KATA-KATA BIJAK

KASIH ADALAH SESUATU YANG TIDAK HANYA DIDIFINISIKAN.NAMUN KASIH HARUS DIWUJUDNYATAKAN. ORANG YANG HANYA BERTEORI TENTANG KASIH ADALAH PEMBUAL BESAR. TETAPI ORANG YANG MEREALISASIKAN KASIH ADALAH ORANG YANG BERPENGARUH BESAR DALAM KEHIDUPANNYA

SELAMAT DATANG

HORAS MA DI AMA/INANAMI

SELAMAT DATANG DI BLOG “MARSIRUPAN ANGKOLA-MANDAILING”

“MARSIURUPAN” ARTINYA SALING TOLONG MENOLONG

“ANGKOLA-MANDAILING” ADALAH KAMPUNG HALAMAN

BLOG INI DIUPAYAKAN UNTUK MAMPU MENOLONG SESAMA PELAYAN, WARGA JEMAAT DAN SAHABAT LAINNYA DALAM TUGAS PELAYANAN DI KELUARGA, GEREJA DAN MASYARAKAT


ASI NI ROHA DOHOT HASONANGAN NA SIAN DEBATA AMANTA DOHOT NA SIAN TUHAN JESUS KRISTUS MA MANDONGANI HAMU! AMEN (1KOR.1:3)



KASIH KARUNIA DAN DAMAI SEJAHTERA DARI ALLAH, BAPA KITA, DAN DARI TUHAN YESUS KRISTUS MENYERTAI KAMU! AMIN (1KOR.1:3)


Jumat, 04 November 2011

Bacaan Minggu Akhir Tahun Gerejawi, 20 Nopember 2011: Wahyu 21 : 1 - 7

widgeo.net
Minggu Akhir Tahun Gerejawi, 20 Nopember 2011                                                              Wahyu 21 : 1 - 7

“PEWARIS BERKAT”

 

Pendahuluan
B
Leroy Eims, penulis buku Be the Leader You Were Meant to be, mengatakan, "seorang pemimpin adalah seseorang yang melihat lebih banyak dari pada yang dilihat orang lain, yang melihat lebih jauh dari pada yang dilihat orang lain, dan yang melihat sebelum yang lainnya melihat". Semakin besar organisasinya, sang pemimpin harus semakin mampu melihat jauh ke depan. Itu benar karena ukuran yang besar membuat koreksi-koreksi di tengah jalan semakin sulit. Dan jika ada kekeliruan, lebih banyak orang yang terkena dampaknya ketimbang jika Anda menempuh perjalanan sendirian atau hanya dengan sedikit orang. Bencana yang diperlihatkan dalam film Titanic, adalah contoh yang baik dari persoalan seperti itu. Awaknya tak dapat melihat cukup jauh untuk menghidari tabrakan dengan gunung es tersebut, dan mereka terlambat berbelok ketika gunung es tersebut kelihatan karena besarnya kapal mereka, yang terbesar ketika itu. Akibatnya, lebih dari seribu orang kehilangn nyawanya.
“Keberanian seorang pemimpin besar untuk memenuhi visinya adalah berkat semangatnya, bukan posisinya.” Visi adalah segalanya bagi seorang pemimpin. Visi itu benar-benar tak tergantikan. Mengapa? Karena visilah yang memimpin para pemimpin. Visi melukiskan sasarannya. Visi memicu serta membakar semangat, dan mendorongnya maju. Visi juga merupakan pemicu orang lain yang menjadi pengikut sang pemimpin. Seorang pemimpin yang tidak memiliki visi takkan ke mana-mana. Paling banter, ia akan berlari di tempat.
Melihat banyak hal dan mampu melihat jauh ke depan adalah tema perikop yang di bahas hari ini dalam kitab Wahyu.


Pembahasan Teks

Wahyu merupakan satu-satunya kitab Perjanjian Baru yang digolongkan sebagai nubuat, dan Wahyu beritanya disampaikan dalam dalam bentuk lambang-lambang yang menggambarkan kenyataan-kenyataan tentang masa depan dan peristiwa yang akan datang. Pengelihatan-pengelihatan begitu mencolok dengan pemandangan yang sering dialihkan dari bumi ke surga kemudian kembali lagi ke bumi. Malaikat-malaikat dikaitkan dengan jelas dengan pengelihatan dan ketetapan surgawi, kitab ini bersifat polemik menyingkapkan sifat roh jahat dari setiap penguasa bumi yang menyatakan dirinya sebagai allah dan menyatakan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang agung dan penguasa atas raja-raja di bumi.
Kitab Wahyu istilah penyingkapan apocalypse dari kata Yunani apocalupsis suatu gabungan dari tujuh surat (Pergamus, Tiatira, Sardis, Smirna, Filadelfia, Efesus, Laodokia). Isi kitab ini mencerminkan kedaan sejarah pada zaman pemerintahan Domitianus ketika dia menuntut agar semua warga negaranya memanggil dia Tuhan dan Allah. Pastilah ketetapan kaisar pada waktu itu telah menciptakan pertentangan antara mereka yang sukarela mau menyembah Kaisar dan orang Kristen setia yang mengakui hanya Yesus sajalah Tuhan dan Allah.
Surat kepada tujuh jemaat itu menyatakan bahwa suatu penyimpangan yang parah dari standar kebenaran rasuli sedang terjadi di antara banyak jemaat di Asia. Yohanes menulis kitab ini untuk menegur tindakan kompromi dan dosa mereka, serta menghimbau mereka untuk bertobat dan berbalik kepada kasih mereka yang mula-mula. Mengingat penganiayaan yang diakibatkan oleh karena Domitianus memuja dirinya sendiri, kitab Wahyu dikirimkan kepada jemaat guna meneguhkan iman, ketetapan hati, dan kesetiaan mereka kepada Yesus Kristus, serta untuk memberi semangat kepada mereka agar mereka menjadi pemenang dan tinggal setia sampai mati sekalipun dan kitab ini untuk memperlengkapi orang percaya sepanjang zaman dengan segi pandangan Allah terhadap perang yang sengit melawan gabungan kekuatan iblis dengan menyingkapkan hasil sejarah yang akan datang, secara khusus menyingkap tujuh tahun terakhir yang mendahului kedatangan Kristus kali kedua. Allah akan menangdan membenarkan orang yang kudus dengan mencurahkan murka-Nya atas kerajaan Iblis, ini akan diikuti oleh kedatangan Kristus kedua kali.
Perikop ini salah satu bagian utama dari kitab Wahyu, pasal 12-22 memberikan suatu gambaran terinci mengenai perjuangan besar pada akhir zaman antara Allah dengan musuhnya iblis, menyatakan bahwa orang kudus di bumi harus menghadapi suatu komplotan yang dasyat tiga serangakai kejahatan yang terdiri atas naga besar, binatang lau dan binatang bumi, pasal 14-15 berisi pengelihatan-pengelihatan yang meyakinkan kembali orang-orang kudus dalam kesengsaraan besar bahwa keadilan akan menang sementara Allah akan mencurahkan murka-Nya yang terakhir atas peradaban anti Kristus. Kemudian suatu penyingkapan penuh dari murka Allah terjadi dalam rangkaian tujuh cawan hukuman, hukman atas si pelacur besar (pasal 17) dan kejatuhan Babel kota besar itu. Pada tahap itu terjadi kegembiraan besar di surga dan perjamuan kawin anak domba dengan mempelai perempuan–Nya diumumkan.
Akan tetapi tahap terakhir yang hebat masih akan terjadi, kemudian Yohanes melihat surga terbuka dan Kristus datang keluar menunggang kuda putih sebagai raja segala raja dan Tuan segala tuan untuk mengalahkan binatang itu dan semua sekutunya (19:11-21). Kekalahan iblis yang terakhir didahului dengan terbelunggunya dia selama seribu tahun (pasal 20:1-6). Selama masa itu Kristus memerintah bersama dengan orang-orang kudus(20:4) dan sesudah iblis dilepaskan untuk suatu masa masa yang singkat dan kemudiaan dicampakkan ke dalam lautan api untuk selama-lamanya. Nubuat apokaliptis ini ditutup dengan penghakiman di tahta putih yang besar nasib yang tepat bagi orang jahat, serta langit yang baru dan bumi yang baru sebagai nasib akhir bagi orang kudus (21:1-22:5), untuk masuk dalam hidup yang kekal.  
Langit yang baru dan bumi yang baru adalah sasaran dan pengharapan yang terakhir dari iman PB, suatu dunia baru yang diubah dan ditebus, tempat Kristus tinggal dan umat-Nya dan kebenaran berdiam dalam kesempurnaan kekudusan untuk menghapus semua bekas dosa, maka bumi, bintang-bintang dan galaksi harus dihancurkan. Langit dan bumi akan digoncangkan dan akan lenyap seperti asap, bintang-bintang akan dihancurkan dan unsur-unsur dunia akan hangus. Bumi yang baru itu akan menjadi tempat tinggal manusia dan Allah, semua orang tebusan akan memiliki tubuh seperti tubuh kebangkitan Kristus yaitu yang nyata dapat dilihat dan dijamaah, namun tidak dapat rusak dan bersifat abadi.
Yerusalem yang baru itu sudah ada di surga dalam waktu dekat kota itu akan datang ke bumi sebagai kota Allah yang dinanti-nantikan oleh Abraham dan umat Allah yang setia dan yang dirancang dan dibangun oleh Allah sendiri. Bumi yang baru akan menjadi pusat pemerintahan Allah dan Ia akan diam bersama umatnya untuk selama-lamanya.
Menghapus segala air mata, akibat dosa seperti dukacita, kesakitan, kemurungan dan kematian hilang untuk selama-lamanya karena hal-hal yang jahat dari langit dan bumi yang pertama telah lenyap sama sekali walaupun mengingat segala sesuatu yang layak diingat, orang percaya rupanya tidak akan mengingat apa yang menyebabkan mereka berdukacita (ay.7). Allah sendiri menyatakan siapa yang akan mewarisi berkat-berkat dari langit dan bumi yang baru itu yaitu mereka dengan setia bertahan sebagai orang-orang yang menang dalam Kristus. Mereka yang tidak mengalahkan dosa dan kefasikan akan dicampakkan ke dalam lautan api.


Refleksi Teologis

Tujuan hidup kita; sebuah suatu bahan perenungan yang sangat sederhana sekali, namun yang paling sulit menemukan jawabannya. Apa tujuan hidup saudara? Jika kita lihat tujuan hidup Yesus adalah menyelamatkan umat manusia dari kutuk dosa. Apakah Yesus menyerah begitu saja waktu Ia dibawa Roh Kudus ke dalam pencobaannya iblis? Apakah Ia mengeluh? Apakah Ia menyerah ketika harus berhadapan dengan cambuk? Apakah Ia menyerah ketika maut ada didepannya?
Apa yang membuat Yesus sedemikian kuat terhadap semua pencobaan yang Dia alami hingga Ia mati di kayu salib? Itu tidak lain karena cinta-Nya kepada kita (Yoh. 3:16). Apakah tujuan hidup Yesus baru terbentuk ketika Yesus sudah dewasa? Tidak saudara! Allah telah merencanakannya sejak awal mula. Begitu juga dengan kita. Allah telah merencanakan rencana yang luar biasa bagi kita. Tinggal keputusan dari kita, mau apa tidak mengikuti rencana-Nya.
Hendaklah kita meniru apa yang telah Yesus lakukan, baik itu dalam penentuan tujuan hidup dan bagaimana penggenapan dari tujuan hidup itu sendiri. Ketika kita mengandalkan kekuatan kita sendiri dalam mencari tujuan hidup, maka semua akan menjadi sia-sia. Kita tidak dapat berjalan sendiri dalam dunia ini sebab arah dunia ini tidak menentu, "Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok" (Yak. 4: 14a).
Sebagai manusia biasa, tentu yang menjadi tujuan utama dari kita adalah menjadi pintar, cerdas dan pada ujung-ujungnya ingin menjadi kaya. Namun apa yang dikatakan nas hari ini mengajak kita untuk membuat apa yang bersifat kedagingan dinomorbawahkan. Jangan sampai kita sendiri diperhamba oleh kedagingan kita. Apa kunci dalam pencarian tujuan hidup kita? Kunci itu tak lain adalah penyerahan total kepada Allah. Jangan sampai ada ketinggian hati yang muncul, sebab Allah sangat membenci orang-orang yang congkak. Seperti Yesus yang berserah total kepada Bapa, maukah kita belajar seperti Yesus?
Pengejaran yang kita lakukan terhadap apa yang selama ini kita cari, ternyata adalah kesia-siaan belaka, seperti apa yang telah dikatakan di dalam Yakobus 4: 14b. "Supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri dihadapan Allah" (1Kor. 1:29). Allah mengerti hati manusia. Maka dari itu, dunia ini bukanlah pemberhentian terakhir bagi kita, namun surga yang menjadi tempat pemberhentian kita. Jangan mentok dalam mencari tujuan hidup yang semu, tetapi carilah tujuan hidup yang kekal.

Pdt Maruasas SP Nainggolan S.Si (Teol)
Sekhus Kepala Departemen Diakonia HKBP

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar