KATA-KATA BIJAK

KASIH ADALAH SESUATU YANG TIDAK HANYA DIDIFINISIKAN.NAMUN KASIH HARUS DIWUJUDNYATAKAN. ORANG YANG HANYA BERTEORI TENTANG KASIH ADALAH PEMBUAL BESAR. TETAPI ORANG YANG MEREALISASIKAN KASIH ADALAH ORANG YANG BERPENGARUH BESAR DALAM KEHIDUPANNYA

SELAMAT DATANG

HORAS MA DI AMA/INANAMI

SELAMAT DATANG DI BLOG “MARSIRUPAN ANGKOLA-MANDAILING”

“MARSIURUPAN” ARTINYA SALING TOLONG MENOLONG

“ANGKOLA-MANDAILING” ADALAH KAMPUNG HALAMAN

BLOG INI DIUPAYAKAN UNTUK MAMPU MENOLONG SESAMA PELAYAN, WARGA JEMAAT DAN SAHABAT LAINNYA DALAM TUGAS PELAYANAN DI KELUARGA, GEREJA DAN MASYARAKAT


ASI NI ROHA DOHOT HASONANGAN NA SIAN DEBATA AMANTA DOHOT NA SIAN TUHAN JESUS KRISTUS MA MANDONGANI HAMU! AMEN (1KOR.1:3)



KASIH KARUNIA DAN DAMAI SEJAHTERA DARI ALLAH, BAPA KITA, DAN DARI TUHAN YESUS KRISTUS MENYERTAI KAMU! AMIN (1KOR.1:3)


Selasa, 02 Agustus 2011

Bacaan Minggu, 31 Juli 2011: 1 Petrus 2: 9-10

widgeo.net
Minggu 6 Setelah Trinitatis, 31-7-2011                                                   1 Petrus 2: 9-10

MENJADI UMAT YANG KUDUS

 


Pengantar

T
etapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.
Desakan dan Peneguhan dengan Status Baru
“Menderita bagi Kristus” adalah tema surat pertama Petrus ini yang dituliskan Petrus dengan bantuan Silas sebagai juru tulisnya (5:12). Surat ini merupakan sokongan yang kuat untuk orang-orang yang menderita karena mengabarkan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Umat percaya yang mungkin sudah bertobat di saat Penatkosta di Yerusalem, lalu kembali ke kota mereka masing-masing dengan miman yang menyala-nyala (Kis. 2:9-11) kini menghadapi tantangan yang berat dan pahit karena imannya kepada Yesus Kristus. Jadi bukan hanya hal “suku-bangsa”-nya yang membuat mereka menjadi pendatang dan perantau, tetapi karena iman percaya mereka yang berbeda dengan religiusitas – keberimanan dari masyarakat sekitar di kota dan daerah mana mereka berada.
Berdiam sebagai pendatang di negeri yang tidak seiman, merupakan fenomena pergerakan “Kabar baik” yang disebarluaskan dan berdiaspora di dunia ini. Gereja dan setiap anak-anak Tuhan harus mempersiapkan dirinya, mentalnya dan pola interaksi-sosialnya di mana ia berada. Di awal surat kiriman ini dituliskan “Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu” (1:1-2). Artinya,  sebagai pendatang dan yang tersebar di sana, mereka tetaplah sebagai orang asing, namun keadaan dan keberadaan mereka itu diperbaiki dan diangkat menjadi spesial, karena sudah menjadi “orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah” dan “orang-orang yang dikuduskan oleh Roh” serta “orang-orang yang taat kepada Yesus Kristus”. Itu berarti keberadaan orang percaya di mana pun - “negeri lain yang menjadikannya terasing” menjadi kehadiran yang khusus, spesial dan yang bermakna – menjadi berkat bagi dunia sekitarnya – karena sudah diubah makna kehadirannya sesuai dengan rencana Tuhan.
Demikian juga dengan Gereja hadir karena diutus ke dalam dunia, tidak akan gagal dan takluk kepada kuasa dunia, karena umat percaya dipelihara di dalam kekuatan Allah. Pemeliharaan Tuhan itu direspons oleh iman percaya yang tetap menantikan keselamatan yang telah tersedia bagi mereka yang menang (1:5). Oleh sebab itu, sekalipun sementara saja umat percaya itu mengalami siksaan dan penganiayaan, itu atas izin dan rencana Tuhan untuk mendewasakan iman, kasih dan pengharapan anak-anak-Nya agar makin kuat, teruji dan layak untuk dipuji. Dalam konsep yang sama, rasul Paulus menuliskan ke jemaat Roma, demikian: “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm. 5:3-5).
Untuk bersiap menerima status baru itu, di fasal 1 surat pertama Petrus ini orang-orang Kristen diwajibkan untuk melakukan sembilan hal, yakni: (1) Menyiapkan akal budi (2) Waspada (3) Meletakkan pengharapan atas kasih karunia (4) Hidup sebagai anak-anak yang taat (5) Tidak menuruti hawa nafsu (6) Hidup kudus (7) Hidup dalam ketakutan (8) Taat kepada kebenaran (9) Bersungguh-sungguh untuk saling mengasihi dengan segenap hati”  (1:13-16,22). Kesembilan hal ini merupakan upaya untuk membuat mereka lebih solid dan kuat dalam kekudusan dan kasih persaudaraan. Ikatan kasih yang sungguh akan memberdayakan mereka berlipat ganda, serta membuktikan, bahwa pengharapan, iman dan kasih yang mereka miliki itu mendasar, murni dan teguh. Di ayat terakhir dikatakan, “tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu” (1:25).
Di fasal 2 – tempat nas renungan ini – kembali Petrus mendesak orang Kristen agar (1) Membuang segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. (2) Menjadi sama seperti bayi yang baru lahir, selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, ..,mengecap kebaikan Tuhan. (3) Datang kepada-Nya (4) Siap dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani. (5) Siap menerima status yang baru, yakni: (a) Bangsa yang terpilih (b) Imamat yang rajani (c) Bangsa yang kudus (d) Umat kepunyaan Allah sendiri. Dengan status yang baru ini mereka dapat memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil mereka keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Lalu, menjadi nyatalah, bahwa “Kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.”
Empat Status yang Baru
Penguatan orang Kristen sejajar dengan penghayatannya akan statusnya yang baru itu. Dalam kitab Wahyu hal siapa mereka di dalam status baru itu sudah diwahyukan “Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi." Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa, katanya dengan suara nyaring: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!" (Why. 5:9-14).
Status yang pertama adalah: Bangsa yang terpilih. Kata “terpilih” menekankan keunggulan dan keberagaman, sebab dipilih dari beragam suku bangsa. “Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.” Sifat gereja yang am merupakan ciri keterpilihannya dari berbagai suku bangsa di dunia. Gereja tidak homogen, tetapi heterogen. Gereja mencirikan kekayaan karunia dan keunikan dinamika yang dimiliki masing-masing dalam Kristus. 
Status yang kedua adalah: Imamat yang rajani. Sebutan ini menunjuk Gereja sebagai persekutuan yang dihimpunkan oleh Yesus sebagai Imam Besar, yang meraja dan berkuasa atas gereja. Tuhan Yesus adalah kepala gereja dan Dialah TUBUH YANG SATU di mana semua umat percaya bersekutu menjadi satu tubuh. Di dalam Perjanjian Lama, orang tertentulah yang menjadi imam, dan ia bertugas untuk mewakili umat mempersembahkan kurban kepada Allah (Kel  28:1; 2Taw. 29:11). Tetapi kini, di dalam pengorbanan Tuhan Yesus yang adalah Imam Besar itu, kita sudah menjadi imam di hadapan Allah (Why 1:6; 20:6). Dan keimaman orang percaya adalah (1) Kita umat percaya boleh secara langsung menghadap Allah melalui Yesus Kristus. Dengan berdoa dalam nama Yesus, kita menghampiri takhta kudus Allah. “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah..” (3:18). (2) Kita umat percaya wajib hidup kudus. Ingat! Kudus itu berkarti aktif bukan pasif. “Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (5:9) (3) Kita wajib menmpersembahkan “persembahan rohani” – pelean na badia, yakni hidup, tubuh, perbutan dan seluruh milik kita. “Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” (Roma 6:13) (4) Kita harus berdoa syafaat bagi semua orang. Tujuannya “.. supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah (Kol. 4:12) (5) Kita harus memberitakan Firman Allah. Mengapa? “Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. (2Tes. 3:11) (6) Kita berhak mendapatkan baptisan dan perjamuan kudus. (Mat. 28:19 dan Luk. 22:19).
Status yang ketiga adalah: Bangsa yang kudus. Kata “kudus” menunjukkan spesialisasi bagi Tuhan. Memang orang percaya dipisahkan dari dunia supaya menjadi milik Allah sepenuhnya (Tit. 2:14). Gereja mempunyai hubungan khusus dengan Yesus Kristus, sebab DIA sendiri yang mendirikan umat-Nya, setelah menebus manusia dari dosa dan maut, sehingga kekudusan yang dimiliki Tuhan Yesus secara otomatis menguduskan umatnya, sehingga gereja sungguh menjadi kudus. Orang percaya pun diminta agar kudus, sebab Dia yang memanggil kita adalah kudus.
Status yang keempat adalah: Umat kepunyaan Allah sendiri. Pemilik atas gereja itu adalah Allah. Efesus 2:19 mencatat: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” Kita menjadi anggota keluarga Allah. Dialah yang memiliki, merajai dan menetapkan langkah hidup kita. Kita akan menjadi milik kebanggaan-Nya.
Apa yang Kita Lakukan?
Pertama: Kita patut memposisikan diri menjadi pribadi yang dekat dengan Tuhan, dan beroleh belas kasihan-Nya. Mengapa? Karena tujuan akhir pemberian status itu kepada Gereja adalah, agar Gereja dapat memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil Gereja keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Di dalam persekutuan gerejawi itu, maka setiap orang di dalamnya diubahkan, dari yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, dari yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.”
Kedua: Kita harus merespons semua kekuatan kasih Tuhan untuk memenangkan kita dalam dunia yang jahat dan keras ini. Memakai cara dan strategi serta peralatan Tuhan untuk memenangkan peperangan rohani itu.
Ketiga: Kita harus mau dirancang, dipanggil, dibenarkan dan dimuliakan Tuhan menurut rencanaNya yang kudus. Dalam Roma 8:28-30 dikatakan “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya”. Amin.



Pdt. Dr. M. Frans Ladestam Sinaga
HKBP Tangerang Kota, Jakarta-3

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar