekutuan kita dengan Kristus, sebagai Tuhan kita bersama, mana mungkin masing-masing golongan bersikap demikian. Dalam hubungan ini, kita mencatat bahwa Paulus di sini memakai istilah “saudara” yang sudah tidak dipakainya sejak dari 12:1. Dengan demikian ditegaskannya lagi bahwa anggota masing-masing golongan meskipun mereka berselisih paham namun adalah sama-sama orang percaya. Kita bisa menambahkan bahwa Roh Kristus yang mewakili Kristus dalam lingkungan jemaat-Nya mampu membangkitkan kasih persaudaraan yang mengatasi perbedaan pendapat yang mungkin ada.

Dalam ayat 7 – 9, Paulus mendasarkan nasihatnya kepada Kristus Tuhan dan Jemaat. Dalam bagian kedua ayat 10, Paulus menambahkan alasan lain lagi yang seharusnya mendorong anggota jemaat di Roma untuk saling menerima, yaitu adanya hukuman terakhir. Kita semua harus menghadap tahta pengadilan Allah. Kesadaran itu akan mencegah kita mengadili saurada kita. Sebagaimana disebutkan Yesus dalam khotbah di bukit: "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Matius 7:1-2). Maka sebaiknya kita memakai ukuran kasih terhadap saudara kita, agar ukuran itu juga yang dipakai terhadap diri kita sendiri kelak. Kutipan dalam ayat 11 merupakan “bukti” perkataan dalam ayat 10b. Paulus mengutip Yesaya 45:32b dengan mendahulukan dengan rumus pendahuluan dari Yesaya 49:18. Kata-kata demi Aku hidup merupakan sumpah yang diucapkan Allah dan dengan demikian menegaskan pernyataan yang menyusul. Dalam Yesaya 45, pernyataan itu merupakan nubuat: “Semua bangsa di bumi akan datang kepada Allah”. Paulus dengan lebih tegas mengaikatkannya dengan hukuman terakhir.

Ayat 12 ini merupakan kesimpulan dari ayat 11 dan dengan demikian mengulang ayat 10b sambil memperluasnya. Masing-masing bagian nas ini dapat diberi tekanan khusus. Setiap orang di atara kita harus memberi pertanggungjawaban, tidak terkecuali mereka yang merasa superior, sehingga menghina atau menghakimi sesamanya orang Kristen. Setiap orang harus melakukannya tentang dirinya sendiri, bukan tentang sesama orang Kristen. Jadi sebaiknya ia memperhatikan kelakuannya sendiri saja, agar nanti tidak dicela. Pada akhrinya ia harus memberi pertanggungjawaban kepada Allah, bukan kepada manusia, maka sekarang pun sesamanya orang percaya yang merasa superior tak dapat menuntut daripadanya.


RENUNGAN

Ketika kita akan menghakimi orang lain, ingatlah bahwa kitapun akan dihakimi.
Sepantas dan selayak apapun kita rasanya untuk menghakimi orang lain, ingatlah bahwa kita tetaplah manusia berdosa.
Daripada menghabiskan waktu melihat kesalahan dan menghakimi orang lain, lebih baik menghabiskan waktu untuk memperbaiki kesalahan dan memperbaharui diri sendiri.
Serahkanlah segala penghakiman kepada Tuhan karena keadilan dan kebenaran yang sesunggunya hanya ada pada-Nya.



Jakarta, Awal Desember 2007





Pdt.Tuty Z.Hutabarat,STh

BAHAN KHOTBAH

“YANG TERBUANG YANG TERHORMAT”
Hakim-hakim 11 : 1 – 11


PENDAHULUAN

Hidup manusia senantiasa diwarnai dengan perubahan. Ada yang berubah kepada kebaikan, ada pula yang berubah kepada keburukan. Dengan demikian setiap orang berkesempatan mengalami perubahan. Jika ada sesuatu yang buruk berharaplah untuk menjadi baik. Jika ada sesuatu yang sudah baik, berusahalah untuk menjadi lebih baik lagi. Dan tentunya tidak ada seorang manusia pun yang mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi dalam hidupnya. Selama Tuhan masih menganugerahkan kehidupan bagi manusia, maka kemungkinan dan kesempatan untuk menjadi lebih masih selalu ada dan terbuka.

KETERANGAN NAS

Sebagai anak yang terlahir dari seorang perempuan sundal, yang diperlakukan tidak adil oleh saudara-saudara tirinya, tentulah Yefta merasa sangat tertekan. Sekalipun dikatakan bahwa dia adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, namun sikap dan ketidakpedulian saudara-saudara tirinya, membuat Yefta merasa tersingkir, terasing dan kesepian di tengah-tengah keramaian yang sama sekali tidak menawarkan persaudaraan dan persekutuan baginya. Puncuk dari ketertekanan yang dialami Yefta makin dirasakannya ketika saudara-saudara tirinya mengusir Yefta dengan disertai pernyataan bahwa Yefta tidak berhak mendapatkan harta pusaka dari keluarga besar mereka. Tidak ada pilihan lain, Yefta harus pergi dari tengah-tengah kelarganya dan berkumpul dengan petualang-petualangan yang pergi merampok bersama-sama dengan dia di Tob.

Perjalanan kehidupan Yefta belumlah berakhir, Tuhan punya banyak jalan untuk mengubah dan memperbaharui kehidupan seseorang. Kegagahperkasaan Yefta sebagai karunia Tuhan menjadi sesuatu yang menguntungkannya. Tuhan memakai kelebihannya itu sebagai cara untuk menolong Yefta. Para tua-tua Gilead memerlukan Yefta untuk melawan bani Amon. Orang Israel memerlukan kepahlawanan Yefta yang telah terbuang untuk menghadapi musuh mereka yaitu bani Amon. Dan tidak tanggung-tanggung para tua-tua Gilead menawarkan posisi panglima bagi Yefta dalam menghadapi bani Amon. Yefta yang terbuang dipanggil kembali ke tempat asalnya.

Sebagai seorang yang pernah dikecewakan, Yefta tidak menerima begitu saja tawaran dari para tua-tua Gilead tersebut. Ia mengingatkan mereka akan perbuatan (kebencian mereka kepadanya di masa lalu). Ia juga menyesalkan perbuatan mereka yang datang kepadanya ketika sedang dalam keadaan terdesak. Para tua-tua Gilead tidak mau mempersoalkan masalah yang telah lalu. Mereka kembali menekankan betapa pentingnya keberadaan Yefta dalam peperangan tersebut. Mereka juga bahkan menawarkan bahwa jika Yefta bersedia, ia akan menjadi kepala atas seluruh penduduk Gilead. Mereka memang harus membayar mahal kesalahan di masa lalu yang telah mencampakkan Yefta dan melupakan potensi/kelebihan yang dimilikinya, yang pada suatu waktu ternyata sangat mereka butuhkan. Pada akhirnya Yefta menerima tawaran tersebut dengan terlebih dahulu membawa seluruh perkaranya ke hadapan Tuhan di Mizpa. Kemudian Yefta pun diangkat menjadi kepala dan panglima penduduk Gilead.

RENUNGAN

Masa lalu yang buruk bukanlah akhir dari segalanya, selama Tuhan masih menganugerahkan kehidupan, kesempatan selalu ada dan terbuka untuk memperbaiki diri dan menjadi lebih baik lagi.
Jangan menilai seseorang dari masa lalunya yang buruk. Berilah kesempatan baginya untuk memperbaiki diri dan nilailah itu sebagai sesuatu yang baik dan positif.
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Janganlah hanya terpaku pada kekurangan seseorang agar kita tidak jatuh pada sikap menghakimi. Lihatlah juga kelebihannya agar terjadi keseimbangan dalam memberi penilaian.
Dalam segala hal sertakan Tuhan termasuk di dalam mengambil keputusan. Dan ketika Tuhan menjawab pergumulan dan doa kita ingatlah untuk mengucap syukur.



Jakarta, Awal Desember 2007





Pdt.Tuty Z.Hutabarat,STh

BAHAN KOTBAH

“RADE MA AU SURUONMU TUHAN”
Mateus 9 : 35 – 37

Muda tabaca ayat on bisa do muse hita mangingot aha na dung dikarejohon ni Jesus di Galilea ima laho mangajari di angka bagas paribadatan, manjamitahon Jamita Na Denggan taringot tu Harajaan Ni Debata dohot pamalum angka na marnyae dohot halak na markahurangan (4:23). Angka jamita na dijamitahon ni Jesus i bisa ma i tabaca di ponggol na palimahon, paonomhon dohot papituhon jana hamamalum na di patupaNia tabaca di ponggol na pasalapanhon dohot pasambilanhon.
Bia do parbaritaon ni Jesus di luatluat na ni dalananNia i ? Di dalani Ia do sude luat na mansai pogos, nada holan luat na mamora na ni dalananNia bahkan lalu do Ia tu angka desa-desa. Di si ma Ia marjamita, dohot di si ma Ia pamalum angka namarnyae. Mansai arga situtu do di Jesus jolma manisia i. Harani i angkon lalu do tu halahi Jamita Na Denggan i. Na pogos dohot namora marsuo dohot Jesus, di kota dohot di desa pe. Di palalu Jesus do Jamita Na Denggan i tu sudena halahi aso rap dapotan halahi dihaluaan na dijamitahonNa i. Di dia do Jesus pasahathon Jamita Na Denggan i? Jesus sai dihalungunhon do mamongoti bagas joro ni Debata di angka hatiha paribadatan. Di Synagoge (jaha: Gereja) do Ia marjamita tu angka halak na luatluat i. Muda lalu ia tu sada huta sai parjolo do Jesus mamasuhi synagoge laho pasahathon Jamita Na Denggan i. Di synagoge i ma Jesus mamodai, mangajari marhitehite huaso na sian ginjang. Harana bahat do halak na sai malungun mambege hata ni angka panurirang di bagas joro ni Debata. Jana di hatiha i synagoge do pusat pendidikan dohot pangajaran ni halak Jahudi. Jadi mansai bahat do halak na adong di bagas joro ni Debata i. Aha ma na taparsiajari sian on? Naparjolo, Jesus ima sahalak parbarita nauli. Dipake ia do kesempatan pasahathon tona ni Debata tu angka halak na adong di luat na ni bolusNia. Jesus ima sahalak parbarita na uli na palaluhon tona ni Debata marhitehite angka pangajarion dohot angka poda na pasti jana na tutu situtu. Jamita na nijamitahonNia ima jamita na pangoluhon dohot na paluahon. Harani i diigil ayat on do hita aso gabe siboan barita na tutu situtu tu angka jolma na humaling hita. Ulang taboan barita na so pasti. Jamitanta pe angkon na pasti-pasti do nada tola jamitanta jamita na so pasti, na ragu-ragu. Biasi? Harana portibi na ta ingani nuaeng ima portibi na gok ketidakpastian. Haranii do porlu hita manjamitahon kepastian ngolu na manongtong tu angka halak na so porsaya dope. Di tongatonga ni ketidakpastian ima hita disuru Jesus mamboan barita haluaon na pasti, mamboan pangapuli na pasti, mamboan hangoluan na pasti. Napaduahon, Jesus ima guru/pangajari. Nada cukup holan hapastian-hapastian i sajo dipaboaboa dungi dipadiar songoni sajo. Tapi angkon patidahononhon do hapastian-hapastiani dibagasan ngolunta. Artina nada holan na mangajahon hapastian i hita tapi angkon tahangoluhon do hapastiani. Napatoluhon, Jesus pangubati na sumurung. Dung dijamitai dohot diajari Jesus halahi laos ihut ma muse dipatupa Jesus hamamalum tu angka namarsahit. Artina jolo dibaritahon do Jamita Na Denggan i dungi pe aso adong patupahon hamalumon ni sahit. Harani i tatulak do pangajaran na sai mangondolhon ibadah hamalumon naso pola mamaritahon Jamita Na Denggan i. Di partingkian sisaonarion bahat do halak na sai mandohoti KKR Kesembuhan Ilahi. Nada na talarang halak Kristen patupahon sanga mandohoti KKR Kesembuhan i. Bisa do dipatupa KKR Kesembuhan tapi angkon jolo dipatorang jolo Jamita Na Denggan i. Angke i do dipatupa Jesus hatiha i di Galilea dohot tu angka luat na ni bolusNia. Parjolo do Jesus marjamita, mangajari dungi pe aso dipatupa hamalumon ni sahit. Ulang tapabalik antong. Parjolo tabaen ibadah hamalumon baru pe marjamita. Di hatiha nuaeng ma lebih ekstrim angke adong do KKR Kesembuhan Ilahi na sopola adong be dibagasanna Jamita Na Denggan. Holan na pamalumhon karejo ni halahi. Kegiatan on mamanyalahi hakristenonta. Muda tapamanat muse Bibelta on nada adong di si tarsurat Ibadah Penyembuhan. Pandohan on ro sian angka malomalo ni angka parjamita sisaonarion do i. Di jaman ni Jesus nada adong ibadah penyembuhan, na adong ima pamalum na marnyae, namarsahit tapi inda dibagasan ibadah i dipatupa. Hombar tu tingki na pasahathon Jamita Na Denggan i do Jesus dipatupa pamalun na marnyae i. Jadi nada jungada Jesus kehe tu sada luat khusus laho patupahon pamalum na marsahit. Inda jungada i dibaen Jesus. Na dipatupa ni Jesus ima kehe tu luatluat laho mamaritahon Jamita Na Denggan. Angkon manat do hita manjagit angka podapoda na so hombar tu pangajaran ni Jesus. Ulang harani na giot malum hita gabe muramura hita manjagit angka poda na so hantus dope taboto artina.
Di pardalanan ni Jesus na mangebati huta tu huta i diida Ia ma angka halak na bahati ibo ma rohaNia marnida halahi, angke lebak boti gale do halahi idaon songon biri-biri na so marparmahan. Tubu ma sapasapa di hita, aha dehe na mambaen Jesus maribo ni roha ? Naparjolo, Jesus maribo ni roha harani parungkilon ni tano on. Diligin Ia ma angka namarnyae (Mt.14 :14), na mapitung (Mt.20 :34), na digomgomi sibolis (Mrk.9 :22). Napaduhon, Jesus maribo ni roha harani kesedihan dunia. Diligin Ia janda na di Nain na sedang mamboan bangke ni anakna tu kuburan (Lk.7 :13). Napatoluhon, Jesus maribo ni roha harani haleon di tano on. Nada jop roha ni Jesus marnida angka haleon na di tano on. Hara ni i do umbaen na dilehen Ia magan lima ribu halak aso ulang adong be na malean di tano on. Napaopathon, Jesus maribo ni roha harani halak na terpinggirkan (marginal). Misalna angka halak na hona sahit puru, hiv/aids, na hona penjara. Jotjot do halahon nada dijagit di parsaoran siganop ari. Hara ni i ibo ma roha ni Jesus.
Marnida bahat ni angka karejo na giot sikarejohonon dope di tano on, gabe ninna Jesus ma tu angka anak siseanNia i, "Bahat do na giot sabion, hape hum saotik do panyabi. Artina Jesus sangat membutuhkan tenaga pelayan laho patolhashon tugas panghobasion i tu angka jolma na siasian i. Nada seimbang antara tenaga parhobas tu angka sihobasanna. Memang diakui Jesus do bahaso bidang dope sisabion i tapi otik do anggo panyabina. Ise do na berhak marsuru angka panyabi i? Na berhak marsuru angka panyabi ima Tuhan. Ido umbaen didok Jesus, “Hara ni i pangido hamu ma tu nampuna sabion i, anso disuru Ia halak laho manyabi sabion i" Persoalanna sannari ise dehe na ra disuru tu sisabion i? Sadar do Tuhan bahaso na bolak dope porlak sisabion i di tano on. I do umbaen gabe sai manyapai Tuhan tu sandok jolma manisia, "Ise do sisuruonKu? Ise do na gabe sioban barita i?" Angkon tiruonta do pangokuan ni si Jesaya na mandok, "Dison do au suru ma au!" (Jes.6:8). Artina sude do hita tarpio tu tugas panghobasion i di tano on. Tergantung tu alusta be do i sudena. Taalusi ma Tuhanta hombar tu keberadaanta ikut telibat di panghobasion i. Sekecil apapun panghobasionta di jolo ni Debata Ama arga situtu doi di Ibana jana diparar Ia do hita gabe parkokasNa na matolpang. Angkon sude do hita mandok pangkuon ni si Jesaya on, "Dison do au suru ma au!". Di son do au suru ma au gabe Pandita, Guru Parlagutan, Bibelvrou, Diakones, Sintua, kontrkator, wirausaha, wiraswasta, pegawai negeri sipil, pegawai swasta, ruas na burju dohot angka naasing na laho marhobas pasahatho Jamita Na Denggan i tu sudena na humaliang hami. Artina dohononta ma tu Tuhan, “Rade ma au suruonmu Tuhan”.



Jakarta, Awal Desember 2007



Ramli SN Harahap

BAHAN KHOTBAH

“HOT DO HAHOLONGAN NI TUHAN I DI HITA”
Jesaya 46:3-4


Angka debata ganaganaan nada margogo i paluahon dirina sandiri apalagi ma giot paluahon halak na asing (1-2). Debata Bel[1] dohot Nebo[2] ima ganaganaan ni halak Babilonia. Madung lolot dewa on disomba halak Babilonia laho manghirim hamajuon dan hasukseson (pat. Dan.5:4). Disomba halahi do dewa on hape nada bisa mangurupi halahi jumpa masa hamaolon di ngoluna. Nada jugada margogo patung i laho mangalo musu ni halahi na sai torus mamorangi halahi. Gabe dianggap halak Babilonia do sarupa Bel dohot Nebot tu Jahowa. Harani i dipaboa Debata do tu halahi aha na giot tarjadi tu ganaganaan ni tangan ni halahini i. Ditutungi jana ditapori halahi angka debatana, dibaen nada i Debata. Hum patung na nibaen sian hayu dohot batu sajo do i antong na nibaen ni tangan ni jolma; hara ni i do umbaen na bisa disegoi jolma. Na jumorbut muse ro ma angka mara tu tongatonga ni bangso i marhitehite bangsi Asyur hape nada margogo muse patung na disomba ni halahi i paluahon halahini sian parmaraan i.
Debata na sintong nada jungada mangagohon bangso-Na. “Ale pomparan ni si Jakob, tangihon ma Au…” Pandohan on pataridahon Debata na mangolu nada padiarhon angka bangso-Na ditaluhon musuna. Nada sarupa hagogoon ni Jahowa dohot debata Bel sanga Nebo. Mamungka sian bortian, Hutuhuk hamu; mamungka sorang, Huhunti hamu. Holong ni rohan ni Jahowa tu na porsaya i mamungka sian bortian lopus matobang jana ubanon obuk. Artina Jahowa manjagahon bangso Israel sian nasa mara. Nada dipaloas TUHAN sanga ise pe manyosak halahi; digorahon Ia angka raja laho mangondingi halahi (pat. Ms.105 :12-15). Songon halihi na mangajar anakna habang, ditarehon habongna anso ulang madabu. Songon i do TUHAN manjagahon Israel, anso ulang madabu (Pangarataion 32:11). Madung taida sanga aha Na dibaen Tuhan maradopkon halak Mesir, jana sanga songon dia dibaen Tuhan maroban bangso Israel mardongan kuaso na godang songon unggas rajawali na maroban anakna di ginjang ni habongna. Musa nada sabar di tingki na mamboan bangso Israel haruar sian Mesir, tapi Tuhan sobar do mangaramoti sude ngolu ni bangso i (Ba.Rasul 13:18). Madung diramoti Tuhan halahi sian bortian dope lopus tu sadari on. Muda songoni ma sobar dohot holong ni Tuhan mangaramoti ngolunta siganop ari, antong tama ma tutu sombaon jana pujionta denggan basa dohot holong ni rohaNa i tu hita. Harana sanga ise na tubu dibagasan Tuhan i pasti do diramoti Ibana ro di ujung ni ngoluna. Pangaramotion ni Tuhan i nada tanggungtanggung. Tanggung jawab ni Tuhan i nada golomgolom riaria. Tapi pasti ro di salolot ni lolotna. Hara ni i tapuji ma Tuhan i tongtong angke Ibana partobus hian.
Marjanji do Tuhan paboa nada tadinghononNia bangsonai. Au Debatamunu, giot mangondihon hamu; lopus matobang jana ubanon obukmunu. Au na manompa hamu, sai na sarihononKu do hamu, sai na paluaonKu jana urupanKu hamu. Muda pamatang ni jolma i muda mur matobang mur tu galena nama. Nada lobas ia be bagi namahua. Tapi anggo holong dohot pandonganion ni Tuhan nada mur gale. Tapi sai na dongananNa do halak na porsayai dung matobang halahi. Muda pe nada adong be donganna na ra mangurupi ia di hagaleonna, na sai rade do Tuhan i mandongani halahi di hatotobangna. Sai tongtong do Debata na gabe pambelanta; tanganNa na so ra mantak i panungkolinta. Dipaorot Ia musu sian jolonta, disuru Ia hita mangaropuk sude alonta (Pangarataion 33:27). Pangaramotion ni Tuhan lobi sian pangaramotion ni sahalak simatobang tu angka anakhonna. Na giot idaonta sian on ima : naparjolo, sude bangso Israel i angkon torus do manghirim di pangaramotion ni Tuhan di ngoluna. Harana holang pangaramotion ni Tuhan do na manongtong ro di salolot ni lolotna. Paduahon, pangaramotion ni Tuhan nada jungada manadinghon bangso i, tapi muda pangaramotion ni jolma adong do batasna. Nada tarbaen jolma mangaramoti dirina sanga pe keluargana lopus tu na matobang. Isarana sada simatobang na dung tobang situtu belum tentu bisa diparorot angka anakhonna dohot denggan. Tapi Tuhan torus do mangaramoti halahi di hatotobangna. Patoluhon, hot do pangaramotion ni Tuhan sian dakdanak lopus tu na matobang. Muda dung dihaholongi Tuhan nada dipadiar Ia na di haholonganNa i marsiak bagi. Tapi holong ni Tuhani torus di mandongani hita di pardalanan ni ngolunta.




Jakarta, Awal Desember 2007





Ramli SN Harahap

[1] BEL (bel), (bal): goar pamioon ni debata Bah (sanga BAAL), di Padan Na Honok dohot di buku Apocrypha digoaran do on si Marduk sanga pe Merodach, dewa na manggomgomi Babilonia (pat. Jes. 46:1; Jer 51:44; Barukh 6:41). Adong muse do halak namanyarupahon Bel dohot Baal; adong muse do na manyarupahon ia dohot Belus, bahkan adong na mandokhon ia raja ni halak Babilonia na parjolo dung habis angka ganaganaan. Nebo dianggap halahi do songon panurirang Disarupahon muse ma Bel songon si Belshazzar, Nebo songon Nebuchadnezzar.
[2] NEBO (ne'-bo) (nebho; bahasa Asyria Nabu): ima debata ni halak Babilonia. Di bagasan mitos ni halak Babilonia Nebo ima anak ni Bel-merodach (Jes 46:1). Ingananna na khusus ima di Borsippo.

BAHAN KHOTBAH

“PAMALUM NA NAMARSAHIT DI PARIDIAN BETHESDA”
Tanda halonganan pamalum na marsahit on nada dipaboa sude angka parbarita nauli na mandokhon holan di Galilea do tanda halongangan i. Tapi si Johanes manyurat sada tanda halongangan i di Jerusalem. Tingki i masa do parpestaan di Jerusalem ima pesta Paska. Dung i adong ma pesta ni halak Jahudi, gabe dohot ma Jesus tu Jerusalem. Adong piga-piga pesta na adong di halak Jahudi ima : a) Pesta Purim na biasa dilaksanahon tanggal 14-15 bulan Adar/Desember (Est.3:7, 9:24); b) Pesta Undung-undung Bulung Rata (Joh.7:2) na ditoruskon tu pesta Pantekosta di bulan September; c) Parningotan Pangompoion Bagas Ni Debata (10:22) di bulan November; dohot d) Pesta Paska (2:13; 6:4; 13:1) dohot angka pesta-pesta na asing na so pola targoaran di son. Songon halak Jahudi, Jesus sai torus do mandohoti pesta-pesta ni halak Jahudi on harana tiap taon do halahi mangarayahon pesta-pesta on. Pesta na biasa dipatupa di Jerusalem ima pesta Paska. Jadi kehe ma Jesus tu pesta Paska i na maringanan di Jerusalem. Sian on diajari do hita paboa Jesus sai mangharingkothon mandohoti sude angka karejo di tonga-tonga ni masyarakat dohot di tonga-tonga ni parlagutan i (pat. Ibrani 10 :25).
Di Jerusalem adong ma sada "Horbangan Biri-biri," jonok tu paridian na digoari di bahasa Heber Bethesda.[1] Paridian on dipajongjong aso adong inganan paridian dohot parlangelangean (patudos B.Rasul 27:43). Marragam rupo do pandohan ni paridian on, adong na mandokhon: Bezatha, Bethzatha, Betzetha, Belzetha, Belzatha, Berzeta; dohot Bethsaida. Tapi na paling jotjot didokhon goarna ima Bethesda, muda di bagasan bahasa Heber (Bethchasdah) narmarlapatan ma i bagas asi ni roha (the house of mercy). Harana di paridian on adong asi ni roha ni Debata Ama laho pamalumhon sudena angka na marsahit dohot angka na marsitaonon. Inganan paridian on nada pola manggarar agia aha pe harana holan mangasahon huaso ni Tuhan do umbaen na malum sahit ni na marnyae i. Halak Jahudi sandiri pe nada jungada marpikir laho manjagit pajak sanga bayaran sian angka halak nadung malum sian paridian Bethesda i.
Mansai bahat do angka na marnyae na so tolap gogo be. Tapi sian sude na marnyae i, holan sahit na tolu on do na dipaboa tu hita ima na mapitung, na timpang, dohot na pangpangon. Biasi holan on di paboa si Johanes? Angke holan na marsahit na sitolu rupo on do na so margogo mandabuhon dirina parjolo tu paridian i, muda manggulsak aek Bethesda i. Gabe sai lumolot ma halak na marnyae sitolu nyae on malum sian sude angka namarnyae di inganan i. Na mapitung i, nada bisa diligi ia muda manggulsak aek i, gabe nada tarbaen ia parjolo be marlange di paridian i. Songoni muse na timpang i. Diligin ia do aek manggulsak tapi nada bisa ia hipas manimbung tu paradian Bethesda i. Mur ma muse na pangpangon i, atik pe diboto ia madung manggulsak aek i, tapi nada tarbaen ia morot sian podoman ni i laho manimbung tu aek paridian i. Jadi muda so adong halak na mangurupi halahi, sapanjang manyahena nada bisa halahini malum sian nyaena i. I do umbaen pola 38 taon sada bayo nada jungada dope ia dapotan kesempatan parjolo dung manggulsak aek i. Gabe lolot ma ia marsitaon on. Ise do na ra mangurupi ia aso dapot ia hamalumon i? Holan Jesus do na ro mangaligi ia di nyae na niadopan nia i. Dung ro Jesus gabe dipamalum ma ia so pola ingkon masuk tu aek i. Hita angka dongan, bahat do nuaeng di tongatonganta na gale angka na mapitung, na timpang dohot angka napangpangon naso tarbaen halahi haruar sian nyae ni halahi i. Adong do nuaeng on angka keluarga marpulupulu taon diarsahi angka anakhonna, adong do angka keluarga na marpulupulu taon marhosom ni roha tu angka donganna, dohot angka na asing i. Sapa-sapa di hita nuaeng, ise do na ra mangurupi halahi haruar sian sahit ni halahi i? Alusna ima hita angka na porsaya na rade rohana manyurduhon tanganna mangurupi halahi na mapitung, na timpang dohot napangpangon i, aso dapot halahi hamalumon na sian Tuhanta i. Mansai bahat do angka donganta na marsahit di Rumah Sakit, na marsitanonon di penjara, natumatangis di sihabunian. Hita ma kehe tu si laho mangubati roha ni halahi na gale, na magopu aso margogo halahi dapotan haluaan na sian Tuhan Jesus.
Hamamalum na sian paridian Bethesda i mijur marhitehite surusuruan ni Tuhan tu bagasan paridian i, manggaor aek i. Jana sanga ise sian na marnyae i parjolo masuk tu paridian i hatiha manggulsak aekna i, malum ma nyaena i; sanga na nyae aha pe angkon malum. Pangubation na sian surusuruan i, ima huaso na sian Debata do i na marhuaso laho pamalum sudena angka ragam ni nyae. Surusuruan ni Tuhan margogo manggulsak aek i paradehon hamalumon tu sude na dung paintehon hamalumon ni sahitna be. Suang songoni do panghobasionta di tongatonga ni parlagutan i. Surusuruan ni Tuhan i sasintong na torus dope manggulsak hamalumon ni sahit ni angka na porsaya i marhitehite aek hangoluan i. Di pake Jesus do sude angka panghobasionta di tongatonga ni Parlagutan i pabaorhon hamalumon ni nyae na adong di pardagingon dohot partondion ni ruas ni Tuhan i.
Taligi ma jolo sada bayo nadung tolu pulu salapan taon honokna marnyae. Nyae nia i mansai poran situtu. Madung gale ia pamatangna, nada marguna be angka pangurupi na dipake ia salolotna on laho pahusorhon pamatang ni i tu paridian Bethesda i. Hira na di bagasan penjara do panghilalaanna, angke nada adong na bisa tarkarejohon ia be. Lumolot noma ia marnyae sian na hisar jana pola do giot mago panghirimon nia tu hamalumon. Sianon taida bahaso nada jungada hape do angka Malim, Farisi, Siboto surat tu paridian (Rumah Sakit) Bethesda on. Nada adong program ni halahi mangurupi na gale pamatang na di rumah sakit Bethesda i. Di situasi si songoni ro ma Jesus tu RS Bethesda i jana pasuo dohot bayo na dung lolot payak dipodomanna i jana huhut didodok Jesus ma tusia, "Giot dehe ho malum?". Angke diboto Jesus do nadung lolot sajo bayo i payak dipodomanna jana nada adong namangurupi ia muda marhusor aek i. Dialusi bayo na marnyae i ma, "Nada adong donganku dison Tuhan na pamasuk au tu paridian i muda hatiha manggulsak aek i. Jadi hatiha giot masuk dope au tu paridian i, hape ma dipajolo halak na asing masuk." Sian alusi diboto Jesus do bahaso malungun do bayo i di hamalumon. Sian on taligi bahaso di kesibukan ni Jesus mangajari dohot manjamitai angka na porsaya i, disompathon ia do mangebati inganan ni angka na marsahit ima rumah sakit. Ro do Jesus tu inganan ni na gale pamatang laho mangurupi halahi di hagaleonna bahkan mangalehen haluaan marhitehite hamalumon ni nyae ni halahi. Antong sada tugas na arga do on di hita angka sisean ni Jesus sadarion. Aso taharingkothon manangianghon huhut mangebati angka donganta na gale pamatangna harani nyae na ampe di pamatangna. Ai donganta do halahi na di haholongi Jesus. Hita pe angkon tahaholongi ma halahi jana tapaboa jamita na denggan i tu halahi aso dapotan hamalumon halahi sian nasa nyaena be.
Sapasapa ni Jesus on angkon porlu begeonta. Harana nada holan tu namarnyae si 38 taon i sapasapa i. "Giot dehe ho malum?". Sapasapa on lalu ma tu hita muse. "Giot dehe ho malum sanga sesa dosamu?". Bahat do halak Kristen nuaeng nada ra ia sesa dosania. Nada jop rohania malua ia sian hajahaton. Umjop do rohania mangolu di hagolapan sian mangolu di hatorangan. Muda bayo i, 38 taon ma ia marnyae gabe malungun do ia hamalumon. Muda hita mapiga pulu taon hita di bagasan dosa, ma piga pulu taon hita mangolu dibagasan hajahatan. Giot dehe hita malua sian i? Muda giot do hita malua sian i sudena alusi ma Jesus di tingki on aso malum dihilala ho (pat.Mat.8:3).
Namangihut muse muda taparateatehon cara ni Jesus giot pamalum bayo na marnyae i, agak andul do sian na somal. "Jongjong ma ho, oban lagemi jana mardalan ma ho" Biasana muda giot malum na marnyae angkon marlange do ia tu paridian Bethesda i dung jolo manggulsak aek paridian i. Tapi hatihai Jesus pamalum bayo i nada pola disuru Jesus ia masuk tu paridian i, holan sandok hata do gabe malum ma dilala bayo i. Biasi songoni? Naparjolo, Jesus patuduhon bahaso cara pangubationNia jumeges sian aek paridian Bethesda i. Harana hamalumon ni bayo i nada holan malum boti ia, tapi gabe margogo situtu do ia mamboan lagenia i jana mardalan. Paduahon, Jesus paboahon bahaso sanga na ise pe na marnyae muda ro tu Jesus angkon dapotan hamalumon atik pe di ari Sabat i. Napatoluhon, Jesus mangalo tradisi hamalumon ni halak Jahudi tingki i, nada holan sian aek paridian Bethesda sajo dapot hamalumon tapi dibagasan Jesus sandiri do mual ni hamalumon na sanggam.




Jakarta, Awal Desember 2007





Ramli SN Harahap
[1] (be-thez'-da) Bethesda sanga beth chicda', "bagas asi ni roha = house of mercy"; na asing mandok Bethzatha and Bethsaida. On ma mambuktihon paboa si Johanes manyurat Evangelium na painte so sego dope Jerusalem harana jeges dope paridian i di tingki ro Jesus tu Jerusalem.

BAHAN RENUNGAN

”KRISTUS PENGANTARA (SYAFAAT) KITA” (Ibrani 7 : 23 - 28)

1. Bahan sermon kali ini adalah merupakan lanjutan dari bahan-bahan sermon sebelumnya. Jika kita perhatikan Almanak GKPA, memang dalam bulan Okotber 2006 ini kita difokuskan membahas tentang Kitab Ibrani. Memang harus kita akui bahwa kitab Ibrani ini ditulis bagi orang Kristen Yahudi yang sedang mengalami penganiayaan dan keputuasaan. Jika kita bandingkan dengan situasi kita saat ini, hal ini sangat “serupa” tapi “tidak sama”. Kita mengalami penganiayaan di beberapa tempat misalnya penembakan Pdt.Irianto Konkoli,STh (Sekjed GKST) ketika sedang belanja di Poso, penutupan beberapa Gereja di daerah Bekasi-Tanggerang dengan memakai “Peraturan Dua Mentri No.9 dan 8 tahun 2006”. Masyarakat yang juga termasuk di dalamnya warga Kristen mengalami “keputusasaan” karena situasi alam dan ekonomi yang tidak mendukung. Misalnya kasus “asap” akibat pembalakan hutan di Sumatera dan Kalimantan, kasus “lumpur panas” PT.Lapindo Brantas di Sidoarjo, musim “kemarau” yang berkepanjangan hingga saat ini. Namun yang jelas bahwa kitab Ibrani ditulis untuk meneguhkan iman para umat Kristen melalui: (1) untuk tetap mempertahankan pengakuan kita terhadap Kristus hingga pada kesudahannya, (2) untuk maju terus menuju kedewasaan rohani dan (3) untuk tidak kembali kepada kehidupan di bawah hukuman dengan cara menerima dan mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.
2. Ay.23-24 Untuk membahas kedua ayat ini kita harus melihat keutuhan ayat ini yang dimulai dari ay.20-25. Dikatakan dalam penjelasannya bahwa ke-Imam-an menurut peraturan Melkisedek adalah “harus disumpah” sedangkan untuk imamat yang biasa tidak. Misalnya dalam Mzm.110:4, “TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek." Gagasan bahwa Allah mengangkat sumpah adalah gagasan yang mengherankan. Mengapa? Sebenarnya sumpah hanya diperuntukkan bagi manusia saja. Manusia sering kata-katanya tidak bisa dipercaya sehingga dibutuhkanlah sumpah untuk membuktikan kebenaran perkataannya. Perkataan Allah selalu benar, maka Allah tidak perlu bersumpah. Jadi jika Allah sampai menetapkan suatu pernyataan sumpah, maka pernyataan itu sungguh luar biasa pentingnya. Mengapa penting? Karena imamat biasa dapat mati dan lenyap, sedangkan keimamatan Yesus Kristus tidak dapat lenyap, karena Allah telah bersumpah bahwa imamatNya akan berlangsung untuk selama-lamanya.
3. Kemudian Yesus disebut sebagai jaminan Perjanjian Baru (Yunani: EgguoV (egguos) = jaminan). Seorang egguos adalah yang memberikan kepastian atau jaminan jika meminjam uang ke bank dan atau juga orang yang bersedia menjadi jaminan bagi orang yang sedang ditahan. Seorang egguos adalah sesorang yang menjamin bahwa sesuatu pasti dapat dilakukan dengan sungguh dan hormat. Artinya jika kita ragu akan pertolongan Tuhan kepada kita maka jaminan yang pasti adalah Yesus sendiri yang akan sungguh-sungguh dan hormat melakukan itu kepada kita. Jangat takut dan ragu akan pemenuhan janji Tuhan itu JaminanNya sudah ada di antara kita yaitu Yesus Kristus.
4. Keimaman Yesus itu tidak untuk sementara saja namun untuk selama-lamanya dan tidak akan beralih kepada orang lain. Kata tidak beralih (Yunani: aparabatoV - aparabatos) adalah istilah hukum, yang artinya tidak dapat diganggu gugat. Kata itu menerangkan sesuatu yang menjadi milik orang tertentu dan yang tidak dapat dialihkan ke orang lain. Dengan demikian jelaslah bahwa keimaman Yesus itu tidak akan pernah beralih kepada siapa pun namun Yesus tetap untuk selama-lamanya (Yun: parameneih - paramenein) Dari perkataan ini dapat disimpulkan bahwa hanya di dalam diri Yesus-lah satu-satunya jalan menuju Allah (bd.Yoh.14:6), dan Yesus akan tetap melayani manusia sampai selama-lamanya.
5. Ay.25 HIDUP SENANTIASA UNTUK MENJADI PENGANTARA (SYAFAAT). Kristus tinggal di sorga di hadapan Allah Bapa (8:1), memohon syafaat bagi setiap pengikutNya sesuai dengan kehendak Bapa (bd.Rm.8:33-34; 1Tim.2:5; 1Yoh.2:1). Kata syafaat artinya perantaraan (pertolongan) untuk menyampaikan permohonan kepada Allah. Melalui pelayanan syafaat Kristus, kita mengalami kasih dan kehadiran Allah serta memperoleh kemurahan dan kasih karunia untuk menolong kita dalam segala macam keperluan (4:16), godaan (Lk.22:32), kelemahan (4:15; 5:2), dosa (1Yoh.1:9; 2:1) dan pencobaan (Rm.8:31-39). Doa Yesus sebagai Imam Besar bagi umatNya (Yoh.17) dan keinginanNya untuk mencurahkan Roh Kudus atas semua orang percaya (Kis.2:33), membantu kita untuk memahami apa yang terkadung dalam pelayanan syafaat Kristus. Melalui doa syafaat Kristus, setiap orang yang datang kepada Allah dapat menerima kasih karunia untuk diselamatkan dengan sempurna. Doa syafaat Kristus selaku Imam Besar kita sangat penting untuk keselamatan kita. Tanpa doa syafaat itu dan tanpa kasih karuniaNya, maka kemurahan dan pertolonganNya yang disalurkan kepada kita melalui doa syafaat tersebut, kita akan jauh dari Allah, menjadi hamba dosa dan Iblis kembali sehingga mendatangkan hukuman kekal yang patut diterima. Satu-satunya harapan kita adalah datang kepada Allah oleh Kristus dengan iman (1Ptr.1:5). Perhatikanlah bahwa Kristus tidak tetap menjadi pembela dan pengantara bagi mereka yang menolak untuk mengaku dan meninggalkan dosa serta meninggalkan persekutuan dengan Allah (bd.1Yoh.1:5-7,9; 3:10). PerantaraanNya untuk “menyelamatkan dengan sempurna” hanya berlaku bagi “semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah” (bd.4:16). Tidak ada keselamatan dan jaminan bagi mereka yang dengan sengaja berdosa dan menolak untuk mencari Allah (10:21-31; baca Amos 5:6a). Karena Kristus satu-satunya pengantara dan Jurusyafaat kita di sorga, setiap usaha untuk memandang malaikat atau orang-orang kudus yang sudah meninggal sebagai pengantara dan memanjatkan dosa kepada Bapa melalui mereka adalah sia-sia dan tidak Alkitabiah (bd. Kol.1:2; 2:18).
6. Ay. 26-28 IMAM BESAR YANG KITA PERLUKAN. Penulis Ibrani seterusnya menjelaskan tentang Yesus sebagai Imam Besar dengan beberapa karakter seperti:
Yesus adalah suci (hosion). Kata ini selalu melukiskan seseorang yang dengan penuh kesetiaan melakukan kewajibannya di hadapan Allah. Dia tidak munafik yang hanya baik di depan mata namun di belakang menjadi jahat. Hosios mengandung kebaikan yang paling besar, yaitu kebaikan yang murni dalam pandangan Allah. (Dipadao do sifat hurang denggan isarana: muda patampak rap juguk, tapi muda dung marsipudian manghatai dongan).
Yesus tidak pernah salah (akakos). Akakos artinya bersih dari kejahatan sehingga tinggal hanya yang baik saja. Kata ini melukiskan seseorang dan pengaruhnya terhadap sesamanya. Seseorang dikatakan akakos karena ia sudah begitu dibersihkan sehingga kehadirannya bagaikan bahan pembersih (tapi bukan sejenis deterjen), dan hatinya hanya da cinta yang penuh kasih dari Tuhan.
Yesus tanpa noda (Amiantos). Amiantos melukiskan seseorang yang sama sekali bebas dari noda-noda yang menghalang-halanginya untuk datang dekat kepada Allah.
Yesus adalah yang terpisah dari orang-orang berdosa. Ungkapan ini tidak berarti bahwa Yesus bukan manusia nyata. Ia berbeda dari orang-orang berdosa sebab, meskipun Ia menghayati semua pencobaan, Ia dapat menaklukkannya dan muncul tanpa dosa. Perbedaan antara Dia dengan manusia lain bukannya karena Ia bukan manusia sepenuhnya, tetapi karena Ia adalah manusia dengan segala keutamaan dan kebaikannya.
Yesus lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga. Dengan ungkapan ini penulis surat Ibrani berpikir tentang pemuliaan Yesus. Jika ungkapan no.4 di atas menitik-berartkan kesempurnaan kemanusiaanNya, maka ungkapan ini menitik-beratkan kesempurnaan ke-AllahanNya.
7. Selanjutnya penulis Ibrani memperkenalkan segi lain menjelaskan bahwa imamat Yesus lebih unggul daripada imamat Lewi. Imam-imam besar lain bisanya mempersembahkan korban untuk dosa-dosanya sendiri, karena ia adalah juga manusia yang penuh dosa. Hal ini dikaitkan pada Hari Penebusan atau Hari Pendamaian, dimana pada hari itu Imam Besar melaksanakan tugasnya paling utama. Hari itu adalah satu-satunya hari dalam setahun dimana Imam Besar secara pribadi melakukan persembahan korban. Acara pertama adalah persembahan korban untuk dosa-dosa Imam Besar itu sendiri. Persembahan korban yang paling besar dalam imamat Lewi mulai dengan persembahan korban bagi dosa-dosa Imam Besar itu sendiri. Tetapi justru persembahan korban yang demikian itu yang tidak pernah diperlukan Yesus, karena Ia tidak berdosa. Imam Besar menurut imamat Lewi adalah orang berdosa mempersembahkan korba-korban hewan bagi manusia yang berdosa. Sedangkan Yesus adalah Putra Allah, tanpa dosa, dan mempersembahkan diriNya sendiri untuk dosa semua manusia. Yang menentukan seseorang menjadi Imam Besar menurut imamat Lewi adalah hukum; sebaliknya yang memberikan jabatan imam kepada Yesus adalah sumpah Allah.

KESIMPULAN:
1. Penetapan bahwa Yesus Kristus sebagai Imam Besar melalui “sumpah” Allah menjadikan Yesus sebagai jaminan bagi setiap orang percaya bahwa Allah akan menepati janjiNya kepada umat percaya. Jaminan ini tidak akan beralih kepada siapa pun sehingga jalan satu-satunya menuju Allah ialah hanya Yesus sendiri.
2. Yesus adalah satu-satunya Jurusyafaat manusia kepada Allah bukan para orang-orang kudus.
3. Imam Besar yang kita perlukan bukan Imam Besar yang mempersembahkan korban hewan yang hanya menghapuskan dosa-dosa Imam Besar itu saja melainkan Imam Besar yang kita perlukan ialah Yesus yang mengorbankan diriNya yang sekalipun dia tidak berdoa agar seluruh umat manusia memperoleh keampunan dosa.


Ramli SN Harahap fidei’06 261006

Selasa, 12 Februari 2008

”METODE AGAR HIDUP TETAP TEGAR DI USIA LANJUT”

”METODE AGAR HIDUP TETAP TEGAR DI USIA LANJUT”[1]
( 2Korintus 4 : 16 )


Pengantar

Tulisan ini merupakan bahan Sermon Lansia (Lanjut Usia) di GKPA Penjernihan Resort Jakarta I Distrik IV: Jawa-Sumbagsel. Seluruh para lansia merasa bahwa bahan ini sangat berarti bagi usia lainnya misalnya bagi kalangan muda juga termasuk bagi para hamba Tuhan. Oleh karenanya mereka meminta agar bahan ini disebarluaskan melalui media Sioban Barita GKPA. Tentunya bahan ini telah kami perbaiki setelah mendengar masukan dari diskusi Lansia tersebut. Harapan kami tulisan ini dapat menambah pengetahuan dan iman bagi para pembaca yang budiman.


1. Salah satu penemuan paling menarik di bidang gerontologi (ilmu mengenai orang lanjut usia) adalah bahwa setiap orang ternyata sekaligus memiliki tiga usia yang berbeda: Usia kronologis yang dinyatakan dalam jumlah tahun seseorang hidup; usia biologis yang dinyatakan dengan kondisi atau keadaan kesehatan tubuh seseorang dan yang terakhir adalah usia psikologis yang diukur dari bagaimana seseorang merasa dan bertindak sebagai orang yang lanjut usia (lansia). Sangat penting bagi para lansia menghindari pandangan sempit dan fatal, yang menjadikan usia hanya ditandai dengan kalender saja, usia kronologis, yakni norma untuk perasaan dan perbuatan seseorang. Beberapa orang cepat menjadi tua secara biologis karena mereka merasa tua. Sebaliknya kita juga menjumpai orang-orang yang berusia 80-an yang merasa lebih muda daripada mereka yang berusia separuh baya. Di samping itu juga bisa kita pahami bahwa ada juga usia teologis, yaitu usia yang ditambahkan kepada seseorang akibat iman dan doanya kepada Tuhan. Misalnya, Raja Hizkia diperpanjang umurnya lima belas tahun akibat permohonannya kepada Tuhan (2Raja 20:1-6). Bagaimanakah caranya agar hidup kita tetap tegar di usia lansia?
2. Pertama: MAKIN LANJUT USIA, TETAPI TIDAK MENJADI TUA (2Kor.4:16). Umumnya istilah lanjut usia bermakna negatif, karena tua berarti berkeadaan uzur, sakit-sakitan, kurang tidur – tanda-tanda merosotnya sisi kehidupan. Sebagian orang menyangkali usia tuanya dan mempertahankan kemudaannya yang hilang bagai anak ayam yang enggan ke luar dari telur. Siapa pun tidak mampu menahan proses penuaan. Ia mulai menjadi tua sejak saat lahir. Pernahkah kita berpikir bahwa ada kemungkinan makin tua, tetapi tidak menjadi tua? Jika kita makin tua, kemampuan reflek, penglihatan, dan daya dengar kita berkurang. Langkah kita lambat. Manusia lahiriah kita makin merosot. Kosmetik dan krim kecantikan tidak mampu menyembunyikan keriput dan noda ketuaan. Tetapi Yesus berkata, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Mat.6:27). Namun, tua itu hanya ada dalam pikiran. ”Manusia batiniah kita dibaharui dari sehari ke sehari“. Selama ada harapan, cita-cita, aktivitas kehidupan dan semangat kita akan dibaharui. Tidak akan ada keriput dalam jiwa kita. Janji-janji saling mengasihi saat pemberkatan perkawinan, menguatkan para lansia untuk hidup selama mungkin. Kita makin tua, tetapi jangan biarkan diri kita menjadi tua.
3. Kedua: JANGAN PUTUS ASA (Yer.18:1-6). Setelah dewasa kita sering merasa kecewa bila menengok masa lalu kita. Kata “seandainya” – sungguh menusuk jiwa dan menyiksa perasaan kita di malam hari. Beberapa hal tidak terwujud seperti yang kita harapkan. Kita telah mengalami berbagai kekecewaan berat dan cita-cita yang tidak tercapai. Terlalu sering kita mengalami hidup bukan sebagai orang yang terbaik. Ketika Yeremia memberitakan firman Tuhan kepada umat Israel, mereka seperti tanah liat lama yang akan dibuang. Mereka tidak seperti yang diharapkan Tuhan. Harapan cerah untuk menjadi umat perjanjian Allah telah dihancurkan oleh sikap penolakan mereka yang keras kepala. Namun, Tuhan masih mempunyai rencana untuk tanah liat lama tersebut. Dengan kesabaran dan kebaikan yang tak terhingga, Tuhan membentuk kembali tanah liat lama itu hingga beroleh wujud baru dan lebih indah. Dari tanah liat yang telah dibentuk kembali itu muncullah harapan bagi masa depan. Kita harus memperhatikan dan menyadari bahwa jika kita mau berada di dalam tangan Tuhan, kita tidak perlu putus asa. Semua dosa kita telah diampuni oleh anugerahNya; dan bagaimana pun juga, dalam misteri pemeliharaan Tuhan, bahkan kegagalan-kegagalan kita pun dapat diampuni.
4. Ketiga: BERGANTI ARAH, BUKAN PENSIUN (Bil.8:15-26). Seorang psikolog berkata, “Dalam masa pensiun kita perlu mendengarkan diri sendiri. Kembangkanlah aspek-aspek baru dalam diri kita. Temukanlah hal-hal yang belum kita lakukan dan hal-hal yang menarik yang selama ini kita biarkan. Buktikanlah pada diri sendiri bahwa kita masih mempunyai cadangan kekuatan mental dan fisik”. Kata pensiun bisa menyesatkan. Umumnya orang membayangkan pensiun dengan tanda berhenti. Mungkin arti yang lebih baik adalah berganti arah. Berganti arah bukan secara negatif misalnya „tua-tua keladi makin tua makin menjadi – makin getek,dll“ juga bukan seperti kata orang tua di kampung, „Sarat na tobang do bayo i, sarat so suanon“. Bagi mereka yang berganti arah secara negatif ini maka baiklah mereka merenungkan Amos 4:12, „...bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu...“, Berganti arah yang kita maksud adalah secara positif. Pensiun adalah awal baru untuk melakukan yang terbaik dalam hidup kita. Kaum Lewi pensiun dari pelayanan aktifnya pada usia 50 tahun, namun bukan berarti bahwa mereka tidak aktif sepenuhnya. Mereka mulai „karier kedua“ yakni membantu, menasihati dan melayani kaum Lewi di Kemah Pertemuan. Rupanya mereka menjadi pengajar dan penasihat kaum Lewi yang lebih muda. Sebaiknya pengertian negatif tentang masa pensiun diganti dengan konsep kebebasan. Kita bebas membaca, bergaul, mengubah cara hidup diri sendiri dan menemukan berbagai prioritas baru. Dalam masa pensiun kita bebas mengembangkan angan-angan, impian-impian, bahkan juga gagasan-gagasan kita yang agaknya mustahil. Masa pensiun adalah masa berganti arah dan terus bergerak maju. Jika pada masa muda kita, kita selalu sibuk mencari hal-hal yang duniawi sehingga kita terlupa mencari hal-hal yang utama dalam hidup ini. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa berganti arah adalah berbalik kepada tujuan yang semula dan utama yaitu mencari kemuliaan Allah.
5. Keempat: PADA USIA LANJUT TETAP BERKARYA (Kej.12:1-4). Jika kita melihat di zaman ini ada seorang pria atau wanita lansia mempertahankan semangat gemar melakukan penyelidikan yang dilakukan dengan berani dan banyak akal di berbagai situasi, dan sering melakukan hal-hal yang membahayakan bahkan hal-hal yang tragis, maka orang ini dapat digolongkan seperti Ulysses. Usia Abram sekitar 75 tahun saat Tuhan memanggilnya meninggalkan rumah dan melakukan perjalanan iman istimewa. Saat-saat tersebut merupakan saat-saat kritis bagi usia hidup. Mengapa kita tidak dapat menerima kenyataan bahwa Allah dapat memakai para lansia? Tuhan akan menambah talenta bagi para lansia yang mau berkarya bagi Tuhan dan sesama. Tuhan tahu bahwa Abram punya potensi besar pada usia 75 tahun. Abram itu seperti Ulysses, tokoh yang pulang dari perang Troya sesudah perjuangan panjang dan ia berniat untuk hidup tenang. Tetapi, pejuang tua ini tidak bisa hanya duduk saja. Ulysses mencari “karya mulia” yang harus ia lakukan. Ada para lansia berbuat seperti Ulysses yang bersikap dewasa itu. Dan Abram adalah salah seorang di antaranya. Ada pepatah mengatakan, “Men sano in cor pore sano – Di dalam tubuh yang sehat, terdapat pikiran yang sehat”. Apakah pepatah ini relevan lagi bagi para lansia? Ternyata bagi para lansia, tubuh yang sehat sudah menjadi perjuangan karena penyakit sudah merupakan bagian dari hidup lansia kata pemazmur (Mzm.90:10). Namun bukan berarti bahwa di dalam tubuh yang loyo tidak dapat pikiran yang sehat. Lansia memang tubuhnya sudah mulai lemah tetapi pikiran mereka masih tetap sehat dan cemerlang. Oleh karena itu pepatah itu harus diperbaharui bagi lansia menjadi, “Di dalam tubuh yang lemah masih terdapat pikiran yang sehat dan cemerlang”. Sama dengan ungkapan itu ada juga ungkapan para tua-tua di kampung yang mengatakan, "Di naposo do gogo, di namatobangi hum roha nama“. Roha (hati) memiliki arti luas. Roha berarti sesuatu yang memberi buah dan pikiran, misalnya memberi nasihat (poda) kepada yang lebih muda. Pendeknya para lansia masih dapat tetap berkarya bagi keluarga, masyarakat dan memuliakan Tuhan kendati hanya melalui pikiran, ide-ide, nasihat dan wejangan, dan lain-lain.
6. Kelima: KASIH TUHAN BAGAIKAN KASIH KAKEK-NENEK (Mzm.103:13-14). Di sepanjang zaman kita telah mencoba menguraikan kasih Tuhan dengan berbagai ungkapan. Pernahkan kita mengumpamakan kasih Tuhan seperti kasih kakek-nenek? Kakek-nenek sering membawa hadiah bagi para cucunya, sementara mereka masih terlalu kecil untuk mengerti nilai pemberitan itu. Barulah nanti mereka sadar akan hadiah boneka atau buku cerita yang baik dari kakek-neneknya. Demikianlah Tuhan juga mengelilingi kita dengan anugerah kasih yang tanpa batas, dan kadang-kadang kita tidak menyadari berkat-berkat tersebut.

Kita harus tetap tegar bukan hanya tegar secara pysik saja, melainkan kita juga harus tegar secara iman. Tubuh bisa keriput, tetapi jiwa kita janganlah keriput. Jiwa dan iman kita harus tegar. Para Hamba Tuhan juga dalam menghadapi pergumulan dalam pelayanan harus tetap tegar secara iman. Kita harus memiliki pengharapan yang hidup di dalam Tuhan dan inilah yang terus memampukan kita tegar secara iman. Tentunya masih banyak metode dalam hidup kita ini agar kita tetap tegar dalam menghadapi pergumulan kita masing-masing. Marilah kita mengembangkannya dan membagikannya agar saudara-saudari kita dapat tertolong dan mampu tegar dalam menjalani hidupnya.


Jakarta, 23 Maret 2007




Ramli SN Harahap fidei’o7
[1] Disampaikan pada Sermon Lansia GKPA Penjernihan Resort Jakarta I Distrik IV: Jawa-Sumbagsel pada hari Jumat, 23 Maret 2007