Berdasarkan daftar hadir perserta rapat yang sudah hadir berjumlah 44 orang; 5 orang izin dan 4 orang vikaris pendeta sebagai peninjau, maka rapat majelis pendeta GKPA ke 46 dibuka dengan resmi oleh Ketua Rapat Majelis Pendeta GKPA Pdt.Kaleb Manurung,M.Th.
II. Pengesahan Jadwal Rapat
Anggota rapat menerima jadwal dan materi yang telah disusun oleh Pengurus Rapat Majelis Pendeta GKPA, dengan catatan perbaikan waktu ibadah pagi pada tanggal. 04/11/2010 dipercepat setengah jam yakni dari pukul 07.30 – 08.30 menjadi 07.30 – 08.00 Wib.
III. Pengesahan Materi Rapat
Anggota rapat menerima materi yang sudah tercantum dalam jadwal menjadi pokok pembahasan selama persidangan dan jika ada hal-hal yang belum dibicarakan yang belum tertampung akan dibicarakan dalam warna sari.
IV. Usulan Tambahan
Rapat menerima usulan tambahan yang disampaikan oleh Praeses Distrik III yang berkaitan dengan dana pensiun dan persembahan khusus untuk yang pensiun dibicarakan pada point ke IX tentang kenaikan gaji pendeta.
V. Pengesahan Rumusan Keputusan Rapat Majelis Pendeta ke 45
Rapat Menerima rumusan keputusan Rapat Majelis Pendeta GKPA ke 45 setelah mengalami beberapa perbaikan.
VI. Pengangkatan Notulis
Rapat menyetujui yang menjadi notulis dalam persidangan Rapat Majelis Pendeta yang ke 46, yaitu: Vic. Antoni Siahaan,S.Th, Vic. Nova Lina Batubara,STh, dan Vic. Take Sister Harianja,S.Th.
Hari Kedua
Selasa, 3 Nopember 2010
I. Sosialisasi Sistim Keuangan
Rapat menerima sistim keuangan yang ditawarkan BPP untuk diberlakukan/ditetapkan disemua tingkatan.
II. Jamsostek
Berkaitan dengan Jamsostek ada 5 point yang diputuskan, yakni:
1. Terhitung 1 Desember 2010 seluruh personil GKPA yang penuh waktu (fulltimer) menjadi anggota Jamsostek.
2. Kantor Pusat membuat pemberitahuan kepada seluruh personil GKPA dan warga jemaat GKPA tentang keiukutsertaan personil GKPA menjadi anggota Jamsostek.
3. Bagi Distrik yang belum memenuhi janji imannya supaya melunasi sebelum 1 Desember 2010 dan Kantor Pusat membuat surat himbauan tentang tanggungjawab masing-masing Distrik.
4. Mengenai standart gaji untuk pembayaran iuran Jamsostek disamakan untuk semua personil GKPA sebesar Rp. 1.000.000/bulan.
5. Paket yang dipilih dalam Jamsostek adalah Jaminan Hari Tua, Jaminan Keselamatan Kerja, Jaminan Kecelakaan dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.
III. Dana Sosial Pendeta
Rapat memutuskan menerima Tata Dasar Sosial Pendeta dengan beberapa perbaikan, antara lain:
1. Pasal 10:1 bunyinya menjadi: “Sosial pendeta GKPA ini dapat dibubarkan berdasarkan keputusan rapat anggota yang khusus dilakukan untuk itu dan dihadiri/disetujui sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah angota yang ada”.
2. Menerima Pasal 3: 4b
3. Sepakat untuk melunasi dana Sosial Pendeta untuk Pdt. S.P. Marpaung paling lambat akhir bulan Desember 2010.
4. Setuju jika iuran anggota sosial pendeta dibayarkan pada rapat ini sebesar Rp.5O.OOO,- untuk tahun 2010.
IV. Keuangan Pendeta
Rapat menerima laporan keuangan yang dilaporkan oleh Pengurus sosial pendeta dengan baik.
V. Perayaan 150 Tahun kekristenan di Luat Angkola
Berkaitan dengan Pesta 150th Kekristenan di Luat Angkola ada 2 poin yang disepakati yakni:
1. Setuju mendukung kegiatan ini dengan sukacita.
2. Tidak perlu lagi pengangkatan panitia di setiap wilayah dan kepada koordinator wilayah yang sudah ada diberikan wewenang untuk mengembangkan kepengurusan kepanitiaan di wilayahnya.
VI. Persiapan Sinode Am Periode GKPA XVII 13-17 Juli 2011
Menerima kewajiban biaya Sinode dari Resort-resort yang telah ditetapkan Kantor Pusat GKPA.
VII. Barang Cetakan dan Informasi Kepegawaian
Berkaitan dengan barang cetakan, ada beberapa hal yang diputuskan, yakni:
1. Melihat kebutuhan dan urgensi Sioban Barita sebagai media informasi maka Sioban barita tetap dicetak.
2. Setelah diadakan klarifikasi mengenai hutang-piutang barang cetakan maka harus dibayar sebelum 25 Desember 2010.
3. Pembayaran barang cetakan 2011 akan dilunasi sebelum Sinode Am GKPA XVII 2011
Hari Ketiga
Selasa, 4 Nopember 2010
1. Status Pelayan Magang
Pelayan magang berinisiatif untuk mencari tempat ia magang.
Pendeta Resort akan memberikan informasi kepada Pucuk Pimpinan GKPA apabila ada pelayan magang di resortnya.
2. Pendeta Zending
Berkaitan dengan Pendeta Zending ada beberapa hal yang diputuskan, yakni:
Setuju pengangkatan pendeta Zending di GKPA.
Penerimaan pelayan Pendeta Zending GKPA diserahkan kepada Pucuk Pimpinan GKPA.
Agar setiap Distrik mengajukan proposal kepada Kantor Pusat GKPA tentang pemetaan daerah Zending GKPA.
3. Masalah Sertifikasi Tanah
Supaya setiap parlagutan, resort, Distrik dan Pusat mengurus sertifikat tanah dan asset gereja masing-masing sesegera mungkin atas nama GKPA. Untuk itu Kantor Pusat GKPA menindaklanjuti perpanjangan badan hukum ke Badan Pertanahan Nasional (BPN).
4. Kode Etik Pelayan GKPA
Tidak perlu membuat peraturan tentang istri/suami pelayan.
5. Kenaikan Gaji
Menerima kenaikan gaji pelayan sebesar 10 % dari gaji pokok sesuai dengan kenaikan kewajiban persembahan bulanan.
Mengusulkan kepada Rapat Majelis Pusat untuk menaikkan uang jasa pensiun yang sudah berlaku dari 9 bulan menjadi 20 bulan.
Tidak menyetujui persembahan khusus se-GKPA untuk pendeta yang akan pensiun untuk saat ini.
6. Pendirian SMTK GKPA
Rapat Menerima usul untuk mendirikan Sekolah Menengah Teologia Kristen (SMTK) dan agar Distrik IV membuat proposal kepada Kantor Pusat GKPA untuk disampaikan kepada Rapat Majelis Pusat GKPA.
7. Pembentukan Tim Advokasi Rumah Ibadah dan LBH GKPA
Rapat Majelis Pendeta menerima dan menampung usulan untuk pembentukan Tim Advokasi Rumah Ibadah dan Lembaga Bantuan Hukum GKPA dan dibawakan kepada rapat Majelis Pusat.
8. Likuidasi Usaha-usaha
Mengusulkan kepada Rapat Majelis Pusat/Pucuk Pimpinan GKPA, agar usaha-usaha GKPA yang sudah merugi agar dilikuidasi atau dialihfungsikan, setelah di adakan studi kelayakan oleh team yang dibentuk Kantor Pusat GKPA.
9. Penggunaan Dana Aset GKPA
Penggunaan Dana Asset dilakukan sesuai dengan hasil keputusan Synode Am GKPA.
10. Pembentukan Jemaat Induk
Tidak menyetujui pembentukan jemaat induk di tingkat Distrik.
11. Wewenang Praeses GKPA
Tidak menyetujui pembuatan peraturan tentang wewenang Praeses GKPA karena sudah diatur dalam Tata Gereja dan Tata Laksana GKPA.
12. Tata Ibadah dan Pengajaran Sekolah Minggu GKPA
Komisi I ditugaskan untuk membuat Tata Ibadah Anak-anak berkoordinasi dengan Biro III GKPA dan menyerahkan hasilnya sebelum Sinode Am Periode GKPA XVII.
13. Penyelenggaraan Kongres Kategorial
Wacana waktu penyelenggaraan kongres seluruh kategorial secara bersamaan dengan Sinode Kerja GKPA tidak disetujui.
14. MBO GKPA Aek Bayur
Tidak menyetujui usulan pesta Mamayakhon Batu Ojahan (MBO) GKPA Aek Bayur dan akan dilaksanakan pada 2012.
15. Sinode Am Periode GKPA XVII
Pelaksanaan Synode Am akan diadakan pada 13-17 Juli 2011 di Kantor Pusat GKPA.
Untuk mempersiapkan Sinode Am ke XVII, maka setiap Distrik membuat usulan tema dan sub tema Periode 2011-2016 sekaligus penjelasannya dan diserahkan selambat-lambatnya ke Kantor Pusat GKPA pada akhir Januari 2011.
16. Warna Sari
Pengurusan NPWP diserahkan kepada pribadi pelayan GKPA sesuai dengan kebutuhannya.
Buku Panduan Calon Sintua diserahkan kepada Komisi Teologia Rapat Majelis Pendeta GKPA dan diserahkan pada Juni 2011
“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya”
Injil Yohanes mencatat pernyataan Tuhan Yesus mendekati Ia disalibkan, “Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang…” (ay. 30) dan Yesus mengungkapkan janji-Nya yang akan Ia lakukan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Apa yang dijanjikan Tuhan Yesus?
1. Ia akan mengasihi yang mengasihi-Nya
“Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh BapaKu dan Akupun akan mengasihi dia” (ay. 21). Orang yang mengasihi Tuhan Yesus dinyatakan akan dikasihi oleh Bapa dan oleh Kristus sebagai satu kesatuan karena “Aku di dalam Bapa-Ku” (ay. 20). Sejauh mana kita mengasihi Tuhan? Hal itu dapat diukur dengan sejauh mana kita “menuruti segala perintah (Tuhan)” (ay. 15) atau “memegang perintah Tuhan dan melakukannya” (ay. 21). Sejauh mana kita mencintai Tuhan akan seimbang dengan sejauh mana Tuhan mengasihi kita. Mungkin kita bertanya: bukankah Tuhan mengasihi semua orang? Itu benar tetapi kasih Tuhan kepada setiap orang juga memiliki ukuran. Firman Tuhan menyatakan bahwa Tuhan Yesus mengasihi Yohanes lebih dari pada murid-murid yang lain. Marilah kita tingkatkan kasih kita kepada Dia agar Tuhan lebih mengasihi kita!
2. Ia akan menyertai yang mengasihi-Nya
“Sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (ay. 17b). Janji-Nya kepada para murid, “Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai pada akhir zaman” (Mat. 28:20). Roh Tuhan diberikan kepada orang yang mengasihi-Nya “ke dalam hati kita” (Gal. 4:6) sehingga Rasul Paulus menyatakan “kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu” (1 Kor. 3:16). Berarti kemana saja kita pergi dengan tubuh ini maka disitulah juga Tuhan akan berada. Roh akan menyertai hidup ini dan “akan mengajarkan .. akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (ay. 26).Karena itu betapa sulitnya untuk dimengerti orang yang menamakan dirinya Kristen tetapi tetap bertekun dalam dosa. Rohlah yang “menginsyafkan dunia akan dosa?” (Yoh. 16:8). Yang seharusnya terjadi adalah munculnya karunia Roh dan buah Roh!
3. Ia akan menjemput yang mengasihi-Nya
“Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu” (ay. 18). Tuhan akan datang kembali bukan untuk dunia tetapi untuk orang-orang yang mengasihi Dia. Rasul Paulus mengungkapkan bahwa yang akan dibangkitkan “yang mati dalam Kristus” dan yang akan diangkat “kita yang masih hidup” maksudnya Paulus dan jemaat di Tesalonika (baca 1 Tes. 4:16-18). Yang masuk ke surga tidak semua dan Tuhan Yesus menyatakan, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku; Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Surga” (Mat. 7:21). Hanya orang yang mengasihi Tuhan yang akan di jemput pada kedatangan Tuhan yang kedua kali untuk menuju hidup yang kekal.
4. Ia akan memberkati yang mengasihi-Nya
“Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu… Jangan gelisah dan gentar hatimu” (ay. 27). Ini adalah berkat Tuhan karena “tidak seperti yang diberikan oleh dunia”. Ketentraman hidup adalah kebutuhan manusia. Rasul Paulus menyatakan, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm. 14:17). Berkat menikmati Kerajaan-Nya bersama dengan Tuhan dan Ia yang akan “turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rm. 8:28). Oleh sebab itu Tuhan berkata “jangan gelisah dan gentar hatimu” (ay. 27). Alkitab menyatakan, “Jangan kuatir dan takut”. Siapakah kita ini? Tuhan Yesus berkata, “Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Mat. 6:26). Rasul Paulus menyatakan, “Jika Allah ada dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rom 8:31). Amin.
Efesus 6:18-19 hendak menunjukkan bahwa kehidupan Kristen harus dijaga dan dipelihara karena berhadapan dengan kuasa jahat di tengah dunia yang sedang mencoba melawan, merongrong dan merusak iman. Tetapi bagian tersebut tidak termasuk dalam rangkaian perlengkapan senjata Allah. Walaupun demikian, bagian terakhir ini tetap mempunyai signifikansi.
Doa tidak dipakai secara sewaktu-waktu(occasional)melainkan menyangkut seluruh totalitas hidup manusia. Dengan kata lain, doa merupakan bagian dari hidup manusia yaitu kerohaniannya yang dipersiapkan untuk menjadi orang Kristen yang kuat dan bertumbuh dalam iman. Itulah alasan mengapa doa permohonan untuk orang kudus termasuk Paulus, tidak dimasukkan sebagai bagian dari perlengkapan senjata Allah. Doa adalah nafas kehidupan Kristen. Orang beragama di seluruh dunia sadar akan pentingnya doa karena dianggap sebagai relasi inti dan sentral yang hakiki antara manusia dengan Allah. Karena itu, setiap agama pasti mempunyai, membicarakan dan sangat menekankan doa dengan berbagai macam modelnya.
Di antara semua agama, orang Yahudi terkenal paling sering berdoa. Namun ketika mereka meminta Tuhan Yesus untuk mengajarkan cara berdoa, Ia tidak berespons atau berkomentar negatif bahkan menghina permintaan tersebut. Ia justru menyatakannya sebagai permintaan yang sangat baik karena sebelumnya mereka telah berdoa secara salah yaitu dengan menyombongkan, membanggakan dan menonjolkan kehebatan diri sebagai orang Israel yang secara egois berhak menyebut Abraham dengan sebutan bapa, hanya untuk membuktikan kesalehan dan ketaatan mereka sebagai umat pilihan Allah yang suci dan bukan orang kafir. Setiap point doa mereka menunjukkan betapa arogannya orang Yahudi. Demikian pula sebagian besar orang beragama di tengah dunia ini telah berdoa secara salah, seperti perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai. Padahal si pemungut cukai sambil memukul dadanya, memohon pengampunan Tuhan atas segala dosa yang telah diperbuatnya. Maka kemudian Ia mengajarkan doa yang benar yaitu doa Bapa Kami. Semua Gereja yang masih mengerti dan menyadari pentingnya doa tersebut, akan mendoakannya setiap Minggu sebagai pattern of prayer (pola doa).
Dalam bagian ini, Paulus mengajarkan kembali tentang doa kepada jemaat Efesus, “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus”(Ef. 6:18). Jika dilakukan secara salah maka doa tidak akan sampai kepada Allah melainkan kuasa lain yaitu Setan yang akan menjawabnya sesuai keperluan si pendoa tetapi bukan dari sumber sejati. Akhirnya, doa itu malah membuatnya tersesat jauh dari Tuhan, makin brutal, liar serta egois. Dengan demikian, doa yang sesat sanggup membawa manusia berdosa pada kebinasaan.
Sebelum mengajarkan doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengkritik orang Yahudi secara keras karena berdoa tidak pada tempat yang seharusnya, “Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang” (Mat 6:5). Dengan demikian, tujuan mereka bukan kepada Allah dan Tuhan Yesus mengatakan, “Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” Padahal Tuhan menghendaki, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu danberdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Mat 6:6).
Orang Yahudi sanggup berdoa selama berjam-jam dengan kalimat yang indah tetapi hanya untuk menunjukkan betapa rohaninya dia. Doa seperti itu hanyalah pameran kepalsuan religiusitas yang tidak bernilai. Ironisnya, permainan kepalsuan itu seringkali dilakukan oleh orang beragama. Mereka memang berdoa tapi essensi doanya tidak jelas. Ketika berdoa, jangan ada perasaan takut karena tidak mampu menggunakan kalimat indah. Itu bukan essensi doa sejati dan Tuhan sendiri tidak menghendaki demikian. Doa sejati harus kembali pada essensinya yaitu komunikasi dengan Allah.
Tuhan Yesus juga mengkritik mereka yang berdoa dan berpuasa berjam-jam bahkan berhari-hari atau berbulan-bulan hanya untuk memenuhi kepentingan pribadi, misalnya doa kesembuhan. Itulah doa kafir di mana si pendoa datang pada allahnya hanya ketika membutuhkan sesuatu sehingga allah diperalat dan dimanipulasi untuk kepentingannya sendiri. Tuhan Yesus mengatakan, “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepadaNya” (Mat 6:7-8). Setelah membaca ayat ini, banyak orang Kristen berpikir bahwa doa tidak lagi diperlukan karena Tuhan telah mengetahui permintaannya. Pernyataan ini sangat egois dan duniawi sesuai dengan cara pikir Setan. Kalau manusia menganggap Tuhan tidak mengetahui kebutuhannya hingga perlu diberi penjelasan, berarti ia melecehkan Allah semesta alam. Ternyata banyak orang menyetujui konsep ini dan tentu saja allah palsu mereka berbeda dengan Allah Kristen sejati. Bahkan banyak orang Kristen juga disesatkan dengan prinsip dan cara kerja Setan yang tampak seolah-olah cara kerja Tuhan. Ini bukan prinsip Alkitab. Efesus 6 membukakan konsep doa yang seharusnya berada dalam pikiran orang Kristen yaitu:
Pertama, “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh.” Dengan kata lain, doa Kristen harus dipimpin, dibimbing serta dicerahkan oleh Roh Kudus dan bukannya sesuka hati. Orang Kristen seharusnya berdoa demi kepentingan Roh, sesuai dengan sifat Roh dan menjalankan semua natur pribadiNya di dalam diri si pendoa. Alkitab mengatakan bahwa justru karena Tuhan yang tinggal di dalam diri manusia, telah mengetahui segala kebutuhannya maka ia harus berdoa sesuai dengan kehendakNya. Dengan demikian, doa Kristen berbeda secara total dengan semua konsep doa di dunia. Jikalau orang Kristen belum mampu melihat perbedaan ini, berarti ia belum berdoa secara Kristen.
Ketika anak Tuhan berdoa, seluruh Tritunggal akan terlibat di dalamnya. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa orang Kristen harus berdoa kepada Allah Bapa di Surga, dalam nama Allah Anak yaitu Yesus Kristus. Perintah itu menunjukkan struktur Allah Tritunggal yang memposisikan Allah Oknum Kedua sebagai mediator dalam seluruh doa Kristen. Karena itu, tanpa melalui Kristus, tak ada doa yang sampai kepada Bapa. Mengenai peranan Roh Kudus, Roma 8:26 mengatakan, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Inilah rumusan sah dan lengkap serta harus dilakukan karena Tuhan sendiri yang menetapkannya. Ketika orang Kristen berdoa, pimpinan Roh Kudus dalam dirinya mengajar sehingga ia tahu apa yang harus didoakan dan peka terhadap kehendakNya. Pengaplikasian struktur ini harus secara tepat dan tidak boleh diputarbalikkan karena inilah identitas doa Kristen yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kedua, “Berdoalah setiap waktu.”Doa Kristen sejati berbeda dengan kebanyakan agama di dunia ini yang berdoa secara rangkaian kata-kata indah (sequential) atau bahkan sewaktu-waktu (occasiona)l. Seluruh kehidupan Kristen sejati sesungguhnya merupakan jaringan hubungan komunikasi dengan Allah. Itulah doa sejati yang menjadi kekuatan spiritualitas Kekristenan. Namun doa Kristen bukan sekedar ritual agama melainkan hubungan Roh antara satu pribadi dengan pribadi lain. Banyak orang ingin mengetahui dan mengerti kehendak Tuhan tapi seringkali tidak bersedia menjalin hubungan erat denganNya. Selain itu, doa Kristen tidak perlu menunggu hingga tiba saatnya untuk berbakti di Gereja melainkan di mana saja dan kapan saja karena komunikasi dengan Allah dilakukan secara Roh dan kebenaran.
Ketiga, “Berdoalah tidak putus-putusnya untuk semua orang Kudus.” Yang dimaksud dengan orang Kudus dalam konteks ini adalah setiap anak Tuhan. Doa seperti ini disebut syafaat, yang merupakan hak istimewa dan panggilan imamat di mana seorang pendoa syafaat terpanggil menjadi imam di hadapan Allah untuk mewakili semua orang Kudus. Inilah fungsi imam yang Tuhan berikan pada orang Kristen. Sesungguhnya manusia tidak berhak untuk mendoakan diri sendiri karena Tuhan sudah mengetahui segala kebutuhannya. Selain itu, Tuhan tidak akan melupakan janjiNya dan pasti memenuhinya karena memang itu adalah hakNya. Jikalau tidak bersedia mengabulkannya, itupun adalah hak dan kedaulatanNya. Alkitab mengajarkan bahwa yang terbaik adalah berdoa dan bergumul dengan kesungguhan hati demi kepentingan orang Kudus antara lain pertumbuhan iman dan penggenapan rencana Allah dalam diri mereka. Dengan kata lain, semua anak Tuhan sebaiknya saling mendoakan. Akibatnya, akan terjadi saling memperhatikan dan memikirkan apa yang terbaik bagi sesama hingga membangun cintakasih. Itulah caranya membangun kesatuan tubuh Kristus. Kalau setiap anak Tuhan hanya mempedulikan diri sendiri maka akhirnya mereka akan menjadi kepingan pecahan yang tidak berhubungan. Padahal doa sejati merupakan teladan Tuhan Yesus sebagai juru syafaat di sebelah kanan Bapa yang selalu berdoa bagi setiap jemaat. Ketika banyak konsep agama dan filsafat dunia mengajarkan doa yang egois, Alkitab justru mengajarkan doa syafaat dan doa bagi penginjilan di seluruh dunia terutama suku di daerah terpencil.
Keempat, “… juga untuk aku (Paulus), supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil.” Dalam konteks ini, Paulus tidak minta didoakan untuk kepentingannya sendiri. Ia memang mengalami banyak kesulitan, penganiayaan dan penderitaan serta sering keluar masuk penjara. Namun ia memiliki jiwa yang memikirkan kehendak Allah. Itulah doa sejati di mana si pendoa rindu untuk mewujudkan isi hati Tuhan dalam kehidupannya di tengah dunia ini hingga terjadi kesamaan visi antara Bapa di Surga dengan dirinya. Paulus mengatakan demikian karena ia merasa belum sempurna, khususnya kegentarannya selama berada di dalam penjara. Namun doa sejati sanggup menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Amin.
Kemurtadan (Yunani: "apostasia") dipakai dua kali dalam Perjanjian Baru sebagai kata benda dalam 2 Tesalonika 2:3 dan di dalam Ibrani 3:12 dalam bentuk kata kerja (Yunani: aphistemi; dalam versi lain diterjemahkan sebagai "berbalik dari"). Istilah Yunani ini ditegaskan sebagai tindakan meninggalkan, berkhianat, memberontak, mengundurkan diri atau berbalik meninggalkan sesuatu yang dahulu diikuti.
Menjadi murtad berarti memutuskan hubungan keselamatan dengan Kristus atau mengundurkan diri dari persekutuan yang sangat penting dengan Dia dan iman yang sejati kepada-Nya. Dengan demikian kemurtadan pribadi hanya dapat terjadi pada seseorang yang sebelumnya sudah mengalami keselamatan, kelahiran baru, dan pembaharuan melalui Roh Kudus (bnd. Luk. 8:13; Ibrani 6:4-5); kemurtadan bukan sekedar tindakan menyangkal doktrin Perjanjian Baru oleh mereka yang belum diselamatkan di dalam jemaat.
Kemurtadan meliputi dua aspek yang berbeda namun berhubungan, yakni:
(a) kemurtadan teologis, yaitu: menolak semua atau sebagian dari ajaran asli Kristus dan para rasul (1 Tim. 4:1; 2 Tim. 4:3), dan
(b) kemurtadan moral, yaitu: seseorang yang sebelumnya percaya kini tidak lagi tinggal di dalam Kristus dan sebagai gantinya memperbudak dirinya kepada dosa dan kebejatan lagi (Yes. 29:13; Mat. 23:25-28; Rm. 6:15-23; 8:6-13).
Alkitab memberikan peringatan yang mendesak mengenai kemurtadan, dengan tujuan mengingatkan kita agar waspada terhadap bahaya meninggalkan kesatuan kita dengan Kristus dan mendorong kita untuk bertekun di dalam iman dan ketaatan. Maksud ilahi dari ayat-ayat peringatan ini jangan dilemahkan dengan pernyataan, "peringatan-peringatan ini bersifat sungguh-sungguh, tetapi kemungkinan terjadi kemurtadan secara aktual tidak ada. "Sebaliknya, kita harus memandang peringatan-peringatan ini sebagai mengacu kepada realitas masa percobaan kita sehingga kita harus betul-betul memperhatikannya jikalau kita ingin mencapai keselamatan pada akhirnya. Beberapa ayat Perjanjian Baru yang berisi peringatan adalah: Mat. 24:4-5,11-13; Yoh. 15:1-6; Kis. 11:21-23; 14:21-22; 1Kor. 15:1-2; Kol. 1:21-23; 1Tim. 4:1, 16; 1Tim. 6:10-12; 2Tim. 4:2-5; Ibr. 2:1-3; 3:6-8, 12-14; 6:4-6; Yak. 5:19-20; 2Ptr. 1:8-11; 1Yoh. 2:23-25. Contoh-contoh kemurtadan yang sesungguhnya terjadi terdapat dalam Kel. 32:1-35; 2Raj.7:7-23; Mzm. 106:1-48; Yes. 1:2-4; Yer. 2:1-9; Kis. 1:25; Gal. 5:4; 1Tim. 1:18-20; 2Ptr. 2:1, 15, 20-22; Yud. 1:4, 11-13.
Langkah-langkah yang menuju kepada kemurtadan adalah sebagai berikut:
(a) Orang-orang percaya, melalui ketidakpercayaan, tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh kebenaran, nasihat, peringatan, janji, dan ajaran Firman Allah (Mark. 1:15; Luk. 8:13; Yoh. 5:44, 47; Yoh. 8:46).
(b) Ketika kenyataan-kenyataan dunia ini menjadi semakin nyata dibandingkan dengan kenyataan-kenyataan Kerajaan Allah yang surgawi, orang-orang percaya secara berangsur-angsur berhenti menghampiri Allah melalui Kristus (Ibr. 4:16; 7:19, 25; 11:6).
(c) Melalui kelicikan dosa, orang percaya itu makin toleran terhadap dosa dalam kehidupan mereka sendiri (1Kor. 6:9-10; Ef. 5:5; Ibr. 3:13). Mereka tidak lagi mengasihi keadilan atau membenci kefasikan (Ibr. 1:9).
(d) Karena degil hati (Ibr. 3:8,13) serta menolak jalan Allah (Ibr. 3:10), orang-orang percaya ini berkali-kali mengabaikan suara dan teguran Roh Kudus (Ef. 4:30; 1Tes. 5:19-22).
(e) Roh Kudus didukakan (Ef. 4:30; bnd. Ibr. 3:7-8) dan api-Nya dipadamkan (1Tes. 5:19), bait-Nya dirusak (1Kor. 3:16). Karena itu akhirnya Ia meninggalkan orang yang dahulu percaya (Hak. 16:20; Mzm. 51:13; Rm. 8:13; 1Kor. 3:16-17; Ibr. 3:14).
Jikalau kemurtadan berjalan terus tanpa dikendalikan, orang-orang percaya itu mungkin akhirnya mencapai titik di mana mereka tidak mendapat kesempatan lagi untuk kembali kepada Tuhan.
(a) Mereka yang pernah mengalami keselamatan namun kemudian dengan sengaja dan terus-menerus mengeraskan hati terhadap suara Roh (Ibr. 3:7-19), terus berbuat dosa dengan sengaja (Ibr. 10:26), serta menolak untuk bertobat dan kembali kepada Allah mungkin akan mencapai titik di mana mereka tidak bisa berbalik lagi sehingga tidak mungkin bertobat dan menerima keselamatan lagi (Ibr. 6:4-6; Ul. 29:18-21; 1Sam. 2:25; Am. 29:1"). Kesabaran Allah ada batasnya (lih. 1Sam. 3:11-14; Mat. 12:31-32; 2Tes. 2:9-11; Ibr. 10:26-29,31; 1Yoh. 5:16).
(b) Titik di mana orang tidak bisa bertobat lagi ini tidak dapat ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu, satu-satunya pengaman untuk tidak terjerumus ke dalam kemurtadan akhir ditemukan dalam nasihat, "Pada hari ini jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu" (Ibr. 3:7-8, 15; 4:7)
Haruslah ditekankan bahwa sekalipun kemurtadan merupakan bahaya bagi semua orang percaya yang mulai hanyut dari iman (Ibr. 2:1-3) dan undur dari Allah (Ibr. 6:6), perbuatan itu tidak akan menjadi lengkap jikalau orang yang bersangkutan tidak dengan sengaja dan terus-menerus berbuat dosa terhadap suara Roh Kudus (Mat. 12:31).
Mereka yang menjauhkan diri dari Allah karena hati yang tidak percaya (Ibr. 3:12) mungkin berpikir bahwa diri mereka masih Kristen namun ketidakacuhan mereka terhadap tuntutan-tuntutan Kristus dan Roh Kudus serta peringatan-peringatan Alkitab menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Karena kemungkinan penipuan diri ini ada, Paulus mendesak agar semua orang yang mengaku diri sudah diselamatkan untuk "uji ... dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak dalam iman. Selidikilah dirimu" (2Kor. 13:5).
Mereka yang sungguh-sungguh mempunyai perhatian terhadap keadaan rohani dan hati mereka ingin berbalik kepada Allah dalam pertobatan memiliki bukti yang pasti bahwa mereka tidak melakukan kemurtadan yang tidak bisa diampuni. Alkitab dengan jelas menandaskan bahwa Allah tidak ingin seorang pun binasa (2Pet. 3:9; bnd. Yes. 1:18-19; 55:6-7) dan menyatakan bahwa Allah akan menerima kembali semua orang yang pernah mengalami kasih karunia yang menyelamatkan jikalau mereka bertobat dan kembali kepada-Nya (bnd. Gal. 5:4; Gal. 4:19; 1Kor. 5:1-5; 2Kor. 2:5-11). Semoga!!!
Pahlawan adalah seorang pejuang. Pejuang kemerdekaan, pejuang kemanusiaan, pejuang hak asasi manusia, pejuang lingkungan hidup, pejuang yang lainnya. Para pejuang ini patut dihargai dan dihormati. Bahkan ada yang menghormati mereka dengan mengangkat mereka sebagai pahlawan baik ditingkat internasional, nasional, regional, maupun daerah serta sektarian. Pejuang-pejuang ini merupakan tokoh dalam masa-masa mereka hidup dan berkarya. Mereka berkarya demi orang lain. Mereka berjuang demi kehidupan orang lain. Mereka bertindak demi kenyamanan orang lain.
Saat ini para pejuang ini pun masih ada dan berada bersama dengan kita. Ada banyak orang yang berjuang demi keutuhan ciptaan bumi ini. Ada banyak orang yang berjuang mengentaskan kemiskinan di seantero bumi ini. Ada banyak orang yang berjuang demi kedamaian bagi negara-negara yang bertikai. Ada juga banyak orang yang berjuang mempertahankan hak-hak mereka, hak-hak rakyat miskin, dan pejuang-pejuang lainnya. Namun mereka tidak dihargai sama seperti para pejuang yang sudah meninggal. Tampaknya para pejuang seperti ini tidak mendapat perhatian masyarakat. Mungkin bagi kita masyarakat biasa ini, pejuang yang patut dihormati hanyalah para pejuang yang mati mempertahankan kemerdekaan. Padahal banyak para pejuang yang tidak hanya mempertahankan kemerdekan melainkan pejuang yang mempertahankan hidup kedamaian, hidup dan kehidupan di dunia ini. Namun mereke jarang sekali dihargai.
Pada hari Pahlawan ini, marilah kita mengenang para pejuang dan keluarga yang telah ditinggal mereka. Mengenang bukan berarti kita hanya terlarut dalam kesedihan mereka. Namun kita harus bangkit dan meneruskan perjuangan mereka demi kemakmuran dan kemajuan bangsa Indonesia yang adil dan makmur. Melupakan para pahlawan berarti merusak negara. Melupakan para pejuang berarti mematikan kehidupan. Mengenang para pejuang dan pahlawan berarti membangun bumi dan masyarakat yang adil dan makmur serta madani.