Selasa, 16 Februari 2010

Bacaan Minggu Reminiscere, 28 Pebruari 20 : Lukas 7:36-50


Minggu Reminiscere, 28 Pebruari 2010 Lukas 7:36-50


IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU


D
alam nas ini seorang Farisi di kota Nain mengundang Yesus untuk makan di rumahnya, dan undangan itu dipenuhi oleh Yesus dengan tulus. Sebenarnya kita dapat menduga apa yang tersirat dalam hati orang Farisi itu, karena Farisi adalah suatu golongan dari kalangan rabi-rabi dan ahli Taurat yang sangat perpengaruh. Golongan tersebut berpegang pada Taurat Musa dan adat istiadat nenek moyang Yahudi, dengan demikian mereka menaati seluruh hukum dan peraturan secara mutlak. Jadi maksud Farisi yang mengundang Yesus itu bukanlah untuk menghormati serta belajar tentang kerohanian dari Yesus, melainkan sebagai cara bagaimana ia mengetahui lebih mendalam tentang gerak-gerik Yesus dan akhirnya mudah menjebak serta menangkap Dia. Dengan perkataan lain, undangan ini bermuara pada kemunafikan, karena dilakukan pengundang sebagai cara untuk menemukan kesalahan orang lain.
Kemunafikan sedemikian hendaknya dapat kita hindarkan dalam hidup kita, berpura-pura ramah mengundang orang makan, pada hal maksudnya untuk menjebak orang itu serta untuk mencari bahan-bahan untuk megadukakan dia. Pura-pura memberikan sesuatu kepada kita padahal hendak menjebak kita agar terbukti telah melakukan kesalahan. Pancingan dan jebakan berpakaian undangan makan merupakan bahaya dalam kehidupan masyarakat modern sekarang ini. Di kota-kota besar sudah musim sekarang ini tradisi mengundang makan. Baik cofee morning, dinner party, dan jamuan kasih lainnya. Ada yang positif dan ada yang negatif maksudnya. Yang bermaksud negatif biasanya memanfaatkan acara makan itu untuk mempengaruhi yang diundang untuk menyetujui maksud-maksud jahatnya. Dengan memberi makan ada sesuatu perminataan yang hendak disampaikan kepada kita agar kita tidak bisa mengelak dan harus menyetujui kehendak dan keinginannya. Pembicaraan-pembicaraan yang bernuansa kolusi, korupsi dan nepotisme tidak jarang terjadi dalam acara-acara undangan makan siang atau makan malam di restoran anu atau di cafe anu yang full AC, full musik dan full-full lainnya. Yesus sering menghujat orang-orang Farisi yang munafik. Yang kelihatan seoalah-olah malaikat tetapi sebenarnya serigala yang siap menerkam mangsanya. Marilah kita mengisi kerohanian kita dengan firman Tuhan agar kita terhindar dari kemunafikan. Kemunafikan bisa hengkang dari kehidupan kita jika kerohanian kita kita tingkatkan kualitasnya. Tapi jangan salah banyak juga orang yang munafik terlihat seperti orang yang lebih rohani padahal sebenarnya rohana.
Setelah mendengar kabar bahwa Yesus makan di rumah orang Farisi itu, seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa datang menjumpai Dia sambil membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi (an alabaster jar of perfume). Buli-buli pualam adalah botol berbentuk dua globe yang berbeda besarnya yang dihubungkan dengan leher. Biasanya parfum atau minyak wangi yang dituangkan ke buli-buli pualam adalah parfum yang mahal dan berkualitas baik. Karena sudah mengenal dirinya penuh dosa, perempuan itu ingin bertobat. Ia sudah pasti pernah mendengar khotbah-khotbah Yesus sebelumnya. Ia memutuskan sendiri bahwa dirinya akan memasuki suatu kehidupan baru di dalam Tuhan. Kedatangannya itu didorong oleh keyakinan bahwa kasih Yesus begitu besar sehingga ia dapat memperoleh keampunan dosa.
Sambil menangis perempuan itu menjumpai Yesus dan berdiri di belakang kaki-Nya. Yesus duduk di kursi tetapi kaki-Nya tidak dijulurkan ke bawah meja makan, melainkan menjauh dari meja makan itu. Di posisi kaki sedemikianlah perempuan berdiri di belakangnya. Yesus tentu tahu apa maksud perempuan itu sehingga memposisikan kakinya lebih bebas dari meja itu. Posisi kaki itu memungkinkan perempuan tersebut dapat membasahi kaki Yesus dengan air matanya serta menyekanya dengan rambutnya sendiri. Kemudian diciumnya kaki Yesus serta diminyakinya dengan parfum yang berkualitas sangat tinggi yang dituangkan dari dalam buli-buli pualam. Seyogianya minyak wangi itu dipergunakan meminyaki bagian kepala Yesus, namun akhirnya dibuat meminyaki kaki-Nya. Hal yang mirip dilakukan Maria dari Betania ketika ia “mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau wangi semerbak di seluruh rumah itu” (Yoh. 12:3). Maria dari Betania melakukan itu menjelang hari-hari penyaliban Yesus, sehingga Yesus menyebutnya “hal ini mengingat hari penguburan-Ku” keampunan dosanya (ay. 7). Namun perempuan berdosa yang dalam nas ini melakukannya murni karena haus akan keampuan dosa.
Pelajaran dari nas ini cukup penting bagi kita di mana sadar atau tidak sadar kita adalah orang berdosa di mata Tuhan. Kita sering melanggar hukum dan kehendak Allah. Namun Allah Mahakuasa dan Mahapengasih. Ia senantiasa rela menantikan kedatangan kita untuk mengakui dosa kita. Bahkan Ia telah rela berkorban di kayu salib untuk memberikan keampunan dosa dan keselamatan bagi kita. Kerendahan hati dan rasa haus akan penebusan dosa kita oleh Yesus menjadi renungan yang dapat kita petik dari nas ini. Seharusnya kita yang merasa berdosa ini harus datang bersembah sujud di bawah kaki Yesus sembari mengaku segala dosa yang telah kita perbuat agar Dia mau mengampuni kita. Persoalannya, seringka kali kita tidak merasa berdosa dan bersalah di hadapan Tuhan sehingga Tuhan tidak mau mengampuni kita. Sering kali kita merasa orang kudus, padahal bukan orang kudus. Merasa kudus belum tentu orang kudus. Tetapi merasa berdosa dan datang meminta pengampunan kepada Yesus, merekalah yang disebut orang kudus. Karena Yesus telah mengampuni dosa-dosa orang yang merasa berdosa dan datang meminta pengampunan kepada-Nya.
Ternyata niat baik dan murni untuk memperoleh pengampunan dosa dari perempuan itu tidak masuk akal orang Farisi yang menjadi tuan rumah dalam jamuan makan dalam nas ini. Ia langsung spontan mengatakan dalam hatinya bawa seharusnya Yesus tahu siapa diri-Nya dan siapa perempuan itu. Menurut Farisi itu, tidak pantas Yesus yang adalah Nabi dan suci itu dijamah oleh seorang perempuan berdosa. Ia langsung membuat pemisahan antara Yesus yang adalah Nabi dan kudus dengan seorang perempuan yang berlumur dosa. Pandangan Farisi tersebut adalah sebuah sikap ‘kesombongan rohani’(hibris rohani) yang membanding-bandingkan tingkat hidup kerohanian yag satu kudus yang satu lagi berdosa dan yang berpendapat bahwa yang kudus tidak pantas berkomunikasi dengan yang berdosa. Sikap kesombongan rohani ternyata dihindarkan oleh Yesus. Sang Juruselamat justru merasa bahwa Ia datang dari surga ke dunia ini adalah untuk menyelamatkan orang-orang berdosa.
Yesus membuat sebuah perumpamaan tentang dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Hutang yang seorang 500 dinar dan yang seorang lainnya 50 dinar. Pelepas uang tersebut memutihkan utang kedua orang itu karena keduanya tidak sanggup membayarnya. Yesus bertanya kepada Simon siapa di antara dua orang itu lebih banyak mengasihi pelepas uang itu. Jawaban Simon tepat: yang berhutang 500 dinar itu. Yesus menjelaskan kepada Simon bahwa perbuatan perempuan berdosa itu, yang meminyaki dan mencium kaki Yesus, yang notabene tidak dilakukan Simon, menunjukkan betapa dalamnya rasa kerinduan perempuan berdosa itu untuk memperoleh kempunan dosanya. Dengan demikian dosanya yang banyak itu telah diampuni. Seperti diketahui dalam tradisi Yahudi, tindakan membasahi kaki sesama dengan air mata dan menyekanya dengan rambut merupakan perbuatan yang paling tinggi dalam rangka menunjukkan keramahan. Tidak ada lagi perbuatan yang ramah selain meminyaki kaki orang lain. Dosa perempuan berdosa itu telah diampuni sehingga dia menjadi orang kudus. Tetapi dosa orang yang merasa tidak berdosa itu tidak diampuni sehingga mereka tetap berdosa. Apakah kita golongan orang Farisi yang merasa tidak berdosa atau golongan perempuan berdosa yang merasa berdosa?
Kasih yang besar yang ditunjukkan perempuan berdosa itu kepada Yesus menjadi bukti dari penyesalan dirinya akan dosa-dosanya, tetapi bukanlah dasar untuk penebusan dosa. Dalam nas ini jelas dikatakan bahwa perempuan itu diselamatkan oleh iman (bnd. Ef. 1:7). Ucapan Yesus kepada perempuan itu yang berbunyi “imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (ay. 50) menegaskan bahwa dosa-dosanya sudah diampuni dan ia dapat mengalami damai sejahtera Allah. Kepada kita umat yang berdosa ini juga diserukan bahwa iman kita telah menyelamatkan kita firman Tuhan senantiasa menyinari kita yang “diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera” (1:79). Denngan demikian dapat kita tegaskan bahwa perempuan berdosa itu adalah orang yang memiliki iman akan pengampunan dosanya. Sehingga dengan iman yang kuat itulah dia memperoleh keselamatan. Dengan beriman kita beroleh keselamatan. Dengan iman perempuan berdosa itu maka dia memperoleh keselamatan. Bukan dengan minyak yang diberikannya maka dia selamat, tetapi dengan imannya dia selamat. Dan orang yang beriman pasti memberikan sesuatu bagi Tuhan sebagai tanda bahwa dia telah menerima pengampunan dosa. Marilah kita yakin akan jaminan dari Tuhan Yesus bahwa iman kita telah menyelamatkan kita, dan kita membuahkan iman itu dalam kehidupan keseharian kita. Amin.




Pdt. Dr. Binsar Nainggolan
Kadep Marturia HKBP

Bacaan Minggu Invokavit, 21 Pebruari 2010 : Yeremia 10 : 6 - 10


Minggu Invokavit, 21 Pebruari 2010 Yeremia 10 : 6 - 10


TINGGALKANLAH PENYEMBAHAN BERHALA-BERHALA



K
itab Nabi Yeremia adalah kitab yang terpanjang di Alkitab, kalau dihitung dari jumlah kata. Isinya berupa pengakuan kepada kemahakuasaan Allah serta nasihat kepada umat-Nya bangsa Israel. Bagi Yeremia, Allah adalah Yang Mahakuasa, yang menciptakan bumi dengan segala kekuatan-Nya. Allah adalah juga mahahadir di mana-mana. Allah adalah Allah, bukan hanya bagi orang Yehuda, melainkan juga bagi segenap bangsa.
Yeremia terpangil untuk menyampaikan pesan-pesan Allah berupa teguran Allah kepada bangsa Yehuda yang hidup dalam kebebalan dan sebagian jatuh ke dalam penyembahan berhala. Karena keberanian Nabi Yeremia menegur bangsa itu, maka ia sering mengalami kesulitan dan dikejar-kejar penguasa yang lalim dan kejam. Namun ia tetap tegar dalam menghadapi situasi yang terkadang mengancam nyawanya. Puncak ketegarannya tampak pada kenyataan di mana ia tidak takut-takut untuk menyuarakan nubuatan tentang destruksi kerajaan Yehuda (yang secara lalim diperintah antara lain oleh Raja Manasye) sebagai hukuman atas kejahatan bangsa itu.
Tetapi penghakiman Allah terhadap umat-Nya, walaupun dahsyat, bukanlah kata yang terakhir yang menjadi karya terakhir Allah dalam sejarah. Anugerah dan pemenuhan atas janji Allah akan menang. Setelah penghakiman Allah, akan datang pemulihan dan pembaharuan. Israel akan dipulihkan kembali, perjanjian Allah dengan Israel, Daud dan orang-orang Lewi akan diwujudkan. Bahkan Allah akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, yakni akan menaruh Taurat-Nya dalam batin mereka dan menuliskan-Nya dalam batin mereka (31:31-34).

Sebagai pengajaran dan nasihat kepada orang Israel, Yeremia menekankan bahwa yang pertama, tidak ada yang sama seperti Tuhan Allah. Tak seorangpun manusia di dunia ini yang mampu menyamai Dia, sekalipun dari antara raja-raja, kaum penguasa dan kaum pengusaha. Ini ditekankan untuk menjawab sikap sebagian orang waktu itu yang merasa dirinya perkasa dan besar. Keperkasaan manusia terbatas, namun keperkasaan Allah tak terbatas. Hanya Tuhan Allah sendirilah yang bersifat ‘super natural’ yang keberadaannya jauh di atas pengetahuan dan kekuatan manusia. Ia adalah Pencipta dan sekaligus Pemelihara kita makhluk ciptaan-Nya. Allah sendiri mengemukakan siapa diri-Nya: “Aku akan memberitahukan kepada mereka kekuasaan-Ku dan keperkasaan-Ku, supaya mereka tahu, bahwa nama-Ku Tuhan” (16:21).
Hal yang kedua yang tidak dapat disamai manusia dalam kebesaran Allah adalah kebijaksanaan-Nya. Banyak orang bijaksana di zaman nabi Yeremia yang dapat mengajarkan hikmat dan pengetahuan kepada masyarakat luas, tetapi ajaran mereka tidak mampu menjawab persoalan-persoalan kehidupan secara menyeluruh. Kebijaksanaan mereka hanya berlaku sesaat. Tetapi kebijaksanaan Allah tidak ada bandingannya, karena tidak saja menjawab persoalan manusia kini dan di sini, tetapi juga memberikan keselamatan, keampunan dosa, dan hidup yang kekal kepada umat-Nya. Inilah yang seyogianya membuat raja-raja di dunia takut kepada Allah. Allah sendirilah Raja bangsa-bangsa yang patut ditakuti oleh semua orang karena kebijaksanaan-Nya. Kebijaksanaan Allah berupa anugerah keselamatan itu direalisir melalui karya keselamatan oleh Yesus Kristus. Kristus adalah penggenapan nubuatan nabi Yeremia tentang kebijaksanaan Allah yang tidak terselami manusia. Rasul Paulus juga di Perjanjian Baru mengingatkan kebesaran kebijaksanaan Allah melalui seruan: “Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? ... Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil” (Rm. 1:20-21).
Teguran Allah melalui Yeremia kepada bangsa Israel yang sebagian mempraktikkan penyembahan berhala diperinci dengan mengatakan “berhala itu semuanya bodoh dan dungu; petunjuk dewa itu sia-sia”. Istilah ‘sisa-sia’ sering dipergunakan Yeremia untuk berhala dan dewa-dewa (8:19, 14:22). Kenapa disebut bodoh, dungu dan sia-sia? Pertama, karena dewa dan berhala itu disembah buat sesuatu suku tertentu, sedangkan Allah Yahwe yang kita sembah adalah Raja bangsa-bangsa di seluruh dunia. Kedua, karena berhala itu hanya terbuat kayu belaka, perak kepingan dan emas. Semua berhala sedemikian hanyalah buatan tangan manusia, yakni tukang-tukang dan ahli-ahli. Perak kepingan di sini dibawa dari Tarsia, suatu tempat yang merujuk Tartessus di Spanyol atau mungkin juga sebuah pulau di Laut Tengah, atau mungkin pula sebuah daerah di pantai Afrika Utara. Sedangkan Ufas selaku asal emas di sini adalah sebuah tempat yang hanya disebut dalam ayat ini tanpa penjelasan di kawasan mana itu. Yeremia menyerukan umat Israel supaya jangan terperdaya dan tertipu untuk menyembah berhala seperti itu. Umat itu diserukan meninggalkan penyembahan kepada berhala buatan tangan manusia, sebaliknya agar umat itu menyembah Allah yang menciptakan alam semesta. Mereka diserukan untuk tidak mendengar petunjuk dewa, dan sebaliknya mendengar petunjuk Allah. Petunjuk Allah membawa umat manusia menuju kehidupan, sedangkan petunjuk dewa-dewa dan berhala-berhala membawa manusia ke jurang penderitaan.

Sekarang ini sungguh banyak dewa dan berhala yang disembah oleh masyarakat modern. Berhala adalah sesuatu benda atau seseorang yang kita cintai dan sayangi melebihi cinta dan sayang kita kepada Tuhan. Jika kita mencintai harta kita lebih tinggi daripada kepada Tuhan, maka harta sudah menjadi berhala bagi kita. Jika kita mencintai suami atau isteri atau anak kita lebih tinggi daripada cinta kita kepada Tuhan, maka hati-hati kita telah memberhalakan suami, isteri dan anak-anak kita. Ringkasnya, jika kita mencintai atau menghargai sesuatu atau seseorang lebih daripada Tuhan, maka itu semuanya sudah menjadi berhala bagi kita.
Ada sebagian orang, walaupun sudah tedaftar sebagai warga gereja, tetapi secara diam-diam masih menyembah dewa-dewa dan berhala-berhala. Ada yang menyembah “na martua gunung pusuk buhit”, atau “na martua tuktuk tarabunga”, atau “sumangot ni ompu”, dewa di gunung kidul, dan sebagainya. Hal ini dapat disebut roh-roh sinkretistis, yang mencampurkan dua atau lebih kepercayaan dalam diri satu orang. Semuanya perlu ditinggalkan karena Tuhan Allah tidak senang melihat umat-Nya menjadi penganut sinkretisme. Bahkan sekarang tidak sedikit orang yang jatuh menjadi penyembah berhala mammon, di mana bagi mereka ini uang adalah ukuran tertinggi dalam hidupnya. Apapun dihalalkan demi memperoleh uang. Di media massa sehari-hari kita baca berita tentang betapa banyak orang yang dihinggapi roh mammonisme yang berwujud pada tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme. Para pelakunya tidak mengenal tingkat sosial, jabatan dan tingkap pendidikan formal. Pembunuhan, perampokan dan penjerumusan terhadap sesama terjadi demi mewujudkan niat untuk menyembah dewa mammon. Banyak sekali orang-orang modern yang jatuh kepada hedonisme dan konsumerisme sebagai hasil dan pengaruh pendewaan uang.
Nas ini ternyata sungguh relevan untuk menyerukan agar penyembah berhala dan dewa-dewa sekarang ini kembali ke jalan Allah. Ia sajalah Allah yang benar (1 Tes. 1:9). Kebenaran-Nya diwujudkan dalam karya penyelamatan oleh Dia melalui Anak-Nya Yesus Kristus yang telah membenarkan kita orang-orang berdosa. Ia juga adalah Allah yang hidup (Ul. 5:26) dan Raja yang kekal (Kel. 15:18 dan Mzm. 10:16). Keberadaan Allah yang Maha Kuasa membuat bumi goncang karena murka-Nya dan bangsa-bangsa tdak tahan akan geram-Nya. Murka dan kegeraman Allah tidak sama dengan murka dan kegeraman manusia, karena murka Tuhan adalah bahagian dari kasih-Nya yang mendidik umat-Nya. Karenanya, sejak sekarangn mulailah mencintai Tuhan lebih dari pada apa yang kita miliki dan apa yang bersama dengan kita sekarang. Utamakan mencitai Tuhan daripa cinta akan harta, uang, keluarga, hobi dan kesenangan lainnya. Jangan jadikan berhala-berhala modern hidup di sekitar pribadi, rumah tangga, kantor, usaha kita. Singkirkan segera jika berhala itu mulai menyusup ke dalam kehidupan kita. Jika kita sudah mulai menghargai suami lebih daripada Tuhan, berhentilah dan sadarlah bahwa suami itu ciptaan Tuhan, bukan Tuhan yang harus dihargai lebih daripada Tuhan. Kendati sulit untuk meninggalkan berhala-berhala modern jaman sekarang tetapi mulailah sejak dini. Yang paling berbahaya sekarang adalah, jika Hand Phone kita tinggal di rumah, kita mau kembali ke rumah untuk mengambil HP tersebut, tetapi jika Alkitab tinggal di rumah ketika mau beribadah ke Gereja, kita tidak mau kembali lagi ke rumah mengambil Alkitab tersebut. Bahkan ketika kita bangun tidur, hal yang pertama kita cari adalah HP bukan Alkitab atau Buku Ende. Hati-hati, jangan-jangan HP juga sudah termasuk berhala yang kita butuhkan dan hormati lebih dariupada Tuhan. Karena itu, hiduplah dalam kehendak Allah. Amin.



Pdt. Dr. Binsar Nainggolan
Kadep Marturia HKBP

Bacaan Minggu Estomihi, 14 Pebruari 2010 : Keluaran 18:17-23


Minggu Estomihi, 14 Pebruari 2010 Keluaran 18:17-23


PELAYANAN YANG MEMUASKAN



Pengantar

I
ni adalah kisah nyata. Seorang pelayan (baca, pendeta) memberitahukan kesibukannya yang sedemikian rupa dari mimbar. “Saya bersyukur dapat berdiri di hadapan Saudara pada hari ini. Sejak beberapa hari ini, saya luar biasa capek. Kemarin, penuh dengan kesibukan. Pagi hari, saya harus melakukan beberapa hal penting. Siang hari, ada rapat, sore hari ada latihan terakhir paduan suara, di mana saya sendiri yang langsung memimpin, malam hari saya melayani ibadah KKR dan tadi malam, sampai larut malam saya masih berada Gereja ini. Satu demi satu, saya memeriksa berbagai peralatan yang kita gunakan. Tadi pagi, sekitar jam 5.00 pagi, saya kembali berada di Gereja ini untuk memeriksa kursi demi kursi. Saya sendiri membersihkannya. Semua itu saya lakukan agar peresmian Gereja kita pada hari ini berjalan lancar dan sukses”.
Saya tidak tahu bagaimana reaksi bapak/ibu semua mendengar kalimat tersebut di atas. Tapi saya sendiri bertanya dalam hati, “Mengapa bapak harus melakukan semua itu? Apakah tugas-tugas tertentu tidak bisa didelegasikan kepada orang lain? Apakah harus bapak yang harus memimpin koor? Apakah harus bapak yang mengatur dan membersihkan kursi-kursi?...”
Sesungguhnya, berbicara tentang pelayanan, kita tidak cukup hanya melayani, tanpa memikirkan cara dan strategi yang tepat. Jika demikian, pelayanan belum tentu effektif dan memuaskan. Hal yang sama berlaku untuk pekerjaan. Jika kita ingin mencapai hasil pelayanan dan pekerjaan yang maksimal, maka berbagai metode dan strategi yang baik harus diuji dan diterapkan. Hal itulah yang kita lihat dalam bacaan epistel hari ini.


Pembahasan

Kita akan membagi bacaan kita menjadi tiga bagian. 1. Musa dan berbagai permasalahan umat. 2. Nasehat bijak Sang Mertua. 3. Berbagi tugas untuk mencapai hasil memuaskan. Marilah kita ulas satu persatu.

1. Musa dan berbagai permasalahan umat

Pada ayat sebelumnya kita membaca berbagai permasalahan yang terjadi di antara bangsa Israel, baik hal kecil sampai hal besar, dihadapi dan diatasi sendiri oleh Musa. Alkitab menjelaskan bahwa umat datang dengan mengantri sambil berdiri, mulai dari pagi sampai petang (13-14). Dapat dibayangkan, betapa lelahnya Musa mendengar masalah umat tersebut, di mana mereka datang kepada Musa, satu demi satu. Bukan hanya lelah mendengar, tetapi Musa juga akan sangat rumit memberikan jawaban atas semua masalah yang dihadapi oleh umat. Lebih dari situ, apa yang terjadi dengan umat yang harus mengantri berjam-jam, mulai dari pagi sampai petang, apalagi hal itu dilakukan sambil berdiri? Pelayanan seperti apakah yang sedang didemonstrasikan dalam bacaan kita kali ini? Apakah pelayanan yang bersifat single fighter (berjuang sendirian) seperti itu dapat disebut dengan pelayanan yang effektif? Apakah pelayanan seperti itu sungguh-sungguh memuaskan jemaat?

2. Nasehat bijak Sang Mertua

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut di atas diberikan oleh sang mertua Musa, Yitro, yang dapat dibaca pada ayat 17: "Tidak baik seperti yang kaulakukan itu”. Jadi, bagi sang mertua, apa yang dilakukan oleh menantunya, Musa, bukan sesuatu yang baik. Alasan Yitro mengatakan hal itu tidak baik, bukan sekadar ngomong, bukan juga sedang menyalahgunakan otoritasnya sebagai mertua yang seolah-olah mengetahui semuanya. Pada ayat berikutnya kita membaca: “Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja”. (18). Jadi, masalah yang diutarakan oleh sang mertua sangat jelas. Metode yang digunakan oleh Musa untuk menyelesaikan berbagai permasalahan umat, akan merugikan semuanya. Hal itu bukan saja sangat melelahkan dirinya sendiri, tetapi juga melelahkan seluruh umat. Dengan perkataan lain, pelayanan seperti itu, tidak akan effektif dan juga tidak akan memuaskan umat.
Itulah sebabnya, sang mertua menasehatkan agar segera mengubah cara pelayanan Musa. Di sini kita melihat sebuah perubahan besar, dari pelayanan yang berpusat kepada dirinya sendiri, atau sebutlah pendeta sentries, menjadi pelayanan yang melibatkan seluruh umat (jemaat yang misioner). Mertua Musa memperkenalkan prinsip pendelegasian tugas. Inti dari metode tersebut adalah membagi tugas, di mana berbagai permasalahan diatasi secara bersama-sama. Tetapi, tidak asal berbagi tugas, tetapi melakukannya dengan benar. Segala perkara dan masalah besar akan dihadapkan kepada Musa, sedangkan perkara kecil akan dibagikan untuk diatasi oleh yang lain, yang dibagikan kepada pemimpin-pemimpin kelompok. Hal itulah yang akan kita lihat selanjutnya.

3. Berbagi tugas untuk mencapai hasil memuaskan

Perlu ditegaskan di sini bahwa metode pendelegasian atau membagi tugas tidaklah menjamin keberhasilan pekerjaan atau pelayanan. Jika hal itu tidak dilakukan dengan benar, maka permasalahan baru dapat timbul dari orang-orang yang menerima tugas tersebut. Itulah sebabnya, dalam rangka melakukan pembagian tugas yang baik, kita dapat menyimak nasehat bijak Yitro.
Pertama, Musa harus mencari dan memilih orang-orang yang tepat. Ada empat kriteria yang diberikan oleh Yitro: a. Harus cakap; b. Takut akan Allah; c. Dapat dipecaya; dan d. Benci kepada pengejaran suap (ayat 21). Jika mengamati keempat hal itu, maka tentu saja, orang seperti itu bukanlah orang yang sembarangan. Kriteria itu menunjukkan bahwa Musa bukan hanya mencari orang yang pintar secara akal, tetapi juga orang beriman kepada Allah dan memiliki moral yang baik.
Hal kedua yang harus dilakukan Musa adalah mengangkat dan menempatkan orang-orang tersebut menjadi pemimpin kelompok seribu orang, seratus orang, lima puluh orang dan sepuluh orang (21b). Apa yang kita lihat dalam pembagian kelompok tersebut di atas? Permasalahan akan dapat dilihat mulai dari masalah yang sangat umum di dalam kelompok seribu orang, diteruskan kepada kepada masalah yang semakin detail, di dalam kelompok seratus, kelompok lima puluh, hingga di dalam kelompok sepuluh orang.
Ketiga, pemimpin kelompok tersebut harus dibekali dan dibina secara khusus. Itulah sebabnya, mereka harus diberi pengajaran tentang berbagai ketetapan dan keputusan, diberitahukan jalan yang harus dijalani serta dibagikan tugas kepada mereka masing-masing (20).
Apakah cara atau metode yang dianjurkan oleh Yitro tersebut dapat diterapkan? Adakah bedanya hasil yang akan dicapai oleh Musa sebelum dan sesudah Musa melakukan nasehat Yitro? Jawabnya dijelaskan pada ayat berikutnya. Setelah memberikan nasehat tersebut di atas, Yitro memberikan jaminan kepada Musa bahwa jika Musa menurutinya, maka dia akan sanggup bertahan dan seluruh bangsa akan puas (23).


Aplikasi dan Kesimpulan

Pelayan-pelayan Tuhan di segala abad dan tempat, baik pendeta maupun majelis, selalu diperhadapkan kepada berbagai tugas dan permasalahan. Cara atau metode yang diterapkan oleh pelayan akan mempengaruhi efektivitas dan keberhasilan pelayanan tersebut. Itulah sebabnya, metode yang diterapkan oleh para pelayan, baik pendeta atau majelis di dalam Gereja akan mempengaruhi kepuasan jemaat. Ini adalah fakta realita yang tidak dapat disangkali.
Ada sebuah buku yang cukup menarik. Salah satu bab dari buku itu diberi judul yang menggelitik dan sekaligus menantang: “Haruskah Pendeta seorang Superman?” Tampaknya, topik itu menggambarkan banyak peristiwa di dalam Gereja Tuhan. Hal itulah yang kita lihat dalam bagian pengantar, di mana seorang pendeta melakukan berbagai tugas bagaikan seorang superman, sedangkan jemaat lainnya, hanya sekadar penonton. Barangkali, disadari atau tidak, ada pendeta atau pelayan yang menikmati pelayanan di mana dirinya menjadi pusat perhatian seluruh umat. Dia menjadikan dirinya menjadi satu pribadi yang sangat diperlukan. Itulah sebabnya, dia sangat senang ketika melihat anggota jemaat, termasuk majelis bergantung penuh kepadanya. Dia sangat senang mendengar atau melihat bahwa jemaat akan mengalami kekacauan, menurun drastis tanpa kehadirannya.
Bacaan hari ini dengan jelas mengajarkan bahwa cara-cara seperti itu tidak baik dan harus diubah segera. Pendeta dan pelayan tidak boleh dibiarkan merusak pelayanan, dengan membuatnya tidak berjalan maksimal, karena semua masalah dipusatkan kepadanya. Pendeta dan pelayan tidak boleh dibiarkan sibuk dengan hal-hal kecil sehingga tidak fokus dengan hal-hal besar, seperti berdoa dan memberitakan Firman Allah (Kis.6:2b). Bacaan hari ini mengingatkan kita semua akan pentingnya pendelegasian, berbagi tugas. Untuk itu, perlu dicari dan dipilih orang-orang yang tepat, ditempatkan dalam berbagai posisi, serta dididik untuk posisi tersebut. Singkat kata, semua permasalahan jemaat diatasi bersama oleh jemaat bagi pertumbuhan jemaat, untuk kemuliaan nama Tuhan. Soli Deo gloria.-



Pdt.Dr.Mangapul Sagala
Jakarta

Bacaan Minggu Sexagesima, 7 Pebruari 2010 : Samuel 8:1-9






Minggu Sexagesima, 7 Pebruari 1 Samuel 8:1-9


UMAT YANG MEMBERONTAK


Pengantar


Apakah hal yang sangat penting di dalam kehidupan Kristen? Apakah rajin ke Gereja? Giat di dalam berbagai aktivitas, seperti paduan suara, mengajar Sekolah Minggu, dan lain-lain? Jawabnya, adalah ketaatan. Ketaatan merupakan unsur yang sangat penting dan sangat didambakan terjadi di dalam kehidupan Kristen. Ketaatan, merupakan hal yang sangat memperkenankan hati Allah. Semua kegiatan tersebut di atas, adalah baik. Tetapi tanpa ketaatan kepada Allah, kegiatan tersebut tidak banyak gunanya. Bahkan tanpa ketaatan, kegiatan seperti itu, dapat dijadikan tameng untuk menutupi segala kelamahan dan dosa serta hidup munafik. Itulah sebabnya, seruan untuk hidup taat, terus menerus diserukan oleh Allah kepada umat-Nya, baik melalui nabi-nabi Perjanjian Lama, mau pun oleh Tuhan Yesus sendiri dan rasul-rasul-Nya di dalam Perjanjian Baru.
Meskipun demikian, hasilnya tidaklah selalu seperti yang diharapkan. Cukup sering hal yang sebaliknya yang terjadi, yaitu umat yang memberontak kepada Allah. Tentu saja, pemberontakan merupakan sesuatu yang tidak diperkenankan Allah. Hal itu, bukan hanya membuat Allah sedih, tapi dapat juga membangkitkan amarah-Nya. Itulah yang dapat kita pelajari dari bacaan epistel hari ini.


Pembahasan

Sembilan ayat pada kitab 1 Samuel pasal delapan, dapat kita baca menjadi tiga bagian. Pertama, tindakan Samuel mengangkat kedua anaknya menjadi hakim (1-3). Kedua, penolakan tua-tua Israel atas pengangkatan anak-anak Samuel tersebut (4-6). Ketiga, respons Allah atas penolakan tua-tua Israel (7-9). Untuk lebih jelasnya, kita akan membahasnya satu demi satu.

1. Samuel mengangkat kedua anaknya (1-3).

Alkitab menegaskan bahwa Samuel memerintah sebagai hakim atas orang Israel seumur hidupnya (1Sam.7:15). Dan dalam kitab 1 Samuel pasal 7 kita dapat membaca kemenangan besar bangsa Israel atas Filistin. Hal itu terjadi di bawah kepemimpinan Samuel, hakim terakhir bangsa Israel. Dengan jelas kita dapat membaca bagaimana Alkitab menggambarkan kemengangan tersebut. “Demikianlah orang Filistin itu ditundukkan dan tidak lagi memasuki daerah Israel. Tangan TUHAN melawan orang Filistin seumur hidup Samuel” (13). Lalu selanjutnya, kita dapat membaca bagaimana Israel kembali merebut kota-kota yang sebelumnya telah diambil alih bangsa Filistin “… kota-kota yang diambil orang Filistin dari pada Israel, kembali pula kepada Israel, mulai dari Ekron sampai Gat; dan orang Israel merebut daerah sekitarnya dari tangan orang Filistin” (14). Tentu saja, kemenangan yang gemilang tersebut perlu dipertahankan.
Bagaimana caranya? Mungkin untuk itulah Samuel, ketika dia sudah menjadi tua memilih orang-orang kepercayaannya, yaitu anak-anaknya sendiri, yaitu Yoel dan Abia menjadi hakim atas orang Israel (8:1). Mereka berdua ditempatkan di wilayah paling Selatan Israel, yaitu di Bersyeba. Namun sangat disayangkan, Alkitab menyatakan bahwa kedua anak Samuel tersebut tidak hidup mengikuti teladan ayahnya. Ada tiga kejahatan yang secara khusus disebutkan yang dilakukan oleh Yoel dan Abia: mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan. Dengan perkataan lain, kedua anak Samuel, hidup sedemikian materialistis. Untuk itu, mereka tidak dapat bertindak lurus sesuai dengan kebenaran firman Tuhan sebagaimana diserukan oleh ayahnya.

2. Penolakan tua-tua Israel (4-6).

Kita tidak mengetahui secara jelas apa yang menjadi alasan dan motivasi Samuel untuk mengangkat kedua anaknya menjadi hakim. Namun satu hal sangat jelas: ternyata tindakan tersebut tidaklah diterima umat dengan mulus. Sebaliknya, terjadi penolakan yang sangat keras dari umat. Itulah sebabnya, semua tua-tua Israel berkumpul dan menyatakan keberatannya. Alasan penolakan dinyatakan dengan jelas dan tegas, karena anak-anaknya tidak hidup seperti Samuel (5). Selanjutnya, mereka menyampaikan permintaan mereka untuk memiliki seorang raja yang akan memerintah mereka (6).

Dapat dipahami bahwa penolakan tersebut menyedihkan hati Samuel. Atau lebih tepatnya, membuat hati Samuel kesal (6). Namun dalam kekesalan tersebut, ada hal yang sangat menarik. Ternyata Samuel tidak terbawa emosi dan berespons balik secara negatif kepada para tua-tua serta bangsa Israel. Samuel melakukan sesuatu yang sangat baik untuk diteladani, yaitu berdoa kepada Tuhan (6).

3. Respons Allah (7-9).

Mengapa bangsa Israel meminta seorang raja? Ada beberapa kemungkinan. Pertama, sebagaimana disebutkan di atas, karena mereka tidak mau menerima kedua anak Samuel untuk memerintah mereka. Hal itu telah dinyatakan kepada Samuel secara tegas. Kedua, karena sesungguhnya, kedua belas suku Israel, terus mengalami masalah di antara mereka. Tiap-tiap suku yang tinggal di wilayah masing-masing serta dipimpin oleh pemimpin masing-masing, seringkali mengalami konflik. Dengan demikian, mereka mengharapkan adanya seorang raja yang dapat menyatukan mereka. Ketiga, bangsa Israel ingin hidup seperti bangsa-bangsa di sekitarnya, yang tidak percaya dan taat kepada Allah. Mereka ingin mengatur diri mereka sendiri.
Dengan demikian, sikap bangsa Israel tersebut di atas, yang menolak kedua anak Samuel dan memnta seorang raja, sesungguhnya bukan hanya menunjukkan penolakan kepada Samuel, tetapi terutama kepada Allah sendiri. Itulah kemudian yang ditegaskan oleh Allah: “… sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, SUPAYA JANGAN AKU MENJADI RAJA ATAS MEREKA (7).

Sesungguhnya, pemberontakan umat tersebut di atas, yang menolak Allah sebagai Raja dan Pemimpin mereka, tidak hanya terjadi pada masa Samuel. Sebelumnya, bangsa Israel juga pernah meminta agar Gideon memerintah mereka (Hak.8:22).
Namun, Gideon dengan tegas menolak permintaan itu. Jawab Gideon kepada mereka: "Aku tidak akan memerintah kamu dan juga anakku tidak akan memerintah kamu tetapi TUHAN yang memerintah kamu." (Hak.8:23). Artinya, Gideon menyadari sepenuhnya bahwa dia hanyalah alat di tangan Tuhan. Dia tidak mau mengambil alih kepemimpinan Tuhan atas umatNya. Selain di masa Gideon, jauh sebelum itu, bahkan pada hari Allah menuntun mereka keluar dari perbudakan dan penganiayaan di Mesir, mereka juga melakukan berbagai kejahatan di hadapan Tuhan.. Itulah sebabnya, pada ayat selanjutnya dari bacaan epistle hari ini, kita membaca kekecewaan Allah atas kejahatan dan pemberontakan umat-Nya. “Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu” (8). Dengan demikian, ketika Allah memerintahkan Samuel untuk mendengarkan permintaan tua-tua tersebut (9), itu tidak berarti Allah berkenan kepada mereka. Dalam kenyataannya, setelah Saul diurapi menjadi raja pertama untuk memimpin Israel, berbagai masalah dan pemberontakan muncul. Bahkan, Saul sendiri memberontak dan melakukan berbagai hal yang mengecewakan dan menyakiti hati Allah (1 Sam.13) dan akhirnya, Saul ditolak sebagai raja (1 Sam.15).


Aplikasi dan refleksi

Pembacaan epistel hari ini menggambarkan satu sikap yang bertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab, yaitu pemberontakan. Kita dengan jelas membaca tentang pemberontakan bangsa Israel, yang meminta raja dan menolak Allah. Padahal, sebagaimana Allah firmankan, Dialah yang telah melepaskan umat itu keluar dari perbudakan dan penindasan Firaun ketika masih di Mesir. Dia juga yang telah menuntun umat itu melalui padang gurun yang penuh tantangan. Allah yang telah menghalau semua musuh-musuh mereka. Allah juga yang mengaruniakan manna, daging dan roti, sumber mata air bahkan dari batu, tiang api di waktu malam yang sangat dingin dan tiang awan di waktu panas terik. Benarlah ucapan yang mengatakan, “Lupa kacang akan kulitnya”. Sungguh merupakan sikap dan perbuatan yang tidak pantas untuk ditiru. Sebaliknya, umat perlu terus menerus melekat kepada Tuhan dan firman-Nya, mengenal anugerah Tuhan dalam hidupnya serta bersyukur dengan segenap hati (Mzm.103:1-3).

Selain menyaksikan kejahatan dan pemberontakan umat tersebut di atas, barangkali ada yang lebih bingung ketika mempelajari kehidupan anak-anak Samuel tersebut. Mungkin ada yang bertanya: “Mengapa kedua anak Samuel bersikap jahat seperti itu?” Peristiwa ini mengingatkan kita kepada hal yang sama, yaitu kejahatan kedua anak Imam Eli (2:11-26). Imam Eli merupakan ‘pembina’ atau bapak rohani bagi Samuel, di mana Samuel diserahkan ibunya kepada pengawasan Imam Eli ketika dia masih sangat kecil (1Sam.1:24-25). Kedua contoh itu secara gamblang mengajarkan kepada kita semua bahwa tidak ada jaminan bahwa anak-anak rohaniwan, seperti pendeta, majelis, pasti hidup benar dan memperkenankan hati Allah. Hati yang benar dan lurus, memang merupakan anugerah Tuhan semata, bukan atas kemampuan dan kekuatan manusia semata. Itulah sebabnya, dalam segala upaya yang kita lakukan untuk membina anak-anak yang berkenan kepada Allah, kita perlu terus menerus memohonkan anugerahNya agar anak-anak yang dipercayakan-Nya menjadi anak yang berkenan kepada-Nya. Hal itulah yang dilakukan oleh ibu Monica. Ketika segala usaha dilakukan untuk membina anaknya, namun tetap hidup dalam kejahatan, maka dia mencurahkan isi hatinya kepada pelayan Tuhan untuk memohon bantuan. Maka pelayan Tuhan tersebut menjawab dengan sangat bijak: “Teruslah berdoa, ibu. Karena anak yang sudah didoakan terus menerus oleh seorang ibu yang melahirkan dan membesarkannya, akhirnya tidak akan jatuh ke pelukan setan, tapi pasti ke pelukan Tuhan”. Benar, anak ibu Monica, yang bernama Augustinus, ternyata menjadi salah seorang bapak Gereja yang berkenan bagi Allah dan berguna bagi Gereja-Nya.- Karenanya, janganlah memberontak kepada Allah, namun biarlah kita terus rajin berdoa menyampaikan segala pergumulan kita maka Dia akan memulihkan dan memberkati kita. Amin.





Pdt.Dr.Mangapul Sagala
Jakarta

Senin, 16 November 2009

GKPA MEMBUKA LOKAKARYA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA


Sesuai dengan Program Biro III GKPA, pada Minggu, 15 Nopember 2009 di Kantor Pusat-Pusat Pembinaan GKPA telah dibuka Lokakarya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang diselenggarakan secara bersama oleh GKPA dengan KMK-HKBP Jakarta dan CPE Medan. Lokakarya ini diikuti sekitar 30 orang peserta dari Resort-resort yang ada di GKPA Distrik I dan Distrik II.

Kegiatan ini akan menjadi acuan GKPA untuk melaksanakan program berkelanjutan pada tahun 2010 yang akan datang.

Ka.Biro III GKPA, Pdt.Josep P.Matondang,MTh menekankan bahwa perlunya saling bergandengan tangan dan kerjasama baik antara isteri dan suami dalam mengarungi bahtera keluarga Kristen untuk menghidandari kekerasan dalam rumah tangga Kristen.

Pembina dalam Lokakarya ini, Dra.Hetty Siregar, Arthur Ihromi, dan Tim CPE Medan sangat mengharapkan agar lokakarya ini bermanfaat bagi peserta dan GKPA secara umum dalam rangka mengatasi kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga Kristen.

Renungan: "SETIA PADA JANJI"


”SETIA PADA JANJI”
(Hakim-hakim 11 : 29 - 40)

Latarbelakang kehidupan Yefta
Alkitab di dalam menggambarkan kelemahan dan kegemilangan masing-masing tokoh yang ada di dalamnya begitu terbuka. Dalam bagian ini kita melihat bagaimana seorang yang bernama Yefta berusaha untuk mengerti pimpinan dan kehendak Tuhan, dan pergumulan demi pergumulan yang ada sebenarnya merupakan pergumulannya sejak kecil. Ia sudah memendam sakit hati yang sangat dalam berkaitan dengan peristiwa Yakub memberkati kedua anak Yusuf. Pada masa itu Yusuf membawa Manasye dan Efraim kepada Yakub dan ketika itu ternyata Yakub menyilangkan tangannya ke atas kepala keduanya, dengan demikian Efraim (sebagai anak bungsu) mendapat berkat dari tangan kanan Yakub, sedangkan Manasye yang sebagai anak sulung mendapat berkat dari tangan kiri Yakub. Melihat hal itu Yusuf tidak setuju sebab menurutnya yang mendapat berkat tangan kanan itu seharusnya adalah anaknya yang sulung yaitu Manasye. Dan setelah itu sejarah Israel mulai membuktikan Efraim menjadi suku yang sangat besar dan banyak tokoh-tokoh penting dalam Alkitab muncul dari suku tersebut.
Dan Yefta yang lahir dari seorang Gilead adalah salah satu suku terbesar bani Manasye. Hal ini menjadi sakit hati yang terus-menerus dan turun-temurun secara mendalam yang tersimpan dalam hati orang-orang Manasye, termasuk Yefta. Itu merupakan satu sisi yang sangat tidak menyenangkan di dalam hidup suku Manasye. Di lain sisi, kita juga melihat bahwa Yefta adalah seorang yang lahir dari seorang perempuan sundal sehingga setelah anak-anak istri Gilead besar, mereka membenci dan akhirnya mengusir Yefta dari rumahnya, demikian pula halnya dengan orang Israel saat itu yang mempunyai peraturan ketat sekali. Di sini kita dapat membayangkan, betapa sakit yang ia bawa seumur hidup sehingga ia kemudian pergi ke suatu tempat yang disebut tanah Tob. Di sana ia diterima dengan baik dan berhasil menyatukan kelompok para petualang atau penyamun (preman) sehingga ia diangkat menjadi pemimpin tertinggi yang dihormati, dikagumi dan ditakuti, dan itu tidak ia peroleh dalam suku bangsanya sendiri. Tetapi ketika bani Amon berperang melawan orang Israel, para pemimpin Gilead datang untuk minta tolong kepada Yefta, dan itu berarti nama Yefta telah begitu tersohor saat itu. Akhirnya setelah terjadi tawar-menawar dengannya maka Yefta bersedia berperang namun dengan syarat jikalau menang maka ia akan menjadi pemimpin atas suku Gilead. Di situlah dimulainya titik balik kehidupan Yefta.

Permulaan kepemimpinan Yefta
Kita melihat bahwa di awal hidup Yefta memimpin bangsa Israel Alkitab membuka dengan satu catatan yang begitu indah, di mana dikatakan bahwa Roh Tuhan menghinggapi Yefta sehingga kemenangan demi kemenangan ia alami. Di dalam PL, jikalau Roh Tuhan menghinggapi seseorang, berarti di sana ada penyertaan dan berkat Tuhan sehingga apa saja yang ia perbuat pasti berhasil. Tetapi sangat mengherankan sekali bahwa dalam ayat 30 Alkitab mencatat nazar Yefta yang mengatakan, “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu kedalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, …, itu akan menjadi kepunyaan Tuhan, dan aku akan mempersembahkannya sebagai kurban bakaran.”
Di sini kita melihat bahwa sepertinya Yefta mulai kembali tawar-menawar dengan Tuhan, walaupun ia tahu bahwa Roh Tuhan ada padanya dan itu berarti ada suatu jaminan yang pasti. Ini satu hal yang ia bawa dari masa petualangannya bersama para penyamun di tanah Tob. Sebab merupakan kebiasaan bagi mereka sebelum berperang mempersembahkan korban manusia sebagai korban bakaran untuk mendapatkan kemenangan. Padahal kalau kita lihat selanjutnya dikatakan bahwa anaknya merupakan anak tunggal, dan itu berarti hanya istri dan anaknya yang tinggal di rumah. Sehingga sangat mengherankan jikalau ia terkoyak hatinya ketika anaknya menyongsong dia dengan menari-nari. Padahal yang ia harapkan menyongsongnya adalah istrinya, karena ia begitu jengkel dan sedang mengalami konflik dengannya, sehingga dengan cara yang sangat rohani ia berusaha melenyapkannya. Ini satu hal yang sangat licik sekali yang mungkin muncul dalam pikiran Yefta. Bukankah seringkali ada banyak hal yang dapat kita pakai mengatasnamakan hal-hal rohani tetapi sebenarnya dibalik itu banyak hal yang tersembunyi, hanya kita sendiri yang tahu? Namun itu bukan berarti Tuhan tidak tahu, sebab tangan Tuhan sudah ada di atas Yefta dan Ia sudah memberikan kemenangan demi kemenangan yang hebat.

Yefta setia pada janji
Kisah tentang Yefta dan nazarnya yang terkenal itu, telah menyebabkan perdebatan sengit di antara para penafsir. Hal yang membuat perbedaan para penafsir adalah, apakah Yefta mengorbankan anak perempuannya sendiri, ataukah tidak? Jika ya, apakah Allah memaafkan tindakan yang tak masuk akal tersebut?
Hampir semua komentator dan penulis sejarah Israel sebelumnya menganggap Yefta benar-benar mempersembahkan putrinya sendiri. Hingga Abad Pertengahan barulah para komentator mulai mencari cara untuk melunakkan gurauan Yefta ini. Sudah sewajarnya jika laki-laki atau perempuan yang waras menjadi marah dan dikejutkan oleh cara-cara berpikir dan bertindak Yefta yang sewenang-wenang dan tidak alkitabiah. Namun pembaca harus ingat tema Kitab Hakim-hakim, yaitu setiap orang melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri, termasuk Yefta. Sesungguhnya, bangsa itu ragu menyebutnya sebagai hakim atas suku-suku di tepi timur (sebelum ia akhirnya disebut demikian) sebab ibunya adalah seorang wanita tunasusila dan saudara-saudaranya sendiri telah mengusirnya dari pusaka keluarga.
Di sini ada tiga pertanyaan utama untuk dijawab: (1) Sebenarnya apa maksud Yefta dengan nazarnya itu? (2) Bagaimana ia melakukannya? (3) Apakah Allah memaafkan tindakan-tindakannya?
Sebelum Yefta berangkat dari Mizpa untuk berperang, dengan penuh rasa hormat ia bernazar untuk menyerahkan kepada Allah apa yang keluar dari pintu rumahnya untuk menemuinya jika ia kembali dengan kemenangan atas kaum Amon. Ini memunculkan hal nazar dan masalah menerjemahkan istilah apa (whoever) yang keluar.
Nazar bukan tidak alkitabiah, namun dalam bernazar ada sejumlah bahaya yang perlu dihindari. Pertama, paling baik menghindari pengucapan nazar yang nantinya akan menimbulkan kesulitan bagi suara hati dan kemampuan seseorang untuk memenuhinya (Ams. 20:25; Pkh. 5:2-6). Kedua, nazar-nazar itu seharusnya jangan dipakai untuk membeli pengasihan Allah, seakan-akan kita bisa berkarya untuk mendapat kasih karunia Allah atau kita bisa mempengaruhi Allah untuk melakukan pada kita apa yang sebenarnya tak ingin Ia lakukan. Sebaliknya, nazar-nazar kita harus mengungkapkan rasa syukur kepada-Nya atas kasih-Nva yang tak terhitung. Jika suatu nazar telah dibuat, maka janji itu harus ditepati (Bil. 36:2-13; Mzm. 15:4; 66:14; 76:11; Kis. 5:1-4). Namun sumpah atau nazar yang melanggar suatu hukum moral Allah tak boleh dipenuhi. Itu sebabnya, janji Herodes yang tergesa-gesa itu, yang berakibat dimintanya kepala Yohanes Pembaptis, seharusnya tak pernah dipenuhi. Sayangnya, janji itu ditepati (Mark. 6:23-27). Di sini, Herodes seharusnya menarik kembali sumpahnya dan memohon maaf dari semua pihak atas pembuatan sumpah itu. Hanya nazar dan sumpah yang dibuat berdasarkan iman tak pernah perlu disesali. Selain itu akan terjadi ratapan atau perasaan terpukul.
Jadi apakah yang dinazarkan Yefta itu? Ada yang mencoba melunakkan sumpah tersebut dengan menerjemahkan apa yang disumpahkan itu sebagai apa (whatever) yang keluar. Namun, jika teks dalam bahasa Ibrani memaksudkan gagasan yang netral ini (yang bisa meliputi apapun termasuk hewan peliharaan Yefta), maka seharusnya di sini dipakai jenis kata yang berbeda (netral dalam bahasa Ibrani bisa diisyaratkan melalui bentuk kata feminin). Karena bentuk maskulin yang dipakai, dan kata kerjanya adalah keluar, maka ini pasti hanya menunjukkan (sebagaimana dalam setiap konteks lainnya) manusia dan bukan binatang atau benda lainnya.
Yefta berjanji bahwa siapa saja yang mula-mula keluar menjumpainya saat ia kembali dengan kemenangan akan menjadi milik Tuhan dan dikorbankan untuk Tuhan. Apakah ia memaksudkannya secara harfiah? Jika tidak, lalu mengapa ia menggunakan kata-kata ini? Dan jika ya, lalu bagaimanakah seorang hakim yang diurapi oleh Roh Kudus secara luar biasa untuk tugas kepemimpinan dalam perang, bisa bersalah melakukan pelanggaran besar terhadap suatu hukum Allah yang nyata (Im. 18:21; Ul. 12:31), yaitu menentang pengorbanan manusia? Perilaku yang tak masuk akal semacam itu hanya bisa dijelaskan demikian: Persetujuan Allah atas seseorang di satu bidang tidaklah menjamin persetujuan-Nya di segala bidang kehidupan. Misalnya, Daud juga dipimpin Roh, dan merupakan orang yang berkenan di hati Allah sendiri, namun bukan segala perbuatan Daud perlu diteladani oleh semua umat percaya yang dipimpin oleh Roh.
Yefta mengenal hukum Musa yang melarang pengorbanan manusia. Hakim-hakim 11:12-28 menunjukkan ia tahu sejarah Israel dan bisa merincinya jika perlu. Namun tentu saja ini tidak membuktikan bahwa apa yang ia tahu selalu ia lakukan, pengetahuan kita tentang apa yang benar tidak lebih menjamin kita akan selalu melaksanakannya. Bahwa Yefta memang sungguh-sungguh mengorbankan putrinya, yang demikian tragis, nampaknya merupakan arti yang paling wajar terhadap teks ini. Jika "pengorbanan" Yefta atas putrinya berarti mengembalikannya ke suatu kehidupan yang membujang dan melayani di bait Allah, tak satu kata pun dalam bacaan tersebut yang mengatakan demikian. Satu-satunya dukungan. yang mungkin adalah komentar bahwa siapa yang keluar dan rumahnya "akan menjadi kepunyaan TUHAN" (ayat 31). Namun pernyataan berikutnya membuktikan yang ada dalam benaknya adalah korban bakaran, "mempersembahkan... sebagai korban bakaran."

Perenungan
Sebagai isteri kita pasti sudah pernah dan sedang dan akan berjanji. Janji-janji apakah yang pernah kita lakukan? Kita mungkin berjanji pada diri sendiri, berjanji kepada teman, berjanji kepada keluarga, berjanji kepada gereja/hamba Tuhan, dan berjanji kepada Tuhan. Apakah kita setia pada janji kita itu? Mungkin jika janji pada diri kita sendiri dan kepada sesama manusia, kita pernah tidak setia. Tetapi jika kita berjanji atau bernazar kepada Tuhan harus setia, jika tidak maka jangan berjanji/nazar kepada Tuhan.
Mari kita ambil contoh janji kita kepada sesama manusia dan kepada Tuhan. Ketika kita dulu menerima berkat pernikahan, apa janji kita kepada suami kita dan kepada Tuhan? Janji yang pertama adalah bersediakah saudari mengasihi dia (suami) dengan segenap hati dan berbuat dengan segala kekuatanmu. Kedua, bersediakah saudari bersama-sama dengan dia melakukan kehidupan yang kudus? Ketiga, bersediakah saudari untuk mengerti dia, dan menanggung kelemahannya yang ada. Keempat, maukah saudari berjanji bahwa saudari tidak akan menceraikan atau meninggalkan dia sampai kematian akan menceraikan kamu kelak? Janji keempat masih bisa dipertahankan sampai sekarang walau sebenarnya sudah sering mau meninggalkan dia karena banyak permasalahan. Tetapi janji pertama sampai ketiga apakah kita masih setia sampai sekarang? Apakah kita tetap stia mengasihi, melakukan kehidupan yang kudus, dan bahkan tidak meninggalkan dia jika ekonomi tidak baik, jika kelakuannya tidak baik, jika ternyata ada banyak kelemahannya, jika dia mengalami penyakit, dan lain sebagainya.
Contoh lain misalnya tentang anak-anak. Ketika kita membawa mereka pada pembatisan kudus di gereja Tuhan, ada banyak janji yang perbuat di hadapan jemaat dan Tuhan. Pertama, apakah saudara menghendaki anak-anak ini dibaptiskan ke dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus? Kedua, apakah saudara bersedia membimbing anak-anak ini, agar mereka mengetahui dan menuruti firman Allah? Ketiga, apakah saudara bersedia menyuruh anak-anak ini ke Gereja dan membesarkannya dalam pengajaran Kristen Protestan, agar mereka menjadi anggota jemaat yang hidup dalam Yesus Kristus? Mungkin kita menganggap janji ini sepele, hanya bahasa seremonial/ritus saja yang harus dijawab begitu saja tanpa makna dan arti. Perhatikan makna dari setiap janji ini agar kita mengerti kesetiaan kita pada janji yang telah kita ucapkan di hadapan Tuhan. Pertama, Baptisan hanya sekali bukan berkali-kali. Tetapi ada banyak orangtua jaman sekarang ini bangga mengetahui dan bahkan membawa anak-anaknya menerima baptisan ulang di gereja lain??? Bahaya bukan! Di mana kesetiaanmu kepada Tuhan yang sama. Kok dibaptiskan lagi ke dalam nama Tuhan yang sama. Apakah beda Tuhan di GKPA dengan Gereja lain itu??? Jika sama mengapa kesetiaan kita luntur ketika melihat “cara” baptisan orang yang lebih “wah” seolah-olah kita diselamatkan oleh karena baptisan. Kita bukan diselamatkan karena baptisan tetapi hanya karena iman.
Kedua, apakah kita telah menginvestasikan tenaga, pikiran, hati, dan dana kita untuk membimbing anak-anak kita? Atau sudah cukupkah delegasi yang kita berikan kepada guru-guru di sekolah dan gereja, dan para pembantu mengerjakan tugas itu? Ingat pertanyaan dan janji itu bukan diberikan kepada guru dan pembantu, tetapi kepada kita orangtuanya. Ketiga, apakah kita sudah menyuruh mereka ke Gereja? Perhatikan kata “Gereja”. Gereja pakai huruf besar artinya ke Gereja di mana kita terdaftar sebagai warga jemaat. Jangan kita menyuruh mereka ke “gereja” di sekitar tempat tinggal kita dengan alasan dekat pokoknya “asal” mereka pergi ke gereja. Tidak itu isi janji kita di depan jemaat dan Tuhan. Kita berjanji akan menyuruh anak itu ke Gereja di mana kita terdaftar untuk diajari dan dibimbing oleh Gereja yang kita tempati. Mengapa? Pertama, agar mereka mengerti ajaran Kristen Protestan. Karena banyak ajaran gereja yang menjamur sekarang, karena itu mereka harus sejak dini harus diajarkan pengajaran Kristen Protestan. Kedua, agar anak-anak kita kelak menjadi jemaat yang hidup dalam Yesus Kristus. Karena banyak orang Kristen sekarang bukan jemaat yang hidup, tetapi dia jemaat yang terdaftar saja di gerejanya, tetapi tubuh dan jiwanya di gereja lain, persekutuannya di gereja lain, persembahan dan perpuluhannya di gereja lain. Ini bukan jemaat yang hidup. Jika demikian silahkan saja pilih, jika kita memang menjadi jemaat yang hidup di gereja lain itu, ya di sana aja terdaftar agar anak-anak kita sama dengan kita menjadi jemaat yang hidup di sana. Yang paling ironisnya jaman sekarang adalah ketika jemaat itu meninggal dunia maka dia dibawa ke gereja di mana dia terdaftar, tetapi selama hidupnya dia beribadah di gereja lain. Akhirnya, gereja kita hanya sebatas gereja yang melayani jemaat yang ‘mati’.
Karena itu melalui nas ini kita dituntut untuk tetap setia. Setia kepada janji-janji yang telah kita ucapkan di hadapan jemaat dan di hadapan Tuhan. Sama seperti Yefta, ketika dia bernazar di hadapan Tuhan maka dia tetap melaksanakan nazarnya itu sekalipun nazarnya itu sangat sangat bertentangan dengan hatinya. Makanya, hati-hatilah juga untuk berjanji dan bernazar bagi sesama manusia, dan terlebih bagi Tuhan. Amin.



SELAMAT SETIA !!!

Ramli SN Harahap
Silandit - Padangsidimpuan
HP. 0811 1998 0500

Rabu, 11 November 2009

HATORANGAN NI JAMITA 31 Desember 2009


“Amnesia
VS Anamnesis”
Partangiangan Ujung Taon
Kamis, 31 Desember 2009
Jamita : Masmur 103 : 8 - 18
Sibasaon : Rom 8 : 33 - 39


1. Pada umumna mura do jolma mangalupahon haburjuon ni Tuhan dohot donganna jolma. I do umbaen umabahat do jolma maol mandok tarimakasi dohot marsyukur. Sasintongna mansai ponting situtu do marningot hadedenggan ni Tuhan dohot donganta jolma di pardalanan ni ngolunta on, aso digohi roha tarimakasi dohot panghirimon na mangolu rohanta i. Momen (tingki) pargantian ni taon ma na pas laho marningot i sudena. I do umbaen turpukta dibagasan Partangiangan Ujung Taon on manaringoti hadedenggan ni Tuhan maradophon ngolunta sian na mamungka hita mardalan sian 1 Januari 2009 lopus tu borngin on 31 Desember 2009. Antong taligi ma jolo bia do parmasmur i laho mangungkap hadedenggan ni Tuhan di pardalanan ni ngolunta di taon 2009 i.

2. Gagasan utama di bagasan Masmur on i ma holong satia ni Tuhan. Parmasmur manghatai jana paingothon dirinia sandiri (dohot pambasa ni masmur on) bahaso TUHAN i ma TUHAN na gok holong satia jana parasiroha. Gagasan on dijabarhon dibagasan pokok-pokok songon na di toru on:

3. Amnesia VS Anamnesis. Jolma cenderung mangalami amnesia. Amnesia i ma panyahit lupa parningotan. Songon kacang lupa kulitna. Hadengganan ni Tuhan dohot donganta jolma nadung dikarejohon na salolotna on nada taingot jana habang songoni sajo. Tapi angka hahurangan ni Tuhan dohot donganta jolma sai torus marsingotngot di bagasan rohanta lopus tu holiholinta. Adong pandohan na mandok, “Ma tarholi hulala hancitna na dibaennia i tu au, jadi nada tarlupahon au be i”. On ma mambaen ngolunta taraso paet jana parir. Dipaingot si Parmasmur on do hita: " Puji ma TUHAN, ale tondingku, jana ulang halupahon sude hadenggananNa!" (ay. 2). Hata "ulang halupahon" diterjemahon sian hata Heber shakach. Pandohan "ulang halupahon" on artina nada holan maras-tuan mangingot sajo (remember) tapi dao umbagas astuanna i ma marmomosi (memorize). Jadi nada holan sakadar mangajak giot marningot tapi dohot do marmomosina di bagasan rohanta. Marmomosi i ma pangalaho na marningot dohot mangauhon huhut mangkarejo-honna. Di bagasan istilah liturgis, marmomosi digoari ma i dohot pandohan anamnesis. Parmasmur mangigil dirina sandiri dohot donganna na asing anso ulang gabe jolma na amnesia (lupa) tu hadengganan ni Tuhan, tapi angkon jolma na ra mar-amamnesis (marmomosi) hadedenggan ni Tuhan ma hita dibagasan pardalanan ni ngolunta on. Dibagasan proses anamnesis on, hadirion dohot hadedenggan ni Tuhan nada holan dimomosi songon pambaenan nadung solpu, tapi angkon tamomosi do pambaenan ni Tuhan i sadarion, dohot tu ari na giot ro on dope. Parange sisongon on ma na margogoihon jolma mandok tarimakasi dohot manghasabamhon ngoluna di bagasan panghirimon na mangolu. Muda songoni, mura ma hita mandok, "Puji ma TUHAN, ale tondingku..."

4. Hadengganan dia ma na angkon siingoton dohot simomosionta?
Adong lima hadengganan ni Tuhan na ni dok ni Parmasmur i ma: manyesa dosa, pamalum nasa nyae, manobus jolma sian hamatean, marhasurungan, dohot pasonanghon. Sude hadengganan i dipadomu si Parmasmur tu parmalum ni angka nyae. Harana nyae di tradisi ngolu ni halak Jahudi dipahombar do i tu dosa. Muda adong halak na marnyae dipamalum sian nyaena, dirajumi do i bahaso dosania madung disesa. Artina, hamamalum i nada diartihon songon akibat tindakan medis sajo, tapi na umponting i ma harani hasesaan ni dosa dohot holong ni roha ni Debata Ama. Debata Ama do mual ni hamamalum ni nyae. Hamamalum sian nyae patidahon holong satia dohot asi ni roha ni Debata do i tu jolma si pardosa i. Hamamalum sian nyae paluahon jolma sian hamatean, sakaligus mamboan parubahan identitas tu angka halak na mangalamisa. Identitas songon halak na dianggap mardosa, najis, dohot naso marmartabat, berubah manjadi jolma na ditobus dohot na dipasangap ni Tuhan. I do umbaen didok dibaen Tuhan do jolma i marhasurungan. Angka jolma na marhasurungan ma na dapotan hasonangan. Dirajumi ia ma ngoluna na dipasonang Tuhan. Tuhan manghaholongi nada satongasatonga, tapi secara tuntas: malum sian nyae jana malua sian hamatean.

5. Mangoku Tuhan gabe Ama. Pangalaman di holong satia ni Tuhan na sanggam manubuhon pujian (doksologi). Pangokuan dohot pamujion bahaso Tuhan i ma Tuhan na marholong ni roha. Tuhan nada sai torus manuntut, pandondam, sanga pe pamalos. Debata i ma Debata parholong roha na sumurung tu angka jolma. Holong ni roha ni Tuhan gabe dianalogihon songon holong ni Amaama tu angka dakdanakna. Aha gunana pangokuon dohot pamujion on? Anamnesis: marmomosi hadedenggan ni Tuhan. Marhite na marmomosi jana mangoku holong ni roha ni Debata, gabe mambaen margogo ma jolma i manghatarimakasihon ngoluna na jolo, sannari, jana marpanghirimon na mangolu tu ari na denggan na gito ro on. Harani i, angkon mampu ma hita mamalos holong ni roha ni Debata marhite ngolu na marholong ni roha na satia tu Debata Ama.

6. Di Partangiangan Ujung Taon on, mare ma hita marmomosi denggan basa ni Debata nadung tajagit sian Ibana. Angke diboto Tuhan do asal mulanta, diingot Ia do hum abuan sajo do hita. Songon duhut, nada sadia honok ngolu ni jolma, marbunga ma ia songon bunga di ladang; muda diombus alogo, manigor mago ma ia, nada adong be marnidasa mangulaki. Tapi laing holong do roha ni TUHAN mida na sai porsaya, marsundut-sundut do mardalan hadenggananNa, di halak na marsitiopan tu parjanjianNa, dohot na marsitutu mangoloi parentaNa. Amen.



fidei-gladys
Padangsidimpuan, Oktober 2009
Pdt. Tuty Zastini Hutabarat,S.Th.
HP. 0813 18 200055

HATORANGAN NI JAMITA 29 Desember 2009


“PADIAR MA MATE NAPOSOMON DI BAGASAN SONANG”

Minggu Dung Natal
Tgl, 29 Desember 2009
Jamita : Lukas 2 : 27 - 35
Sibasaon : Jesaya 52 : 7 - 10


1. Adong ma na margoan si Simeon di Jerusalem. Sahalak na bonar jana na badia na painteintehon Sipalua di halak Israel. Digohi Tondi di ia. Mansai bahat do arsak, partontangan ni ngolu na niadopi ni si Simeoan songon sahalak Israel na tinggal di Jerusalem na torus dibagas joro ni Debata. Sabar do ia painteintehon Sipalua ni halak Israel. Dung sorang Jesus, diida jana dirasahon si Simeon ma Sipalua i. Adong do kemungkinan di hatiha na painteintehon haroro ni Sipaluai i, ia diadopi ia do perasaan na hampir putus asa, i do umbaen didok ia hatana, "Saonnari ma o Tuhan dipatulus Ho baga-bagaMu. Padiar ma mate naposoMon di bagasan sonang”. Tapi nada ra dope ia mate painte so diida jana dirasahon ia Sipalua i. Akhirna dijagit jana diida si Simeon do aha na dijanjihon ni Debata tusia. I do umbaen na didok ia, “Padiar ma mate naposoMon di bagasan sonang”. Dung diabing ia Jesus na marumur salapan taon i, mur porsaya situtu ma ia ngolu na gok hadamean dohot si jop ni roha i di ngoluna. Ro do Simeon tu bagas joro ni Debata laho manjalahi hadamean. Bahat do halak na so mampu mangalami dohot marasahon hadamean dung ro tu bagas joro ni Debata harana ro ia tu bagas joro ni Debata nada dibagasan Tondi ni Debata, tapi dibagasan hagiot ni hajolmaonna sandiri do. Ro tu bagas joro ni Debata holan patidahon sinadonganna, patidahon huasona, patidahon habeteng-onna, patidahon hajogalonna, patidahon hamaloanna. Tapi angka jolma na ro tu bagas joro ni Debata di bagasan Tondi ni Debata, na malungun pasuo dohot Jesus, na malungun di haluaan na sian Jesus angkon dapotan hadamean na sian Jesus. Muda mangolu hita dibagasan habonaran dohot manghangoluhon hasintongan ni Debata, bisa ma hita marsuo dohot Jesus di ngolunta siganop ari. Parsuoan ni si Simeon dohot Jesus nada secara “kebetulan” tapi na dituntun ni Tondi Parbadia do si Simeon masuk tu bagas joro ni Debata Ama, di tingki si Maria dohot si Josep maroban Jesus laho “mangalehen” anak ni halahi tu Debata.
2. Berrefleksi sian penyerahan ni Jesus on bisa taida paboa si Maria dohot si Josep satia do laho mangkarejohon aturan ni ugamo na dung di haporsayai halahi. Hataaton ni si Josep dohot Maria on gabe tiruan ma on di sude keluarga ni halak Kristen laho mamboan angka dakdanakna tu adopan ni Debata di hamenehonna dope. Dilehen dakdanak i tu adopan ni Debata aso parsidohot do dakdanak i di harajaan ni Debata sian sihamenehonna dope lopus tu ujung ni ngoluna. Naumponting dope tahe nada holan mamboan dakdanak i tu adopan ni Debata marhite ibadah pandidion sajo karejo ni simatobang ni dakdanak i. Tapi dao umbagas sian i, i ma lahio mamodai, mangajari dakdanak i aso magodang dibagasan lomo ni roha ni Debata Ama na mangoloi poda dohot hata ni Debata dohot simatobangna. Muda natoras ni dakdanak i mampu pagodang anakkonna i di bagasan ajar dohot poda na sian Debata, pasti do dung di hatihana muda pe nada lobas simatobangna i laho mangaramoti anakkonnai, ma bisa halahi mandok, “"Saonnari ma o Tuhan dipatulus Ho baga-bagaMu. Padiar ma mate naposoMon di bagasan sonang”. Artina, dengan rela dohot jiwa na besar berani mengundurkan diri, memberi kesempatan tu dakdanak i, generasi muda laho manoruskon aha nadung dipungka simatobangna. Simatobang angkon mangalehen dirina mangajari, mamodai huhut padasipkon pendidikan dohot pendewasaan ni dakdanak i, berani pahabiskon tingku dohot gogona tu angka anakhonna. Boros tingki dohot gogo merupakan bentuk holong na utama. Angka natoras naso berani pahabishon tingki dohot gogona tu anakkonna berarti naso dihaholongi ia do anakkonna i.

3. Hara na sian mudar dohot pamatangta do dakdanakta i tubu, berarti angkon rap dohot do halahi muse dapotan di hangoluan na so mantak i. Marhitehite na pasahathon halahi tu adopan ni Debata berarti na paluahon halahi do hita sian gomgoman ni sibolis na giot manyego-nyego dohot pamatehon halahi. Mangalehen dakdanak tu adopan ni Debata marhitehite pandidion berarti mangalehen hangoluan na so mantak ma di dakdanakta dohot paluahon halahi sian hamaten na manongtong. Tubu ma sapasapa di hita nuaeng. Bia dehe sikapta mamikirhon ngolu ni angka anakkonta di tingki on? Bahat do halak Kristen nuaeng merasa puas dohot bangga muda dung diboan ia dakdanaknia tu gareja manjagit pandidion na badia i. Tapi dung dididi di gareja, nada ditoruskon halahi be tugas pembinaan, pangajarion tu angka dakdanak na tardidi i. Akibatna, bahat ma dakdanak na magodang secara fisik, tapi inda matobang di haporsayaanna na sintong tu Jesus. Jeges jana tampan do dakdanaki idaon sian luar, tapi keropos di partondionna. Muda sisongon i do keadaan ni angka dakdanak ni halak Kristen, nada bisa dope simatobang ni dakdanak i mandok, “"Saonnari ma o Tuhan dipatulus Ho baga-bagaMu. Padiar ma mate naposoMon di bagasan sonang”. Angke nada mampu dope simatobang ni dakdanaki patandahon haluaan na sintong tu angka dakdanak na i. Muda sisongon on do kualitas ni simatobang ni halak Kristen di jaman on, bisa tapastihon nada lolot be martahan angka naporsayai di na menghadapi partontangan ni ngolu na niadopina dung magodang halahi muse. Taiida ma bukti-buktina. Madung bahat angka dakdanak ni halak Kristen na marbalik agama sian Kristen keh tu parugamo na asing. Mura do meoleol pandirian ni naposobulung di pangaran-toanna. Antong aso sonang rohanta marnida haluaan i, taharingkotkon ma padasiphon pangajaran ni Tuhanta i tu halahi marhite na ringgas mamboan dakdanaktai tu adopan ni Debata dohot bagas joro ni Debata. Amen.

fidei-gladys
Padangsidimpuan, Oktober 2009

Pdt. Tuty Zastini Hutabarat,S.Th.
HP. 0813 18 200055

HATORANGAN NI JAMITA 26 Desember 2009


Na manjagit Jesus gabe angka dakdanak ni Debata
PESTA NATAL PADUAHON
Sabtu, 26 Desember 2009
Jamita : Johannes 1 : 9-14
Sibasaon : 1 Johannes 2 : 7-10


Patujolo

Parsaoranta hatiha on ima ari paduahon na laho mamestahon hasosorang ni Tuhan Jesus. Pola dua ari hita marpungu laho marjop ni roha di bagasan pesta natal, na patuduhon songon ima ringkot na hasosorang ni Tuhan Jesus di pardalanan partondion (pengalaman spiritual) ni halak na porsaya. Tapi di bagasan hataridaan na di tonga-tonga ni parlagutan nada pola bahat ruas ni parlagutan i na ro tu gareja. Tutu dehe ringkot sajo pesta paduahon i?. Tontu angka hita be ma na mamasa turpuk on laho pahusor-husoron i, na pasti di kurikulum ni gareja sai tongtong dope disangkapi jana dibaen anso sude halak na porsaya marlagut mamestahon haroro ni Jesus, astuanna sai nadung dipangkilalahon angka uluan ni gareja na ingkon marlagut hita marningot hasosorang ni Tuhan Jesus. Nada tuk nian holan sadari laho pahusor-husoron angka tona na sian Debata di hasosorang ni Tuhan Jesus. Bahat na ingkon begeonta jana simomosanta di ari i.

Turpukta di pesta paduahon on ima taringit tu ”Hata na mangalehen Hangoluan”. Di angka parsermonan jotjot do tarida pandapot taringot tu turpuk on bahasa ponggol sada sian evangelium ni si Johannes maol astuan, harana nada songon pandohan ni angka parpilsafat do turpuk on, jana nada songon sada surat na marisihon turi-turian. Tapi sasintongna nada na maol astuan turpuk on muda tasulingkit, taihutkon ma hatorangan na di di toruon.


Muda taida tu evangelium na asing, parmulaan ni pambaenan ni Debata taringot tu Jesus dipungka marhite-hite karejo ni tokoh Johannes Pandidi. Di Matius 3:1-17 dipabotohon taringot tu pangkobasion ni si Johannes Pandidi dohot na dipandidihon ni si Johannes Tuhanta Jesus. Markus 1 :1-8 : Pangkobasion ni si Johannes Pandidi, Lukas 1 :5-25 taringot tu hasosorang ni si Johannes Pandidi. Nah.. sasintongna evangelium Johannes pe dipungka do sian panandaion ni si Johannes pandidi, tapi diihutkon mai dohot sada ende liturgi ni huria na parjolo na marisihon kristologi (sada hymne) dipamasuk tu bagian patujolo ni kisah Johannes songon na adong di hita sonnari. Jadi songon na nidok ni si C.H.Dodd, evangelium Johannes asing sian angka evangelium na asing harana evangelium ni si Johannes nada dipungka parkarejoan ni Debata di tano on, tapi di banua ginjang.
Mamungka sian ayat sada, jumpang hita pandohan ’’Hata i ’’ na marharoroan sian hata ’’logos’’. Muda filsafat Yunani, na marcampur rap dohot ajaran mistik gnostik, logos ima sada wujud na so haidaan na parjolo haruar sian hatutuan na marisihon nasa na adong jana manjoloani nasa na adong. Pandohan na ummura astuan patorangkon logos jumonok tu pangantusian ”pikiran”. Di zaman ni si Johannes, Palestina ima bagian ni budaya Hellenis, jadi nada pola longang roha muda angka pandohan filsafat (istilah-istilah Filsafat) dipake angka na manyuratkon evangelium laho patorangkon taringot tu haposayaan. Asing ni pengaruh Yunani, panyurat patoruskon sada tradisi Yahudi na ro sian Padan na Robi, ima konsep ”Bisuk” (Hikmat) na adong rap dohot Debata di tingki manompa na sa na adong (tangkasi ma jolo Poda 8:22-31 anso pe dilanjutkon bahasan on).

Jesus ima khidmat dohot logos, jadi Jesus rap dohot Debata tingki manompa na sa na adong, jana di bagasan Jesus adong hangoluan (Gorik :Zoe), jana nasing muse di Johannes ponggol sada on Jesus disarupohon dohot Sinondang (Gorik: foos). Sinondang i laho tu jolma. Jadi Jesus ima hangoluan dohot Sinondang nadung ro tu Portibion, ima na gabe jamita di pesta natal di ari paduahon on.

Hatorangan :
Ayat 9 : Torang (sinondang) na tutu na manorangi sandok jola madung ro tu portibi. Andorang so ro Jesus Kristus tu portibion, madung adong sinondang i, tapi di tingki haroro ni Jesus madung dibaen Ia gabe sinondang na satutuna jana na sintong. Sian pangantusion on do hita mandok Jesus ma na gabe hagogok (kepenuhan) ni sude angka sinondang na dilehen ni Debata, jana na gabe lalu hita tu pangajaran ”Kristocentris” ima berpusat tu sinondang na adong di Kristus Jesus.

Ayat 10-12 : Jesus ro tu bagasan kosmos. Muda diterjemahan Bibel Angkola dibaen do hata on “BangsoNa”. Tapi kosmos bisa di bagasan dua pangantusion ima portibi sanga pe sekelompok oranga i ma bangso Israel, naditompa ni Ibana, tapi nada ditanda kosmos i Ibana. Kosmos di bagasan turpuk on ima nasa jolma (di bagasan pangantusion kolektif), nadung ditompa ni Jesus, harani na nitompa ni Ibana, gabe nampuna ni Jesus, tapi nada dijagit jolma i Ibana. Jolma di bagasan pangantusion di son ima saluhutna nasa jolma na di portibion, jadi-jadian ni Debata na mangalo Ibana, tapi bisa do muse di bagasan pangantusion na paduahon ima : sada kelompok ni hajolmaon “halak Jahudi”, ima na di bagasan evangelium Johannes na manulak jana na tongtong maralo rap dohot Jesus, na ditulak ni halahi ima Jesus na gabe Anak ni Debata. Tapi naumporlu di hita saonnari hombar tu turpuk on (ayat 12) ima : bope sian halak Jahudi sanga sian hajolmaon sudena, sanga ise na manjagit Jesus gabe angka dakdanak ni Debata mai. (Gorik: Tekna Theou). Angka dakdanak ni Debata di son na sian hata Tekna jotjot doi dipake laho patuduhon status naniangkat sian hatoban (Anak Partubu tongtong do sian terjemahan Huios).
Astuanna di si muda anak angkat sian hatoban, taboto do muda hatoban nada adong di si hak (hak mangkatai, hak manontuhon dohot hak manean), holan na mangoloi tuanna do hatoban, tapi muda diangkat Jesus gabe angka dakdanak ni Debata gabe tangkas ma statusna di harajaan ni Debata; tangkas ma na gabe parsidohot ia di harajaan ni Debata, tola mangkatai jana manontuhon di haputusan nang songon i gabe panean di harajaan ni Debata. Debata do namanubuhon angka dakdanak ni Debata i. Bisa pabagasonta hatorangan ni on taringot “Tubu Padua-nolihon” songon pangkataion ni Jesus rap dohot si Nikodemus (ligi ma di Johannes 3). Muda tatangkasi taringot tu si bisa ma idaonta hubungan ni Hata na gabe Anak Ni Debata, jana Debata na gabe Ama songon i muse Tondi ni Debata na patubuhon angka anak ni Debata. Konsep Debata si tolu sada digombarhon si Johannes di son.

Ayat 13-14 : Angka naso tubu sian mudar sanga sibuk, sanga sian hagiot ni pamatang ni halaklahi (nafsu), tapi naditubuhon ni Debata. Di son tangkas ma idaonta naso mangihutkon ide taringot tu proses ni haportibion (natural). Hata mudar na dibagasan hata gorik disuratkon di bagasan bentuk jamak, ima songon dia proses alami, mudar ni natorasna dua-dua. Jadi ise do nadimaksud di son? Angka napaubahon roha jana haruar sian kelompok kejahudian sanga sude jolma do nadung paubahon roha jana namangoku Jesus Kristus sian sude bangso ?. Tontu napaduahon ido astuanna di son, lumobi mai di ayat 14 didok : bahaso logos madung gabe jolma. Di hata Gorik didok “sarx astuanna sibuk”, na patuduhon tu jolma sudena, ima na laho paluahon jolma na dibagasan hagolapan.
Jesus madung ro tu portibion sian banua ginjang, na gabe jolma sarupa tu jolma na asing, tapi Ibana na marsangap (mulia), gok asi ni roha (charitos) dohot hasintongan (aleteia), harana Jesus ima monogenus para patros “Anak ni Debata nasasadai”. Hata sanga logos nada na sorang sian Debata, tapi didok rap dohot Debata jana Debata sandiri. Jadi AnakNa na sasada i (dipaboa doi muse di ayat 18) patuduhon hasadaon dohot jonokna Jesus dohot Debata. Pandohan “madung di tonga-tonganta” hata hita di son ima angka namamasa evangelium Johannes di hatihai, tapi laing na patuduhon na sahat doi tu angka namamasa egangelium on tu hita sadarion. Hita pe madung manyaksihon hamuliaonNa, hita pe madung manyaksihon logos/hata i madung gabe jolma. Jana tontu muda angka na manjagit “hatai do hita na gabe dakdanak ni Debata ma hita : adong statusta na tangkas di Harajaan ni Debata.

Hahonaanna.

1. Ingkon pangkilalahononta do jop ni roha ni portibion nadung dapotan Sinondang, na manorangi saluhutna jolma, jana ima na gabe jop ni rohanta di pesta natal ari paduahon on. Sada pambaenan halongangan na sian Debata doi lopus tu hita sadarion.

2. Jesus dipatudos tu hata na rap dohot Debata, jana nadung gabe jolma di portibion ima na mambaen adong parsaoranta rap dohot parbanua ginjang, jana dison ma tangkas astuanta bahaso Debata madung mardenggan rap dohot jolma.

3. Jesus dipatudos muse rap dohot Sinondang : Muda sifat na tumangkas sian sinondang ima tongtong do mago hagolapan muda ro sinondang. Jana muda adong sinondang gabe tangkas ma taligi dalan siboluson anso lalu tu tujuan. Muda halak na mardalan di hagolapan, jotjotan mai gabe lilu. Antong didok di turpuk on : Sanga ise na manjagit sinondang i ima Jesus sandiri gabe monang ma hita manaluhon hagolapan, sanga manaluhon sibolis. Muda tongtong tatiop Sinondangi, gabe tangkas ma hita didia mardalan ima di dalan hasintongan jana lalu ma hita tu Harajaan ni Debata.

4. Digoaran do angka namanjagit Hata dohot Sinondang i gabe dakdanak ni Debata. Taingot ma muda angka dakdanak ni Debata do hita gabe pasti do hita panean di Harajaan sogot, antong nada tama angka dakdanak ni Debata marpangalaho songon sada hatoban dohot mian di hagolapan sanga mangihutkon hagiot ni sibolis. Amen-horas jana selamat natal.


Pdt.Josep P.Matondang.
Ka.Biro III

HATORANGAN NI JAMITA 25 Desember 2009


“HALONGANGAN DO HASOSORANG NI JESUS I”
Natal 1
JUMAT, 25 Desember 2009
Jamita : Lukas 2:15-20
Sibasaon : Pangarataion 18:15-19


1. Elmer Kline, sahalak manajer perusahaan pambaen roti taon 1921, dilehen tugas giot membaen goar produk roti tawar naimbaru na diproduksi ni parusahaan i. Di tingki marpikir sada goar na bisa “menarik perhatian”, didapot ia ma alusna di inganan na so tardugaduga. Di tingki markunjung ia tu lapangan Indianapolis Motor Speedway, so ma gior mangaligi Festival Balon Internasional. Digombarhon ia ma pemandangan balon-balon udara na jeges, na mangalewati langit Indiana songon na “memengagumkan dohot
na manghalongangkon”. Torbit ma di pikirannia mambaen goar ni produk i “Wonder Bread” (Roti Halongangan/Ajaib). I do lopus tu sadari on, kemasan ni roti on dihiasi gambar balon na berwarna-warni. Hata halongangan (wonder) i ma hata na marisihon arti dohot makna na mansai penting sian rotinai sandiri. Kamus mangartihon halongangan songon “boncir ni hahomangan”. On ma hata na mang-gombarhon pengalaman ni sude jolma na adong di sekitar peristiwa haroro ni Jesus tu tano on – angka surusuruan, si Maria, Yusuf, angka parmahan, dohot sude jolma na mambege barita hasosorang ni Jesus i. Dipatorang panurat ni buku Lukas do paboa sudena jolma “longang jana homang situtu” (Luk. 2:18). Sude do jolma homang jana longang laho marnida hasosorang ni Jesus tu portibi on. Anggiat ma di tingki na mamestahon hasosorang ni Jesus on tubu ma di hita halongangan dohot hahomangan marnida holong ni roha ni Debata Ama laho manopot hita jolma tu portibi on. Angke ngolunta on sai torus do digohi angka halongangan dohot hahomangan godang muda tajagit Kristus sorang di rohanta be.

2. Aha ma barita halongangan di hatutubu ni Jesus Kristus tu portibi on? Naparjolo, dipaboa Debata Ama do hasosorang ni Jesus tu angka parmahan. Angka parmahan i ma halak na so dihormati halak golongan ortodoks Yahudi na menganggap dirina na dumenggan di hatiha i. Angka parmahan nada bisa mandalanhon uhum ibadat secara detail; nada bisa halahi manjaga uhum (isarana mambasu tangan painte so mangan) dohot bahat paraturan na asing na i. Diremehkon golongan ortodoks Jahudi do halahon. Harani i, halongangan na parjolo di hasosorang ni Jesus i ma dipaboa barita na denggan i tu halak na sederhana. Napaduahon, hasosorang ni Jesus di bara ni pahanpahanan. Mungkin sugari mangolu hita di hatiha i pasti do hita mangharaphon hasosorang ni Jesus di istana sanga pe di inganan na layak. Sian on tarida bahaso hasosorang ni Jesus tu portibi on nada ditontuhon inganan na sumangap. Marhite on dipaboa tu hita, sorang do Jesus di bangasan ngolunta na so hasaya i, di bagasan parangenta na layas i, dipangalahonta na hasurahan i laho paturehonsa aso gabe dapotan haluaan hita. Sorang do Jesus diangka parangenta na so ture i aso dipature ia parangenta i. Sorang do ia dibagasta na gok parsoalan i aso dipadame ia sude pangisi ni bagasta i. Napatoluhon, tubu Jesus sian sada bujingbujing na so marbagas dope. Muda di hatiha sannari kejadian i, manigor ma hona surahan si Maria, hona pabali sian gareja angke gabegabean ia di na so hatihana dope. Sian on bisa tarida bahaso Debata markarejo di luar batas pemikiran ni hajolmaon. Debata bebas manontuhon cara haroro-Na tu portibi on laho paluahon jolma si pardosa i.
3. Muda halongangan do hatutubu ni Jesus tu portibion, bia do reaksi ni angka jolma manjagit hasosorang ni Jesus Sipalua jolma i? Naparjolo, porsaya do angka parmahan i di barita hasosorang ni Jesus. Manigor sahata saoloan do halahi laho mangaligi Jesus na sorang i. "Beta ma hita tu Betlehem anso taida na masa i, na nipaboa ni Tuhan i tu hita." Manigor sepakat do parmahan i kehe tu Betlehem atik pe sasintongna nada adong na istimewa siligion di Betlehem hatiha i, tapi dibaritahon halahi do barita na dibege halahi taringot tu dakdanak na tubu i. Dung diida angka parmahan i Dakdanak i, di-caritohon halahi ma sude na dung dipaboa tu halahi taringot tu Dakdanak i. Aha ma na dipaboa surusuruan i tu parmahani? Dipaboa surusuruan i do bahaso dak-danaki i ma Kristus. Jana barita si jop ni roha on dipabotohon halahi parjolo tu si Maria dohot si Josep dohot tu sude jolma na pasuo rap dohot halahi. Haporsayaan ni parmahan on mambaen halahi gabe saksi hasosorang ni Kristus Tuhan. Atik pe di hatiha i, nada talup jana nada di akui angka parmahan gabe saksi. Artina, di hasosorang ni Jesus terjadi perubahan status sosial ni parmahan. Dibaen Debata Ama do angka parmahani gabe saksi na parjolo na bisa mamaritahon aha na dung diligi jana na binege ni halahi taringot tu Jesus Kristus. Jana hasaksian ni parma-han on mambaen halak gabe longan situtu. Halak pe homang ma rohana umbege carito ni angka parmahan i. Napaduahon, si Maria. Marbeda sian angka si parmahan. Angka parmahan mamaritahon na dung dibege dohot na diligi ni halahi tu sude jolma, tapi anggo si Maria disimpan ia ma sudena i di bagasan rohania mamikirkon sanga aha arti ni sudena i. Si Maria manyimpan di bagasan rohania hata na ni dok ni parmahan i paboa dakdanak na sorang i i ma Kristus. Manyimpan berarti diparhatutu ia do barita na diboan ni angka parmahani bahaso Jesus nasorang i, i ma Kristus. Songon sada ina ia, tontu mansai jop situtu do rohana mambege barita nauli i, bahaso dakdanak na ditubuhonnia i ma Kristus.

4. Sannari bia do hita mamestahon hasoso-rang ni Jesus? Adong do pergeseran na semakin membahayahon ngolu ni ha-karistenonta di hatiha on. Angka aha ma i? Naparjolo, fokus ni pesta natal gabe mangondolhon pernak-pernik natal isarana: pohon natal, kue natal, baju natal, kartu natal, kado natal, bingkisan natal. “Ide laho mamake pohon Natal ro tu Inggris sian haporsayaan ni halak Eropa painte so siihutkon Kristus halahi. Suku Celtic dohot Teutonic manghormati pohon-pohon on di tingki perayaan musim ngali (dingin) songon simbol hangoluan na manongtong. Pohon on disomba songon janji angkon ro ma sang mataniari. Gabe dianggap ma pohon natal on i ma lambang ngolu na manongtong di angka sisomba ganaganaan, gabe lambang ni Sipalua jana marhitehite i ma gabe nada tapisah-kon be pohon natal dohot hasosorang ni Jesus. Gabe taanggap ma pohon natal on songon lambang ni hangoluan na manong-tong. Napaduahon, fokus ni natal gabe mangondolhon Sinterklas. Muda taligi kebiasaan ni halak sisaonnari on ma gabe mamaritahon hadengganan ni Sinterklas na mangalehen hadiah tu angka dakdanak dohot na pogos. Gabe tarsingkir do hadedenggan ni Jesus na ro tu portibion na gabe jolma laho manobus hita sian hadosaonta. Napatoluhon, fokus ni natal gabe mengarah tu angka pesta-pesta. Muda dung masuk bulan Desember mulai sian tanggal sada lopus tu tanggal tolu pulu sada Desember madung digohi pesta-pesta natal mulai ma i sian pesta natal gareja, kategorial, parsahutaon, par-margaon, kantor, dohot angka na asing. Muda tapamanat sada keluarga di hatiha on, paling saotik ma ia mamestahon pesta natal 7 kali (natal marga ni ama, natal marga ni Omakna, natal marga ni isterina, natal marga ni simatuana, natal ni parsa-hutaon, natal ni kantor, natal ni punguan kategorial di gareja, dohot natal umum gareja). Loja do halak Karisten nuaeng mamikirhon pesta-pesta natal. Jana adong kecenderungan nuaeng gabe mabiar noma mandohoti pesta-pesta natal angke natal nada mamboan barita nauli be tapi madung mamboan boban. Na paling pailahon di hatiha sinuaeng on, i ma pesta natal gabe ajang manjalahi “dana/ hepeng”. Hape muda taligi hasosorang ni Jesus tu portibion nada mangigil hepeng/ dana sian jolma, tapi sabalikna do sorang Jesus tu tano on laho mangalehen diriNa tu portibion aso mangolu pangisi ni portibi on. Tapi hita mamestahon hasosorang ni Jesus dohot pesta-pesta na mangidoido hepeng tu halak bahkan tu angka jolma na so sahaporsayaan aso bisa mamestahon hasosorang ni Jesus. Pailahon do pesta si songon on. Pamenekhon hasosorang ni Jesus do i tu portibion. Tapestahon ma pesta natal sian na adong di hita, sian kemampuanta, ulang manghaut hepeng aso adong sipahabisonta.

5. Fokus ni natal sasingtongna i ma Jesus. Jesus na sorang di bara ni pahanpahanan, Jesus na disomba ni angka parmahan, Jesus na disomba dohot na diehen hadiah parhapistaran sian Purba. Madung sorang sadari on di Kota Ni si Daud, Sipalua i, i ma Kristus Tuhan i. Pesta hasosorang ni Jesus nada wah...., nada heboh..., nada glamour, nada heppot, nada kucar-kacir pahae tu jae tu julu manjalahi hepeng, nada sibuk mambaen proposal tu angka na mora, pejabat, tapi pesta natal dipestahon secara sederhana, tenang, hening, diam. Antong tapestahon ma ari hasosorang ni Jesus on sian roha na ias, tenang, biasa-biasa, sederhana tapi mam-pu mangalehen makna tu na humaliang, mampu mangalehen makna tu keluarga, gereja dohot masyarakat. Jesus sorang laho mangurupi na dangol. Antong tapestahon ma natal laho mangurupi angka na dangol, napogos, paluahon halak sian dosana aso dapotan halahi di hangoluan na manontong i. Halongangan do hasosorang ni Jesus i. Antong tabaen ma halonganan tu na humaliangta tanda nadung sorang Jesus di bagasan rohanta. Selamat Ari Natal ma di hita sudena. Amen.




Kantor Pusat GKPA, Oktober 2009

Pucuk Pimpinan GKPA

HATORANGAN NI JAMITA 24 Desember 2009


“HOLONG NI ROHA DOHOT ASI NI ROHA NI DEBATA DO TU HITA,
UMBAEN NA TUBU JESUS, SIPALUA I ”

JAMITA TU BORNGIN ARI NATAL, KAMIS, 24 DESEMBER 2009
JAMITA : Lukas 1 : 26-33
Sibasaon : Jesaya 12 : 1-6.


PATUJOLO :

Syalom, Selamat Natal ma di hita sude!
Angkon taoku bahaso borngin na sonang, gok jop ni roha dohot dame do di hita angka na porsaya tu Jesus borngin on. Angke madung 4 Minggu antong marturut-turut taparade rohanta marhite Minggu Advent, laho mamestahon Pesta Natal borngin on. Marhite i, ganup keluarga do ro tu Pesta on. Bahkan na so jungada mar-Minggu (maribadah tingki ari Minggu) jop do rohana laho ro tu pesta Natal on. Harani i marisi do angka bangku (bahkan adong na mambaen tenda) di kota dohot di desa muda dapot ma borngin Natal songon na tapestahon borngin on. Sude pangisi ni tanoon, na menek na magodang, na dangol, na kuaso, na pogos na kayo, na oto, na pistar, marolop-olop tu Debata hara ni denggan ni basa dohot holongNa tu hita tingki on.
Marhite i turpukta pe borngin on, dipabotohon do tu hita bahaso ”HOLONG NI ROHA DOHOT ASI NI ROHA NI DEBATA DO TU HITA, UMBAEN NA TUBU JESUS, SIPALUA I”

1. Dipake Debata do jolma manusia na gabe parkokasNa (alatNa).

Muda taparate-atehon turpukta saborngin on, Debata sandiri do na na markarejo marhite holong dohot gogoNa laho parohon haluaan na tu portibion.
Painte so ro Suru-suruan Gabariel tu si Maria, dipabotohon do taringot aha naung masa tu si Elisabeth dohot si Sakarias ( ay. 5-25), i ma naung denggan pamatang ni si Elisabeth bope naung matobang/ginjang umurna. Sannari marhite si Maria ma, sada bujing-bujing naung martunangan dohot si Josep dipabotohon, paboa na giot ro Sipalua ni hajolmaon on. Si Elisabeth madung matonbang jana nada marhauntungan, tapi si Maria, sada bujung-bujing na so marhasohotan dope. Nada halak na kayo, boru ni kota, jana nada na ’terkenal’ (artis, pemain sinetron, penyanyi, ilmuwan dll) halahi, tapi halahi do ditopot, dipaias jana dipake Debata na gabe parkokasNa, alatNa na gabe saluran berkat tu portibion.
Disuru Debata ma Suru-suruan Gabariel (ay,26 b), paboahon bahaso Debata do na markarejo. Pandohan ni suru-suruan i pe tangkas do ”Horas ma di ho, bujing-bujing na nipasupasu ni Tuhan! Sai rap do Tuhan i dohot ho” (ay.28) Pabotohon bahaso bope inda jolma na sempurna, bahkan bujing-bujing dope si Maria, madung di asi i, di puldit, dipaias, jana di pasu-pasu Debata ia, gabe saluran ni asi ni roha dohot pasu-pasu ni Debata ibana tu portibion. Didok ’nadi pasu-pasu ni Debata do ho, (ay.28), di ayat 30, didok : ..dibaen jop do roha ni Debata mida ho’ (sebab engkau beroleh kasih karunia dihadapan Allah’). Jadi hara karejo ni Debata do on, ulang mabiar. Porsaya ma tu Tuhan, na mandongani dohot mamasu-masu karejoon.

Na menarik, nada ditulak si Maria pamillitonnai, toruk do rohana, jana dipabulus rohana laho manjagit tugas tanggung-jawab na nipasahat ni Debata tusia. (bd. Ay. 38) Hape tugas na borat, na maol do on disia, angke bujing-bujing jana na martunangan dope ia, hape angkon denggan ma pamatangna jana tubuan anak ia muse.
Marhite i, taida bahaso sanga ise pe hita on, na menek, namagodang, na kayo, na pogos, na pistar naoto, parhuta-huta, par-kota, dna, giot pakeon ni Debata do hita gabe parkokasNa, alatNa laho gabe saluran berkat/pasu-pasu tu bahat jolma, asal ma ra hita burju manjagit tugas, tanggung-jawab i sian Debata. Ia do na mamio hita, na paiaskon hita, na mengutus hita, anso bahat jolma manjagit haluaon i.

2. Jesus na sorang i, i ma Anak ni Debata na Gumincat, Raja na Markuaso.

Tujuan ni Suru-suruan i manopot si Maria, i ma laho patuluskon Rencana ni Debata tu portibion, naung dilumbahonNa hian marhite Nabi, Raja dohot angka naposo ni Debata. Jesus ma baenonna goarNa, artina SIPALUA – Yosyua, Yehssyua (Heber), marlapatan : Jahowa (Jahwe) menolong atau menyelamatkan. Paingotkon si Maria dohot bangsoNa bahaso si Josua do (ganti ni si Musa) dipake Debata laho maroban bangso i sian parhorsihan (manaripari aek Jordan dohot mangaroncohon tembok Jerikho), laho masuk tu tano parjanjian Kanaan.
Jadi Jesus ma antong na gabe Sipalua, laho paluahon hita jolma sian pardalananta di portibi on tu hasonangan naung ni parade ni Debata di Surgo. Raja na Tumimbul, Anak ni Debata na Gumincat, jana Raja ni angka Raja do Jesus. Markuaso laho paluahon sian gomgoman ni dosa dohot sibolis.
Harani i, Tondi Porbadia do mangarajai dohot kuaso ni Debata do na manggohi si Maria anso tulus sudena i. Nada kuaso ni jolma, tapi kuaso ni Debata do.
Jadi bope bujing-bujing jana dadaboru na sederhana si Maria, Debata do patupahon sudena karejo on. Jana Debata sandiri do na giot sorang on. Na giot paluahon sudena jolma manusia.
On ma sihajopkononta borngin on, ma sorang be Raja Gumincat, Raja na Markuaso, bope inda songon pamarentaon ni harajaon portibi, lumobi do kuasoNa sian nasa raja na adong di portibion. Di Filipi 2 : 10-11 didok, ”Anso marsinggang ma dibagasan goar Jesus, sandok na di banua ginjang na di tanoon dohot na di toru ni tano on. Angkon torang ma okuan ni halahi paboa Jesus Kristus do Tuhan...”
Raja ni portibion terbatas, kuasona, harajaanna, gogona dohot umurna. Tapi Raja na sorang on, Jesus Kristus, Tuhanta, Raja na markuaso paluahon hita sian sude gomgoman ni dosa dohot sibolis dohot hamatean, jana Raja na naung paradehon inganan na sonang ni nasonang nada terbatas, tapi salolot ni lolotna.

3. Tajagit ma haluaan i jana tabaritahon ma i tu bahat jolma.
”Naposo ni Tuhan do au, sai tulus ma tu au songon na nidokMi”, (ay.38) Pandohan dohot alus on ma na patut dongkononta tu barita haluan na ni pasahat tu hita borngin on. Bope bahat angka hamaolon, bahat dosa, bahat na so tabo pangkilalaanta tingkion. Tapi madung dibaritahon tu hita haluaan i, hara ni i tajagit ma. Tahaporsaya i ma. Tapabulus ma rohanta laho manjagit barita i.
PANUTUP

Bope naung jotjot do tabege barita Natal on, laing dipaingot jana dibaritahon do tu hita borngin on barita Haluaan on tu hita, anso taingot karejo ni Debata do patupahon haluaan tu hita jolma manusia. Tutu dipake Debata do hita jolma manusia, sanga ise pe hita on laho palaluhon bahaso Jesus madung ro gabe Raja ni angka Raja, Tuhan ni angka Tuhan, TAHAPORSAYA I MA HOLONG NI ROHA NI DEBATA NA SONGON I GODANG NA, LAHO PALUAHON, LAHO MANDONGANI HITA TONGTONG (IMMANUEL), jana burju ma hita laho paboahon, patuduhon tu dongan jolma. Bahat do tingkion donganta jolma na tangis, na dangol, na pogos, na maringanan di na golap, na sangat membutuhkon perhatianta, anso dohot halahi manjagit haluaon naniparade ni Debata di hita jolma.
Amen.


Pdt. AHJ. Sibarani STh
Kantor Pusat GKPA

HATORANGAN NI JAMITA 20 Desember 2009


RO MA HO ALE JESUS
Minggu Advent 4
Minggu, 20-12-2009
Jamita : Jesaya 30: 18 - 26
Sibasaon : Judas 1: 17 - 21


1. Mamasuk hita tu Advent na paopathon dibagasan minggu on. Ona ma masa paintehon na paopat mingguhon di hita. Masa-masa on berarti i ma masa painteintehon haroro ni Tuhan manopot hita. Sude do hita mamboto paboa painteintehon nada tabo. Harani i do di hatiha on sudena madung serba hipas jana instan. Tapi angkon taboto muse do cara kerja ni Tuhan nada instan. Tapi sabalikna do. Diigil jana dipangido Debata Ama do sian hita hasabaran painteintehon haroroNia di bagasan hasatiaan.

2. Somal do taendehon BEAM No.41 :1 “Dipaimahon halak-Mi, o Jesus haroro-Mu. Dihalungunhon halahi, tarida ma gogo-Mu. Andingan di pasonang Ho, angka na mangintehon Ho, tibu ma ro o, Tuhan. Tibu ma ro o, Tuhan”. Sian endeon tarida hagiot ni jolma i di nalaho painteintehon haroro ni Tuhan i. Tapi nada gogonta laho mangatur haroro-Na, holan Ibana do na mamboto andingan Ia ro tu portibi on. Harani i do dipangido Ia tu hita anso sabar hita painteintehon haroro-Na i.

3. Jamita Na Denggan sadari on manaringoti taringot tu na manghalungunhon haroro ni Sipalua. Muda tabasa ayat 18, tarida ma disi dua hal. Naparjolo, dipainte TUHAN dope hatihana laho patuduhon tu hita ibo ni rohaNia. Napaduahon, martua do na marpos ni roha tuSia. Biasi dipainte Tuhan hatihana laho patuduhon ibo ni rohaNia tu Sion? Angke madung marsap dosa sude pangisi ni Sion. Harani dosa i ma ro Debata laho manobus dosa ni Sion i. Tuhan do na berinisiatif ro tu Sion manobus dohot paluahon Sion sian dosa i. Songoni do nang tu hita jolma. Tuhan do na selalu berinisiatif laho ro manyesa dosanta. Tuhan berinisiatif manghaholongi hita. Ia do na manghalungunhon hita, jana Ia do na satia painteinte hita mulak sian hajahatonta.

4. Angka ise do na dipainte ni Tuhan i? Naparjolo, halak na pauba rohana. PaluaonKu ma Sion di bagasan hatigoran, dohot halak na paubahon rohana (Jes. 1:27). Debata rade do paintehon haroro ni halak na manyosali dirina jana na so ra be mangkarejohon dosa, tapi na mardalan pasti manghobasi parkarejoan ni Debata Ama. Napaduahon, halak na badia rohana. Di sude dolokKu na badia, nada adong na jahat sanga pe mara, gok parbinotoan taringot tu TUHAN ma angka luat, songon aek na manggohi dano mangalantap (Jes. 11:9). Debata rade do paintehon halak na badia rohana, na mangkarejohon nasa na hombar tu giot ni Debata. Napatoluhon, halak na painteinte haluaan sian Tuhan sandiri. "Tutu ma da, Ia do antong Debatanta. I ma TUHAN na tapaima-ima laho mangalehen haluaanta. Saonnari marsurak ma hita marjop ni roha, dibaen na dung nipaluaNia hita" (Jes. 25:9). Debata rade painteintehon halak na mauas di haluaan na sian Debata Ama.

5. Aha do guna ni na painteintehon Tuhan i? Muda tabasa di turpukta on masai bahat do guna na muda ra hita painteinte haroro ni Tuhan i di bagasan hasatiaan, hasabaran ni roha. Angka aha ma i? Naparjolo, nada sai mangandungi be hita. Halak na dung merasa yakin paboa na ro ma Tuhan i, nada be marsak jana sai mangan-dungi halahi. Angke na dipainte i pasta do ro. Isarana di sada pesta panomunomuon ni Gubernur laho mangaresmihon sada proyek. Nada pola marsak be panitia muda memang ma dipastihon Gubernur i ro laho manga-resmihon proyek i. Tapi muda nada pasti haroroni Gubernur, pasti do panitia marsak jana busisaon painteintehon ise do na ro sian kantor gubernuran. Songoni do nang hita na painteintehon haroro ni Tuhan i. Nada pola jabat marsak jana tumatangis be hita, angke na tapainte i pasti do ro laho mangalap jana manguhumi halak na mate dohot na mangolu. Napaduahon, alusan ni Debata ma hita muda pio-pio hita tuSia. Selama na paintehon haroro ni Tuhan i hita di tano on, nada dipadiar Tuhan hita di angka parungkil-onta. Tapi na rade do Ia laho manangihon huhut mangalusi angka piopionta tuSia. Artina, di hatiha na painteintehon haroroNia hita, laing dialusi Ia do angka alualunta na tapasahat tuSia. Napatoluhon, Tuhan sandiri noma mamimpin hita. Atik pe nada ro do pe Tuhan i, tapi na gabe pamimpin di ngolunta nada dirinta sanga angka na asing i. Tapi Ibana do na gabe pamimpin di hita. Ia do namangarajai ngolunta. Ibana do na manga-jari hita. Ibana do na marmahani hita. Harani i ulang pola mabiar be hita salolot painte-intehon haroro ni Tuhan i hita di tano on. Angke rade do Ia na gabe pamimpinta. Muda manyimbil hita sian dalan, tarbege do i sian pudinta soraNia na mandok, "On do dalan i; dalan on ma bolus hamu." Napaopathon, pasupasuon ni Tuhan ma ngolunta. Muda manyabur same hamu, tongoson ni TUHAN ma udan anso tubu same i jana mangalehen suha marlompit ganda. Di pahan-pahanan-munu pe rade ma bahat jampalanna. Halak na satia jana sabar painteintehon haroro ni Tuhan pasti dapotan pasupasu. Pasupasu ni Tuhan on lobi sian na tapikiri. Diurupi Ia do hita di parkarejoanta di kobun, di saba, di kantor, di wirausaha dna. Harani i ulang ma marnaloja hita painteintehon haroro ni Tuhan i di bagasan ngolunta. Angkon tahaporsayai do paboa Tuhan i tibu do ro manopot hita jolma on. Jana tatangiangkon ma aso ro Jesus manopot hita. Ro ma Ho ale Tuhan angke madung hami painteinte di haroroMu manopot hami jolma sipardosa on. Selamat Advent 4! Amen.
Fidei-gladys
Kantor Pusat GKPA, Oktober 2009
Ramli SN Harahap
Email: ramlyharahap@yahoo.com;
www.ramlyharahap.blogspot.com