BLOG INI BERSIFAT TERBUKA UNTUK DIKOMENTARI DAN DIKRITISI DEMI KEMAJUAN WAWASAN BERPIKIR, DAN BERTEOLOGI MASA KINI
Selasa, 12 Februari 2008
”METODE AGAR HIDUP TETAP TEGAR DI USIA LANJUT”
( 2Korintus 4 : 16 )
Pengantar
Tulisan ini merupakan bahan Sermon Lansia (Lanjut Usia) di GKPA Penjernihan Resort Jakarta I Distrik IV: Jawa-Sumbagsel. Seluruh para lansia merasa bahwa bahan ini sangat berarti bagi usia lainnya misalnya bagi kalangan muda juga termasuk bagi para hamba Tuhan. Oleh karenanya mereka meminta agar bahan ini disebarluaskan melalui media Sioban Barita GKPA. Tentunya bahan ini telah kami perbaiki setelah mendengar masukan dari diskusi Lansia tersebut. Harapan kami tulisan ini dapat menambah pengetahuan dan iman bagi para pembaca yang budiman.
1. Salah satu penemuan paling menarik di bidang gerontologi (ilmu mengenai orang lanjut usia) adalah bahwa setiap orang ternyata sekaligus memiliki tiga usia yang berbeda: Usia kronologis yang dinyatakan dalam jumlah tahun seseorang hidup; usia biologis yang dinyatakan dengan kondisi atau keadaan kesehatan tubuh seseorang dan yang terakhir adalah usia psikologis yang diukur dari bagaimana seseorang merasa dan bertindak sebagai orang yang lanjut usia (lansia). Sangat penting bagi para lansia menghindari pandangan sempit dan fatal, yang menjadikan usia hanya ditandai dengan kalender saja, usia kronologis, yakni norma untuk perasaan dan perbuatan seseorang. Beberapa orang cepat menjadi tua secara biologis karena mereka merasa tua. Sebaliknya kita juga menjumpai orang-orang yang berusia 80-an yang merasa lebih muda daripada mereka yang berusia separuh baya. Di samping itu juga bisa kita pahami bahwa ada juga usia teologis, yaitu usia yang ditambahkan kepada seseorang akibat iman dan doanya kepada Tuhan. Misalnya, Raja Hizkia diperpanjang umurnya lima belas tahun akibat permohonannya kepada Tuhan (2Raja 20:1-6). Bagaimanakah caranya agar hidup kita tetap tegar di usia lansia?
2. Pertama: MAKIN LANJUT USIA, TETAPI TIDAK MENJADI TUA (2Kor.4:16). Umumnya istilah lanjut usia bermakna negatif, karena tua berarti berkeadaan uzur, sakit-sakitan, kurang tidur – tanda-tanda merosotnya sisi kehidupan. Sebagian orang menyangkali usia tuanya dan mempertahankan kemudaannya yang hilang bagai anak ayam yang enggan ke luar dari telur. Siapa pun tidak mampu menahan proses penuaan. Ia mulai menjadi tua sejak saat lahir. Pernahkah kita berpikir bahwa ada kemungkinan makin tua, tetapi tidak menjadi tua? Jika kita makin tua, kemampuan reflek, penglihatan, dan daya dengar kita berkurang. Langkah kita lambat. Manusia lahiriah kita makin merosot. Kosmetik dan krim kecantikan tidak mampu menyembunyikan keriput dan noda ketuaan. Tetapi Yesus berkata, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Mat.6:27). Namun, tua itu hanya ada dalam pikiran. ”Manusia batiniah kita dibaharui dari sehari ke sehari“. Selama ada harapan, cita-cita, aktivitas kehidupan dan semangat kita akan dibaharui. Tidak akan ada keriput dalam jiwa kita. Janji-janji saling mengasihi saat pemberkatan perkawinan, menguatkan para lansia untuk hidup selama mungkin. Kita makin tua, tetapi jangan biarkan diri kita menjadi tua.
3. Kedua: JANGAN PUTUS ASA (Yer.18:1-6). Setelah dewasa kita sering merasa kecewa bila menengok masa lalu kita. Kata “seandainya” – sungguh menusuk jiwa dan menyiksa perasaan kita di malam hari. Beberapa hal tidak terwujud seperti yang kita harapkan. Kita telah mengalami berbagai kekecewaan berat dan cita-cita yang tidak tercapai. Terlalu sering kita mengalami hidup bukan sebagai orang yang terbaik. Ketika Yeremia memberitakan firman Tuhan kepada umat Israel, mereka seperti tanah liat lama yang akan dibuang. Mereka tidak seperti yang diharapkan Tuhan. Harapan cerah untuk menjadi umat perjanjian Allah telah dihancurkan oleh sikap penolakan mereka yang keras kepala. Namun, Tuhan masih mempunyai rencana untuk tanah liat lama tersebut. Dengan kesabaran dan kebaikan yang tak terhingga, Tuhan membentuk kembali tanah liat lama itu hingga beroleh wujud baru dan lebih indah. Dari tanah liat yang telah dibentuk kembali itu muncullah harapan bagi masa depan. Kita harus memperhatikan dan menyadari bahwa jika kita mau berada di dalam tangan Tuhan, kita tidak perlu putus asa. Semua dosa kita telah diampuni oleh anugerahNya; dan bagaimana pun juga, dalam misteri pemeliharaan Tuhan, bahkan kegagalan-kegagalan kita pun dapat diampuni.
4. Ketiga: BERGANTI ARAH, BUKAN PENSIUN (Bil.8:15-26). Seorang psikolog berkata, “Dalam masa pensiun kita perlu mendengarkan diri sendiri. Kembangkanlah aspek-aspek baru dalam diri kita. Temukanlah hal-hal yang belum kita lakukan dan hal-hal yang menarik yang selama ini kita biarkan. Buktikanlah pada diri sendiri bahwa kita masih mempunyai cadangan kekuatan mental dan fisik”. Kata pensiun bisa menyesatkan. Umumnya orang membayangkan pensiun dengan tanda berhenti. Mungkin arti yang lebih baik adalah berganti arah. Berganti arah bukan secara negatif misalnya „tua-tua keladi makin tua makin menjadi – makin getek,dll“ juga bukan seperti kata orang tua di kampung, „Sarat na tobang do bayo i, sarat so suanon“. Bagi mereka yang berganti arah secara negatif ini maka baiklah mereka merenungkan Amos 4:12, „...bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu...“, Berganti arah yang kita maksud adalah secara positif. Pensiun adalah awal baru untuk melakukan yang terbaik dalam hidup kita. Kaum Lewi pensiun dari pelayanan aktifnya pada usia 50 tahun, namun bukan berarti bahwa mereka tidak aktif sepenuhnya. Mereka mulai „karier kedua“ yakni membantu, menasihati dan melayani kaum Lewi di Kemah Pertemuan. Rupanya mereka menjadi pengajar dan penasihat kaum Lewi yang lebih muda. Sebaiknya pengertian negatif tentang masa pensiun diganti dengan konsep kebebasan. Kita bebas membaca, bergaul, mengubah cara hidup diri sendiri dan menemukan berbagai prioritas baru. Dalam masa pensiun kita bebas mengembangkan angan-angan, impian-impian, bahkan juga gagasan-gagasan kita yang agaknya mustahil. Masa pensiun adalah masa berganti arah dan terus bergerak maju. Jika pada masa muda kita, kita selalu sibuk mencari hal-hal yang duniawi sehingga kita terlupa mencari hal-hal yang utama dalam hidup ini. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa berganti arah adalah berbalik kepada tujuan yang semula dan utama yaitu mencari kemuliaan Allah.
5. Keempat: PADA USIA LANJUT TETAP BERKARYA (Kej.12:1-4). Jika kita melihat di zaman ini ada seorang pria atau wanita lansia mempertahankan semangat gemar melakukan penyelidikan yang dilakukan dengan berani dan banyak akal di berbagai situasi, dan sering melakukan hal-hal yang membahayakan bahkan hal-hal yang tragis, maka orang ini dapat digolongkan seperti Ulysses. Usia Abram sekitar 75 tahun saat Tuhan memanggilnya meninggalkan rumah dan melakukan perjalanan iman istimewa. Saat-saat tersebut merupakan saat-saat kritis bagi usia hidup. Mengapa kita tidak dapat menerima kenyataan bahwa Allah dapat memakai para lansia? Tuhan akan menambah talenta bagi para lansia yang mau berkarya bagi Tuhan dan sesama. Tuhan tahu bahwa Abram punya potensi besar pada usia 75 tahun. Abram itu seperti Ulysses, tokoh yang pulang dari perang Troya sesudah perjuangan panjang dan ia berniat untuk hidup tenang. Tetapi, pejuang tua ini tidak bisa hanya duduk saja. Ulysses mencari “karya mulia” yang harus ia lakukan. Ada para lansia berbuat seperti Ulysses yang bersikap dewasa itu. Dan Abram adalah salah seorang di antaranya. Ada pepatah mengatakan, “Men sano in cor pore sano – Di dalam tubuh yang sehat, terdapat pikiran yang sehat”. Apakah pepatah ini relevan lagi bagi para lansia? Ternyata bagi para lansia, tubuh yang sehat sudah menjadi perjuangan karena penyakit sudah merupakan bagian dari hidup lansia kata pemazmur (Mzm.90:10). Namun bukan berarti bahwa di dalam tubuh yang loyo tidak dapat pikiran yang sehat. Lansia memang tubuhnya sudah mulai lemah tetapi pikiran mereka masih tetap sehat dan cemerlang. Oleh karena itu pepatah itu harus diperbaharui bagi lansia menjadi, “Di dalam tubuh yang lemah masih terdapat pikiran yang sehat dan cemerlang”. Sama dengan ungkapan itu ada juga ungkapan para tua-tua di kampung yang mengatakan, "Di naposo do gogo, di namatobangi hum roha nama“. Roha (hati) memiliki arti luas. Roha berarti sesuatu yang memberi buah dan pikiran, misalnya memberi nasihat (poda) kepada yang lebih muda. Pendeknya para lansia masih dapat tetap berkarya bagi keluarga, masyarakat dan memuliakan Tuhan kendati hanya melalui pikiran, ide-ide, nasihat dan wejangan, dan lain-lain.
6. Kelima: KASIH TUHAN BAGAIKAN KASIH KAKEK-NENEK (Mzm.103:13-14). Di sepanjang zaman kita telah mencoba menguraikan kasih Tuhan dengan berbagai ungkapan. Pernahkan kita mengumpamakan kasih Tuhan seperti kasih kakek-nenek? Kakek-nenek sering membawa hadiah bagi para cucunya, sementara mereka masih terlalu kecil untuk mengerti nilai pemberitan itu. Barulah nanti mereka sadar akan hadiah boneka atau buku cerita yang baik dari kakek-neneknya. Demikianlah Tuhan juga mengelilingi kita dengan anugerah kasih yang tanpa batas, dan kadang-kadang kita tidak menyadari berkat-berkat tersebut.
Kita harus tetap tegar bukan hanya tegar secara pysik saja, melainkan kita juga harus tegar secara iman. Tubuh bisa keriput, tetapi jiwa kita janganlah keriput. Jiwa dan iman kita harus tegar. Para Hamba Tuhan juga dalam menghadapi pergumulan dalam pelayanan harus tetap tegar secara iman. Kita harus memiliki pengharapan yang hidup di dalam Tuhan dan inilah yang terus memampukan kita tegar secara iman. Tentunya masih banyak metode dalam hidup kita ini agar kita tetap tegar dalam menghadapi pergumulan kita masing-masing. Marilah kita mengembangkannya dan membagikannya agar saudara-saudari kita dapat tertolong dan mampu tegar dalam menjalani hidupnya.
Jakarta, 23 Maret 2007
Ramli SN Harahap fidei’o7
[1] Disampaikan pada Sermon Lansia GKPA Penjernihan Resort Jakarta I Distrik IV: Jawa-Sumbagsel pada hari Jumat, 23 Maret 2007
Sabtu, 09 Februari 2008
Teologi: Makna Penelitian Yesus Sejarah dalam iman Kristen
MAKNA PENELITIAN YESUS SEJARAH
DALAM IMAN KRISTEN
Dalam perjalanan penelitian Yesus sejarah ternyata tidak semulus yang kita bayangkan. Perdebatan silih berganti terjadi. Keilahian sekaligus kemanusiaan Yesus kembali dipertanyakan. Iman Kristen sedang ditantang oleh produk budaya paling berpengaruh saat ini: media! Media sangat antusias mengeksploitasi Yesus. Entah dengan motif religius atau untuk mengeruk keuntungan semata. Beragam buku, novel, atau film menyangkut kehidupan Yesus atau interpretasi tentang Injil – berserta polemik yang menyertainya – sedang menggempur iman Kristen seperti: The Da Vinci Code, The Lord of The Rings, The Passion of The Christ, Injil Thomas, Injil Maria, Injil Filipus, The
Dalam laporan penelitian dikatakan, kuburan yang ditemukan tersebut berada di Talpiot, yang masih dalam wilayah Yerusalem. Didalam gua kecil yang dipercaya sebagai kuburan tersebut, team peneliti menemukan 10 sisa - sisa dari peti mati. Dimana tertulis nama-nama diatas sisa-sisa peti tersebut. Nama-nama yang ditemukan, diantaranya: Yesus, anak Yosef, anak Yesus dan dua kali nama Maria, yang dimaksud adalah Maria Magdalena, dan Maria ibu Yesus. Tak heran, penemuan menghebohkan ini segera menjadi headline harian nasional
Dalam refleksi kali ini akan mencoba mengetengahkan pendapat dua ahli yang satu sama lain sangat berbeda melihat Yesus sejarah.
Tom Wright
Nicholas Thomas "Tom" Wright yang lahir 1 December 1948 di Morpeth, Northumberland, Inggris adalah Bishop Durham Gereja Inggris (Bishop of Durham for the Church of England) dan seorang pemimpin sarjana Perjanjian Baru Inggris (British). Karya akademisnya selalu dipublikasikan di bawah nama N.T. Wright. Dia secara umum dikenal sebagai orang yang berpandangan Injili moderat. Dia bergabung dengan Third Quest for the Historical Jesus dan New Perspective on Paul. Dia mengatakan bahwa untuk mengerti Yesus saat ini harus dihubungkan dengan apa yang dikenal sebagai kebenaran tentang diriNya dari perspektif sejarah abad pertama Yudaisme dan Kekristenan.
Karyanya sangat diagungkan banyak sarjana dengan berbagai pandangan mereka termasuk Professor James D.G.Dunn, Richard B.Hays dan Rowan Williams, Archbishop Canterbury. Kritik terhadap karyanya juga disampaikan oleh para teolog dari kalangan konservatif seperti Ligon Duncan; dari kalangan liberal seperti Robert J. Miller dan John Shelby Spong. Juga dia menerima kritik tajam dari kalangan yang lebih radikal seperti Marcus J.Borg, dari kelompok Jesus Seminar.
Dalam pandangan Wright, cara mendapatkan Yesus sejarah adalah dari gambaran Yudaisme mula-mula dan dari gambaran di dalam Injil. Wright menggambarkan secara khusus pada sisi sosial, pilitik dan lingkungan keagamaan Galilea yang telah bertumbuh dengan penelitian saat ini yang disebut dengan Third Quest of the historical Jesus. Tetapi Wright tidak berkesempatan menganalisis penurunan sosial yang mengabaikan faktor keagamaan dan teologi yang membantu etika sosial Yesus pada waktu itu. Secara singkat, Wright melakukan pekerjaannya sebagai seorang sejarawan dan teolog, bukan terutama sebagai seorang arkeolog atau seorang ilmuwan sosial.
Bagi Wright, tekanan utama penelitiannya adalah ke-Yahudian Yesus dan pengikutNya. Hal inilah yang membedakan Wright dengan anggota Jesus Seminar --- khususnya Crossan dan Robert Funk. Funk menggambarkan Yesus sebagai seorang sosial radikal, dan orang yang menyimpang. Crossan mengatakan Yesus seorang egalitarian radikal di Galilea dengan memberi kesembuhan dan perjamuan makanan terbuka bagi setiap orang yang datang. Wright mencoba mengerti Yesus dalam terang simbol-simbol umum dan nilai-nilai Kekristenan mula-mula seperti: Hukum Taurat, Bait Allah, kosmos, perumpaan-perumpamaan, dan kemanusiaan Yesus.
Pemikiran Wright sama dengan Schweitzer yang mempercayai bahwa Yesus diutus untuk mendirikan Kerajaan Allah di dunia dan mengutamakan pemberitaanNya pada akhir zaman. Yesus yakin bahwa orang pada abad pertama mempercayai Kerajaan Allah sudah datang di dalam dan melalui pelayananNya.
Dalam bukunya, The Original Jesus: The Life and Vision of a Revolutionary, Wright mencoba mengerti seluruh cerita perumpamaan dan pengajaran Yesus dari pemahaman masyarakat pada zaman Yesus dan memahaminya pada saat sekarang ini. Bahkan Wright berpendapat bahwa dengan menceritakan cerita perumpamaan dan pengajaran Yesus dengan cara yang berbeda akan mengubah dunia saat ini. Dalam bagian dua bukunya (Membaca Injil dengan kedua mata terbuka), Wright menjelaskan lebih dalam bahwa cerita-cerita bukanlah hanya bahan cerita anak-anak, pengikat yang indah di sekitar sisi pemikiran serius yang abstrak. Melainkan cerita-cerita itu merupakan dinamit dan eksplosif yang melakukan segala sesuatu; yang merubah segala sesuatu dan membuat segala sesuatu.
Lebih jauh Wright dalam uraiannya mencoba memahami dunia Yesus dengan pendekatan pastoral artinya dengan melihat peristiwa yang terjadi pada zaman Yesus dua ribu tahun yang silam dimaknai ulang pada saat ini. Pendekatan ini akhirnya mengabaikan penelitian Yesus sejarah secara obyektif. Sehingga pendekatan Wright ini sangat sederhana, sebab dia tidak memakai disiplin ilmu lain dalam memahami keberadaan Yesus sejarah tersebut.
John Dominic Crossan yang lahir di Nenagh, Co. Tipperary, Ireland, 1934 adalah seorang sarjana Kitab Suci Irish Amerika yang dikenal sebagai pendiri kelompok Jesus Seminar. Menerima pendidikan di Ireland pada Maynooth College, di Roma pada Pontifical Biblical Institute, dan di Yerusalem pada Ecole Biblique. Sebagai seorang figur yang terkenal dalam bidang Arkeologi Alkitab, dan ahli Kritik Teks Perjanjian Baru, maka dia menjadi seorang dosen yang terkenal. Dia banyak kelihatan dalam banyak film dokumenter tentang Yesus dan Alkitab. Sejak tahun 1992-1998 dia menjadi ketua Seksi Yesus Sejarah pada Society of Biblical Literature. Sekarang dia adalah Profesor emiritus pada De Paul University. Dia tinggal bersama isterinya Sarah dekat
Dia telah memberikan banyak artikel dan pandangan dalam jurnal-jurnal dan telah menulis lebih dari 18 buku selama 30 tahun. Buku best sellernya adalah The Birth of Christianity yang diterbitkan tahun 1998. Dan empat judul bukunya menjadi best seller nasional yaitu: The Historical Jesus, Jesus: A Revolutionary Biography, Who Killed Jesus dan The Birth of Christianity. Crossan bergabung dengan arkeologist brilian untuk menjelaskan hidup dan pengajaran Yesus.
Crossan menduga Yesus mungkin adalah seorang petani buta huruf, tetapi juga seorang manusia yang penuh hikmat dan yang mendorong orang untuk berpikir inklusif, toleransi dan memiliki kebebasan. Crossan menanyakan kesejarahan cerita-cerita Injil tentang Yesus termasuk “tanda mujizatNya”, kelahiran dan kebangkitan Lazarus. Bahkan Crossan berpendapat bahwa tubuh Yesus mungkin telah dicuri dari kuburanNya, dikuburkan dalam kuburan yang dangkal sehingga dimakan oleh binatang atau burung pemakan bangkai seperti anjing pemakan bangkai. Pendapat ini amat mengejutkan sekali bagi saya.
Berdasarkan pembahasannya yang menggunakan berbagai inter disipliner (cross-cultural anthropology, Greco-Roman and Jewish history, dan literary and textual evidence), maka Crossan menyimpulkan bahwa cerita-cerita kelahiran, paskah, kebangkitan Yesus bukanlah sebuah peristiwa sejarah. Dari paparannya juga kita mendapatkan garis sejarah politik Yesus yang benar dari seluruh ilmu mitologi, seorang pemimpin revolusionaris sosial yang berpikir “egalitarianisme radikal” tetapi tanpa mujizat, kecuali kebangkitan kesadaran sosial. Bahkan analisa Crossan mengatakan bahwa: “Yesus tidak melakukan dan tidak dapat menyembuhkan … penyakit (disease)”; Yesus tidak pernah bertemu dengan
Bahasan Crossan tentang Yesus dalam bukunya ini semakin membuka mata untuk mengerti kehidupan Yesus yang sejarah. Crossan menggambarkan Yesus dengan kehangatan dan kuasa. Dia membuat sebuah potret yang dibuat dalam latarbelakang yang sezaman dengan Yesus. Yesus adalah petani Yahudi, dengan perasaan kesegeraan kehadiran Allah, yang menghancurkan pengendalian sosial. Crossan melihat karya penyelamatan Yesus adalah bersifat sapiental (ethical eschatology), artinya kehadiran kerajaan Allah bukanlah pada hari yang akan datang melainkan kini dan di sini.
Pendekatan Crossan ini sangat berbeda dengan pendekatan NT.Wright. Jika Wright memakai pendekatannya dengan metode pastoral, maka Crossan memakai pendekatan interdisipliner dalam merekonstruksi Yesus sejarah. Pendekatan ini mencakup tiga langkah analitis yang semuanya bekerjasama sepenuhnya, seimbang dan saling terkait, untuk menghasilkan suatu sintesis yang kokoh dan efektif. Langkah pertama adalah melakukan suatu analisis antropologis lintas-budaya dan lintas-zaman, dengan menerapkan beberapa model dan tipologi antropologis. Langkah kedua, melakukan suatu analisis sejarah zaman Hellenistik dan Yunani-Romawi, dengan memakai kajian-kajian sinkronik dan diakronik atas bahan-bahan yang relevan. Kedua langkah ini dimaksudkan untuk mendapatkan konteks historis dan kontemporer dan sesudahnya (sampai tahun 70) yang di dalamnya Yesus dapat dengan mantap ditempatkan. Langkah ketiga, melakukan suatu analisis tekstual dan literer atas bahan-bahan tentang Yesus; langkah ini paling mendasar sebab "setiap kajian tentang Yesus sejarah akan bertahan atau gugur tergantung pada bagaimana si peneliti menangani langkah analisi literer atas teks yang ada.“
Dalam merekontruksi Yesus sejarah, akan selalu ada interaksi antara data-data tekstual yang sedang ditafsir dan teologi si perekonstruksi. Dengan demikian, setiap pengkajian Yesus sejarah adalah sebuah usaha hermeneutik, untuk menemukan Yesus di masa lalu yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis yang diajukan si peneliti terhadap teks-teks yang tersedia, pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari lokasi sosial si peneliti di masa kini. Inilah yang dilakukan oleh Crossan dalam bagian ini. Crossan mencoba menjawab pertanyaan sosial mengenai apakah Yesus anak manusia, apakah Yesus adalah hakim atas dunia ini? Ternyata dalam penelitiannya atas berbagai teks-teks yang ada maka Crossan berkesimpulan bahwa Yesus tidak pernah menjadi hakim, Yesus tidak pernah menyebut diriNya sebagai Anak Manusia. Dalam bagian lain, Crossan juga menegaskan bahwa Yesus bukanlah nabi apokaliptis. Sebab Yesus menekankan "pesta" di dalam pengajarannya, karena Yesus memahami bahwa Kerajaan Allah itu sudah ada di bumi ini bukan lagi sesuatu yang harus ditunggu-tunggu lagi. Dengan demikian visi eskatologis apokaliptis tentang masuknya manusia ke "sorga" sebagai suatu ”dunia lain“ di masa depan di akhir sejarah dunia, bukanlah visi Yesus sejarah.
Metode penelitian seperti ini menurut saya lebih baik daripada pendekatan Wright sebab kebenaran Yesus sejarah itu digali dari berbagai sumber-sumber yang mengacu kepada kebenaran sejarah. Kehidupan Yesus yang hidup dulu dapat kita rekonstruksi ulang dari penelitian interdisipliner ini. Sebab Yesus yang diberitakan sekarang adalah Yesus kepercayaan dari pada penulis Injil pada abad pertama. Dengan adanya penelitian interdisipliner ini akan memperkaya pemahaman kita akan karya dan hidup Yesus lebih nyata dan otentik.
Perenungan
Dalam penelitiannya, Crossan memakai sumber-sumber non-Alkitab yang membuktikan fakta bahwa Yesus sosok sejarah yang asli. Tulisan Flavius Josephus, ahli sejarah Yahudi abad pertama terkenal menegaskan bahwa Yesus memang benar-benar ada. Dan menggambarkan bagaimana Yesus dirajam oleh dewan Yahudi, Sanhedrin. Ada juga rujukan singkat Yesus lainnya dalam ahli sejarah non-Kristen pada penulis Romawi seperti Thallus, Seutoneous, dan Asotis. Dan ahli sejarah Yunani seperti Lucien. Juga dokumen Yahudi yang membuat Talmut, terdapat rujukan soal Yesus. Meliputi mukjizat dan pengusiran setan olehNya.
Cornelius Tacitus ahli sejarah Romawi menegaskan bahwa Yesus disalibkan layaknya penjahat dalam pemerintahan Pontius Pilatus. Ia juga menceritakan Kekristenan berasal dari Yudea kuno. Umat Kristen berkembang di Roma. Walau ada fakta pendiri Kekristenan itu dihukum mati sebagai penjahat. Certonias adalah ahli sejarah resmi Romawi di zaman Kaisar Trajan. Tulisannya menegaskan pernyataan Lukas dalam Kis. 18:2 tentang pengusiran orang Yahudi dari Roma oleh Kaisar Klaudius. Ia juga menjelaskan ada sejumlah orang Kristen yang tinggal di Roma sebelum pertengahan tahun 60-an M. Tulisan Gubernur Romawi Pliny Muda khususnya menarik mengenai ajaran dalam Perjanjian Baru. Menurut Pliny, umat Kristen sangat mencintai kebenaran. Ia menulis bahwa mereka berkumpul di hari tertentu sebelum fajar, menyanyikan hymne bagi Kristus. Dan bersumpah tak berbuat dosa lagi.
Tapi apakah hanya ahli sejarah kuno yang mendukung catatan Alkitab? Sain modern juga memiliki andil dalam menegaskan Injil. Bahkan saat sumbernya sangat sekuler dan sering tak simpatik pada Kekristenan. Misalnya salah satu aspek dari mukjizat penyaliban yaitu kegelapan meliputi negeri dari jam ke-6 hingga jam ke-9. Matius, Markus, dan Lukas mencatat peristiwa itu. Begitu juga para ahli sekuler. Di antaranya seorang pria bernama Thallus yang hidup di tahun 52 M dari Siria menegaskan bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi.
Bisakah sain modern kita memperkokoh argumen ini? Adakah temuan ilmiah lainnya yang cenderung mendukung atau menentang bahwa Kristus pernah hidup? Kolam Siloam dan Betesda yang ada di Injil Yohanes digali tahun 1890-an. Dan ditemukan persis seperti gambaran di Alkitab. Prasasti yang merujuk Pilatus bagian dari Yudea ditemukan tahun 1963. Di pertengahan tahun 1980-an, perahu nelayan yang dibentuk dan gayanya agak mirip dengan cerita Injil, ditemukan abad pertama di dasar Laut Galilea. Dan di tahun 1990-an, makam Kayafas imam besar di saat Yesus mati juga ditemukan.
Jelaslah bahwa Yesus memang ada dalam sejarah. Sumber Alkitab dan non-Alkitab membuktikan karyaNya, pengadilan dan penyalibanNya. Dan masih ada pertanyaan lain-lainnya yang jawabannya masih dicari oleh ilmuwan dan cendikiawan. Tapi janganlah diabaikan pencarian kebenaran ini. Sejauh ini belum ada temuan yang menentang catatan Alkitab. Namun penemuan-penemuan tersebut merupakan pembuktian bahwa di luar sumber Kristen tenyata ada laporan yang melaporkan kisah-kisah Yesus dalam sejarah.
Kisah sejati tentang Yesus sejarah sangat menarik dan memberi ilham. Kisah ini mungkin merupakan cerita lama, tetapi jauh lebih memukau daripada versi cerita Yesus yang lebih baru, radikal, minimalis, dan revisionis. Arkeologi yang terus-menerus dilakukan, penemuan yang terus-menerus berlangsung dan riset tentang dokumen kuno akan terus memancarkan terangnya pada kisah tua ini. Penemuan tersebut mungkin memerlukan penyesuaian di sana sini. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penemuan-penemuan arkeologi dan ilmu-ilmu di luar Kekristenan harus kita pahami sebagai penemuan yang meneguhkan iman percaya kita.
Kamis, 07 Februari 2008
PROFIL GKPA DISTRIK IV: JAWA-SUMBAGSEL

PROFIL GKPA DISTRIK IV:
JAWA – SUMBAGSEL
Kata Sambutan Praeses GKPA Distrik IV
Horas,
Terpujilah Kristus Raja Gereja yang telah memberkati GerejaNya GKPA dalam sejarah perjalanan pelayananya di dunia ini. GKPA sebagai sebuah organisasi yang dipakai Tuhan untuk menyampaikan Kabar Baik dan Kerajaan Sorga kepada seluruh makhluk yang ada di atas bumi ini.
Dalam perkembangan GKPA semakin terlihat adanya keseriusan dalam menata pelayanannya di dalam berbagai segi baik di tingkat Pusat, Distrik, Resort dan Parlagutan. Untuk menjawab kemajuan dan perkembangan dunia saat ini GKPA tidak mau tinggal diam. GKPA sebagai organ yang hidup, juga bergerak dinamis memperbaharui dirinya menuju kesempurnaan Kristus. Gereja yang hidup adalah gereja yang selalu membaharui diri baik dalam organisasi maupun di dalam pelayanannya.
Dalam rangka itu, oleh Synode Am GKPA ke XV di Padangsidimpuan telah memutuskan dan menetapkan bahwa seluruh Distrik yang ada di GKPA akan mandiri sebagai perpanjangan tangan Pucuk Pimpinan di daerah melayani dan menata serta membina umat baik secara organisasi maupun spiritual.
GKPA Distrik IV periode 2006-2011 merupakan permulaan diberlakukannya keputusan Synode dimaksud di atas. Konsekuensinya banyak hal yang harus dipersiapkan oleh kita bersama baik dari Pelaksana Harian Parlagutan (PHP), Pelaksana Harian Resort (PHR), Pelaksana Harian Distrik (PHD) serta Majelis di setiap tingkatan maupun seluruh warga jemaat untuk menuju kemandirian Distrik tersebut.
Kami sadar bahwa tanpa kebersamaan kita cita-cita luhur kemandirian Gereja ini tidak akan tercapai. Namun jika kita bahu-membahu, saling bergandengan tangan dalam mewujudkan kehendak Allah di dalam gereja GKPA kita ini, kami yakin dan percaya semuanya akan tercapai dengan baik membawa damai sejahtera bagi kita semua dan kemuliaan bagi Bapa Sorgawi.
Salam kasih,
Pdt. DBG. Hutagalung,STh
Praeses GKPA Distrik IV
I. APAKAH GKPA DISTRIK IV ITU?
Berdasarkan Tata Laksana GKPA pasal 9, Distrik ialah persekutuan sejumlah Resort dan merupakan suatu kesatuan daerah pelayanan yang terdiri dari beberapa Resort.
GKPA Distrik IV ini terdiri dari tiga (3) Resort dan sepuluh (10) Parlagutan yang tersebar di daerah Jawa (DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur) dan Sumatera Bagian Selatan (Palembang, Jambi dan Lampung).
Distrik dipimpin oleh Pendeta Distrik dengan jabatan Praeses. GKPA Distrik IV ini dipimpin oleh Pdt.DBG.Hutagalung,STh periode 2006-2011.
GKPA Distrik IV ini dinyatakan mandiri artinya jabatan Praeses tidak merangkap jabatan dengan jabatan Pendeta Resort Jakarta I. Dalam tugas dan tanggungjawabnya Praeses GKPA Distrik IV bertanggung jawab kepada Pucuk Pimpinan sesuai dengan Tata Gereja, Tata Laksana, Konfessi, Siasat Gereja dan peraturan GKPA lainnya.
Tempat kedudukan GKPA Distrik IV sesuai dengan ketetapan Pucuk Pimpinan GKPA setelah mendapat pertimbangan dari Majelis Pusat adalah di GKPA Resort Jakarta I tepatnya di GKPA Penjernihan.
Apakah visi GKPA Distrik IV?
Dahulu pada awal panjaeon HKBPA dari HKBP, cita-cita luhur atau visi dari para penggagas dan pelopor panjaeon HKBPA adalah “PATANAKHON HATA NI DEBATA TU LUAT ANGKOLA”. Visi ini sangat relevan pada saat itu sebab banyak orang Angkola tidak mendapatkan pelayanan dan pengajaran Firman Tuhan secara baik. Artinya orang-orang Kristen Angkola merasa “tidak dilayani” secara penuh oleh Gereja/Pendeta (HKBP) secara maksimal pada waktu itu. Dengan melihat situasi dan keadaan keberimanan orang Angkola yang kurang baik ini, maka timbullah semangat untuk manjae dari HKBP agar orang-orang Kristen Angkola bisa lebih melayani firman, pembinaan iman kepada orang Kristen Angkola di Bona Bulu dengan baik. Visi ini masih terus berjalan hingga kini. Untuk mencapai visi ini, maka GKPA telah menerima banyak para pelayan Tuhan misalnya pendeta, guru parlagutan, biblevrow, diakones, dll.
Namun sekarang, perlu suatu perenungan tentang visi dulu diperhadapkan dengan situasi dan kodisi GKPA saat ini. Apakah visi ini masih benar-benar dilaksanakan oleh Gereja? Dan apakah indikasi jika Gereja kita masih memperjuangkan visi ini. Mari kita lihat dulu situasi sekarang. Fokus pelayanan yang berkembang saat ini „bukan“ lagi mengarah ke daerah bonabulu. Mengapa? Alasan yang klasik adalah mungkin karena jemaat desa „tidak bisa“ menopang Gereja secara ekonomi. Yang diharapkan adalah jemaat „kota“. Gereja kita sekarang berani menempatkan seorang „pendeta“ di jemaat kota kendatipun jumlah jemaat itu tidak banyak. Dan membiarkan pelayanan di desa „terbengkalai“ karena pelayannya hanya pendeta praktek. Disisi lain, bisa kita melihat bahwa pembinaan iman kepada jemaat desa hanya dilakukan secara „konvensional“ artinya hanya kegiatan rutinitas saja. Bahkan pelayan di desa tidak di „upgrade“ pengetahuan pelayanannya agar semakin tajam dalam melayani jemaat di sana. Inikah yang disebut dengan „patanakhon hata ni Debata di luat Angkola?
Mari kita lihat kilas balik di jemaat kota. Di perkotaan, para pelayan sibuk dengan pelayanan yang semakin hari semakin berkembang. Jemaatnya bersemangat datang ke gereja, menghadiri kegiatan kategorial, bahkan kegiatan-kegiatan yang sangat variatif. Terkadang pendetanya bingung melayani mereka karena penuh dengan semangat yang berapi-api untuk mendapatkan pembinaan iman dari Gereja. Mau tidak-mau Gereja harus mengirimkan para pelayan ke jemaat kota pelayan-pelayan yang berkualitas dan mampu membina iman para jemaat kota tadi. Jika pelayan tidak mampu menjawab tantangan pelayanan itu, maka akibatnya dia harus gulung tikar kembali ke desa. Inikah visi „patanakhon hata ni Debata di luat Angkola?
Melihat perubahan di atas, maka visi GKPA Distrik IV adalah: “PATANAKHON HATA NI DEBATA TU HALAK ANGKOLA DOHOT TU SUDE NA BANGSO” (MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN KEPADA ORANG ANGKOLA DAN KEPADA SUKU-SUKUBANGSA). Dengan visi ini kita tidak terjebak kepada „geografis“ yaitu luat Angkola dan „suku“ yaitu suku Angkola, tetapi kita bebas melayani orang Kristen Angkola dan Suku-suku lain di belahan bumi persada Nusantara dan dunia ini. Fokus kita sama beratnya, tidak hanya terfokus ke desa, atau terfokus di kota. Baik desa maupun kota merupakan tempat yang penting dan perlu dibenahi. Patanakhon hata ni Debata tu halak Angkola dan Suku bangsa ini akan membuka diri kepada setiap orang Angkola yang masih tinggal di rumah „orang“ agar kembali ke rumahnya sendiri serta memanggil dan mengajak orang dari suku bangsa manapun yang mau bergabung dalam wadah organisasi GKPA.
Apakah misi GKPA Distrik IV?
Misi ini merupakan alat atau kenderaan kita untuk mencapai visi GKPA Distrik IV tadi. Misi GKPA Distrik IV sudah tertuang dalam Program Kerja GKPA Distrik IV yang disahkan dalam Rapat Distrik IV. Program Kerja ini juga diimplementasikan di seluruh jajaran dan tingkatan GKPA di Distrik IV seperti: Resort dan Parlagutan. Artinya GKPA Distrik IV ini memiliki program bersama. GKPA Distrik IV tidak memiliki program yang terpisah-pisah dengan Program Kerja Resort-Resort maupun Parlagutan-Parlagutan yang ada di Distrik IV ini.
Namun masih ada yang perlu kami jelaskan lagi dalam misi ini yaitu bahwa kita harus mampu menjadi „tuan di rumah sendiri“. Artinya kita harus mampu menunjukkan bahwa GKPA memiliki kekuatan, dan kemampuan untuk mengatur dan mengelola dirinya sendiri. Berdiri di atas kaki sendiri, bukan mengandalkan kekuatan luar.
Di sisi lain, untuk mencapai tujuan di atas maka kita juga butuh membangun kebersamaan baik di kalangan para pelayan maupun antara pelayan dengan jemaat. Membangun kebersamaan berarti kita tidak jalan sendiri-sendiri atau membiarkan orang lain berjalan sendiri. Membangun kebersamaan juga bukan berarti sama-sama berjalan, melainkan berjalan bersama-sama. Yang kita butuhkan dalam kebersamaan ini adalah membangun „jaringan“ pelayanan. Kita merupakan „Team Work“. Tim yang solid dan satu. Satu artinya kita adalah sama-sama melayani Tuhan Yesus dalam wadah gereja GKPA. Kebersamaan ini harus dipupuk agar tercapai visi yang baik.
II. PROGRAM KERJA GKPA DISTRIK IV
A. PROGRAM UMUM
- Pembinaan Pelaksana Harian Parlagutan (PHP), Pelaksana Harian Resort (PHR) Jakarta I, Jakarta II dan Sumbagsel. Untuk memahami dan menyatukan visi dan misi GKPA. Pertemuan ini telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 17 Pebruari 2007 di GKPA Penjernihan.
- Pembinaan Majelis Parlagutan dan Majelis Resort dan Majelis Se-Distrik IV agar semua anggota Majelis Parlagutan, Resort dan Distrik mempunyai jalinan kerjasama yang baik untuk saling topang menopang dalam aktivitas pelayanan dirasa perlu mengarahkan pertemuan yang dihadiri oleh semua anggota Majelis Parlagutan, Resort dan Distrik. Pertemuan ini telah dilaksanakan pada 14 April 2007 di GKPA Penjernihan.
- Pembinaan Personil /Musyawarah Pelayanan (Mupel) Personil GKPA dan Sermon Distrik IV. Untuk pembinaan personil GKPA (Pendeta, Guru Parlagutan, Bibelvrow) dalam rangka peningkatan pelayanan dan keseragaman liturgi serta ibadah-ibadah lainnya, perlu diadakan pertemuan sekali 3 bulan. Pertemuan ini telah dilaksanakan 4 kali.
- Kunjungan Pastoral/Pelayanan Praeses. Mengunjungi semua jemaat GKPA yang ada di Distrik IV dan Pesta-Pesta tahun 2007

(Gbr.kiri) Kunjungan Praeses
dan PHD ke GKPA
Palembang 12-13 Mei 2007
(Gbr.kanan) Kunjungan
Praeses dan PHD ke GKPA
Muara Bungo 29 Juli 2007

Pesta Pangompoion GKPA Bekasi 6 Mei 2007 yang dipimpin oleh Ephorus GKPA Pdt.AL.Hutasoit,MA
- Pertemuan/Acara Bona Taon Masyarakat Angkola – Mandailing.
- Melaksanakan Pesta Olopolop 32 tahun GKPA pada bulan Oktober 2007.
- Melaksanakan Pesta Distrik IV untuk menjalin rasa persaudaraan di antara sesama jemaat GKPA se-Distrik IV. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 5 Agustus 2007.
- Melaksanakan Rapat Distrik IV pada hari Sabtu, 20 Januari 2007
- Program Pembayaran Gaji lewat Bendahara Distrik IV.
- Melaksanakan Sermon GKPA Distrik IV setiap Minggu kedua tiap bulannya.

Sermon GKPA Distrik IV di GKPA Bekasi 14 Juli 2007


Praeses GKPA Distrik IV memberikan SM GKPA Muara Bungo manortor
alat-alat tulis bagi anak-anak SM pada Pesta Distrik IV yang dihadiri GKPA Muara Bungo, 29 Juli 2007 PHD Distrik IV Minggu, 29 Juli 2007
Profil GKPA Distrik IV....................................................... 8)
- Mengikuti pertemuan Oikumenis seperti PGI, dll
- Menjalin kerjasama dengan Pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Non Government Organization (NGO).
- Ramah Tamah dengan Pucuk Pimpinan GKPA

Ramah tamah dengan Ephorus GKPA 5 Mei 2007 di GKPA Penjernihan
B. PROGRAM BIDANG-BIDANG
a. Bidang Pembianaan Warga Gereja (PWG) : Pdt.Adma Ritonga,MPSi
1.1. Sekolah Minggu Distrik (SMD)
- Mengadakan Paskah Bersama se-Distrik IV pada bulan April/Mei 2007
- Pekan Sekolah Minggu untuk semua kelas pada bulan Juni 2007
- Pembinaan Guru Sekolah Minggu dengan materi: Panggilan menjadi Guru Sekolah Minggu, Tekhnik membawa Cerita Anak. Pada bulan Juli 2007
- Pertemuan & Sermon Guru SM bergantian sekali 4 bulan
- Mengirim kartu Nata dan Tahun Baru
1.2. PN Distrik:
- The Fellowship of the little coin
- KKR & Ibadah Parheheon
- Bakti Sosial
- Pembinaan Organisasi berkelanjutan
1.3. PP Distrik:
1.4. PA Distrik:
- Menggalang persekutuan ama se-Distrik IV.
1.5. Lansia
- Mempersiapkan/menghimbau setiap Parlagutan untuk mendata jemaat yang telah lansia dan membentuk seksi lansia di setiap Parlagutan dan mengenai usia lansia disesuaikan dengan situasi dan kondisi jemaat setempat.
- Melasanakan Sermon Gabungan Lansia di setiap Resort
- Melaksanakan Sermon Lansia Distrik dua kali dalam setahun.
- Lansia di tiap Parlagutan benar-benar ada dan berkarya sehingga ada linknya ke Distrik. Karya nyata itu lansia aktif melayani di setiap kategorial.
- Lansia di Distrik bisa memfasilitasi lansia di gereja lain untuk ikut bersama-sama dalam kegiatan lansia di salah satu gereja yang ada di Distrik IV
- Memikirkan malam dana untuk Zending

Serah terima jabatan Guru Parlagutan GKPA
Muara Bungo dari St.MJP.Lubis kepada
Pdt.Dasawarsanto Bukit pada hari
Minggu, 29 Juli 2007 yang dipimpin
Praeses GKPA Distrik IV
Pdt.DBG.Hutagalung,STh
1.6. Pemberdayaan SDM
- Memberdayakan lansia dalam pelayanan
- Melibatkan lansia dalam perkunjungan
- Agar setiap Sintua yang emiritus untuk dilibatkan dalam pemimpin ibadah (liturgos)
- Pelayanan kepada orang-orang profesional misalnya pengusaha dll.
b. Bidang Zending dan Pos Pelayanan : Pdt.MP.Aritonang,MTh
- Membuka pos PI di Karawang-Cikampek dan Tanggerang-Cengkareng. Bidang Zending akan berbicara dengan GKPA Bekasi dan Penjernihan. Dan bisa saja membuka daerah lain yang diserahkan kepada Parlagutan yang ada.
- Membuka Pos Pelayanan dan Jemaat di daerah Muara Bungo dan Jambi.
Ada beberapa jemaat yang membutuhkan pelayanan dari GKPA di daerah tersebut yaitu:
1. Daerah Jalan ke Padang Jumlah KK : 25 KK
2. Daerah Rimbo B Jumlah KK : 60 KK
3. Daerah Kampung Dusun Jumlah KK : 42 KK
4. Daerah Jambi Jumlah KK : 100 KK

Ini adalah foto calon warga jemaat GKPA
yang berasal dari suku Nias dari daerah
Rimbo B - Jambi.
- Menggalakkan kembali Pesta Zending.
- Bekerjasama dengan Bidang Diakonia Sosial untuk saling menopang pelayanan
- Menyusun program pembinaan jemaat yang missioner
c. Bidang Liturgi, Nyanyian dan Musik Gereja : St.MS.Siahaan
- Membahas dan memformulasi Liturgi atau Tata Ibadah GKPA dengan acuan Agenda GKPA dan Konfessi GKPA
- Membahas dan menelaah nyanyian dan musik yang dapat menopang Ibadah GKPA.
- Menyusun dan merangkai Ibadah Alternatif sesuai dengan hasil Litbang.
- Menjemaatkan BEAM dan KJ dan PKJ
- Membimbing penyusun Tata Ibadah agar nyanyian berdasarkan isi dan unsur ibadah
- Lagu-lagu yang dibawakan PS/VG hendaknya memperhatikan tema yang berkualitas rohani.
- Menyempurnakan (penulisan kata, kalimat ) dalam BEAM
- Menambahkan lagu-lagu dalam BEAM
- Menyusun panduan bernyanyi dalam jemaat
- Ada penyesuaian Agenda baru dengan BEAM
- Setiap Parlagutan Ibadahnya kembali ke Agenda GKPA dan lagunya disusun sesuai dengan tema-tema minggu.
- Supaya pemandu pujian (song leader) dibentuk di setiap gereja GKPA se-Distrik IV untuk memandu dan mengajar jemaat bernyanyi dengan benar. Apakah yang biasa dilagukan atau yang sesuai dengan notasi lagu?
- Mengembalikan nomor BEAM ke nomor buku yang lama.
- Kursus-kursus Liturgi
- Agenda agar direvisi ulang
- Lagu-lagu Angkola diajarkan kepada SM dan Remaja.
d. Bidang Aturan dan Peraturan GKPA: SR.Siregar
- Menyusun Rancangan Penjelasan TG & TL GKPA
- Penyusunan Rancangan Penyempurnaan Peraturan yang menyangkut kepegawaian GKPA
- Membuat Amandemen TG & TL GKPA
- Membuat Tim Penyusunan Penjelasan TG & TL GKPA:
Ketua : SR.Siregar
Sekretaris : Vic.Harapan Nainggolan,M.Min
Anggota : Pdt.DBG.Hutagalung,SmTh Pdt.TZ.Hutabarat, St.Em.Ir.F.Sagala,SH; Drs.Parto.Pakpahan, Casin Ihutan Hasibuan, Manahan Marpaung, St.MS.Siahaan

Tim Penyusunan Penjelasan Tata Gereja dan Tata Laksana berdiskusi di Puncak saat merumuskan draft penjelasan TG & TL
- Membuat Tim Penyusunan Penyempurnaan Peraturan Kepegawaian GKPA:
Ketua : Pdt.B.Nainggolan,STh
Sekretaris : St.Drs.F.Panjaitan,MPd
Anggota : St.dr.Esanov Hasibuan,Sp.OG; St.(Em) JH.Siregar, Ramli SN Harahap, Casin Remedy Ritonga, Pdt.Irwan Siregar,STh, St.Drs.Parsaulian Tambunan,MPd
- Membuat Tim Penyusunan Amandemen TG & TL GKPA:
Bidang Aturan dan Peraturan dan seluruh Pdt.GKPA di Distrik IV
e. Bidang Litbang
- Menyusun program kerja penelitian dan pengembangan (Litbang) GKPA Distrik IV untuk memberikan gambaran kondisi jemaat saat ini.
- Menyusun program kerja pengembangan jemaat ke masa depan. Secara khusus saran-saran untuk langkah ke depan.
- Meneliti dan menganalisa ibadah Alternatif
f. Bidang Diakonia Sosial
a. Menyusun program kerja diakoni sosial ke luar GKPA dan ke dalam GKPA.
b. Menjalin kerjasama diakoni sosial setiap Resort dan Parlagutan di Distrik IV
c. Mendukung program Orang Tua Asuh GKPA (OTA-GKPA)
d. Mendukung program Panti Asuhan Debora GKPA di Silangge-Sipirok
e. Mengkoordinasikan bantuan-bantuan dari Distrik IV dalam peristiwa-peristiwa tertentu, misalnya: bencana alam, dll.
g. Bidang Pembangunan
a. Menyusun program kerja pembangunan rumah dan kantor Distrik IV dan sarana pelayanannya.
b. Menjalin kerjasama pembangunan gedung dan sarana pelayanan di Parlagutan dan Resort.
c. Pengadaan sarana transportasi/kenderaan Praeses
h. Bidang Media Komunikasi dan Usaha
a. Menyusun program kerja untuk membuka media komunikasi cetak (seperti: Sioban Barita, Berkat, Almanak, Kalender,dll) dan media komunikasi elektronik (seperti : Internet dan website GKPA Distrik IV- www.gkpadistrikIV.com), dll sebagai “pilot project” bagi GKPA ke depan.
i. Bidang Pemeriksa Perbendaharaan Distrik
a. Memeriksa dan membuat laporan hasil pemeriksaan keuangan Distrik IV, Resort dan Parlagutan sesuai dengan peraturan keuangan di Parlagutan, Resort dan Distrik
b. Menyusun anggaran penerimaan dan pengeluaran Distrik IV setiap tahun.
j. Bidang Budaya Angkola – Mandailing
a.Mengadakan penelitian untuk mencari pola penggunaan budaya Angkola – Mandailing di dalam kehidupan Jemaat.
b.Menyediakan informasi tentang budaya Angkola – Mandailing.
c. Memberikan penjelasan pengertian tentang adat Angkola
d. Melaksanakan Seminar Budaya Angkola
e. Membentuk Himpunan Masyarakata Angkola-Mandailing Kristen


GKPA Penjernihan Res. Jakarta I GKPA Bekasi Ress.


GKPA
III. PENGURUS DAN MAJELIS GKPA DISTRIK IV
I. PELAKSANA HARIAN DISTRIK (PHD)
1. Ketua : Pdt.DBG.Hutagalung,STh (Exofficio)
2. Sekretaris I : Pdt.Ramli SN Harahap,STh
3. Sekretaris II : St.dr.Esanov Hasibuan,Sp.OG
4. Bendahara I : Ny.Martina Lubis Br.Siregar
5. Bendahara II : Ny.Jenni Marpaung Br.Siregar
II. BIDANG – BIDANG:
1. Pembinaan Warga Gereja (PWG) : - Pdt.Adma Ritonga,STh,M.PSi
a. Sekolah Minggu : - Ny.Elseria Siregar Br.Simanjuntak
- Pdt.GN.Marpaung-Lubis,BTh
- Ny.Karsini Purba Siregar-Pohan
b. Persekutuan Naposobulung : - Vic. Harapan Nainggolan,M.Min
c. Persekutuan Perempuan : - St.Ny.T.Siahaan Br.Siregar
- St.Ny.DF.Situmeang Br.Bt.Bara
- Casin Ny.B. Siregar Br.Marpaung
d. Persekutuan Ama : - St.AP.Batubara
- Casin Yul Siregar,BA
- Herman Pohan
e. Persekutuan Lansia : - Adriaan Gonti Siregar
- Ny.AM.Siregar-Matondang
- Natan Siregar
f. Pemberdayaan SDM : - St.Borkat Ritonga
2. Zending dan Pos Pelayanan : - Pdt.MP.Aritonang,MTh
a. Zending : - St.Angkus Marpaung
b. Pengembangan Pos Pelayanan : - St.RJ.Pasaribu
3. Litbang : - St.Drs.FT.Panjaitan,M.Pd
- St.Ir.Robert Siregar,MBA
- Manahan Marpaung
4. Diakonia Sosial : - Winfrid Harahap
- St.Ny.Murni Siregar-Harahap
5. Liturgi, Nyanyian dan Musik : - St.MS.Siahaan
- St.P.Napitupulu
6. Pembangunan : - Casin Indra Rambe
- Ir.Paima Siregar
7. Media Komunikasi dan Usaha : - St.Drs.P.Tambunan,M.Pd
- Casin Henry Siregar
8. Aturan dan Peraturan : - SR.Siregar
- Anggota Komisi IV MP GKPA
- Seluruh Pdt.GKPA di Distrik IV
9. Pemeriksa Perbendaharaan Distrik : - Casin Remedy Ritonga
- Casin Ihutan Hasibuan
- Rikky Matondang
10. Budaya Angkola – Mandailing : - St.Alpa Dongoran
- St.HT.Ritonga
V. PENUTUP
Demikianlah secara singkat Profil GKPA Distrik IV ini kami sampaikan dengan harapan agar seluruh warga jemaat sama-sama mendukung program kerja GKPA Distrik IV ini demi kemuliaan Nama Tuhan Yesus. Dukungan warga jemaat sangat kami harapkan baik melalui doa, pemikiran, dan dana. Bila ada di antara kita yang memiliki keinginan untuk mendukung GKPA Distrik IV ini dapat diberikan melalui Bendahara atau ditransfer ke rekening GKPA Distrik IV a.n Ny.Martina Lubis Br.Siregar, JL.Hang Lekir XII No.1 Rt.006/Rw.006 Kebayoran Baru, Jakarta, 12120 atau ke Rekening No. 126-00-0485058-1 An. Ny.Martina Siregar-Lubis, Bank Mandiri Cab.Melawai Raya Kebayoran Baru.
Atas kerjasama dan perhatian seluruh warga jemaat kami sampaikan terima kasih. Kiranya Tuhan Yesus memberkati seluruh keluarga dan pekerjaan kita.
SALAM KASIH!
PELAKSANAN HARIAN (PHD)
GKPA DISTRIK IV: JAWA-SUMBAGSEL
Pdt.DBG.Hutagalung,STh St.dr.Esanov Hasibuan,Sp.OG
Praeses GKPA Distrik IV Sekretaris Distrik IV
Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan (I Tawarikh 16:29)
No.Rekening 126-00-0485058-1 An. Ny.Martina Siregar-Lubis, Bank Mandiri Cab.Melawai Raya Kebayoran Baru