KATA-KATA BIJAK

KASIH ADALAH SESUATU YANG TIDAK HANYA DIDIFINISIKAN.NAMUN KASIH HARUS DIWUJUDNYATAKAN. ORANG YANG HANYA BERTEORI TENTANG KASIH ADALAH PEMBUAL BESAR. TETAPI ORANG YANG MEREALISASIKAN KASIH ADALAH ORANG YANG BERPENGARUH BESAR DALAM KEHIDUPANNYA

SELAMAT DATANG

HORAS MA DI AMA/INANAMI

SELAMAT DATANG DI BLOG “MARSIRUPAN ANGKOLA-MANDAILING”

“MARSIURUPAN” ARTINYA SALING TOLONG MENOLONG

“ANGKOLA-MANDAILING” ADALAH KAMPUNG HALAMAN

BLOG INI DIUPAYAKAN UNTUK MAMPU MENOLONG SESAMA PELAYAN, WARGA JEMAAT DAN SAHABAT LAINNYA DALAM TUGAS PELAYANAN DI KELUARGA, GEREJA DAN MASYARAKAT


ASI NI ROHA DOHOT HASONANGAN NA SIAN DEBATA AMANTA DOHOT NA SIAN TUHAN JESUS KRISTUS MA MANDONGANI HAMU! AMEN (1KOR.1:3)



KASIH KARUNIA DAN DAMAI SEJAHTERA DARI ALLAH, BAPA KITA, DAN DARI TUHAN YESUS KRISTUS MENYERTAI KAMU! AMIN (1KOR.1:3)


Rabu, 02 Maret 2011

Panggilan Tuhan Yang Tidak Dapat Ditolak (Keluaran 6:1-8)

widgeo.net


Panggilan Tuhan Yang Tidak Dapat Ditolak
(Keluaran 6:1-8)

Inilah contoh dari Musa ketika ia menerima panggilan TUHAN dari semak duri yang menyala. Kita sudah mendengar arti dari semak duri yang bernyala adalah penyucian. Jadi panggilan itu berasal dari kesucian. Jadi siapapun yang dipanggil dan dipakai oleh TUHAN berasal dari kesucian. Bukan dari kepandaian/kebodohan, bukan dari kekayaan/kemiskinan tetapi penentunya adalah kesucian. Semakin kita disucikan, maka panggilan TUHAN itu akan semakin jelas dan teguh/tidak dapat berubah lagi. Baik sebagai seorang hamba TUHAN sepenuh/full-timer maupun yang melayani paduan suara, musik dlsbnya, mau dipakai oleh TUHAN dan diutus oleh TUHAN harus melewati panggilan yang berasal dari kesucian. Jika kita tidak suci/kehilangan kesucian, maka pelayanan itu akan hilang/terlepas. Semoga kita dapat mengerti hal ini.
Kemudian, TUHAN memanggil >>> Musa, Musa, bukan kamu atau hai. Seperti kita kalau memanggil seseorang hai, hai. Tetapi kalau TUHAN memanggil >>> Samuel, Samuel, Jadi TUHAN juga mengajar kesopanan kepada kita. Semoga kita mengerti.
Apa arti dari panggilan TUHAN >>> Musa, Musa? Memanggil dengan nama yang jelas.
Berarti:
a.       panggilan TUHAN itu secara pribadi. Itu sebabnya tidak boleh dan tidak bisa disuruh, dipaksa atau sebaliknya, panggilan TUHAN itu tidak dapat dihalangi oleh siapapun/apapun juga/istana Firaun tidak dapat menghalangi Musa. Hanya kita pribadi yang dapat mendengar panggilan itu. Tetapi sebaliknya bagi para hamba-hamba TUHAN termasuk saya, yang memiliki anak, jangan disuruh atau dipaksa untuk sekolah alkitab, biarlah TUHAN Sendiri yang memanggil.
b.      TUHAN mengenal dengan jelas orang-orang yang dipanggilNYA. Seringkali kita kurang jelas dengan nama orang, sehingga harus bertanya, tetapi lain dengan TUHAN, IA mengenal dengan jelas orang yang dipanggilNYA. Dan kita yang dipanggil oleh TUHAN, juga harus mengenal TUHAN dengan sejelas-jelasnya supaya kita tidak ragu pada panggilan TUHAN. Mengenal TUHAN dengan sejelas-jelasnya bahwa TUHAN itu penuh dengan kasih, setia dan penuh dengan tanggung jawab sehingga kita tidak ragu-ragu untuk menerima panggilan TUHAN dan menyerah sepenuhnya kepada TUHAN. Orang yang tidak mau menyerah adalah orang yang tidak mengenal TUHAN, sesungguhnya TUHAN sudah mengenal dirinya, tetapi ia tidak mau menyerah karena ragu. Panggilan TUHAN itu tidak dapat didorong dan ditipu oleh orang sebab hanya diri sendiri yang tahu. Semoga kita dapat mengerti. Inilah panggilan dari Musa.

Roma 8 : 28 – 30
28. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
29. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. 30. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Jadi TUHAN tidak begitu saja memanggil dan memilih kita, tetapi TUHAN memanggil kita sesuai dengan rencana/kehendakNYA. Itu sebabnya sesudah kita menerima panggilan TUHAN, maka kita harus selalu berada di jalur dari rencana/kehendak ALLAH lewat pembukaan rahasia Firman.
Bagaimana kita mengetahui rencana/kehendak ALLAH di dalam kehidupan kita? yaitu di dalam pembukaan rahasia Firman = harus sesuai Firman. Jika kita hendak melayani >>> harus sesuai dengan Firman, juga dalam hal keuangan >>> harus sesuai dengan Firman. Demikian juga jika kita berdagang, maka kita harus sesuai dengan Firman, sebab itu berarti kita berada di jalur rencana/kehendak TUHAN lewat pembukaan Firman TUHAN.
Tadi, di dalam Roma 8 : 28, Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
 Jadi, kalau kita sebagai hamba-hamba TUHAN/pelayan-pelayan TUHAN selalu berada pada jalur kehendak TUHAN/jalur Firman TUHAN, maka kita tidak perlu takut sebab TUHAN selalu mendatangkan kebaikan/menjadikan semua baik karena TUHAN turut bekerja di dalam kehidupan kita.
Yang penting kita harus selalu berada di dalam Firman, sebab seringkali kita melepaskan Firman dan mencari kebaikan di tempat lain dan ini merupakan kesalahan yang besar. Sebab siapa manusia yang dapat menjamin kita untuk mendapatkan sesuatu yang baik. Mungkin satu dua kali, sesudah itu sudah tidak dapat lagi. Tetapi kalau TUHAN, selama kita berada di dalam rencana TUHAN, maka akan ada jaminan dari TUHAN bahwa IA turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan/menjadikan semua baik di dalam kehidupan kita bahkan membawa kita sampai pada kemuliaan surga >>> Roma 8 : 30c, Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Itu sebabnya, mari! sesudah kita menerima panggilan, maka kita harus tetap berada dijalur Firman/pembukaan Firman sebab ini merupakan rencana TUHAN. Semuanya harus sesuai Firman, jika kita tidak melakukan apa yang sesuai dengan Firman, berarti kita berada di luar rencana TUHAN. Tetapi kalau sesuai dengan rencana Firman, maka kita benar-benar berada di dalam kehendakNYA dan Tangan TUHAN turut bekerja dengan mendatangkan kebaikan/menjadikan semuanya baik, bahkan membawa kita dalam kemuliaan surga. Nanti para hamba-hamba TUHAN/pelayan TUHAN akan banyak yang kecele/terkecoh/tertipu sebab ukurannya sudah bukan Firman lagi tetapi hanya pada hal yang sifatnya jasmani.

Matius 7 : 21 – 23
21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
22. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 23. Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

ay 21 >>> melakukan kehendak Bapa-KU = berada di jalur rencana TUHAN/sesuai dengan kehendak TUHAN sebab pelayanannya sesuai dengan Firman dan ini yang penting. Bukan macam pelayanannya tetapi harus sesuai dengan kehendak TUHAN, sebab ini yang diukur oleh TUHAN.
Kita jangan melepaskan jalur TUHAN/Firman pengajaran yang benar untuk mencari yang lebih baik >>> tidak ada sesuatu yang lebih baik di dunia ini daripada kita berada dalam pembukaan rahasia Firman/berada di dalam kehendak TUHAN/berada di dalam Firman pengajaran yang benar. Jika keluar dari jalur rencana TUHAN, maka kita akan mendapatkan kehancuran; seperti pemberitaan Firman TUHAN kemarin, kalau kita keluar dari bahtera Nuh, maka akan hanyut oleh air bah dan binasa.
Ukuran keberhasilan kalau kita lihat di dalam Matius 7: 22, Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Ukuran keberhasilan dalam pelayanan bukan bentuk/macamnya pemakaian TUHAN seperti mengusir setan, menyembuhkan orang atau dapat mengumpulkan banyak jiwa yang luar biasa >>> kalau di mata manusia, maka pelayanan itu berhasil. Tetapi ukuran di Mata TUHAN bukanlah seperti itu, sebab ukuran keberhasilan di Mata TUHAN adalah ketaatan kepada Firman pengajaran yang benar/pada jalur hidup/jalur kehendak TUHAN. Kalau kita berada di luar jalur Firman yang benar maka segala apa yang sudah kita capai dan dianggap berhasil oleh manusia, tidak diakui bahkan diusir oleh TUHAN. Itu sebabnya kita tidak dapat saling mengukur sekalipun kita melihat bahwa seseorang itu berhasil dan memiliki gedung gereja yang besar >>> belum tentu berhasil, sebab apakah ia berada di dalam kehendak TUHAN atau tidak?
Seringkali kita menghina hamba TUHAN yang berada di desa sebab sudah bertahun-tahun tetapi hanya memiliki jemaat dua orang dan itu berarti hamba TUHAN itu tidak dipakai oleh TUHAN >>> belum tentu. Seandainya hamba TUHAN yang berada di kota dengan gerejanya yang besar itu kemudian menukar pelayannya untuk melayani di desa yang sudah dilayani oleh hamba TUHAN di desa selama limabelas tahun dengan dua orang jemaat. Hamba TUHAN yang sudah besar dan hebat dari kota >>> jangankan melayani selama limabelas tahun, limabelas jam saja, sebab terkena air sungainya saja, seluruh tubuhnya sudah terasa gatal dan pada akhirnya ia tidak tahan lagi. Itu sebabnya kita jangan mengukur keberhasilan dari melihat gedung gereja yang besar yang di mata manusia dianggap berhasil tetapi apakah hamba TUHAN itu berada pada jalur dari TUHAN atau tidak/taat pada Firman pengajaran yang benar atau tidak, sebab ini yang diukur oleh TUHAN.
Ada panggilan, maka ada jawaban. Keluaran 3 : 4, Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah."
Jawaban yang tepat terhadap panggilan adalah ‘Ya ALLAH/Ya TUHAN’. Ya ALLAH ini harus merupakan jawaban dari kita dalam setiap tugas pekerjaan yang dipercayakan oleh TUHAN di ladang TUHAN. Ya ini adalah Nama TUHAN dan kalau kita menjawab ‘Ya’ maka risiko ditanggung oleh yang menyuruh. Kalau TUHAN Yang menyuruh, maka risiko ditanggung oleh TUHAN. Tetapi kalau kita menjawab ‘tidak’, maka risiko ditanggung diri sendiri.
Tujuan panggilan/pengutusan >>> Keluaran 3 : 10, Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." Tujuan panggilan/pengutusan TUHAN, kalau Musa dulu untuk mengeluarkan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, kalau sekarang, maka tugas kita / hamba TUHAN untuk mengeluarkan / membebaskan / melepaskan sidang jemaat dari Mesir/dunia (Kel.6:5) Artinya:
a.       melepaskan sidang jemaat dari beban-beban perbudakan/beban-beban yang berat dalam bentuk ekonomi dlsbnya di dalam dunia ini. Kita jangan menjadi beban sebab banyak hamba TUHAN yang menjadi beban bagi sidang jemaatnya >>> ini salah, sebab tidak sesuai dengan tujuan dari panggilan TUHAN. Contoh: ada sidang jemaat yang memiliki satu mobil, hamba TUHAN/gembala meminjam mobil itu untuk pelayanan sehingga sidang jemaat itu naik becak >>> ini menjadi beban bagi sidang jemaat. Panggilan TUHAN sudah benar, tetapi tujuannya yang salah yaitu bukannya melepaskan sidang jemaat dari beban tetapi justru menjadi beban bagi sidang jemaat.
b.      melepaskan sidang jemaat dari beban-benan sampai sidang jemaat benar-benar terlepas dari dunia ini untuk bertemu dengan TUHAN diawan-awan yang permai di saat YESUS datang kembali yang kedua kalinya. Inilah tujuan panggilan dan pengutusan TUHAN kepada kita sekalian. Mari kita semua, mulai dari paduan suara dlsbnya harus memiliki beban, sebab kita memiliki tujuan dalam melayani TUHAN yaitu melepaskan sidang jemaat dari beban-beban sampai dapat melepaskan sidang jemaat dari dunia ini untuk bertemu dengan YESUS diawan-awan yang permai dan kita menjadi Mempelai Wanita TUHAN. Semoga kita dapat mengerti.

Apabila kita meneliti bagian-bagian Firman Tuhan di atas, maka terjadi dialog antar Musa dengan TUHAN. Dalam dialog tersebut, TUHAN memanggil Musa untuk menjadi hamba-Nya guna memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Akan tetapi Musa berusaha untuk menolak panggilan TUHAN dalam mewujudkan kehendak TUHAN tersebut. Maka ada tiga alasan yang dipergunakan Musa sebagai senjata untuk menolak :

a.       Pasal 3: 11.  Dirinya dipakai sebagai alasan penolakan. ( Tetapi Musa berkaata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan Membawa orang Israel keluar dari mesir?”).  Namun alasan ini TUHAN patahkan dengan Jawaban-Nya dalam Pasal 3:12 (Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.”).  Pengertian  yang ditangkap dari jawaban TUHAN kepada Musa adalah bahwa ketika engkau melihat dirimu Musa sebagai standart kekuatan/kemampuan untuk menjalankan Tugas panggilan yang Aku embankan kepadamu Musa maka, engaku tidak dapat melakukannya, namun Kekuatan yang menjadi fondasi bagimu Musa dalam menjalankan tanggung jawab panggilan ini adalah “PenyertaanKu kepadamu Musa.  Musa melanjutkan dengan menggunakan alasan penolakan yang kedua.
b.      Pasal 4: 1 Alasan kedua. Lingkungan yang akan di tuju, sebagai alasan penolakan. (Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu). TUHAN menjawab  musa dalam Pasal 4:2 (TUHAN berfirman kepadanya: “Apakah yang di tanganmu itu?” Jawab Musa: “Tongkat.”).  Jawaban Tuhan ini menunjukkan bahwa ketika Musa hadir ditengah-tengah bangsa Israel ada kuasa Allah yang menjadi bukti panggilan dan penugasan Allah bagi Musa dalam menjalankan Misi Allah.  Akan Tetapi alasan ini seakan-akan tidak cukup bagi Musa sehingga ia melanjutkan dengan alasan ketiga:
c.       Pasal 4:10. TUHAN disalahkan, karena tidak menciptakan Musa dengan fasih lidah (Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.”). Jawaban TUHAN untuk Musa dalam pasal 4:11 (Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?). Jawaban Tuhan memberikan pengertian bagi Musa bahwa hidup Musa berada dalam kedaulatan dan Kuasa Tuhan sehingga seharusnya tidak ada lagi alasan bagi Musa untuk menyalahkan TUHAN dalam hal ini, serta menolak panggilan TUHAN dalam menjalankan kehendak TUHAN.

Setelah ketiga alasan penolakan Musa dijawab tuntas oleh TUHAN barulah ia berangkat untuk menjalankan kehendak TUHAN.

Pelajaran apa yang perlu dipetik dari perenungan di atas
1. Seringkali manusia  memakai alasan kelemahan-kelemahan dirinya maupun orang lain menjadi kekuatan alasan untuk menolak menjalankan panggilan Tuhan dalam tugas yang akan dipercayakan kepadanya oleh Tuhan.
2. Alasan apapun yang dipergunakan untuk menolak panggilan Tuhan tidak dapat menggagalkan kehendak dan rencana Tuhan dalam menjalankan Misi-Nya. Sebab Kehendak Tuhan bersifat Mutlak dan kekal.
3. Keberhasilan dalam menjalankan kehendak Tuhan bukan terletak pada siapa kita, atau sejauhmana kekuatan dan kepintaran kita, namun semuanya terletak kepada Penyertaan dan Kuasa Allah dalam pelayanan Kita.

Sehingga dapatlah disimpulkan bahwa ketika Panggilan Allah ditujukan kepada kita maka tidak  perlu adanya banyak alasan untuk menolak, namun hanya satu pernyataan yang semestinya keluar dari hati kita melalui mulut kita yaitu “Aku siap dan Taat kepada Panggilan Mu TUHAN” sebab penyertaan dan kuasanya menjadi jaminan dalam penugasanku untuk mewujudkan misiNYa.


“Bagaimana Tentang NamaNya”?

Saat Musa diutus Allah dia mengetahui bahwa Allah nenek-moyangnya yaitu Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub sedang berbicara kepadanya. Tetapi Musa tidak ingin hanya mengetahui Allah yang mengutusnya sebagai “Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub”. Di Kel. 3:13 Musa bertanya kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? - apakah yang harus kujawab kepada mereka?" Musa ingin mengetahui nama Allah yang sesungguhnya. Musa tidak ingin menghayati panggilan dan pengutusannya dalam kerangka tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tentang hakikat diri Allah.  Tetapi dia ingin mendasarkan panggilan dan pengutusannya dalam relasi kepada Allah yang hidup dan personal. Itu sebabnya Musa ingin mengetahui nama Allah yang mengutusnya. Dan Allah menyebut diriNya: “Aku adalah Aku” (Kel. 3:14).
Makna nama Allah yaitu: “Aku adalah Aku” (Ehyeh asyer Ehyeh) pada hakikatnya mengandung 3 pengertian yaitu: “Allah yang hadir” (to be), “Allah yang menjadi” (to become) Tuhan bagi umatNya dan “Allah yang berkarya” (to work) di tengah-tengah umatNya. Ketiga pengertian tersebut pada hakikatnya menunjuk kepada satu janji, yaitu “Allah yang hadir dan menyelamatkan umatNya”. Itulah arti nama “YAHWEH”: “Tuhan sang Penyelamat. Dengan demikian, panggilan Musa untuk menjadi berkat bagi umat Israel karena dia menyadari bahwa seluruh panggilan dan pengutusannya didasarkan kepada penyataan Yahweh.
Memberlakukan Kasih Yang Mendamaikan

Pembaharuan hidup yang dialami oleh Musa saat dia diutus untuk melepaskan umat Israel dari belenggu perbudakan adalah perubahan drastis yang terjadi di dalam spiritualitasnya.  Saat dia menghadap Firaun untuk  membela umat Israel tidak lagi menggunakan pola-pola duniawi. Musa hanya mengandalkan kuasa Allah yang menyertainya.  Itu sebabnya Musa menempatkan kekejaman dan kejahatan Firaun dalam kerangka kasih dan keadilan Allah. Demikian pula dengan kehidupan kita. Tidak seharusnya kita yang menuntut pembalasan bagi orang-orang yang telah berbuat jahat kepada kita. Tetapi seharusnya kita memberi tempat kepada keadilan dan murka Allah (Rom. 12:19). Tugas panggilan yang harus selalu kita perjuangkan dan tuntut tanpa kompromi adalah terus memberlakukan kasih Allah yang mendamaikan.  Tepatnya kita tidak boleh kalah terhadap segala bentuk kejahatan, tetapi kita harus mengalahkan segala bentuk kejahatan dengan kebaikan yaitu dengan kasih Allah (Rom. 12:21). Jika demikian tugas pengutusan dan panggilan untuk menjadi berkat adalah menolak segala bentuk kekerasan untuk mencapai tujuan yang kita anggap baik dan mulia.  Tujuan yang kita anggap mulia harus kita capai dengan cara yang mulia. Sesuatu yang kita anggap suci harus kita capai dengan cara yang suci.  Demikian pula panggilan untuk menjadi berkat yang mendamaikan harus kita capai dengan cara damai, yaitu kasih Kristus.  Hal ini hanya dapat terjadi manakala kita mau melepaskan kasut duniawi kita dan mengalami secara personal penyataan diri Allah dalam kehidupan kita.   Jika demikian apakah kita mau menjadi berkat bagi banyak orang dengan cara melepaskan pola-pola duniawi yang melekat dalam diri kita? Apakah kita sungguh-sungguh telah menghadirkan kuasa Allah yang hidup sehingga pelayanan dan pekerjaan kita merupakan dorongan dari karya Roh Kudus; bukan lagi karena kekuatan, ambisi dan kelihaian kita? Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar