Rabu, 29 April 2009

RENUNGAN: Matius 16:16

WHO IS JESUS?



Hingga kini ketiga Injil Sinoptik memperkenalkan Yesus terutama lewat ajarannya, lewat penyembuhan yang dilakukannya, termasuk tindakan mengusir roh jahat, dan lewat peristiwa perbanyakan roti. Orang mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya dia itu dan bagaimana ia dapat mengerjakan semua itu. Semakin disadari bahwa dia lain dari orang-orang luar biasa lainnya. Siapakah dia sesungguhnya? Dalam Mat 16:13-19 yang dibacakan pada hari raya Petrus. Petrus menyuarakan kesadaran para murid bahwa Yesus itu Mesias, anak Allah yang hidup. Penegasan ini sebetulnya satu sisi saja dalam pewartaan mengenai siapa sebenarnya Yesus. Sisi yang lain menyangkut perjalanan ke arah penderitaan, wafat dan kebangkitan Yesus yang diungkapkan ketiga Injil Sinoptik langsung sesudah penegasan akan kemesiasan Yesus.

POKOK PEWARTAAN

Memang ada pelbagai perkiraan di masyarakat mengenai siapa Yesus itu. Dan di Kaisaria Filipi para murid diajak Yesus berbicara mengenai pelbagai pendapat mengenai dirinya. Sudah matang saatnya para murid dituntun mengenali siapa dia itu sebenarnya. Mereka telah mendengar ajarannya, telah melihat perbuatannya, dan menyaksikan kekuatannya. Kini tibalah waktunya memahami siapa dia itu.

Tentu saja mulai disadari bahwa Yesus yang mempesona dan diikuti banyak orang ini ialah dia yang resmi ditugasi Allah dan kedatangannya yang dinanti-nantikan banyak orang. Dialah Mesias yang diharapkan membangun kembali umat Allah seperti dahulu kala. Dialah yang bakal memimpin orang banyak makin mendekat kepada Allah sendiri. Di dalam kesadaran orang banyak, Mesias ini ialah keturunan Daud yang akan mengawali zaman adil dan damai. Dalam keagamaan Yahudi, gagasan Mesias seperti ini disatukan dengan pengertian "Anak Manusia", seperti terungkap dalam penglihatan Daniel (Dan 7:13). Gereja Awal juga percaya bahwa Yesus ialah tokoh ini.

Keyakinan di atas mau tak mau berhadapan dengan kenyataan bahwa Yesus akhirnya mengalami penderitaan, ditolak oleh para pemimpin masyarakat Yahudi yang sah ("tetua, imam kepala dan ahli Taurat" ialah tiga macam anggota di dalam Sanhedrin, badan resmi masyarakat Yahudi) sampai dibunuh. Namun demikian, nanti dengan pelbagai cara para murid Yesus juga mengalami kebangkitan Yesus pada hari ketiga. Dan pengalaman inilah yang membuat mereka percaya bahwa Yesus itulah sungguh Mesias.

Rumusan penegasan Petrus yang disampaikan secara sederhana tapi tegas dalam Mrk 8:29 "Engkaulah Mesias" mengungkapkan pokok kepercayaan yang tumbuh dalam Gereja Awal. Bukan tanpa arti bila dalam ketiga Injil Sinoptik pemberitahuan pertama mengenai penderitaan, wafat dan kebangkitan didahului dengan penegasan Petrus mengenai siapa sebenarnya Yesus itu. Penegasan ini kemudian dipertajam rumusannya oleh Matius dan Lukas dengan cara masing-masing. Menurut Mat 16:16, Petrus berkata, "Engkaulah Mesias, anak Allah yang hidup!" (Mat 16:16). Matius menambahkan "anak Allah yang hidup" untuk menggarisbawahi bahwa Allah-lah yang memilih Yesus sebagai pewarta kehadiranNya di dunia. Matius juga bermaksud menjelaskan bahwa Mesias yang dinanti-nantikan ini bukan pemimpin politik atau penguasa yang bakal membangun kembali kejayaan Israel dengan kekuatan militer. Maklum di kalangan Yahudi harapan akan Mesias politik ini amat kuat. Persoalan ini tidak amat terasa dalam lingkungan Lukas yang bukan berasal dari kalangan Yahudi. Mereka lebih berminat memahami apakah kuasa dan kekuatan Yesus itu memang berasal dari Allah sendiri. Karena itu ditandaskan dalam Luk 9:20 bahwa Mesias tadi "dari Allah". Maksudnya, Yesus datang dari Dia dan menunjukkan bahwa Allah sendiri bertindak dalam diri Yesus untuk membebaskan manusia dari kuasa-kuasa jahat, dari penyakit, dari kekersangan batin. Inilah yang membuat Yesus betul-betul menjadi Mesias bagi semua orang.

SIAPAKAH "ANAK MANUSIA" ITU?

Ketika Yesus menanyai murid-muridnya apa kata orang mengenai siapa "Anak Manusia" ada jawaban yang bermacam-macam. Ungkapan "Anak Manusia" dipakai merujuk pada diri Yesus. Dalam kesadaran orang Yahudi pada zaman Yesus, ada kaitan antara tokoh yang dinanti-nantikan datangnya sebagai Mesias dengan penglihatan dalam Dan 7:13 yang menggambarkan tokoh yang mirip manusia itu terlihat datang mengarah kepada Yang Mahakuasa dan mendapat kuasa di bumi dan di langit.

Dengan memakai ungkapan itu Yesus hendak memperkenalkan dirinya yang sesungguhnya. Ia tidak bertanya mengenai apa kata orang mengenai ajarannya, mengenai tindakannya, mengenai kelakuannya. Ia ingin mendengar bagaimana orang menerapkan siapa tokoh yang terarah kepada Yang Mahakuasa itu, siapa "Anak Manusia" tadi. Para murid diajak menengarai pelbagai pandangan yang ada mengenai dirinya: ia seperti Yohanes Pembaptis, tokoh spiritual yang masih segar dalam ingatan orang, juga bisa dibandingkan dengan Elia, seorang nabi besar yang diceritakan telah naik ke langit dan tentunya akan kembali diutus Allah mendatangi umat pada saat-saat mereka membutuhkan dampingan dan arahan, atau seperti nabi Yeremia yang dikenal tak jemu-jemunya memperingatkan umat dan para pemimpin agar tetap setia pada Allah di tengah penderitaan dan mengajarkan kerohanian yang sejati dan bukan praktek luar-luar saja.

BAGI KALIAN, SIAPA AKU INI?

Pendapat-pendapat itu tidak bisa dikatakan meleset. Walaupun demikian, ada pemahaman yang dapat lebih menolong. Yesus menanyai Petrus dengan ungkapan yang berbeda, "Tetapi apa katamu, siapakah aku ini?" Tidak lagi ditanyakan apa kata orang, melainkan apa katamu. Juga tidak lagi dipakai sebutan "Anak Manusia", melainkan "aku". Petrus kini tampil sebagai wakil para murid yang kemudian mempersaksikan Yesus Kristus dan meneruskan wartanya. Pertanyaan Yesus kepadanya bukan pertanyaan kepada individu Petrus saja. Setelah menanyai para murid, pada ay. 15 disebutkan Yesus bertanya kepada "mereka" - yakni para murid tadi. Terjemahan LAI "apa katamu" tidak amat jelas. Memang dalam bahasa Indonesia "-mu" bisa berarti tunggal bisa pula jamak. Teks asli dalam bahasa Yunani memakai kata "kalian" yang hanya bisa berarti jamak. Maka pertanyaan tadi jelas ditujukan kepada para murid, begitu juga menurut Injil Markus dan Lukas. Dalam situasi itulah Petrus tampil mewakili para murid. Oleh karena itu, tak usah ditafsirkan bahwa di sini ada imbauan untuk menumbuhkan jawaban iman yang digarap secara pribadi, bukan rumus-rumus yang siap pakai saja. Memang iman yang dewasa dan kuat juga semakin pribadi sifatnya. Tetapi tanya jawab dengan Petrus ini bukan ke sana arahnya.

Jawaban Petrus juga mencerminkan pemahaman para murid. Memang kemudian Matius secara khusus menyoroti Petrus. Setelah penegasan tadi, pada ay. 17, Matius menambahkan episode Yesus menyebut Petrus berbahagia karena pengetahuan tadi didapat bukan dari manusia melainkan dari Bapa di surga. Kemudian dalam dua ayat berikutnya Simon disebut Yesus sebagai batu karang dasar Gereja dibangun yang tak bakal terkalahkan oleh maut, ia juga disebut pemegang kunci surga (Mat 16:18-19). Tambahan ini tidak ada dalam Injil lain.

BATU KARANG DAN KUNCI

Batu karang jadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, Yunaninya "petra", ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu menghunjam. Dikatakan juga bahwa alam maut (Yunaninya "hades", Ibraninya "syeol") takkan bisa menguasainya, maksudnya takkan dapat mematikan kumpulan orang yang percaya tadi.

Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya ialah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tak tergoyah. Petrus digambarkan sebagai tempat Yesus mendirikan umat yang takkan terkuasai alam maut.

Gambaran di atas dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga! Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tak ada jalan ke surga bagi daya-daya maut. Apa yang dilepaskannya di bumi, yakni manusia yang bila dibiarkan sendirian akan menjadi mangsa lubang syeol menganga tadi. Tidak amat membantu bila kata-kata itu ditafsirkan sebagai penugasan Petrus menjadi "juru kunci gerbang surga" menentukan siapa orang diperkenankan masuk dan dibiarkan di luar tidak peka konteks. Malah tafsiran itu akan membuat warta Injil Matius kurang terasa.

Bisakah gagasan kunci Kerajaan Surga dipakai sebagai dasar bagi wibawa takhta apostolik Paus penerus Petrus? Tentu saja, asal dilandasi dengan pengertian di atas. Bukan dalam artian juru kunci gerbang ke arah keselamatan, membuka atau menutup akses ke surga, melainkan sebagai penangkal kekuatan-kekuatan alam maut. Pernyataan itu memuat penugasan melindungi umat, bukan pemberian kuasa menghakimi.

Bacaan Alkitab Minggu, 3 Mei 2009: 1Tesalonika 2 : 13 - 20

DI BALIK PERJUANGAN BERAT: “KAMULAH SUKACITA KAMI”

Betapa melegakan, betapa membahagiakan! Demikian ungkapan seorang ibu yang baru saja menyaksikan wisuda putranya yang bungsu. Peristiwa yang kelihatan biasa-biasa itu baginya luar biasa! Betapa tidak, dalam usia relatif muda, ia ditinggal suami dan harus berjuang mengasuh enam orang anak. Dengan gaji minim seorang guru ditambah dengan berbagai kerja “serabutan”, akhirnya perjuangan panjang itu berbuah! Semua anaknya yang menyadari betapa beratnya perjuangan sang ibu, berjuang sepenuh hati untuk menyelesaikan studi sebaik mungkin dan secepat mungkin. Bahkan, ada yang mulai bekerja sementara studi. Ketika ditanya apakah ibu yang mengagumkan ini pernah merasa nyaris putus asa (mandele), ia mengaku dengan jujur: Ya, tentu saja. Tetapi, dengan pertolongan Tuhan, tegasnya, itu tidak sampai menghentikan perjuangannya demi anak-anaknya. Sudah sepantasnyalah, ibu yang telah berjuang keras itu bersukacita dan bangga melihat hasil jerih lelahnya!
Serupa tapi tak sama, sungguh berat pergumulan yang dialami Paulus dalam misinya mewartakan Kabar Baik “sampai ke ujung bumi” (Kis 1.8). Beberapa kali ia menyebutkan bagaimana ia ditindas, habis akal, dianiaya, dihempas, dihajar, didera, dipenjara (2Kor 4.8-9; 6.4-10), pendeknya “nyaris mati”! Situasi ini juga yang dialaminya ketika ia tinggal di Tesalonika. Sebelumnya, ia dipenjara di Filipi karena hasutan beberapa orang yang meraup keuntungan besar dari hasil tenungan (Kis 16:13-18). Paulus barangkali tidak menyadari “pil pahit” yang harus ditelannya dengan mengusir roh tenung dari seorang perempuan!
Namun, ia bukan Paulus yang kita kenal jika menyerah begitu saja kepada kesulitan! Memang luar biasa, tampaknya ia tidak mengenal kata “jera”, persis seperti yang ditulisnya: “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa” (2Kor. 4:8). Jadi, sama sekali tidak mengherankan jika setelah dilepaskan dari penjara, ia langsung meneruskan kegiatan misinya, “seperti biasa”. Ya, seperti biasa seolah peristiwa yang masih segar itu tidak meninggalkan trauma apa-apa.
Di Tesalonika, seperti biasa, ia mulai dari sinagoge, tempatnya beribadah secara rutin sebagai orang Yahudi (Kis. 17:1-2). Ia bersaksi tentang Mesias yang menderita sampai mati, tetapi bangkit lagi membawa kehidupan! Beberapa orang sebangsanya menjadi percaya. Namun, yang paling banyak menyambut pewartaannya justru sejumlah besar orang Yunani dan perempuan-perempuan terkemuka. Orang-orang inilah yang menyambut pewartaan Paulus bukan sebagai perkataan manusia tetapi sungguh-sungguh sebagai firman Allah (1Tes. 2:13). Paulus berhasil meletakkan fondasi bagi berdirinya gereja Kristus di kota itu. Lagi-lagi, bukan tanpa perlawanan! Paulus dan Silas kembali menjadi korban hasutan. Oleh orang-orang sebangsanya yang iri hati, mereka difitnah sebagai sebagai pengacau yang tunduk kepada raja selain Kaisar di Roma (Kis. 17:6). Situasi yang kembali memanas memaksa Paulus dan Silas meninggalkan Tesalonika.
Perlawanan orang Yahudi terhadap pewartaan Injil oleh Paulus, seperti yang diungkapkan dalam surat pertama kepada jemaat Tesalonika, harus kita renungkan dengan hati-hati. Cukup ganjil juga, Paulus berbicara seolah-olah sebagai “orang luar”, seolah-olah ia tidak termasuk orang Yahudi. Bahasanya pun bukan main tajam. “Orang-orang Yahudi itu”, tegas Paulus, “telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya kami” (1Tes. 2:15). Mereka betul-betul digambarkan sebagai orang yang tak peduli pada apa yang dikehendaki Tuhan. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, mereka dicap sebagai orang yang memusuhi semua manusia! Pernyataan Paulus terkesan begitu keras: “Sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya!”
Kita perlu berhati-hati! Pernyataan seperti ini selama ribuan tahun telah menjadi karikatur gereja terhadap umat Yahudi. Dalam kitab-kitab Injil, potret negatif ini turut dilestarikan. Begitu pula, tulisan Bapa-bapa Gereja turut mengabadikannya. Yohanes Krisostomus, misalnya, mengecam orang Yahudi sebagai penipu, sinagogenya penuh setan dan lebih najis dari tempat pelacuran. Bahkan, Bapa Reformator kita Martin Luther tidak terlepas dari sikap anti-Yahudi! Dalam suatu polemik terhadap orang Yahudi, Luther mengecam mereka sebagai pembantai manusia. Ia bahkan menganjurkan agar sinagoge mereka dibumihanguskan, kitab-kitab suci mereka disita dan mereka diusir saja ke Palestina! Sungguh tragis, gambaran anti-Yahudi senegatif itu kelak berkembang menjadi kebijakan anti-Semitik di masa Hitler yang pada masa kecilnya pernah aktif dalam paduan suara di gereja. Seperti yang kita ketahui dari sejarah, lebih dari enam juta orang Yahudi dibantai oleh rezim Nazi di bawah pemerintahan Hitler.
Ya, kita harus membaca Alkitab dengan hati-hati. Paulus dalam surat pertama Tesalonika tidak menganjurkan agar orang Kristen membenci, apalagi membalas perbuatan saudara sebangsa Yesus! Benar, Paulus mengalami penghambatan dari saudara-saudara sebangsanya. Namun, seperti yang diungkapkannya kelak dalam surat Roma, “keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah supaya mereka diselamatkan” (Rm. 10:1)! Dapat dikatakan, keinginan dan doa Paulus sama bagi saudara sebangsanya dan orang-orang dari bangsa bangsa lain.
Fokus perhatian Paulus dalam teks yang menjadi bahan perenungan kita adalah pada hubungannya dengan orang Kristen Tesalonika. Sejarah misi sudah menunjukkan betapa sulitnya masa-masa permulaan itu umumnya bagi gereja-gereja muda. Wajar saja jika terdapat resistensi terhadap apa yang dianggap “asing” dan bisa mengancam tatanan yang sudah mapan. Itu berlaku baik bagi masyarakat Yahudi maupun yang bukan Yahudi. Paulus mengalami penolakan dari kalangan sebangsanya. Orang Kristen Tesalonika yang kebanyakan berasal dari kalangan bukan Yahudi juga mengalami hal yang serupa dari teman-teman sebangsanya (1Tes. 2:14).
Oleh karena situasi yang penuh tantangan itu, Paulus yang terpaksa meninggalkan Tesalonika sewajarnya merasa prihatin! Ia ingin tahu apa yang bakal terjadi dengan jemaat yang masih muda itu. Ia kemudian mengutus Timotius ke Tesalonika untuk mencari tahu tentang keadaan mereka dan sekaligus meneguhkan iman mereka (1Tes. 3:1-2). Demikianlah semestinya hati seorang gembala jemaat yang bagaikan bapa terhadap anak-anaknya (2:11). Kabar seperti apa yang dibawa Timotius ketika ia menemui Paulus di Korintus? Ternyata, kabar sukacita. Sungguh patut disyukuri, jemaat yang didirikannya dengan perjuangan berat tetap hidup dalam firman Tuhan! Tidak sia-sia kehadiran Paulus di antara mereka (2:1)! Kabar sukacita itulah yang mendorongnya untuk menyurati mereka. Tentu tak terbayangkan oleh Paulus, surat pertama yang ditulisnya sekitar tahun 50 akan dihimpun kelak sebagai bagian Perjanjian Baru dan dibaca sebagai firman Tuhan bagi generasi Kristen selanjutnya!
Sejarah misi di tanah Batak merupakan salah satu contoh tentang tantangan yang harus dihadapi gereja yang baru terbentuk. Tidak sedikit resistensi dari masyarakat Batak terhadap kehadiran orang-orang asing yang dijuluki sibontar mata, pembawa agama asing ke tanah Batak. Sejarah mencatat, penolakan itu bahkan telah menelan korban jiwa dari pihak para pewarta Injil, seperti yang terjadi pada Munson dan Lyman di Lobu Pining. Orang-orang Batak yang kemudian menjadi Kristen juga menghadapi hambatan dari saudara-saudara sebangsanya. Apa yang terjadi seandainya para perintis pewartaan Injil itu dipaksa kembali ke negeri asal mereka hanya beberapa bulan setelah mereka “berhasil” mendirikan gereja di tanah Batak? Apakah gereja yang baru seumur jagung itu segera lenyap? Mungkin saja. Tetapi, mungkin juga tidak! Jemaat di Tesalonika adalah contoh nyata. Tanpa dampingan Paulus, tokoh perintisnya, mereka tetap berdiri di atas dasar firman Tuhan, sungguh pun mereka menghadapi tantangan berat. Benih yang ditabur tetap tumbuh. Bukan penabur yang menentukan, tetapi Allah sendirilah yang memberi pertumbuhan (1Kor. 3:6).
Kita dapat belajar dari hubungan yang “sehat” antara tokoh Paulus dengan jemaat yang dirintisnya! Walaupun peran perintis seperti Paulus tentu saja penting dan patut dikenang, iman jemaat tidak tergantung padanya. Malah, Paulus dalam bagian lain surat pertama Tesalonika menyatakan betapa hatinya terhibur oleh anak-anak rohaninya yang ternyata tetap berdiri teguh tanpa dia (1Tes. 2:7). Tidak begitu banyak contoh-contoh seperti ini dalam sejarah misi. Kebanyakan, perintis yang notabene adalah orang asing tidak langsung memberdayakan orang Kristen setempat untuk mandiri. Bahkan, menurut almarhum Uskup Stephen Neill, kebanyakan memiliki mentalitas penjajah (colonial complex). Dalam penilaian mereka, orang Kristen setempat belum mampu berdikari. Iman mereka masih belum matang. Tunggu matang dulu, dan tidak jarang sampai “kematangan”, barulah diserahkan wewenang untuk mengelola sumber-sumber daya setempat.
Sampai sekarang pun, mentalitas seperti itu masih ada. Hampir semua tergantung pada pelayan gereja yang ditahbiskan. Pendeta atau mereka yang dipanggil “hamba Tuhan” memegang peran utama sampai ke urusan yang kecil-kecil. Jemaat merasa kurang “afdal” kalau bukan pelayan tahbisan yang berdoa. Dalam bentuk yang agak ekstrem, yang terjadi adalah kultus individu. Jika ketergantungan seperti ini yang membuat sang hamba Tuhan merasa sukacita, itu namanya salah kaprah! Begitu pula, tak perlu seorang hamba Tuhan merasa bersukacita, apalagi berbangga hati, hanya karena telah berhasil mengerahkan sumber-sumber daya dalam jemaat untuk membangun berbagai fasilitas fisik yang kasatmata. Kerja keras seperti itu bukan tak berguna dan dari sudut pandang manusia boleh-boleh saja disebut “prestasi”. Akan tetapi, jika kita belajar dari apa yang ditulis Paulus, harus dikatakan, “prestasi” demikian tidak dapat dijadikan dasar untuk bersukacita. Proyek-proyek “mercu suar” tidak akan diperhitungkan pada kedatangan Tuhan!
Yang seharusnya membuat seorang pelayan Tuhan bersukacita adalah ketika firman Tuhan yang ditabur sungguh-sungguh bertumbuh dan berbuah dalam kehidupan umat. Di rumah, dalam hidup bertetangga. Di tempat-tempat kerja. Dalam sepak terjang di masyarakat pada umumnya. Ya, dalam hidup sehari-hari di luar gereja! Kemuliaan seorang hamba Tuhan dan sukacitanya terletak pada firman yang bekerja dalam hidup umat. Ya, firman yang bekerja (energeomai, 2:13), yang energinya terwujud dalam hidup orang percaya secara nyata! Itulah iman yang teruji dalam segala situasi, termasuk dalam krisis dan berbagai kesulitan. Seperti doa dan harapan Paulus, iman demikianlah yang nyata dalam kasih yang melimpah-limpah kepada saudara-saudara seiman dan juga semua orang (1Tes. 2:13). Jika itu yang terjadi, segala jerih juang yang dilakukan barulah dapat dikatakan tidak sia-sia dan benar-benar membawa sukacita! Amin.

Jumat, 24 April 2009

Renungan: ”KEBAHAGIAAN DALAM KEBERSAMAAN” ( Mazmur 33 : 12 )

”KEBAHAGIAAN DALAM KEBERSAMAAN”
( Mazmur 33 : 12 )
Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!

Apakah kebahagiaan itu?

Kebahagiaan ialah suatu keadaan perasaan aman damai serta gembira. Dengan kata lain, kebahagiaan melebihi perasaan kegembiraan. Umumnya, kegembiraan berhubungan dengan suatu kejadian atau pencapaian yang khusus, sedangkan kebahagiaan berhubungan dengan keadaan yang lebih umum seperti kesenangan hidup atau kehidupan berumah tangga. Bagaimanapun, kedua perasaan ini sangat berkaitan dan subjektif.
Kebahagiaan seseorang tidak dapat diukur atau digambarkan, dan berubah-ubah mengikuti situasi dan kondisi. Orang yang kelihatan bahagia belum tentu berbahagia, dan orang yang kelihatan tidak bahagia belum tentu tidak berbahagia. Hanya orang itu sendiri yang tahu dan merasakan apakah dia bahagia atau tidak.
Pengertian kebahagiaan berbeda-beda antara seorang dengan yang lain. Ada yang merasa bahagia kalau dia mendapat makanan, pakaian dan kediaman yang paling sederhana, terhindar daripada penyakit, kelaparan, dan perang. Sebaliknya, ada orang merasa tidak bahagia meskipun hidupnya dalam keadaan yang aman, mewah, sehat, dan senang. Ada orang merasa tidak bahagia sekalipun, walaupun dia mempunyai kuasa, status, dan kekayaan.
Umumnya seseorang akan merasa gembira jika apa yang dihayati dan diingininya dapat diperoleh dan dinikmati. Dengan kata lain, kegembiraan dan kebahagiaan sangat berkaitan dengan harapan. Ini dapat menerangkan mengapa seseorang yang hanya mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.50.000,- merasa lebih gembira dibandingkan dengan seseorang yang mendapatkan kenaikan gaji sebanyak Rp.100.000,- Keadaan ini bisa terjadi apabila orang yang mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.50.000,- hanya berharap dia akan mendapatkan Rp.30.00,- sedangkan orang yang mendapat kenaikan gaji sebanyak Rp.100.000,- merasa kecewa karena dia mengharapkan naik pangkat dan kenaikan gaji sebanyak sekurang-kurangnya Rp.200.000,- Contoh ini juga dapat menerangkan mengapa seseorang yang hanya mendapat gaji sebanyak Rp.1.500.000,- sebulan merasa lebih bahagia, dibandingkan dengan orang yang mendapat gaji sebanyak Rp.15.000.000,- sebulan.
Namun demikian, jangan kita lupa bahwa emosi dan perasaan bahagia manusia adalah bersifat fana dan sementara. Kebahagiaan tidak pernah dan tidak akan kekal abadi karena dalam kenyataan hidup, adalah mustahil sama sekali bagi siapa saja untuk memperoleh dan menikmati apa yang dia ingini. Tambahan pula, keinginan dan hawa nafsu manusia sentiasa berubah-ubah, malahan bertentangan dengan dirinya sendiri.
Semakin kita tidak merasa bahagia, semakin kuat pula perasaan kecewa, sedih, dan tidak puas hati menekan diri kita. Perasaan kecewa, sedih, dan tidak puas hati akan mendorong manusia memperjuangkan dan menggila-gilakan kebahagiaan. Akibatnya, mereka akan tergila-gila dalam mencari-cari kebahagiaan. Umpamanya, dalam cita-cita menikmati kebahagian berkat dari uang, seorang pemuda sanggup menyamun atau membunuh, dan seorang wanita mungkin sanggup menjual kehormatannya.
Memang benar, manusia mengalami kekecewaan, ketegangan hidup, serta ketidakpuasan jauh lebih daripada menikmati kebahagiaan dan kepuasan. Tetapi kalau kita sadar bahwa kebahagiaan terletak pada hidup, dan hidup itu ialah kebahagiaan, maka sudah tentu kita akan merasa bahagia selama-lamanya. Kebahagiaan tetap dapat dicari, dialami dan dirasai, jika kita puas dengan keadaan hidup yang ada pada kita (manghasabamhon aha na adong). Tegasnya, kita akan hidup penuh bahagia jika kita berpuas hati dengan keberadaan kita, sambil itu berencana memperbaiki keberadaan kita. Perbuatan memperoleh kebahagiaan dengan mengakibatkan kerugian atau kesengsaraan orang lain akan dikutuki oleh Tuhan dan masyarakat.


Apakah Rahasia Kebahagiaan?

1. Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.
2. Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.
3. Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.
4. Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin kita menunjukkan seberapa banyak kita tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan kita. Mengapa bebek disebut “bodoh”? Karena terlalu banyak bercuap-cuap.
5. Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati: memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar kita. Sebab, setiap ciptaan adalah milik kita. Kita semua adalah ciptaan TUHAN yang satu.
6. Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.
7. Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila kita menganggap mereka penting, kita akan memiliki sahabat ke manapun kita pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.
8. Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati kita terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.
9. Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara! yang tidak prinsipil.


Kesimpulan

Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurahhatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya.
Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri “Aku bebas dalam diriku”.
Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup kita dengan kebahagiaan.
Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka sebagaimana mereka adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu?

Bacaan Alkitab Minggu 26 April 2009: 1 Petrus 5 : 1 – 5

GEMBALAKANLAH KAWANAN DOMBA ALLAH


1. Seorang ahli Biblika Perjanjian Baru, Warren W. Wiersbe, menyimpulkan isi surat 1 Petrus ini dengan perkataan ‘be hopeful’, yang artinya berpengharapan penuh. Kesimpulan ini tentu merujuk kepada situasi historis yang dihadapi oleh gereja perdana atau orang Kristen pada waktu itu, yakni penderitaan. Hal ini tentu merujuk kepada sejarah gereja perdana (gereja mula-mula), di mana orang Kristen (gereja) mengalami penghambatan dari kekaisaran Romawi. Oleh karena itu dapat dibayangkan bahwa orang Kristen pada waktu itu sangat menderita di bawah tekanan pemerintah Romawi. Orang Kristen menderita karena statusnya sebagai Kristen. Namun penderitaan itu adalah bagian dari pergumulan iman sebagaimana Kristus rela menderita.
2. Itu sebabnya, tujuan penulisan surat ini juga berhubungan erat dengan situasi historis yang dihadapi jemaat pada waktu itu. Tujuannya ialah hendak menghibur dan menguatkan orang Kristen agar senantiasa bertahan menghadapi penderitaan. Merujuk kepada penekanan surat 1 Petrus ini, Willi Marxsen berkata: Penderitaan adalah kehormatan sejauh orang menanggungnya sebagai orang Kristen dan bukan sebagai penjahat (4:12-19). Sebagai sebuah kehormatan maka orang Kristen harus bersyukur jika Tuhan masih menginzinkan kita menderita sebagai upaya kita ikut bagian dalam penderitaan Kristus. Tidak ada mahkota tanpa salib. Salib adalah simbol penderitaan bukan kemenangan. Pernyataan-pernyataan serupa ini hendaknya senantiasa mengisi khasanah hidup setiap orang Kristen. Jangan pernah bermimpi untuk memperoleh kemenangan tanpa perjuangan; dan … tiada hidup tanpa tantangan. Melarikan diri dari tantangan bukanlah solusi terbaik, namun hadapilah tantangan sebagai pejuang-pejuang Kristus.
3. Perikop 1 Petrus 5 : 1 – 5 juga harus dilihat dalam konteks penghiburan itu. Mudah dipahami betapa pentingnya upaya memperjelas komitmen pelayanan ketika tantangan dan pergumulan datang menghadang. Bukan hanya di situ, seorang pelayan dituntut menjadi teladan, termasuk dalam ketegaran menghadapi tantangan itu. Itu sebabnya, para ahli PB mengatakan bahwa perikop ini adalah tentang ‘how to be a good shepherd’ (bagaimana menjadi seorang gembala yang baik). Gembala yang baik adalah gembala yang senantiasa tegar dalam tugas panggilannya meskipun di tengah berbagai pergumulan. Selanjutnya ditegaskan ‘times of persecution demand that God’s people have adequate spiritual leadership’ (ketika penganiayaan datang menghadang maka umat Allah dituntut memiliki pemimpin spiritual sejati). Pemimpin sejati ini akan menjadi soko guru, sumber inspirasi dan semangat perjuangan. Dalam hal ini keteladanan dituntut dan ditunggu dari seorang pemimpin.
4. Menyingkap isi perikop ini, satu pertanyaan pembuka perlu didengungkan: What are the personal qualities that make for a successful pastor? Pertanyaan ini hendak memberi penegasan akan personal qualities (kualitas personal) yang harus dimiliki oleh seorang gembala yang baik. Dalam perikop ini ada tiga kualitas personal yang harus dimiliki oleh seorang gembala yang baik, yaitu:
a. A vital personal experience with Christ (memiliki pengalaman pribadi yang vital bersama Kristus, 5:1). Pengalaman vital atau unik ini tentu merupakan barometer kualitas iman. Itu sebabnya dalam ayat 1 ini Yohanes memperkenalkan diri bukan sebagai rasul tetapi sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Pernyataan ini menunjukkan betapa dalamnya hubungan personal Yohanes dengan Yesus. Tentu dalam proses kebersamaan ini Yohanes menemukan pendidikan pendewasaan iman hingga layak menjadi teladan. Itu sebabnya Yohanes rindu berbagi pengalaman (sharing) dengan jemaat perdana yang tengah dalam proses pembentukan identitas dan pencitraan diri sebagai Kristen sejati.
b. A loving concern for God’s sheep (keperdulian dalam kasih terhadap domba Allah, 5:2-3). Keperdulian atas dasar kasih ini tentu memampukan setiap gembala memiliki loyalitas dan dedikasi yang tinggi terhadap tugas panggilannya. Dia akan senantiasa melayani dengan tulus dan suka cita, tidak sekali-kali karena terpaksa. Dengan segala ketulusan ini maka terciptalah motivasi yang murni hanya untuk mengabdi kepada Alah, bukan karena mau mencari keuntungan. Pendangkalan akan motif pelayanan terjadi ketika pelayan tidak lagi hidup dalam kasih yang tulus.
c. A desire to please Christ alone (keinginan untuk hanya menyenangkan Kristus, 5:4). Gembala yang baik ialah gembala yang rela berkorban demi tugas yang diemban. Dia hanya bekerja untuk tugas dan panggilannya. Itu berarti, dia hanya melayani tuan yang memberikan tugas tersebut. Tujuannya hanya satu yakni menyenangkan hati tuannya. Demikianlah juga setiap gembala harus menyenangkan Kristus bukan manusia.

5. Perikop ini juga dilengkapi dengan himbauan kepada orang-orang muda agar menumbuh-kembangkan dalam dirinya sikap tunduk kepada orang-orang yang tua. Apa yang hendak kita lihat di sini? Ada upaya untuk menata hidup jemaat dalam bingkai kerendahan hati. Jika setiap gembala jemaat melayani dengan rendah hati maka orang-orang muda juga dituntut merespons pelayanan itu dengan rendah hati. Dengan kerendahan hati ini maka kerjasama dan saling mengisi akan tercipta. Bila hal ini terwujud maka hanya nama Tuhanlah yang dimuliakan.
6. Nas ini akan menjadi dasar persekutuan kita dalam Minggu Miserikordias Domini. Apa yang hendak kita lihat di sana ? Miserikordias Domini artinya nyanyikanlah belas kasihan Tuhan. Penekanan utama di sini adalah mengenai belas kasihan Tuhan dan perbuatanNya yang baik kepada kita. Belas kasihan itu sendiri bukanlah karena perbuatan manusia. Lalu dihubungkan dengan nas kita, yang hendak ditegaskan ialah belas kasihan Tuhan yang diwujud-nyatakan dalam campur tanganNya memimpin dan membimbing hidup kita. Tentu kemepimpinan dan bimbingan Tuhan itu akan direalisasikan dalam tugas para hambaNya. Yesus adalah gembala yang baik (Yoh. 10). Tindak lanjutnya, para gembala jemaat juga harus menjadi gembala yang baik. Biarlah dengan penggembalaan yang baik, setiap orang semakin merasakan belas kasihan Tuhan.
7. Gembala yang baik harus rela menderita. Sejenak berenung dari kisah perjalanan Dietrich Boenhoefer. Dia berkata The Cost of Discipleship. Betapa mahalnya mengikut Yesus. Seorang pengikut Yesus harus rela menderita. Itu sebabnya dia berkata lagi Follow Jesus and… die. Barangsiapa yang hendak mengikut Yesus dia harus rela sampai mengorbankan nyawanya sekalipun. Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan komitmen, kebulatan tekad dan kekuatan yang hanya dari Tuhan.
8. Dalam pola hidup demikianlah para pelayan dituntut menjadi gembala dalam tugas pelayanannya. Merujuk kepada nas kita, ada tiga kualitas personal yang harus dia miliki, yakni :
a. Harus memiliki pengalaman yang unik dan vital akan persekutuannya dengan Tuhan. Pengalaman unik yang dimaksud di sini adalah hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan.
b. Harus memiliki keperdulian yang tinggi atas dasar kasih.
c. Harus memiliki komitmen untuk hanya menyenangkan Tuhan.

9. Siapakah gembala itu? Gembala bukan hanya pelayan tahbisan (pelayan penuh waktu). Gembala adalah semua orang yang telah menjadi bagian dari persekutuan dalam Gereja sebagai tubuh Kristus. Oleh karena itu, nas ini juga hendak berbicara kepada kita semua. Melalui nas ini Gereja sebagai suatu persekutuan orang kudus diajak berbenah ini untuk semakin meningkatkan intensitas pelayanannya. Hal ini menuntut jemaat yang semakin misioner.