(Sebuah Refleksi atas Perayaan-Perayaan Menyongsong Natal)
Pdt.A.B.Marpaung,M.Min,M.Th*
1. Pendangkalan nilai-nilai adalah sebuah efek dari sikap yang mendewakan materi, kemikmatan di tengah-tengah masyarakat modern-global. Manusia direduksi menjadi sama seperti barang atau angka, nilai-nilai diukur dengan uang dan keuntungan egoistik, sukses diukur dari timbunan harta dan kuasa, cinta dipahami sebatas seks, orang lain dipandang sebagai korban dan objek, lingkungan hidup diperlukan sebagai objek eksploitasi tanpa batas, hubungan antarmanusia menjadi transaksi untung rugi. Semuanya mengarah kepada penghancuran dan kebinasaan.
2. Kecenderungan yang menghancurkan ini merasuki seluruh dimensi kehidupan manusia termasuk kehidupan religius. Tidak heran kalau dalam kehidupan keberagamaan pun kita temukan sikap yang semakin materialistik, pragmatis, dan hedonistik. Kesuksesan seorang pelayan diukur dari kemegahan pembangunan pisik gereja-gereja yang digagasinya, keuangan yang menggunung, pertambahan aset, besarnya jumlah jemaat, besarnya jumlah persembahan, kemampuan mengorganisir kebaktian kebangunan rohani (KKR) dan sebagainya. Kita terlalu mengejar simbol-simbol agama dan mengabaikan bahkan mengorbankan nilai-nilai iman tanpa memperhatikan tingkat kesalehan umatnya.
3. Salah satu penampakan dan perwujudan keberagamaan kita yang mengalami pendangkalan serius yang mengurangi nilai-nilai iman kita adalah kehidupan liturgi Natal/Ibadah Natal. Liturgi Natal yang diwariskan gereja berabad-abad dengan kekayaan spiritualnya yang sangat mendalam semakin tidak dipahami maknanya. Tradisi liturgi dipandang sesuatu yang sudah out of date, membosankan sehingga dengan mudah diubah-ubah tanpa mengikuti prinsip-prinsip teologi yang sudah baku atas nama modenitas berdasarkan „selera“ atau „ tuntutan“ zaman. Lihat saja perayaan Natal yang dikemas oleh kumpulan muda/i atau kelompok marga dalam satu perkampungan amat sering disetting tanpa pegangan liturgi yang benar dan rapi. Asal dilaksanakan saja. Akibatnya liturgi bukan lagi sebagai medium perjumpaan Tuhan dengan manusia tetapi telah bergeser menjadi medium pemuasan hasrat religius yang serba dangkal dan memberi nikmat sesaat.
4. Tanda-tanda pendangkalan terhadap makna Natal tidak disadari namun dilakukan secara kollektif. Bahkan pendangkalan itu mungkin dipahami sebagai proses perkembangan. Sampai tahun 1950-an pada umumnya perayaan Natal berlangsung di gedung-gedung gereja yang dilaksaakan oleh jemaat lokal/setempat. Selain itu sekolah-sekolah dan universitas-universitas juga melakukan hal yang sama. Pada tahun 1960-an berkembang yang memberi kesan bahwa perayaan-perayaan menyongsong Natal memasuki instansi pemerintahan. Sehingga tidak mengherankan kalau pemerintah turut ambil bagian untuk mengemas perayaan Natal bahkan sampai pendanaan pesta Natal pun hampir di setiap instansi dapat dukungan. Hal ini dilakukan seiring dengan kondisi runyam politik Negara yang terancam oleh gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) sehingga ritus-ritus keagamaan dipandang penting sebab berkemampuan untuk menentramkan gejolak gerakan dimaksud melalui perayaan-perayaan Natal. Pada tahun 1970-an sejajar dengan perkembangan perayaan Natal oleh instansi pemerintahan, muncullah perayaan-perayaan Natal yang dilaksanakan secara tersendiri-sendiri oleh kelompok marga, kumpulan sosial di tingkat RT/RW atau lorong-lorong dan Wijk. Di tingkat jemaat lokal berkembang perayaan Natal: kelompok kategorial kaum ibu, kaum Bapa, Muda/i bahkan Majelis Jemaat dengan keluarganya. Dengan demikian ada kemungkinan bahwa dalam masa Natal itu seseorang termasuk dalam berbagai kelompok pelaksana perayaan Natal; atau mungkin satu orang atau satu keluarga terlibat 5-10 kali ber-Natal, karena selain termasuk ke dalam berbagai kelompok pelaksana perayaan, juga menjadi undangan pada berbagai perayaan-perayaan Natal itu sendiri. Demikianlahlah terlihat kesibukan yang luar biasa pada masa Natal, banyak orang menjadi harus simpang-siur. Hal ini termasuk sebagai unsur-unsur yang memperdangkal, memperkerdil makna Natal itu sendiri. Karena orang yang terlalu sering melakukan pekerjaan yang sama dalam sekope waktu tertentu pasti akan memunculkan rasa bosan, jenuh, menganggap hal yang bisa-biasa saja dan tidak melihat makna penting yang terkandung di dalam ibadah itu. Malah akan membanding-bandingkan yang satu dengan yang lain yang pada gilirannya sampai keperlombaan yang tidak sehat. Kondisi ini jelas merupakan gambaran pendangkalan makna Natal itu sendiri. Justru itu tidak mengherankan jika ditemukan di beberapa gereja pembatasan perayaan menyongsong Natal, selain Natal anak-anak Sekolah Minggu yang ada adalah Natal Umum. Natal kategorial dan kumpulan lainnya dihindari sebab disadari bahwa perayaan Natal masa kini bukan lagi memupuk spiritualitas dan iman umat sebaliknya merupakan proses pengerdilan dan pendangkalan makna Natal itu sendiri. Lebih jelasnya pergeseran yang berkonotasi pendangkalan itu didiskusikan dalam nomor berikut.
5. Pergeseran yang ditimbulkan oleh „cara“ pelaksanaan Natal disinyalir sebabkan oleh pelaksanaan yang dilakukan di luar jemaat yang melibatkan anggota-anggota jemaat dari berbagai latarbelakang yang berbeda. Di sana terjadi penggabungan cara-cara perayaan Natal. Misalnya di dalam suasana Natal itu kelihatan unsur yang mencari kenikmatan dengan disertakannya makanan kecil dengan alasan untuk menghangatkan suasana yang sekaligus menyertakan hiburan-hiburan yang lama-kelamaan justru nilai makan dan nilai hiburannya yang lebih menonjol dan justru dianggap sesuatu yang lebih penting bukan lagi nilai Natal yang hakiki. Variasi makan dan hiburan tersebut mendapat perhatian utama antara tahun ke tahun. Seturut dengan pergeseran tersebut tidak kalah dalam pandangan jemaat betapa pentingnya unsur dekorasi permak-permik ruangan ibadah pesta Natal. Acara yang dirangkai sedemikian dengan sendirinya menuntut tata krama tersendiri sebagaimana layaknya, sehingga personil yang terlibat di dalamnya memiliki tugas dan tanggungjawab yang semakin beranekaragam seperti penerima tamu, petugas dalam melayani snack ringan terlebih yang menanggungjawabi makanan, dan sebagainya. Terkait dengan personil penanggungjawab bidang tersebut penampilan, berhias pun menjadi salah satu yang dianggap yang tidak bisa diabaikan bahkan sangat menentukan. Karena sedemikian pentingnya tidak jarang perayaan Natal waktu pelaksanaannya tertunda karena para penanggungjawab acara telat dari ruang salon. Seluruh perkembangan ini berakibat langsung pada biaya penyelenggaraan Natal yang berarti bahwa Natal tampil bagaikan suatu pesta mewah. Selain itu penekanan aspek hiburannya semakin menyusup ke dalam ibadah seperti tari-tarian, drama, penyanyi tunggal yang memberi kesan bahwa ibadah Natal itu adalah semacam ajang hiburan spektakuler semata bukan lagi sebuah setingna ibadah yang menampilkan sosok Natal Yesus yang sebenarnya.
6. Karena menampilkan nuansa hiburan dan permak-permik dekorasi yang membutuhkan dana besar tidak heran di beberapa tempat yang persis dipingggir jalan besar perangkat panitia Natal mengemis kepada setiap kenderan yang lewat memohon sumbangan dengan menjual murahan nama Natal. Seruruh pergeseran ini menjadi turut mengerdilkan, mendangkalkan makna Natal yang sesungguhnya.
7. Pemahaman teologis Natal yang sebenarnya bukan mau merayakan ulang tahun atas tanggal lahir Tuhan Yesus saja. Lebih jauh dari hal tersebut bahwa makna Natal adalah perayaan perbuatan Allah untuk menyelamatkan manusia melalui kematian dan kebangkitan-Nya di mana Kematian dan Kebangkitan itu menjadi „melahirkan“ Natal. Dengan kata lain bahwa Natal menjadi penting hanya oleh karena adanya Kebangkitan Tuhan Yesus, kebangkitan-Nya pun ada dilatarbelakangi oleh kematian-Nya. Oleh karena itu Natal sebenarnya harus dilihat dalam rangkaian kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Artinya bahwa soal tangal lahir tanggal berapa dan bulan berapa persisnya tidak menjadi sesuatu yang terpenting bagi orang kristen sebab yang paling utama bahwa Allah benar-benar menjadi manusia melalui proses kelahiran-Nya dalam rangka keselamatan Dunia. Kelahiran-Nya amat sederhana, dia lahir di kandang domba dan tidak disambut dengan pesta mewah dan ruang tempat lahirnya tidak mengalami perubahan dekoratif. Namun demikian kelahiran-Nya menyentuh seluruh lapisan manusia. Akhir kata disampaikan Salam Natal 25 Desember 2010 dan Selamat Tahun Bari 1 Januari 2011.
Pandok ni baritai, di sada hatiha di andos potang di topi ni laut murngisurngis ma sada anak ni korang tu inangna.didok inangna i ma, biasi murngisurngis ho uncok, na male doho amang sanga na adong do nahancitmu?ning ia manyapai mardongan taroktok namardosar angke asing dirasahon ia urngis-urngis ni anaknai.Mardongan ilu dialusi anakna i ma: inda hoboto inang, infda tardokkon au,harana sude do barnit hulala saonnari pamatangkon,manyihit hulala inang lalu tu ate-atengku.....tolong majolo inang...tolong majolo ning ia mardongan ilu namarabur.Ditailihon inang na i mada pamatang ni anaknai...ma lombam jana banggor mohop dirasohon ia pamatang nai,mardongan ilu didokkon ia tu anak nia i.....ille amang hasianku..indibo horsik do nasolot dipamatang mi, biama baenonku amang?so adong tangan ni inang, biama baenonku manjumput i? Cubo ma jolo marguling-guling betak bia ra taldus ning ia mada mardongan ilu namatudotdot.Marguling mada anak nai i tu jae tu julu...tu dolok tu toruan tapi mur manyoncon do ate-atena, angke mur solot jana bagas do horsik i pantom manombus pamatangna.Marpikir ma inang nai, bianoma baenon tu dia noma paubathonon ning ia huhut res pahae res pahulu harani pultol ni rohania.Inda diboto ia tu dia tondongon na.Anak nai pe inda margeldok be,hosa-hosa solot di toru ni batu i.Mangingking ma pangkilalaan ni inang nai garse harani marsak ni rohana.Tep ninna mamolus ma sada tobang-tobang mandehem mambaen tarhalak halahi nadua tapi matondo harani poranna arsak dohot hancit nanitaon ni inang dohot anak nai.Biasi songon i hamu nadua inang? Songon namarsak do hamu huida?iale amang...indon bo si uncok...masuk horsik tu pamatang nia,inda huboto bia baenon...ma hami sapai tu jae tujulu,marragam rupo patunjuk na dilehen ni dongan,tapi inda adong nabisa pamalumkon,nada huboto beda amang tu magon noma mate au anso ulang hupaida-ida partinaonan ni anakkon.Marputor noma dilala amanta on mambege carito i.Tep ning ia ma mangalusi : au pe inda sipangubati au inang, inda bisa hubuat horsik nadipamatang ni anak mi,tapi bia diho uncok, ra do ho hudokkon?Songon naso porsaya anaknai dialusi ia....ra do au tulang. Antong songononma:Nada pola jalahan ta bayo datu laho pamalum ho...ho sandiri ma bere mangubati ho..jagit mai gabe songon sada takdir diho, ulang ho malingkas tu,marasok asok balut ma horsik i dohot gota ni pamatang mi...songon ima baen tolu noli sadari, asok-asok rohai,tapi nada manigor mago nahancit i,torus ma songon i baen,porsaya ma ho malum do i haduan.Au pe kehe ma au angke adong karejongku dibaribaan.Dung kehe bayo i jana holip sian panatapan ni halahi, ning ia ma tu anak nia i: bia narohamu uncok, masuk diakal dehe i?Inda huboto inang tapi hucubo pe....res burangkit ia jana dipapayak ia tu tu bariba di lambung ni batu karang narimbun i,dibaluti ia asok asok harupe manyiak lain dipupu ia ganop ari...mur lolot..mur songon na lumambok dilala ia harupe sasanoli laing barnit pangkilalaanna.Huhul songon namarnipi...dirasohon ia mur so taraso be....inang nai pe jop jana moga rohana,angke mur godang-godang ancimun anaknai harupe jotjot tarsongon na munggaluanggal parlangena angke huhul manyontung do dilalaia sian bagasan.Nasopamotoan nia hape madung margonti horsik i gabe mutiara na jeges jana na arga situtu.Tudosan do pangalaho on domu tu angka na taadopi dibagasan parngoluanta be,angke bisa do masa dibagasan ngolunta pangalaho nasongon i,bahat do arsak dohot boban na taparsiranggutkon dibagasan ngolunta.Songon sumbia napantom manyusuk ate-ate dohot rohanta....songon duri nasolot diantara ni sisilonta mambaen mangingking pangkilalaanta.Marsapa hita dibagasan rohanta : “ Sian dia do ro pangurupion di au”jotjot nada adong alus....muda pe adong alus, nada nada murmalumbang pangkilalaanta...mur manyosak..mur mayoncon tu ate-ate mabaen sosonang hita mandalani ngolu on.Marragam rupo namanyosak...marragam rupo namambugangi...nada podo malum hancit nasada maro manyosak hancit na asing, gabe jotjot tadokkon “iale bagiankon”.Dongan nadua tolu na dijae dohot nadijulu, bisa do ra amang tabaen bage sorminan anak ni korang i,angke taboto jana tahaporsayai do dilehen jesus do gogo dohot kuaso di hita marhite-hite Tondi Porbadia anso margogo hita mardongan haporsayaan laho mambaen arsak gabe jop ni roha,hangaluton gabe andung,sumbia gabe ende dohot pesta.
Suang songon i do na tarjadi dipengalaman nisi: Sidharta Gautama,Mahatma Gandhi,Abdul haris Nasution,Kim Dae Jung bope Nelson Mandela.Hasobaron,cita cita dohot pandang tujolo ni halahi asok do pardalanna tapi hasongtian jana diujungna gabe tarbonggal halahi gabe pribadi na unggul na di hormati.Dongan na dua tolu, ama ina,na poso nama tobang pe di sosohon pangalaho dohot tudosan ni korang i do nang tu hita; aha pe hangaluton hamarsahan i,andigan pei,biape mocomna songon na didok di buku ende i do “ taon ma,taon ma” angke hum sangonmbas doi..dihatihana mangarade ma ho gabe halak na luar biasa.Songon sada halak naporsaya tu Yesus pahibul ma rohamu taon ma..angke didok diYesus di Mateus 16:20 i di ujungna monang doho....gabe songon korang i...manguba horsik gabe mutiara na arga.Amin.
Memimpin Seperti Yesus?Apakah mungkin?Tentu saja mungkin! Bukankah ketika kita berpikir dan berbicara tentang “Kepemimpinan” dan “Memimpin” dalam perspektif Kristen, seharusnya kita berbicara dan berpikir tentang tokoh anutan kita – figur dan model utama kita dalam melaksanakan aktifitas hidup dan pelayanan memimpin? Berangkat dari konteks percakapan kali ini yaitu “Memimpin Seperti Yesus”, maka nats kunci utama sebagai landasan percakapan kita diangkat dari Injil yang ditulis oleh rasul Yohanes, yang berbunyi sebagai berikut:
? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yohanes 13:13 – 15)
• Latar Peristiwa nyata yang ditulis oleh rasul Yohanes ini, terjadi sebelum hari raya Paskah orang Yahudi dilaksanakan di kota Yerusalem.
Tuhan Yesus sebagai Pemimpin agung, sekaligus adalah Guru atau Rabbi bagi murid-muridNya dan Tuhan, sebelum perpisahanNya dengan para pengikutNya.Belakang Peristiwa
Yesus ingin mengajarkan tentang:
– bagaimana seorang pemimpin menjalankan kepemimpinannya dengan baik dan benar;
– bagaimana seharusnya pemimpin melaksanakan kepemimpinannya sehingga ia layak disebut pemimpin yang efektif, dan dikagumi oleh pengikutnya;
– bagaimana sikap yang benar dalam membangun hubungan dengan orang lain;
bagaimana bertindak benar dalam menyelesaikan pekerjaan dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya sebagai “Pemimpin yang Melayani”.
FALSAFAH DASAR
Kehidupan Pemimpin yang “Melayani Seperti Yesus”
• Perhatikan ungkapan-ungkapan yang dipakai dalam ayat 1b – 12 berikut, yang menggambarkan tentang ”kehidupan Pemimpin yang melayani seperti Yesus” dalam arti yang sebenarnya, seperti yang diajarkan Tuhan Yesus secara langsung kepada murid-muridNya sebagai berikut,
Pertama,BahwaFONDASI HIDUP Pemimpin yang “Melayani Seperti Yesus” ialah KASIH
• Perhatikan ayat 1-bberikut ini:”...sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-muridNya demikianlah sekarang Yesus mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.”
Yesus sungguh-sungguh ”mengasihi” murid-muridNya. Walaupun Ia tahu bahwa Yudas Iskariot segera mengkhianatinya (ayat 2). Yesus tidak pernah mengurangi kasihNya kepada semua muridNya, termasuk Yudas Iskariot. Mengasihi murid-muridNya tidak untuk “sesaat”, tetapi diwujud-nyatakan dengan cara “senantiasa”, “sekarang atau setiap waktu”, dan “selamanya atau sampai pada kesudahannya”.
• Pemimpin yang Melayani seperti Yesus, selalu berpikir dan bertindak ”mengasihi”, dan hendaknya membangun komitmen serta statemen KASIH seperti Yesus, bagi dan terhadap semua pengikutnya.
Hanya oleh kasih dan dengan cara mengasihi seperti yang Tuhan Yesus berikan kepada murid-muridNya, seorang Pemimpin dapat memulai pekerjaan pelayanannya sebagai pemimpin dengan benar, penuh dinamika dan membawa dampak yang besar bagi pertumbuhan iman dan perubahan yang pasti dalam karakter para pengikutnya.
Kedua, BahwaPRINSIP HIDUP Pemimpin yang “Melayani Seperti Yesus” ialah MELAYANI.
• Perhatikan ayat 4,5 berikut ini: ”... Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubahNya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-muridNya lalu menyekanyadengan kain yang terikat pada pinggangNya itu.”
Perhatikan dengan saksama ungkapan-ungkapan yang bermakna ”melayani” dalam ayat 4 dan 5 di atas, yang menggambarkan aktifitas dalam ”kepemimpinan yang melayani” yang sangat nyata dalam hidup Tuhan Yesus yaitu:
• Lalu ”bangunlah Yesus – menanggalkan jubahNya”– gambaran dari kesediaan tanpa pamrih, inisiatif sendiri untuk melakukan sesuatu dan rela menanggalkan kemuliaan, kebesaran dan nilai diri (gengsi diri), demi pelayanan kepada orang lain.
• Ia ”mengambil sehelai kain lenan” – gambaran dari sikap cekatan dan kreatif.
• Ia ”mengikatkannya pada pinggangNya” – gambaran dari kesediaan bekerja, atau tanda ’siap bekerja’ dan ’siap melayani’.
• Ia ”menuangkan air ke dalam sebuah basi” – gambaran dari rasa tanggung jawab yang tinggi.
• Ia ”mulai membasuh kaki murid-muridNya” – lalu ”menyekanya dengan kain” yang terikat pada pinggangNya– gambaran dari pengabdian dan pengorbananyang tinggi terhadap pekerjaan yang dilakukanNya.
PERBANDINGAN
Perspektif Pemimpin yang Melayani Seperti Yesus dengan Ilmu Manajemen dan Kepemimpinan
Dalam Organisasi
Seorang Pemimpin yang efektif, wajib memiliki keterampilan-keterampilan khusus yang membedakannya dari para pengikutnya. Keterampilan khusus dimaksud harus mencakup tiga bidang besar yaitu:
Keterampilan Teknis (Technical Skill )
keterampilan menggunakan pengetahuan, metode, teknis dan peralatan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas tertentu yang diperoleh dari pengalaman, pendidikan dan latihan-latihan
Keterampilan Sosial (Social or Human Skill )
• keterampilan bekerja dengan dan melalui orang lain, yang mencakup pemahaman tentang motivasi dan penerapan kepemimpinan yang efektif;
Keterampilan Konseptual(Conceptual Skill )
• keterampilan untuk memahami kompleksitas organisasi dan penyesuaian bidang gerak unit kerja masing-masing ke dalam bidang operasi organisasi secara menyeluruh.
• Ketiga bidang keterampilan tersebut sangat penting bagi seorang pemimpin. Tetapi keterampilan yang sangat diperlukan dari ketiganya ialah ”Social or Human Skill” – bagaimana membangun hubungan yang benar, penuh kasih dengan orang-orang lain. Bagaimana membangun ”jembatan sosial” dengan sesama, dan dengan orang-orang kita pimpin.
Membangun hubungan ”kasih” dan prinsip ”melayani”, memainkan peran yang paling utama dalam Kepemimpinan seorang Pemimpin yang Melayani Seperti Yesus, betapapun hebatnya keterampilan teknis dan konseptual yang dimiliki oleh seseorang.
MAKNA GURU dan TUHAN dengan Pemimpin yang “Melayani Seperti Yesus”
• Bandingkan dengan pengajaran Tuhan Yesus tentang Pemimpin yang Melayani, yang secara mutlak ada dalam diriNya, yang tergambar dalam ungkapan ”Guru” dan ”Tuhan”. Tetapi tidak diperhitungkanNya sebagai alasan menolak atau enggan untuk melayani orang lain, yaitu:
• Sebagai Guru atau Rabbi – Yesus adalah seorang Pendidik Agung, Pengayom, Pengajar, Pembimbing Ulung, dan sekaligus Pemimpin Kompeten;
• Sebagai Tuhan – Yesus adalah Penguasa alam semesta, Pencipta langit dan bumi, Pemilik tunggal hidup umat manusia, dan sekaligus Pemimpin Kompeten;
• Sebagai Guru, Yesus adalah Pemimpin dan sebagai Tuhan, Yesus juga Pemimpin.
• Artinya Tuhan Yesus adalah Pemimpin yang tidak ada tandingannya – (bandingkan: ayat 13 – 15). Kebenarannya adalah: Kini sang Guru dan Tuhan yang adalah Pemimpin Tertinggi, Pemimpin Besar, Figur Utama kita itu telah memberi contoh bagaimana ”melayani”, dan telah ”bekerja tanpa pamrih”, dengan cara: ”menanggalkan kemuliaan-Nya, harga diri-Nya, kebesaran-Nya, jabatan penuh keagungan dan status sosial-Nya” semata-mata bersedia MELAYANI kepentingan ORANG-ORANG yang dipimpinNya, MELAYANI orang-orang yang sedang memerlukan kehadiranNya.
BAGAIMANAKAH DENGAN ANDA?
Memimpin Seperti Yesus – Suatu “Perjalanan Transformasi”
• Memimpin Seperti Yesus, sebagai suatu “Perjalanan Transformasi” -- Mutlak dimulai dengan memimpin ”DiriSendiri”; kemudian secara konsisten membangun kekuatan kepemimpinan dalam hubungan ”Satu-Satu”: yaitu antara sang pemimpin dengan anggota-anggota keluarganya dan atau pengikut-pengikutnya secara kreatif. Selanjutnya menerapkan kepemimpinan secara konkret – dinamis – sinergis di tengah Kelompok atau Komunitas Tim, atau Komunitas Kaum dan atau LingkunganBudayanya, kemudianterusmengalir dalam kehidupan dan pelayanan kepada Masyarakat Luas: –Gereja, -pendidikan, -politik, -medis, -bisnis, -media dan -dunia pada umumnya - secara organisatoris.
RANGKUMAN AKHIR
Pemimpin yang Melayani seperti Yesus adalah PEMIMPIN- PELAYAN - yang ”hidup dalam kasih, menghidupi kasih setiap hari dan mempraktekkan kasih tanpa pamrih” kepada semua orang di sekitarnya, dan yang dipimpinnya – tanpa memilah-milah – tanpa membedakan status sosial, latar belakang bahasa, suku, kebudayaan orang-orang yang telah dipercayakan oleh Tuhan di bawah pengawasan kepemimpinannya.
• Pemimpin yang Melayani seperti Yesus selalu ”siap melayani orang lain terlebih dahulu” – tidak memperhatikan kepentingan dirinya sendiri melebihi kepentingan orang-orang yang dipimpinnya. Memberi kepuasan bagi orang lain, adalah cita-citanya yang paling utama.
Pemimpin yang Melayani seperti Yesus adalah PEMIMPIN-PELAYAN - ”rela mengorbankan harga diri atau gengsi dirinya” demi kesejahteraan orang lain dan tidak pernah menyesal apabila ia mengalami kerugian besar karena memberi seluruh hidupnya, tenaganya, waktunya dan bahkan nyawanya sendiri bagi masa depan orang-orang yang dipimpinnya.
• TUJUAN tertinggi dalam hidup seorang PEMIMPIN – PELAYAN hanya satu: – MENGASIHI dan MELAYANI – TERUS BEKERJA selagi hari siang.
Baginya, TIDAK ADA yang lebih baik, tidak ada yang lebih mulia dari MENGASIHI dan MELAYANI. Tiada hari tanpa MENGASIHI dan MELAYANI.
Jadi, Baginya: HIDUP = MENGASIHI = MELAYANI.
• Jadi, SELAMAT MEMIMPIN SEPERTI YESUS dan MELAYANI SEPERTI YESUS.
• Hadirkan sukacita, harapkan kesejahteraan bagi mereka yang kita pimpin dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantah.
• Selesaikan tugas besar yang telah Yesus percayakan kepada kita dalam Injil Matius berikut, sebagai bagian tak terpisahkan dengan tanggung jawab kepemimpinan kita;
Karena itu pergilah dan jadikanlah segala bangsa murid-Ku, baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:19-20).
• Kerjakan saja bagian anda dengan baik, sebab Yesus Kristus, Raja atas segala raja, menjanjikan penyertaanNya.
* Penulis adalah Sekjend GKPA yang melayani di Kantor Pusat GKPA.
Pada dasawarsa belakangan ini sudah terbiasa perayaan dan pesta natal dengan begitu mewah, semerbak, hingar binger, dan foya-foya. Natal seolah-olah pesta mencari dana untuk dihabiskan demi kepuasan sesaat dan sementara. Natal bukan lagi sebuah kesederhanaan, melainkan natalberubah menjadi sebuah kemewahan pesta dan perayaan.
Mengutip pandangan Joas Prasetyo, terlalu sering Natal dispiritualisasi atau dirohanisasi sedemikian rupa hingga Bayi Yesus diletakkan ke dalam ruang hampa, bebas materi, yang berfungsi sebagai Penyelamat jiwa manusia. Hantu Plato agaknya terus membayangi Yesus, sejak kelahirannya. Plato adalah seorang filsuf besar yang hidup sebelum Yesus. Ia memetakan seluruh filsafat dunia dengan gagasan dasar bahwa roh itu unggul dan terjebak ke dalam tubuh yang kotor dan karenanya keselamatan tercapai ketika roh kembali ke dunia ideal dengan cara meninggalkan penjara tubuh. Ironisnya, sementara makna Natal dirohanisasi berlebihan, bentuk Natal, sebaliknya, dimaterialisasi besar-besaran hingga tanpanya Natal tak bisa lagi gemerlap, mewah dan mahal. Tangisan Bayi Yesus dibungkam lewat hadiah mahal. Keduanya-rohanisasi dan materialisasi Natal yang terselewengkan itu-sungguh membuat Natal popular tak lagi punya kesan, setidaknya buat saya.
Padahal, menurutnya, Natal perdana adalah demonstrasi ilahi bahwa daging, tubuh, sangat berharga di mata Allah. Natal adalah inkarnasi (Lt.: in, di dalam + carnis, daging). Natal adalah momen di mana daging, tubuh, diakui harganya, dimuliakan, serta dipandang dengan penuh takjub. Maka benarlah yang ditulis oleh Mary Earle.
Kita menemukan bahwa Allah mencintai tubuh, Allah bermain-main dengan materi, Allah berbicara kepada kita melalui atom dan molekul, melalui darah dan tulang. Melalui setiap ras dan budaya manusia. Kisah Kristen menuturkan kepada kita bahwa Allah memilih untuk menjadi manusia, memilih untuk mengenal kehidupan manusia sejak momen konsepsi hingga penderitaan maut.
Natal, dengan demikian menolak rohanisasi palsu Natal dengan menegaskan bahwa Roh Kudus itulah Roh sejati yang menghidupi dan menjagai rahim Maria, demi bertumbuhnya seorang bayi-berdarah dan berdaging. Pun Natal sejati menolak materialisasi palsu yang berusaha menyebar rumor bahwa peringatan ulang tahun seorang bayi miskin bernama Yesus harus dirayakan secara mewah dan anggun. Materialisasi palsu justru ditolak karena justru menggadaikan sifat jamak, lazim, dari materi itu sendiri. Materi dipoles berlebihan dan menjadi artifisial (bahkan superfisial). Materi menjadi berarti justru ketika diterima dan dihargai dalam keberadaannya yang biasa saja. “Allah mencintai materi,” kata C.S. Lewis, “Ialah Sang Penemunya.”
Lebih dalam Joas menjelaskan penghayatan natal itu dari tradisi Celtic. Bagi orang-orang Yunani, kata Paulus, Kristus adalah batu sandungan. Dan ini tepat. Kristus memang menolak spiritualisasi berlebihan dalam tradisi Gnostik Yunani, yang menguat dahsyat sejak Plato. Namun bagi tradisi Celtic, Kristus bukanlah batu sandungan, namun pemenuhan budaya mereka. Bagi masyarakat Celtic, yang sangat berorientasi pada alam dan hidup berkeluarga, kelahiran Sang Bayi Natal membuat mereka makin akrab dengan budaya mereka sendiri. Yesus bukanlah seorang asing.
Mary Earle bertutur tentang hiasan gua Natal di dalam budaya Celtic yang selalu menghadirkan sosok seorang perempuan sederhana, seorang pencuci, bersama-sama dengan Maria dan Yusuf. Yesus, bagi mereka, lahir di dalam hidup sebuah keluarga, sebuah rumah tangga pada umumnya. Yesus lahir dalam suasana keseharian hidup. Mary Earle selanjutnya menulis: “Kelahiran Yesus mengingatkan kita bahwa setiap rumahtangga sungguh dikasihi Allah.” Natal adalah keseharian yang diangkat dan dimuliakan ke jenjang di mana semua yang remeh dan sepele menjadi bermakna dan lahir ke dalam kawasan kemanusiaan yang sama sekali baru.
Kita juga banyak menemukan paradoks di dalam perayaan dan pesta natal jaman ini. Kita bisa menyaksikan beragam paradoks di dalam Natal. Natal adalah momen di mana rahmat Allah menghujani kita dengan penuh melimpah, dengan surplus, sekaligus hadir dengan cara mengosongkan diri serendah-rendahnya. Paradoks penuh-kosong ini sungguh mencengangkan. Natal juga menghadirkan paradoks lain yang sekaligus mengizinkan kita untuk mencicipi misteri ilahi: Sang Firman, yang di dalam dan melalui-Nya segala sesuatu diciptakan itu, kini justru menjadi bagian dari ciptaan.
Di satu sisi, seluruh kenyataan diciptakan oleh Allah melalui dan di dalam Kristus. Maka, di dalam keyakinan Kristen, penciptaan berlangsung di dalam Kristus. Paulus menegaskan hal ini dalam Kolose 1:16, “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Dan ia pun melanjutkan, “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia” (ay. 17). Jika kita berupaya memahami teks ini dalam perspektif yang lebih fisikal, maka dengan mudah kita mengatakan bahwa seluruh ciptaan itu berada di dalam Kristus. Kristus menjadi he khora ton zonton, penampung seluruh yang hidup (bahkan semua yang ada), kata sebuah tulisan kuno di sebuah biara di Istanbul.
Namun, di sisi lain, inkarnasi menegaskan bahwa Sang Firman itu justru kini lahir dalam sosok seorang bayi bernama Yesus, di sebuah titik spasial dan temporal tertentu. Singkatnya, Natal perdana meletakkan Yesus Kristus sebagai bagian dari semesta. “Firman itu telah menjadi manusia (daging), dan diam di antara kita,” kata Yohanes 1:14. Paulus juga menyadari bahwa, sekalipun segala sesuatu berada di dalam Kristus, namun Kristus yang sama dapat disapa oleh manusia, karena Ia berada di dalam dunia. “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kol. 2:9).
Misteri yang paradoksal ini memang tak perlu diselesaikan. Masalah memang bisa diselesaikan, namun tidak demikian dengan misteri. Misteri bukan untuk diselesaikan, namun untuk diterima dan dimasuki. Doktrin dan kata memang bisa membantu kita dalam memahami secuil kebenaran yang paradoksal ini. Namun doktrin dan kata tak bisa menolong kita untuk menghidupi paradoks ini. Maka, tak bisa tidak, kita hanya mampu menghayatinya lewat nada. Lewat doksa: puja dan puji.
Lebih aneh lagi, orang Kristen saat ini tidak malu lagi “mengemis” kepada pemerintah, instansi swasta, donateur, perusahaan hanya untuk melaksanakan perayaan dan pesta natal baik yang bersifat natal di kalangan gereja maupun natal yang bersifat ekumenis. Dan sungguh disayangkan juga ada segelintir orang memakai kesempatan perayaan dan pesta natal mencari dan meraup untung dari pelaksanaan pesta ini. Sungguh ironi jika hal-hal seperti ini terus dipertahankan dalam rangka merayakan natal kelahiran Kristus di dunia ini.
Jika kita melihat kelahiran Yesus di dunia ini, Yesus lahir di tempat yang hina dan sederhana, tanpa ada panitia. Tidak ada pesta dan kemewahan di dalamnya. Dia lahir memberikan diriNya untuk keselamatan dan kebahagiaan orang lain. Yesus meninggalkan singgasanaNya, meninggalkan keagunganNya demi kesenangan dan keagungan manusia.
Saat ini, orang Kristen cenderung merayakan natal dengan mencari dan meminta-minta kepada orang lain agar perayaan natal bisa dilaksanakan. Natal akhirnya menjadi momok yang menakutkan. Dengan natal, manusia ditakuti dan dibebani dengan persoalan uang, baju baru, makanan, hadiah dan lain sebagainya hanya untuk kesenangan dan kepuasan semata bukan untuk kesenangan manusia dan orang lain lagi.
Karenanya, sudah saatnya kita merayakan natal dengan sederhana tanpa dibebani dengan sesuatu. Mari kita merayakan natal dengan membawa berita damai sejahtera bagi dunia, bagi orang lain, bagi jemaat kita.
Bumi kita saat ini sudah semakin terasa panas. Suhu bumi setiap tahun bahkan setiap hari semakin naik. Hal ini diakibatkan ketidakseimbangan alam akibat maraknya perusakan bumi melalui penebangan hutan, pengerukan bumi dengan sebebas-bebasnya, dan polusi udara akibat emisi kendaraan bermotor di kota-kota besar dan kota-kota kecil. Bumi rusak akibat ulah manusia yang tidak memperhitungkan keseimangan alam dalam menata kehidupan bagi manusia dan hewan dan binatang yang tinggal di dalamnya.
Kesadaran bahwa bumi sudah diambang kehancuran, bermunculanlah kesadaran membangun dan membenahi bumi kembali dengan berbagai cara. Salah satu diantaranya adalah dengan penanaman pohon di bumi ini. Penanaman pohon yang bisa mengembalikan keseimbangan alam dengan menanam pohon-pohon yang bisa memberikan kesembuhan bagi alam yang sakit.
Salah satu organisasi yang bergerak dalam pemulihan alam ini adalah "Hijau Sehat Bersih" (HSB) yang dipimpin Pdt.Saud Abed Nego Sigalingging,STh. Organsisasi ini berada di Kota Pangkalan Berandan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. HSB ini telah menanami banyak menanami pohon di daerah Kabupaten Langkat hingga Samosir dan berbagai daerah di Sumatera Utara. HSB ini didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Langkat dan berbagai elemen pemerintah dan swasta.
Salah satu program yang akan dilaksanakan HSB dalam waktu dekat ini adalah "Penanaman Sejuta Pohon" di daerah Damparan, Kecamatan Saipar Dolok Hole (SDH), Kabupaten Tapanuli Selatan pada Senin, 15 Nopember 2010. Penanaman pohon ini merupakan bagian kerjasaman HSB dengan Pemkab Langkat, Pemkab Tapsel dan Kantor Pusat GKPA. Direncanakan pada penanaman Sejuta Pohon ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Tapsel, Ir.H.Aldinz Rapolo Siregar dan Pucuk Pimpinan GKPA.
Menurut Pucuk Pimpinan GKPA, Pdt.A.L.Hutasoit,MA (Ephorus), program ini sangat baik demi menjaga kelangsungan hidup manusia di dunia ini. GKPA sangat menyambut baik program mulia ini dan mendukung pelaksanaan program ini, karena program penghijauan merupakan salah satu agenda dunia saat ini dalam rangka memperbaiki bumi yang sedang mengalami kerusakan. Sejalan dengan itu, Pdt.Josep P.Matondang,MTh (Ka.Biro III GKPA) sangat senang dengan prorgam HSB Langkat ini dan mendukung pelaksanaan penanaman pohon ini di daerah Tapsel. Menutnya, gereja dan pemerintah harus saling bergandengan tangan dalam membangun bumi ini demi kehidupan masyarakat yang lebih baik lagi.